Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang dimaksud dengan akil balig?
Menurut pembacaan kita di kitab Galatia diatas jika seorang belum akil balig, dapatkan kita menerima warisan yang sah menurut hukum?
Kapan waktunya kita bisa dikatakan akil baligh menurut pembacaan kitab Galatia diatas?
Apa perbedaan antara hamba dengan anak, dalam konteks pembacaan kitab Galatia?
Paulus sesuai konteks bacaan menjelaskan bahwa ayat ini bukan berbicara mengenai perubahan dari “hamba menjadi anak”, dan juga bukan menjelaskan status kita “dulu waktu berdosa dan sekarang telah diselamatkan”.
Paulus ingin menekankan bahwa mereka orang-orang Galatia masa itu memang sudah berstatus anak atau sudah percaya, namun mereka kembali kepada kehidupan lamanya.
Mereka masih saja hidup dibawah hukum taurat.
Paulus menegaskan kembali, ketika kita sudah percaya kepada Dia, itu artinya kita juga percaya bahwa Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita -Galatia 3:13.
Ayat ini meyakinkan bahwa seharusnya kita sudah tidak lagi hidup dibawah hukum taurat.
Dengan demikian kita adalah anak yang sudah akil balig “sudah diperhitungkan dewasa”.
Dengan status kita yang sudah akil balig tersebut, kita sudah dianggap layak menjadi anak yang memiliki atau mewarisi hak penuh atas semua janji-janji Bapa kita.
Apa itu janji-janji Bapa? Adalah segala berkat rohani maupun jasmani yang Tuhan sediakan bagi kita, di bumi maupun di sorga.
Masih ingat kisah tentang perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15 :11-32)?
Ada satu pernyataan yang menarik dari anak bungsunya yang sudah kembali kepada rumah bapanya “aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa, jadikanlah aku sebagai salah satu upahan bapa” (Lukas 15:19).
Anak bungsunya tahu persis meskipun dia sudah menjadi anak “durhaka” terhadap orang tuanya, namun itu tidak merubah statusnya bahwa dia tetap anak dari bapaknya, bukan menjadi anak orang lain.
Namun kenyataannya anak bungsu tersebut tidak mengetahui akan statusnya bahwa dia anak dari seorang ayah yang kaya.
Dalam prakteknya sering terjadi kita yang sudah berstatus anak Allah namun sikap dan tindakan kita tidak mencerminkan sebagai anak-anak Allah yang sudah akil baligh (“sudah dewasa”).
Kita masih saja dikuasai oleh keinginan daging. Kita masih diperhamba oleh uang, tak jarang anak-anak Tuhan lebih “mencintai uang dan materialisme” dibandingkan dengan mencintai Tuhan.
Kita juga masih sering dikuasai rasa takut dan kuatir yang berlebihan seolah-olah tidak ada penyertaan Tuhan dalam hidup kita.
Kita masih menyimpan rasa sakit hati kepada orang lain, kecewa terhadap banyak hal, sulit mengampuni, sulit untuk meminta maaf, sulit berterima kasih dan kurang bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini.
Kita sering jatuh kepada dosa yang sama berulang kali dan lain sebagainya.
Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa kita ini “anak” namun masih bermental “hamba” seperti pernyataan anak bungsu diatas -Lukas 15:19.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita. Saat ini kita tahu tentang status kita di hadapan Tuhan yaitu kita adalah anak, namun kenapa kita masih saja bermental “hamba”?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Siapakah orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah? (ayat 17)
Apa yang diyakini oleh Paulus tentang “penderitaan” pada waktu zamannya, yang juga masih relevan dengan saat ini, dibandingkan dengan kemuliaan yang kita terima kelak?
Apa dan siapa yang dinantikan oleh seluruh makhluk? (ayat 19)
Oleh kehendak siapa yang telah menaklukkan seluruh makhluk kepada kesia-siaan?
Jika kita ditanya, siapa yang mau menderita? Mungkin hampir sebagian besar orang akan menjawab tidak mau! Siapa sih yang mau menderita?
Sejak manusia jatuh kedalam dosa, yaitu pada zaman Adam dan Hawa, manusia sudah mulai menderita.
Penderitaan yang dialami oleh semua makhluk itu berlangsung sampai dengan hari ini.
Penderitaan tidak mengenal suku, bahasa dari negara mana mereka berada, penderitaan juga tidak mengenal usia, jenis kelamin, atau status sosial, kaya atau miskin. Semua kita bisa menderita.
Ada penderitaan terjadi oleh ulah kita sendiri, ada juga penderitaan yang terjadi di luar kendali kita manusia.
