Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang menyebabkan mereka berjalan semakin lama semakin kuat?
Apa tujuan mereka datang menghadap Tuhan di pelataran-Nya?
Apa yang Tuhan perbuat bagi mereka yang hidup tidak bercela?
Siapakah yang akan selalu berbahagia?
Saudara, dalam Perjanjian Lama, orang-orang Israel memiliki kebanggaan yang besar terhadap bangsa-bangsa lain di sekitar mereka yaitu Kemah Suci atau Bait Allah, tempat mereka dapat melihat dan merasakan kehadiran Allah.
Setiap laki-laki Israel diwajibkan hadir di Bait Allah tiga kali setahun.
Itulah sebabnya, hingga saat ini orang-orang yang menganut agama Yahudi dari apapun bangsa mereka, selalu berziarah ke Yerusalem tiga kali setahun.
Yerusalem menjadi kiblat bagi orang Yahudi yang sedang berdoa:
Daniel 6:11“Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.”
Mengapa ke Yerusalem? Karena di sana terletak Bait Allah terakhir yang telah dihancurkan oleh Jenderal Titus dari Romawi.
Hal ini menjadi kegirangan besar bagi orang-orang Yahudi yang berziarah ke Yerusalem.
Namun, dalam Perjanjian Baru, Yesus tidak menetapkan suatu tempat sebagai kiblat untuk sembahyang.
Yohanes 4:21-24 “Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
Saudara, rasul Paulus pernah menulis nasihat kepada jemaat di Kolose:
Kolose 2:6-7 “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”
Saudara, dalam Perjanjian Lama, ibadah berkiblat ke Yerusalem.
Namun saat ini, kita tidak lagi berkiblat ke suatu tempat, melainkan kita berkiblat kepada Yesus Kristus yang ada dalam hati kita:
Efesus 3:17“sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.”
Rasul Paulus mengajarkan agar jemaat Kristus yang telah percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetap hidup di dalam Kristus.
Mereka harus berakar di dalam Kristus, hidup dari Kristus, dan makan dari Firman yang keluar dari mulut Allah.
Yohanes 1:1 “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Yohanes 6:53-57 “Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.”
Sangat jelas bahwa jemaat seharusnya makan Firman, yaitu makan Yesus Kristus.
Melalui makan Firman, jemaat akan bertumbuh dan hidup oleh Firman atau hidup oleh Yesus Kristus.
Mereka akan dibangun di atas Firman Yesus Kristus dan inilah yang membuat jemaat bertumbuh yaitu dibangun di atas Kristus.
Itulah yang menyebabkan jemaat hidup dan bertumbuh di dalam Kristus.
Kehidupan yang bersekutu dengan Yesus Kristus melalui memakan atau merenungkan dan menjadi pelaku Firman adalah kehidupan yang berbahagia.
Hal ini akan menyebabkan jemaat terus bertumbuh, semakin lama semakin kuat.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Banyak anak-anak Allah yang sudah lama mengikut Kristus, namun tidak bertumbuh dan tidak semakin kuat bahkan banyak yang semakin lemah. Apa penyebabnya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Ketika kita berkumpul, maka apa yang seharusnya kita lakukan?
Apa tujuan dari dilakukannya pelayanan?
Berapa banyak orang yang dapat melakukan pelayanan dengan bahasa Roh? Bagaimana mereka melakukannya?
Karunia bahasa Roh harus dilakukan dengan tertib, seorang demi seorang yang disertai dengan ada yang menafsirkan. Jika tidak ada yang menafsirkan, maka apa yang seharusnya dilakukan?
Saudara, rasul Paulus mengajarkan bagaimana seharusnya jemaat berkumpul.
Mereka sepatutnya melakukannya sesuai dengan ajaran yang tertulis dalam Kitab Efesus:
Efesus 2:19-21“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.”
Anggota komunitas atau jemaat Tuhan yang ikut dalam persekutuan adalah bagian dari satu keluarga, bukan orang asing.
Karena itu, jangan sampai dalam ibadah ada orang-orang yang merasa terasing, sehingga mereka tidak tahu atau tidak mengerti apa yang kita katakan hanya karena kita berbahasa yang lain.
Maka dari itu, diperlukan adanya terjemahan agar setiap yang dikatakan oleh seorang pemimpin ibadah dapat dipahami oleh semua yang hadir sehingga tidak ada yang merasa terasing.
Dalam ibadah, setiap orang sepatutnya aktif melakukan pelayanan sesuai dengan karunia rohani masing-masing.
1 Korintus 14:26-33“Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. Tentang nabi-nabi–baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.”
Saudara, firman Tuhan ini sangat jelas sebagai petunjuk tentang bagaimana ibadah seharusnya dijalankan.
