Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
“Haus” seperti apa yang sedang kamu rasakan saat ini, dan bagaimana hal itu mendorongmu untuk datang kepada Yesus?
Menurut pengalamanmu, bagaimana “air hidup” dari Yesus itu berbeda dengan upayamu sendiri untuk memuaskan dahaga jiwamu?
Siapa satu orang di sekitarmu yang mungkin juga “haus”, dan bagaimana kamu bisa menjadi saluran “air hidup” bagi mereka minggu ini?
“Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! (Yohanes 7:37).
Perayaan Pondok Daun adalah pesta yang meriah, penuh dengan ritual, simbol, dan kegembiraan kolektif.
Namun, di tengah kemeriahan itu, Yesus menyadari bahwa banyak hati tetap kosong dan haus.
itual air hanyalah simbol; ia tidak dapat memuaskan dahaga jiwa yang paling dalam.
Dengan berseru pada hari terakhir, Yesus seolah-olah berkata, “Segala simbol dan perayaan ini menunjuk kepada-Ku.
Aku adalah realitas yang sejati.”
Latar belakang ini mengingatkan kita bahwa kita pun dapat sibuk dengan aktivitas keagamaan, rutinitas ibadah, atau pencarian kesibukan dunia, sementara hati kita sebenarnya kering dan lapar.
Tuhan menawarkan diri-Nya bukan sebagai tambahan dari ritual, tetapi sebagai penggenapan dari segala kerinduan kita.
Kebenaran yang Yesus ajarkan adalah bahwa syarat untuk mengalami pemuasan ilahi adalah kejujuran akan rasa haus.
“Barangsiapa haus” adalah undangan terbuka bagi semua, tetapi hanya mereka yang mengakui, “Ya, aku haus.
Aku tidak puas. Aku butuh lebih dari ini,” yang akan datang.
Tuhan tidak memulai dengan orang yang merasa dirinya kaya dan puas (Wahyu 3:17).
Ia mencari orang yang miskin dan lapar secara rohani (Matius 5:6).
Rasa haus ini adalah anugerah—itu adalah tanda bahwa Roh Kudus sedang menarik kita.
Prinsip ini membebaskan kita dari kepura-puraan. Kita boleh datang kepada Yesus dengan segala kehampaan, kebingungan, dan kegagalan kita, asalkan kita datang dengan sikap percaya bahwa hanya Dialah yang dapat memuaskannya.
Pemuasan yang kita terima bukan untuk ditimbun, tetapi untuk dialirkan.
Yesus berjanji bahwa dari dalam diri orang percaya akan “mengalir aliran-aliran air hidup.”
Artinya, kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus bersifat meluap dan memberi hidup.
Kita tidak hanya menjadi “kolam” yang tenang, tetapi menjadi “sungai” yang membawa kesegaran, pemulihan, dan kehidupan bagi lingkungan sekitar.
Ketika kita benar-benar dipuaskan oleh kasih karunia dan kehadiran Tuhan, secara alami kita akan menjadi saluran berkat—kata-kata kita menguatkan, tindakan kita membangun, dan hidup kita menjadi kesaksian tentang sumber air yang tidak pernah kering, bahkan di musim kering sekalipun.
Hal-Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Luangkan Waktu Hening untuk Mengakui “Rasa Haus”.
Setiap hari, berhenti sejenak dan tanyakan pada hati nurani: “Apa yang sesungguhnya kucari?
Apakah aku merasa kering, lelah, atau kosong?” Jujurlah di hadapan Tuhan dalam doa. Katakan, “Tuhan, aku haus. Penuhilah aku dengan Roh-Mu.”
Kedua, “Datang dan Minum” dengan Disiplin Rohani yang Penuh Iman.
“Datang” adalah tindakan percaya.
Bangunlah kebiasaan untuk datang kepada Yesus setiap pagi melalui firman dan doa, bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai seorang yang haus yang mendekati mata air.
Percayalah bahwa saat Anda membaca firman-Nya dan bersekutu dalam doa, Roh Kudus sedang memuaskan dan menguatkan Anda.
Ketiga, Perhatikan “Aliran” itu dengan Menjadi Berkat. Sadarilah bahwa Anda adalah saluran.
Tanyakan, “Bagaimana aku bisa membawa kesegaran dan kehidupan dari Kristus bagi seseorang hari ini?”
Itu bisa melalui sebuah pesan penghiburan, tindakan pelayanan tanpa pamrih, atau kesaksian sederhana tentang kebaikan Tuhan dalam hidup Anda.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, diskusikan bagaimana mengetahui hati yang haus dan lapar akan kebenaran.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang membuat Israel bersedia merayakan ibadahnya jauh lebih lama dari ketentuan?
Menurut konteks 2 Tawarikh 7:1-12, apa hubungan antara kesungguhan hati umat (ayat 8-9) dengan kunjungan Tuhan (ayat 1-3)?
