Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang harus kita semua tanggalkan?
Dengan cara yang bagaimana kita menanggalkannya?
Apa akibat ketika kita selalu mengingat Dia?
Mengapa kita tidak boleh menganggap enteng didikan Tuhan dan tidak boleh putus asa ketika kita diperingatkan Tuhan?
Saudara Saudari..
Saat sekarang ini, kita sedang diperhatikan oleh tokoh-tokoh iman yang besar pada zamannya.
Mereka berkumpul di sepanjang jalur pertandingan untuk menonton kita berlari.
Marilah kita menyingkirkan segala sesuatu yang menghalangi, dan ikut berlari dalam perlombaan orang-orang Kristen ini dengan segala kemampuan yang ada pada kita.
Kristus tidak menyerah ketika segala sesuatunya menjadi sulit.
Kita juga tidak boleh menyerah.
Jika kita mengalami penderitaan, itu bukan karena Allah tidak peduli kepada kita, tetapi karena Allah sangat peduli untuk mendidik kita dan membuat kita tertib demi kebaikan kita sendiri.
Kita tidak boleh putus asa dan menyerah.
Coba kita bayangkan ketika kita sedang mengikuti lomba lari.
Kita membawa tas yang berisi banyak banget barang di punggung kita.
Apakah kita dapat berlari dengan cepat? Tentu saja tidak.
Begitupun dengan kehidupan rohani kita sebagai orang percaya.
Kita semua yang sedang ada dalam perlombaan iman menuju garis akhir, seringkali beban hidup dan dosa membuat langkah kita berat dan lemah.
Sehingga kita tidak dapat berlari dengan cepat.
Kita tidak dapat mengambil kemenangan yang Allah sediakan bagi kita.
Jadi apakah yang harus kita lakukan dengan semua beban dan dosa yang merintangi? TANGGALKAN.
Sadar dan kenali beban dan dosa yang menghambat kita itu apa?
Apakah tantangan pergaulan muda-mudi, ketakutan tentang masa depan, kesombongan, iri hati atau lain sebagainya.
Kita harus sadar beban yang bukan berasal dari Tuhan (beban palsu yang iblis coba panahkan kepada orang percaya).
Kita harus menyerahkan segala beban dan dosa yang sudah kita kenali tadi kepada Yesus.
Sehingga fokus hidup kita beralih dari beban dan dosa, kepada Yesus yang memberikan kelegaan, sukacita dan damai sejahtera yang sejati kepada kita.
Kemenangan atas masalah dan pencobaan ini bukanlah karena kita kuat, tetapi karena kita melepaskan apa yang memberatkan dan menatap kepada Yesus.
Sehingga kita boleh berlari-lari kepada panggilan yang Yesus sudah sediakan bagi kita.
Amin. Tuhan Yesus memberkati.
Menurut saudara adakah beban dan dosa yang merintangi kita saat ini sehingga kita tidak dapat berlari dalam panggilan yang Allah sediakan bagi kita? Ceritakan kepada rekan dalam kelompok PAmu dan ambil keputusan untuk menanggalkannya.
MEMIKUL KUK YANG DIPASANG DAN BELAJAR KEPADA YESUS
Penulis : Rina Elisabeth
Pembacaan Alkitab Hari ini :
MATIUS 11:28-30
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang sebaiknya kita lakukan ketika sedang mengalami letih lesu dan berbeban berat?
Apa yang harus kita pikul?
Kepada siapa kita perlu belajar?
Mengapa kita perlu belajar kepada Yesus?
Kuk yang seperti apa yang Yesus pasang?
Saudara Saudari..
Tak mudah berjalan di tengah dunia, tapi denganMu ku dapat melakukanNya.
Yesus tahu bahwa tidak mudah untuk berjalan di tengah dunia yang semakin jahat ini.
Ada banyak tekanan hidup dan pergumulan di sekolah, kampus, komunitas, keluarga, bahkan sosial media.
Masalah dan pencobaan setiap harinya membuat setiap kita mencoba menyelesaikan dengan kekuatan kita sendiri dan akhirnya membuat kita letih lesu dan berbeban berat.
