SEHAT DALAM SEGALA HAL KARENA HIDUP DALAM KEBENARAN
Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson
Pembacaan Alkitab Hari ini :
3 YOHANES 1:2-4
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa isi doa Yohanes untuk Gayus dalam ayat 2?
Apa yang membuat Yohanes sangat bersukacita menurut ayat 3-4?
Menurutmu, bagaimana “jiwa yang sehat” bisa mempengaruhi kesehatan dan keadaan hidup sehari-hari?
“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” (3 Yohanes 1:2).
Surat 3 Yohanes adalah surat pendek, tetapi penuh kasih. Yohanes, sebagai bapa rohani, menulis kepada Gayus yang dikasihinya.
Ia tidak hanya mendoakan urusan rohani Gayus, tetapi juga kesehatannya.
Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan peduli pada seluruh hidup kita—bukan hanya saat kita beribadah di gereja, tetapi juga saat kita bekerja, makan, istirahat, dan menjalani hidup sehari-hari.
Kadang kita berpikir Tuhan hanya peduli pada “hal-hal rohani,” sedangkan kesehatan, pekerjaan, dan keluarga adalah urusan kita sendiri. Padahal, Tuhan ingin kita sehat dan baik-baik saja dalam segala hal, sama seperti jiwa kita sehat.
Hidup dalam kebenaran menjadi fondasi bagi kesehatan dan kesejahteraan hidup kita.
Yohanes berdoa agar Gayus sehat dalam segala sesuatu, sama seperti jiwanya sehat.
Artinya, ada kaitan erat antara keadaan rohani dan keadaan hidup secara keseluruhan.
Orang yang hidup dalam kebenaran—jujur, mengasihi, mengampuni, dan taat pada firman—akan mengalami damai sejahtera yang mempengaruhi pikiran, emosi, hubungan, bahkan tubuhnya.
Ini bukan berarti orang benar tidak pernah sakit, tetapi hidup dalam kebenaran membawa kita pada gaya hidup yang lebih sehat dan hati yang tenang. Kebenaran bukan hanya doktrin, tetapi cara hidup yang menyeluruh.
Sukacita sejati datang ketika kita melihat orang hidup dalam kebenaran.
Yohanes berkata, “Tidak ada yang lebih menggembirakan bagiku selain mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” Ia tidak bersukacita karena
Gayus kaya, terkenal, atau sukses secara duniawi.
Ia bersukacita karena Gayus setia pada kebenaran. Ini mengajarkan kita untuk menghargai hal yang benar.
Kita pun dipanggil bukan hanya untuk tahu firman, tetapi untuk melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kebenaran itu nyata dalam kejujuran, kesetiaan, kekudusan, dan kasih kepada sesama.
Ketika kita hidup dalam kebenaran, kita tidak hanya memberkati diri sendiri, tetapi juga membawa sukacita bagi orang lain.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Jaga Kesehatan Rohani Setiap Hari. Luangkan waktu untuk membaca firman Tuhan, berdoa, dan memeriksa hati.
Hidup dalam kebenaran dimulai dari hubungan yang dekat dengan Tuhan.
ka jiwamu sehat, seluruh hidupmu akan ikut terarah.
Kedua, Jaga Tubuh dan Hidup Sehari-hari sebagai Wujud Syukur. Ma
kanlah dengan teratur, istirahatlah yang cukup, jauhi kebiasaan yang merusak tubuh, dan gunakan tubuhmu
untuk hal-hal yang baik. Doakan juga kesehatan diri dan orang lain.
Dengan menjaga rohani dan jasmani, kita sedang memuliakan Tuhan dengan seluruh hidup kita.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya memelihara kesehatan rohani dan jasmani.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa artinya tubuh kita adalah “bait Roh Kudus” dalam kehidupan sehari-hari?
Mengapa Paulus berkata bahwa orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri?
Bagaimana kita bisa “memuliakan Allah dengan tubuh” di rumah, sekolah, atau tempat kerja?
“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (1 Korintus 6:20).
Kita hidup di zaman yang mirip dengan Korintus.
Banyak orang berpikir bahwa tubuh ini milik pribadi, jadi bebas dipakai sesuka hati.
Dunia berkata, “Lakukan apa yang membuatmu senang. Jangan pedulikan aturan agama.”
