Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Mazmur 101:2.
Apakah kerinduan dari pemazmur agar dia hidup tidak bercela di hadapan Tuhan?
Hal-hal apakah yang tidak diletakkan di depan matanya?
Hati yang bagaimanakah yang ingin terus dibaharui di dalam hati pemazmur?
Allah menginginkan agar kita senantiasa memiliki hati yang tulus dihadapan-Nya karena Yesus telah menyucikan hati nurani kita dengan darah-Nya.
“Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.”(Ibrani 9:13-14).
Karena kita telah memiliki hati nurani yang telah disucikan oleh darah Yesus maka kita dapat hidup dengan hati yang tulus dihadapan Allah.
“Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.” (Ibrani 10:22).
Setiap kita yang memiliki hati yang tulus ikhlas maka kita akan memiliki perbuatan, perkataan yang tulus ikhlas juga.
“Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.”(I Petrus 1:22).
Bahkan setiap aspek kehidupan kita selalu mengamalkan ketulusan demi ketulusan yang tidak mengenal pamrih.
“Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah.”(II Korintus 1:12).
Allah akan membalaskan ketulusan hati kita dihadapan-Nya dengan perlindungan dan kebaikan-kebaikan-Nya.
“Lakukanlah kebaikan, ya TUHAN, kepada orang-orang baik dan kepada orang-orang yang tulus hati; tetapi orang-orang yang menyimpang ke jalan yang berbelit-belit, kiranya TUHAN mengenyahkan mereka bersama-sama orang-orang yang melakukan kejahatan. Damai sejahtera atas Israel!”(Mazmur 125:4-5).
“Jalan TUHAN adalah perlindungan bagi orang yang tulus, tetapi kebinasaan bagi orang yang berbuat jahat.”(Amsal 10:29).
Bagi setiap kita yang hidup dalam ketulusan hati dihadapan Tuhan maka kita senantiasa hidup tidak bercela, tidak hidup dalam perkataan-perkataan yang dursila dan yang jahat serta memiliki pikiran dan perasaan seperti Yesus, tidak sombong, mau mengosongkan diri, rendah hati dan tidak mementingkan diri sendiri.
Oleh sebab itu, marilah kita senantiasa menjaga hati kita dengan Firman Tuhan agar tetap hidup dengan hati yang tulus.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara tetap konsisten hidup dalam hati yang tulus ikhlas sehingga tidak berbuat dosa dan kejahatan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Amsal 4:23.
Perkataan siapakah yang harus kita simpan dan perhatikan dalam kehidupan sehari-hari?
Apakah yang akan kita alami jika senantiasa menyimpan dan memperhatikan perkataan-perkataan Tuhan?
Oleh karena itu, apakah yang harus kita jaga supaya kehidupan ilahi senantiasa terpancar melalui kehidupan kita?
Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya suatu prinsip hidup bahwa apa yang keluar dari mulut dapat menajiskan orang karena apa yang keluar dari mulut berasal dari hati mereka dan jika hati mereka penuh dengan dosa maka akan menajiskan orang yang akan mendengar perkataan mereka.
“Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” (Matius 15:11,17-19).
Oleh sebab itu kita harus menjaga hati kita agar mengalir kehidupan Kristus yang dapat membangun kita dan membangun orang lain bahkan kita dapat mengalami realita Kristus.
”Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”(Amsal 4:23).
”Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”(Matius 5:8).
“Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?” “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.”(Mazmur 24:3-4).
Ketika kita menjaga hati kita maka akan mengalirkan kehidupan Kristus yang tinggal di dalam hati kita diantaranya adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri dan kita tidak mungkin mengalirkan kehidupan kedagingan.
Oleh sebab itu, jalan yang terbaik untuk kita menjaga hati kita maka kita harus senantiasa mengisi hati kita dengan Firman Tuhan dan jika kita mengisinya dengan Firman Tuhan maka akan mengalirkan perkataan dan perbuatan Kristus sehingga kita dapat mengalami realita Kristus dengan hati yang diisi oleh Firman Tuhan.
”Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”(Mazmur 119:11).
”Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.”(Mazmur 119:9).
Menjaga hati dengan Firman Tuhan membuat hati kita dipenuhi oleh Firman Tuhan maka Firman Tuhanlah yang menggerakkan kehidupan kita untuk mengalami realita Kristus sehingga perkataan, pikiran dan perbuatan kita membuahkan realita Kristus.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara senantiasa menjaga hati dengan memenuhinya dengan Firman Tuhan sehingga saudara selalu mengalami realita Kristus.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Wahyu 22:12.
