Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut 2 Korintus 9:8, apa tujuan Allah melimpahkan kasih karunia kepada kita?
Mengapa berkat Tuhan dapat diibaratkan seperti benih yang harus ditaburkan?
Firman Tuhan dalam 2 Korintus 9:8-11, Rasul Paulus membukakan sebuah rahasia ilahi yang luar biasa tentang bagaimana Allah memandang sebuah kekayaan dan kecukupan.
Bagi Tuhan, kelimpahan bukanlah terminal akhir tempat kita berhenti dan menikmati segalanya sendirian.
Kelimpahan adalah sebuah stasiun distribusi, sebuah awal dari tugas mulia yang Tuhan percayakan kepada kita untuk menjadi saluran kasih-Nya di tengah dunia yang penuh kekurangan.
Pada ayat 8, kalimat ini diawali dengan pengenalan akan karakter Allah adalah Allah sanggup.
Sering kali, alasan utama mengapa kita menahan berkat dan enggan berbagi adalah karena rasa takut akan kekurangan.
Kita takut jika kita memberi hari ini, kita tidak akan punya cukup uang untuk hari esok.
Namun, ayat ini mengingatkan kita bahwa sumber berkat kita bukanlah pekerjaan kita, bukan tabungan kita, dan bukan juga kondisi ekonomi dunia.
Sumber berkat kita adalah Allah yang Mahakaya. Kata “segala kasih karunia” menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah setengah-setengah dalam memelihara anak-anak-Nya.
Kelimpahan yang dari Tuhan mencakup segala aspek—baik itu materi, kedamaian, sukacita, hikmat, maupun kesehatan.
Tuhan berjanji bahwa kita akan berkecukupan di dalam segala sesuatu dan setiap waktu.
Ini adalah garansi surgawi yang melepaskan kita dari belenggu kekhawatiran, sehingga kita bisa melangkah dengan iman bahwa persediaan dari Bapa di surga tidak akan pernah habis.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara mentalitas kerajaan dunia dan Mentalitas Kerajaan Allah.
Dunia mengajarkan kita untuk menjadi seperti “wadah penampung” (laut mati) yang menerima semua air dari sungai-sungai tetapi tidak pernah mengalirkannya kembali, sehingga airnya menjadi asin, berbau, dan tidak ada kehidupan di dalamnya.
Sebaliknya, Tuhan ingin kita hidup seperti “pipa saluran” (sungai yang mengalir) yang terus-menerus meneruskan air kehidupan kepada lingkungan sekitar.
Dalam ayat 9-10 Perhatikan bahwa Allah menyediakan dua hal dalam hidup kita yaitu roti untuk dimakan (konsumsi) dan benih untuk ditabur.
Masalah rohani sering kali terjadi ketika kita salah membedakan keduanya—kita memakan benih yang seharusnya ditabur, atau kita menimbun benih hingga membusuk karena takut menanamnya.
Tuhan tahu persis berapa banyak “roti” yang kita butuhkan untuk hidup sehari-hari, dan Dia pasti mencukupinya.
Namun, kelebihan yang ada di tangan kita adalah “benih”.
Benih hanya akan memiliki nilai dan kuasa ketika ia dilepaskan dari tangan kita dan jatuh ke tanah.
Saat kita berani melepaskan berkat untuk menolong sesama, mendanai pekerjaan Tuhan, dan menghibur yang berduka, di situlah mukjizat terjadi.
Tuhan berjanji bukan hanya akan mengganti benih itu, melainkan melipatgandakannya dan menumbuhkan “buah-buah kebenaran”.
Pemberian yang didasari kasih tidak pernah membuat kita miskin; itu justru melipatgandakan kapasitas kita untuk menerima lebih banyak lagi dari Tuhan.
Apakah tujuan akhir dari kemurahan hati kita?
Bukan agar nama kita dipuji, bukan agar kita mendapat penghargaan sebagai dermawan, dan bukan pula agar orang-orang merasa berutang budi kepada kita.
Muara akhir dari seluruh kelimpahan adalah ucapan syukur dan kemuliaan bagi Allah.
Ketika kita menolong orang lain dengan ketulusan Kristus, orang yang menerima bantuan tersebut tidak akan melihat hebatnya diri kita, melainkan mereka akan melihat besarnya kasih Tuhan.
Tindakan memberi kita berubah menjadi sebuah kesaksian hidup.
