Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Nasihat siapakah yang tidak boleh diikuti?
Siapakah yang diibaratkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air?
Siapakah yang senantiasa berhasil dalam segala perbuatannya?
Siapakah yang tidak tahan dalam penghakiman?
Saudara, pemazmur menggambarkan sekelompok orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh dan yang kesukaannya adalah membaca dan merenungkan firman Tuhan siang dan malam.
Orang-orang seperti itu disebut berbahagia, karena mereka diibaratkan seperti sebatang pohon yang ditanam di tepi aliran air, sehingga daunnya selalu hijau dan tidak layu.
Pada musimnya, pohon itu berbuah dengan lebat.
Ibarat atau perumpamaan ini menggambarkan bagaimana kehidupan dapat mencapai kebahagiaan.
Kebahagiaan itu diperoleh karena seseorang senantiasa merenungkan firman Tuhan siang dan malam, sehingga hidupnya diibaratkan seperti pohon yang selalu menghasilkan buah pada musimnya.
Tuhan Yesus juga mengibaratkan orang percaya seperti ranting pada pohon anggur:
Yohanes 15:4-6“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”
Oleh karena itu, bangunlah hubungan dengan Yesus Kristus melalui persekutuan yang intim dengan Roh Kudus, supaya kita senantiasa menghasilkan buah pada musimnya.
Sama seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air dan mendapatkan makanannya dari aliran tersebut, demikian juga ranting pohon anggur yang selalu mendapatkan makanannya dari pokok anggur induknya.
Ranting pokok anggur harus selalu menempel pada pokok anggur untuk memperoleh makanan.
Jika ranting tidak menempel pada pokok anggur itu, maka ranting tersebut akan mati kekeringan, karena tidak ada aliran makanan dari pokok kepada ranting-rantingnya.
Di luar pokoknya, ranting pohon anggur tidak dapat hidup. Namun jika ranting itu tetap menempel pada pokok anggur induknya, maka ranting tersebut akan menghasilkan buah yang lebat.
Demikianlah seharusnya hubungan kita dengan Yesus Kristus.
Melalui Roh Kudus, kita berhubungan dengan Tuhan Allah, Bapa kita, Tuhan Yesus Kristus.
Melalui doa, pujian, dan penyembahan, kita membaca dan merenungkan firman Tuhan, sehingga kita menikmati pertumbuhan rohani.
Dengan menikmati dan merenungkan firman Tuhan, kita memperoleh hikmat dan pertumbuhan iman, serta mengalami hubungan yang indah dan intim dengan Bapa dan Yesus Kristus melalui tuntunan Roh Kudus.
Roh Kudus juga membentuk kita dan menganugerahkan hikmat, pengetahuan, serta pengertian.
Roh Kudus yang ada di dalam kita mengajarkan apa yang Kristus kehendaki untuk kita lakukan dalam hidup ini, sehingga orang lain dapat melihat kesaksian hidup kita.
Dengan demikian, semakin banyak buah kehidupan yang dihasilkan melalui hidup kita.
Ketika kita kekurangan hikmat dalam hidup, Rasul Yakobus pernah berpesan:
Yakobus 1:5“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–,maka hal itu akan diberikan kepadanya.”
Karena itu, sebenarnya tidak mungkin anak-anak Tuhan tidak memiliki hikmat untuk hidup bersama dengan sesama.
Jika seseorang menyadari bahwa ia kekurangan hikmat, ia dapat memintanya kepada Tuhan.
Namun banyak orang tidak menyadari bahwa mereka hidup tanpa hikmat.
Hal itu sering terjadi karena mereka tidak dengar-dengaran kepada Roh Kudus yang hidup di dalam mereka atau mereka sedang mendukakan Roh Kudus, sehingga Roh Kudus berdiam diri karena mereka sering tidak menghiraukan-Nya.
Saudara, marilah kita dengan sadar membangun hubungan yang mesra dengan Roh Allah yang sudah berdiam di dalam batin kita.
Melalui pujian, penyembahan serta membaca dan merenungkan firman Tuhan, Roh Kudus akan berbicara kepada kita, mengajar kita, menyatakan kesalahan kita, menuntun kita untuk memperbaiki kelakuan kita serta kita bisa belajar bagaimana mengajar orang lain dalam kebenaran.
