Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Matius 7:24.
Siapakah orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya diatas batu?
Apakah yang akan dialami oleh orang yang mendirikan rumahnya diatas batu karang ketika mengalami turun hujan, banjir dan angin badai?
Siapakah orang yang bodoh dan apakah yang dialaminya ketika rumah mereka dilanda banjir, angin dan hujan?
Tuhan sedang menggoncangkan dunia ini termasuk gereja-Nya untuk menguji bagaimana dasar yang dibuat oleh gereja agar tidak tergoncangkan.
“Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.” Ungkapan “Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan.” (Ibrani 12:26-27).
Kegoncangan itu terjadi untuk penyucian, pemurnian dan pengujian terhadap setiap orang.
”Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik; tidak seorang pun dari orang fasik itu akan memahaminya, tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya.”(Daniel 12:10).
Oleh sebab itu, sebagai orang yang bijak maka kita harus membangun hidup kita diatas batu karang yaitu Yesus Kristus supaya ketika ada goncangan maka kita tidak akan tergoncangkan.
”Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.”(I Korintus 3:10-11).
Kemudian, dengan dasar Yesus Kristus itu maka kita harus membangunnya dengan Firman Tuhan yaitu perintah-perintah Tuhan.
Sebagai orang yang bijak maka terhadap Firman Tuhan kita bukan hanya pendengar saja tetapi pelaku-pelaku Firman Tuhan karena banyak umat Tuhan yang tahu tentang Firman Tuhan bahkan doktrin-doktrin tetapi tidak menghidupi Firman Tuhan sepenuhnya.
“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”(Matius 7:24-27).
Oleh sebab itu, marilah kita membangun kehidupan kita diatas dasar batu karang yaitu Yesus Kristus dan Firman-Nya dengan menjadi pelaku-pelaku Firman Tuhan.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana cara saudara membangun kehidupan di atas dasar Yesus dan Firman-Nya sehingga saudara tidak tergoncangkan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Matius 7:21.
Siapakah yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga?
Menurut saudara, apakah alasan bagi Tuhan untuk menolak orang yang telah bernubuat, mengusir setan dan mengadakan banyak mukjizat demi nama Tuhan?
Dengan apakah dapat disamakan bagi orang-orang yang tidak melakukan kehendak Bapa?
Yesus mengatakan bahwa pada hari-hari terakhir ada banyak orang yang berseru kepada-Nya: “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu,” tetapi Tuhan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Hal itu terjadi karena ternyata Tuhan lebih menginginkan pengenalan akan Tuhan daripada membuat mukjizat, karena setanpun dapat melakukan hal-hal mukjizat, karena orang yang kenal Tuhan adalah orang-orang yang melakukan kehendak Tuhan.
“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” (Yakobus 2:19-20).
Jadi Tuhan ingin agar kita melakukan kehendak Tuhan dan sebelum melakukan kehendak Tuhan tentunya kita harus mengetahui kehendak Tuhan dan kehendak Tuhan adalah seluruh perkara atau hal dalam Alkitab, yang merupakan perintah-perintah Tuhan.
Dan perintah Tuhan yang utama adalah mengasihi Tuhan dan sesama termasuk musuh kita.
“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”(Matius 22:36-39).
”Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”(Matius 5:44).
Dalam kehidupan umat Tuhan dalam gereja dan rumah tangga sering kali terjadi konflik yang membuat terjadinya perpecahan karena didalamnya masih ada iri hati, kesombongan, kebencian, trauma-trauma serta kehidupan kedagingan yang dapat memicu terjadinya konflik.
Dan konflik-konflik itu dapat menyebabkan kasih diantara umat Tuhan dan dunia ini semakin berkurang. ”Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.”(Matius 24:12).
Itulah sebabnya Yesus memberikan perintah baru kepada kita di dalam kitab Yohanes yang sebetulnya hal itu merupakan perintah Allah yang lama karena sudah Allah perintahkan dalam kitab Ulangan.
”Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar.”(I Yohanes 2:7).
”Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”(Yohanes 13:34).
