Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Ketika Yesus tiba di Betania, berapa harikah Lazarus telah berbaring di dalam kubur?
Hal apa yang dikatakan Yesus kepada Marta?
Apa yang dirasakan oleh Yesus dan apa respon Yesus ketika melihat Maria menangis?
Apa yang Yesus lakukan sehingga Lazarus bangkit?
Saudara-saudara..
Marta dan Maria mengalami kesedihan yang sangat dalam atas kematian Lazarus.
Yesus datang terlambat (setelah Lazarus 4 hari meninggal) dan Maria berkata: Tuhan, jikalau Engkau ada di sini, saudaraku tidak akan mati”.
Seringkali kita juga bertanya kepada Tuhan Yesus atas banyak hal dalam kehidupan kita.
Kenapa kita gagal terus, kapan hidupku pulih, aku mau mengalami terobosan dalam masalahku, dan pertanyaan lainnya yang membutuhkan jawaban sesegera mungkin dari Tuhan.
Kita menantikan kebangkitan atas banyak hal ini dalam kehidupan kita.
Kematian Lazarus diizinkan dengan satu tujuan menyatakan kemuliaan Allah.
Berulang kali kita melihat bagaimana mujizat Tuhan Yesus terjadi untuk menggenapi apa yang Yesus sampaikan tentang dirinya, kalau Yesus memberi kesaksian bahwa Ia dapat mengaruniakan kehidupan yang baru dan yang rohani kepada manusia.
Jaminan mana lagi yang lebih jelas selain dibangkitkannya Lazarus dari antara orang mati setelah empat hari dikubur?
Marta mengakui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah.. tetapi ragu akan kebangkitan Lazarus saat itu.
Dan atas keraguan Marta, Yesus mendeklarasikan dirinya dengan berkata: Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup, walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya.
Dengan demikian kita dapat mempercayai kata-kata Yesus.
Baik murid-murid ataupun kedua saudara perempuan Lazarus itu tidak dapat mengerti perkataan Yesus pada saat itu.
Tetapi hasil akhirnya setelah Lazarus dibangkitkan, kepercayaan mereka dibaharui.
Kematian fisik bagi orang yang percaya kepada Yesus bukanlah akhir dari segalanya, melainkan kuasa untuk memberikan hidup yang kekal kepada manusia karena Yesus mengatakannya.
Keraguan kita digantikan dengan kepercayaan bahwa kebangkitan kita menjadi nyata dalam Kristus.
Iman kita dalam Yesus juga semakin teguh bahwa dalam hidup kita di bumi ini, Yesus sanggup mengubah semua hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Supaya nama Tuhan dimuliakan dalam hidup kita.
Mari terus alami realita kehadiran-Nya yang membangkitkan kuasa-Nya bekerja dalam hidup kita, dan bukan hanya untuk kita saja, tetapi juga kebangkitan untuk dunia ini.
Tuhan memberkati.
Berikan kesaksian kepada kelompok PA saudara, bagian hidup mana yang Yesus bangkitkan ketika Saudara mengalami realita kehadiran-Nya dalam hidup Saudara?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapa yang digotong oleh 4 orang kepada Yesus?
Apa yang dilakukan oleh 4 orang ini ketika tidak dapat membawanya kepada Yesus?
Apa yang Yesus katakan ketika melihat iman mereka?
Hal apakah yang terjadi kemudian kepada orang lumpuh tersebut?
Saudara-saudara..
Ketika kita mendengar orang terkasih kita dinyatakan sakit, apalagi diagnosanya menyatakan keluarga kita mengalami sakit yang kritis, respon alamiah kita adalah: sedih, menangis, dan berpikir hal apakah yang akan kita usahakan untuk memberikan yang terbaik.
Rumah sakit mana yang terbaik, dokter mana yang terbaik, pengobatan terbaik apa yang bisa dilakukan bagi keluarga kita sehingga keluarga kita dapat mengalami kesembuhan bahkan mujizat sembuh total.
Kisah Matius 2 ini menceritakan seorang lumpuh yang dibawa oleh empat sahabatnya dengan cara membongkar atap dikarenakan tidak ada lagi tempat karena banyak orang berkerumun.
Mereka menunjukkan iman mereka dengan tekad yang luar biasa.
Disinilah Yesus menyatakan pribadi-Nya, melihat iman keempat sahabat orang lumpuh itu.
