Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Bagaimana kita menyucikan diri kita?
Apa hasil penyucian diri kita?
Bagaimana mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas?
Dengan benih apa kita dilahirkan kembali?
Apa yang menjadi tetap untuk selama-lamanya?
Saudara-saudari, pernah mendengar lagu rohani:
Cinta itu lemah lembut sabar sederhana
Cinta itu murah hati rela menderita
Ajarilah kami bahasa cinta-Mu
Agar kami dekat pada-Mu, ya Tuhanku
Ajarilah kami bahasa cinta-Mu.
Agar kami dekat pada-Mu.
Dunia ini mengajarkan setidaknya ada 5 bahasa kasih (love language).
Diantaranya kata-kata pujian, waktu yang berkualitas, pemberian hadiah, sentuhan fisik, dan memberikan bantuan.
Bahasa kasihNya Tuhan mencakup ke-5 bahasa kasih ini dan bahkan melebihi semuanya, bahasa kasihNya Tuhan sampai memberikan diriNya sendiri, rela menderita, dan disalib, sebagai bukti kasihNya yang tulus dan ikhlas kepada seluruh umat manusia.
Firman Tuhan hari ini mengajarkan kita bahwa melalui ketaatan kita kepada kebenaran, hidup kita telah disucikan.
Oleh karenanya kita diberikan kemampuan untuk mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas kepada saudara saudari kita.
Kasih persaudaraan yang bukan hanya sekedar perasaan atau perkataan saja, tetapi ada tindakan yang nyata atau bahasa kasih yang bisa dimengerti oleh sesama kita yang lahir dari kebenaran Firman Tuhan yang kita hidupi.
Kasih persaudaraan yang tulus ikhlas yang kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari yaitu tidak lagi memperhatikan hanya kepentingan diri sendiri, tetapi juga belajar peduli dengan kebutuhan orang lain di sekitar kita yang Tuhan taruhkan di dalam hati kita.
Mengasihi dengan sepenuh hati kita, tidak dengan setengah hati, tapi dengan bersungguh-sungguh sepenuh hati kita.
Setiap kita yang telah dilahirkan kembali, yang dilahirkan dari benih yang tidak fana yaitu melalui Firman Allah yang hidup dan yang kekal (bukan dari benih yang fana), kita dimampukan untuk mengasihi dengan kasih yang kita terima dari kebenaran Firman Tuhan.
Dan kasih yang kita berikan dalam kebenaran Firman, tidak akan pernah menjadi layu seperti rumput, tetapi akan hidup kekal seperti Firman dan akan bersinar di dalam kehidupan kita.
Kasih yang tulus ikhlas yang akan dapat dirasakan oleh orang yang menikmatinya.
Dan lewat hai ini lah nama Allah dipermuliakan.
Tuhan Yesus memberkati.
Berikan praktek nyata mengamalkan kasih persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari lewat waktu dan tenaga dalam sepanjang minggu ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Siapakah yang dipermuliakan di dalam Anak Manusia?
Siapa juga kah yang dipermuliakan di dalam Allah?
Apa perintah baru yang diberikan oleh Tuhan Yesus?
Apa yang diketahui oleh semua orang jika kita saling mengasihi?
Saudara-saudari,
Akhir bulan September lalu, Surabaya dihebohkan dengan seorang anak muda berusia 18 tahun yang melakukan tindakan bunuh diri, dikarenakan tindakan bullying yang dialami semasa sekolah yang dilakukan oleh teman-teman sekolahnya.
Hari-hari ini dunia punya standar yang berbeda untuk menghargai seseorang.
Dunia pakai kepintaran, kekayaan, jabatan, popularitas untuk jadi standar penghargaan terhadap seseorang.
Dan ketika seseorang mempunyai salah satunya sebagai standar, ada banyak orang akan datang menjadi sahabat dan rekan yang menjadi komunitasnya.
Kasih yang diberikan menjadi punya syarat dan ketentuan yang berlaku (skb).
