Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya saudara dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang tidak putus-putusnya dinaikkan oleh Paulus mengenai jemaat di Tesalonika?
Apakah jemaat Tesalonika menerima firman Allah sebagai perkataan manusia?
Apakah yang terjadi ketika firman Allah diberitakan oleh Paulus?
Apakah jemaat di Tesalonika juga menderita karena firman Allah?
Paulus mengucap syukur kepada Allah karena melihat dan mengalami bagaimana kuasa firman Allah yang diberitakan kepada orang-orang Tesalonika mengubahkan hidup mereka.
Berdasarkan referensi, Kota Tesalonika pada masa itu merupakan pusat perdagangan yang sibuk, sehingga jemaat tersebut terdiri dari orang-orang dari berbagai latar belakang sosial.
Ada orang Yahudi, orang Yunani, dan orang Romawi.
Namun, mayoritas anggota jemaat adalah orang Yahudi yang telah bertobat dan memeluk iman Kristen.
Paulus menyebutkan bahwa jemaat Tesalonika sudah berkembang secara rohani, dan mereka menjadi teladan bagi orang-orang di daerah sekitarnya.
Mereka hidup dengan iman yang kokoh dan kasih yang saling mengasihi.
Jemaat Tesalonika juga mengalami penganiayaan dari orang-orang di sekitar mereka karena mereka mengikuti ajaran Kristen.
Beberapa anggota jemaat bahkan menderita kerugian secara finansial.
Mentransformasi suatu kehidupan di kota pusat perdagangan bukanlah hal yang mudah, namun surat Paulus kepada jemaat Tesalonika memberikan bukti bahwa firman Allah berkuasa mengubahkan hidup.
Firman Allah dapat mengubahkan mereka juga karena peran Paulus yang berjerih lelah memberitakan Injil sekaligus bekerja siang malam agar tidak menjadi beban bagi mereka.
Paulus rela membagi hidupnya dengan jemaat yang dilayaninya, menjadi bapa terhadap mereka.
Bila kita membaca seluruh ayat dalam 1 Tesalonika 2 kita bisa menyaksikan betapa luar biasa usaha yang telah dilakukan Paulus, namun Paulus tetap yakin bahwa jemaat Tesalonika ada dan bertumbuh karena firman Allah yang berkuasa.
Itulah sebabnya Paulus senantiasa mengucap syukur.
Saudara, mari kita mengucap syukur seperti teladan yang diberikan oleh Paulus.
Paulus tidak hanya yakin dengan firman Allah yang diberitakannya namun dia juga bekerja keras untuk melayani jemaat yang diberitakan firman Allah tersebut.
Mungkin selama ini kita belum melihat bagaimana hasil kerja keras kita melayani jemaat yang Tuhan percayakan, tetapi biarlah kita tetap senantiasa mengucap syukur karena hanya firman Allah yang berkuasa mengubahkan.
Renungkan kebenaran Firman Tuhan hari ini, adakah yang Tuhan inginkan untuk saudara lakukan? Diskusikan dengan kelompok PA dan Persekutuan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya saudara dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Dengan apakah pemazmur menanduk dan menginjak-injak lawan mereka?
Sesuai dengan bacaan hari ini, apakah pemazmur percaya kepada panah dan pedangnya pada saat peperangan?
Siapa yang memberi kemenangan kepada mereka?
Karena apa mereka menyanyikan puji-pujian sepanjang hari?
Medan peperangan dan berbagai strateginya adalah kisah masa Perjanjian Lama yang banyak dicatat dalam Alkitab, mereka menggunakan panah, pedang dan juga kuda sebagai kendaraan tempur, selain strategi atau pengalaman perang pemimpinnya.
Secara umum senjata dan kendaraan tempur merupakan peralatan yang menentukan dan berharga di medan perang.
Kisah bangsa Israel yang dipimpin oleh Tuhan dalam peperangan memberikan pengalaman baru yang menyadarkan mereka bahwa ada yang lebih utama dari senjata untuk meraih kemenangan dalam medan perang.
Mereka mengalami kemenangan demi kemenangan bukan karena senjata atau bahkan strategi mereka, tetapi karena Tuhan yang memimpin.
