Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Hal apa yang menyebabkan rasul Paulus ingin sekali berkunjung ke Roma?
Orang benar akan hidup oleh apa?
Rasul Paulus adalah penulis kitab Roma, Paulus menulis tiga belas surat kiriman.
Empat belas jika Kitab Ibrani juga dihitung.
Kitab Ibrani oleh banyak teolog diyakini juga ditulis oleh rasul Paulus.
Dalam penyusunan kitab di Alkitab, kitab Roma diletakkan di posisi pertama di antara surat-surat kiriman Paulus.
Hal ini bukan karena kitab Roma adalah yang ditulis paling awal, tetapi karena kitab Roma ditulis lebih sistematis dibandingkan kitab yang lain.
Konten atau isinya lebih seperti esai teologis yang rumit daripada sebuah surat kiriman.
Penekanannya pada doktrin Kristen.
Jumlah dan pentingnya tema teologis yang disinggung sangat lengkap.
Kitab Roma membahas berbagai doktrin, antara lain: dosa dan kematian, keselamatan, anugerah, iman, kebenaran, pembenaran, pengudusan, penebusan dan kebangkitan.
Tentang Injil, rasul Paulus menuliskan dengan jelas, di antaranya seperti yang telah kita baca: “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.”(Roma1:16).
Injil disebut sebagai kekuatan Allah, sarana Allah yang sangat kuat untuk menyelamatkan baik orang Yahudi maupun orang-orang non-Yahudi, termasuk kita.
Ya, untuk itulah Allah mengutus Yesus untuk lahir di bumi hingga mati dan bangkit.
Tentang Injil Keselamatan, Paulus dengan sangat jelas menuliskan di kitab Roma10:9“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”
Pengertian ini sangatlah jelas, tanpa perlu interpretasi yang rumit, maka setiap orang yang mau percaya, mereka akan diselamatkan.
Firman Tuhan pendukung doktrin tentang keselamatan jiwa dalam kitab Roma:
Semua orang telah berdosa yaitu Roma 3:23”Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,”
Upah dosa adalah maut atau kematian kekal yaitu Roma 6:23”Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Jadi yang dibutuhkan adalah iman untuk mempercayai apa yang Tuhan janjikan.
Dan itu semua dengan jelas tertulis di Alkitab. Kita hanya perlu percaya dan beriman.
Tentu bukan malah berdebat tentang apa yang kita percaya. Karena tanpa intervensi Roh Kudus, orang tidak mungkin bisa percaya, jadi kita tidak perlu berdebat untuk meyakinkan orang tentang kebenaran Injil.
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan tentang pengalamanmu memberitakan Injil Keselamatan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa sajakah yang harus dibuang?
Siapakah yang dimaksud dengan batu penjuru?
1 Petrus 2:9”Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:”
Ini adalah pernyataan yang menakjubkan yang ditulis oleh rasul Petrus.
Ayat ini menyatakan bahwa kita sebagai umat yang telah ditebus, disebut sebagai imamat yang Rajani.
Kita dikategorikan sebagai imam sekaligus sebagai “raja”.
Kita juga dikatakan sebagai bangsa yang kudus.
Dan tentang hidup kudus, rasul Petrus menulis di ayat 1: “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.”
Tuhan ingin agar umatNya ikut serta dalam “memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia”, artinya kita bersaksi untuk memberitakan Kabar Baik.
Namun pelayanan atau kesaksian kita itu tidak akan efektif kalau kita mengabaikan ayat satu tentang perintah untuk hidup kudus, yaitu:
Buanglah segala kejahatan: apa pun bentuk kejahatan, baik kejahatan berupa pelanggaran hukum yang ditetapkan pemerintah maupun kejahatan yang adalah pelanggaran hukum Allah.
Segala tipu muslihat: buang dan jangan melakukan tipu muslihat apa pun dan kepada siapa pun.
Segala macam kemunafikan: buanglah perilaku orang munafik. Orang munafik adalah orang yang bermuka dua, berbeda antara ucapan dan tindakan. Termasuk berpura-pura menjadi orang yang baik, tetapi perilakunya akan berbeda jika tidak ada yang melihat.
