Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah yang dimaksud Firman itu?
Apakah Firman itu sudah ada, sebelum dunia dijadikan?
Apa maksud dari kalimat “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya”?
Pada mulanya adalah Firman dari kata Yunani (Logos). Kalimat ini menekankan tentang keberadaanNya bukan hanya sebelum Ia menjelma (inkarnasi) menjadi manusia, tetapi juga sebelum segala waktu ada.
Kekekalan biasanya diungkapkan dengan keberadaan sebelum dunia dijadikan.
Kekekalan Allah digambarkan di dalam (Mazmur 90:2) “sebelum gunung-gunung dilahirkan;” dan didalam (Amsal 8:23).
Tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan, mulai dari malaikat yang paling tinggi sampai pada kepada mahluk yang paling rendah, baik itu mahluk hidup maupun benda mati.
Dengan kata lain Allah Bapa tidak melakukan hal apa pun tanpa Dia dalam pekerjaan penciptaan itu.
Sementara kalimat “Dalam Dia ada hidup” (Yohanes 1:4) Rasul Yohanes memaknai istilah kata “Hidup” memakai kata “zoè”, (dlm teks aslinya) untuk menunjuk pada hidup ilahi, hidup kekal, dan kehidupan yang berkualitas dari Allah sendiri.
Ini bukan sekadar keberadaan fisik atau fungsi biologis, tetapi esensi kehidupan sejati yang hanya dimiliki oleh Allah.
Dengan kata lain ayat ini menyatakan bahwa “hidup” atau “zoè” adalah Yesus Kristus yang adalah sumber dari kehidupan spiritual yang kekal, yang menerangi manusia dan membawa mereka keluar dari kegelapan dosa dan ketidaktahuan.
Kita tahu bersama, bulan Desember ini adalah momentum, dimana kita mengingat kembali hari kehadiran Sang Mesias lebih dari 2000 tahun yang lalu dalam wujud manusia.
Allah menjelma menjadi manusia dengan cara Dia lahir kedunia lewat seorang perempuan yang suci.
Tujuan Dia adalah menggenapi janjiNya yaitu Dia datang untuk menebus dosa umat manusia dengan cara mati di kayu salib.
Kita akan bisa mengalami terang dan hidup (zoè) itu jika kita percaya sepenuhnya kepada Dia sang Firman itu sendiri.
Karena Yesuslah sumber terang yang telah mengalahkan kegelapan serta membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan kematian kekal.
Saudara, kita tidak sekedar tahu tapi juga percaya dan mengalamiNya sendiri bahwa Dia adalah Firman yang hidup, yang membawa terang, keselamatan dan kedamaian.
Biarlah momentum ini kita dapat mengintropeksi diri kita masing-masing.
Bila saat ini kita merasa sudah jauh dari Dia, maka segera kembali datang, bertobat dan bersekutu dengan Dia.
Bagi kita yang sekarang ini menikmati karyaNya, mari ceritakan itu ke banyak orang yang belum percaya kepada sang Terang dan hidup itu.
Biarlah di momentum bulan Desember, kita dapat menikmati sang Terang dan hidup yang sejati dan jangan lupa untuk berbagi kebaikan Tuhan kepada orang lain yang belum menikmati sang Terang dan hidup itu.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapa yang telah melihat terang yang besar?
Seperti apa bangsa ini bersuka cita?
Apa yang terjadi dengan “kuk dan gandar” yang selama ini menekan mereka?
Mereka bersukacita dihadapan siapa?
Nabi Yesaya melalui ayat-ayat yang kita baca hari ini menyampaikan nubuat yang sangat kuat kepada umat Israel yang saat itu hidup dalam tekanan politik, kegelapan rohani, dan rasa takut akibat penindasan bangsa asing.
Daerah Zebulon dan Naftali—wilayah yang pertama mengalami agresi musuh—digambarkan sebagai tempat yang “terhina,” tetapi justru di sanalah Tuhan berjanji menyalakan terang-Nya. Kegelapan bukanlah akhir.
Ayat-ayat ini menubuatkan hadirnya seorang Pribadi yang membawa sukacita besar, mematahkan kuk penindasan, dan menghancurkan belenggu yang membelenggu umat-Nya.
