Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah 1 Yohanes 2:15.
Mengapa Allah melarang kita untuk mengasihi dunia dengan segala apa yang ada didalamnya?
Berasal dari siapakah semua yang ada di dalam dunia ini, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup?
Apakah yang akan dialami oleh orang-orang yang hidupnya melakukan kehendak Allah?
Dunia ini sedang lenyap dengan segala keinginannya.
Oleh sebab itu, Tuhan melarang kita untuk mengasihi dunia ini dengan segala yang ada di dalamnya supaya kita tetap hidup selama-lamanya.
”Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”(1 Yohanes 2:15-17).
Agar kita tidak mengasihi dunia ini maka kita harus dipenuhi oleh pemahaman tentang bahwa Allah mengasihi kita.
Dengan dipenuhi oleh Kasih Allah maka kita tidak memerlukan kasih dari dunia ini dan juga tidak mengasihi dunia ini namun dipenuhi oleh pengenalan akan kasih Allah yang sempurna.
”Dan Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita, kiranya menghibur dan menguatkan hatimu dalam pekerjaan dan perkataan yang baik.”(2 Tesalonika 2:16-17).
”Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”(Efesus 3:18-19).
Pemahaman akan kasih Allah kepada kita membuat kita tahu bahwa ketika kita lahir baru memiliki kemampuan ilahi yang membuat hati dapat mengasihi Allah dan luput dari hawa nafsu dunia ini.
”Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.”(Yehezkiel 36:27).
”Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.”(2 Petrus 1:3-4).
Pemahaman ini membuat kita senantiasa terhubung dengan Roh Kristus yang membuat kita terus mencintai Tuhan dan membenci dunia ini dengan yang ada di dalamnya yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup.
”namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”(Galatia 2:20).
Diskusikanlah dalam komunitas Saudara bagaimana Saudara tetap teguh dan konsisten tidak mengasihi dunia ini karena memahami tentang kehidupan Kristus dalam batin Saudara.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah ada area dalam hidupku dimana aku masih hidup seperti “hamba” yang takut, padahal Tuhan sudah mengangkatku sebagai “anak”?
Bagaimana kehadiran “Roh Anak-Nya” dalam hatiku mempengaruhi caraku memandang dan memanggil Allah dalam doa sehari-hari?
Aturan atau tradisi “agama” apa yang kuanggap wajib, yang sebenarnya justru menutupi kasih karunia dan kebenaran yang Kristus berikan?
“Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Galatia 4:6).
Jemaat Galatia mengalami kebingungan identitas.
Mereka telah mengalami kebebasan yang membawa sukacita ketika pertama kali percaya kepada Kristus -Galatia 4:15.
Namun, kemudian datanglah orang-orang yang meyakinkan mereka bahwa pengalaman kasih karunia itu belum cukup.
Mereka diajar bahwa untuk benar-benar menjadi umat Allah, mereka harus memenuhi serangkaian aturan dan ritual keagamaan.
Pada dasarnya, mereka diajak untuk menukar hubungan yang hidup dan berdasarkan iman dengan sebuah sistem agama yang kaku dan berdasarkan performa.
Mereka seperti seorang anak angkat yang sudah diberi kebebasan dan warisan penuh, tetapi memilih untuk kembali hidup di bawah peraturan pengasuh yang ketat karena merasa tidak layak.
Paulus menjelaskan bahwa sebelum Kristus, seluruh umat manusia pada dasarnya berada dibawah “perwalian”.
Bagi orang non-Yahudi, itu adalah penyembahan berhala.
Bagi orang Yahudi, itu adalah Hukum Taurat.
Keduanya adalah sistem yang “lemah dan miskin” karena tidak dapat mengubah hati atau memberikan hidup yang kekal.
Mereka hanya menunjukkan dosa, tetapi tidak menyelesaikannya.
Namun, Kristus datang untuk “menebus” kita. Ia membayar lunas harga untuk kebebasan kita.
