Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut Kolose 3:8-9, hal-hal apa saja yang termasuk dalam “manusia lama” yang harus kita buang?
Apa perbedaan antara manusia lama dan manusia baru yang Paulus gambarkan dalam ayat 9-10?
Mengapa dusta tidak bisa ditoleransi dalam kehidupan orang percaya, meskipun hanya dusta “kecil”?
“Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,” (Kolose 3:9).
Misalkan kamu memiliki pakaian yang sudah lama dipakai, kotor, robek, dan bau.
Tentu kamu tidak akan betah memakainya.
Kamu pasti ingin segera melepasnya dan mengganti dengan pakaian yang bersih dan wangi.
Paulus menggunakan gambaran seperti ini untuk menjelaskan kehidupan rohani kita.
Sebelum mengenal Kristus, kita semua memakai “manusia lama” yang penuh dengan dosa: kebiasaan marah-marah, iri hati, berkata kotor, dan juga berdusta.
Dusta sering kita anggap sepele, tapi Paulus memasukkannya ke dalam daftar hal yang harus dibuang.
Mengapa? Karena dusta adalah kebiasaan dari manusia lama yang tidak layak dipakai oleh anak-anak Allah yang baru lahir.
Dusta Merusak Gambar Allah dalam Diri Kita.
Prinsip pertama dari ayat ini adalah bahwa dusta adalah bagian dari manusia lama yang harus kita tinggalkan total.
Banyak orang berpikir dusta kecil tidak masalah asalkan tidak merugikan orang lain.
Tapi Paulus tidak memberi ruang untuk kompromi.
Dusta, sekecil apa pun, adalah kebiasaan dari sifat lama yang sudah mati bersama Kristus.
Alasan Paulus tegas: kita sudah “menanggalkan manusia lama” dan “mengenakan manusia baru”.
Manusia baru ini diciptakan menurut gambar Allah, dan Allah adalah Kebenaran.
Tidak mungkin seorang anak Allah yang baru lahir terus hidup dalam kebohongan.
Seperti pakaian kotor yang tidak cocok dipakai di pesta pernikahan, dusta tidak cocok dengan identitas baru kita sebagai anak-anak Terang.
Manusia Baru Terus Diperbaharui dalam Kebenaran.
Prinsip kedua adalah bahwa manusia baru tidak statis, tetapi terus diperbaharui setiap hari.
Paulus berkata manusia baru itu “terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya”.
Ini berarti meninggalkan dusta bukan sekali jadi, tetapi proses seumur hidup.
Setiap hari kita belajar lagi untuk jujur, setiap hari Roh Kudus mengingatkan kita ketika kita tergoda untuk berbohong.
Semakin kita mengenal Kristus, semakin kita mencintai kebenaran.
Dan semakin kita hidup dalam kebenaran, semakin kita serupa dengan gambar Allah.
Proses ini memang tidak mudah, tetapi kita tidak sendirian.
Roh Kudus tinggal di dalam kita untuk menolong kita melepas kebiasaan lama dan mengenakan kebiasaan baru yang mulia.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Lakukan “cek Pakaian” Setiap Malam.
Sebelum tidur, luangkan waktu sebentar untuk merenung: “Apakah hari ini aku berkata jujur dalam setiap perkataanku? Apakah aku menyembunyikan kesalahan atau memutarbalikkan fakta?”
Jika kamu menemukan dusta, sekecil apa pun, segera minta ampun kepada Tuhan dan kepada orang yang terkena dampak dustamu.
Kebiasaan introspeksi ini akan membuatmu semakin peka terhadap kebenaran.
Kedua, Biasakan Bilang “Ya” atau “Tidak” Tanpa Tambahan. Mulai dari hal-hal sederhana.
Jika ditanya “Kamu sudah mengerjakan tugas itu?” jangan mengelak atau memberi alasan berbelit.
Jawab jujur: sudah atau belum. Jika kamu terlambat, katakan “Aku terlambat”, jangan cari-cari alasan.
Dengan latihan kecil setiap hari, karakter jujur akan terbentuk dalam dirimu, dan kamu benar-benar menjadi manusia baru yang mencerminkan gambar Allah yang benar.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki sikap hati yang selalu suka dikoreksi atau ditegur.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut konteks aslinya, dalam situasi apa perintah “jangan bersaksi dusta” ini terutama diberikan?