Melalui tangan kita yang terbuka, orang lain bisa merasakan bahwa Tuhan itu baik, bahwa Tuhan mendengar doa-doa mereka, dan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka.
Kita menjadi perpanjangan tangan kasih Allah yang nyata di atas bumi ini.
Pernahkah Anda menerima berkat melalui pertolongan atau kemurahan hati seseorang? Apa dampaknya bagi kehidupan Anda? Apa yang sering membuat seseorang sulit berbagi atau menjadi berkat bagi orang lain? Apakah rasa takut kekurangan dapat menjadi salah satunya? Menurut ayat 10, Tuhan menyediakan “benih bagi penabur”. Apa yang dapat menjadi “benih” yang Tuhan percayakan kepada kita saat ini?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang menjadi pesan utama Filipi 4:19?
Dalam konteks Filipi 4:15–19, bagaimana jemaat Filipi menunjukkan kasih dan kepedulian kepada Paulus?
Dalam Filipi 4:19 mengingatkan kita, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya.
Tuhan mengetahui apa yang kita perlukan, bahkan sebelum kita memintanya.
Paulus menyampaikan ayat ini dalam konteks jemaat Filipi yang telah menunjukkan kasih dan kepedulian dengan mendukung pelayanannya.
Mereka mengambil bagian dalam pelayanan Paulus dengan memberikan apa yang mereka miliki.
Pemberian mereka bukan hanya berbicara tentang materi, tetapi menunjukkan iman, kasih, dan kepercayaan mereka kepada Tuhan.
Menariknya, Paulus tidak mengatakan bahwa mereka akan menjadi kaya karena memberi.
Paulus justru mengarahkan mereka kepada Allah sebagai sumber segala kebutuhan.
Sering kali kita berpikir bahwa kelimpahan berarti memiliki banyak uang, harta, keberhasilan, atau segala sesuatu yang kita inginkan.
Tetapi kelimpahan menurut Tuhan jauh lebih dalam daripada itu.
Kelimpahan adalah ketika kita menyadari bahwa Tuhan selalu cukup bagi kehidupan kita.
Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang menghadapi kebutuhan yang besar.
Mungkin ada pergumulan dalam keluarga, pekerjaan yang belum menghasilkan seperti yang diharapkan, kebutuhan ekonomi yang meningkat, atau masa depan yang belum jelas.
Jangan biarkan keadaan membuat kita kehilangan iman. Karena Tuhan berkata, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu.”
Perhatikan bahwa firman Tuhan tidak berkata bahwa Allah akan memenuhi segala keinginan kita, tetapi segala keperluan kita. Tuhan tahu apa yang benar-benar kita butuhkan.
Cara Tuhan mencukupkan kita juga tidak selalu seperti yang kita pikirkan.
Kadang Tuhan memberikan pertolongan melalui pekerjaan, melalui orang lain, melalui kesempatan baru, atau bahkan melalui kekuatan yang diberikan-Nya untuk melewati masa sulit.
Karena itu, kita dipanggil untuk tetap percaya. Ada saatnya kita mengalami kekurangan, tetapi Tuhan tetap ada.
Ada saatnya kita mengalami kelimpahan, tetapi Tuhan juga tetap ada.
Dalam kedua keadaan tersebut, kita perlu belajar seperti Paulus yang berkata bahwa ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.
Jangan hanya mencari berkat Tuhan, tetapi carilah Tuhan yang memberikan berkat itu.
Sebab ketika kita memiliki Tuhan, kita memiliki sumber pengharapan yang tidak pernah habis.
Kelimpahan dari Tuhan juga mengajarkan kita untuk tidak hanya menerima, tetapi untuk menjadi berkat.
Apa pun yang Tuhan percayakan kepada kita—waktu, tenaga, kemampuan, materi, kasih, maupun perhatian—dapat kita gunakan untuk menolong dan memberkati orang lain.
Ketika kita mau menjadi saluran berkat, kita belajar bahwa hidup ini bukan hanya tentang “apa yang bisa saya dapatkan?”, tetapi juga “apa yang bisa saya berikan?”
Mungkin kita tidak memiliki banyak, tetapi kita tetap dapat menjadi berkat.
Satu perkataan yang menguatkan dapat menjadi berkat.
Satu pertolongan kecil dapat menjadi berkat.
Satu pemberian yang tulus dapat menjadi berkat.
Satu doa bagi orang lain dapat menjadi berkat.
