Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang menjadi pertanyaan murid mengenai pemulihan Israel?
Kapan waktu pemulihan itu menurut Yesus?
Apa syaratnya murid-murid akan menerima kuasa?
Apa yang terjadi ketika kuasa itu diberikan kepada murid-murid Kristus?
Kisah para rasul terjadi pada masa ketika bangsa Yahudi hidup di bawah dominasi Kekaisaran Romawi, sehingga harapan akan kedatangan Mesias sering dipahami oleh murid-murid secara politis sebagai: pembebas yang memulihkan kejayaan Israel.
Dalam teks Yunani, kata dynamis (kuasa) yang dikatakan Yesus tidak menunjuk pada kekuatan politik atau militer, melainkan kemampuan ilahi yang diberikan Roh Kudus untuk menjalankan misi Allah.
Yesus meluruskan fokus murid-murid untuk suatu mandat menjadi saksiNya dari Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi.
Gereja dipanggil untuk melanjutkan karya-Nya di bumi melalui kuasa Roh.
Jadi, inti dari perikop ini bukanlah rasa ingin tahu tentang masa depan, melainkan panggilan aktif disertai kuasa untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia nyata.
Kita hidup dalam era koneksi digital tetapi sekaligus mengalami krisis makna dan kepercayaan.
Data dari berbagai survei global menunjukkan meningkatnya kesepian sosial, kecemasan, dan polarisasi opini akibat arus informasi yang tidak terkendali.
Media sosial memungkinkan setiap orang menjadi “penyiar”, tetapi tidak selalu menjadi saksi kebenaran.
Banyak orang lebih terdorong mengejar pengaruh dan pengakuan daripada integritas.
Pertanyaan murid tentang “kapan” terasa mirip dengan kecenderungan manusia modern yang lebih tertarik pada prediksi masa depan, teori konspirasi, atau sensasi rohani daripada tanggung jawab sebagai murid Kristus.
Kisah Para Rasul 1:8 mengingatkan bahwa kuasa Roh Kudus tidak diberikan untuk dominasi atau popularitas, melainkan untuk menghadirkan karakter Kristus di tengah dunia yang haus akan keaslian.
Renungan ini mengajak kita bertanya secara pribadi: apakah saya hanya menunggu perubahan dari luar, atau saya bersedia diubahkan dan diutus?
Roh Kudus sudah diberikan, kuasa untuk menjadi saksi bukan terutama soal kemampuan berbicara, tetapi keberanian hidup konsisten sesuai kebenaran di lingkungan kerja, keluarga, dunia akademik, dan ruang digital.
Kita dipanggil untuk memulai dari “Yerusalem” kita sendiri—lingkungan terdekat—sebelum berpikir tentang pengaruh yang lebih luas.
Hari ini, mari merenungkan: di mana Tuhan menempatkan saya sebagai saksi-Nya?
Dan bagaimana Roh Kudus ingin memakai kata-kata, keputusan, dan tindakan saya agar orang lain melihat Kristus melalui kehidupan saya?
Kuasa itu telah dijanjikan; respons kita adalah bersedia dipakai atau tidak.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa Yesus berkata bahwa lebih berguna bagi murid-murid jika Ia pergi dan Roh Kudus datang? Apa artinya bagi kehidupan kita hari ini?
Bagaimana Roh Kudus menginsafkan manusia tentang dosa, kebenaran, dan penghakiman dalam kehidupan sehari-hari?
Pada suatu ketika Yesus mengumpulkan para murid dan Dia mengatakan bahwa tidak lama lagi para murid tidak akan bertemu dengan-Nya.
Kemudian Yesus menjelaskan bahwa adalah lebih berguna kalau Dia pergi, supaya Penghibur bisa datang.
Pernyataan ini sungguh-sungguh membuat murid-murid bingung, mereka tidak tahu apa maksudnya.
Barulah di hari Pentakosta mereka mengerti dan mengalami sendiri bagaimana Roh Kudus turun ke bumi tampak dalam lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.
Hingga akhirnya mereka penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain (lihat Kisah Para Rasul 2:1-4).
Jadi kepergian Yesus membuka jalan bagi Roh untuk datang dan tinggal di dalam orang percaya.
Selama Yesus berada secara fisik di bumi, Ia hadir di satu tempat pada satu waktu.
Tetapi melalui Roh Kudus, kehadiran Allah menjadi nyata dalam hati setiap orang percaya dimanapun mereka berada.
