Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Bagaimana kita dapat tetap percaya kepada-Nya ketika menghadapi pergumulan yang berat?
Apa artinya menjadi lebih dari orang-orang yang menang melalui Dia yang mengasihi kita?
Salah satu kebutuhan terdalam manusia adalah dikasihi dan diterima.
Kita ingin mengetahui bahwa ada seseorang yang tetap mengasihi kita ketika kita gagal, mendampingi kita ketika kita menderita, dan tidak meninggalkan kita ketika keadaan menjadi sulit.
Namun, kasih manusia terkadang mengalami keterbatasan.
Hubungan yang dahulu dekat dapat menjadi renggang.
Orang yang kita harapkan dapat menolong mungkin tidak selalu hadir. Keadaan ekonomi, kesehatan, pekerjaan, dan kehidupan keluarga dapat berubah.
Bahkan, ketika menghadapi penderitaan yang berat, seseorang dapat mulai bertanya, “Apakah Tuhan masih mengasihi saya? Jika Tuhan mengasihi saya, mengapa saya harus mengalami semua ini?”
Pertanyaan seperti ini bukan hal yang asing dalam perjalanan iman.
Firman Tuhan juga menyatakan bahwa orang percaya dapat mengalami penderitaan.
Tetapi ketika kita menghadapi kesulitan, jangan hanya melihat apa yang hilang.
Ingatlah juga karya keselamatan Kristus dan pengharapan yang telah diberikan-Nya.
Keadaan dapat berubah, tetapi kasih Allah yang dinyatakan di dalam Kristus tetap menjadi dasar iman kita.
Iman tidak berarti kita harus selalu terlihat kuat.
Kita dapat menangis, merasa kecewa, atau mengakui bahwa kita sedang lelah.
Tetapi yang penting, jangan menjadikan kesedihan sebagai alasan untuk menyimpulkan bahwa hidup tidak lagi memiliki harapan.
Bawalah pergumulan itu kepada Tuhan dan, bila diperlukan, carilah dukungan dari orang yang dapat dipercaya.
Firman Tuhan yang telah kita baca memberikan penghiburan yang mendalam bagi kita orang percaya.
Kita mungkin menghadapi kesesakan, penindasan, penganiayaan, kelaparan, bahaya, atau berbagai pergumulan lain.
Kita mungkin tidak selalu memahami mengapa hal-hal tersebut terjadi.
Firman Tuhan mengajarkan bahwa kita lebih dari orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita.
Kemenangan kita tidak didasarkan pada kemampuan untuk menghindari semua penderitaan, tetapi pada kasih Allah yang tidak dapat dibatalkan oleh keadaan apa pun.
Karena itu, ketika kita menghadapi hari-hari yang berat, tetaplah datang kepada Tuhan.
Ketika masa depan terasa tidak pasti, tetaplah berjalan dalam iman.
Ketika kehilangan membuat hati kita terluka, izinkan diri kita berduka sambil memelihara pengharapan.
Ketika kita merasa lemah, jangan ragu meminta pertolongan.
Ingatlah bahwa kasih Kristus tidak diukur dari seberapa mudah kehidupan kita, tetapi menjadi dasar pengharapan yang menopang kita dalam setiap musim kehidupan.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan, ketika engkau menghadapi penderitaan atau kehilangan, apakah engkau masih percaya bahwa kasih Kristus tetap menyertaimu? Mengapa?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apakah alasan sehingga kita tidak perlu hidup dalam ketakutan akan tuduhan dan penghukuman?
Apa langkah nyata yang dapat kita lakukan ketika menghadapi kegagalan dan rasa bersalah?
Setiap kita pasti pernah menghadapi tantangan dan pergumulan dalam kehidupan.
Ada saat ketika kita menghadapi masalah keluarga, tekanan pekerjaan, kesulitan ekonomi, penyakit, kegagalan, atau perlakuan tidak adil dari orang lain.
