Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang penting kita nyatakan tentang seorang teman seiman kepada saudara kita seiman yang lainnya, dan apa yang harus kita nyatakan tentang Tuhan?
Dalam keadaan apapun, apa yang sepatutnya kita lakukan?
Kepada siapa kita seharusnya mengucapkan syukur kita?
Sikap apa yang sepatutnya kita lakukan dalam hubungan dengan sesama, dalam takut akan Tuhan?
Saudara, ketika seseorang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat bagi dirinya, serta senang bersekutu dengan Tuhan melalui doa, pembacaan, dan perenungan Firman.
Ia akan menjadi anak Tuhan yang kuat dan tidak mudah digoda atau dijatuhkan oleh intimidasi Iblis.
Dengan mempelajari Firman Tuhan, kita akan semakin mengenal Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus.
Kita akan mengenal kebaikan-Nya, kesetiaan-Nya, serta kasih-Nya yang tidak terbatas dan tidak bersyarat.
Kita juga akan mengetahui kesabaran-Nya, serta kasih dan pengorbanan Yesus Kristus dalam menyatakan kasih-Nya kepada dunia, terlebih kepada anak-anak-Nya.
Oleh karena itu, marilah kita terus belajar Firman Tuhan dengan membaca dan merenungkannya, melakukan perintah-Nya, serta memuji dan menyembah-Nya.
Marilah kita juga terus belajar mengasihi Tuhan Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus, serta mengasihi sesama baik teman seiman maupun mereka yang tidak seiman, bahkan mereka yang memusuhi kita.
Sekalipun kita diejek, dihina, atau diperlakukan tidak baik, marilah kita belajar mengalahkan kejahatan dengan melakukan kebaikan kepada mereka yang berbuat jahat kepada kita.
Pengenalan kita akan Tuhan akan membuat kita untuk senantiasa mengucap syukur, karena kita percaya bahwa Dia selalu merancang dan mendatangkan kebaikan bagi anak-anak-Nya.
Yeremia 29:11“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
Roma 8:28-30“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
Dari kedua ayat Firman Tuhan di atas, kita belajar bahwa Tuhan menyediakan masa depan yang baik yaitu masa depan yang penuh dengan pengharapan.
Tuhan menghendaki agar kita menjadi serupa dengan Yesus Kristus, Anak Tunggal Allah yang mulia.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memandang kepada Dia, Yesus Kristus, sebagai pusat pengharapan kita.
Saudara, oleh karena kebaikan Tuhan itu, maka ketika kita menghadapi masalah sudah sepatutnya mulut kita dipenuhi dengan pujian.
Kita percaya bahwa Tuhan Allah, Bapa kita, selalu merancang kebaikan bagi anak-anak-Nya.
Sekalipun pada saat tertentu kita mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, melalui Firman Tuhan kita dapat memahami bahwa Ia sedang bekerja untuk mendatangkan masa depan yang baik bagi kita.
Betapa indahnya ketika kita menyadari bahwa tangan Tuhan sedang membentuk kita, agar kita semakin serupa dengan Yesus dan turut mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya.
Oleh karena itu, alangkah indahnya ketika kita sebagai anak-anak-Nya menyadari bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia, yang telah menebus dosa orang-orang yang dikasihi-Nya.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak anak-anak Tuhan masih suka menggerutu?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang harus memerintah dalam hati kita?
Apa yang harus kita miliki sehingga kita bisa mengajar, menasihati dan menegur satu sama lain?
Apa yang menyebabkan kita bisa mengucap Syukur kepada Allah dalam hati kita?
Apa yang harus dilakukan di dalam nama Tuhan Yesus?
Saudara, sebagai anak-anak Tuhan dan sebagai sesama saudara di dalam Tuhan, saya ingin mengajak kita semua untuk semakin giat belajar mengenal Yesus Kristus sebagai Juruselamat.
Melalui pembacaan Firman Tuhan, kita dapat mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan yang sangat mengasihi umat manusia.
Lewat membaca, merenungkan, dan menghafal ayat-ayat Firman Tuhan, kita akan semakin mengenal dan semakin mencintai Tuhan.
Dengan demikian, kita akan semakin bersyukur kepada Allah Bapa, kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita, serta kepada Roh Kudus yang menjadi Penolong, Penghibur dan Pemimpin kita, yang terus mengarahkan kita untuk semakin dalam mengasihi Bapa dan Yesus Kristus, Tuhan kita.
