Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Siapa yang akan mengenal nama Allah dan mengetahui bahwa Allah berfirman?
Siapa yang terlihat indah dari puncak bukit?
Siapa yang bersorak-sorai ketika Allah kembali ke Sion?
Apa yang Tuhan lakukan ketika Dia menghibur umatNya?
Saudara, ketika bangsa Israel terbuang ke Asyur, orang Yahudi terbuang ke Babylonia, dan rumah Tuhan di Israel dirobohkan, bangsa itu sangat menderita karena perbuatan mereka yang sangat menyakiti Tuhan.
Berulangkali Tuhan mengutus hamba-Nya, para nabi, untuk menyampaikan pesan Tuhan yang menyatakan diri-Nya murka atas bangsa itu.
Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan, tidak menghargai Tuhan yang telah menyatakan kasih-Nya kepada bangsa Israel.
Sejak bangsa itu keluar dari Mesir, Tuhan terus menyatakan kasih-Nya yang sangat besar karena janji-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, nenek moyang bangsa itu.
Israel memperlihatkan kepada Tuhan bagaimana mereka sebagai suatu bangsa yang tegar tengkuk, bandel, tidak menghormati Tuhan dan tidak memperlihatkan rasa takut-Nya kepada Tuhan.
Mereka cenderung menganggap Tuhan sebagai teman yang kurang berharga.
Mereka sangat tidak menghormati-Nya. Setelah mereka berdiam di tanah Kanaan, mereka menikmati indahnya tanah itu.
Mereka menikmati kesuburan tanahnya dan menikmati kebaikan Tuhan yang memberikan kepada mereka tanah Kanaan yang penuh dengan susu dan madu.
Keindahan tanah Kanaan, kesuburan dan hasil tanah yang melimpah, tidak membuat bangsa itu menjadi kagum dan menghormati Tuhan Allah yang sangat mengasihi mereka.
Bangsa Israel memperlihatkan sikap mereka yang seperti pemberontak.
Mereka kenal Tuhan itu, namun mereka tidak menghargai-Nya sebagai Tuhan yang sangat memperhatikan dan mengasihi mereka.
Seolah-olah bahwa Tuhan Allah Yahwe, sangat butuh bangsa itu sehingga mereka bersikap tidak menghargai dan tidak menghormati Tuhan.
Namun Tuhan sangat memperhatikan dan sangat mengasihi mereka karena Tuhan menghormati dirinya yang telah bersumpah dengan Abraham, Ishak dan Yakub.
Berabad-abad lamanya Israel memperlihatkan sikap mereka yang menaati Tuhan yang menjadi kewajiban karena ketakutan mereka kehilangan berkat Allah, bukan karena mereka segan dan menghormati Tuhan, sembari banyak orang Israel tetap saja tidak menghormati Tuhan Allah mereka, tetapi mereka tetap menyembah juga berhala-berhala yang membuat Tuhan itu murka.
Kedegilan hati bangsa itu menyebabkan Allah murka dan mengerahkan Kerajaan-kerajaan di sekitar mereka memperbudak dan menjajah mereka.
Ketika mereka sengsara, mereka berteriak minta tolong pada Tuhan dan Tuhan kembali mendatangkan berkat-Nya bagi bangsa itu.
Berulang-ulang hal itu terjadi karena memang Tuhan sangat mengasihi bangsa itu.
Tuhan murka ketika Raja Salomo menyembah berhala, oleh karena dia memperisteri perempuan-perempuan penyembah berhala.
Maka pada waktu anaknya menggantikan Salomo sebagai raja, maka Tuhan membagi dua bangsa itu.
Israel utara terdiri dari sepuluh suku bangsa Israel dengan ibu kotanya Samaria, dengan suku yang menjadi pemimpinnya adalah suku Efraim, anak Yusuf.
Israel selatan dikenal dengan daerah Yehuda dengan dua suku yaitu Benyamin dan Yehuda, dengan ibukotanya adalah Yerusalem.
Suku-suku Israel utara adalah suku-suku yang sangat tegar tengkuk yaitu mengerti di tolong Tuhan tetapi tidak pernah menghormati Tuhan Allah Israel.
Di Israel Selatan, masih ada beberapa rajanya yang menghormati Tuhan dengan membuang berhala-berhala dan merubuhkan tiang-tiang penyembahan berhala.
