Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Galatia 2:20!
Terhadap apakah Rasul Paulus telah mati dan dengan siapakah Rasul Paulus telah disalibkan?
Apakah tujuan dari Rasul Paulus disalibkan dengan Kristus?
Jadi siapakah yang hidup dalam diri Rasul Paulus selain pribadinya dan melalui apakah keterhubungan Rasul Paulus dengan Yesus?
Kita telah memiliki kehidupan ilahi karena kita telah menerima Yesus melalui kelahiran kembali untuk tinggal di dalam hati kita. Kehidupan itu adalah merupakan representasi Kristus sendiri.
“Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.”(Yehezkiel 36:27).
”Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”(Kolose 3:4).
”Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.”(I Yohanes 3:2).
Tuhan akan merealisasikannya di dalam hidup kita karena Dialah yang sepenuhnya berkuasa dan memegang seluruh kehidupan kita karena kita tidak sendiri lagi. Oleh karena itu beberapa hal yang harus kita pahami adalah:
Kita harus menyadari bahwa kita telah mati supaya kita hanya hidup bagi Kristus. Kematian itu selalu terjadi ketika kita senantiasa menyalibkan seluruh keinginan daging kita; ”Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” (Kolose 3:3).”Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus.”(Galatia 2:19);
Agar kehidupan Kristus senantiasa memancar dalam hidup kita maka kita harus terhubung dengan Yesus melalui iman kepada-Nya dan memiliki iman Yesus Kristus melalui persekutuan dengan Firman-Nya. ”Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”(Yohanes15:4-5);
Ketika kita mati dan Yesus hidup dalam kita maka kita senantiasa mengalami sejahtera dari Bapa. ”Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.”(Roma 5:1).
Dalam pikiran, hati, perkataan dan perbuatan kita akan nyata bahwa Kristus hidup dalam kita demikian juga dari wajah kita karena Yesus hidup dalam diri kita.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana kehidupan Yesus nyata melalui saudara karena saudara menyadari bahwa saudara telah mati dan Yesus hidup dalam diri saudara!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Filipi 1:21!
Apakah komitmen dari Rasul Paulus ketika dia berfokus kepada Yesus?
Apakah pemahaman yang perlu kita miliki dalam hal kematian dan kehidupan?
Apakah komitmen kita kepada Tuhan jika masih diizinkan oleh Tuhan untuk hidup?
Sebagai pengikut Yesus kita selalu ingin agar Tuhan dipermuliakan didalam kehidupan kita dan tidak memalukan Kristus didalam seluruh kehidupan kita.
Dalam hal Yesus dimuliakan tidak dibatasi oleh hidup atau mati kita, tetapi dalam hidup dan mati kita juga Kristus selalu dimuliakan.
Itulah sebabnya kita harus berkata bahwa mati adalah keuntungan dan hidup adalah Kristus.
Tidak merasa takut dan rugi oleh kematian karena kematian bukanlah akhir dari segalanya.
Dan jika hidup kita adalah Kristus maka hidup bukan untuk mencari uang, kekayaan, keamanan dan ketenangan tetapi hidup ini betul-betul berfokuskan dan bertujuan bagi Kristus, sehingga jika ada penderitaan dan persoalan dan tantangan kita tidak akan mundur.
Ketika kita berkomitmen untuk hidup adalah Kristus maka beberapa hal yang harus kita pahami adalah:
Percaya bahwa hidup kita tidak sendiri tetapi bersama dengan Yesus sehingga dalam segala hal kita selalu berpusatkan kepada Yesus dan selalu mengandalkan Dia (Galatia 2:20);
Kita harus menyalibkan segala keinginan daging dan membebaskan kehidupan Kristus yang mengalir serta dimanifestasikan dalam kehidupan kita (Kolose 3:3-4);
Memiliki kerinduan dalam kehidupan sehari-hari hanya untuk mengenal Yesus dan bersatu dalam kematian, kebangkitan serta menjadi sama dalam penderitaan Kristus (Filipi 3:10-11);
Hidup hanya untuk memuliakan Yesus dengan cara berbuah lebat, berkarakter Yesus maupun membawa jiwa-jiwa kepada Yesus.
Apa yang menjadi tujuan dari Kristus selalu menjadi tujuan kita, karena kita bukan hanya memiliki pikiran dan perasaan Kristus, dengan demikian kita wajib hidup seperti Yesus hidup.
“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”(I Yohanes 2:6).
“Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”(Yohanes 4:34).
Dan jika hidup kita adalah Kristus maka kita menjadi surat Kristus yang dibaca oleh setiap orang karena kita menjadi representasi Kristus dimuka bumi.
Dunia melihat Kristus dalam hidup kita dan kita pun hanya menceritakan nama Yesus kepada dunia ini melalui perkataan dan perbuatan kita sehingga semakin banyak orang yang percaya kepada Yesus melalui hidup kita.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana Kristus dimuliakan melalui hidup saudara ketika saudara berkomitmen bahwa hidup adalah Kristus!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Filipi 1:27!
