Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Mengapa Yesus menggunakan perumpamaan kepada murid-murid-Nya untuk menjelaskan sesuatu?
Seperti apa cara hidup hakim dalam perumpamaan itu?
Apa yang dilakukan janda itu terhadap hakim itu?
Apa pertimbangan hakim itu, untuk mengabulkan permintaannya?
Apa yang sepatutnya kita miliki, supaya doa kita dijawab? Dan apa yang sepatutnya kita lakukan kalau doa kita itu belum dijawab?
Saudara, dalam peristiwa yang diceritakan oleh Tuhan Yesus dalam pengajaran ini, terdapat kisah seorang janda yang tidak takut mendatangi hakim dan meminta agar dia dibela.
Janda itu terus-menerus datang untuk meminta agar perkaranya dimenangkan.
Akhirnya, janda itu berhasil memenangkan perkaranya, karena hakim tersebut takut jika janda itu akan terus mendatanginya.
Bahkan, jika tidak diurus, suatu saat janda itu bisa menyerang hakim itu.
Lukas 18:4-8”Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”
Saudara, Tuhan membandingkan Allah dengan hakim yang lalim itu.
Hakim yang lalim itu membenarkan janda yang terus-menerus datang kepadanya karena ingin dimenangkan dalam perkaranya.
Yesus berkata, apakah Allah tidak akan membenarkan orang pilihanNya yang siang malam berseru kepada-Nya?
Saudara, Tuhan Allah akan melakukan segala sesuatu sesuai dengan firman Allah.
Yesus telah mengajarkan prinsip sederhana tentang doa: “Mintalah, carilah, dan ketoklah.” Orang yang meminta akan diberi, orang yang mencari akan mendapat, dan pintu akan dibukakan bagi mereka yang mengetok.
Oleh karena itu, Allah akan melakukan firman Yesus Kristus.
Bapa akan mengabulkan doa orang yang datang berseru kepada-Nya siang dan malam.
Apakah ada orang-orang yang percaya, datang berdoa siang dan malam dengan seruan kepada Bapa mengenai kebutuhan yang sedang mereka harapkan agar Tuhan mengabulkan doanya?
Oleh karena itu, jika kita memiliki permohonan doa kepada Allah, maka bawalah kebutuhan itu dan serukanlah kepada Bapa yang baik, supaya Dia mengabulkan doa kita.
Yesus mengatakan supaya kita berdoa dengan tidak jemu-jemu pada siang dan malam, menghampiri takhta kasih karunia Allah.
Penulis kitab Ibrani menuliskan:
Ibrani 4:16“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”
Saudara yang terkasih, ketika engkau memiliki suatu kebutuhan, maka firman di atas berkata: marilah kita dengan penuh keberanian, jangan ragu atau bimbang apalagi sampai mengatakan bahwa permohonan kita tidak akan dikabulkan!
Saudara, ketika memiliki permohonan, cobalah untuk merenungkan apakah permohonan itu merupakan suatu kebutuhan atau hanya sekedar keinginan.
Jika itu adalah kebutuhanmu, maka renungkanlah apakah kebutuhan tersebut benar-benar sangat penting dan harus ada.
Jika jawabannya adalah sangat perlu dan harus ada, maka yakinlah bahwa Bapa yang baik juga berkata benar bahwa itu kebutuhan anak-anak-Nya.
Maka ketahuilah bahwa menyediakan kebutuhan kita adalah tugas Bapa bagi anakNya.
Oleh karena itu, datanglah dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita memperoleh kasih karunia dan mendapatkan rakhmat agar kebutuhan kita dipenuhi tepat pada waktunya.
Hampirilah takhta kasih karunia itu dengan berani dan janganlah jemu-jemu.
Teruslah doakan siang dan malam, dan terus berseru untuk mendoakan kebutuhan itu sehingga dengan tepat waktu pada saat kebutuhan itu akan digunakan, maka Allah, Bapa yang baik itu akan memberikan apa yang dimohonkannya itu.
Tuhan akan mengabulkan doa kita pada waktu yang tepat sesuai dengan waktu kebutuhan itu akan digunakan.
Haleluya! Puji Tuhan! Amin!
Mengapa banyak kebutuhan orang percaya tidak tersedia ketika akan digunakan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang harus kita lakukan supaya kita menerima, pintu dibukakan dan kita mendapatkan?
Mungkinkah seorang anak meminta kepada bapanya dan dia tidak mendapatkan apa yang dia minta?