Yesus menyatakan kuasa-Nya dengan mengampuni dosa dan memberikan kesembuhan bagi orang yang lumpuh itu.
Sehingga mukjizat yang dialami orang lumpuh ini bukan hanya secara jasmani tetapi juga secara rohani.
Yesus Kristus adalah penggenapan janji Allah bagi dunia ini.
Kehadiran-Nya dinanti-nantikan oleh dunia ini untuk dinyatakan.
Kehadiran-Nya memberikan pengharapan yang pasti akan kasih-Nya dan kuasa-Nya bagi seluruh umat manusia.
Setiap orang percaya adalah anak-anak Allah, sahabat Yesus.
“Sebab dengan sangat rindu semua makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan”.
Realita kehadiran Yesus dalam hidup kita yang akan menuntun kita untuk kita bisa menyatakan berkat jasmani dan berkat rohani bagi banyak orang. Kehidupan kita di dalam Yesus yang akan terus mengalirkan kehidupan Yesus.
Belas kasihan akan jiwa-jiwa yang membutuhkan kasih Yesus membuat kita tidak akan pernah diam tetapi bertindak dalam iman.
Mari terus menerus mengalami realita kehadiran Kristus dalam hidup kita yang membawa mukjizat kesembuhan.
Mukjizat yang menyembuhkan adalah tanda kerajaan Allah dinyatakan di tengah-tengah kita.
Bagian kita adalah terus terkoneksi dengan Roh Kudus sehingga kuasa mukjizat-Nya dinyatakan dimanapun kita berada.
Tuhan Memberkati.
Bagaimana respon kita ketika mendengar ada orang yang mengalami kebutuhan kesembuhan? Apa tindakan iman kita?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Air yang mengalir menuju wilayah Timur, dan menurun ke Araba–Yordan dan bermuara di laut asin, mengandung apa? Dan menjadi apakah air ini?
Dampak apa dari sungai yang mengalir itu?
Apa dampak bagi oleh penangkap ikan di sepanjang En-Gedi sampai En-Eglaim? Dan daerah itu menjadi apa?
Hal apa yang terjadi dengan rawa-rawa dan paya-paya?
Apakah yang tumbuh pada kedua tepi sungai itu? Berfungsi sebagai apakah buah dan daun pada tumbuhan itu?
Saudara-Saudara..
Penglihatan Nabi Yehezkiel dalam Yehezkiel 47 dimulai dengan air yang mengalir dari ambang pintu bait suci Allah ke arah timur.
Air itu menjadi semakin dalam, mulai dari setinggi pergelangan kaki hingga menjadi sungai yang tidak dapat diseberangi.
Sungai ini mengalir, membuat airnya tawar dan penuh dengan kehidupan.
Di sepanjang tepi sungai itu tumbuh pohon-pohon yang buahnya dapat dimakan dan daun-daunnya dapat menyembuhkan penyakit.
Ya, Allah punya banyak cara untuk membawa umat-Nya untuk mengalami kasih dan kuasa-Nya sehingga setiap umat-Nya mengalami realita kehadiran-Nya.
Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran kehidupan.
Aliran kehidupan Tuhan yang dilambangkan melalui air yang mengalir dari bait suci melambangkan kasih karunia-Nya dan peran Roh Kudus-Nya yang membawa kuasa keselamatan dalam kehidupan kita sebagai orang yang percaya.
Tidak hanya itu, kita dapat menaklukkan kedagingan kita, kita pulih, kita sembuh, mengalami terobosan dan dapat menghasilkan buah-buah rohani.
Buah-buah rohani inilah yang dilihat dan dirasakan banyak orang menjadi kesaksian yang hidup sehingga membawa kehidupan rohani bagi orang lain.
Di dalam Lukas 19:1-6, dalam Kisah Zakheus berjumpa dengan Yesus.
Inisiatif Yesus menumpang di rumah Zakheus, membawa terobosan dalam kehidupan Zakheus.
Zakheus sebagai kepala pemungut cukai yang dibenci dan dianggap berdosa mengalami pertobatan sejati.
Zakheus mengembalikan uang hasil pemerasan 4x lipat dan memberikan separuh hartanya kepada orang miskin.
Aliran kehidupan Yesus yang dialami oleh Zakheus menghasilkan respons pertobatan dan perubahan hidup yang radikal.
