Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa firman Tuhan kepada nabi Yesaya saat Ia memanggilnya?
Bagaimana respon nabi Yesaya saat Tuhan memanggilnya?
Bayangkan jika suatu hari seorang penguasa memanggil Saudara dan memberi kepercayaan untuk mengerjakan suatu tugas penting, bagaimana Saudara akan berespon?
Pada umumnya, orang akan bersukacita saat dipercaya oleh seorang penguasa, tapi tergantung juga bagaimana penguasanya.
Jika kita percaya penguasa tersebut baik, kita akan menyambut gembira.
Tetapi jika kita percaya penguasa tersebut tidak baik, kita akan menyambut dengan berat hati dan terpaksa.
Pertanyaannya:
Bagaimana kita memandang Penguasa hidup kita? Apakah kita sungguh percaya Dia adalah Allah yang baik? Apakah menerima tugas dariNya adalah suatu beban atau kehormatan?
Bahkan Nabi Yesaya di awal panggilannya, berespon secara manusiawi dengan berkata bahwa “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna.”
Di titik terendah Yesaya. Saat ia merasa gagal, tidak berdaya dan tidak punya kekuatan. Saat ia merasa sia-sia dalam banyak hal.
Di titik itulah Allah memanggilNya untuk menjadi hambaNya yang hendak menyatakan keagunganNya.
Yesaya menguatkan hatinya dengan mengingat bahwa hak-nya terjamin pada Tuhan dan upahnya ada pada Allahnya.
Bagaimana dengan Saudara? Bagaimana Saudara menanggapi panggilanNya?
Panggilan untuk menjadi hambaNya tetap berlaku.
Kita punya pilihan, mau fokus hanya kepada apa yang kita rasakan dan pikirkan, atau fokus kepada pribadiNya yang setia dan menolong kita.
Bagikanlah dengan pembimbing Saudara, apa yang seringkali menjadi penghalang untuk meresponi panggilan Tuhan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut Saudara apa maksudnya firman Allah “Dari dalam gelap akan terbit terang?”
Harta apa yang dimiliki oleh orang percaya?
Apa yang perlu kita lakukan agar kehidupan Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kita?
Terang hanya bersinar dalam kegelapan. Saudara, coba renungkan sejenak kalimat tersebut.
Nyala lilin dan senter tidak begitu berarti di siang hari atau di sebuah tempat yang penuh cahaya, tetapi di kegelapan malam, nyala itu begitu berarti dan bercahaya.
Sadarkah kita, bahwa segala hal yang baik dan luar biasa yang disediakanNya tidak akan mampu kita pahami tanpa adanya hal-hal sulit, penderitaan dan “kematian” yang menyertainya?
Kita mendengar bahwa di dalam Yesus ada kasih, sukacita, damai sejahtera dan kehidupan yang sejati.
Memang benar, itulah yang disediakan Allah bagi kita dan dikerjakanNya melalui karya penebusan Yesus di kayu salib.
Lalu bagaimana kita mengenal kasih yang sejati?
Seringkali saat kita mengalami kesulitan untuk merasakan dan memberikan kasih.
Bagaimana kita mengenal sukacita yang sejati?
Seringkali saat kita mengalami kesedihan luar biasa.
Bagaimana kita mengenal pengharapan yang sejati?
Seringkali saat kita merasa putus asa dan tidak melihat jalan keluar.
Paulus berkata “kami ditindas, namun tidak terjepit. Kami habis akal, namun tidak putus asa. Kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian. Kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata”
Sungguh sebuah paradoks (tampak bertentangan, namun benar adanya) yang hanya bisa dikerjakan oleh Tuhan sendiri.
Kehidupan Yesus akan menjadi nyata dalam kita ketika kita mengizinkan diri kita untuk mati secara daging dan menempatkan Kristus di posisi yang utama dalam hati, pikiran, perkataan, dan tindakan kita.
Bukan apa yang kita rasakan dan pikirkan yang paling penting, tapi apa yang dirasakan dan dipikirkan Tuhan yang paling penting.
