Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya dan secara khusus hafalkanlah Roma 8:8.
Dimanakah Firman Iman yang Tuhan berikan kepada orang-orang yang percaya kepada Dia?
Apakah dasar pengakuan kita sehingga kita memiliki Firman Iman dalam hati dan mulut kita?
Apakah tujuan Tuhan memberi kepada kita Firman Iman?
Ketika kita mengaku dengan mulut kita bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dengan cara menerima Yesus di dalam hati kita bahwa Yesus telah mati dan bangkit dari kematian-Nya, maka kita mengalami keselamatan yang kekal.
Dan Yesus yang tinggal dalam hati kita itu adalah Firman Iman, itulah sebabnya dikatakan bahwa Firman itu dekat pada kita karena Dia ada di di dalam mulut kita dan di dalam hati kita.
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” (Yohanes 1:1-4).
“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” (Yohanes 1:12-13).
Firman Iman itu harus diberitakan, yaitu tentang Yesus dan apa yang telah Dia perbuat di kayu salib.
Firman itu menyelamatkan setiap orang yang percaya, membebaskan manusia dari kutuk-kutuk kemiskinan untuk hidup yang diberkati dan membebaskan kita dari kutuk-kutuk kelemahan tubuh dan sakit penyakit sehingga kita beroleh kesembuhan.
Firman Iman itu akan menjadikan apa yang Firman Tuhan katakan menjadi nyata dan berwujud.
”Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yohanes 1:14).
Ketika Firman Iman itu diberitakan maka setiap orang yang mengaku Yesus sebagai Tuhan dan menerima Fiman Iman tersebut maka mereka akan diselamatkan.
Oleh karena itu, marilah kita antusias dan bersemangat untuk menyampaikan Kabar Baik agar keselamatan dari Tuhan sampai kepada bangsa-bangsa.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana pemahaman saudara tentang Firman Iman sehingga Firman Iman tersebut senantiasa saudara beritakan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Mengapa bangsa Israel melawan Allah?
Apakah pengalaman rohani mereka menjadikan mereka setia?
Pernahkan saudara berkata-kata melawan Tuhan?
“Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.” Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati.” (Bilangan 21:5-6).
Saudara, bangsa Israel yang berkata-kata melawan Allah bukanlah tanpa kesaksian yang luar biasa.
Mereka telah melihat tangan Allah atas Mesir saat mereka di bebaskan dari perbudakan.
Mereka telah melihat laut terbelah dan mereka berjalan dengan dinding air di kiri kanannya.
Mereka menyaksikan banyak mujizat Tuhan.
Mereka melihat tiang awan dan tiang api.
Pengalaman rohani tersebut tidak menjadi jaminan mereka akan menjadi orang-orang yang setia kepada Tuhan.
Setelah mendengar kesaksian dari 10 pengintai, mereka ragu kepada janji Tuhan.
Mereka abaikan kesaksian Kaleb dan Yosua yang dianggap kabar minoritas.
Bahkan karena masalah makanan mereka mulai melawan Allah.
Ya, karena masalah perut mereka melawan Allah.
Padahal mereka setiap hari makan makanan dari sorga, yaitu manna.
Tetapi mereka bosan. Mereka malahan mengingat makan di mesir.
Saudara, pengalaman rohani dengan berbagai mujizat yang kita alami bukanlah jaminan kita akan setia kepada Tuhan dan tidak melawan Tuhan.
Kesetiaan kita kepada Tuhan adalah buah dari pengenalan akan Dia secara benar dan persekutuan yang intim dengan Dia setiap hari.
Semakin kita mengenal kasih-Nya, semakin intim dengan Tuhan, maka semakin cinta kita kepada Tuhan.
Cinta kita kepada akan dinyatakan dalam bentuk ketaatan kepada perintah-perintah-Nya.
Seperti dicatat dalam 1 Yohanes 5:3“Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat”.
Saudara jangan mengejar mujizat, karena itu biasanya terjadi saat krisis, tetapi mintalah berkat setiap hari seperti yang telah dijanjikan-Nya.