Tuhan tidak menilai besarnya pemberian kita semata-mata, tetapi melihat hati yang dengan tulus mempercayakan hidup kepada-Nya.
Apa yang paling menyentuh hati Saudara dari Filipi 4:15–19? Mengapa? Menurut Saudara, apa arti “Allah akan memenuhi segala keperluan kita” dalam kehidupan sehari-hari? Mengapa kita sering lebih mudah khawatir terhadap kebutuhan hidup daripada mempercayai pemeliharaan Tuhan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dilakukan Tuhan sebagai Gembala menurut Mazmur 23:2?
Apa arti dari perkataan “takkan kekurangan aku”?
Mungkin kita berpikir tentang kebutuhan hidup: makanan, pekerjaan, kesehatan, keluarga, keuangan, dan masa depan.
Kita sering mengukur kelimpahan berdasarkan apa yang kita miliki.
Kalau memiliki banyak, kita merasa berkelimpahan. Kalau sedang mengalami kekurangan, kita merasa Tuhan jauh.
Namun Mazmur 23 mengajarkan sesuatu yang berbeda. Daud berkata, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”
Daud tidak mengatakan bahwa hidupnya selalu mudah. Ia pernah menghadapi bahaya, dikejar musuh, mengalami kesesakan, dan melewati masa-masa yang berat.
Tetapi di tengah semua keadaan itu, Daud memiliki satu keyakinan: Tuhan adalah Gembalanya.
Seekor domba tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.
Ia membutuhkan gembala untuk menunjukkan tempat yang memiliki makanan dan air, serta membawanya ke tempat yang aman.
Demikian juga dengan kita. Kita membutuhkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan.
Ada kalanya kita merasa mampu mengatur semuanya sendiri.
Kita bekerja keras, merencanakan masa depan, mengandalkan kemampuan, dan berusaha memenuhi segala kebutuhan.
Tetapi pada akhirnya kita menyadari bahwa ada banyak hal yang berada di luar kendali kita.
Tuhan mengetahui apa yang kita perlukan. Ia tahu kebutuhan kita bahkan sebelum kita mengungkapkannya dalam doa.
Mungkin Tuhan tidak memberikan semua yang kita inginkan, tetapi Ia tidak pernah berhenti memberikan apa yang kita perlukan sesuai dengan kehendak-Nya
Ada orang yang memiliki rumah, pekerjaan, keluarga, dan berbagai fasilitas kehidupan, tetapi di dalam hatinya ada kekosongan. Mengapa?
Karena manusia bukan hanya membutuhkan makanan untuk tubuh, tetapi juga membutuhkan Tuhan untuk jiwanya.
Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang lelah.
Lelah menghadapi pekerjaan. Lelah menghadapi masalah keluarga.
Lelah memikirkan keuangan. Lelah menunggu jawaban doa.
Bahkan mungkin ada yang lelah karena merasa Tuhan belum menjawab pergumulannya.
Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan sanggup menyegarkan jiwa kita.
Datanglah kepada-Nya. Ceritakan pergumulan kita. Jangan memikul semuanya seorang diri.
Ketika kekuatan kita habis, Tuhan memberikan kekuatan baru.
Ketika pengharapan kita mulai hilang, Tuhan menyalakan kembali pengharapan itu.
Ketika hati kita gelisah, Tuhan memberikan damai sejahtera.
Daud tidak berkata bahwa orang yang memiliki Tuhan tidak akan pernah mengalami lembah kekelaman.
Sebaliknya, Daud tahu bahwa lembah itu ada.
Ada masa ketika hidup terasa gelap. Ada masa ketika kita tidak mengerti mengapa sesuatu terjadi.
Ada masa ketika doa terasa seperti belum mendapatkan jawaban.
Tetapi Daud memiliki keberanian karena ia berkata: “Engkau besertaku.”
Inilah kelimpahan yang luar biasa.
Kelimpahan bukan berarti kita tidak pernah menangis, kelimpahan bukan berarti kita tidak pernah mengalami masalah, kelimpahan bukan berarti hidup kita selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita.
Kelimpahan adalah ketika di tengah air mata, kita tetap memiliki Tuhan. Di tengah kesulitan, kita tetap memiliki pengharapan. Di tengah lembah, kita tetap memiliki Gembala.
Apa yang dapat kita pelajari dari Daud tentang mempercayai pemeliharaan Tuhan? Bagaimana kita dapat mengalami kelimpahan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kelimpahan dari Tuhan selalu berarti memiliki banyak harta? Jelaskan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dimaksud dengan “asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” dalam 1 Timotius 6:8?
