Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Mazmur 119:145.
Bagaimana sikap hati dari pemazmur untuk berpegang kepada kebenaran Firman Tuhan?
Kapankah waktu yang terbaik bagi pemazmur untuk bersekutu dengan kebenaran Firman Tuhan sebagai wujud kesungguhan hatinya kepada Tuhan?
Apakah yang dirasakan dan dialami pemazmur ketika dia membangun kesungguhan hati untuk bersekutu dengan Tuhan dan Firman-Nya?
Tuhan ingin mencari dan menemukan orang-orang yang bersungguh-sungguh hati untuk mengalami realita kehadiran Tuhan serta kuasa Firman Tuhan. Dan Tuhan akan melimpahkan keberadaan-Nya kepada kita.
“Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” (II Tawarikh 16:9a).
“Dan baru di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.” (Ulangan 4:29).
”Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN.”(Yeremia 29:12-14a).
Karena pemazmur menunjukkan kesungguhan hatinya untuk mencari dan mengalami realita Tuhan yang hidup dengan cara bersekutu dengan Firman Tuhan pada waktu pagi hari dan malam hari.
”Pagi-pagi buta aku bangun dan berteriak minta tolong; aku berharap kepada firman-Mu. Aku bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janji-Mu.”(Mazmur 119:147-148).
”Tuhan memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.”(Mazmur 42:8).
Maka pemazmur selalu mengalami realita Tuhan serta penyertaan Tuhan yang sangat luar biasa.
”Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” (Mazmur 23:5-6).
Oleh sebab itu marilah kita dengan sungguh-sungguh hati untuk mencari Tuhan sampai mengalami realita kehadiran-Nya sehingga kita selalu mengalami terobosan berapa pun harga yang harus kita bayar.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Yesus selama Ia ada di dunia ini, dimana Yesus pagi-pagi benar berdoa kepada Bapa dan bahwa Dia selalu berdoa semalaman.
Hal ini dilakukan-Nya untuk menunjukkan kesungguhan hati-Nya kepada Bapa.
”Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”(Markus 1:35).
”Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.”(Lukas 6:12).
Pada akhirnya kita dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang pernah dilakukan oleh Yesus bahkan lebih besar dari apa yang telah dikerjakan oleh Yesus.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana kesungguhan hati saudara dalam mencari Tuhan dari segi waktu maupun dari sikap hati yang merindukan Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
“Sumur” apa dalam hidupmu yang masih sering kamu datangi untuk mencari kepuasan, selain datang kepada Yesus?
Bagaimana pengalamanmu saat merasakan “mata air” dari Yesus memancar di dalam hatimu di tengah situasi kering?
Langkah praktis apa yang dapat kamu ambil minggu ini untuk lebih sering “meminta” air hidup kepada Yesus?
“tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:14).
Injil Yohanes sering menunjukkan Yesus yang hadir di tengah-tengah kebutuhan manusia yang paling personal dan tersembunyi.
Perjumpaan di sumur Yakub ini bukanlah kebetulan.
Saat perempuan itu datang pada tengah hari (biasanya waktu yang sepi karena penghindaran dari rasa malu),
Yesus sudah menunggu di sana.
Latar belakang ini mengajari kita bahwa Tuhan seringkali menemui kita justru di tempat dan waktu di mana kita merasa paling sendirian, lelah, atau terbebani oleh rutinitas yang kering.
Sumur mewakili segala upaya kita untuk memuaskan dahaga jiwa dengan hal-hal duniawi—hubungan, prestasi, pengakuan, atau kesenangan.
Di situlah Yesus berkata, “Berilah Aku minum.”
Ia memulai dengan mengakui kebutuhan kita, untuk kemudian mengungkapkan kebutuhan-Nya yang lebih besar: hati kita yang terbuka bagi-Nya.
Yesus selalu memulai dari titik kehausan kita. Ia tidak menghakimi perempuan itu terlebih dahulu, tetapi meminta bantuan.
Dengan demikian, Ia membuka ruang untuk percakapan yang mengubah hidup.
“Air hidup” yang Ia tawarkan adalah karunia yang diberikan dengan cuma-cuma (ayat 10).
Karunia ini adalah diri-Nya sendiri—kehadiran Roh Kudus yang memulihkan, memuaskan, dan memberi makna.
Kita sering kali seperti perempuan Samaria itu: sibuk mencari air dari sumur-sumur dunia (kesuksesan, harta, hubungan) yang tak pernah benar-benar memuaskan.
Yesus datang dan berkata, “Jika engkau tahu tentang karunia Allah… tentulah engkau telah meminta kepada-Nya.”
Prinsip ini mengingatkan kita bahwa solusi untuk kehausan terdalam kita bukanlah berusaha lebih keras, tetapi meminta dan menerima karunia yang sudah disediakan.
Janji Yesus: air yang Ia berikan akan menjadi “mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (ayat 14).
Ini menggambarkan sebuah realitas rohani yang dinamis.
Kepuasan dari Tuhan bukan seperti air yang kita timba dari sumur (yang akan habis), tetapi seperti mata air yang mengalir dari dalam diri kita sendiri.