Di dalam Firman Tuhan hari ini Yesus memberikan perintah yang sangat penting kepada murid-muridnya untuk saling mengasihi.
Mengasihi bukan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku (skb), mengasihi bukan hanya perkataan saja, tapi mengasihi dengan perbuatan yang nyata.
Yesus memberikan contoh dirinya sendiri yang berkorban di kayu salib, merendahkan dirinya serendah-rendahnya, mati untuk menebus umat manusia yang berdosa.
Kasih Yesus yang tidak bersyarat, kasih yang rela berkorban, kasih dengan tindakan nyata, dan lewat kasihNya yang besar atas seluruh umat manusia, nama Allah dipermuliakan dan Yesus pun dipermuliakan oleh Allah.
Perintah yang sama juga diberikan kepada kita sebagai murid-muridnya.
Di tengah kondisi dunia yang semakin bertambah jahat, dan kasih kebanyakan orang akan semakin dingin, Yesus mengajar kita untuk saling mengasihi, karena kita sudah terlebih dahulu dikasihi oleh Yesus.
Yesus mengasihi kita dengan kasih yang sempurna, dan dengan kasih Yesus yang kita nikmati, kasih itu juga yang kita berikan kepada orang-orang disekitar kita.
Dan kasih dengan mutu yang sama yang diberikan oleh Yesus yang dicari oleh Yesus dari kita sebagai murid-muridnya.
Ketika kita saling mengasihi, kita memancarkan terang kasih Kristus di dunia ini.
Dunia ini akan penuh dengan kasih Kristus dan dunia ini akan mengenal kasih Kristus.
Kasih inilah yang menjadi cerminan Yesus hadir ditengah dunia ini dan lewat ini nama Allah dipermuliakan.
Tuhan Yesus memberkati.
Apakah kita sudah mengasihi saudara yang mengecewakan kita? Bagaimana prakteknya mengasihi mereka dengan kasih Kristus? Mari, sharing pengalaman kita tentang hal ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya dan secara khusus hafalkanlah 1 Yohanes 4:12.
Apakah bukti bahwa Allah sangat mengasihi manusia di dunia ini termasuk kita?
Apakah dampak dan pemahaman kita tentang Allah yang sangat mengasihi kita?
Siapakah yang hidup di dalam kita ketika kita senantiasa hidup mengasihi orang lain dan senantiasa hidup saling mengasihi?
Allah telah menunjukkan dan membuktikan kepada dunia ini bahwa Dia sangat mengasihi dunia ini dengan mengirimkan anak-Nya yaitu Yesus untuk menyelamatkan dunia ini.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).
Bagi setiap orang yang percaya akan kasih Allah maka dipastikan bahwa Allah di dalam mereka dan mereka tinggal di dalam Allah.
“Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.” (I Yohanes 4:14-15).
”Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”(Yohanes 15:4).
Karena Allah adalah kasih maka bukti bahwa Allah tinggal di dalam kita dan kita tinggal di dalam Dia maka kita harus hidup saling mengasihi.
”Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (I Yohanes 4:16).
”Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.”(I Yohanes 4:11-12).
Karena sesungguhnya bukti keberadaan Tuhan di dalam kita maka kita melakukan perintah Tuhan dan perintah Tuhan yang utama adalah agar kita hidup saling mengasihi.
“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”(Yohanes 15:9,12).
Oleh karena itu marilah kita senantiasa tinggal tetap di dalam Dia karena Dia tetap tinggal di dalam kita dengan cara hidup saling mengasihi.”Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”(Yohanes 15:17).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana pengalaman saudara tentang ketika saudara menyadari akan keberadaan Tuhan di dalam saudara maka saudara dapat mengasihi orang lain.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya dan secara khusus hafalkanlah 1 Yohanes 4:10.
Siapakah yang terlebih dahulu mengasihi kita sehingga kita dapat mengasihi Tuhan dan orang lain?
Apakah bukti bahwa Allah terlebih dahulu mengasihi kita sehingga kita dapat hidup di dalam kasih?
