Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa perbedaan motivasi antara orang munafik (ayat 5) dengan orang yang berdoa di tempat tersembunyi (ayat 6)?
Mengapa Yesus melarang kita berdoa bertele-tele seperti orang kafir (ayat 7), padahal Dia sendiri kadang berdoa sepanjang malam ?
Apa artinya “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (ayat 8) bagi kehidupan doamu sehari-hari?
“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:8).
Yesus melihat dua kebiasaan doa yang salah di sekitar-Nya.
Pertama, doa orang munafik: mereka berdoa di tempat umum agar dipuji orang.
Doa mereka seperti pertunjukan, bukan percakapan dengan Tuhan.
Kedua, doa orang kafir: mereka berpikir bahwa dengan mengulang-ulang kata-kata, dewa-dewa mereka akan mendengar.
Yesus berkata, jangan seperti mereka.
Lalu Dia memberi petunjuk sederhana: “Masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.”
Artinya, doa yang benar bukan soal tempat ramai atau kata-kata panjang, tapi soal hati yang sungguh-sungguh mencari Tuhan.
Ini undangan untuk memiliki hubungan pribadi yang akrab dengan Allah, bukan sekadar ritual agama.
Doa yang sejati lahir dari kerinduan untuk bertemu dengan Bapa, bukan untuk dilihat orang.
Orang munafik mendapat pujian manusia, tapi itu saja upah mereka.
Mereka kehilangan upah dari Tuhan.
Sebaliknya, ketika kita berdoa di tempat tersembunyi—bisa kamar kita, bisa hati kita yang sunyi—Bapa yang melihat hal tersembunyi itu akan memberi upah-Nya.
Ini bukan soal lokasi fisik saja, tapi soal fokus hati.
Apakah kita berdoa karena benar-benar rindu pada Tuhan, atau karena ingin terlihat kudus?
Roh Kudus membantu kita memiliki motivasi yang murni.
Doa di tempat tersembunyi adalah tempat kita belajar jujur di hadapan Tuhan, tempat kita melepas topeng, dan tempat Roh Kudus menolong kita mengungkapkan isi hati yang terdalam.
Doa bukanlah mantra untuk memaksa Tuhan.
Orang kafir berpikir dengan banyak kata, Tuhan akan tergerak.
Tapi Yesus berkata, “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya”.
Ini melegakan! Kita tidak perlu merangkai kata-kata hebat atau memaksa Tuhan.
Doa adalah cara kita menempatkan diri dalam hadirat-Nya, menyadari bahwa Dia adalah Bapa yang peduli.
Roh Kudus mengajar kita berdoa dengan keyakinan bahwa Tuhan sudah tahu kebutuhan kita, dan Dia ingin kita datang kepada-Nya sebagai anak-anak yang percaya.
Doa bukan untuk memberitahu Tuhan sesuatu yang tidak Dia ketahui, tapi untuk membentuk hati kita agar bergantung penuh kepada-Nya.
Seperti C.S. Lewis berkata, doa mengubah kita, bukan mengubah Tuhan yang sudah tahu yang terbaik.
Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Sediakan Waktu dan Tempat Khusus Setiap Hari.
Cari tempat di mana kamu bisa sendiri tanpa gangguan.
Bisa di kamar, di halaman, atau di mana saja.
Lakukan secara rutin, seperti Yesus yang sering pergi ke tempat sunyi untuk berdoa.
Kedua, Fokus pada Tuhan, Bukan pada Kata-Kata. Doa tidak perlu panjang dan indah.
Mulailah dengan mengucap syukur, akui kebergantunganmu, dan sampaikan isi hati dengan jujur.
Roh Kudus akan menolongmu. Ketiga, Percaya bahwa Bapa Tahu yang Terbaik.
Saat berdoa, jangan cemas. Serahkan kebutuhanmu dengan tenang, dan percayalah bahwa Bapa yang mengasihimu akan menjawab dengan cara dan waktu yang terbaik.