Hal ini juga dituliskan oleh Rasul Paulus kepada anak rohaninya, Timotius:
2 Timotius 3:16-17“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”
Dengan membaca dan merenungkan firman Tuhan, makan Roh Kudus mengajar dan memperlengkapi kita untuk hidup dalam jemaat Tuhan.
Melalui hal itu, jemaat dapat bertumbuh dan berkembang mengikuti kepenuhan Kristus.
Ketika masyarakat melihat bagaimana jemaat hidup dalam kepenuhan Kristus, mereka akan tertarik dan dapat melihat kemuliaan Kristus.
Jemaat yang hidup dalam kesatuan, keharmonisan, dan damai sejahtera akan menjadi kesaksian yang menarik bagi masyarakat.
Kesaksian seperti inilah yang menjadi terang bagi dunia yang sedang dilanda kegelapan pada akhir zaman ini.
Dunia sangat merindukan bagaimana:
Mazmur 133:1-3“Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”
Saudara, hal ini telah dibuktikan dalam jemaat mula-mula. Lukas menuliskannya dalam:
Kisah Para Rasul 2:44-47“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”
Ketika jemaat mula-mula melakukan apa yang Tuhan Allah perintahkan, maka orang-orang di sekitar mereka melihat sukacita yang mereka alami bersama.
Hal itu membuat banyak orang menyaksikan bahwa kehidupan ilahi nyata terjadi di tengah jemaat mula-mula.
Masyarakat melihat bagaimana kehidupan yang dipimpin oleh firman yang hidup dan kehadiran Allah membuat gaya hidup jemaat mula-mula bagaikan pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang daunnya selalu hijau dan tidak layu serta menghasilkan buah yang lebat.
Karena itu, banyak orang dari luar jemaat mula-mula tertarik untuk bergabung, dan mereka pun diselamatkan.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Kegiatan apakah yang menyebabkan masyarakat Yerusalem tertarik bergabung dengan jemaat mula-mula, sehingga mereka diselamatkan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang diminta oleh pemazmur kepada Tuhan?
Apa yang dijanjikan oleh pemazmur?
Apa yang menyebabkan pemazmur bergembira seperti atas segala harta?
Apa yang akan membuat pemazmur bergemar?
Saudara, pemazmur adalah salah satu orang yang mencintai Tuhan.
Hal itu terlihat dari pernyataannya mengenai pentingnya firman Tuhan, seperti yang dapat kita lihat dalam:
Mazmur 119:1-3“Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya.”
Berbahagia bukan karena harta benda, melainkan karena memegang firman Tuhan.
Pemazmur menyadari bahwa firman Tuhan sangat berkuasa untuk memberi kebahagiaan, ketenangan, dan hikmat.
Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus juga menuliskan hal ini dalam suratnya kepada anak rohaninya:
2 Timotius 3:16“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”
Jika seseorang terpikat terhadap firman Tuhan, maka ia akan mengalami berbagai kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang.
Melalui firman Tuhan, oleh bimbingan Roh Kudus, kita memperoleh hikmat dan pengertian, seperti yang dinyatakan oleh pemazmur:
Mazmur 119:9-11“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”
Begitu rindunya pemazmur akan kuasa firman Tuhan, sehingga ia menghafalkan ayat-ayat firman Tuhan dengan tujuan agar ia selalu mendapatkan arahan yang jelas dari Allah melalui firman-Nya.
Ia berkata, “Aku menyimpan firman-Mu di dalam hatiku supaya aku tidak berdosa terhadap Engkau, ya Tuhan.”
Pemazmur juga rindu agar Tuhan mengajarinya, memberitahukan kesalahannya, serta menunjukkan bagaimana ia dapat memperbaiki kelakuannya.
Selain itu, ia juga rindu untuk mengajar orang lain dalam kebenaran.
Oleh karena itu, ia dengan sengaja menyimpan firman Tuhan di dalam hatinya dengan cara menghafalkannya, supaya ia dapat dengan mudah memperoleh petunjuk atau nasihat dari firman Allah.
Pemazmur dengan tegas mengatakan bahwa ia sangat gemar akan ketetapan-ketetapan Tuhan.
Hal ini sangat berbeda dengan banyak anak-anak Tuhan saat ini yang merasa tidak menyukai ayat-ayat firman Tuhan, karena menurut mereka firman itu terlalu mengekang.