Apakah keinginan Rasul Paulus bagi jemaat Filipi yang telah mengenal dan menerima Injil Kristus?
Apakah bukti dari kehidupan jemaat Filipi yang menyatakan bahwa mereka hidup berpadanan dengan Injil Kristus?
Selain percaya kepada Kristus, hal apakah juga yang Allah karuniakan kepada jemaat Filipi?
Tuhan ingin agar hidup kita berpadanan dengan Injil Kristus yang telah kita percaya dan terima.
Dimana hidup kita memiliki keteguhan iman baik secara pribadi maupun secara gereja dalam meresponi penderitaan, persoalan pribadi juga persoalan-persoalan yang terjadi di tengah jemaat sehingga tidak terjadi perpecahan dan kemunduran secara rohani namun terus mengalami kemenangan serta terus menyaksikan Injil bagi dunia ini.
Tuhan menganugerahkan kepada kita bukan hanya untuk percaya kepada Yesus tetapi juga menderita bagi Dia karena iman kita kepada Yesus.
“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.” (Yohanes 16:1-3).
Penderitaan ringan dan berat ini akan kita alami dalam pekerjaan di kantor kita, dalam sekolah, kampus, dalam berbisnis dan dalam berhubungan dengan pemerintahan.
Penderitaan yang kita alami bisa terjadi lewat perkataan, perbuatan dan juga secara mental, emosi dan fisik.
Namun kita harus meresponi semuanya dengan Firman Tuhan yang sudah kita terima sebagai Injil Kristus sehingga kita tetap berpadanan dengan Injil Kristus, tidak kompromi dan berbuat dosa.
Bukan hanya terhadap orang dunia, tetapi kadang-kadang juga terjadi di tengah-tengah jemaat dalam gereja.
Terjadi gesekan-gesekan, gosip, salah paham juga penghakiman yang dapat menimbulkan pertengkaran bahkan perpecahan dan tidak jarang jemaat berpindah-pindah gereja.
Dalam hal ini juga kita harus meresponi semuanya dengan hidup yang berpadanan dengan Injil Kristus.
Bahkan hal ini juga dapat terjadi ditengah-tengah keluarga dan rumah tangga kita, antara suami dan istri juga anak-anak yang dapat menimbulkan keterlukaan, perpecahan bahkan perceraian.
Kita harus hidup berpadanan dengan Injil Kristus artinya keyakinan kita terhadap Firman Tuhan yang merupakan iman kita harus berpadanan dalam kehidupan sehari-hari dalam meresponi setiap situasi yang kita hadapi sehingga kita memiliki cara hidup yang benar dimanapun kita berada sebagai respon kita terhadap Injil Kristus yang kita sudah terima dan percaya.
Tujuannya adalah supaya dalam semua situasi penderitaan yang kita alami Tuhan dimuliakan oleh dunia ini dan orang-orang yang ada di sekitar kita setelah mereka melihat kehidupan kita yang berpadanan dengan Injil Kristus (I Petrus 2:2).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara kesaksian hidup saudara terhadap dunia ini dalam sekolah, kuliah, pekerjaan yang menunjukkan saudara hidup berpadanan dengan Injil Kristus!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Yesaya 61:1!
Allah mengutus kita untuk membawa kabar apa?
Apakah yang akan dialami oleh orang-orang yang sengsara, orang-orang yang remuk hati, orang-orang tawanan dan orang yang terkurung dalam penjara ketika mendengar Kabar Baik?
Apakah yang akan dibangun oleh kita ketika kita menyampaikan Kabar Baik?
Allah mengurapi dan mengutus kita untuk menyampaikan kabar baik yaitu kabar sukacita tentang apa yang telah dikerjakan oleh Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya yang telah menebus setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Dosa telah menyebabkan manusia menuju maut, yaitu kematian yang kekal dimana manusia telah dipersembahkan dan dimiliki oleh iblis tetapi kasih karunia dari Yesus Kristus telah membebaskan manusia dari belenggu iblis.
Oleh sebab itu berita sukacita ini harus diceritakan kepada dunia supaya manusia beroleh kelegaan.
Berita sukacita apakah yang harus dialami oleh setiap orang yang percaya dan menerima karya Yesus bagi dunia ini?
Manusia dibebaskan dari hidup yang sengsara karena kuasa dosa dan kuasa iblis, dibebaskan dari kelemahan dan sakit penyakit, dibebaskan dari kemiskinan dan kutuk-kutuk kegagalan;
Manusia dirawat dari remuk hati yaitu luka-luka batin, trauma-trauma, ketakutan-ketakutan karena dibelenggu oleh maut sehingga mengalami kesembuhan batin dan hati.