Ini melatih iman dan ketenangan hati.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki hati yang senantiasa haus kepada Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut ayat 6-7, apa yang dilakukan Yesus meskipun Ia adalah Allah? Apa artinya “mengosongkan diri” bagi kita sehari-hari?
Mengapa Allah meninggikan Yesus setinggi-tingginya (ayat 9-11)? Pelajaran apa yang bisa kita ambil tentang hubungan antara kerendahan hati dan kemuliaan?
Dalam situasi apa kamu paling sulit untuk bersikap rendah hati seperti Kristus? Langkah kecil apa yang bisa kamu ambil minggu ini untuk berubah?
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5).
Semua orang butuh teladan. Anak kecil belajar dari orang tuanya, murid belajar dari gurunya.
Dalam hidup sebagai pengikut Kristus, kita juga punya teladan yang sempurna, yaitu Yesus sendiri.
Paulus menulis bagian ini karena ia tahu bahwa hidup rukun dan rendah hati itu tidak mudah.
Kita cenderung ingin menonjol sendiri, ingin dihargai, ingin diakui.
Maka Paulus berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Artinya: belajarlah dari cara Yesus berpikir dan bertindak.
Dia adalah Allah, tetapi tidak sombong. Justru Dia turun ke bawah, melayani, dan berkorban.
Dialah teladan sejati bagi hidup kita sehari-hari.
Kerendahan Hati Bukan Kelemahan, Tapi Kekuatan.
Banyak orang mengira rendah hati itu berarti lemah, tidak punya pendirian, atau membiarkan orang lain menginjak-injak kita.
Tapi lihatlah Yesus: Dia adalah Allah yang Mahakuasa, tetapi rela mengosongkan diri-Nya.
Ini bukan karena Dia lemah, justru karena Dia kuat.
Kerendahan hati Yesus adalah pilihan sadar untuk tidak mempertahankan hak-Nya demi keselamatan kita.
Dia turun dari takhta sorga, lahir dalam kandang yang hina, bergaul dengan pemungut cukai dan pelacur, dan akhirnya mati di kayu salib.
Semua itu dilakukan-Nya karena kasih.
Inilah kerendahan hati yang sejati: kuat untuk tidak membela diri, kuat untuk melayani, kuat untuk berkorban.
Kerendahan hati seperti ini hanya bisa lahir dari kasih yang besar.
Paradoks Kerajaan Allah: jalan ke bawah justru menuju ke atas.
Dunia mengajarkan kita untuk menonjolkan diri, bersaing, dan mencari pengakuan.
Semakin tinggi kita naik, semakin berkuasa kita.
Tapi Yesus mengajarkan jalan sebaliknya.
Ia turun serendah-rendahnya, menjadi hamba, mati di salib.
Dan justru karena itulah Allah meninggikan Dia setinggi-tingginya.
Nama-Nya dihormati di seluruh alam semesta.
Ini pelajaran penting bagi kita: kalau kita ingin dihormati Tuhan, jangan cari hormat dari manusia.
Kalau kita ingin ditinggikan Tuhan, rendahkanlah hati kita di hadapan-Nya dan di hadapan sesama.
Tuhan tidak bisa dipermainkan: Ia meninggikan orang yang rendah hati, tetapi menjauhkan orang yang sombong.
Jalan ke bawah adalah jalan ke atas dalam kerajaan Allah.
Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Ubah Cara Berpikir. Setiap pagi, ingatkan diri sendiri: “Aku bukan pusat dunia. Kristuslah pusat hidupku.”
Coba lihat orang lain dengan kacamata kasih, bukan dengan kacamata saingan.
Kedua, Pilih untuk Melayani, Bukan Dilayani.
Dalam keluarga, di tempat kerja, atau di gereja, carilah kesempatan untuk membantu tanpa pamrih.
Misalnya, dengan mendengarkan keluhan teman, membantu pekerjaan rumah, atau memberi senyuman kepada yang sedang sedih.
Tindakan kecil ini adalah langkah nyata meneladani Kristus.
