Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Siapakah yang berinisiatif dalam perjanjian mengenai bahtera Nuh?
Bagaimana Nuh menanggapi perintah Allah dan perjanjianNya?
Saudara, mungkin kita pernah mendengar cerita tentang Nuh membawa berbagai binatang berpasangan, jantan dan betina ke dalam bahtera sesuai firman Allah saat itu.
Pernahkah Saudara membayangkan, bagaimana seandainya jika Nuh menaati perintah Allah tetapi tidak 100%?
Barangkali ukuran bahtera dikurangi sedikit dari yang seharusnya?
Atau binatang yang dibawa tidak sepasang, yang penting ada perwakilannya?
Atau tata letak bahtera yang berbeda sedikit? Atau membawa makanan sedikit saja karena repot?
Mungkin ceritanya akan menjadi berbeda hari ini.
Para ibu pasti tahu rasanya ketika meminta anaknya mengerjakan sesuatu dan dikerjakan, tetapi tidak semuanya.
Para atasan juga pasti tahu rasanya ketika meminta bawahan untuk mengerjakan sesuatu, tapi ada yang dilewatkan karena bawahan merasa itu tidak perlu.
Ketaatan 99% sama saja dengan ketidaktaatan!
Itu sebabnya, berulang-ulang Firman mencatat bagaimana para pahlawan iman adalah mereka yang melakukan TEPAT seperti yang Allah perintahkan.
Seringkali penghalang dari kita untuk taat 100% adalah karena kita tidak cukup percaya.
Kita ragu bahwa perintah Allah itu sungguh-sungguh akan mendatangkan kebaikan, atau kita berpikir caranya tidak harus seperti itu.
Entah bagaimana, kita berpikir kalau kita lebih tahu daripada Allah dalam hal menentukan cara dan tujuan.
Saudaraku, coba sadari dalam hal apakah kita sering tawar menawar dengan Tuhan.
Jangan-jangan kita sedang merasa lebih tahu yang terbaik dibanding Tuhan?
Mari Saudara, kita belajar untuk setia dalam perkara kecil.
Melakukan tepat seperti yang Dia mau karena tidak mungkin Dia merancangkan sesuatu yang buruk bagi anak-anakNya.
Adakah perintah Allah hari ini yang belum Saudara lakukan tepat seperti yang diperintahkanNya? Bertobatlah dan lakukan segera!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Bagaimana Allah mentahirkan kita?
Apa yang Allah berikan kepada hati kita?
Siapakah yang membuat kita bisa hidup menurut segala ketetapanNya?
Semakin banyak ditemui kaum muda yang tidak lagi mau terikat di bawah aturan apalagi agama.
Kata yang paling disukai adalah ‘KEBEBASAN’.
“Saya ingin bebas secara finansial.”
“Saya ingin bebas melakukan apapun yang saya suka.”
“Saya ingin bebas berhubungan dengan siapa saja yang saya mau.”
Tidak banyak diantara kaum pejuang kebebasan yang mendengungkan bahwa kebebasan tidak pernah bisa berdiri sendiri.
Kebebasan pada akhirnya selalu berkaitan dengan tanggung jawab dan konsekuensi.
Mereka yang “bebas” merokok, ternyata pada akhirnya justru diperbudak oleh rokok.
Mereka yang “bebas” menggunakan HP, ternyata pada akhirnya merasa kesulitan untuk tidak menggunakan HP-nya barang satu hari saja.
Pada kenyataannya, mustahil kita bisa lepas dari berhala dengan mengandalkan kekuatan sendiri.
Karena sangat mudah bagi kita untuk memberhalakan sesuatu dalam rangka mengejar kebebasan dan kebahagiaan diri.
Namun Allah berjanji, bahwa Ia sendiri akan mentahirkan kita dari segala kenajisan dan berhala-berhala kita.
Ia akan memberikan hati yang baru dan roh yang baru.
Ia akan menjauhkan dari tubuh kita hati yang keras dan memberikan kepada kita hati yang taat.
Ia yang membuat kita bisa hidup menurut segala ketetapanNya.