Janji ini bukan sekadar peristiwa historis, tetapi sebuah deklarasi bahwa penyelamatan Allah akan datang melalui seorang Raja yang penuh kuasa dan damai.
Di masa kini, nubuat ini menemukan penggenapannya secara penuh dalam diri Yesus Kristus.
Dunia yang kita tempati mungkin tidak berbeda jauh dengan keadaan zaman Yesaya.
Banyak orang hidup dalam tekanan, keresahan mental, kelelahan sosial, dan kegelapan moral.
Kejahatan, peperangan, ketidakadilan, serta ketakutan akan masa depan membuat manusia sulit melihat harapan.
Namun Injil menegaskan bahwa Yesus adalah Terang yang bersinar di tengah kegelapan itu.
Terang Kristus bukan hanya konsep spiritual, tetapi sebuah kuasa yang mengubahkan—membuka mata hati, mematahkan belenggu dosa, memulihkan hidup yang rusak, dan menghadirkan damai dalam dunia.
Ketika Yesus datang, Ia tidak hanya membawa solusi sementara, tetapi sebuah pemerintahan damai yang terus bekerja dalam hati orang percaya.
Kerajaan Allah telah hadir di muka bumi namun kehadirannya tidak seperti yang banyak manusia bahkan bangsa Israel dapat bayangkan.
Biarkan firman-Nya yang kita dengar dan ucapkan menyingkapkan kegelapan dalam hati, mengoreksi keangkuhan, menguatkan yang lemah, dan memimpin langkah kita kepada hidup yang kudus, sebuah proses transformasi dari hari ke hari.
Terang Kristus harus terlihat melalui perbuatan kita: kejujuran dalam pekerjaan, kebaikan dalam relasi, kemurahan hati kepada yang membutuhkan, dan keberanian melawan ketidakadilan.
Ketika kita berjalan dalam terang Yesus, kita menjadi pembawa terang bagi lingkungan kita—keluarga, gereja, masyarakat—sehingga orang lain pun dapat melihat harapan dalam diri kita.
Yesus memang telah naik ke sorga, namun kita diberi kuasa dan otoritas dari Yesus sendiri untuk memancarkan kasih dan kebenaran Kristus dalam segala yang kita lakukan.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang terjadi dengan gunung rumah Tuhan pada hari-hari terakhir?
Siapa yang akan datang berduyun-duyun ke gunung rumah Tuhan?
Apa tujuan mereka datan ke rumah Tuhan?
Siapa yang akan menjadi hakim dan wasit bagi suku-suku bangsa?
Ayat yang kita baca hari menuliskan sebuah visi eskatologis dari Mikha—sebuah gambaran tentang masa depan ketika Gunung Rumah Tuhan ditinggikan dan bangsa-bangsa berduyun-duyun datang ke dalamnya untuk belajar jalan Tuhan.
Konteks kitab ini adalah masa ketidakadilan sosial dan kemerosotan moral di Israel dan Yehuda.
Mikha menegur para pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan dan umat yang hidup jauh dari kehendak Allah.
Di tengah kondisi itu, Mikha menyampaikan nubuat pengharapan: suatu hari Tuhan sendiri akan menjadi pusat kehidupan bangsa-bangsa, dan hukum-Nya akan menjadi standar kebenaran.
Gambaran pedang yang ditempa menjadi mata bajak adalah simbol damai sejahtera sejati—bukan karena kekuatan manusia, tetapi karena pemerintah dan tatanan Tuhan yang ditegakkan.
Apa yang disampaikan oleh Nabi Mikha ini tentu membutuhkan suatu proses untuk terjadi, kita tidak tahu secara pasti apakah hal ini sedang terjadi atau sedang dalam persiapan penggenapannya.
Kita hidup di tengah persaingan global, polarisasi politik, konflik antar bangsa, dan masyarakat yang sering kehilangan arah moral.
Banyak orang berusaha mencari jawaban melalui kekuatan ekonomi, militer, ideologi, atau teknologi yang saat ini informasinya dapat diakses dengan mudah melalui media sosial—namun tetap gagal menemukan damai yang sejati.
Dalam konteks ini, visi Mikha menegaskan bahwa transformasi bangsa-bangsa tidak dapat berlangsung tanpa firman Tuhan sebagai pusatnya.