Kadang kita merindukan dapat melihat Yesus secara fisik seperti para murid dahulu.
Namun sesungguhnya, kita memiliki sesuatu yang bahkan para murid belum alami sebelum Pentakosta, Roh Kudus yang berdiam tetap di dalam kita.
Roh Kudus dalam bahasa Yunani disebut sebagai Parakletos yang artinya: Penghibur, Pensyafaat, Penasehat, Penolong.
Dan bukankah kita semua sangat membutuhkan ini semua.
Kita sangat membutuhkan Roh Kudus yang menjadi Penghibur ketika mengalami kedukaan atau tekanan dalam kehidupan.
Kita juga sangat memerlukan Roh Kudus yang bersyafaat bagi kita, itu juga alasan mengapa kita didorong untuk berbahasa lidah ketika berdoa, karena tidak semua hal mampu kita ungkapkan.
Tetapi ketika kita berdoa dalam bahasa lidah, maka kita sedang bersama Roh Kudus berdoa kepada Allah Bapa.
Kita juga sangat membutuhkan Roh Kudus sebagai Penasehat, yang memberikan kepada kita hikmat untuk kita mengerti jawaban atas berbagai persoalan kehidupan.
Baik masalah rumah tangga, masalah pekerjaan, masalah dalam pelayanan.
Dan sebagai pamungkas, Roh Kudus adalah Roh Penolong yang sanggup menolong kita menghadapi apapun persoalan hidup kita.
Sebuah kisah nyata, ada orang yang kehilangan barang berharga, dan dia berdoa agar barang tersebut ditemukan.
Dan beberapa hari kemudian ada orang yang mengantarkan barang berharga tersebut kepadanya!
Saudara, kita tidak berjalan sendirian, dalam kesedihan ada Roh Kudus yang memberi penguatan, dalam kebingungan ada Roh Kudus yang sanggup memberikan arahan dan tuntunan.
Dalam pelayanan dan pekerjaan kita sehari-hari, ada kuasa yang sanggup memberi kita jawaban atas berbagai problematika yang sukar.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa yang menjadi persoalanmu yang berat saat ini dan bagaimana harapanmu untuk mengatasinya.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa arti datang dan minum kepada Yesus bagi orang yang haus secara rohani?
Bagaimana Roh Kudus yang dijanjikan Yesus membuat hidup orang percaya menjadi sumber air hidup bagi orang lain?
Tuhan Yesus mengatakan: “…Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!”
Ini tentu bukan berbicara tentang haus atau dahaga dimana kerongkongan kering dan dia butuh air segera.
Jika ini yang terjadi orang akan segera ke dapur dan membuka lemari es untuk segera minum.
Haus yang dimaksud adalah haus secara rohani.
Orang bisa merasa hidupnya hampa, tidak puas, atau tidak bermakna.
Dan kehausan seperti ini bisa terjadi pada siapa saja, tanpa memandang status sosial.
Seorang yang sudah berhasil menyelesaikan studi, memiliki pekerjaan yang baik, memiliki rumah dan kendaraan, tetapi dia bisa merasa bahwa ada kekosongan dalam jiwanya yang membuat dia merasa gelisah dan tidak ada sukacita.
Kehausan ini pun bisa dialami oleh seorang pelayan Tuhan.
Dia merasa doanya kepada Tuhan terasa kering, membaca Firman tetapi tidak lagi memahami apa yang dibaca, masih tetap beribadah tetapi menyadari bahwa hal itu semata karena kewajiban.
Dan akhirnya dia menyadari bahwa hatinya terasa sangat hambar.
Ketika menghadapi situasi seperti ini ada orang yang berusaha untuk membuat pengalihan, misalnya orang mencoba mencari hiburan berlebihan, baik melalui media sosial, film, game.
Atau bisa saja dia menyibukan diri dengan kerja yang ekstrem, atau melakukan berbagai aktivitas sosial.
Tetapi mungkin ada juga yang kemudian menjadi lebih pendiam, mengurangi interaksi dengan keluarga dan teman, hingga akhirnya mengurung diri.
Jika hal ini terjadi maka yang paling tepat adalah datang kepada Yesus.
Masuk dalam kamar, naikkan pujian dan penyembahan kepada Tuhan.
Pemazmur menyatakan “Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.” (Mazmur 22:4).
Tuhan bersemayam di atas puji-pujian.
Sehingga ketika kita memuji dan menyembah Tuhan, maka kita akan segera merasakan kehadiran-Nya.