Oleh sebab itu, marilah kita melakukan perintah Tuhan bukan hanya melakukan mukjizat dan berseru: ”Tuhan, Tuhan”, tetapi mengasihi orang dalam perbuatan.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara hidup untuk mengasihi orang lain bukan hanya dengan perkataan tetapi perbuatan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Matius 7:17.
Menurut saudara berasal dari pohon yang manakah buah yang baik dan buah yang tidak baik?
Apakah resiko dari setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik?
Darimanakah dapat kita ketahui tentang seorang yang mengikut Tuhan atau tidak?
Sebagai pengikut Yesus maka hidup kita harus membuahkan karakter seperti Yesus, karena dari buah-buah kehidupan kita orang-orang akan melihat apakah kita seorang pengikut Yesus yang sejati atau yang palsu, supaya kita tidak sekedar mengatakan diri kita sebagai anak Tuhan tetapi juga menunjukkan bahwa kita memiliki kehidupan sebagai anak Tuhan.
“Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.”(Matius 12:33).
Dan jika kita tidak menghasilkan buah seperti dimiliki oleh Yesus maka akan dibuang dan disingkirkan oleh Tuhan sendiri.
“Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.”(Matius 3:10).
Untuk menghasilkan buah yang baik maka kita harus tinggal dalam pokok anggur yang baik yaitu Yesus Kristus sebab dari Dialah kita menghasilkan kehidupan yang benar, baik dan sejati yaitu kehidupan Kristus sendiri.
”Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”(Yohanes 15:4-5).
Cara hidup yang dapat menghasilkan buah yang baik adalah dengan tinggal dalam Firman Tuhan yaitu mendengar dan melakukan setiap Firman yang Tuhan berikan kepada kita, sebab masih banyak orang yang suka dengan Firman Tuhan tetapi tidak mau melakukan Firman Tuhan.
Dan jika kita tidak hidup dalam Firman Tuhan maksudnya tidak melakukan Firman Tuhan maka kita akan mengalami kekeringan rohani, tidak bertumbuh dan stagnasi serta kehilangan kaki dian yaitu aliran kehidupan Kristus.
”Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”(Yohanes 15:6).
Oleh sebab itu, biarlah kita hidup di dalam Firman Tuhan senantiasa dengan cara mengutamakan Firman Tuhan diatas segala-galanya, membaca dan merenungkan dan melakukan setiap Firman Tuhan yang telah kita dengar sehingga kita membuahkan kehidupan dari Yesus Kristus, dengan demikian Tuhan akan dimuliakan di dalam dan melalui kehidupan kita dan dilihat dan dibaca orang.
”Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.”(Yakobus 1:25).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara menghidupi Firman Tuhan sehingga selalu hidup menghasilkan buah yang baik.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah 1 Yohanes 2:6.
Apakah tanda-tanda orang yang mengenal Allah?
Dikatakan seperti apakah orang-orang yang hidupnya tidak menurut perintah Tuhan?
Dan seperti apakah orang-orang yang hidup menuruti Firman Allah?
Seperti siapakah kita harus hidup jika kita mau hidup di dalam Tuhan?
Ekspektasi Tuhan bagi setiap orang yang percaya adalah bahwa mereka wajib hidup seperti Yesus, dan bukan hanya tahu mereka memiliki Roh Kristus, supaya mereka dapat mewakili Allah di muka bumi sehingga bumi ini tidak semakin hancur tetapi menjadi penuh kemuliaan Tuhan.
Untuk wajib hidup seperti Kristus hidup maka mereka harus memiliki pemahaman, diantaranya:
Kita hidup hanya untuk melakukan kehendak Allah. “Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”(Yohanes 4:34). Kehendak Allah adalah agar bumi ini penuh kemuliaan-Nya dengan cara bahwa orang-orang percaya kepada Allah dan caranya orang-orang harus mendengar Injil Kerajaan Allah. Oleh karena itu mengerjakan kehendak Allah adalah memberitakan Injil, memuridkan setiap jiwa yang terhilang sehingga setiap orang menyembah kepada Bapa. Untuk hidup seperti Yesus maka kita harus memberitakan Injil. “Yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.”(Kisah Para Rasul 10:38).