Dengan demikian, dalam pertemuan ibadah tidak ada seorang pun yang merasa terasing, karena semua orang dapat mengerti apa yang disampaikan oleh setiap orang yang bersuara dalam ibadah.
Bahkan rasul Paulus menuliskan bahwa dia sendiri tidak akan menggunakan bahasa roh dalam pertemuan ibadah:
1 Korintus 14:18-19“Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.”
Pertemuan jemaat atau pertemuan ibadah adalah suatu perkumpulan dimana setiap anggota jemaat dapat membangun dan dibangun.
Oleh karena itu, rasul Paulus menuliskan tata ibadah yang bertujuan untuk membangun setiap anggota tubuh Kristus:
1 Korintus 14:1-17“Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun. Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran? Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi–bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara! Ada banyak–entah berapa banyak–macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satupun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan “amin” atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya.”
Saudara, Tuhan Yesus menginginkan agar kita, sebagai jemaat-Nya, dapat saling mengasihi.
Lalu, dengan apa kita mengasihi saudara-saudara kita? Mari kita saling melayani dengan karunia Roh yang telah dianugerahkan kepada kita.
Karunia Roh adalah anugerah yang menyatakan bahwa di dalam diri kita ada Roh Allah.
1 Korintus 12:7“Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.”
Yesus menginginkan agar semua jemaat bertumbuh sehingga dapat berfungsi dan tidak ada penonton dalam jemaat.
Oleh karena itu, marilah kita saling mengasihi dengan melayani dan membangun saudara-saudara kita, jemaat Yesus Kristus agar tidak ada yang tersesat, semua akan terbentuk dan berfungsi untuk membangun.
Haleluya, puji Tuhan. Amin.
Bahasa roh yang ditafsirkan akan menjadi nubuatan atau pengajaran, dapatkah ini terjadi?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang harus kita pegang dengan teguh?
Mengapa kita harus berpegang teguh?
Mengapa kita harus saling memperhatikan?
Apa yang tidak boleh kita lakukan?
Saudara, Yesus Kristus telah menasihatkan para murid-Nya untuk saling mengasihi:
Yohanes 13:34-35“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Ketika para murid saling mengasihi, maka mereka akan saling memperhatikan.
Dan ketika kita saling memperhatikan, maka kita akan mengetahui bahwa ada saudara kita yang sedang sakit, sedih atau mengalami kesusahan.
Dalam keadaan seperti itu, maka saudara kita itu membutuhkan pertolongan.
Karena itulah, Yesus menasihatkan kita untuk saling mengasihi agar kita masing-masing dapat berperan dalam membantu atau menolong saudara kita yang sedang membutuhkan pertolongan.
Itulah sebabnya, penulis Kitab Ibrani menuliskan nasihatnya:
Ibrani 10:24-25 “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”
Saudara, ketika kita saling memperhatikan, maka kita dapat melihat dan merasakan kebutuhan saudara kita.
Karena itu, kita dinasihatkan untuk tidak meninggalkan pertemuan ibadah.
Bahkan, kita dianjurkan untuk semakin sering bertemu serta saling memberi dan menerima nasihat dari saudara kita.
Oleh karena itu, janganlah menjauhi ibadah, tetapi marilah kita semakin giat beribadah serta semakin giat dalam menerima dan memberi nasihat supaya kita bisa tetap terpelihara dalam komunitas atau jemaat tempat kita bergabung.
Oleh Injil atau oleh pembapaan rohani yang benar, dimana kita telah hidup bersama dalam waktu yang lama dengan komunitas atau jemaat dimana kita beribadah.
Ada juga hal penting lainnya mengapa kita tidak boleh menjauhi pertemuan ibadah kita:
Ibrani 10:26-29“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka. Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?”
Karena itu, sangat penting bagi kita untuk tidak meninggalkan pertemuan ibadah, melainkan semakin antusias mengikutinya supaya kita dapat saling memperhatikan dan semakin saling mengasihi agar tidak ada di antara kita yang melakukan dosa dengan sengaja (murtad).
Sebab tidak ada lagi pengampunan bagi mereka yang murtad atau menghina Yesus Kristus dengan menginjak-injak kasih karunia Allah.
Bagi mereka yang murtad atau menghujat Roh Kudus, tidak ada pengampunan.
Selain itu, untuk setiap dosa yang terjadi karena kelalaian atau ketidakpahaman kita, saat kita jatuh dalam dosa, maka berlaku apa yang dinyatakan oleh Firman Tuhan berikut ini:
1 Yohanes 1:9 “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”
Oleh karena itu, marilah kita semakin antusias mengikuti pertemuan ibadah karena kita dapat belajar Firman Tuhan, saling mengasihi dan saling memperhatikan bagaimana Firman Tuhan dikerjakan dalam komunitas atau jemaat tempat kita bergabung.