Apa yang dilakukan seorang bapa ketika anaknya meminta sesuatu kepadanya?
Apa yang akan dilakukan oleh Bapa kita yang di sorga itu terhadap permohonan kita?
Saudara, Yesus Kristus dengan jelas menguraikan dalam pengajarannya tentang doa yang dikabulkan.
Matius 7:7-11“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
Saudara, sudah jelas bagi kita bahwa Bapa di sorga sangat senang mengabulkan doa anak-anakNya yang berdoa dengan penuh keyakinan.
Ketika mereka berdoa dengan tidak ragu atau tidak bimbang, maka doa mereka akan dikabulkan oleh Bapa di sorga.
Rasul Yakobus menuliskan dalam kitabnya:
Yakobus 1:6-8”Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.”
Saudara, sudah jelas bagi kita bahwa Bapa di sorga sangat menantikan doa anak-anakNya yang dengan yakin didoakan.
Jika doa tersebut sesuai dengan kehendak Tuhan, maka Tuhan akan mengabulkan doa itu.
Tuhan akan mengabulkan doa anak-anakNya yang dengan yakin didoakan, maka Bapa akan mengabulkan doa itu dengan pemberian yang baik.
Tuhan sangat tidak suka kepada orang yang ragu-ragu atau bimbang.
Tuhan hanya mau mendengarkan anak-anakNya yang percaya kepadaNya.
Bagi mereka yang bimbang, apalagi yang ragu-ragu, Tuhan sangat tidak senang, bahkan, Dia menjadi marah ketika ada anak-anak-Nya yang meragukan Dia.
Tuhan sangat tidak suka jika Dia diragukan, karena Dia adalah Allah yang sangat berkuasa yang penuh kasih.
Ketika ada yang meragukan-Nya, maka Allah akan cemburu, karena Dia ingin agar semua anak-Nya tahu bahwa Dia adalah satu-satunya Allah, dan tidak ada Allah yang lain.
Dia adalah Allah yang Maha Baik, kasih-Nya tidak berkesudahan dan tidak berbatas.
Itulah sebabnya Dia selalu memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya.
Bahkan, sering kali Tuhan menjawab doa anak-anakNya dengan lebih baik dari apa yang mereka doakan, karena Dia ingin anak-anakNya mengalami sukacita saat melihat dan mendapatkan jawaban doa.
Allah ingin kita bersukacita, maka Dia menganugerahkan Roh Kudus sebagai sumber sukacita dan damai sejahtera.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin!
Mengapa ada anak Tuhan yang berdoa untuk sesuatu, tetapi tidak memperoleh apa yang dia doakan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Mengapa jika seorang menderita, dia harus berdoa?
Apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang yang sakit?
Apa yang terjadi ketika seorang sakit di doakan para penatua?
Supaya kita sehat, maka apa yang perlu kita lakukan?
Siapa Elia, apa yang dia lakukan dan apa yang terjadi kemudian dia berdoa lagi, maka apa yang terjadi sebagai jawaban doanya?
Saudara, doa siapakah yang disebut sebagai “DOA ORANG BENAR”?
Doa setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus adalah doa orang benar.
Oleh karena itu, timbul pertanyaan, siapakah orang benar itu?
Saudara, Rasul Paulus menuliskan suratnya kepada jemaat di Korintus:
2 Korintus 5:21”Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”
Saudara, sangat jelas bahwa Yesus Kristus yang tidak mengenal dosa dan tidak pernah berbuat dosa dijadikan oleh Bapa menjadi dosa karena kita supaya melalui Yesus Kristus, kita dibenarkan oleh Allah.
Jadi kita, orang-orang percaya yang dimaksudkan sebagai ”orang benar”.
Yakobus menuliskan bahwa doa orang yang benar sangat besar kuasanya.
Yakobus 5:16”Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”
Saudara, ketika seseorang yang percaya kepada Yesus Kristus berdoa, maka doanya akan dikabulkan oleh Tuhan Allah, Bapa yang baik.
Namun, banyak doa orang yang percaya kepada Yesus Kristus tidak terjawab.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Sangat jelas bahwa Yakobus telah menuliskan, “Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”
Jika doa itu diserukan dengan sungguh-sungguh dengan keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan, maka doa itu akan dikabulkan.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin!
Mengapa banyak doa orang percaya tidak dikabulkan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Kepada siapakah kita serukan doa kita?