“Perkumpulan raya” (hari kedelapan) adalah puncak dari seluruh proses. Bagaimana Anda bisa menciptakan momen “puncak” penyembahan dalam hidup pribadi atau komunal Anda?
“Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan.” (2 Tawarikh 16:9).
Kitab 2 Tawarikh ditulis sebagai pengingat dan penghiburan bagi umat Israel yang telah mengalami kehancuran Bait Suci dan pembuangan.
Dalam konteks itu, kisah kemuliaan Salomo mengingatkan mereka—dan kita—akan masa ketika umat Tuhan bersatu, taat, dan dengan segenap hati merindukan serta menyambut kehadiran-Nya.
Peristiwa pentahbisan Bait Suci bukan sekadar upacara agama, tetapi klimaks dari sebuah persiapan panjang, doa sungguh-sungguh (pasal 6), dan kerinduan kolektif untuk Tuhan berdiam di tengah mereka.
Latar belakang ini mengajarkan bahwa sejarah kemuliaan Tuhan selalu terkait dengan hati umat-Nya yang sungguh-sungguh mencari wajah-Nya.
Prinsip pertama yang kita lihat adalah bahwa kunjungan atau manifestasi kehadiran Tuhan (Shekinah Glory) menghasilkan sukacita yang melimpah ruah dan tidak terbatas oleh waktu formalitas agama.
Israel tidak puas hanya merayakan tujuh hari sesuai hukum; mereka begitu dipenuhi oleh kekaguman dan sukacita atas hadirat Tuhan sehingga secara spontan memperpanjang perayaan menjadi lima belas hari dan mengakhirinya dengan perkumpulan raya yang khidmat.
Ini menunjukkan bahwa pengalaman otentik akan Tuhan melahirkan kerinduan untuk tinggal lebih lama di dalam hadirat-Nya, melampaui rutinitas dan kewajiban ibadah.
Ketika Tuhan benar-benar “mengunjungi” hidup, komunitas, atau ibadah kita, akan ada suatu sukacita dan keterikatan yang membuat kita ingin berlama-lama bersama-Nya.
Kesungguhan hati yang kolektif dan terbuka menjadi seperti “mezbah” yang dipersiapkan bagi Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya.
Perhatikan bahwa mereka telah “merayakan pentahbisan mezbah selama tujuh hari” (ayat 9).
Mezbah adalah tempat korban dan pertemuan dengan Tuhan. Kesungguhan hati seluruh Israel (raja, imam, dan seluruh umat) dalam penyembahan dan ketaatan itulah yang secara spiritual “mempersiapkan mezbah” bagi Tuhan untuk turun dengan api dan kemuliaan (2 Tawarikh 7:1-3).
Tuhan tidak hanya mencari bangunan yang megah, tetapi Dia mencari hati yang sepenuhnya tertuju kepada-Nya.
Kesungguhan hati bukanlah jasa untuk memaksa Tuhan datang, melainkan kondisi hati yang rendah, haus, dan siap yang membuat-Nya berkenan menyatakan diri.
Hal-Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Berkomitmen untuk “Waktu Tambahan” dalam Penyembahan.
Dalam ibadah pribadi atau komunitas, jangan terburu-buru.
Jika Anda merasakan kehadiran Tuhan, sengaja luangkan waktu ekstra untuk berdiam diri, menyembah, atau mengucap syukur, melampaui jadwal rutin Anda.
Kedua, Bangun Kesungguhan Hati yang Kolektif dalam Komunitas Iman.
Dalam keluarga rohani atau kelompok PA, prioritaskan kesatuan hati, kerendahan, dan kerinduan bersama untuk hadirat Tuhan lebih dari sekadar program atau aktivitas.
Berdoalah bersama dengan sungguh-sungguh untuk “kunjungan Tuhan” dalam hidup Anda.
Ketiga, Jadikan Hidup Anda Sebagai “Mezbah” yang Selalu Dikuduskan.
Secara rutin, periksa motivasi dan komitmen hati Anda. Apakah Anda hidup sebagai persembahan yang hidup dan kudus (Roma 12:1)?
Kesungguhan dalam ketaatan sehari-hari, integritas, dan kasih adalah “mezbah” pribadi yang menyambut kehadiran Tuhan.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya mengalami hadirat Tuhan yang dimanifestasikan (dapat dilihat dan dirasakan)
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa arti praktis “berkumpul dalam Nama-Ku” bagimu sehari-hari?
Pengalaman apa yang membuatmu merasakan kehadiran Kristus secara nyata dalam komunitas kecil?
Bagaimana janji ini mengubah caramu memandang pentingnya kesetiaan dalam kelompok kecil?
“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20).
Surat Matius mencatat Yesus yang dengan sengaja membangun sebuah komunitas baru—umat perjanjian yang terdiri dari para murid-Nya.
Komunitas ini tidak kebal dari konflik dan dosa, sehingga Yesus memberikan pedoman untuk memulihkan persekutuan yang rusak.
