Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang dipesankan Paulus dengan sungguh-sungguh kepada Timotius?
Apakah maksud orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat dan hanya memuaskan telinga mereka?
Apa yang terjadi dengan orang-orang yang memalingkan telinganya dari kebenaran?
Apa maksudnya Paulus mengatakan untuk menguasai diri dalam segala hal dan sabar menderita?
Setidaknya ada 2 hal yang Tuhan ingatkan melalui surat Paulus kepada Timotius hari ini, kedua hal ini berhubungan dengan tugas kita untuk memenuhi panggilan pelayanan yang Tuhan berikan kepada kita.
Pesan ini sangat serius dan Paulus sungguh-sungguh berpesan demi penyataanNya dan demi KerajaanNya.
Pertama, beritakan firman, siap sedia baik atau tidak baik waktunya.
Firman berkaitan dengan banyak hal mulai dari berita tentang Injil yang menyelamatkan hingga menyatakan kebenaran, menegor, menasehati dengan segala kesabaran dan pengajaran.
Firman harus siap sedia kita beritakan, itu berarti kita berbicara sesuai kondisi dan pimpinan Roh Kudus.
Bila Roh Kudus memimpin kita untuk memberitakan injil kepada orang berarti mulut kita siap menyampaikan kebenaran tentang Kristus yang menyelematkan, bila kita dipimpin Roh untuk menyatakan kebenaran di tengah mayoritas yang menyuarakan kejahatan maka kita pun harus siap sedia.
Begitu juga bila berhadapan dengan orang lain atau saudara seiman yang menghadapai masalah dan perlu nasehat maka dibawah arahan Roh kita harus siap untuk menyampaikannya.
Firman Tuhan adalah pedang Roh dimana kita harus selalu siap dibawa ketika berhadapan dengan berbagai situasi dimana Roh memimpin untuk menggunakannya.
Kedua, seiring dengan kesiapan kita memberitakan firman kita juga harus bisa menguasai diri dalam segala hal, sabar menghadapi penderitaan karena firman yang kita beritakan, konsisten hingga kita menunaikan tugas panggilan yang Tuhan percayakan.
Seringkali tidak sedikit orang-orang percaya yang bersemangat memberitakan firman kebenaran, antusias memberikan nasehat atau semangat pada orang lain, sementara dalam kondisi tertentu tidak bisa menguasai emosinya sehingga menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk percaya dengan firman yang kita beritakan.
Kita mendengar juga bagaiamana hamba-hamba Tuhan yang luar biasa tidak menunaikan tugas pelayanannya, pada masa tuanya meninggalkan panggilan yang Tuhan percayakan dan hidup kembali seperti orang dunia.
Saudara, perikop ini tidak hanya berbicara mengenai kesiapan dalam jangka pendek tetapi juga pesan untuk memiliki daya tahan serta konsistensi dalam memberitakan firman serta menunaikan tugas pelayanan yang Tuhan percayakan hingga akhir hidup kita.
Renungkan kebenaran Firman Tuhan hari ini, adakah yang Tuhan inginkan untuk Saudara lakukan? Diskusikan dengan kelompok PA dan Persekutuan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang Paulus dan teman-temannya lihat dalam perjalanan mereka di tengah hari bolong?
Ketika rebah ke tanah, apa yang Paulus dengar? Dan apa jawaban Paulus?
Siapa yang mengutus Paulus kepada bangsa-bangsa lain?
Apa saja tugas-tugas Paulus ketika dia di utus? (ayat 18)
Saudara pada umumnya ketika seorang “terdakwa” di perhadapkan dengan situasi pengadilan, maka yang dirasakan oleh “terdakwa” tersebut adalah ketakutan, kecemasan, bahkan karena takut akan dihukum berat cenderung untuk tidak berkata jujur atau berkata terus terang di depan mahkamah agar mendapat hukuman yang seringan mungkin.
Paulus juga mengalami tekanan namun Paulus justru menceritakan dengan jelas mengenai apa yang diperbuat Tuhan dalam hidupnya menjadi suatu kesaksian.
Pembacaan Alkitab kita diatas menerangkan bahwa Paulus yang sudah beberapa hari dipenjara, tanpa diadili atas tindakan “salah” yang tidak dilakukannya dengan sangat berani memberi penjelasan tentang kehidupan lamanya di depan Raja Agripa, yang mana dahulu Paulus sangat membenci pengikut Tuhan Yesus.
Apa yang membuat Paulus berani menceritakan tentang siapa dia dahulunya? Ternyata perjumpaan dengan Tuhanlah yang menjadi titik balik atau “turning point” Paulus menjadi orang yang berani.
Bahkan karena keberanian Paulus menceritakan tentang pertobatannya di depan Raja Agripa, menurut Kisah Para Rasul 26:28”Jawab Agripa: “Hampir-hampir saja kau yakinkan aku menjadi orang Kristen!”