Memiliki komitmen hanya untuk mengenal Bapa dengan kebersatuan pribadi Yesus Kristus sampai mengalami keserupaan dan kepenuhan Kristus. “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.”(Filipi 3:10-11). “Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”(Yohanes 5:19). Jika kita mau hidup seperti Yesus maka kita harus memiliki komitmen untuk senantiasa mengalami kebersatuan dengan Bapa seperti Kristus yang terus menerus mengalami kebersatuan dengan Bapa sehingga melakukan pekerjaan Bapa.
Kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”(Filipi 2:5-7).
Untuk hidup seperti Kristus kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus yaitu hidup dalam kerendahan hati dan tidak sombong serta mementingkan diri sendiri.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara pengalaman saudara untuk hidup seperti Yesus dalam segala hal.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Yakobus 1:25.
Seumpama seperti apakah bagi orang-orang yang mendengar Firman saja dan tidak melakukannya?
Coba sebutkan tahapan hal-hal yang harus kita lakukan agar akhirnya kita benar-benar menjadi pelaku Firman Tuhan?
Apa yang dialami oleh orang-orang yang sungguh-sungguh melakukan Firman Tuhan?
Pada hari-hari terakhir ini Firman Tuhan sangat bebas untuk disampaikan melalui media-media sosial untuk mengajar umat Tuhan bertumbuh dan semakin mengenal Tuhan.
Bahkan karena orang-orang terlalu bebas menggunakan media sosial, ajaran-ajaran sesat pun diajarkan, sehingga banyak juga terjadi penyesatan.
Tuhan ingin agar Firman Tuhan yang diajarkan melalui media sosial, dan di dalam ibadah gereja, kelompok pemuridan, persekutuan termasuk seminar-seminar tidak hanya didengar melainkan dilakukan.
Karena masih banyak orang Kristen yang hidupnya masih duniawi dan dikuasai oleh kedagingan walaupun mereka sudah berkali-kali mendengarkan Firman Tuhan, sehingga Firman Tuhan dalam Matius 7:6 sangat relevan bagi zaman ini karena tidak menganggap Firman Tuhan menjadi utama buat hidup mereka.
“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” (Matius 7:6).
”Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.”(Hosea 4:6).
Oleh sebab itu Tuhan ingin agar kita tidak hanya menjadi pendengar Firman Tuhan tetapi kita juga harus menjadi pelaku Firman Tuhan supaya tidak menjadi orang Kristen yang munafik yaitu tahu Firman Tuhan, tetapi tidak menghidupi Firman Tuhan.
Untuk menjadi pelaku Firman Tuhan maka kita harus meneliti Firman Tuhan dengan cara membaca, merenungkan dan memahami dan kita melakukannya dengan tekun, terus menerus melakukannya kemudian melakukan setiap Firman yang kita dengar dan pahami sampai hal tersebut menjadi kehidupan.
Dan ketika kita melakukannya dengan setia maka kita akan bertumbuh dan bahkan berbahagia karena perbuatan-perbuatan kita sesuai dengan kebenaran Tuhan dan kita juga menyenangkan hati Tuhan.
”Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.”(Yakobus 1:25).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana pengalaman saudara berbahagia karena dapat taat melakukan Firman Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa artinya “cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah” dalam kehidupan sehari-hari?
Mengapa orang yang hanya mendengar firman tapi tidak melakukan disebut “menipu diri sendiri”?
Satu hal konkret apa yang firman Tuhan sudah tunjukkan untuk kamu lakukan minggu ini?
“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yakobus 1:22).
Coba bayangkan seseorang yang setiap minggu pergi ke gereja, mendengar khotbah dengan tekun, bahkan mengangguk-angguk setuju.
Tapi begitu keluar dari gereja, hidupnya tidak berubah. Ia tetap marah-marah, tetap berkata kasar, tetap melakukan hal-hal yang salah.