Namun, proses pendisiplinan dan restorasi itu terasa begitu berat dan penuh risiko jika hanya mengandalkan kekuatan manusia.
Di titik inilah Yesus memberikan sebuah janji yang menghibur dan memberdayakan: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
Janji ini adalah jantung dari kehidupan gereja. Ia mengubah sekumpulan orang dari sekedar pertemuan sosial atau lembaga agama, menjadi suatu ruang suci tempat Tuhan sendiri hadir secara nyata.
Prinsip kebenaran pertama yang kita pelajari adalah bahwa kehadiran Tuhan yang khusus dijanjikan bukan untuk kerumunan yang anonim, tetapi untuk komunitas yang dengan sengaja berkumpul “dalam Nama-Nya”.
Ini adalah syarat yang penting. Berkumpul “dalam Nama-Nya” berarti kita berkumpul dengan kesadaran bahwa kita datang mewakili Dia, diutus oleh Dia, dan untuk maksud yang selaras dengan karakter dan kehendak-Nya.
Ini adalah komunitas yang menjadikan Kristus sebagai pusat, alasan, dan pemersatu.
Ketika motivasi, tujuan, dan pengajaran kita berpusat pada Kristus, kita dapat percaya bahwa kehadiran-Nya yang berkuasa dan menyelamatkan benar-benar nyata di tengah kita, sekalipun kita hanya segelintir orang.
Prinsip kebenaran kedua adalah demokratisasi dan pendalaman kehadiran Allah.
Dalam Perjanjian Lama, kemuliaan Tuhan sering dikaitkan dengan Bait Suci yang megah atau bangsa yang besar.
Yesus menyatakan sesuatu yang revolusioner: kehadiran-Nya yang berotoritas dapat dialami oleh pertemuan terkecil sekalipun—”dua atau tiga orang”.
Ini adalah penghiburan besar bagi gereja kecil, kelompok pemuridan, tim pelayanan kecil, atau persekutuan doa yang sederhana.
Tuhan tidak terkesan dengan jumlah besar atau kemegahan upacara.
Dia menghargai kesetiaan dan kesatuan dari sekelompok kecil orang yang dengan tulus mencari wajah-Nya.
Di dalam kesederhanaan dan kesetiaan itu, kuasa Kerajaan Sorga justru termanifestasi.
Hal-Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Selalu Evaluasi Motivasi Berkumpul.
Sebelum menghadiri persekutuan atau pertemuan pelayanan, tanyakan: “Apakah aku datang dalam Nama Yesus?
Apakah tujuan pertemuan ini untuk kemuliaan-Nya dan sesuai dengan kehendak-Nya?” Ini memurnikan fokus kita dari sekadar rutinitas sosial atau agama.
Kedua, Bangun Komitmen dalam Komunitas Kecil.
Investasikan waktu dan hati untuk membangun kedalaman hubungan dalam kelompok kecil (persekutuan, kelompok doa, atau pendalaman Alkitab).
Percayalah bahwa di dalam kesetiaan pada kelompok kecil itulah, janji kehadiran Kristus secara khusus akan nyata dan mengubah hidup.
Ketiga, Jadikan Kehadiran Tuhan sebagai Tujuan Utama, Bukan Program.
Dalam merencanakan pertemuan, prioritaskan ruang untuk menyadari kehadiran Tuhan—melalui doa yang sungguh-sungguh, penyembahan yang fokus, dan pembacaan Firman yang taat—daripada hanya menjalankan agenda acara.
Kehadiran-Nya adalah segalanya.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya mengalami kehadiran Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dilakukan Paulus dan Silas ketika mereka berada di penjara?
Apa yang terjadi saat mereka memuji dan menyembah Tuhan?
Apa yang hendak dilakukan kepala penjara ketika melihat keadaan yang terjadi saat itu?
Mengapa kepala penjara itu tersungkur di depan Paulus?
Saudara, ketika Rasul Paulus berada di Filipi, ia memberitakan Injil di sinagoge-sinagoge Yahudi.
Lidia, seorang perempuan Yahudi dan penjual kain ungu, bertobat dan meminta untuk dibaptis bersama seluruh anggota keluarganya.
Ketika Paulus kembali ke sinagoge untuk memberitakan Injil lagi, ada seorang hamba perempuan yang memiliki roh tenung.
Dengan kekuatan tenungannya, tuannya memperoleh keuntungan besar.
Perempuan itu mengikuti Rasul Paulus dari belakang sambil berseru, “Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi.
Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan.”
Ia melakukan hal itu selama beberapa hari.
Namun, ketika Paulus tidak tahan lagi dengan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu, “Demi nama Yesus Kristus, aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini.” Seketika itu juga roh itu keluar darinya.
Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat bahwa harapan mereka untuk mendapatkan uang lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk dihadapkan kepada penguasa kota.