Kedengkian: jangan berlaku dengki. Dengki adalah perilaku yang didasari iri hati, orang yang dengki, mereka tidak senang melihat orang lain berbahagia.
Fitnah: jangan memfitnah. Fitnah adalah perkataan bohong yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif kepada orang lain.
Tuhan ingin agar kita memiliki hati yang mengasihi Tuhan dan mengasihi jiwa-jiwa yang terhilang. Dan itu bisa dimulai dengan menjaga hidup kita kudus dan menjauhi segala bentuk kejahatan.
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan tentang makna kekudusan dan bagaimana menerapkannya di masa kini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Mengapa Yerusalem disebut sebagai pembawa kabar baik?
Apa perbedaan gembala ketika mereka menggembalakan induk domba dan anak domba?
Yesaya menubuatkan tentang Sion dan Yerusalem sebagai pembawa kabar baik.
Dan nubuat ini tidak terjadi di masa Perjanjian Lama, karena justru di masa itu, umat Israel justru sedang dibuang ke Babel. Umat Israel dibuang ke Babel dan tembok Yerusalem diruntuhkan.
Baru pada jaman nabi Nehemia, tembok Yerusalem dibangun kembali dan umat Israel kembali ke Yerusalem.
Tetapi itu adalah awal dari pemulihan Israel, tetapi bukan kabar baik yang dimaksudkan nabi Yesaya.
Kabar baik itu baru datang ketika Yesus lahir di Betlehem dan ketika dewasa Dia melayani dari kota-kota di Israel.
Dan puncaknya adalah ketika Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan.
Dan pada hari ketiga, Yesus dibangkitkan dari kematian.
Kebangkitan-Nya melambangkan kemenangan dan kesempurnaan janji penebusan Allah bagi umat manusia.
Kabar Baik atau Injil keselamatan adalah kabar sukacita bagi orang yang mau percaya pada karya keselamatan Kristus di kayu salib.
Sion adalah bukit di kota Yerusalem, itu adalah lokasi Sion secara geografis.
Tetapi nubuat Yesaya juga dapat dimaknai tentang Gereja yang adalah Sion, sebagai pembawa kabar baik.
Gereja yaitu sekumpulan orang yang telah menerima Kristus sebagai Penebus dosa, sebagai Juru Selamat yang telah menyelamatkan kita secara pribadi.
Gereja itulah yang Tuhan inginkan untuk menjadi pembawa kabar baik.
Tuhan tidak lagi menetapkan para nabi sebagai pembawa kabar dari Allah kepada umat manusia, seperti yang Tuhan lakukan di masa Perjanjian Lama.
Tetapi Tuhan menghendaki agar Sion atau Yerusalem rohani yaitu Gereja menjadi pembawa kabar baik.
Kita, orang-orang yang telah ditebus oleh darah Kristus, kita orang yang telah memperoleh dan mengalami kasih Kristus.
Tuhan ingin agar melalui kita kabar baik itu diwartakan.
Dan ini bukan tugas pendeta atau penginjil saja, tetapi sesungguhnya ini adalah tugas umat percaya.
Ketika Yesus hidup, berkali-kali Yesus mengutus murid-muridNya untuk pergi menceritakan tentang Kerajaan Allah, untuk menyembuhkan mereka yang sakit, untuk mengusir setan-setan.
Dan ketika Yesus hendak naik ke sorga Dia memberikan amanat penting yang diyakini bukan hanya bagi para muridNya, tetapi juga kepada setiap orang percaya.
Matius 28:19-20”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Saudara, dalam kelompok pemuridan ceritakan pengalamanmu ketika memberitakan Kabar Baik.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Sebelum sampai di Tesalonika di kota manakah Paulus memberitakan Injil hingga mengalami aniaya?
Apakah yang memotivasi Paulus untuk memberitakan Injil di Tesalonika?
Paulus jauh sebelum dia menjadi rasul, ia adalah penganiaya jemaat. Sebagai seorang muda yang sangat cerdas, pintar dan dididik untuk mempelajari hukum dan teologi oleh “Profesor” Gamaliel.