Yakobus berkata orang seperti itu sedang menipu diri sendiri.
Ia pikir dengan rajin mendengar, ia sudah baik di mata Tuhan.
Padahal firman Tuhan bukan untuk sekadar didengar, tetapi untuk dilakukan.
Seperti orang yang melihat wajahnya di cermin lalu pergi dan lupa bagaimana rupanya (ayat 23-24), begitu juga orang yang hanya mendengar firman tapi tidak melakukannya.
Latar belakang jemaat yang tersebar dan menghadapi pencobaan membuat nasihat ini sangat relevan: di tengah kesulitan, kita butuh melakukan firman, bukan sekadar mendengar.
Sikap hati yang benar dalam menerima firman. Yakobus berkata, “Hendaklah kamu cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah.”
Ini adalah fondasi untuk menjadi pelaku firman.
Cepat mendengar berarti kita sungguh-sungguh mau belajar dan menerima kebenaran Allah dengan hati terbuka.
Lambat berkata-kata berarti kita tidak cepat-cepat membantah atau berdebat dengan Tuhan.
Lambat marah berarti kita tidak menolak firman ketika firman itu menegur atau mengoreksi kita.
Sering kali kita mendengar firman yang menusuk hati, lalu kita marah atau tersinggung.
Padahal justru di situlah firman bekerja mengubah kita.
Kalau kita mau diam dan merenungkan firman dengan hati lembut, Roh Kudus akan mengerjakan perubahan dalam hidup kita.
Bahaya menjadi pendengar saja. Yakobus berkata, “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (ayat 22).
Menipu diri sendiri adalah keadaan yang paling berbahaya karena kita tidak sadar bahwa kita sedang tersesat.
Orang seperti ini merasa sudah rohani karena rajin ke gereja dan dengar khotbah, tapi hidupnya tidak berbuah.
Ia seperti orang yang melihat wajahnya di cermin lalu pergi dan lupa.
Cermin itu firman Tuhan yang menunjukkan siapa kita sebenarnya: dosa kita, kelemahan kita, dan apa yang perlu diubah.
Tapi kalau kita hanya melihat lalu pergi tanpa melakukan perubahan, sia-sialah semuanya.
Firman Tuhan tidak diberikan untuk menambah pengetahuan, tetapi untuk mengubahkan hidup.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Ambil Satu Poin Setiap Kali Mendengar Firman.
Setiap kali kamu membaca Alkitab atau mendengar khotbah, coba cari satu hal konkret yang bisa kamu lakukan minggu itu.
Misalnya, minggu ini firman bicara tentang mengampuni, maka cobalah mengampuni orang yang menyakiti kamu.
Atau firman bicara tentang berkata jujur, maka perhatikan perkataanmu.
Tulis poin itu di catatan kecil, dan setiap malam evaluasi: sudah kulakukan atau belum?
Kedua, Ajak Sahabat untuk Saling Mengingatkan.
Cari satu atau dua teman yang bisa saling mengingatkan untuk melakukan firman.
Ceritakan apa yang sedang kamu pelajari, dan tanyakan, “Menurutmu, apa yang perlu aku ubah?” Dengan dukungan teman, kita tidak mudah menipu diri sendiri.
Kita butuh komunitas yang saling mendorong untuk menjadi pelaku, bukan hanya pendengar.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana menjadi teman untuk saling mengingatkan menjadi pelaku firman.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut Yohanes 14:21, apa buktinya seseorang benar-benar mengasihi Yesus?
Apa janji Yesus bagi orang yang mengasihi Dia dan menuruti firman-Nya (ayat 23)?
Perbedaan mendasar apa yang Yesus tunjukkan antara orang yang mengasihi Dia dan orang yang tidak mengasihi Dia (ayat 24)
“Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”. (Yohanes 14:23)
Kita sering mendengar orang berkata, “Aku cinta Tuhan.”
Tapi apa buktinya? Yesus dalam percakapan dengan murid-murid-Nya menjelaskan hal ini dengan sangat jelas.
