Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut ayat 4, siapa yang sebenarnya menjadi pengabar Injil utama saat penganiayaan terjadi? Apa implikasinya bagimu?
Apa hubungan antara pemberitaan tentang “Mesias” (ayat 5) dengan “tanda-tanda” (ayat 6-7) yang menyertainya?
Hasil akhir dari pemberitaan Filipus adalah “sukacita yang besar” (ayat 8). Apakah pelayanan/pemberitaanmu selama ini cenderung menghasilkan beban/rasa bersalah atau sukacita? Mengapa?
“Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. (Kisah Para Rasul 8:4).
Kitab Kisah Para Rasul mencatat pola kerja Allah yang sering kali paradoks.
Penganiayaan yang tampak seperti bencana bagi gereja mula-mula justru menjadi strategi Allah untuk memperluas wilayah Kerajaan-Nya.
Ketika gereja yang nyaman di Yerusalem dipaksa untuk berpencar, mereka tidak lari untuk bersembunyi, melainkan lari sambil “memberitakan Firman” (ayat 4).
Latar belakang ini mengajarkan kita bahwa rencana Tuhan untuk penginjilan seringkali berjalan melalui jalan yang tidak nyaman, penuh tekanan, dan bahkan menyakitkan.
Namun, di dalam setiap krisis dan penyerakan, tersembunyi sebuah mandat misi.
Ketika kita merasa “tersebar” karena tekanan hidup, pekerjaan, atau keadaan, Tuhan memanggil kita untuk menjadi saksi di tempat baru kita.
Injil yang sejati bukan hanya informasi tentang Kristus, tetapi juga demonstrasi kuasa Kerajaan Allah.
Filipus tidak hanya berbicara tentang Mesias; ia “memberitakan Mesias” disertai dengan pembebasan dan penyembuhan.
Kuasa ini adalah bagian integral dari pesan itu sendiri, karena ia membuktikan bahwa Yesus yang disalibkan dan bangkit itu adalah Tuhan yang berkuasa atas roh-roh jahat, penyakit, dan segala kutuk.
Kuasa ini menarik perhatian dan membuka hati (ayat 6), sehingga orang-orang “memperhatikan” pemberitaannya.
Prinsip ini mengoreksi kecenderungan kita untuk memisahkan pemberitaan verbal dari pelayanan kuasa. Injil yang diberitakan dengan kuasa adalah pesan yang mengubah realitas.
Kuasa Injil Menciptakan Sukacita yang Mengubah Masyarakat.
Kuasa Injil tidak hanya menyembuhkan individu, tetapi menciptakan atmosfer kolektif, sebuah transformasi sosial.
Kota yang sebelumnya mungkin diliputi oleh ketakutan, penyakit, dan penindasan roh-roh jahat, kini dipenuhi dengan sukacita karena mengalami pembebasan.
Sukacita ini adalah tanda kehadiran Kerajaan Allah (Roma 14:17).
Prinsipnya adalah bahwa pemberitaan Injil yang disertai kuasa ilahi tidak berhenti pada keselamatan pribadi, tetapi membawa pemulihan dan kegembiraan yang berdampak pada komunitas.
Injil yang penuh kuasa adalah berita baik yang menghasilkan kegembiraan yang nyata dan menular.
Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Jadilah Pemberita Injil di Tempat ” kamu terpencar”.
Apapun keadaanmu—baik karena pindah kerja, studi, atau tekanan—lihatlah dirimu sebagai seorang Filipus yang diutus.
Berdoalah untuk keberanian dan kesempatan untuk “memberitakan Firman” (secara verbal dan dengan hidup) di lingkungan barumu.
Kedua, Gabungkan Pemberitaan dengan Doa untuk Tanda-tanda Kuasa.
Saat memberitakan Kristus kepada orang lain, jangan hanya mengandalkan argumentasi.
