Selasa, 10 Maret 2026

PENYERTAAN TUHAN SEPANJANG MASA

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MAZMUR 23:1-6

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Siapakah yang digambarkan sebagai gembala dalam Mazmur 23, dan apa artinya bagi kita?
  2. Apa yang dilakukan Tuhan bagi orang percaya, seperti disebutkan di padang yang berumput hijau dan air yang tenang?
  3. Bagaimana Mazmur 23 mengajarkan kita menghadapi lembah yang gelap atau masa-masa sulit dalam hidup?
  4. Apa janji Tuhan bagi orang percaya sepanjang hidup, seperti yang tertulis di ayat terakhir Mazmur 23?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Mazmur 23 adalah salah satu topik yang sering dikhotbahkan di depan mimbar atau di tempat-tempat persekutuan orang percaya, bahkan ayatnya dijadikan lirik untuk kita nyanyikan.

Kitab Mazmur 23 ditulis oleh Daud, raja Israel, berdasarkan pengalaman hidupnya sebagai gembala dan menghadapi ancaman nyata dari musuh.

Mazmur ini mengekspresikan keyakinan penuh Daud bahwa Tuhan adalah Gembala yang baik, memelihara, menuntun, dan melindungi, baik dalam masa damai maupun saat bahaya.

Ia menyatakan bahwa Tuhan menyediakan ketenangan, menyegarkan jiwa, menuntun di jalan yang benar, bahkan di lembah kekelaman sekalipun, dan memberkati hidupnya di hadapan musuh.

Keyakinan ini membuat Daud tenang dan bersyukur, karena ia tahu hanya Tuhan yang dapat menjadi perlindungan sejati.

Bagi kita saat ini, Mazmur ini mengajarkan bahwa Tuhan tetap menyertai dalam setiap pergumulan, baik itu tekanan pekerjaan, konflik, penyakit, usaha, atau kesulitan keuangan, pergumulan dalam studi, dalam pergaulan atau dalam hal apa saja.

Kita dapat merasa aman dan bersyukur ketika bergantung padaNya, mengambil waktu untuk berdoa dan merenungkan Firman, serta percaya bahwa kebaikan dan kemurahan Tuhan akan mengikuti hidup kita sepanjang masa.

Mazmur ini mengajak kita untuk berjalan bersama Tuhan sebagai Gembala yang setia, bukan mengandalkan kekuatan sendiri atau manusia.

Ada saatnya Tuhan membawa kita ke padang yang berumput hijau dan ke air yang tenang, memberi ketenangan dan penyegaran bagi jiwa kita.

Namun hal itu tidak boleh membuat kita lupa diri, karena ada saatnya pula Tuhan mengizinkan kita melewati lembah yang kelam, menghadapi kesulitan dan tekanan dalam hidup.

Jika saat ini kita berada dalam lembah yang gelap dan kondisi kita tidak baik, jangan cepat putus asa, sebab bisa jadi besok kita akan keluar dari lembah itu dan kembali menikmati padang yang hijau serta air yang tenang.

Namun dari semua keadaan tersebut, yang terpenting bukan sekadar berada di padang hijau atau lembah kelam, melainkan bahwa dalam setiap situasi, baik senang maupun susah, penyertaan Tuhan senantiasa menyertai hidup kita sepanjang masa.

Diskusikan dalam kelompok PA atau persekutuan kita, hal apa yang kita pelajari dan renungkan dari bahan pembacaan renungan kita hari ini?

Pembacaan Alkitab Setahun

Ulangan 32-34

Senin, 9 Maret 2026

DITUNTUN OLEH ROH KUDUS

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MAZMUR 143:8-10

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang Daud minta agar Allah beritahukan kepadanya setiap pagi? (Ayat 8)
  2. Mengapa Daud menyerahkan hidup dan jalannya kepada Allah? (Ayat 8–9)
  3. Siapa yang diminta Daud untuk menuntun hidupnya di jalan yang rata? (Ayat 10)
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Mazmur 143 merupakan mazmur ratapan pribadi yang mengungkapkan atau mengekspresikan kesedihan, tekanan, permohonan bimbingan, dan pergumulan rohani Daud.

