Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Adakah satu suku bangsa yang mungkin tidak pernah mendengarkan injil?
Apakah konsekuensi orang Kristen pada zaman Yohanes menyebut Yesus Tuhan? Padahal yang boleh dipanggil Tuhan hanya Kaisar.
Apakah peranan saudara dalam menjangkau suku-suku bangsa?
“Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.” (Wahyu 5:9).
Kitab Wahyu ditulis Yohanes di Pulau Patmos (90-95 M) saat Kaisar Domitian memaksa penyembahan kaisar sebagai “Tuhan” (Dominus et Deus).
Orang Kristen dianiaya karena menolak kultus kekaisaran.
Dalam visi ini, gulungan kitab bermeterai tujuh (simbol rencana Allah) hanya dapat dibuka oleh Sang Penakluk (“Singa Yehuda”).
Namun, yang muncul adalah “Anak Domba seperti telah disembelih” (Yesus tersalib) — paradoks radikal!
Di tengah masyarakat Romawi yang rasis (memandang rendah non-Yunani sebagai “barbar”), pandangan ini menghancurkan tembok etnis: darah Kristus menyatukan semua bangsa di bawah otoritas-Nya.
Anak Domba dinyatakan layak karena: “Engkau telah disembelih, dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli bagi Allah orang-orang dari setiap suku, bahasa, kaum, dan bangsa.”
“Membeli” adalah: istilah dalam pasar budak Romawi, artinya “membayar harga tebusan” (1 Kor. 6:20).
Yang dibeli empat dimensi identitas: suku (etnis/ras), bahasa (komunikasi), kaum (komunitas sosial), bangsa (wilayah politik).
Mereka dijadikan “kerajaan dan imam-imam bagi Allah” — bukan sekadar diselamatkan, tapi diangkat sebagai warga kerajaan surgawi yang mewakili Allah di bumi.
Gelombang Penyembahan Semesta (Ay. 11-13).
Penebusan ini memicu respons
1) Malaikat; beribu-ribu memuji: “Anak Domba yang disembelih layak menerima kuasa, kekayaan, hikmat…”
2) Seluruh ciptaan — langit, bumi, bawah bumi, laut — menyembah: “Bagi Dia yang duduk di takhta dan bagi Anak Domba…”
Penyembahan ini adalah deklarasi akhir: Yesus yang mati bagi semua bangsa adalah Penguasa mutlak alam semesta, bukan kaisar Romawi.
Gelar “Anak Domba” dan “Yang di Takhta” disatukan, menegaskan keilahian Kristus.
Saudara,
1) Jika darah Yesus sudah membeli setiap etnis, maka gereja harus aktif merobohkan kecenderungan yang memperbesar perbedaan antar suku/etnis.
2) Kita harus hidup sebagai “Imam Kerajaan”: Jadilah pendamai antarkelompok yang bermusuhan (Ef. 2:14).
3) Keadilan: Beri suara dan bantulah kaum yang dipinggirkan.
4) Saksikan Kuasa Salib: Di dunia yang memuja kekuatan, hiduplah dalam kerendahan hati dan pelayanan seperti Sang Domba yang disembelih.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, apakah makna perjamuan kudus dengan pernyataan Yesus roti hidup.
JADIKAN SEMUA MAKHLUK BERTEKUK LUTUT DALAM NAMA YESUS
Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson
Pembacaan Alkitab Hari ini :
FILIPI 2:8-11
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Mengapa Yesus sangat ditinggikan oleh Allah Bapa ?
Apakah tujuan Allah meninggikan Yesus dan memberikan Yesus nama di atas segala nama?
Dalam nama Yesus semua nama akan bertekuk lutut? Apakah maknanya bagi hidupmu saat ini?
“supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2:10-11).
Surat Filipi ditulis Paulus dari penjara kepada jemaat di Filipi—koloni Romawi yang menjunjung tinggi nilai imperial cult (penyembahan kaisar).
Dalam konteks ini, gelar “Tuhan” (Kyrios) dan “penyembahan sujud” (proskyneō) secara eksklusif hanya dilakukan kepada kaisar.
Paulus menentang sistem ini dengan menyajikan pengajaran indah Kristologis (2:6-11) yang menggambarkan Yesus sebagai Tuhan sejati yang rela merendahkan diri.
Ayat 8-11 merupakan klimaks teologis: kematian-Nya yang hina justru menjadi dasar pengakuan universal atas kedaulatan-Nya atas seluruh ciptaan—langit, bumi, dan bawah bumi.
Ayat 8 menggarisbawahi kedalaman kehinaan Kristus: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Kata “taat” menyiratkan ketundukan penuh kehendak Bapa.
