Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa persoalan yang dialami janda seorang nabi sehingga ia mengadu kepada nabi Elisa?
Apa jawaban nabi Elisa kepada janda itu?
Apa perintah yang kemudian disampaikan oleh nabi Elisa kepada janda itu?
Mujizat apa yang terjadi dalam keluarga janda itu?
Saudara, ketika kesulitan timbul dalam kehidupan seseorang, maka ia akan bertindak sesuai dengan apa yang diyakininya dan sesuai dengan kebiasaan yang telah ia miliki.
Saat seseorang menghadapi pencobaan seperti kesulitan, kesakitan, keraguan, dan sebagainya, tindakannya akan mencerminkan keyakinannya, pengenalannya akan Tuhan, serta pemahamannya.
Rasul Paulus pernah menyatakan bahwa:
Roma 8:28“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Jadi, apapun yang terjadi dalam hidup kita, semuanya berlangsung sepengetahuan Allah, Bapa kita.
Hal ini juga dengan jelas disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Tuhan di Korintus:
1 Korintus 10:13“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
Dari ayat-ayat firman Tuhan di atas, kita dapat belajar juga dari kisah janda seorang nabi itu bahwa ketika anaknya diambil sebagai jaminan hutang dan dijadikan budak, ia segera mendatangi Nabi Elisa.
Janda tersebut meminta agar nabi itu melakukan sesuatu supaya ia memperoleh pertolongan dan terbebas dari persoalan hutangnya.
Janda itu sangat berharap kepada Nabi Elisa agar ia memperoleh pertolongan.
Lalu Elisa bertanya, “Apakah yang kau miliki di rumah?” Janda itu menjawab, “Hambamu ini tidak mempunyai apa-apa di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.”
Nabi itu berkata, “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari para tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit.
Sesudah itu masuklah dan tutuplah pintu setelah engkau dan anak-anakmu masuk.
Tuangkanlah minyak itu ke dalam segala bejana; dan apabila ada yang penuh, angkatlah.”
Maka pergilah janda itu dari Elisa. Ia menutup pintu setelah ia dan anak-anaknya masuk.
Anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, dan ia terus menuang minyak.
Ketika semua bejana telah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya, “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi.”
Tetapi anaknya menjawab, “Tidak ada lagi bejana.”
Lalu berhentilah minyak itu mengalir.
Kemudian pergilah janda itu kepada Nabi Elisa untuk memberitahukan hal tersebut.
Nabi itu berkata, “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari sisanya, engkau serta anak-anakmu.”
Mujizat terjadi karena janda itu mau menaati perintah Nabi Elisa.
Demikian pula, ketika orang percaya mau menaati perintah-perintah Tuhan yang tertulis dalam Alkitab dan berdoa kepada Bapa dalam nama Yesus Kristus dengan iman, maka terobosan dapat terjadi.
Saat kita berdoa dengan iman serta menaati dan melakukan perintah Tuhan, mujizat sering dinyatakan.
Hingga saat ini, mujizat masih terjadi ketika seseorang berharap dan mempercayai firman Allah.
Tuhan melakukan terobosan sesuai dengan iman orang yang percaya dan berdoa.
Suatu janji Tuhan dalam Kitab:
Ibrani 4:16“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”
Saudara, mujizat masih berlangsung.
Ketika seseorang percaya dan berharap kepada pertolongan Tuhan, mujizat sebagai terobosan masih terjadi untuk menghadapi berbagai persoalan hidup kita saat ini.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak orang mencemooh ketika seseorang berharap terjadinya mujizat sebagai terobosan untuk mengatasi persoalan dalam hidupnya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang tidak dapat dikerjakan oleh Anak?
Apa bukti bahwa Bapa mengasihi Anak?
Siapa yang dihidupkan oleh Anak?
Siapa yang diberi kuasa untuk menghakimi, dan mengapa?
Dapatkah seseorang yang tidak mengasihi Anak dapat dikasihi oleh Bapa?
Saudara, Tuhan Yesus selalu menaati Bapa-Nya.