Mazmur ini kemungkinan ditulis sebelum ia menjadi raja sepenuhnya, ketika menghadapi ancaman nyata, seperti kejaran Raja Saul atau serangan bangsa-bangsa lain, sebelum masa pemberontakan Absalom.

Luar biasa sikap dan respons hati Daud.

Dalam situasi yang penuh ancaman, ia tidak pernah sekalipun mengutuki Tuhan maupun musuh-musuhnya.

Ia justru mengekspresikan tekanan batinnya melalui bermazmur dan berdoa.

Daud percaya kepada kasih setia Tuhan (Kata Ibrani ḥesed “kasih perjanjian”, loyalitas Allah, kesetiaan yang tidak berubah).

Kasih setia inilah yang menjadi dasar ia bergantung sepenuhnya kepada Allah dan mencari tuntunan moral serta rohani.

Daud menyadari bahwa musuh yang dihadapinya nyata, tetapi ia tidak mencari perlindungan pada manusia.

Hanya kepada Allah ia berlindung.

Dengan rendah hati ia memohon tuntunan Roh Tuhan agar tetap mampu melakukan kehendakNya, sekalipun berada dalam tekanan, ancaman, dan pergumulan.

Belajar dari kisah Daud, kita menyadari bahwa musuh yang kita hadapi saat ini mungkin berbeda dengan musuh yang dihadapi Daud pada zamannya.

Jarang sekali ancaman itu datang secara fisik, seperti yang dialami Daud, tetapi musuh kita kini sering berbentuk sikap hati, pilihan, dan respon kita sendiri ketika Tuhan mengizinkan kita mengalami pencobaan, tekanan, atau pergumulan dalam berbagai bidang hidup, baik ekonomi, kesehatan, usaha, studi, maupun pekerjaan.

Pertanyaannya adalah, apakah kita menanggapi situasi itu seperti Daud, dengan berdoa, bermazmur, bergantung kepada Allah, dan meminta pertolongan serta tuntunan Roh Kudus?

Atau kita justru mengandalkan kekuatan sendiri atau bantuan manusia semata?

Perenungan ini mengajak kita untuk belajar menyerahkan setiap langkah kepada Tuhan, percaya bahwa Dia menuntun kita di jalan yang benar meski pergumulan datang silih berganti.

Mari kita terus menghidupkan karya Roh Allah yang ada di dalam hati setiap orang percaya.

Janganlah kita berfokus pada besarnya masalah atau pergumulan yang sedang kita hadapi, melainkan kepada Dia yang berkuasa dan sanggup menolong serta memimpin langkah hidup kita.

Diskusikan dalam kelompok PA atau persekutuan kita, bagaimana kita dapat hidup dalam tuntunan Roh Kudus setiap hari?

Pembacaan Alkitab Setahun

Ulangan 30-31

Minggu, 8 Maret 2026

ROH KUDUS TINGGAL MENYERTAI KITA

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 14:15-19

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa hubungan antara mengasihi Yesus dan menuruti perintah-Nya (ayat 15)?
  2. Siapakah “Penolong yang lain” yang dijanjikan Yesus, dan apa peran-Nya bagi orang percaya (ayat 16–17)?
  3. Apa arti perkataan Yesus, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu” (ayat 18), bagi murid-murid dan bagi kita sekarang?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Yohanes pasal 14 berisi perkataan Yesus kepada murid-murid-Nya menjelang penyaliban.

Ia menyampaikan tentang perpisahanNya dan kepergianNya kepada Bapa untuk mempersiapkan tempat bagi mereka.

Yesus memahami bahwa situasi ini tidak mudah, karena selama kurang lebih tiga setengah tahun Ia hidup berada di tengah-tengah mereka.

Karena itu para murid merasa gelisah.