Doakan juga secara spesifik untuk kebutuhan mereka—beban emosional, sakit fisik, atau ikatan dosa.
Percayalah bahwa Tuhan ingin menyatakan kuasa-Nya sebagai konfirmasi atas Firman-Nya.
Ketiga, Bawalah Injil yang Menghasilkan Sukacita ke Komunitasmu.
Tujuan pelayananmu bukan hanya “memenangkan jiwa” secara statistik, tetapi membawa atmosfer sukacita ilahi ke dalam komunitasmu.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki sikap hati yang “miskin dihadapan Allah” sehingga terus merasa haus dan lapar kepada Allah.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut ayat 12-13, apa hubungan antara kekudusan/rasa takut akan Tuhan dalam jemaat dengan kuasa mujizat yang dinyatakan?
Respons orang banyak membawa orang sakit ke jalan (ayat 15) menunjukkan jenis iman seperti apa? Bagaimana kita bisa memiliki iman yang aktif seperti itu?
“Mereka semua disembuhkan” (ayat 16). Bagaimana janji kuasa Kristus yang sempurna ini seharusnya memengaruhi doa dan pengharapan kita untuk orang-orang yang sakit dalam lingkup pengaruh kita?
“Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan” (Kisah Para Rasul 5:16).
Kitab Kisah Para Rasul mencatat gereja yang lahir dalam kuasa Roh Kudus.
Setelah peristiwa Pentakosta, gereja bukan hanya bertumbuh dalam jumlah, tetapi juga dalam pengaruh dan otoritas spiritual.
Latar belakang perikop ini adalah gereja yang menjaga kekudusan (pelajaran dari Ananias dan Safira) dan karena itu menjadi saluran yang jernih bagi kuasa Allah.
Ketika gereja hidup dalam kesatuan, ketakutan akan Tuhan, dan integritas, kuasa Kristus untuk menyembuhkan dan membebaskan dapat mengalir dengan bebas.
Komunitas seperti ini menjadi magnet bagi orang-orang yang terluka dan sakit, tetapi sekaligus menciptakan rasa hormat dan takut akan kekudusan Allah.
Ini mengingatkan kita bahwa kuasa ilahi bekerja optimal dalam wadah yang kudus.
Kuasa Kristus yang menyembuhkan memancar melalui kehidupan orang-orang yang sepenuhnya berkomitmen kepada-Nya.
Para rasul tidak memiliki kuasa dari diri mereka sendiri; kuasa itu adalah milik Kristus yang bekerja melalui mereka.
Namun, kehidupan mereka yang penuh dedikasi, keberanian (di tengah ancaman), dan integritas menjadikan mereka “saluran” yang efektif.
Bahkan bayangan Petrus pun dipercaya membawa kesembuhan, yang menunjukkan betapa kuatnya kehadiran dan otoritas Kristus yang melekat pada hidupnya.
Prinsip ini menantang kita: seberapa jauh hidup kita dipersembahkan sebagai saluran yang kudus dan siap dipakai untuk menyatakan kuasa penyembuhan-Nya?
Kuasa itu tidak bekerja melalui kemampuan kita, tetapi melalui kesediaan dan kekudusan hidup kita.
Kuasa Penyembuhan Menarik Banyak Orang kepada Kristus dan Membawa Pemulihan Total.
Tanda dan mujizat bukan untuk sensasi atau meninggikan sang rasul.
Hasilnya adalah: (1) “jumlah orang yang percaya… bertambah” (ayat 14), dan (2) “mereka semua disembuhkan” (ayat 16).
Kuasa penyembuhan membawa buah penginjilan—orang datang dan percaya kepada Tuhan.
Selain itu, penyembuhan yang dilakukan bersifat menyeluruh dan tanpa kecuali.
Ini menunjukkan sifat Kerajaan Allah yang membawa pemulihan total—roh, jiwa, dan tubuh.