Ia bersaksi bahwa apapun yang Ia lakukan, semuanya karena Ia melihat Bapa mengerjakannya terlebih dahulu.
Tidak satu pun yang Ia kerjakan berdasarkan keinginan pribadi-Nya, melainkan semua yang Ia kerjakan adalah kehendak Bapa.
Oleh karena itu, Yesus pernah berkata, dan hal ini dituliskan oleh Rasul Yohanes:
Yohanes 14:21“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”
Saudara, dalam firman ini dengan jelas dinyatakan bahwa seseorang yang menaati Yesus berarti ia mengasihi Yesus.
Orang yang menaati Yesus akan dikasihi oleh Allah Bapa, dan Yesus sendiri akan mengasihi orang itu serta menyatakan diri-Nya kepadanya.
Dengan demikian, orang tersebut akan memiliki kuasa Yesus Kristus.
Saudara, dapatkah kita menaati semua perintah Yesus?
Yesus pernah berkata bahwa Roh Kudus adalah pernyataan dari Yesus Kristus.
Yohanes 14:15-17“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”
Saudara, Yesus sangat mengenal kita satu per satu.
Oleh karena itu, Ia memilih kita karena sangat mengasihi kita.
Yesus Kristus mengutus Roh Kudus sebagai Penolong dan Penghibur yang akan mengajar kita, mengingatkan kita akan firman yang telah kita pelajari dan pahami, serta menuntun kita untuk melakukan apa yang Ia perintahkan.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa ada orang percaya yang mengaku sebagai anak Tuhan, tetapi tidak mau menaati perintah Tuhan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Larangan apa yang harus diingat saat kita berdoa?
Bagaimanakah cara orang munafik berdoa?
Mengapa kita harus mengunci kamar saat berdoa?
Mengapa kita dilarang berdoa dengan bertele-tele?
Saudara, Yesus melarang murid-murid-Nya berdoa seperti orang munafik yang berdoa supaya dilihat orang.
Tuhan mengatakan bahwa mereka telah menerima upah dari doa mereka, yaitu pujian dari manusia.
Oleh karena itu, Tuhan menganjurkan agar kita berdoa dengan cara yang benar: masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah.
Sangat penting bagi kita untuk memiliki tempat khusus untuk berdoa, agar kita dapat berdoa secara pribadi dan sungguh-sungguh tanpa dilihat oleh orang lain, termasuk orang di luar keluarga serumah.
Rasul Paulus mengajarkan kepada kita untuk melanjutkan ajaran Yesus Kristus tentang doa:
Roma 8:26“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”
Ketika kita berdoa di dalam kamar dan berdoa dengan bahasa lidah atau bahasa Roh, maka kita sedang berdoa untuk membangun diri sendiri atau berdoa bagi orang-orang kudus.
Dalam doa seperti itu, Tuhan Allah Bapa kita mengerti apa yang kita doakan, dan Bapa akan mengabulkan doa kita melalui pertolongan Roh Kudus.
Dalam doa, Tuhan Yesus mengajarkan agar kita tidak berdoa dengan bertele-tele, tidak berdoa terlalu panjang, apalagi dengan banyak kata hanya untuk meminta atau memohon-mohon.
Berdoa sendirian di kamar doa merupakan bentuk doa pribadi yang konsisten dan teratur.
Doa ini dapat dilakukan setiap pagi, malam, siang, atau sore hari, namun sebaiknya dilakukan secara teratur setiap hari.
Matius 6:6-8“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.”
Oleh karena kita memiliki Bapa yang sangat baik, dan Dia telah menyediakan segala kebutuhan kita di sorga, maka kita diajarkan doa Bapa Kami.
Melalui doa ini, kita mengerti bahwa Bapa menyediakan semua kebutuhan kita di sorga.
Efesus 1:3“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.”
Sebagai Bapa yang baik dan Gembala yang baik, Dia telah menyediakan segala keperluan kita dalam bentuk rohani.
Di sorga sudah tersedia semua kebutuhan kita.
Oleh karena itu, kita tidak perlu khawatir, bimbang, ataupun takut.