Tidak semua kita mengalami hal yang sama seperti Paulus, mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara supranatural.
Jadi bagaimana caranya untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan? Jawabannya sederhana, bacalah Firman Tuhan secara rutin, renungkanlah Firman itu siang dan malam, mintalah hikmat dan wahyu, agar Tuhan menyingkapkan rahasia Firman yang kita baca.
“Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan didalam hatimu” (Roma 10:8b).
Tujuan hidup kita berubah adalah agar Nama Tuhan di permuliakan melalui cara hidup kita, sehingga karena hidup kita yang berubah banyak orang-orang di sekitar kita menjadi percaya kepada Yesus.
Diskusikan dalam komunitasmu, apakah hidup kita sudah berubah kearah yang lebih baik? dan apakah hari-hari ini hidup kita menjadi lebih sungguh-sungguh mengikut Tuhan? Jika belum, maka alamilah perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi. Karena Yesuslah yang sanggup mengubah karakter serta hidup kita.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang Allah mau beritahukan kepada orang-orang kudusNya?
Siapakah yang diberitakan oelh Paulus dalam surat kepada jemaat di Kolose ini?
Apa tujuan Paulus menasehati dan mengajari banyak orang?
Apa yang digumulkan dan diusahakan oleh Paulus?
Kolose 1:27-29 ini merupakan bagian dari perikop yang berjudul Pelayanan dan Penderitaan Paulus, surat ini ditulis Paulus kepada jemaat di Kolose untuk mengingatkan mereka akan rahasia Kristus yang disingkapkan kepada orang kudusNya.
Pengenalan yang semakin dalam akan Kristus yang dialami oleh Paulus memotivasi seluruh perjalanan misinya sehingga menghasilkan banyak murid-murid Kristus di berbagai tempat termasuk di Kolose ini.
Paulus tentu saja menghadapi berbagai rintangan dalam perjalanan yang dilakukannya demi Injil, namun kita tahu bahwa dia memegang visi yang Tuhan berikan dalam hidupnya.
Paulus tidak hanya memiliki visi tetapi dia juga mengeksekusi seluruh visi yang didapatkan dari Tuhan dengan bekerja begitu keras dan fokus.
Dia menyadari bahwa kuasaNya telah bekerja dengan kuat di dalam hidupnya sehingga dengan segala tenaga mengusahakan dan menggumulkan agar Kristus dapat diberitakan melalui kehidupannya.
Paulus menyadari sejak perjumpaannya dengan Kristus bahwa dia memiliki panggilan untuk memberitakan Injil Kerajaan dalam hidupnya, dan itulah yang dipikirkannya setiap hari, direncanakan dan dijalankannya sehingga kita bisa melihat hasilnya hari ini dengan bertambah banyaknya murid-murid Kristus.
Kita semua memiliki visi untuk Indonesia dan bangsa-bangsa penuh kemuliaanNya, itulah yang kita doakan setiap menghadiri persekutuan doa, tetapi tentu tidak cukup hanya kita doakan, kita perlu mengeksekusinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud dari iman kita.
Apakah kita terus setia memuridkannya untuk memimpin orang kepada kesempurnaan dalam Kristus?
Bila kita berhenti sampai tahap mendoakannya saja apakah itu seperti yang diteladankan oleh Paulus?
Mari kita baca dan renungkan bersama ayat ini: “Kristus itulah yang kami beritakan kepada setiap orang. Kami mengingatkan dan mengajar mereka semuanya dengan segala kebijaksanaan. Tujuan kami ialah supaya setiap orang dapat dibawa kepada Allah, sebagai orang yang dewasa dalam hal-hal rohani, karena sudah bersatu dengan Kristus. Untuk mencapai hal itu saya bekerja keras. Saya berjuang dengan seluruh tenaga yang diberikan Kristus kepada saya dan yang bekerja dalam diri saya dengan penuh kuasa.” (Kolose 1:28-29, Indonesia BIS).
Jadilah dewasa dalam hal-hal rohani sehingga menghasilkan murid-murid Kristus sebagai perwujudan tercapainya mandat regenerasi yang Tuhan berikan.
Renungkan kebenaran Firman Tuhan hari ini, adakah yang Tuhan inginkan untuk Saudara lakukan? diskusikan dengan kelompok PA dan Persekutuan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Siapakah yang Paulus inginkan agar Allah menyelamatkan mereka?
Kebenaran seperti apakah yang coba mereka cari?
Roma 10:2 ”Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar.”
Ini adalah gambaran orang Yahudi di masa gereja yang mula-mula: mereka giat untuk Allah.
Mereka memiliki Kitab Taurat dan itu menjadi acuan utama kehidupan agamawi mereka.
Orang Farisi dan para ahli Taurat bahkan lebih berusaha untuk mentaati Taurat dibandingkan melakukan kebajikan seperti yang Yesus lakukan.
