Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa dalam realita sehari-hari, menjaga kerukunan baik dalam keluarga atau gereja sering kali terasa sulit dilakukan?
Bagaimana peran pemimpin dalam mengalirkan “minyak kerukunan” ini kepada anggotanya?
Di tengah dunia yang kian terfragmentasi oleh kepentingan pribadi, dan ego, kerukunan menjadi barang mewah yang langka.
Hal itu sangat terlihat di media sosial, dimana orang sangat mudah untuk mencela, menghakimi orang lain, khususnya mencela para pemimpin.
Dan spirit ini tanpa disadari mulai merembes ke komunitas rohani!
Allah adalah Kasih dan kita yang adalah umat Allah, sepatutnya lah kita adalah cerminan dari kasih Allah, misalnya kita akan berkomunikasi dengan mengedepankan kasih.
Dan jika kasih ada dalam atmosfer komunitas kita, apakah itu dalam keluarga, di kantor, di sekolah dan di gereja.
Maka akan mudah tercipta kerukunan.
Tanpa disuruh kita akan menjaga kerukunan ketika kita berinteraksi dengan orang-orang yang ada dalam lingkungan tersebut.
Ada yang mengatakan kita diciptakan berbeda satu dengan yang lain. Jadi mustahil kita bisa rukun.
Tetapi itu adalah anggapan yang keliru, meskipun sangat bisa dipahami mengapa banyak orang berpikir demikian.
Banyak orang berpikir bahwa rukun atau bersatu itu artinya harus sama (seragam).
Padahal, rukun dan seragam adalah dua hal yang benar-benar berbeda.
Keseragaman, semua orang harus memiliki pemikiran, sifat, latar belakang, dan hobi yang persis sama.
Ini membosankan dan memang mustahil terjadi.
Sedangkan kesatuan/kerukunan adalah kumpulan berbagai elemen yang berbeda bergerak bersama menuju satu tujuan yang sama, saling melengkapi, dan saling menghargai.
Jika kita semua sama, kita tidak saling membutuhkan.
Kita diciptakan berbeda, justru supaya kita bisa saling melengkapi bagian yang tidak kita miliki.
Jadi, jika perbedaan bukan hambatan, apa yang membuat kita bisa rukun? Kuncinya bukan pada karakter kita yang harus sama, melainkan pada kedewasaan sikap kita.
Adánya kasih karunia dan pengampunan.
Kita tidak bisa rukun kalau kita menuntut orang lain menjadi persis seperti kita.
Kerukunan terjadi saat kita sadar bahwa orang lain punya kelemahan, dan kita memilih untuk mengampuni.
Fokus pada persamaan, bukan perbedaan.
Sering kali kita bertengkar karena terlalu fokus pada 10% perbedaan, dan mengabaikan 90% persamaan.
Rendah hati: Orang yang sombong (merasa dirinya paling benar) memang akan mustahil hidup rukun dengan siapa pun.
Namun, orang yang rendah hati selalu bisa menemukan celah untuk berdamai di tengah perbedaan.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan di bagian mana dari perbedaan (apakah karakter, pendapat, atau latar belakang) yang biasanya paling sulit untuk menjaga kerukunan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa cara hidup yang baik dianggap sangat penting dalam kehidupan sosial dan rohani kita di masa kini?
Apa makna tunduk karena Allah di tengah pemimpin atau sistem pemerintahan yang tidak ideal?
Apakah artinya kita harus tunduk mutlak kepada pemerintah?
“Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik…” (1 Petrus 2:12).
Pada abad pertama, orang Kristen sering kali menjadi sasaran fitnah.
Mereka dituduh sebagai kelompok eksklusif yang hidup hanya dalam kelompoknya saja, difitnah sebagai kelompok yang anti-sosial, bahkan dianggap pembangkang karena menolak menyembah kaisar.
Di masa kini, umat percaya juga bisa saja difitnah dengan cara yang serupa.
Lalu bagaimana sepatutnya kita hidup agar tidak ada orang yang memfitnah atau menghakimi kita karena cara hidup yang kita lakukan sehari-hari.