Hasilnya bukan sekadar kita dibebaskan dari penjara, tetapi kita diangkat menjadi anak-anak Allah.
Status kita berubah secara radikal: dari budak menjadi ahli waris yang berhak atas segala janji Allah.
Lalu, bagaimana kita bisa yakin bahwa status kita sudah berubah? Buktinya adalah kehadiran “Roh Anak-Nya” di dalam hati kita.
Roh Kudus adalah pribadi yang sama dengan Roh Kristus.
Ketika Kristus tinggal di dalam kita melalui Roh-Nya, Dia mengubah cara kita berhubungan dengan Allah.
Kita tidak lagi memandang-Nya sebagai Hakim yang menakutkan atau Majikan yang keras, tetapi sebagai “Abba, Bapa” yang penuh kasih.
Seruan “Abba” ini adalah karya Roh yang membuktikan bahwa kita adalah anak-anak-Nya.
Ini adalah bisikan Allah dari dalam hati yang meyakinkan kita bahwa kita diterima, dikasihi, dan dimiliki oleh-Nya.
Hidup dalam kebenaran ini berarti:
Pertama, hiduplah sesuai dengan statusmu. Anda adalah anak Raja, bukan budak yang hina.
Itu berarti Anda dapat menghadap Bapa dengan penuh kepercayaan diri dan keyakinan akan kasih-Nya, sekalipun mungkin Anda jatuh dalam dosa.
Kedua, andalkanlah Roh yang ada di dalammu.
Kekuatan untuk hidup kudus bukan berasal dari usaha kita menaati aturan, tetapi dari penyerahan diri kepada Roh Kristus yang tinggal di dalam.
Biarkan Dia yang memimpin dan mengubah Anda dari dalam.
Ketiga, jangan kembali kepada perhambaan.
Waspadalah terhadap kecenderungan untuk menjadikan kesalehan pribadi, tradisi, atau aktivitas agama sebagai ukuran penerimaan Allah.
Tuhan sudah menerima Anda bukan karena apa yang Anda lakukan, tetapi karena apa yang telah Kristus lakukan.
Tugas Anda adalah mempercayai-Nya dan membiarkan Roh-Nya mengubah Anda menjadi semakin serupa dengan Sang Anak.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana supaya kehadiran Roh Kristus menjadi realita dalam kehidupan sehari-hari.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah dalam kehidupan sehari-hari saya lebih sering merasa seperti seorang “hamba” yang takut dihukum atau seperti seorang “anak” yang dikasihi dan dekat dengan Bapa?
Kapan terakhir kali saya benar-benar merasakan keintiman untuk memanggil Allah “Abba, Bapa” dalam doa saya?
Bagaimana Roh Kudus biasanya “bersaksi” dan meyakinkan saya bahwa saya adalah anak Allah, terutama saat saya merasa lemah dan gagal?
“Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah”. (Roma 8:16).
Bagi banyak orang di jaman Rasul Paulus, hubungan dengan Allah adalah sesuatu yang jauh, formal, dan transaksional.
Mereka harus datang kepada Allah melalui perantara, mempersembahkan korban, dan taat pada banyak peraturan dengan harapan agar Dia berkenan.
Gambaran tentang Allah lebih seperti seorang Hakim yang agung atau Raja yang jauh.
Dalam konteks inilah Paulus menulis suratnya kepada jemaat di Roma. Ia ingin meluruskan pemahaman yang keliru ini.
Melalui Kristus, segalanya telah berubah.
Injil yang dibawa Paulus bukanlah tentang peraturan baru, tetapi tentang sebuah hubungan yang baru.
Sebuah hubungan yang begitu dekat dan intim, yang dipermudah oleh karya Roh Kudus di dalam hati setiap orang percaya.
Paulus menggunakan dua istilah yang bertolak belakang: “roh perhambaan” dan “Roh yang menjadikan kamu anak Allah”.
Hidup dalam “roh perhambaan” adalah hidup yang penuh beban.