Saudara, Rasul Paulus menuliskan dalam suratnya kepada Timotius, anak rohaninya:
2 Timotius 3:16-17“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”
Firman Allah adalah isi hati Tuhan yang dapat kita ketahui melalui pembacaan dan perenungan firman-Nya yang tertulis di dalam Alkitab.
Tuhan menyatakan diri-Nya melalui firman tertulis dalam Alkitab yang dapat kita baca dan pelajari.
Melalui tulisan yang diilhamkan oleh Allah, kita dapat menyadari ketika kita sedang bersalah.
Saat hati kita tidak mengalami damai sejahtera, kita dapat berdoa dan bertanya kepada Tuhan mengapa kita merasakan kecemasan, ketakutan atau kebimbangan.
Lewat doa, pembacaan dan perenungan Firman Tuhan, kita akan mengerti mengapa damai sejahtera itu seolah meninggalkan kita, sehingga kekhawatiran, kecemasan bahkan ketakutan dapat menghampiri.
Saya meyakini, dan Alkitab juga mengajarkan, bahwa keraguan sering menyerang ketika kita tidak memahami kebenaran, serta kurang memiliki pengertian, hikmat, dan pengetahuan.
Ketika kita mengenal Firman Kebenaran, kita akan memiliki iman sehingga ketakutan, kebimbangan, kecemasan, dan kekuatiran tidak lagi menguasai kita.
Kebenaran Firman Tuhan akan mengusir semua keraguan dan kekuatiran dan memenuhi pikiran, perasaan serta kehidupan kita.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk belajar, merenungkan, bahkan menghafalkan Firman Tuhan agar kita mampu melawan keraguan, kekuatiran dan kebimbangan serta mengusir ketakutan.
Pemazmur menulis:
Mazmur 119:9“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.”
Mazmur 119:11“Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”
Jika kita dengan sengaja menghafalkan Firman Tuhan, itu merupakan usaha yang sangat baik untuk menjaga diri dari serangan musuh yang mengintimidasi, menimbulkan ketakutan, menggoda kepada dosa dan kejatuhan moral, serta melontarkan tuduhan-tuduhan yang memicu keraguan dan kebimbangan.
Dengan semakin banyak mengerti Firman Tuhan, kita akan semakin mengerti dan mengenal janji-janji Tuhan.
Dengan demikian, kita tidak mudah digoda, ditipu atau diintimidasi oleh Iblis.
Ketika hati dan pikiran kita dikuasai oleh Firman Tuhan, kita juga akan lebih mudah menguatkan, menasihati dan membimbing orang lain agar mereka dapat keluar dari ketakutan, kekuatiran, kebimbangan dan keraguan.
Mari kita mengisi hati dan pikiran kita dengan senjata rohani yaitu Firman Tuhan sebagai Pedang Roh, supaya kita dapat menang ketika Iblis datang menggoda, mengintimidasi dan menakut-nakuti kita.
Ketika hati kita dipenuhi dengan kebenaran Firman Tuhan, kita akan dengan mudah mengalahkan keraguan, ketakutan dan kebimbangan.
Firman Tuhan akan menguatkan hati kita,sehingga kita tidak lagi ragu, tetapi dapat berdoa dan berseru kepada Tuhan dengan penuh ucapan syukur ketika memperoleh kemenangan.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apa yang menyebabkan banyak anak-anak Tuhan selalu tinggal di dalam kekuatiran?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Perkataan apa yang seharusnya keluar dari mulut kita?
Apa harapannya bagi mereka yang mendengar perkataan baik dari mulut kita?
Apa yang harus dibuang dari antara komunitas orang percaya menurut bacaan hari ini?
Siapa yang menjadi teladan dalam hidup kita untuk berlaku ramah, penuh kasih mesra dan saling mengampuni?
Surat Paulus kepada jemaat Efesus yang kita baca hari ini berisi nasehat agar tidak ada perkataan kotor keluar dari mulut jemaat, melainkan hanya perkataan yang baik untuk membangun dan memberi kasih karunia kepada orang yang mendengarnya.
Nasihat ini muncul dalam konteks perubahan hidup orang percaya: setelah mengenal Kristus, cara hidup lama harus ditinggalkan, termasuk cara berbicara.
Bagi Paulus, perkataan bukan sekadar bunyi atau kebiasaan komunikasi, tetapi cerminan hati.