Aliran kehidupan Yesus yang kita dan Zakheus alami ini juga tersedia bagi dunia.
Realita kehadiran Tuhan dalam hidup kita akan membawa keselamatan yang memulihkan yang rusak, menyembuhkan yang sakit, memberikan pengharapan, membawa terobosan itulah yang kita alirkan bagi dunia yang saat ini sedang membutuhkannya; di sekolah, kampus, keluarga, tetangga kita.
Sehingga kemuliaan kuasa-Nya dinyatakan di tengah dunia ini. Mari memberikan hidup lebih lagi kepada Tuhan.
Tuhan memberkati.
Ceritakan kepada kelompok PA saudara, apa dampak dari aliran kehidupan Tuhan dalam hidup saudara yang dapat dirasakan sekitarmu?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Yesaya 58:12.
Apakah yang kita alami ketika kita berpuasa dengan pemahaman bukan hanya untuk menahan lapar tetapi mau menyerahkan kepada orang lapar yang kita inginkan juga ingin memuaskan hati orang yang tertindas?
Dan apakah yang Tuhan lakukan bagi kita ketika kita berpuasa dengan cara yang benar?
Apakah yang akan kita lakukan ketika melakukan puasa dengan cara yang benar?
Tuhan menegur bangsa Israel yang melakukan ritual agama tetapi dengan cara yang salah dalam hal berpuasa sehingga mereka tidak mengalami terobosan bahkan mereka selalu mengeluh kepada Tuhan.
“Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”(Yesaya 58:6-7).
Dan ketika mereka melakukan ritual agama dengan cara yang benar maka mereka akan mengalami realita kehadiran Tuhan dan dipulihkan dari segala kekeringan secara rohani dan ketiadaan kasih.
“Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera;
kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku!”(Yesaya 58:8-9a).
”TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.”(Yesaya 58:11).
Ketika kita membangun ritual agama atau kerohanian melalui doa dan puasa yang benar kita bukan hanya mengalami realita Kristus dan encounter dengan-Nya tetapi kita dapat membangun reruntuhan berabad-abad dengan cara membawa realita Kristus kepada dunia ini, baik di kantor, di rumah, di sekolah dan di kampus serta dimana pun Tuhan menempatkan kita.
Kita membawa sorga di bumi untuk menggenapi doa Yesus yaitu: ”Datanglah kerajaan-Mu dan jadilah kehendak-Mu di bumi”, sehingga bumi ini penuh kemuliaan Tuhan, sehingga tidak ada lagi pembullyan di sekolah, kekerasan dalam rumah tangga, pembunuhan dan bunuh diri, LGBT, kemaksiatan, korupsi dan pungli di kota dimana kita ada.
”Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”(Yesaya 58:12).
Kita membawa kehidupan ilahi di segala sendi-sendi kehidupan masyarakat sehingga bumi ini penuh dengan pengenalan akan Tuhan.
”Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut.”(Habakuk 2:14).
“Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus,
sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.”(Yesaya 11:9).
Kita ditetapkan oleh Allah untuk membangun kembali bumi ini dan komunitas dimana kita ada agar penuh dengan pengenalan akan Tuhan.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana kehidupan doa dan puasa yang saudara bangun dapat membawa terobosan dan membangun reruntuhan yang berabad-abad.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Lukas 19:8.
Orang-orang yang bagaimanakah yang dicari oleh Tuhan Yesus dan apakah tujuannya?
Siapakah yang diterima oleh Zakheus untuk menunjukkan bahwa dia mau meninggalkan dosa-dosanya?
Apakah komitmen dari Zakheus untuk menunjukkan bahwa dia telah bertobat dan mengalami Kristus?
Tuhan ingin agar kita mengalami pertobatan yang sejati sehingga mengalami perubahan hidup yang sangat signifikan bukan tobat dan kumat, artinya bertobat dan tetap melakukan dosa dan tidak memiliki komitmen yang kuat untuk mengikut Yesus.
Itulah sebabnya kita tidak hanya bertobat dengan cara menerima Yesus sebagai Tuhan tetapi mau berubah dan memberi hidup sepenuhnya kepada Tuhan.
Beberapa hal yang harus kita pahami diantaranya:
Kita harus mati terhadap diri sendiri dan kita membiarkan Kristus yang hidup dalam diri kita, kita mati terhadap semua kehidupan dunia ini dan kita sepenuhnya dimiliki oleh Kristus. “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”(Kolose 3:3-4).