Dalam Alkitab, “kuk” secara harfiah adalah palang kayu yang dipasang di leher dua hewan untuk bersama-sama menarik beban.
Secara simbolis, kuk digunakan untuk menggambarkan penindasan, perbudakan, atau beban hidup yang berat.
Namun, dalam konteks rohani, Yesus menawarkan “kuk-Nya” yang bukan beban berat, melainkan simbol ketaatan yang penuh kasih, sehingga beban kehidupan bisa terasa ringan karena dibagikan dengan-Nya.
Jadi, Tuhan Yesus mau bilang, sini datang kepada Tuhan dan belajar dari-Nya.
Melibatkan Tuhan untuk berjalan bersama kita setiap harinya. Tuhan ingin menuntun kita dan tidak akan membiarkan kita sendiri dalam setiap masalah dan pergumulan kita.
Pada waktu Yesus memikul salib menuju Golgota, Simon dari Kirene dipanggil untuk menolong Yesus memikul salib Yesus.
Simon ikut menanggung beban itu, dan membawa Simon belajar mengenal Yesus dengan lebih dalam lagi.
Demikian juga dengan kita, jikalau Tuhan mengizinkan kita memikul kuk, Tuhan mau kita berjalan bersama-Nya dan Tuhan mau mengajar kita untuk berbagi masalah dan pergumulan dengan Dia serta Tuhan mau kita mengenal-Nya lebih dalam lagi.
Kita perlu datang pada Yesus yang memiliki sikap lemah lembut dan rendah hati, sebab Yesus berjanji memberikan kelegaan dan beban kita menjadi ringan.
Kelegaan sejati hanya datang dari Yesus dan hal ini sifatnya kekal. Sehingga kemenangan gilang gemilang menjadi milik bagian orang yang percaya kepada-Nya.
Amin. Tuhan Yesus memberkati.
Beban dan pergumulan hidup apa yang masih kita pegang sendiri dan belum kita bagikan kepada Yesus? Maukah kita menerima panggilan-Nya untuk datang pada-Nya dan menyerahkan seluruh beban dan pergumulan kita kepada-Nya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapa Imam Besar kita, dan apakah yang harus kita lakukan ketika kita memiliki Imam Besar dalam hidup kita?
Apa yang sama yang dialami oleh Imam Besar yang juga kita alami dalam hidup kita?
Hal apa yang dapat kita lakukan ketika kita merasa lemah?
Apa hasil ketika kita menghadap tahta kasih Karunia?
Saudara Saudari..
Harun adalah imam besar Israel yang pertama, yang diangkat oleh Allah.
Ia menjadi perantara Allah yang kudus dengan manusia yang berdosa, perantara yang mewakili pihak yang satu dengan pihak yang lainnya.
Tetapi dalam Kristus kita mempunyai seorang Imam Besar yang memenuhi semua persyaratan hukum, dan bahkan lebih daripada itu.
Ia tidak perlu menebus dosa-Nya sendiri sebab Ia tidak berdosa.
Tuhan Yesus adalah Imam Besar yang sempurna yang diangkat Allah sebagai Pengantara sepanjang masa.
Imam Besar yang turun menjadi manusia, tau banget bagaimana menjadi manusia.
Tuhan Yesus pernah mengalami pencobaan ketika di padang gurun, ditolak oleh banyak orang, dikhianati oleh beberapa muridnya, ketakutan ketika hendak diserahkan untuk disalib, bahkan pernah mengalami kesendirian saat sisa hidupnya.
Tuhan Yesus mengalami semua yang kita alami di bumi ini. Imam Besar yang turut merasakan kelemahan kita.
Tuhan Yesus tau rasanya semua itu.
Tuhan Yesus menunjukkan sekalipun ia mengalami kelemahan-kelemahan itu, Ia berhasil menang bukan dengan kekuatan manusia tetapi dengan Firman Tuhan.
Tuhan Yesus mengutamakan kehendak Allah dalam hidupnya, sehingga Tuhan Yesus berhasil taat dan menyelesaikan agenda Bapa dalam hidupnya.