Banyak orang yang mengaku sebagai anak-anak Tuhan merasa bahwa hidup mereka terlalu dicampuri dan diatur, sehingga mereka mengatakan bahwa mereka tidak merasakan kebebasan atau kemerdekaan dalam hidup.
Padahal Tuhan Yesus berkata:
Yohanes 8:31-32“Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Tuhan Yesus dengan tegas menyatakan bahwa orang berdosa adalah orang yang diperhamba dosa:
Yohanes 8:34“Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.”
Jadi, orang berdosa bukanlah orang merdeka atau orang bebas.
Mereka adalah orang yang terikat, bukan orang merdeka, melainkan diperbudak oleh dosa.
Pemazmur menuliskan pernyataannya:
Mazmur 119:57-60“Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu. Aku memohon belas kasihan-Mu dengan segenap hati, kasihanilah aku sesuai dengan janji-Mu. Aku memikirkan jalan-jalan hidupku, dan melangkahkan kakiku menuju peringatan-peringatan-Mu. Aku bersegera dan tidak berlambat-lambat untuk berpegang pada perintah-perintah-Mu.”
Pemazmur memperlihatkan bagaimana ia menyenangi firman Tuhan sebagai petunjuk jalan bagi hidupnya, sehingga ia dapat menikmati sukacita dan kebahagiaan dalam hidupnya.
Oleh sebab itu, ia menyatakan bahwa:
Mazmur 119:105“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
Mazmur 119:111“Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku.”
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa ada orang yang merasa tertekan atau terkekang ketika mengetahui suatu kebenaran?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Perkataan Yesus yang manakah yang dinyatakan oleh murid-murid-Nya sebagai perkataan yang keras?
Apa penjelasan Yesus mengenai “perkataan keras” yang dikatakan oleh para pengikut-Nya?
Menurut Yesus, apakah yang dapat memberi hidup dan yang tidak berguna?
Apa yang terjadi di antara para pengikut Yesus sehingga banyak dari mereka bersungut-sungut ketika mendengarkan ajaran Yesus Kristus?
Saudara, ketika Yesus mengatakan bahwa Yesus adalah roti yang turun dari sorga, maka banyak orang Farisi dan orang-orang Yahudi yang mendengarkan serta mengikuti Yesus mulai ribut dan saling bertengkar.
Mereka mulai mempertanyakan Yesus dan ajaran-Nya.
Ketika Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah benar-benar makanan, maka banyak orang Yahudi mulai bersungut-sungut dan berkata:
Yohanes 6:42“Kata mereka: “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?”
Saudara, Yesus melarang mereka bersungut-sungut dan kemudian membuat suatu pernyataan yang semakin membingungkan orang banyak, sehingga mereka semakin mempertanyakan ajaran Yesus Kristus:
Yohanes 6:51“Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”
Yohanes 6:53-56 “Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”
Sesudah mendengar pengajaran Yesus itu, banyak murid mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia.
Saudara, kita adalah orang-orang yang beruntung, karena kita adalah orang-orang yang ditarik oleh Bapa untuk datang kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat.
Yohanes 6:44-45“Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku.”
Saudara, sudah jelas bagi kita bahwa sebagai orang percaya, kita telah mengalami kelahiran baru, karena Roh Bapa dimeteraikan ke dalam hati kita oleh iman.
Dalam ibadah Perjamuan Kudus, kita makan roti dan minum anggur yang melambangkan tubuh dan darah Yesus.
Oleh karena itu, benarlah apa yang Yesus katakan: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.”
Saudara, dari kebenaran firman yang kita baca dalam renungan pagi ini, kita mengerti bahwa firman Yesus Kristus memberi kehidupan kepada kita yang mempercayainya.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak orang sulit sekali percaya kepada Yesus, sedangkan saat kita mendengarnya, merenungkannya, lalu percaya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun?
Mengapa Yesus merasa lapar di padang gurun?
Siapakah yang datang untuk mencobai Yesus Kristus?
Apa jawaban Yesus terhadap ajakan iblis untuk mengubah batu menjadi roti?
Saudara, setelah Yesus berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam, maka Ia pun merasa lapar.
Ketika Yesus lapar, iblis datang untuk mencobai supaya Yesus menggunakan kuasa-Nya untuk mengubah batu menjadi roti.
Namun Yesus tidak menuruti suruhan atau permintaan iblis itu.
