Minggu, 21 Desember 2025

TERANG YANG TERLIHAT DUNIA

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 5:14-16

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Menurut ayat 14-15, apa saja dua hal yang tidak mungkin dilakukan terhadap terang? Apa implikasinya bagi hidupmu?
  2. Bagaimana caramu menyeimbangkan antara menjadi terang yang terlihat (ayat 16) dan tidak melakukannya untuk pamer (Matius 6:1)?
  3. Di bidang kehidupan mana (keluarga, pekerjaan, komunitas) terangmu paling perlu untuk dinyatakan dengan lebih berani?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi”. (Matius 5:14).

Khotbah di Bukit diawali dengan Yesus yang mendefinisikan ulang identitas para pengikut-Nya.

Sebelum memberi mereka daftar peraturan, Ia pertama-tama memberikan mereka identitas: “Kamu adalah garam… Kamu adalah terang.”

Ini adalah pernyataan faktual, bukan sebuah harapan.

Setiap orang yang telah mengalami kasih karunia Allah di dalam Kristus secara otomatis adalah terang.

Pertanyaannya bukanlah apakah kita adalah terang, tetapi apakah terang kita bersinar, atau justru kita telah menutupinya?

Prinsip kebenaran pertama dari perikop ini adalah sifat alami terang yang harus terlihat.

Sebuah kota di atas bukit tidak bisa disembunyikan; sebuah pelita tidak dinyalakan untuk lalu ditaruh di bawah tempurung.

Demikian pula, iman Kristen bukanlah harta pribadi yang untuk disimpan secara rahasia.

Iman yang sejati akan secara alami mengekspresikan diri melalui perbuatan-perbuatan yang baik dan kasih yang nyata.

Kita sering tergoda untuk “menutup” terang kita karena takut dipermalukan, tidak sesuai dengan tren, atau ingin menghindari konflik.

Namun, Yesus dengan tegas menolak mentalitas ini.

Menyembunyikan terang kita berarti mengingkari tujuan dasar dari panggilan kita.

Prinsip kebenaran kedua yang kritis adalah tujuan dari terang kita.

Ayat 16 dengan jelas menyatakan bahwa tujuan dari perbuatan baik kita adalah agar orang lain yang melihatnya “memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Ini adalah ujian motivasi yang penting.

Apakah kita bersikap baik, melayani, dan berkarya untuk mendapat pujian bagi diri sendiri atau kelompok kita?

Atau apakah semua itu kita lakukan sehingga orang yang melihatnya akan diarahkan untuk memuji dan mengenal Allah Bapa?

Terang kita bukanlah lampu sorot yang mengarah ke dalam, memamerkan kebaikan kita, melainkan seperti bulan yang memantulkan cahaya matahari, mengarahkan semua perhatian kepada Sumber Terang itu sendiri, yaitu Allah.

Hal-hal praktis untuk melakukan Firman.

Pertama, Tanyakan pada diri sendiri: “Di lingkungan kerja, sekolah, atau keluarga-ku, adakah bukti yang terlihat bahwa aku adalah pengikut Kristus?

Apakah kata-kata, tindakan, dan prioritas hidupku memancarkan nilai-nilai Kerajaan Sorga?”

Kedua, Jangan menghindari interaksi dengan dunia.

Beranilah untuk menyatakan pendapat berdasarkan prinsip kebenaran, tawarkan doa untuk teman yang sedang susah, atau menjadi sukarelawan dalam pelayanan sosial.

Jadilah orang yang aktif terlibat, bukan yang bersembunyi.

Ketiga, Murnikan Motivasi. Sebelum melakukan suatu perbuatan baik, periksa motivasi hati.

Berdoalah, “Tuhan, biarlah melalui tindakan ini, orang-orang bukan memuji aku, tetapi mengenal dan memuliakan Engkau.”