Apa akibat dari dusta terhadap reputasi orang lain dan terhadap komunitas secara keseluruhan?
Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk dusta kecil apa yang paling sering menggoda kita untuk melakukannya?
“Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” (Keluaran 20:16).
Mengapa Allah perlu memberikan perintah khusus tentang “jangan bersaksi dusta”? Karena di zaman dulu, alat bukti sangat terbatas.
Tidak ada CCTV, sidik jari, atau rekaman suara.
Di gerbang kota (tempat pengadilan), kesaksian seorang saksi bisa menentukan hidup mati seseorang.
Jika seorang saksi berdusta, orang yang tidak bersalah bisa dihukum mati, dan kejahatan yang nyata bisa lolos dari hukuman.
Untuk melindungi hal ini, hukum Taurat menetapkan hukuman yang setimpal bagi saksi dusta: apa yang hendak ia lakukan kepada orang lain, akan dilakukan kepadanya (Ulangan 19:19).
Dengan kata lain, jika ia berusaha menjebak orang lain agar dihukum mati, ia sendiri yang akan dihukum mati.
Ini menunjukkan betapa seriusnya Allah memandang keadilan dan kebenaran.
Melalui perintah ini, Allah mengajarkan bahwa kebenaran bukan hanya nilai moral, tetapi fondasi bagi tegaknya keadilan.
Dusta Merusak Kepercayaan dan Hubungan.
Perintah ini mengajarkan bahwa dusta tidak pernah berdampak kecil.
Dusta tidak hanya tentang mengatakan sesuatu yang tidak benar, tetapi juga tentang menyembunyikan fakta, melebih-lebihkan kebenaran, atau berdiam diri saat melihat kejahatan.
Di dalam Alkitab, dusta sering digambarkan sebagai alat kekerasan.
Amsal 25:18 berkata, “Orang yang bersaksi palsu terhadap sesamanya adalah seperti gada, pedang, dan anak panah yang tajam.”
Senjata ini melukai reputasi dan bahkan bisa membunuh.
Kita harus ingat bahwa Yesus sendiri adalah korban saksi dusta: Ia ditangkap dan diadili berdasarkan kesaksian palsu dari orang-orang yang membenci-Nya.
Oleh karena itu, bagi kita sebagai pengikut Kristus, perkataan kita bukan hanya urusan pribadi, tetapi harus menjadi alat untuk membangun, bukan untuk menghancurkan.
Reputasi dan kehormatan sesama adalah harta berharga yang harus kita lindungi.
Dusta adalah Dosa yang Merusak Komunitas.
Prinsip selanjutnya yang perlu kita pahami adalah bahwa perintah ini memiliki cakupan yang lebih luas dari sekadar ruang sidang pengadilan.
Perintah ini juga melarang fitnah dan gosip.
Ketika kita menyebarkan berita yang belum tentu benar tentang orang lain, atau ketika kita mendengarkan gosip dengan senang hati, kita sedang bersaksi dusta terhadap sesama kita.
Banyak orang yang merasa tidak berdosa karena hanya “mendengar” atau “meneruskan” cerita, tetapi Alkitab mengingatkan bahwa siapa yang dengan senang hati menerima laporan palsu sama bersalahnya dengan pembuat laporan palsu (Amsal 17:4, BIS).
Allah adalah Tuhan Kebenaran. Dia sangat membenci dusta (Amsal 6:16-19).
Karena itu, sebagai anak-anak Terang, kita dipanggil untuk membenci segala bentuk dusta dan mengasihi kebenaran.
Perkataan kita harus jujur, apa adanya, dan membangun.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Berkata Jujur dalam Segala Hal. Mulailah dari hal-hal kecil.
Jika kamu terlambat, katakan “aku terlambat”.
Jika kamu melakukan kesalahan, akui kesalahan itu.
Jangan membenarkan diri dengan kebohongan kecil.
Jika ada gosip atau cerita miring tentang orang lain, tanyakan pada dirimu: “Apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah ini perlu?” Jika tidak, lebih baik diam.
Kedua, Jadilah Pribadi yang Dapat Dipercaya.
Di lingkungan keluarga, sekolah, atau pekerjaan, usahakan agar orang lain tahu bahwa perkataanmu bisa dipegang.