Kejarlah pengenalan akan Allah setiap hari dalam persekutuan dengan Dia melalui perenungan firman Tuhan dan doa, saudara akan terhindar dari dosa melawan Tuhan.
Renungkanlah, mengapa pengalaman mengalami berbagai mujizat tidak menjamin kesetiaan seseorang.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Mengapa orang Israel bersungut-sungut?
Cara orang Israel bersungut-sungut?
Apakah bersungut-sungut termasuk sifat memberontak?
“Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!” (Bilangan 14:2).
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, arti kata bersungut-sungut adalah menggerutu.
Bangsa Israel menggerutu kepada Musa dan Harun karena kabar buruk yang di bawa 10 pengintai.
Padahal mereka sudah melihat banyak mujizat saat mereka dibawa Tuhan ke luar dari Mesir, tetapi mereka tidak percaya kepada janji Tuhan.
“Semua orang yang telah melihat kemuliaan-Ku dan tanda-tanda mujizat yang Kuperbuat di Mesir dan di padang gurun, namun telah sepuluh kali mencobai Aku dan tidak mau mendengarkan suara-Ku” (Bilangan 14:22).
Bangsa Israel tercatat 10 kali mencobai Tuhan, puncaknya saat mereka ingin kembali ke Mesir karena terpengaruh kabar buruk yang di bawa 10 pengintai.
Saudara, lawan kata bersungut-sungut adalah senang hati.
Bersungut-sungut lahir karena kurang percaya atau tidak percaya kepada janji Tuhan, sebaliknya orang yang percaya kepada janji Tuhan akan mengalami hati yang senang atau sukacita.
Kita harus merenungkan dan menyimpan janji Tuhan, sekalipun janji-Nya belum digenapi.
Sekalipun fakta yang kita lihat berbeda dengan janji Tuhan, tetapi apabila janji itu tertanam dalam hati kita, kita akan tetap bersukacita.
Kadangkala kita lupa ada proses untuk menghasilkan buah. Kita ingin buah yang instan atau segera.
Ketika kita tidak mendapatkannya, kita menjadi kecewa dan bersungut.
Saudara, benih firman Tuhan itu harus di tabur di hati yang subur, jagalah supaya tidak dicuri setan melalui banyak kekuatiran.
Sirami benih firman itu dengan sesering mungkin merenungkannya.
Maka firman itu akan menghasilakan buah dalam kehidupan kita.
Saudara, jagalah lidah kita dari sungut-sungut.
Ketika melihat fakta tidak sesuai dengan janji tetaplah naikkan ucapan syukur, karena Tuhan tahu waktu yang paling tepat.
Tuhan tidak mungkin terlambat menggenapi janji-Nya, kita yang seringkali tidak sabar menantikan waktunya Tuhan.
Diskusikan dengan rekan-rekan PA, bagaimana tetap bersukacita saat janji-Nya belum tergenapi.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Siapakah yang berbahagia menurut ayat 25?
Mengapa ibadah dapat menjadi sia-sia dihadapan Tuhan?
Apakah ibadah yang murni itu?
“Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” (Yakobus 1:26).
Dalam ayat ini lidah diibaratkan hewan yang perlu dikendalikan (dikekang).
Dalam Bahasa Yunani, mengekang adalah upaya secara aktif dan terus menerus yang melibatkan diri seseorang.
Jadi mengekang lidah bukanlah kegiatan yang tergantung keadaan sekitar atau perasaan, tetapi upaya orang Kristen untuk secara aktif, dan bersifat terus menerus mengendalikan lidahnya.
Saudara, lidah atau perkataan kita adalah komponen utama dalam berkomunikasi dan bersosialisasi dengan sesama.
Melalui lidah atau perkataan kita dapat membuat orang bersemangat atau orang menjadi putus asa.
Perkataan kita dapat membuat orang bahagia atau sedih.
Perkataan kita dapat membuat orang marah atau bersukacita.
Oleh karena itu, kita harus belajar menundukkan lidah kita supaya tidak membuat kekacauan.
