Selasa, 9 Juni 2026

MENJADI SESAMA BAGI YANG TERLUKA

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

LUKAS 10:25-37

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Mengapa imam dan orang Lewi tidak menolong orang yang terluka di jalan?
  2. Apa yang dilakukan orang Samaria ketika melihat orang yang terluka?
  3. Bagaimana kita dapat menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan pertolongan saat ini?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Perikop Lukas 10:25–37 ditulis oleh Lukas, seorang tabib dan penulis Injil.

Bagian ini muncul dalam konteks percakapan antara Yesus dan seorang ahli Taurat yang datang untuk mencobaiNya dengan pertanyaan tentang bagaimana memperoleh hidup yang kekal.

Pertanyaan itu diajukan oleh seorang ahli hukum Yahudi yang sangat memahami Taurat, namun belum memahami makna sejatinya.

Yesus kemudian mengarahkan kembali kepada inti hukum Allah yang telah dinyatakan dalam Shema Israel (Ulangan 6:4–5), yaitu pengakuan iman bahwa TUHAN itu esa dan harus dikasihi dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi.

Shema menjadi dasar bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari ketaatan nyata dalam kehidupan yang baik dan benar sesuai nilai kebenaran dan moral terhadap sesama.

Perumpamaan orang Samaria yang murah hati, yang diberikan Yesus sebagai jawaban atas pertanyaan “siapakah sesamaku manusia?” dalam narasi ini, seorang korban dirampok, dipukuli, dan dibiarkan setengah mati, sementara seorang imam dan seorang Lewi yang secara religius dianggap “dekat dengan Allah” justru melewatinya tanpa belas kasihan.

Namun seorang Samaria, yang secara sosial dan religius dianggap rendah oleh orang Yahudi masa itu, justru melihat, tergerak oleh belas kasihan, dan bertindak menolong secara konkret.

Yesus menegaskan bahwa kasih sejati bukan diukur dari status keagamaan atau pengetahuan hukum, melainkan dari tindakan nyata yang berbelas kasih kepada yang menderita.

Kasih kepada Allah selalu menghasilkan kasih yang aktif kepada sesama, dan kasih tersebut tidak dibatasi oleh identitas, latar belakang, atau dianggap pantas menurut pandangan orang banyak, melainkan lahir dari hati yang telah diubahkan oleh anugerah Allah.

Dalam kehidupan orang Kristen saat ini, perikop ini menuntut respons yang konkret dan bukan sekadar teori atau pembicaraan di awang-awang (hanya khayalan saja).

Ketika ada orang yang kekurangan atau membutuhkan pertolongan, tidak cukup hanya berhenti pada doa, rasa iba, dan belas kasihan di dalam hati, tetapi harus disertai tindakan nyata.

Jika mau menolong, maka tolonglah; jika mau membantu, maka bantulah melalui tenaga, waktu, pikiran, bahkan dana pribadi atau dalam bentuk lain yang kita bisa.

Menjadi sesama bagi yang terluka berarti hadir secara nyata bagi mereka yang menderita, baik secara fisik, emosional, maupun spiritual, tanpa memilih-milih siapa yang layak ditolong.

Orang percaya dipanggil untuk tidak hanya memiliki pengetahuan rohani, tetapi juga menunjukkan kasih yang nyata melalui sikap mengampuni, menolong, memperhatikan yang terpinggirkan, dan tidak bersikap acuh tak acuh terhadap penderitaan orang lain.

Sering kali, ketika melihat orang lain berada dalam kesulitan, kita enggan atau jarang bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk menolongmu?” Padahal kasih yang sejati menuntut kepedulian dan tindakan yang tulus.

Karena itu, tidak perlu menunggu atau menunjuk orang lain terlebih dahulu, tetapi mulailah dari 3M: Mulai dari hal kecil, Mulai dari hari ini, dan Mulai dari diri sendiri.

Di tengah dunia yang dipenuhi sikap individualistis dan ketidakpedulian, gereja dipanggil menjadi gambaran hidup dari belas kasihan Allah yang nyata di dalam Kristus.