Pemazmur menyebut Tuhan sebagai Raja yang memerintahkan kemenangan bagi mereka.
Nama Tuhan yang ajaib membuat mereka dapat mengalahkan musuh.
Pada hari ini kita tidak lagi menghadapi peperangan seperti pada masa Perjanjian Lama, namun secara rohani kita terus mengalami peperangan melawan roh-roh jahat di udara, melawan intimidasi dan tipu muslihat iblis.
Kita juga memiliki senjata rohani yang ada pada Efesus 6:14-17, senjata ini jelas menentukan kemenangan kita atas musuh, namun tentunya tanpa pimpinan Roh Tuhan semua senjata rohani sebenarnya tidak dapat bekerja dengan baik.
Kita berhasil melawan segala initmidasi dan tipu muslihat karena hikmat dari Tuhan dan kuasaNya bekerja dalam hidup kita ketika kita taat melakukan perintahNya.
Mengucap syukur atas kemenangan dari Tuhan adalah bentuk pengakuan kita bahwa Tuhanlah yang memberi kita kemenangan, karena Dia bertahta sebagai Raja dalam hidup kita sehingga iblis tidak bisa mengalahkan kita.
Mari kita senantiasa mengucap syukur setiap hari karena kita tahu dan yakin bahwa Tuhan telah memberikan kemenangan bagi kita.
Renungkan kebenaran Firman Tuhan hari ini, adakah yang Tuhan inginkan untuk saudara lakukan? Diskusikan dengan kelompok PA dan Persekutuan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya saudara dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang Firman Tuhan ingatkan mengenai efek dari bersungut-sungut?
Apa yang harus kita teladani dari para nabi mengenai penderitaan dan kesabaran mereka?
Mengapa mereka disebut berbahagia?
Apa yang pada akhirnya disediakan bagi kita yang sabar dan tidak bersungut-sungut menghadapi tekanan dan penderitaan seperti contoh Ayub?
Kita tidak tahu bagaimana kisah Ayub berakhir bila Ayub bersungut-sungut dan menyalahkan Tuhan karena seluruh hal baik yang Ayub kerjakan seakan-akan diabaikan oleh Tuhan.
Kita juga tidak tahu bagaimana kisah Yusuf akan berakhir bila Yusuf bersungut-sungut dan menyalahkan saudara-saudaranya dan Tuhan ketika mengalami penderitaan pada saat dijual sebagai budak.
Mereka adalah sebagian contoh dari teladan orang-orang yang bila mereka bersungut-sungut sebenarnya punya alasan “yang kuat”, namun mereka memilih untuk tidak melakukannya, mereka memilih untuk menderita dan sabar dalam kondisi yang mereka alami.
Seringkali ketidakadilan atau kenyataan yang tidak sesuai harapan membuat banyak orang bersungut-sungut dan mempersalahkan orang lain atau bahkan Tuhan.
Mereka menganggap bahwa penderitaan yang mereka alami seharusnya tidak terjadi atas mereka.
Kita seringkali tidak menyadari bahwa harapan kita belum tentu merupakan harapan Tuhan, kita juga seringkali mengalami suatu yang kita anggap ketidakadilan namun sesungguhnya itu Tuhan ijinkan untuk membentuk kita agar tekun dan sabar.
Yusuf dan Ayub adalah teladan bagaimana mereka bersikap ketika mengalami kenyataan yang tidak sesuai harapan itu terjadi atas hidup mereka.
Dengan tekun dan sabar mereka menerima semua itu dan terus yakin bahwa Tuhan punya rencana.
Mereka tidak pernah bersungut-sungut dan mempersalahkan orang lain.
Yusuf bahkan yakin bahwa saudara-saudaranya yang membuang dirinya dipakai Tuhan agar membawa Yusuf lebih dulu ke Mesir untuk menolong keluarganya pada saat yang ditentukan Tuhan.
Apakah saudara mengalami ketidakadilan atau kenyataan yang tidak sesuai harapan seperti yang pernah terjadi pada Ayub dan Yusuf pada awalnya?
Berdoalah agar Roh Kudus memberikan arahan dan pengertian kepada saudara, biarkan Dia memberikan kekuatanNya kepada kita agar kita tekun dan sabar menanggungnya.