Fokuskan pelayanan pada bagaimana Allah dipermuliakan, bukan bagaimana kita dilihat orang.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana supaya terang Kristus senantiasa terlihat dan memancar setiap hari dari diri kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Yakobus 1-5

Sabtu, 20 Desember 2025

SERUPA DENGAN KRISTUS MENJADI TERANG

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

FILIPI 3:7-11

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. “Sampah” apa dalam hidupmu yang masih sulit kamu lepaskan untuk Kristus?
  2. Bagaimana hubungan antara “kuasa kebangkitan” dan “penderitaan” dalam proses pertumbuhan rohanimu?
  3. Langkah praktis apa yang dapat kamu ambil hari ini untuk lebih mengutamakan “pengenalan akan Kristus”?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus”. (Filipi 3:7).

Surat Filipi dikenal sebagai “Surat Sukacita”, namun ditulis dari tempat yang paling tidak menyenangkan: penjara.

Justru dalam keadaan inilah terang iman Paulus bersinar paling terang.

Ia tidak mengeluh, tetapi menulis untuk menguatkan jemaat di Filipi.

Konteks inilah yang membuat pengakuannya dalam pasal 3 begitu berkuasa.

Ketika segala hak dan keamanan dunianya hilang, Paulus justru menemukan bahwa Kristus adalah satu-satunya harta yang tidak dapat dirampas.

Hidupnya menjadi bukti bahwa terang sejati bukan berasal dari keadaan yang baik, tetapi dari pengenalan yang dalam akan Kristus, yang mampu bersinar bahkan dalam kegelapan penjara.

Prinsip kebenaran pertama yang Paulus ajarkan adalah perlunya sebuah pertukaran nilai yang radikal.

Semua yang kita banggakan—latar belakang keluarga, prestasi akademis, kesuksesan karir, pelayanan agama, bahkan moralitas pribadi—harus ditempatkan pada perspektif yang benar di hadapan Kristus.

Semua hal itu adalah “keuntungan”, tetapi bisa menjadi “kerugian” jika kita mengandalkannya untuk diterima oleh Allah.

Kita menjadi terang ketika kita berani, seperti Paulus, mengosongkan tangan kita dari “sampah” yang kita anggap berharga, agar kita dapat sepenuhnya merangkul Kristus sebagai satu-satunya harta.

Terang itu bersinar ketika dunia melihat bahwa kita menganggap sesuatu yang mereka kejar sebagai tidak berharga dibandingkan dengan Kristus.

Prinsip kebenaran kedua adalah jalan untuk menjadi serupa dengan Kristus.

Proses ini tidak otomatis dan nyaman. Paulus menggambarkannya sebagai sebuah proses yang dinamis: “kuasa kebangkitan-Nya” dan “persekutuan dalam penderitaan-Nya”.

Kita tidak dapat memilih yang satu dan menolak yang lain. Kuasa Allah dinyatakan justru ketika kita lemah dan bersandar kepada-Nya.

Keserupaan dengan Kristus dibentuk bukan di puncak kesuksesan, tetapi dalam lembah penyerahan dan ketaatan, bahkan dalam penderitaan.

Inilah cara terang itu ditempa—sebagaimana sebuah lentera harus dilindungi oleh kaca yang tembus pandang, hidup kita harus “dibentuk” melalui proses penyangkalan diri dan ketaatan, agar terang Kristus dapat bersinar tanpa halangan.

Hal-hal praktis untuk melakukan Firman.

Pertama,  Secara rutin, evaluasi hal-hal yang Anda banggakan.

Tanyakan, “Apakah ini membawa aku lebih dekat kepada Kristus atau justru membuatku mengandalkan diriku sendiri?”

Berdoalah untuk melepaskan segala “keuntungan” yang menghalangi persekutuan dengan-Nya.

Kedua, Sambut Penderitaan Kecil sebagai Latihan.

Jangan lari dari ketidaknyamanan, penolakan, atau kesulitan kecil yang datang karena kesetiaan kepada Kristus.