Salah satu senjata untuk mengendalikan lidah adalah kesabaran.
Kesabaran adalah buah Roh, buah dari keintiman dengan Tuhan.
“Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi “ (Amsal 10:19).
Ayat ini mengingatkan kita supaya jangan terlalu banyak bicara dan berbicara dengan berpikir lebih dahulu.
Pergunakan akal budi, bukan hanya perasaan.
Tentu saja ini bukan hal yang mudah.
Kita perlu belajar setiap hari.
Belajarlah untuk mendengarkan dengan sabar lawan bicara, kemudian pikirkan perkataan-perkataan yang tepat sebagai responnya.
Mungkin saudara dianggap lamban dalam berkomunikasi, tetapi itu lebih baik daripada cepat dana banyak bicara tetapi didalamnya ada pelanggaran.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana berlatih mengekang lidah.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Mungkinkah seorang anak Tuhan menghina Tuhan?
Adakah contoh bentuk penghinaan kepada Tuhan?
Siapakah yang dirugikan karena penghinaan itu?
“TUHAN berkata, “Kata-katamu sungguh menghina Aku.” “Tetapi kamu bertanya, ‘Apa yang kami katakan tentang Engkau?’ Kamu berkata, ‘Percuma saja berbakti kepada Allah. Apa gunanya melakukan kewajiban kita terhadap TUHAN Yang Mahakuasa, atau menunjukkan kepada-Nya bahwa kita menyesali kesalahan kita?Kita lihat sendiri bahwa orang-orang sombong bahagia. Orang jahat tidak hanya bertambah makmur, tetapi kalau mereka menguji kesabaran Allah dengan berbuat jahat, mereka luput juga.” (Maleakhi 3:13-15 BIS).
Ayat-ayat di atas sering terjadi kepada anak-anak Tuhan.
Ketika sedang mengalami penderitaan, apakah itu sakit penyakit atau kekurangan, kadang kita membandingkan kehidupan dengan mereka yang bukan anak Tuhan.
Kita merasa bahwa hidup kita lebih sulit dari mereka yang tidak mengenal Tuhan. Mazmur 73 juga mencatat hal yang sama:
“Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain. Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan.Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan. Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati.” (Mazmur 73:3-8).
Sekalipun kita sedang mengalami kesulitan, jangan pernah bandingkan hidupmu dengan kondisi mereka yang tidak mengenal Tuhan.
Ingatlah, akhir hidup mereka berbeda dengan kita.
Sekalipun mereka memiliki kekayaan berlimpah dan sepertinya mereka sukses, tetapi akhir hidup mereka di tempat kegelapan yang kekal.
Sedangkan kita, sekalipun selama di bumi ini mungkin mengalami banyak persoalan, tetapi akhir hidupnya jelas, hidup dalam surga yang mulia.
Ketika kita membandingkan kondisi kita dengan mereka yang di luar Tuhan, dan merasa Tuhan tidak adil, kita sedang menghina Tuhan.
Saudara, Ketika kita dalam persekutuan dengan Tuhan, kita akan menyadari kenyataan, bahwa mereka yang kita anggap mujur, akhir hidupnya sungguh menyakitkan, seperti dicatat dalam Mazmur 73:
“Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka. Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!” (Mazmur 73:16-19).
Saudara, dalam kesulitan tetaplah berdoa dan terus mengucapkan syukur.
Melalui doa, kita menyerahkan hidup kepada Tuhan dan melalui pengucapan syukur kita sedang mengakui bahwa Dia adalah Allah yang berdaulat.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana menghindari sikap hidup yang menghinakan Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Kabar apa yang diberitakan oleh 10 orang pengintai?
Apakah akibat kabar negatif yang dibawa 10 pengintai?
Apakah kabar yang dibawa oleh Kaleb dan Yosua?
“Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.” (Bilangan 13:31).
Terkadang suara mayoritas belum tentu benar.
Kisah 12 pengintai yang kita baca dan renungkan adalah salah satunya.
10 orang pengintai itu lebih percaya kepada penglihatan mereka daripada percaya kepada janji Allah.