Contoh penderitaan oleh ulah kita sendiri: Penghasilan yang kita terima setiap bulan tidak terlalu besar, maka kita sebaiknya dapat mengatur keuangan kita sedemikian rupa, agar kita cukup menghidupi kebutuhan kita selama 1 bulan.
Namun kita tidak mau berusaha mengatur keuangan kita dengan sebaik mungkin, bahkan kita cenderung hidup boros.
Apa yang akan terjadi? kita akan menderita kekurangan setiap bulan, sehingga kita tidak dapat mencukupi kebutuhan kita.
Pada akhirnya sebagai jalan pintas, yang kita lakukan adalah pinjol dan juga kita meminjam uang ke beberapa tetangga atau teman, sebagai solusi untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari.
Pinjam-meminjam tersebut, di banyak kasus ujung-ujungnya beberapa jemaat terlilit dengan hutang-piutang.
Contoh penderitaan yang bukan karena ulah yang kita perbuat: Rumah kita dilanda angin puting beliung, sehingga kita mengalami penderitaan yaitu mengalami kerugian harta benda, masih banyak contoh-contoh penderitaan lainnya.
Setelah melihat contoh diatas, pertanyaan berikutnya, apakah “penderitaan” itu dapat kita hindari?
Tergantung dengan cara kita memandang tentang penderitaan itu sendiri.
Kata “penderitaan” yang dimaksud dalam konteks Roma 8:17, jika kita anak Allah, maka kita adalah ahli waris yang akan menerima janji-janji Allah, jika kita menderita bersama-sama dengan Dia.
Dengan kata lain, dalam konteks ayat ini maka menderita bersama dengan Yesus adalah penderitaan yang tidak bisa kita hindari karena iman kita.
Contoh menderita bersama Yesus: sering sekali karena iman yang kita percayai, juga keteladanan hidup kita yang baik serta berbeda dengan orang yang tidak percaya, kita di sebut kafir.
Darah kita halal untuk dibunuh, kita mungkin juga mendapat persekusi verbal dan perlakuan tidak adil.
Kita enggan memberitakan injil kepada mereka karena takut dengan perlakuan orang-orang.
Ada pula sebagian orang yang sudah percaya kepada Kristus, jika mau memperoleh kedudukan tinggi di suatu instansi/kantor tertentu atau dalam dunia pergaulan anak-anak muda jika kita bisa diterima baik oleh kelompok mereka.
Kita “dipaksa masuk” ke agama mereka.
Dengan kata lain kita harus menjual Iman percaya kita, agar semua jabatan atau kedudukan kita peroleh, kita diterima baik di dalam kelompok mereka.
Tetapi syukurlah, di ayat 18 dijelaskan bahwa penderitaan zaman ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan Allah kepada kita kelak.
Jadi saudaraku, apapun penderitaan yang saat ini kita sedang hadapi, tetaplah tenang, percayalah kepada Dia, selalu bersyukur dan terus mengandalkan Dia.
Ada kemuliaan besar yang sedang dipersiapkan Kristus untuk kita, jika kita tetap teguh dan setia di dalam Dia.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, apakah kita pernah dilakukan tidak adil atau dijauhi karena kita menceritakan Nama Yesus kepada teman kantor, teman pergaulan, tempat usaha, sekolah, tetangga kita? Jika Iya, apakah kita masih mau belajar terus untuk menceritakan tentang Dia?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Adakah saksi kebangkitan Yesus?
Apakah bukti kebangkitan Yesus?
Alkitab Perjanjian Lama berisi banyak nubuatan yang merujuk pada kedatangan Mesias.
Para ahli teologi berbeda pendapat tentang jumlah pasti nubuatan ini, namun beberapa kalangan memperkirakan lebih dari 400 referensi ayat dalam Perjanjian Lama tentang kedatangan Mesias.
Menurut seorang ahli teologi Alfred Edersheim, terdapat lebih dari 300 nubuat yang telah terjadi di Perjanjian Baru.
Artinya janji-janji Allah dalam nubuatan yang ditulis oleh para nabi di Perjanjian Lama tentang satu orang, yaitu Yesus, telah terwujud dalam Perjanjian Baru.
Lalu bagaimana kita memaknai janji-janji Allah yang tertulis dalam Kitab Suci? Allah bisa secara spesifik memberikan janji dan petunjuk kepada kita.
Misalnya janji keselamatan bagi seluruh anggota keluarga.
Kisah Para Rasul 16:31 ”…Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”
Jika kita percaya, beriman dan mulai bertindak dengan mendoakan dan memberitakan Injil kepada anggota keluarga, maka seluruh isi rumah atau seluruh anggota keluarga akan diselamatkan.