Dan bukankah kehadiran Tuhan yang orang butuhkan ketika dia merasa haus, hambar, putus asa.
Datang kepada Yesus maknanya adalah datang pada hadir-Nya, bersekutu menikmati kasih dan kehadiran-Nya.
Mungkin kita tidak banyak berkata-kata, tetapi kita akan lebih banyak menikmati kehadiran-Nya dan mendengar suara-Nya.
Dan mendengar disini bukan berarti harus mendengar dengan telinga kita, tapi kita bisa mendengar dari kesan atau suara lirih yang berbisik dalam hati kita.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan bagaimana praktik mendengar suara Roh dalam batin kita.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa maksudnya Tuhan memberi kita hati yang baru dan roh yang baru?
Bagaimana Roh Tuhan menolong kita untuk taat dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya?
Dalam Kitab Yehezkiel pasal 36 ini, situasi atau apa yang dialami oleh bangsa Israel sedang tidak baik-baik saja.
Saat itu Israel mencemarkan nama Tuhan dengan penyembahan berhala, mereka juga sedang dihukum dalam pembuangan, sehingga mereka juga menjadi bahan ejekan bangsa lain.
Di ayat 32b Allah menyatakan: “…Bukan karena kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, tetapi karena nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di tengah bangsa-bangsa di mana kamu datang.”
Jadi Allah bertindak bukan pertama-tama karena kebaikan umat, melainkan demi nama-Nya yang kudus.
Dan ini menunjukkan prinsip penting, bahwa perubahan rohani selalu dimulai dari anugerah Allah.
Keselamatan dan pembaruan bukan hasil usaha manusia, tetapi tindakan kasih Allah sendiri.
Allah yang berinisiatif, tetapi bangsa Israel dan kita umat percaya tetap bertanggung jawab untuk merespon dengan benar.
Kepada kita, Tuhan memberikan hati yang baru dan roh yang baru.
Bukankah ini sesungguhnya prasarana yang sangat penting dan vital yang bisa menjadi senjata utama dan menjadi pijakan yang kuat untuk kita bisa memiliki karakter dan perilaku yang semakin menyerupai Kristus.
Dan sekali lagi, prakarsa atau tindakan awal untuk perubahan ke arah yang jauh lebih baik itu dimulai dari Tuhan.
Karena kita tidak bisa mengubah hati kita sendiri tanpa pertolongan Tuhan.
Roh Kudus yang ada dalam kita, Dia lah yang melembutkan hati yang keras.
Dan untuk perubahan yang berkesinambungan, dibutuhkan ketaatan kita.
Tetap ada tanggung jawab pribadi dari kita untuk merespon kasih karunia dan rahmat Tuhan.
Yehezkiel 36:27 “Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.”
Roh Kudus yang diam dalam batin kita, Dia lah yang akan membantu kita untuk taat pada perintah Firman.
Membantu kita untuk melakukan perintah-perintah-Nya.
Dan hanya dengan ini maka janji Firman Allah itu akan terjadi dalam hidup kita.
“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” (2 Korintus 3:18).
Kita akan diubah dari kemuliaan kepala kemuliaan (from glory to glory—versi Alkitab King James).
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan bagaimana supaya semakin peka untuk mendengar arahan Roh.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa kita tidak perlu takut jika kita percaya bahwa Tuhan yang menciptakan dan membentuk kita sejak dalam kandungan?
Apa arti janji Tuhan mencurahkan air ke tanah yang haus dan Roh-Nya ke atas keturunan kita?
Pada masa itu, bangsa Israel sedang mengalami masa sulit, mereka ada dalam masa pembuangan, mengalami kekeringan rohani, dan kehilangan harapan.
Namun di tengah kondisi tersebut, Tuhan menyatakan kasih-Nya: “Beginilah firman TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan dan yang menolong engkau: Janganlah takut, hai hamba-Ku Yakub, dan hai Yesyurun, yang telah Kupilih!” (Yesaya 44:2).
Allah tidak menuntut, tetapi Allah sedang mengingatkan bahwa Dia adalah Allah Pencipta dan Penolong.
Demikian juga di masa kini, banyak orang yang mengatakan bahwa tahun 2026 ini sebagai tahun yang sukar, khususnya dalam bidang ekonomi ditambah lagi banyaknya bencana alam yang sudah dan yang akan terjadi.
Tetapi bagi kita yang percaya, maka janji Tuhan dalam Yesaya 44:3 akan berlaku: “Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu.”