Kristus peduli dengan penderitaan manusia secara holistik. Ketika gereja dengan tulus mendoakan dan melayani orang sakit dengan iman, itu menjadi kesaksian nyata tentang kasih dan kuasa Kristus yang hidup, yang dapat melembutkan hati yang paling keras sekalipun.
Hal-hal Praktis untuk Melakukan Firman Pertama, Jadilah Komunitas yang Kudus dan Berintegritas.
Kuasa Allah mengalir dalam saluran yang bersih.
Evaluasi hidup pribadi dan komunitas imanmu: apakah ada kompromi, kemunafikan, atau dosa yang ditutup-tutupi? Bereskanlah di hadapan Tuhan.
Bangunlah hubungan yang jujur dan saling menguatkan dalam komunitasmu, karena ini adalah fondasi bagi pelayanan kuasa.
Kedua, Berdoalah dengan Iman bagi yang Sakit dan Terbelenggu.
Jangan ragu untuk mendoakan orang sakit dengan iman bahwa Kristus masih berkuasa menyembuhkan hari ini.
Lakukan dalam otoritas nama Yesus, bukan dengan mengandalkan kekuatan sendiri.
Ajaklah orang lain untuk sepakat dalam doa.
Percayalah bahwa doa orang benar sangat besar kuasanya.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, diskusikan bagaimana melayani dengan kuasa Allah.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut Yesus dalam nas ini, apa tujuan dari pengurapan Roh Tuhan?
Aspek mana dari misi Yesus (kabar baik, pembebasan, penglihatan, pembebasan tertindas) yang paling relevan dengan konteks masyarakat di sekitarmu saat ini?
Langkah praktis apa yang dapat kamu ambil minggu ini untuk menjadi alat pembebasan dalam satu aspek tersebut?
“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18-19)
Lukas mencatat bahwa Yesus tumbuh dalam ketaatan dan hikmat (Lukas 2:52).
Kembali ke Nazaret, tempat Ia dikenal sebagai “anak tukang kayu,” Yesus memilih momen yang penuh makna untuk secara resmi menyatakan misi-Nya.
Ia melakukannya bukan di istana atau Bait Allah di Yerusalem, tetapi di rumah ibadat kecil di kota kecil, di tengah orang-orang yang mengenal-Nya sejak kecil.
Latar belakang ini mengajar kita bahwa panggilan dan pengurapan ilahi seringkali dinyatakan dalam konteks yang akrab dan biasa.
Allah memilih untuk memulai revolusi kasih karunia-Nya dari tempat yang tidak terduga, melalui pribadi yang dianggap biasa, dengan sebuah manifesto yang mengubah sejarah: pembebasan telah tiba.
Kehadiran dan pengurapan Roh Tuhan selalu bertujuan untuk pelayanan pembebasan.
Yesus menyatakan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku”.
Pengurapan ini bukan untuk kemuliaan pribadi, status, atau kekuasaan, tetapi untuk sebuah misi: menyampaikan kabar baik, memberitakan pembebasan, memulihkan penglihatan, dan membebaskan yang tertindas.
Ini adalah pola ilahi.
Jika kita mengaku memiliki Roh Kristus, maka hidup kita juga harus diarahkan untuk tujuan yang sama: menjadi alat pembebasan di dunia yang masih terbelenggu oleh dosa, keputusasaan, ketidakadilan, dan penindasan dalam berbagai bentuknya.
Keperkasaan rohani diukur dari dampak pembebasannya bagi orang lain.
Misi pembebasan yang holistik. Yesus tidak hanya datang untuk “menyelamatkan jiwa” dalam artian yang sempit. Ia datang untuk:
Menyampaikan kabar baik kepada orang miskin (pengharapan bagi yang bangkrut secara materi dan rohani).
Memberitakan pembebasan kepada orang tawanan (kebebasan dari dosa, adiksi, dan pola pikir yang menghambat).