Ketika manusia mencoba membangun dunia tanpa kebenaran Allah, yang muncul justru kekacauan, ketakutan, dan keletihan.
Namun janji Mikha mengingatkan bahwa Tuhan rindu mengajar bangsa-bangsa dan membawa mereka kembali ke jalan yang benar.
Gereja dan umat Tuhan dipanggil menjadi saksi yang memancarkan terang itu di tengah dunia yang haus akan kebenaran sejati Saudara, penggenapan firman ini hanya bisa terjadi ketika umatNya merespon seluruh proses persiapan yang Tuhan buat bagi gerejaNya.
Renungan hari ini mengajak kita untuk terlebih dahulu membiarkan Tuhan mengajar kita setiap hari melalui firman-Nya, sebelum kita dapat menjadi alat-Nya untuk mengajar bangsa-bangsa.
Mulailah dari hidup pribadi yang taat, jujur, damai, dan mengutamakan kehendak Tuhan dalam setiap keputusan.
Dalam keluarga, tempat kerja, komunitas, bahkan media sosial, kita dapat memperkenalkan jalan Tuhan melalui perkataan yang membangun, sikap yang penuh kasih, dan tindakan yang membawa damai.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Kapan kah yang disebut sebagai hari-hari terakhir?
Apakah makna “naik ke gunung Tuhan” dalam kehidupan sehari-hari?
Nabi Yesaya menerima sebuah penglihatan profetik yang luar biasa mengenai masa depan rencana Allah atas dunia.
Ia melihat suatu waktu ketika “gunung rumah Tuhan akan berdiri tegak… dan segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana.” (Yesaya 2:2).
Ini adalah gambaran tentang pemerintahan Allah yang akan dinyatakan di atas segala pemerintahan manusia, dan panggilan bagi bangsa-bangsa untuk datang kepada-Nya.
Dikatakan panggilan bagi bangsa-bangsa, karena ketika Allah akan mewujudkan nubuat nabi Yesaya tersebut, Allah tidak akan melakukannya tanpa melibatkan Tubuh Kristus.
Dengan demikian kita dipanggil untuk menjadi alat Tuhan yang membawa bangsa-bangsa datang kepada-Nya.
Bangsa-bangsa datang kepada Tuhan karena mereka mencari pengajaran, kebenaran, dan karena mereka memerlukan arahan Tuhan atas kehidupan mereka, baik secara individu maupun secara korporat.
Gereja tidak dipanggil untuk menjadi pusat hiburan atau politik, tetapi pusat transformasi melalui Firman Tuhan.
Ketika Firman Tuhan diberitakan dengan kuasa dan dijalankan dalam ketaatan, maka kebencian berubah menjadi kasih, kekerasan berubah menjadi damai, hati yang patah dipulihkan, hidup yang hancur dipulihkan.
Gereja yang hidup dalam Firman juga akan menjadi magnet rohani yang menarik bangsa-bangsa datang kepada Tuhan.
Penglihatan Yesaya ini tentu bukan hanya gambaran masa depan semata, tetapi juga sebagai undangan untuk bertindak hari ini.
Jika bangsa-bangsa akan datang kepada Tuhan, pertanyaannya adalah:
Siapakah yang akan memanggil mereka datang?
Umat Tuhan harus menjadi suara yang berkata: “Mari, kita naik ke gunung Tuhan.”
Setiap orang percaya dipanggil menjadi saksi Kristus dimanapun Tuhan menempatkan kita.
Misi bukan pilihan. Itu panggilan. Misi adalah kita!
Saudara, dalam kelompok pemuridan, doakan satu dengan yang lain, agar kita bersama bukan hanya menjadi pendengar Firman, tapi juga sebagai pelaku Firman, khususnya dalam menggenapi Amanat Agung Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Bagaimana kebenaran bahwa maut tidak lagi berkuasa atas Kristus, mengubah pandangan kita tentang penderitaan, godaan, dan ketakutan dalam hidup ini?
Seperti apakah penerapan dari ungkapan “menganggap diri telah mati terhadap dosa tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus”?
Umat percaya yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, dipanggil untuk hidup dalam satu realitas rohani yang luar biasa, yaitu bahwa kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah.
Namun, banyak orang percaya yang masih menjalani hidup seolah-olah tidak ada perubahan yang terjadi ketika mereka menerima Kristus.