Kita merasa harus membuktikan diri, takut melakukan kesalahan, dan selalu was-was akan penghukuman.
Itu adalah kehidupan yang melelahkan.
Tetapi, Roh yang diberikan Allah kepada kita adalah Roh yang membebaskan.
Dia tidak menjadikan kita hamba, tetapi anak-anak-Nya.
Seorang anak tidak perlu membuktikan apapun untuk dicintai ayahnya.
Kasih itu sudah pemberian. Statusnya sudah pasti.
Inilah yang Roh Kudus kerjakan: Dia mengubah mentalitas kita dari mentalitas hamba yang takut menjadi mentalitas anak yang tahu bahwa ia diterima dan dikasihi.
Bukti paling nyata bahwa kita adalah anak-anak adalah keintiman kita dengan Bapa.
Roh Kudus mengajarkan mulut kita untuk memanggil “Abba, ya Bapa!”.
Ini adalah seruan yang spontan, penuh kepercayaan, dan kasih.
Ini adalah doa yang keluar dari hati seorang anak yang tahu ia dipeluk oleh ayahnya.
Di saat-saat ketika kita ragu, ketika dosa membuat kita merasa tidak layak, atau ketika keadaan terasa berat, Roh Kudus tidak diam.
Dia “bersaksi bersama-sama dengan roh kita”.
Dia membisikkan kebenaran ke dalam hati kita, mengingatkan kita akan janji-janji Firman Tuhan, dan meyakinkan kita bahwa kita tetap adalah anak-anak Allah yang berharga, sekalipun perasaan kita berkata lain.
Lalu, bagaimana kita hidup sebagai anak-anak Allah sehari-hari?
Pertama, tolaklah mentalitas hamba.
Ketika Anda berdoa, ingatlah bahwa Anda datang kepada seorang Bapa, bukan kepada seorang hakim yang menunggu untuk menghakimi kesalahan Anda.
Kedua, praktikkan keintiman dengan memanggil “Abba, Bapa”.
Jadikan ini sebagai bagian dari doa-doa pribadi Anda.
Ungkapkan hati Anda kepada-Nya dengan jujur dan percaya, seperti seorang anak bercerita kepada ayahnya yang dikasihi.
Ketiga, peganglah kesaksian Roh.
Saat keraguan dan ketakutan datang, jangan andalkan perasaan.
Berpeganglah pada kebenaran Firman Tuhan dalam Roma 8:16. Katakan, “Roh Allah bersaksi bahwa saya adalah anak-Nya.”
Biarkan kebenaran ini yang membentuk identitas, harga diri, dan keberanian Anda.
Hidup dalam realitas sebagai anak Allah akan mengubah cara Anda menghadapi setiap tantangan kehidupan.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya menyadari posisi sebagai anak Allah secara konsisten.
ROH YANG MEMBANGKITKAN KEKUATAN, KASIH DAN KETERTIBAN
Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson
Pembacaan Alkitab Hari ini :
2 TIMOTIUS 1:3-8
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Karunia rohani apa yang Tuhan telah taruh dalam hidupku yang mungkin perlu “ku kobarkan kembali” untuk digunakan bagi kemuliaan-Nya?
Di area kehidupanku yang mana rasa takut (akan penolakan, kegagalan, atau penderitaan) lebih sering menguasai diriku daripada kuasa Roh Kudus?
Bagaimana praktiknya memiliki “pikiran yang tertib” (jernih dan terkendali) ketika menghadapi tekanan dan badai kehidupan?
“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7).
Bayangkan diri Anda di posisi Timotius.
Anda adalah seorang pemimpin muda yang harus menggantikan figur sebesar Rasul Paulus.
Di luar, penganiayaan semakin menjadi. Di dalam jemaat, banyak yang menyimpang dari ajaran benar dan mulai meninggalkan Anda.
Perasaan takut, tidak mampu, dan sendiri pasti sangat besar.