Dijauhkanlah mulut kita dari bersungut-sungut dan mempersalahkan siapapun, karena bila kita tetap tekun dan sabar maka kita disebut berbahagia.
Renungkan kebenaran Firman Tuhan hari ini, adakah yang Tuhan inginkan untuk saudara lakukan? Diskusikan dengan kelompok PA dan Persekutuan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya saudara dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah sebenarnya kita tahu apa yang kita doakan tanpa pimpinan Roh?
Apa tujuan Allah turut bekerja dalam segala sesuatu?
Apa ketetapan bagi orang yang dipilihNya dari semula?
Apa yang terjadi dengan orang-orang yang ditentukanNya dari semula?
Apakah tujuan Allah ketika Dia bekerja dalam segala sesuatu?
Saudara, Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang tidak punya tujuan dan rencana.
Allah sudah pasti tidak turut bekerja dalam segala sesuatu jika hanya untuk menuruti keinginan manusia.
Sebagai manusia, kita sangat rentan bahkan untuk berdoa saja kita sebenarnya juga tidak tahu, justru Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah.
Allah kita turut bekerja dalam segala sesuatu agar kita yang dipanggilNya menjadi serupa dengan AnakNya dan supaya kita yang dibenarkan juga dimuliakanNya.
Ada kata kunci yang jelas yaitu menjadi serupa dengan Yesus.
Mari kita pastikan bahwa kita semua sedang mengalami suatu proses yang terus menerus menjadi semakin serupa dengan Yesus, karena hanya dalam proses inilah Allah turut bekerja.
Ketika bangsa Israel memutuskan untuk balik ke Mesir karena mendengar kabar berita yang dibawa pengintai-pengintai dari tanah Kanaan maka di situlah Allah tidak turut bekerja, pada akhirnya orang-orang ini tidak pernah masuk ke tanah perjanjian, mereka mati di pandang gurun.
Allah sejak semula turut bekerja dengan memberi tiang api dan awan, Allah turut bekerja dengan membelah laut, Allah turut bekerja dengan memberi mereka air pada saat kehausan.
Namun pada titik dimana mereka memutuskan untuk menolak masuk tanah perjanjian sejak saat itu Allah tidak turut bekerja pada orang-orang ini, mereka mati sia-sia karena tidak mengasihi Tuhan dan mereka lebih mengasihi diri mereka sendiri.
Saudara, mari kita pastikan bahwa kita benar-benar mengasihi Dia dan rindu untuk menjadi serupa dengan Kristus seperti yang menjadi tujuanNya, karena disitulah Allah tetap turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.
Renungkan kebenaran Firman Tuhan hari ini, adakah yang Tuhan inginkan untuk saudara lakukan? Diskusikan dengan kelompok PA dan Persekutuan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya saudara dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Mengapa kita diajarkan untuk mengucap syukur?
Bagaimana membangun kehidupan yang dipenuhi dengan mengucap syukur dalam segala hal?
Suatu ketika George Muller (1805-1898) seorang pemilik panti asuhan Ashley Down orphanage di Bristol, England, telah mengangkat 10.024 orang yatim piatu selama hidupnya, pernah menghadapi satu keadaan tidak ada makanan sama sekali padahal waktu makan malam telah tiba.
Apa yang dilakukannya?
Dia dan anak-anak asuhannya mulai menata piring, sendok, garpu, gelas dan peralatan makan lainnya di atas meja makan kemudian Muller mulai meminta mereka duduk di tempat mereka masing-masing.
Tiba-tiba ada seorang anak menceletuk, “Mana makannya” dengan yakin Muller menjawab pertanyaan tersebut, ”Sebentar lagi datang.”
Dia kemudian mengajak mereka berdoa, mengucap syukur atas berkat yang telah diberikannya sekalipun makanannya belum ada.
Setelah amin, tiba-tiba terdengar pintu diketok seseorang dan akhirnya setelah dibuka ternyata terdapat jumlah makanan yang cukup banyak lalu makanlah mereka semua malam itu.
Hal itu terjadi berkali-kali. Itulah kuasa dari pengucapan syukur.