Dengan demikian, kehidupan orang percaya menjadi kesaksian bahwa kasih Allah tidak hanya diketahui, tetapi juga dihidupi melalui tindakan yang menyentuh dan memulihkan kehidupan orang lain.

Ketika melihat orang lain terluka, menderita, atau membutuhkan pertolongan, apakah kita hanya merasa kasihan, atau sudah sungguh hadir dan bertindak nyata sebagai sesama yang menunjukkan kasih Kristus?

Pembacaan Alkitab Setahun

Ayub 29-31

Senin, 8 Juni 2026

HUKUM TERBESAR: MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 22:37–40

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang Yesus ajarkan sebagai hukum yang terutama dalam Matius 22:37–40?
  2. Bagaimana cara kita menunjukkan kasih kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari?
  3. Mengapa mengasihi sesama manusia tidak bisa dipisahkan dari mengasihi Allah?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Perikop Matius 22:37–40 disampaikan oleh Yesus Kristus dalam konteks perdebatan dengan para pemimpin agama Yahudi di Yerusalem, khususnya kelompok Farisi dan ahli Taurat yang berusaha menjebakNya dengan pertanyaan hukum yang paling utama dalam Taurat.

Injil Matius ditulis oleh rasul Matius kepada komunitas orang percaya, khususnya dari latar belakang Yahudi, untuk menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang menggenapi seluruh hukum dan kitab para nabi.

Dalam bagian ini, jawaban Yesus mengacu langsung pada “Shema Israel” (Ulangan 6:4–5), yaitu pengakuan iman inti bangsa Israel: “Dengarlah, hai Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.”

Shema menegaskan keesaan Allah dan tuntutan kasih total kepadaNya dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi.

Dengan mengutip Shema, Yesus tidak hanya mengulang tradisi, tetapi menyatakan otoritas ilahiNya dalam menafsirkan hukum Allah secara penuh dan benar.

Inti dari pengajaran ini adalah penegasan Yesus bahwa seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi bergantung pada dua perintah utama, yaitu: mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia.

Kasih kepada Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi menunjukkan tuntutan totalitas hidup manusia bagi Allah, di mana seluruh keberadaan manusia diarahkan untuk memuliakanNya.

Kasih kepada Allah tidak terpisahkan dari kasih kepada sesama manusia, sehingga hubungan yang baik dan benar dengan Allah secara vertikal selalu dan otomatis menghasilkan hubungan horizontal yang benar dan harmonis dengan manusia.

Hukum ini menunjukkan bahwa inti ketaatan bukan sekadar tindakan lahiriah, tetapi perubahan hati yang diperbarui oleh anugerah Allah, sehingga manusia mampu mengasihi dengan benar.

Seluruh hukum dan tuntutan moral Allah dirangkum dalam kasih yang berpusat pada Allah sendiri dan meluas kepada sesama.

Kekristenan adalah agama yang mengajarkan dan berpusat pada kasih, bahkan menjadi perbedaan yang paling mendasar dan paling terlihat dengan agama lainnya, karena kasih menjadi inti hubungan antara Allah, manusia, dan sesama.

Kebenaran ini menuntut tindakan yang benar-benar dilakukan dan menyeluruh dalam kehidupan orang percaya.

Mengasihi Allah berarti menjadikan Dia pusat seluruh kehidupan, baik dalam pikiran, keputusan, motivasi, dan tindakan, bukan hanya dalam ibadah setiap minggu atau pertemuan rohani saja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, baik di tengah keluarga inti maupun keluarga besar, dalam kehidupan bertetangga atau masyarakat, di dunia kerja, di marketplace, di sekolah atau kampus, dan di mana pun orang percaya berada.

Sementara itu, mengasihi sesama diwujudkan melalui sikap pengampunan, kerendahan hati, keadilan, dan kepedulian nyata terhadap orang lain tanpa memandang latar belakang ekonomi, pendidikan, ras atau suku, agama, jenis kelamin, kelompok dan lain sebagainya.

