Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Adakah yang kita bawa kedalam dunia? Dan adakah yang kita bisa bawa keluar? (ayat 7)
Apa resiko yang akan di tanggung, oleh mereka yang ingin kaya?
Menurut ayat 10, Betulkah cinta uang adalah akar dari segala kejahatan? Jika Ya, apa alasannya?
Hari-hari ini banyak orang, mungkin salah satunya kita, berusaha sedemikian rupa dengan bekerja keras, membanting tulang, ‘gila-gilaan’ dan memforsir diri untuk terus mencari uang.
Demi mencukupkan “saldo”, karena jika “saldo keuangan kita tidak cukup, bahkan kurang,” maka akan menimbulkan “kemacetan” dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Bagi sebagian orang, bekerja keras untuk mencukupkan kebutuhan hidup adalah hal wajar untuk dilakukan.
Bahkan jika kita baca 2 Tesalonika 3:10 secara singkat dapat dikatakan “Jika kita tidak mau bekerja, jangan makan” artinya kita harus bekerja dan tidak boleh malas, kalau kita mau mendapatkan makanan.
Ayat di 2 Tesalonika 3:10 sepertinya paradoks dengan judul renungan kita hari ini “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.”
Bila tidak kita pahami dengan baik sepertinya ayat tersebut mengatakan bahwa “kita tidak perlu capek bekerja, tidak perlu berambisi memiliki hidup berkelimpahan, apalagi kerja keras membanting tulang dalam bekerja atau mencari nafkah.”
Santai-santai saja, tidak perlu diforsir, berusaha sekedar dan secukupnya saja. Tentu TIDAK!
Ayat tersebut dimaksudkan agar kita tidak memiliki motivasi hidup hanya fokus kepada “saldo atau cinta uang.”
Bagi mereka uang adalah segala-galanya, bahkan karena fokus kepada uang membuat sebagian anak-anak Tuhan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Mereka tidak menyadari bahwa iman mereka mulai menyimpang dan membuat mereka semakin stres.
Tidak sedikit mereka sampai sakit-sakitan karena khawatir akan hidupnya yang selalu kurang dan tidak pernah ada kata cukup.
Renungan kita hari ini, mengajak kita kembali untuk berpikir dan merenung, betul kita perlu “saldo atau uang” untuk mencukupkan segala kebutuhan kita, baik itu kebutuhan sandang, pangan dan papan, namun hendaknya motivasi kita bukanlah uang sebagai segala-galanya.
Mungkin kita sering mendengar kata-kata bijak berkata bahwa “Uang bisa membeli kasur, tetapi tidak bisa membeli rasa tidur yang pulas; uang bisa membeli jam mahal, tetapi tidak bisa membeli waktu; uang bisa membeli buku, tetapi tidak bisa membeli ilmu; uang bisa membeli obat, tetapi tidak bisa membeli kesehatan.
Jadi marilah saudara, janganlah hendaknya kita diperbudak oleh uang, apalagi menjadi hamba uang.
Ingat! Akar dari segala kejahatan adalah cinta uang.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, apakah Tuhan melarang kita orang percaya, menjadi orang yang berkelimpahan dalam banyak hal, termasuk dalam hal keuangan? Apakah judul renungan kita hari ini, “asal ada makanan dan pakaian”, membuat kita tidak perlu bekerja keras, bahkan malas untuk mencukupkan kebutuhan kita?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang Alkitab katakan tentang harta duniawi?
Seberapa pentingkah mata baik secara tubuh maupun secara rohani?
Jika kita membaca Alkitab, maka kita akan melihat bahwa Tuhan dengan tegas memberikan pemisahan antara: pria dan wanita; terang dan gelap; hidup dalam kebenaran, hidup dalam dosa; hidup dipimpin Roh, hidup dipimpin daging; panas dan dingin.
Allah menentang yang ada di antara kedua kutub tersebut.
Misalnya ada orang yang mengaku bukan pria dan bukan wanita; atau yang mengaku tidak hidup dalam gelap tapi juga tidak hidup dalam terang; atau yang mengaku hidup dalam kebenaran tetapi sering kompromi melakukan hal yang berdosa; mengaku hidup dipimpin oleh Roh tapi bersikap kompromi dengan melakukan hal-hal yang mendukakan Roh; hakekatnya hidupnya ada di tengah alias suam-suam.