Mereka masih dibayangi kegagalan masa lalu, terjebak dalam dosa yang sama, atau hidup dalam ketakutan dan seperti tanpa pengharapan apapun!
Saudara ketika Kristus mati, manusia lama kita turut mati.
Ketika Kristus bangkit, kita menerima hidup yang baru di dalam Dia. Artinya: kita tidak lagi diperbudak oleh dosa; dosa bukan lagi tuan atas hidup kita; kita memiliki kuasa untuk berkata tidak terhadap dosa dan ya kepada kebenaran.
Saudara, kebangkitan Kristus bukan hanya sebuah peristiwa sejarah, tetapi itu seharusnya adalah sumber kuasa baru yang bekerja dalam hidup kita hari ini.
Roma 6:9 “Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.”
Jika kita satu dengan Kristus, maka kuasa dosa dan maut yang dulu mengikat kita sudah dipatahkan.
Tidak ada alasan lagi untuk hidup dalam kekalahan rohani.
Namun mengapa umat Tuhan masih melakukan dosa? Hal itu bukan karena dosa yang berkuasa atas mereka, melainkan karena mereka sendiri yang “memberi izin”.
Misalnya jika seorang anak muda tahu bahwa pertemanan dengan teman di sekolah sering mengakibatkan perilaku yang buruk.
Maka perlu untuk bersikap tegas, jauhi pergaulan yang buruk.
Cari komunitas yang membangun iman kita kepada Tuhan.
Jangan kita membiarkan pikiran-pikiran lama, pola hidup lama, dan godaan menggiring kita kembali ke dalam belenggu yang sebenarnya sudah dipatahkan.
Hidup kerohanian kita bukan proses memperbaiki diri, tetapi radikal, yaitu: perubahan identitas.
Kita bukan lagi hamba dosa, kita adalah milik Kristus.
Kita bukan lagi hidup untuk diri sendiri — kita hidup untuk Allah.
Saudara, Kristus telah menang dan kemenangan itu juga adalah milik kita.
Mari kita berjalan dalam hidup baru, sebagai manusia baru yang penuh kuasa dan kemuliaan Allah.
Ingat bahwa manusia lama kita telah dikuburkan melalui baptisan yang kita telah jalani!
Saudara, dalam kelompok pemuridan, doakan satu dengan yang lain, dengan permohonan: agar saudara hidup sebagai pribadi yang telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah. Dan biarlah hidupmu memuliakan Tuhan dalam segala hal.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Jika Firman Tuhan menyatakan bahwa kita telah mati bagi dosa karena bersatu dengan Kristus, dalam hal apa saat ini saudara masih mengalami kesukaran untuk menang dari pencobaan?
Bagaimana makna kesatuan bahwa kita telah mati dan bangkit bagi Kristus mempengaruhi cara saudara memandang diri, dan kehidupan rohani saudara hari ini?
Banyak umat Tuhan berkata bahwa mereka percaya kepada Yesus dan sudah diselamatkan, tetapi faktanya tidak sedikit yang masih hidup dalam ikatan dosa yang berulang: marah yang tak terkendali, kebiasaan buruk, kecemaran, kebohongan, keserakahan, atau hidup kompromi terhadap dosa.
Firman Tuhan menyatakan dengan tegas: “Bolehkah kita bertekun dalam dosa supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Lalu jawabannya sangat tegas: “Sekali-kali tidak!”
Mengapa? Karena keselamatan bukan hanya membebaskan kita dari hukuman dosa, tetapi juga membebaskan kita dari kuasa dosa.
Firman Tuhan menyatakan bahwa mereka yang percaya dan disatukan dengan Kristus telah mati bagi dosa.
Artinya, kita tidak lagi berada di bawah kendali, tekanan, atau tuntutan dosa.
Setan tidak lagi memiliki hak legal artinya tuduhannya tidak lagi memiliki “kekuatan hukum” atas hidup kita.
Jika kita telah mati terhadap dosa, mengapa kita masih harus hidup di dalamnya?
Seorang yang mati tidak lagi merespons panggilan, rayuan, atau tekanan apa pun.
Demikian pula, orang yang sudah mati bagi dosa tidak lagi tunduk pada kehendaknya.