Jika kamu berjanji, tepati.
Jika kamu mengatakan “ya”, lakukan. Jika kamu mengatakan “tidak”, konsekuen.
Dengan menjadi jujur dan dapat dipercaya, hidupmu menjadi terang yang menerangi kegelapan di sekitarmu, karena di dunia yang penuh kepalsuan, orang-orang yang jujur adalah mutiara yang langka dan berharga.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana cara praktis menghindari saksi dusta.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa kebiasaan orang Yahudi yang Yesus kritik dalam hal bersumpah, dan mengapa itu salah?
Apa yang Yesus perintahkan sebagai pengganti kebiasaan bersumpah? Mengapa cukup “ya” dan “tidak”?
Mengapa Yesus berkata bahwa segala sesuatu yang lebih dari “ya” dan “tidak” berasal dari si jahat?
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Matius 5:37).
Coba bayangkan zaman Yesus.
Orang-orang pandai bersumpah dengan kata-kata yang indah, tapi hati mereka licik.
Mereka bersumpah “demi Bait Allah” tapi kalau ingkar, mereka bilang itu tidak mengikat.
Mereka punya aturan rumit tentang sumpah mana yang wajib ditepati dan mana yang tidak.
Di balik semua itu, mereka ingin terlihat jujur, padahal mereka sedang mencari cara untuk berbohong tanpa ketahuan.
Yesus melihat kepalsuan ini. Ia berkata, “Janganlah sekali-kali kamu bersumpah.”
Maksud Yesus bukan melarang sumpah di pengadilan, tetapi melarang kebiasaan bersumpah dalam percakapan sehari-hari yang justru menunjukkan ketidakjujuran.
Orang yang jujur tidak perlu sumpah; kata-katanya sudah cukup.
Prinsip pertama yang Yesus ajarkan adalah bahwa kejujuran harus menjadi gaya hidup orang percaya, bukan sesuatu yang dipaksakan dengan sumpah.
Kalau kita selalu jujur, orang tidak perlu meminta kita bersumpah.
Cukup “ya” atau “tidak” dari mulut kita sudah bisa dipercaya. Ini adalah ciri hidup yang telah diubah oleh Roh Kudus.
Hati yang jujur akan melahirkan perkataan yang jujur.
Sebaliknya, orang yang suka menambah-nambahi perkataan dengan sumpah atau janji berlebihan, seringkali sedang berusaha menutupi ketidakjujuran.
Yesus mengingatkan bahwa semua perkataan kita harus keluar dari hati yang tulus.
Jangan sampai kita terlatih mengatakan hal-hal yang indah tetapi tidak benar.
Perkataan Kita Mencerminkan Identitas Kita.
Prinsip kedua adalah bahwa perkataan kita mencerminkan siapa kita di hadapan Tuhan dan manusia.
Yesus berkata, “Segala sesuatu yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”
Artinya, kebiasaan bersumpah atau berjanji berlebihan justru memberi celah bagi iblis untuk masuk.
Iblis adalah bapa segala dusta.
Kalau kita terbiasa mengatakan “demi Tuhan” untuk hal-hal yang tidak sungguh-sungguh, kita sedang mempermainkan nama Tuhan.
Kalau kita berkata “saya janji” tapi tidak ditepati, kita sedang merusak kepercayaan.
Yesus ingin kita menjadi orang yang begitu jujur sehingga kata “ya” sudah berarti pasti, dan kata “tidak” sudah berarti tegas.
Dengan begitu, kita menjadi terang di tengah dunia yang penuh kepalsuan.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Latih Dirimu untuk Berbicara Apa Adanya.
Mulai dari hal-hal kecil. Jika kamu terlambat, katakan “aku terlambat”, jangan mencari alasan berbelit.
Jika kamu tidak bisa melakukan sesuatu, katakan “tidak bisa”, jangan berjanji kosong.
Jika kamu setuju, katakan “ya” dengan tegas. Dengan latihan sederhana ini, karaktermu akan dibentuk menjadi pribadi yang dapat dipercaya.
Kedua, Hindari Perkataan Berlebihan yang Tidak Perlu.
Jangan biasakan mengatakan “demi Tuhan” atau “sumpah demi apa” dalam percakapan sehari-hari, apalagi untuk hal-hal sepele.