Artinya, saat kita percaya kepada Yesus, Roh Kudus diam di dalam kita dan menjadi sumber pengharapan, sukacita, kekuatan, dan damai sejahtera yang tak pernah kering.
Sumber ini aktif dan terus memancar, bahkan di tengah keterbatasan, kegagalan, atau musim kering hidup kita.
Hidup kita bukan lagi tentang datang ke “sumur” secara rutin, tetapi tentang membiarkan aliran air hidup itu mengalir melalui setiap aspek hidup kita.
Tiga Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Berhenti di Sumur dan Terima Undangan-Nya.
Luangkan waktu hening untuk mengevaluasi: “Sumur apa yang selalu aku datangi untuk memuaskan dahagaku?”
Akui kehausanmu di hadapan Tuhan.
Kemudian, terima undangan Yesus untuk meminta karunia air hidup itu melalui doa yang sederhana: “Tuhan, haus jiwaku hanya Kau yang puaskan. Berikanlah aku air hidup itu.”
Kedua, Biarkan Mata Air Itu Memancar dengan Membagikannya.
Air hidup tidak diberikan untuk ditimbun.
Setiap kali Anda mengalami penghiburan, pengampunan, atau kekuatan dari Tuhan, bagikanlah itu kepada orang lain.
Jadilah saluran berkat melalui kata-kata pengharapan, tindakan kasih, atau kesaksian pribadi tentang kebaikan Tuhan.
Ketiga, Jaga Kemurnian Aliran dengan Hidup yang Melekat pada Sang Sumber.
Mata air dapat terhambat jika salurannya tersumbat.
Jaga hubungan intim dengan Yesus melalui disiplin membaca Firman dan berdoa setiap hari.
Mintalah Roh Kudus membersihkan “sampah” dosa, kepahitan, atau kesibukan yang dapat menghambat aliran kuasa-Nya dalam hidup Anda.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana supaya dapat mengalirkan air hidup kepada komunitas terdekat.
DIBERKATI ORANG YANG LAPAR DAN HAUS AKAN KEBENARAN
Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson
Pembacaan Alkitab Hari ini :
MATIUS 5:1-6
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa arti praktis menjadi “miskin di hadapan Allah” dalam keseharianmu?
Bagaimana caramu membangun rasa “lapar dan haus akan kebenaran”?
Dalam situasi apa saat ini kamu dipanggil untuk menunjukkan kelemahlembutan?
“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan”. (Matius 5:6).
Injil Matius mencatat Yesus sebagai Raja yang dinubuatkan.
Khotbah di Bukit adalah manifesto Kerajaan-Nya, yang menyatakan nilai-nilai dan karakter warga kerajaan itu.
Di tengah dunia yang mengejar kekayaan, kesenangan, kekuasaan, dan kepuasan diri, Yesus memulai dengan pernyataan yang mengejutkan: berbahagialah orang yang miskin, berdukacita, lemah lembut, dan lapar akan kebenaran.
Ini bukanlah daftar perintah, tetapi gambaran anugerah—bagaimana hati yang diobati oleh kasih karunia akan tampak.
Yesus mengundang kita untuk mengevaluasi ulang sumber kebahagiaan kita dan menemukannya dalam kepenuhan yang hanya disediakan Allah bagi mereka yang datang dengan hati yang lapang dan haus.
Dua ucapan bahagia pertama (ayat 3-4) menegaskan prinsip bahwa pintu masuk ke dalam kebahagiaan dan Kerajaan Allah dimulai dengan pengakuan akan kemiskinan dan dukacita rohani.
“Miskin di hadapan Allah” berarti menyadari bahwa kita tidak memiliki apa pun untuk ditawarkan kepada Allah, dan sepenuhnya bergantung pada belas kasihan-Nya.
Dukacita yang berbahagia adalah respon hati ketika kita menyadari betapa dalamnya dosa kita dan betapa besar kasih karunia Allah.
Prinsip ini meruntuhkan semua kebanggaan dan kepercayaan diri duniawi.
Kita hanya dapat dihibur dan dipulihkan ketika kita berhenti berpura-pura kuat dan membiarkan Allah menjadi segalanya.
Kebahagiaan ini adalah anugerah yang diterima oleh orang yang rendah hati.
Ucapan bahagia ketiga dan keempat (ayat 5-6) mengajarkan bahwa kepuasan sejati bukan berasal dari memiliki segalanya, tetapi dari memiliki hati yang lemah lembut dan merindukan kebenaran.
Kelemahlembutan adalah kekuatan yang tidak memaksakan kehendak sendiri, melainkan mempercayakan hidup kepada kedaulatan Allah.
Dari sikap inilah lahir kerinduan yang membara—seperti lapar dan haus secara fisik—akan kebenaran: keinginan untuk mengenal Allah, melakukan kehendak-Nya, dan melihat keadilan ditegakkan.
Yesus menjanjikan bahwa kerinduan yang tulus ini “akan dipuaskan”.
Janji ini adalah kepastian bahwa Allah sendiri akan memenuhi kerinduan itu melalui penyataan diri-Nya dalam Kristus, karya Roh Kudus, dan pada akhirnya dalam kesempurnaan Kerajaan-Nya.
Tiga Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Mulailah Hari dengan Pengakuan Ketergantungan.