Sebaliknya Kaleb dan Yosua lebih percaya kepada janji Allah daripada kepada penglihatan mereka.
Mereka menceritakan kondisi yang dialami selama pengintaian dan menyimpulkan sendiri tanpa peduli kepada janji Tuhan.
Sebagai akibatnya, 10 orang ini mencemari seluruh bangsa Israel. Bangsa Israel memberontak kepada Allah.
Saudara, akibat pemberitaan 10 orang ini fatal.
Allah menghukum bangsa Israel selama 40 tahun berkeliling di padang gurun, dan mereka tidak pernah masuk ke tanah perjanjian, kecuali keturunan mereka dan 2 orang pengintai yang benar, Kaleb dan Yosua.
Sungguh menyedihkan, bangsa Israel memilih suara mayoritas dari pada mendengar penjelasan Kaleb dan Yosua.
Janji Tuhan mereka abaikan karena mendengar berita dari 10 orang ini.
Saudara, dalam era pasca modern saat ini dunia mengalami juga era post-truth, dimana kebenaran dipelintir sedemikian rupa, sehingga orang tidak menyadarinya sudah disesatkan.
Kebohongan terus menerus diviralkan, sampai masyarakat percaya kepada bahwa itulah kebenaran.
Orang-orang jahat berupaya membangun opini menggunakan media sosial, untuk mengambil keuntungan dari masyarakat.
Saudara, kalau ada kabar-kabar yang melemahkan iman, berhati-hatilah.
Iblis adalah bapa segala pendusta saat ini gencar menyerang iman Kristen.
Iblis ingin mencuri damai sejahtera dan membuat kita tidak hidup dalam panggilan Allah.
Jangan mudah ikut mengirimkan kabar-kabar yang tidak jelas sumbernya.
Janganlah hidup seperti 10 pengintai, tetapi teladanilah Kaleb dan Yosua.
Mereka menempatkan firman Tuhan di atas fakta yang mereka lihat secara fisik.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya kabar buruk yang dibawa 10 pengintai itu melemahkan iman bangsa Israel.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang disaksikan oleh seorang saksi yang setia?
Siapakah yang disebut saksi dusta?
Mengapa si pencemooh disebut sia-sia ketika dia mencari hikmat?
Apa yang mudah diperoleh orang yang berpengertian?
Mengapa harus menjauhi orang bebal?
Saudara, ketika Roh Kudus turun atas hidup kita, maka kita diberi kuasa untuk menjadi saksi Kristus.
Dan kita memiliki tugas dan panggilan sebagai saksi Kristus.
Saksi Kristus adalah orang-orang yang telah mengalami Tuhan dalam hidupnya.
1 Yohanes 1:1-4”Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.”
Saudara, sebagai saksi yang setia, maka hendaklah kesaksian kita merupakan pengalaman ketika kita bersama Dia, Yesus Kristus yang telah ada di dalam hidup kita, Dia hidup dalam hati kita dan karena itu kita menjadi bahagian tubuh Kristus.
Sebagai tubuh Kristus maka kita mengalami kehidupan bersama dengan Yesus Kristus.
Pengalaman inilah yang patut kita ceritakan dan beritakan kepada orang yang belum ikut bersekutu dengan Bapa, Anak-Nya dan Roh Kudus-Nya.
Sudah sepatutnya kita menyaksikan atau bersaksi tentang Dia kepada orang-orang yang di luar persekutuan dengan Bapa, Anak-Nya Yesus Kristus.
Apa yang seharusnya kita saksikan tentang Kristus kepada orang-orang yang belum bersekutu dengan Bapa dan Yesus?
Yang perlu kita saksikan adalah tentang kasih Bapa yang telah kita rasakan, kita alami dan beberapa hal yang kita dengar atau baca dari Kitab Suci.
Bersaksi tidak perlu membesar-besarkan fakta yang telah kita alami, rasakan dan nikmati.
Membesarkan atau mengecilkan fakta-fakta yang kita alami merupakan kebohongan, sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh seorang saksi Kristus.