Mereka memerintahkan supaya rakyatnya menyembah Tuhan Allah Yahwe.
Israel utara sering juga disebut orang Samaria yang kemudian hari dikenal sebagai bangsa campuran antara bangsa Yahudi dengan orang-orang Asyur yang terdiri dari campuran banyak bangsa.
Setelah mereka dibuang ke Asyur dengan cara sebahagian suku-suku bangsa Yahudi tetap tinggal di Israel utara, dan orang-orang Asyur dipindahkan ke daerah Israel sehingga terjadi perkawinan antara bangsa Israel utara dengan orang asing dari Asyur.
Israel selatan karena pemberontakan bangsa itu, raja-raja yang juga ikut menyembah berhala dan ikut sujud menyembah dewa-dewi bangsa disekitar mereka, maka Tuhan murka dan mendatangkan raja Babel yang mengalahkan mereka dan kemudian membawa bangsa itu ke Babylonia sebagai tawanan selama tujuh puluh tahun.
Ketika pembuangan inilah, Yesaya bernubuat kepada bangsa itu. Yesaya menyampaikan kabar damai yaitu suatu kabar yang memberitahukan bahwa Tuhan Allah Yehuwa, sangat mengasihi bangsa itu dan Tuhan Allah Yahwe atau Yehuwa akan membawa pulang bangsa itu kembali ke Israel, dan akan terjadi bahwa Bait Allah itu akan dibangunkan kembali di Yerusalem.
Kabar baik ini dinubuatkan oleh nabi-nabi yang diutus Tuhan Allah Israel seperti Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Daniel dan lain-lain.
Ketika Bait Allah berdiri kembali dan Allah hadir di bait-Nya maka seluruh bangsa Israel yang hadir di Yerusalem setelah mereka kembali dari Babylonia, mereka bersorak-sorak memuji dan menyembah Tuhan Allah Israel yaitu Yahwe, yang oleh beberapa raja orang asing pernah diumumkan bahwa Tuhan Allah Israel adalah Tuhan yang harus dihormati dan tidak boleh di rendahkan kepada seluruh bangsa-bangsa di dunia.
Hal ini pernah dinyatakan oleh Nebukadnezar.
Daniel 4:37”Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak.”
Daniel 6:26-28”Kemudian raja Darius mengirim surat kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang mendiami seluruh bumi, bunyinya: “Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu! Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa.”
Raja asing telah melihat kebesaran Tuhan Allah Israel melalui kesaksian dari Daniel, Sadrakh, Mesak dan Abednego.
Daniel juga telah menyampaikan kabar damai bagi bangsa Israel dan kepada kita juga pada zaman akhir ini.
Ketika kita membaca kitab Daniel, maka kita akan melihat dan bertambah pengenalan kita kepada Tuhan Allah Israel Yahwe itu dan kepada kita dibukakan lagi bagaimana kabar atau berita damai itu oleh para Rasul.
Kita mengenal Kasih Karunia-Nya yang besar melalui Yesus Kristus.
Kita melihat kasih karunia-Nya yang sangat besar melalui pengorbanan Yesus Kristus di Kayu Salib.
Lewat kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya ke Sorga dan turun-Nya Roh Kudus, kita memperoleh bahwa kabar damai itu telah sampai pada kita.
Kita melihat lagi kabar baik yaitu Injil Keselamatan dan Injil Kerajaan Allah itu diwujudkan dalam kehidupan Gereja saat ini.
Haleluya, Puji Tuhan, Amen.
Apa penyebab begitu banyak kabar damai dan kabar baik tidak diketahui oleh orang banyak saat ini?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang terjadi ketika seseorang hidup dalam Roh?
Apa yang disebut oleh rasul Paulus yang berlawanan?
Apa yang menyebabkan seseorang tidak lagi hidup dibawah hukum Taurat?
Apa yang menyebabkan seseorang tidak hidup dalam Kerajaan Allah?
Mengapa kita tidak boleh gila hormat?
Saudara, seseorang dikatakan hidup dalam Roh, ketika dia percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya.
Rasul Paulus menuliskan dalam:
Efesus 1:13-14”Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”
Efesus 3:17”sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.”
Ketika Roh Kudus berada di dalam hidup seseorang maka orang itu dikatakan sudah hidup di dalam Roh Kudus.