Dalam keadaan tertentu, kita bahkan dapat merasa sendirian, seolah-olah tidak ada seorang pun yang memahami dan mendukung kita.
Ketika menghadapi keadaan seperti itu, muncul pertanyaan: Siapakah yang dapat menolong kita? Bagaimana kita dapat tetap kuat ketika menghadapi begitu banyak tantangan?
Firman Tuhan dalam Roma 8:31b “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?”
Pernyataan ini bukan berarti orang percaya tidak akan mengalami kesulitan atau tidak mempunyai musuh.
Paulus, penulis kitab Roma, mengalami penganiayaan, penderitaan, dan berbagai ancaman dalam pelayanannya.
Namun, ia mengetahui bahwa tidak ada kekuatan apa pun yang dapat menggagalkan tujuan akhir Allah bagi mereka yang ada di dalam Kristus.
Allah di pihak kita tidak berarti Allah selalu menyetujui semua keinginan kita atau akan memberikan apa pun yang kita minta.
Faktanya adalah, Allah telah bertindak bagi keselamatan kita melalui Yesus Kristus dan tetap setia menggenapi tujuan-Nya dalam kehidupan umat-Nya.
Kebenaran ini mengubah cara kita memandang masalah.
Kita tidak lagi menghadapi kehidupan hanya berdasarkan kekuatan, kemampuan, atau sumber daya yang kita miliki.
Kita menghadapi kehidupan dengan keyakinan bahwa Allah menyertai dan menuntun kita.
Firman Tuhan juga menyatakan bahwa Allah, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
Jika Allah telah menyerahkan Anak-Nya sendiri demi keselamatan kita, maka kita mempunyai alasan yang kuat untuk mempercayai kebaikan dan kesetiaan-Nya.
Ayat ini bukan janji bahwa Allah akan memberikan semua barang, kekayaan, jabatan, atau kenyamanan yang kita inginkan.
Ungkapan “segala sesuatu” perlu dipahami dalam konteks karya keselamatan dan tujuan Allah bagi umat-Nya.
Allah mengetahui kebutuhan kita, tetapi Ia juga mengetahui apa yang benar-benar kita perlukan untuk bertumbuh dalam iman dan menjalani kehendak-Nya.
Ada kalanya Tuhan membuka jalan yang tidak kita duga.
Ada kalanya Ia memberi kekuatan untuk bertahan ketika jalan keluar belum terlihat.
Ada pula saat ketika Ia mengajar kita melalui proses yang tidak mudah.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan pengalamanmu ketika engkau menghadapi kesulitan, apa yang biasanya engkau lakukan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Jika kemalangan orang benar itu banyak, bagaimana kita tetap percaya kepada Tuhan dan bertahan dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup?
Apa artinya berlindung kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari?
Kehidupan manusia tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan.
Ada saat-saat ketika kita mengalami sukacita, keberhasilan, dan kelimpahan, tetapi ada pula masa ketika kita menghadapi kesedihan, kegagalan, kehilangan, penyakit, masalah keluarga, tekanan pekerjaan, maupun kesulitan ekonomi.
Tidak jarang, berbagai persoalan tersebut membuat hati kita terluka dan jiwa kita merasa lelah.
Dalam keadaan seperti itu, kita mungkin bertanya: Di manakah Tuhan ketika saya mengalami kesulitan? Apakah Tuhan masih peduli terhadap penderitaan saya? Mengapa orang yang berusaha hidup benar juga mengalami kemalangan?
Mazmur 34:19 “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”
Firman Tuhan memberikan penghiburan bahwa Tuhan dekat dengan orang-orang yang mengalami keadaan seperti itu. Tuhan hadir ketika kita menangis, kecewa, dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan.
Mazmur 34:20 “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.”
Ayat ini mengajarkan kebenaran penting: hidup benar tidak membuat seseorang kebal terhadap penderitaan.
Bahkan kadang Tuhan harus berbicara kepada seseorang melalui penderitaan.