Pengucapan syukur merupakan perintah dan yang dikehendaki Tuhan sehingga tidak ada pilihan, tidak ada “jikalau” atau “kalau” atau “kalau ada waktu” karena perintahNya maka mengucap syukur dalam segala hal dapat diartikan sebagai orang yang percaya terhadap seluruh aspek kehidupan, baik situasi dan kondisi yang dihadapi dan alami sekalipun buruk tetap dapat mengambil sikap bersyukur dan bersukacita.
”Sudah jatuh tertimpa tangga”
kok malah disuruh mengucap syukur, kata seseorang yang belum mengetahui rahasia kuasa mengucap syukur dalam segala hal, tetapi bagi orang yang mengerti kuasa mengucap syukur dalam segala hal akan selalu bersukacita senantiasa karena hal ini akan membawa dampak yang luar biasa.
Kita lebih mudah bersungut-sungut daripada mengucap syukur bila keadaannya buruk.
Bukan berarti kita mengucap syukur atas pekerjaan iblis yang dilancarkan kepada kita atau mengucap syukur atas malapetaka atau kemalangan yang menimpa kita.
Bukan!
Kita mengucap syukur bukan pada keadaannya tetapi mengucap syukur kepada Tuhan bahwa sekalipun keadaannya buruk Dia pasti menolong dan menunjukkan kebaikanNya kepada kita sehingga iblis tidak mendapat keuntungan atas kita.
Ilustrasi mengucap syukur dapat menginspirasi seorang Jepang bernama MASARO EMOTO yang menulis “The Truth of Water”.
Masaru Emoto adalah seorang seorang peneliti dari Hado Institute di Tokyo, Jepang pada tahun 2003 yang melalui penelitiannya mengungkapkan suatu keanehan pada sifat air.
Melalui pengamatannya terhadap lebih dari dua ribu contoh foto kristal air yang dikumpulkannya dari berbagai penjuru dunia, Emoto menemukan bahwa partikel molekul air ternyata bisa berubah-ubah tergantung perasaan manusia di sekelilingnya, yang secara tidak langsung mengisyaratkan pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air yang terbentuk oleh adanya ikatan hydrogen.
Emoto juga menemukan bahwa partikel kristal air terlihat menjadi “indah” dan “mengagumkan” apabila mendapat reaksi positif di sekitarnya, misalnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan.
Namun partikel kristal air terlihat menjadi “buruk” dan “tidak sedap dipandang mata” apabila mendapat efek negatif di sekitarnya, seperti kesedihan dan bencana.
Jika kita bersungut-sungut ketika diteliti kristal airnya jelek dan jika kita bersyukur kristal airnya menjadi baik, sehingga mengucap syukur membuat menjadi sehat.
Lebih dari dua ribu buah foto kristal air terdapat di dalam buku “Message from Water” (Pesan dari Air) yang dikarangnya sebagai pembuktian kesimpulannya.
Renungkan kebenaran Firman Tuhan hari ini dan diskusikan dengan kelompok PA dan Persekutuan. Sudahkah anda dapat mengucap syukur dalam segala hal yang kelihatan tidak mungkin bersyukur!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya saudara dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Mengapa kehidupan Stefanus Penuh dengan Roh Kudus?
Bagaimana dampak pengaruh yang diperlihatkan Stefanus yang penuh dengan Roh Kudus dalam pelayanan?
Stefanus, salah seorang dari tujuh diaken yang dipilih untuk melayani pelayanan meja yang tugasnya mengatur pembagian bantuan kepada para janda yang membutuhkan -Kisah Para Rasul 6:5.
Stefanus lebih menonjol jika dibandingkan dengan yang lain dalam hal iman, kasih, kuasa rohani serta dipenuhi hikmat (Full of the Spirit and Wisdom)-Kisah Para Rasul 6:5,8,10.
Mengapa urusan melayani pelayanan meja, para pelayannya harus memenuhi kriteria dipenuhi Roh Kudus dan penuh Roh Hikmat?
Jika kita teliti dalam Kisah Para Rasul, ketujuh orang ini ternyata bukan hanya mengurus pelayanan meja tetapi juga dapat melayani berkotbah, pemberitaan Injil dan mengajar walaupun fungsi utamanya menjadi diaken yang melayani meja.