Mereka mengadukan Rasul Paulus dan Silas kepada para penguasa, sambil berkata:
“Orang-orang ini mengacau kota kita ini, karena mereka orang Yahudi, dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya.” Juga orang banyak bangkit menentang mereka.”
Kemudian, pembesar kota itu memerintahkan agar mereka dicambuk, dipaksa telanjang, dan didera.
Setelah berkali-kali dicambuk, mereka dimasukkan ke dalam penjara.
Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan ketat, kaki mereka dibelenggu dengan pasungan yang kuat.
Ketika tengah malam, Paulus dan Silas menyanyi dan memuji Tuhan, mereka menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh.
Saat kuasa pujian dan penyembahan turun di penjara itu, terjadilah gempa bumi yang sangat kuat.
Gempa itu mengguncang sendi-sendi penjara; semua pintu terbuka dan belenggu-belenggu mereka terlepas.
Ketika kepala penjara melihat kejadian itu, ia hampir menghunus pedangnya untuk mengakhiri hidupnya.
Saudara, ketika kita menyimak cerita di atas, kita dapat belajar beberapa hal.
Ketika pujian dan penyembahan dilakukan, maka kuasa puji-pujian dan kuasa ucapan syukur akan bekerja:
Mazmur 22:4“Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.”
Ketika orang percaya memuji Tuhan, Tuhan hadir dan bersemayam di atas pujian itu.
Dari kehadiran Tuhan itu, terjadilah gempa bumi yang dahsyat, yang mengguncang sendi-sendi penjara, membuka pintu-pintu penjara, dan melepaskan belenggu-belenggu mereka.
Dari peristiwa ini, kita dapat belajar bagaimana Tuhan memelihara hamba-hamba-Nya yang rela menaati perintah Kristus untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah.
Terlepasnya belenggu menunjukkan bahwa tidak ada yang mampu menghalangi kuasa pemberitaan Injil Kristus.
Akibat terlepasnya mereka dari belenggu, terjadi keselamatan bagi keluarga kepala penjara.
Selanjutnya, Lukas menuliskan hal ini dalam suratnya kepada Teofilus:
Kisah Para Rasul 16:31“Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”
Rasul Paulus dipenjara menumbuhkan keberanian orang-orang percaya untuk memberitakan Injil keselamatan atau Injil kebenaran.
Pada tahun 2026, para penatua mendorong seluruh jemaat GKKD-BP untuk memberitakan Injil keselamatan kepada orang-orang di sekitar kita, baik rekan sekantor, teman di sekolah, tetangga di lingkungan rumah, maupun kolega di mana pun kita berada.
Saudara, dalam rangka pelaksanaan rencana para penatua GKKD-BP, marilah kita memperlengkapi diri dengan belajar memberitakan Injil secara pribadi.
Ada beberapa metode pemberitaan Injil secara pribadi, misalnya metode EE, 3 Saja, 4 Fakta Rohani, metode kontekstual, dan lain-lain.
Marilah kita menaburkan Kabar Baik dengan menyaksikan Injil kebenaran atau Injil keselamatan dengan resikonya.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak orang percaya tidak memberitakan Kabar Baik atau Injil keselamatan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Yesus berdoa untuk siapa saja?
Hal apa yang menyebabkan dunia mengetahui bahwa Yesus diutus oleh Bapa?
Oleh iman, apakah yang ada di dalam tubuh seorang beriman itu?
Apa bukti bahwa Allah mengasihi seseorang?
Saudara, menjelang hari penyaliban, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya.
Ia mendoakan murid-murid-Nya, dan juga berdoa bagi semua orang yang akan mendengarkan pemberitaan Injil kebenaran.
Yesus berdoa agar para murid hidup dalam kesatuan, sehingga kesatuan antara Bapa, Yesus, dan para murid nyata sebagai satu kesatuan.
Dengan demikian, dunia akan mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias yang diutus bagi dunia ini.
Yesus berdoa agar para murid, di mana pun mereka berada, hidup dalam persekutuan dengan Yesus dan Bapa.
Melalui persekutuan itu, mereka dapat menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias yang diutus oleh Bapa, yang telah dijanjikan sejak zaman Adam masih berada di Taman Eden, sebelum manusia diusir oleh Tuhan Allah dari taman itu.
Kejadian 3:15“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”
Telah dinubuatkan bahwa akan terjadi peperangan antara keturunan iblis dan keturunan perempuan, yaitu Yesus Kristus.
Oleh karena itu, Yesus datang untuk menyatakan firman Tuhan Allah, bahwa akan datang seorang keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala ular tua. Inilah misi Yesus datang ke dunia ini.
Yesus datang untuk menggenapi janji Bapa-Nya dan menyatakan kasih Bapa kepada dunia.
Tuhan Allah rela mengorbankan Putra Tunggal-Nya sebagai korban penghapus dosa dunia.