Karena itu ia menghubungkan perkataan dengan Roh Kudus—bahwa kata-kata yang salah bukan hanya melukai sesama, tetapi juga mendukakan Roh Allah yang diam dalam hidup orang percaya.
Perkataan yang salah seringkali timbul dari kepahitan, kegeraman, kemarahan dan pertikaian yang berkecamuk dalam pikiran, oleh sebab itu akar-akar inilah yang harus dibuang lebih dahulu.
Dalam realitas saat ini, perkataan sering keluar begitu cepat tanpa dipikirkan: komentar tajam di media sosial, sindiran dalam keluarga, kata-kata kasar saat emosi, atau kritik yang disampaikan tanpa kasih.
Banyak relasi rusak bukan karena tindakan besar, tetapi karena kalimat kecil yang terus melukai.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa setiap kata memiliki daya membangun atau meruntuhkan.
Melakukan firman ini hari ini berarti belajar berhenti sejenak sebelum berbicara, bertanya dalam hati: apakah kata-kata ini akan menolong, menyembuhkan, atau justru melukai?
Bahkan saat harus menegur, kita dipanggil melakukannya dengan kelembutan dan tujuan yang membangun.
Menguasai lidah atau perkataan kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus, seringkali dalam kondisi tertentu kita ”kelewatan” berbicara entah itu kata-kata yang menyakitkan atau perkataan yang dibesar-besarkan dari kondisi yang sesungguhnya.
Hari ini mari memakai mulut kita sebagai alat berkat: menguatkan yang lemah, menghibur yang sedih, menenangkan yang marah, dan menyampaikan kebenaran dengan kasih.
Kadang satu kalimat sederhana dapat menjadi jawaban Tuhan bagi seseorang yang sedang lelah.
Pilihlah kata-kata yang membawa damai, karena perkataan yang dipenuhi kasih dapat membuka hati lebih daripada argumen yang keras.
Seringkali kehidupan masa lalu kita yang penuh dengan kepahitan dan kemarahan tersulut oleh hal kecil dan meluap melalui mulut kita tanpa kita berhasil menghentikannya.
“Perkataan yang lahir dari hati yang dipenuhi Tuhan akan membawa kasih karunia bagi siapa pun yang mendengarnya, termasuk diri kita sendiri.”
Diskusikan bersama dengan anggota persekutuan atau kelompok PA mengenai perkataan yang merusak karena tanpa sadar keluar dari perkataan mulut kita karena kepahitan dan kemarahan. Bagaimana kita dapat menghindari hal tersebut sebelum terjadi.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut Saudara, apa maksud perkataan “kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah” ?
Apa artinya berusahalah hidup damai dengan semua orang?
Apa yang terjadi ketika kita hidup tanpa kekudusan?
Apa yang dinasehatkan Petrus mengenai nafsu yang rendah seperti yang pernah terjadi pada Esau?
Dalam suratnya, Petrus menulis kepada orang-orang percaya yang hidup sebagai pendatang di tengah tekanan sosial dan pemerintahan yang tidak selalu berpihak kepada iman mereka.
Pada masa itu, umat Kristen sering dipandang mencurigakan, bahkan mengalami perlakuan tidak adil.
Karena itu Petrus menasihati mereka agar tetap tunduk kepada pemerintah dan aturan yang berlaku, bukan karena semua penguasa selalu benar, tetapi karena sikap hidup orang percaya harus mencerminkan kehendak Tuhan.
Menariknya, Petrus juga menegaskan bahwa orang percaya adalah orang merdeka—bebas karena kasih karunia Tuhan—namun kemerdekaan itu bukan alasan untuk hidup sembarangan, melainkan untuk menjadi hamba Allah yang hidup dalam kekudusan.
Di zaman sekarang, banyak orang memahami kemerdekaan sebagai hak untuk melakukan apa saja: bebas berbicara, bebas memilih, bebas mengekspresikan diri, bahkan kadang bebas mengabaikan batas yang benar.
Padahal firman Tuhan mengajarkan bahwa kebebasan sejati selalu disertai tanggung jawab.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti kita tetap jujur meskipun orang lain memilih jalan pintas, tetap menghormati aturan walau ada kesempatan untuk melanggarnya, dan tetap menjaga perkataan di media sosial meskipun merasa bebas berpendapat.
Merdeka dalam Kristus bukan berarti hidup tanpa kendali, tetapi hidup yang dipimpin nilai kerajaan Allah: memilih yang benar walaupun tidak selalu mudah, serta menjaga hati agar tidak memakai kebebasan untuk membenarkan dosa.