Tuhan berjanji untuk memelihara umat-Nya, juga di masa yang sukar.
Hal itu akan terwujud, jika kita sebagai umat percaya.
Bukan sekedar percaya, bahwa Firman itu diucapkan Allah, tetapi juga percaya bahwa bagian Firman yang kita baca kalau itu adalah sebuah janji.
Kita percaya bahwa janji itu juga bagi kita secara pribadi. Itulah yang disebut ketika Firman (Logos), menjadi Firman yang hidup (Rhema).
Air dan hujan yang dicurahkan, adalah dari berkat dan pertolongan Tuhan bagi umat-Nya yang sedang mengalami kekeringan finansial, kekeringan jiwa (stress, depresi), maupun kekeringan rohani.
Tetapi selain air, Firman tersebut juga menyatakan bahwa Roh Kudus akan dicurahkan atas keturunan kita.
Ini sesungguhnya adalah janji yang luar biasa, entah kita yang sudah menikah dan memiliki keturunan, tetapi juga bagi kita yang sekalipun belum atau tidak menikah tetapi memiliki keturunan rohani.
Janji Tuhan bahwa ke atas mereka, Roh Kudus akan dicurahkan.
Pencurahan Roh Kudus atau masa Pentakosta menandai awal era gereja dimana Allah memberikan kuasa kepada para murid untuk menjadi saksi.
Di masa kini, pencurahan Roh Kudus berarti kelanjutan karya Allah yang memberikan keberanian dan kuasa bagi umat-Nya untuk bersaksi.
Juga kuasa yang akan mengubah perilaku dan karakter kita sehingga semakin menyerupai Kristus.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa yang telah Roh Kudus perbuat dalam kehidupanmu.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa makna rohani dari tindakan Allah memisahkan terang dari gelap?
Dan bagaimana prinsip ini dapat diterapkan dalam kehidupan iman kita sehari-hari?
Alkitab dibuka dengan pernyataan yang mulia: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”
Tindakan awal penciptaan bukan berasal dari kebutuhan alam semesta, melainkan dari kehendak Allah sendiri.
Segala sesuatu berawal dari Allah.
Namun ayat 2 memperlihatkan kondisi awal bumi: “belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya.”
Gambaran ini menunjukkan keadaan tanpa bentuk, tanpa arah, tanpa kehidupan yang teratur.
Tetapi di tengah kekosongan itu ada satu pernyataan yang penuh pengharapan: “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”
Kata “melayang-layang” (Ibrani: rachaph) memberi gambaran seperti seekor induk burung yang mengerami telurnya, bukan pasif, tetapi aktif menjaga, menghangatkan, dan mempersiapkan kehidupan yang akan lahir.
Sebelum terang jadi, sebelum bentuk tercipta, sebelum keteraturan terjadi, Roh Allah sudah hadir.
Kejadian 1:3 “Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi.”
Di sini terlihat sinergi ilahi dimana Allah berfirman, kemudian terang tercipta.
Dengan demikian, Roh Allah yang melayang-layang adalah Roh Kudus yang kemudian “mengaktifkan Firman”.
Tanpa Roh, Firman hanya terdengar; dengan Roh, Firman menjadi realita.
Yohanes 1:1, 14a “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah… Firman itu telah menjadi manusia,…”
Melalui ayat ini, maka Yesus adalah Firman yang menjadi manusia.
Dengan demikian kita bisa melihat kejasama yang indah dan mulia, dimana Allah (Bapa) sebagai inisiator awal, Allah Roh sebagai kuasa yang menghidupkan dan Allah Anak sebagai Perantara yang menyebabkan itu semua jadi atau tercipta.
Tetapi yang sangat penting untuk dipahami, ini bukan tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi yang bekerja secara harmoni.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa peran Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Sebutkanlah daftar buah Roh dan cobalah untuk menghafallkannya!
Apa yang seharusnya terjadi ketika kita menjadi milik Kristus Yesus?
Bagaimana sikap kita kalau hidup oleh Roh?
“REAL”?
Istilah ini banyak dipakai oleh gen Z yang masih usia pelajar untuk menyatakan kepastian atau kesungguhan akan sesuatu.
Sesungguhnya istilah tersebut tidak terlalu baru, karena bicara tentang realita.
Istilah REALITA KRISTUS sudah lama dipakai oleh banyak hamba Tuhan.
Namun, apa sesungguhnya arti dari REALITA KRISTUS?
