Rabu, 21 Mei 2025

MURID-MURID BERDOA DAN MEMBERITAKAN INJIL

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 4:26-31

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah yang terjadi saat orang-orang percaya berdoa?
  2. Apakah yang diberikan Roh Kudus kepada mereka yang sedang berdoa?
  3. Apakah hubungan doa dan pemberitaan injil?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” (Kisah Para Rasul 4:31).

Setelah Petrus dan Yohanes dilarang memberitakan tentang Yesus oleh pemimpin Yahudi (Kisah 4:18), mereka kembali ke jemaat dan menceritakan ancaman itu.

Para penguasa ingin menghentikan penyebaran Injil, tetapi jemaat mula-mula tidak takut.

Mereka justru berkumpul dan berdoa bersama.

Situasi ini menunjukkan bahwa ancaman dan tekanan tidak boleh menghentikan orang percaya.

Sebaliknya, itu menjadi alasan untuk bersatu dan memohon pertolongan Tuhan.

Dalam doa mereka, jemaat mengutip Mazmur 2 untuk mengingat bahwa Allah berkuasa atas segala penguasa dunia (ayat 26).

Mereka tidak meminta agar masalah hilang, tetapi memohon keberanian untuk tetap memberitakan Injil (ayat 29).

Doa mereka fokus pada misi, bukan kenyamanan.

Mereka sadar: tanpa kuasa Tuhan, tidak mungkin melawan tekanan.

Lalu, Roh Kudus menguatkan mereka, dan tempat mereka berkumpul pun berguncang (ayat 31)!

Setelah berdoa, Petrus dan jemaat lain diberi keberanian untuk terus bersaksi.

Mereka memberitakan Injil dengan berani, meski ada risiko ditangkap lagi.

Tuhan juga menguatkan mereka dengan tanda-tanda ajaib (ayat 30).

Ini membuktikan: doa yang lahir dari iman tidak sia-sia.

Ketika gereja berdoa untuk misi Tuhan, Dia akan memberi kekuatan dan membuka jalan.

Gereja saat ini harus meniru cara jemaat mula-mula.

Pertama, jadikan doa sebagai dasar sebelum bertindak.

Berdoalah bersama sebelum pelayanan atau penginjilan.

Kedua, minta keberanian untuk memberitakan injil.

Jangan takut diolok karena iman—mintalah agar Roh Kudus memberi kekuatan.

Ketiga, dukung orang yang aktif memberitakan Injil, baik melalui dana, doa, atau semangat.

Jika gereja berdoa dan bertindak dengan berani, Injil akan terus menyebar, bahkan di tengah tantangan.

Mari jadikan gereja tempat doa dan pemberitaan Injil berjalan beriringan.

Dari situ, kuasa Tuhan dinyatakan!

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana mengalami keberanian untuk memberitakan injil.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ezra 1-3

Selasa, 20 Mei 2025

BERSERU BERSAMA-SAMA KEPADA ALLAH

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 4:23-25

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah yang dilakukan Petrus dan Yohanes setelah dilepaskan dari persidangan tua-tua Yahudi dan para ahli taurat?
  2. Apakah yang dilakukan tua-tua Yahudi dan para ahli taurat kepada Petrus dan Yohanes?
  3. Setelah Petrus menceritakan persidangan itu, apakah respon jemaat?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: “Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya“ (Kisah Para Rasul 4:24).

Setelah Petrus dan Yohanes dilepaskan dari penahanan oleh pemimpin Yahudi (Kisah Para Rasul 4:1-22), mereka langsung kembali ke jemaat dan menceritakan ancaman yang mereka terima.

Para pemimpin Yahudi melarang mereka memberitakan tentang Yesus.

Saat itu, gereja mula-mula dalam tekanan: mereka diintimidasi, dilarang bersaksi, dan hidup dalam ketakutan.

Namun, alih-alih diam atau menyerah, mereka memilih bersatu dan berseru bersama kepada Allah.

Latar belakang ini menunjukkan bahwa di tengah tantangan, orang percaya harus mengandalkan Tuhan, bukan kekuatan sendiri.

Mereka tidak hanya berdoa sendiri-sendiri, tapi berkumpul dan berseru bersama (ayat 24).

Doa mereka penuh keyakinan: mereka mengutip Mazmur 2 untuk mengingat bahwa Allah berkuasa atas segala penguasa dunia.

Meski situasi menakutkan, mereka percaya Tuhan lebih besar dari ancaman manusia.