Ketiga, Relakan Hak dan Keinginan Pribadi. Kadang kita bersikeras pada pendapat atau keinginan sendiri.
Coba tanya: “Apakah ini demi kemuliaan Tuhan atau demi kepuasan diriku?” Belajarlah mengalah demi kebaikan bersama, seperti Kristus yang rela mengalah demi keselamatan kita.
Dengan tiga langkah sederhana ini, kita mulai hidup dalam teladan Kristus.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki sikap hati melayani dan bukan dilayani.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut Filipi 2:1, empat hal apa saja yang sudah kita terima di dalam Kristus, dan mengapa itu penting untuk kesatuan kita?
Apa maksudnya “menganggap orang lain lebih utama dari diri sendiri” dalam kehidupan sehari-hari? Apakah berarti kita tidak boleh punya pendapat?
Dalam ayat 4, Paulus minta kita memperhatikan kepentingan orang lain. Siapa satu orang di sekitarmu yang perlu kamu perhatikan kepentingannya minggu ini?
“Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan” (Filipi 2:1-2).
Coba bayangkan, Paulus sedang berada dalam penjara yang gelap dan dingin.
Tapi anehnya, suratnya penuh dengan sukacita dan dorongan untuk bersatu.
Ia menulis kepada jemaat di Filipi yang sangat ia sayangi.
Paulus tahu bahwa di dalam gereja, masalah seringkali bukan datang dari luar, tapi dari dalam—dari hati kita sendiri yang masih mementingkan diri sendiri.
Mungkin saat itu ada dua pelayan Tuhan, Euodia dan Sintikhe, yang mulai tidak akur.
Paulus tidak ingin masalah kecil itu merusak kesatuan jemaat.
Karena itu, ia mengingatkan mereka tentang apa yang sudah mereka terima di dalam Kristus.
Sebelum menyuruh mereka melakukan sesuatu, Paulus lebih dulu mengingatkan mereka tentang siapa diri mereka di dalam Tuhan.
Prinsip pertama yang Paulus ajarkan adalah bahwa kesatuan sejati lahir dari apa yang sudah kita terima dari Tuhan, bukan dari usaha kita sendiri.
Paulus menyebut empat hal:
(1) Penghiburan dalam Kristus—kita yang lemah dan bermasalah telah dikuatkan oleh-Nya.
(2) Kasih yang menghibur—kita mengalami kasih Allah yang tak bersyarat.
(3) Persekutuan Roh—kita semua disatukan oleh Roh Kudus yang sama, jadi kalau kita berbagi Roh yang sama, masakan hati kita berbeda?
(4) Kasih mesra dan belas kasihan—kita merasakan betapa lembutnya Tuhan kepada kita.
Karena kita sudah menerima semua kebaikan ini, seharusnya kita bisa saling mengasihi dan bersatu.
Kita tidak bisa bermusuhan dengan saudara seiman kalau kita ingat betapa besar kasih Tuhan kepada kita.
Prinsip kedua adalah bahwa kesatuan hati membutuhkan sikap rendah hati dan mau mengutamakan orang lain.
Paulus minta agar mereka sehati sepikir, memiliki kasih yang sama, dan satu jiwa (ayat 2).
Ini bukan berarti semua orang harus punya pendapat yang sama persis, tetapi semua hati harus terarah pada tujuan yang sama: memuliakan Tuhan.
Caranya?
(1) Jangan melakukan sesuatu karena ambisi sendiri atau gila hormat.
(2) Dalam kerendahan hati, anggaplah orang lain lebih utama dari diri sendiri. Ini sulit dilakukan, tetapi mungkin kalau kita sadar bahwa kita pun tak lebih baik dari orang lain.
(3) Jangan hanya memikirkan kepentingan sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain.
Paulus tahu bahwa secara alami manusia cenderung mementingkan diri sendiri, tetapi Roh Kudus bisa mengubah hati kita untuk peduli pada sesama.
Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Ingat dan syukuri apa yang sudah Tuhan berikan.
