Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya!
Bagaimanakah cara hidup jemaat pertama setelah mereka memberi diri dibaptis?
Bagaimana sikap hati jemaat pertama ketika mereka makan bersama dan saling berbagi?
Apa dampak dari cara hidup jemaat pertama ini?
Jika merenungkan cara hidup jemaat pertama, rasanya luar biasa indah.
Sebuah keadaan yang hari ini tampaknya amat langka untuk ditemukan, bahkan sekalipun di dalam gereja.
Jemaat pertama bertekun dan dengan sehati berkumpul dalam bait Allah untuk mendengarkan pengajaran.
Mereka juga makan secara bergilir dengan GEMBIRA dan TULUS HATI.
Berarti jemaat pertama sungguh-sungguh mempraktekan pengajaran yang mereka terima.
Zaman mungkin sudah berubah, tapi kebutuhan yang sama berlaku bagi semua generasi – kita ingin diterima dan merasakan kasih.
Kita rindu melihat ketulusan dan mengalami sukacita.
Demi kehidupan yang seperti ini, banyak orang rela memberi segalanya.
Jika mereka tidak menemukannya di dalam gereja, mereka akan mencarinya di luar gereja.
Hari-hari ini, untuk mendapatkan pengajaran, kita tidak butuh berkomunitas atau pergi ke gereja karena sudah ada akses youtube atau media sosial dengan nara sumber yang bagus.
Namun, pengajaran yang bagus saja TIDAK CUKUP untuk membuat kita bertumbuh.
Kita perlu mempraktekannya dalam komunitas.
Itu sebabnya ada pemuridan dan persekutuan.
Pengajaran ditambah praktek akan membuat hidup kita memancarkan terang Ilahi.
Tapi pengajaran tanpa praktek akan menciptakan pemberontakan dan kegelapan.
Sebagai gereja hari ini, kita ditantang untuk hidup menyatakan Kristus yang setidaknya seperti cara hidup jemaat pertama: bertekun dalam pengajaran dan mempraktekkan kasih dan pengajaran tersebut.
Dari generasi ke generasi caranya bisa saja berbeda, tetapi esensinya tetap sama; kasih yang tulus dan mempraktekkan setiap firman kebenaran yang kita pelajari sehingga nama Tuhan sungguh dimuliakan.
Diskusikanlah dengan rekan persekutuan atau pemuridan Saudara, bagaimana Saudara bisa mempraktekkan cara hidup jemaat pertama di saat ini dalam komunitas Saudara?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya!
Pandangan apa yang seharusnya kita pegang agar kita tidak menghakimi?
Mengapa kita tidak seharusnya menyakiti hati saudara kita?
Tentang apakah kerajaan Allah sesungguhnya?
Barangkali Saudara pernah mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat ini:
“Ini hidup, hidup saya. Kenapa orang lain ikut-ikutan mengatur? Terserah saya dong saya mau apa!”
Kalimat ini sering diucapkan ketika seseorang kesal karena merasa keputusannya tidak mendapatkan dukungan bahkan diintervensi oleh orang lain.
Sebenarnya kalimat ini masuk akal, karena sebetulnya memang tidak ada yang bisa memaksa kita melakukan sesuatu kalau kita tidak mau.
Tahukah saudara kalau sebenarnya kalimat itu tidak alkitabiah?
Karena bagi orang yang sudah ditebus oleh Kristus, hidupnya bukan lagi milik sendiri tapi milik Tuhan.
Kita perlu bertanya kepada Tuhan dalam seluruh keputusan dan tindakan kita, apa yang Dia mau?
Jemaat di Roma juga mengalami konflik.
Urusannya soal makanan dan hari penting.
Namun mereka tidak bisa mencapai satu pemahaman bersama.
Paulus sampai menasihatkan mereka agar tidak lagi saling menghakimi dan menyakiti hati saudaranya hanya karena makanan.
Inilah Nasihat Paulus:
“Sebab kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”
“Marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.”
Bukankah kita pun seringkali bertengkar dengan saudara kita karena urusan-urusan sepele?
Urusan yang kalau direnungkan, tidak perlu setajam itu konfliknya, jika sama-sama mau mengikut Kristus dan mengikuti nasihat Paulus ini.
Mari Saudara, kita sama-sama belajar membangun diri mengejar kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
Marilah kita saling mengasihi dan saling membangun karena Kristus telah mati dan bangkit bagi kita semua untuk mewujudkannya.
Adakah konflik yang perlu Saudara bereskan dengan keluarga jasmani atau rohanimu? Mari doakan dan datangi Saudaramu agar damai sejahtera dan kasih mengalir.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya!