Dalam konteks tersebut, ayat 15–19 memuat janji tentang Roh Kudus sebagai Penolong dan penghiburan bahwa mereka tidak akan ditinggalkan sendirian.

Pada ayat 15 Yesus menegaskan, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu.”

Kasih kepada Kristus dinyatakan melalui ketaatan melakukan perintah-perintahNya amat sangatlah penting!

Kata “menuruti” (Yunani: tēreō) berarti menjaga, memelihara, dan memegang teguh perintahNya.

Namun menuruti perintah Tuhan secara konsisten bukanlah hal yang mudah.

Pada ayat 16 Yesus melanjutkan perkataanNya, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain.”

Siapa yang Yesus maksudkan dengan seorang penolong yang lain?

Kata “Penolong” berasal dari bahasa Yunani Paraklētos, yang berarti Penghibur, Pembela, atau Penasehat.

Kata “yang lain” (allos) berarti lain dalam pribadi, tetapi setara dalam hakikat.

Yang dimaksud adalah Yesus itu sendiri dan Roh Kudus, yang melanjutkan karya Kristus dan menyertai orang percaya.

Dalam konteks Yohanes 14:15–19, supaya setiap orang yang telah percaya dapat menuruti perintah Tuhan, maka kita membutuhkan pertolongan Kristus melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam dan menyertai kita.

Roh Kudus menolong kita memahami kebenaran dan memampukan kita melakukan kehendakNya.

Lalu bagaimana kita mengetahui bahwa Roh Kristus atau Roh Kebenaran tinggal di dalam kita?

Hal itu nyata ketika kita memiliki relasi pribadi dengan Kristus, ada kasih yang mendorong kita menaati perintahNya, ada kepekaan hati dan pertobatan ketika jatuh dalam dosa, ada pertumbuhan serta perubahan karakter, ada kerinduan akan firman dan doa, dan ada ketekunan dalam iman.

Semua ini bukan hasil kekuatan manusia, melainkan karya Roh Kudus yang hidup dan bekerja di dalam diri orang percaya.

Diskusikan dalam kelompok PA atau persekutuan mengenai makna kehadiran Roh Kudus yang menyertai kehidupan kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ulangan 28-29

Sabtu, 7 Maret 2026

KEMERDEKAAN DIDALAM ROH KUDUS

Penulis : Anang Kristianto

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

2 KORINTUS 3:14-16

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Sesuai dengan ayat yang kita baca, apa yang membuat pikiran orang Israel menjadi tumpul?
  2. Siapa yang dapat menyingkapkan selubung itu?
  3. Bagaimana caranya agar selubung itu dapat diambil daripadanya?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Paulus menggunakan gambaran “selubung” yang menutupi hati, merujuk pada pengalaman bangsa Israel ketika Musa menutupi wajahnya setelah menerima hukum Taurat.

Dalam konteks bahasa Yunani, kata yang digunakan untuk “selubung” (kalyμμα) menggambarkan sesuatu yang menghalangi penglihatan dan pemahaman rohani.

Secara budaya dan teologis, Paulus sedang membandingkan pelayanan Perjanjian Lama yang berpusat pada hukum tertulis dengan pelayanan Perjanjian Baru yang membawa transformasi melalui Roh Kudus.

Selubung itu bukan sekadar ketidaktahuan intelektual, melainkan kondisi hati yang belum terbuka terhadap karya Kristus.

Ketika seseorang “berbalik kepada Tuhan,” selubung itu diambil, artinya hubungan dengan Allah tidak lagi dibatasi oleh ritual dan legalisme, tetapi oleh relasi atau hubungan yang hidup.

Bagi jemaat Korintus yang hidup dibawah pengaruh filsafat Yunani, pesan ini menegaskan bahwa kemerdekaan rohani tidak diperoleh dari sistem keagamaan atau kebijaksanaan manusia, melainkan dari karya Roh Kudus yang membuka pengertian dan mengubahkan hati.

Konsep dunia modern memaknai kebebasan sebagai keleluasaan memilih gaya hidup atau ekspresi diri.

