Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah yang dilihat oleh Yesus ketika Ia menyusuri Danau Galilea?
Apa yang sedang mereka kerjakan di danau tersebut?
Apa yang Yesus katakan kepada mereka, dan apa yang kemudian mereka lakukan?
Siapakah yang kemudian dilihat oleh Tuhan Yesus?
Apa yang Yesus katakan kepada mereka, dan apa yang kemudian mereka lakukan?
Saudara, seperti dalam renungan kemarin, kita melihat bagaimana Yesus memanggil murid-murid-Nya.
Tuhan Yesus berkata, “Ikutlah Aku, dan Aku akan menjadikan kamu penjala manusia.”
Dengan demikian, para murid dipanggil untuk menjadi penjala manusia.
Menurut tulisan dalam Kitab Matius dan Kitab Markus, ceritanya sama.
Namun, dalam versi Lukas, kisahnya disampaikan dengan sedikit perbedaan.
Meski demikian, ketiganya sama dalam satu hal, yaitu ajakan Yesus kepada keempat murid-Nya: Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes.
Lukas 5:1-11“Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.”
Saudara, dalam peristiwa Yesus memanggil murid-murid-Nya, Yesus selalu mengajak mereka untuk mengikut Dia.
Kepada keempat orang ini, yaitu Simon Petrus, Andreas saudaranya, serta Yakobus dan Yohanes saudaranya, Yesus menyatakan bahwa Ia akan menjadikan mereka penjala manusia.
Dalam pemanggilan Filipus, seperti dalam renungan kemarin, Yesus menumbuhkan iman Natanael melalui kemahatahuan-Nya dengan menyatakan, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.”
Mendengar pernyataan Yesus itu, Natanael berkata, “Rabi, Engkau adalah Anak Allah, Engkau Raja Israel.”
Saudara, ketika mereka bertemu dengan Yesus, maka orang-orang yang dipilih oleh-Nya menangkap bahwa Tuhan Yesus adalah Pribadi yang besar, hebat, dan mulia, serta sangat layak dihormati.
Karena itu, mereka tidak merasa rugi untuk meninggalkan segala sesuatu demi mengikut Yesus.
Hal yang sama terjadi ketika Yesus memanggil Matius, yang juga disebut Lewi:
Lukas 5:27-32“Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
Saudara, ketika Yesus bertemu dengan orang-orang pilihan-Nya, mereka selalu segera bersedia meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus.
Bagaimana dengan kita? Rela kah kita meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus?
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak anak Tuhan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi tidak meninggalkan cara hidup lamanya? Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Ketika Yesus hendak pergi ke Galilea, dengan siapa Ia bertemu?
Apa yang dikatakan Natanael kepada Filipus, dan apa maksud dari perkataannya itu?
Apa yang Yesus katakan tentang Natanael, dan apa maksud perkataan Yesus tersebut?
Sesuai perkataan Yesus, apa yang akan dilihat Natanael di kemudian hari?
Saudara, ketika Yesus memanggil murid-murid-Nya, Ia menggunakan berbagai cara. Andreas, kakak Petrus, adalah salah seorang murid Yohanes Pembaptis.
Yohanes 1:35-42“Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”
Menurut versi Matius, ceritanya berbeda:
Matius 4:18-22“Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.”
Ketika Yesus memanggil Filipus dan Natanael, peristiwa ini diceritakan oleh Rasul Yohanes.
Yohanes 1:43-51“Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”
Saudara, ketika Yesus berdialog dengan Filipus dan Natanael, kita membaca bahwa Yesus menyatakan Natanael sebagai seorang Israel sejati, yang di dalam dirinya tidak ada kepalsuan.
Mengapa Yesus berkata demikian? Karena Natanael menyampaikan perkataan yang benar sesuai dengan keyakinan dan iman orang Yahudi atau Israel.
Inilah persoalan yang menyebabkan orang-orang Farisi dan ahli Taurat menentang Yesus Kristus.
Para pemuka, tua-tua Yahudi, dan banyak orang Israel juga menentang Yesus, karena pada waktu itu Ia disebut sebagai Mesias, yaitu Yesus anak Yusuf dari Nazaret.
