Senin, 21 Juli 2025

TANDA DAN MUJIZAT DALAM PEMBERITAAN KERAJAAN ALLAH

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 8:9-17

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa tujuan mujizat dan tanda yang dilakukan oleh Filipus di Samaria?
  2. Mengapa respons Simon (yang sebelumnya diagungkan) terhadap pekerjaan Filipus dan kemudian para rasul begitu penting?
  3. Apa signifikansi peristiwa turunnya Roh Kudus *setelah* orang-orang Samaria percaya dan dibaptis?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan” (Kisah Para Rasul 8:12).

Perikop ini terjadi setelah penganiayaan terhadap jemaat di Yerusalem yang memicu penyebaran orang percaya (Kisah Para Rasul 8:1,4).

Filipus, salah satu dari Tujuh Diaken (Kisah Para Rasul 6:5), pergi ke Samaria – wilayah yang dipandang rendah oleh orang Yahudi karena perbedaan etnis dan agama.

Di sana, ia bertemu dengan Simon, seorang penyihir yang sangat berpengaruh dan dianggap sebagai “Kuasa Allah yang disebut Besar”.

Konteksnya menunjukkan perluasan Injil melampaui batas Yerusalem dan Yahudi, memasuki wilayah yang dianggap “terkutuk”, dengan tantangan dari kuasa okultisme yang mapan.

Filipus datang ke Samaria dan “memberitakan Mesias”. Bagian penting dari pelayanannya adalah “tanda-tanda” dan “mujizat-mujizat” yang ia lakukan: mengusir setan dan menyembuhkan orang lumpuh serta lumpuh.

Tujuan mujizat ini jelas:

1) Menarik perhatian orang banyak (“orang banyak itu memperhatikan”) yang sebelumnya terpikat pada Simon.

2) meyakinkan bahwa pesan Filipus sebagai berasal dari Allah yang benar, melebihi kuasa sihir Simon.

3) Menunjukkan kuasa Kerajaan Allah yang mengalahkan kuasa kegelapan (setan) dan memulihkan kehancuran (penyakit).

Mujizat bukanlah tujuan akhir, tetapi bukti pendukung yang membuka pintu bagi pemberitaan Injil dan menegaskan kebenarannya.

Respon Simon sangat krusial. Ia sendiri “percaya” dan dibaptis.

Namun, motivasinya tampak bermasalah: ia “selalu mengikuti Filipus” dan “takjub” melihat mujizat dan tanda-tanda besar yang terjadi.

Ketertarikannya terfokus pada kuasa itu sendiri, bukan pada Kristus yang diberitakan.

Hal ini menjadi bibit masalah yang akan muncul kemudian. Kedatangan Petrus dan Yohanes dari Yerusalem menunjukkan pentingnya persatuan jemaat dan otoritas para Rasul dalam masa peralihan.

Mereka menemukan bahwa orang Samaria yang telah percaya dan dibaptis belum menerima Roh Kudus.

Melalui doa dan penumpangan tangan para rasul, Roh Kudus turun atas mereka.

Kisah di Samaria mengajarkan kita prinsip penting tentang tanda dan mukjizat dalam misi Kerajaan Allah: 

1) Tujuan Utama: Meneguhkan Injil dan Memuliakan Kristus.

Mujizat bukanlah pertunjukan atau cara mencari ketenaran (seperti Simon).

Tujuannya adalah membuktikan kebenaran Kabar Baik tentang Yesus Kristus dan kuasa-Nya atas dosa, setan, dan penderitaan, sehingga orang percaya kepada-Nya.

2) Bahaya Penyalahgunaan: Ketertarikan pada Kuasa, Bukan pada Kristus.

Kita harus waspada terhadap motivasi yang salah – keinginan untuk memiliki atau mengontrol kuasa ilahi demi status, pengaruh, atau keuntungan pribadi (semangat Simon).

Fokus harus tetap pada Kristus dan keselamatan yang Dia tawarkan.

3) Roh Kudus adalah Pemberian Allah, Bukan Hasil Manipulasi.

Pencurahan Roh Kudus adalah karya kedaulatan Allah, bukan sesuatu yang bisa dibeli (Simon) atau dihasilkan semata-mata oleh ritual manusiawi (baptisan air saja tidak otomatis menghasilkan pengalaman Roh yang penuh dalam konteks ini).