Sebuah janji yang sangat indah dan melegakan, bahwa kita tidak harus berjalan sendiri dalam perjalanan iman kita di dunia ini.
Ia memberi perintah, Ia juga yang menolong kita untuk menjalankan perintahNya.
Jika saja semua orang Kristen menyadari bahwa Kebebasan Sejati justru diperoleh di dalam penundukkan kepada firmanNya, maka banyak sekali konflik pribadi dan konflik bersama yang akan terselesaikan dengan lebih mudah.
Namun tentu saja, semua ini adalah proses yang perlu kita jalani bersama.
Mari kita mengaminkan janjiNya dalam setiap proses hidup kita, bahwa kita dimampukan untuk mengikuti seluruh ketetapan Tuhan karena kasihNya yang besar atas kita.
Diskusikanlah dengan rekan PA Saudara bagaimana caranya agar bisa berjalan dalam seluruh ketetapan Tuhan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang menjadi kegirangan hati Daud?
Bagaimana ketetapan ahti Daud terhadap ketetapan-ketetapan Tuhan?
Kepada apakah Daud berharap?
Komitmen Daud yang luar biasa tercermin dari kata-katanya dalam Mazmur 119:112“Telah KUCONDONGKAN hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapanMu untuk selama-lamanya sampai saat terakhir”
Condong adalah sebuah kata kerja dimana kita memiringkan sesuatu ke arah tujuan.
Kalau kita condong ke kiri, kita akan otomatis miring bahkan jatuh ke sisi kiri, dan sebaliknya.
Hal ini terlihat jelas saat kita menyetir sepeda motor atau sepeda.
Sangat sulit mengarahkan kendaraan ke kanan, kalau tubuh kita malah condongnya ke kiri.
Hari ini kita diperhadapkan mau mencondongkan hati kita ke mana? Ke arah Firman Tuhan atau ke arah dunia?
Banyak orang ingin merasakan berkat firman Tuhan, tapi hatinya tidak dicondongkan kepada Firman.
Perhatian kita teralih melihat dunia yang tampaknya lebih menarik dari Firman, tubuh kita condong kesana, namun tangannya tetap berusaha menggapai hal-hal rohani.
Contoh sederhana saat bangun pagi hari, tangan kita dengan cepat mengambil HP.
Rencananya membaca Alkitab tapi begitu banyak pengalihan dari pesan WA, sosmed, promo online, game, dll.
Sebagai anak Tuhan, kita tetap kok baca Alkitab tapi “sambil”…..
Akhirnya pagi pun berlalu, dan kita tidak ingat apa yang kita baca di Alkitab kita hari itu. Hal yang sama berulang setiap hari, bahkan saat ibadah, saat persekutuan, dst.
Saudara, di zaman yang penuh pengalihan ini mari kita mendisiplinkan diri dengan belajar FOKUS.
Condongkan hati kita dengan jelas kepada apa yang Tuhan mau dengan menyingkirkan pengalihan yang tidak perlu.
Kita tidak bisa setengah-setengah atau mendua hati, karena orang yang mendua hati tidak akan tenang hidupnya -Yakobus 1:7.
Melakukan Firman adalah sebuah keputusan bukan perasaan.
Terkadang secara perasaan, kita tidak ingin melakukannya.
Lebih mudah marah dan membalas, daripada mengampuni.
Lebih mudah tidur-tiduran daripada bangun dan merenungkan firman atau pergi melayani.
Namun, jika kita menetapkan hati seperti Daud, maka sekalipun ada godaan dan tantangan yang datang, iman kita semakin teguh dan tidak goyah.
Renungkanlah apakah hari ini hati Saudara condong kepada Allah? Jika tidak, apa yang menjadi penghalangnya? Bagikanlah kepada pembimbing Saudara.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Bagaimana Daud berpegang pada firman Tuhan?
Seperti apa Daud mengumpamakan janji Tuhan?
Apa peran Firman Tuhan bagi Daud?
Apakah Saudara pernah mengalami berjalan dalam kegelapan pekat?