Sebaliknya, Yesus menjawab dengan perkataan: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”
Setiap firman yang keluar dari mulut Allah memberi kehidupan bagi manusia.
Menurut Rasul Yohanes, Firman Allah itu adalah Allah sendiri:
Yohanes 1:1-5“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”
Saudara, Firman Allah di sini merupakan bagian dari Allah dalam kesatuan Allah.
Allah adalah Roh, sehingga tidak memiliki wujud yang dapat dilihat.
Firman Allah adalah bagian dari Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus, yang pernah terlihat ketika Ia datang ke dunia sebagai manusia.
Roh Kudus adalah napas Allah yang juga tidak berwujud, karena Ia adalah Roh.
Ketiga oknum ini adalah Allah Tritunggal.
Hal ini sama seperti manusia yang terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh yaitu tiga bagian dalam satu tubuh.
Tubuh manusia memiliki wujud dan bentuk yang dapat dilihat, sedangkan Allah tidak berbentuk.
Namun di dalam kesatuan Allah terdapat Firman sama seperti jiwa, dan Roh Kudus yang sama dengan roh.
Dalam kesatuan atau ketunggalan Allah terdapat Allah Bapa yang tidak berwujud, Yesus Kristus, yaitu Firman yang menjadi manusia; dan Roh Kudus, sebagai napas Allah yang juga tidak berwujud.
Tritunggal tidak hanya berbicara tentang berapa banyak Allah, tetapi tentang bagaimana keberadaan Allah.
Oleh karena itu, Firman Allah sangat berkuasa.
Apabila seseorang menginginkan agar Firman Allah senantiasa mengarahkan hidupnya, maka ia akan mengalami keberhasilan, keberuntungan, dan kesuksesan dalam segala bidang yang dikerjakannya.
Firman Allah sangat penting bagi orang percaya, sebagai petunjuk agar mereka senantiasa hidup dalam bimbingan dan tuntunan Tuhan Allah, sehingga hidup mereka berhasil dan beruntung, seperti yang dinyatakan oleh Tuhan Allah kepada Yosua:
Yosua 1:8“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”
Pesan Tuhan melalui hukum Taurat yang diberikan kepada bangsa Israel melalui Nabi Musa merupakan petunjuk untuk hidup berhasil di tanah Kanaan, yaitu tanah perjanjian yang dianugerahkan Tuhan Allah kepada bangsa Israel.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak anak-anak Tuhan hidup dalam kegagalan, kemiskinan dan kebodohan, sementara firman Tuhan telah dengan jelas dituliskan dan dinyatakan bagi anak-anak Tuhan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang terjadi pada tubuh kita ketika Roh Kudus berdiam di dalam diri kita?
Apa yang akan dilakukan Roh Kudus yang diam di dalam kita?
Kepada siapakah kita berhutang?
Apa yang harus kita lakukan supaya kita memperoleh hidup?
Saudara, ketika kita percaya kepada berita Injil keselamatan melalui firman kebenaran, maka oleh iman itu Tuhan Allah memeteraikan hidup kita dengan Roh Kudus, dan Roh Allah itu tinggal di dalam batin kita.
Roh Kudus menjadi jaminan bagi kita. Hal ini dituliskan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus:
Efesus 1:13-14“Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”
Roh Kudus berdiam di dalam batin kita sejak kita percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan kita, seperti yang dituliskan oleh Rasul Paulus:
Efesus 3:16-17“Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.”
Roh Allah yang tinggal di dalam kita akan menolong kita supaya kita dapat berdoa kepada Bapa, karena kita sebenarnya memiliki kesulitan atau tidak tahu cara berdoa yang benar.
Oleh karena itu, Rasul Paulus juga menuliskannya kepada jemaat di Roma:
Roma 8:26-30“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
Roh Kudus menolong kita berdoa dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan atau berdoa dengan bahasa Roh. Kita tidak mengetahui apa yang kita doakan dan tidak memahaminya.
Namun Rasul Paulus mengatakan bahwa dengan demikian kita sedang berdoa bagi orang-orang kudus.
Melalui kita, Roh Kudus pasti berdoa untuk kebaikan kita maupun saudara-saudara kita, yaitu orang-orang kudus Tuhan.
Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk selalu mengucap syukur kepada Tuhan Allah, yang turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita maupun saudara-saudara kita.