Kita menerima-Nya oleh iman melalui kasih karunia.

4) Peran Komunitas dan Otoritas yang Sehat.

Peran para rasul mengingatkan kita akan pentingnya akuntabilitas, persekutuan yang sehat, dan pengajaran yang benar dalam gereja, terutama terkait manifestasi Roh, untuk mencegah penyimpangan dan menjamin kesatuan. 

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana tanda-tanda dan mujizat diperlukan dalam pemberitaan Injil namun jangan sampai menggeser fokus pada Injil.

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 24-26

Minggu, 20 Juli 2025

MURID DIUTUS UNTUK MEMBERITAKAN KERAJAAN ALLAH

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

LUKAS 9:1-6

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa dua tugas utama yang Yesus berikan kepada kedua belas murid-Nya saat mengutus mereka?
  2. Mengapa Yesus melarang murid-murid membawa bekal seperti tongkat, kantong perbekalan, roti, uang, atau dua helai baju?
  3. Bagaimana seharusnya murid-murid menanggapi tempat atau orang yang tidak menerima mereka?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat”. (Lukas 9:6).

Perikop ini mencatat momen penting dalam pelayanan Yesus: pengutusan resmi pertama kedua belas murid-Nya.

Sebelumnya, mereka telah menyaksikan kuasa dan ajaran Yesus (termasuk mukjizat tenangnya badai dan pengusiran setan di Gadara -Lukas 8:22-39).

Kini, Yesus tidak hanya ingin mereka menjadi penonton, tetapi rekan sekerja aktif dalam misi-Nya.

Pengutusan ini terjadi setelah Yesus memanggil mereka dan sebelum peristiwa penting seperti pengakuan Petrus (Lukas 9:18-20) dan transfigurasi (Lukas 9:28-36).

Ini adalah “magang” praktis di bawah otoritas-Nya.

Yesus memulai dengan memberi mereka “kuasa dan wewenang”.

Kuasa ini adalah kemampuan untuk melakukan hal-hal supranatural, sementara wewenang adalah hak legal atau mandat untuk bertindak atas nama Dia.

Untuk apa?  1) Mengusir semua setan, dan 2) menyembuhkan penyakit.

Namun, tujuan utama pemberian kuasa ini bukanlah mukjizat itu sendiri, melainkan untuk mendukung pemberitaan mereka: “memberitakan Kerajaan Allah”.

Penyembuhan dan pengusiran setan adalah tanda yang meyakinkan dan mendemonstrasikan bahwa Kerajaan Allah yang penuh kuasa itu sungguh-sungguh hadir dan sedang bekerja melalui Yesus, Sang Raja.

Perintah Yesus selanjutnya mengejutkan: “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan”.

Larangan membawa tongkat (alat bantu/perlindungan), kantong perbekalan, roti, uang, dan bahkan baju ganti  sangat radikal.

Tujuannya jelas: mendorong ketergantungan mutlak pada Allah.

Mereka harus belajar bahwa yang mengutus dan memberi mereka kuasa juga akan menyediakan kebutuhan mereka melalui orang-orang yang menerima kabar baik. 

Ini juga menghilangkan penghalang material yang bisa mengalihkan fokus dari misi utama.

Terhadap penolakan, Yesus memberi instruksi tegas: “pergilah dari situ dan kebaskanlah debu dari kakimu”.

Gerakan simbolis Yahudi ini menandakan pemutusan hubungan dan tanggung jawab, menyatakan bahwa penolakan itu terhadap Allah sendiri dan konsekuensinya ada pada mereka yang menolak.

Pesan dan utusan Kerajaan tidak boleh dipaksakan atau diperjualbelikan.

Pengutusan murid-murid pertama ini memberikan prinsip abadi bagi setiap pengikut Kristus yang diutus ke dunia: 

1)  Mandat Utama: Memberitakan Kerajaan Allah.

Pesan kita bukan tentang diri kita, gereja kita, atau program kita, tetapi tentang pemerintahan Allah yang hadir dalam Kristus, menawarkan keselamatan, pembebasan, dan transformasi.