Wahyu 3:16 ”Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”
Tuhan menghendaki agar umat-Nya, “panas” dan bukan suam-suam.
Panas, dalam mengasihi Tuhan dan melakukan kehendak-Nya.
Hal-hal tersebut dapat terwujud oleh anugerah Tuhan dan hal-hal yang harus disengaja untuk kita lakukan.
Ada bagian Tuhan, yaitu Kristus yang sudah disalibkan dua ribu tahun yang lalu, Roh Kudus yang memberikan kekuatan dan keyakinan untuk kita hidup berkemenangan.
Dan kita pun melakukan bagian kita: bersedia untuk hidup oleh Roh dan dipimpin Roh Kudus.
Kita menyerahkan kehendak kita untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus.
Dengan demikian pilihan kita hanya mengabdi kepada Tuhan. Tuan kita adalah Tuhan dan bukan yang lain.
“….Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24).
Ini adalah pilihan yang mutlak. Kita hanya dapat mengabdi kepada Tuhan.
Mamon atau uang, harta dan kekayaan dunia tidak boleh menjadi pilihan atau prioritas utama dalam hidup kita.
Kalau oleh anugerah Tuhan kita dilayakkan untuk memiliki uang dan harta, maka dengan sadar kita memahami bahwa itu semua wajib digunakan untuk kemuliaan Tuhan.
Ada banyak ayat Alkitab yang memberikan peringatan bagi umat Tuhan, agar jangan menjadi cinta akan uang dan kekayaan dunia.
1 Timotius 6:10 ”Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”
Pengkhotbah 5:9 ”Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.”
Pengkhotbah 5:12 “Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri.”
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan tentang seperti apakah kehidupan yang memiliki makna Ilahi.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah arti seorang hamba?
Saat ini posisi orang percaya sebagai hamba apakah?
Firman Tuhan memberikan dikotomi yang jelas antara kebenaran dan dosa.
Roma 6:18“Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.”
Ayat ini merangkum perubahan kehidupan dari orang yang terikat oleh dosa menjadi orang yang dimerdekakan dari dosa dan hidup untuk kebenaran.
Ya, perubahan seperti itu tidak mungkin dilakukan oleh manusia sendiri.
Kematian Kristus di kayu salib, yang telah menghancurkan kuasa Iblis atas manusia.
Hal itu lah yang akan membuat siapa pun yang percaya kepada kuasa kebangkitan-Nya, dan bersedia untuk hidup dipimpin oleh Roh Tuhan, akan mampu untuk hidup berkemenangan, menjadi hamba kebenaran dan bukan hamba dosa.
Roma 8:2-3 “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging.”
Ketika kita membaca hukum Taurat, baik perintah dan larangannya, maka sekuat apa pun usaha manusia untuk melakukannya, mereka tidak akan bisa untuk melakukannya secara konsisten.
Karena hal itu memang tidak mungkin dilakukan. Hanya semata oleh anugerah dan kemurahan Tuhan maka kita dapat hidup berkemenangan.
Itulah sebabnya maka kita berpaling kepada kebenaran Firman: “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.”
Pertama, kita bersyukur atas apa yang Kristus telah lakukan di kayu salib, yaitu menebus dosa kita.
Kedua, kita terima dengan iman bahwa Roh Kudus yang ada di dalam batin kita, telah memerdekakan kita dari hukum dosa dan hukum maut.
Ketiga, kita belajar terus menerus untuk hidup oleh Roh Kudus dan hidup dipimpin oleh Roh.
Bagaimana caranya? Dengan terus menerus sengaja untuk membangun persekutuan yang erat dengan Tuhan, melalui doa, penyembahan dan membaca serta merenungkan Firman.
Galatia 5:24-25 ”Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.”
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan makna: “hidup oleh dan dipimpin Roh Kudus”?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah yang dimaksud dengan Mamon?
Bagaimana sikap umat Tuhan yang sepatutnya terhadap Mamon?
Kata Mamon berasal dari kata Yunani mammonas.
Akar kata yang serupa ada dalam bahasa Ibrani, Latin, Aram dan Kasdim.
Semuanya diterjemahkan menjadi “uang, kekayaan, dan harta benda.”
Dalam pemahaman di Alkitab, kata Mamon sering kali mengandung konotasi negatif.
Kadang-kadang digunakan untuk menggambarkan semua nafsu: kerakusan, keserakahan, dan keuntungan duniawi yang tidak jujur.