Manusia dibebaskan dari tawanan dosa yang membuat manusia dibelenggu oleh maut dan dakwaan iblis sehingga manusia dapat hidup menang atas dosa dan dimerdekakan dari dosa;
Manusia dibebaskan dari penjara iblis, dimana kepemilikan hidup manusia pindah dari iblis kepada Yesus, pindah dari kerajaan maut kepada Kerajaan Allah;
Manusia berhak dengan kasih karunia Yesus yaitu pemberian yang cuma-cuma karena percaya kepada karya Yesus sehingga dimerdekakan dari dukacita dan perkabungan karena dosa sehingga dibenarkan oleh Allah;
Manusia dibebaskan dari dosa dan maut menjadi pribadi-pribadi yang dapat menyampaikan kabar baik dan kabar sukacita ini.
Tuhan ingin agar sebagai orang-orang yang telah menerima kabar sukacita ini kita menceritakan kabar baik ini kepada dunia yang terhilang melanjutkan hal yang telah dikerjakan oleh Yesus dua ribu tahun yang lalu.
Kitalah yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan kabar baik ini.
Hal-hal yang kita perlu pahami bahwa Allah pasti mengurapi kita untuk melakukannya dan kita harus minta agar diberikan oleh Allah belas kasihan bagi orang-orang yang ditawan oleh dosa dan iblis, kemudian melangkah untuk mengupayakan agar berita sukacita ini dapat disampaikan kepada setiap orang yang kita jumpai (Roma 10:1, Kolose 1:27-28).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara hal-hal apa saja yang saudara alami dan saudara lakukan sebagai bukti bahwa saudara sadari bahwa saudara diutus oleh Allah untuk menyampaikan Kabar Baik!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!
Apa yang Yesus baca dari kitab Yesaya, dan mengapa Ia memilih nas itu?
Apa arti kata “diurapi” dalam Lukas 4:18, dan bagaimana hal itu berlaku bagi kita hari ini?
Siapa saja yang menjadi sasaran misi Yesus (orang miskin, tawanan, buta, tertindas), dan bagaimana kita dapat menjangkau mereka?
“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin,…” (Lukas 4:18).
Ini adalah momen penting dalam sejarah keselamatan.
Yesus, yang baru saja dibaptis dan dicobai, kembali ke kota masa kecil-Nya.
Di sinilah, di rumah ibadat yang sederhana, Ia membuat pernyataan yang mengubah dunia.
Dengan membaca nubuat Yesaya, Yesus tidak sedang mengutip ayat lama; Ia sedang mendeklarasikan misi-Nya.
Ia menyatakan bahwa Roh Kudus telah mengurapi-Nya—bukan untuk menjadi raja secara politik, tetapi untuk membawa kabar baik kepada orang yang paling lemah.
Perhatikan bahwa Ia berhenti sebelum kalimat “dan hari pembalasan Allah kita” (Yesaya 61:2b), karena misi pertama-Nya adalah membawa rahmat, bukan penghakiman.
Ini adalah kabar baik bagi kita semua.
Pelayanan Yesus dimulai dan digerakkan oleh Roh Kudus.
“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku.”
Yesus tidak melakukan pekerjaan-Nya dengan kekuatan manusia.
Ia bergantung penuh pada Roh. Ini mengajarkan kita bahwa kita juga tidak bisa memberitakan Injil dengan kekuatan sendiri.
Kita butuh pengurapan Roh Kudus—pemberdayaan ilahi untuk melakukan pekerjaan yang melampaui kemampuan kita.
Tanpa Roh, kata-kata kita kosong. Dengan Roh, kabar baik yang kita bawa menjadi hidup dan berkuasa.
Karena itu, sebelum kita melayani, mintalah pengurapan Roh Kudus, sama seperti Yesus yang dipimpin dan diurapi oleh-Nya.
Injil yang dibawa Yesus bersifat holistik dan menjangkau semua lapisan masyarakat. Misi Yesus mencakup:
Kabar baik kepada orang miskin (yang lemah, terpinggirkan, dan yang sadar akan kebutuhan mereka).
Pembebasan bagi tawanan (mereka yang terbelenggu dosa, kebiasaan buruk, dan penindasan).
Penglihatan bagi orang buta (pemulihan perspektif dan pengenalan akan kebenaran).
Pembebasan bagi orang tertindas (pembelaan terhadap yang terinjak).
Ini menunjukkan bahwa Injil bukan hanya tentang “keselamatan jiwa” yang abstrak, tetapi tentang pemulihan seluruh kehidupan manusia.
Gereja dipanggil untuk menjadi saluran berkat yang menyeluruh—memberitakan firman sambil juga menunjukkan kasih melalui tindakan nyata kepada yang miskin dan tertindas.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Berdoalah untuk Pengurapan Roh Kudus Setiap Hari.