Setiap pagi, akui di hadapan Tuhan: “Tuhan, aku miskin dan membutuhkan Engkau. Penuhilah aku dengan Roh-Mu.”
Berdukacitalah bila ada dosa-dosa, mohon pengampunan, dan terima penghiburan-Nya.
Kedua, Latih Kelemahlembutan dalam Setiap Hubungan.
Saat diperlakukan tidak adil, berhenti sejenak untuk tidak membalas.
Serahkan hak pembalasan kepada Tuhan, tanggapi dengan kerendahan hati, dan percayalah bahwa Ia membela orang yang lemah lembut.
Ketiga, Bangun Selera Rohani dengan Firman Tuhan.
Tanamkan rasa “lapar dan haus” akan kebenaran dengan membaca Alkitab secara teratur dan mendalam.
Carilah bukan sekadar pengetahuan, tetapi transformasi.
Hadiri pertemuan doa yang memicu kerinduan akan Tuhan.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki sikap hati yang “miskin dihadapan Allah” sehingga terus merasa haus dan lapar kepada Allah.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
“Haus” seperti apa yang sedang kamu rasakan saat ini, dan bagaimana hal itu mendorongmu untuk datang kepada Yesus?
Menurut pengalamanmu, bagaimana “air hidup” dari Yesus itu berbeda dengan upayamu sendiri untuk memuaskan dahaga jiwamu?
Siapa satu orang di sekitarmu yang mungkin juga “haus”, dan bagaimana kamu bisa menjadi saluran “air hidup” bagi mereka minggu ini?
“Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! (Yohanes 7:37).
Perayaan Pondok Daun adalah pesta yang meriah, penuh dengan ritual, simbol, dan kegembiraan kolektif.
Namun, di tengah kemeriahan itu, Yesus menyadari bahwa banyak hati tetap kosong dan haus.
itual air hanyalah simbol; ia tidak dapat memuaskan dahaga jiwa yang paling dalam.
Dengan berseru pada hari terakhir, Yesus seolah-olah berkata, “Segala simbol dan perayaan ini menunjuk kepada-Ku.
Aku adalah realitas yang sejati.”
Latar belakang ini mengingatkan kita bahwa kita pun dapat sibuk dengan aktivitas keagamaan, rutinitas ibadah, atau pencarian kesibukan dunia, sementara hati kita sebenarnya kering dan lapar.
Tuhan menawarkan diri-Nya bukan sebagai tambahan dari ritual, tetapi sebagai penggenapan dari segala kerinduan kita.
Kebenaran yang Yesus ajarkan adalah bahwa syarat untuk mengalami pemuasan ilahi adalah kejujuran akan rasa haus.
“Barangsiapa haus” adalah undangan terbuka bagi semua, tetapi hanya mereka yang mengakui, “Ya, aku haus.
Aku tidak puas. Aku butuh lebih dari ini,” yang akan datang.
Tuhan tidak memulai dengan orang yang merasa dirinya kaya dan puas (Wahyu 3:17).
Ia mencari orang yang miskin dan lapar secara rohani (Matius 5:6).
Rasa haus ini adalah anugerah—itu adalah tanda bahwa Roh Kudus sedang menarik kita.
Prinsip ini membebaskan kita dari kepura-puraan. Kita boleh datang kepada Yesus dengan segala kehampaan, kebingungan, dan kegagalan kita, asalkan kita datang dengan sikap percaya bahwa hanya Dialah yang dapat memuaskannya.
Pemuasan yang kita terima bukan untuk ditimbun, tetapi untuk dialirkan.
Yesus berjanji bahwa dari dalam diri orang percaya akan “mengalir aliran-aliran air hidup.”
Artinya, kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus bersifat meluap dan memberi hidup.
Kita tidak hanya menjadi “kolam” yang tenang, tetapi menjadi “sungai” yang membawa kesegaran, pemulihan, dan kehidupan bagi lingkungan sekitar.
Ketika kita benar-benar dipuaskan oleh kasih karunia dan kehadiran Tuhan, secara alami kita akan menjadi saluran berkat—kata-kata kita menguatkan, tindakan kita membangun, dan hidup kita menjadi kesaksian tentang sumber air yang tidak pernah kering, bahkan di musim kering sekalipun.
Hal-Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Luangkan Waktu Hening untuk Mengakui “Rasa Haus”.
Setiap hari, berhenti sejenak dan tanyakan pada hati nurani: “Apa yang sesungguhnya kucari?
Apakah aku merasa kering, lelah, atau kosong?” Jujurlah di hadapan Tuhan dalam doa. Katakan, “Tuhan, aku haus. Penuhilah aku dengan Roh-Mu.”
Kedua, “Datang dan Minum” dengan Disiplin Rohani yang Penuh Iman.
“Datang” adalah tindakan percaya.
Bangunlah kebiasaan untuk datang kepada Yesus setiap pagi melalui firman dan doa, bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai seorang yang haus yang mendekati mata air.
Percayalah bahwa saat Anda membaca firman-Nya dan bersekutu dalam doa, Roh Kudus sedang memuaskan dan menguatkan Anda.
Ketiga, Perhatikan “Aliran” itu dengan Menjadi Berkat. Sadarilah bahwa Anda adalah saluran.