Lihatlah itu sebagai “persekutuan dalam penderitaan-Nya” yang akan membentuk karakter Kristus dalam diri Anda.

Ketiga, Jadikan Pengenalan akan Kristus sebagai Tujuan Utama.

Dalam setiap aktivitas rohani—baca Alkitab, doa, ibadah—tetapkan tujuan utama bukan untuk sekedar mendapat berkat atau pengetahuan, tetapi untuk “mengenal Dia” lebih dalam.

Carilah wajah-Nya, bukan hanya tangan-Nya.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya mengetahui sampah rohani dan membuangnya.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ibrani 11-13

Jumat, 19 Desember 2025

KRISTUS HIDUP DALAM KITA

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

GALATIA 2:19-20

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa arti praktisnya bagimu “bukan lagi aku sendiri yang hidup”?
  2. Bagaimana kamu dapat hidup “oleh iman dalam Anak Allah” hari ini?
  3. Bagaimana keyakinan bahwa “Kristus hidup di dalam aku” mengubah caramu menghadapi satu tantangan spesifik?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”. (Galatia 2:20).

Surat Galatia ditulis dalam suasana genting.

Jemaat di Galatia sedang disesatkan oleh orang-orang yang meyakinkan mereka bahwa percaya kepada Kristus saja tidak cukup; mereka juga harus disunat dan menaati hukum Taurat untuk diselamatkan.

Bagi Paulus, ini bukanlah perdebatan kecil, melainkan penyangkalan terhadap inti Injil itu sendiri.

Jika keselamatan bisa diraih dengan usaha manusia, maka kematian Kristus menjadi sia-sia.

Inilah yang membuat Paulus dengan berani menegur Petrus dan menulis surat yang tegas ini.

Kebenaran bahwa manusia dibenarkan hanya oleh iman kepada Kristus saja adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Ayat 19 memperkenalkan sebuah paradoks rohani yang mendalam: kita harus mati untuk benar-benar hidup.

Paulus berkata, “Sebab aku telah mati bagi hukum Taurat.”

Apa artinya? Ini berarti kita sudah tidak lagi berada di bawah sistem yang menuntut kita untuk membuktikan diri kita benar di hadapan Allah dengan kekuatan kita sendiri, dan kita tidak pernah bisa memenuhinya.

Namun, kematian ini justru menjadi pembebasan.

Ketika kita “mati” bagi sistem usahanya sendiri, kita dibuka untuk menerima kehidupan yang sejati—kehidupan yang berasal dari Kristus.

Kematian ini terjadi karena kita telah “disalibkan dengan Kristus.”

Salib-Nya bukan hanya peristiwa sejarah, melainkan tempat di mana identitas lama kita dihukum dan diakhiri.

Prinsip kebenaran yang kedua adalah: Hidup Kristen yang sejati adalah Kristus yang hidup di dalam dan melalui kita.

Bukan kita yang berusaha meniru Yesus dengan kekuatan kita, melainkan kita membiarkan Dia menyatakan hidup-Nya melalui kepribadian, talenta, dan tubuh kita.

Ini adalah kehidupan yang dijalani “oleh iman.” Iman bukanlah perasaan, tetapi sikap percaya dan ketergantungan yang terus-menerus bahwa “Anak Allah telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Ketika kita sadar bahwa Kristus mengasihi kita secara pribadi dan telah memberikan segalanya bagi kita, motivasi hidup kita berubah dari kewajiban menjadi respons kasih.

Hal-hal praktis untuk melakukan Firman. Pertama, Sadarilah “Kematian” Identitas Lama Setiap Hari.

Di pagi hari, akui dengan sengaja, “Aku telah disalibkan dengan Kristus.

Tuntutan, rasa bersalah, dan ego lamaku sudah tidak berkuasa lagi.”

Ini membebaskan kita dari beban membuktikan diri.