Dalam kehidupan orang Kristen, kasih bukan hanya ajaran, tetapi identitas yang lahir dari persekutuan dengan Kristus, sehingga apa yang dilakukan seseorang merupakan cerminan dari siapa ia di dalam Kristus.

Orang percaya dipanggil untuk memeriksa dirinya apakah kasih kepada Allah benar-benar menjadi dasar hidupnya, yang tampak dalam cara ia memperlakukan sesama.

Di tengah dunia yang dipenuhi egoisme, sikap cuek, dan ketidakpedulian terhadap orang lain, gereja dipanggil menjadi kesaksian hidup dari hukum terbesar ini, sehingga melalui kasih yang nyata, dunia dapat melihat gambaran karakter Allah yang sejati, bahkan melalui kasih itu pula dunia dapat mengalami realitas Kristus (Kristus yang nyata hadir), hidup, dan berkuasa.

Diskusikan dalam kelompok PA dan persekutuan kita, apakah kita sudah benar-benar mengasihi Allah dengan segenap hidup kita dan mengasihi sesama sebagaimana Dia telah terlebih dahulu mengasihi kita?

Pembacaan Alkitab Setahun

Ayub 24-28

Minggu, 7 Juni 2026

KASIH ALLAH YANG MENGUBAH DUNIA

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

1 YOHANES 4:7-10

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Dari mana asal kasih yang sejati menurut 1 Yohanes 4:7–10?
  2. Bagaimana Allah menunjukkan kasihNya kepada manusia melalui Yesus Kristus?
  3. Apa tanggung jawab orang percaya setelah menerima kasih Allah?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Surat 1 Yohanes ditulis oleh rasul Yohanes kepada jemaat Kristen mula-mula yang sedang menghadapi ancaman serius dari pengajar-pengajar palsu yang merusak pemahaman tentang Kristus dan kehidupan suci dan kudus.

Mereka mengaku memiliki pengetahuan rohani yang tinggi, tetapi hidup tanpa kasih, bahkan memisahkan diri dari persekutuan jemaat.

Karena itu, Yohanes menulis bukan hanya untuk melawan ajaran yang menyimpang, tetapi juga untuk menunjukkan kasih yang sungguh-sungguh atau kasih yang tulus dari kehidupan yang lahir dari Allah.

Dalam 1 Yohanes 4:7–10, Yohanes membawa jemaat kembali kepada dasar iman yang sejati, yaitu kasih yang berasal dari Allah.

Ayat ini menunjukkan bahwa kasih bukan hasil pekerjaan moralitas manusia, melainkan bukti pekerjaan Allah dalam diri seseorang.

Ketika Yohanes berkata, “setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah,” ia sedang menegaskan bahwa kelahiran baru mendahului kemampuan manusia untuk mengasihi dengan benar.

Manusia berdosa pada aslinya cenderung hidup dalam egoisme dan pemberontakan terhadap Allah, sehingga kasih sejati hanya mungkin terjadi ketika Allah terlebih dahulu memperbarui hati manusia melalui karya Roh Kudus.

Dengan demikian, kasih bukan akar keselamatan, tetapi buah dari keselamatan yang dikerjakan Allah.

Inti dari bagian ini tampak pada ayat 9–10, yaitu pernyataan kasih Allah melalui pengutusan AnakNya yang tunggal ke dalam dunia.

Yohanes dengan tegas menyatakan bahwa kasih Allah bukan sekadar teori yang sulit dipahami atau hanya mengandalkan perasaan semata, tetapi tindakan yang nyata di dalam Kristus.

Kalimat “bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita” menunjukkan bahwa setelah manusia Adam jatuh ke dalam dosa, maka manusia pada dasarnya sudah mati secara rohani dan manusia tidak mencari Allah.

Karena itu, Allah sendiri yang terlebih dahulu berinisiatif mengambil tindakan dengan mengutus Kristus untuk menanggung dosa-dosa kita.

Artinya, Yesus menjadi pengganti manusia berdosa dengan menerima hukuman yang seharusnya kita tanggung, sehingga hubungan manusia dengan Allah dipulihkan.