Bapa mengizinkan segala sesuatu terjadi dalam hidup kita sebagai cara untuk membentuk kita menjadi serupa dan segambar dengan Yesus Kristus.
Untuk itu, marilah kita dengan bantuan Roh Kudus mematikan semua keinginan daging kita, yang sering membawa kita kepada hal-hal kedagingan yang cenderung mengarah kepada dosa, supaya kita terhindar dari berbagai macam pencobaan.
Hal ini juga dituliskan oleh Rasul Yakobus kepada jemaat orang-orang Yahudi yang tersebar di luar Israel:
Yakobus 1:13-15“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.”
Oleh karena itu, marilah kita hidup dalam persekutuan yang intim dengan Roh Kudus, supaya Ia menolong kita untuk mematikan kedagingan kita, sehingga kita dapat mengalahkan dosa.
Hal ini juga dituliskan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma:
Roma 8:13“Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.”
Jadi dengan jelas Rasul Paulus menasihatkan supaya kita hidup dipimpin oleh Roh Kudus.
Ia akan menolong kita mematikan keinginan daging, sehingga kita dapat hidup dalam keintiman dengan Roh Kudus.
Dengan demikian, kita akan terus dimampukan mengalahkan keinginan daging, sehingga kita tidak lagi jatuh bangun dalam dosa.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa ada anak-anak Tuhan yang sudah lahir baru tetapi masih jatuh bangun dalam kebiasaan lamanya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Oleh karena apakah kita masih ada sampai sekarang secara rohani?
Apa yang menyebabkan Rasul Paulus bekerja lebih giat daripada rasul-rasul yang lain?
Apakah sumber kekuatan yang membuat hamba-hamba Tuhan rela bekerja keras sepanjang hidup mereka?
Kebangkitan telah terbukti melalui kebangkitan Yesus Kristus. Oleh karena itu, kebangkitan siapakah yang juga akan terjadi kelak?
Saudara, kemenangan atas kematian telah terjadi ketika Yesus Kristus dibangkitkan pada hari ketiga, setelah kematian-Nya di atas kayu salib dan penguburan-Nya. Ketika Yesus bangkit dari kubur, Rasul Paulus menuliskan:
Roma 8:11“Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.”
Rasul Paulus juga menulis kepada jemaat di Korintus untuk menjelaskan tentang kebangkitan tubuh, sebagai bukti kemenangan atas kematian:
1 Korintus 15:54-57“Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Rasul Paulus juga menuliskan kepada jemaat di Roma bagaimana kemenangan atas kematian itu dapat kita alami melalui pekerjaan Roh Allah yang telah membangkitkan Yesus Kristus:
Roma 8:13“Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.”
Oleh karena itu, hendaklah kita rela menyerahkan hidup kita untuk dipimpin oleh Roh Kudus, supaya kita dapat bersaksi bahwa orang percaya mengalami kehidupan baru yang tidak lagi dikuasai oleh kedagingan, melainkan dituntun oleh Roh Kudus, sehingga kita dengan berani dapat berkata, “Ya Abba, ya Bapa,” kepada Tuhan Allah, Bapa, Tuhan Yesus Kristus.
Ketika kita tidak lagi hidup dalam kedagingan, maka kita hidup oleh Roh Kudus yang ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa ada manusia Allah yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, yaitu melaksanakan perintah-perintah Tuhan Allah, Bapa kita.
Hal itu menjadi bukti bahwa kita telah hidup dalam kemenangan atas kematian atau kedagingan.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa hidup dalam kedagingan disebut hidup dalam kematian?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah yang dimaksud dalam bacaan yang kita renungkan hari ini ?
Mengapa Ia dihina dan dihindari orang?
Apa saja yang ditanggung oleh Mesias dalam nubuat yang diberikan nabi Yesaya ini?
Apa yang menyebabkan kita mengalami keselamatan dan kesembuhan?
Nubuat dalam Yesaya 53 merupakan salah satu bagian paling mendalam dalam kitab nabi Yesaya yang menggambarkan tentang “Hamba Tuhan yang menderita.”
Pasal ini ditulis sekitar tujuh abad sebelum kelahiran Yesus Kristus, namun menggambarkan dengan jelas penderitaan Mesias yang akan datang.