Sama dengan istilah REAL, Realita bicara tentang sesuatu yang benar-benar terjadi, bisa dirasakan oleh kelima panca indera kita, bukan sesuatu yang khayalan dan mengawang-awang.
Kekristenan banyak berbicara tentang pribadi Tuhan yang ga kelihatan, tentang Surga yang indah tapi juga belum bisa dipahami dan jelas tidak terlihat saat ini di bumi.
Hari ini, melalui kemajuan teknologi apa yang tidak real bahkan menjadi real, seperti foto zaman dahulu yang bisa “dihidupkan” menjadi video, lalu AI yang begitu mendekati asli sampai tidak bisa dibedakan apakah itu real atau hanya buatan.
Di tengah dunia yang menuntut bukti dan berusaha membuat real segala sesuatunya, iman menjadi sesuatu yang sangat menantang.
Tahukah Saudara apa yang bisa membuat kasih Tuhan dan iman menjadi sesuatu yang REAL di tengah dunia yang seperti ini? Ya, buah ROH!
Orang mungkin tidak bisa melihat Roh Kudus, tapi karyaNya yang kelihatan akan menunjukkan dengan jelas bahwa Dia ada.
Jika hidup kita sungguh mengalami realita Kristus, maka buah Roh akan menjadi sesuatu yang tampak jelas dalam hidup kita dan bisa dinikmati oleh orang lain.
Tidak ada kekuatan manusia dan AI yang sanggup membuat kita memiliki buah Roh dalam keseharian kita.
Cobalah renungkan kembali kesembilan buah Roh tersebut, bahkan tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu karena hal tersebut terlalu luar biasa dan ajaib jika terjadi dalam hidup seseorang.
Hanya pribadi Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk memilikinya.
Dari kesembilan buah Roh, manakah yang Saudara sangat rindukan terjadi dalam kehidupan Saudara? Diskusikanlah dengan rekan persekutuan Saudara bagaimana agar realita Kristus menjadi semakin nyata dan dinyatakan melalui buah Roh tersebut.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa saja perbuatan daging yang dinyatakan di perikop ini?
Apakah ada perbuatan daging dalam daftar tersebut yang menjadi godaan bagi Saudara?
Apa yang terjadi ketika kita melakukan perbuatan daging tersebut?
Kebanyakan orang Kristen memahami bahwa sebagai pengikut Kristus, kita seharusnya tidak mengikuti perbuatan daging dan hidup dalam ketaatan.
Kebanyakan orang pun tahu bahwa perbuatan daging tidak membawa kebaikan.
Namun yang menjadi masalah adalah: Sekalipun kita tahu bahwa perbuatan daging tidak baik, kita masih tergoda dan mengalami pergumulan untuk tidak mengikutinya.
Ada jarak yang terbentang antara pengetahuan dan keinginan.
Jarak yang Paulus pahami karena ia pun mengalami pergumulan yang sama ketika ia dengan jujur mengungkapkan perasaan dan pemikirannya di Roma 7:13-25.
Hari-hari ini perbuatan daging menjadi lebih berbahaya dan mematikan karena dibungkus dalam sesuatu yang tidak tampak berbahaya serta rohani, belum lagi akses untuk mendapatkan hal-hal yang mendukung kedagingan menjadi jauh lebih mudah.
Penyembahan berhala tidak hanya dalam bentuk patung, tapi dalam semua kenyamanan yang kita kejar.
Iri hati dan perselisihan tidak harus terjadi lewat pertemuan, tapi bisa dilakukan melalui sosial media.
Percabulan, kecemaran, dan hawa nafsu bahkan dilegalkan melalui gerakan LGBTQ dan pejuang hak asasi atas nama kemanusiaan.
Daftar perbuatan daging akan menjadi sangat panjang jika kita harus membuatnya.
Mengatasinya bukanlah dengan menghafalkan apa saja yang tidak boleh, tapi dengan memberi diri dipimpin oleh Roh Allah yang tinggal dalam kita.
Bertanyalah dan izinkan Dia menuntun kita dalam setiap langkah hidup kita, setiap saat.
Mari kita menyadari bahwa ketika kita membiarkan kedagingan menguasai, kita tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Bukan sekedar tidak masuk surga, tapi juga tidak bisa menikmati kerajaan Allah di bumi ini.
Seluruh berkat, kebenaran dan kebaikan yang disediakanNya tidak bisa dinikmati ketika kita lebih memilih untuk hidup dalam daging, bukankah ini adalah kesedihan terbesar yang bisa dirasakan oleh seorang anak Tuhan?