Setiap kali kita merasa kesal atau ingin berselisih dengan saudara seiman, coba hening sejenak dan ingatlah betapa Tuhan sudah mengasihi, menghibur, dan menyatukan kita dengan Roh-Nya.
Rasa syukur ini akan mencairkan hati yang keras. Kedua, Latih diri untuk mendahulukan orang lain.
Coba dalam satu minggu ini, secara sengaja cari cara untuk membuat orang lain merasa dihargai.
Misalnya, dengan mendengarkan cerita mereka tanpa memotong, atau memberi pujian tulus atas kebaikan mereka.
Ketiga, Jaga perkataan dan perbuatan dari ambisi pribadi.
Sebelum bicara atau bertindak, tanya diri sendiri: “Apakah ini kulakukan karena ingin dipuji, atau benar-benar untuk kebaikan bersama?”
Dengan tiga langkah sederhana ini, kita bisa mengalami kesatuan hati yang indah dalam komunitas kita.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana cara praktis dalam membangun kesatuan hati.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang sebenarnya mereka minta dalam doa ketika menghadapi ancaman (ayat 29-30), dan apa bedanya dengan doa kita biasanya?
Apa yang terjadi setelah mereka berdoa (ayat 31), dan apa artinya “tempat bergoncang” dan “dipenuhi Roh Kudus” bagi hidup kita?
Bagaimana cara kita bisa memiliki kesatuan hati dalam doa seperti jemaat mula-mula, terutama di tengah perbedaan pendapat dan kesibukan?
“Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” (Kisah Para Rasul 4:31).
Coba bayangkan situasi para rasul dan jemaat mula-mula saat itu.
Mereka baru saja melihat pemimpin mereka, Petrus dan Yohanes, ditangkap dan diancam keras.
Ancaman itu bukan main-main: mereka dilarang total untuk berbicara tentang Yesus.
Bisa saja mereka takut, bersembunyi, atau berdoa minta perlindungan.
Tapi tahukah Anda apa yang mereka lakukan?
Mereka justru berkumpul bersama dan mengangkat suara kepada Allah.
Mereka tidak panik, tidak mengatur strategi manusiawi, tetapi mereka berdoa.
Inilah rahasia gereja mula-mula: saat masalah datang, doa adalah respon pertama, bukan respon terakhir.
Doa mereka bukan doa asal-asalan, tetapi doa yang lahir dari hubungan yang intim dengan Tuhan dan keyakinan bahwa Dia berkuasa atas segala keadaan.
Prinsip pertama yang kita lihat dari doa mereka adalah keberanian untuk meminta hal-hal besar.
Mereka tidak berdoa, “Tuhan, lindungi kami dari bahaya” atau “Tuhan, jauhkan musuh-musuh kami.”
Sebaliknya, mereka berdoa minta keberanian untuk terus memberitakan firman dan minta Tuhan menyatakan kuasa-Nya melalui penyembuhan dan mujizat.
Ini doa yang berani! Mereka sadar bahwa Tuhan lebih besar dari ancaman manusia.
Mereka percaya bahwa kuasa Allah sanggup melakukan perkara-perkara ajaib.
Doa yang menghadirkan kuasa adalah doa yang tidak dibatasi oleh ketakutan, tetapi dilandasi oleh iman bahwa Tuhan sanggup melakukan jauh lebih besar dari apa yang kita pikirkan.
Ketika kita berani meminta hal-hal besar kepada Tuhan, kita sedang membuka pintu bagi kuasa-Nya bekerja.
Prinsip kedua adalah kuasa Tuhan turun ketika mereka bersatu dan fokus kepada Tuhan.
Ayat 31 mencatat bahwa setelah mereka berdoa, tempat mereka berkumpul bergoncang dan mereka semua dipenuhi Roh Kudus.
Ini bukan kebetulan. Mereka berdoa dengan satu hati, satu suara, dan satu tujuan: memuliakan Tuhan.