Alkitab mencatat, berulang kali mereka memprotes tindakan Yesus, misalnya seperti yang tertulis dalam kitab Markus 2:16 ”Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
Paulus mengerti benar situasi seperti ini dan itu yang menyebabkan dia sangat terbeban untuk keselamatan jiwa bangsanya.
Roma 10:1,3 ”Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.”
Orang Yahudi, mata rohani mereka dibutakan sehingga mereka tidak bisa melihat kebenaran Allah.
Dan hal itu berlangsung hingga saat ini.
Dari 14 juta orang Yahudi di seluruh dunia, dapat dikatakan bahwa sebagian besar dari mereka tidak percaya bahwa Yesus (Yeshua) adalah Mesias.
Statistik memproyeksikan bahwa hanya 175.000 orang Yahudi di AS saja yang percaya kepada Yesus, sementara perkiraan di seluruh dunia berkisar antara 350.000 hingga 1,7 juta.
Hal yang sama terjadi di berbagai wilayah lain, baik di Indonesia maupun di dunia.
Di Indonesia terdapat lebih dari 150 STA (Suku Terabaikan).
Suku terabaikan adalah suku di mana jumlah orang percaya atau jemaat belum mampu untuk menjangkau sukunya sendiri.
Walaupun tidak ada kesatuan antara lembaga-lembaga misi mengenai persentase dari jumlah penduduk dari sebuah suku yang harus dianggap “Kristen” agar tidak lagi dianggap terabaikan.
Suku-suku tersebut dianggap terabaikan apabila suku tersebut melebihi populasi 10.000 jiwa dengan kurang dari 1% jumlah warganya yang mengenal Kristus.
Begitu banyaknya orang-orang yang belum mengenal Kristus, sehingga tugas pemberitaan Injil tidak bisa hanya diserahkan kepada para misionaris dan penginjil. Itu adalah tugas semua orang yang percaya.
Saudara, dalam kelompok pemuridan ceritakan pengalamanmu bersaksi kepada teman atau anggota keluarga.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya dan dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah yang dimaksud dengan Firman Hidup?
Rasul Yohanes mengatakan bahwa dia telah melihat hidup, apakah maksudnya?
Rasul Yohanes sebagai penulis Kitab 1 Yohanes adalah satu-satunya rasul yang meninggal di usia tua.
Menulis lima kitab dalam Perjanjian Baru, Yohanes adalah penulis paling produktif setelah Rasul Paulus.
Kitab kiriman 1, 2 dan 3 Yohanes berbeda dibandingkan dengan Injil Yohanes terlebih dengan Kitab Wahyu yang juga ditulis oleh Yohanes.
Kitab kiriman 1, 2 dan 3 Yohanes seperti ditulis oleh seorang bapak kepada anak-anaknya.
Bapak yang penuh kasih, bapak yang ingin agar anak-anaknya bertumbuh dewasa, memiliki hubungan atau persekutuan yang erat dengan Allah Bapa.
Dan memiliki hubungan yang erat dengan Allah Bapa itulah yang akan menyebabkan kita sebagai anak-anak Allah akan bertumbuh dengan benar dalam kasih dan anugerah-Nya.
Dalam Alkitab tertulis berulang kali agar kita umat Tuhan menjadi saksi bagi orang-orang yang belum percaya.
Menjadi saksi antara lain dengan memberikan testimoni kita atau menceritakan pengalaman hidup kita kepada orang lain.
Pengalaman hidup yang bagaimanakah? Tentu bukan pengalaman hidup yang dibuat-buat agar testimoni kita tampak indah didengar.
Tetapi pengalaman hidup yang otentik, asli, pengalaman hidup yang berkemenangan yang dihasilkan dari kehidupan yang intim bersama dengan Allah pencipta.
Jadi bersaksi tidak harus menceritakan Injil, tetapi kita juga bisa menceritakan pengalaman bagaimana Tuhan menolong kita dari kegagalan usaha, dari kebiasaan buruk, dari kesulitan dalam menempuh studi.
Pengalaman-pengalaman yang otentik, apa adanya ketika itu diceritakan, kadang dampaknya justru lebih besar kepada para pendengar dibandingkan ketika orang mendengarkan khotbah di gereja.
Mengapa demikian, karena pengalaman seseorang yang mengalami pergumulan dalam bidang apa pun dan ketika dia mendapatkan pencerahan atau solusi atas persoalannya sebagai hasil dari persekutuan yang intim dengan Tuhan.
Maka orang yang mendengar akan melihat dan menyadari bahwa Allah adalah Allah yang hidup, Allah yang berkuasa, Allah yang mendengar seruan umat-Nya.
Saudara, dalam kelompok pemuridan ceritakan pengalamanmu, mengalami pertolongan Tuhan dalam bidang apa pun.