Ketika Yesus datang kedua kalinya ke dunia ini apakah yang dilakukannya bagi kita?
Siapakah orang-orang yang memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan?
Siapakah orang-orang yang tinggal diluar dari pohon-pohon kehidupan dan diluar pintu-pintu gerbang?
Tuhan berjanji bahwa pada akhirnya Dia akan memisahkan antara umat-Nya dan bukan umat-Nya ketika di dalam kekekalan, dimana orang-orang yang membasuh jubahnya dari kenajisan dan roh-roh dunia ini akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang kekekalan tetapi anjing-anjing dan tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukan dusta akan tinggal diluar pintu gerbang kekekalan. Tuhan sendiri yang membuat pemisahan.
Oleh sebab itu, Tuhan ingin agar kita hidup di dalam kekudusan karena kekudusan dapat membedakan antara orang benar dan orang berdosa.
Hidup kita dipisahkan dari pola hidup dunia ini dan menjadikan Tuhan sebagai Allah dan Bapa kita.
“Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.”(II Korintus 6:16-18).
Kita memang masih tinggal di dunia ini, namun kita harus memisahkan diri dari dunia ini maksudnya adalah kita harus memiliki pola pikir, gaya hidup, perkataan dan perbuatan yang berbeda dari dunia ini dimana kita merepresentasikan pola pikir, gaya hidup, perkataan dan perbuatan Bapa.
Dalam hal perkataan maka Tuhan ingin agar kita selalu memiliki perkataan jujur dan bukan dusta, demikian juga perbuatan.
Dunia mengajarkan bahwa dusta itu tidak apa-apa demi keselamatan atau demi ada jalan keluar di masa-masa atau keadaan yang terjepit.
Namun Tuhan dengan tegas mengatakan bahwa ”jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak karena selebihnya berasal dari si jahat”, bahkan di dalam kehidupan umat Tuhan pun Tuhan ingin supaya kita tidak saling berdusta.
”Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya.” (Kolose 3:9).
Dan kekudusan inilah yang memisahkan kita dari dunia ini walaupun kita masih tinggal di dunia ini yang membuat kita berbeda dari dunia ini.
”Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (I Petrus 1:15-16).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara mengalami pemisahan dari dunia ini karena hidup kudus dalam perkataan dan perbuatan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Wahyu 21:8.
Kepada siapakah Allah memberi minum secara cuma-cuma dari mata air kehidupan?
Apakah yang Allah anugrahkan bagi orang-orang yang menang?
Terhadap orang-orang yang bagaimanakah yang akan mengalami lautan api yang menyala-nyala dan belerang?
Allah sangat membenci dusta, sehingga setiap orang yang hidup dengan dusta dimana menganggap remeh hal-hal dusta atau bohong maka mereka mendapatkan resiko dimana mereka tidak mendapat tempat di sorga tetapi akan mengalami lautan api yang menyala-nyala dan belerang dalam kematian yang kedua.
Hal itu terjadi karena dusta selalu berasal dari si jahat atau iblis dan iblis tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.”(Yohanes 8:44).
Itulah sebabnya Tuhan tidak ingin kita hidup dengan selalu berkata-kata dusta atau bersaksi dusta karena ternyata orang-orang yang senang berdusta atau berbohong, mereka adalah orang-orang yang dapat menyebarkan ajaran-ajaran yang menyesatkan.
“Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.” (I Timotius 1:5-6).
Allah ingin agar kita hidup dalam kejujuran dan tidak berdusta dalam perkataan kita. Oleh sebab itu, untuk hidup tidak berdusta maka kita harus membangun budaya hidup dengan berkata-kata benar, dengan cara diantaranya:
Hidup dengan membenci dusta, sebaliknya kita harus hidup dengan Firman Tuhan. “Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”(Mazmur 119:104-105). “Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua. Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci. Peringatan-peringatan-Mu ajaib, itulah sebabnya jiwaku memegangnya.”(Mazmur 119:127-129).
Hidup dengan selalu berkata-kata: jika ya katakan ya dan jika tidak katakan tidak, supaya jangan beri kesempatan kepada iblis dan selalu hidup dalam kejujuran dalam perkataan maupun perbuatan. “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”(Matius 5:37).