Mungkin saat di rumah tiba-tiba mati lampu, atau saat menyetir kendaraan tapi tidak ada lampu jalan.
Gelap membuat kita merasa was was dan takut.
Kita ingin cepat-cepat mencari terang supaya merasa lebih tenang dan aman dan betapa ada rasa lega yang luar biasa ketika kita menemukannya bukan?
Kadang kita mengalami kegelapan dalam hidup yang lebih gelap dari mati lampu dan tidak ada lampu jalan.
Saat masalah datang bertubi-tubi dan sepertinya tidak selesai-selesai.
Saat ketidakpastian terus membayangi.
Apa yang bisa kita lakukan agar menemukan pegangan dalam kegelapan dan melihat terang?
Daud berkata bahwa FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.
Dapatkah Saudara membayangkan bahwa satu kata dariNya mendatangkan terang dan menjadi pelita bagi hidup Saudara yang saat ini di tengah kegelapan?
Kesaksian dari Fanny Crosby membuktikannya.
Fanny Crosby lahir di Southeast, New York pada 24 Maret 1820.
Ia menderita infeksi mata saat bayi yang akhirnya menyebabkan ia buta.
Tidak lama setelah itu, ayah Fanny meninggal.
Ibunya yang menjadi janda pada umur 21 tahun dan harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sehingga Fanny dititipkan kepada neneknya.
Neneknya memberikan banyak pengajaran tentang iman kepada Kristus.
Fanny Crosby pernah mengatakan “Jika aku punya sebuah pilihan, aku akan tetap memilih untuk tetap buta karena ketika aku mati, wajah pertama yang akan kulihat adalah wajah Juru selamatku.”
Pernyataan iman yang luar biasa dari seorang buta yang mengalami kegelapan secara jasmani tapi tetap bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidupnya.
Bahkan Fanny Crosby menulis 8000 hymne tentang Tuhan, yang menjadi wujud perjalanan imannya bersama dengan Tuhan.
Kegelapan tidak pernah mengelapkan bagi Allah, karena Dia adalah terang itu sendiri.
Mari pastikan kita menjadikan Firman Tuhan sebagai pelita bagi langkah-langkah hidup kita.
Sama seperti berjalan dalam lorong panjang yang gelap, mungkin ujungnya belum kelihatan, tapi terang yang bersama kita akan menolong kita melangkah.
Saudaraku, apakah kau rindu untuk mengalami firman yang mendatangkan terang, sama seperti yang dialami oleh Daud?
Maukah kau mengalami firman yang yang akan menjadi pelita bagi hidupmu?
Apa Firman Tuhan secara spesifik yang menjadi pelita bagi hidup Saudara saat ini? Bagikanlah dengan pembimbing Saudara.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah yang tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah?
Bagaimana seharusnya sikap ketika terhadap Firman Tuhan?
Disamakan dengan apa ketika kita tidak menjadi pelaku Firman dan hanya mendengar saja?
Suatu hari, ada seorang Bapak kaya raya yang ingin belajar berenang.
Kebetulan beliau tidak pernah belajar berenang. Dari dulu dia sangat takut pada air.
Dan di masa tuanya, dia merasa perlu untuk belajar.
Demi cita-citanya untuk bisa berenang, ia mulai membaca berbagai buku tentang renang.
Ia mendengarkan banyak podcast dan menonton video-video pelatihan gaya renang yang efektif dari guru-guru renang yang sangat professional.
Ia juga membeli celana dan kacamata renang yang terkini dan termahal, dimana semua fitur ada disana, mencoba memakainya di depan kaca sambil mengangguk-angguk karena terlihat keren dengan peralatan renang yang dia miliki.
Hanya satu yang tidak dilakukannya.
Bapak ini tidak pernah turun ke kolam renang untuk mencoba semua yang sudah dipelajarinya karena ia terlalu takut pada air.
Menurut Saudara, kira-kira apakah Bapak ini akhirnya bisa berenang?
Mungkin kita tertawa mendengar cerita ini.
Rasanya tidak masuk akal, ingin belajar sesuatu tapi tidak pernah mencoba mempraktekannya sendiri.