Dan sesungguhnya sudah banyak kesaksian tentang keluarga-keluarga yang seluruh anggotanya diselamatkan, setelah satu orang diselamatkan dan orang tersebut kemudian bertindak untuk mendoakan dan bersaksi pada anggota keluarganya.
Hal yang penting selain janji, Firman Tuhan juga dapat memberikan arahan dan petunjuk bagi kita.
Betapa sesungguhnya kita membutuhkan arahan dan petunjuk bagi kehidupan kita sehari-hari agar kita dapat hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan tidak menyimpang dari nilai-nilai yang Alkitabiah.
Kitab Amsal yang terdiri dari 31 pasal, berisi sangat banyak petunjuk untuk kita hidup dengan benar.
Kita bisa membaca satu pasal setiap hari sesuai dengan tanggal. Misalnya, hari ini adalah tanggal 5, kita bisa membaca Amsal 5 dari ayat pertama hingga ayat terakhir.
Alkitab terbitan LAI atau Lembaga Alkitab Indonesia, memberikan judul “Nasihat mengenai perzinahan” pada Amsal pasal 5.
Dengan membaca pasal 5 ini kita akan diberi petunjuk untuk menjauhi perzinahan, bahkan mungkin ditegur oleh Firman yang kita baca, ketika kita membaca dengan hati yang terbuka.
Perzinahan dimulai dari mata dan pikiran kita, orang tidak tiba-tiba melakukan perzinahan.
Bisa saja itu dimulai dengan kebiasaan melihat pornografi.
Dengan membiasakan membaca Alkitab secara teratur, kita akan banyak mendapat petunjuk untuk hidup dengan benar.
Dan membaca kitab Amsal sesuai tanggal adalah hal yang sangat baik yang bisa kita lakukan.
Saudara, metoda apakah yang engkau gunakan dalam membaca Alkitab, diskusikan itu dalam kelompok pemuridan atau persekutuan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Hal apa saja yang Allah anugerahkan pada kita agar kita hidup dalam kebenaran?
Setelah kita memiliki iman, apa yang patut kita lakukan selanjutnya?
Orang tua yang baik dan yang memiliki harta serta memahami hukum, mereka akan menulis surat waris yang menjelaskan, ketika mereka meninggal maka harta yang ada akan diberikan kepada anak-anak mereka.
Anak sulung memperoleh apa, anak kedua memperoleh apa dan seterusnya.
Secara rohani, kita yang telah percaya dan dilahirkan baru.
Kita disebut sebagai anak-anak Allah dan oleh kematian Kristus di kayu salib, kita diberi anugerah menjadi ahli waris.
Apa yang Kristus wariskan kepada kita: ”janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.” (2 Petrus 1:4).
Janji-janji itu ada di sepanjang halaman Alkitab yang adalah firman Allah.
Janji-janji itu sudah ada dan menunggu untuk ditemukan, dipercaya, di-iman-i. Artinya janji itu tidak hanya kita percaya tetapi, kita juga percaya bahwa janji itu akan terwujud dalam kehidupan kita.
Janji Allah itu begitu berharga, karena janji itu berguna untuk kehidupan kita di dunia dan berguna untuk kehidupan kekal setelah Tuhan memanggil kita.
Janji keselamatan jiwa (Yohanes 5:24; 1 Yohanes 5:11,12)
Janji pengampunan dosa (1 Yohanes 1:9)
Janji kemenangan atas dosa (1 Yohanes 5:4)
Janji jawaban doa (Yohanes 16:24)
Janji pemeliharaan Allah (Amsal 3:5-6; Yesaya 41:10; Filipi 4:19)
Dan ada banyak janji-janji lain yang sudah menunggu untuk kita temukan.
Ada banyak janji yang sangat spesifik sesuai dengan kebutuhan kita.
Sesuai dengan apa yang menjadi pergumulan kita saat ini.
Misalnya pergumulan tentang anxiety.Anxiety, kosakata dalam bahasa Inggris yang artinya adalah kegelisahan, entah kenapa istilah ini menjadi populer di kalangan anak-anak muda khususnya.
Banyak yang gelisah dan hanya bisa melihat masa depan yang suram bagi dirinya, bagi keluarganya bahkan bagi bangsanya.
Yeremia 29:11 ”Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
Ini adalah janji Allah bagi kita yang percaya kepada-Nya.
Dunia bisa tampak suram, tetapi Allah memberikan hari depan yang penuh harapan.
Saudara, apakah engkau sedang gelisah, cemas dan seperti tidak ada pengharapan? Datang kepada Tuhan dalam doa dan dalam kelompok pemuridan, bagikan pergumulanmu untuk menjadi pokok doa bersama.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah yang dimaksud dengan berhutang kepada daging?
Seperti apa contoh hidup menurut daging?
