Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Kepada siapa seharusnya kita menundukkan diri?
Mengapa kita harus mendekat kepada Allah?
Mengapa orang yang mendua hati disebut malang?
Apa yang akan terjadi bagi mereka yang merendahkan diri?
Saudara, rasul Yakobus adalah adik kandung Yesus.
Dia baru benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Mesias, seperti yang telah dikatakan oleh ibu mereka, setelah Yesus bangkit dari kubur-Nya.
Setelah kebangkitan-Nya, Yesus pergi ke Galilea dan kembali ke rumah-Nya di Nazaret untuk menyatakan diri-Nya sebagai Mesias kepada keluarga-Nya, kepada ibu serta saudara-saudara-Nya yaitu kepada Yakobus, Simon, Yudas, dan beberapa saudara perempuan-Nya -Matius 13:55, Markus 6:3.
Rasul ini menyatakan dalam kitabnya bahwa pencobaan dapat mendatangkan kebahagiaan bagi siapapun yang mengalaminya, asalkan dijalani tanpa bersungut-sungut, melainkan dengan ketekunan, kesabaran, dan ucapan syukur kepada Tuhan Allah, Bapa kita.
Sebab kita tahu bahwa Tuhan sedang merenda sesuatu yang baik dalam hidup kita:
Roma 8:28“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Oleh karena itu, dalam menghadapi segala sesuatu atau berbagai pencobaan, sikap kita seharusnya adalah senantiasa merendahkan dan menundukkan diri kepada kedaulatan Allah, serta tetap hidup dalam ketaatan dan kebenaran.
Roh Kudus akan mengajar kita untuk melawan iblis, dan ia pun akan lari meninggalkan kita.
Saudara, sadarkah kita bahwa iblis atau setan telah dikalahkan ketika Yesus mati di kayu salib?
Setelah dikuburkan, Yesus turun ke dalam kerajaan maut untuk memproklamasikan diri-Nya sebagai Mesias, dan Dia melucuti kuasa iblis serta mengalahkan maut dengan kebangkitan-Nya dari kubur.
Karena itu, semua orang yang percaya kepada-Nya disebut oleh rasul Paulus sebagai orang yang lebih dari pemenang:
Roma 8:37“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”
Oleh karena itu, ketika kita mengalami segala sesuatu, kita harus selalu menyadari bahwa kehidupan kita merupakan peperangan rohani, yaitu melanjutkan peperangan yang telah dimenangkan oleh Yesus Kristus.
Saudara, marilah kita senantiasa terhubung dengan Bapa melalui Roh Kudus-Nya, agar Roh Kudus senantiasa menolong, menghibur, dan mengajar kita karena dialah penolong, penghibur dan pengajar:
Yohanes 14:26-27“tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”
Dalam peperangan rohani dan dalam menghadapi berbagai pencobaan, marilah kita senantiasa mengingat bahwa kerendahan hati dan ketundukan kepada Allah merupakan kekuatan yang sejati untuk melawan iblis atau setan.
Rasul Yakobus menegaskan hal ini dalam kitabnya:
Yakobus 4:7“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”
Saudara, iblis tidak akan lari ketika berhadapan dengan seseorang yang hanya tahu banyak firman, tetapi tidak melakukannya.
Namun, iblis akan lari tunggang-langgang ketika berhadapan dengan pelaku firman yang melawannya, karena ia tahu bahwa kuasa Tuhan menyertai pelaku firman dan tunduk kepada Allah.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah, agar kita senantiasa memenangkan setiap pertempuran melawan setan, dan iblis pun akan lari meninggalkan kita.
Haleluya, puji Tuhan, Amin.
Mengapa kita harus menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah untuk memenangkan pertempuran atau peperangan rohani?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Bagaimanakah perjuangan Rasul Paulus pada waktu itu?
Senjata apa yang digunakan oleh Rasul Paulus?
Apa yang menjadi target Rasul Paulus dalam perjuangannya?
Apa tujuan musuh dalam peperangan rohani ini?
Saudara, ketika Rasul Paulus berada di Korintus, ia telah diakui sebagai rasul yang memimpin jemaat di sana.
Jemaat tunduk dan rela mengikuti ajaran yang disampaikan oleh Paulus.
Namun, ada sebagian kecil orang yang dipengaruhi oleh para pekerja curang, mereka yang melemahkan Injil dan melakukan pekerjaan Iblis dengan terus menyerang pengajaran Paulus, bahkan memfitnah pribadi serta karakternya.
