Kamis, 20 Juni 2024

HUBUNGAN ANAK DAN ORANG TUA

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

EFESUS 6:1-4

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya!

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah seharusnya dilakukan anak-anak kepada orang tua?
  2. Apakah dampak ketaatan kepada orang tua?
  3. Bagaimana cara seorang bapa membangkitkan amarah anaknya?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 1:4).

Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus bertujuan jemaat bertumbuh dalam iman, kasih, hikmat dan pernyataan Bapa yang mulia.

Paulus merindukan agar jemaat hidup layak di hadapan Allah.

Oleh karena itu, Paulus berusaha menguatkan iman dan dasar rohani jemaat Efesus  dengan menyatakan kepenuhan maksud kekal Allah dari penebusan “dalam Kristus”  untuk gereja dan untuk setiap orang.

Empat pasal awal Paulus menulis pengajaran penebusan orang percaya dan dua pasal terakhir berisi praktik kehidupan orang Kristen, termasuk hubungan anak-anak dan orang tua.

Taat dalam kamus bahasa Indonesia berarti senantiasa tunduk.

Dalam hal ini senantiasa tunduk kepada orang tua. Sedangkan dalam bahasa Yunani taat yang dimaksud adalah bertindak di bawah wewenang orang yang berbicara, yaitu benar-benar mendengarkan orang yang memberi perintah.

Mendengar dan melakukan perintah orang tua.

Taat kepada orang tua berarti benar-benar mau mendengarkan orang tua dan melakukan perkataan atau perintah orang tua.

Hormat menurut kamus Bahasa Indonesia, Hormat berarti menghargai (takzim, khidmat, sopan) perbuatan yang menandakan rasa khidmat atau takzim.

Sedangkan berdasarkan bahasa Yunani, hormat yang dimaksud adalah memberikan nilai (memberi kehormatan), karena mencerminkan harga diri (nilai, betapa berharganya) yang melekat padanya oleh yang melihatnya.

Hormat kepada orang tua berarti menghargai kedudukan orang tua dan dilakukan dengan sikap hormat, sopan, khidmat. 

Dampak dari taat dan hormat kepada orang tua sungguh luar biasa; berbahagia dan panjang umur.

Sebaliknya kalau tidak hormat kepada orang tua dapat menjadikan kita kehilangan kebahagiaan dan tidak panjang umur.

Mengapa demikian? ketika kita tidak taat dan hormat kepada orang tua, kita sedang memberontak kepada orang tua dan melawan perintah Tuhan.

Saudara, orang tua, terutama bapa-bapa mendapat perintah supaya tidak membangkitkan amarah anak-anak.

Sepertinya pada zaman Paulus, bapa-bapa masih mewarisi budaya dimana otoritas seorang pria sangat besar, pada zaman itu seorang ayah boleh melakukan kekerasan kepada anaknya sebagai bagian dari proses pendidikan dan boleh memaksa anak-anaknya mengerjakan yang tidak sepatutnya.

Sebaliknya pada bapa di Efesus diajarkan untuk mendidik anak-anak dengan ajaran dan firman Tuhan, bukan kekerasan.

Renungkanlah, apakah saudara sungguh-sungguh sudah taat dan hormat kepada orang tua.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 36-39

Rabu, 19 Juni 2024

PERAN ANGGOTA KELUARGA

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KOLOSE 3:18-25

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya!

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah yang menjadi kewajiban suami?
  2. Apakah yang menjadi kewajiban istri?
  3. Apakah yang menjadi kewajiban anak-anak?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” (Kolose 3:18-21).

Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose memiliki dua tujuan, yaitu untuk memberantas ajaran sesat yang hendak menggantikan keutamaan Kristus dan kedudukannya sebagai inti dalam ciptaan, pernyataan, penebusan dan gereja. 

Selain itu juga untuk mengajarkan hidup baru dalam Kristus dan tuntunan untuk orang percaya.

Seperti tulisan-tulisan Paulus lainnya, pada dua pasal di awal Paulus mengajarkan prinsip-prinsip sedangkan dua pasal selanjutnya mengajarkan implementasi praktis, termasuk di dalamnya tuntunan praktis kehidupan dalam keluarga.

Dalam Pasal 3, diajarkan bagaimana Istri harus tunduk kepada suami namun dengan penekanan pada keharusan di dalam Tuhan.

Sedangkan suami harus mengasihi istri dengan penekanan pada cara memperlakukan istri dengan lembut (Tidak dengan kasar). 