Jika itu terjadi, maka hal itu bisa disebut kesaksian palsu, saksi dusta dan bisa disebut saksi yang tidak setia, sehingga sepatutnya itu tidak kita lakukan.
Hal itu terjadi ketika kita tidak dipimpin oleh Roh Kudus. Itu bisa terjadi ketika kita ingin membesarkan diri karena kesombongan, ingin dianggap besar oleh orang lain yaitu sikap duniawi yang sepetutnya sudah tidak ada lagi dalam hidup orang percaya yang telah lahir kembali.
Roh Kudus tidak mengajar kita untuk berdusta karena iblislah bapak dusta.
Jika ada anak Tuhan yang berdusta, hal itu mungkin terjadi karena kebodohannya terpengaruh oleh roh dusta iblis dan setan-setan pengikutnya.
Oleh karena itu, rendahkanlah dirimu dan jangan congkak supaya jangan di pengaruhi roh-roh jahat pendusta dan roh kesombongan, sehingga kita berdusta dalam kesaksian-kesaksian kita.
Roh Kudus ingin memimpin orang percaya bersaksi dan Roh Kudus akan mengajarkan bagaimana kita memuliakan Bapa, Yesus Kristus, dengan tidak menambahkan sesuatu yang tidak ada, sesuatu yang tidak terjadi, sesuatu yang imajiner dan wacana serta keinginan sebagai sesuatu yang nyata.
Itu adalah kebohongan, sesuatu yang tidak pantas lagi kita lakukan.
Marilah kita menyaksikan apa yang kita lihat dengan mata kepala kita, dengarkan dan rasakan apa yang kita alami dalam hidup kita, supaya apa yang kita alami setelah kita lahir kembali yaitu pengalaman dalam pelayanan kita sehingga tidak perlu atau membesar-besarkan keadaan yang sebenarnya.
Haleluya, Puji Tuhan, Amen.
Apa penyebab ada anak Tuhan bahkan para pengkhotbah yang bercerita melebih-lebihkan fakta yang sebenarnya? Adakah itu, mengapa itu terjadi?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang dahulu sering dilakukan oleh orang-orang percaya di Kolose?
Apa yang harus di buang dari kehidupan jemaat Kolose?
Apa yang jangan lagi dilakukan oleh karena kita sudah menjadi manusia baru?
Apa yang terjadi dengan manusia baru kita?
Saudara, karena kita sudah mengalami kelahiran kembali, maka kita sekarang menjadi manusia baru di dalam Kristus.
Karenanya, maka kita oleh pekerjaan Roh Kristus kita akan mengalami pembaharuan dan pemulihan dari hari ke hari, rasul Paulus mengatakan dalam tulisannya:
Efesus 3:17”sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.”
Galatia 2:19b-20”Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Saudara, oleh Roh Kudus atau Roh Kristus itu, maka kita mengalami pembaharuan dari ke hari.
Rasul Paulus juga menuliskan apa yang pernah dituliskan oleh Nabi Yehezkiel pada Perjanjian Lama yaitu apa yang Tuhan Allah Yahwe akan lakukan dalam hidup orang percaya.
Roma 8:26-30”Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
Oleh Roh Kristus itu, maka kita mengalami pemulihan, penyucian dan pembenaran dan kita mengalami kemerdekaan oleh kebenaran yang menjadikan kita kudus.
Oleh karena itu, marilah kita membuang kata-kata kotor yang sudah tidak patut lagi keluar dari mulut kita.
Yakobus 3:9-12”Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.”
Oleh karena Roh Kristus itu ada di dalam kita, sudah tidak patut lagi kita berbicara dengan kata-kata kotor yang keluar dari mulut kita dan sudah sepatutnya kata-kata yang baik dan benar yang keluar dari mulut kita.
Haleluya, Puji Tuhan, Amen.
Apakah mungkin anak-anak Tuhan berbicara kotor? Apa sebabnya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Siapa yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati?
Apa yang harus diberitakan dan nyatakan? Bagaimana cara menegor dan menasihati orang-orang atau jemaat pada masa yang akan datang?