Biarkan perkataanmu berdiri sendiri karena kejujuranmu sudah dikenal orang.
Jika perlu berjanji, tepati. Jika tidak yakin bisa, katakan “aku akan berusaha” bukan “aku janji”.
Dengan begitu, hidupmu akan menjadi kesaksian yang nyata tentang kebenaran Kristus.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya supaya leluasa mengungkapkan kebenaran dan bicara jujur apa adanya.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa sebenarnya kesalahan Ananias dan Safira? Apakah karena mereka tidak memberikan semua uangnya, atau karena mereka berbohong?
Mengapa Petrus berkata bahwa mereka berdusta kepada Roh Kudus, bukan hanya kepada manusia (ayat 3-4)?
Apa dampak peristiwa ini terhadap jemaat dan orang-orang di luar (ayat 5,11), dan mengapa itu penting?
“Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? (Kisah Para Rasul 5:3).
Gereja mula-mula sedang dalam masa yang indah.
Banyak orang percaya saling mengasihi, menjual harta untuk membantu saudara yang kekurangan.
Semangat memberi begitu kuat, semua ingin berkontribusi.
Di tengah suasana yang hangat itu, Ananias dan Safira juga ingin ikut-ikutan.
Tapi hati mereka tidak sepenuhnya tulus.
Mereka ingin terlihat murah hati seperti orang lain, tetapi mereka juga ingin tetap menikmati sebagian uang hasil jual tanah.
Jadi mereka memilih jalan pintas: berbohong.
Mereka mengaku memberikan seluruh uang, padahal tidak.
Dusta ini bukan sekadar kesalahan kecil, tetapi sebuah serangan terhadap kekudusan dan kejujuran yang menjadi fondasi komunitas Allah.
Tuhan tidak bisa mentolerir kepalsuan di tengah umat-Nya.
Dusta adalah Dosa terhadap Roh Kudus.
Prinsip pertama dari peristiwa ini adalah bahwa dusta bukan hanya kesalahan antar manusia, tetapi dosa langsung terhadap Roh Kudus.
Petrus berkata, “Mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau berdusta kepada Roh Kudus?” (ayat 3).
Roh Kudus hadir di tengah jemaat sebagai Tuhan yang hidup.
Ketika Ananias berbohong, ia sedang menghina dan menipu Roh Kudus yang mengetahui segala sesuatu.
Ini berbeda dengan dusta biasa.
Karena Roh Kudus adalah Pribadi yang kudus, kebohongan di hadapan-Nya adalah pelanggaran yang sangat serius.
Kita sering menganggap remeh dusta-dusta kecil, tapi firman mengingatkan bahwa dusta merusak hubungan kita dengan Tuhan dan dengan komunitas iman.
Iblis disebut sebagai bapa segala dusta (Yohanes 8:44).
Ketika kita berdusta, kita membuka pintu bagi Iblis untuk menguasai hati kita.
Kekudusan Komunitas Harus Dijaga.
Prinsip kedua adalah bahwa Tuhan sangat serius menjaga kekudusan komunitas umat-Nya.
Mengapa hukuman mati yang begitu keras? Karena pada awal pembentukan gereja, Tuhan ingin menanamkan rasa takut akan kekudusan-Nya.
Satu kebohongan kecil bisa menyebar seperti ragi dan merusak seluruh jemaat.
Kalau Ananias dan Safira dibiarkan, lama-kelamaan orang lain akan berpikir bahwa berpura-pura itu boleh, bahwa menjadi munafik tidak masalah.
Gereja akan berubah menjadi panggung sandiwara, bukan persekutuan orang-orang yang hidup dalam kebenaran.
Oleh karena itu, Allah bertindak tegas sebagai peringatan bagi semua orang bahwa tidak ada tempat bagi kepalsuan di dalam tubuh Kristus.
Rasa takut yang melanda jemaat (ayat 5, 11) adalah rasa hormat yang sehat kepada Allah yang kudus.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Jadilah Pribadi yang Jujur dalam Hal Kecil.
Kebohongan sering dimulai dari hal-hal yang sepele: mengubah sedikit fakta, menyembunyikan kesalahan, atau pura-pura baik padahal hati kesal.
Mulailah berlatih jujur hari ini. Katakan apa adanya, meskipun itu tidak menguntungkanmu.