Apakah akibatnya bagi hidup kita jika kita memahami bahwa Allah terlebih dahulu mengasihi kita?
Allah mengajarkan kepada kita bahwa kita ditetapkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama.
“Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Markus 12:29-31).
Namun harus kita pahami adalah bahwa mengasihi Allah dan orang lain harus dimulai dengan pemahaman bahwa Allah terlebih dahulu mengasihi kita sehingga kita dimampukan untuk mengasihi Allah karena mengalami kelimpahan kasih Bapa.
Alkitab telah memberikan contoh tentang orang yang mengalami kasih Tuhan serta kelimpahan-Nya maka mereka dapat mengasihi Allah dengan konsisten seperti yang dialami oleh Yohanes.
Yohanes adalah murid yang dikasihi oleh Tuhan maka dia dapat hidup serta mengajarkan tentang kasih yang benar dan tepat.
”Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya.”(Yohanes 13:23).
”Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!”(Yohanes 19:26).
Karena Yohanes adalah murid yang mengalami dan memahami kasih Allah maka Ia mengajarkan dan hidup dalam mengasihi orang yang lain dengan benar.
”Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.”(1 Yohanes 4:7).
Berbeda dengan apa yang dialami oleh Petrus dimana dia memahami bahwa harus mengasihi Yesus tetapi tidak memahami kelimpahan akan kasih Allah dan tidak memahami bahwa Allah sangat mengasihi dia sehingga Petrus pernah mengalami kegagalan dan ketika dia mengalami jamahan kasih Yesus maka Petrus dapat bangkit kembali.
”Jawab Yesus: “Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” (Yohanes 13:38).
”Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yohanes 21:17).
Pahamilah kasih Allah yang besar dan Dialah yang terlebih dahulu mengasihi kita dan bergeraklah dengan kasih Allah untuk mengasihi Tuhan dan sesama serta melakukan pekerjaan Tuhan supaya kita berhasil.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara memahami bahwa Allah terlebih dahulu mengasihi saudara sehingga saudara dapat mengasihi Tuhan dan sesama.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya dan secara khusus hafalkanlah Yakobus 5:16.
Apakah yang harus kita lakukan ketika ada orang yang sakit diantara jemaat Tuhan?
Apakah yang harus dilakukan oleh para penatua terhadap orang yang sakit?
Apakah juga yang harus kita lakukan agar kita mengalami kesembuhan dari Tuhan?
Firman Tuhan berkata bahwa Allah selalu mendengar dan menjawab doa-doa umat-Nya, namun jika ada dosa dalam hati kita maka Allah tidak akan mendengar doa-doa kita.
“Marilah, dengarlah, hai kamu sekalian yang takut akan Allah, aku hendak menceritakan apa yang dilakukan-Nya terhadap diriku. Kepada-Nya aku telah berseru dengan mulutku, kini dengan lidahku aku menyanyikan pujian. Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar. Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan. Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku.” (Mazmur 66:16-20).
Bahkan doa yang dipanjatkan akan membuahkan mukjizat kesembuhan dimana orang yang sakit mengalami kesembuhan dari sakit penyakit.
”Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.” (Yakobus 5:14-15).
Bahkan Yesaya pernah menegur bangsa Israel bahwa penghalang bagi mereka untuk mengalami doa yang menghasilkan mukjizat adalah dosa dan kejahatan mereka.
”Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu. Sebab tanganmu cemar oleh darah dan jarimu oleh kejahatan; mulutmu mengucapkan dusta, lidahmu menyebut-nyebut kecurangan.” (Yesaya 59:1-3).
”Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.”(I Petrus 3:7).
Itulah sebabnya Tuhan ingin agar kita membereskan setiap dosa diantara umat Tuhan dengan cara saling mengaku dosa sehingga kita akan mengalami doa yang membuahkan mukjizat.
”Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”(Yakobus 5:16).
Marilah kita membangun kehidupan yang saling mengaku dosa dan tidak menyimpan dosa kepada Tuhan dan orang lain agar kita mengalami doa yang penuh mukjizat.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara mengalami doa yang penuh mukjizat ketika tidak menyimpan dosa terhadap orang lain.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya dan secara khusus hafalkanlah Matius 18:35.