Menurut Alkitab, baptisan bukan sekadar upacara rohani, tetapi deklarasi bahwa: yang pertama manusia lama kita telah dikuburkan bersama Kristus, dan yang kedua kita bangkit untuk hidup dalam hidup yang baru.
Baptisan adalah penguburan masa lalu, dan kita dibangkitkan dengan kuasa kebangkitan Kristus untuk hidup dalam kemenangan.
“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” (Roma 6:6).
Saudara, seorang hamba tidak memiliki hak memilih, tetapi seorang yang dibebaskan memiliki kuasa untuk berkata “tidak”.
Melalui salib: Dosa tidak lagi berkuasa; rantai masa lalu telah diputus; Iblis tidak bisa lagi menuntut kita; kita bukan budak, tetapi pemenang di dalam Kristus.
Saudara, orang percaya bukanlah orang yang tidak pernah jatuh, tetapi orang yang tidak tinggal dalam kejatuhan. Kristus tidak mati agar kita hidup dalam rasa bersalah terus-menerus, tetapi agar kita berjalan dalam kemerdekaan ilahi.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Dalam kehidupan sehari-hari apa makna “mengasihi dunia”?
Bagaimana caranya agar kita bisa selalu mengasihi Tuhan dibandingkan mengasihi dunia?
“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.” (1 Yohanes 2:15).
Dunia sebagai sistem nilai yang menentang Allah adalah dunia dengan gaya hidup yang berpusat pada ego dan dosa.
Tiga keinginan dunia yang telah kita baca, yaitu:
Keinginan daging: ini adalah hasrat untuk memuaskan hawa nafsu, kesenangan sesaat tanpa mempedulikan nilai-nilai Firman Tuhan.
Keinginan mata: adalah ambisi akan materi, yang bisa menyebabkan iri hati, rakus, mengejar apa yang dilihat untuk kebanggaan diri.
Keangkuhan hidup: adalah kesombongan atas posisi, harta, kekuasaan dan pencapaian pribadi.
Semua ini tampak menyenangkan dan memikat, tetapi ujungnya adalah kehampaan dan kebinasaan.
Itu adalah kebahagiaan semu, prestasi semu yang hanya akan memuaskan ego kita.
Karena segala yang tampak mengagumkan di dunia, apakah itu popularitas, kekayaan, kekuasaan, teknologi, kemewahan, tren dan budaya, itu semuanya hanya sementara.
Banyak orang, pejabat, pengusaha yang hari ini dipuja, besok dilupakan, bahkan dikucilkan.
Prestasi yang dibangun dengan sudah payah, besok bisa hilang dalam sekejap, apalagi kalau prestasi dan kedudukan itu dibangun dengan melakukan hal-hal yang menyimpang.
Misalnya seseorang bisa segera dipromosikan menjadi manajer dalam perusahaan oleh karena memiliki paman yang menjabat sebagai direktur.
Ketika sang paman pensiun, maka manajer tersebut bisa saja kemudian diacuhkan bahkan dikucilkan.
Manusia membangun kerajaan sementara di bumi, tetapi tanpa Tuhan semua akan hancur.
Dunia yang dicari banyak orang seperti pasir di padang gurun yang segera lenyap ditiup oleh angin.
Karena itu adalah kebodohan jika seseorang menukar kehidupan kekal dengan kenikmatan sesaat.
Setiap hari kita akan berada dalam persimpangan:
Mengikuti keinginan dunia atau mengikuti kehendak Tuhan.
Hidup dengan perspektif sementara atau hidup dengan perspektif pada kekekalan.
Mengejar kesenangan sesaat atau menyenangkan hati Allah.
Dunia mengajak kita mengejar apa yang cepat terlihat namun Tuhan memanggil kita untuk mengejar apa yang akan bertahan selamanya.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa yang patut kita lakukan agar kita selalu memiliki kerinduan untuk menyenangkan hati Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Manakah yang lebih penting: mengalahkan dunia atau mengasihi sesama?
Apakah bukti bahwa kita benar-benar mengasihi Allah?
“Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah.” (1 Yohanes 5:1a).
Saudara, kelahiran baru bukan lah sekadar perubahan perilaku, tetapi transformasi kehidupan kita sebagai manusia.