Artinya, menurut pemahaman mereka, Yesus memiliki ayah bernama Yusuf dan berasal dari Nazaret.
Sementara itu, menurut keyakinan orang Yahudi, Mesias seharusnya lahir dari seorang perawan dan berasal dari Yudea, karena Mesias diyakini sebagai keturunan Raja Daud dari suku Yehuda.
Yesus yang disebut orang Nazaret diartikan bukan berasal dari suku Yehuda dan bukan dari keturunan raja-raja, seperti yang dinubuatkan dalam Hukum Taurat dan kitab para nabi.
Karena itulah Natanael dipuji oleh Yesus sebagai seorang Israel sejati, sebab apa yang dikatakan Natanael sesuai dengan apa yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya.
Yesaya 9:5-6 “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.”
Yesaya 7:14“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”
Nubuatan Yesaya ini digenapi pada saat kelahiran Yesus:
Matius 1:23“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.”
Jadi, jelas bahwa apa yang dipikirkan dan diyakini oleh orang Yahudi didasarkan pada nubuatan-nubuatan Nabi Yesaya.
Kita pada masa kini dapat memahaminya karena kita memiliki Alkitab, yang mencatat bahwa nubuatan Yesaya digenapi dengan benar melalui apa yang dikatakan malaikat kepada para gembala di padang penggembalaan di Betlehem Efrata pada saat Yesus dilahirkan.
Lukas 2:10-12“Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”
Namun ketika Yesus ada di Israel, Ia dikenal sebagai Yesus, anak Yusuf, orang Nazaret.
Karena itu, banyak orang Israel yang membaca Hukum Taurat dan kitab para nabi menolak Yesus anak Yusuf dari Nazaret sebagai Mesias.
Ketika Yesus berbicara seperti yang telah disebutkan di atas, hal itu membangkitkan rasa penasaran Natanael, sehingga ia bertanya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Yesus lalu memperlihatkan kemahatahuan-Nya dengan berkata, “Aku melihat engkau di bawah pohon ara.”
Mendengar hal itu, Natanael langsung berkata, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja Israel.”
Saudara, selanjutnya dalam dialog itu Yesus mengajak Natanael untuk mengikut Dia.
Yesus berkata, “Ikutlah Aku,” dan menyatakan bahwa Natanael akan melihat malaikat Tuhan turun dan naik dalam kehidupan Yesus Kristus.
Dengan perkataan ini, Yesus menyatakan bahwa Natanael akan menyaksikan perbuatan-perbuatan besar Yesus Kristus sebagai Mesias.
Dan hal itu benar-benar terjadi dalam pelayanan Yesus. Natanael hadir sebagai murid Yesus dan menyaksikan berbagai mujizat yang terjadi.
Ia melihat kemuliaan Yesus sebagai Anak Manusia, sebagai Mesias, Kristus, Raja Israel, dan Raja Damai.
Haleluya, puji Tuhan. Amin.
Mengapa pada waktu itu banyak orang Israel tidak percaya kepada Yesus, seperti Natanael?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang Yesus lakukan di atas perahu Simon?
Apa yang Yesus katakan kepada Simon setelah selesai mengajar banyak orang?
Apa yang terjadi dengan Simon sepanjang malam bekerja?
Apa yang terjadi ketika Simon taat kepada perintah Yesus?
Ayat yang kita baca hari ini mengisahkan peristiwa ketika Yesus mengajar orang banyak di tepi Danau Genesaret dan kemudian memerintahkan Simon Petrus untuk menebarkan jala ke tempat yang lebih dalam.
Perintah tersebut disampaikan setelah Petrus dan rekan-rekannya bekerja semalaman tanpa memperoleh hasil apa pun.
Nelayan seperti Simon Petrus bukanlah pekerja amatir, melainkan pelaku usaha yang memahami musim, waktu, dan teknik penangkapan ikan.
Penangkapan ikan umumnya dilakukan pada malam hari, ketika ikan bergerak ke permukaan dan jala lebih efektif.