Bagaimana sikap dari hamba yang sudah dibebaskan hutangnya terhadap hamba yang lain, yang hanya berhutang seratus dinar?
Apakah pandangan raja terhadap hamba yang tidak mau menghapuskan hutang dari hamba yang lain yang lebih kecil nilai hutangnya?
Bagaimana sikap Bapa sorgawi jika kita tidak mengampuni saudara kita dengan segenap hati?
Allah menyatakan bahwa manusia adalah orang yang berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah tetapi oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus kita diselamatkan.
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”(Roma 3:23-24).
Karena kita adalah orang berdosa maka sangatlah mungkin kita berbuat salah kepada Tuhan dan orang lain.
Dan ketika kita mengakui dosa kita maka Allah mengampuni kita.
”Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” (I Yohanes 1:8-10).
Allah selalu mengampuni kesalahan kita tatkala kita berbuat dosa.
Tuhan ingin mengajarkan kepada kita sebagaimana Dia selalu mengampuni dosa dan kesalahan kita maka Ia ingin agar kita pun mengampuni kesalahan orang lain kepada kita.
”Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” (Matius 6:12).
Apabila kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain maka Allah juga tidak akan mengampuni dosa kita.
”Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Matius 6:14-15).
”Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (Markus 11:25).
Allah akan menyerahkan kita kepada si jahat jika kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain.”Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.”(Matius 18:34).
Tetapi jika kita mengampuni kesalahan orang lain maka kita akan dilepaskan daripada yang jahat.”Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.”(Matius 6:13).
Oleh karena itu marilah kita hidup senantiasa mengampuni kesalahan orang lain sebagaimana Yesus telah mengampuni kesalahan kita.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara senantiasa mengampuni kesalahan orang lain karena saudara telah menerima pengampunan dari Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya dan secara khusus hafalkanlah Matius 18:22.
Menurut kebanyakan orang atau pada umumnya, berapa kalikah kita mengampuni saudara kita jika ia berbuat dosa kepada kita?
Dan menurut ajaran Yesus kepada kita dan murid-murid-Nya sampai berapa kalikah kita mengampuni saudara kita yang berdosa kepada kita?
Menurut saudara apakah ada batasannya bagi kita untuk mengampuni saudara kita?
Sebagai keluarga Allah dalam kehidupan sehari-hari selalu ada interaksi dalam aktivitas yang kita bangun baik dalam komunitas, dalam ibadah-ibadah dan kehidupan-kehidupan sehari-hari.
Dalam interaksi tersebut bisa terjadi salah paham, ketersinggungan dan terluka baik melalui perkataan ataupun perbuatan.
Hal tersebut sangat memungkinkan untuk kita membuat kesalahan kepada saudara kita.
Karena aktivitasnya sangat tinggi sekali maka sangat memungkinkan terjadi kesalahannya cukup banyak sehingga dapat menimbulkan kebencian.
Dan jika hal tersebut tidak diselesaikan atau dibereskan maka akan timbul perpecahan dan putusnya hubungan persaudaraan dalam keluarga Allah.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita supaya ketika hal-hal tersebut terjadi maka tidak terjadi kebencian dan perpecahan maka kita harus mengampuni kesalahan saudara kita.
Dan berapa kalipun terjadinya orang yang bersalah kepada kita sejumlah itulah kita harus mengampuni mereka.
“Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” (Lukas 17:3-4).
Mengapa Allah ingin agar kita memiliki hati yang senantiasa mengampuni orang lain? Karena Allah adalah kasih, dimana kasih-Nya tidak terbatas, dimana pengampunan dari pada-Nya senantiasa tersedia bagi orang-orang yang menyesal dan mau bertobat.
“Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmuialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2).
”TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.”(Mazmur 103:8-13).
”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”(Yohanes 3:16).