Dalam ayat 4–5, nabi Yesaya menyatakan bahwa Sang Hamba memikul penyakit dan menanggung penderitaan umat manusia.
Ia tertikam oleh karena pemberontakan manusia dan diremukkan oleh karena dosa mereka.
Ungkapan “oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh” menunjuk pada penderitaan yang ditanggung oleh Mesias sebagai pengganti manusia berdosa.
Dalam terang Perjanjian Baru, orang percaya memahami bahwa nubuat ini digenapi secara sempurna dalam penderitaan dan penyaliban Yesus Kristus.
“Oleh bilur-bilurNya” kita disembuhkan, kesembuhan yang dimaksud dalam ayat ini tentunya bukan sekedar kesembuhan secara fisik, namun kesembuhan yang sejati dari kerusakan pola pikir karena keberadaan dosa yang memperbudak manusia sejak jatuh dalam dosa.
Kesembuhan secara fisik bersifat sementara, kesembuhan yang Mesias inginkan adalah kesembuhan yang membawa kepada transformasi.
Kejatuhan manusia dalam dosa tidak hanya mengakibatkan sakit penyakit secara fisik namun manusia menderita karena mental yang tidak disembuhkan dan ditransformasi.
Banyak orang hidup dengan luka batin: rasa bersalah, penyesalan, kepahitan, atau kehampaan yang tidak dapat diobati oleh apa pun di dunia ini.
Ketika Kristus menanggung penderitaan di kayu salib, Ia menanggung seluruh beban dosa dan kerusakan itu.Kesembuhan dari sakit hati, kepahitan, kekecewaan, dendam adalah contoh pemulihan yang diberikan oleh bilur-bilurNya.
Kesembuhan jenis ini memberikan dampak yang luar biasa dalam kehidupan umatNya.
Orang-orang percaya yang mengalami kesembuhan ini akan bertransformasi secara karakter, mereka akan semakin memancarkan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Kebenaran ini mengundang setiap orang percaya untuk datang kepada Kristus dengan hati yang terbuka.
Ketika kita merasa lemah, terluka, atau terbeban oleh dosa, kita dapat mengingat bahwa Yesus telah menanggung semuanya bagi kita.
Kesembuhan yang Ia berikan memampukan kita hidup dengan harapan baru, meninggalkan kepahitan, kekecewaan, dendam dan berjalan dalam kehidupan yang diperbarui.
Secara praktis, kita dapat mengalami pemulihan itu dengan datang kepada Tuhan dalam doa, menyerahkan luka dan pergumulan kita kepada-Nya, serta belajar hidup dalam kasih dan pengampunan kepada sesama.
Setiap kali kita mengingat salib Kristus, kita diingatkan bahwa melalui bilur-bilur-Nya, Allah telah membuka jalan kesembuhan total bagi hidup kita.
Renungkan kebenaran ini secara pribadi, mungkin kita pernah mengalami pemulihan dari luka batin namun seiring dengan waktu setelah beberapa lama dalam pekerjaan, pelayanan atau dalam pernikahan kita terluka oleh orang-orang terdekat,apa yang Saudara lakukan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa arti rohani dari baptisan dalam hubungannya dengan kematian dan kebangkitan Yesus? (Ayat 4)
Apa jaminan yang kita miliki jika kita telah menyatu dalam kematian Kristus? (ayat 5)
Mengapa “manusia lama” kita harus turut disalibkan bersama Kristus? (ayat 6)
Apa yang terjadi pada seseorang yang telah mati bersama Kristus dalam hubungannya dengan dosa?
Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma untuk menjelaskan doktrin keselamatan murni karena kasih karunia melalui iman (Sola Fide).
Latar belakang khusus pasal 6 ini merupakan jawaban tegas Paulus terhadap pemikiran keliru yang menganggap bahwa karena kasih karunia melimpah, maka orang percaya boleh terus berbuat dosa.
Paulus menegaskan bahwa kasih karunia bukanlah izin untuk berdosa, melainkan kuasa untuk mematikan dosa.
Lewat gambaran baptisan, Paulus menjelaskan bahwa kita sudah menjadi satu dengan Kristus.
Artinya, status lama kita sebagai budak dosa sudah diputus secara resmi dan sah oleh pengorbanan Yesus di kayu salib.
Kalimat “turut disalibkan” menunjukkan bahwa manusia lama kita telah dihukum mati bersama Kristus agar “tubuh dosa” kehilangan kuasanya.