Percayalah bahwa Dia adalah Bapa yang baik dan Gembala yang baik.
Oleh karena itu, sangat perlu bagi kita untuk mengenal Tuhan, agar kita tidak hidup dalam ketakutan.
Sebab kita memiliki Bapa di sorga yang sangat rindu melihat kita berdoa di tempat yang tersembunyi.
Haleluya, puji Tuhan, Amin.
Mungkinkah seseorang yang tidak mengenal Bapa tetap mau berdoa kepada Bapa di sorga?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Dimanakah peristiwa kejadian angin rebut itu terjadi?
Mengapa para murid Yesus panik ketika peristiwa angin ribut terjadi?
Apa yang Tuhan katakan kepada murid-muridNya, setelah Ia meredakan angin ribut itu?
Peristiwa ini terjadi setelah Yesus mengajar kepada orang banyak di tepi danau Galilea di daerah Kapernaum.
Lalu mereka menyebrang dengan tujuan ke daerah Gerasa (juga dikenal sebagai Gadara), yang terletak di pantai timur Danau Galilea.
Adapun Danau tersebut merupakan sebuah perairan yang indah, yang berada sekitar 209,6m atau 686 kaki di bawah permukaan laut.
Lokasinya yang unik, dikelilingi oleh perbukitan, membuatnya cukup rentan terhadap badai yang tiba-tiba datang.
Sesuai dengan karakteristik danau Galilea tersebut yang mana cukup rentan terjadi badai.
Tidak disangka dalam perjalanan mereka menyebrang, badai besar terjadi dengan tiba-tiba, yang membuat perahu mereka hampir tenggelam.
Jika dilihat dari latar belakang beberapa murid Yesus, ada dari mereka yang berprofesi sebagai nelayan yang tentunya sudah berpengalaman untuk mengatasi badai di tengah danau maupun lautan, tetapi entah kenapa, ketika badai terjadi, sepertinya para murid yang berpengalaman itu panik luar biasa, seolah-olah pengalaman yang dimiliki mereka selama ini tidak ada gunanya.
Bahkan dengan terpaksa mereka membangunkan Yesus yang sedang tidur di buritan dengan tujuan supaya Yesus dapat menolong mereka.
Dengan peristiwa angin ribut diatas, terkadang mencerminkan diri kita sendiri.
Apa buktinya? dalam kita mengiring Tuhan, terkadang secara tiba-tiba masalah terjadi bertubi-tubi dalam hidup kita, belum selesai satu masalah, sudah timbul masalah lain.
Sepertinya masalah tidak pernah berhenti didalam hidup kita.
Memang Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa ketika kita ikut Tuhan, hidup kita pasti tenang dan baik-baik saja, hidup kita penuh dengan kedamaian tanpa masalah, dan Tuhan juga tidak pernah berjanji bahwa hidup yang akan kita jalani sepanjang tahun 2026 ini pasti selalu baik dan mulus tanpa ada hambatan.
Jika kita mundur kebelakang, setiap masalah yang pernah terjadi atas hidup kita, akhirnya Tuhan menolong, itu artinya kita memiliki cukup pengalaman untuk menghadapi masalah yaitu Tuhan menyertai hidup kita.
Tetapi kenyataanya ketika ada masalah baru yang timbul, seolah-olah pengalaman kita bersama Tuhan sirna begitu saja. Ingat Kristus ada di dalam perahu!, Realita kuasaNya bersama kita dalam badai. Dia perlu dibangunkan.
Jangan biarkan Dia tertidur di buritan. Melalui pembacaan Alkitab dan menyelidiki Firman Tuhan, berdoa serta membangun hubungan pribadi yang intim bersama Dia, maka Iman kita semakin bertambah dan kita dapat mengingatkan diri kita bahwa Yesus ada di perahu bersama kita.
Bahwa Dia peduli kepada kita semua. Dan tidak ingin kita binasa.