Tetapi Paulus mengingatkan jemaat Korintus—dan kita hari ini—bahwa tubuh kita bukan milik kita sendiri.
Tubuh kita adalah bait Roh Kudus.
Artinya, di dalam tubuh kita yang biasa ini, Tuhan hadir dan berdiam. Itu adalah kemuliaan yang luar biasa.
Kalau kita sadar bahwa Tuhan tinggal di dalam tubuh kita, kita akan berpikir dua kali sebelum menggunakannya untuk hal-hal yang najis atau memalukan.
Kita sudah dibeli dengan harga yang lunas.
Yesus mati di kayu salib untuk menebus kita—bukan dengan emas atau perak, tetapi dengan darah-Nya sendiri.
Karena itu, kita bukan lagi milik diri kita sendiri.
Kita milik Kristus. Ini mengubah cara kita memandang tubuh: tubuh kita bukan alat untuk memuaskan hawa nafsu, tetapi alat untuk memuliakan Tuhan.
Dosa seksual secara khusus merusak tubuh, karena menyatukan tubuh dengan hal yang tidak kudus.
Paulus berkata, “Orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.”
Dosa ini melukai jiwa, merusak hubungan dengan Tuhan, dan mengotori bait Roh Kudus.
Karena itu, kita dipanggil untuk menjauhkan diri dari segala bentuk percabulan.
Memuliakan Allah dengan tubuh adalah bagian dari ibadah kita yang sejati.
Ibadah bukan hanya bernyanyi di gereja atau berdoa di kamar.
Ibadah juga mencakup apa yang kita lakukan dengan tubuh kita sehari-hari: apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita sentuh, dan bagaimana kita memperlakukan tubuh kita.
Ketika kita menjaga tubuh dari dosa, kita sedang berkata kepada Tuhan, “Aku mengasihi Engkau, dan aku mau hidup kudus bagi-Mu.”
Sebaliknya, ketika kita mengotori tubuh dengan dosa, kita sedang merendahkan harga yang sudah dibayar Kristus.
Jadi, menjaga kekudusan tubuh bukanlah kewajiban agama yang membosankan, tetapi ungkapan syukur kepada Penebus yang mengasihi kita.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Jaga Apa yang Masuk dan Keluar dari Tubuhmu.
Berhati-hatilah dengan tontonan, bacaan, percakapan, dan pergaulan yang bisa menodai hati dan tubuh.
Jangan biarkan mata dan pikiran dipenuhi hal-hal yang membangkitkan hawa nafsu.
Isilah dengan firman Tuhan, nyanyian rohani, dan hal-hal yang membangun.
Kedua, Gunakan Tubuh untuk Melayani Tuhan.
Tubuh ini bisa dipakai untuk menolong orang, melayani di gereja, bekerja dengan jujur, dan menjaga kesehatan sebagai bentuk tanggung jawab.
Mulailah dari hal kecil: senyum, sentuhan kasih, atau tenaga yang dipakai untuk kebaikan.
Dengan begitu, tubuhmu benar-benar menjadi bait Roh Kudus yang memuliakan Allah.
. Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana cara praktis memuliakan Allah dengan tubuh.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa menjadi persoalan ketika Yesus tetap berada di bait Allah, dan tidak kembali ke Galilea, tempat tinggal Yusuf dan Maria, ibu-Nya?
Mengapa ayah dan ibu-Nya tidak mengerti apa yang Yesus katakan?
Mengapa Yesus kemudian bersedia pulang bersama dengan orang tua-Nya ke Nazaret?
Apa yang Yesus alami setelah Ia pulang bersama dengan orang tua-Nya?
Saudara, Yesus Kristus adalah 100% Allah dan 100% manusia.
Dialah Firman yang menjadi manusia.
Dalam kemanusiaan-Nya, sebagai seorang anak, Ia hidup seperti anak-anak manusia lainnya.
Namun, oleh Roh Bapa-Nya dan malaikat yang dikhususkan untuk menjaga-Nya, Yesus Kristus dipastikan tidak pernah berbuat dosa atau melakukan kesalahan seperti anak manusia lainnya.
Tidak banyak data mengenai kehidupan Yesus ketika masih kecil.
Namun, Dia pasti dilindungi oleh ayah dan ibu-Nya, dan terlebih lagi oleh Bapa-Nya di sorga.