Tidak ada persaingan, tidak ada kepentingan pribadi, hanya kerinduan bersama agar Tuhan dinyatakan. Roh Kudus memenuhi mereka bukan karena doa yang panjang atau kata-kata yang indah, tetapi karena kesatuan hati dan fokus yang mutlak kepada Tuhan.
Saat kita bersatu dalam doa, saat kita melupakan diri sendiri dan hanya memikirkan kemuliaan Tuhan, di situlah Roh Kudus bekerja dengan kuasa-Nya yang dahsyat.
Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Bagaimana kita bisa mengalami doa yang menghadirkan kuasa seperti jemaat mula-mula?
Pertama, Jadikan Doa sebagai Respons Pertama, Bukan Pilihan Terakhir.
Saat masalah datang, jangan panik dan jangan sibuk mencari solusi sendiri.
Segera cari Tuhan dalam doa, baik sendiri maupun bersama saudara seiman.
Kedua, Berani Minta Hal Besar kepada Tuhan.
Jangan batasi doa hanya untuk kebutuhan sehari-hari.
Minta keberanian untuk bersaksi, minta kesempatan untuk memberitakan Injil, minta kuasa-Nya dinyatakan dalam hidup dan pelayananmu.
Tuhan senang menjawab doa yang penuh iman.
Ketiga, Jaga Kesatuan Hati dalam Doa Bersama.
Carilah komunitas doa yang sehat.
Doa bersama dengan saudara seiman yang sepakat dan seiman akan mendatangkan kuasa yang luar biasa.
Saat kita bersatu, hati kita selaras dengan hati Tuhan, dan Roh Kudus bekerja dengan bebas.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya doa korporat memberikan dampak rohani yang besar.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dilakukan jemaat Antiokhia sehingga Roh Kudus bisa berbicara dengan jelas kepada mereka?
Mengapa Roh Kudus meminta Barnabas dan Saulus dikhususkan, padahal mereka sangat dibutuhkan di Antiokhia?
Bagaimana respon jemaat terhadap panggilan Tuhan atas Barnabas dan Saulus, dan apa yang bisa kita pelajari dari respons itu?
“Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” (Kisah Para Rasul 13:2)
Gereja di Antiokhia adalah gereja yang hidup dan beragam.
Anggotanya berasal dari berbagai latar belakang: ada Barnabas yang baik hati, ada Simeon yang mungkin berkulit hitam, ada Lukius dari Afrika, ada Menahem yang pernah tinggal di istana, dan ada Saulus yang tadinya pembenci Kristen.
Mereka tidak sibuk dengan kegiatan rohani yang ramai, tetapi mereka meluangkan waktu khusus untuk beribadah dan berpuasa.
Dalam suasana yang tenang dan fokus kepada Tuhan itulah, Roh Kudus berbicara.
Mereka tidak sedang rapat organisasi atau membuat program gereja, tetapi mereka sedang mencari wajah Tuhan.
Inilah kuncinya: suara Roh Kudus lebih mudah didengar ketika hati kita tenang dan fokus kepada-Nya, bukan ketika kita sibuk dengan urusan sendiri.
Prinsip pertama yang bisa kita pelajari adalah bahwa Roh Kudus berbicara kepada orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
Jemaat Antiokhia tidak hanya beribadah secara rutin, tetapi mereka berpuasa—artinya mereka rela mengorbankan kesenangan fisik demi lebih fokus kepada Tuhan.
Di saat seperti itulah, Roh Kudus menyatakan kehendak-Nya.
Roh Kudus berkata, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku.”
Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus memiliki rencana spesifik untuk setiap orang.
Dia tahu siapa yang dipanggil untuk tugas apa. Tugas kita adalah menyediakan diri dan mendengarkan dengan hati yang terbuka.
Kadang kita terlalu sibuk bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau mau?” padahal kita tidak pernah diam untuk mendengar jawaban-Nya.
Prinsip kedua adalah bahwa panggilan Tuhan seringkali mengubah hidup dan meminta pengorbanan.