Sebelum kamu bersaksi, melayani, atau bahkan memulai aktivitas harian, berdoalah: “Roh Kudus, penuhilah aku. Urapilah perkataanku dan tindakanku hari ini.”
Tanpa pengurapan, pelayanan kita hanya aktivitas biasa.
Dengan pengurapan, kita menjadi alat yang hidup di tangan Tuhan.
Kedua, Jadilah Kabar Baik yang Konkret bagi Orang Lain.
Lihatlah di sekitarmu: siapa yang “miskin” secara ekonomi, emosional, atau rohani? Siapa yang “tertawan” oleh kesedihan atau keputusasaan? Mulailah dengan tindakan kecil: berikan makanan, tawarkan doa, atau dengarkan keluhan mereka.
Dengan melakukan ini, kamu sedang meneruskan misi Yesus, dan kabar baik yang kamu bawa menjadi nyata di hadapan mereka.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana mengetahui kita sudah diurapi untuk membawa kabar baik.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!
Apa syarat utama untuk diselamatkan menurut Roma 10:13, dan apa yang membuat syarat ini terbuka bagi semua orang?
Mengapa Paulus mengajukan pertanyaan berantai dalam ayat 14-15 (bagaimana mereka percaya, mendengar, dan diberitakan)? Apa maksudnya?
Apa artinya “kaki yang indah” (ayat 15), dan bagaimana kita bisa memiliki “kaki yang indah” di zaman sekarang?
“…Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Roma 10:15).
Bayangkan seorang utusan yang berlari melintasi padang pasir, melewati medan yang terjal dan berbahaya, hanya untuk menyampaikan kabar bahwa perang telah usai dan damai telah tiba.
Orang-orang di kota yang menantikan kabar itu akan menyambutnya dengan sukacita.
Betapa indahnya kaki orang yang membawa kabar baik! Paulus menggunakan gambaran ini untuk menunjukkan betapa berharganya pemberita Injil.
Kabar baik yang mereka bawa bukan sekadar kabar biasa, tetapi kabar tentang keselamatan: bahwa Allah telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya melalui Yesus Kristus.
Hari ini, kita mungkin tidak berlari melintasi padang pasir, tetapi kita dipanggil untuk membawa kabar yang sama kepada orang-orang di sekitar kita.
Keselamatan diberikan kepada siapa pun yang berseru kepada nama Tuhan.
Tidak ada batasan suku, agama, status, atau masa lalu.
Siapa pun yang dengan iman memanggil nama Yesus akan diselamatkan.
Ini adalah kabar baik yang luar biasa! Tetapi Paulus menunjukkan bahwa orang tidak bisa berseru jika mereka tidak percaya, dan mereka tidak bisa percaya jika mereka tidak mendengar, dan mereka tidak bisa mendengar jika tidak ada yang memberitakan.
Maka, pemberitaan Injil bukanlah pilihan, tetapi keharusan.
Kita memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kabar baik ini.
Bukan karena kita hebat, tetapi karena kita telah menerima kasih karunia yang sama dan kita ingin orang lain juga menerimanya.
“Kaki yang indah” melambangkan kesediaan untuk pergi dan memberitakan kabar baik.
Ini bukan tentang penampilan fisik, tetapi tentang kesediaan untuk melangkah keluar dari zona nyaman.
Para utusan di zaman Yesaya harus berlari jauh, melewati bahaya, dan menghadapi ketidakpastian.
Demikian pula, memberitakan Injil seringkali membutuhkan pengorbanan: waktu, tenaga, bahkan mungkin menghadapi penolakan.
Tetapi Paulus berkata bahwa kaki itu indah – bukan karena nyaman, tetapi karena tujuan yang mulia.
Setiap langkah yang diambil untuk membawa kabar keselamatan adalah langkah yang berharga di mata Tuhan.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Berdoalah dan Mintalah Keberanian untuk Bersaksi.
Tidak semua orang dipanggil untuk menjadi penginjil di negeri asing, tetapi semua orang percaya dipanggil untuk menjadi saksi di tempat mereka masing-masing.
Mulailah dengan berdoa: “Tuhan, berikan aku keberanian untuk berbicara tentang kasih-Mu kepada orang-orang di sekitarku.”
Kedua, Jadilah Kabar Baik Melalui Hidupmu.
Sebelum orang mendengar kabar baik dari mulutmu, mereka akan melihatnya dari hidupmu.
Tunjukkan kasih, kebaikan, dan pengampunan dalam tindakan sehari-hari.
Dengan begitu, perkataanmu tentang Yesus akan terdengar lebih meyakinkan.
Siapa tahu, melalui satu langkah kecilmu hari ini, seseorang bisa berseru kepada nama Tuhan dan diselamatkan.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana hubungan kesaksian hidup dengan berita injil.