Sebagai anak manusia, Yesus bertumbuh seperti anak-anak lainnya.
Ia dapat menangis, merasa lapar, mengalami kelelahan, dan bertumbuh dalam pengenalan-Nya akan Tuhan Allah sebagai Bapa-Nya.
Yesus Kristus mengalami pertumbuhan dalam kehidupan-Nya, baik secara tubuh maupun jiwa dan akal budi-Nya.
Ada sebuah cerita tentang Yesus ketika Ia berusia dua belas tahun, Ia mengikuti kebiasaan keluarga-Nya untuk pergi beribadah ke Bait Allah dan merayakan Paskah:
Lukas 2:41-52 “Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”
Saudara, melalui tulisan Rasul Yohanes, kita dapat belajar bagaimana Yesus ketika berumur dua belas tahun dan memasuki masa remaja, memiliki pemikiran seperti anak remaja lainnya.
Ia kurang memahami kekuatiran orang tua-Nya karena Ia berpikir dan merasa tidak melakukan kesalahan.
Ia merasa benar dengan tindakan-Nya karena Ia sedang berada di rumah Tuhan Allah, Bapa-Nya.
Namun, ketika Ia menyadari bahwa orang tua-Nya tidak mengerti apa yang Ia katakan, dengan tulus Ia rela kembali ke Nazaret bersama orang tua-Nya.
Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Yesus bertambah besar, bertambah hikmat-Nya, dan semakin dicintai oleh Tuhan Allah, Bapa-Nya, serta manusia yang mengenal Dia.
Kita juga dapat melihat kesetiaan Bapa yang mengasihi Yesus dan juga mengasihi kita sebagai pengikut Yesus.
Tuhan Allah memelihara Yesus dalam keberadaan-Nya sebagai manusia.
Kita dapat belajar bagaimana Yesus menghadapi pencobaan ketika Ia dicobai oleh Iblis:
Lukas 4:9-11 “Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.”
Iblis mengetahui bahwa Yesus Kristus, sebagai Anak Manusia, sangat dilindungi oleh Bapa-Nya.
Yesus tidak akan jatuh ke dalam dosa karena kelalaian atau kesalahan sedikit pun.
Meskipun Ia adalah manusia, Bapa-Nya menjaga Dia supaya tidak jatuh ke dalam dosa sedikit pun.
Untuk itu, Bapa melindungi Dia dengan pasukan malaikat-malaikat Allah.
Sejak berada dalam kandungan ibu-Nya, Ia telah penuh dengan Roh Kudus.
Dari kehidupan Yesus, kita dapat belajar untuk tetap rendah hati dan tidak arogan, sekalipun berhadapan dengan Iblis, musuh besar-Nya.
Yesus selalu mengandalkan Firman Tuhan, bukan hikmat dan pengetahuan-Nya sendiri, tetapi Dia senantiasa mengandalkan Firman Bapa-Nya.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak anak-anak Tuhan terlihat arogan dalam kehidupan mereka, apalagi ketika sudah memiliki jabatan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Melihat keadaan saat ini, apa yang dianjurkan oleh rasul Paulus?
Dalam menghadapi keadaan saat ini, apa yang seharusnya kita tanggalkan dan apa yang sepatutnya kita kenakan?
Untuk menghadapi apa kita harus selalu mengenakan Tuhan Yesus?
Dalam hal apa, kita tidak perlu merawat tubuh kita?
Saudara, dalam masa-masa kegelapan ketika kejahatan merajalela dan orang-orang percaya terkena imbasnya, bahkan banyak yang ikut terlibat, kehidupan orang percaya menjadi tidak berbeda dengan kehidupan orang dunia.
Namun, nasihat Rasul Paulus dalam nas Alkitab yang kita renungkan pagi ini mengajarkan supaya orang-orang percaya hidup dengan mengenakan Yesus dan meninggalkan cara hidup yang tidak baik.
Perbedaan antara orang percaya dan orang yang tidak percaya terletak pada keadaan batin mereka.
Batin orang percaya didiami oleh Roh Kudus, sedangkan orang yang tidak percaya didiami oleh rohnya sendiri atau dikuasai oleh roh jahat.
Oleh karena itu, Rasul Paulus menasihati jemaat di Roma sebagaimana disampaikan dalam nats Alkitab pagi ini.
Dalam bagian kitab yang lain, ia juga menasihati jemaat:
Galatia 3:26-27 “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.”