Saudara, ketika kita memperhatikan saudara kita yang sedang menghadapi persoalan, maka sudah sepatutnya kita mengasihi dia sebagai bukti ketaatan kita kepada perintah Yesus yaitu agar para murid saling mengasihi.
Melalui perhatian itu, kita pun dapat lebih mudah menasihati saudara kita agar tidak frustrasi, depresi atau kehilangan sukacita karena masalah yang dialami.
Dengan tidak meninggalkan pertemuan ibadah, maka kita memiliki kesempatan untuk saling melindungi, saling membantu dan saling menolong.
Oleh karena itu, marilah kita saling mendorong satu sama lain agar tidak ada saudara kita yang meninggalkan pertemuan ibadah dan akhirnya terjerat oleh musuh sehingga mengalami berbagai masalah yang dapat membuatnya kehilangan sukacita.
Saudara, marilah kita saling mengasihi dengan saling mendoakan, saling melindungi dan saling menasihati.
Pertemuan ibadah adalah sarana bagi kita untuk bertumbuh secara rohani, tempat dimana kita saling mengasihi, saling mendorong dalam kasih dan pekerjaan baik sehingga kita terhindar dari berbagai cobaan yang dapat menyesatkan dan membawa kita kepada kemurtadan.
Marilah kita menerapkan Firman Tuhan yang mendorong kita untuk saling menguatkan dan berbuat kebaikan.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apa penyebab orang percaya melakukan penghujatan terhadap Roh Kudus?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Siapa yang melakukan banyak tanda-tanda mujizat?
Adakah yang berani bergabung dengan para rasul-rasul pada saat mereka mengadakan mujizat?
Ketika para rasul mengadakan tanda-tanda mujizat, apakah berdampak kepada pertambahan jumlah orang yang percaya? (ayat 14)
Kita pernah melihat dan membaca tulisan yang berisi ajakan ”Hadirilah kebaktian kesembuhan Ilahi”, “Mujizat Allah masih ada”.
Biasanya tulisan-tulisan tersebut, bagi kita mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh dan yang memerlukan mujizat sangat antusias untuk mengikuti acara tersebut.
Ajakan-ajakan tersebut bukan salah atau benar, tetapi kita harus tahu bahwa tidak harus dengan mujizat untuk mempertobatkan orang!
Tetapi setidaknya mujizat bisa menarik banyak orang untuk datang melihat dan mendengar tentang Injil.
Agar pemberitaan Injil yang mereka dengar oleh karena kasih karunia Tuhan, maka mereka turut diselamatkan.
Demikian juga para Rasul masa itu, mereka sadar betul, bahwa kuasa mujizat yang mereka dapatkan bukan berasal dari diri mereka, para rasul juga bukan sedang mempertontonkan tentang kehebatan diri mereka, tetapi kuasa itu datang dari Roh Kudus yang membuat mereka berani memberitakan Firman Allah.
Tujuan akhir dari perbuatan-perbuatan mujizat yang dilakukan oleh para rasul adalah semakin bertambah banyak jumlah orang yang percaya kepada Tuhan.
Tidak semua orang bisa melakukan banyak mujizat, bukan berarti bahwa orang tersebut tidak memiliki iman, tetapi mujizat itu sepenuhnya merupakan otoritas Allah terhadap seseorang atau kelompok orang.
Tidak semua orang dapat mengalami mujizat-mujizat tertentu, misal: Mujizat kesembuhan.
Tuhan Allah tidak bisa diikat oleh kewajiban untuk melakukan mujizat seperti yang kita inginkan.
Tuhan tidak selalu menolong manusia dengan cara-cara supranatural. Peristiwa natural sering dipakai Tuhan untuk menolong manusia.
Tuhan punya banyak cara untuk menolong manusia, baik itu secara natural maupun supranatural.
Dia tidak bisa didikte oleh apapun dan siapapun!
Tahukah kita bahwa mujizat Tuhan terbesar yang dibutuhkan bagi diri kita?
Kita termasuk salah satu orang dari sekian milyar orang dimuka bumi ini, yang dipilih oleh Kristus untuk memperoleh keselamatan dengan cuma-cuma, keselamatan adalah mukjizat terbesar yang Tuhan berikan.
Kita harus memiliki pengertian yang benar dan seimbang tentang mujizat itu.
Fokus utama jemaat yang sudah percaya kepada Dia, bukan lagi mencari-cari mujizat, jangan fokus kepada orang-orang tertentu yang melakukan mujizat, tetapi Injil yang tertulis dalam Alkitablah yang terutama dan menjadi fokus kita saat ini.
Firman Tuhan menuliskan “mereka memberitakan injil ke segala penjuru dan Tuhan bekerja dan meneguhkan Firman itu dengan tanda-tanda mujizat” (lihat Lukas 16:20).