Agar seluruh rencana ini digenapi, Yesus berdoa sebelum melaksanakan tugas yang Bapa kehendaki Ia selesaikan, sebagai Anak Domba Allah yang akan disembelih sebagai korban penghapus dosa dunia.
Yesus mendoakan murid-murid-Nya, mendoakan orang-orang yang akan memberitakan Kabar Baik, yaitu Injil keselamatan dan anugerah Bapa.
Ia juga berdoa bagi semua orang yang percaya kepada Injil Kerajaan, agar di mana pun mereka berada, mereka bersatu menjadi satu tubuh Kristus, sebuah komunitas Kristen yang saling mengasihi.
Dengan demikian, dunia mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Bapa dan bahwa Yesus adalah Utusan Allah Bapa.
Melalui doa-doa-Nya, Yesus ingin menyatakan bahwa Ia bersatu dengan Bapa dalam seluruh karya dan pelayanan-Nya.
Yesus menunjukkan bahwa Ia dan Bapa berada dalam persekutuan yang kekal, sebagaimana sejak awal telah dituliskan oleh Yohanes:
Yohanes 1:1 “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Tuhan, Firman dan Roh Kudus, bersama-sama dalam menciptakan semesta ini.
Yohanes 1:3“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Yohanes 5:19“Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”
Dan Anak, yaitu Yesus Kristus, adalah utusan Bapa untuk menyatakan kasih-Nya kepada dunia ini.
Yohanes 3:16–17“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”
Dalam rangka penyelamatan dunia ini, terjadilah sebuah tragedi yang luar biasa, yaitu saat Yesus dan Bapa mengalami keterpisahan.
Dari kekekalan sampai kekekalan mereka senantiasa bersatu, namun peristiwa itu terjadi ketika Yesus menaati kehendak Bapa dan menggenapi rencana Bapa.
Di atas kayu salib, Yesus ditinggalkan oleh Bapa-Nya.
Markus 15:34“Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Saudara, dapatkah engkau menyadari betapa besar kasih Bapa terhadap dirimu?
Betapa besar pula kasih Bapa terhadap orang-orang di sekitarmu?
Tuhan Allah, Bapa kita, rela meninggalkan Anak-Nya dalam keadaan sekarat di atas kayu salib demi menyelamatkan kita.
Yesus adalah 100% manusia dan 100% ilahi, Ia adalah Allah.
Namun, dalam ketaatan-Nya sebagai utusan, Ia berdoa kepada Bapa-Nya. Rasul Paulus menuliskan kebenaran ini dalam:
Filipi 2:5-11“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”
Dalam rangka melaksanakan tugas, inilah Yesus berdoa kepada Bapa-Nya.
Di dalam persekutuan tersebut, Yesus memperoleh kekuatan untuk menjalankan tugas-Nya. Penulis Alkitab menuliskan:
Markus 14:32-36“Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku berdoa.” Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.” Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya. Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”
Kita dapat melihat bahwa terdapat perbedaan kehendak antara Yesus Kristus dan Bapa-Nya.
Namun, kita juga melihat bagaimana Yesus sebagai Hamba Allah taat untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Berapa kali kita tidak menaati perintah Yesus, dan apa yang saudara alami ketika tidak taat itu?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dilakukan Nabi Elisa ketika ia tiba di rumah perempuan Sunem?
Apa yang dilakukan Nabi Elisa terhadap mayat anak perempuan Sunem itu?
Tindakan apa yang dilakukan Nabi Elisa sehingga anak itu bersin sampai tujuh kali?
Apa yang dilakukan perempuan Sunem itu ketika ia mengetahui bahwa anaknya hidup kembali?
Saudara, kisah perempuan Sunem ini merupakan pelajaran yang dapat kita renungkan dengan seksama.
Ada saat-saat dalam hidup ketika segala usaha manusia berhenti.
Harapan memudar, logika tak lagi memberi jawaban, dan yang tersisa hanyalah keheningan yang menyakitkan.
Itulah yang dialami perempuan Sunem ketika anaknya meninggal.
Namun, kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa kebangkitan selalu dimulai dari ruang doa.
Ruang doa adalah tempat penyerahan total
“Sesudah masuk, ditutupnyalah pintu, lalu berdoa kepada Tuhan.” Elisa tidak langsung bertindak di hadapan banyak orang. Ia menutup pintu, memisahkan diri dari suara-suara di sekitarnya, dan membawa persoalan itu hanya kepada Tuhan. Doa bukan sekadar rangkaian kata-kata, melainkan sikap penyerahan total, pengakuan bahwa kuasa hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Sering kali kita menginginkan solusi yang cepat, tetapi Tuhan rindu agar kita terlebih dahulu masuk ke ruang doa. Di sanalah iman kita diuji dan ketergantungan kita dimurnikan.