Dengan memahami bahwa kasih Allah tidak terbatas terhadap orang-orang yang berdosa kepada-Nya sehingga diberikan-Nya pengampunan dosa, demikianlah hendaknya kita bersikap untuk senantiasa mengampuni saudara kita berapa kali pun dia berbuat kesalahan terhadap kita.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana pengalaman saudara dalam mempraktekkan pengampunan terhadap saudara seiman sampai tujuh puluh kali tujuh kali atau tidak terbatas.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah akibat dari perkataan yang membangun?
Bagaimana cara membuang kepahitan dalam hidup kita ?
Pengampunan yang kita lakukan harus meniru pengampunan siapa?
“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Efesus 4:29).
Saudara, ada dua hal yang dinasehatkan Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, menggunakan perintah untuk melarang dan untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan perkataan.
Perkataan yang dilarang adalah perkataan yang kotor.
Dalam versi King James disebut “corrupt communication”. Komunikasi atau perkataan yang korup adalah perkataan yang 1) busuk, membusuk 2) rusak karenanya dan tidak layak pakai lagi, usang 3) kualitasnya buruk, jelek, tidak layak pakai, tidak berharga.
Anak-anak Tuhan sudah tidak sepantasnya berkata-kata yang isinya busuk atau membusukkan orang lain, mengatakan hal-hal yang tidak pantas dan tidak berharga.
Sebaliknya anak-anak Tuhan seharusnya menggunakan perkataan yang membangun.
Perkataan yang membangun adalah tindakan seseorang yang mendorong pertumbuhan orang lain dalam hikmat, kesalehan, kebahagiaan, kekudusan Kristen.
Ucapan adalah karunia yang tak ternilai; berkat yang tak terkira nilainya.
Kita dapat berbicara menggunakan perkataan untuk berbuat baik kepada orang lain.
Kita dapat memberi mereka beberapa informasi yang tidak mereka miliki; memberikan beberapa penghiburan yang mereka butuhkan;
memperoleh beberapa kebenaran melalui diskusi yang bersahabat yang tidak kita ketahui sebelumnya, atau mengingatkan dengan teguran yang bersahabat kepada mereka yang berada dalam dosa.
Orang yang tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memberi manfaat kepada orang lain, tidak akan mungkin mengatakan hal-hal yang akan disesalinya.
Saudara, perkataan yang membangun dapat dipakai Tuhan untuk menyampaikan kasih karunia.
Seseorang yang sedang kesulitan atau bingung saat hendak mengambil keputusan memerlukan nasehat.
Ketika dia mendengarkan nasehat yang baik, maka nasihat itu dapat menjadi kasih karunia untuk dia.
Dia dapat mengambil keputusan yang baik.
Dalam diskusi atau percakapan yang sehat, sering sekali orang mendapat inspirasi untuk melakukan sesuatu yang baik.
Sumber perkataan yang baik dan membangun adalah perbendaharaan dari hati yang diisi oleh firman Tuhan.
Oleh karena itu, kita semua harus selalu mengisi hati dan pikiran kita dengan firman.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana perkataan yang mendatangkan kasih karunia?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Berapa kali harus mengampuni orang yang bersalah?
Apakah arti tujuh puluh kali tujuh?
Bagaimana supaya kita dapat melepaskan pengampunan?
“Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:21-22).
Petrus mengira pengampunan yang harus dilakukannya hanya tujuh kali. Petrus mengira pengampunan ada batasnya.
Seperti kita juga terkadang memiliki pengampunan yang terbatas. Tuhan Yesus tidak memberikan batas pengampunan yang harus kita lakukan.
Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengampuni tanpa batas.
Seberapa banyak orang bersalah kepada kita, sebanyak itulah pengampunan yang harus kita lakukan.
Mungkinkah kita mengampuni tanpa batas? Sangat mungkin.
Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk saling mengampuni, seperti Dia sudah mengampuni.
Pengampunan Tuhan kepada kita tanpa batas, demikianlah kita harus saling mengampuni.
Saudara, bukti kasih Allah yang utama adalah pengampunan.