Kebangkitan Yesus menjamin bahwa kita tidak hanya diampuni, tetapi juga diberi kekuatan untuk memulai hidup yang benar-benar baru.
Atau hidup dalam kebangkitan Kristus.
Sekarang kita tidak perlu lagi menuruti keinginan daging, karena dosa dan maut sudah tidak punya hak dan kuasa untuk mengatur kita lagi.
KebangkitanNya adalah proklamasi resmi bahwa kita bukan lagi budak dosa, melainkan sudah menjadi milik Tuhan seutuhnya.
Mari kita renungkan, kekristenan bukanlah sekadar ‘tiket ke surga’, melainkan sebuah transformasi atau perubahan radikal yang mengubah seluruh gaya hidup kita setiap hari.
Zaman yang sering memaklumi dosa atas nama kebebasan, kelemahan daging atau manusia yang tidak sempurna.
Ayat renungan yang kita baca hari ini menegaskan bahwa kita telah dianugerahi kuasa kebangkitan untuk berkata tidak! pada dosa.
Hidup baru berarti berhenti menyerahkan hidup kita pada belenggu kebiasaan atau terikat pada hal-hal buruk, integritas yang kompromis.
Ingat! status hukum kita secara rohani, telah mati bagi dosa, maka secara otomatis kita wajib hidup sebagai pribadi yang merdeka.
Diskusikan dalam kelompok PA atau persekutuan kita, makna apa yang dapat diambil sebagai pembelajaran dan perenungan dari pembacaan renungan kita hari ini?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dilakukan Allah terhadap “surat hutang” atau daftar dosa yang mendakwa kita di ayat 14?
Bagaimana cara Kristus mengalahkan penguasa-penguasa gelap menurut ayat 15?
Mengapa kita tidak perlu lagi merasa takut atau tidak layak di hadapan Tuhan setelah memahami peristiwa salib?
Kota Kolose masa itu terdiri dari berbagai tradisi dan kebudayaan.
Keberagaman budaya dan tradisi ini tentu sangat mempengaruhi perkembangan Kristen di Kolose.
Hal yang lain yang mempengaruhi perkembangan Kristen itu datang dari berbagai ajaran-ajaran sesat yang saat itu sedang berkembang pesat.
Ajaran sesat berupa sinkretisme, yaitu campuran antara filsafat dunia, legalisme aturan agama, dan penyembahan kepada roh-roh atau malaikat.
Hal inilah yang melatarbelakangi Paulus menuliskan suratnya untuk jemaat di Kolose.
Dimana jemaat merasa “kurang lengkap” jika hanya beriman kepada Kristus, sehingga mereka mencari perlindungan pada kekuatan gaib dan aturan lahiriah.
Paulus ingin menegaskan bahwa di dalam Kristus, jemaat sudah memiliki segalanya; mereka tidak memerlukan tambahan ritual atau kekuatan lain karena seluruh kepenuhan Allah diam di dalam Kristus.
Kemenangan Yesus di atas kayu salib terjadi karena Ia sudah melunasi seluruh hukuman dosa kita secara resmi dan tuntas, sehingga tidak ada lagi “surat utang” bahasa Yunani memakai kata “Cheirographon” yaitu: buku catatan atau surat dakwaan yang berisi rincian semua kegagalan kita dalam menaati hukum Tuhan atau rincian dosa kita.
Yang bisa dipakai oleh iblis untuk menghukum kita. Kemudian oleh Allah dihapuskan dan dipaku di salib hingga lunas.
Di saat yang sama, Kristus melucuti senjata pemerintah-pemerintah gelap, dan menyeret mereka dalam barisan tawanan yang dipermalukan dan menjadikan tontonan umum, layaknya jenderal Romawi yang memamerkan tawanan perang yang kalah.
Salib adalah simbol kemenangan mutlak di mana senjata utama Iblis untuk mendakwa kita telah dirampas dan dihancurkan selamanya.
Dari pembacaan renungan kita hari ini, hal sederhana yang kita bisa lakukan adalah mari kita percaya diri dan berhentilah hidup dalam ketakutan terhadap ramalan buruk, ancaman krisis, atau tekanan dunia atau kehidupan yang sering membuat kita merasa tidak layak.
