Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya!
Apakah yang dimaksud memahami kasih Kristus?
Apakah yang dimaksud mengenal kasih?
Mengapa kasih Allah melampaui segala pengetahuan?
“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” (Efesus 3:18-19).
Dalam ayat di atas ada 3 level hubungan kita dengan kasih Allah.
Pemahaman, pengenalan dan dipenuhi dalam seluruh kepenuhan Allah.
Pemahaman adalah langkah awal. Ini menyangkut kesediaan untuk belajar dengan semangat.
Menggunakan akal budi. Kita harus secara aktif untuk belajar memahami kasih Kristus.
Ini adalah langkah awal untuk mengalami kepenuhan Kristus.
Langkah berikut adalah mengenal kasih.
Kasih Allah sesuai ayat di atas melampaui segala pengetahuan (tidak masuk akal).
Kita tidak cukup memahami dengan pikiran, tetapi masuk lebih dalam lagi, sampai mengalami pewahyuan.
Ini hanya dapat diperoleh melalui perenungan firman dan penyembahan pribadi yang intens.
Kata “mengenal” dalam ayat di atas dalam Bahasa Yunani Alkitab memiliki arti pengetahuan fungsional (“bekerja”) yang diperoleh dari pengalaman langsung (pribadi).
Pengenalan akan kasih Kristus diperoleh melalu persekutuan pribadi.
Saudara, setelah kita memahami dan mengenal kasih Allah maka kita akan mengalami kehidupan yang dipenuhi kepenuhan Allah, yang kalau menggunakan Alkitab Bahasa Indonesia sehari-hari “sehingga kalian penuh dengan kepribadian Allah yang sempurna”.
Inilah tujuan hidup orang Kristen, kita memiliki kepribadian Allah yang sempurna, atau menjadi seperti Tuhan Yesus.
Saudara, ambillah langkah yang nyata untuk mengalami kepenuhan Kristus atau keserupaan dengan Kristus.
Miliki waktu untuk belajar kasih Allah dengan benar.
Miliki persekutuan pribadi (penyembahan dan merenungkan firman) secara intens.
Renungkanlah, apakah kita sudah meluangkan waktu untuk memahami dan mengenal kasih Kristus.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya!
Apakah ciri utama kita hidup dalam kasih?
Apakah maksudnya kita ada dalam dunia seperti Yesus dalam dunia?
Mengapa tidak ada ketakutan dalam kasih?
“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:18).
Ketakukan adalah akibat dosa yang nyata.
Orang-orang berdosa hidupnya adalah dalam ketakutan karena maut.
Mereka menyadari di dalam hati mereka, bahwa upah dosa adalah maut.
Mereka dikejar-kejar oleh rasa takut kepada maut.
Ibrani 2:15“dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut”.
Jadi, orang yang mengerti kasih Allah dan tinggal dalam kasih Allah pasti tidak lagi tinggal dalam ketakutan.
Orang yang sudah menerima kasih Allah menjadi ciptaan baru yang berkenan kepada Allah.
Oleh karena itu, tidak ada lagi ketakutan.
Saudara, ketika Adam dan Hawa jatuh di dalam dosa, mereka takut bertemu Allah.
Kejadian 3:10 “Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”
Ketakutan adalah bagian dari orang berdosa.
Sekarang status kita adalah orang benar (dibenarkan oleh Allah), tidak lagi dikejar ketakutan seperti Adam saat jatuh dalam dosa.
Ketakutan muncul Ketika fokus kita teralihkan dari Tuhan kepada masalah.
Seperti kisah para murid saat perahu mereka diterpa gelombang laut, mereka ketakutan.
Yohanes 6:20-21 “Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut! Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tuju”.
Tinggal dalam hadirat Tuhan akan menghalau ketakutan.
Kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita membuat kita sadar atas penyertaan Tuhan sehingga ketakutan lenyap.
Bagaimana caranya menyadari kehadiran Tuhan?
Pertama, senantiasa mengucap syukur.
Saat mengucap syukur, kita sedang mengingat kehadiran Allah.