Mati bersama Kristus itu dinyatakan dengan cara mempersembahkan tubuh kepada Tuhan dan mau diubahkan oleh Firman Tuhan dalam hal pola pikir kita sehingga tidak seperti dunia ini. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”(Roma 12:1-2).
Dengan fokus sepenuhnya kepada Kristus maka kita akan mengalami realita Kristus.
“Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.”(I Yohanes 3:2).
Pengalaman dengan realita Kristus membuat kita mengalami pertobatan yang sejati, pikiran kita, tujuan hidup diarahkan kepada Yesus sehingga kita menyerahkan seluruh kehidupan kita kepada Kristus.
”Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.”(Lukas 19:8-9).
Dari pengalaman perjumpaan dengan Yesus membuat kita mengalami buah-buah kehidupan baru dari hasil pertobatan itu sampai kita mengalami keserupaan dan kepenuhan Kristus, memiliki pikiran, tujuan, perasaan dan kehendak Kristus.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana buah pertobatan dalam hidup saudara karena mengalami perjumpaan dan realita Kristus
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Filipi 3:8.
Hal apakah yang menjadi tujuan dari Rasul Paulus sehingga ia berani melepaskan segala sesuatu dan menganggapnya sebagai sampah?
Hal-hal apakah yang dikehendaki oleh Rasul Paulus yang dimiliki dan yang dialami oleh Kristus?
Apakah yang dilakukan oleh Rasul Paulus agar dia dapat menangkap dan mengalami realita Kristus?
Tuhan ingin agar kita mengalami keserupaan dengan Kristus serta mengalami kepenuhan Kristus sehingga kita senantiasa dapat menikmati realita Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Namun kadang kali kita mengalami rintangan untuk mengalaminya, baik tantangan dari si jahat juga tantangan dari dalam diri kita.
Oleh sebab itu kita harus menanggalkan segala penghalang tersebut.
Hal-hal yang harus kita tanggalkan diantaranya:
Kesenangan dunia yang menyebabkan kita merasa diuntungkan oleh dunia ini sehingga kerinduan dan cinta akan Tuhan menjadi berkurang. ”Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”(I Yohanes 2:15-17).
Ketakutan dan trauma-trauma merasa gagal dan tidak berdaya sehingga suam-suam kuku dan cenderung kehilangan kasih yang mula-mula yang membuat hilangnya rasa antusias dan cenderung pasif. ”Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”(I Yohanes 4:18). ”Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”(II Timotius 1:6-7).
Dengan menanggalkan setiap penghalang-penghalang yang ada maka Tuhan membangkitkan di dalam diri kita suatu kerinduan untuk mengenal Dia dengan benar dimana kita semakin bersatu dengan Kristus dengan demikian kita memiliki semangat untuk mengenal Dia.
”Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” (Filipi 3:10-11).
Selain memiliki komitmen dan kerinduan untuk mengenal Kristus dan kebersatuan dengan Kristus, kita pun memiliki roh yang antusias untuk mencapai pengenalan akan Tuhan secara sempurna sehingga senantiasa mengalami realita Kristus.
”Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”(Filipi 3:13-14).
Oleh karena itu marilah kita menanggalkan setiap rintangan dan halangan yang membuat kita mengalami karam dan kendor dalam mengalami realita Kristus tetapi terus fokus dan membangun semangat untuk mengenal Kristus dan mengalami kepenuhan Kristus sampai kita senantiasa mengalami realita Kristus.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara menanggalkan setiap penghalang untuk senantiasa mengalami realita Kristus.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Amsal 2:4.
Hal-hal apakah yang harus kita lakukan agar menunjukkan sikap yang membutuhkan Firman Tuhan?
Seperti apakah sikap kita dalam hal mencari dan mengejar Firman Tuhan dan realita kehadiran-Nya?
Apakah yang kita alami jika menyimpan Firman Tuhan serta mengejarnya seperti mengejar harta terpendam?
Keselamatan yang kita peroleh dari Bapa adalah merupakan anugerah atau kasih karunia melalui Yesus Kristus namun kita perlu mengalami realita Kristus dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam rumah tangga, di sekolah, di kampus, dalam bisnis dan pekerjaan sehingga kita dibedakan oleh Allah dari bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan.
“Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.”(Maleakhi 3:17-18).