2) Bersandar pada Otoritas dan Penyediaan Allah. Kita diutus dengan kuasa dan wewenang dari Kristus, bukan dari keahlian atau sumber daya kita.

Ini menuntut ketergantungan yang dalam pada-Nya dalam doa, dan kesediaan untuk menerima penyediaan-Nya.

3) Bersikap Tegas terhadap Penolakan. Sementara kita harus berusaha dengan rendah hati dan sabar, kita tidak perlu memaksakan Injil atau membuang waktu dan energi secara berlebihan di tempat yang terus menolak dan menghina injil.

“Mengibaskan debu” berarti dengan jelas menunjukkan penolakan itu dan konsekuensinya, lalu beralih kepada mereka yang terbuka, tanpa kebencian atau dendam.  

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya mengetahui tempat yang sudah menguning untuk pemberitaan Injil kerajaan Allah.

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 22-23

Sabtu, 19 Juli 2025

YESUS ADALAH ROTI HIDUP

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 6:48-58

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa perbedaan mendasar antara “roti” yang dimakan nenek moyang (manna) dengan “Roti Hidup” yang Yesus tawarkan?
  2. Mengapa Yesus menggunakan gambaran yang begitu keras dan fisik (“makan daging-Ku”, “minum darah-Ku”) untuk menggambarkan hubungan dengan-Nya?
  3. Apa konsekuensi praktis dalam hidup sehari-hari jika kita sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus adalah “Roti Hidup” yang kita butuhkan?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya”. (Yohanes 6:58).

Perikop ini adalah klimaks dari pengajaran Yesus di sinagoga Kapernaum setelah mujizat memberi makan 5000 orang.

Orang banyak mencari Yesus terutama untuk roti jasmani lagi.

Yesus menegaskan bahwa Dia adalah “roti hidup”  yang turun dari surga, jauh melebihi manna di padang gurun.

Ayat 48-58 merupakan respons langsung terhadap keraguan dan pertentangan orang Yahudi yang terkejut dan tersinggung dengan klaim Yesus.

Di sini, Yesus memperdalam makna metafora “Roti Hidup” dengan bahasa yang lebih tegas dan radikal tentang makan daging dan minum darah-Nya.

Yesus memulai dengan pernyataan tegas: “Akulah roti hidup”.

Ini bukan sekadar perumpamaan, tetapi pengakuan tentang identitas dan misi ilahi-Nya.

Ia menegaskan kontras mutlak: nenek moyang Israel makan manna (roti dari surga jenis pertama) dan tetap mati  secara rohani (ay. 49).

Namun, Dia adalah “roti yang turun dari surga” (ay. 50) yang jenis baru dan sejati.

Siapa saja yang “makan roti ini” – yaitu percaya dan menerima Dia – “akan hidup selama-lamanya” (ay. 51a).

Roti ini adalah “daging-Ku”, yang diberikan Yesus “untuk hidup dunia”, menunjuk pada korban penebusan-Nya di kayu salib.

Yesus adalah satu-satunya sumber hidup kekal yang berasal dari surga.

Kata-kata Yesus menjadi sangat gamblang dan mengejutkan: “Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.

Tuntutan untuk “makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya”adalah gambaran yang kuat dan kontroversial.

Ini melambangkan

1) Penerimaan Penuh, Bukan sekadar mengagumi, tetapi menerima sepenuhnya pribadi dan karya Yesus (kematian-Nya yang mencurahkan darah bagi pengampunan dosa) ke dalam hidup kita.

2) Ketergantungan Mutlak: Seperti makanan jasmani menjadi sumber tenaga dan hidup fisik, demikian pula persekutuan intim dengan Kristus melalui iman adalah sumber hidup rohani dan kekal.

3) Persatuan yang Mendalam: “Tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia”.

Hubungan makan-minum ini menghasilkan persekutuan yang erat dan saling tinggal antara orang percaya dengan Kristus, menjadi sumber hidup yang berkelanjutan.

Pengakuan Yesus sebagai “Roti Hidup” menuntut respons yang konkret dalam hidup kita: 

1) Mengakui Kelaparan Rohani: Seperti tubuh membutuhkan makanan, Kita harus jujur bahwa hanya Kristus yang dapat mengisi kelaparan itu.