Karena “daftar kesalahan” kita sudah dipaku mati oleh Yesus di kayu salib, maka Iblis tidak lagi punya hak untuk menuduh dan mendakwa serta menghantui hidup kita dengan rasa bersalah atau kutuk dosa.
Apa pun masalah atau ketakutan yang kita hadapi saat ini, semuanya tidak akan bisa mencuri damai sejahtera hati kita karena Yesus sudah mengalahkan segalanya.
Diskusikan dalam kelompok PA atau persekutuan kita, apa yang saat ini kita takutkan? Kalau ada, kenapa rasa takut itu terus menghantui kita? Percayakah kita bahwa Salib Kristus dapat mengalahkan segala kuasa, termasuk rasa ketakutan kita?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa Yesus harus menjadi “seketika lebih rendah daripada malaikat” dengan menjadi manusia yang bisa mati?
Apa makna Yesus mengalahkan kuasa maut?
Apakah kemenangan Yesus di salib berarti Iblis sudah tidak ada lagi di dunia ini sekarang?
Bagaimana kemenangan Yesus atas maut mengubah cara kita merespons terhadap ketakutan atau kecemasan yang saat ini mungkin kita sedang hadapi?
Surat Ibrani ditulis bagi jemaat Yahudi Kristen abad pertama yang sedang mengalami krisis iman dan juga sedang terancam penganiayaan yg begitu hebat pada masa itu, sehingga mereka tergoda kembali pada “legalisme Yudaisme” (cara beragama dengan aturan yang kaku) demi keamanan.
Penulis menegaskan keunggulan Kristus yang secara sukarela menjadi “seketika lebih rendah daripada malaikat” (ay. 9) melalui inkarnasi.
Perendahan diri ini bukan kegagalan keilahian Allah, melainkan keharusan agar Yesus dapat menanggung maut sebagai manusia sejati.
Ia menjadi sama dengan “darah dan daging” kita agar menjadi Imam Besar yang seperasaan serta wakil yang sah dari manusia dalam menanggung penghukuman Allah.
Kemenangan Yesus terjadi karena disalib Ia menuntaskan seluruh tuntutan hukum Allah atas dosa kita.
Melalui kematianNya, Yesus melakukan “Katargeo” dari kata Yunani, yang berarti : melumpuhkan, membuat tidak berfungsi, membatalkan hak hukum, dan meniadakan kuasa Iblis yang selama ini memegang senjata maut atas manusia berdosa (ayat 14).
Meski keberadaan Iblis belum dilenyapkan dari dunia, namun kuasa hukumnya telah dipatahkan.
Tindakan ini menghasilkan “apallasso”, dari bahasa Yunani adalah istilah yang sering digunakan dalam dunia hukum kuno untuk pembebasan seorang budak atau tawanan perang.
Dengan kata lain pembebasan total atau kemerdekaan bagi orang percaya dari penjara ketakutan (ayat 15).
Saat Yesus terlihat “kalah” di salib, Ia justru sedang melucuti senjata maut secara permanen dan mengubah status kita dari tawanan menjadi anak-anak merdeka.
Secara praktis karena Kristus telah melakukan “apallasso”, seharusnya kita tidak boleh lagi hidup sebagai budak ketakutan.
Ketakutan dalam bentuk apapun itu.
Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini perang Iran, Amerika dan Israel yang saat ini mengancam stabilitas global.
Hal ini pasti berdampak kepada ekonomi, krisis energi, hingga potensi sentimen agama dan juga bisa menjadi konflik sosial di dalam negeri.
Tentu sedikitnya hal itu akan berdampak pula bagi kita anak-anak Tuhan di Indonesia.
Namun, apakah kita harus cemas dan takut berlebihan akan semua yang sedang terjadi?
Jika maut sebagai musuh terakhir saja sudah dikalahkan Yesus, maka ancaman perang sehebat apa pun tidak berhak merampas damai sejahtera kita.
Percayalah bahwa Dia adalah Imanuel (Allah menyertai kita).
Hiduplah sebagai orang merdeka yang tetap tenang, tidak perlu panik, stress apalagi frustasi menghadapi hidup dan masa depan, sebab kedaulatan Kristus jauh melampaui kuasa manapun di dunia ini.
Diskusikan dalam kelompok PA atau persekutuan kita, hal apa yang kita pelajari dan renungkan dari bahan pembacaan renungan kita hari ini?