Karena kita telah mengenakan Kristus, maka hendaklah kita juga hidup seperti Kristus supaya semua orang mengetahui bahwa kita adalah anak-anak Allah.
Kita adalah pengikut atau murid-murid Kristus yang telah dimeteraikan dengan Roh Kudus di dalam batin kita.
Efesus 1:13 “Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.”
Yesus pernah menyatakan bahwa Roh Kudus adalah Pribadi Allah yang akan menggantikan kehadiran Yesus di muka bumi ini setelah Yesus Kristus naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Bapa.
Roh Kudus disebut sebagai Penolong bagi umat yang mengikut Yesus Kristus.
Yohanes 14:26 “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”
Dengan mengenakan Kristus, marilah kita hidup sesuai dengan apa yang Yesus Kristus kehendaki.
Biarlah Roh Kudus yang telah berdiam di dalam batin kita mengajar kita sesuai dengan tujuan kedatangan-Nya untuk tinggal dalam batin anak-anak Allah, yaitu murid-murid Yesus Kristus.
Rasul Paulus menuliskan suratnya kepada jemaat di Galatia:
Galatia 5:25 “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh”
Oleh karena kita telah mengenakan Kristus, maka sepatutnyalah hidup kita mengikuti pimpinan Roh Kudus dan tidak lagi dikendalikan oleh kedagingan kita, sehingga kita tidak lagi hidup sembarangan.
Pastikan kita harus menjauhi cara hidup orang berdosa, seperti berpesta pora, mengikuti pola hidup hedonisme dan konsumerisme, serta berbagai bentuk kehidupan yang dikuasai oleh kedagingan.
Cara hidup kita sebelum kita bertobat dan mengenakan Kristus:
Galatia 5:19-21 “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”
Saudara yang terkasih di dalam Kristus, marilah kita hidup intim dengan Bapa melalui doa, pembacaan Firman yang teratur, saat teduh, dan senantiasa mengenakan Kristus.
Marilah kita hidup oleh Roh Kudus dan dipimpin oleh Roh Kudus sehingga orang-orang di sekitar kita dapat melihat terang Allah yang dipancarkan melalui kehidupan orang-orang yang dipimpin oleh Roh Kudus, yaitu mereka yang senantiasa mengenakan Kristus.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak orang percaya yang mengaku Yesus sebagai Tuhan, tetapi hidupnya tidak berbeda dengan orang-orang dunia, senang berpesta pora, memamerkan kekayaan, dan melakukan berbagai hal lainnya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang menjadi dasar Rasul Paulus menuliskan nasehat kepada jemaat di Roma, dalam nats yang sedang kita baca ini?
Apa yang sepatutnya kita persembahkan kepada Tuhan?
Larangan apa yang dituliskan oleh Rasul Paulus?
Perubahan apa yang dianjurkan supaya kita lakukan?
Saudara, kita adalah manusia yang sangat beruntung karena kita menjadi orang-orang yang dipilih oleh Yesus Kristus.
Yohanes 15:16 “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”
Tuhan Yesus berkenan memilih kita karena kasih karunia dan kasih-Nya yang tidak terbatas dan tidak bersyarat.
Rasul Paulus menulis dalam Alkitab:
Roma 5:8 “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”
Efesus 2:8-9 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
Dari kedua bagian Firman ini, kita dapat belajar bahwa kita adalah orang-orang yang beruntung karena dapat mendengar Injil keselamatan atau Injil kebenaran, yang olehnya kita memperoleh iman yang menyelamatkan kita.
Efesus 1:13-14 “Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”
Oleh karena itu, kita merupakan sebagian orang yang Tuhan pilih karena kemurahan-Nya semata-mata.
Saudara, dengan tegas Tuhan menyatakan bahwa Dia memilih kita dan telah menetapkan kita untuk pergi menghasilkan buah.
Dia menghendaki agar buah yang kita hasilkan adalah buah yang tetap, maksudnya buah yang tinggal tetap.
Alkitab menyatakan bahwa ada tiga hal yang dapat tinggal tetap, yaitu kasih, Firman Allah, dan jiwa manusia.
Ketiganya merupakan hal yang tinggal tetap atau kekal.
Oleh karena itu, ternyata Tuhan berkehendak memilih dan menyelamatkan kita supaya kita rela pergi untuk menghasilkan buah yang tinggal tetap.