Proses ini adalah proses kematian yang tidak mudah, karena kita perlu menyalibkan daging kita.
Namun, proses ini juga membawa kehidupan Yesus menjadi nyata karena kita mulai belajar meresponi setiap keadaan seperti Kristus merespon.
Di situlah terang Kristus bercahaya dan Allah dengan bebas memperkenalkan segala sesuatu yang sejati dariNya untuk kita nikmati di dunia yang fana ini.
Mari Saudara, kita berproses dalam kematian dan kehidupan Yesus sepanjang hidup kita dan terus mengalami kuasa anugerahNya dinyatakan dalam setiap keadaan.
Diskusikanlah dengan rekan persekutuan atau pemuridan Saudara proses kematian apa yang sedang Saudara alami hari ini? Bagian manakah yang paling sulit? Bagaimana Saudara bisa melihat kehidupan Yesus menjadi nyata di tengah kematian tersebut?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Yesaya 58:10.
Apakah yang harus kita lakukan dalam doa dan puasa agar kita mengalami terang dan terang itu bercahaya ketika kita berdoa dan berpuasa?
Apakah yang Tuhan lakukan bagi kita ketika kita melakukan doa dan puasa seperti yang Tuhan inginkan?
Apakah yang kita alami sebagai dampak dari doa dan puasa yang benar?
Tuhan mengajarkan kepada kita untuk berdoa dan berpuasa dengan cara yang benar, agar kita mengalami dampak ilahi dalam berdoa dan berpuasa dimana terang yang ada pada kita semakin bercahaya.
Hal-hal yang harus kita pahami adalah:
Berdoa dan berpuasa adalah ditujukan hanya kepada Bapa dan bukan untuk dipuji atau dilihat orang. “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”(Matius 6:16-18).
Berpuasa adalah hari merendahkan diri di hadapan Bapa dan juga mengasihi orang lain dengan belas kasihan. “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.” (Yesaya 58:6-8).
Ketika kita membangun kehidupan doa dan puasa yang benar maka terang Kristus akan semakin bercahaya dan kita akan mengalami api Tuhan untuk membawa bangsa-bangsa kepada Tuhan.
“Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.(Yesaya 58:12).
Karena bangsa-bangsa sedang ditutupi oleh kegelapan dan mereka sangat membutuhkan terang Tuhan yang terbit atas kita melalui kehidupan doa dan puasa yang kita bangun.
Itulah sebabnya gereja harus membangun kehidupan doa dan puasa agar gereja mengalami pemulihan, belas kasihan, bebas dari kedagingan dan keduniawian sehingga sangat memudahkan bagi Tuhan untuk menyatakan terang-Nya melalui kita karena setiap kedagingan serta keduniawian sudah tersingkir dari dalam hidup gereja Tuhan.
“Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu.”(Yesaya 60:2-3).
Marilah kita membangun kehidupan doa dan puasa sampai terang Kristus semakin bercahaya melalui kehidupan kita.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana pemahaman saudara dalam hal terang Kristus yang semakin bercahaya melalui kehidupan doa dan puasa.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Roma 12:2.
Hal apakah yang harus kita lakukan agar kita hidup dalam ibadah yang sejati?
Hal apakah yang harus kita lakukan agar dalam melakukan ibadah yang sejati kita memiliki hidup yang berkenan dan sempurna?
Menurut Saudara, apakah yang dimaksudkan dengan ibadah atau hidup yang berkenan dan sempurna di hadapan Allah?
Allah menginginkan agar kita melakukan dan memiliki ibadah yang sejati, karena ibadah yang sejati akan membuahkan hidup yang berkenan dan sempurna di hadapan Allah.
”Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.”(1 Timotius 4:8).
Untuk memiliki dan melakukan ibadah yang sejati, ada beberapa hal yang harus kita pahami diantaranya:
Kita harus mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan agar tubuh kita mau diubahkan dan tidak menentang kepada kehendak Allah sehingga mudah untuk taat dan mematuhi keinginan Tuhan. ”Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan. Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.”(1 Petrus 2:5).