Akibatnya, muncul kelompok-kelompok yang menimbulkan perpecahan di dalam jemaat Korintus:
1 Korintus 1:11-13“Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? ADari ayat firman Tuhan di atas, kita dapat melihat bagaimana para pengajar yang curang memengaruhi jemaat, sehingga menyebabkan perpecahan di antara mereka. Hal itu menunjukkan bahwa jemaat sedang mengalami kekalahan dalam peperangan rohani.tau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?”
Dari ayat firman Tuhan diatas kita lihat bagaimana pengajar-pengajar curang itu mempengaruhi jemaat sehingga menimbulkan perpecahan diantara jemaat, dan itu artinya jemaat mengalami kekalahan dalam peperangan rohani.
Untuk menghadapi persoalan ini, Rasul Paulus menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari peperangan rohani.
Untuk mengatasinya, ia menekankan pentingnya menggunakan senjata rohani, bukan senjata duniawi.
Karisma, propaganda, kecerdikan, bakat, kekayaan, keterampilan berorganisasi, kefasihan berbicara, maupun kepribadian manusia tidaklah memadai untuk meruntuhkan benteng yang dibangun oleh Iblis.
Satu-satunya senjata yang sanggup menghancurkan kubu-kubu ketidakbenaran dan pengajaran palsu adalah senjata yang dikaruniakan oleh Allah.
Senjata ini sangat ampuh karena bersifat rohani dan dikaruniakan oleh Allah.
Rasul Paulus menjelaskan tentang senjata ini dalam kitabnya:
Efesus 6:13-19“Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil”
Oleh karena itu, dalam peperangan rohani ini, marilah kita menjaga kehidupan kita agar senantiasa hidup dalam kekudusan.
Dengan demikian, kita dapat tetap berdiri tegak tanpa rasa malu atau takut, dan tidak tertipu oleh tipu daya setan.
Saudara, Rasul Petrus mengingatkan:
1 Petrus 5:7-9“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.”
Saudara, kekuatiran muncul ketika kita kurang menyadari kasih karunia Allah, kurang mengenal Allah, dan terjebak dalam tipu daya Iblis.
Hidup kita sesungguhnya adalah sebuah peperangan rohani.
Oleh karena itu, kita perlu senantiasa menyadari kasih karunia Allah yang telah berjanji untuk selalu menyertai dan setia membimbing kita.
Dalam peperangan rohani yang kita hadapi, sebenarnya kita hanya melanjutkan peperangan yang telah lebih dulu dimenangkan oleh Yesus Kristus.
Melalui kemenangan itu, Paulus menyebut kita sebagai orang yang lebih dari pemenang.
Jika kita senantiasa waspada dalam menghadapi Iblis, maka kita pasti akan menang, sebab Iblis telah ditaklukkan oleh kuasa Nama Yesus Kristus dan oleh kuasa darah Anak Domba Allah, yaitu Yesus Kristus.
Senjata kita dalam peperangan ini bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata rohani yang diperlengkapi dengan seluruh perlengkapan senjata Allah.
Dengan kuasa Nama Yesus, kita akan mengalahkan setiap tipu daya Iblis.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apa yang menyebabkan kekalahan terjadi di pihak orang percaya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa pekerjaan Iblis yang membuat orang percaya harus selalu sadar, berjaga-jaga, dan waspada?
Mengapa Iblis digambarkan seperti singa yang mengaum dan menelan orang yang dapat ditelannya, bukan seperti singa pada umumnya yang menerkam dan menggigit mangsanya?
Apa yang dialami oleh semua anak-anak Tuhan di seluruh dunia?
Apa yang senantiasa Tuhan sediakan bagi anak-anak-Nya?
Siapakah pemilik kuasa yang sebenarnya?
Saudara, sebagai anak-anak Tuhan, kita semua akan mengalami berbagai macam pencobaan.
Rasul Paulus menyebut pencobaan itu sebagai pencobaan yang biasa, yaitu pergumulan yang harus dilalui oleh setiap orang, baik yang percaya maupun yang tidak percaya.
Banyak orang jatuh dan tenggelam dalam pencobaan, namun tidak sedikit pula yang meskipun jatuh, bangkit kembali dan keluar dari pencobaan itu sebagai pemenang.