Kita di dalam Roh dan Roh di dalam kita menjadi satu kesatuan.
Kehidupan orang yang hidup di dalam Roh dianjurkan oleh rasul Paulus agar hidup di pimpin oleh Roh Kudus.
Galatia 5:25”Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,”
Apakah orang yang hidup oleh Roh masih bisa berbuat dosa?
Kejatuhan ke dalam dosa masih mungkin terjadi kepada mereka yang sudah hidup oleh Roh, karena hidupnya tidak dipimpin oleh Roh Kudus tetapi oleh kedagingannya.
Hal ini terjadi karena orang yang hidup oleh Roh memasuki arena pencobaan karena dia masih hidup dan bergaul dengan dunia.
Kehidupan duniawi yang dialami oleh anak-anak Tuhan membawa dia ke dalam berbagai pencobaan.
Yakobus 1:13-14”Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.”
Jadi, seseorang yang bergaul dengan dunia akan menginginkan keinginan duniawi, dan itulah sumber pencobaan bagi dirinya.
Itulah penyebab seorang yang percaya jatuh ke dalam dosa.
Sebaliknya, bagi mereka yang sudah hidup di dalam Roh dan hidup dengan tidak lagi menginginkan segala hal duniawi yang bisa membuat dia berdosa, maka orang benar itu terhindar dari berbagai pencobaan karena dia sudah tidak lagi menginginkan perkara-perkara duniawi.
Ketika seseorang yang sudah percaya mengerti tugasnya sebagai pelaksana amanat agung, maka orang itu akan menyiapkan dirinya agar dia dengan mudah bisa menjadi saksi Kristus.
Dia sudah memiliki Roh Kudus, maka dengan berdoa berpuasa dengan segenap hatinya, maka orang benar itu akan di bawa untuk melaksanakan tugasnya menjadi saksi Kristus oleh kuasa Roh Kudus.
Saksi Kristus yang benar akan menggunakan perkataan yang baik untuk menyaksikan Kristus, supaya nama Yesus yang berkuasa itu dikenal orang yang belum percaya.
Bersaksi tentang Kristus dianjurkan supaya tidak berdebat, karena perdebatan sering melukai perasaan dan sering sekali menimbulkan kebencian.
Itulah sumber permusuhan di antara orang-orang yang berdebat tentang agama.
Oleh karena itu, marilah kita mempersiapkan diri kita dan memperlengkapi diri kita agar orang benar dan orang yang sudah hidup di dalam Roh tidak terjebak ke dalam debat kusir agama yang menyebabkan hati orang yang tidak percaya tertutup dan alergi mendengar pemberitaan Injil Keselamatan.
Namun dengan perlengkapan diri untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah, kita mampu menggunakan kata-kata yang baik sebagai saksi Kristus agar orang yang belum percaya tertarik untuk mendengarkan berita kabar baik di dalam Injil Keselamatan.
Haleluya, Puji Tuhan, Amen.
Apakah penyebab mengapa perdebatan agama tidak begitu bermanfaat bagi Pekabaran Injil?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang membuat pemazmur lebih berakal budi daripada semua pengajarnya?
Apa yang membuat pemazmur lebih mengerti daripada orang-orang tua?
Siapa yang mengajar pemazmur sehingga dia tidak menyimpang dari hukum-hukum Tuhan?
Apa yang membuat pemazmur benci segala jalan dusta?
Pemahaman akan firman Tuhan setidaknya membuat pemazmur mengalami 4 hal, pertama dia lebih berakal budi dari pengajarnya, kedua menjadikan dia lebih mengerti daripada orang-orang yang usianya lebih tua daripadanya, ketiga pemazmur mengalami manisnya janji Tuhan melampaui madu bagi mulutnya dan keempat titah-titahNya membuatnya menjadi benci jalan dusta.
Bila kita baca seluruh perikop terlihat bahwa hubungan pemazmur dengan Tuhan bukanlah suatu relasi yang dangkal, ucapan pemazmur kepada Tuhan menggambarkan suatu relasi yang dalam, penuh dengan kesetiaan dan komitmen yang tinggi.
Hubungan ini lahir tidak hanya dari suatu perenungan akan titah-titah dan hukum-hukumNya tetapi juga melibatkan suatu konsistensi untuk melakukan perintah-perintahNya dalam kehidupan sehari-hari pemazmur dalam melaksanakan tugasnya.