Kita harus mengalami pembaharuan dalam pikiran agar membuahkan ibadah yang sejati dengan hidup yang berkenan dan sempurna di hadapan Allah. ”Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”(Roma 12:2).
Pembaharuan budi dapat dilakukan dan terjadi ketika kita mengubah pikiran kita yang lama yang duniawi dengan pikiran Kristus melalui perenungan firman Tuhan.
Gantikan pikiran lama kita dengan pikiran Allah yaitu firman Tuhan sehingga konsep-konsep dunia yang telah membentuk hidup kita disingkirkan sehingga kita memiliki kehidupan yang berkenan dan sempurna seperti pikiran dan pemahaman Allah.
Harus konsisten dan bertekun dan taat untuk melakukan firman Tuhan dan mengusahakan dengan sungguh-sungguh.
”Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!”(2 Korintus 13:11).
Tubuh yang dipersembahkan kepada Tuhan dan pikiran serta perasaan yang diubahkan oleh firman Tuhan menyebabkan kita memiliki ibadah yang sejati yang berkenan dan sempurna dihadapan Tuhan, yang pada akhirnya hal tersebut menyenangkan dan menyukai hati Tuhan seperti hidup Yesus yang menyenangkan hati Bapa.
Diskusikanlah dalam komunitas Saudara bagaimana Saudara membangun kehidupan yang semakin berkenan dan sempurna di hadapan Allah.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Mazmur 119:105.
Apakah peranan firman Tuhan bagi setiap jalan kehidupan dari pemazmur?
Sikap apakah yang dilakukan oleh pemazmur agar firman Tuhan betul-betul menjadi pelita bagi kakinya?
Hal apakah yang dilakukan oleh pemazmur ketika ia mengalami penindasan?
Allah telah menetapkan kita sebagai terang bagi dunia karena kita mengikut Yesus.
Agar terang Tuhan bercahaya bagi dunia ini melalui kehidupan kita maka kita harus tinggal di dalam firman Tuhan, karena firman Tuhan itu adalah terang bagi jalan-jalan kehidupan kita sehingga kita tidak dikuasai oleh kegelapan.
Pengalaman kita berjalan dalam terang Tuhan sangat bergantung dengan respon kita terhadap firman Tuhan, dimana firman Tuhan adalah benar-benar terang Tuhan.
”Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.”(Mazmur 119:130).
”Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.”(Amsal 4:18).
Oleh karena itu, kita harus meresponi setiap firman Tuhan dengan benar, diantaranya:
Menjadikan firman Tuhan adalah kesukaan bagi hidup kita dan senantiasa fokus kepada firman Tuhan dalam segala keadaan. ”Hati mereka tebal seperti lemak, tetapi aku, Taurat-Mu ialah kesukaanku.”(Mazmur 119:70).”Aku ditimpa kesesakan dan kesusahan, tetapi perintah-perintah-Mu menjadi kesukaanku.”(Mazmur 119:143).”Aku rindu kepada keselamatan dari pada-Mu, ya TUHAN, dan Taurat-Mu menjadi kesukaanku.”(Mazmur 119:174).”Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.”(Yeremia 15:16).
Firman Tuhan bukan saja menjadi kesukaan tetapi direnungkan sehingga bertindak hati-hati serta diperkatakan dalam kehidupan sehari-hari. ”tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.”(Mazmur 1:2). ”Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”(Yosua 1:8).
Berdoa dengan firman Tuhan serta menceritakan firman Tuhan. ”Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”(Yohanes 15:7).”Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”(2 Timotius 4:2).“Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak.”(Kisah Para Rasul 5:20).
Firman yang kita baca, renungkan dan perkatakan serta doakan dan diberitakan merupakan terang bagi jalan hidup kita.
Diskusikanlah dalam komunitas Saudara bagaimana Saudara mempraktekan Firman Tuhan untuk menjadi terang bagi hidup Saudara.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Yohanes 15:8.
Hal apakah yang dilakukan oleh Yesus terhadap ranting-ranting agar lebih banyak berbuah?
Apakah yang harus kita lakukan agar kita dapat senantiasa berbuah lebat?
Siapakah yang dimuliakan ketika berbuah banyak?