Karena akan datang waktunya dimana orang tidak lagi bisa menerima ajaran sehat, maka apa yang mereka akan lakukan?
Apa yang harus Timotius lakukan dan tunaikan?
Saudara, pada masa ini kita sering sekali dipengaruhi oleh keadaan disekitar kita sehingga kita bergerak oleh mood, perasaan atau logika kita yang dipengaruhi oleh keadaan itu.
Kalau keadaan di sekitar kita baik, maka perasaan dan logika kita akan baik, namun kalau keadaan di sekitar kita tidak baik, maka kita pun akan menjadi tidak baik sehingga hidup kita kadang kala terombang-ambing dalam keraguan.
Itulah sebab makanya rasul Paulus menasihati kita supaya kita tidak dipengaruhi dunia dan keadaan disekitar kita.
Galatia 5:25”Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,”
Hal ini dinasihatkan supaya kita tidak dikendalikan oleh daging kita atau keadaan di sekitar kita.
Karena ada banyak anak-anak Tuhan, saat ini jiwanya dikendalikan oleh suasana atau keadaan di sekitarnya.
Keadaan dunia saat ini sedang mengalami krisis keuangan, hal ini juga mempengaruhi keuangan orang percaya.
Akan tetapi orang-orang yang bergantung kepada Tuhan dan menjadikan Tuhan Yesus sebagai gembala-Nya:
Yohanes 10:11 ”Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;”
Mazmur 23:1-4”TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”
Dari ayat firman di atas, maka patutlah kita tidak terombang-ambing, karena Tuhan Yesus adalah gembala kita.
Dia berjanji bahwa Yesus memberikan nyawa-Nya dan hal ini telah Dia buktikan dengan karya salib-Nya.
Dia adalah gembala yang sangat memperhatikan domba-domba-Nya.
Roma 8:32”Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”
Saudara, oleh karena itu, marilah kita mengarahkan pikiran, perasaan kita sehingga kemauan kita bisa dikuasai oleh Roh yang telah hadir dalam hidup kita.
Biarkanlah Roh itu memimpin kita, supaya baik atau tidak baik keadaan di sekitar kita, maka kita senantiasa siap sedia selalu menjadi saksi Kristus dimanapun kita berada.
Haleluya, Puji Tuhan, Amen.
Apa sebab banyak anak-anak Tuhan tidak berani bersaksi atau mengabarkan firman Tuhan atau Injil keselamatan itu?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Siapa yang mengancam para Rasul?
Mengapa mereka mengancam para Rasul?
Apa yang diminta oleh para Rasul kepada Tuhan, mengapa?
Apa yang terjadi ketika mereka berdoa?
Apa yang menyebabkan mereka berani memberitakan firman Allah?
Saudara, ketika para Rasul, Simon Petrus dan Yohanes menyembuhkan orang lumpuh dan mereka mengajarkan kepada orang banyak bahwa Yesus Kristus yang mereka salibkan telah kembali ke Sorga dan kembali ke takhta-Nya sebagai Tuhan dan Allah, maka orang-orang Israel terutama orang-orang Farisi dan imam-imam Yahudi marah besar dan manangkap Petrus dan Yohanes serta melarang mereka mengajar dalam nama Yesus Kristus.
Kisah Para Rasul 4:18-20”Dan setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.”
Pada akhirnya orang-orang Farisi mengancam para Rasul dengan sangat keras agar mereka tidak lagi membesarkan nama Yesus Kristus karena menurut mereka, Yesus adalah penyesat, karena mereka menuduh Yesus sebagai anti hukum Taurat.
Padahal Tuhan Yesus tidak mengajarkan anti hukum Taurat, namun Yesus meluruskan kebengkokan hukum Taurat karena ahli-ahli agama Yahudi dan orang-orang Farisi telah menggunakan dan membelokkan hukum Taurat untuk kepentingan mereka.
Mereka menuduh Yesus sebagai penyesat karena Yesus meluruskan kebengkokan-kebengkokan itu.