Doa bersama ini menyatukan hati mereka, menguatkan iman, dan mengalihkan fokus dari ketakutan kepada kuasa Allah.

Allah tidak diam! Meski tidak langsung menghilangkan masalah, Dia memberi mereka keberanian dan hikmat untuk terus bersaksi (lihat Kisah 4:31-33).

Doa bersama itu mengubah ketakutan menjadi kekuatan.

Mereka sadar bahwa berseru kepada Allah bukan sekadar meminta pertolongan, tapi juga menyerahkan diri sepenuhnya kepada rencana-Nya.

Persekutuan doa menjadi sumber kekuatan untuk tetap setia.

Kita saat ini perlu belajar dari cara jemaat mula-mula berseru bersama.

Pertama, jangan hadapi masalah sendirian.

Ketika ada tekanan, kumpulkan orang percaya untuk berdoa bersama.

Kedua, fokus pada kuasa Allah, bukan pada besarnya masalah.

Misalnya, saat ada larangan atau kritik terhadap iman, serahkanlah dalam doa bersama.

Ketiga, jadikan gereja tempat yang aman untuk saling mendukung dan berbagi pergumulan.

Dengan berseru bersama, kita mengundang Tuhan bekerja, dan iman kita dikuatkan.

Mari jadikan gereja sebagai komunitas yang tak hanya berbagi senyum, tetapi juga berseru bersama kepada Allah.

Di situlah kuasa-Nya nyata!

Diskusikan dengan rekan-rekan PA, bagaimana supaya kita mengalami terobosan dalam doa bersama.

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Tawarikh 35-36

Senin, 19 Mei 2025

BERKUMPULNYA SEMUA ORANG PERCAYA

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 2:1-6

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah yang dimaksud dengan hari raya pentakosta saat itu?
  2. Mengapa Allah menggunakan hari raya pentakosta sebagai penggenapan pencurahan Roh Kudus?
  3. Saat murid-murid dan semua orang percaya berkumpul, apakah yang mereka lakukan?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat..” (Kisah Para Rasul 2:1).

Setelah Yesus naik ke surga, murid-murid-Nya tetap berkumpul di Yerusalem seperti yang Dia perintahkan (Kisah Para Rasul 1:4).

Saat itu, hari Pentakosta tiba—sebuah hari raya Yahudi yang dirayakan 50 hari setelah Paskah.

Banyak orang Yahudi dari berbagai negara datang ke Yerusalem untuk beribadah.

Murid-murid, sekitar 120 orang, sedang berkumpul di satu tempat yang sama.

Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi mereka taat menunggu janji Roh Kudus yang dijanjikan Yesus.

Latar belakang ini menunjukkan bahwa ketaatan untuk tetap bersatu menjadi kunci terjadinya mukjizat.

Tiba-tiba, ada suara seperti angin kencang memenuhi ruangan, dan lidah-lidah api muncul di atas kepala mereka (ayat 2-3).

Roh Kudus memberi mereka kemampuan untuk berbicara dalam bahasa-bahasa asing yang tidak pernah mereka pelajari.

Saat itu juga, orang-orang dari berbagai bangsa di sekitar Yerusalem mendengar para murid berbicara dalam bahasa mereka sendiri (ayat 6).

Peristiwa ini bukan kebetulan: berkumpulnya orang percaya menjadi cara Tuhan memulai gereja-Nya.

Tanpa persatuan, mukjizat ini tidak mungkin terjadi.

Orang-orang yang mendengar para murid langsung terheran-heran.

Mereka bertanya, “Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar bahasa kita sendiri?” (ayat 8).

Melalui persekutuan murid-murid yang taat, Roh Kudus memecahkan hambatan bahasa dan budaya.

Inilah awal gereja terbentuk, dan Injil mulai tersebar ke seluruh dunia.

Berkumpulnya orang percaya bukan sekadar acara biasa—itu menjadi pintu bagi Tuhan bekerja secara luar biasa.

Kita saat ini perlu mencontoh murid-murid yang setia berkumpul.

Pertama, jangan remehkan kebersamaan.

Hadirilah ibadah, persekutuan, PA atau doa dengan rutin, meski terasa biasa.

Kedua, mintalah untuk Roh Kudus bekerja.

Sediakan waktu untuk doa bersama dan dengarkan pimpinan-Nya.

Ketiga, jadikan gereja terbuka, seperti Pentakosta yang menjangkau banyak bahasa.

Jika gereja bersatu dan terbuka, kuasa Tuhan akan nyata, dan banyak orang tertarik pada Kristus.