Saat itu Yudas (bukan yang mengkhianati Yesus) bertanya mengapa Yesus hanya menampakkan diri kepada murid-murid, bukan kepada dunia.
Yesus menjawab bahwa intinya bukan soal penampakkan, tapi soal hubungan hati.
Orang yang benar-benar mengasihi Yesus adalah orang yang menuruti firman-Nya.
Ini menunjukkan bahwa kasih kepada Tuhan bukan hanya perasaan hangat di dalam hati, tetapi sesuatu yang nyata dalam tindakan sehari-hari.
Seperti kata orang, “Cinta itu kata kerja.” Kasih kepada Tuhan terbukti dari ketaatan kita kepada apa yang Ia perintahkan.
Ketaatan pada firman Tuhan adalah bukti otentik kasih kita kepada-Nya.
Yesus berkata, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku” (ayat 21).
Ini bukan berarti kita diselamatkan karena ketaatan, tetapi ketaatan adalah respons alami dari hati yang sungguh-sungguh mengasihi Dia.
Coba bayangkan hubungan suami istri.
Kalau seorang suami berkata “Aku cinta kamu” tapi terus berselingkuh, apakah kata-katanya berarti? Tentu tidak.
Kasih sejati dibuktikan dengan kesetiaan.
Demikian pula dengan Tuhan. Kita bisa bernyanyi dengan merdu, berdoa dengan khusyuk, tapi kalau hidup kita tidak taat pada firman-Nya, kasih kita perlu dipertanyakan.
Ketaatan bukan beban, melainkan jalan untuk menyenangkan hati Dia yang kita kasihi.
Ketaatan membawa kita pada pengalaman yang lebih dalam akan kehadiran Tuhan.
Yesus berjanji: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (ayat 23).
Ini janji yang luar biasa! Bukan sekadar Tuhan di surga jauh di atas sana, tetapi Tuhan yang tinggal bersama kita, diam di dalam hati kita.
Pengalaman intim ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang taat.
Sebaliknya, orang yang tidak taat, meskipun rajin ke gereja, tidak akan mengalami keintiman ini.
Tuhan tidak bisa dipisahkan dari firman-Nya. Menerima firman berarti menerima Dia.
Menolak firman berarti menolak Dia. Jadi, semakin kita taat, semakin kita mengenal Dia, dan semakin kita merasakan kehadiran-Nya yang manis dalam hidup sehari-hari.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Periksa Motivasi di Balik Setiap Tindakan. Setiap kali kita melakukan sesuatu, tanya pada diri sendiri: “Apakah ini kulakukan karena aku mengasihi Tuhan?”
Misalnya, saat menolong orang, saat menahan amarah, saat memberi persembahan, lakukanlah sebagai ungkapan kasih kepada Tuhan, bukan karena ingin dipuji atau karena terpaksa.
Kasih yang tulus akan membuat ketaatan menjadi ringan.
Kedua, Baca dan Lakukan Firman Secara Konsisten.
Pilih satu perintah Tuhan setiap minggu untuk dilakukan secara sadar. Misalnya, minggu ini belajar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Minggu depan belajar untuk mengucap syukur dalam segala hal.
dengan sungguh-sungguh, dan minta tolong Roh Kudus. Dengan langkah kecil yang konsisten, kasih kita kepada Tuhan akan bertumbuh, dan kita akan merasakan kehadiran-Nya semakin nyata.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki sikap hati yang taat sebagai bukti kasih kepada Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang mereka lakukan pertama kali ketika menghadapi ancaman (ayat 24), dan apa yang bisa kita pelajari dari respon itu?
Mengapa mereka mengutip Mazmur 2 dalam doa mereka (ayat 25-26), dan bagaimana itu membantu mereka mengatasi rasa takut?
Apa isi permohonan mereka (ayat 29-30), dan apa bedanya dengan doa kita yang sering minta perlindungan dari bahaya?
“Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” (Kisah Para Rasul 4:31).
Bayangkan situasi yang dialami jemaat mula-mula.
Dua pemimpin mereka, Petrus dan Yohanes, baru saja ditangkap dan diancam mati.