1 Korintus 10:13“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
Saudara, dalam firman Tuhan yang menjadi dasar renungan ini, Rasul Petrus mengingatkan agar orang percaya:
1 Petrus 5:7-9“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.”
Saudara, kekuatiran muncul ketika kita menginginkan sesuatu, cita-cita atau mimpi yang mungkin tidak dapat kita capai.
Keinginan inilah sebenarnya yang menjadi sumber kekuatiran, ketakutan, serta berbagai pencobaan yang terjadi dalam kehidupan seseorang.
Rasul Yakobus dengan jelas menyatakan hal ini dalam kitabnya:
Yakobus 1:12-14“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.”
Iblis akan berusaha mengintimidasi kita ketika kita berada dalam pergumulan atau pencobaan.
Namun, justru pada saat itulah kita memiliki kesempatan untuk menyatakan iman kita.
Kita dapat mendeklarasikan firman Tuhan yang menjadi sumber iman dalam menghadapi Satan, Iblis yang licik dan pendusta yang dengan tipu dayanya berusaha mencuri, membunuh, dan membinasakan kita.
Karena itu, marilah segera merapat kepada Gembala yang setia, yang menjanjikan perlindungan dan pertolongan bagi kita.
Jika kita senantiasa terhubung dengan Bapa melalui Kristus, oleh karunia Roh Kudus, maka kita akan diajar oleh Roh Kudus.
Ia akan mengingatkan kita akan firman dan janji-janji Tuhan, sehingga kita dapat memenangkan peperangan melawan setan dan Iblis, serta keluar dari pencobaan dengan kemenangan.
Rasul Paulus menuliskan hal ini dalam suratnya kepada jemaat di Filipi:
Filipi 4:13“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa tinggal di dalam Dia, Kristus, Firman Allah yang hidup, yang terus mengajar, menegur, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita dalam kebenaran.
Haleluya, Segala pujian hanya bagi Dia, Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita yang telah membebaskan dan memerdekakan kita. Amin.
Mengapa banyak orang jatuh dalam pencobaan, bersungut-sungut, dan terus-menerus berdiam dalam berbagai pencobaan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Naga besar atau si ular tua itu dikenal juga sebagai apa?
Apa pekerjaan si ular tua itu?
Mengapa ular tua itu dilemparkan ke bumi?
Siapa yang bernyanyi di sorga?
Senjata yang dapat dipakai untuk mengalahkan setan atau iblis?
Saudara, jika kita membaca dengan saksama ayat firman ini sesuai dengan petunjuk di atas, serta memperhatikan ayat-ayat dalam perikopnya, maka kita akan melihat dengan jelas bahwa terjadi peperangan di surga antara Malaikat Mikhael dan si ular tua yaitu naga, Satan, atau Iblis yang dibantu oleh malaikat-malaikatnya.
Ular tua atau naga itu akhirnya kalah dan dilemparkan ke bumi.
Dan naga besar itu, yaitu ular tua yang disebut Satan atau Iblis, yang selalu menyesatkan seluruh dunia, telah dilemparkan ke bawah, ke bumi, bersama dengan malaikat-malaikatnya, yaitu mereka yang ikut berperang melawan Malaikat Tuhan, Mikhael, dan malaikat-malaikatNya.
Kekalahan si naga tua yaitu Satan atau Iblis menyebabkan ia diusir dan tidak lagi mendapat tempat di sorga.
Ia dicampakkan ke bumi bersama seluruh malaikat yang mengikutinya.
Si ular tua yang telah dilemparkan ke bawah itu menunjukkan kekalahan Iblis dalam pertarungan melawan Malaikat Tuhan, Mikhael.
Keselamatan dan kuasa Allah telah dinyatakan melalui darah Yesus Kristus, yang menyebabkan Iblis, si pendakwa itu, dilemparkan ke bawah yaitu ke bumi.
Orang percaya dapat mengalahkan Iblis oleh darah Anak Domba (Yesus Kristus) dan melalui perkataan kesaksian mereka yang tidak menyayangkan nyawanya, artinya orang percaya yang memiliki iman yang teguh.
Perkataan kesaksian dari orang percaya yang tidak menyayangkan nyawanya berarti mereka berani bersaksi tentang iman mereka, memberitakan firman kebenaran dan Injil keselamatan sekalipun nyawa menjadi taruhannya.
Ada sebuah lagu lama yang sangat terkenal dalam sejarah gereja di India, yang telah dinyanyikan oleh orang-orang percaya dan murid-murid Kristus.