2) Menerima dengan Iman: “Makan” dan “minum” Yesus berarti datang kepada-Nya dalam iman, mempercayai bahwa kematian dan kebangkitan-Nya saja yang memberi kita hidup kekal.

3) Hidup dalam Ketergantungan dan Persekutuan dengan Tuhan : Seperti kita makan setiap hari, kita perlu “mengunyah” Firman Tuhan (Alkitab) dan bersekutu dengan-Nya dalam doa secara teratur.

Perjamuan Kudus menjadi peringatan yang kaya akan makna ini – mengingat tubuh dan darah Kristus yang dikorbankan bagi kita. 

4) Menjadi jawaban bagi Sesama: Menyadari diri kita sendiri hidup karena “Roti Hidup”, kita terdorong untuk membagikan Kristus dan hidup yang kita terima kepada orang lain yang masih lapar.

Diskusikan dalam kelompok PA saudara, apakah makna perjamuan kudus dengan pernyataan Yesus roti hidup.

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 19-21

Jumat, 18 Juli 2025

KONSISTEN MENGAJAR FIRMAN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 18:8-10

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah yang terjadi pada Krispus?
  2. Apakah tindakan Krispus setelah percaya?
  3. Apakah perintah Tuhan kepada Paulus saat itu?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!” (Kisah Para Rasul 18:9).

Ayat-ayat ini terjadi selama pelayanan Paulus di Korintus, kota Yunani yang terkenal makmur tetapi juga penuh penyembahan berhala dan kehidupan moral yang longgar (Kisah Para Rasul 18:1-7).

Paulus datang dari Atena, tempat ia mengalami respons yang beragam terhadap khotbahnya.

Di Korintus, ia awalnya menghadapi penolakan dari orang-orang Yahudi, sehingga ia memfokuskan pelayanan pada orang-orang non-Yahudi (bangsa-bangsa lain) (ay. 6-7).

Krispus, kepala rumah ibadat, menjadi contoh nyata dari buah pelayanan Paulus di tengah tantangan ini.

Ayat 8 menyoroti dua hal penting terkait tema konsistensi: 

1) Waktu (“beberapa waktu lamanya”): Paulus tidak sekadar menyampaikan satu kali khotbah lalu pergi. Ia menetap dan mengajar terus-menerus. 

2) Hasil (“banyak orang Korintus… percaya dan memberi diri mereka dibaptis”): Buah ini bukan hasil khotbah sporadis, melainkan pengajaran yang berkelanjutan dan setia.

Kata Yunani diatribō (diterjemahkan “tinggal” atau “menetap beberapa waktu lamanya”) mengandung makna menetap, tinggal, dan melibatkan diri secara intensif.

Konsistensi waktu dan komitmen Paulus menjadi wadah bagi pekerjaan Roh Kudus, sehingga menghasilkan pertobatan signifikan, termasuk Krispus dan keluarganya.

Ayat 9-10 mencatat penampakan Tuhan setelah periode konsistensi Paulus ini.

Tuhan tidak hanya menguatkan Paulus yang mungkin lelah atau takut (ay. 9: “Jangan takut!”), tetapi juga memberikan dua jaminan penting terkait pelayanannya yang konsisten: 

1) Perlindungan Ilahi (“sebab Aku menyertai engkau”): Tuhan menjamin kehadiran dan perlindungan-Nya atas Paulus. 

2) Buah yang Pasti (“tidak ada orang yang akan menganiaya engkau… sebab banyak umat-Ku di kota ini”).

Janji ini bukanlah jaminan tanpa usaha, melainkan dorongan ilahi bagi Paulus untuk terus mengajar dengan setia, karena Tuhan sendiri yang bekerja di hati banyak orang.

Konsistensi Paulus didasarkan pada janji dan penyertaan Tuhan.

Tema konsistensi Paulus dalam mengajar Firman di Korintus memberikan pelajaran penting bagi kita: 

Pertama, buah yang bertahan seringkali membutuhkan waktu dan ketekunan.

Pelayanan yang efektif jarang bersifat instan; ia memerlukan komitmen jangka panjang untuk tinggal, mengajar, dan membangun hubungan, seperti yang Paulus lakukan “beberapa waktu lamanya”. 