Doa yang tekun mengundang kuasa Allah bekerja
“Maka naiklah ia ke atas pembaringan itu, lalu membaringkan dirinya di atas anak itu.” Tindakan Elisa menunjukkan doa yang sungguh-sungguh dan tekun. Ia tidak menyerah ketika hasilnya belum terlihat. Bahkan saat belum ada tanda-tanda kehidupan, ia tetap melangkah dalam iman. Doa yang tekun bukan berarti memaksa Tuhan, melainkan menyatakan kepercayaan penuh bahwa Tuhan sanggup bekerja, sekalipun situasi tampak mustahil.
Kehidupan dipulihkan oleh kuasa Allah
“Anak itu bersin sampai tujuh kali, lalu membuka matanya.” Kebangkitan itu nyata yang mati menjadi hidup kembali. Tuhan bukan hanya Allah yang menghibur, tetapi Allah yang memulihkan kehidupan. Kuasa-Nya sanggup menghidupkan kembali apa yang kita anggap telah berakhir: iman yang mati, pengharapan yang pudar, bahkan panggilan hidup yang terkubur.
Kebangkitan membawa penyembahan dan syukur
“Perempuan itu masuk lalu sujud di depan kaki Elisa sampai ke tanah.” Respon perempuan Sunem itu bukan bersorak-sorai, melainkan penyembahan. Ketika Tuhan membangkitkan kehidupan, respon yang benar adalah kerendahan hati dan ucapan syukur. Doa yang dijawab seharusnya membawa kita semakin dekat kepada Tuhan, bukan menjauh dari-Nya.
Masuklah ke ruang doa
Renungan ini mengingatkan kita bahwa ruang doa bukanlah tempat pelarian, melainkan tempat kebangkitan. Mungkin hari ini ada bagian dalam hidup kita yang terasa mati relasi, pelayanan, iman, atau pengharapan.
Jangan berhenti dalam keputusasaan, masuklah ke ruang doa, tutup pintu, dan datanglah kepada Tuhan.
Sebab kehidupan yang sejati selalu bangkit dari ruang doa.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak anak-anak Tuhan sangat sulit keluar dari berbagai masalah dalam kehidupan mereka?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa persoalan yang dialami janda seorang nabi sehingga ia mengadu kepada nabi Elisa?
Apa jawaban nabi Elisa kepada janda itu?
Apa perintah yang kemudian disampaikan oleh nabi Elisa kepada janda itu?
Mujizat apa yang terjadi dalam keluarga janda itu?
Saudara, ketika kesulitan timbul dalam kehidupan seseorang, maka ia akan bertindak sesuai dengan apa yang diyakininya dan sesuai dengan kebiasaan yang telah ia miliki.
Saat seseorang menghadapi pencobaan seperti kesulitan, kesakitan, keraguan, dan sebagainya, tindakannya akan mencerminkan keyakinannya, pengenalannya akan Tuhan, serta pemahamannya.
Rasul Paulus pernah menyatakan bahwa:
Roma 8:28“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Jadi, apapun yang terjadi dalam hidup kita, semuanya berlangsung sepengetahuan Allah, Bapa kita.
Hal ini juga dengan jelas disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Tuhan di Korintus:
1 Korintus 10:13“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
Dari ayat-ayat firman Tuhan di atas, kita dapat belajar juga dari kisah janda seorang nabi itu bahwa ketika anaknya diambil sebagai jaminan hutang dan dijadikan budak, ia segera mendatangi Nabi Elisa.
Janda tersebut meminta agar nabi itu melakukan sesuatu supaya ia memperoleh pertolongan dan terbebas dari persoalan hutangnya.
Janda itu sangat berharap kepada Nabi Elisa agar ia memperoleh pertolongan.
Lalu Elisa bertanya, “Apakah yang kau miliki di rumah?” Janda itu menjawab, “Hambamu ini tidak mempunyai apa-apa di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.”
Nabi itu berkata, “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari para tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit.
Sesudah itu masuklah dan tutuplah pintu setelah engkau dan anak-anakmu masuk.
Tuangkanlah minyak itu ke dalam segala bejana; dan apabila ada yang penuh, angkatlah.”
Maka pergilah janda itu dari Elisa. Ia menutup pintu setelah ia dan anak-anaknya masuk.
Anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, dan ia terus menuang minyak.
Ketika semua bejana telah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya, “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi.”
Tetapi anaknya menjawab, “Tidak ada lagi bejana.”
Lalu berhentilah minyak itu mengalir.
Kemudian pergilah janda itu kepada Nabi Elisa untuk memberitahukan hal tersebut.
Nabi itu berkata, “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari sisanya, engkau serta anak-anakmu.”
Mujizat terjadi karena janda itu mau menaati perintah Nabi Elisa.
Demikian pula, ketika orang percaya mau menaati perintah-perintah Tuhan yang tertulis dalam Alkitab dan berdoa kepada Bapa dalam nama Yesus Kristus dengan iman, maka terobosan dapat terjadi.