Dengan demikian, perintah Yesus untuk menebarkan jala pada siang hari bertentangan langsung dengan praktik profesional yang mapan.
Namun, Petrus memilih untuk menaati perkataan Yesus, bukan karena ia memahami hasilnya, melainkan karena ia menaruh kepercayaan kepada Pribadi yang memerintahkannya.
Ungkapan Petrus, “tetapi karena firman-Mu (Engkau menyuruhnya)”, sangat penting secara teologis.
Kata rhēma menunjuk pada firman yang diucapkan secara langsung dan kontekstual, bukan sekadar ajaran umum (logos).
Artinya, dasar ketaatan Petrus bukan pengalaman, tradisi, atau perhitungan rasional, melainkan kepercayaan pada firman Yesus (rhema) yang personal dan penuh otoritas.
Ketaatan tersebut berbuah pada peristiwa yang luar biasa, yakni tangkapan ikan yang sangat banyak hingga jala mereka hampir koyak.
Dalam dunia modern, banyak orang mengandalkan kompetensi, perencanaan, dan kerja keras, namun tetap menghadapi kegagalan, kekecewaan, atau kelelahan batin.
Budaya rasionalitas sering menempatkan ketaatan pada kehendak Tuhan sebagai sesuatu yang tidak praktis atau kurang masuk akal.
Akan tetapi, kisah ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak selalu selaras dengan logika manusia.
Justru pada titik inilah iman diuji, yaitu ketika seseorang mendapatkan rhema Firman Tuhan dan diminta untuk taat meskipun pengalaman dan perhitungan rasional tidak menjanjikan hasil yang pasti.
Melalui firman ini, mari bersama kita merespons panggilan Tuhan dengan ketaatan yang nyata dalam kehidupan praktis sehari-hari.
Ketaatan perlu diterjemahkan ke dalam tindakan konkret, seperti berani melangkah kembali setelah kegagalan, bersikap jujur meskipun berisiko, atau melakukan kebaikan yang Tuhan taruh di dalam hati.
Ketaatan yang dilakukan dengan iman bukan hanya membentuk karakter, tetapi juga membuka ruang bagi karya Tuhan yang membawa keajaiban.
Dalam pembacaan renungan kita diatas, makna apa yang kita dapat ambil dan pelajari? Diskusikan bersama kelompok PA dan dalam kelompok anggota persekutuan kita.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah yang berkata “Lihatlah Anak Domba Allah!”?
Siapakah murid Yohanes pembaptis yang akhirnya menjadi murid Yesus?
Karena perkataan dan kesaksian siapa yang akhirnya para murid Yohanes menjadi percaya kepada Tuhan Yesus?
Sebelum kita membahas tentang pemanggilan murid-murid Yesus, kita perlu membaca dan memahami dahulu perihal penulisan kitab Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.
Khususnya tentang pemilihan murid-murid yang dilakukan Yesus.
Khusus Injil Yohanes ada sedikit perbedaan narasi, urutan cerita, dan latar belakang pemilihan murid Yesus.
Injil Yohanes sasaran pembacanya saat itu ditujukan untuk Jemaat yang berisi tentang refleksi iman dan pengakuan iman secara bertahap tentang siapa Yesus. Yaitu; Yesus adalah anak domba Allah.
Intinya meskipun gaya penulisan Injil Yohanes berbeda dengan Injil lainnya, namun bukanlah suatu kesalahan dan sama sekali tidak bertentangan, tetapi saling memperkaya pemahaman kita tentang Yesus dan pemuridan.
Yohanes 1:30–43 menuliskan bahwa sebagian murid Yesus mula-mula, sebagiannya merupakan murid Yohanes Pembaptis.
Beberapa murid terlebih dahulu mengenal Yesus sebelum “mengikut” Dia secara penuh.
Andreas dan murid lainnya mengenal Yesus setelah mendengar kesaksian langsung dari Yohanes Pembaptis.
Dan dari kesaksian Andreas yang diceritakan kembali ke murid lainnya, yaitu Simon Petrus, Filipus dan Natanael (Bartolomeus), akhirnya membuat mereka percaya kepada Tuhan Yesus.