Penglihatan bagi orang buta (pemulihan perspektif, tujuan, dan pengenalan akan kebenaran).
Membebaskan orang yang tertindas (pembelaan terhadap yang lemah dan terinjak).
Misi-Nya menjangkau seluruh aspek manusia yang rusak. Ini berarti gereja dan setiap pengikut Kristus dipanggil untuk terlibat dalam pelayanan yang memulihkan secara utuh—memberitakan Injil dan bertindak adil, menyembuhkan hati dan menolong yang lemah.
Hal-hal Praktis untuk Melakukan Firman Pertama, Kenali dan Gunakan “Pengurapan” Anda di Lingkungan Anda.
Seperti Yesus di Nazaret, lihatlah di sekelilingmu.
Di lingkungan keluarga, pekerjaan, atau komunitasmu, bidang apa yang membutuhkan “kabar baik” atau “pembebasan”?
Apakah ada orang yang “miskin” secara relasi, “tertawan” oleh kebiasaan buruk, atau “tertindas” secara emosional?
Jadilah saluran pengurapan Roh dengan mendekati mereka dalam kasih.
Kedua, Jadilah Pembawa Kabar Baik yang Aktif.
Jangan simpan iman Anda untuk diri sendiri.
Bagikan pengharapan dari Firman Tuhan kepada yang putus asa.
Doakan dan bantu mereka yang merasa terbelenggu untuk menemukan kebebasan dalam Kristus.
Itu bisa dimulai dari mendengarkan dan mendoakan.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya melayani dengan penuh pengurapan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Dari sifat-sifat Roh dalam ayat 2, mana yang paling kamu butuhkan saat ini, dan mengapa?
Menurut ayat 3-4, bagaimana cara Mesias menghakimi? Bagaimana kamu bisa menerapkan prinsip itu dalam menilai orang atau situasi?
Apa arti “ikat pinggang kebenaran dan kesetiaan” (ayat 5) dalam keseharian hidup dan pekerjaanmu?
“Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang”. (Yesaya 11:2-3).
Nubuat Yesaya diberikan di tengah masa suram.
Kerajaan Daud yang dahulu jaya telah menjadi seperti “tunggul” yang ditebang—tampaknya mati tanpa harapan.
Latar belakang ini mengajarkan kita bahwa Allah sering kali bekerja justru dari titik nol, dari reruntuhan, dari sesuatu yang dianggap sudah tidak berguna.
Di saat umat kehilangan pemimpin yang layak dan masa depan terlihat gelap, Tuhan membangkitkan pengharapan tentang seorang Pemimpin sejati yang sumber kekuatannya bukan dari keturunan, kekayaan, atau pasukan, tetapi dari Roh TUHAN sendiri.
Renungan ini mengingatkan kita bahwa di tengah kehancuran pribadi, keluarga, atau bangsa, Tuhan tetap memegang kendali dan memiliki rencana pemulihan yang ajaib.
Prinsip kebenaran terletak pada tujuh sifat Roh yang dicurahkan atas Sang Tunas (ayat 2).
Ini bukanlah kualitas yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang menggambarkan kepenuhan dan keseimbangan.
Hikmat dan pengertian (kapasitas kognitif dan spiritual) harus disertai nasihat dan keperkasaan (kapasitas eksekutif dan tindakan).
Semuanya berakar pada pengenalan dan takut akan TUHAN (hubungan vertikal yang intim).
Inilah sumber keperkasaan sejati. Sering kali kita mencari keperkasaan dalam bentuk kekuasaan, kecerdasan, atau keterampilan.
Namun, keperkasaan sejati untuk memimpin hidup kita dan mempengaruhi dunia dimulai dari kebergantungan total pada Roh Tuhan yang memberikan keseimbangan karakter dan integritas yang utuh.
Kepenuhan Roh selalu terwujud dalam tindakan keadilan dan kebenaran yang membela orang yang lemah (ayat 3-5).