Saat Iblis memanahkan panah apinya dan membuat kita kalah terhadap kelemahan kita, saat hidup kita merasa hampa dan sepertinya tidak ada jalan keluar, atau bahkan saat kita tidak kuat dengan semua tantangan hidup hari-hari ini yang sedang terjadi, mari belajar seperti Yesus yang menang dengan kekuatan Firman.
Dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia-Nya, sehingga ada pertolongan-pertolongan Tuhan di setiap musim hidup kita.
Hal inilah yang akan membuat kita menang dan menjadi kesaksian bagi banyak orang bahwa segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku.
Amin. Tuhan Yesus memberkati.
Berikan kesaksian kuasa kasih karunia yang Saudara alami, ketika Saudara datang pada Tuhan Yesus ketika mengalami pergumulan sepanjang satu minggu ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apakah kerajinan kita boleh kendor? Apa yang membuat kerajinan itu tidak kendor?
Apa yang harus kita lakukan dalam pengharapan kita?
Apa yang harus kita lakukan ketika dalam kesesakan?
Hal apa yang kita bisa dilakukan untuk terus memiliki pengharapan dan bisa terus memiliki ketekunan ketika mengalami kesesakan?
Apa yang dapat kita lakukan kepada orang-orang kudus?
Apa yang Firman sampaikan untuk kita lakukan ketika ada orang yang menganiaya kita?
Saudara-Saudari..
Oleh karena kasih Allah yang besar serta murni, dan dengan membayar harga yang mahal, Allah telah menyelamatkan hidup kita.
Nah, masih adakah motivasi yang lain pada diri kita yang lebih kuat untuk kita menyerahkan hidup kepada Allah mulai dari sekarang?
Ini artinya secara penuh kita menyadari untuk memberikan hidup kita kepada Allah dan keputusan ini akan mempengaruhi seluruh karakter kita, motivasi kita dan tingkah laku kita.
Nah, disinilah dimulainya perubahan, ketika setiap orang menempati kedudukan dalam “keluarga” baru, yaitu Keluarga Kristus.
Kebanggaan atas diri sendiri memudar. Penghargaan terhadap orang lain meningkat.
Dan karunia-karunia Roh yang kita terima secara pribadi dimanfaatkan untuk kebaikan sesama kita.
Kita menyediakan diri untuk dipakai oleh Allah, dan kita tidak menarik diri ketika keadaan menjadi sulit.
Sikap-sikap lama kita berubah; kerajinan kita tidak kendor karena Roh Allah menolong kita untuk menyala-nyala terus untuk mengasihi dan melayani Allah.
Paulus mengingatkan kita melalui jemaat Roma untuk tetap berapi-api dalam semangat, tidak akan menyerah ketika dalam penderitaan dan terus berdoa ketika mengalaminya.
Kesesakan zaman sekarang bisa berupa: kegagalan dalam studi atau pekerjaan, pergumulan untuk memiliki pasangan hidup, tekanan media sosial, masalah keluarga, kondisi ekonomi, sakit penyakit, dsb.
Firman Tuhan hari ini menegaskan untuk kita terus memiliki kesabaran ketika kesesakan terjadi dan terus bertekun dalam doa sebagai bukti kita berserah dan percaya kepada Allah.
Ketika Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya, digoda dan difitnah oleh istri Potifar, bahkan sampai harus dipenjara, Yusuf tidak kehilangan pengharapan.
Ia sabar melewati setiap proses yang ada, terus tekun dalam doa.
Ia juga dapat mengampuni saudara-saudaranya dan tetap setia mengasihi dan melayani Tuhan.
Alkitab mencatat buah dari tindakan Yusuf adalah Allah mengangkat Yusuf menjadi pemimpin besar di Mesir.
Allah tidak pernah janji jalan hidup kita akan selalu mudah dan mulus saat kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya.
Tapi DIA Allah Imanuel selalu berjanji untuk menyertai kita dengan roh-Nya sampai IA datang untuk kedua kalinya.
Sehingga kita menjadi umat Allah yang menang dan selalu menang atas masalah dan pencobaan, dan lewat hal ini nama Tuhan dimuliakan.
Amin. Tuhan Yesus memberkati.
Apa yang akan kita lakukan saat kita stres atau mungkin kecewa terhadap orang lain, apa yang akan menjadi komitmen kita ketika menghidupi Firman hari ini?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Yakobus 1:2!