Saat kita berdoa dengan iman serta menaati dan melakukan perintah Tuhan, mujizat sering dinyatakan.
Hingga saat ini, mujizat masih terjadi ketika seseorang berharap dan mempercayai firman Allah.
Tuhan melakukan terobosan sesuai dengan iman orang yang percaya dan berdoa.
Suatu janji Tuhan dalam Kitab:
Ibrani 4:16“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”
Saudara, mujizat masih berlangsung.
Ketika seseorang percaya dan berharap kepada pertolongan Tuhan, mujizat sebagai terobosan masih terjadi untuk menghadapi berbagai persoalan hidup kita saat ini.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak orang mencemooh ketika seseorang berharap terjadinya mujizat sebagai terobosan untuk mengatasi persoalan dalam hidupnya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang tidak dapat dikerjakan oleh Anak?
Apa bukti bahwa Bapa mengasihi Anak?
Siapa yang dihidupkan oleh Anak?
Siapa yang diberi kuasa untuk menghakimi, dan mengapa?
Dapatkah seseorang yang tidak mengasihi Anak dapat dikasihi oleh Bapa?
Saudara, Tuhan Yesus selalu menaati Bapa-Nya.
Ia bersaksi bahwa apapun yang Ia lakukan, semuanya karena Ia melihat Bapa mengerjakannya terlebih dahulu.
Tidak satu pun yang Ia kerjakan berdasarkan keinginan pribadi-Nya, melainkan semua yang Ia kerjakan adalah kehendak Bapa.
Oleh karena itu, Yesus pernah berkata, dan hal ini dituliskan oleh Rasul Yohanes:
Yohanes 14:21“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”
Saudara, dalam firman ini dengan jelas dinyatakan bahwa seseorang yang menaati Yesus berarti ia mengasihi Yesus.
Orang yang menaati Yesus akan dikasihi oleh Allah Bapa, dan Yesus sendiri akan mengasihi orang itu serta menyatakan diri-Nya kepadanya.
Dengan demikian, orang tersebut akan memiliki kuasa Yesus Kristus.
Saudara, dapatkah kita menaati semua perintah Yesus?
Yesus pernah berkata bahwa Roh Kudus adalah pernyataan dari Yesus Kristus.
Yohanes 14:15-17“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”
Saudara, Yesus sangat mengenal kita satu per satu.
Oleh karena itu, Ia memilih kita karena sangat mengasihi kita.
Yesus Kristus mengutus Roh Kudus sebagai Penolong dan Penghibur yang akan mengajar kita, mengingatkan kita akan firman yang telah kita pelajari dan pahami, serta menuntun kita untuk melakukan apa yang Ia perintahkan.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa ada orang percaya yang mengaku sebagai anak Tuhan, tetapi tidak mau menaati perintah Tuhan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Larangan apa yang harus diingat saat kita berdoa?
Bagaimanakah cara orang munafik berdoa?
Mengapa kita harus mengunci kamar saat berdoa?
Mengapa kita dilarang berdoa dengan bertele-tele?
Saudara, Yesus melarang murid-murid-Nya berdoa seperti orang munafik yang berdoa supaya dilihat orang.
Tuhan mengatakan bahwa mereka telah menerima upah dari doa mereka, yaitu pujian dari manusia.
Oleh karena itu, Tuhan menganjurkan agar kita berdoa dengan cara yang benar: masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah.
Sangat penting bagi kita untuk memiliki tempat khusus untuk berdoa, agar kita dapat berdoa secara pribadi dan sungguh-sungguh tanpa dilihat oleh orang lain, termasuk orang di luar keluarga serumah.
Rasul Paulus mengajarkan kepada kita untuk melanjutkan ajaran Yesus Kristus tentang doa:
Roma 8:26“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”
Ketika kita berdoa di dalam kamar dan berdoa dengan bahasa lidah atau bahasa Roh, maka kita sedang berdoa untuk membangun diri sendiri atau berdoa bagi orang-orang kudus.
Dalam doa seperti itu, Tuhan Allah Bapa kita mengerti apa yang kita doakan, dan Bapa akan mengabulkan doa kita melalui pertolongan Roh Kudus.
Dalam doa, Tuhan Yesus mengajarkan agar kita tidak berdoa dengan bertele-tele, tidak berdoa terlalu panjang, apalagi dengan banyak kata hanya untuk meminta atau memohon-mohon.
Berdoa sendirian di kamar doa merupakan bentuk doa pribadi yang konsisten dan teratur.
Doa ini dapat dilakukan setiap pagi, malam, siang, atau sore hari, namun sebaiknya dilakukan secara teratur setiap hari.
Matius 6:6-8“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.”
Oleh karena kita memiliki Bapa yang sangat baik, dan Dia telah menyediakan segala kebutuhan kita di sorga, maka kita diajarkan doa Bapa Kami.
Melalui doa ini, kita mengerti bahwa Bapa menyediakan semua kebutuhan kita di sorga.