Ketaatan-Nya bukan simbolis, tetapi nyata: dari reinkarnasi (menjadi manusia) hingga kematian terkutuk (salib).
Salib adalah alat eksekusi paling hina dalam hukum Romawi saat itu, lambang kutuk dalam Yudaisme (Ul. 21:23).
Di sini, Sang Pencipta (ayat 6) mengalami puncak kehinaan ciptaan—sebuah paradoks yang membalikkan logika kuasa duniawi.
Respons Allah terhadap ketaatan radikal Kristus terungkap dalam ayat 9: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan menganugerahkan kepada-Nya nama di atas segala nama.”
Kata “sangat meninggikan” menunjukkan pengagungan melampaui segala ukuran.
“Nama di atas segala nama” adalah gelar KYRIOS (Tuhan)—gelar ilahi dan gelar kaisar Romawi.
Ayat 10-11 menyatakan dampaknya: “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi, dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan'”.
Penyembahan ini menyeluruh (langit-bumi-dunia bawah) dan final (pengakuan seluruh lidah).
Menyembah dalam Kerendahan Hati: Seperti Kristus merendahkan diri, kita dipanggil hidup rendah hati —mengutamakan orang lain, meninggalkan ego, dan taat dalam panggilan sehari-hari sekalipun tidak populer.
Oleh karena itu kita perlu:
1) Bersaksi dengan Berani. Di dunia yang menyembah “kaisar-kaisar modern” (kuasa, uang, ideologi), pengakuan “Yesus Kristus adalah Tuhan” adalah deklarasi revolusioner. Nyatakanlah melalui perkataan dan tindakan bahwa hanya Dialah pemilik otoritas tertinggi.
2) Berpengharapan dalam Penghakiman: Kedaulatan Kristus yang suatu hari akan diakui seluruh ciptaan (ayat 11) memberi kepastian: keadilan Allah akan menang.
Ini menguatkan kita dalam penderitaan dan ketidakadilan.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya menjadi pribadi yang rendah hati dan selalu taat kepada Allah.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah yang dilakukan murid-murid saat Yesus memberikan amanat agung?
Apakah yang dimaksud dengan pergilah? Apakah Saudara sudah pergi?
Apakah amanat agung hanya memberitakan Injil saja? Bagaimana dengan memuridkan?
“….Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…” (Matius 28:19).
Peristiwa ini terjadi di Galilea pasca-kebangkitan Yesus (Mat. 28:16).
Murid-murid, yang mungkin masih diliputi keraguan dan ketakutan, berkumpul di bukit yang ditetapkan.
Dalam konteks Yudaisme abad pertama, hubungan dengan bangsa non-Yahudi (kafir) sering dihindari.
Amanat Agung Yesus justru menghancurkan tembok pemisah ini.
Perintah ini bukan diberikan dalam suasana kekalahan, melainkan sebagai manifestasi kemenangan mutlak Sang Penakluk Maut.
Yesus yang bangkit menggeser paradigma kesukuan menjadi misi universal, misi kepada segala bangsa, menjadikan seluruh ciptaan sebagai ruang lingkup tugas murid-murid-Nya.
Dasar amanat agung ini diteguhkan oleh deklarasi Yesus: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi”.
Kata “kuasa” (exousia) merujuk pada otoritas surgawi yang sah dan total atas seluruh alam semesta.
Berdasarkan wewenang inilah amanat agung diluncurkan: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku”.
Kata kerja “jadikanlah murid” menjadi inti dari misi: suatu panggilan aktif untuk membawa semua kelompok etnis (panta ta ethnē) menjadi pengikut Yesus yang mau belajar dan taat kepada Kristus.
Kata “pergilah” menuntut inisiatif meninggalkan zona nyaman untuk terlibat dalam dunia yang beragam.
Perintah pemuridan diwujudkan melalui dua tindakan: “baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” – suatu inisiasi publik yang memeteraikan identitas baru dalam persekutuan Allah Tritunggal, “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (ay. 19b-20a).
Baptisan adalah awal perjalanan, namun esensi pemuridan terletak pada pengajaran yang mengubahkan.
Fokusnya bukan sekadar pengetahuan, melainkan ketaatan kepada firman (melakukan firman) dalam seluruh aspek hidup.
Proses ini bersifat menyeluruh dan berkelanjutan, menuntut pendampingan untuk menerapkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah tugas berat amanat agung, Yesus memberi jaminan: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.
Penyertaan-Nya adalah sumber keberanian abadi.
