Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut Yesus dalam nas ini, apa tujuan dari pengurapan Roh Tuhan?
Aspek mana dari misi Yesus (kabar baik, pembebasan, penglihatan, pembebasan tertindas) yang paling relevan dengan konteks masyarakat di sekitarmu saat ini?
Langkah praktis apa yang dapat kamu ambil minggu ini untuk menjadi alat pembebasan dalam satu aspek tersebut?
“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18-19)
Lukas mencatat bahwa Yesus tumbuh dalam ketaatan dan hikmat (Lukas 2:52).
Kembali ke Nazaret, tempat Ia dikenal sebagai “anak tukang kayu,” Yesus memilih momen yang penuh makna untuk secara resmi menyatakan misi-Nya.
Ia melakukannya bukan di istana atau Bait Allah di Yerusalem, tetapi di rumah ibadat kecil di kota kecil, di tengah orang-orang yang mengenal-Nya sejak kecil.
Latar belakang ini mengajar kita bahwa panggilan dan pengurapan ilahi seringkali dinyatakan dalam konteks yang akrab dan biasa.
Allah memilih untuk memulai revolusi kasih karunia-Nya dari tempat yang tidak terduga, melalui pribadi yang dianggap biasa, dengan sebuah manifesto yang mengubah sejarah: pembebasan telah tiba.
Kehadiran dan pengurapan Roh Tuhan selalu bertujuan untuk pelayanan pembebasan.
Yesus menyatakan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku”.
Pengurapan ini bukan untuk kemuliaan pribadi, status, atau kekuasaan, tetapi untuk sebuah misi: menyampaikan kabar baik, memberitakan pembebasan, memulihkan penglihatan, dan membebaskan yang tertindas.
Ini adalah pola ilahi.
Jika kita mengaku memiliki Roh Kristus, maka hidup kita juga harus diarahkan untuk tujuan yang sama: menjadi alat pembebasan di dunia yang masih terbelenggu oleh dosa, keputusasaan, ketidakadilan, dan penindasan dalam berbagai bentuknya.
Keperkasaan rohani diukur dari dampak pembebasannya bagi orang lain.
Misi pembebasan yang holistik. Yesus tidak hanya datang untuk “menyelamatkan jiwa” dalam artian yang sempit. Ia datang untuk:
Menyampaikan kabar baik kepada orang miskin (pengharapan bagi yang bangkrut secara materi dan rohani).
Memberitakan pembebasan kepada orang tawanan (kebebasan dari dosa, adiksi, dan pola pikir yang menghambat).
Penglihatan bagi orang buta (pemulihan perspektif, tujuan, dan pengenalan akan kebenaran).
Membebaskan orang yang tertindas (pembelaan terhadap yang lemah dan terinjak).
Misi-Nya menjangkau seluruh aspek manusia yang rusak. Ini berarti gereja dan setiap pengikut Kristus dipanggil untuk terlibat dalam pelayanan yang memulihkan secara utuh—memberitakan Injil dan bertindak adil, menyembuhkan hati dan menolong yang lemah.
Hal-hal Praktis untuk Melakukan Firman Pertama, Kenali dan Gunakan “Pengurapan” Anda di Lingkungan Anda.
Seperti Yesus di Nazaret, lihatlah di sekelilingmu.
Di lingkungan keluarga, pekerjaan, atau komunitasmu, bidang apa yang membutuhkan “kabar baik” atau “pembebasan”?
Apakah ada orang yang “miskin” secara relasi, “tertawan” oleh kebiasaan buruk, atau “tertindas” secara emosional?
Jadilah saluran pengurapan Roh dengan mendekati mereka dalam kasih.
Kedua, Jadilah Pembawa Kabar Baik yang Aktif.
Jangan simpan iman Anda untuk diri sendiri.
Bagikan pengharapan dari Firman Tuhan kepada yang putus asa.
Doakan dan bantu mereka yang merasa terbelenggu untuk menemukan kebebasan dalam Kristus.