Roh Tuhan tidak menghasilkan pengalaman spiritual yang egois atau pasif.
Sebaliknya, Roh yang sama yang memberikan hikmat dan keperkasaan, juga mendorong untuk membela yang miskin dan tertindas, dan menghukum yang fasik.
Keperkasaan rohani diuji dalam komitmen pada keadilan. Pemerintahan Mesias digambarkan dengan “tongkat yang diucapkan-Nya” (firman yang berkuasa) dan “nafas yang dihembuskan-Nya” (otoritas spiritual).
Ini menunjukkan bahwa keadilan sejati berasal dari hati yang dipimpin Roh dan diwujudkan dengan ketegasan ilahi.
Hal-hal praktis melakukan firman Tuhan.
Pertama, Berdoalah untuk selalu dipenuhi Roh Kudus.
Dalam doa-doa pribadi, mintalah secara spesifik: “Tuhan, penuhilah aku dengan Roh hikmat-Mu untuk memahami kehendak-Mu, Roh keperkasaan untuk taat, dan Roh takut akan Engkau sebagai dasar hidupku.”
Jadikan ini permohonan harian.
Kedua, Periksa Motivasi dalam Pengambilan Keputusan.
Sebelum mengambil keputusan penting (besar atau kecil), tanyakan: “Apakah keputusan ini didasari oleh keinginan untuk terlihat hebat (penampilan) atau gosip (kata orang), ataukah oleh keadilan dan kebenaran seperti Mesias?”
Berlatihlah menghakimi dengan benar.
Ketiga, Jadilah Pembela yang Lembut dan Tegas.
Dalam lingkup pengaruhmu (keluarga, pekerjaan, komunitas), belalah mereka yang tidak bersuara.
Itu bisa dengan menolak gosip, mendukung yang dipinggirkan, atau menegur ketidakadilan dengan cara yang bijak dan berani.
Kenakan “kebenaran dan kesetiaan” sebagai identitasmu.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya mengalami kehadiran Roh Kudus yang memberi keperkasaan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dilakukan Paulus dan Silas pada tengah malam saat di penjara?
Apa yang menyebabkan sendi-sendi penjara goyah, belenggu yang mengikat mereka terbuka, dan pintu-pintu penjara terbuka?
Mengapa kepala penjara hendak membunuh dirinya?
Apa yang dikatakan kepala penjara kepada Paulus dan Silas?
Saudara, ketika Paulus bersama Silas berada di Filipi, pada suatu hari Sabat mereka menyusuri sungai untuk mencari rumah sembahyang orang Yahudi yang mereka duga berada di daerah itu.
Setelah menemukan tempat tersebut, mereka masuk dan duduk, lalu bercakap-cakap dengan perempuan-perempuan di sinagoge itu.
Salah seorang dari perempuan-perempuan itu bernama Lidia, turut mendengarkan apa yang disampaikan oleh Paulus.
Lidia adalah seorang penjual kain ungu yang terkenal dari kota Tiatira.
Tuhan membuka hatinya sehingga ia sungguh-sungguh memperhatikan apa yang disampaikan oleh Paulus.
Lidia percaya kepada pemberitaan Rasul Paulus, dan ia bersama seisi rumahnya dibaptiskan sebagai tanda iman mereka.
Setelah Lidia percaya, ia meminta dan memohon agar Rasul Paulus dan Silas berkenan tinggal dan menumpang di rumahnya.
Pada suatu hari, ketika mereka kembali melayani di rumah sembahyang itu, mereka bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki roh tenung.
Perempuan ini telah memperkaya tuan-tuannya, karena ia bekerja sebagai peramal di kota itu.
Perempuan tersebut sering mengikuti rombongan Rasul Paulus sambil berseru, “Orang-orang ini adalah hamba-hamba Allah Yang Mahatinggi.