Kedua, memuji Tuhan. Saat memuji Tuhan, kita sedang mengingat Dia.
Ketiga, mengucapkan firman secara berulang.
Diskusikan dengan rekan-rekan PA, bagaimana cara menyadari kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya!
Mengapa kita harus saling mengasihi?
Apakah yang terjadi bila kita saling mengasihi ?
Seperti apa kita harus saling mengasihi?
“Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” (1 Yohanes 4:11).
Tahukah saudara, dalam tradisi Kristen, Rasul Yohanes sering disebut sebagai “Rasul Kasih” karena penggunaan kata-kata yang intens dan mendalam mengenai kasih dalam tulisannya.
Yohanes adalah penulis Injil Yohanes, surat-surat Yohanes (1 Yohanes, 2 Yohanes, dan 3 Yohanes), dan Kitab Wahyu.
Dalam tulisannya, terutama dalam Injilnya, Yohanes secara khas menekankan kasih, baik kasih antara sesama manusia maupun kasih Allah terhadap manusia.
Salah satu ayat yang paling terkenal terkait dengan tema kasih dalam tulisan Yohanes adalah “Allah adalah kasih” -1 Yohanes 4:8.
Tema kasih ini menjadi ciri khas dari karya-karya Yohanes, dan hal ini telah menyebabkan dia sering kali disebut sebagai “Rasul Kasih”.
Penggambaran Yohanes sebagai “Rasul Kasih” mencerminkan penekanannya pada konsep kasih sebagai inti dari ajaran Kristen, dan hal ini telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemahaman Kristen mengenai kasih, baik terhadap sesama maupun terhadap Allah.
Saudara, kasih kita kepada sesama bukanlah lahir dari kekuatan sendiri.
Kita tidak mungkin dapat mengasihi saudara-saudara tanpa kita menerima dan mengalami kasih Allah.
Kita dapat mengasihi apabila kita terus hidup dalam kasih Allah.
Oleh karena itu Rasul Paulus berdoa supaya jemaat Efesus memiliki pengertian terhadap lebar, panjang, dan tingginya kasih Allah.
Bahkan Rasul Paulus berdoa supaya jemaat mengenal Kasih Allah yang melampaui akal itu.
Efesus 3:18-19 “ Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah”.
Saudara, supaya kita dapat mengasihi saudara dan sesama.
Pertama, miliki pengertian yang benar tentang kasih Allah.
Kasih Allah yang dinyatakan dalam bentuk kedatangan Tuhan Yesus untuk pendamaian manusia.
Kasih yang dinyatakan dalam pengorbanan di kayu salib.
Kedua, mengenal atau mengalami kasih itu dalam bentuk persekutuan pribadi dalam perenungan akan kasih Allah melalui firman-Nya sehingga kita mengalami hikmat dan pewahyuan tentang kasih-Nya.
Kalau kita sudah mengerti dan mengenal kasih Allah, maka kita akan mampu mengasihi sesama secara lebih baik.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana mengerti dan mengenal kasih Allah.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya!
Kalau Allah di pihak kita, siapakah lawan kita?
Apakah yang dimaksud segala sesuatu telah dianugerahkan kepada kita ?
Apakah ada kuasa yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah? Apa yang perlu kita kuatirkan lagi?
“Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32).
Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan, kita sedang menerima yang paling berharga di seluruh alam semesta dan sorga.
Jadi, kalau yang sangat berharga saja sudah diberikan kepada kita, maka segala sesuatu yang kita perlukan sangat kecil nilainya di bandingkan Tuhan Yesus.
Kalau yang termahal saja sudah diberikan, maka lain-lainnya itu pasti diberikan kepada kita.
Kata mengaruniakan segala sesuatu, dalam bahasa Yunani Kuno, menggunakan bentuk “future indicative middle” digunakan untuk menyatakan suatu tindakan atau keadaan yang akan terjadi di masa depan dan melibatkan pelaku yang juga menjadi penerima dari tindakan tersebut.