Kedua, konsistensi lahir dari iman akan janji Tuhan, bukan hanya dari hasil yang terlihat.

Meskipun menghadapi penolakan, Paulus terus mengajar.

Ini mengingatkan kita untuk tetap setia mengabarkan kebenaran, sekalipun hasilnya belum kelihatan, karena Tuhan terus bekerja.

Ketiga, konsistensi membutuhkan keberanian yang ditopang Tuhan.

Ketakutan Paulus (ay. 9) nyata, tetapi Tuhan memberi jaminan penyertaan-Nya.

Dalam mengajar Firman, kita juga akan menghadapi tantangan, kelelahan, atau rasa takut.

Janji penyertaan Tuhan (“Aku menyertai engkau”) adalah sumber kekuatan kita untuk tetap konsisten.

Marilah kita meneladani Paulus: mengabarkan Firman dengan setia, tekun, dan berani, bukan karena hasilnya yang spektakuler, tetapi karena ketaatan pada panggilan dan iman pada janji serta penyertaan Tuhan yang berdaulat atas pekerjaan-Nya.

Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya menjadi pribadi yang konsisten dalam pemberitaan firman.

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 16-18

Kamis, 17 Juli 2025

MENERIMA FIRMAN DENGAN KERELAAN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 17:10-11

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah yang dimaksud kerelaan hati menerima Firman?
  2. Apakah yang dilakukan orang Yahudi di Berea setelah menerima FIrman?
  3. Apakah perlu mempelajari dan menguji firman yang dikotbahkan hari Minggu?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“….mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian…” (Kisah Para Rasul 17:11).

Ayat-ayat ini terjadi dalam perjalanan misi Paulus yang kedua.

Setelah mengalami pengusiran dan kerusuhan di Tesalonika karena memberitakan Yesus sebagai Mesias (Kisah Para Rasul 17:1-9), Paulus dan Silas tiba di Berea, sebuah kota di Makedonia.

Di sinilah mereka menemukan respons yang sangat berbeda dari komunitas Yahudi setempat dibandingkan dengan kota-kota sebelumnya.

Berea menjadi teladan positif dalam menyambut dan menanggapi pemberitaan Injil, menampilkan sikap hati yang menjadi fokus renungan ini.

Hal pertama yang ditekankan Lukas tentang orang-orang Yahudi di Berea adalah bahwa mereka “menerima firman itu dengan segala kerelaan hati”.

Kata Yunani yang digunakan untuk “kerelaan hati” berarti kesiapsediaan, kerelaan, keinginan yang kuat, atau semangat yang bergairah.

Ini menggambarkan sikap batin yang tulus, antusias, dan terbuka.

Mereka tidak datang dengan prasangka buruk, kebencian, atau keinginan untuk mempertahankan status quo seperti yang terjadi di Tesalonika.

Hati mereka telah disiapkan dan rela untuk mendengar, sekalipun ajaran Paulus tentang Mesias yang menderita dan bangkit itu baru dan berbeda dengan keyakinan mereka sebelumnya.

Kerelaan hati ini adalah fondasi penting bagi setiap orang yang mau diubahkan hidupnya oleh Firman Tuhan.

Kerelaan hati mereka bukanlah sikap pasif atau penerimaan membabi buta. Justru, kerelaan itu mendorong tindakan aktif: “setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci”.

Kata “menyelidiki” berarti memeriksa dengan cermat, menguji secara mendalam, menyelidiki dengan teliti.

Kerelaan mereka untuk menerima Firman diwujudkan dalam kesungguhan untuk menguji Firman yang baru mereka dengar itu.

Mereka menggunakan standar tertinggi yang mereka kenal dan percayai, yaitu Kitab Suci (Perjanjian Lama), sebagai alat uji saat itu.

Mereka melakukannya “setiap hari”, menunjukkan ketekunan, keseriusan, dan komitmen yang lahir dari kerelaan hati yang tulus.

Tujuannya jelas: “untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian”.

Iman yang berdasarkan kerelaan hati adalah iman yang ingin didasarkan pada kebenaran yang kokoh.

Kita perlu belajar seperti jemaat di Berea.