Di kayu salib, Kristus bukan hanya memberikan teladan kasih, tetapi benar-benar menanggung hukuman dosa umatNya supaya mereka diperdamaikan dengan Allah.

Inilah inti Injil, yaitu kasih Allah bekerja melalui pengorbanan Kristus yang sempurna dan efektif.

Kebenaran apa yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari? Yohanes menegaskan bahwa setiap orang yang telah menerima kasih Allah dipanggil untuk hidup dalam kasih yang sama.

Dalam kekristenan, dasar hidup orang percaya bukanlah “supaya,” melainkan “karena”; dengan kata lain kita mengasihi bukan “supaya” diselamatkan, tetapi “karena” kita telah terlebih dahulu diselamatkan oleh kasih Kristus melalui pengorbananNya di kayu salib untuk menebus penyakit kita, yaitu dosa-dosa kita.

Karena Kristus telah mengasihi dan mengampuni kita tanpa syarat, maka orang percaya juga dipanggil untuk mengasihi, mengampuni, dan hidup dalam damai dengan sesama tanpa syarat.

Kasih Kristen bukan sekadar sikap ramah, suka menolong, jika seseorang menampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu, doakan musuh, atau toleransi tanpa kebenaran, melainkan kehidupan yang memancarkan karakter Kristus melalui kekudusan, kesucian hidup, kerendahan hati, pengorbanan diri, kesetiaan, kerelaan meminta maaf, hati yang mau mengampuni, kepedulian kepada sesama, serta keberanian memberitakan Injil keselamatan, bahkan dalam sikap yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan rela mengalah, mengampuni, mendoakan musuh, dan menunjukkan kasih yang nyata sebagaimana Kristus ajarkan.

Di tengah dunia yang dipenuhi kebencian, egoisme, dan kepentingan diri sendiri, gereja dipanggil menjadi saksi melalui kasih yang lahir dari Injil dan berakar pada kebenaran firman Tuhan.

Karena itu, setiap orang percaya perlu menguji dirinya, apakah kasih yang ditunjukkan sungguh lahir dari hati yang telah diperbarui oleh Allah atau hanya berasal dari motivasi manusiawi?

Sebab ketika gereja hidup di bawah kuasa kasih Allah yang sejati, dunia akan melihat kemuliaan Kristus dinyatakan melalui kehidupan umatNya.

Sering kali Allah memakai dan memerlukan jemaat yang hidup dalam kasihNya untuk menjadi alatNya dalam membawa perubahan di tengah dunia ini.

Apakah kasih Allah yang telah kita terima sudah nyata terlihat dalam cara kita mengasihi sesama hari ini? Diskusikan dalam kelompok PA dan persekutuan kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ayub 21-23

Sabtu, 6 Juni 2026

HIDUP KUDUS DENGAN MEMPERSEMBAHKAN TUBUH

Penulis : Anang Kristianto

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

ROMA 12:1-3

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang nasehat yang diberikan pada bacaan ayat Firman Tuhan hari ini?
  2. Menurut pembacaan hari ini, apakah yang disebut ibadah sejati?
  3. Apa artinya menjadi serupa dengan dunia?
  4. Bagaimana caranya supaya kita dapat membedakan kehendak Allah?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Paulus menulis kepada jemaat di Roma yang hidup di tengah pusat kekuasaan Kekaisaran Romawi—sebuah masyarakat yang sangat dipengaruhi budaya penyembahan berhala, pencarian status sosial, dan pemuasan diri.

Dalam bahasa Yunani, kata parastēsai berarti “menyerahkan” atau “mempersembahkan” secara sadar, sedangkan “persembahan hidup” (thysian zōsan) menjadi kontras dengan sistem korban Perjanjian Lama yang biasanya berupa hewan mati di atas mezbah.

Paulus menegaskan bahwa ibadah sejati bukan hanya ritual di tempat ibadah, tetapi seluruh kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah.

Tubuh dalam pemahaman Ibrani juga tidak hanya berarti fisik, melainkan keseluruhan keberadaan manusia—pikiran, tindakan, relasi, dan keputusan hidup.