Sehingga sangat sulit bagi Saulus -nama Paulus sebelum bertobat- untuk mempercayai Yesus sebagai Anak Allah.
Saulus menganggap ajaran Yesus sebagai ajaran sesat dan oleh karenanya dia pergi dari kota ke kota untuk menganiaya para pengikut Kristus.
Dan Saulus juga turut menyaksikan ketika Stefanus yang menceritakan dengan detail kisah kehidupan leluhur bangsa Yahudi mulai dari Abraham hingga Allah mengutus Putera Tunggal-Nya.
Kisah tentang Abraham dan para nabi, Saulus tahu dan dia mempercayai sejarah leluluhurnya itu.
Tetapi ketika Stefanus menceritakan Yesus dengan mengatakan: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”
Saulus dan para pemuka Agama Yahudi menjadi tidak tahan, mereka menyeret Stafanus dan melemparinya dengan batu hingga mati.
Tetapi setelah dia mengalami pertobatan yang dramatis, Paulus menjadi pembela jalan Tuhan yang mungkin paling militan.
Paulus menjadi rasul yang paling sering bepergian untuk memberitakan Injil.
Oleh anugerah Allah, Paulus menjadi penulis kitab yang paling banyak dalam Alkitab.
Karena kesibukannya yang sangat luar biasa, Paulus bahkan tidak sempat untuk memikirkan kebutuhannya pribadi, yaitu dengan sadar dia memilih untuk tidak memiliki isteri dan keturunan.
Jika dikatakan kehidupan adalah kumpulan dari berbagai pilihan.
Paulus telah memilih hal-hal yang sangat baik dan mulia, sejak dia menerima Kristus hingga dia ditangkap, dipenjarakan, diadili dan dihukum mati.
Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi seperti Paulus, tetapi Tuhan menghendaki kita untuk bertumbuh menjadi dewasa di dalam Tuhan.
Kita tidak hanya menjadi dewasa dan menjadi tua secara biologis.
Tetapi yang lebih penting, apakah kita juga menjadi semakin dewasa di dalam Tuhan.
Efesus 4:13”sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,”
Efesus 4:13(terjemahan Amplified Bible) ”sampai kita semua mencapai kesatuan dalam iman dan dalam pemahaman tentang pengetahuan [penuh dan akurat] tentang Anak Allah, agar [kita dapat mencapai] kedewasaan yang sesungguhnya (kelengkapan kepribadian yang tidak kurang dari standar tinggi dari kesempurnaan Kristus sendiri), ukuran perawakan dari kepenuhan Kristus dan kesempurnaan yang ditemukan di dalam Dia.”
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan tentang hubungan antara penderitaan dan kedewasaan rohani.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah inti pemberitaan yang Paulus sampaikan?
Apakah konsekuensi dari yang Paulus lakukan?
Ibrani 12:5 ”Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;”
Ketika seseorang telah dilahirkan kembali, itu adalah awal kehidupannya yang baru.
Mereka atau kita yang telah dilahirkan kembali, Allah menghendaki agar kita bertumbuh menjadi semakin dewasa di dalam Tuhan.
Dengan berbagai cara, Tuhan akan mendidik kita, itulah sebabnya penulis kita Ibrani menuliskan: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya.”
Kita di didik untuk melakukan kehendak dan perintah Tuhan.
Dan salah satu perintah yang sangat penting adalah agar kita menjadi saksi.
Kita yang telah mengalami sukacita oleh karena keselamatan yang telah kita peroleh.
Tuhan mau agar mulut kita menceritakan apa yang telah kita alami.
Dengan bekal Firman Tuhan yang kita pahami sebagai petunjuk untuk memperoleh keselamatan, kita bisa menceritakan Injil keselamatan kepada anggota keluarga yang belum mengenal Kristus.
Lalu bagaimana jika oleh pemberitaan Injil itu kita kemudian diprotes, ditentang, bahkan dianiaya? Jika hal itu terjadi -khususnya jika kita sudah berhati-hati dalam memberitakan Injil- maka kita sedang mengambil bagian dalam penderitaan Kristus.
Tuhan sudah menganggap kita layak untuk mengalami atau mencicipi kemuliaan yang Kristus telah alami dua ribu tahun yang lalu.