Pemazmur memberikan suatu kesaksian bagaimana kehidupannya dipenuhi dengan kebijaksanaan, akal budi yang luar biasa, pengertian dengan hikmat Tuhan, kemampuan untuk menahan kakinya dari segala jalan kejahatan.
Kehidupan seperti ini membuat pemazmur memahami dengan baik mana jalan yang benar dan mana jalan yang penuh dusta yang dapat membawanya kepada kejahatan dan kejatuhan.
Saudara, sejatinya kita diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan dengan segala kemuliaan dan keagunganNya.
Seharusnya kita tidak tertipu atau tersesat ke Jalan-jalan kejahatan atau jalan dusta, tetapi mengapa banyak anak-anak Tuhan bisa mengambil jalan-jalan yang salah?
Tertipu dalam bisnis, terjebak dengan masalah keuangan, terseret dalam kasus kejahatan, mengikuti ajaran sesat yang membuatnya jauh dari persekutuan dengan saudara yang lain.
Tidak hanya pada saat mengalami tekanan, pada saat mengalami kelimpahan kita bisa terseret kepada jalan-jalan gelap, kehidupan Salomo memberikan pelajaran kepada kita, bagaimana dia mengambil jalan sesat dengan mendirikan patung-patung dewa karena istri-istrinya.
Salomo dengan segala hikmatnya pun dapat tersesat ke jalan-jalan dusta, karena tidak sepenuh hati berpaut kepada Tuhan.
Saudara, untuk tersesat ke jalan-jalan dusta bukanlah suatu proses yang mendadak, tetapi dimulai dari hal-hal kecil yang salah kita lakukan dengan konsisten dalam perkataan maupun perbuatan, tanpa terasa kita tersesat karena menolak untuk dipimpin Roh Kudus atau diingatkan oleh saudara yang lain.
Ingatlah bahwa kita pembawa kabar baik yang membawa orang kepada jalan terang bukan jalan-jalan dusta.
Renungkan kebenaran Firman Tuhan hari ini, adakah yang Tuhan inginkan untuk Saudara lakukan? Diskusikan dengan kelompok PA dan Persekutuan.
DAMAI SEJAHTERA ALLAH YANG MEMELIHARA PIKIRAN KITA
Penulis : Anang Kristianto
Pembacaan Alkitab Hari ini :
FILIPI 4:6-9
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Mengapa kita tidak perlu kuatir tentang apapun juga?
Apa yang bisa memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus?
Apa yang seharusnya kita pikirkan?
Apa yang harus kita lakukan agar Allah sumber damai sejahtera menyertai kita?
Damai sejahtera dari Tuhan adalah pemelihara hati dan pikiran kita untuk tetap percaya akan janjiNya sebaliknya kekuatiran dan intimidasi adalah bentuk tekanan yang membuat kita kuatir dan bahkan depresi sehingga melupakan janjiNya.
Perkataan baik dan memberkati datang dari pikiran yang dipenuhi oleh damai sejahtera Tuhan.
Persoalan apapun baik besar dan kecil dapat membuat kita menjadi kuatir sehingga tidak jarang membuat perkataan dan tindakan kita penuh dengan emosi kekuatiran dan ketakutan pada akhirnya mempengaruhi orang lain dan tentu hal tersebut tidak menjadi berkat bagi orang yang mendengarkannya.
Bangsa Israel pernah mengalami ketakutan dan kekuatiran ketika pembawa berita menyampaikan kata-kata yang menakutkan saat akan masuk ke tanah Kanaan.
Ketakutan dan kekuatiran yang disampaikan menular kepada banyak orang dan membuat mereka lupa akan janji Tuhan dan segala perbuatan ajaib yang Tuhan pernah lakukan dalam perjalanan mereka.
“Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?”(Bilangan 14:3).
Ayat ini memperlihatkan bahwa ketakutan membuat mereka berpikiran terlalu jauh dengan mengatakan bahwa Allah membawa mereka beserta istri dan anak-anak tewas oleh pedang, mereka telah kehilangan damai sejahtera Allah sehingga pikirannya dipenuhi oleh hal-hal menakutkan yang belum terjadi.