Selain itu diajarkan juga bagaimana cara anak-anak harus taat kepada orang tua dalam segala hal.

Paulus menekankan keindahan dalam ketaatan anak-anak.

Yang dimaksud keindahan dalam ketaatan anak-anak kepada orang tua adalah menyenangkan hati Tuhan. 

Anak-anak dapat menyenangkan hati Tuhan dengan cara belajar taat kepada orang tua.

Paulus tidak hanya mengajarkan ketaatan anak kepada orang tua, juga mengajarkan cara bapa-bapa memperlakukan anak-anak.

Anak-anak yang mendapat perlakukan kasar dan keras  dari bapa selain menimbulkan kepahitan, juga  akan kehilangan gambaran Bapa yang benar.

Ingat, seorang bapa di bumi diberikan tanggung jawab untuk mengajarkan Bapa di sorga kepada anak-anaknya, terutama dengan teladan hidup.

Cara memperlakukan anak-anak dengan baik memudahkan anak-anak mengenal sifat-sifat Bapa di sorga.

Diskusikan dengan rekan-rekan PA, bagaimana menjadi anggota keluarga yang hidup dalam kebenaran.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 32-35

Selasa, 18 Juni 2024

SUAMI ISTRI HIDUP DALAM KEBENARAN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

EFESUS 5:22-30

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya!

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah yang harus dilakukan seorang istri?
  2. Apakah yang harus dilakukan seorang suami?
  3. Hubungan antara Suami dan istri menggambarkan hubungan Kristus dan jemaat, apakah maksudnya?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya “. (Efesus 5:22-25).

Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus bertujuan jemaat bertumbuh dalam iman, kasih, hikmat dan pernyataan Bapa yang mulia.

Paulus merindukan agar jemaat hidup layak di hadapan Allah.

Oleh karena itu, Paulus berusaha menguatkan iman dan dasar rohani jemaat Efesus  dengan menyatakan kepenuhan maksud kekal Allah dari penebusan “dalam Kristus”  untuk gereja dan untuk setiap orang.

Empat pasal awal Paulus menulis pengajaran penebusan orang percaya dan dua pasal terakhir berisi praktik kehidupan orang Kristen, termasuk hubungan suami dengan istri.

Suami dan istri secara ideal seharusnya menggambarkan hubungan Kristus dengan jemaat.

Oleh karena itu, penundukan istri kepada suami disamakan dengan penundukan jemaat kepada Kristus, sebaliknya kasih suami kepada istri disamakan dengan kasih Kristus kepada jemaat.  

Seorang istri yang memiliki persekutuan yang erat dengan Tuhan Yesus, akan memiliki hati yang tunduk kepada Tuhan, oleh karena itu dia akan tunduk kepada suaminya karena Tuhan.

Demikian juga seorang suami yang memiliki persekutuan yang erat dengan Tuhan akan memahami kasih Tuhan kepada dirinya, dan dia akan menggunakan kasih itu untuk mengasihi istrinya dengan segenap hati.

Saudara, supaya suami dan istri dapat saling mengasihi, maka keduanya harus memiliki persekutuan yang erat dengan Tuhan di dalam doa dan penyembahan. Suami dan Istri harus terus mengalami Tuhan.

Selain itu, keduanya juga harus memahami kasih Tuhan. Prinsipnya dituliskan dalam Efesus 3:18-19, “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan”.

Jadi, tidak hanya pengalaman rohani yang harus dibangun, tetapi juga perlu pemahaman (pengetahuan rohani).

Saudara, suami dan istri yang hidup dalam kebenaran akan menghasilkan keturunan rohani dan jasmani yang juga takut akan Tuhan.

Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana implementasinya bagi jemaat yang belum berkeluarga.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 26-31

Senin, 17 Juni 2024

SEISI RUMAH BERIBADAH KEPADA TUHAN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOSUA 24:13-15

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya!

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Mengapa Yosua meminta orang Israel memilih kepada siapa akan beribadah?
  2. Siapakah yang dipilih Yosua dan seiri rumahnya untuk beribadah?
  3. Apakah komitmen beribadah ada pada keluarga saudara?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15).

Perintah Yosua untuk memilih Tuhan atau berhala, bukan berarti dia membiarkan mereka bebas, apakah mereka akan mengabdi kepada Tuhan atau berhala; karena Yosua sendiri tidak mempunyai kuasa seperti itu, dan tidak dapat memberikannya kepada orang lain, sebab dia maupun orang Israel diwajibkan oleh hukum Musa untuk beribadah hanya kepada Tuhan.