Marilah kita membangun kehidupan yang jujur di bumi ini karena surga tidak memberi tempat bagi orang yang suka berdusta.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara selalu membangun budaya jujur dan tidak berdusta dalam pekerjaan, rumah tangga, pelayanan, dan lain-lain.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa alasan Paulus mengapa kita harus berkata benar seorang kepada yang lain (ayat 25)?
Apa bedanya marah yang tidak berdosa dengan marah yang berdosa menurut ayat 26?
Apa akibatnya jika kita membiarkan amarah berlarut-larut tanpa diselesaikan (ayat 27)?
“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota“ (Efesus 4:25).
Coba bayangkan tubuhmu. Jika tangan berkata bohong kepada kaki, apa yang terjadi? Tubuh akan kacau.
Tangan mungkin berkata, “Tidak ada bahaya di depan,” padahal ada lubang, lalu kaki terperosok.
Demikian juga gereja. Paulus mengingatkan jemaat di Efesus bahwa kita semua adalah anggota tubuh yang sama, yaitu tubuh Kristus.
Karena itu, kita tidak bisa hidup saling berbohong. Dusta, sekecil apa pun, akan merusak hubungan dan melemahkan persekutuan.
Di zaman Paulus, banyak orang terbiasa berbohong untuk keuntungan sendiri.
Tapi Paulus berkata: “Buanglah dusta!” Ini perintah tegas.
Sebagai bagian dari tubuh Kristus, kita harus saling percaya, dan kepercayaan itu dimulai dari kejujuran.
Dusta Merusak Persekutuan, Kebenaran Membangun.
Prinsip pertama yang Paulus ajarkan adalah bahwa kebenaran membangun tubuh Kristus, sedangkan dusta merusaknya.
Mengapa Paulus menyuruh kita berkata benar “karena kita adalah anggota tubuh seorang sama lain”?
Karena jika satu anggota berbohong, anggota lain akan tersesat, salah mengambil keputusan, atau terluka hatinya.
Kebohongan dalam gereja bisa menyebabkan perpecahan, kecurigaan, dan hilangnya kepercayaan.
Sebaliknya, ketika kita berkata benar, kita sedang membangun fondasi yang kokoh untuk saling percaya dan mengasihi.
Yesus sendiri berkata, “Akulah kebenaran” (Yohanes 14:6).
Jadi berkata benar berarti membawa karakter Kristus ke dalam hubungan kita dengan sesama.
Jangan Biarkan Amarah Berlarut-larut.
Prinsip kedua yang menarik dari ayat ini adalah hubungan antara kejujuran dan kemarahan.
Paulus berkata, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa.”
Kemarahan itu sendiri tidak selalu dosa.
Bahkan Yesus pernah marah ketika melihat Bait Allah menjadi sarang pencuri.
Tapi Paulus memperingatkan: “Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.”
Artinya, jika kita marah, selesaikan segera dengan jujur.
Jangan biarkan amarah mengendap menjadi kebencian, kepahitan, atau dendam.
Dan jangan biarkan amarah itu mendorong kita untuk berbohong atau menyebarkan fitnah tentang orang yang membuat kita marah.
Jika kita membiarkan amarah berlarut-larut, kita memberi “kesempatan kepada Iblis” untuk masuk dan menghancurkan persekutuan.
Kejujuran dalam mengungkapkan perasaan adalah cara untuk memadamkan amarah sebelum berubah menjadi dosa.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Biasakan Berkata Jujur Meskipun Risiko. Jika kamu melakukan kesalahan, akui.
Jika kamu tidak setuju dengan seseorang, katakan dengan hormat, jangan diam-diam menyimpan kekesalan.
Jika kamu merasa disakiti, sampaikan dengan cara yang membangun, bukan dengan gosip.
Mulailah dari lingkungan terdekat: keluarga, kelompok PA, atau teman persekutuan.
Katakan yang sebenarnya dengan kasih.
Kedua, Selesaikan Masalah Sebelum Hari Berganti.
Jika hari ini ada orang yang membuatmu marah atau kamu menyakiti hati orang lain, jangan dibawa tidur.
Segera hubungi, minta maaf, atau selesaikan masalah dengan jujur.
Dengan begitu, kamu tidak memberi kesempatan kepada iblis untuk merusak hubunganmu.