Dalam situasi seperti inilah Paulus menulis surat ini.
Ia tidak menyalahkan Timotius, tetapi ia memahami betul pergumulan yang dihadapi anak rohaninya itu.
Surat ini adalah teriakan semangat dari seorang veteran pelayanan yang hampir selesai menjalani pertandingannya, kepada penerusnya yang sedang berada di tengah-tengah medan pertempuran yang paling sengit.
Seringkali ketika kita menghadapi masalah, kita berdoa meminta karunia atau kemampuan baru dari Tuhan.
Namun, nasihat Paulus justru berbeda: “mengobarkan kembali” karunia yang sudah ada.
Tuhan telah menaruh potensi dan karunia Roh dalam hidup setiap orang percaya, seringkali melalui doa dan peneguhan dari orang-orang rohani di sekitar kita (seperti penumpangan tangan Paulus).
Tantangan, rutinitas, dan kekecewaan bisa membuat “api” karunia itu meredup.
Tuhan tidak memanggil kita untuk menciptakan api baru, tetapi untuk mengipasi bara yang sudah ada hingga menjadi nyala api yang besar lagi.
Ini membutuhkan inisiatif kita: untuk berdoa, melayani, belajar, dan melangkah dalam iman meski ragu.
Ayat 7 adalah janji yang begitu menghibur.
Sumber masalah Timotius (dan seringkali kita juga) adalah “roh ketakutan”.
Ketakutan adalah musuh iman.
Itu membuat kita lumpuh, menarik diri, dan diam.
Tetapi Paulus dengan tegas menyatakan bahwa Roh yang ada di dalam kita adalah Roh yang sama yang membangkitkan Kristus dari kematian!
Roh itu memberikan kita:
(1) Kekuatan untuk menghadapi apa yang tidak bisa kita hadapi sendiri;
(2) Kasih untuk mengasihi orang yang sulit dikasihi dan tetap setia kepada Tuhan; dan
(3) Ketertiban (pikiran yang jernih dan terkendali) untuk tidak panik, tidak mengambil keputusan gegabah, dan tetap berfokus pada kebenaran Firman Tuhan di tengah kekacauan.
Lalu, bagaimana kita menerapkannya?
Pertama, ingatlah warisan imanmu.
Seperti Timotius yang diingatkan pada iman neneknya, ingatlah saat-saat Tuhan setia dalam hidupmu dan keluargamu.
Itu adalah fondasi yang kokoh.
Kedua, bertindaklah untuk mengobarkan karuniamu.
Jika karuniamu adalah mengajar, mulailah mempersiapkan sebuah renungan kecil.
Jika melayani, carilah kesempatan untuk menolong.
Jangan tunggu sampai rasa takut hilang, lakukanlah dengan mengandalkan Roh-Nya.
Ketiga, tolaklah roh ketakutan dengan mengklaim janji Firman Tuhan.
Ketika rasa takut datang, katakan dengan lantang, “Allah memberikan kepadaku bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban!”
Hadapi tantangan dengan keyakinan bahwa kuasa untuk melewatinya sudah ada di dalam dirimu, yaitu Roh Kudus sendiri.
Dengan demikian, kita bukan hanya akan bertahan, tetapi akan bertumbuh dan menjadi berani bagi Injil Kristus.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, diskusikan apakah yang dimaksud roh membangkitkan ketertiban.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah saya masih sering “membangun kembali” standar kesalehan saya sendiri untuk merasa diterima oleh Allah, padahal Kristus sudah menyelesaikannya?
Bagaimana saya dapat lebih menyadari dalam kehidupan sehari-hari bahwa “bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”?
Di area kehidupan mana saja saya masih mengandalkan kekuatan sendiri, sehingga tanpa sadar telah menyia-nyiakan kasih karunia Allah?
“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20).
Jemaat Galatia berada dalam kebingungan.
Mereka telah menerima Kabar Baik tentang keselamatan oleh kasih karunia melalui iman kepada Kristus.