Mereka memberitakan kepadamu jalan keselamatan.”
Namun, ketika Rasul Paulus tidak tahan lagi terhadap gangguan yang dilakukan oleh perempuan itu, maka Paulus berpaling dan mengusir roh jahat, yaitu roh tenung dari perempuan tersebut.
Rasul Paulus memerintahkan roh itu dengan berkata, “Demi nama Yesus Kristus, aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini.” Seketika itu juga roh jahat itu keluar.
Ketika tuan-tuan yang mempekerjakan perempuan itu menyadari bahwa mereka kehilangan keuntungan, maka mereka menangkap Rasul Paulus dan Silas dan membawa mereka menghadap penguasa kota.
Mereka berkata, “Orang-orang ini mengacau kota kita.
Mereka orang Yahudi dan mengajarkan adat-istiadat mereka, yang tidak boleh kita orang Romawi terima atau ikuti.”
Orang banyak pun bangkit menentang Paulus dan Silas.
Lalu penguasa kota itu memerintahkan agar pakaian mereka dikoyakkan dan memerintahkan Paulus dan Silas untuk di sesah atau di dera.
Setelah merka di dera atau di cambuk, mereka dilemparkan ke dalam penjara.
Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh, sehingga Paulus dan Silas dimasukkan ke penjara yang paling tengah dan kaki mereka dipasung dengan kuat.
Namun, Rasul Paulus senantiasa melakukan kebenaran firman Tuhan:
Filipi 4:4-7“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Pada tengah malam, Rasul Paulus dan Silas berdoa dan memuji Tuhan dengan menyanyikan puji-pujian, sehingga para tahanan dan orang-orang yang dihukum lainnya mendengar nyanyian mereka.
Akan tetapi terjadilah gempa yang dahsyat, sehingga rumah tahanan berguncang hebat, dan tiba-tiba semua pintu terbuka serta belenggu mereka terlepas.
Ketika kepala penjara terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh dirinya, karena ia menyangka semua tahanan telah melarikan diri.
Namun Paulus berteriak dengan suara nyaring, “Jangan celakakan dirimu, sebab kami semua masih ada di sini!”
Kepala penjara kemudian menyuruh agar dibawakan suluh.
Ia berlari masuk dan dengan gemetar tersungkur di hadapan Paulus dan Silas.
Ia mengantar mereka keluar sambil berkata, “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat supaya aku selamat?”
Kisah Para Rasul 16:31“Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”
Lalu Rasul Paulus dan Silas dibawa keluar, dan bilur-bilur mereka dibasuh.
Mereka memberitakan firman kepada kepala penjara dan seisi rumahnya.
Kepala penjara beserta seluruh keluarganya percaya dan dibaptis.
Mereka dibawa ke rumah kepala penjara, kemudian kepala penjara menghidangkan makanan dan bergembira karena dirinya beserta seisi rumahnya menjadi percaya kepada Allah.
Dari pelajaran ini, kita belajar bahwa meskipun menghadapi banyak persoalan, kita tetap harus belajar bahwa:
Roma 8:28“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Kita lihat, melalui duka cita Rasul Paulus dan Silas, kesakitan saat di sesah dan dipenjara, namun justru terjadi keselamatan bagi kepala penjara dan seisi rumahnya.
Jadi, dalam kesusahan dan penderitaan apapun, pujilah Tuhan dan senantiasa ucapkan syukur.
Dengan demikian, kuasa pengucapan syukur bekerja dan senantiasa memberitakan Injil Kerajaan Allah supaya banyak orang yang mendengar akan diselamatkan ketika mereka percaya dan dibaptiskan.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa penderitaan orang percaya bisa mendatangkan keselamatan bagi mereka yang bersimpati dan hatinya terbuka saat melihat kedukaan orang percaya itu?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Kepada siapa Yesus menyampaikan perkataan-Nya dalam ayat-ayat firman Tuhan ini?