Kedua, Hidupilah hari Ini dengan sikap bergantung penuh (Iman).

Dalam setiap situasi—bekerja, berkeluarga, menghadapi pencobaan—bertanyalah, “Bukan aku, tetapi Kristus.”

Serahkan kendali dan undang Roh-Nya untuk bertindak melalui Anda.

Ketiga, Biarkan Kasih Kristus Menjadi Motivasi Utama.

Ketika menghadapi orang yang sulit atau tugas yang berat, ingatlah frasa “Ia mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya bagiku.”

Tindakan kasih terbesar-Nya inilah yang seharusnya menjadi pendorong bagi setiap tindakan kasih dan pengorbanan kita kepada orang lain.

Diskusikan dalam kelompok PA saudara, diskusikan apakah respon kita apabila telah menerima kasih karunia.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ibrani 7-10

Kamis, 18 Desember 2025

MENJADI ANAK-ANAK TERANG

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 12:34-40

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Menurut Yohanes 12:35, apa konsekuensi jika kita berjalan dalam kegelapan?
  2. Bagaimana caranya kita dapat “percaya kepada terang” dalam keputusan sehari-hari?
  3. Area mana dalam hidupmu yang perlu lebih mencerminkan identitas sebagai “anak-anak terang”?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“…Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi”. (Yohanes 12:35b).

Kehidupan kita diwarnai oleh berbagai kesempatan, dan seringkali kita menundanya karena mengira kesempatan itu akan selalu ada.

Dalam bacaan kita hari ini, Yesus berada di puncak ketegangan dengan orang banyak yang mendengar pengajaran-Nya.

Mereka sibuk berdebat  tentang identitas Mesias, tetapi Yesus justru memperingatkan mereka tentang satu hal yang jauh lebih mendesak: waktu untuk berjalan dalam terang-Nya hampir habis.

Ia tidak akan selamanya hadir secara fisik bersama mereka.

Peringatan ini bergema dalam hidup kita: kesempatan untuk mendengar suara-Nya, untuk bertobat, dan untuk hidup dalam kasih karunia-Nya adalah sebuah anugerah yang tidak boleh kita sia-siakan.

Orang banyak itu terpaku pada teka-teki teologis (“Siapakah Anak Manusia itu?”) sehingga mereka lalai untuk merespons kebenaran yang sudah dinyatakan di depan mata mereka.

Yesus tidak menjawab teka-teki mereka, melainkan menuntut sebuah tindakan: “Percayalah kepada terang itu, supaya kamu menjadi anak-anak terang.”

Ini mengajarkan kita sebuah prinsip kebenaran yang penting: Allah lebih menghargai ketaatan iman daripada pemahaman intelektual yang sempurna.

Kita tidak perlu memahami segala sesuatu tentang Yesus dan rencana-Nya sebelum kita mau percaya dan mengikut Dia.

Iman adalah langkah untuk mempercayai Dia, bahkan di tengah hal-hal yang belum kita mengerti sepenuhnya.

Mengapa banyak orang menolak Yesus? Penjelasan Alkitab sungguh menggentarkan: karena hati mereka telah menjadi keras.

Kekerasan hati bukanlah suatu kecelakaan, melainkan konsekuensi dari penolakan yang berulang-ulang terhadap kebenaran.

Setiap kali kita mendengar firman Tuhan tetapi memilih untuk mengabaikannya, setiap kali kita merasakan sentuhan Roh Kudus tetapi memadamkannya, hati kita sedikit demi sedikit mengeras.

Proses ini akhirnya dapat membawa kita pada titik di mana kita “tidak dapat percaya” (ayat 39).

Ini adalah peringatan serius untuk senantiasa memiliki hati yang lembut dan siap untuk diajar, agar kita tidak tertipu oleh dosa yang mengeraskan hati.

Hal-hal praktis untuk melakukan Firman.

Pertama, Bertindaklah Atas Dasar Terang yang Sudah Anda Miliki.