Dengan kata lain, bentuk ini mengindikasikan bahwa subjek melakukan tindakan pada dirinya sendiri di masa depan.
Artinya Tuhan sendiri yang berjanji dan menjaminkan diri-Nya untuk mengaruniakan segala sesuatu kepada kita.
Itu berbicara tentang kepastian Tuhan memenuhi segala kebutuhan kita.
Kalau kita memiliki Tuhan Yesus, kita sudah memiliki segalanya. Perumpamaan Tuhan Yesus tentang pencari Mutiara menggambarkan, hal tersebut.
Matius 13:45-46 “Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”
Kita rela kehilangan apapun, karena apapun tidak dapat dibandingkan nilainya dengan Tuhan Yesus.
Saudara, apakah yang harus dikuatirkan lagi tentang kebutuhan hidup? bukankah di dalam Tuhan Yesus ada janji yang pasti bahwa segala sesuatu akan dianugerahkan kepada kita.
Bagian kita adalah mencari kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.
Kita harus menyadari siapa kita di dalam Kristus; yaitu anak-anak Allah yang berkenan kepada-Nya karena karya salib.
Kita berkenan bukan karena perbuatan kita, tetapi karna pengorbanan Tuhan Yesus.
Kita berbuat yang berkenan kepada Allah, karena terlebih dahulu Allah membuat kita berkenan kepada-Nya.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya supaya segala sesuatu yang dibutuhkan dapat dinikmati dalam Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya!
Dalam hal apa kasih Allah dinyatakan?
Apakah kasih itu?
Apakah respon kita kepada kasih Allah?
“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (1 Yohanes 4:10).
Menurut ayat di atas ada dua hal yang dilakukan Allah untuk menyatakan kasih-Nya kepada manusia yang berdosa, yaitu mengutus anak-Nya dan mendamaikan manusia berdosa.
Jadi kasih Allah itu adalah tindakan sepihak Allah untuk turun tangan memulihkan hubungan manusia dengan Allah.
Orang berdosa tidak mungkin bertemu Allah, oleh karena itu Tuhan yang turun menyelamatkan manusia dari dosa.
Bukan manusia yang memilih Allah, tetapi Allah yang memilih manusia.
Yohanes 15:16a“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu”.
Saudara, kalau kita mendalami kasih Allah kepada manusia, maka kita akan menemukan pendamaian, pengorbanan dan pengampunan.
Pengampunan menjadikan manusia dapat berdamai dengan Allah. Pengampunan dilakukan dengan mengorbankan Anak-Nya yang tunggal.
Pengampunan selalu berkaitan dengan pengorbanan atau penumpahan darah.
“Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan “ (Ibrani 9:2).
Tujuan kedatangan Tuhan Yesus sangat jelas, untuk mendamaikan manusia berdosa dengan Allah melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.
Saudara, karena kita telah menerima kasih Allah, maka lahirlah keinginan kita untuk membalas kasih Allah.
Sekalipun kasih Allah tidak akan dapat kita balaskan, tetapi kita dapat melayani Tuhan dan memberikan yang terbaik sebagai bukti kasih kita kepada Allah.
Ketaatan kita kepada Allah adalah bukti kasih yang nyata kepada Allah.
Kasih Allah identik dengan pengampunan dosa.
Oleh karena itu, saudara juga harus berlimpah dengan pengampunan dosa kepada setiap orang yang bersalah kepada kita.
Orang Kristen seharusnya adalah orang-orang yang mudah mengampuni dan tidak mudah sakit hati.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya kita memiliki hati yang penuh dengan pengampunan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya!
Di dalam siapakah, kita mendapat bagian yang dijanjikan sesuai dengan maksud dan rencana Allah?
Ketika seseorang percaya kepada Injil Keselamatan, apa yang terjadi dengan dia?
Roh Kudus sebagai jaminan apa?
Apa yang menyebabkan kita menjadi milik Allah?