Itu bisa dimulai dari mendengarkan dan mendoakan.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya melayani dengan penuh pengurapan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Dari sifat-sifat Roh dalam ayat 2, mana yang paling kamu butuhkan saat ini, dan mengapa?
Menurut ayat 3-4, bagaimana cara Mesias menghakimi? Bagaimana kamu bisa menerapkan prinsip itu dalam menilai orang atau situasi?
Apa arti “ikat pinggang kebenaran dan kesetiaan” (ayat 5) dalam keseharian hidup dan pekerjaanmu?
“Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang”. (Yesaya 11:2-3).
Nubuat Yesaya diberikan di tengah masa suram.
Kerajaan Daud yang dahulu jaya telah menjadi seperti “tunggul” yang ditebang—tampaknya mati tanpa harapan.
Latar belakang ini mengajarkan kita bahwa Allah sering kali bekerja justru dari titik nol, dari reruntuhan, dari sesuatu yang dianggap sudah tidak berguna.
Di saat umat kehilangan pemimpin yang layak dan masa depan terlihat gelap, Tuhan membangkitkan pengharapan tentang seorang Pemimpin sejati yang sumber kekuatannya bukan dari keturunan, kekayaan, atau pasukan, tetapi dari Roh TUHAN sendiri.
Renungan ini mengingatkan kita bahwa di tengah kehancuran pribadi, keluarga, atau bangsa, Tuhan tetap memegang kendali dan memiliki rencana pemulihan yang ajaib.
Prinsip kebenaran terletak pada tujuh sifat Roh yang dicurahkan atas Sang Tunas (ayat 2).
Ini bukanlah kualitas yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang menggambarkan kepenuhan dan keseimbangan.
Hikmat dan pengertian (kapasitas kognitif dan spiritual) harus disertai nasihat dan keperkasaan (kapasitas eksekutif dan tindakan).
Semuanya berakar pada pengenalan dan takut akan TUHAN (hubungan vertikal yang intim).
Inilah sumber keperkasaan sejati. Sering kali kita mencari keperkasaan dalam bentuk kekuasaan, kecerdasan, atau keterampilan.
Namun, keperkasaan sejati untuk memimpin hidup kita dan mempengaruhi dunia dimulai dari kebergantungan total pada Roh Tuhan yang memberikan keseimbangan karakter dan integritas yang utuh.
Kepenuhan Roh selalu terwujud dalam tindakan keadilan dan kebenaran yang membela orang yang lemah (ayat 3-5).
Roh Tuhan tidak menghasilkan pengalaman spiritual yang egois atau pasif.
Sebaliknya, Roh yang sama yang memberikan hikmat dan keperkasaan, juga mendorong untuk membela yang miskin dan tertindas, dan menghukum yang fasik.
Keperkasaan rohani diuji dalam komitmen pada keadilan. Pemerintahan Mesias digambarkan dengan “tongkat yang diucapkan-Nya” (firman yang berkuasa) dan “nafas yang dihembuskan-Nya” (otoritas spiritual).
Ini menunjukkan bahwa keadilan sejati berasal dari hati yang dipimpin Roh dan diwujudkan dengan ketegasan ilahi.
Hal-hal praktis melakukan firman Tuhan.
Pertama, Berdoalah untuk selalu dipenuhi Roh Kudus.
Dalam doa-doa pribadi, mintalah secara spesifik: “Tuhan, penuhilah aku dengan Roh hikmat-Mu untuk memahami kehendak-Mu, Roh keperkasaan untuk taat, dan Roh takut akan Engkau sebagai dasar hidupku.”
Jadikan ini permohonan harian.
Kedua, Periksa Motivasi dalam Pengambilan Keputusan.
Sebelum mengambil keputusan penting (besar atau kecil), tanyakan: “Apakah keputusan ini didasari oleh keinginan untuk terlihat hebat (penampilan) atau gosip (kata orang), ataukah oleh keadilan dan kebenaran seperti Mesias?”
Berlatihlah menghakimi dengan benar.