Percayalah bahwa Tuhan lebih menyukai kejujuran yang rendah hati daripada kepura-puraan yang indah.
Kedua, Segera Mengaku dan Bertobat jika Telah Berdusta.
Jika kamu sadar sudah berbohong, jangan biarkan kebohongan itu berlarut-larut.
Cepatlah mengaku kepada Tuhan dan kepada orang yang bersangkutan. Minta maaf dan perbaiki.
Lebih baik malu sejenak karena mengaku salah, daripada terus hidup dalam kepalsuan yang merusak hati dan komunitas.
Tuhan adalah pengampun, dan Ia ingin kita hidup dalam kebenaran.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya memiliki hati yang mudah mengakui kesalahan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang disebut Tuhan Allah sebagai sikap kurang ajar terhadap umat-Nya, Israel?
Apa yang dibicarakan oleh umat Allah yang tidak setia di Israel pada waktu itu?
Apa yang dibicarakan oleh umat Israel yang takut akan Tuhan, yaitu mereka yang taat dan setia kepada Tuhan Allah?
Kepada siapa Tuhan berjanji akan menyayangi pada masa yang akan datang?
Saudara, ketika kita percaya kepada Firman kebenaran, yaitu Injil keselamatan, maka Tuhan Allah Bapa melalui Yesus Kristus menganugerahkan Roh Kudus ke dalam hati kita.
Roh Kudus akan mengajar, menolong, menghibur, dan membimbing kita.
Ia membimbing kita dari dalam batin, sehingga kita dapat mendengar suara Tuhan, karena Ia tinggal di dalam hati kita:
Efesus 3:17 “sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.”
Dengan kehadiran-Nya di dalam hati kita, Tuhan Allah mengenal siapa kita secara pribadi.
Karena itu perkataan, bahkan pikiran dan perasaan kita semuanya diketahui oleh Tuhan.
Pada Perjanjian Lama, hanya orang-orang tertentu yang diurapi seperti raja, nabi, dan imam besar yang menerima pengurapan Roh Kudus.
Namun, pada masa sekarang, tidak lagi demikian.
Setiap orang yang beriman didiami oleh Roh Kudus.
Ketika seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus, maka pengurapan dan kuasa-Nya bekerja di dalam hidup orang tersebut.
Ketika umat pilihan yaitu bangsa Israel atau orang Yahudi yang mengenal Allah mengalami penyertaan Tuhan melalui kehadiran-Nya di Bait Allah, mereka dapat melihat Allah dengan kehadirannya dalam bentuk api kemuliaan Allah.
Namun, ketika umat Israel bersungut-sungut dan meremehkan Tuhan, mereka tidak menyadari bahwa Tuhan mendengar setiap keluhan mereka.
Pada zaman nabi Maleakhi, sekitar tahun 430 SM, umat Israel mengalami kemerosotan iman.
Mereka tidak sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan Allah, bahkan secara nyata melanggar hukum Taurat yang telah dianugerahkan kepada bangsa Israel melalui nabi Musa.
Umat juga mulai meragukan kasih Allah. Karena menghadapi kesulitan, mereka menuduh Tuhan tidak setia terhadap janji-janji-Nya.
Padahal, Tuhan telah menyatakan bahwa Ia mengasihi mereka.
Namun justru bangsa itu yang tidak setia, bahkan berkhianat dengan menyembah allah-allah bangsa lain.
Nabi Maleakhi juga mengecam para imam karena mereka menunjukkan sikap tidak hormat kepada Tuhan dengan mempersembahkan hewan yang cacat atau hewan sakit yang jelas bertentangan dengan hukum Taurat.
Demikianlah keadaan pada masa nabi Maleakhi.
Meskipun umat Israel mengenal Tuhan, mereka meragukan kasih-Nya karena keadaan mereka yang sulit.
Para imam pun tidak melayani dengan sungguh-sungguh.
Para imam bahkan bersikap tidak adil, membeda-bedakan antara yang kaya dan yang miskin.
Keadaan umat menjadi gelap secara rohani, meskipun Tuhan tetap setia mengasihi umat-Nya.
Dalam perkara keluhan, umat sering menuduh Tuhan tidak lagi mengasihi mereka, sehingga mereka merasa dibiarkan hidup dalam keadaan yang berantakan.