Apa yang terjadi ketika kita menerima keselamatan?
Siapakah Yesus dalam bangunan rumah Allah?
Apa proses yang perlu kita alami ketika kita menjadi tempat kediaman Allah?
Setiap orang yang sudah ditebus oleh Yesus umumnya memiliki dua keluarga.
Satu adalah keluarga jasmani yang Tuhan berikan sejak kecil, dan satunya lagi adalah keluarga rohani yang Tuhan berikan untuk mengiringi proses pertumbuhan rohaninya.
Setiap orang sebenarnya punya pemahaman sendiri tentang konsep keluarga, bergantung kepada bagaimana ia dibesarkan di tengah keluarga jasmani maupun lingkungan sosialnya.
Namun demikian, kebanyakan orang punya harapan yang sama ketika mendengar kata KELUARGA.
Kita berharap dalam keluarga ada penerimaan, kasih, saling tolong, dan pengampunan.
Proses untuk mencapai harapan tersebut dalam sebuah keluarga tidaklah mudah.
Jangankan dengan keluarga rohani yang baru ketemu setelah besar, dengan keluarga jasmani saja yang tumbuh bersama sejak kecil, kita seringkali mengalami pembentukan.
Tetapi inilah kerinduan Tuhan bagi anak-anakNya… agar setiap orang mengalami pertumbuhan di dalam keluarga jasmani dan keluarga rohani yang sehat.
Ingat! Sehat bukan berarti sempurna.
Karena nyatanya tidak ada keluarga yang sempurna di dunia ini.
Menjadi sehat artinya kita tahu siapa yang menjadi Batu Penjuru kita.
Siapa yang perlu kita teladani dan jadikan alasan untuk belajar mengasihi dan memberi diri dibentuk.
Ketika kita berkonflik, kita belajar bahwa bukan kepentingan saya atau dia yang utama, tapi kepentingan Kristus.
Kita paham bahwa setiap kita sedang sama-sama belajar, dan sangat mungkin melakukan kesalahan.
Setiap kita berbeda, tapi Tuhanlah yang menyatukan kita dalam satu keluarga.
Alangkah indahnya, jika keluarga Allah ini sungguh-sungguh terwujud dalam kehidupan kita sebagai satu komunitas rohani.
Biarlah kata keluarga Allah bukan hanya menjadi satu slogan, tapi sungguh-sungguh bisa diwujudkan dan dirasakan oleh setiap kita sehingga nama Tuhan dimuliakan.
Apakah Saudara sudah merasa sebagai satu keluarga dalam komunitas atau gereja Saudara hari ini? Jika belum, apa yang Saudara bisa lakukan untuk mewujudkannya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya!
Bagaimanakah sikap kita kepada mereka yang melakukan pelanggaran?
Apa yang perlu kita lakukan untuk memenuhi Hukum Kristus?
Bagaimana kita dapat menipu diri kita sendiri?
Saudara, mari renungkan sejenak.
Ketika ada saudara seiman jatuh ke dalam dosa atau pelanggaran, hal apa yang sering kita lakukan?
Apakah menyebarkan kabar tersebut kepada orang lain ditambah dengan bumbu-bumbu gosip, atau menasehati dan mendoakannya?
Atau bahkan membicarakan dengan orang tertentu dengan dalih mendoakannya namun ternyata menyebar?
Tuhan tidak ingin umatNya hidup saling menghakimi dan bermegah atas kesalahan/kekurangan orang lain.
Sebaliknya, jika ada saudara seiman yang jatuh, maka kita harus dengan lemah lembut menolong orang itu bertobat dari kesalahannya untuk bangkit, sambil menjaga diri sendiri agar tidak ikut terjatuh.
Tidak menghakimi mereka yang jatuh, dan kemudian menolong untuk bangkit kembali, akan menjadi hal yang sulit ketika kita memandang rendah saudara tersebut.
Seringkali, kita menjadi sombong karena merasa diri lebih baik, hanya karena kita tidak jatuh dalam perkara yang sama.
Padahal, bisa saja kita jauh lebih buruk dan sudah jatuh lebih dalam di perkara yang lain.
Itulah sebabnya rasul Paulus mengingatkan kita untuk menguji diri kita sendiri dan semua yang kita kerjakan, bukan menguji pekerjaan orang lain.
Karena hanya Tuhan, yang kudus dan sempurna, yang pantas menguji pekerjaan semua orang.
Setiap orang sebetulnya punya beban dan pergumulannya masing-masing, yang masih diperjuangkan bersama Tuhan.
Kita semua tetap memiliki area pergumulan untuk diperjuangkan sampai garis akhir hidup kita.