Tuhan mengijinkan umat-Nya mengalami kemalangan karena kadang dengan cara itu orang tersebut baru berpaling untuk bertanya kepada Tuhan, mengapa dia mengalami kemalangan atau penderitaan.
Dalam situasi normal, Tuhan berbicara kepada umat-Nya melalui Firman yang kita baca, atau melalui petunjuk Roh yang berbicara dalam hati kita.
Tetapi kalau dengan cara tersebut kita masih belum mengenali “suara-Nya”, maka Tuhan bisa memakai sesuatu yang kita rasakan.
Misalnya sakit penyakit, atau kegagalan.
Umumnya jika kita mengalami hal seperti itu, kita akan introspeksi dan bertanya kepada Tuhan mengapa Tuhan ijinkan kita mengalami hal tersebut.
Tetapi karena tujuannya adalah bukan untuk menghukum, maka sesudah kita berdialog dengan Tuhan melalui doa dan renungan Firman.
Maka Tuhan akan lebih leluasa untuk segera menolong kita melewati kemalangan tersebut.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan pengalamanmu dalam mengatasi kesulitan ekonomi atau sakit penyakit.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah Hizkia dalam kisah 2 Raja-raja 20:1–6?
Apa yang terjadi dengan kesehatan Hizkia?
Siapakah yang datang menyampaikan pesan Tuhan kepada Hizkia?
Ada saat-saat dalam kehidupan ketika kita menerima berita yang sangat berat.
Penyakit, kelemahan tubuh, masalah keluarga, atau keadaan yang seolah-olah tidak memiliki jalan keluar dapat membuat seseorang mengeluh bahkan kehilangan harapan.
Hal yang sama dialami oleh Hizkia.
Ia adalah seorang raja, tetapi kedudukannya tidak membuatnya kebal terhadap sakit dan penderitaan.
Dalam 2 Raja-raja 20:1, nabi Yesaya datang kepadanya dan menyampaikan pesan bahwa ia harus menyelesaikan urusan keluarganya karena ia akan mati dan tidak akan sembuh.
Mendengar berita tersebut, Hizkia tidak mencari pelarian.
Ia menghadapkan wajahnya kepada Tuhan dan berdoa.
Ia menangis di hadapan Tuhan dan mengingat bagaimana selama ini ia hidup di hadapan-Nya.
Menariknya, ketika Hizkia sedang berdoa, Tuhan memberikan jawaban.
Tuhan berkata kepada Yesaya Aku telah mendengar doamu dan telah melihat air matamu.
Kemudian Tuhan menyampaikan berita yang penuh pengharapan: Sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau.
Kisah Hizkia mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak jauh dari orang yang sedang mengalami penderitaan.
Tuhan mendengar doa dan melihat air mata. Ada kalanya manusia tidak memahami apa yang sedang kita alami.
Bahkan orang-orang terdekat kita mungkin tidak mengerti betapa beratnya pergumulan yang sedang kita hadapi.
Tetapi Tuhan mengetahui semuanya. Air mata Hizkia tidak tersembunyi dari Tuhan. Doanya tidak sia-sia.
Karena itu, ketika kita sedang menghadapi sakit atau ketika melihat seseorang menderita karena penyakit, jangan berhenti berharap kepada Tuhan.
Bawalah pergumulan itu dalam doa.
Kita menjadi Pembawa Berita Kesembuhan dipanggil bukan hanya untuk menerima pertolongan Tuhan, tetapi juga menjadi pembawa pengharapan bagi orang lain.
Ketika ada orang sakit, mungkin ia tidak membutuhkan banyak nasihat.
Ia mungkin membutuhkan seseorang yang mau hadir, mendengarkan, memegang tangannya, mendoakannya, dan berkata jangan kehilangan harapan, mari kita datang kepada Tuhan dalam doa.
Berita kesembuhan bukan berarti kita menjanjikan bahwa setiap orang pasti langsung sembuh.
Kita tidak menentukan bagaimana Tuhan harus menjawab doa.