Di era digital saat ini, banyak orang memiliki akses informasi tanpa batas, selubung modern bisa hadir dalam bentuk ideologi, luka masa lalu, pola pikir negatif, atau standar dunia yang membuat manusia sulit melihat dirinya dalam terang kasih Allah.

Pesan Paulus jelas bahwa: tanpa karya Roh Kudus, manusia dapat tetap religius namun tidak mengalami kemerdekaan sejati.

Dunia yang mengagungkan otonomi pribadi justru memperlihatkan kebutuhan mendalam akan pembebasan rohani—sebuah kebebasan yang tidak sekadar membebaskan dari aturan, tetapi membebaskan untuk hidup dalam kebenaran, kasih, dan tujuan ilahi.

Kemerdekaan di dalam Roh Kudus bukan berarti hidup tanpa arah, melainkan hidup yang dibimbing oleh hadirat Allah.

Kemerdekaan itu terlihat ketika kita tidak lagi dikendalikan oleh rasa takut, kepahitan, atau kebutuhan untuk selalu diterima orang lain.

Roh Kudus memimpin kita untuk hidup otentik—jujur di hadapan Tuhan dan manusia.

Mungkin aplikasi sederhana yang dapat kita lakukan hari ini adalah belajar berhenti sejenak dari kebisingan dunia digital, memberi ruang bagi firman Tuhan, dan berdoa agar Tuhan membuka mata hati kita.

Ketika selubung itu diangkat, kita bukan hanya memahami kebenaran, tetapi juga diubahkan oleh kebenaran tersebut.

Pertanyaannya menjadi sangat pribadi: apakah saya benar-benar hidup sebagai orang yang merdeka di dalam Roh, atau masih terikat oleh pola pikir lama?

Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ulangan 24-27

Jumat, 6 Maret 2026

KUASA UNTUK MENJADI SAKSI KRISTUS

Penulis : Anang Kristianto

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 1:6-11

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang menjadi pertanyaan murid mengenai pemulihan Israel?
  2. Kapan waktu pemulihan itu menurut Yesus?
  3. Apa syaratnya murid-murid akan menerima kuasa?
  4. Apa yang terjadi ketika kuasa itu diberikan kepada murid-murid Kristus?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Kisah para rasul terjadi pada masa ketika bangsa Yahudi hidup di bawah dominasi Kekaisaran Romawi, sehingga harapan akan kedatangan Mesias sering dipahami oleh murid-murid secara politis sebagai: pembebas yang memulihkan kejayaan Israel.

Dalam teks Yunani, kata dynamis (kuasa) yang dikatakan Yesus tidak menunjuk pada kekuatan politik atau militer, melainkan kemampuan ilahi yang diberikan Roh Kudus untuk menjalankan misi Allah.

Yesus meluruskan fokus murid-murid untuk suatu mandat menjadi saksiNya dari Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi.

Gereja dipanggil untuk melanjutkan karya-Nya di bumi melalui kuasa Roh.

Jadi, inti dari perikop ini bukanlah rasa ingin tahu tentang masa depan, melainkan panggilan aktif disertai kuasa untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia nyata.

Kita hidup dalam era koneksi digital tetapi sekaligus mengalami krisis makna dan kepercayaan.

Data dari berbagai survei global menunjukkan meningkatnya kesepian sosial, kecemasan, dan polarisasi opini akibat arus informasi yang tidak terkendali.

Media sosial memungkinkan setiap orang menjadi “penyiar”, tetapi tidak selalu menjadi saksi kebenaran.

Banyak orang lebih terdorong mengejar pengaruh dan pengakuan daripada integritas.

Pertanyaan murid tentang “kapan” terasa mirip dengan kecenderungan manusia modern yang lebih tertarik pada prediksi masa depan, teori konspirasi, atau sensasi rohani daripada tanggung jawab sebagai murid Kristus.

Kisah Para Rasul 1:8 mengingatkan bahwa kuasa Roh Kudus tidak diberikan untuk dominasi atau popularitas, melainkan untuk menghadirkan karakter Kristus di tengah dunia yang haus akan keaslian.