Pertama, kita diajak untuk memeriksa sikap dasar hati kita saat mendengar Firman Tuhan.

Apakah kita datang dengan hati yang rela – bebas dari kepahitan, kekecewaan masa lalu, kesombongan rohani, atau keinginan untuk sekadar mengukuhkan pendapat kita sendiri? 

Kedua, kerelaan hati ini harus diwujudkan dalam tindakan.

Seperti orang Berea, kerelaan kita mendorong kita untuk menyelidiki Kitab Suci dengan tekun dan kritis, bukan untuk mencari-cari kesalahan, tetapi untuk menemukan dan mengonfirmasi kebenaran Allah.

Ini berarti meluangkan waktu, membandingkan dengan konteks, dan mungkin mencari pemahaman lebih lanjut.

Ketiga, kerelaan hati juga berarti kesediaan untuk diubah oleh kebenaran yang kita temukan, sekalipun itu menantang zona nyaman atau tradisi kita.

Marilah kita memohon anugerah Tuhan untuk memiliki hati seperti orang Berea: hati yang rela menerima Firman, rela menyelidikinya dengan tekun, dan rela tunduk pada kebenarannya, sehingga iman kita bertumbuh semakin dalam dan berakar kuat di dalam Kristus.

Kerelaan hati adalah pintu gerbang untuk mengalami perubahan hidup oleh Firman yang Hidup.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya menguji kebenaran khotbah seperti orang Berea.

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 13-15

Rabu, 16 Juli 2025

PEMIMPIN MEMUSATKAN PIKIRAN PADA DOA DAN FIRMAN

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 6:1-4

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa penyebab timbulnya sungut-sungut dari antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Yahudi yang berbahasa Ibrani?
  2. Apa yang telah dilalaikan oleh para rasul dalam pelayanan jemaat mula-mula?
  3. Apa yang dilakukan oleh para rasul?
  4. Apa sebenarnya yang menjadi tanggung jawab utama para rasul?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, dalam jemaat mula-mula terdapat pembagian hierarki yaitu jemaat, diaken dan penatua jemaat.

Pada waktu itu, para rasullah yang menjabat sebagai penatua jemaat, yakni para tua-tua dalam jemaat mula-mula.

Para penatua adalah para rasul yang menggembalakan jemaat.

Tugas utama mereka adalah pelayanan dalam doa dan Firman.

Para diaken melaksanakan pelayanan meja yakni penatalayanan diakonia, sedangkan jemaat adalah mereka yang sepatutnya dilayani oleh para diaken dan penatua.

Ketika jabatan diaken belum diadakan dan difungsikan, para penatua yaitu para rasul yang menggembalakan seluruh jemaat, maka timbullah masalah:

Kisah Para Rasul 6:1-2 “Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari. Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.”

Pada waktu itu, karena fokus para penatua yaitu para rasul untuk mengajarkan firman Allah dan berdoa, maka pelayanan penatalayanan meja menjadi terabaikan.

Akibatnya, muncul ketidakseimbangan, di mana banyak orang mengalami kekurangan.

Para janda, khususnya dari kalangan Yahudi yang berbahasa Yunani tidak terlayani sepenuhnya.

Ketidakadilan ini menimbulkan sungut-sungut di antara mereka.

Melihat situasi ini, para rasul memanggil seluruh murid untuk berkumpul dan mereka berkata, “Kami tidak merasa puas karena kami harus melalaikan Firman Tuhan demi melayani meja.”

Pelayanan meja yaitu pelayanan diakonia yang dikerjakan oleh para diaken.

Pelayanan ini merupakan tugas utama para diaken yang mencakup pemenuhan kebutuhan praktis jemaat, seperti membagikan makanan kepada para janda dan menjalankan berbagai pelayanan penting lainnya sebagai bentuk dukungan terhadap kehidupan sehari-hari jemaat.

Para rasul memiliki tugas utama yaitu mengajarkan Firman Tuhan dan berfokus pada doa.

Mereka berdoa secara pribadi untuk menerima arahan dari Roh Kudus, serta terlibat dalam doa korporat yaitu doa bersama dengan seluruh pendoa, jemaat dan para pemimpin.

Mereka juga memimpin berbagai bentuk ibadah doa lainnya.