Lagu itu berjudul “Mengikut Yesus Keputusanku”, sebuah nyanyian yang menggambarkan keteguhan hati orang-orang percaya yang tetap setia, meskipun harus mengalami penganiayaan karena iman dan kesaksian mereka sebagai pengikut Yesus Kristus.
Iblis atau Satan tidak dapat dikalahkan hanya melalui perkataan kesaksian dari orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pengertian tentang Tuhan, tetapi merasa malu atau takut untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sekitar mereka, seperti keluarga, teman, sahabat, rekan di sekolah, di kantor, maupun di komunitas sekuler.
Iblis tahu, ketika seseorang takut atau malu untuk bersaksi, maka ia tidak akan takut terhadap orang tersebut.
Saudara, Yakobus menuliskan dalam kitabnya:
Yakobus 4:7“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”
Saudara, si pendakwa itu, yaitu Iblis atau Setan masih dapat datang ke sorga. Di sana ia mendakwa dan menuduh anak-anak Tuhan serta orang-orang percaya, seperti yang terjadi pada Ayub.
Ayub 1:6-12“Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis. Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Dari mana engkau?” Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.” Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.” Maka firman TUHAN kepada Iblis: “Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.” Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.”
Ayub 2:1-7“Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN. Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Dari mana engkau?” Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.” Firman TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.” Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.” Maka firman TUHAN kepada Iblis: “Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya.” Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya.”
Saudara, dengan leluasa Iblis mendakwa Ayub dan mencobainya dengan menghancurkan seluruh miliknya, kecuali istrinya.
Untuk kedua kalinya, Iblis kembali mendakwa Ayub dan menimpakan penyakit pada tubuhnya.
Bahkan istrinya pun terpengaruh oleh Iblis dan turut mencobai Ayub.
Saudara, peperangan rohani yang sering terjadi pada masa kini merupakan akibat dari kekalahan Iblis melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Dalam peperangan rohani ini, kita pun dapat mengalahkannya dengan kuasa nama dan darah Yesus Kristus.
Selain itu, melalui perkataan kesaksian kita, deklarasi iman anak-anak Tuhan, Iblis dapat dikalahkan saat ini.
Dalam peperangan rohani yang dilakukan saat ini untuk pelebaran Kerajaan Allah, para pendoa syafaat berkeliling ke daerah-daerah yang akan diberitakan Injil Kerajaan, Injil Kasih Karunia, dan Injil Keselamatan.
Dengan iman yang teguh, para pendoa syafaat mengusir kuasa-kuasa setan dari wilayah-wilayah tersebut.
Melalui pemahaman tentang struktur kekuatan kerajaan setan, para pendoa syafaat dapat memerangi daerah kekuasaan Iblis, sehingga Iblis dikalahkan dan diusir dari tempat-tempat itu.
Peperangan kita bukanlah melawan manusia, melainkan melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, dan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini yaitu melawan roh-roh jahat di udara.
Dengan kuasa darah Anak Domba dan perkataan kesaksian anak-anak Tuhan, Iblis beserta malaikat-malaikatnya dapat diusir.
Tempat-tempat yang sebelumnya dikuasai oleh Iblis akan menjadi wilayah pemberitaan Injil, sehingga daerah-daerah itu dapat dimenangkan bagi Kristus.
Daerah-daerah itu menjadi daerah anak-anak Tuhan untuk memperluas kerajaan Allah.
Peperangan rohani sering kali menjadi langkah pendahuluan bagi pemberitaan Injil Kerajaan atau Injil Keselamatan.
Melalui kuasa darah Anak Domba dan kuasa perkataan kesaksian yaitu deklarasi iman anak-anak Tuhan, peperangan ini menjadi awal untuk memasuki dan membuka daerah-daerah baru bagi pekabaran Injil.
Dengan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, para pendoa syafaat dapat mengalahkan pemerintah, penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap, serta roh-roh jahat di udara.
Maka terbukalah daerah-daerah itu bagi pekabaran Injil Kerajaan, dan Kerajaan Allah mulai dinyatakan di tempat-tempat yang didoakan.
Dengan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, banyak wilayah dapat dijangkau dan dimenangkan bagi Kristus.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Seperti apakah penggunaan seluruh perlengkapan senjata Allah itu? Bagaimanakah penerapannya secara praktis?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Jelaskan apa makna pencobaan tentang perkataan mengubah “batu menjadi roti”?
Jelaskan apa makna pencobaan tentang perkataan “coba jatuhkan diriMu ke bawah”?