Pujian yang seperti apa yang kita sembahkan kepada Bapa dalam doa ini?
Permintaan apa saja yang diajarkan dalam doa ini?
Bagaimana dengan kesalahan kita?
Dari apa kita seharusnya terlepaskan?
Saudara, ketika kita berdoa, maka kita ketahui bahwa berdoa itu sedang bercakap-cakap dengan Tuhan.
Tuhan Yesus menganjurkan supaya kita berdoa dengan tidak bertele-tele atau tidak berdoa seperti orang munafik yang berdoa supaya diketahui oleh orang lain.
Saudara, dianjurkan supaya ketika berdoa tanpa perlu diketahui oleh orang lain.
Matius 6:6”Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Berdoa bukanlah untuk pamer supaya orang lain tahu.
Berdoa adalah hubungan hati ke hati, berbicara dengan Bapa kita, Tuhan Allah yang Maha Baik dan Setia.
Suatu ketika, Tuhan Yesus pernah mengatakan:
Yohanes 16:24”Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.”
Tuhan Yesus menantang murid-muridNya untuk mereka mau berdoa kepada Bapa di sorga dalam nama Yesus supaya melalui doa-doa ini, kita semakin yakin bahwa doa adalah alat komunikasi yang sangat baik di antara kita, orang percaya kepada Bapa yang ada di sorga.
Bapa sangat ingin agar anak-anak-Nya bersukacita karena doa-doa mereka dikabulkan.
Tuhan Yesus berkata:
Matius 7:7-8“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”
Saudara, Tuhan sangat ingin agar orang percaya berdoa dan memohon sesuatu kepada Bapa di sorga dalam nama Yesus Kristus.
Rasul Yohanes mengajarkan kita berdoa:
1 Yohanes 5:14-15”Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.”
Saudara, jika kita berdoa sesuai dengan kehendak-Nya, maka kita pasti akan memperoleh apa yang kita minta karena kita berdoa sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan.
Oleh karena itu, marilah kita berdoa sesuai dengan apa yang Tuhan janjikan dan apa yang Tuhan hendak lakukan.
Haleluya, puji Tuhan. Amin!
Mengapa ada orang yang mengatakan bahwa doanya tidak pernah dikabulkan? Apa penyebabnya, dan mengapa hal itu bisa terjadi?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Pasangan yang seperti apa seharusnya menjadi pasangan kita?
Mengapa kita memilih pasangan kita harusnya sesama orang percaya?
Keluar dan pisahkanlah diri kita dari antara apa dan siapa?
Apa yang harus kita lakukan agar kita menjadi anak-anak Allah?
Saudara, Tuhan Allah pernah berfirman kepada Adam untuk beranak cucu, memenuhi bumi dan menguasai bumi.
Oleh karena itu, manusia mencari pasangan untuk berumah tangga, sehingga mereka bisa beranak cucu.
Tuhan yang memerintahkan manusia untuk beranak cucu, dan Tuhan juga yang menyediakan Hawa sebagai istri Adam.
Tuhan menjadikan manusia itu, yaitu Adam dan Hawa, sebagai laki-laki dan perempuan.
Ketika Tuhan Allah hendak membuat satu bangsa yang ilahi, maka Tuhan memerintahkan Abraham supaya keluar dari rumah ayahnya.
Tuhan Allah mulai membawa Abraham keluar dari rumah ayahnya.
Kejadian 12:1-3”Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”
Untuk menjadikan Abraham menjadi suatu bangsa yang besar, maka Tuhan Allah menjadikan Abram memulai sebuah keluarga.
Ketika Abraham berumur seratus tahun, ia memiliki seorang anak yang diberi nama Ishak.
Setelah Ishak dewasa, ia membentuk keluarganya sendiri.
Dalam proses pembentukan keluarga Abram, maka Abram meminta Eliezer sebagai kepala rumah tangga Abram untuk mencarikan istri bagi Ishak.
Abraham memerintahkan Eliezer untuk mengambil seorang wanita dari kaum kerabat Abraham di tanah leluhurnya, di daerah Mesopotamia.
Ishak akhirnya mendapatkan seorang perempuan bernama Ribka yang juga masih merupakan kerabat Abraham dan Sara.
Ishak memiliki dua orang anak, yaitu Esau dan Yakub.
Ketika Esau dewasa, ia mengambil seorang perempuan Kanaan sebagai istrinya.