Dalam mengikut Yesus, apa yang harus disangkal atau ditiadakan?
Bagaimana cara menyelamatkan nyawa kita?
Apa upah bagi mereka yang kehilangan nyawa mereka?
Apa yang dapat kita berikan sebagai ganti nyawa kita?
Saudara, Tuhan Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya:
Matius 16:24-26“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”
Dengan lugas, Yesus menyampaikan pernyataan seperti yang tertulis dalam ayat firman Tuhan di atas.
Bagaimana sikap kita terhadap pernyataan Yesus ini?
Saudara, menyangkal diri berarti meniadakan keinginan-keinginan yang timbul dalam diri kita.
Karena itu, kita perlu bergaul dengan Tuhan supaya kita mengerti apa yang harus kita sangkal dari diri kita sendiri.
Apakah itu keinginan, cita-cita, mimpi-mimpi kita, atau hal-hal lain yang Tuhan minta untuk kita?
Jika kita renungkan, Tuhan menginginkan seluruh hidup kita. Tuhan ingin agar kita mengikut Dia, seperti murid-murid-Nya.
Yesus berkata kepada Simon Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes, Filipus, Natanael, serta Lewi atau Matius, pemungut cukai, “Ikutlah Aku.”
Dan mereka semua mengikut Yesus serta meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Dia.
Para nelayan itu dipanggil supaya mereka dijadikan penjala manusia. Kepada Filipus dan Natanael, Yesus menyatakan:
Yohanes 1:45-51“Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”
Saudara, kepada murid-murid-Nya Yesus menyatakan segala sesuatu bukan dengan perumpamaan atau teka-teki, melainkan dengan cara yang berterus terang, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir, kecuali untuk perumpamaan tentang ragi orang Yahudi:
Markus 8:14-21“Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.” Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Dua belas bakul.” “Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Tujuh bakul.” Lalu kata-Nya kepada mereka: “Masihkah kamu belum mengerti?”
Saudara, ketika Yesus berbicara tentang ragi orang Farisi dan ragi Herodes, para murid justru membicarakan soal tidak membawa roti.
Terjadi kesalahpahaman, karena mereka menganggap ragi identik dengan roti sebagai makanan.
Padahal, mereka sudah mengalami sendiri bahwa kekurangan roti tidak pernah menjadi masalah dalam pelayanan Yesus Kristus, sebab Yesus selalu mampu melakukan mujizat.
Ragi yang dimaksud adalah pengaruh kejahatan atau pencemaran terhadap ajaran yang benar.
Misalnya, ragi orang Farisi menunjuk pada tradisi keagamaan mereka ketika tradisi tersebut mengesampingkan perintah Allah yang benar, sehingga bagian-bagian dari firman dan kehendak-Nya tidak lagi berlaku:
Markus 7:5-13“Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban–yaitu persembahan kepada Allah–, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”
Saudara, ragi orang Farisi adalah legalisme. Seorang legalis menggantikan sikap batin yang seharusnya lahir dari kelahiran baru dan karya Roh Kudus dengan perbuatan atau perkataan yang bersifat lahiriah.
Orang seperti ini memuliakan Tuhan Allah dengan bibir, tetapi hatinya jauh dari Dia.
Dari luar mereka tampak benar, namun sesungguhnya hati mereka tidak mengasihi Tuhan.
Saudara, Tuhan Yesus dengan lugas menyatakan:
Lukas 9:23-25“Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”
Saudara, Yesus menghendaki agar para pengikut-Nya rela memikul salib dan mengikut Dia.
Bagaimana hal ini bagi kita pada hari ini? Salib apa yang sedang kita pikul saat ini?
Apakah itu salib yang kita ciptakan sendiri karena kesalahan kita?
Tuhan ingin kita memikul salib Kristus dan mengikut Dia.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Salib apa yang harus kita pikul saat ini agar kita dapat mengikut Yesus dengan setia?