Latihan sederhana ini akan membuat hidupmu lebih ringan, persekutuanmu lebih sehat, dan hatimu lebih damai.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana menjadi teman untuk saling mengampuni.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut Kolose 3:8-9, hal-hal apa saja yang termasuk dalam “manusia lama” yang harus kita buang?
Apa perbedaan antara manusia lama dan manusia baru yang Paulus gambarkan dalam ayat 9-10?
Mengapa dusta tidak bisa ditoleransi dalam kehidupan orang percaya, meskipun hanya dusta “kecil”?
“Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,” (Kolose 3:9).
Misalkan kamu memiliki pakaian yang sudah lama dipakai, kotor, robek, dan bau.
Tentu kamu tidak akan betah memakainya.
Kamu pasti ingin segera melepasnya dan mengganti dengan pakaian yang bersih dan wangi.
Paulus menggunakan gambaran seperti ini untuk menjelaskan kehidupan rohani kita.
Sebelum mengenal Kristus, kita semua memakai “manusia lama” yang penuh dengan dosa: kebiasaan marah-marah, iri hati, berkata kotor, dan juga berdusta.
Dusta sering kita anggap sepele, tapi Paulus memasukkannya ke dalam daftar hal yang harus dibuang.
Mengapa? Karena dusta adalah kebiasaan dari manusia lama yang tidak layak dipakai oleh anak-anak Allah yang baru lahir.
Dusta Merusak Gambar Allah dalam Diri Kita.
Prinsip pertama dari ayat ini adalah bahwa dusta adalah bagian dari manusia lama yang harus kita tinggalkan total.
Banyak orang berpikir dusta kecil tidak masalah asalkan tidak merugikan orang lain.
Tapi Paulus tidak memberi ruang untuk kompromi.
Dusta, sekecil apa pun, adalah kebiasaan dari sifat lama yang sudah mati bersama Kristus.
Alasan Paulus tegas: kita sudah “menanggalkan manusia lama” dan “mengenakan manusia baru”.
Manusia baru ini diciptakan menurut gambar Allah, dan Allah adalah Kebenaran.
Tidak mungkin seorang anak Allah yang baru lahir terus hidup dalam kebohongan.
Seperti pakaian kotor yang tidak cocok dipakai di pesta pernikahan, dusta tidak cocok dengan identitas baru kita sebagai anak-anak Terang.
Manusia Baru Terus Diperbaharui dalam Kebenaran.
Prinsip kedua adalah bahwa manusia baru tidak statis, tetapi terus diperbaharui setiap hari.
Paulus berkata manusia baru itu “terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya”.
Ini berarti meninggalkan dusta bukan sekali jadi, tetapi proses seumur hidup.
Setiap hari kita belajar lagi untuk jujur, setiap hari Roh Kudus mengingatkan kita ketika kita tergoda untuk berbohong.
Semakin kita mengenal Kristus, semakin kita mencintai kebenaran.
Dan semakin kita hidup dalam kebenaran, semakin kita serupa dengan gambar Allah.
Proses ini memang tidak mudah, tetapi kita tidak sendirian.
Roh Kudus tinggal di dalam kita untuk menolong kita melepas kebiasaan lama dan mengenakan kebiasaan baru yang mulia.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Lakukan “cek Pakaian” Setiap Malam.
Sebelum tidur, luangkan waktu sebentar untuk merenung: “Apakah hari ini aku berkata jujur dalam setiap perkataanku? Apakah aku menyembunyikan kesalahan atau memutarbalikkan fakta?”
Jika kamu menemukan dusta, sekecil apa pun, segera minta ampun kepada Tuhan dan kepada orang yang terkena dampak dustamu.
Kebiasaan introspeksi ini akan membuatmu semakin peka terhadap kebenaran.
Kedua, Biasakan Bilang “Ya” atau “Tidak” Tanpa Tambahan. Mulai dari hal-hal sederhana.
Jika ditanya “Kamu sudah mengerjakan tugas itu?” jangan mengelak atau memberi alasan berbelit.
Jawab jujur: sudah atau belum. Jika kamu terlambat, katakan “Aku terlambat”, jangan cari-cari alasan.
Dengan latihan kecil setiap hari, karakter jujur akan terbentuk dalam dirimu, dan kamu benar-benar menjadi manusia baru yang mencerminkan gambar Allah yang benar.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki sikap hati yang selalu suka dikoreksi atau ditegur.