Martin Luther pernah berkata “Jika kamu ingin menjadi seorang Kristen, kamu pasti akan mengalami cobaan. Namun, jika kamu berseru kepada Kristus di saat membutuhkan pertolongan, Dia akan mendengarmu, menyelamatkanmu, dan menjadikan cobaanmu menghasilkan buah yang diberkati dan kemuliaan yang besar. Untuk saat ini, segala kebutuhan terpenuhi; dan kemudian, hidup kekal akan menyusul.”
Dalam pembacaan renungan kita diatas, makna apa yang kita dapat ambil dan pelajari? Diskusikan bersama kelompok PA dan dalam kelompok anggota persekutuan kita.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Syarat apa yang membuat status kita bukan lagi budak, melainkan kita diadopsi menjadi anak Allah? (ayat 14)
Siapa yang bersaksi dengan roh kita, bahwa kita adalah anak Alah?
Apa yang seharusnya kita lakukan, jika kita sudah diadopsi sebagai anak Allah?
Jika ada pertanyaan, siapakah yang mau menjadi anak orang kaya, anak Sultan atau anak Presiden? Kemungkinan besar kita semua akan menjawab “Ya..saya mau”.
Kenapa banyak orang yang menjawab mau? Karena di pikiran kita atau sejauh mata memandang, anak orang kaya, anak Sultan atau anak Presiden itu hidupnya dijamin enak, tidak perlu capek bekerja karena semua kebutuhan sudah tersedia, punya banyak uang dan bebas membeli apa yang kita suka tanpa bekerja keras, bebas bepergian kemana saja kita mau dan dikenal serta dihormati orang banyak.
Jika di pikirkan, hal yang wajar anak-anak tersebut mendapat privilege atau keistimewaan semua itu, karena mereka adalah anak dari orang kaya, anak Sultan atau anak Presiden.
Begitu pula dengan pembacaan Firman hari ini menjelaskan, “semua orang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah” (ayat 14).
Kita yang adalah makhluk ciptaan Allah dan sejak lahir status kita orang yang berdosa dan patut kena hukuman, oleh karena anugerahNya yang besar kita di angkat “di adopsi” menjadi anak-anak Allah dan kita menjadi ahli waris janji-janji Allah.
Ini adalah sebuah proses yang luar biasa dan penuh kasih, yang memberikan kita keistimewaan dan kesempatan untuk memiliki hubungan yang intim dengan Allah dan menjadi bagian dari keluarga Allah.
Sehingga kita dapat berseru “ya Abba ya Bapa”.
Dalam budaya Yahudi, “Abba” adalah kata yang digunakan oleh anak-anak untuk memanggil ayah mereka, menunjukkan hubungan yang sangat dekat dan intim.
Dan karena itu sepatutnyalah kita bisa bersikap layaknya hidup sebagai anak Allah.
Namun demikian dalam prakteknya sering kali kita belum atau lalai menunjukkan dan bersikap seperti anak Allah.
Seringkali tutur kata kita, tindakan kita tidak mencerminkan bahwa kita anak Allah. Hari – hari ini, orang yang belum percaya kepada Kristus, mereka hidup sesuka mereka, bebas melakukan apa saja yang mereka suka, demi gaya hidup, juga demi kebutuhan hidup mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Saat ini sebagai anak-anak Tuhan seharusnya kita menjadi teladan dan contoh yang baik yang menunjukkan bahwa kita adalah anak Allah yang mewarisi sifat-sifat Allah.
Karena dunia sangat membutuhkan contoh atau role model yang nyata bagi mereka.
Dengan mengetahui bahwa status kita saat ini bukan lagi hamba melainkan anak-anak Allah, sikap apa yang harus kita lakukan agar sekitar kita mengetahui bahwa kita adalah anak-anak Allah yang mewarisi sifat-sifat Allah?
KITA ADALAH BAIT ALLAH:KRISTUS TINGGAL DI DALAM KITA
Penulis : Bernard Tagor
Pembacaan Alkitab Hari ini :
1 KORINTUS 3:16–23
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah yang dimaksud “bait Allah” itu?
Adakah konsekuensinya, jika kita membinasakan bait Allah? Jika ada, apa konsekuensinya? (Ayat 17)
Apakah bait Allah itu kudus? Dan bagaimana caranya kita menjaga agar bait Allah itu tetap kudus?