Saudara, para rasul meminta agar dari antara murid-murid dipilih tujuh orang yang dikenal baik dan penuh dengan Roh Kudus untuk melaksanakan pelayanan meja.

Hal ini dilakukan agar para rasul dapat tetap fokus pada pelayanan doa dan pemberitaan Firman Tuhan.

Akibat dari pemilihan ketujuh diaken tersebut, pelayanan kerasulan melalui pemberitaan Firman dan pelayanan meja dapat berjalan dengan baik.

Dan hasilnya adalah:

Kisah Para Rasul 6:6-7 “Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka. Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.”

Ketika para rasul memberitakan Firman Tuhan, dan para diaken melayani orang-orang miskin serta melayani kebutuhan banyak orang, maka terjadilah pertumbuhan jumlah murid di Yerusalem.

Bahkan sejumlah imam Yahudi pun menyerahkan diri dan percaya kepada pemberitaan mereka.

Oleh karena itu, apabila kedua fungsi pelayanan dijalankan dengan baik yaitu para penatua sebagai gembala menggantikan para rasul untuk menyampaikan dan mengajarkan Firman Tuhan (Marturia), dan para diaken melaksanakan tugas diakonia mereka, maka Tuhan akan bertindak meneguhkan Firman-Nya dengan tanda-tanda heran dan mujizat.

Orang-orang miskin akan terlayani, dan nama Yesus akan dikenal banyak orang sebagai Mesias dan Juruselamat.

Hal ini akan membawa banyak orang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Maka, cita-cita dan kerinduan untuk menambah jumlah orang percaya akan terlaksana oleh kasih karunia Tuhan.

Mazmur 133:1-3 “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”

Mazmur menyatakan suatu ketetapan bahwa kerukunan dan keharmonisan merupakan syarat agar Tuhan memberkati suatu komunitas dengan jiwa-jiwa baru.

Kesepakatan, harmonis, dan kerukunan menjadi dasar bagi berkat kehidupan selama-lamanya.

Berkat itu dinyatakan melalui pertambahan jiwa-jiwa kepada komunitas yang hidup dalam keharmonisan yaitu duduk bersama dengan rukun, tanpa pertengkaran, tanpa perbedaan pendapat yang dibiarkan berkembang menjadi rumor yang menyebabkan ketidakharmonisan, gosip, saling menjelekkan, dan terbentuknya kelompok-kelompok di dalam komunitas.

Para rasul menyadari adanya sungut-sungut di tengah jemaat, maka mereka bertindak dengan cepat dan tepat.

Mereka mengumpulkan semua murid, duduk bersama, dan membicarakan sumber permasalahan tersebut.

Para rasul tidak saling menyalahkan, melainkan dengan rendah hati mengakui kelalaian mereka dalam mengabaikan pelayanan meja, yaitu pelayanan diakonia.

Sebagai tindak lanjut, mereka mengambil langkah konkret dengan mengangkat beberapa murid yang dikenal baik dan penuh Roh Kudus untuk melaksanakan tugas sebagai diaken yaitu melayani kebutuhan praktis jemaat.

Ketika pelayanan marturia (pemberitaan firman) berjalan beriringan dengan pelayanan diakonia (pelayanan kasih), maka akan tercipta komunitas jemaat yang harmonis dan sepakat, serta menghasilkan pertambahan jiwa-jiwa baru.

Oleh karena itu, para pemimpin, marilah kita mengevaluasi komunitas yang kita pimpin.

Apakah mereka benar-benar hidup dalam kesepakatan dan harmonis?

Ataukah mereka terpaksa bersatu hanya karena terus didorong dan diarahkan, sementara perbedaan-perbedaan belum teratasi, belum dibicarakan dan belum ada kesepakatan yang timbul dari kesadaran untuk harmonis, tetapi karena keterpaksaan tunduk dan hormat kepada pemimpin.

Marilah duduk bersama dalam kerukunan dan berdiskusi untuk mencapai kesepakatan.

Itulah yang akan menghasilkan pertumbuhan rohani dan hadirnya jiwa-jiwa baru.

Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Menurut Mazmur 133:1–3, bagaimana cara mencapai kesepakatan, harmonis, dan hidup dalam kerukunan?

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 10-12