Tahun ini gereja diberikan thema oleh Tuhan untuk menjadi Rumah Kabar Baik, itu berarti seharusnya seluruh jemaat dapat menjadi pembawa kabar baik bagi orang-orang di sekitar kita.
Ada 2 hal yang dapat kita kerjakan: pertama, sadari bahwa kabar baik dimulai dari pikiran kita yang selalu memikirkan hal-hal yang baik: Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.
Kedua kita mempelajari dan melakukan kebenaranNya: Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.
Kedua hal ini membuat kabar baik yang kita sampaikan memiliki kekuatan untuk membawa mereka datang kepada Allah sumber damai sejahtera itu.
Bagaimana dengan saudara saat ini?
Kita semua mungkin punya pergumulan mulai dari yang ringan hingga berat, namun jangan sampai kita kehilangan damai sejahteraNya, sebab orang dunia menantikan kabar baik dari kita.
Renungkan kebenaran Firman Tuhan hari ini, adakah yang Tuhan inginkan untuk Saudara lakukan? Diskusikan dengan kelompok PA dan Persekutuan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Nasihat apa yang di peringatkan oleh Yakobus di dalam surat Yakobus 1:19? Apa yang bisa memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus?
Apakah amarah manusia mengerjakan kebenaran di hadapan Allah? Oleh karena itu apa yang harus kita buang? Dan apa yang sebaiknya kita terima?
Surat ini dilatarbelakangi kondisi jemaat pada masa itu, yang mungkin mengalami banyak konflik, perselisihan dan masalah komunikasi yang mengganggu hubungan antara sesama jemaat, sehingga Yakobus perlu sekali menertibkan dan memperingatkan jemaat pada masa itu.
Kondisi seperti jemaat ini seringkali juga terjadi dalam komunitas kita, bahkan bisa jadi pada diri kita sendiri.
Kedagingan kita pada saat emosi memiliki kencenderungan untuk lebih cepat berkata-kata daripada mendengar, senang membicarakan atau mendengar keburukan orang lain, kejatuhan orang lain, gossip, hoax dan lain-lain.
Kondisi tersebut bila tidak kita kendalikan tentunya dapat memicu konflik atau terjadinya perselisihan di tengah-tengah kita.
Saudara, salah satu prinsip dasar dari teori konseling bila kita di perhadapkan dengan orang yang sedang berkonflik, berselisih, seyogyanya lebih banyak untuk mendengar dengan penuh perhatian lawan bicara kita.
Sebagai orang yang dipimpin oleh Roh tindakan untuk mendengarkan orang lain berbicara dapat membuat kita memahami persoalan dari sudut pandang mereka.
Sesungguhnya bahkan dengan hanya mendengakan saja bisa menjadi salah satu solusi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh saudara kita, karena setidaknya dia bisa menumpahkan emosi-emosi yang selama ini mungkin menekan hati dan pikirannya.
Dalam menyelesaikan perselisihan atau konflik tentu tidak cukup mendengar, namun kita perlu lambat untuk berkata-kata.
Tujuan dari pada itu adalah agar kita dapat mengambil waktu untuk berpikir, perkataan apa yang tepat untuk kita katakan dan juga memberikan waktu, agar dia yang berkonflik bisa memahami kondisinya serta menemukan solusi untuk masalah yang di hadapinya.
Bagaimana jika konflik itu terjadi di dalam diri atau lingkungan kita?
Maka sikap kita semaksimal mungkin untuk dapat mengendalikan emosi marah kita, karena kita tahu betul, amarah kita tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
Jadi saudaraku, jika kita di perhadapkan dengan situasi-situasi yang penuh emosi kekesalan atau kejengkelan, apakah itu terjadi didalam diri dan lingkungan kita ataupun terjadi pada orang lain, maka perlu sekali kita sebagai manusia rohani dan yang memahami kebenaran Firman Tuhan, menjadi orang yang cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah.
Renungkan kebenaran Firman Tuhan yang kita baca hari ini, adakah yang Tuhan ingatkan untuk saudara lakukan? Apakah selama ini kita sudah menjadi orang yang lebih banyak mendengar keluhan orang lain? Atau lebih senang di dengar? Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang harus kita kenakan sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan?
Mengapa damai sejahtera Kristus harus memerintah dalam hati kita?