Mari jadikan gereja tempat orang berkumpul bukan hanya untuk sosialisasi, tetapi untuk mengalami kuasa Tuhan bersama-sama!

Diskusikan dalam kelompok PA saudara, mengapa Roh Kudus dicurahkan saat orang-orang percaya berkumpul di hari pentakosta.

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Tawarikh 32-34

Minggu, 18 Mei 2025

BERTEKUN DENGAN SEHATI DALAM DOA BERSAMA

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 1:12-14

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Setelah Tuhan Yesus naik ke surga, apakah yang murid-murid lakukan?
  2. Mengapa mereka memutuskan untuk bertekun dalam doa bersama?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama…” (Kisah Para Rasul 1:14).

Setelah Yesus naik ke surga, murid-murid-Nya kembali ke Yerusalem seperti yang diperintahkan-Nya (Kisah Para Rasul 1:12).

Mereka berkumpul di sebuah ruang atas, bersama Maria (ibu Yesus) dan beberapa perempuan lain, total sekitar 120 orang (ayat 14).

Saat itu, mereka sedang menantikan janji Roh Kudus yang akan diberikan oleh Yesus.

Situasi mereka tidak mudah: Yesus sudah tidak ada secara fisik, dan masa depan mereka belum jelas.

Namun, alih-alih panik atau berselisih, mereka memilih untuk bersatu, bertekun, dan berdoa bersama.

Latar belakang ini menunjukkan bahwa doa bersama adalah respon iman di tengah ketidakpastian, sekaligus bentuk ketaatan pada perintah Tuhan.

Kisah Para Rasul 1:14 menekankan bahwa mereka semua “sehati dan sejiwa dalam doa.”

Ini bukan sekadar berkumpul atau membaca doa rutin, tetapi sebuah persekutuan yang intim dan tulus.

Mereka berbeda karakter (ada Petrus yang bersemangat, Tomas yang ragu, Maria yang setia), tapi perbedaan itu tidak menghalangi kesatuan hati.

Doa menjadi alat untuk menyelaraskan tujuan, menguatkan iman, dan mengingat janji Tuhan.

Kebersamaan mereka juga inklusif: perempuan dan laki-laki, mantan penjahat seperti Petrus, dan keluarga Yesus—semua sama di hadapan Tuhan.

Selama 10 hari, mereka terus-menerus berdoa dengan tekun.

Hasilnya? Pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun dengan kuasa (Kisah Para Rasul 2:1-4), dan gereja lahir.

Doa bersama bukan hanya ritual, tetapi persiapan hati untuk mengalami karya Allah.

Ketika umat Tuhan bersatu dalam doa, ketakutan berubah menjadi keberanian, keraguan menjadi keyakinan, dan kelemahan menjadi kekuatan.

Doa sehati mereka menjadi fondasi gereja yang perkasa.

Kita saat ini perlu mencontoh ketekunan jemaat mula-mula dalam doa bersama.

Pertama, jadikan doa sebagai prioritas, bukan sekadar “acara tambahan.

Kedua, jaga kesatuan hati meski ada perbedaan pendapat.

Doa bersama bisa menjadi tempat untuk saling mengampuni dan menguatkan.

Ketiga, libatkan semua orang, agar doa mencerminkan keragaman tubuh Kristus.

Jika gereja bertekun dalam doa dengan sehati, kuasa Allah akan nyata, dan dunia melihat kasih-Nya melalui hidup kita.

Mari bangun gereja yang tak hanya sibuk beraktivitas, tetapi berakar dalam doa bersama—seperti murid-murid dulu—supaya Roh Kudus berkarya lebih dahsyat!

Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya doa yang sehati.

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Tawarikh 28-31

Sabtu, 17 Mei 2025

PERSEKUTUAN YANG DI SUKAI SEMUA ORANG

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 2:45-47

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah yang dilakukan dengan harta yang mereka miliki?
  2. Mengapa dalam jemaat mula-mula tidak ada yang kekurangan?
  3. Apakah dampaknya kepada masyarakat sekitar?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“….Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 2:47).

Kisah Para Rasul 2:45-47 menggambarkan kehidupan jemaat mula-mula setelah turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta.

Setelah Petrus berkhotbah dan banyak orang bertobat, terbentuklah komunitas yang radikal dalam kasih dan persekutuan.

Masyarakat saat itu penuh dengan kesenjangan sosial, namun gereja mula-mula justru memilih hidup dalam kesatuan, saling memperhatikan, dan mengutamakan kebersamaan.