Saudara, sejak zaman purbakala ada rahasia Allah yang tersimpan berabad-abad lamanya yaitu:
Efesus 3:4-10“Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya. Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga”
Allah telah menyimpan rahasia ini berabad-abad, dan tidak pernah diberitahukan kepada anak-anak manusia.
Semua penyembah Allah, sekelompok orang atau anak-anak manusia di zaman itu mengerti bahwa Tuhan Allah itu adalah Allah-nya orang Israel.
Hampir semua pelayan-pelayan yang melayani Allah itu adalah orang Yahudi, anak-anak Israel.
Mereka adalah anak-anak manusia yang berada disekitar Timur Tengah sekarang.
Namun, ada dalam hati Allah bahwa sekali waktu nanti, Imanuel yaitu Kristus di tengah-tengah manusia dan Roh Kudus ada di dalam orang yang menyembah Yahwe Israel.
Berabad-abad nanti akan terjadi oleh Injil anak-anak manusia yang bukan Yahudi bisa menjadi ahli-ahli waris dari janji Tuhan Allah. Apakah wujud dari janji Tuhan Allah itu?
Rasul Paulus beroleh wahyu dari Tuhan dalam suratnya kepada jemaat Efesus:
Efesus 1:13-14“Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”
Ternyata wujud dari janji Bapa itu adalah Roh Kudus.
Roh Kudus inilah yang oleh iman tinggal dalam hati orang-orang yang percaya.
Pada zaman purbakala, Roh Kudus tidak menetap dalam seseorang.
Ketika seorang nabi dalam pelayanannya, Roh Kudus itu turun selama pelayanan berlangsung, setelah selesai maka Roh Kudus meninggalkan orang itu.
Pada waktu kemudian, Roh Kudus turun lagi ketika mau bertugas melayani.
Begitulah berulang-ulang Roh Kudus turun atas nabi itu atau Malaikat Tuhan datang menyampaikan pesan kepada nabi itu.
Ketika dijanjikan bahwa kelak Roh Kudus berdiam dalam tubuh anak manusia, maka berita itu sesuatu yang tidak terpikirkan pada zaman itu.
Karena ketika seseorang kepenuhan Roh maka dia bisa terkapar, tidak dapat tegak berdiri.
Pada zaman itu, mereka membayangkan orang-orang kepenuhan Roh akan terkapar berserakan.
Saudara, Tuhan ingin agar semua orang kembali memiliki hubungan dengan Tuhan Allah.
Pemulihan hubungan ini sejak semula telah direncanakan oleh Tuhan Allah supaya Yesus, Anak Allah menjadi anak manusia.
Mesias atau Kristus akan menjadi anak domba Allah untuk dikorbankan sebagai penebus dosa manusia.
Penebusan ini telah dijanjikan oleh Tuhan Allah sejak di taman Eden:
Kejadian 3:15“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”
Bahkan rasul Paulus telah menuliskan rencana Allah itu jauh sebelum dunia dijadikan:
Efesus 1:4-5 “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya”
Tuhan Allah menginginkan supaya anak-anak manusia kembali menjadi sama seperti adam sebelum jatuh ke dalam dosa, kudus dan memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan Allah sebagai pencipta langit dan bumi.
Setelah pengorbanan Yesus, oleh kuasa darah Yesus, kematian dan kuasa kebangkitan Yesus, maka anak-anak manusia yang percaya kepada Yesus Kristus, dosa mereka diampuni dan menjadi kudus.
Ketika percaya, hidup mereka didiami oleh Roh Allah yang telah dijanjikan Allah sejak semula, supaya anak-anak manusia kembali menjadi seperti Yesus.
Roma 8:29“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”
Tuhan Allah telah merancang segalanya sesuai dengan kehendak-Nya yang sejak purbakala telah dijanjikan, dinubuatkan oleh para nabi dan pada zaman akhir ini, janji itu di genapi melalui Yesus Kristus dan gereja-Nya.
Haleluya, Puji Tuhan, Amen!
Apa yang menyebabkan banyak anak-anak Tuhan tidak hidup seperti gambaran Yesus, Anak Allah itu?