Diskusikanlah dengan pembimbing Saudara 2 perbuatan daging yang masih Saudara gumuli. Apa langkah untuk mengatasinya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Bagaimana keadaan kita sebelum diperdamaikan?
Untuk apa kita diperdamaikan dengan Allah?
Apa yang harus kita lakukan setelah diperdamaikan denganNya?
Saudara, bagaimana kehidupan Saudara sebelum mengalami kelahiran baru dan didamaikan denganNya?
Apapun latar belakang kita, baik hidup sangat bertentangan denganNya maupun hidup yang tampak baik-baik saja, sesungguhnya kita jauh dari Allah.
Namun, Yesus datang untuk mengadakan perdamaian dengan Allah melalui salibNya.
Ia rindu menempatkan kita kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapanNya, suatu kondisi yang mustahil untuk terjadi di tengah keterbatasan dan keinginan manusiawi kita.
Puji Tuhan, keadaan kudus, tak bercela dan tak bercacat menjadi mungkin karena karya Yesus. Bukan oleh kuat dan gagah kita bisa hidup kudus. Bagian kita adalah bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang.
Namun walaupun kita tahu Injil adalah kabar baik yang luar biasa, bukankah masih banyak manusia yang tidak hidup seturut Injil?
Mungkin kita tidak langsung menentang Injil, tapi bagaimana kalau kita bergeser? Hanya sekali berbohong, hanya sekali mencuri, hanya sekali melihat film porno, hanya sekali tidak ke gereja karena malas, dan seterusnya.
Tahukah Saudara pergeseran 1 mm akan menjadi sangat berarti jika diteruskan ? Awalnya tidak kelihatan, namun semakin panjang akan terlihat betapa jauhnya titik tujuan sudah bergeser.
Inilah strategi iblis untuk membuat kita hidup diluar kuasa Injil!
Itu sebabnya, penting bagi kita untuk menjaga kemurnian hati.
Hidup dalam kekudusan karena kasih dan kuasa Roh Kudus yang menguatkan kita. Hidup senantiasa dalam perdamaian denganNya.
Mari Saudara, jangan mau digeser dari pengharapan Injil yang telah kita dengar!
Diskusikanlah dengan rekan pemuridan Saudara bagaimana langkah praktis untuk hidup kudus dan bertekun dalam iman?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah Kristus menurut perikop ini?
Bagaimana kita perlu memandang segala sesuatu?
Siapakah yang sudah ada terlebih dahulu dari segala sesuatu?
“Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu…segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.”
Pernyataan rasul Paulus ini adalah sebuah pengakuan yang luar biasa tentang keutamaan Kristus, betapa Yesus Kristus adalah Allah yang menguasai segalanya.
Kita dengan segala keterbatasan kita mungkin tidak akan pernah bisa memahaminya kalau tidak diwahyukan oleh RohNya sendiri.
Lalu, apa artinya kalau segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia?
Hal ini akan menjadi berarti jika disertai kepercayaan bahwa Ia adalah Allah yang baik dan selamanya baik.
Segala sesuatu diciptakan oleh Dia, Ya, tapi segala sesuatu yang BAIK. Jadi jika sesuatu itu tidak baik, maka bukan Allah sumbernya.
Segala sesuatu diciptakan untuk Dia, Ya, artinya Dia layak untuk menerima segala sesuatu yang kita miliki dan perjuangkan.
Tidak mudah untuk mengingat ini karena sebagai manusia daging, kita cenderung memikirkan apa yang baik menurut kita, segala sesuatu adalah tentang aku dan aku..
Namun, ketika Yesus menjadi Tuhan dan Juruselamat kita, Ia mau mentransformasi kita untuk menyadari bahwa Ia adalah yang terutama dalam hidup dan bahwa segala sesuatu adalah bukan tentang kita, melainkan tentang Dia.
Hari ini, kita punya pilihan apakah mau mengutamakan Kristus dalam segala sesuatu atau mengutamakan yang lainnya?
Mari berhati-hati dengan jawaban pertanyaan ini, karena kalau bukan Kristus yang terutama, maka mustahil untuk mengalami perdamaian sejati denganNya dan memahami segala sesuatu.
Diskusikanlah dengan rekan persekutuan atau pemuridan Saudara bagaimana bisa menjadikan Kristus yang terutama dan apa yang mencegah Saudara untuk menjadikan Dia yang utama?