Kata “daging” dalam Alkitab memiliki berbagai makna.
Secara harfiah, daging adalah bagian lunak dari hewan, manusia yang terbungkus kulit dan menempel pada tulang.
Tetapi Alkitab juga memberikan makna rohani dari “daging”, antara lain:
Keadaan manusia sebagai makhluk berdosa dan lemah
Perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah
Lebih lanjut kata daging juga digunakan untuk membedakan dua kehidupan yang berbeda:
Hidup dalam daging:
Artinya memikirkan hal-hal yang dari daging, seperti materi, kekayaan, kesenangan duniawi dan kekuasaan
Bertentangan dengan hukum dan kehendak Allah
Menghasilkan maut
Ciri orang yang belum mengalami kelahiran baru
Hidup dalam Roh:
Memikirkan hal-hal rohani yang menghasilkan damai sejahtera dalam batin
Memusatkan pikiran pada hal-hal yang dari Tuhan
Mencari dan tunduk kepada pimpinan dan arahan Roh Kudus
Alkitab menyatakan bahwa “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah”, dan “jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus”(Roma 5:14,17).
Ya, oleh anugerah-Nya semata maka kita yang percaya dijadikan ahli waris yang berhak menerima janji-janji Allah.
Termasuk janji kemenangan terhadap dosa dan kelemahan daging.
Seorang anak raja akan mewarisi kekayaan sang raja, bahkan takhta, jika dia adalah anak sulung.
Anak seorang konglomerat, dia akan mewarisi harta, perusahaan mungkin hotel atau bank atau perrtambangan yang dimiliki orang tuanya.
Akan tetapi kita adalah anak dari Allah pencipta, yang mewariskan kekekalan, keselamatan jiwa, damai sejahtera dan kebahagian yang sejati dan berbagai janji-janji mulia yang bisa kita temukan di Alkitab.
Semoga kita terbilang sebagai orang yang lebih merindukan hal-hal yang kekal dibandingkan hal-hal yang bersifat sementara seperti kekayaan dan kesenangan.
Saudara, apakah cita-citamu? Coba diskusikan dalam kelompok pemuridan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah makna “Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku”?
Apakah arti “Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai”?
Pasal 16 ini diawali dengan kata “Miktam”. Matthew Henry salah seorang penulis komentar Alkitab pada abad ke 17 yang hasil karyanya masih dibaca hingga masa kini, menjelaskan bahwa Miktam yang kerap diterjemahkan sebagai mazmur emas adalah mazmur yang sangat berharga.
Lebih berharga daripada emas, ya, daripada banyak emas murni, karena mazmur ini berbicara dengan sangat jelas tentang Kristus dan kebangkitan-Nya, yang merupakan harta karun sejati yang tersembunyi di ladang Perjanjian Lama.
Daud mengalami banyak sekali pergumulan berat dalam kehidupannya, hampir terbunuh oleh bos nya sendiri yaitu raja Saul.
Daud juga harus melarikan diri ketika anak kandungnya Absalom ingin merebut tahta di Yerusalem dan berusaha untuk membunuh ayahnya Daud.
Bahkan di masa tuanya, anaknya Adonia pun masih ingin merebut tahta Daud.
Tetapi Daud tahu benar bahwa dia harus selalu berharap kepada Tuhan.
Mazmur 16:5 ”Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.”
Daud memilih Tuhan untuk kehidupan dan kebahagiaan-Nya.
Sebagian orang akan menganggap dunia sebagai kebaikan utama mereka, dan menempatkan kebahagiaan mereka dalam kenikmatan-kenikmatannya; tetapi Daud mengatakan, Tuhan adalah bagian warisanku dan bagian dari pialaku.
Artinya apa pun yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidupnya, Daud akan menerima dengan senang hati.
Dalam kesedihan karena pemberontakan anaknya Absalom, Daud tetap tahu, bahwa Allah menyertai dia.
Hal ini juga akan berlaku bagi kita umat tebusan, jika kita mau menjadikan Tuhan sebagai warisan dan piala kita. Sehingga betapapun pergumulan yang kita alami di dunia ini.
Kita tetap memiliki kasih dan perkenanan Tuhan, dan diterima oleh-Nya; kita memiliki penghiburan dan persekutuan dengan Allah; kita juga memiliki bagian dalam janji-janji-Nya; dan hak melalui janji untuk kehidupan kekal dan kebahagiaan sejati di masa depan; ketika kita hidup dan bersedia untuk hidup dipimpin oleh Roh-Nya.
Saudara, diskusikan dalam kelompok pemuridan, apakah saat ini engkau mengalami pergumulan hidup yang sukar dan bagaimana cara terbaik untuk merespon dengan benar?