Bapa pencipta langit dan bumi layak dipermuliakan dan kita sebagai umat-Nya lah yang harus memuliakan Dia.
Hal yang diinginkan Allah adalah agar kita berbuah lebat, karena dengan cara berbuah lebat kita mempermuliakan Tuhan.
”Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”(Yohanes 15:8).
Buah yang dimaksudkan oleh Tuhan adalah:
Hidup yang semakin serupa dengan Yesus. ”Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”(2 Korintus 3:18). ”Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.”(1 Yohanes 3:2).
Hidup yang memultiplikasikan Yesus kepada dunia ini dengan cara memuridkan bangsa-bangsa. ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”(Matius 28:19-20).
Untuk mewujudkan berbuah lebat, maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan diantaranya:
Kita harus rela dibersihkan oleh Tuhan supaya semakin berbuah lebat. Hal-hal yang diberikan adalah dosa-doa yang menghalangi kita untuk berbuah yaitu malas, egois, tidak mau berubah, tidak fokus, rasa puas dari diri yang membuat kita menjadi stagnan atau jalan ditempat. ”Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.”(Yohanes 15:2).
Kita harus senantiasa tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya dengan cara bersekutu dengan Tuhan dan juga dengan firman-Nya sehingga kita selalu berbuah lebat. ”Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”(Yohanes 15:4).
Dengan senantiasa mau dibersihkan dan dibentuk oleh Tuhan serta senantiasa melekat dengan Tuhan melalui persekutuan yang erat dengan Dia maka kita akan berbuah lebat dengan demikian Bapa dimuliakan.
Diskusikanlah dalam komunitas Saudara bagaimana Saudara memuliakan Tuhan dengan cara berbuah lebat.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Yesaya 60:2.
Mengapa Allah memerintahkan kita untuk bangkit menjadi terang?
Apakah yang menjadi nyata dalam hidup kita ketika kita mau bangkit menjadi terang?
Apakah yang akan dialami oleh bangsa-bangsa ketika kita mau bangkit dan menjadi terang?
Yesus berkata bahwa Dia adalah terang dunia dan telah datang ke dalam dunia ini dan ketika kita mengikut Dia maka kita mempunyai terang hidup itu.
Itulah sebabnya, Allah menerapkan kita sebagai terang Kristus.
”Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.”(Yohanes 1:9-10).
”Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.”(Yohanes 9:5).
”Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”(Yohanes 8:12).
”Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”(Matius 5:14).
Alkitab berkata bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah dan akibatnya manusia mengalami maut yaitu hidup dalam dosa, kutuk kemiskinan, kelemahan dan sakit penyakit bahkan dibelenggu oleh kuasa iblis.
Namun ketika kita percaya kepada Yesus dan memiliki terang itu maka gelap menjadi sirna dan kemuliaan Tuhan menjadi nyata dalam hidup kita.
Akibatnya dosa tidak dapat berkuasa lagi atas hidup kita. Kita tidak dapat dibelenggu oleh kemiskinan dan sakit penyakit dan kita dapat mengalahkan kuasa iblis, sehingga kita tidak lagi diselimuti oleh maut tetapi dipenuhi oleh kemuliaan Tuhan.
Yang dimaksudkan dengan kemuliaan Tuhan adalah kuasa Tuhan, kasih Tuhan, karakter Tuhan serta pikiran dan perasaan Tuhan juga perkataan dan perbuatan Tuhan karena didalam kita ada terang Kristus sehingga kita mulai memancarkan dan mengalirkan kehidupan Kristus, sehingga kemuliaan Tuhan menjadi nyata atas kita.
Tujuan Allah memberikan terang itu kepada kita agar dunia yang gelap ini datang kepada terang yang ada pada kita sehingga dunia yang gelap ini tidak dikuasai oleh iblis tetapi mengalami kehidupan Kristus yang ada pada kita, sehingga bumi ini akan penuh dengan kemuliaan Tuhan bahkan Tuhan kita akan dimuliakan melalui kemuliaan Tuhan yang nyata di dalam kita.
”Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”(Matius 5:16).