Ketiga, Jadilah Pembela yang Lembut dan Tegas.
Dalam lingkup pengaruhmu (keluarga, pekerjaan, komunitas), belalah mereka yang tidak bersuara.
Itu bisa dengan menolak gosip, mendukung yang dipinggirkan, atau menegur ketidakadilan dengan cara yang bijak dan berani.
Kenakan “kebenaran dan kesetiaan” sebagai identitasmu.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya mengalami kehadiran Roh Kudus yang memberi keperkasaan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dilakukan Paulus dan Silas pada tengah malam saat di penjara?
Apa yang menyebabkan sendi-sendi penjara goyah, belenggu yang mengikat mereka terbuka, dan pintu-pintu penjara terbuka?
Mengapa kepala penjara hendak membunuh dirinya?
Apa yang dikatakan kepala penjara kepada Paulus dan Silas?
Saudara, ketika Paulus bersama Silas berada di Filipi, pada suatu hari Sabat mereka menyusuri sungai untuk mencari rumah sembahyang orang Yahudi yang mereka duga berada di daerah itu.
Setelah menemukan tempat tersebut, mereka masuk dan duduk, lalu bercakap-cakap dengan perempuan-perempuan di sinagoge itu.
Salah seorang dari perempuan-perempuan itu bernama Lidia, turut mendengarkan apa yang disampaikan oleh Paulus.
Lidia adalah seorang penjual kain ungu yang terkenal dari kota Tiatira.
Tuhan membuka hatinya sehingga ia sungguh-sungguh memperhatikan apa yang disampaikan oleh Paulus.
Lidia percaya kepada pemberitaan Rasul Paulus, dan ia bersama seisi rumahnya dibaptiskan sebagai tanda iman mereka.
Setelah Lidia percaya, ia meminta dan memohon agar Rasul Paulus dan Silas berkenan tinggal dan menumpang di rumahnya.
Pada suatu hari, ketika mereka kembali melayani di rumah sembahyang itu, mereka bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki roh tenung.
Perempuan ini telah memperkaya tuan-tuannya, karena ia bekerja sebagai peramal di kota itu.
Perempuan tersebut sering mengikuti rombongan Rasul Paulus sambil berseru, “Orang-orang ini adalah hamba-hamba Allah Yang Mahatinggi.
Mereka memberitakan kepadamu jalan keselamatan.”
Namun, ketika Rasul Paulus tidak tahan lagi terhadap gangguan yang dilakukan oleh perempuan itu, maka Paulus berpaling dan mengusir roh jahat, yaitu roh tenung dari perempuan tersebut.
Rasul Paulus memerintahkan roh itu dengan berkata, “Demi nama Yesus Kristus, aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini.” Seketika itu juga roh jahat itu keluar.
Ketika tuan-tuan yang mempekerjakan perempuan itu menyadari bahwa mereka kehilangan keuntungan, maka mereka menangkap Rasul Paulus dan Silas dan membawa mereka menghadap penguasa kota.
Mereka berkata, “Orang-orang ini mengacau kota kita.
Mereka orang Yahudi dan mengajarkan adat-istiadat mereka, yang tidak boleh kita orang Romawi terima atau ikuti.”
Orang banyak pun bangkit menentang Paulus dan Silas.
Lalu penguasa kota itu memerintahkan agar pakaian mereka dikoyakkan dan memerintahkan Paulus dan Silas untuk di sesah atau di dera.
Setelah merka di dera atau di cambuk, mereka dilemparkan ke dalam penjara.
Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh, sehingga Paulus dan Silas dimasukkan ke penjara yang paling tengah dan kaki mereka dipasung dengan kuat.
Namun, Rasul Paulus senantiasa melakukan kebenaran firman Tuhan:
Filipi 4:4-7“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Pada tengah malam, Rasul Paulus dan Silas berdoa dan memuji Tuhan dengan menyanyikan puji-pujian, sehingga para tahanan dan orang-orang yang dihukum lainnya mendengar nyanyian mereka.