Mengapa Paulus memperingatkan tentang cinta uang?
Setiap pagi kita bangun, bersiap, dan pergi bekerja.
Mengapa kita melakukan rutinitas itu? Bagi sebagian besar orang, jawaban jujurnya adalah untuk mencari uang demi menyambung hidup.
Mencari nafkah adalah hal yang baik dan merupakan mandat dari Tuhan.
Namun, Rasul Paulus memberikan peringatan mengenai bahaya yang mengintai di balik motivasi bekerja: ketika fokus kita bergeser dari bekerja untuk Tuhan menjadi bekerja untuk mengejar kekayaan.
Paulus memulainya dengan sebuah kalimat yang sangat sederhana namun radikal: “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.”
Di zaman modern yang penuh dengan budaya konsumtif ini, kata “cukup” menjadi barang langka.
Kita sering kali gagal membedakan antara kebutuhan (apa yang diperlukan untuk hidup) dan keinginan (apa yang memuaskan ego kita).
Ketika kita kehilangan rasa cukup, pekerjaan tidak lagi menjadi ladang ibadah, melainkan menjadi sebuah ambisi tanpa akhir.
Ayat 9-10 menjabarkan efek domino saat hati kita dikuasai oleh keinginan untuk kaya.
Perhatikan kata kerja yang digunakan: terjatuh, terjerat, tenggelam, menyimpang, dan menyiksa diri.
Ini adalah gambaran seseorang yang perlahan-lahan kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa uang itu jahat. Uang bersifat netral. Yang menjadi akar dari segala kejahatan adalah cinta uang.
Ketika uang mulai menempati takhta tertinggi di dalam hati kita, saat itulah uang berubah menjadi “tuan” yang kejam.
Demi mengejar angka di rekening atau status sosial, manusia bisa dengan mudah mengorbankan integritas, kejujuran, waktu bersama keluarga, bahkan waktu persekutuan dengan Tuhan.
Kita mengira kita sedang mengejar kebahagiaan, padahal kita sedang menyiksa diri kita sendiri dengan berbagai duka.
Lalu apa hubungan semua ini dengan tema “Bekerja untuk Tuhan”?
Bekerja untuk Tuhan berarti kita menyadari bahwa pekerjaan bukan pusat hidup kita,Tuhanlah pusat hidup kita.
Pekerjaan adalah bagian dari panggilan kita, Kita bekerja dengan sungguh-sungguh karena Tuhan memberikan kemampuan, kita bekerja dengan jujur karena kita membawa nama Tuhan, kita bekerja dengan disiplin karena kita menghormati tanggung jawab yang Tuhan percayakan, kita bekerja bukan hanya untuk menerima gaji, tetapi untuk menjadi berkat.
Seorang pedagang dapat bekerja untuk Tuhan, seorang petani dapat bekerja untuk Tuhan, seorang pegawai dapat bekerja untuk Tuhan, seorang guru dapat bekerja untuk Tuhan, seorang pengusaha dapat bekerja untuk Tuhan, seorang ibu yang mengurus rumah dan keluarganya juga dapat bekerja untuk Tuhan, Sebab yang membuat pekerjaan kita menjadi pelayanan bukan terutama jenis pekerjaannya, tetapi untuk siapa kita melakukannya dan bagaimana kita melakukannya.
Ketika kita bekerja dengan disiplin, integritas dan jujur, kita sedang menyatakan karakter Tuhan, ketika kita menolak korupsi meskipun ada kesempatan, kita sedang menyatakan bahwa Tuhan lebih berharga daripada keuntungan.
Ketika kita tidak mengambil hak orang lain, kita sedang menunjukkan bahwa hati kita tidak dikuasai uang.
Ketika kita menggunakan penghasilan untuk menolong orang yang membutuhkan, kita sedang menunjukkan bahwa berkat Tuhan tidak berhenti pada diri kita.
Jangan biarkan hasil dari pekerjaanmu menjauhkanmu dari Tuhan.
Bekerjalah dengan giat, tetapi jagalah hatimu agar tetap tertuju hanya kepada Tuhan.
Apakah bekerja dan memiliki kekayaan merupakan sesuatu yang salah? Jelaskan. Apa arti “bekerja untuk Tuhan” dalam kehidupan sehari-hari? Setelah mendengar renungan ini, apa yang perlu Anda ubah dalam cara memandang pekerjaan, uang, dan kekayaan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Matius 25:21!