Diskusikanlah di dalam komunitas Saudara bagaimana kemuliaan Tuhan menjadi nyata dalam hidup Saudara ketika terang Kristus itu ada di dalam Saudara.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut ayat 14-15, apa saja dua hal yang tidak mungkin dilakukan terhadap terang? Apa implikasinya bagi hidupmu?
Bagaimana caramu menyeimbangkan antara menjadi terang yang terlihat (ayat 16) dan tidak melakukannya untuk pamer (Matius 6:1)?
Di bidang kehidupan mana (keluarga, pekerjaan, komunitas) terangmu paling perlu untuk dinyatakan dengan lebih berani?
“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi”. (Matius 5:14).
Khotbah di Bukit diawali dengan Yesus yang mendefinisikan ulang identitas para pengikut-Nya.
Sebelum memberi mereka daftar peraturan, Ia pertama-tama memberikan mereka identitas: “Kamu adalah garam… Kamu adalah terang.”
Ini adalah pernyataan faktual, bukan sebuah harapan.
Setiap orang yang telah mengalami kasih karunia Allah di dalam Kristus secara otomatis adalah terang.
Pertanyaannya bukanlah apakah kita adalah terang, tetapi apakah terang kita bersinar, atau justru kita telah menutupinya?
Prinsip kebenaran pertama dari perikop ini adalah sifat alami terang yang harus terlihat.
Sebuah kota di atas bukit tidak bisa disembunyikan; sebuah pelita tidak dinyalakan untuk lalu ditaruh di bawah tempurung.
Demikian pula, iman Kristen bukanlah harta pribadi yang untuk disimpan secara rahasia.
Iman yang sejati akan secara alami mengekspresikan diri melalui perbuatan-perbuatan yang baik dan kasih yang nyata.
Kita sering tergoda untuk “menutup” terang kita karena takut dipermalukan, tidak sesuai dengan tren, atau ingin menghindari konflik.
Namun, Yesus dengan tegas menolak mentalitas ini.
Menyembunyikan terang kita berarti mengingkari tujuan dasar dari panggilan kita.
Prinsip kebenaran kedua yang kritis adalah tujuan dari terang kita.
Ayat 16 dengan jelas menyatakan bahwa tujuan dari perbuatan baik kita adalah agar orang lain yang melihatnya “memuliakan Bapamu yang di sorga.”
Ini adalah ujian motivasi yang penting.
Apakah kita bersikap baik, melayani, dan berkarya untuk mendapat pujian bagi diri sendiri atau kelompok kita?
Atau apakah semua itu kita lakukan sehingga orang yang melihatnya akan diarahkan untuk memuji dan mengenal Allah Bapa?
Terang kita bukanlah lampu sorot yang mengarah ke dalam, memamerkan kebaikan kita, melainkan seperti bulan yang memantulkan cahaya matahari, mengarahkan semua perhatian kepada Sumber Terang itu sendiri, yaitu Allah.
Hal-hal praktis untuk melakukan Firman.
Pertama, Tanyakan pada diri sendiri: “Di lingkungan kerja, sekolah, atau keluarga-ku, adakah bukti yang terlihat bahwa aku adalah pengikut Kristus?
Apakah kata-kata, tindakan, dan prioritas hidupku memancarkan nilai-nilai Kerajaan Sorga?”
Kedua, Jangan menghindari interaksi dengan dunia.
Beranilah untuk menyatakan pendapat berdasarkan prinsip kebenaran, tawarkan doa untuk teman yang sedang susah, atau menjadi sukarelawan dalam pelayanan sosial.
Jadilah orang yang aktif terlibat, bukan yang bersembunyi.
Ketiga, Murnikan Motivasi. Sebelum melakukan suatu perbuatan baik, periksa motivasi hati.
Berdoalah, “Tuhan, biarlah melalui tindakan ini, orang-orang bukan memuji aku, tetapi mengenal dan memuliakan Engkau.”