Renungan ini mengajak kita bertanya secara pribadi: apakah saya hanya menunggu perubahan dari luar, atau saya bersedia diubahkan dan diutus?

Roh Kudus sudah diberikan, kuasa untuk menjadi saksi bukan terutama soal kemampuan berbicara, tetapi keberanian hidup konsisten sesuai kebenaran di lingkungan kerja, keluarga, dunia akademik, dan ruang digital.

Kita dipanggil untuk memulai dari “Yerusalem” kita sendiri—lingkungan terdekat—sebelum berpikir tentang pengaruh yang lebih luas.

Hari ini, mari merenungkan: di mana Tuhan menempatkan saya sebagai saksi-Nya?

Dan bagaimana Roh Kudus ingin memakai kata-kata, keputusan, dan tindakan saya agar orang lain melihat Kristus melalui kehidupan saya?

Kuasa itu telah dijanjikan; respons kita adalah bersedia dipakai atau tidak.

Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ulangan 21-23

Kamis, 5 Maret 2026

PENGHIBUR YANG DIUTUS KRISTUS

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 16:5-8

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Mengapa Yesus berkata bahwa lebih berguna bagi murid-murid jika Ia pergi dan Roh Kudus datang? Apa artinya bagi kehidupan kita hari ini?
  2. Bagaimana Roh Kudus menginsafkan manusia tentang dosa, kebenaran, dan penghakiman dalam kehidupan sehari-hari?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Pada suatu ketika Yesus mengumpulkan para murid dan Dia mengatakan bahwa tidak lama lagi para murid tidak akan bertemu dengan-Nya.

Kemudian Yesus menjelaskan bahwa adalah lebih berguna kalau Dia pergi, supaya Penghibur bisa datang.

Pernyataan ini sungguh-sungguh membuat murid-murid bingung, mereka tidak tahu apa maksudnya.

Barulah di hari Pentakosta mereka mengerti dan mengalami sendiri bagaimana Roh Kudus turun ke bumi tampak dalam lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.

Hingga akhirnya mereka penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain (lihat Kisah Para Rasul 2:1-4).

Jadi kepergian Yesus membuka jalan bagi Roh untuk datang dan tinggal di dalam orang percaya.

Selama Yesus berada secara fisik di bumi, Ia hadir di satu tempat pada satu waktu.

Tetapi melalui Roh Kudus, kehadiran Allah menjadi nyata dalam hati setiap orang percaya dimanapun mereka berada.

Kadang kita merindukan dapat melihat Yesus secara fisik seperti para murid dahulu.

Namun sesungguhnya, kita memiliki sesuatu yang bahkan para murid belum alami sebelum Pentakosta, Roh Kudus yang berdiam tetap di dalam kita.

Roh Kudus dalam bahasa Yunani disebut sebagai Parakletos yang artinya: Penghibur, Pensyafaat, Penasehat, Penolong.

Dan bukankah kita semua sangat membutuhkan ini semua.

Kita sangat membutuhkan Roh Kudus yang menjadi Penghibur ketika mengalami kedukaan atau tekanan dalam kehidupan.

Kita juga sangat memerlukan Roh Kudus yang bersyafaat bagi kita, itu juga alasan mengapa kita didorong untuk berbahasa lidah ketika berdoa, karena tidak semua hal mampu kita ungkapkan.

Tetapi ketika kita berdoa dalam bahasa lidah, maka kita sedang bersama Roh Kudus berdoa kepada Allah Bapa.

Kita juga sangat membutuhkan Roh Kudus sebagai Penasehat, yang memberikan kepada kita hikmat untuk kita mengerti jawaban atas berbagai persoalan kehidupan.

Baik masalah rumah tangga, masalah pekerjaan, masalah dalam pelayanan.

Dan sebagai pamungkas, Roh Kudus adalah Roh Penolong yang sanggup menolong kita menghadapi apapun persoalan hidup kita.