Jangan menunggu sampai semua pertanyaan Anda terjawab.

Lakukan apa yang sudah Anda ketahui sebagai kehendak Tuhan.

Jika Anda tahu Anda harus mengampuni, lakukanlah sekarang.

Jika Anda tahu Anda harus jujur, praktikkanlah hari ini.

Kedua, Jaga Kelembutan Hati dengan Disiplin Rohani.

Rutinlah berdoa meminta Tuhan menyelidiki hati Anda (“Tuhan, adakah kegelapan dalam diriku?”).

Bacalah Firman Tuhan bukan hanya untuk pengetahuan, tetapi untuk ditransformasi olehnya.

Ketiga, Hidupi Identitas Anda sebagai Anak Terang. Sadari bahwa Anda adalah duta dari terang Kristus.

Dalam setiap percakapan, keputusan, dan tindakan, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini mencerminkan bahwa saya adalah anak terang?”

Pilihlah untuk berkata-kata dan bertindak yang membawa orang lain kepada kebaikan dan kebenaran Kristus.

Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya mencerminkan terang Kristus dalam komunitas kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ibrani 1-6

Rabu, 17 Desember 2025

TIDAK LAGI HIDUP DALAM KEGELAPAN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 12:44-50

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa arti praktis “tidak tinggal dalam kegelapan” bagimu?
  2. Bagaimana firman yang akan “menghakimi” itu seharusnya mempengaruhi caramu membaca Alkitab?
  3. Perintah Yesus mana yang paling sulit kamu taati?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan”. (Yohanes 12:46).

Hidup dalam kegelapan adalah gambaran yang suram tentang kehidupan tanpa arah, penuh ketakutan, dan mudah tersandung.

Secara rohani, ini menggambarkan kondisi manusia yang terpisah dari Allah, dibelenggu oleh dosa, dan tidak mengetahui tujuan hidup yang sejati.

Dalam konteks inilah Yesus berseru dengan suara nyaring, menyatakan diri-Nya sebagai Terang yang telah datang ke dalam dunia.

Seruan ini adalah puncak dari seluruh pelayanan publik-Nya, sebuah undangan dan sekaligus pernyataan kebenaran terakhir sebelum Ia berjalan menuju salib.

Bagi kita hari ini, panggilan itu tetap relevan: untuk keluar dari kegelapan kita dan datang kepada Terang itu.

Yesus menegaskan kesatuan-Nya dengan Bapa. Ketika kita memandang Yesus, kita sedang melihat kehendak dan karakter Bapa secara sempurna.

Ini menghilangkan segala keraguan dan ketakutan kita tentang siapa Allah sebenarnya.

Yesus bukanlah perantara yang berdiri sendiri, melainkan perwujudan kasih Bapa bagi dunia.

Oleh karena itu, percaya kepada Yesus berarti kita meletakkan kepercayaan kita sepenuhnya pada Allah Bapa.

Keyakinan ini memberikan dasar yang kokoh bagi iman kita. Kita tidak lagi berjalan dalam kegelapan spekulasi tentang Allah, tetapi dalam terang pewahyuan yang jelas dan pasti melalui Yesus Kristus.

Firman Yesus memiliki otoritas kekal untuk menyelamatkan dan menghakimi. Yesus datang untuk menyelamatkan, tetapi firman-Nya yang kita dengar dan abaikan akan menjadi hakim kita di akhir zaman.

Firman-Nya bukanlah perkataan manusia yang bisa kita remehkan atau tawar-tawar.

Ia adalah perintah Bapa yang membawa pada hidup kekal. Ini berarti, setiap kali kita membaca, mendengar, atau merenungkan Firman Tuhan, kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang menentukan nasib kekal kita.

Hidup dalam terang berarti kita menyadari keseriusan ini dan memilih untuk membangun hidup di atas kebenaran firman-Nya, sehingga pada hari terakhir, firman itu tidak menjadi saksi yang memberatkan, melainkan yang membenarkan kita.