Tanyakan, “Bagaimana aku bisa membawa kesegaran dan kehidupan dari Kristus bagi seseorang hari ini?”
Itu bisa melalui sebuah pesan penghiburan, tindakan pelayanan tanpa pamrih, atau kesaksian sederhana tentang kebaikan Tuhan dalam hidup Anda.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, diskusikan bagaimana mengetahui hati yang haus dan lapar akan kebenaran.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang membuat Israel bersedia merayakan ibadahnya jauh lebih lama dari ketentuan?
Menurut konteks 2 Tawarikh 7:1-12, apa hubungan antara kesungguhan hati umat (ayat 8-9) dengan kunjungan Tuhan (ayat 1-3)?
“Perkumpulan raya” (hari kedelapan) adalah puncak dari seluruh proses. Bagaimana Anda bisa menciptakan momen “puncak” penyembahan dalam hidup pribadi atau komunal Anda?
“Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan.” (2 Tawarikh 16:9).
Kitab 2 Tawarikh ditulis sebagai pengingat dan penghiburan bagi umat Israel yang telah mengalami kehancuran Bait Suci dan pembuangan.
Dalam konteks itu, kisah kemuliaan Salomo mengingatkan mereka—dan kita—akan masa ketika umat Tuhan bersatu, taat, dan dengan segenap hati merindukan serta menyambut kehadiran-Nya.
Peristiwa pentahbisan Bait Suci bukan sekadar upacara agama, tetapi klimaks dari sebuah persiapan panjang, doa sungguh-sungguh (pasal 6), dan kerinduan kolektif untuk Tuhan berdiam di tengah mereka.
Latar belakang ini mengajarkan bahwa sejarah kemuliaan Tuhan selalu terkait dengan hati umat-Nya yang sungguh-sungguh mencari wajah-Nya.
Prinsip pertama yang kita lihat adalah bahwa kunjungan atau manifestasi kehadiran Tuhan (Shekinah Glory) menghasilkan sukacita yang melimpah ruah dan tidak terbatas oleh waktu formalitas agama.
Israel tidak puas hanya merayakan tujuh hari sesuai hukum; mereka begitu dipenuhi oleh kekaguman dan sukacita atas hadirat Tuhan sehingga secara spontan memperpanjang perayaan menjadi lima belas hari dan mengakhirinya dengan perkumpulan raya yang khidmat.
Ini menunjukkan bahwa pengalaman otentik akan Tuhan melahirkan kerinduan untuk tinggal lebih lama di dalam hadirat-Nya, melampaui rutinitas dan kewajiban ibadah.
Ketika Tuhan benar-benar “mengunjungi” hidup, komunitas, atau ibadah kita, akan ada suatu sukacita dan keterikatan yang membuat kita ingin berlama-lama bersama-Nya.
Kesungguhan hati yang kolektif dan terbuka menjadi seperti “mezbah” yang dipersiapkan bagi Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya.
Perhatikan bahwa mereka telah “merayakan pentahbisan mezbah selama tujuh hari” (ayat 9).
Mezbah adalah tempat korban dan pertemuan dengan Tuhan. Kesungguhan hati seluruh Israel (raja, imam, dan seluruh umat) dalam penyembahan dan ketaatan itulah yang secara spiritual “mempersiapkan mezbah” bagi Tuhan untuk turun dengan api dan kemuliaan (2 Tawarikh 7:1-3).
Tuhan tidak hanya mencari bangunan yang megah, tetapi Dia mencari hati yang sepenuhnya tertuju kepada-Nya.
Kesungguhan hati bukanlah jasa untuk memaksa Tuhan datang, melainkan kondisi hati yang rendah, haus, dan siap yang membuat-Nya berkenan menyatakan diri.
Hal-Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Berkomitmen untuk “Waktu Tambahan” dalam Penyembahan.
Dalam ibadah pribadi atau komunitas, jangan terburu-buru.
Jika Anda merasakan kehadiran Tuhan, sengaja luangkan waktu ekstra untuk berdiam diri, menyembah, atau mengucap syukur, melampaui jadwal rutin Anda.
Kedua, Bangun Kesungguhan Hati yang Kolektif dalam Komunitas Iman.
Dalam keluarga rohani atau kelompok PA, prioritaskan kesatuan hati, kerendahan, dan kerinduan bersama untuk hadirat Tuhan lebih dari sekadar program atau aktivitas.
Berdoalah bersama dengan sungguh-sungguh untuk “kunjungan Tuhan” dalam hidup Anda.
Ketiga, Jadikan Hidup Anda Sebagai “Mezbah” yang Selalu Dikuduskan.
Secara rutin, periksa motivasi dan komitmen hati Anda. Apakah Anda hidup sebagai persembahan yang hidup dan kudus (Roma 12:1)?
Kesungguhan dalam ketaatan sehari-hari, integritas, dan kasih adalah “mezbah” pribadi yang menyambut kehadiran Tuhan.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya mengalami hadirat Tuhan yang dimanifestasikan (dapat dilihat dan dirasakan)
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa arti praktis “berkumpul dalam Nama-Ku” bagimu sehari-hari?