Sebuah kisah nyata, ada orang yang kehilangan barang berharga, dan dia berdoa agar barang tersebut ditemukan.

Dan beberapa hari kemudian ada orang yang mengantarkan barang berharga tersebut kepadanya!

Saudara, kita tidak berjalan sendirian, dalam kesedihan ada Roh Kudus yang memberi penguatan, dalam kebingungan ada Roh Kudus yang sanggup memberikan arahan dan tuntunan.

Dalam pelayanan dan pekerjaan kita sehari-hari, ada kuasa yang sanggup memberi kita jawaban atas berbagai problematika yang sukar.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa yang menjadi persoalanmu yang berat saat ini dan bagaimana harapanmu untuk mengatasinya.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ulangan 17-20

Rabu, 4 Maret 2026

ROH KUDUS SUMBER ALIRAN AIR HIDUP

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 7:37-39

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa arti datang dan minum kepada Yesus bagi orang yang haus secara rohani?
  2. Bagaimana Roh Kudus yang dijanjikan Yesus membuat hidup orang percaya menjadi sumber air hidup bagi orang lain?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Tuhan Yesus mengatakan: “…Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!”

Ini tentu bukan berbicara tentang haus atau dahaga dimana kerongkongan kering dan dia butuh air segera.

Jika ini yang terjadi orang akan segera ke dapur dan membuka lemari es untuk segera minum.

Haus yang dimaksud adalah haus secara rohani.

Orang bisa merasa hidupnya hampa, tidak puas, atau tidak bermakna.

Dan kehausan seperti ini bisa terjadi pada siapa saja, tanpa memandang status sosial.

Seorang yang sudah berhasil menyelesaikan studi, memiliki pekerjaan yang baik, memiliki rumah dan kendaraan, tetapi dia bisa merasa bahwa ada kekosongan dalam jiwanya yang membuat dia merasa gelisah dan tidak ada sukacita.

Kehausan ini pun bisa dialami oleh seorang pelayan Tuhan.

Dia merasa doanya kepada Tuhan terasa kering, membaca Firman tetapi tidak lagi memahami apa yang dibaca, masih tetap beribadah tetapi menyadari bahwa hal itu semata karena kewajiban.

Dan akhirnya dia menyadari bahwa hatinya terasa sangat hambar.

Ketika menghadapi situasi seperti ini ada orang yang berusaha untuk membuat pengalihan, misalnya orang mencoba mencari hiburan berlebihan, baik melalui media sosial, film, game. 

Atau bisa saja dia menyibukan diri dengan kerja yang ekstrem, atau melakukan berbagai aktivitas sosial.

Tetapi mungkin ada juga yang kemudian menjadi lebih pendiam, mengurangi interaksi dengan keluarga dan teman, hingga akhirnya mengurung diri.

Jika hal ini terjadi maka yang paling tepat adalah datang kepada Yesus.

Masuk dalam kamar, naikkan pujian dan penyembahan kepada Tuhan.

Pemazmur menyatakan “Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.” (Mazmur 22:4).

Tuhan bersemayam di atas puji-pujian.

Sehingga ketika kita memuji dan menyembah Tuhan, maka kita akan segera merasakan kehadiran-Nya.

Dan bukankah kehadiran Tuhan yang orang butuhkan ketika dia merasa haus, hambar, putus asa.

Datang kepada Yesus maknanya adalah datang pada hadir-Nya, bersekutu menikmati kasih dan kehadiran-Nya.

Mungkin kita tidak banyak berkata-kata, tetapi kita akan lebih banyak menikmati kehadiran-Nya dan mendengar suara-Nya.

Dan mendengar disini bukan berarti harus mendengar dengan telinga kita, tapi kita bisa mendengar dari kesan atau suara lirih yang berbisik dalam hati kita.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan bagaimana praktik mendengar suara Roh dalam batin kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ulangan 14-16

Selasa, 3 Maret 2026

ROH KUDUS MENGUBAH HATI KITA

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YEHEZKIEL 36:22-27

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa maksudnya Tuhan memberi kita hati yang baru dan roh yang baru?
  2. Bagaimana Roh Tuhan menolong kita untuk taat dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Dalam Kitab Yehezkiel pasal 36 ini, situasi atau apa yang dialami oleh bangsa Israel sedang tidak baik-baik saja.