Bagaimana sikap kita ketika mengalami berbagai-bagai pencobaan?
Apakah hasil dan ujian terhadap iman kita melalui pencobaan-pencobaan yang kita alami?
Apakah yang Tuhan janjikan bagi kita yang tekun dalam menghadapi ujian atau pencobaan?
Tuhan mengajar kita agar menganggap sebagai suatu kebahagiaan ketika kita mengalami berbagai-bagai macam pencobaan, karena pencobaan-pencobaan tersebut akan membawa kita naik level dalam pengenalan akan Tuhan, membuat kita semakin memiliki otoritas, kapasitas yang lebih besar dan akan menjadi orang kepercayaan Tuhan karena kita telah tahan uji.
Kebahagiaan tersebut sangat bergantung terhadap pemahaman kita terhadap pencobaan-pencobaan yang kita alami, diantaranya:
Kita berbahagia karena kita mendapat bagian dalam penderitaan yang dialami oleh Yesus Kristus. “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.”(I Petrus 4:12-13).
Tuhan sedang membawa kita naik level dalam segala hal ketika kita mengalami ujian lewat pencobaan yang ada supaya kita dimuliakan oleh Allah. “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”(Roma 8:17-18).
Kita berbahagia karena Allah membawa kita mengalami keserupaan dengan Kristus dan pengenalan yang lebih dalam melalui ujian dalam pencobaan-pencobaan yang kita alami. “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.”(Filipi 3:10-11).
Kita berbahagia karena Allah akan memberikan mahkota kehidupan ketika kita menang terhadap ujian melalui pencobaan-pencobaan yang kita alami. “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.”(Yakobus 1:12).
Itulah sebabnya Allah sendiri akan membawa kita kepada kemenangan-Nya saat kita mengalami pencobaan dan menganggap pencobaan-pencobaan tersebut sebagai suatu kebahagiaan.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana pengalaman saudara terhadap setiap pencobaan yang saudara alami adalah merupakan kebahagiaan!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah I Petrus 5:7!
Kepada siapakah kita harus menyerahkan segala kekuatiran kita? Mengapa?
Kepada siapakah kita harus merendahkan diri? Mengapa?
Bagaimana sikap kita terhadap iblis yang selalu melemparkan panah api kekuatiran kepada kita?
Tuhan telah menjanjikan kepada kita bahwa negeri ini dan ujung bumi adalah milik pusaka kita dan kita ditetapkan untuk membawa kemuliaan-Nya atas bangsa-bangsa, memberitakan Injil, memuridkan serta membangun gereja lokal.
Namun iblis mencoba menghalangi kita untuk menggenapi dengan cara melemparkan panah api kekuatiran kepada kita.
Sama seperti sepuluh pengintai yang merasa kuatir untuk masuk Kanaan karena penduduknya terlalu kuat buat mereka namun Kaleb dan Yosua penuh keberanian dan tidak kuatir untuk masuk Kanaan walaupun orang Kanaan terlalu kuat buat mereka.
Kita pun dapat mengalami kemenangan untuk menggenapi rencana Allah bagi negeri kita dan bangsa-bangsa.
Namun untuk menang atas kekuatiran maka kita harus memahami kebenaran yang membuat kita merdeka dari kekuatiran, diantaranya:
Kita harus bergantung penuh kepada kuasa dan otoritas Tuhan dalam seluruh kehidupan kita dan percaya kepada Dia. “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu,maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan.”(Amsal 3:5-7). “Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.”(Mazmur 37:3-4).
Kita harus menyerahkan seluruh aspek kehidupan kita termasuk juga kekuatiran kita. “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.”(Mazmur 37:5-6).”Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:23).“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?”(Matius 6:25).”Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”(I Petrus 5:7).
Kita harus menyatakan tentang apapun juga termasuk kekuatiran kita maka kita akan melihat Tuhan bertindak serta melawan setiap kekuatiran yang berasal dari kebohongan iblis. ”Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”(Filipi 4:6-7).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara bebas dari kekuatiran karena dimerdekakan oleh kebenaran Firman Tuhan!