Bagaimana kita dapat mengajar dan menegur seroang akan yang lain?
Segala sesuatu yang kita lakukan dengan perkataan dan perbuatan harus bagaimana?
Mengajar dan menegur adalah bagian dari proses pemuridan yang Tuhan ingin kita kerjakan sebagai bagian dalam membangun Kerajaan Allah.
Kita bersyukur bahwa kelompok pemuridan membuat kita tidak hanya belajar tetapi juga dibimbing sehingga menjagai keputusan dan tindakan kita tetap dalam kebenaranNya.
Kita bisa banyak belajar kebenaran Tuhan melalui berbagai sumber seperti youtube, buku atau media audio lainnya, kita bisa memilih channel Youtube sesuai “kesukaan” kita siapa yang ingin kita dengar dan lihat pengajarannya.
Namun media dan buku tidak bisa melihat kehidupan kita sesungguhnya, pergumulan kita juga tidak diketahui, semua media merupakan pengajaran satu arah yang hanya bisa memberikan kita pengajaran.
Roh Kudus memang bisa bekerja melalui media yang kita lihat atau buku yang kita baca namun siapa yang bisa menegur kita selain Roh Kudus yang lembut? Tentunya adalah saudara seiman, pemimpin atau pembimbing PA kita.
Kita bersyukur memiliki kelompok pemuridan dimana kita dapat mengajar dan menegur serta diajar dan ditegur, komunitas ini membuat kita tidak mudah disesatkan karena bila kita salah ada yang menegur dan mengarahkan.
Jadi seharusnya di dalam komunitas tidak ada orang yang hanya mau mengajar dan menegur tetapi tidak mau diajar dan ditegur.
Untuk dapat mengajar dan menegur dengan baik, firman Tuhan hari mengingatkan agar kita memiliki perkataan Kristus yang diam dengan segala kekayaannya diantara kita, sehingga dengan segala hikmat kita dapat melakukannyan.
Mengajar dan menegur perlu persiapan, dalam arti persiapan yang harus kita bangun setiap hari melalui pembacaan dan perenungan firman Tuhan, selain persiapan khusus untuk suatu acara apabila kita diminta mengajar.
Hikmat Tuhan pasti akan memperlengkapi ketika kita melayani namun Tuhan menggunakan apa yang pernah kita pelajari dan lakukan ketika memberikan hikmatNya agar kita dapat mengajar dan menegur dengan tepat sesuai kehendakNya.
Mengajar dan menegur dengan sembarangan tanpa hikmat Tuhan membuat saudara yang diajar dan ditegur dapat salah mengerti dan tidak jarang menimbulkan perselisihan dan kekecewaan.
Maksud kita mungkin baik tetapi karena cara dan kata-katanya tidak tepat justru membuat masalah baru.
Mari kita berlatih dengan baik untuk mengajar dan menegur dalam kelompok pemuridan atau persekutuan.
Mari kita juga siap untuk diajar dan ditegur karena itulah yang seharusnya terjadi dalam suatu komunitas yang bertumbuh.
Renungkan kebenaran Firman Tuhan hari ini, adakah yang Tuhan inginkan untuk Saudara lakukan? diskusikan dengan kelompok PA dan Persekutuan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang ada dalam Kristus sesuai perikop yang kita baca hari ini?
Mengapa kita harus sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan?
Bagaimana kita melihat orang lain?
Kita harus menaruh pikiran pikiran dan perasaan seperti siapa dalam hidup kita sebagai komunitas?
Nasihat sejatinya adalah salah satu aktivitas yang ada dalam persekutuan kita dengan saudara-saudara seiman laiinya seperti yang kita baca dalam perikop hari ini, namun tidak semua orang bisa menerima nasihat.
Kita cenderung mudah untuk menasihati tetapi seringkali sulit untuk menerima nasihat dari orang lain terutama apabila orang tersebut kita anggap lebih muda, junior atau “kurang berpengalaman” dari pada kita.
Nasihat yang baik sesungguhnya bertujuan untuk memberikan masukan mengenai kelemahan kita yang tidak bisa kita lihat atau sadari.
Seringkali karena disebutkan kekurangan membuat hati kita menjadi tidak nyaman, apalagi bila “nasihat” diberikan didepan banyak orang dalam forum yang tidak tepat.