Fokuskan pelayanan pada bagaimana Allah dipermuliakan, bukan bagaimana kita dilihat orang.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana supaya terang Kristus senantiasa terlihat dan memancar setiap hari dari diri kita.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
“Sampah” apa dalam hidupmu yang masih sulit kamu lepaskan untuk Kristus?
Bagaimana hubungan antara “kuasa kebangkitan” dan “penderitaan” dalam proses pertumbuhan rohanimu?
Langkah praktis apa yang dapat kamu ambil hari ini untuk lebih mengutamakan “pengenalan akan Kristus”?
“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus”. (Filipi 3:7).
Surat Filipi dikenal sebagai “Surat Sukacita”, namun ditulis dari tempat yang paling tidak menyenangkan: penjara.
Justru dalam keadaan inilah terang iman Paulus bersinar paling terang.
Ia tidak mengeluh, tetapi menulis untuk menguatkan jemaat di Filipi.
Konteks inilah yang membuat pengakuannya dalam pasal 3 begitu berkuasa.
Ketika segala hak dan keamanan dunianya hilang, Paulus justru menemukan bahwa Kristus adalah satu-satunya harta yang tidak dapat dirampas.
Hidupnya menjadi bukti bahwa terang sejati bukan berasal dari keadaan yang baik, tetapi dari pengenalan yang dalam akan Kristus, yang mampu bersinar bahkan dalam kegelapan penjara.
Prinsip kebenaran pertama yang Paulus ajarkan adalah perlunya sebuah pertukaran nilai yang radikal.
Semua yang kita banggakan—latar belakang keluarga, prestasi akademis, kesuksesan karir, pelayanan agama, bahkan moralitas pribadi—harus ditempatkan pada perspektif yang benar di hadapan Kristus.
Semua hal itu adalah “keuntungan”, tetapi bisa menjadi “kerugian” jika kita mengandalkannya untuk diterima oleh Allah.
Kita menjadi terang ketika kita berani, seperti Paulus, mengosongkan tangan kita dari “sampah” yang kita anggap berharga, agar kita dapat sepenuhnya merangkul Kristus sebagai satu-satunya harta.
Terang itu bersinar ketika dunia melihat bahwa kita menganggap sesuatu yang mereka kejar sebagai tidak berharga dibandingkan dengan Kristus.
Prinsip kebenaran kedua adalah jalan untuk menjadi serupa dengan Kristus.
Proses ini tidak otomatis dan nyaman. Paulus menggambarkannya sebagai sebuah proses yang dinamis: “kuasa kebangkitan-Nya” dan “persekutuan dalam penderitaan-Nya”.
Kita tidak dapat memilih yang satu dan menolak yang lain. Kuasa Allah dinyatakan justru ketika kita lemah dan bersandar kepada-Nya.
Keserupaan dengan Kristus dibentuk bukan di puncak kesuksesan, tetapi dalam lembah penyerahan dan ketaatan, bahkan dalam penderitaan.
Inilah cara terang itu ditempa—sebagaimana sebuah lentera harus dilindungi oleh kaca yang tembus pandang, hidup kita harus “dibentuk” melalui proses penyangkalan diri dan ketaatan, agar terang Kristus dapat bersinar tanpa halangan.
Hal-hal praktis untuk melakukan Firman.
Pertama, Secara rutin, evaluasi hal-hal yang Anda banggakan.
Tanyakan, “Apakah ini membawa aku lebih dekat kepada Kristus atau justru membuatku mengandalkan diriku sendiri?”
Berdoalah untuk melepaskan segala “keuntungan” yang menghalangi persekutuan dengan-Nya.
Kedua, Sambut Penderitaan Kecil sebagai Latihan.
Jangan lari dari ketidaknyamanan, penolakan, atau kesulitan kecil yang datang karena kesetiaan kepada Kristus.
Lihatlah itu sebagai “persekutuan dalam penderitaan-Nya” yang akan membentuk karakter Kristus dalam diri Anda.
Ketiga, Jadikan Pengenalan akan Kristus sebagai Tujuan Utama.
Dalam setiap aktivitas rohani—baca Alkitab, doa, ibadah—tetapkan tujuan utama bukan untuk sekedar mendapat berkat atau pengetahuan, tetapi untuk “mengenal Dia” lebih dalam.