Akan tetapi terjadilah gempa yang dahsyat, sehingga rumah tahanan berguncang hebat, dan tiba-tiba semua pintu terbuka serta belenggu mereka terlepas.
Ketika kepala penjara terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh dirinya, karena ia menyangka semua tahanan telah melarikan diri.
Namun Paulus berteriak dengan suara nyaring, “Jangan celakakan dirimu, sebab kami semua masih ada di sini!”
Kepala penjara kemudian menyuruh agar dibawakan suluh.
Ia berlari masuk dan dengan gemetar tersungkur di hadapan Paulus dan Silas.
Ia mengantar mereka keluar sambil berkata, “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat supaya aku selamat?”
Kisah Para Rasul 16:31“Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”
Lalu Rasul Paulus dan Silas dibawa keluar, dan bilur-bilur mereka dibasuh.
Mereka memberitakan firman kepada kepala penjara dan seisi rumahnya.
Kepala penjara beserta seluruh keluarganya percaya dan dibaptis.
Mereka dibawa ke rumah kepala penjara, kemudian kepala penjara menghidangkan makanan dan bergembira karena dirinya beserta seisi rumahnya menjadi percaya kepada Allah.
Dari pelajaran ini, kita belajar bahwa meskipun menghadapi banyak persoalan, kita tetap harus belajar bahwa:
Roma 8:28“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Kita lihat, melalui duka cita Rasul Paulus dan Silas, kesakitan saat di sesah dan dipenjara, namun justru terjadi keselamatan bagi kepala penjara dan seisi rumahnya.
Jadi, dalam kesusahan dan penderitaan apapun, pujilah Tuhan dan senantiasa ucapkan syukur.
Dengan demikian, kuasa pengucapan syukur bekerja dan senantiasa memberitakan Injil Kerajaan Allah supaya banyak orang yang mendengar akan diselamatkan ketika mereka percaya dan dibaptiskan.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa penderitaan orang percaya bisa mendatangkan keselamatan bagi mereka yang bersimpati dan hatinya terbuka saat melihat kedukaan orang percaya itu?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Kepada siapa Yesus menyampaikan perkataan-Nya dalam ayat-ayat firman Tuhan ini?
Dalam mengikut Yesus, apa yang harus disangkal atau ditiadakan?
Bagaimana cara menyelamatkan nyawa kita?
Apa upah bagi mereka yang kehilangan nyawa mereka?
Apa yang dapat kita berikan sebagai ganti nyawa kita?
Saudara, Tuhan Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya:
Matius 16:24-26“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”
Dengan lugas, Yesus menyampaikan pernyataan seperti yang tertulis dalam ayat firman Tuhan di atas.
Bagaimana sikap kita terhadap pernyataan Yesus ini?
Saudara, menyangkal diri berarti meniadakan keinginan-keinginan yang timbul dalam diri kita.
Karena itu, kita perlu bergaul dengan Tuhan supaya kita mengerti apa yang harus kita sangkal dari diri kita sendiri.
Apakah itu keinginan, cita-cita, mimpi-mimpi kita, atau hal-hal lain yang Tuhan minta untuk kita?
Jika kita renungkan, Tuhan menginginkan seluruh hidup kita. Tuhan ingin agar kita mengikut Dia, seperti murid-murid-Nya.
Yesus berkata kepada Simon Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes, Filipus, Natanael, serta Lewi atau Matius, pemungut cukai, “Ikutlah Aku.”
Dan mereka semua mengikut Yesus serta meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Dia.
Para nelayan itu dipanggil supaya mereka dijadikan penjala manusia. Kepada Filipus dan Natanael, Yesus menyatakan:
Yohanes 1:45-51“Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”
Saudara, kepada murid-murid-Nya Yesus menyatakan segala sesuatu bukan dengan perumpamaan atau teka-teki, melainkan dengan cara yang berterus terang, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir, kecuali untuk perumpamaan tentang ragi orang Yahudi:
Markus 8:14-21“Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.” Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Dua belas bakul.” “Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Tujuh bakul.” Lalu kata-Nya kepada mereka: “Masihkah kamu belum mengerti?”