Alkitab memberikan pedoman kepada kita untuk menasihati lebih dahulu empat mata, artinya tidak ada orang lain selain kita dan saudara yang kita berikan nasihat.
Kita bisa minta hikmat Tuhan lebih dahulu sebelum kita menasihati orang lain, karena kita menyadari keterbatasan kita dalam menyampaikan kata-kata dan keterbatasan mengenali isi hati orang.
Sebagai orang yang dinasehati tentu kita harus dapat menerima nasehat dengan rendah hati sebagai bentuk kasih saudara seiman kepada kita.
Nasihat yang kita terima dan uji dengan benar membuat kita menjadi lebih baik, setidaknya kita bisa melihat bagaiamana pandangan orang lain terhadap kita.
Sebagai seorang pemimpin kita mungkin mudah untuk menasihati orang yang kita pimpin, namun bagaimana jika sebaliknya apabila mereka menasihati kita sebagai pemimpin?
Pemimpin juga seorang manusia yang belum sempurna, sudah pasti punya kelemahan dan perlu mendapatkan nasihat dari orang lain.
Persoalannya adalah nasihat yang kita berikan harus pada waktu yang tepat dan di tempat yang tepat agar dapat diterima pemimpin dengan baik.
Hal penting dan utama yang harus kita perhatikan adalah bahwa kita memiliki teladan yang baik dalam hal apapun terutama tentang hal yang kita nasihati.
Orang lebih “mendengar” apa yang kita perbuat daripada apa yang kita katakan.
Nasihat kita tidak mempunyai kekuatan bila kita tidak hidup dalam suatu perilaku atau teladan yang baik.
Hal demikian juga perlu kita lakukan keitka menasihati orang lain yang belum percaya Kristus, mereka akan melihat teladan hidup kita ketika mendengar kata-kata kita.
Renungkan kebenaran Firman Tuhan hari ini, adakah yang Tuhan inginkan untuk Saudara lakukan? diskusikan dengan kelompok PA dan Persekutuan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah arti hari penghakiman?
Apa saja yang perlu dipertanggungjawabkan di hari penghakiman?
Matius 12:36 ”Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.”
Kelak akan datang waktunya dimana setiap orang harus mempertanggungjawabkan perilakunya, termasuk ucapannya di hari penghakiman.
Yang menjadi pertanyaan, apakah kita yang telah dilahirkan kembali, kita juga akan diadili? Jawabannya: YA.
2 Korintus 5:10 ”Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.”
Jika kita membaca Kitab 2 Korintus 5 dimulai ayat 1 hingga 10, jelas bahwa ayat-ayat tersebut adalah untuk orang percaya.
Dengan demikian kita semua kelak harus menghadap takhta pengadilan Kristus.
Disitu kita akan dimintai pertanggungan jawab atas ucapan kita yang sia-sia, atas seluruh kehidupan kita, khususnya setelah kita mengerti kebenaran, yaitu setelah kita dilahirkan kembali.
Tentang ucapan yang sia-sia, Firman Tuhan dengan tegas menyatakan bahwa kita perlu waspada dengan lidah atau perkataan kita:
Ucapan yang sombong: Mazmur 12:4 ”Biarlah TUHAN mengerat segala bibir yang manis dan setiap lidah yang bercakap besar,”
Ucapan yang menipu: Mazmur 120:2”Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu.”
Ucapan yang menghakimi dan menuduh: Roma 14:13 ”Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!”
Ucapan yang menyebabkan celaka: Amsal 17:4 ”Orang yang berbuat jahat memperhatikan bibir jahat, seorang pendusta memberi telinga kepada lidah yang mencelakakan.”
Ucapan keluhan dan menggerutu: Yudas 1:16 ”Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan.”
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan tentang jenis perkataan yang sepatutnya diucapkan oleh pengikut Kristus.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Secara rohani, manakah yang lebih penting. Yang masuk ke dalam tubuh ataukah yang keluar dari tubuh?
Mengapa secara rohani peran hati begitu penting?
Kata “hati” dalam bahasa Indonesia memiliki beragam makna.
Sebagai organ tubuh hati adalah liver, yaitu organ tubuh yang berwarna merah yang berfungsi untuk membersihkan darah dari zat-zat kimia.
Hati juga bisa diartikan sebagai jantung, dalam kalimat: hatinya berdebar-debar.