Larangannya jelas: tidak boleh berbicara tentang Yesus lagi.
Kalau kita ada di posisi mereka, mungkin kita akan takut, bersembunyi, atau berdoa minta perlindungan.
Tapi lihatlah respons mereka: mereka justru berkumpul bersama dan mengangkat suara kepada Allah dengan berani.
Mereka tidak berdoa dengan nada takut, tetapi dengan nada kemenangan.
Mereka mengingat firman Tuhan dalam Mazmur 2, yang berbicara tentang bangsa-bangsa yang memberontak tetapi Tuhan tetap berkuasa.
Inilah rahasia mereka: di tengah ancaman, mereka justru mendeklarasikan firman Tuhan.
Mereka percaya bahwa firman Tuhan lebih kuat dari ancaman manusia.
Prinsip pertama yang kita pelajari dari doa mereka adalah pentingnya mengingat dan mendeklarasikan firman Tuhan di tengah tekanan.
Mereka tidak berdoa asal-asalan, tetapi mereka membuka Kitab Suci dan mengutip Mazmur 2.
Mereka mengakui bahwa Tuhan adalah “Yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya” (ayat 24).
Dengan mengingat kebesaran Tuhan, rasa takut mereka luntur.
Mereka juga mengingat bahwa apa yang terjadi atas Yesus—penangkapan dan penyaliban-Nya—sudah dinubuatkan dalam firman dan berada dalam kendali Tuhan (ayat 27-28).
Ketika kita menghadapi masalah, kecenderungan kita adalah melihat besarnya masalah.
Tapi jemaat mula-mula mengajarkan kita untuk melihat besarnya Tuhan melalui firman-Nya.
Firman Tuhan mengubah cara pandang kita: dari takut pada manusia menjadi takut pada Tuhan.
Prinsip kedua adalah bahwa doa yang didasari firman akan berani meminta hal-hal besar.
Perhatikan apa yang mereka minta: “Berilah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.
Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus” (ayat 29-30).
Mereka tidak minta selamat dari bahaya, tetapi minta keberanian untuk terus bersaksi dan minta kuasa Tuhan dinyatakan.
Inilah doa yang lahir dari keyakinan pada firman.
Mereka percaya bahwa Tuhan yang berdaulat atas sejarah juga sanggup bertindak dahsyat di masa kini.
Ketika kita merenungkan firman, iman kita dikuatkan, dan kita berani meminta hal-hal yang mustahil.
Dan Tuhan menjawab doa mereka dengan cara luar biasa: tempat bergoncang, mereka dipenuhi Roh Kudus, dan mereka memberitakan firman dengan berani.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Hafalkan dan Renungkan Firman yang Menguatkan.
Pilihlah beberapa ayat Alkitab yang berbicara tentang kebesaran dan kuasa Tuhan, seperti Mazmur 2 atau Yesaya 41:10.
Hafalkan dan renungkan setiap hari, terutama saat kamu merasa takut atau tertekan.
Dengan mengingat firman, hatimu akan dikuatkan dan imanmu dibangkitkan.
Kedua, Berdoalah dengan Berani Berdasarkan Firman. Saat berdoa, jangan hanya menyebutkan masalah, tetapi deklarasikan janji-janji Tuhan.
Misalnya, kalau kamu takut bersaksi, doakanlah seperti jemaat mula-mula: “Tuhan, berilah aku keberanian untuk memberitakan firman-Mu.”
Kalau kamu sakit, doakanlah berdasarkan janji kesembuhan dalam firman.
Tuhan senang menjawab doa yang sesuai dengan kehendak-Nya yang sudah dinyatakan dalam firman.
Dengan dua langkah ini, hidupmu akan dipenuhi keberanian ilahi.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana cara praktis mendeklarasikan firman?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa bedanya kalau firman Tuhan hanya “singgah” di hidupmu dibandingkan kalau dia benar-benar “diam” di dalam hidupmu?
Dari tiga buah firman yang diam (saling mengajar, memuji Tuhan, bersyukur), mana yang paling perlu kamu tumbuhkan saat ini?