Barnabas dan Saulus adalah pemimpin penting di Antiokhia. Mereka pasti dicintai jemaat.
Namun, Roh Kudus meminta mereka pergi. Ini tidak mudah. Tetapi jemaat Antiokhia tidak menahan mereka.
Mereka justru berdoa, berpuasa, dan menumpangkan tangan sebagai tanda restu.
Mereka percaya bahwa rencana Tuhan lebih besar dari kenyamanan mereka.
Barnabas dan Saulus pun pergi, tidak tahu persis apa yang akan terjadi, tetapi mereka yakin Tuhan yang mengutus pasti menyertai.
Hidup yang dipimpin Roh Kudus adalah hidup yang penuh petualangan iman, kadang meninggalkan zona nyaman, tetapi selalu dalam penyertaan Tuhan.
Hal Praktis untuk Melakukan Firman, Bagaimana kita bisa mendengar suara Roh Kudus dalam hidup sehari-hari?
Pertama, Sediakan Waktu Hening.
Dalam kesibukan kita, luangkan waktu khusus untuk berdoa dan merenung, bahkan berpuasa jika perlu.
Matikan gangguan, fokus pada Tuhan, dan minta Dia berbicara.
Kedua, Libatkan Komunitas rekan dan pembimbing PA.
Jangan hanya mengandalkan perasaan sendiri.
Diskusikan dengan saudara seiman yang dewasa rohani, minta mereka mendoakan dan memberi masukan.
Tuhan sering berbicara melalui komunitas.
Ketiga, Berani Melangkah. Saat Tuhan sudah memberi petunjuk, jangan tunda.
Percayalah bahwa Tuhan yang memanggil pasti menyertai.
Mungkin jalannya tidak mudah, tetapi Dia setia menuntun. Mulailah dengan langkah kecil, dan biarkan Tuhan membuka jalan selanjutnya.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya mendengar arahan Roh Kudus.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang sudah ada sejak semula?
Apa yang telah dilihat oleh Yohanes?
Apa yang disaksikan oleh Yohanes?
Apa tujuan Yohanes menuliskan kesaksiannya?
Saudara, kesaksian Kristen bukan hanya lahir dari pengetahuan atau sekadar hasil membaca Alkitab.
Kesaksian yang paling baik adalah kesaksian yang lahir dari pengalaman kita bersama Tuhan, dari perenungan firman Tuhan, dari ketaatan kepada firman Tuhan, dari menaati perintah Tuhan, serta dari kepekaan mendengarkan suara Roh Kudus di dalam hati kita.
Rasul Yohanes memberikan kesaksian yang dituliskan dalam bagian firman yang kita pelajari ini:
1 Yohanes 1:1-4“Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.”
Saudara, dari bagian firman ini kita mendapatkan pengajaran bahwa kesaksian berasal dari pengalaman langsung.
Seperti Yohanes, ia mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus, Sang Mesias yang dijanjikan.
Yohanes mengetahui bahwa akan datang seorang yang diurapi, yaitu Mesias yang telah dinubuatkan sejak Kejadian 3:15.
Kitab Yesaya juga menuliskan banyak nubuat tentang Mesias, bahkan biografi Yesus sejak kelahiran hingga kematian-Nya.
Para rasul, murid-murid Yesus, adalah saksi utama yang hidup bersama Dia selama kurang lebih tiga setengah tahun pelayanan-Nya.
Karena itu, Yohanes dapat berkata: “yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup.”
Itu adalah pengalaman pribadi yang tidak dapat disangkal, autentik, asli, dan tak terbantahkan.
Kisah Para Rasul 2:29-33“Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.”
Dengan jelas dan tegas Rasul Petrus menyatakan bahwa para murid adalah saksi kebangkitan Yesus dari kematian.
Oleh karena itu, Tuhan juga menghendaki kita sama seperti para murid Yesus Kristus, mau dan rela menjadi saksi Kristus.
Kita dapat bersaksi melalui pengalaman pribadi kita bersama Roh Kudus, yang menjadikan firman tertulis (logos) menjadi firman yang hidup (rhema) bagi kita.