Namun, datanglah guru-guru yang meyakinkan mereka bahwa iman saja tidak cukup; mereka perlu juga menaati hukum-hukum agama Yahudi untuk benar-benar menjadi orang percaya.
Mereka diajak untuk kembali membangun sistem agama yang sebenarnya telah dirombak oleh Kristus di kayu salib.
Situasi ini tidak jauh berbeda dengan kita hari ini.
Begitu mudahnya kita terjerumus dalam pemikiran bahwa keselamatan adalah “iman di dalam Kristus PLUS sesuatu yang lain”: plus pelayanan yang rajin, plus memberi persembahan yang besar, plus tidak melakukan dosa-dosa “besar”.
Tanpa sadar, kita membangun kembali tembok yang telah diruntuhkan oleh Kristus.
Paulus memberikan sebuah prinsip yang radikal: kita harus mati untuk benar-benar hidup.
Mati di sini bukanlah mati secara fisik, tetapi mati terhadap keyakinan bahwa kita bisa menyenangkan Allah dengan usaha dan kekuatan kita sendiri.
Hukum Taurat—atau dalam konteks kita, daftar aturan agama—berguna untuk menunjukkan betapa berdosa dan lemahnya kita, tetapi tidak pernah mampu menyelamatkan.
Ketika kita akhirnya menyerah dan mengakui bahwa kita tidak mampu, pada saat itulah kita “mati” terhadap sistem lama.
Kematian ini adalah pintu gerbang menuju kehidupan yang sebenarnya.
Kita berhenti dari usaha memanjat tangga menuju surga dan mulai menerima undangan untuk masuk ke dalam kasih karunia-Nya.
Kehidupan baru itu digambarkan dengan sangat indah: “bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”
Ini adalah jantung dari kekristenan.
Hidup Kristen bukanlah tentang kita berusaha meniru Yesus dari luar, tetapi tentang Kristus sendiri yang tinggal di dalam kita dan mengubah hidup kita dari dalam.
Identitas kita yang baru bukan lagi “si pendosa yang berusaha jadi baik”, tetapi “orang yang didiami oleh Kristus”.
Kekuatan untuk mengatasi pencobaan, kemampuan untuk mengasihi orang yang sulit dikasihi, dan keberanian untuk melalui badai kehidupan, semua bersumber dari Kristus yang hidup di dalam kita.
Kita hidup dengan bergantung sepenuhnya (oleh iman) kepada-Nya yang telah mengasihi kita sampai mati di kayu salib.
Lalu, bagaimana kita menerapkan kebenaran yang dalam ini?
Pertama, berhentilah berusaha dan mulailah mempercayai.
Setiap kali Anda merasa gagal dan tidak layak, ingatlah bahwa keselamatan bukan tentang prestasi Anda, tetapi tentang karya Kristus yang sudah selesai.
Kedua, undanglah Kristus untuk mengambil alih.
Dalam setiap situasi, tanyalah, “Yesus, bagaimana Engkau ingin menghadapi ini melalui diriku?” Hidup oleh iman adalah proses belajar mendengar suara-Nya dan taat setiap hari.
Ketiga, hargailah kasih karunia.
Jangan kembali kepada aturan-aturan yang membuatmu merasa nyaman secara agama tetapi justru meniadakan salib.
Ketika kamu jatuh, jangan lari dari Allah, tetapi larilah kepada-Nya dan terima lagi pengampunan-Nya.
Biarkan kebenaran bahwa “Kristus hidup di dalamku” menjadi sumber sukacita, kekuatan, dan identitasmu yang paling utama.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya mematikan manusia lama, dan hidup sebagai manusia baru.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Siapakah yang pikirannya tumpul dan apa penyebabnya?
Apakah yang terjadi kepada pikiran seseorang yang bertobat?
Apakah yang dimaksud dengan segambar dengan Yesus?
“….Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar….” (2 Korintus 3:18).