Mereka bukan hanya berkumpul untuk ibadah, tetapi menciptakan budaya di mana kepemilikan pribadi diserahkan untuk kebaikan bersama.

Latar belakang ini menunjukkan bahwa persekutuan yang sejati lahir dari respon iman akan karya Kristus dan kuasa Roh yang mengubah hati.

Ayat-ayat ini menekankan bahwa persekutuan jemaat mula-mula tidak berpusat pada kegiatan ibadah, melainkan pada tindakan nyata: berbagi harta, makan bersama, berdoa, dan bersukacita dengan tulus.

Mereka menjual harta untuk memastikan tidak ada yang kekurangan, menunjukkan bahwa persekutuan sejati menghancurkan batasan ekonomi dan status.

Kebersamaan mereka bersifat holistik—rohani, sosial, dan praktis.

Sukacita yang terpancar dari cara hidup ini membuat orang-orang di sekitar mereka “berbaik hati” (ayat 47).

Persekutuan seperti inilah yang menarik banyak orang, karena mencerminkan kasih Kristus yang terbuka bagi semua dan mengubahkan.

Kisah Para Rasul 2:47 mencatat bahwa gereja mula-mula “disukai semua orang,” dan Tuhan menambahkan jiwa-jiwa setiap hari.

Persekutuan mereka menjadi kesaksian hidup yang tak terbantahkan.

Ketika gereja hidup dalam kerendahan hati, kejujuran, dan kepedulian, dunia melihat perbedaan yang tak biasa.

Bukan program atau strategi yang menarik orang, tetapi ketulusan hubungan antar jemaat.

Mereka menjadi komunitas yang tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi menghidupinya, sehingga Injil menjadi relevan dan berkuasa.

Kita semua dipanggil untuk merefleksikan persekutuan yang sama. Ini berarti menciptakan ruang di mana anggota jemaat berani hidup transparan, saling mempercayai, dan aktif menanggung beban satu sama lain—baik secara materi, emosional, maupun rohani.

Gereja perlu melampaui rutinitas ibadah dengan membangun persekutuan yang intim, menggalang dana sosial untuk yang membutuhkan.

Persekutuan yang “disukai semua orang” hanya mungkin terjadi ketika gereja menjadi tanda kerajaan Allah: terbuka, penuh sukacita, dan menjawab pergumulan masyarakat.

Dengan demikian, gereja tidak hanya bertumbuh secara kuantitas, tetapi menjadi mercusuar kasih yang memuliakan Tuhan.

Mari kita wujudkan gereja yang tidak hanya berkumpul, tetapi seperti jemaat mula-mula, sehingga dunia melihat Kristus melalui cara kita mengasihi.  

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya memberi membangun budaya gereja seperti gereja mula-mula.

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Tawarikh 25-27

Jumat, 16 Mei 2025

PERSEKUTUAN DENGAN BAPA DAN ANAK-NYA

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

1 YOHANES 1:1-4

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dimaksud dengan Firman yang hidup, yang sudah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami?
  2. Apa yang dilakukan para rasul terhadap Firman hidup itu?
  3. Apa tujuan para rasul bersaksi tentang Firman hidup itu?
  4. Persekutuan seperti apa yang dialami para rasul dan mereka ingin supaya semua orang yang mendengar kesaksian mereka juga mengalaminya?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, pada suatu hari Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa setiap orang yang percaya akan masuk dalam persekutuan, yaitu menjadi satu atau bersatu dengan Bapa dan Yesus Kristus:

Yohanes 14:20 “Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”

Efesus 3:17 “sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.”

Oleh karena itu Saudara, kesatuan orang percaya dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus, terjadi karena iman dari orang-orang percaya itu.

Rasul Yohanes menuliskan hal ini kepada jemaat mula-mula dalam suratnya:

1 Yohanes 1:3 “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.”

Oleh karena itu, jika kita ingin agar bangsa kita dipenuhi dengan kemuliaan Tuhan, maka tidak ada cara lain selain pergi dan memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang di sekitar kita sehingga kita dapat membangun persekutuan dengan mereka.

Persekutuan kita dengan Bapa dan dengan Anak-Nya dapat kita bawa kepada orang-orang di sekitar kita sehingga mereka pun bersekutu dengan kita.

Akhirnya, mereka masuk ke dalam persekutuan dengan Bapa.

Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Apa yang menyebabkan bangsa kita sampai saat ini belum mengenal Yesus Kristus, Anak Allah yang hidup?

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Tawarikh 21-24