Ketika para murid bertemu Yesus, mereka mengikuti Dia.
Namun anehnya ketika para murid mengikut Yesus, Dia bertanya kepada mereka “Apakah yang kamu cari?”
Pertanyaan tersebut sebenarnya ingin mengetahui apa motivasi mereka mengikuti Yesus.
Karena Yesus tidak ingin para murid mengikuti-Nya, tanpa mengetahui siapa sebenarnya Yesus yang mereka ikuti.
Para murid mulai mengenal dan mengalami Yesus secara pribadi, ketika mereka bersedia tinggal bersama Yesus (ayat 38-39).
Dari uraian diatas, tidak sedikit dari kita dipanggil untuk mengikut Kristus sering kali melalui perantara dan kesaksian, baik itu orang tua kita, teman atau sahabat, pembimbing PA, pengkhotbah dan lainnya.
Seringkali mereka itu dipakai oleh Tuhan untuk mengenalkan kita dengan Dia.
Sama seperti Yohanes pembaptis, ia rela dipakai oleh Tuhan untuk menjadi perantara untuk menyampaikan siapa itu anak domba Allah.
Dan setelah kita percaya dengan Dia, maka kita sepatutnyalah kita menjadi perantara untuk menyampaikan kesaksian baik itu lewat perkataan dan perbuatan kita tentang siapa itu Yesus sang Mesias itu kepada orang-orang yang belum percaya.
Ingat! Pemuridan sejati lahir dari kesaksian, perjumpaan pribadi dengan Dia, bersedia mengenal dan tinggal bersama Dia dan pengenalan iman yang terus bertumbuh.
Jadi kita dipanggil bukan hanya mengikuti Kristus seorang diri, tetapi kita dipanggil untuk mewartakan-Nya kepada orang lain, agar mereka juga menjadi pengikut Kristus yang sejati.
Mari jadikanlah diri kita seperti “Yohanes pembaptis” yang mau dan rela menjadi perantara untuk menyaksikan tentang Kristus.
Diskusikan bagaimana caranya agar kita dapat menjadi perantara untuk menyaksikan tentang Kristus?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa syaratnya, jika selubung itu bisa diambil?
Apa yang dimaksud selubung atau veil dalam konteks ayat 16?
Dimana ada Roh Allah disitu ada kemerdekaan. Apa yang dimaksud kata “Merdeka” tersebut?
Latar belakang Rasul Paulus menuliskan surat 2 Korintus 3, salah satunya adalah untuk menjelaskan perbedaan Perjanjian Lama (“hukum Taurat”) yang menuntut, memberi kesadaran akan dosa, tetapi menghukum karena manusia tidak sanggup memenuhinya.
Dan Perjanjian Baru (melalui Kristus dan Roh Kudus) yang tidak hanya memberi hukum, tetapi mengubah hati.
Setelah Musa berjumpa dengan Allah di gunung sinai dan turun kembali untuk berjumpa dengan orang Israel, mukanya bercahaya, sehingga ia menggunakan kain selubung atau “veil” untuk menutupi wajah fisiknya yang bercahaya itu, agar bangsa Israel tidak takut dan dapat mendekat kepadanya.
Bangsa Israel tidak tahu bahwa cahaya itu bersifat sementara dan akan memudar.
Hanya Musa yang sadar bahwa kemuliaan itu bersifat sementara. Paulus kemudian menafsirkan selubung ini sebagai simbol hati yang tertutup terhadap pengenalan akan Kristus, karena mereka tidak “melihat kemuliaan yang kekal”.
Ayat 16 menyatakan bahwa ketika seseorang “berbalik kepada Tuhan,” maka selubung itu diambil. Ini berarti hanya orang yang mau bertobat dan percaya kepada Kristus anak Allah yang hidup, maka penghalang itu akan disingkirkan dari padanya.
Penyingkapan selubung ini bisa terjadi karena ada Roh Kudus yang bekerja di dalam hati kita.
Di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.