Perintah “jangan menjadi serupa dengan dunia ini” bukan ajakan menarik diri dari masyarakat, melainkan panggilan untuk memiliki pola pikir baru yang dibentuk oleh kehendak Allah.

Pada masa Romawi, tekanan untuk mengikuti arus budaya sangat kuat, termasuk dalam moralitas seksual, kekuasaan, dan kesombongan intelektual.

Di era digital saat ini, tubuh sering diperlakukan sebagai objek untuk memperoleh validasi sosial melalui penampilan, popularitas, atau kesenangan instan.

Media sosial mendorong budaya perbandingan tanpa henti, sementara industri hiburan dan iklan terus membentuk standar hidup yang sering bertentangan dengan nilai kekudusan.

Data global menunjukkan peningkatan masalah kesehatan mental, kecanduan digital, pornografi, serta gaya hidup konsumtif yang memengaruhi cara manusia memandang dirinya sendiri.

Banyak orang hidup lelah karena terus mencoba memenuhi ekspektasi dunia yang berubah-ubah.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa tubuh bukan alat untuk memuliakan ego, melainkan sarana untuk memuliakan Tuhan.

Dunia modern tidak hanya membentuk perilaku melalui tindakan nyata, tetapi juga melalui algoritma, opini publik, dan arus budaya digital yang perlahan memengaruhi cara berpikir manusia.

Tanpa disadari, banyak orang mulai mengukur nilai dirinya berdasarkan jumlah pengikut, pencapaian materi, atau pengakuan sosial.

Renungan hari ini mengajak kita memeriksa dengan jujur: kepada siapa tubuh, pikiran, dan hidup kita sebenarnya dipersembahkan setiap hari?

Mempersembahkan tubuh kepada Tuhan berarti menjadikan aktivitas sehari-hari—bekerja, belajar, berbicara, menggunakan media sosial, bahkan cara memperlakukan orang lain—sebagai bagian dari ibadah.

Kekudusan bukan hanya soal menghindari dosa besar, tetapi tentang hidup yang terus diarahkan kepada kehendak Allah.

Dalam kehidupan modern, penerapan ayat ini dapat dimulai dari disiplin sederhana: menjaga apa yang kita konsumsi secara digital, memakai kata-kata yang membangun, mengelola tubuh dengan bijaksana, dan menolak kebiasaan yang merusak jiwa.

Tuhan tidak mencari kesempurnaan instan, tetapi hati yang bersedia dibentuk setiap hari.

Apakah cara hidup saya sehari-hari sudah benar-benar menunjukkan bahwa kita sedang mempersembahkan tubuh kita sebagai ibadah kita yang sejati? Bagaimana cara kita berubah oleh pembaharuan budi?

Pembacaan Alkitab Setahun

Ayub 17-20

Jumat, 5 Juni 2026

TEMPAT KUDUSNYA

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KELUARAN 3:1-5

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Mengapa semak duri yang dilihat Musa tidak terbakar?
  2. Apakah makna peristiwa itu?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Keluaran 3:5  “Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”

Di padang gurun Midian, Musa melihat semak duri yang menyala tetapi tidak terbakar habis.

Ketika Musa mendekat untuk melihatnya, Tuhan memanggil namanya dari tengah semak itu.

Peristiwa ini bukan sekadar mujizat yang menarik perhatian.

Terdapat pelajaran rohani yang sangat dalam tentang kekudusan Allah, penyembahan, panggilan hidup, dan sikap manusia di hadapan hadirat Tuhan.

Tuhan berkata kepada Musa: “Tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”

Kalimat ini mengingatkan bahwa ketika Allah menyatakan hadirat-Nya, segala sesuatu berubah.

Tempat biasa menjadi kudus karena kehadiran Tuhan yang kudus.

Di jaman sekarang, banyak orang kehilangan rasa hormat terhadap kekudusan Tuhan.

Penyembahan sering menjadi rutinitas, ibadah dilakukan tanpa kesadaran akan hadirat Allah, dan manusia semakin mudah memperlakukan perkara rohani secara sembarangan.