Inilah salah satu makna “memikul salib”.
Ya, Kristus telah memikul salib bagi keselamatan orang berdosa.
Saat ini, kita bisa secara pro aktif mengambil bagian dalam penderitaan Kristus dengan memikul salib.
Artinya kita sadar bahwa tindakan yang kita lakukan itu mengandung konsekuensi.
Matius 16:24 ”Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Kehidupan juga dapat dimaknai sebagai kumpulan dari keputusan atas pilihan-pilihan dalam kehidupan.
Tuhan memberikan kita kebebasan, termasuk untuk mengikut Tuhan atau tidak; menyangkal diri atau tidak bersedia menyangkal diri; memikul salib atau menolak memikul salib.
Sebaiknya semakin hari kita menjadi semakin dewasa, dan kedewasaan rohani ditandai dengan pilihan-pilihan hidup yang benar.
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan apakah engkau pernah memberitakan Injil hingga mengalami penolakan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Sebelum sampai di Tesalonika di kota manakah Paulus memberitakan Injil hingga mengalami aniaya?
Apakah yang memotivasi Paulus untuk memberitakan Injil di Tesalonika?
Paulus jauh sebelum dia menjadi rasul, ia adalah penganiaya jemaat. Sebagai seorang muda yang sangat cerdas, pintar dan dididik untuk mempelajari hukum dan teologi oleh “Profesor” Gamaliel.
Sehingga sangat sulit bagi Saulus -nama Paulus sebelum bertobat- untuk mempercayai Yesus sebagai Anak Allah.
Saulus menganggap ajaran Yesus sebagai ajaran sesat dan oleh karenanya dia pergi dari kota ke kota untuk menganiaya para pengikut Kristus.
Dan Saulus juga turut menyaksikan ketika Stefanus yang menceritakan dengan detail kisah kehidupan leluhur bangsa Yahudi mulai dari Abraham hingga Allah mengutus Putera Tunggal-Nya.
Kisah tentang Abraham dan para nabi, Saulus tahu dan dia mempercayai sejarah leluluhurnya itu.
Tetapi ketika Stefanus menceritakan Yesus dengan mengatakan: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”
Saulus dan para pemuka Agama Yahudi menjadi tidak tahan, mereka menyeret Stafanus dan melemparinya dengan batu hingga mati.
Tetapi setelah dia mengalami pertobatan yang dramatis, Paulus menjadi pembela jalan Tuhan yang mungkin paling militan.
Paulus menjadi rasul yang paling sering bepergian untuk memberitakan Injil.
Oleh anugerah Allah, Paulus menjadi penulis kitab yang paling banyak dalam Alkitab.
Karena kesibukannya yang sangat luar biasa, Paulus bahkan tidak sempat untuk memikirkan kebutuhannya pribadi, yaitu dengan sadar dia memilih untuk tidak memiliki isteri dan keturunan.
Jika dikatakan kehidupan adalah kumpulan dari berbagai pilihan.
Paulus telah memilih hal-hal yang sangat baik dan mulia, sejak dia menerima Kristus hingga dia ditangkap, dipenjarakan, diadili dan dihukum mati.
Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi seperti Paulus, tetapi Tuhan menghendaki kita untuk bertumbuh menjadi dewasa di dalam Tuhan.
Kita tidak hanya menjadi dewasa dan menjadi tua secara biologis.
Tetapi yang lebih penting, apakah kita juga menjadi semakin dewasa di dalam Tuhan.
Efesus 4:13”sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,”
Efesus 4:13(terjemahan Amplified Bible) ”sampai kita semua mencapai kesatuan dalam iman dan dalam pemahaman tentang pengetahuan [penuh dan akurat] tentang Anak Allah, agar [kita dapat mencapai] kedewasaan yang sesungguhnya (kelengkapan kepribadian yang tidak kurang dari standar tinggi dari kesempurnaan Kristus sendiri), ukuran perawakan dari kepenuhan Kristus dan kesempurnaan yang ditemukan di dalam Dia.”
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan tentang hubungan antara penderitaan dan kedewasaan rohani.