Dengan kata lain tujuan akhir dari tanda-tanda mujizat itu terjadi agar nama Tuhan dapat diberitakan bagi semua orang.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita. Jika kita tidak mengalami mujizat, apakah Tuhan wajib melakukan mujizat untuk kita? Apakah fokus kita masih mencari-cari mujizat dibandingkan dengan mau belajar tentang pribadi dan kebaikan Tuhan yang sudah tertulis dalam Alkitab?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Ketika Roh kudus turun, apa yang terjadi atas kumpulan orang yang telah percaya itu? (ayat 32)
Apa dampak yang terjadi dalam kumpulan jemaat, pada saat itu (ayat 33)
Adakah diantara kumpulan jemaat yang kekurangan, pada saat jemaat saling berbagi? (ayat 34a)
Mengapa pemberian yang diperoleh diantara jemaat diserahkan pada rasul-rasul? (ayat 35)
Pada saat peristiwa pentakosta terjadi, dimana terjadi pencurahan Roh Kudus turun atas para Rasul, mereka dengan berani memberitakan Firman Allah yang kemudian berdampak kepada pertambahan jumlah jemaat yang percaya kepada Kristus Yesus.
Kepercayaan kepada Firman Allah-lah yang membuat jemaat mula-mula bisa sehati dan sejiwa diantara mereka.
Apakah zaman sekarang sehati dan sejiwa diantara jemaat yang percaya kepada Kristus masih relevan? Ya, masih relevan.
Namun kita dengan jujur mengatakan bahwa hal tersebut tidak mudah dan tidak banyak kita temukan sekelompok orang beriman atau jemaat yang sehati dan sejiwa seperti kehidupan jemaat mula-mula.
Kita harus paham dan sadar bahwa Firman Allah-lah yang mempersatukan kita.
Kita tidak lagi fokus kepada perbedaan, seperti beda usia, beda jenis kelamin, beda senioritas dalam ikut Tuhan, perbedaan ekonomi, perbedaan status sosial.
Tetapi kita harus lebih fokus kepada kesatuan tubuh, roh, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua (Lihat Efesus 4:4-6).
Jika kita mengetahui bahwa Firman Allah yang sudah mempersatukan kita, maka jemaat otomatis memiliki gaya hidup memberi.
Memberi dengan apa yang kita miliki. Itu adalah salah satu tanda perwujudan kesehatian dalam jemaat.
Jadi tidak mungkin orang benar atau jemaat yang percaya kepada Firman Allah tidak mau berbagi kepada jemaat yang tidak mampu.
Namun perlu diingat, prinsip cara hidup berbagi pada era jemaat mula-mula bukan merupakan suatu keharusan atau sesuatu yang dipaksakan tetapi murni berdasarkan hati yang sukarela.
Dan prinsip berbagi tersebut bukan berbicara “kesamarataan, tetapi berbicara keseimbangan.”
Artinya biarpun ada jemaat yang kaya menjual harta miliknya, namun itu tidak berarti seluruh harta miliknya juga di jual untuk orang yang membutuhkan, tetap orang kaya tersebut masih memiliki harta lainnya.
Begitu pula dengan orang yang kurang mampu tidak menuntut agar orang yang mampu atau orang kaya memberi dan membagikan seluruh harta mereka, agar orang yang kurang mampu itu menjadi sama dengan orang yang mampu.
Orang yang memiliki banyak harta harus ingat, bahwa mereka harus juga memberi lebih banyak dibandingkan orang yang kurang mampu.
Agar terjadi “keseimbangan, tidak ada seorangpun yang berkekurangan diantara mereka” (lihat Kisah Para Rasul 4:34a).
Kemana sebaiknya kita membagikan atau menyerahkan harta milik kita?
Bisa langsung kepada orang, jemaat yang membutuhkan disekitar kita, anggota PA, anggota persekutuan atau jemaat kita.
Namun pada konteks ayat yang kita baca (lihat Kisah Para Rasul 4:35) jemaat mula-mula meletakkan di depan kaki rasul-rasul.
Hal itu dimaksudkan bukan untuk memperkaya para rasul atau hamba Tuhan, gereja, namun agar pemberian seluruh jemaat dapat dikelola dengan baik, bijaksana dan rapi untuk dibagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluan jemaat.
Selain itu juga untuk menghindari “dominasi dan ketergantungan” si pemberi terhadap orang yang di beri.
Jadi dengan demikian terhindarkan orang-orang yang memiliki harta banyak untuk dianggap “orang yang paling berjasa” untuk jemaat yang kurang mampu.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita. Sesuai dengan perikop ayat renungan yang kita baca hari ini, apakah kita sudah belajar dan rela hati memberi dengan harta yang kita miliki, sebagai perwujudan bahwa kita sudah sehati dan sejiwa dengan anggota tubuh Kristus yang memerlukan?