Karena organ tubuh yang berdebar-debar adalah jantung, bukan hati.
Sedangkan dalam kalimat: “jantung hati”, maka maknanya berubah menjadi: kekasih.
Lalu apa makna hati dalam Alkitab.
Hati manusia disebutkan hampir sebanyak 300 kali di dalam Alkitab.
Kita akan melihat dari dua ayat berikut:
Amsal 4:23 ”Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
Yeremia 17:9 ”Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?”
Menurut 1 Tesalonika 5:23, diri kita terdiri dari: tubuh, jiwa dan roh.
Tubuh kita bersifat fana, ketika seseorang meninggal maka tubuhnya akan dimakamkan.
Roh manusia bersifat kekal, dan bagi kita yang sudah dilahirkan kembali, maka roh kita akan ada dalam kekekalan bersama dengan Kristus.
Jiwa kita memiliki pikiran, emosi atau perasaan dan kehendak.
Jadi di dalam jiwa inilah terletak hati kita.
Dapat dikatakan, hati adalah pusat komando atas pikiran, perasaan dan tekad kita.
Itulah sebabnya penulis Amsal mengatakan agar kita menjaga hati kita, yaitu: pikiran, perasaan dan tekad atau kehendak kita dengan penuh kewaspadaan.
Sedangkan nabi Yeremia menyatakan bahwa pada dasarnya, hati kita: pikiran kita, perasaan kita dan tekad kita itu lebih licik dari segala sesuatu.
Dan manusia bisa dikenali melalui ekspresi tubuhnya, apakah dia sedang senang atau sedih.
Apa yang ada dalam hatinya itu akan tergambar dari gestur tubuh, dari roman muka, dari ucapan mulut.
Untuk waktu yang singkat orang dapat berpura-pura senang, berpura-pura sebagai seorang yang baik, saleh tetapi dia tidak akan dapat melakukan hal ini untuk jangka panjang.
Seperti yang dikatakan oleh penulis Amsal: ”…karena dari situlah terpancar kehidupan.”(Amsal 4:23b).
Dan sikap seperti ini tentu saja adalah salah, itu adalah perilaku munafik.
Jadi, mari kita menjaga hati kita dengan memiliki relasi atau persekutuan pribadi yang erat dengan Tuhan.
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan dengan cara apa saja agar kita memiliki hati yang semakin mengasihi Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah kita diperbolehkan untuk marah?
Apakah arti: jangan memberi kesempatan kepada Iblis?
Setiap orang terkadang merasa marah, karena kemarahan adalah emosi manusia yang normal.
Merasa marah, merasa sedih, merasa gembira. Itu semua adalah ungkapan emosi kita sebagai manusia.
Marah itu sendiri bukanlah sebuah dosa.
Faktanya, ada banyak contoh dalam Alkitab ketika kemarahan diperbolehkan, dan bahkan disebut “kemarahan yang benar”.
Misalnya, Mazmur 7:12 mengatakan “Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat.”
Disini, Allah tidak sedang murka kepada seseorang –bukan pada manusia –tapi pada tindakan manusia dan dampak buruk yang mereka timbulkan terhadap orang lain.
Marah menjadi dosa jika kemarahan kita menjadi tidak terkendali, mulai menguasai hidup kita, atau berubah menjadi destruktif –ya hal ini menjadi masalah dan dosa.
Jika diabaikan, hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam pernikahan, hubungan sosial, di tempat kerja, dan kehidupan kita sehari-hari.
Itu sebabnya, sangat penting bagi kita bukan saja untuk tidak menjadi seorang yang pemarah, tetapi juga untuk berhati-hati dengan perkataan dan ucapan kita.
Kita bertanggung jawab atas kata-kata yang kita ucapkan.
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”(Matius 12:36-37)
Efesus 4:29 ”Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”
Tuhan ingin agar kita mengucapkan kata-kata yang baik untuk membangun.
Kata-kata yang menguatkan satu dengan yang lain.
Kata-kata yang membangkitkan semangat, memberikan inspirasi positif, memotivasi untuk melakukan hal yang baik dan benar.
Jauhkan kata-kata yang memberikan efek negatif atau merusak: humor yang merusak, tuduhan palsu, mengeluh, fitnah, menghina, merendahkan (martabat), gosip.
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan contoh kata-kata yang membangun.