Jelaskan apa makna pencobaan tentang perkataan “memperlihatkan semua kerajaan dan kemegahan dunia”?
Peristiwa iblis mencobai Yesus di padang gurun terjadi setelah Yesus dibaptis oleh Yohanes pembaptis.
Seperti kita ketahui bahwa sebelum Dia memulai pelayananNya di muka umum, Yesus terlebih dahulu berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam.
Yesus memberi teladan kepada kita suatu disiplin rohani dan sifat ketergantungan pada Bapa yang mengutusNya, bukan bergantung kepada kekuatanNya sendiri sebagai manusia lahiriah.
Setelah Yesus berpuasa Iblis mencobaiNya untuk membelokkan Yesus dari ketaatanNya yang sempurna kepada kehendak Bapa.
Iblis memakai kesempatan saat Yesus lapar setelah berpuasa untuk mengajukan tawarannya (ayat 2).
Ada tiga hal yang ditawarkan iblis kepada Yesus:
Iblis menawarkan kebutuhan jasmani yaitu mengubah batu menjadi roti (ayat 3).
Iblis menawarkan agar Yesus mendemonstrasikan kuasaNya kepada dunia dan menguji kesetiaan BapaNya terhadap Yesus putraNya (ayat 5-6).
Iblis menawarkan keinginan mata dan segala kekuasaan, serta segala kemegahan dunia (ayat 8-9).
Bila kita perhatikan dalam setiap perkataan Iblis untuk mencobai Yesus, Iblis selalu “mengutip” ayat Firman, meskipun dengan maksud yang salah, untuk mencobai Yesus.
Kita tahu bahwa Yesus menolak semua tawaran iblis dengan menggunakan kebenaran firman Tuhan juga.
Dalam kehidupan kita saat ini kita sering kali diperhadapkan dengan berbagai tawaran dunia yang terlihat menarik, namun seringkali menyesatkan!
Pada umumnya tawaran ini disamarkan dalam bentuk yang indah yang sulit kita bedakan karena tampak seperti kebenaran.
Kemajuan teknologi dalam hal ini media informasi bisa memberikan tawaran yang salah seperti: ajaran filsafat duniawi, gaya hidup dan pemikiran yang bebas, berbagai kesempatan untuk memperoleh keberhasilan dengan cepat dan mudah, bahkan pengajaran rohani dari banyak orang yang tidak kita kenal kehidupannya.
Apakah setiap tawaran dan informasi atau kesempatan itu baik atau buruk? Bagaimana cara kita mengetahuinya?
Tentu dengan cara kita harus belajar Firman, menggali Firman Tuhan baik itu secara pribadi maupun dengan kelompok pemuridan, berdoa, membangun hubungan pribadi dengan Tuhan.
Semua itu adalah cara kita agar dapat mengetahui dan mengenali tujuan setiap tawaran dan informasi.
Kita dapat memakai kebenaran firman Tuhan sebagai dasar dan pedomannya.
Jika hal itu berdampak buruk dan tidak sesuai Firman Tuhan, maka kita harus bisa bersikap tegas menolaknya!
Kita dapat meneladani bagaimana Yesus menang atas kuasa Iblis pada saat dicobai.
Yesus memakai Firman Tuhan sebagai sarana untuk melawan pencobaan iblis dan Dia mengalami kemenangan.
Diskusikan dengan kelompok PA atau Persekutuan kita, keteladanan apa yang kita bisa ambil ketika Yesus menang atas kuasa Iblis?
KEMATIANNYA MEMUSNAHKAN IBLIS YANG BERKUASA ATAS MAUT
Penulis : Bernard Tagor
Pembacaan Alkitab Hari ini :
IBRANI 2:14-18
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah yang dimaksud “mereka, yaitu anak-anak dari darah dan daging”?
Untuk apa Allah menjadi manusia (inkarnasi), bahkan mati bagi mereka? (Ayat 14c-15a)
Siapa yang sesungguhnya Yesus kasihi? (Ayat 16)
Siapakah yang dimaksud Imam Besar itu?
Ketika manusia jatuh dalam dosa, sejak saat itulah manusia terpisah dari Allah, kondisi ini menyebabkan kematian kekal, baik mati secara rohani maupun mati secara fisik sehingga manusia tidak bisa lagi bersekutu dengan Allah seperti semula oleh karena dosa-dosanya.