Saudara, ketika Yesus berbicara tentang ragi orang Farisi dan ragi Herodes, para murid justru membicarakan soal tidak membawa roti.
Terjadi kesalahpahaman, karena mereka menganggap ragi identik dengan roti sebagai makanan.
Padahal, mereka sudah mengalami sendiri bahwa kekurangan roti tidak pernah menjadi masalah dalam pelayanan Yesus Kristus, sebab Yesus selalu mampu melakukan mujizat.
Ragi yang dimaksud adalah pengaruh kejahatan atau pencemaran terhadap ajaran yang benar.
Misalnya, ragi orang Farisi menunjuk pada tradisi keagamaan mereka ketika tradisi tersebut mengesampingkan perintah Allah yang benar, sehingga bagian-bagian dari firman dan kehendak-Nya tidak lagi berlaku:
Markus 7:5-13“Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban–yaitu persembahan kepada Allah–, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”
Saudara, ragi orang Farisi adalah legalisme. Seorang legalis menggantikan sikap batin yang seharusnya lahir dari kelahiran baru dan karya Roh Kudus dengan perbuatan atau perkataan yang bersifat lahiriah.
Orang seperti ini memuliakan Tuhan Allah dengan bibir, tetapi hatinya jauh dari Dia.
Dari luar mereka tampak benar, namun sesungguhnya hati mereka tidak mengasihi Tuhan.
Saudara, Tuhan Yesus dengan lugas menyatakan:
Lukas 9:23-25“Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”
Saudara, Yesus menghendaki agar para pengikut-Nya rela memikul salib dan mengikut Dia.
Bagaimana hal ini bagi kita pada hari ini? Salib apa yang sedang kita pikul saat ini?
Apakah itu salib yang kita ciptakan sendiri karena kesalahan kita?
Tuhan ingin kita memikul salib Kristus dan mengikut Dia.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Salib apa yang harus kita pikul saat ini agar kita dapat mengikut Yesus dengan setia?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang Tuhan berikan kepada kita supaya kita dapat memberi semangat kepada orang lain?
Apa yang Tuhan lakukan setiap pagi agar kita dapat menjadi bijaksana?
Apa yang kita berikan kepada orang yang menampar kita dan mencabut kumis kita?
Mengapa kita tidak akan mendapat malu?
Saudara, Yesaya menubuatkan tentang ketaatan seorang Hamba Tuhan, dan nubuatan ini digenapi dalam kehadiran Yesus Kristus.
Dialah Hamba Tuhan yang dinubuatkan oleh Yesaya.
Tuhan Allah mengaruniakan lidah seorang murid kepada Hamba Tuhan itu, supaya Ia dapat membangun semangat orang-orang yang lelah dan lemah.
Yesus pun pernah menyampaikan pernyataan khusus bagi mereka yang berbeban berat:
Matius 11:28“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Yesus menawarkan kelegaan bagi semua orang yang berbeban berat. Ia juga menyatakan:
Yohanes 10:10“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
Yesus dengan jelas menyatakan bahwa Ia datang supaya manusia memperoleh kehidupan, karena Rasul Paulus pernah menyatakan:
Roma 3:23-24“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”
Roma 6:23“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Tuhan Yesus adalah anugerah terbesar yang diberikan kepada dunia, supaya manusia memperoleh kehidupan untuk selama-lamanya.
Sebagai Hamba Tuhan, Yesus senantiasa mengasah pendengaran-Nya dan menantikan suara Bapa-Nya:
Markus 1:35“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”
Yesus senantiasa mengambil waktu untuk saat teduh dan bersekutu dengan Bapa-Nya.
Ia mendengarkan apa yang dikehendaki Bapa, dan sebagai Hamba, Ia merendahkan diri-Nya untuk mencari tahu apa yang ingin Bapa-Nya Ia katakan dan lakukan.