Firman Tuhan dengan tegas menyatakan: Milikilah cara hidup yang baik!
Artinya kita sebagai umat percaya perlu menjadi contoh atau teladan di tengah dunia yang korup, tidak ideal.
Hal-hal yang bisa kita lakukan: Tunduk kepada Allah, kepada lembaga yang didirikan oleh manusia atau masyarakat dan kepada raja pemimpin tertinggi di negara kita beserta perangkat di bawahnya.
Jika diurutkan sesuai konteks di Indonesia, berarti kita tunduk dan menghormati Presiden, para Menteri yang adalah pembantu presiden, para aparat penegak hukum, TNI, Polri, para kepala daerah: Gubernur, Walikota atau Bupati, Camat, Lurah, Ketua RW, Ketua RT.
Tunduk, artinya kita menghormati aturan yang mereka buat dan selama aturan itu tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, maka kita wajib hormati.
Misalnya kita membayar pajak dengan benar, tidak memberi suap supaya urusan kita dipermudah.
1 Petrus 2:17 “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!”
Sebagai penerapan kita untuk memiliki cara hidup yang baik, maka kita:
Hormatilah semua orang: kita menghormati orang tanpa memandang suku, agama, status sosial, atau pandangan politik.
Kasihilah saudara-saudaramu: secara khusus kita mengasihi teman seiman kita
Takutlah akan Allah: ketundukan mutlak hanya kepada Allah sebagai otoritas tertinggi dalam hidup kita.
Hormatilah raja: menghormati mereka sebagai pemegang otoritas sipil.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan tentang pengalamanmu berinteraksi secara sosial di lingkungan engkau berada: di kampus, tempat kerja, lingkungan tempat tinggal. Apakah engkau dikenal sebagai orang yang baik di tengah-tengah mereka?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa artinya membiarkan damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati, dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi cara kita menghadapi perbedaan?
Bagaimana cara praktis membiarkan perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya dalam hidup kita?
“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” (Kolose 3:15).
Kata “memerintah” dalam bahasa Yunani menggunakan istilah brabeuo, yang biasa digunakan untuk seorang wasit dalam pertandingan olahraga.
Tugas seorang wasit adalah mengambil keputusan, menyelesaikan perselisihan, dan memastikan pertandingan berjalan dengan tertib.
Sehingga perintah Firman Tuhan “hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu,” bermakna:
Pertama, hendaknya damai sejahtera dari Kristus menjadi penentu utama dalam setiap keputusan, emosi, dan reaksi kita.
Saat hati kita mulai bergejolak oleh amarah, ego, atau kekhawatiran, damai Kristus-lah yang harus menenangkan dan itu adalah petunjuk bahwa kita sedang dalam langkah yang benar.
Kedua, kita dipanggil menjadi satu tubuh.
Di dalam sebuah tubuh yang terdiri dari banyak anggota, gesekan sangat mungkin terjadi.
Damai sejahtera Kristus harus menjadi “wasit” yang menyelesaikan setiap perbedaan pendapat, sehingga kesatuan tubuh tetap terjaga.
Panggilan Tuhan bagi orang percaya menjadi satu tubuh adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab.
Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri demi kepentingan ego masing-masing.
Ketika damai sejahtera Kristus menjadi wasit dalam hubungan kita satu dengan yang lain, Firman Tuhan akan menjadi penuntun dalam interaksi kita, dan nama Yesus menjadi tujuan dari setiap aktivitas kita, sehingga komunitas kita akan menjadi kesaksian yang hidup bagi dunia.
Di sinilah Tubuh Kristus berfungsi dengan semestinya: sehati, sejiwa, saling membangun, dan senantiasa menaikkan syukur kepada Allah Bapa.
Tubuh Kristus adalah kumpulan orang percaya, bukan kumpulan orang dari gereja yang sama, atau Sinode yang sama.