Dalam konteks kota Romawi, bait Allah adalah tempat yang besar dengan banyak kuil marmer, ruang paling suci di dalam kuil.
Namun pernyataan Paulus sangat berani dan mendalam, dia mendefinisikan bahwa Bait Allah bukan sekedar bangunan fisik, namun Bait Allah sebagai bangunan milik Allah di dalam diri manusia.
Dengan kata lain bait Allah adalah kita orang percaya.
Bait Allah harus dijaga kemurniannya dan tempat yang menyatakan kebenaran Allah.
Rasul Paulus menekankan tentang hidup kudus supaya jemaat Korintus tidak melenceng dari kebenaran Alkitab.
Dalam konteks ini sebenarnya Paulus tidak hanya membahas kehadiran Allah dalam diri setiap orang percaya secara individu.
Namun Paulus juga menjelaskan kehadiran Allah pada sekelompok orang (komunitas) yang beriman lainnya.
Jadi, jika kita mengaku bahwa kita adalah orang yang percaya kepada Kristus, itu berarti kita juga adalah bait Allah yaitu tempat kediaman Allah yang kudus dimana Kristus tinggal dalam hidup kita.
Sehingga dalam kita bertindak dan berperilaku secara individu/pribadi ataupun dalam berelasi dengan saudara seiman lain atau kelompok lainnya, seharusnya kita menunjukkan sikap bahwa kita adalah pengikutNya.
Contoh sederhana dimana kita dapat mempraktikkan kekudusan yang dilakukan secara pribadi/individu dalam kehidupan sehari-hari adalah menjaga kebersihan tubuh, menjaga kesehatan tubuh dengan berolahraga teratur, makan-minum yang sehat serta bergizi seimbang, yang sesuai dengan kondisi umur kita, tidur yang cukup, menjaga hati dan pikiran, atur dan kendalikan emosi dan stress, tidak iri hati, tidak sombong, serta mempergunakan waktu dengan bijak, dll.
Contoh tindakan praktis dalam menjaga kekudusan dalam kelompok atau relasi dengan banyak orang seperti; Menjaga perilaku dan tutur kata dengan orang lain, menjaga profesionalisme dalam bekerja, menjaga integritas dalam bekerja maupun di sekolah atau kampus, menghargai orang lain, tidak iri hati dengan keberhasilan orang lain, bertutur kata yang baik dan sopan dengan tidak merendahkan orang lain, tidak boleh “membully” atau melakukan perundungan kepada orang lain dan tidak melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kekristenan.
Tindakan tersebut diatas memang mudah untuk diucapkan, namun tidak gampang untuk mempraktekkannya, bahkan di ayat 17 tercatat ada “konsekuensi” Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia.
Membinasakan disini bukan berarti kita beresiko untuk kehilangan keselamatan, tetapi konsekuensi serius atas tindakan yang merusak kekudusan Allah!, karena Allah sangat mengutamakan dan memerintahkan supaya setiap individu ataupun jemaat dapat menjaga kekudusan (1 Petrus 1:16).
Tetapi kabar gembiranya, kita tidak perlu takut karena Roh Kudus yang ada didalam kita, Dialah yang membantu kita agar kita dapat hidup kudus.
Bagaimana caranya? Salah satunya kita harus terus menerus membaca Firman dan menggali Firman itu, berdoa dan teruslah membangun hubungan dengan Tuhan secara pribadi.
Lakukanlah semua itu setiap hari, kapanpun dan dimanapun kita berada secara konsisten, maka Dia akan memberikan kita kepekaan secara rohani, untuk kita dapat hidup kudus.
Sebutkan contoh-contoh lain, tindakan menjaga kekudusan baik itu secara pribadi ataupun dalam kelompok yang belum disebutkan diatas? Dana alasan apa yang membuat kita anak Tuhan sulit untuk menjaga diri kita ataupun kelompok kita, supaya kita dapat senantiasa hidup dalam kekudusan? Diskusikanlah dengan kelompok PA dan juga di dalam kelompok persekutuan kita.