Sebagai orang-orang kudus Allah, hari ini menjadi saksi Kristus lewat pengalaman pribadi dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus.
Melalui perenungan firman Tuhan, firman itu menjadi nyata dan membangkitkan iman percaya kita kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Rasul Paulus juga menuliskan kebenaran tentang bagaimana seseorang diselamatkan melalui pendengaran akan firman kebenaran:
Efesus 1:13-14 “Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”
Roma 10:17“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”
Efesus 3:17“sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.”
Melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita, maka kita dapat berhubungan dengan Bapa dan Yesus Kristus.
Ketika kita merenungkan firman tertulis (logos), Roh Kudus menolong kita mengalami perjumpaan pribadi dengan Bapa dan Yesus Kristus.
Dari situlah lahir pengalaman pribadi yang dapat kita sampaikan sebagai kesaksian.
Pada gereja mula-mula, para rasul bersaksi tentang pengalaman mereka sendiri tentang perjumpaan mereka dengan Tuhan Allah yang menjadi manusia, yaitu Mesias yang dijanjikan.
Bagaimana dengan kita saat ini?
Kesaksian apa yang dapat kita sampaikan sebagai hasil perjumpaan kita dengan Tuhan?
Setelah Roh Kudus berdiam di dalam hati kita, perubahan apa yang telah terjadi dalam hidup kita?
Apa yang dapat kita ceritakan sebagai kesaksian yang autentik sebagai bukti anugerah dan kasih karunia Bapa yang kita alami pada masa ini?
Setelah puluhan tahun mengikut Kristus, saya mengalami banyak pemulihan dalam hidup.
Saya berasal dari latar belakang keluarga dengan berbagai kutuk karena dosa turunan yang dahulu sangat memalukan untuk diceritakan.
Namun puji Tuhan, saya telah dibebaskan dan dimerdekakan dari dosa turunan tersebut, baik dari pihak ayah maupun ibu saya.
Saya juga bersyukur kepada Tuhan karena boleh memasuki masa pensiun dari pelayanan kepenatuaan di GKKD-BP dan menyerahkan kepemimpinan kepada anak-anak rohani yang kini menjadi penatua menggantikan saya.
Mereka bahkan melayani dengan lebih baik.
Dahulu saya sering berkata bahwa saya hanyalah seperti “tidak ada rotan, akar pun jadi.”
Saya menyadari bahwa saya bukan seorang yang memiliki karunia kepemimpinan.
Namun Tuhan menolong dan memampukan saya hingga mencapai masa pensiun sesuai usia yang telah ditetapkan.
Hal ini menjadi bukti bahwa gereja kita adalah gereja yang memuridkan, ada generasi yang dipersiapkan untuk melanjutkan pelayanan.
Sistem yang dibangun memberi kesempatan bagi generasi berikutnya untuk mendapatkan kesempatan.
Dengan demikian, anak-anak dan adik-adik rohani terdorong untuk berdoa, melayani dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin di berbagai lini pelayanan.
Semua itu terjadi karena pergaulan dengan Roh Kudus dan kerelaan untuk membuka peluang bagi anak-anak rohani menggantikan bapak rohani.
Pergantian itu bukan karena pendisiplinan, melainkan karena kesadaran akan waktu, masa pensiun, dan kerelaan untuk melepaskan kedudukan sebagai eksekutif di gereja.
Roh Kudus akan terus menuntun gereja kita, GKKD-BP, untuk mencapai visi mula-mula yang Tuhan anugerahkan sebagai gereja yang berdoa, bermisi dan memuridkan.
Bahkan ke depan, kiranya gereja ini semakin maju dan terbuka, menjadi gereja yang giat melakukan pemuridan serta memberitakan Injil Kerajaan Allah, Injil keselamatan, kepada bangsa kita maupun kepada bangsa-bangsa.
Amin. Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa ada pemimpin di gereja yang tidak mau melepaskan jabatannya sebagai pemimpin utama?