Namun kita dapat membawa berita bahwa Tuhan peduli, Tuhan mendengar, Tuhan sanggup menolong, dan kita tidak pernah sendirian.
Hizkia menerima berita kesembuhan dari Tuhan.
Namun yang perlu kita perhatikan adalah sikap hatinya sebelum menerima jawaban tersebut.
Ia datang kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Iman bukan berarti kita tidak pernah takut atau menangis.
Iman berarti kita tetap datang kepada Tuhan sekalipun kita sedang takut dan menangis.
Ada orang yang berkata, Kalau saya menangis, berarti saya tidak beriman, tidak demikian.
Hizkia menangis, tetapi ia juga berdoa. Ia mengalami kesedihan, tetapi ia tetap mencari Tuhan.
Air mata tidak selalu menunjukkan kelemahan iman.
Kadang-kadang air mata justru menjadi bagian dari doa yang paling jujur di hadapan Tuhan.
Ketika Tuhan memberikan pertolongan, jangan lupa untuk bersyukur dan bersaksi.
Kesembuhan Hizkia menjadi bukti bahwa Tuhan mendengar doanya.
Demikian juga ketika kita mengalami pertolongan Tuhan dalam kehidupan kita, pengalaman tersebut dapat menjadi kesaksian yang menguatkan orang lain.
Mungkin kesaksian kita sederhana.
Mungkin kita pernah sakit, takut, kecewa, atau berada dalam keadaan sulit, tetapi Tuhan memberikan kekuatan dan pertolongan.
Oleh karena itu jangan meremehkan kesaksian itu, karena apa yang Tuhan lakukan dalam hidup kita, hal tersebut dapat menjadi berita pengharapan bagi orang lain.
Jika kamu berada di posisi Hizkia, apa yang akan kamu lakukan ketika menerima berita yang sangat berat? Mengapa menurutmu, Tuhan ingin kita tetap berdoa ketika menghadapi penderitaan? Bagaimana seorang dapat menjadi pembawa berita kesembuhan bagi teman-temannya di sekolah, kampus, pekerjaan, keluarga, atau gereja?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa perintah utama Yesus kepada murid-murid-Nya dalam Markus 16:15?
Kepada siapa Injil harus diberitakan?
Setiap orang percaya dipanggil bukan hanya untuk menerima kasih dan keselamatan dari Tuhan, tetapi juga membawa kabar baik kepada orang lain.
Yesus memberikan perintah yang jelas kepada murid-murid-Nya: “Pergilah!”
Kata pergilah menunjukkan bahwa Injil tidak boleh hanya tinggal di dalam gereja.
Injil harus dibawa ke sekolah, kampus, tempat kerja, keluarga, lingkungan masyarakat, dan kepada orang-orang yang sedang mengalami pergumulan.
Pergi berarti bergerak dan mengambil langkah.
Kita tidak dipanggil hanya untuk duduk dan menunggu orang lain datang kepada kita.
Tuhan mengutus kita untuk menjumpai orang-orang di sekitar kita.
Mungkin di sekitar kita ada teman yang sedang sakit.
Ada keluarga yang sedang mengalami masalah.
Ada teman sekolah atau teman kuliah yang sedang mengalami tekanan hidup.
Ada seseorang yang tersenyum di luar, tetapi sebenarnya sedang menangis di dalam hatinya.
Tuhan dapat memakai kita untuk datang kepada mereka, tetapi kadang-kadang kita berpikir bahwa untuk melayani Tuhan kita harus melakukan sesuatu yang besar.
Padahal, pelayanan dapat dimulai dari hal yang sederhana: datang, mendengarkan, menghibur, membantu, dan mendoakan.
Satu kunjungan dapat memberikan penghiburan.
Satu doa dapat membangkitkan harapan.
Satu perkataan tentang kasih Yesus dapat menguatkan seseorang yang hampir menyerah.
Yesus melanjutkan perintah-Nya “Beritakanlah Injil.”