Allah menyadari bahwa dalam kejatuhannya manusia ciptaanNya dalam kedagingannya adalah lemah dan terbatas.
Kelemahan dan keterbatasan manusia tidak memungkinkan manusia dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dari kebinasaan yang kekal.
Oleh karena itu ALLAH sendiri yang berinisiatif berinkarnasi menjadi manusia, sebagai Allah Dia tidak mungkin mati, oleh karena itu Dia mengambil rupa sebagai manusia bahkan sebagai hamba untuk menjadi Juruselamat yang sempurna bagi umat manusia.
KematianNya diatas kayu salib memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut dan membebaskan manusia dari perhambaan dosa.
Dengan demikian maka hubungan manusia dengan Allah dipulihkan dan didamaikan.
Oleh kematianNya juga, manusia diselamatkan dari hukuman kekal.
Semua yang dilakukan Allah diatas kayu salib bukanlah untuk malaikat-malaikat, melainkan semata-mata karena begitu besar kasihNya kepada kita manusia yang diciptakanNya (lihat Yoh 3:16).
Yesus telah lebih dahulu mengalahkan maut diatas kayu salib, sehingga memberikan kekuatan dan penghiburan kepada kita.
Karya salib tidak hanya sebatas keselamatan yang Allah berikan, namun juga memberikan kita keyakinan ketika kita menghadapi kesulitan, tantangan hidup dan ketakutan apapun itu.
Dia menolong dan memampukan kita dalam menghadapi segala kesulitan, tantangan hidup kita. Amin.
Kita tahu bahwa kematian Yesus diatas kayu salib adalah untuk memusnahkan iblis yang berkuasa atas maut dan membawa kepada keselamatan manusia. Pertanyaannya, berdasarkan pernyataan diatas kenapa masih banyak orang yang tidak percaya kepada karya salib Kristus? Dan apa yang menjadi peranan kita agar kuasa salib itu dirasakan dan dialami oleh orang banyak. Diskusikan dengan kelompok PA atau Persekutuan kita.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dilakukan Yesus ketika mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap?
Firman apa yang digenapi ketikan Yesus meninggalkan Nazaret?
Hal baik apa yang dinubuatkan mengenai bangsa yang diam dalam kegelapan?
Apa yang Yesus beritakan sejak saat itu?
Ketika Yohanes Pembaptis ditangkap, Yesus memulai pelayanan-Nya di wilayah Galilea, sebuah daerah yang sering dipandang rendah dan jauh dari pusat keagamaan Yerusalem.
Di sanalah genaplah nubuat nabi Yesaya: “Bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat terang yang besar, dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit terang.”(Matius 4:16).
Ayat ini menegaskan bahwa Yesus datang bukan hanya untuk bangsa Yahudi yang taat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dalam keterasingan, keputusasaan, dan kegelapan rohani.
Terang Kristus menembus tempat-tempat yang paling gelap — baik secara geografis, sosial, maupun hati manusia — untuk membawa pengharapan dan kehidupan baru.
Di zaman modern, kegelapan itu tidak lagi hanya berbentuk penyembahan berhala atau penindasan lahiriah atau posisi geografis yang jauh dari kota.
Ia muncul dalam bentuk kebingungan moral, kekosongan makna, dan hilangnya kasih di tengah kemajuan dunia.
Banyak orang hidup dalam terang teknologi, tetapi hatinya gelap oleh rasa takut, cemas, dan kehilangan arah.
Dunia mencari solusi melalui pengetahuan dan sistem, tetapi tanpa Kristus, semua itu tentu sia-sai. Terang yang sejati datang dari Kristus sendiri — Dia yang memanggil kita untuk berpaling dari jalan lama dan hidup dalam pertobatan -Matius 4:17.
Pertobatan bukan sekadar menyesali dosa, tetapi membuka hati agar terang Kristus mengubahkan cara berpikir dan arah hidup kita.
Namun kita tidak berhenti pada diri kita sendiri, pengampunan Kristus atas dosa kita memiliki tujuan ilahi dan mulia, yaitu membawa orang-orang berdosa sama seperti kita dulu untuk datang kepada terang Kristus.
Hari ini, Tuhan memanggil kita untuk menjadi pembawa terang di tengah dunia yang gelap dan menuju kebinasaannya.
Jangan biarkan kegelapan zaman ini melemahkan iman dengan cara mendistraksi kita melalui berbagai informasi dan kegiatan yang cenderung membuat kita nyaman untuk sibuk dengan kehidupan dan persoalan sendiri.