Misalnya, Yesus meluruskan hukum hari Sabat, Yesus menentang orang-orang Farisi.
Matius 5:17-18”Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”
Dan Yesus telah melakukan semua hukum Taurat dalam hidup-Nya dengan sempurna.
Yesus telah menggenapi hukum Taurat itu dengan meluruskan, menjelaskan dan melakukannya dengan sempurna dalam hidup-Nya.
Yesus meluruskan dan menjelaskan dengan mengajarkan hukum Taurat yang lebih akurat dari yang diajarkan para ahli Taurat dan orang Farisi.
Matius 6:6”Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Sementara orang-orang Farisi berdoa di pinggir jalan dengan jubah dan tali-tali sembahyang di pinggang.
Mereka menadahkan tangan dengan wajah yang terangkat ke atas.
Ajaran Yesus ini menyebabkan orang-orang Farisi sangat benci kepada Yesus Kristus. Ketika Yesus dicobai maka Yesus memperlihatkan ketaatan-Nya daripada Dia memperlihatkan kuasa ilahi-Nya.
Yesus memperagakan hukum Taurat dalam hidup-Nya.
Dia memperlihatkan bahwa Dia adalah hamba Allah Yahwe di hadapan setan si pencoba itu.
Matius 5:31-32”Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.”
Matius 6:16-18”Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Matius 12:1-8”Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
Melalui pengajaran Yesus inilah, orang-orang Farisi, imam-imam dan para ahli Taurat sangat benci kepada Yesus Kristus.
Dan Yesus mencela para pemimpin itu.
Matius 23:23”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”
Pernyataan Yesus Kristus menyebabkan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat semakin benci kepada Yesus.
Mereka menginginkan agar Yesus dibunuh karena mereka sangat takut kedudukan mereka di bangsa itu bisa hilang sehingga mereka tidak berharga dan tidak dihormati bangsa Israel lagi.
Jadi, pengajaran Yesus Kristus ini menjadi ajaran yang dikenal oleh para pendengar-Nya sebagai ajaran yang menentang ajaran para ahli Taurat dan orang-orang Farisi.
Hal inilah yang menyebabkan Yesus dibunuh dengan disalibkan.
Namun pada hari ketiga, Yesus bangkit dari antara orang mati dan ahli Taurat semakin jelas tahu bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan. Orang Farisi, ahli Taurat dan imam-imam juga imam besar bangsa itu telah mendengar bagaimana Yesus yang mereka salibkan telah mati tetapi pada hari ketiga, Yesus bangkit dari antara orang mati.
Namun karena kedudukan terhormat mereka bisa amblas kalau di proklamirkan bahwa Yesus adalah mesias, Kristus yang di tunggu-tunggu oleh bangsa Israel, maka mereka pura-pura tidak tahu.
Mereka menyuap tentara Romawi supaya tidak melaporkan kebangkitan Yesus Kristus dan berbohong karena kedudukan mereka sebagai petinggi bangsa Israel dapat terancam.
Saudara, ancaman petinggi Israel kepada para rasul-rasul itu begitu rupa, maka diperlukan keberanian untuk mengabarkan Firman Allah.
Itulah sebabnya maka para rasul berdoa meminta di beri keberanian dan pengurapan khusus yang dipenuhi oleh Roh Kudus agar pemberitaan Injil mereka disertai oleh tanda-tanda heran dan mujizat-mujizat supaya orang banyak bisa mempercayai kesaksian atau pemberitaan Injil para Rasul dan Tuhan mendengarkan doa mereka.
Tuhan menggoncang tempat mereka berdoa, Tuhan memenuhi mereka dengan Roh Kudus dan Tuhan memberi keberanian kepada mereka untuk pergi memberitakan Injil Keselamatan yang disertai dengan tanda-tanda dan mujizat.
Haleluya, Puji Tuhan, Amen.
Mengapa banyak anak-anak Tuhan tidak berani memberitakan firman Tuhan atau memberitakan Injil Yesus Kristus atau Injil keselamatan atau Injil Kerajaan Allah?