Pengalaman apa yang membuatmu merasakan kehadiran Kristus secara nyata dalam komunitas kecil?
Bagaimana janji ini mengubah caramu memandang pentingnya kesetiaan dalam kelompok kecil?
“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20).
Surat Matius mencatat Yesus yang dengan sengaja membangun sebuah komunitas baru—umat perjanjian yang terdiri dari para murid-Nya.
Komunitas ini tidak kebal dari konflik dan dosa, sehingga Yesus memberikan pedoman untuk memulihkan persekutuan yang rusak.
Namun, proses pendisiplinan dan restorasi itu terasa begitu berat dan penuh risiko jika hanya mengandalkan kekuatan manusia.
Di titik inilah Yesus memberikan sebuah janji yang menghibur dan memberdayakan: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
Janji ini adalah jantung dari kehidupan gereja. Ia mengubah sekumpulan orang dari sekedar pertemuan sosial atau lembaga agama, menjadi suatu ruang suci tempat Tuhan sendiri hadir secara nyata.
Prinsip kebenaran pertama yang kita pelajari adalah bahwa kehadiran Tuhan yang khusus dijanjikan bukan untuk kerumunan yang anonim, tetapi untuk komunitas yang dengan sengaja berkumpul “dalam Nama-Nya”.
Ini adalah syarat yang penting. Berkumpul “dalam Nama-Nya” berarti kita berkumpul dengan kesadaran bahwa kita datang mewakili Dia, diutus oleh Dia, dan untuk maksud yang selaras dengan karakter dan kehendak-Nya.
Ini adalah komunitas yang menjadikan Kristus sebagai pusat, alasan, dan pemersatu.
Ketika motivasi, tujuan, dan pengajaran kita berpusat pada Kristus, kita dapat percaya bahwa kehadiran-Nya yang berkuasa dan menyelamatkan benar-benar nyata di tengah kita, sekalipun kita hanya segelintir orang.
Prinsip kebenaran kedua adalah demokratisasi dan pendalaman kehadiran Allah.
Dalam Perjanjian Lama, kemuliaan Tuhan sering dikaitkan dengan Bait Suci yang megah atau bangsa yang besar.
Yesus menyatakan sesuatu yang revolusioner: kehadiran-Nya yang berotoritas dapat dialami oleh pertemuan terkecil sekalipun—”dua atau tiga orang”.
Ini adalah penghiburan besar bagi gereja kecil, kelompok pemuridan, tim pelayanan kecil, atau persekutuan doa yang sederhana.
Tuhan tidak terkesan dengan jumlah besar atau kemegahan upacara.
Dia menghargai kesetiaan dan kesatuan dari sekelompok kecil orang yang dengan tulus mencari wajah-Nya.
Di dalam kesederhanaan dan kesetiaan itu, kuasa Kerajaan Sorga justru termanifestasi.
Hal-Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Selalu Evaluasi Motivasi Berkumpul.
Sebelum menghadiri persekutuan atau pertemuan pelayanan, tanyakan: “Apakah aku datang dalam Nama Yesus?
Apakah tujuan pertemuan ini untuk kemuliaan-Nya dan sesuai dengan kehendak-Nya?” Ini memurnikan fokus kita dari sekadar rutinitas sosial atau agama.
Kedua, Bangun Komitmen dalam Komunitas Kecil.
Investasikan waktu dan hati untuk membangun kedalaman hubungan dalam kelompok kecil (persekutuan, kelompok doa, atau pendalaman Alkitab).
Percayalah bahwa di dalam kesetiaan pada kelompok kecil itulah, janji kehadiran Kristus secara khusus akan nyata dan mengubah hidup.
Ketiga, Jadikan Kehadiran Tuhan sebagai Tujuan Utama, Bukan Program.
Dalam merencanakan pertemuan, prioritaskan ruang untuk menyadari kehadiran Tuhan—melalui doa yang sungguh-sungguh, penyembahan yang fokus, dan pembacaan Firman yang taat—daripada hanya menjalankan agenda acara.
Kehadiran-Nya adalah segalanya.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya mengalami kehadiran Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dilakukan Paulus dan Silas ketika mereka berada di penjara?
Apa yang terjadi saat mereka memuji dan menyembah Tuhan?
Apa yang hendak dilakukan kepala penjara ketika melihat keadaan yang terjadi saat itu?
Mengapa kepala penjara itu tersungkur di depan Paulus?
Saudara, ketika Rasul Paulus berada di Filipi, ia memberitakan Injil di sinagoge-sinagoge Yahudi.
Lidia, seorang perempuan Yahudi dan penjual kain ungu, bertobat dan meminta untuk dibaptis bersama seluruh anggota keluarganya.
Ketika Paulus kembali ke sinagoge untuk memberitakan Injil lagi, ada seorang hamba perempuan yang memiliki roh tenung.
Dengan kekuatan tenungannya, tuannya memperoleh keuntungan besar.
Perempuan itu mengikuti Rasul Paulus dari belakang sambil berseru, “Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi.
Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan.”
Ia melakukan hal itu selama beberapa hari.
Namun, ketika Paulus tidak tahan lagi dengan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu, “Demi nama Yesus Kristus, aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini.” Seketika itu juga roh itu keluar darinya.
Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat bahwa harapan mereka untuk mendapatkan uang lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk dihadapkan kepada penguasa kota.
Mereka mengadukan Rasul Paulus dan Silas kepada para penguasa, sambil berkata:
“Orang-orang ini mengacau kota kita ini, karena mereka orang Yahudi, dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya.” Juga orang banyak bangkit menentang mereka.”
Kemudian, pembesar kota itu memerintahkan agar mereka dicambuk, dipaksa telanjang, dan didera.
Setelah berkali-kali dicambuk, mereka dimasukkan ke dalam penjara.
Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan ketat, kaki mereka dibelenggu dengan pasungan yang kuat.
Ketika tengah malam, Paulus dan Silas menyanyi dan memuji Tuhan, mereka menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh.
Saat kuasa pujian dan penyembahan turun di penjara itu, terjadilah gempa bumi yang sangat kuat.
Gempa itu mengguncang sendi-sendi penjara; semua pintu terbuka dan belenggu-belenggu mereka terlepas.
Ketika kepala penjara melihat kejadian itu, ia hampir menghunus pedangnya untuk mengakhiri hidupnya.
Saudara, ketika kita menyimak cerita di atas, kita dapat belajar beberapa hal.
Ketika pujian dan penyembahan dilakukan, maka kuasa puji-pujian dan kuasa ucapan syukur akan bekerja:
Mazmur 22:4“Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.”
Ketika orang percaya memuji Tuhan, Tuhan hadir dan bersemayam di atas pujian itu.
Dari kehadiran Tuhan itu, terjadilah gempa bumi yang dahsyat, yang mengguncang sendi-sendi penjara, membuka pintu-pintu penjara, dan melepaskan belenggu-belenggu mereka.
Dari peristiwa ini, kita dapat belajar bagaimana Tuhan memelihara hamba-hamba-Nya yang rela menaati perintah Kristus untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah.
Terlepasnya belenggu menunjukkan bahwa tidak ada yang mampu menghalangi kuasa pemberitaan Injil Kristus.
Akibat terlepasnya mereka dari belenggu, terjadi keselamatan bagi keluarga kepala penjara.
Selanjutnya, Lukas menuliskan hal ini dalam suratnya kepada Teofilus:
Kisah Para Rasul 16:31“Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”
Rasul Paulus dipenjara menumbuhkan keberanian orang-orang percaya untuk memberitakan Injil keselamatan atau Injil kebenaran.
Pada tahun 2026, para penatua mendorong seluruh jemaat GKKD-BP untuk memberitakan Injil keselamatan kepada orang-orang di sekitar kita, baik rekan sekantor, teman di sekolah, tetangga di lingkungan rumah, maupun kolega di mana pun kita berada.
Saudara, dalam rangka pelaksanaan rencana para penatua GKKD-BP, marilah kita memperlengkapi diri dengan belajar memberitakan Injil secara pribadi.
Ada beberapa metode pemberitaan Injil secara pribadi, misalnya metode EE, 3 Saja, 4 Fakta Rohani, metode kontekstual, dan lain-lain.
Marilah kita menaburkan Kabar Baik dengan menyaksikan Injil kebenaran atau Injil keselamatan dengan resikonya.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak orang percaya tidak memberitakan Kabar Baik atau Injil keselamatan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Yesus berdoa untuk siapa saja?
Hal apa yang menyebabkan dunia mengetahui bahwa Yesus diutus oleh Bapa?
Oleh iman, apakah yang ada di dalam tubuh seorang beriman itu?
Apa bukti bahwa Allah mengasihi seseorang?
Saudara, menjelang hari penyaliban, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya.
Ia mendoakan murid-murid-Nya, dan juga berdoa bagi semua orang yang akan mendengarkan pemberitaan Injil kebenaran.
Yesus berdoa agar para murid hidup dalam kesatuan, sehingga kesatuan antara Bapa, Yesus, dan para murid nyata sebagai satu kesatuan.
Dengan demikian, dunia akan mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias yang diutus bagi dunia ini.
Yesus berdoa agar para murid, di mana pun mereka berada, hidup dalam persekutuan dengan Yesus dan Bapa.
Melalui persekutuan itu, mereka dapat menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias yang diutus oleh Bapa, yang telah dijanjikan sejak zaman Adam masih berada di Taman Eden, sebelum manusia diusir oleh Tuhan Allah dari taman itu.
Kejadian 3:15“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”
Telah dinubuatkan bahwa akan terjadi peperangan antara keturunan iblis dan keturunan perempuan, yaitu Yesus Kristus.
Oleh karena itu, Yesus datang untuk menyatakan firman Tuhan Allah, bahwa akan datang seorang keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala ular tua. Inilah misi Yesus datang ke dunia ini.
Yesus datang untuk menggenapi janji Bapa-Nya dan menyatakan kasih Bapa kepada dunia.
Tuhan Allah rela mengorbankan Putra Tunggal-Nya sebagai korban penghapus dosa dunia.
Agar seluruh rencana ini digenapi, Yesus berdoa sebelum melaksanakan tugas yang Bapa kehendaki Ia selesaikan, sebagai Anak Domba Allah yang akan disembelih sebagai korban penghapus dosa dunia.