Stefanus tercatat bukan hanya melayani pelayanan meja saja tetapi Tuhan pakai juga untuk melayani pemberitaan Injil yang disertai dengan tanda mukjizat.
Stefanus memberitakan Injil dengan penuh Roh Kudus sehingga mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh Kudus menempelak para anggota Mahkamah Agama sampai menusuk hatinya.
Stefanus memberitakan firman Tuhan untuk menegur dosa mereka.
Mereka yang terkena teguran dan tertusuk hatinya bukan bertobat tetapi marah -Kisah Para Rasul 5:33 dan 7:54 dan mereka menghasut orang banyak untuk melawan Stefanus dengan cara memfitnah, menyergap, menyeret, dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama dengan tuduhan menghujat nama Allah.
Oleh karena itu, Stefanus dirajam sampai mati.
Stefanus dirajam bukan karena dia memberi makan orang miskin tetapi Stefanus dirajam karena dia memberitakan Firman Tuhan dan menjadi martir pertama.
Hal yang menarik sesudah Stefanus menyatakan melihat Yesus berdiri di sebelah kanan Allah, ia ditangkap dan dirajam batu sampai mati -Kisah Para Rasul 7:54-60.
Stefanus menghadapi kematian seperti yang dialami Tuhan Yesus karena dituduh memberikan kesaksian palsu.
Stefanus juga berdoa seperti yang dilakukan Tuhan Yesus -Lukas 23:34, memohon pengampunan dosa bagi yang menganiaya dia dan menyerahkan rohnya kepada Yesus Kristus sehingga tercatat menjadi martir pertama Gereja mula-mula.
Stefanus memang mengalami penderitaan, bahkan kematian karena Kristus.
Setelah kematiannya, pemberitaan Injil semakin meluas di luar Yerusalem.
Kematian Stefanus pun dapat dikatakan menjadi salah satu faktor yang membawa Saulus kepada Kristus -Kisah Para Rasul 7:58; 8:1,3.
Kita dapat belajar bahwa setiap penderitaan yang Tuhan izinkan yang terjadi pada umatNya sebagai bagian dari memikul salib akan selalu mendatangkan kemajuan bagi Injil dan KerajaanNya.
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan apakah sudah kita berani menyatakan kebenaran dan tetap setia kepada Kristus apapun penderitaan yang sedang dialami?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya saudara dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Mengapa Jemaat mula-mula hidup takut akan Tuhan?
Bagaimana membangun hidup takut akan Tuhan?
Ketika jemaat Tuhan melihat perbuatan yang menakjubkan dan tanda-tanda ajaib yang dilakukan oleh para rasul, mereka menjadi takut dan kagum terhadap yang diperbuat Allah.
Ketika Allah menyatakan kemuliaanNya, kita tidak mungkin tetap berdiri dengan kekuatan kaki dan akan sujud karena tidak tahan dengan kemuliaan Allah dan setiap orang percaya harus mempunyai perasaan-perasaan yang peka.
Orang yang seumur hidupnya tidak pernah membangun dan mempunyai gaya hidup yang takut akan Tuhan, pastilah hidupnya tidak akan menjadi berkat, berdampak dan menjadi panutan.
Salah satu kebiasaan yang dapat dibangun kehidupan yang takut akan Allah dengan menjaga kekudusan hidup dan taat kepada Allah dan firmanNya.
Mengapa hal ini menjadi penting?
Karena orang yang takut akan Allah akan merasa begitu gentar menyakiti hatiNya dengan berdosa kepadaNya.
Orang yang mengagumi Allah tidak akan begitu saja mengorbankan menikmati Allah yang mengagumkan itu dan menggantikannya dengan kenikmatan dosa yang cemar.
Satu-satunya kekuatan untuk melawan dosa adalah takut akan Allah dan mengagumi Dia.
Ketika Tuhan menyatakan diriNya, baik melalui tanda-tanda ajaib dan FirmanNya, dunia meremehkan Tuhan, menghina Dia, menikmati hal yang dibenciNya dan mengabaikan Dia, tetapi gerejaNya mengagungkan Dia, takut akan Dia, menikmati kemuliaanNya dan sujud kepada-Nya.