Ada tetangga, rekan kerja, keluarga yang terdekat dan masih hidup dalam kegelapan membutuhkan terang Kristus yang kita miliki.
Mereka mungkin saja baik-baik secara lahiriah namun kita pasti tahu bahwa semua orang tanpa Kristus sedang hidup dalam kegelapan.
Mereka membutuhkan terang Kristus agar dapat melihat realita sesungguhnya kehidupan yang benar sehingga mengalami sukacita dan damai sejahtera.
Bila hati kita siap dan kita berkomitmen untuk bergerak, Tuhan bisa membawa kita kepada orang-orang tersebut, sehingga keselamatan itu sampai kepada mereka.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa jawab Simon Petrus ketika Yesus bertanya “siapakah Aku ini?”
Mengapa Yesus mengatakan “berbahagialah engkau Simon bin Yunus?”
Dimana Yesus mendirikan jemaatNya?
“Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Menurut anda apakah maksud Yesus ini?
Ketika Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya tentang siapa diri-Nya, Petrus menjawab dengan iman yang teguh, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” (Matius 16:16).
Jawaban ini bukan sekadar pengakuan lisan Simon, melainkan penyataan rohani yang datang dari Bapa di surga.
Di atas pengakuan ini, Yesus mendirikan gereja-Nya — komunitas orang-orang yang percaya dan hidup dalam otoritas surgawi.
Ia berkata, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di bumi akan terikat di surga, dan apa yang kaulepaskan di bumi akan terlepas di surga.” (ay.19).
Ayat ini menunjukkan bahwa iman kepada Kristus memberi kuasa untuk menghadirkan kehendak Allah di bumi — bukan melalui kekuatan manusia, tetapi melalui otoritas ilahi yang bekerja di dalam gereja-Nya.
Saudara, tidak sedikit orang- orang percaya melupakan atau kehilangan kesadaran akan otoritas rohani ini.
Ketakutan, kompromi, dan tekanan dunia dengan berbagai informasi yang salah membuat manusia sering “terikat” oleh kekhawatiran, dosa, dan opini manusia.
Kita lupa bahwa Yesus memberi kita kuasa untuk menolak setiap pekerjaan kegelapan, untuk mengikat intimidasi kekuatiran dan ketakutan, dan untuk melepaskan kebenaran, sukacita serta damai sejahtera di lingkungan kita.
Kuasa mengikat di bumi bukan sekadar doa deklaratif yang kita lakukan pada saat persekutuan doa atau doa probida, tetapi kesadaran hidup bahwa kita mewakili surga di tengah dunia yang kacau dimanapun kita berada.
Kuasa itu bekerja ketika kita mempraktekkan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara berpikir, perkataan dan keputusan yang kita buat.
Kuasa itu bekerja ketika hati dan gaya hidup kita selaras dengan kehendak Kristus.
Hari ini, Tuhan mengingatkan bahwa gereja bukanlah lembaga yang pasif, melainkan wakil Kerajaan Allah di bumi.
Setiap anak Tuhan diberi kunci rohani untuk menghadirkan terang di tempat gelap, keadilan di tengah ketidakbenaran, dan kasih di tengah kebencian.
Jangan biarkan dunia yang mengikatmu dengan ketakutan dan kesesatan; berdirilah dalam otoritas Kristus.
Gunakan kuasa yang telah dipercayakan kepadamu — untuk mengikat hal-hal yang tidak sesuai dengan surga, dan melepaskan kehendak Allah di bumi.
Sebab kuasa itu nyata, dan bekerja melalui mereka yang hidup dalam kebenaran.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Bagaimanakah supaya Allah ada di pihak kita?
Siapakah yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus?
Roma pasal 8 adalah puncak dari ajaran Rasul Paulus, sebuah rangkaian pernyataan kemenangan rohani, tentang kasih, keselamatan, dan kepastian hidup kekal dalam Kristus.
Di tengah penderitaan, aniaya, dan tantangan hidup yang berat, Paulus menyatakan satu kebenaran yang sangat kuat dan agung: “Tidak ada kuasa di bumi maupun di surga yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.”
Kata-kata ini bukan sebuah teori bagi Paulus, tetapi pengalaman pribadi Paulus sendiri yang telah menghadapi penganiayaan, pemenjaraan, bahkan ancaman kematian.