Saat itu Israel mencemarkan nama Tuhan dengan penyembahan berhala, mereka juga sedang dihukum dalam pembuangan, sehingga mereka juga menjadi bahan ejekan bangsa lain.

Di ayat 32b Allah menyatakan: “…Bukan karena kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, tetapi karena nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di tengah bangsa-bangsa di mana kamu datang.”

Jadi Allah bertindak bukan pertama-tama karena kebaikan umat, melainkan demi nama-Nya yang kudus.

Dan ini menunjukkan prinsip penting, bahwa perubahan rohani selalu dimulai dari anugerah Allah.

Keselamatan dan pembaruan bukan hasil usaha manusia, tetapi tindakan kasih Allah sendiri.

Allah yang berinisiatif, tetapi bangsa Israel dan kita umat percaya tetap bertanggung jawab untuk merespon dengan benar.

Kepada kita, Tuhan memberikan hati yang baru dan roh yang baru.

Bukankah ini sesungguhnya prasarana yang sangat penting dan vital yang bisa menjadi senjata utama dan menjadi pijakan yang kuat untuk kita bisa memiliki karakter dan perilaku yang semakin menyerupai Kristus.

Dan sekali lagi, prakarsa atau tindakan awal untuk perubahan ke arah yang jauh lebih baik itu dimulai dari Tuhan.

Karena kita tidak bisa mengubah hati kita sendiri tanpa pertolongan Tuhan.

Roh Kudus yang ada dalam kita, Dia lah yang melembutkan hati yang keras.

Dan untuk perubahan yang berkesinambungan, dibutuhkan ketaatan kita.

Tetap ada tanggung jawab pribadi dari kita untuk merespon kasih karunia dan rahmat Tuhan.

Yehezkiel 36:27 “Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.”

Roh Kudus yang diam dalam batin kita, Dia lah yang akan membantu kita untuk taat pada perintah Firman.

Membantu kita untuk melakukan perintah-perintah-Nya.

Dan hanya dengan ini maka janji Firman Allah itu akan terjadi dalam hidup kita.

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” (2 Korintus 3:18).

Kita akan diubah dari kemuliaan kepala kemuliaan (from glory to glory—versi Alkitab King James).

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan bagaimana supaya semakin peka untuk mendengar arahan Roh.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ulangan 11-13

Senin, 2 Maret 2026

JANJI PENCURAHAN ROH KUDUS

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YESAYA 44:1-3

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Mengapa kita tidak perlu takut jika kita percaya bahwa Tuhan yang menciptakan dan membentuk kita sejak dalam kandungan?
  2. Apa arti janji Tuhan mencurahkan air ke tanah yang haus dan Roh-Nya ke atas keturunan kita?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Pada masa itu, bangsa Israel sedang mengalami masa sulit, mereka ada dalam masa pembuangan, mengalami kekeringan rohani, dan kehilangan harapan.

Namun di tengah kondisi tersebut, Tuhan menyatakan kasih-Nya: “Beginilah firman TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan dan yang menolong engkau: Janganlah takut, hai hamba-Ku Yakub, dan hai Yesyurun, yang telah Kupilih!” (Yesaya 44:2).

Allah tidak menuntut, tetapi Allah sedang mengingatkan bahwa Dia adalah Allah Pencipta dan Penolong.

Demikian juga di masa kini, banyak orang yang mengatakan bahwa tahun 2026 ini sebagai tahun yang sukar, khususnya dalam bidang ekonomi ditambah lagi banyaknya bencana alam yang sudah dan yang akan terjadi.

Tetapi bagi kita yang percaya, maka janji Tuhan dalam Yesaya 44:3 akan berlaku: “Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu.”