Sehingga kita bebas dari dosa dan perbudakan maut.
Bebas untuk memandang dan mendekat kepada Allah tanpa rasa takut seperti yang dialami Musa di atas gunung.
Kita bebas untuk mengenal Dia dan mengalami perubahan hidup yang sejati.
Berbeda dengan wajah Musa yang cahayanya semakin redup, kemuliaan dalam diri orang percaya bersifat dinamis dan semakin meningkat kian hari.
Memang perubahan ini tidak serta merta terjadi begitu saja.
Perubahan ini memerlukan waktu dan proses dari satu tahap kemuliaan ke tahap berikutnya.
Kuncinya sederhana, yaitu seberapa besar kemauan kita untuk mengenal Dia setiap hari?
Dan seberapa besar kita menumbuhkan didalam hati kita Rasa Lapar dan Haus akan Firman Tuhan setiap hari?
Dengan sikap demikian, maka kita akan mengalami kemerdekaan dan keserupaan dengan Kristus.
Diskusikan bagaimana caranya agar selubung atau veil dalam hati kita bisa tersingkap, sehingga setiap hari kita mengenal Dia lebih dalam?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa saja janji-janji Allah yg di maksud dari Roma 8:15-17?
Siapa yang bersaksi dengan roh kita, bahwa kita adalah anak Allah?
Siapa yang berhak menerima janji Allah? (Ayat 17)
Jika ada yang bertanya, siapa yang senang jika janjinya ditepati oleh orang yg membuat janji?
Pasti kita yang menerima janji tersebut sangat senang, apabila janji itu ditepati.
Terlebih lagi apabila Tuhan sendiri menepati janji kepada kita anak-anak-Nya.
Surat Roma 8:15-17 menyatakan, janji Allah itu adalah “Warisan Rohani” bagi orang yg sudah percaya kepada Kristus.
Jadi bukan karena kebaikan, pengalaman, harta atau usaha kita yang membuat kita selamat, tetapi semata-mata karena Kristuslah yang telah memberikan secara cuma-cuma.
Sehingga kita sebagai anak-anak Allah, kita berhak mewarisi segala sesuatu yang Kristus miliki.
Adapun janji yang dimaksud adalah; Keselamatan kekal, kehidupan bersama Allah, dan juga berkat-berkat surgawi yang sudah disediakan Kristus untuk kita.
Bahkan kita disebut “ahli waris Allah dan satu-satu ahli waris dengan Kristus”.
Hal Ini berarti kita tidak hanya mendapat janji tentang kemuliaan yang akan kita terima kelak, tetapi kita juga harus siap mengalami penderitaan dalam mengiring Dia setiap hari!
Dalam Roma 8:15 Rasul Paulus juga menekankan tentang Identitas orang percaya sebagai anak dan ahli waris Allah.
Jadi kita tidak lagi hidup sebagai budak/hamba dosa yang hidup dalam ketakutan, tetapi kini status kita adalah anak (bukan status fisik atau dilahirkan secara biologis), namun identitas kita adalah anak yang di angkat “adopsi” (bahasa Yunani: huiothesia) yang berarti pengangkatan sebagai anak sah secara legal dan memiliki hak penuh sebagai anggota keluarga baru.
Dalam budaya Romawi masa itu, anak yang diadopsi, jika bukan dari darah keluarga, tetap bisa mendapat semua hak dan warisan seperti anak biologis.
Dan hukum itu berlaku juga sampai dengan sekarang.
Status ini adalah suatu hal yang penting, sekaligus hal yang istimewa untuk kita.
Kita memiliki hubungan atau relasi yang intim dengan Allah sang pencipta melalui Yesus dan roh kudus, sehingga kita dapat dengan berani berseru “ya Abba ya Bapa”.
Dengan status yang kita miliki saat ini, apakah kita sadar bahwa kita adalah anak Allah yang betul-betul merdeka dari dosa dan mewarisi segala janji Allah tentang hidup yang kekal dan hidup yang diberkati?