Injil adalah kabar baik tentang Yesus Kristus dan dunia membutuhkan kabar baik itu.
Ada banyak orang yang memiliki pendidikan, pekerjaan, uang, dan berbagai fasilitas, tetapi tetap merasa kosong.
Mereka membutuhkan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh dunia, yaitu pengharapan yang berasal dari Kristus.
Karena itu, jangan malu untuk menceritakan kasih Tuhan.
Kita dapat memberitakan Injil melalui perkataan kita, tetapi juga melalui kehidupan kita.
Ketika kita mengasihi orang lain, mengampuni, menolong, peduli kepada mereka yang menderita, dan tetap memiliki pengharapan dalam kesulitan, kehidupan kita menjadi kesaksian tentang Kristus.
Markus 16:17–18 berbicara tentang tanda-tanda yang menyertai orang percaya, termasuk pelayanan kepada mereka yang sakit.
Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan peduli terhadap manusia secara utuh.
Tuhan memperhatikan tubuh, hati, pikiran, dan kehidupan rohani manusia.
Ketika seseorang sakit, kita dapat hadir dan berkata Saya akan mendoakanmu, ketika seseorang sedang putus asa, kita dapat berkata Jangan menyerah, Tuhan masih mengasihimu.
Namun kita percaya bahwa Tuhan adalah sumber kesembuhan, dan kita dipanggil untuk membawa orang yang sakit kepada-Nya melalui doa dan pelayanan kasih.
Sering kali yang menjadi penghalang bagi kita untuk bersaksi bukan karena kita tidak memiliki kesempatan, tetapi karena kita takut.
Takut ditolak, takut dianggap aneh, takut tidak tahu harus berkata apa, takut tidak mampu menjawab pertanyaan orang lain, dsb.
Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna. Tuhan meminta kita bersedia.
Ketika kita bersedia dipakai Tuhan, Dia dapat menggunakan perkataan sederhana, doa sederhana, bahkan tindakan kecil kita untuk menyentuh kehidupan seseorang.
Karena itu, jangan menunggu sampai kita merasa hebat baru melayani.
Mulailah dari apa yang ada di tangan kita. Jika kita bisa berdoa, berdoalah. Jika kita bisa menghibur, hiburlah.
Jika kita bisa menolong, tolonglah. Jika kita bisa bersaksi, bersaksilah.
Jika kita bisa mengunjungi orang sakit, datangilah mereka.
Saudara-saudari, dunia membutuhkan orang-orang percaya yang bukan hanya berbicara tentang kasih Tuhan, tetapi juga menunjukkan kasih Tuhan.
Jadilah pembawa berita kesembuhan. Ketika ada yang sakit, hadir dan doakan, ketika ada yang terluka, dengarkan.
Ketika ada yang putus asa, berikan pengharapan. Ketika ada yang jauh dari Tuhan, arahkan kepada Kristus.
Ketika ada yang membutuhkan pertolongan, jangan menutup mata.
Mungkin kita tidak dapat menyelesaikan semua masalah seseorang.
Tetapi melalui kita, seseorang dapat merasakan bahwa Tuhan tetap mengasihi orang tersebut apapun kondisinya.
Apakah selama ini saya sudah berani menjadi saksi Kristus? Bagaimana cara memberitakan Injil tanpa membuat orang merasa dipaksa? Apa komitmen pribadi yang dapat kita lakukan setelah memahami Markus 16:15–18?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah Tabita yang disebut dalam Kisah Para Rasul 9:36?
Menurut Kisah Para Rasul 9:42, apa tujuan penting dari peristiwa tersebut?
Ada saat-saat dalam kehidupan ketika kita berhadapan dengan keadaan yang begitu berat.
Sakit, kehilangan, kegagalan, masalah keluarga, pergumulan dalam pendidikan, maupun berbagai persoalan hidup dapat membuat kita merasa seolah-olah tidak ada lagi harapan.