Kita tidak lagi hidup sebagai manusia lama yang mudah ditaklukkan oleh dosa, tekanan dunia, atau ketakutan.
Kita adalah anak-anak Allah, yang dilahirkan oleh Roh Kudus.
Perubahan status rohani kita ini sangat penting, sebab kemenangan dimulai dari siapa kita, bukan dari apa yang kita lakukan.
Banyak dari kita umat percaya yang gagal hidup berkemenangan karena mencoba menang dengan kekuatan sendiri.
Firman Allah ini mengingatkan: kemenangan bukan dimulai dari usaha, melainkan dari kelahiran baru.
Sebenarnya apakah yang dimaksud Firman Allah dengan “dunia”?
Dunia dalam konteks ini tentu bukanlah ciptaan fisik, tetapi sistem nilai yang menentang Allah:
a. Keinginan daging; b. Keinginan mata; c. Keangkuhan hidup; d. Godaan untuk bersikap kompromi terhadap dosa.
Hal-hal inilah yang berusaha mengendalikan manusia.
Namun Firman Tuhan menyatakan: “Semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia.”
Artinya, kita sebagai umat percaya, tidak tunduk pada nilai dunia, tetapi menundukkan dunia di bawah kehendak Tuhan.
“Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (1 Yohanes 5:4b).
Dasar kemenangan itu: bukan kekuatan pribadi, bukan kecerdasan, bukan pengalaman, tetapi iman.
Iman di sini bukan sekadar percaya bahwa Tuhan ada, tetapi adalah kepercayaan aktif yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Roh Kudus ada di dalam kita yang akan menjadi penolong bagi kita yang percaya.
Dengan demikian kita dapat berkata, jika kita lahir dari Allah, kita pasti mengalahkan dunia.
Bukan mungkin. Bukan kadang-kadang. Tetapi pasti.
Karena Tuhan yang telah memberikan keselamatan kepada kita adalah Tuhan yang telah mengalahkan dunia.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa yang patut kita lakukan agar iman kita bertumbuh.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapa yang datang dari Allah?
Siapa yang menyertai Yesus?
Apa yang kita peroleh saat kita percaya kepada Yesus?
Apa yang kita alami dalam dunia ini?
Hal apakah yang harus kita lakukan ketika kita mengalami menderita penganiayaan?
Saudara saudari..
Kematian Yesus di kayu salib mendatangkan kesedihan, tetapi hanya untuk sementara waktu.
Kebangkitan Kristus mendatangkan sukacita yang abadi. Yesus sudah menang atas maut.
Kemenangan-Nya yang membuat kita juga pasti mengalami kemenangan-kemenangan di bumi ini.
Yesus bilang, Ia telah mengalahkan dunia. Kita tinggal berjalan dalam kemenangan itu.
Setiap orang percaya saat ini hidup di tengah dunia yang penuh masalah, tantangan, tekanan dan pergumulan.
Banyak yang pada akhirnya kehilangan arah, jatuh dalam dosa, mengikuti arus dunia, dan jika tidak mampu bertahan, mereka meninggalkan Tuhan.
Yesus memberi pesan sebelum Ia naik ke surga untuk menguatkan hati kita sebagai orang percaya karena Yesus telah mengalahkan dunia.
Ini adalah jaminan kemenangan bagi kita orang percaya sehingga kita juga dapat mengalahkan dunia ini bersama dengan Yesus.
Yesus tidak pernah bilang hidup kita akan mudah. Yesus tahu kalau kita tidak akan bisa menjalani hidup ini tanpa kehadiran-Nya dalam hidup kita.
Oleh karena itu, Ia menjanjikan penghibur yaitu Roh Kudus yang akan selalu bersama-sama dengan kita setiap harinya untuk mengalahkan dunia yang jahat ini.
Yesus berkata: Kuatkan hatimu! Artinya, marilah punya iman yang teguh bukan tumbang dengan keadaan yang ada.
Yusuf adalah contoh nyata orang yang menang atas dosa dan mengalahkan dunia.
Ketika Yusuf digoda oleh istri Potifar, Yusuf menolak dan tidak mengikuti arus dunia. Yusuf memilih untuk takut akan Tuhan dan mengalahkan dunia.
Hasilnya adalah Tuhan meninggikannya dan membuatnya menjadi berkat bukan hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi banyak orang.