Oleh sebab itu, melalui ayat perenungan kita, Tuhan mengingatkan agar kita saling bertolong-tolongan dalam menanggung beban, karena hanya itu caranya agar kita memenuhi hukum Kristus.
Ketika ada saudara kita yang jatuh, maukah Saudara menegur dengan lemah lembut dan rendah hati?
Maukah Saudara menolongnya untuk bangkit kembali?
Maukah saudara menjadi seseorang yang bisa diandalkan dan dipercaya?
Adakah saudara seimanmu yang memerlukan pertolongan? Mari lakukanlah satu tindakan nyata untuk menolongnya.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya!
Apa yang harus kita lakukan terhadap para janda?
Disamakan seperti apa orang yang tidak memelihara sanak saudara dan seisi rumahnya?
Hari ini kita membaca bagian surat Paulus kepada Timotius yang menekankan betapa pentingnya melayani keluarga kita, terutama para janda.
Dan janda di sini tidak hanya sekedar janda, namun Paulus menekankan kriteria janda yang sangat memerlukan pertolongan : berusia 60 tahun ke atas, hanya satu kali bersuami, suka melakukan pekerjaan baik, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allahdan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam.
Artinya, janda tersebut benar-benar tinggal seorang diri dan tidak dapat mengandalkan siapapun selain Tuhan.
Lalu, bagaimana dengan para janda yang masih memiliki anak atau cucu dalam hidup mereka?
Paulus mengajarkan bahwa itulah saatnya seorang anak dan cucu berbakti kepada orangtua dan nenek mereka, membalas budi mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.
Kita ada hingga saat ini karena orangtua dan nenek kita yang merawat dan memelihara hidup kita.
Itulah sebabnya Paulus memandang penting untuk kita berbakti kepada orangtua dan nenek kita.
Tuhan sendiri juga memerintahkan agar kita menghormati orangtua kita.
Melalui pembacaan firman hari ini kita belajar bahwa Tuhan memandang serius sebuah pengabdian kepada orangtua, apalagi jika mereka telah menjadi janda.
Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa melayani keluarga sangat penting.
Bagi Saudara yang masih memiliki orang tua, seperti apa penghormatan yang Saudara berikan kepada mereka?
Atau bagaimana hubungan Saudara dengan anggota keluarga lainnya?
Ada beberapa pertanyaan sederhana yang mungkin bisa mengingatkan kita dalam menghargai orang tua kita, maupun anggota keluarga.
Seberapa sering saudara berbincang dengan mereka?
Seberapa sering Saudara bisa tertawa bersama dengan mereka dan menikmati waktu bersama?
Selalu ada kesempatan untuk memulai hal yang baik.
Mari kita belajar kebenaran ini, dan membangun kualitas hubungan yang lebih baik.
Adakah anggota keluarga atau sanak saudara yang perlu diperhatikan oleh Saudara? Mulailah mempraktekkan firman Tuhan ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya dan secara khusus hafalkanlah Galatia 6:10!
Mengapa kita tidak boleh jemu-jemu dalam berbuat baik?
Kepada siapakah kita harus berbuat baik?
Berbuat baik adalah menabur di dalam Roh. Apakah yang akan kita tuai ketika kita menabur di dalam Roh?
Kita harus menabur dalam Roh karena kita akan menuai hidup kekal dari Roh itu.
Dan berbuat baik itu adalah hal yang kita tabur dalam Roh karena berbuat baik ada perintah dan pekerjaan Roh di dalam dan melalui hidup kita.
“Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:8).
Oleh karena itu kita tidak boleh jemu-jemu untuk berbuat baik kepada semua orang terutama kepada saudara seiman.
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”(Galatia 6:9-10).
Untuk tidak jemu-jemu berbuat baik walaupun ada kendala, maka kita harus hidup penuh Roh.
Karena ketika kita penuh dengan Roh, tidak saja mulut kita penuh dengan perkataan yang membangun tetapi kita dapat merendahkan diri seorang akan yang lain, artinyua kita dapat melayani orang lain, berbuat baik termasuk di dalamnya berbagi kepada saudara seiman.
”Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.”(Efesus 5:18-21).
Dengan demikian kita dapat senantiasa hidup dalam kebenaran yang diberikan oleh Tuhan Yesus bahwa adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima, sehingga kita selalu membagikan sesuatu kepada orang lain terutama saudara seiman dengan tulus ikhlas.
”Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35).
”Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.”(Efesus 4:28).
Marilah kita senantiasa hidup dengan berbagi kepada saudara seiman yang menyatakan bahwa kita adalah keluarga Allah.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara senantiasa membangun kehidupan yang senantiasa berbuat baik dalam hal berbagi kepada orang lain.