Jika kita sadar, mengapa kita masih takut, kuatir, cemas berlebihan tentang hidup kita; tentang apa yang kita makan-minum, tentang apa yang kita akan pakai dan takut menghadapi masa depan kita?
seolah-olah kita kurang percaya atau ragu akan status kita, bahwa kita sudah diadopsi menjadi anak-anak Allah yang juga ahli waris yang berhak menerima segala janji Allah!
Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing, dan coba kita renungkan kembali, betulkah kita percaya kepada Dia dengan sepenuh hati dan betulkah status kita saat ini sudah menjadi anak Allah yang sejati?
Apa alasan, yang mana status kita saat ini adalah anak Allah, tetapi dalam prakteknya kita kurang percaya atau ragu-ragu bahwa kita adalah anak yang berhak menerima segala janji-janji Allah? Diskusikanlah dengan kelompok PA dan juga di dalam kelompok persekutuan kita.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa Yesus disebut sebagai Firman Hidup, dan apa maknanya bagi umat percaya di masa kini?
Persekutuan seperti apakah yang Tuhan kehendaki ada di antara umat percaya dan bagaimana hal tersebut diwujudkan untuk membawa orang semakin mengenal Tuhan?
Saudara, tanpa Kristus, orang memang bisa bersekutu satu dengan yang lain, umumnya persatuan itu terjadi karena: kesamaan hobi, kesamaan latar belakang, kesamaan status sosial.
Tetapi persatuan semacam itu tidak cukup untuk menyebabkan orang menjadi lebih baik, perilakunya berubah menjadi lebih baik.
Itulah sebabnya manusia butuh Kristus, yang bukan hanya akan membawa mereka berubah semakin baik, tapi yang jauh lebih penting, supaya mereka dibenarkan.
Kata persekutuan yang ada dalam Perjanjian Baru berasal dari bahasa Yunani, koinonia yang artinya: kemitraan; hubungan yang erat; berbagi hidup dan ikatan yang nyata dan aktif.
Oleh karena pengorbanan Kristus di kayu salib, manusia yang berdosa diperdamaikan dengan Allah, diselamatkan dan manusia dapat mengenal Allah sebagai Bapa, bukan Allah yang jauh.
Tanpa Kristus, persekutuan dengan Allah tidak mungkin terjadi.
Tanpa Kristus juga tidak akan terjadi persekutuan sejati di antara umat manusia.
Karena oleh pengorbanan Kristus, maka semua orang percaya akan menerima Kristus yang sama, hidup dari anugerah yang sama, dipersatukan oleh Roh yang sama.
Dengan demikian Kristus akan memulihkan dua macam persekutuan, yaitu persekutuan horizontal antar umat percaya dan persekutuan vertical antara umat percaya dengan Allah Bapa.
Persekutuan umat percaya dengan Bapa dan Anak itu bersifat hidup dan aktif.
Artinya persekutuan ini bukan konsep teologi semata tetapi melibatkan doa, firman, ketaatan, dan kasih, itu juga adalah hubungan yang terus bertumbuh.
Ini berarti orang percaya akan hidup dalam kesadaran bahwa Allah hadir, bahwa kita akan mengalami bimbingan dan pimpinan Tuhan, kita juga akan menikmati kasih dan penghiburan ilahi.
Bukankah lebih dari segalanya, kita membutuhkan arahan Tuhan, pimpinan Tuhan, juga koreksi atau teguran Tuhan jika kita berbuat salah.
Persekutuan dengan Bapa dan Kristus itulah yang akan membuat kita semakin peka untuk mendengar suara Allah dan memahami petunjuk-petunjuk-Nya.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan bagaimana membangunpersekutuan sejati di antara sesama orang percaya.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa arti “mencari dan memikirkan perkara yang di atas” dalam kehidupan sehari-hari kita?
Hal-hal duniawi apa saja yang perlu kita “matikan” supaya hidup kita benar-benar mencerminkan Kristus yang hidup dalam kita?
Firman Tuhan menyatakan bahwa kita orang percaya adalah orang yang telah dibangkitkan bersama dengan Kristus.