Sayangnya, banyak anak Tuhan yang seperti ini…
Kita membaca Alkitab, datang ke ibadah minggu, mendengarkan kesaksian dan khotbah di youtube, mengisi pikiran dengan berbagai pengetahuan Alkitab, tapi tidak mau mempraktekannya dalam hidup sehari-hari.
Maka tidak heran, dia mengalami berbagai kekalahan dalam hidup.
Tapi anehnya, dalam kekalahan itupun, dia masih menyalahkan Tuhan atau orang-orang sekitar, sama seperti si bapak yang ingin berenang menyalahkan guru-guru renang yang ada karena dia masih saja takut air.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita pernah mengalaminya?
Apakah ada area kekalahan yang sedang kita hadapi akhir-akhir ini?
Saudaraku, terkadang menjadi pelaku Firman memang terasa sulit.
Tetapi sama seperti kita belajar sesuatu yang baru, ketika dilakukan satu langkah demi satu langkah, yang awalnya sulit akan berubah menjadi lebih mudah.
Kita semua pernah melewati proses belajar berjalan ketika kecil.
Tidak ada bayi yang tiba-tiba bisa jalan atau berlari bukan? Namun, ketika usia mereka mendekati satu tahun, dengan tertatih-tatih dan terjatuh-jatuh mereka belajar berjalan dan semakin besar mereka bisa berlari dan melompat.
Saudara, mari kita menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar.
Lakukan saja apa yang Saudara tahu hari ini, sekalipun terasa sulit dan kadang dalam pelaksanaannya Saudara tertatih-tatih.
Mari buktikan sendiri betapa Firman itu berkuasa dalam hidup Saudara!
Diskusikanlah dengan rekan persekutuan Saudara apa kesulitan untuk mempraktekkan firman dan bagaimana dampaknya ketika Saudara benar-benar mempraktekannya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya dan secara khusus hafalkanlah Matius 16:16-17.
Menurut pandangan orang banyak siapakah pribadi Yesus?
Siapakah pribadi Yesus menurut Petrus? Dan siapakah yang mewahyukannya?
Apakah dampak dari pewahyuan dari Bapa tentang Yesus terhadap kehidupan Petrus?
Dalam perjalanan hidup kita secara rohani perlu pengenalan yang akurat tentang Yesus Kristus.
Orang banyak memahami bahwa Yesus adalah salah seorang nabi. Tetapi Petrus memahami bahwa Yesus bukanlah hanya salah seorang nabi melainkan Dia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.
Pemahaman tersebut bukan rekayasa pikirannya tetapi karena diwahyukan oleh Bapa.
Pewahyuan itu menyebabkan seluruh aspek hidup dari Petrus sangat berubah dimana hidupnya menjadi kuat dan penuh kemenangan, dari Simon bin Yunus menjadi Petrus.
“Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”(Matius 16:17-19).
Bagi kita orang yang percaya, Bapa yang sama juga dapat memberi pewahyuan yang sama kepada kita tentang Yesus Kristus sehingga hidup kita mengalami transformasi karena kita akan memahami jati diri kita yang sesungguhnya seperti Yesus ketika Bapa mewahyukan kepada Dia bahwa Ia adalah Anak Allah maka iblis tidak berani mencobai Dia kembali.
Kita dapat mengalami pewahyuan oleh Bapa tentang Yesus Kristus dengan cara berdoa seperti yang dilakukan oleh Rasul Paulus terhadap jemaat di Efesus.
”Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya.”(Efesus 1:15-19).
Tujuan Bapa memberikan pewahyuan kepada kita adalah agar kita tahu siapa Yesus buat kita dan siapa kita di dalam Yesus.
”Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.”(Efesus 1:22-23).
Hal ini penting kita alami yaitu pewahyuan dari Bapa tentang Yesus agar kita dapat memiliki karakter Yesus dan hidup berkemenangan dalam segala hal.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana dampak dalam kehidupan saudara dari pewahyuan oleh Bapa tentang Yesus adalah Tuhan dan Mesias.