Sara merasa tidak sejahtera memiliki menantu yang berasal dari orang Kanaan, yang merupakan penganut agama animisme, sementara Abraham dan keluarganya menyembah Allah yang menciptakan langit dan bumi.
Ketika terjadi pertikaian antara Esau dan Yakub, maka Sara memerintahkan Yakub untuk pergi ke daerah Mesopotamia, tempat asal Abraham dan keluarganya.
Sara mendorong Yakub untuk mengambil istri dari kerabatnya di Ur-Kasdim.
Kemudian Yakub mendapatkan dua putri Laban, yaitu Lea dan Rahel, serta dua gundik yang diberikan oleh Lea dan Rahel sehingga Yakub memiliki empat orang istri yang memberikan dua belas anak laki-laki dan seorang putri.
Ketika Yehuda sudah dewasa, dia bergaul dengan seorang Adulam.
Yehuda meninggalkan keluarganya dan mengambil istri dari orang Adulam itu, yaitu putri dari Sua.
Perkawinan Yehuda dengan perempuan Adulam dikomentari oleh Nabi Maleakhi dalam tulisannya:
Maleakhi 2:10-12”Bukankah kita sekalian mempunyai satu bapa? Bukankah satu Allah menciptakan kita? Lalu mengapa kita berkhianat satu sama lain dan dengan demikian menajiskan perjanjian nenek moyang kita? Yehuda berkhianat, dan perbuatan keji dilakukan di Israel dan di Yerusalem, sebab Yehuda telah menajiskan tempat kudus yang dikasihi TUHAN dan telah menjadi suami anak perempuan allah asing. Biarlah TUHAN melenyapkan dari kemah-kemah Yakub segenap keturunan orang yang berbuat demikian, sekalipun ia membawa persembahan kepada TUHAN semesta alam!”
Saudara, ketika Yehuda menikahi perempuan asing, belum ada aturan yang melarang anak-anak Yakub untuk mengambil pasangan dari orang asing.
Peraturan tersebut muncul kemudian ketika hukum Taurat dituliskan oleh Nabi Musa bahwa tidak dibenarkan bagi seorang Israel untuk mengawini orang-orang di tanah Kanaan yang menyembah berhala dengan harapan supaya pernikahan di antara kerabat dan saudara keturunan Abraham saling mengawinkan dengan harapan supaya lahirlah anak-anak ilahi yaitu suatu bangsa yang menyembah Tuhan Pencipta langit dan bumi.
Dari peraturan ini, maka lahirlah aturan yang menjadi aturan dalam Perjanjian Baru.
Rasul Paulus menuliskan:
2 Korintus 6:14”Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”
Saudara, berdasarkan firman Tuhan, maka dianjurkan supaya orang percaya hanya mengambil pasangan dari antara antara orang percaya lagi.
Sangat tidak dianjurkan untuk berpasangan dengan orang-orang yang belum percaya.
Oleh karena itu, sangatlah penting untuk menjalin pergaulan yang akrab di antara warga gereja atau di antara kerabat, persaudaraan, dan komunitas yang dikenal yang dapat membuat kita mengenali siapa saja yang ada di sekitar kita sehingga ketika menjalin hubungan, informasi mengenai pasangan sudah diketahui melalui saudara, teman, atau anggota komunitas.
Hal ini memastikan terjadinya hubungan berpacaran di antara sesama orang percaya, walaupun berasal dari kota yang berbeda karena adanya hubungan di antara komunitas, gereja, persekutuan, atau kelompok-kelompok kegiatan tertentu yang dilakukan oleh orang-orang percaya.
Kita bisa mengetahui keberadaan anggota komunitasnya yang terdiri dari kumpulan orang percaya yang dapat memberikan informasi mengenai keadaan seseorang kepada kelompok persaudaraan di kota lain sehingga tidak diragukan keberadaan seseorang yang hendak dihubungi.
Jika hal ini terjadi, maka keadaan hubungan di antara orang-orang muda akan aman dan terjamin, serta pernikahan di antara orang-orang yang sudah percaya akan terjadi, walaupun mereka berasal dari kota atau tempat yang berbeda.
Haleluya! Puji Tuhan! Sehingga setiap pernikahan terjadi hanya di antara sesama orang percaya. Amin!
Berhubungan dengan saudara-saudara se-gereja adalah lebih aman untuk mendapatkan pasangan yang sepadan, benarkah selalu demikian?