Ini menunjukkan bahwa hidup rohani kita dimulai dari apa yang sudah Allah lakukan, bukan dari usaha manusia.
Orang percaya telah mati dan bangkit bersama Kristus, dan ini sesungguhnya sebuah perubahan status rohani yang radikal.
Karena itu, hidup orang percaya tidak lagi berpusat pada diri sendiri atau dunia, melainkan diarahkan kepada Kristus yang “duduk di sebelah kanan Allah”.
Kebangkitan bersama Kristus memberi dasar untuk cara hidup yang baru.
Tuhan juga meminta kita untuk mencari dan memikirkan perkara yang di atas.
Hal ini menekankan dua tindakan yang sesungguhnya sangat penting, yaitu agar kita mencari dan memikirkan perkara yang di atas.
Mencari berbicara tentang tujuan dan arah hidup kita.
Sedang memikirkan berbicara tentang pola pikir dan isi hati kita.
Dengan demikian umat percaya akan menjalani hidup “duniawi” tetapi dengan perspektif surgawi.
Kita tetap bekerja di mana pun sesuai dengan profesi kita, kita juga berinteraksi dengan rekan di kantor atau teman kuliah, dan melayani, tetapi dengan nilai dan motivasi yang berbeda, bukan demi diri sendiri, melainkan demi Kristus.
“Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” (Kolose 3:3).
Hidup yang tersembunyi berarti jati diri kita ada di dalam Kristus, nilai hidup kita tidak ditentukan oleh penilaian dunia, dan sumber kekuatan kita berasal dari hubungan kita dengan Tuhan.
Dengan hidup yang tersembunyi bersama Kristus maka kita akan hidup dan menjalaninya dengan ketaatan yang nyata.
Dunia mungkin tidak selalu melihat atau menghargainya, tetapi Allah mengenal hidup yang tersembunyi itu dengan sempurna.
Ketika hidup kita tersembunyi di dalam Kristus, kita tidak perlu takut kehilangan apa pun di dunia, karena kita telah memiliki hidup yang sejati di dalam Dia.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan bagaimana orang percaya belajar hidup bukan untuk terlihat, tetapi untuk setia; bukan untuk dunia, tetapi untuk Kristus.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa artinya hidup dalam Roh dan bukan dalam daging, dan bagaimana Roh Kristus yang diam di dalam kita mempengaruhi cara kita berpikir, memilih, dan bertindak setiap hari?
Bagaimana keyakinan bahwa Roh yang membangkitkan Yesus juga diam di dalam kita memberi pengharapan dan kekuatan dalam kehidupan kita saat ini?
Kitab Roma pasal 8 sering disebut sebagai “mahkota surat Roma”, bahkan salah satu pasal terpenting dalam seluruh Alkitab.
Keistimewaannya bukan hanya karena isinya yang tersusun dengan indah, tetapi karena Roma pasal 8 merangkum kehidupan Kristen dari awal hingga akhir: dari pembebasan, pimpinan Roh, penderitaan, sampai kemuliaan kekal.
Roma 8:9 menyatakan bahwa orang percaya tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika Roh Allah diam di dalamnya. Ini bukan berarti tubuh jasmani tidak lagi ada, tetapi pusat kendali hidup telah berubah.
Hidup dalam daging berarti dikendalikan oleh dosa, ego, dan keinginan manusia lama.
Hidup dalam Roh berarti hidup di bawah pimpinan Roh Kudus, dengan kehendak Allah sebagai arah hidup kita.
Jati diri orang percaya tidak lagi ditentukan oleh masa lalu, kegagalan, atau kelemahan, tetapi oleh kehadiran Roh Kristus di dalam diri kita.
Firman Tuhan bahkan menegaskan: jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.
Artinya, Roh Kudus bukan pelengkap iman, melainkan inti kehidupan Kristen.
Roma 8:10 berbicara dengan lugas tentang dua realita yang berjalan bersamaan: Tubuh masih berada dalam dunia yang dikuasai dosa dan kematian.
Tetapi roh orang percaya hidup oleh karena kebenaran.
Ini menjelaskan mengapa orang Kristen tetap mengalami pergumulan, penderitaan, dan kelemahan.