Kata-kata Yosua merupakan sindiran, yang menyiratkan bahwa penyembahan kepada Tuhan sangatlah masuk akal, perlu, dan bermanfaat, terutama setelah mengalami perjalanan masuk tanah perjanjian yang disertai berbagai mujizat dari Tuhan.

Jadi, tidaklah sepantasnya orang Israel akan memilih allah orang amori.

Yosua memprovokasi orang Israel untuk lebih cepat mengikatkan diri mereka kepada Tuhan melalui pilihan mereka sendiri.

Yosua sendiri menegaskan pilihannya untuk beribadah hanya kepada Tuhan, dia dan seluruh keluarganya.

Saudara, dalam budaya Indonesia seringkali terdengar keyakinan keliru, yaitu dalam sebuah keluarga pastilah akan ada  satu anggota keluarga yang tidak berhasil atau gagal.

Keyakinan ini tidak alkitabiah dan patut dibuang dari pikiran kita.

Sepatutnya kita memiliki keyakinan seperti Yosua, bahwa dia dan seisi rumahnya akan beribadah atau melayani Tuhan.

Saudara, sebagai orang benar kita memiliki janji Tuhan, bahwa keturunan kita akan diberkati. Inilah yang perlu kita yakini dan hidupi bersama.

Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti” (Mazmur 37:25).

Kita dan seisi rumah kita akan terus melayani Tuhan.

Diskusikan dengan pembimbingmu, apakah yang dimaksud orang benar dan bagaimana dampaknya pada keluarga.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 21-25

Minggu, 16 Juni 2024

MEMBANGUN KELUARGA DENGAN DASAR KRISTUS

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MAZMUR 127:1-5

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya!

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah kita sudah membangun kehidupan rumah tangga dengan melibatkan Tuhan?
  2. Apakah kita sudah melibatkan Tuhan dalam pendidikan atau karir?
  3. Apakah maksud Dia memberikan kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah–sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur”. (Mazmur 127:1-2).

Saudara, Tuhan  yang menciptakan keluarga, yaitu suami, istri dan anak-anak.

Namun sering sekali orang membangun keluarga tanpa melibatkan Tuhan, Sang Pencipta keluarga.

Seorang kontraktor bangunan membangun gedung berdasarkan gambar yang telah dibuat seorang arsitek.

Kalau kontraktor membangun gedung tidak sesuai desain arsitek dan mengurangi kualitasnya, maka gedung yang dibangun tidak sesuai standar.

Gedung mungkin tidak memiliki kekuatan seperti seharusnya.

Keluarga dapat diibaratkan sebuah gedung.

Proses membangunnya tidak boleh dilakukan asal-asalan.

Tidak boleh dibangun berdasarkan pengalaman masa lalu dalam sebuah keluarga.

Tidak boleh juga dibangun berdasarkan selera seorang pria (suami).

Tidak boleh menggunakan desain dari pihak lain, harus menggunakan desain dari Tuhan.

Saudara, Alkitab adalah sumber utama untuk referensi membangun keluarga.

Tentu saja teladan keluarga-keluarga Kristen lain dapat juga mendukung pemahaman kita terkait proses membangun keluarga.

Berdasarkan mazmur yang di tulis Salomo, membangun rumah akan sia-sia apabila tidak melibatkan Tuhan.

Demikian juga, orang yang membangun keluarga tanpa melibatkan Tuhan akan menghasilkan kesia-sian belaka.

Menurut Mazmur, orang-orang yang tidur dengan nyenyak adalah orang-orang yang menikmati penyertaan Tuhan.

Mereka percaya terhadap penyertaan Tuhan, sehingga tidak ada yang mengganggu pikirannya sehingga dapat tidur nyenyak.

Tuhan bekerja atas hidup mereka, karena mereka percaya kepada Tuhan.

Mereka tidak ragu akan masa depan hidupnya, Tuhan yang akan menyediakan yang terbaik.

Saudara, Percayakan proses membangun keluarga kepada Tuhan.

Sebab Dia yang paling tahu tentang keluarga dan Dia yang paling tahu masa depan.

Dia tahu apa yang menjadi kebutuhan keluarga.

Diskusikan dalam kelompok PA, apakah sudah membangun keluarga/karir/pendidikan dengan melibatkan Tuhan.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 17-20