Namun, di tengah semua itu, imannya berdiri teguh karena ia tahu, Allah berpihak kepadanya. “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?”
Kalimat ini bukan pertanyaan retoris, melainkan pernyataan keyakinan mutlak.
Paulus tidak sedang berkata bahwa kita tidak akan pernah memiliki musuh, tetapi bahwa tidak ada musuh yang dapat mengalahkan kita jika Allah bersama kita.
Kebenaran Firman ini sangat kuat, yang menjadi pertanyaan? Apakah seorang percaya bisa dikalahkan?
Jika melihat realita dalam kehidupan, tentu bisa dan faktanya banyak umat Tuhan yang kalah dalam peperangan rohani.
Penyebab kekalahan orang percaya ternyata bukan hal yang dari luar, tetapi justru berasal dari dalam, yaitu ketika:
Ia meragukan kasih Allah,
Kehilangan iman bahwa Allah berpihak kepadanya
Atau berhenti berjalan dalam Roh, kembali hidup dalam daging.
Jadi, kekalahan bukan karena Allah tidak cukup kuat, melainkan karena kita berhenti percaya dan tunduk pada kebenaran itu.
Alkitab mencatat bahkan para tokoh besar seperti Petrus, Daud, dan Elia pernah jatuh: Petrus menyangkal Yesus;
Daud jatuh dalam dosa besar ketika dia membunuh Uria secara tidak langsung demi memperoleh Batsyeba;
Elia pernah ketakutan dan ingin mati ketika dia tahu bahwa Izebel sedang mencari untuk membunuhnya.
Namun mereka tidak tinggal dalam kekalahan. Mengapa? Karena mereka kembali kepada kasih dan panggilan Allah.
Saudara, ada janji Firman bahwa kita yang percaya tidak bisa dikalahkan secara rohani, tetapi kita bisa tampak kalah secara manusiawi jika kita kehilangan iman kepada kasih Allah;
hidup dalam daging, bukan dalam Roh;
kita mengijinkan tekanan dunia menggantikan harapan pada Kristus.
Namun selama kita kembali kepada kasih Kristus, tidak ada kuasa di dunia atau di neraka yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan pengalamanmu kalah dalam peperangan rohani dan apakah kemudian engkau menang, jika ya, bagaimana kemenangan itu engkau peroleh?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang Paulus maksudkan dengan harta dalam bejana tanah liat?
Apa yang dimaksud Paulus dengan dia membawa kematian Kristus di dalam tubuhnya?
“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” (2 Korintus 4:7).
“Harta” yang dimaksud Paulus adalah kabar baik atau Injil Keselamatan bagi orang percaya, dan juga tentang Kristus yang ada di dalam kita, yang akan memberikan pengharapan akan kemuliaan bagi kita yang percaya. (Lihat. Kolose 1:27)
Harta itu Allah tempatkan dalam bejana tanah liat, yang adalah kita.
Bejana itu berarti: rapuh, tidak sempurna, dan mudah pecah.
Namun justru di sanalah letak kemuliaannya.
Allah sengaja memilih bejana yang lemah agar kemuliaan kuasa-Nya nyata, bukan untuk membesarkan manusia, tetapi untuk memuliakan Kristus.
Dengan kata lain, kelemahan kita bukan menjadi penghalang bagi Allah, kelemahan kita justru sebagai sarana di mana kuasa kebangkitan Kristus akan bekerja.
Saudara, ketika kita menerima Kristus, kita sebenarnya menerima harta surgawi yang tidak ternilai.
Namun, kehidupan sehari-hari sering membuat kita merasa lemah, rapuh, atau tak layak.
Tetapi Firman ini mengingatkan kita bahwa:
Nilai hidup kita bukan karena wadahnya, tetapi karena isi yang ada di dalamnya, yaitu Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan.
Meski kita lemah, anugerah-Nya dan kuasa kebangkitan Kristus sanggup bekerja melalui kelemahan kita.
Sehingga meskipun tubuh kita lemah, meskipun kita menderita, kuasa kebangkitan Kristus tetap bekerja.
Kita bukan hanya penonton kebangkitan, tetapi peserta di dalamnya.
Kita bukan hanya percaya bahwa Yesus bangkit, tetapi juga bangkit bersama dengan-Nya, untuk hidup dalam kasih, kuasa, dan pengharapan yang kekal.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan makna Kristus ada dalam diri kita dan bagaimana kuasa kebangkitan itu bisa kita alami dalam kehidupan sehari-hari.