Dalam kehidupan kita. Aplikasi dalam hidup kita:
1) Selalu aktif membangun hubungan dengan kelompok berbeda (suku, generasi, profesi) di lingkungan sekitar. Sehingga kita dapat memberitakan injil kepada mereka.
2) Fokus pada perubahan hidup, prioritaskan untuk memuridkan – dalam keluarga, pekerjaan, dan tanggung jawab sosial.
3) Andalkan penyertaan-Nya: Di tengah keterbatasan, ingatlah bahwa kita diutus oleh Allah yang Kuasanya tidak terbatas, dan Roh-Nya menyertai setiap langkah pelayanan.
Setiap upaya menjadikan orang murid adalah partisipasi dalam amanat agung yang mengubah sejarah.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya terlibat dalam amanat Agung yang efektif.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang diperhatikan pemazmur tentang musuhnya?
Seperti apa dia diibaratkan kehidupan orang benar?
Seperti apa orang-orang yang hidup di Bait Allah?
Apa yang mereka alami ketika mereka sudah tua?
Saudara, dalam Perjanjian Lama, orang-orang yang percaya kepada Tuhan Allah beribadah di Bait Allah di Yerusalem.
Namun, dalam masa Perjanjian Baru, Yesus menyampaikan sebuah pernyataan yang dituliskan oleh Rasul Yohanes dalam kitab:
Yohanes 4:20-24“Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
Sekarang kita dapat menyembah Bapa dimanapun kita berada, karena Dia hadir di mana-mana.
Oleh karena itu, ketika kita berada dalam hadirat-Nya, maka kita bisa menyembah Dia kapan saja.
Saat kita membaca firman Tuhan, merenungkannya dan berdoa, maka kita sedang berada dalam hadirat-Nya.
Berada di hadirat Allah bukan lagi masalah tempat, melainkan tentang apakah kita sedang berhubungan dengan Dia melalui Roh Kudus atau melalui Roh Kristus.
Orang yang sedang berhubungan dengan Bapa dan memiliki keintiman dengan Roh Kudus, sebenarnya sedang berada di Bait Allah.
Kita berada di hadirat Allah ketika kita berdoa, membaca, dan merenungkan firman Tuhan.
Yesus pernah berkata:
Yohanes 8:31-32“Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Yohanes 15:5“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Dari pernyataan Yesus ini, ketika seseorang yang sudah tua senantiasa hidup di dalam Yesus sebagai pokok anggur, artinya dia senantiasa berada dalam hadirat Tuhan, maka apa yang dinyatakan oleh pemazmur dapat menjadi nyata.
Meskipun sudah tua atau lansia, dia tetap dapat berbuah, sesuai dengan tujuan Yesus memilih kita, yaitu supaya kita pergi dan menghasilkan buah yang tetap.
Ketika kita sudah lanjut usia, kita tetap dapat berbuah lebat, tetap gemuk dan segar, tetapi kita harus senantiasa terhubung dengan Yesus, seperti ranting yang melekat pada pohon anggur.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apa yang menghalangi anak-anak Tuhan untuk menghasilkan buah yang tetap?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang akan diberikan Tuhan Allah kepada umat-Nya?
Apa yang akan dijauhkan Tuhan Allah dari tubuh umat-Nya?
Apa yang dikehendaki Tuhan Allah untuk dihidupi umat-Nya dengan setia?
Apa yang menjadi tujuan Tuhan dalam hubungan-Nya dengan umat-Nya?
Saudara, sejak semula Tuhan Allah Bapa, Yesus Kristus, menghendaki agar anak-anak manusia menjadi makhluk yang berkuasa di semesta ini. Itulah sebabnya Tuhan menciptakan manusia:
Kejadian 1:26“Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”
Namun, dosa telah menyebabkan manusia kehilangan kemuliaan Allah:
Roma 3:23 “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”
Roma 6:23“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Dari ayat-ayat Firman Tuhan di atas, kita dapat belajar bahwa akibat dosa, manusia mengalami kematian karena upah dosa adalah maut.
Dan karena dosa Adam dan Hawa, anak-anak manusia kehilangan kemuliaan Allah sehingga:
Kejadian 6:5-6“Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.”
Saudara, itulah sebabnya Tuhan menyesal. Namun, dalam kasih-Nya yang besar, Tuhan yang tidak pernah gagal melakukan tindakan kasih yang tak terbatas kepada orang-orang yang dipilih dan diperkenan-Nya, seperti Nuh, Abraham, dan banyak lainnya.
Tuhan Allah menyatakan rahmat-Nya melalui kedatangan Putra-Nya ke dunia ini.