Efesus 1:3“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.”
Sebagai Bapa yang baik dan Gembala yang baik, Dia telah menyediakan segala keperluan kita dalam bentuk rohani.
Di sorga sudah tersedia semua kebutuhan kita.
Oleh karena itu, kita tidak perlu khawatir, bimbang, ataupun takut.
Percayalah bahwa Dia adalah Bapa yang baik dan Gembala yang baik.
Oleh karena itu, sangat perlu bagi kita untuk mengenal Tuhan, agar kita tidak hidup dalam ketakutan.
Sebab kita memiliki Bapa di sorga yang sangat rindu melihat kita berdoa di tempat yang tersembunyi.
Haleluya, puji Tuhan, Amin.
Mungkinkah seseorang yang tidak mengenal Bapa tetap mau berdoa kepada Bapa di sorga?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Dimanakah peristiwa kejadian angin rebut itu terjadi?
Mengapa para murid Yesus panik ketika peristiwa angin ribut terjadi?
Apa yang Tuhan katakan kepada murid-muridNya, setelah Ia meredakan angin ribut itu?
Peristiwa ini terjadi setelah Yesus mengajar kepada orang banyak di tepi danau Galilea di daerah Kapernaum.
Lalu mereka menyebrang dengan tujuan ke daerah Gerasa (juga dikenal sebagai Gadara), yang terletak di pantai timur Danau Galilea.
Adapun Danau tersebut merupakan sebuah perairan yang indah, yang berada sekitar 209,6m atau 686 kaki di bawah permukaan laut.
Lokasinya yang unik, dikelilingi oleh perbukitan, membuatnya cukup rentan terhadap badai yang tiba-tiba datang.
Sesuai dengan karakteristik danau Galilea tersebut yang mana cukup rentan terjadi badai.
Tidak disangka dalam perjalanan mereka menyebrang, badai besar terjadi dengan tiba-tiba, yang membuat perahu mereka hampir tenggelam.
Jika dilihat dari latar belakang beberapa murid Yesus, ada dari mereka yang berprofesi sebagai nelayan yang tentunya sudah berpengalaman untuk mengatasi badai di tengah danau maupun lautan, tetapi entah kenapa, ketika badai terjadi, sepertinya para murid yang berpengalaman itu panik luar biasa, seolah-olah pengalaman yang dimiliki mereka selama ini tidak ada gunanya.
Bahkan dengan terpaksa mereka membangunkan Yesus yang sedang tidur di buritan dengan tujuan supaya Yesus dapat menolong mereka.
Dengan peristiwa angin ribut diatas, terkadang mencerminkan diri kita sendiri.
Apa buktinya? dalam kita mengiring Tuhan, terkadang secara tiba-tiba masalah terjadi bertubi-tubi dalam hidup kita, belum selesai satu masalah, sudah timbul masalah lain.
Sepertinya masalah tidak pernah berhenti didalam hidup kita.
Memang Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa ketika kita ikut Tuhan, hidup kita pasti tenang dan baik-baik saja, hidup kita penuh dengan kedamaian tanpa masalah, dan Tuhan juga tidak pernah berjanji bahwa hidup yang akan kita jalani sepanjang tahun 2026 ini pasti selalu baik dan mulus tanpa ada hambatan.
Jika kita mundur kebelakang, setiap masalah yang pernah terjadi atas hidup kita, akhirnya Tuhan menolong, itu artinya kita memiliki cukup pengalaman untuk menghadapi masalah yaitu Tuhan menyertai hidup kita.
Tetapi kenyataanya ketika ada masalah baru yang timbul, seolah-olah pengalaman kita bersama Tuhan sirna begitu saja. Ingat Kristus ada di dalam perahu!, Realita kuasaNya bersama kita dalam badai. Dia perlu dibangunkan.
Jangan biarkan Dia tertidur di buritan. Melalui pembacaan Alkitab dan menyelidiki Firman Tuhan, berdoa serta membangun hubungan pribadi yang intim bersama Dia, maka Iman kita semakin bertambah dan kita dapat mengingatkan diri kita bahwa Yesus ada di perahu bersama kita.
Bahwa Dia peduli kepada kita semua. Dan tidak ingin kita binasa.
Martin Luther pernah berkata “Jika kamu ingin menjadi seorang Kristen, kamu pasti akan mengalami cobaan. Namun, jika kamu berseru kepada Kristus di saat membutuhkan pertolongan, Dia akan mendengarmu, menyelamatkanmu, dan menjadikan cobaanmu menghasilkan buah yang diberkati dan kemuliaan yang besar. Untuk saat ini, segala kebutuhan terpenuhi; dan kemudian, hidup kekal akan menyusul.”
Dalam pembacaan renungan kita diatas, makna apa yang kita dapat ambil dan pelajari? Diskusikan bersama kelompok PA dan dalam kelompok anggota persekutuan kita.