Yohanes 13:34-35 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Nah, untuk memenuhi panggilan dan perintah inilah Rasul Paulus menasihatkan:
Roma 12:1-2 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Tuhan menginginkan kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup.
Tuhan menginginkan seluruh tubuh dan seluruh kehidupan kita yang kudus, yaitu kehidupan yang berkenan kepada Allah, sebagai ibadah yang sejati.
Jadi, yang diinginkan oleh Allah adalah seluruh kehidupan kita sebagai persembahan di dalam ibadah yang sejati.
Tuhan menginginkan supaya kita tidak menjadi serupa atau sama dengan dunia ini.
Tuhan menginginkan supaya kita berubah dan kehidupan kita mengalami perubahan budi.
Perubahan budi tersebut akan menyebabkan kita mampu membedakan manakah kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.
Saudara, hanya karena kasih karunia kita dapat mengenal Yesus.
Dengan jelas Yesus mengatakan bahwa hal itu terjadi karena Yesus memilih kita.
Dia memilih kita supaya kita dianugerahi Roh Kudus yang akan memulihkan kita menjadi ciptaan yang baru dan menolong kita untuk pergi menghasilkan buah yang tinggal tetap.
Oleh karena itu, marilah kita membangun hubungan yang intim dengan Roh Kudus supaya kita diajar, ditolong, dan dipimpin oleh-Nya sehingga kita benar-benar mengalami kehidupan yang dapat menghasilkan buah yang tinggal tetap, seperti yang Yesus kehendaki.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa ada orang percaya yang menghasilkan buah yang banyak, sementara ada yang tidak berbuah sama sekali?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Kekuatiran apa yang dilarang oleh rasul Paulus dalam nats ini?
Apa yang dapat memelihara hati dan pikiran kita, dan bagaimana caranya?
Mengapa dengan memikirkan hal-hal yang mulia dapat menghalau kekuatiran kita?
Seseorang pernah mengatakan, “Kekuatiran adalah menghina Tuhan!” Coba jelaskan!
Saudara, Rasul Paulus mengajarkan kita melalui nats Alkitab ini supaya kita tidak kuatir.
Ia juga mengajarkan agar damai sejahtera memelihara hati dan pikiran kita.
Yesus juga mengajarkan supaya kita tidak kuatir tentang makanan, minuman, dan pakaian.
Matius 6:31 “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?”
Kekuatiran, kecemasan, kebimbangan, bahkan ketakutan merupakan tanda bahwa kita tidak percaya atau kurang percaya atau dengan kata lain, kita tidak beriman.
Saudara, ketika kita sudah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kita perlu memahami bahwa Yesus menjadi Gembala yang baik bagi kita.
Karena itu, berlakulah Firman yang ditulis oleh pemazmur ini bagi kita yang sudah percaya dan beriman kepada Yesus Kristus:
Mazmur 23:1-3 “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.”
Saudara, Yesus juga dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa:
Yohanes 10:11 “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya”
Firman Tuhan dengan jelas menyatakan hubungan kita dengan Dia sehingga kita tidak perlu lagi cemas, kuatir, atau takut.
Kita tidak perlu terus hidup dalam keraguan, kekuatiran dan ketakutan, karena Tuhan Yesus telah menyatakan bahwa Dia adalah Gembala yang baik.
Saudara, ketika dalam kehidupan kita mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan, sangatlah perlu bagi kita untuk mengingat bahwa Tuhan adalah Gembala yang baik.
Gembala yang baik adalah Gembala yang rela mati bagi kita, sehingga kita tidak perlu takut.
Rasul Paulus juga pernah menulis kepada jemaat di Roma:
Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Saudara, percayalah bahwa Tuhan sedang merenda kehidupan kita.
Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
Oleh karena itu, pelajarilah Firman Allah dan rajinlah membaca Firman Tuhan supaya kita tidak perlu hidup dalam kekuatiran, ketakutan, atau kebimbangan.
Dengan semakin mengenal dan memahami Allah sebagai Bapa kita, percayalah damai sejahtera dari Yesus Kristus memenuhi hati, pikiran, kemauan, dan jiwa kita.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apa yang menyebabkan seseorang senantiasa kuatir, bimbang, atau takut dalam menghadapi kehidupan ini?