Untuk mengalami realita Kristus dalam kehidupan sehari-hari maka kita perlu membangun kerinduan yang besar untuk mengalaminya dengan cara seperti orang-orang yang mengejar harta terpendam dan mencari perak, terus menerus mencarinya dan menggalinya sehingga memperolehnya.
”Jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.”(Amsal 2:4-5).
Kesungguhan hati ini dibuktikan dengan keuletan, kegigihan, pantang menyerah dan berani menyingkirkan setiap penghalang atau rintangan dan senantiasa setia dan konsisten dalam melakukannya dan tidak pernah lalai serta tidak cepat merasa puas diri sebelum mengalami realita Kristus dan penggenapan janji-janji-Nya.
Di dalam setiap aktivitas rohani yang kita lakukan tetaplah kita kerjakan walaupun kita belum mengalami penggenapan janji-janji Tuhan.
Dalam berdoa, baik pagi, siang dan malam, dalam hal perenungan Firman Tuhan, dalam hal persekutuan dan hidup dalam komunitas, dalam pemuridan, dalam hal ibadah raya, dalam hal pelayanan, dalam hal pekerjaan dan studi maka kita harus tetap antusias dan semangat karena pada masanya kita akan menuai dan pencarian kita akan pengalaman realita Kristus dalam setiap aktivitas yang kita lakukan yaitu mengalami Kristus.
”Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”(I Korintus 15:58).
Kita harus menambahkan kerinduan hati kita untuk mengenal Tuhan serta mengalami realita Kristus sehingga kita menjadi berhasil.
”Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.”(II Petrus 1:8).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara hal-hal apakah yang perlu ditambahkan dalam diri saudara untuk semakin mengejar realita Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Mazmur 119:145.
Bagaimana sikap hati dari pemazmur untuk berpegang kepada kebenaran Firman Tuhan?
Kapankah waktu yang terbaik bagi pemazmur untuk bersekutu dengan kebenaran Firman Tuhan sebagai wujud kesungguhan hatinya kepada Tuhan?
Apakah yang dirasakan dan dialami pemazmur ketika dia membangun kesungguhan hati untuk bersekutu dengan Tuhan dan Firman-Nya?
Tuhan ingin mencari dan menemukan orang-orang yang bersungguh-sungguh hati untuk mengalami realita kehadiran Tuhan serta kuasa Firman Tuhan. Dan Tuhan akan melimpahkan keberadaan-Nya kepada kita.
“Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” (II Tawarikh 16:9a).
“Dan baru di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.” (Ulangan 4:29).
”Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN.”(Yeremia 29:12-14a).
Karena pemazmur menunjukkan kesungguhan hatinya untuk mencari dan mengalami realita Tuhan yang hidup dengan cara bersekutu dengan Firman Tuhan pada waktu pagi hari dan malam hari.
”Pagi-pagi buta aku bangun dan berteriak minta tolong; aku berharap kepada firman-Mu. Aku bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janji-Mu.”(Mazmur 119:147-148).
”Tuhan memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.”(Mazmur 42:8).
Maka pemazmur selalu mengalami realita Tuhan serta penyertaan Tuhan yang sangat luar biasa.
”Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” (Mazmur 23:5-6).
Oleh sebab itu marilah kita dengan sungguh-sungguh hati untuk mencari Tuhan sampai mengalami realita kehadiran-Nya sehingga kita selalu mengalami terobosan berapa pun harga yang harus kita bayar.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Yesus selama Ia ada di dunia ini, dimana Yesus pagi-pagi benar berdoa kepada Bapa dan bahwa Dia selalu berdoa semalaman.
Hal ini dilakukan-Nya untuk menunjukkan kesungguhan hati-Nya kepada Bapa.
”Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”(Markus 1:35).
”Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.”(Lukas 6:12).
Pada akhirnya kita dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang pernah dilakukan oleh Yesus bahkan lebih besar dari apa yang telah dikerjakan oleh Yesus.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana kesungguhan hati saudara dalam mencari Tuhan dari segi waktu maupun dari sikap hati yang merindukan Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
“Sumur” apa dalam hidupmu yang masih sering kamu datangi untuk mencari kepuasan, selain datang kepada Yesus?
Bagaimana pengalamanmu saat merasakan “mata air” dari Yesus memancar di dalam hatimu di tengah situasi kering?
Langkah praktis apa yang dapat kamu ambil minggu ini untuk lebih sering “meminta” air hidup kepada Yesus?
“tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:14).
Injil Yohanes sering menunjukkan Yesus yang hadir di tengah-tengah kebutuhan manusia yang paling personal dan tersembunyi.
Perjumpaan di sumur Yakub ini bukanlah kebetulan.
Saat perempuan itu datang pada tengah hari (biasanya waktu yang sepi karena penghindaran dari rasa malu),
Yesus sudah menunggu di sana.
Latar belakang ini mengajari kita bahwa Tuhan seringkali menemui kita justru di tempat dan waktu di mana kita merasa paling sendirian, lelah, atau terbebani oleh rutinitas yang kering.
Sumur mewakili segala upaya kita untuk memuaskan dahaga jiwa dengan hal-hal duniawi—hubungan, prestasi, pengakuan, atau kesenangan.
Di situlah Yesus berkata, “Berilah Aku minum.”
Ia memulai dengan mengakui kebutuhan kita, untuk kemudian mengungkapkan kebutuhan-Nya yang lebih besar: hati kita yang terbuka bagi-Nya.
Yesus selalu memulai dari titik kehausan kita. Ia tidak menghakimi perempuan itu terlebih dahulu, tetapi meminta bantuan.
Dengan demikian, Ia membuka ruang untuk percakapan yang mengubah hidup.
“Air hidup” yang Ia tawarkan adalah karunia yang diberikan dengan cuma-cuma (ayat 10).
Karunia ini adalah diri-Nya sendiri—kehadiran Roh Kudus yang memulihkan, memuaskan, dan memberi makna.
Kita sering kali seperti perempuan Samaria itu: sibuk mencari air dari sumur-sumur dunia (kesuksesan, harta, hubungan) yang tak pernah benar-benar memuaskan.
Yesus datang dan berkata, “Jika engkau tahu tentang karunia Allah… tentulah engkau telah meminta kepada-Nya.”
Prinsip ini mengingatkan kita bahwa solusi untuk kehausan terdalam kita bukanlah berusaha lebih keras, tetapi meminta dan menerima karunia yang sudah disediakan.
Janji Yesus: air yang Ia berikan akan menjadi “mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (ayat 14).
Ini menggambarkan sebuah realitas rohani yang dinamis.
Kepuasan dari Tuhan bukan seperti air yang kita timba dari sumur (yang akan habis), tetapi seperti mata air yang mengalir dari dalam diri kita sendiri.
Artinya, saat kita percaya kepada Yesus, Roh Kudus diam di dalam kita dan menjadi sumber pengharapan, sukacita, kekuatan, dan damai sejahtera yang tak pernah kering.
Sumber ini aktif dan terus memancar, bahkan di tengah keterbatasan, kegagalan, atau musim kering hidup kita.
Hidup kita bukan lagi tentang datang ke “sumur” secara rutin, tetapi tentang membiarkan aliran air hidup itu mengalir melalui setiap aspek hidup kita.
Tiga Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Berhenti di Sumur dan Terima Undangan-Nya.
Luangkan waktu hening untuk mengevaluasi: “Sumur apa yang selalu aku datangi untuk memuaskan dahagaku?”
Akui kehausanmu di hadapan Tuhan.
Kemudian, terima undangan Yesus untuk meminta karunia air hidup itu melalui doa yang sederhana: “Tuhan, haus jiwaku hanya Kau yang puaskan. Berikanlah aku air hidup itu.”
Kedua, Biarkan Mata Air Itu Memancar dengan Membagikannya.
Air hidup tidak diberikan untuk ditimbun.
Setiap kali Anda mengalami penghiburan, pengampunan, atau kekuatan dari Tuhan, bagikanlah itu kepada orang lain.
Jadilah saluran berkat melalui kata-kata pengharapan, tindakan kasih, atau kesaksian pribadi tentang kebaikan Tuhan.
Ketiga, Jaga Kemurnian Aliran dengan Hidup yang Melekat pada Sang Sumber.
Mata air dapat terhambat jika salurannya tersumbat.
Jaga hubungan intim dengan Yesus melalui disiplin membaca Firman dan berdoa setiap hari.
Mintalah Roh Kudus membersihkan “sampah” dosa, kepahitan, atau kesibukan yang dapat menghambat aliran kuasa-Nya dalam hidup Anda.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana supaya dapat mengalirkan air hidup kepada komunitas terdekat.