Di manapun Tuhan menempatkan kita: di tempat kerja, di sekolah atau kampus, Tuhan ingin agar kita memperlihatkan kehidupan yang ”takut akan Allah” seperti Yusuf yang dengan tegas menolak ajakan isteri tuannya dan berkata kepada nyonyanya :
”…Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kejadian 39:8-9)
dan nasihat Tuhan kepada Yosua untuk senantiasa memperkatakan Firman Tuhan agar dapat bertindak hati-hati serta tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri maka janjiNya ke manapun engkau pergi akan beruntung dan berhasil -Yosua 1:7.
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan sudahkah engkau membangun hidup yang takut akan Tuhan di tempat kerja, di sekolah atau kampus dan lingkungan tempat tinggal!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya saudara dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang menjadi rahasia Jemaat yang disukai semua orang?
Bagaimana menjadi jemaat yang disukai semua orang?
Nama baik membangun reputasi, kehormatan, kenamaan, kejayaan dan kebaikan.
Jemaat mula-mula begitu disukai karena memiliki daya tarik kehidupan yang berbeda yakni : takut akan Tuhan, peduli terhadap sesama, serta penuh kegembiraan dan ketulusan.
Bukan hanya satu atau dua jemaat saja yang disukai, melainkan seluruh kawanan Jemaat.
Padahal biasanya orang tidak suka dengan kumpulan orang bila dirinya tidak tergolong ke dalam kumpulan itu.
Orang juga sering merasa terganggu jika ada kelompok, apalagi kelompok besar, yang mengadakan acara yang asing bagi mereka.
Apakah rahasianya sehingga jemaat mula-mula ini bahkan semakin bertambah jumlahnya?
Mereka semua ternyata telah bertobat dan menerima karunia Roh Kudus -Kisah Para Rasul 2:38, kesatuan dan saling berbagi terus terpelihara -Kisah Para Rasul 2:44, senantiasa mengenang dan bersyukur atas pengorbanan Kristus yang menebus dosa -Kisah Para Rasul 2:46.
Selain itu, mereka hidup dengan ketulusan, tidak punya agenda terselubung agar diri mereka diuntungkan dan disukai tetapi Tuhan yang dimuliakan.
Biarlah kehidupan jemaat mula-mula ini dapat menjadi acuan bagi kita agar tidak hanya menjadi jemaat Tuhan yang biasa-biasa, tetapi mengupayakan menjadi berkat bagi orang lain sehingga mereka yang belum percaya semua tertarik untuk mengenal Tuhan Yesus.
Jika diri kita dan jemaat tidak bertumbuh, patutlah kita bercermin kepada jemaat mula-mula.
Kita tidak bisa meniru sepenuhnya kehidupan orang percaya yang pernah sukses di masa silam, namun kita dapat meneladani jemaat mula-mula yang mengejar kasih yang tulus dan kasih itu muncul oleh pengenalan dan relasi mereka dengan Kristus Yesus dan teman-teman seiman.
Akibat dari mereka yang menjadi jemaat yang disukai semua orang, maka Tuhan setiap hari menambah jumlah mereka yang percaya.
Sebetulnya jumlah bukan merupakan tujuan utama, hal ini terjadi akibat dari efek atmosfer kehadiran Tuhan.
Mari kita semua belajar agar menjadi “Jemaat yang disukai jemaat” bukan hanya menjadi label gereja mula-mula, tapi juga untuk Jemaat GKKD-BP yang menjadi Rumah Kabar Baik.
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan sudahkah kita menjadi Jemaat yang disukai semua orang di mana Tuhan menempatkan!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya saudara dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah yang Yesus maksudkan hendaklah terangmu bercahaya di depan sesama?
Apa yang menjadi syarat sehingga terangmu bercahaya dan memuliakan Bapamu yang di Surga?
Seorang Misionaris E. Stanley Jones pernah mengajukan pertanyaan kepada Bapa Negara India Mahatma Gandhi :
”Sekalipun Bapa dengan bangga mengutip kata-kata Yesus, mengapa Bapa menolak begitu keras menjadi pengikut Kristus?”