Langkah kecil apa yang bisa kamu lakukan mulai besok pagi agar firman Tuhan lebih “berlimpah” dalam keseharianmu?
“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu…” (Kolose 3:16).
Misalkan ada seseorang yang tinggal di rumahmu. Ia tidak hanya berkunjung sebentar lalu pergi, tetapi menetap, makan bersamamu, tidur di rumahmu, dan terlibat dalam kehidupan sehari-harimu.
Lama-kelamaan, kehadirannya akan mempengaruhi caramu berpikir, berbicara, dan bertindak.
Inilah gambaran yang Paulus berikan tentang firman Tuhan. Ia berkata, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu.”
Artinya, firman Tuhan harus betul-betul tinggal dan menetap di dalam hati kita, bukan hanya didengar saat kebaktian Minggu atau dibaca sekilas lalu dilupakan.
Firman itu harus menjadi penghuni tetap yang memenuhi setiap sudut kehidupan kita dengan segala kekayaannya .
Firman Kristus itu mengandung kekayaan yang luar biasa.
Seperti sebuah harta karun yang tidak pernah habis digali, semakin kita merenungkan firman Tuhan, semakin kita menemukan hikmat, penghiburan, kekuatan, dan kebenaran yang baru.
Kata “diam” menunjukkan bahwa firman itu harus berakar dan bertumbuh di dalam kita, mempengaruhi motivasi, pikiran, dan perasaan kita yang paling dalam.
Firman Tuhan itu hidup dan aktif.
Kalau firman itu benar-benar diam di dalam kita, maka ia akan bekerja: mengubah cara pandang kita, membentuk karakter kita, dan memimpin kita dalam mengambil keputusan.
Tidak ada bagian hidup kita yang luput dari pengaruhnya.
Firman yang diam di dalam kita akan meluap keluar dalam tiga cara, seperti yang disebutkan di ayat 16.
Pertama, kita akan saling mengajar dan menegur dengan segala hikmat.
Firman Tuhan membuat kita bijaksana, bukan untuk menggurui, tetapi untuk membangun sesama.
Kedua, hati kita akan meluap dengan pujian kepada Tuhan, baik melalui mazmur, puji-pujian, maupun nyanyian rohani.
Ini bukan sekadar nyanyian di gereja, tetapi ungkapan syukur yang natural dari hati yang dipenuhi firman.
Ketiga, kita akan menjadi pribadi yang bersyukur.
Baik ayat 15 maupun 17 menekankan ucapan syukur.
Orang yang hatinya kaya dengan firman Tuhan akan melihat hidup ini sebagai anugerah dan meresponinya dengan hati yang penuh terima kasih.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Bacalah Alkitab dengan Cara yang Baru.
Jangan hanya membaca cepat-cepat.
Bacalah pelan-pelan, renungkan, dan tanyakan pada diri sendiri: “Apa yang ayat ini ajarkan tentang Allah? Apa yang mau Tuhan katakan padaku hari ini? Adakah perintah yang harus kuturuti? Adakah janji yang bisa kupegang?”
Lakukan ini setiap hari, walaupun hanya satu atau dua ayat, tetapi sungguh-sungguh direnungkan.
Kedua, Jadikan Firman sebagai Bahan Percakapan dan Doa.
Cobalah diskusikan firman Tuhan dengan keluarga atau teman seiman.
Ceritakan apa yang kamu pelajari.
Jadikan ayat-ayat yang kamu baca sebagai doa pribadi.
Misalnya, kalau kamu membaca tentang kasih, doakan: “Tuhan, ajari aku mengasihi seperti firman-Mu katakan.”
Dengan begitu, firman itu benar-benar hidup dan diam di dalam keseharianmu.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya supaya firman yang dibaca dapat menjadi tindakan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang Tuhan janjikan kepada Yosua dalam ayat 3-4, dan apa syaratnya?
Apa artinya “merenungkan firman siang dan malam” dalam kehidupan sehari-hari yang sibuk?