Dengan demikian kita juga harus mengakui, menghormati, mengasihi orang-orang percaya dari gereja yang berbeda, dan jangan pernah memandang bahwa gereja kita, komunitas kita adalah yang terbaik sehingga kita memandang rendah orang dari gereja yang berbeda.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan tentang bagaimana pemahaman kita tentang Tubuh Kristus ini kita terapkan dalam lingkungan di kantor, kampus atau di tempat tinggal kita.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa orang percaya disebut orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya?
Mengapa kasih disebut sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan?
Dalam kehidupan bersama baik dalam keluarga, komunitas, maupun gereja, perbedaan adalah yang pasti akan terjadi.
Karakter yang unik, latar belakang yang berbeda, hingga ego masing-masing sering kali menjadi kerikil yang memicu gesekan.
Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa tetap utuh di tengah keberagaman dan potensi konflik tersebut?
Firman Tuhan memberikan jawabannya: Kasih.
Teori tentang karakter umat Allah yang adalah turunan dari karakter Kristus sangat mudah diucapkan, namun ujian aslinya ada pada hubungan interpersonal.
Rasul Paulus menyatakan “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain”.
Paulus bersikap realistis; ia tahu bahwa dalam komunitas, gesekan dan kekecewaan pasti akan terjadi.
Kuncinya adalah saling menopang dan mengampuni.
Kata “saling” menunjukkan bahwa ini adalah jalan dua arah.
Tidak ada yang sempurna, maka semua orang perlu bersabar dan itu dimulai dengan kesediaan untuk mendengar dan merenungkan.
Apa standar pengampunannya? “Sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
Pengampunan kita kepada sesama bukanlah karena orang tersebut layak mendapatkannya, melainkan karena kita telah terlebih dahulu menerima pengampunan yang sangat besar dari Kristus di atas kayu salib.
Dan dasar dari kesediaan kita untuk memberikan pengampunan adalah: Kasih.
Kita bersedia mengampuni, bertindak sabar, bersedia untuk tidak membalas meskipun sudah di salah mengerti.
Mengenakan kasih dan karakter Kristus adalah pilihan yang harus diambil setiap hari. Itu tidak terjadi secara otomatis.
Saat kita bangun di pagi hari, kita harus sengaja memilih untuk mengenakan belas kasihan, kesabaran, dan kasih, terutama saat menghadapi orang-orang yang menguji batas kesabaran kita.
Ketika kita hidup dalam lingkaran kasih yang mempersatukan ini, kita sedang memperlihatkan sekilas gambaran kasih Kristus kepada dunia ini.
Kita menjadi saksi bahwa di dalam Kristus, pemulihan hubungan dan kesatuan yang sejati itu adalah hal yang nyata dan sangat mungkin untuk dilakukan.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan tentang apakah ada orang yang paling sulit untuk dikasihi.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa permohonan yang diajarkan Yesus Kristus dalam bagian “Doa Bapa Kami” tentang pengampunan?
Apa akibatnya jika seseorang tidak mau mengampuni menurut Matius 6:15?
Ada luka yang tidak terlihat oleh mata, luka karena dikhianati, luka karena diabaikan, luka karena kata-kata yang merendahkan, luka yang terus tinggal diam di dalam hati, meskipun waktu sudah berjalan begitu lama.
Sering kali kita berkata bahwa kita sudah baik-baik saja, tetapi setiap kali mengingat orang itu, hati masih terasa panas. Ada kecewa yang belum selesai, ada tangisan yang belum benar-benar sembuh.
Lalu Yesus membawa kita kepada sebuah doa yang sederhana, tetapi sangat dalam yaitu : “Ampunilah kami… seperti kami juga mengampuni.”
Ternyata pengampunan bukan hanya tentang hubungan kita dengan sesama, tetapi juga tentang kondisi hati di hadapan Allah.
Tuhan tahu bahwa hati yang menyimpan kepahitan perlahan akan menjadi keras.
Dendam mungkin tidak terlihat dari luar, tetapi ia diam-diam menguras damai sejahtera, sukacita, bahkan hubungan kita dengan Tuhan.