DIBERKATI ORANG YANG LAPAR DAN HAUS AKAN KEBENARAN
Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson
Pembacaan Alkitab Hari ini :
MATIUS 5:1-6
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa arti praktis menjadi “miskin di hadapan Allah” dalam keseharianmu?
Bagaimana caramu membangun rasa “lapar dan haus akan kebenaran”?
Dalam situasi apa saat ini kamu dipanggil untuk menunjukkan kelemahlembutan?
“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan”. (Matius 5:6).
Injil Matius mencatat Yesus sebagai Raja yang dinubuatkan.
Khotbah di Bukit adalah manifesto Kerajaan-Nya, yang menyatakan nilai-nilai dan karakter warga kerajaan itu.
Di tengah dunia yang mengejar kekayaan, kesenangan, kekuasaan, dan kepuasan diri, Yesus memulai dengan pernyataan yang mengejutkan: berbahagialah orang yang miskin, berdukacita, lemah lembut, dan lapar akan kebenaran.
Ini bukanlah daftar perintah, tetapi gambaran anugerah—bagaimana hati yang diobati oleh kasih karunia akan tampak.
Yesus mengundang kita untuk mengevaluasi ulang sumber kebahagiaan kita dan menemukannya dalam kepenuhan yang hanya disediakan Allah bagi mereka yang datang dengan hati yang lapang dan haus.
Dua ucapan bahagia pertama (ayat 3-4) menegaskan prinsip bahwa pintu masuk ke dalam kebahagiaan dan Kerajaan Allah dimulai dengan pengakuan akan kemiskinan dan dukacita rohani.
“Miskin di hadapan Allah” berarti menyadari bahwa kita tidak memiliki apa pun untuk ditawarkan kepada Allah, dan sepenuhnya bergantung pada belas kasihan-Nya.
Dukacita yang berbahagia adalah respon hati ketika kita menyadari betapa dalamnya dosa kita dan betapa besar kasih karunia Allah.
Prinsip ini meruntuhkan semua kebanggaan dan kepercayaan diri duniawi.
Kita hanya dapat dihibur dan dipulihkan ketika kita berhenti berpura-pura kuat dan membiarkan Allah menjadi segalanya.
Kebahagiaan ini adalah anugerah yang diterima oleh orang yang rendah hati.
Ucapan bahagia ketiga dan keempat (ayat 5-6) mengajarkan bahwa kepuasan sejati bukan berasal dari memiliki segalanya, tetapi dari memiliki hati yang lemah lembut dan merindukan kebenaran.
Kelemahlembutan adalah kekuatan yang tidak memaksakan kehendak sendiri, melainkan mempercayakan hidup kepada kedaulatan Allah.
Dari sikap inilah lahir kerinduan yang membara—seperti lapar dan haus secara fisik—akan kebenaran: keinginan untuk mengenal Allah, melakukan kehendak-Nya, dan melihat keadilan ditegakkan.
Yesus menjanjikan bahwa kerinduan yang tulus ini “akan dipuaskan”.
Janji ini adalah kepastian bahwa Allah sendiri akan memenuhi kerinduan itu melalui penyataan diri-Nya dalam Kristus, karya Roh Kudus, dan pada akhirnya dalam kesempurnaan Kerajaan-Nya.
Tiga Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Mulailah Hari dengan Pengakuan Ketergantungan.
Setiap pagi, akui di hadapan Tuhan: “Tuhan, aku miskin dan membutuhkan Engkau. Penuhilah aku dengan Roh-Mu.”
Berdukacitalah bila ada dosa-dosa, mohon pengampunan, dan terima penghiburan-Nya.
Kedua, Latih Kelemahlembutan dalam Setiap Hubungan.
Saat diperlakukan tidak adil, berhenti sejenak untuk tidak membalas.
Serahkan hak pembalasan kepada Tuhan, tanggapi dengan kerendahan hati, dan percayalah bahwa Ia membela orang yang lemah lembut.
Ketiga, Bangun Selera Rohani dengan Firman Tuhan.
Tanamkan rasa “lapar dan haus” akan kebenaran dengan membaca Alkitab secara teratur dan mendalam.
Carilah bukan sekadar pengetahuan, tetapi transformasi.
Hadiri pertemuan doa yang memicu kerinduan akan Tuhan.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki sikap hati yang “miskin dihadapan Allah” sehingga terus merasa haus dan lapar kepada Allah.