Kisah Tabita dalam Kisah Para Rasul 9:36–42 mengingatkan kita bahwa dalam keadaan yang sulit sekalipun, Tuhan tetap bekerja.
Tabita adalah seorang murid Tuhan yang dikenal karena banyak melakukan kebaikan dan menolong orang lain.
Kehidupannya menjadi berkat bagi banyak orang. Ketika Tabita sakit dan kemudian meninggal, orang-orang yang mengenalnya merasa sangat kehilangan.
Mereka kemudian memanggil Petrus.
Ketika Petrus datang, ia tidak langsung bertindak dengan kekuatannya sendiri.
Petrus menyuruh semua orang keluar, kemudian berlutut dan berdoa.
Di sinilah kita belajar sesuatu yang penting bahwa doa harus menjadi bagian utama ketika kita menghadapi pergumulan.
Sering kali ketika menghadapi masalah, kita lebih dahulu panik.
Kita mencari jalan keluar dengan kekuatan sendiri, bertanya kepada banyak orang, atau merasa takut terhadap keadaan yang ada.
Namun Petrus menunjukkan bahwa ada saatnya kita harus berhenti sejenak, datang kepada Tuhan, berlutut, dan berdoa.
Doa bukan sekadar kata-kata yang kita ucapkan. Doa adalah ungkapan iman bahwa kita percaya Tuhan sanggup melakukan sesuatu yang tidak mampu kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri.
Setelah berdoa, Petrus berkata kepada Tabita, “Bangkitlah!” Dan Tuhan menyatakan kuasa-Nya. Tabita hidup kembali.
Peristiwa tersebut kemudian diketahui oleh banyak orang di Yope.
Kisah Para Rasul 9:42 berkata bahwa banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan.
ni menunjukkan bahwa pemulihan yang Tuhan kerjakan dapat menjadi kesaksian bagi orang lain.
Ketika Tuhan menjawab doa kita, jangan hanya melihatnya sebagai berkat untuk diri sendiri.
Kesaksian tentang pertolongan Tuhan dapat menguatkan iman orang lain.
Mungkin saat ini ada seseorang di sekitar kita yang sedang sakit.
Jangan hanya berkata, “Semoga cepat sembuh.”
Mari kita mengambil waktu untuk berdoa baginya.
Mungkin ada teman yang sedang mengalami tekanan dalam pendidikan, pekerjaan, keluarga, atau kehidupan pribadi.
Jadilah orang yang mau mendengarkan, menguatkan, dan mendoakannya.
Mungkin ada seseorang yang kehilangan pengharapan.
Kehadiran kita, doa kita, dan kasih kita dapat menjadi sarana Tuhan untuk membawa penghiburan.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk membawa berita kesembuhan.
Kita membawa orang yang membutuhkan kepada Tuhan yang berkuasa menyembuhkan dan memulihkan.
Kesembuhan dapat terjadi secara fisik, tetapi pemulihan Tuhan juga dapat menyentuh hati, pikiran, hubungan, iman, dan pengharapan seseorang.
Karena itu, jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah doa.
Satu doa dapat menjadi awal dari sebuah pengharapan.
Satu tindakan kasih dapat menguatkan seseorang yang hampir menyerah.
Satu kesaksian dapat membawa seseorang semakin dekat kepada Tuhan.
Kisah Tabita mengajak kita untuk menjadi orang yang tidak hanya menerima kasih Tuhan, tetapi juga membagikan kasih itu kepada orang lain.
Marilah kita menjadi pribadi yang suka berdoa, suka menolong, dan berani bersaksi tentang kebaikan Tuhan.
Biarlah melalui kehidupan kita, orang lain melihat bahwa di dalam Tuhan masih ada pengharapan, pertolongan, dan pemulihan.
Apa yang dapat kita pelajari dari sikap Petrus ketika menghadapi keadaan yang sulit? Bagaimana pengalaman pertolongan Tuhan dapat menjadi sebuah kesaksian? Apa hubungan antara doa, pemulihan, dan kesaksian dalam kisah Tabita?