Pada akhirnya, Mamon menggambarkan berhala materialisme, yang bahkan menurut ukuran dunia pun dipandang sebagai sesuatu yang berlebihan atau negatif.
Firman Allah menunjukkan kontras yang kuat antara penyembahan pada kekayaan dunia dan penyembahan kepada Tuhan.
Lukas 16:13 ”Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Uang, harta, kekayaan dunia itu bisa memberikan kesenangan dan sekaligus bisa menjadi sumber kepedihan, misalnya jika harta warisan menjadi sumber konflik dalam keluarga.
Lukas 16:11 (BIS) “Jadi, kalau mengenai kekayaan dunia ini kalian sudah tidak dapat dipercayai, siapa mau mempercayakan kepadamu kekayaan rohani?”
Tuhan ingin agar kita menjadi orang yang dapat dipercaya, orang yang tidak silau terhadap harta dan kesenangan duniawi.
Agar kita dapat dipercayakan kekayaan rohani.
Apa saja kekayaan rohani, hidup kita berbuah Roh yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Kita menjadi semakin dewasa di dalam Tuhan, kita menjadi berkat bagi banyak orang melalui apa yang kita lakukan kepada banyak orang.
Sekali lagi, peringatan Tuhan bagi orang yang cenderung untuk mengumpulkan harta duniawi:
Matius 6:19-21 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan makna: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Berapa persenkah laba yang diperoleh dari orang yang pertama?
Berapa persenkah laba yang diperoleh dari orang yang kedua?
Berbeda dengan perumpamaan tentang talenta, dimana seoarang Tuan memberikan kepada tiga orang berdasarkan kesanggupannya, ada yang diberi lima, dua dan satu -Matius 25:15.
Dalam perumpamaan di Kitab Lukas ini, Sang Raja memberikan mina kepada sepuluh orang, tiap-tiap orang diberikan satu mina.
Orang yang pertama memperoleh laba sembilan ratus persen, sehingga satu keping mina menjadi sepuluh keping mina.
Sedang orang yang kedua memperoleh laba empat ratus persen, sehingga satu keping mina, menjadi lima keping mina.
Satu talenta setara dengan upah 15 tahun, sedangkan satu mina setara dengan upah tiga bulan kerja.
Talenta yang sering dimaknai sebagai bakat dan karunia, yang diberikan kepada tiap-tiap umat Tuhan sangatlah besar.
Bahkan yang diberi satu talenta, itu setara dengan upah 15 tahun bekerja.
Sedang jika dilihat dari sudut pandang “mina” atau modal yang diberikan untuk mengembangkan talenta dan bakat, Tuhan memberikannya sama, yaitu masing-masing satu mina.
Persamaan dari kedua kisah tersebut adalah bagaimana sikap orang dalam menjalankan kepercayaan yang diberikan.
Tuhan ingin agar kita menjadi orang yang bertanggungjawab dengan apa pun yang Tuhan berikan, baik itu bakat, karunia, waktu, kesempatan untuk berkarya.
Kepada orang yang bertanggung jawab, maka Tuhan akan memberikan kepadanya tanggung jawab yang lebih besar.
Dan saya percaya bahwa prinsip ini berlaku baik di bidang rohani maupun sekuler.
Di sekuler, bos kita akan memberikan kepercayaan kepada mereka yang lebih bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan.
Di dalam pelayanan, Tuhan melalui para senior di dalam pelayanan juga akan mempromosikan orang yang lebih bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.
Tuhan ingin kita melayani dengan motif karena kita mengasihi Tuhan, oleh karenanya apa pun yang menjadi tanggung jawab kita, kecil atau besar, kita laksanakan dengan sungguh-sungguh.
Lalu apakah kita boleh menjadi orang yang ambisius.
Jawabannya tidak, karena makna ambisius adalah: istilah yang digunakan untuk menggambarkan kemauan yang kuat untuk mencapai keberhasilan bahkan jika harus dilakukan dengan cara yang kurang layak dan mengorbankan atau merugikan orang lain.
Keberhasilan kita adalah anugerah Tuhan dan karena kasih kita kepada Tuhan, bukan karena kemauan kita yang kuat sehingga kita menghalalkan segala cara.
Saudara, dalam kelompok pemuridan diskusikan tentang nilai-nilai Alkitab dan sekuler dalam meraih prestasi.