Apakah pujian dari Tuan kepada hamba yang diberikan lima dan dua talenta?
Julukan apakah yang diberikan oleh Tuan tersebut kepada hamba yang memiliki satu talenta?
Mengapa hamba yang dipercayakan Tuannya satu talenta disebut sebagai hamba yang malas dan jahat?
Tuhan sangat menginginkan kesetiaan daripada korban sembelihan karena dalam kesetiaan ada tanggungjawab untuk selalu taat sehingga dipercayakan hal-hal yang lebih besar.
Demikianlah juga dalam kehidupan manusia, orang-orang selalu menginginkan kesetiaan.
“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”(Hosea 6:6).
”Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong.”(Amsal 19:22).
Tuhan ingin agar kita menjadi umat Tuhan yang dipercayai oleh Tuhan.
Karena jika kita dapat dipercayai oleh Tuhan dalam perkara-perkara yang kecil maka Tuhan akan mempercayakan kita hal-hal yang besar.
”Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.”(1 Korintus 4:1-2).
Tuhan mempercayakan banyak buat kehidupan kita dengan tujuan untuk memuliakan nama-Nya dan memperluas kerajaan-Nya dan ketika kita bertanggungjawab maka Tuhan akan percayakan perkara-perkara yang besar.
Marilah kita setia dengan perkara-perkara kecil yang Tuhan percayakan kepada kita: uang, harta dan kekayaan, talenta, waktu, karunia, pekerjaan, rumah tangga, bisnis, sekolah, kuliah, dan lain-lain.
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?”(Lukas 16:10-12).
Dan orang-orang yang tidak setia dari kepercayaan Tuhan maka Tuhan akan menyatakan bahwa mereka adalah hamba yang jahat dan malas sehingga Tuhan mengambil semua kepercayaan-Nya dari hamba yang tidak setia, tetapi kepada hamba yang bertanggungjawab Tuhan menyatakan bahwa mereka adalah hamba yang baik dan Tuhan akan mempercayakan hal-hal yang lebih besar.
”Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”(Matius 25:23).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara hal dan perkara apakah yang saudara sudah setia dan hal perkara apakah yang saudara belum setia!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Daniel 1:4!
Hal apakah yang dimiliki oleh Daniel, Hananya, Misael dan Azarya sehingga mereka terpilih masuk ke istanan Babel?
Menurut saudara bagaimanakah hikmat dan integritas yang mereka miliki sehingga mereka dipanggil ke istana Babel?
Dibandingkan dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya, hikmat dan integritas siapakah yang kita miliki?
Yesus adalah Tuhan dan Dia memiliki segala-galanya, berkuasa dan pencipta langit dan bumi.
“Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN.”(Yesaya 11:2).
Dan ketika kita mengalami kelahiran kembali yang dilahirkan oleh air dan Roh Kudus maka kita memiliki Kristus.
”Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.”(Roma 8:10-11).
Sehingga tubuh kita adalah bait Allah dan kita memiliki segala hal yang dimiliki oleh Yesus Kristus, termasuk di dalamnya hikmat, keperkasaan, pengertian, roh nasehat, roh pengenalan dan takut akan Tuhan yaitu integritas dan karakter Kristus.
Itulah sebabnya kita memiliki hikmat dan integritas yang unggul seperti yang dimiliki oleh Daniel yang bukan bawaan dari lahir secara jasmani tetapi bawaan dari lahir secara rohani.
Pemahaman ini dialami oleh jemaat di Korintus dimana sebelum mereka percaya kepada Yesus mereka bukanlah orang yang bijak, bukan orang yang berpengaruh, bukan orang yang terpandang tetapi setelah mereka memiliki Kristus maka mereka memiliki hikmat dan integritas yang unggul dari dunia ini.
”Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.”(1 Korintus 1:25-29).
Kita patut bersyukur karena Kristus Yesus kita memiliki hikmat dan integritas serta karakter yang unggul sehingga di dalam pekerjaan, bisnis, dalam kuliah dan sekolah, dalam pergaulan dan rumah tangga kita menjadi lebih unggul dari dunia ini sehingga kita dapat mengalirkan pekerjaan dan perbuatan Kristus bagi dunia ini.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana dalam kehidupan sehari-hari dalam pekerjaan, bisnis dan sekolah saudara memiliki hikmat dan integritas yang unggul!