Para rasul menuliskan pernyataan kasih-Nya melalui:
Yohanes 3:16“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Rasul Paulus juga menuliskan apa yang diwahyukan kepadanya dalam kitab:
Efesus 1:13-14“Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”
Dari firman ini kita belajar bahwa ketika seseorang percaya kepada Injil keselamatan dan percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka orang itu akan dimeteraikan dengan Roh Kudus.
Inilah janji Tuhan Allah yang telah diwahyukan melalui nabi Yehezkiel yang ditulis dalam Yehezkiel 11:9–11, dan kemudian diulang kembali dalam:
Yehezkiel 36:26-27 “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.”
Oleh rahmat dan kasih karunia-Nya, melalui kehadiran Yesus di dunia serta karya Yesus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, maka janji itu direalisasikan kepada setiap orang yang percaya.
Janji tersebut digenapi oleh Allah Bapa melalui pengorbanan Yesus Kristus.
Apa yang dijanjikan Allah Bapa dan diwahyukan kepada Yehezkiel, juga dinyatakan kepada rasul Paulus oleh pertolongan Roh Kudus yang dijanjikan oleh Bapa.
Orang percaya akan mengalami apa yang telah disampaikan oleh Yehezkiel dahulu.
Rasul Paulus menuliskan hal ini:
Roma 8:26-30“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
Melalui firman ini, kita belajar bahwa Tuhan, Allah Bapa kita, melalui Roh Kudus, berdoa di dalam diri kita.
Dengan demikian, Allah Bapa mengerjakan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang berdoa dalam glossolalia atau berbahasa Roh.
Setiap pengalaman doa dalam bahasa Roh selalu bertujuan untuk mendatangkan kebaikan agar kita dijadikan serupa dengan gambaran Yesus Kristus, dan menjadi saudara Yesus Kristus.
Dengan kehadiran Roh Kudus di dalam kita, maka kita mengalami kehidupan baru dan menjadi ciptaan yang baru.
2 Korintus 5:17 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
Roh Kuduslah yang mengubah jiwa kita menjadi baru, sehingga kita mampu menaati dan hidup sesuai dengan apa yang Yesus perintahkan.
Menaati Yesus berarti menaati Bapa.
Oleh pertolongan Roh Kudus, kita dimampukan untuk melakukan kehendak Bapa, dan dengan demikian kita menunjukkan bahwa kita mengasihi Yesus.
Hanya melalui pertolongan Roh Kudus kita dapat menghasilkan buah yang tetap, seperti yang dikatakan oleh Yesus dalam:
Yohanes 15:16“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”
Oleh pertolongan Roh Kudus, kita dimampukan untuk melakukan apa yang difirmankan oleh Yesus Kristus, sehingga kita dapat menghasilkan buah yang tetap yaitu jiwa-jiwa yang diselamatkan melalui kesaksian, pemberitaan Injil dan melakukan Amanat Agung Kristus.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apa yang menyebabkan anak-anak Tuhan tidak menghasilkan buah yang tetap, yaitu jiwa-jiwa yang diselamatkan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Hidup seperti apa yang dimaksud dengan hidup yang sia-sia?
Apa yang dipakai untuk menebus hidup yang sia-sia itu?
Dengan apakah darah Kristus yang mahal itu disamakan?
Apa yang membuat seseorang dapat percaya kepada Allah pada saat ini?
Saudara, sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, kita dianjurkan bahkan didorong untuk menaati segala sesuatu yang diperintahkan Yesus.
Yesus pernah menyatakan bahwa:
Yohanes 14:6“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Jika seseorang percaya, maka sudah seharusnya ia menaati Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Yesus pernah berkata:
Yohanes 14:15“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”
Yohanes 14:21 “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”
Tuhan Yesus menginginkan supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya melakukan segala perintah-Nya.
Dia rindu supaya pengikut-Nya menjadi orang-orang yang taat dan melaksanakan rencana serta kehendak Bapa-Nya.
Yesus pernah berkata bahwa:
Yohanes 10:30“Aku dan Bapa adalah satu.”
Saudara, dari ayat-ayat Firman Tuhan di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa seseorang yang melakukan perintah Yesus adalah orang yang taat kepada Allah Bapa.
Seseorang yang taat kepada Allah Bapa pasti juga menaati Yesus adalah orang yang hidup dalam ketaatan kepada Yesus, yang telah menyatakan diri-Nya sebagai Jalan, Kebenaran, dan Hidup, maka dia menjadi orang yang taat kepada kebenaran.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apa yang menyebabkan ada anak-anak Tuhan yang tidak menaati kebenaran dalam hidupnya?