Setelah memahami firman, kita perlu melakukannya. Pertama, Lakukan Evaluasi Diri di Bawah Terang Firman.

Secara rutin, bawalah hidup kita—pikiran, perkataan, dan perbuatan—untuk diuji di hadapan Firman Tuhan.

Tanyakan, “Apakah area dalam hidupku ini masih berada dalam kegelapan?” Mintalah Roh Kudus untuk menyingkapkannya dan berikanlah komitmen untuk memperbaikinya.

Kedua, Ambil Keputusan untuk Taat Sekalipun Tidak Mengerti.

Ketiga, Jadilah Saluran Terang dengan Membagikan Kebenaran. Iman yang hidup tidak bisa disimpan untuk diri sendiri.

Bagikanlah penghiburan, teguran, dan kebenaran Firman Tuhan yang telah mengubah hidup Anda kepada orang lain.

Dengan menjadi saluran terang, Anda mengukuhkan kebenaran itu dalam hidup Anda sendiri dan menuntun orang lain untuk keluar dari kegelapan mereka.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya menyatakan terang Kristus di dalam kita kepada komunitas sekitar kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Titus-Filemon

Selasa, 16 Desember 2025

DIPANGGIL KELUAR DARI KEGELAPAN KEPADA TERANGNYA

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

1 PETRUS 2:9-12

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Siapa yang disebut sebagai bangsa yang terpilih?
  2. Dari mana orang percaya dipanggil, dan untuk apa Allah melakukan hal itu?
  3. Siapakah kita dahulu, dan siapakah kita setelah percaya kepada Yesus Kristus?
  4. Sebagai pendatang dan perantau, apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang percaya pada masa itu?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara yang kekasih, bagian firman ini menyatakan bagaimana Tuhan Allah memilih kita dari bangsa yang tidak dikasihi, bukan bangsa pilihan, dan bukan umat-Nya.

Namun, Tuhan memilih kita untuk menjadi umat-Nya:

Yohanes 15:16 “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”

Firman Tuhan ini adalah tulisan rasul Yohanes yang mengutip perkataan Yesus Kristus.

Sejalan dengan itu, rasul Petrus juga menuliskan suratnya yang dikirimkan kepada jemaat-jemaat di Asia Kecil:

1 Petrus 2:9-10 “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.”

Dari kedua ayat firman Tuhan yang ditulis oleh murid-murid Yesus ini, kita memahami bahwa Tuhan Allah menginginkan banyak orang yang berada dalam kegelapan ditarik keluar dan dibawa masuk ke dalam terang-Nya yang ajaib.

Dengan demikian, kita dapat pergi untuk menghasilkan buah melalui pemberitaan kita tentang kemuliaan kasih karunia Allah, supaya banyak orang memperoleh belas kasihan Allah.

Saudara, panggilan atau pemilihan kita adalah untuk memberitakan kebesaran kasih karunia Bapa, dengan tujuan supaya kita berbuah tetap.

Apa itu buah tetap atau buah kekal? Apakah ini buah Roh?

Saudara, hanya ada tiga yang kekal yaitu Kasih, Firman Allah dan Jiwa manusia.

Jadi, Yesus menginginkan supaya kita berbuahkan jiwa manusia.

Amanat Agung, yang berbicara mengenai memuridkan bangsa-bangsa juga berkaitan dengan jiwa manusia.

Perintah Kristus yang utama, yang dikenal sebagai Amanat Agung Kristus, menekankan memuridkan manusia dan menjadikan semua bangsa murid Kristus.

Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Apakah setiap anggota persekutuan kita sudah melayani? Sudahkah setiap dari kita dimuridkan untuk kemudian memuridkan? Jika belum, apa yang seharusnya dilakukan oleh kelompok ini?

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Timotius 1-4