Oleh karena kasih-Nya, Tuhan Yesus rela mati di kayu salib. Kematian-Nya di kayu salib adalah harga yang harus dibayar untuk pengampunan dosa dunia ini.
Jadi, kasih Allah identik dengan pengampunan.
Oleh karena kita telah menerima kasih Allah yang tidak terbatas, dosa kita dahulu, sekarang dan yang akan datang diampuni.
Demikian juga kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita.
Orang yang tidak bersedia mengampuni orang yang bersalah, padahal dirinya sudah dan selalu diampuni Tuhan, tidak menyadari menghargai pengampunan yang telah diterimanya dari Tuhan.
Orang yang sulit mengampuni akan mengalami kesulitan dalam hidupnya.
Tidak mengampuni berarti menyimpan dosa.
Orang yang tidak mau melepaskan pengampunan, seperti orang yang membawa-bawa sampah busuk di sakunya.
Kemana pun ia pergi, dia menghirup bau busuk.
Bukan hanya dia, akhirnya orang-orang di sekitarnya juga mencium bau busuk.
Tidak mau mengampuni, bukan hanya merugikan dirinya, tetapi dia juga akan merugikan orang-orang di sekitarnya.
Diskusikan dengan rekan-rekan PA, bagaimana melepaskan pengampunan kepada orang yang bersalah kepada kita.
“Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan” (1 Tesalonika 5:11).
Surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika adalah salah satu kitab yang paling awal ditulis.
Surat ini ditujukan kepada jemaat di Tesalonika yang dirintis Rasul Paulus namun harus segera ditinggalkan karena penganiayaan.
Oleh karena itu Paulus perlu menjelaskan pokok-pokok iman kepada jemaat yang baru ini.
Tema kunci dari Kitab 1 Tesalonika adalah Tuhan Yesus adalah Raja kita yang akan datang.
Dalam lima pasal 1 Tesalonika terdapat ayat-ayat yang berkaitan dengan kedatangan Tuhan Yesus kedua kali.
Para hamba Tuhan di berbagai dunia sepakat bahwa kita hidup di zaman akhir.
Yesus akan datang untuk menjemput gereja-Nya.
Sikap yang harus dimiliki oleh orang Kristen terkait kedatangan Tuhan Tuhan Yesus adalah
1) Hidup dalam terang. Kita sebagai anak-anak terang tentu saja harus menyukai hidup dalam terang firman Tuhan.
2) Berjaga-jaga. Kita harus menyadari bahwa Tuhan Yesus akan segera datang. Kita harus menyiapkan diri, mendandani diri dengan kekudusan. Kita menjaga kekudusan hidup dan bertumbuh dalam kekudusan.
3) Berbaju zirah iman dan kasih. Baju zirah adalah pelindung diri dari serangan musuh. Musuh akan menyerang iman kita, membuat kita ragu atau tidak percaya pada firman-Nya, khususnya kedatangan Tuhan Yesus.
4) Menggunakan Ketopong pengharapan. Ketopong atau helm adalah pelindung kepala. Pikiran kita harus diisi dengan pengharapan bahwa Tuhan Yesus pasti datang menjemput gereja-Nya. Dia akan memberikan kekuatan saat kita mengalami aniaya.
5) Saling menasihati dan membangun dalam persekutuan orang percaya.
Saudara, dalam 2 Timotius dijelaskan kondisi pada zaman akhir.
“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” (2 Timotius 3:1-5).
Supaya tetap kuat, kita harus hidup dalam persekutuan orang percaya.
Di dalam persekutuan orang percaya itulah kita dapat saling menasihati dan membangun.
Salah satu syarat untuk dapat saling menasihati adalah kerendahan hati. Tanpa kerendahan hati, kita akan sulit menerima nasihat dari saudara seiman.
Tanpa kerendahan hati, kita juga sulit untuk menasihati saudara seiman.
Menasihati dan dinasihati membutuhkan kerendahan hati.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana memberitakan cara menasihati saudara seiman tanpa menyinggung hatinya.