Jawab Bapa Mahatma Gandhi: ”Saya sama sekali tidak pernah menolak Kristus, saya suka Kristus, tapi saya tidak suka dengan orang Kristen. Jika orang Kristen benar-benar hidup menurut ajaran Kristus seperti yang ditemukan di dalam Alkitab
Dengan mengejutkan Bapa Mahatma Gandhi berkata: ”Seluruh India sudah menjadi Kristen”.
Mengapa hal itu tidak terjadi? karena orang Kristen yang dijumpai Gandhi berperilaku sangat buruk yang melukai hatinya.
Kehidupan kita akan disorot, diperhatikan orang dan tidak menyembunyikan terang, sesuai dengan Nats Matius 5:14”Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi” dan Matius 5:15”Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang…”
Sesuai dengan Nats Matius 5:16”Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya…”.
Hendaklah terangmu bercahaya merupakan tanggung jawab sekaligus suatu kehormatan yang luar biasa sebagai orang percaya untuk dapat memancarkan cahaya terang Kristus di tengah-tengah dunia.
Dalam versi KJV, terang bercahaya diartikan berkilat, berkilau, berseri, mengkilap, berkilau-kilauan, dengan kata lain panggilan Tuhan kepada kita pasti membawa terang dan ketetapanNya bukan redup, suram dan tak berdaya.
Perbuatan baik kita mempunyai daya tarik.
Kata baik dalam bahasa Yunani memakai dua kata ”Agathos” yang memiliki arti sesuatu yang baik mutunya dan ”Kalos” berarti bukan hanya baik tetapi juga indah, menarik hati dan mempunyai daya tarik.
Tujuan akhir dari perbuatan baik yaitu agar orang-orang dapat memuliakan Tuhan.
Mari memiliki hidup yang berbeda sebagai pelajar, mahasiswa, karyawan dan pengusaha di dalam hal kejujuran, kerajinan, kedisiplinan, tidak suka terlambat, mentaati peraturan lalu lintas, tidak melanggar lampu lalu lintas juga tidak mudah menyerah, mengeluh dan bersyukur dengan setiap kesukaran.
Hendaklah terangmu bercahaya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, terlihat dan mendapatkan pengakuan dengan sasaran akhirnya bukan untuk memuliakan diri kita tetapi untuk memuliakan Bapamu di Surga.
Tuhan Yesus Memberkati.
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan tentang sudahkah kehidupanmu bercahaya dan memuliakan Bapamu di Surga!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya saudara dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang menjadi tanda yang menyertai orang yang percaya?
Siapa yang pergi untuk memberitakan Injil?
Adakah yang dapat membuat orang percaya takut untuk memberitakan injil?
Saudara, segera setelah Tuhan Yesus meyakinkan murid-Nya bahwa Ia telah bangkit, Yesus Kristus berkata kepada mereka : “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahkluk.”(Markus 16:15b).
Tuhan Yesus sudah menyelesaikan misi-Nya di bumi ini.
Tongkat estafet selanjutnya diberikan kepada orang percaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia.
Amanat ini tidak mudah, tetapi dapat dilaksanakan.
Tuhan Yesus memberikan karunia-karunia supranatural yang menjadi tanda ajaib dalam karya Roh Kudus bagi mereka yang menerima Injil yang mereka beritakan.
Murid-murid akan mengusir setan-setan, berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru, memegang ular, dan sekalipun meminum racun maut mereka tidak akan celaka, dan menyembuhkan yang sakit.
Pada intinya, ada modal yang lebih dari pada cukup untuk memberitakan “sukacita surga” kepada seluruh orang mulai dari yang terpencil, sampai ke seluruh dunia.
Roh Kudus yang tidak terbatas itu, yang bekerja secara luar biasa pada hidupnya para murid dengan cara yang melampaui akal, akan bekerja juga pada kita yang bersukacita menyampaikan kabar baik.
Tuhan Yesus turut bekerja di dalam kita dan meneguhkan Firman yang sudah disampaikan.
Tuhan Yesus Memberkati.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, kapan terakhir kali memberitakan Injil? Dan apakah rindu kembali untuk kembali memberitakan Injil?