Tuhan berjanji untuk memelihara umat-Nya, juga di masa yang sukar.

Hal itu akan terwujud, jika kita sebagai umat percaya.

Bukan sekedar percaya, bahwa Firman itu diucapkan Allah, tetapi juga percaya bahwa bagian Firman yang kita baca kalau itu adalah sebuah janji.

Kita percaya bahwa janji itu juga bagi kita secara pribadi. Itulah yang disebut ketika Firman (Logos), menjadi Firman yang hidup (Rhema).

Air dan hujan yang dicurahkan, adalah dari berkat dan pertolongan Tuhan bagi umat-Nya yang sedang mengalami kekeringan finansial, kekeringan jiwa (stress, depresi), maupun kekeringan rohani.

Tetapi selain air, Firman tersebut juga menyatakan bahwa Roh Kudus akan dicurahkan atas keturunan kita.

Ini sesungguhnya adalah janji yang luar biasa, entah kita yang sudah menikah dan memiliki keturunan, tetapi juga bagi kita yang sekalipun belum atau tidak menikah tetapi memiliki keturunan rohani.

Janji Tuhan bahwa ke atas mereka, Roh Kudus akan dicurahkan.

Pencurahan Roh Kudus atau masa Pentakosta menandai awal era gereja dimana Allah memberikan kuasa kepada para murid untuk menjadi saksi.

Di masa kini, pencurahan Roh Kudus berarti kelanjutan karya Allah yang memberikan keberanian dan kuasa bagi umat-Nya untuk bersaksi.

Juga kuasa yang akan mengubah perilaku dan karakter kita sehingga semakin menyerupai Kristus.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa yang telah Roh Kudus perbuat dalam kehidupanmu.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ulangan 8-10

Minggu, 1 Maret 2026

ROH KUDUS SANG PENCIPTA KEHIDUPAN

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KEJADIAN 1:1-5

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa makna rohani dari tindakan Allah memisahkan terang dari gelap?
  2. Dan bagaimana prinsip ini dapat diterapkan dalam kehidupan iman kita sehari-hari?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Alkitab dibuka dengan pernyataan yang mulia: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”

Tindakan awal penciptaan bukan berasal dari kebutuhan alam semesta, melainkan dari kehendak Allah sendiri.

Segala sesuatu berawal dari Allah.

Namun ayat 2 memperlihatkan kondisi awal bumi: “belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya.”

Gambaran ini menunjukkan keadaan tanpa bentuk, tanpa arah, tanpa kehidupan yang teratur.

Tetapi di tengah kekosongan itu ada satu pernyataan yang penuh pengharapan: “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”

Kata “melayang-layang” (Ibrani: rachaph) memberi gambaran seperti seekor induk burung yang mengerami telurnya, bukan pasif, tetapi aktif menjaga, menghangatkan, dan mempersiapkan kehidupan yang akan lahir.

Sebelum terang jadi, sebelum bentuk tercipta, sebelum keteraturan terjadi, Roh Allah sudah hadir.

Kejadian 1:3  “Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi.”

Di sini terlihat sinergi ilahi dimana Allah berfirman, kemudian terang tercipta.

Dengan demikian, Roh Allah yang melayang-layang adalah Roh Kudus yang kemudian “mengaktifkan Firman”.

Tanpa Roh, Firman hanya terdengar; dengan Roh, Firman menjadi realita.

Yohanes 1:1, 14a  “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah… Firman itu telah menjadi manusia,…”

Melalui ayat ini, maka Yesus adalah Firman yang menjadi manusia.

Dengan demikian kita bisa melihat kejasama yang indah dan mulia, dimana Allah (Bapa) sebagai inisiator awal, Allah Roh sebagai kuasa yang menghidupkan dan Allah Anak sebagai Perantara yang menyebabkan itu semua jadi atau tercipta.

Tetapi yang sangat penting untuk dipahami, ini bukan tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi yang bekerja secara harmoni.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa peran Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ulangan 5-7