Yesus mendoakan murid-murid-Nya, mendoakan orang-orang yang akan memberitakan Kabar Baik, yaitu Injil keselamatan dan anugerah Bapa.
Ia juga berdoa bagi semua orang yang percaya kepada Injil Kerajaan, agar di mana pun mereka berada, mereka bersatu menjadi satu tubuh Kristus, sebuah komunitas Kristen yang saling mengasihi.
Dengan demikian, dunia mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Bapa dan bahwa Yesus adalah Utusan Allah Bapa.
Melalui doa-doa-Nya, Yesus ingin menyatakan bahwa Ia bersatu dengan Bapa dalam seluruh karya dan pelayanan-Nya.
Yesus menunjukkan bahwa Ia dan Bapa berada dalam persekutuan yang kekal, sebagaimana sejak awal telah dituliskan oleh Yohanes:
Yohanes 1:1 “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Tuhan, Firman dan Roh Kudus, bersama-sama dalam menciptakan semesta ini.
Yohanes 1:3“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Yohanes 5:19“Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”
Dan Anak, yaitu Yesus Kristus, adalah utusan Bapa untuk menyatakan kasih-Nya kepada dunia ini.
Yohanes 3:16–17“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”
Dalam rangka penyelamatan dunia ini, terjadilah sebuah tragedi yang luar biasa, yaitu saat Yesus dan Bapa mengalami keterpisahan.
Dari kekekalan sampai kekekalan mereka senantiasa bersatu, namun peristiwa itu terjadi ketika Yesus menaati kehendak Bapa dan menggenapi rencana Bapa.
Di atas kayu salib, Yesus ditinggalkan oleh Bapa-Nya.
Markus 15:34“Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Saudara, dapatkah engkau menyadari betapa besar kasih Bapa terhadap dirimu?
Betapa besar pula kasih Bapa terhadap orang-orang di sekitarmu?
Tuhan Allah, Bapa kita, rela meninggalkan Anak-Nya dalam keadaan sekarat di atas kayu salib demi menyelamatkan kita.
Yesus adalah 100% manusia dan 100% ilahi, Ia adalah Allah.
Namun, dalam ketaatan-Nya sebagai utusan, Ia berdoa kepada Bapa-Nya. Rasul Paulus menuliskan kebenaran ini dalam:
Filipi 2:5-11“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”
Dalam rangka melaksanakan tugas, inilah Yesus berdoa kepada Bapa-Nya.
Di dalam persekutuan tersebut, Yesus memperoleh kekuatan untuk menjalankan tugas-Nya. Penulis Alkitab menuliskan:
Markus 14:32-36“Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku berdoa.” Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.” Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya. Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”
Kita dapat melihat bahwa terdapat perbedaan kehendak antara Yesus Kristus dan Bapa-Nya.
Namun, kita juga melihat bagaimana Yesus sebagai Hamba Allah taat untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Berapa kali kita tidak menaati perintah Yesus, dan apa yang saudara alami ketika tidak taat itu?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dilakukan Nabi Elisa ketika ia tiba di rumah perempuan Sunem?
Apa yang dilakukan Nabi Elisa terhadap mayat anak perempuan Sunem itu?
Tindakan apa yang dilakukan Nabi Elisa sehingga anak itu bersin sampai tujuh kali?
Apa yang dilakukan perempuan Sunem itu ketika ia mengetahui bahwa anaknya hidup kembali?
Saudara, kisah perempuan Sunem ini merupakan pelajaran yang dapat kita renungkan dengan seksama.
Ada saat-saat dalam hidup ketika segala usaha manusia berhenti.
Harapan memudar, logika tak lagi memberi jawaban, dan yang tersisa hanyalah keheningan yang menyakitkan.
Itulah yang dialami perempuan Sunem ketika anaknya meninggal.
Namun, kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa kebangkitan selalu dimulai dari ruang doa.
Ruang doa adalah tempat penyerahan total
“Sesudah masuk, ditutupnyalah pintu, lalu berdoa kepada Tuhan.” Elisa tidak langsung bertindak di hadapan banyak orang. Ia menutup pintu, memisahkan diri dari suara-suara di sekitarnya, dan membawa persoalan itu hanya kepada Tuhan. Doa bukan sekadar rangkaian kata-kata, melainkan sikap penyerahan total, pengakuan bahwa kuasa hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Sering kali kita menginginkan solusi yang cepat, tetapi Tuhan rindu agar kita terlebih dahulu masuk ke ruang doa. Di sanalah iman kita diuji dan ketergantungan kita dimurnikan.
Doa yang tekun mengundang kuasa Allah bekerja
“Maka naiklah ia ke atas pembaringan itu, lalu membaringkan dirinya di atas anak itu.” Tindakan Elisa menunjukkan doa yang sungguh-sungguh dan tekun. Ia tidak menyerah ketika hasilnya belum terlihat. Bahkan saat belum ada tanda-tanda kehidupan, ia tetap melangkah dalam iman. Doa yang tekun bukan berarti memaksa Tuhan, melainkan menyatakan kepercayaan penuh bahwa Tuhan sanggup bekerja, sekalipun situasi tampak mustahil.