Kemenangan Yusuf bukan karena dia kuat, tetapi karena fokusnya Yusuf hanya kepada Tuhan saja di tengah tekanan yang dia alami.
Kemenangan yang Yesus berikan dengan kematian-Nya di kayu salib adalah satu-satunya alasan kita bisa tetap berdiri teguh di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja ini.
Jadi, mari kita mengingat kematian dan kebangkitan-Nya yang memberikan kita kemenangan.
Hal ini jugalah yang menjadi berita kesaksian bagi banyak orang di dunia ini bahwa ada kekuatan Tuhan yang menguatkan hati setiap orang yang percaya.
Sehingga ada banyak orang yang percaya kepada Tuhan, dan berduyun-duyun orang datang kepada untuk untuk dapat mengalami kemenangan atas dunia ini.
Amin. Tuhan Yesus memberkati.
Menurut saudara, apakah saudara dapat mampu bertahan mengalahkan dunia ini, mengalami kemenangan dan tetap kuat tanpa pertolongan dari Roh Kudus? Ceritakan apa tantangan dunia ini yang saudara alami dan hal apa yang membuat Saudara dapat menguatkan hati bersama dalam Tuhan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang harus kita semua tanggalkan?
Dengan cara yang bagaimana kita menanggalkannya?
Apa akibat ketika kita selalu mengingat Dia?
Mengapa kita tidak boleh menganggap enteng didikan Tuhan dan tidak boleh putus asa ketika kita diperingatkan Tuhan?
Saudara Saudari..
Saat sekarang ini, kita sedang diperhatikan oleh tokoh-tokoh iman yang besar pada zamannya.
Mereka berkumpul di sepanjang jalur pertandingan untuk menonton kita berlari.
Marilah kita menyingkirkan segala sesuatu yang menghalangi, dan ikut berlari dalam perlombaan orang-orang Kristen ini dengan segala kemampuan yang ada pada kita.
Kristus tidak menyerah ketika segala sesuatunya menjadi sulit.
Kita juga tidak boleh menyerah.
Jika kita mengalami penderitaan, itu bukan karena Allah tidak peduli kepada kita, tetapi karena Allah sangat peduli untuk mendidik kita dan membuat kita tertib demi kebaikan kita sendiri.
Kita tidak boleh putus asa dan menyerah.
Coba kita bayangkan ketika kita sedang mengikuti lomba lari.
Kita membawa tas yang berisi banyak banget barang di punggung kita.
Apakah kita dapat berlari dengan cepat? Tentu saja tidak.
Begitupun dengan kehidupan rohani kita sebagai orang percaya.
Kita semua yang sedang ada dalam perlombaan iman menuju garis akhir, seringkali beban hidup dan dosa membuat langkah kita berat dan lemah.
Sehingga kita tidak dapat berlari dengan cepat.
Kita tidak dapat mengambil kemenangan yang Allah sediakan bagi kita.
Jadi apakah yang harus kita lakukan dengan semua beban dan dosa yang merintangi? TANGGALKAN.
Sadar dan kenali beban dan dosa yang menghambat kita itu apa?
Apakah tantangan pergaulan muda-mudi, ketakutan tentang masa depan, kesombongan, iri hati atau lain sebagainya.
Kita harus sadar beban yang bukan berasal dari Tuhan (beban palsu yang iblis coba panahkan kepada orang percaya).
Kita harus menyerahkan segala beban dan dosa yang sudah kita kenali tadi kepada Yesus.
Sehingga fokus hidup kita beralih dari beban dan dosa, kepada Yesus yang memberikan kelegaan, sukacita dan damai sejahtera yang sejati kepada kita.
Kemenangan atas masalah dan pencobaan ini bukanlah karena kita kuat, tetapi karena kita melepaskan apa yang memberatkan dan menatap kepada Yesus.
Sehingga kita boleh berlari-lari kepada panggilan yang Yesus sudah sediakan bagi kita.
Amin. Tuhan Yesus memberkati.
Menurut saudara adakah beban dan dosa yang merintangi kita saat ini sehingga kita tidak dapat berlari dalam panggilan yang Allah sediakan bagi kita? Ceritakan kepada rekan dalam kelompok PAmu dan ambil keputusan untuk menanggalkannya.