Kadang kita berpikir bahwa kalau aku mengampuni, berarti aku kalah, kalau aku mengampuni, berarti apa yang dia lakukan itu benar.
Tetapi mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan.
Mengampuni adalah memilih untuk tidak hidup dikuasai oleh luka itu lagi.
Pengampunan adalah menyerahkan hak untuk membalas ke dalam tangan Tuhan.
Di kayu salib, Yesus Kristus memberikan teladan yang paling dalam. Dalam penderitaan dan penghinaan, Dia berkata “Ya Bapa, ampunilah mereka.”
Yesus mengampuni bahkan ketika orang-orang belum meminta maaf kepada-Nya.
Itulah kasih yang melampaui logika manusia.
Ketika kita sungguh mengalami pengampunan Tuhan, hati kita perlahan dilembutkan untuk mengampuni sesama.
Bukan karena mereka pantas diampuni, tetapi karena kita pun telah diampuni.
Sebab selama kita menggenggam kepahitan, tangan kita sulit menerima damai sejahtera dari Tuhan.
Mengampuni memang menyakitkan.
Tetapi hidup dalam kepahitan akan jauh lebih melelahkan.
Mengapa pengampunan tidak hanya soal perasaan, tetapi juga keputusan? Bagaimana pengampunan bisa mempengaruhi hati seseorang secara rohani dan emosional?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa “perintah baru” yang diberikan Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya?
Mengapa kasih menjadi tanda utama seorang murid Kristus?
Bagaimana Yesus menunjukkan kasih-Nya kepada murid-murid-Nya?
Malam itu bukan malam yang biasa.
Yesus Kristus sedang berbicara kepada murid-murid-Nya untuk terakhir kalinya sebelum salib.
Di tengah suasana yang berat, setelah pengkhianatan mulai terjadi dan penderitaan semakin dekat, Yesus tidak memberikan strategi untuk menghadapi dunia, tidak juga meninggalkan kekuatan politik atau kekuasaan.
Ia meninggalkan satu hal yaitu Kasih.
“Supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu.”
Perintah ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam dan menuntut seluruh hidup.
Yesus tidak berkata, “Kasihilah sesamamu sesuai mereka memperlakukanmu.”
Dunia mengajarkan kasih yang bersyarat seperti mengasihi yang baik kepada kita, menghormati yang menghormati kita, menerima yang menguntungkan kita.
Namun kasih Kristus melampaui semua itu.
Ia mengasihi murid-murid-Nya bahkan ketika mereka belum sempurna.
Ia tetap membasuh kaki mereka walau tahu ada yang akan menyangkal dan mengkhianati-Nya.
Di situlah letak kedalaman kasih Kristus: kasih yang memilih tetap mengasihi sekalipun terluka.
Namun hati yang dingin, sikap acuh, enggan mengampuni, iri hati tersembunyi, dan kepahitan yang dipelihara juga perlahan mematikan kasih.
Kita bisa aktif melayani Tuhan, tetapi kehilangan kelembutan hati terhadap sesama.
Kita bisa sibuk dalam kegiatan rohani, tetapi gagal menghadirkan kasih Kristus dalam rumah, pekerjaan, atau persekutuan.
Yesus berkata bahwa dunia akan mengenal murid-murid-Nya melalui kasih.
Artinya kasih bukan pelengkap kehidupan rohani — kasih adalah inti kesaksian Kristen.
Dunia mungkin tidak langsung memahami khotbah kita, tetapi dunia dapat merasakan ketulusan, pengampunan, perhatian, dan pengorbanan yang lahir dari kasih Kristus.
Kasih sejati selalu menuntut kematian ego, mengampuni ketika hati ingin membalas, tetap mendoakan ketika disalah mengerti, tetap hadir bagi orang lain ketika diri sendiri lelah dsb.
Bagaimana cara membedakan kasih yang tulus dengan kasih yang hanya mencari keuntungan atau balasan? Menurut Anda, bagaimana dunia melihat orang Kristen saat mereka gagal hidup dalam kasih?