Menurut ayat 7-8, apa ukuran keberhasilan yang Tuhan tetapkan bagi Yosua? Apakah sama dengan ukuran dunia?
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam,…” (Yosua 1:8).
Yosua baru saja kehilangan mentornya, Musa, seorang pemimpin besar yang berbicara langsung dengan Tuhan.
Kini ia harus memimpin bangsa yang besar dan sering keras kepala, masuk ke negeri yang penuh musuh.
Pasti ada rasa takut dan ragu di hatinya. Tapi Tuhan tidak membiarkan Yosua bergumul sendiri. Tuhan datang dengan janji dan perintah yang jelas.
Janji-Nya: “Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu.”
Tapi janji itu disertai syarat: “Hanya kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai seluruh hukum yang diperintahkan Musa.”
Artinya, keberhasilan Yosua bergantung pada hubungannya dengan firman Tuhan. Ini pelajaran penting bagi kita: saat beban hidup terasa berat, Tuhan tidak hanya memberi janji, tapi juga memberi petunjuk jalan menuju keberhasilan, yaitu firman-Nya.
Kekuatan dan keteguhan hati sejati datang dari merenungkan firman Tuhan. Tuhan menyuruh Yosua kuat dan teguh sampai empat kali dalam percakapan ini (ayat 6, 7, 9, 18).
Tapi kekuatan itu tidak bisa dihasilkan sendiri. Yosua harus melakukan sesuatu: merenungkan Taurat siang dan malam.
Kata “merenungkan” di sini berarti membaca dengan suara perlahan, memikirkan dalam-dalam, dan melakukannya dalam hidup. Ini bukan sekadar baca Alkitab lima menit sebelum tidur.
Ini adalah gaya hidup: firman Tuhan menjadi bahan pemikiran sepanjang hari.
Saat kita merenungkan firman, Roh Kudus menerangi hati kita, memberi kita hikmat, dan menguatkan iman kita.
Di tengah tekanan dan ketidakpastian, firman Tuhan menjadi sauh yang kokoh bagi jiwa kita.
Keberhasilan sejati bukan hanya soal mencapai tujuan, tetapi melakukan firman Tuhan.
Tuhan berkata, “Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung kemanapun engkau pergi.”
Artinya, keberhasilan Yosua tidak diukur dari seberapa banyak musuh yang dikalahkan, tetapi dari seberapa setia ia melakukan firman Tuhan.
Ini mengubah cara pandang kita tentang sukses.
Dunia mengukur sukses dari hasil: uang, jabatan, pengakuan. Tuhan mengukur sukses dari proses: ketaatan pada firman-Nya.
Kalau kita taat, Tuhan sendiri yang akan mengurus hasilnya.
Yosua mungkin tidak membayangkan bagaimana bisa mengalahkan Yerikho, tapi karena ia taat pada petunjuk Tuhan yang aneh (berkeliling kota tujuh kali), tembok itu runtuh.
Ketaatan membuka jalan bagi mujizat.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Jadwalkan Waktu Khusus untuk Merenungkan Firman Setiap Hari.
Bukan sekadar membaca cepat, tapi membaca sambil bertanya: “Apa yang firman ini katakan tentang Allah? Apa yang mau Dia ajarkan padaku hari ini? Bagaimana aku bisa melakukannya?” Lakukan di pagi hari agar firman itu menuntun langkahmu sepanjang hari.
Kedua, Terapkan Satu Hal Kecil Setiap Hari.
Pilih satu ayat atau satu prinsip dari bacaanmu, lalu coba lakukan secara konkret.
Misalnya, hari ini kamu membaca tentang kesabaran, maka cobalah bersabar dengan orang yang membuatmu kesal.
Atau hari ini tentang kejujuran, maka katakan hal yang benar meskipun berat.
Dengan melakukan firman sedikit demi sedikit, hidupmu akan dibangun di atas dasar yang kokoh, dan Tuhan sendiri yang akan memberi keberhasilan pada waktu-Nya.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya dapat konsisten merenungkan firman.