Karena itu, Yesus dapat menyatakan bahwa apa yang Ia katakan berasal dari Bapa-Nya.
Dan hal itulah yang membuat Yesus mampu menaati kehendak Bapa, sebagaimana dituliskan oleh Rasul Paulus dalam:
Filipi 2:5-11“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”
Saudara, keintiman Yesus dengan Bapa membuat Yesus dapat berkata:
Yohanes 12:49-50“Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.”
Saudara, Rasul Yakobus pernah menasihati jemaat dengan nasihat yang baik:
Yakobus 1:19-20“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”
Jadi, Tuhan menghendaki supaya kita cepat untuk mendengar, seperti Yesus yang senantiasa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bapa.
Oleh karena itu, Tuhan ingin kita mendengarkan, agar kita dapat berkata-kata sebagai murid-Nya.
Dengan memiliki telinga seorang murid dan lidah seorang murid, kita akan lebih mudah mengalami proses pembentukan diri untuk menjadi serupa dengan Yesus, Anak Allah.
Karena itu, tidaklah sulit bagi kita untuk memberikan punggung ketika dipukul dan memberikan pipi ketika ditampar, bahkan ketika seseorang menampar pipi kiri, kita pun rela memberikan pipi kanan.
Marilah kita menjadi pelaku firman Tuhan, supaya Yesus dipermuliakan.
Haleluya, puji Tuhan. Amin.
Apa yang menyebabkan seseorang sulit menaati firman Tuhan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah yang dilihat oleh Yesus ketika Ia menyusuri Danau Galilea?
Apa yang sedang mereka kerjakan di danau tersebut?
Apa yang Yesus katakan kepada mereka, dan apa yang kemudian mereka lakukan?
Siapakah yang kemudian dilihat oleh Tuhan Yesus?
Apa yang Yesus katakan kepada mereka, dan apa yang kemudian mereka lakukan?
Saudara, seperti dalam renungan kemarin, kita melihat bagaimana Yesus memanggil murid-murid-Nya.
Tuhan Yesus berkata, “Ikutlah Aku, dan Aku akan menjadikan kamu penjala manusia.”
Dengan demikian, para murid dipanggil untuk menjadi penjala manusia.
Menurut tulisan dalam Kitab Matius dan Kitab Markus, ceritanya sama.
Namun, dalam versi Lukas, kisahnya disampaikan dengan sedikit perbedaan.
Meski demikian, ketiganya sama dalam satu hal, yaitu ajakan Yesus kepada keempat murid-Nya: Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes.
Lukas 5:1-11“Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.”
Saudara, dalam peristiwa Yesus memanggil murid-murid-Nya, Yesus selalu mengajak mereka untuk mengikut Dia.
Kepada keempat orang ini, yaitu Simon Petrus, Andreas saudaranya, serta Yakobus dan Yohanes saudaranya, Yesus menyatakan bahwa Ia akan menjadikan mereka penjala manusia.
Dalam pemanggilan Filipus, seperti dalam renungan kemarin, Yesus menumbuhkan iman Natanael melalui kemahatahuan-Nya dengan menyatakan, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.”
Mendengar pernyataan Yesus itu, Natanael berkata, “Rabi, Engkau adalah Anak Allah, Engkau Raja Israel.”
Saudara, ketika mereka bertemu dengan Yesus, maka orang-orang yang dipilih oleh-Nya menangkap bahwa Tuhan Yesus adalah Pribadi yang besar, hebat, dan mulia, serta sangat layak dihormati.
Karena itu, mereka tidak merasa rugi untuk meninggalkan segala sesuatu demi mengikut Yesus.
Hal yang sama terjadi ketika Yesus memanggil Matius, yang juga disebut Lewi:
Lukas 5:27-32“Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
Saudara, ketika Yesus bertemu dengan orang-orang pilihan-Nya, mereka selalu segera bersedia meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus.
Bagaimana dengan kita? Rela kah kita meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus?
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak anak Tuhan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi tidak meninggalkan cara hidup lamanya? Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?