Carilah wajah-Nya, bukan hanya tangan-Nya.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya mengetahui sampah rohani dan membuangnya.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa arti praktisnya bagimu “bukan lagi aku sendiri yang hidup”?
Bagaimana kamu dapat hidup “oleh iman dalam Anak Allah” hari ini?
Bagaimana keyakinan bahwa “Kristus hidup di dalam aku” mengubah caramu menghadapi satu tantangan spesifik?
“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”. (Galatia 2:20).
Surat Galatia ditulis dalam suasana genting.
Jemaat di Galatia sedang disesatkan oleh orang-orang yang meyakinkan mereka bahwa percaya kepada Kristus saja tidak cukup; mereka juga harus disunat dan menaati hukum Taurat untuk diselamatkan.
Bagi Paulus, ini bukanlah perdebatan kecil, melainkan penyangkalan terhadap inti Injil itu sendiri.
Jika keselamatan bisa diraih dengan usaha manusia, maka kematian Kristus menjadi sia-sia.
Inilah yang membuat Paulus dengan berani menegur Petrus dan menulis surat yang tegas ini.
Kebenaran bahwa manusia dibenarkan hanya oleh iman kepada Kristus saja adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
Ayat 19 memperkenalkan sebuah paradoks rohani yang mendalam: kita harus mati untuk benar-benar hidup.
Paulus berkata, “Sebab aku telah mati bagi hukum Taurat.”
Apa artinya? Ini berarti kita sudah tidak lagi berada di bawah sistem yang menuntut kita untuk membuktikan diri kita benar di hadapan Allah dengan kekuatan kita sendiri, dan kita tidak pernah bisa memenuhinya.
Namun, kematian ini justru menjadi pembebasan.
Ketika kita “mati” bagi sistem usahanya sendiri, kita dibuka untuk menerima kehidupan yang sejati—kehidupan yang berasal dari Kristus.
Kematian ini terjadi karena kita telah “disalibkan dengan Kristus.”
Salib-Nya bukan hanya peristiwa sejarah, melainkan tempat di mana identitas lama kita dihukum dan diakhiri.
Prinsip kebenaran yang kedua adalah: Hidup Kristen yang sejati adalah Kristus yang hidup di dalam dan melalui kita.
Bukan kita yang berusaha meniru Yesus dengan kekuatan kita, melainkan kita membiarkan Dia menyatakan hidup-Nya melalui kepribadian, talenta, dan tubuh kita.
Ini adalah kehidupan yang dijalani “oleh iman.” Iman bukanlah perasaan, tetapi sikap percaya dan ketergantungan yang terus-menerus bahwa “Anak Allah telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Ketika kita sadar bahwa Kristus mengasihi kita secara pribadi dan telah memberikan segalanya bagi kita, motivasi hidup kita berubah dari kewajiban menjadi respons kasih.
Hal-hal praktis untuk melakukan Firman. Pertama, Sadarilah “Kematian” Identitas Lama Setiap Hari.
Di pagi hari, akui dengan sengaja, “Aku telah disalibkan dengan Kristus.
Tuntutan, rasa bersalah, dan ego lamaku sudah tidak berkuasa lagi.”
Ini membebaskan kita dari beban membuktikan diri.
Kedua, Hidupilah hari Ini dengan sikap bergantung penuh (Iman).
Dalam setiap situasi—bekerja, berkeluarga, menghadapi pencobaan—bertanyalah, “Bukan aku, tetapi Kristus.”
Serahkan kendali dan undang Roh-Nya untuk bertindak melalui Anda.
Ketiga, Biarkan Kasih Kristus Menjadi Motivasi Utama.
Ketika menghadapi orang yang sulit atau tugas yang berat, ingatlah frasa “Ia mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya bagiku.”
Tindakan kasih terbesar-Nya inilah yang seharusnya menjadi pendorong bagi setiap tindakan kasih dan pengorbanan kita kepada orang lain.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, diskusikan apakah respon kita apabila telah menerima kasih karunia.