Kehidupan dipulihkan oleh kuasa Allah
“Anak itu bersin sampai tujuh kali, lalu membuka matanya.” Kebangkitan itu nyata yang mati menjadi hidup kembali. Tuhan bukan hanya Allah yang menghibur, tetapi Allah yang memulihkan kehidupan. Kuasa-Nya sanggup menghidupkan kembali apa yang kita anggap telah berakhir: iman yang mati, pengharapan yang pudar, bahkan panggilan hidup yang terkubur.
Kebangkitan membawa penyembahan dan syukur
“Perempuan itu masuk lalu sujud di depan kaki Elisa sampai ke tanah.” Respon perempuan Sunem itu bukan bersorak-sorai, melainkan penyembahan. Ketika Tuhan membangkitkan kehidupan, respon yang benar adalah kerendahan hati dan ucapan syukur. Doa yang dijawab seharusnya membawa kita semakin dekat kepada Tuhan, bukan menjauh dari-Nya.
Masuklah ke ruang doa
Renungan ini mengingatkan kita bahwa ruang doa bukanlah tempat pelarian, melainkan tempat kebangkitan. Mungkin hari ini ada bagian dalam hidup kita yang terasa mati relasi, pelayanan, iman, atau pengharapan.
Jangan berhenti dalam keputusasaan, masuklah ke ruang doa, tutup pintu, dan datanglah kepada Tuhan.
Sebab kehidupan yang sejati selalu bangkit dari ruang doa.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak anak-anak Tuhan sangat sulit keluar dari berbagai masalah dalam kehidupan mereka?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa persoalan yang dialami janda seorang nabi sehingga ia mengadu kepada nabi Elisa?
Apa jawaban nabi Elisa kepada janda itu?
Apa perintah yang kemudian disampaikan oleh nabi Elisa kepada janda itu?
Mujizat apa yang terjadi dalam keluarga janda itu?
Saudara, ketika kesulitan timbul dalam kehidupan seseorang, maka ia akan bertindak sesuai dengan apa yang diyakininya dan sesuai dengan kebiasaan yang telah ia miliki.
Saat seseorang menghadapi pencobaan seperti kesulitan, kesakitan, keraguan, dan sebagainya, tindakannya akan mencerminkan keyakinannya, pengenalannya akan Tuhan, serta pemahamannya.
Rasul Paulus pernah menyatakan bahwa:
Roma 8:28“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Jadi, apapun yang terjadi dalam hidup kita, semuanya berlangsung sepengetahuan Allah, Bapa kita.
Hal ini juga dengan jelas disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Tuhan di Korintus:
1 Korintus 10:13“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
Dari ayat-ayat firman Tuhan di atas, kita dapat belajar juga dari kisah janda seorang nabi itu bahwa ketika anaknya diambil sebagai jaminan hutang dan dijadikan budak, ia segera mendatangi Nabi Elisa.
Janda tersebut meminta agar nabi itu melakukan sesuatu supaya ia memperoleh pertolongan dan terbebas dari persoalan hutangnya.
Janda itu sangat berharap kepada Nabi Elisa agar ia memperoleh pertolongan.
Lalu Elisa bertanya, “Apakah yang kau miliki di rumah?” Janda itu menjawab, “Hambamu ini tidak mempunyai apa-apa di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.”
Nabi itu berkata, “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari para tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit.
Sesudah itu masuklah dan tutuplah pintu setelah engkau dan anak-anakmu masuk.
Tuangkanlah minyak itu ke dalam segala bejana; dan apabila ada yang penuh, angkatlah.”
Maka pergilah janda itu dari Elisa. Ia menutup pintu setelah ia dan anak-anaknya masuk.
Anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, dan ia terus menuang minyak.
Ketika semua bejana telah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya, “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi.”
Tetapi anaknya menjawab, “Tidak ada lagi bejana.”
Lalu berhentilah minyak itu mengalir.
Kemudian pergilah janda itu kepada Nabi Elisa untuk memberitahukan hal tersebut.
Nabi itu berkata, “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari sisanya, engkau serta anak-anakmu.”
Mujizat terjadi karena janda itu mau menaati perintah Nabi Elisa.
Demikian pula, ketika orang percaya mau menaati perintah-perintah Tuhan yang tertulis dalam Alkitab dan berdoa kepada Bapa dalam nama Yesus Kristus dengan iman, maka terobosan dapat terjadi.
Saat kita berdoa dengan iman serta menaati dan melakukan perintah Tuhan, mujizat sering dinyatakan.
Hingga saat ini, mujizat masih terjadi ketika seseorang berharap dan mempercayai firman Allah.
Tuhan melakukan terobosan sesuai dengan iman orang yang percaya dan berdoa.
Suatu janji Tuhan dalam Kitab:
Ibrani 4:16“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”
Saudara, mujizat masih berlangsung.
Ketika seseorang percaya dan berharap kepada pertolongan Tuhan, mujizat sebagai terobosan masih terjadi untuk menghadapi berbagai persoalan hidup kita saat ini.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak orang mencemooh ketika seseorang berharap terjadinya mujizat sebagai terobosan untuk mengatasi persoalan dalam hidupnya?