Banyak dari mereka mengeluh dengan perkataan-perkataan yang tidak berkenan kepada Tuhan:
Maleakhi 3:13-14“Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Apakah kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?” Kamu berkata: “Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadap-Nya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam?”
Hal yang sama juga terjadi pada masa kini.
Ada orang-orang yang sebelumnya percaya kepada Yesus Kristus kemudian meninggalkan imannya karena kurang mengenal ajaran kekristenan secara mendalam, termasuk pemahaman tentang Tritunggal dan dasar-dasar iman Kristen.
Sebagian dari mereka ada yang bersikap agnostik, bahkan menjadi ateis.
Hal ini juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti materialisme, gaya hidup hedonis, dan nilai-nilai duniawi lainnya.
Oleh karena itu, marilah kita semakin giat membaca Firman Tuhan, berdoa, dan merenungkan Firman Tuhan, serta menjadi pelaku Firman.
Marilah kita juga lebih banyak bergaul dengan Roh Kudus dengan berbicara kepada-Nya dan peka mendengar tuntunan-Nya.
Tuhan rindu mendengar setiap perkataan kita, dan Ia juga ingin bersekutu dengan kita.
Melalui pembacaan dan perenungan Firman Tuhan, kita berbicara kepada-Nya, dan Ia pun berbicara kepada kita.
Haleluya, puji Tuhan. Amin.
Mengapa banyak anak-anak Tuhan tidak mampu menjelaskan tentang Tritunggal, sehingga rentan untuk berpindah keyakinan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Terhadap siapa Yeremia meminta agar diadakan pembalasan?
Mengapa Yeremia menjadi celaan diantara bangsanya Israel?
Mengapa Yeremia menikmati Firman TUHAN?
Mengapa Yeremia, tidak pernah duduk bersuka ria dengan orang lain?
Saudara, Yeremia adalah seorang nabi Tuhan yang diutus kepada bangsanya pada masa ketika sebagian rakyat dibawa sebagai tawanan ke Babel.
Dalam situasi tersebut, Yeremia tetap menyampaikan Firman Allah yang mengingatkan bangsanya untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan.
Jika tidak, mereka akan kembali mengalami hukuman.
Namun, pesan-pesan tersebut sering kali tidak ditanggapi oleh bangsanya.
Yeremia juga menyampaikan keluhan-keluhannya sebagai seorang yang menderita dan sakit hati karena melihat penderitaan bangsanya, baik yang berada di pembuangan maupun yang masih tinggal di Yehuda.
Ia bersedih bukan hanya karena penderitaan itu sendiri, tetapi juga karena ia merasakan hati Tuhan yang terluka akibat pemberontakan, kemurtadan, dan ketidaksetiaan bangsa Israel dan Yehuda pada masa itu.
Namun, di tengah semua itu, setiap kali Yeremia mendengar Tuhan berfirman, ia merasakan sukacita.
Ia mengetahui bahwa Tuhan menjanjikan akan mengadakan perjanjian baru bagi bangsa-Nya.
Firman Tuhan tentang perjanjian baru ini membawa sukacita dan pengharapan bagi Yeremia, karena di dalamnya terkandung janji pengampunan Tuhan bagi bangsa-Nya.
Perjanjian baru yang kelak akan Tuhan adakan dengan umat-Nya yang setia:
Yeremia 31:31-34“Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”
Menanggapi pesan Tuhan tersebut, Yeremia menyatakan bahwa ia sangat menikmatinya.
Ia berkata, “Firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku dan menjadi kesukaan hatiku, ya Tuhan Allah semesta alam.”
Firman ini telah digenapi oleh Tuhan Allah semesta alam, bukan hanya bagi Israel, tetapi juga bagi semua bangsa yang percaya dan mengakui bahwa kasih Allah telah dinyatakan melalui kedatangan Yesus Kristus serta pengorbanan-Nya di atas kayu salib.
Yohanes 3:16-17“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”
Perjanjian baru yang dinyatakan oleh Tuhan Allah kepada orang yang percaya kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, membawa keselamatan dan beroleh hidup yang kekal.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apakah Anda juga bersukacita ketika membaca dan merenungkan Firman Tuhan? Jika belum, apa yang membuat Anda kurang menikmati Firman Allah itu?