Namun perbedaannya adalah: hidup ilahi sudah bekerja di dalam kita.
Kristus tidak hanya menjadi teladan di luar, tetapi Sumber kehidupan di dalam.
Karena itu, kehidupan Kristen bukan soal berusaha menjadi benar dengan kekuatan sendiri, melainkan membiarkan kehidupan Kristus dinyatakan melalui ketaatan dan iman.
Roma 8:11 menjadi pemuncak: “…Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu….”
Ini berarti Roh Kudus adalah Roh kebangkitan.
Kuasa yang mengalahkan maut tidak jauh dari kita. Allah bekerja dari dalam untuk memberi kehidupan.
Janji ini memiliki dua dimensi: Janji masa depan, kebangkitan tubuh pada akhir zaman.
Dan kenyataan masa kini: hidup baru, kekuatan baru, dan pengharapan baru setiap hari.
Roh Kristus menolong kita berpikir menurut kebenaran, bukan dikuasai ketakutan, iri hati, atau hawa nafsu.
Kita belajar melihat hidup dari sudut pandang Allah.
Belajar hidup dipimpin Roh!
Dengan demikian orang yang hidup yang dipimpin oleh Roh akan memiliki sifat ini:
Peka terhadap suara Tuhan.
Cepat bertobat saat menyadari melakukan kesalahan.
Senang diajar dan mau dibentuk dari hari ke hari.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan bagaimana agar engkau bisa lebih konsisten hidup dipimpin oleh Roh.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa arti “kepenuhan Kristus” dalam hidup orang percaya, dan bagaimana kita mengalami “kasih karunia demi kasih karunia” secara nyata dalam kehidupan sehari-hari?
Apakah perbedaan antara hukum Taurat yang diberikan melalui Musa dan kasih karunia serta kebenaran yang datang melalui Yesus Kristus menolong kita mengenal Allah dengan benar?
Yohanes 1:16 “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.”
Bagian Firman Allah ini berarti kita sebagai umat percaya menerima kasih karunia yang terus-menerus, berlapis, dan tidak pernah habis.
Bukan satu kali pengalaman rohani, melainkan anugerah Allah yang datang silih berganti sepanjang hidup kita orang percaya.
Gambaran sederhananya: Bukan satu berkat lalu selesai, tetapi: satu kasih karunia digantikan oleh kasih karunia berikutnya.
Bukan hidup dari pengalaman rohani masa lalu, tetapi hidup dari aliran anugerah yang terus baru.
Dengan kata lain, Allah tidak hanya menyelamatkan kita oleh kasih karunia, tetapi memelihara, menuntun, menegur, dan menguatkan kita juga oleh kasih karunia dan anugerah-Nya.
Saudara, hukum Taurat menyadarkan manusia akan dosa, sedangkan kasih karunia di dalam Kristus memberi jalan pemulihan, bukan penghukuman.
Di dalam Yesus, kita mengenal Allah sebagai Bapa yang penuh kasih, bukan Hakim yang siap-siap menjatuhkan hukuman atas kita.
Karena kita hidup di dalam Kristus, maka hidup kita ditopang oleh kasih karunia yang terus mengalir.
Sehingga saat kita jatuh, ada kasih karunia pengampunan.
Karena sebagai orang percaya bukan berarti kita tidak pernah jatuh, tetapi ada anugerah untuk dosa kita diampuni, ada anugerah untuk kita bangkit kembali.
“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” (Amsal 24:16).
Saat musim atau periode kehidupan kita berganti, kasih karunia pun akan tetap mengalir.
Di masa muda: kasih karunia untuk belajar dan diarahkan
Di masa dewasa: kasih karunia untuk bertanggung jawab
Di masa sulit: kasih karunia untuk bertahan
Di masa berhasil: kasih karunia untuk kita tetap rendah hati
Kasih karunia Tuhan akan selalu relevan dengan musim hidup kita.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan sedang di periode atau musim mana engkau saat ini dan apakah engkau mengalami kasih karunia Tuhan di masa kini.