Karena itu kisah Musa di semak yang menyala menjadi pengingat penting bagi setiap orang percaya.

Ketika Musa mendekat, Tuhan berkata: “Janganlah datang dekat-dekat.”

Ini menunjukkan bahwa manusia berdosa tidak dapat sembarangan mendekati Allah yang kudus.

Hari ini banyak orang berbicara tentang kasih Tuhan, tetapi melupakan kekudusan-Nya.

Allah bukan hanya penuh kasih; Ia juga kudus, mulia, dan agung.

Kekudusan Tuhan berarti: tidak ada dosa dalam diri-Nya, Allah sempurna, Ia terpisah dari segala kejahatan.

Di hadapan Tuhan yang kudus: Musa harus berhenti, Musa harus mendengar, Musa harus melepaskan kasutnya, Musa harus merendahkan diri.

Demikian juga hari ini Tuhan memanggil kita untuk memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan di tempat kudus-Nya, yaitu di secret place kita bersama dengan Tuhan.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apakah engkau sudah memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan dan bagaimana penerapannya setiap hari?

Pembacaan Alkitab Setahun

Ayub 14-16

Kamis, 4 Juni 2026

MEMPERTAHANKAN KELAKUAN YANG BERSIH

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MAZMUR 119:9-11

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Bagaimana Firman Tuhan bisa menolong orang untuk hidup benar?
  2. Apakah bahaya dari perilaku yang menyimpang, sekali pun itu adalah penyimpangan kecil?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saat ini kita hidup di dunia yang dipenuhi banyak hal yang bisa memberikan pengaruh yang mendalam atas hidup kita.

Setiap hari manusia dibanjiri berbagai suara, gambar, pemikiran, dan godaan yang berusaha memengaruhi hati dan kehidupan.

Banyak orang berkata, “Yang penting punya niat yang baik,” sementara kehidupan sehari-hari dipenuhi kompromi terhadap dosa. Ya niat saja tidak cukup.

Mazmur 119:9  “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.”

Firman Tuhan ini menegaskan bahwa kelakuan yang bersih tidak terjadi dengan sendirinya, bahwa menjaga hidup tetap bersih membutuhkan usaha dan kemauan untuk membaca, merenungkan dan melakukan Firman Tuhan.

Kata “mempertahankan” menunjukkan bahwa ada perjuangan.

Kehidupan yang bersih tidak terjadi secara otomatis.

Dunia terus menarik manusia ke arah dosa, godaan ada di mana-mana: pikiran yang najis, dusta kecil, keserakahan, kebencian, kesombongan, pengaruh media sosial dan hiburan yang merusak.

Jika seseorang tidak menjaga hidupnya dengan sungguh-sungguh, perlahan-lahan ia akan terbawa arus dunia.

Firman Tuhan adalah dasar kehidupan yang bersih. “Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.”

Karena Firman Tuhan bukanlah bacaan rohani atau pengetahuan agama.

Firman Tuhan adalah standar kebenaran yang dapat menuntun hidup manusia.

Di dunia ini standar moral terus berubah. Apa yang dulu dianggap salah sekarang dianggap biasa.

Tetapi Firman Tuhan tidak berubah.

Firman Tuhan: akan menunjukkan apa yang benar, dapat menegur ketika seseorang masih menyimpan dosa, dapat memberi hikmat, menguatkan hati dan menuntun langkah hidup kita.

Tantangan menjaga hidup bersih hari ini sangat besar.

Karena melalui internet dan media sosial, manusia dapat dengan mudah melihat hal-hal yang merusak hati dan pikiran.

Karena itu orang percaya harus bijaksana menjaga apa yang dilihat, menjaga apa yang didengar, memilih pergaulan yang benar, menggunakan teknologi dengan takut akan Tuhan.

Tidak semua yang tampak baik itu berguna secara rohani.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan tentang hal-hal yang menjadi sumber godaan baik di kantor atau di sekolah atau di rumah. Dan bagaimana sikap kita menghadapi hal-hal itu.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ayub 11-13