Pada zaman Rasul Paulus, banyak orang Yahudi yang sangat menghormati Hukum Taurat Musa tetapi gagal melihat bahwa semua ritual dan korban dalam Perjanjian Lama hanyalah bayangan dari Kristus yang akan datang.
Mereka membaca Kitab Suci dengan “selubung” yang menutupi pengertian mereka, sehingga yang mereka lihat hanyalah aturan-aturan yang harus dipatuhi, bukan Juru Selamat yang dikirim untuk menebus mereka.
Selubung ini membuat mereka terfokus pada ritual keagamaan tanpa mengalami perubahan hati.
Mereka sibuk dengan yang lahiriah, tetapi hati mereka tidak diubah.
Inilah bahaya yang juga mengintai kita saat ini: melakukan ritual agama tanpa memiliki hubungan pribadi dengan Kristus.
Kabar baiknya adalah, selubung yang menutupi hati dan pikiran kita telah diangkat oleh Tuhan Yesus Kristus!
Ketika kita berbalik kepada-Nya dalam pertobatan dan iman, mata rohani kita dibukakan.
Kita mulai membaca Alkitab dengan perspektif yang baru.
Kita tidak lagi melihat Perjanjian Lama sebagai dongeng masa lalu, tetapi sebagai janji Allah yang digenapi dalam diri Yesus.
Kita tidak lagi membaca “jangan berzinah” atau “harus mengasihi” hanya sebagai perintah yang mustahil kita lakukan, tetapi sebagai undangan untuk mengalami kasih karunia dan kuasa Roh Kudus yang memampukan kita untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
Kristus adalah kunci yang membuka seluruh isi Alkitab dan membuatnya hidup dan cocok bagi kita.
Setelah selubung diangkat, kita memasuki sebuah perjalanan yang menakjubkan: kita “diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya.”
Perhatikan bahwa ini adalah sebuah proses.
Paulus menggunakan frasa “dari kemuliaan kepada kemuliaan,” yang menggambarkan perubahan bertahap dan terus-menerus, seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu.
Proses ini bukan hasil usaha kita sendiri dengan mencoba lebih rajin beribadah atau berbuat baik.
Ini adalah karya Roh Kudus di dalam diri kita.
Peran kita adalah dengan “muka yang tidak berselubung, kita memandang kemuliaan Tuhan.”
Artinya, kita harus dengan tekun dan konsisten merenungkan Kristus—melalui Firman-Nya, dalam doa, dan dalam penyembahan.
Semakin kita memandang Dia, semakin sifat-sifat-Nya—kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan—terpantul dalam hidup kita.
Lalu, bagaimana prinsip firman Tuhan ini diterapkan dalam hidup kita sehari-hari?
Pertama, bertobatlah dari ketergantungan pada diri sendiri.
Berhentilah berusaha menjadi baik dengan kekuatan sendiri.
Akui bahwa hanya Kristus yang dapat mengubahmu.
Kedua, alokasikan waktu setiap hari untuk “memandang Dia.”
Bacalah Alkitab bukan sekadar untuk menambah pengetahuan, tetapi untuk berjumpa dengan Pribadi Yesus.
Renungkan kebaikan, kuasa, dan pengorbanan-Nya bagimu.
Ketiga, percayalah pada karya Roh Kudus.
Ketika kamu menghadapi pencobaan atau kegagalan, ingatlah bahwa perubahan itu proses.
Allah tidak terburu-buru.
Dia dengan setia mengerjakan dalam dirimu dari satu tingkat kemuliaan kepada tingkat yang lain.
Hidupmu adalah kanvas-Nya, dan Dia sedang membuatmu semakin serupa dengan gambar Anak-Nya.
Terimalah kebebasan dan anugerah yang ditawarkan-Nya, dan biarkan kemuliaan-Nya semakin nyata melalui hidupmu.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya membaca dan merenungkan firman Tuhan yang efektif.