Hari ini, Tuhan mengajak kita memakai kebebasan sebagai sarana menghadirkan terang, bukan alasan untuk mengikuti arus dunia.
Mulailah dari hal sederhana: menghormati orang lain, menaati aturan yang baik, menjaga integritas, dan tetap menunjukkan karakter Kristus di mana pun berada.
Kekudusan bukan tentang terlihat rohani, tetapi tentang memilih hidup yang benar ketika ada kesempatan untuk berbuat sebaliknya. “Kemerdekaan sejati bukan saat kita bisa melakukan semuanya dengan bebas tanpa halangan, tetapi saat kita mampu memilih yang kudus di tengah banyak pilihan.”
Diskusikan bersama dalam persekutuan dan kelompok PA, hal-hal jahat dan tidak kudus apa yang hari-hari ini ditawarkan dunia melalui media sosial. Buatlah solusi untuk bisa menghindari hal tersebut bersama kelompok persekutuan dan PA.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa tandanya bahwa kita sudah mengenal Allah?
Jika kita mengaku mengenal Dia, namun kita tidak menuruti perintahNya, kita juluki apa? Dan kenapa?
Bagaimana menunjukkan bahwa kita benar-benar mengenal Kristus dalam kehidupan sehari-hari?
Surat 1 Yohanes ditulis untuk meneguhkan iman orang percaya di tengah ajaran yang menyimpang dan kehidupan yang tidak konsisten dengan kebenaran.
Penulis ingin menunjukkan bahwa pengenalan akan Allah tidak cukup hanya diakui dengan kata-kata, tetapi harus nyata dalam kehidupan.
Dalam 1 Yohanes 2:3–6, tujuan penulis adalah memberi ukuran yang jelas: seseorang benar-benar mengenal Tuhan jika ia menuruti perintahNya.
Dengan demikian, bagian ini menegaskan bahwa iman yang sejati selalu terlihat melalui ketaatan, bukan sekadar pengakuan lisan.
Pengenalan yang benar akan Allah tidak pernah berhenti pada pengetahuan, tetapi pasti menghasilkan kehidupan yang berubah, karena iman yang sejati tidak mungkin terpisah dari ketaatan.
“Hidup seperti Kristus hidup” dalam konteks ini berarti hidup dalam ketaatan yang nyata kepada kehendak Allah.
Sering kali ada anggapan, “cukup percaya nama Yesus saja sudah diselamatkan,” tetapi pertanyaannya, bagaimana jika hidup dan karakter tidak berubah? Bagian ini menegaskan bahwa pengakuan tanpa ketaatan adalah kosong.
Memang benar bahwa “tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 8:1), tetapi itu bukan alasan untuk hidup sembarangan, melainkan menunjuk pada status baru orang percaya yang telah dibebaskan dari hukuman dosa dan sekarang hidup dipimpin oleh Roh.
Karena itu, hidup dalam Kristus selalu menghasilkan perubahan.
Kasih kepada Allah tidak berhenti pada perasaan atau pengakuan saja, tetapi dinyatakan dalam ketaatan (1 Yohanes 2:5).
Hal ini sejalan dengan ajaran yang tercatat di kitab injil Matius 7:21 bahwa bukan setiap orang yang berseru “Tuhan, Tuhan” yang masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa.
Seperti pepatah, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” yang menunjukkan bahwa kehidupan seseorang akan mencerminkan sumbernya.
Jika kita benar adalah anak-anak Allah, maka seharusnya hidup kita mencerminkan Kristus, hidup seperti Dia hidup.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjalani hidup dalam ketaatan kepada Tuhan setiap hari.
Ini terlihat dari kesediaan dan kerelaan kita untuk melakukan firman Tuhan, bukan hanya mendengarnya.
Hidup dalam kejujuran, kasih, dan kerendahan hati; serta terus berjuang meninggalkan dosa.
Jadi jika seseorang mengaku mengenal Tuhan tetapi tidak melakukan firmanNya, maka ia disebut “pendusta,” yaitu orang yang tidak hidup dalam kebenaran.
Dalam Alkitab, istilah ini sangat tegas; dalam bahasa Yunani digunakan kata pseustēs, yang berasal dari pseudomai, yang berarti berkata tidak benar atau menipu, yang menunjuk pada hidup yang tidak sesuai dengan kebenaran yang diakui.
Dunia saat ini, lebih membutuhkan teladan hidup yang nyata daripada sekadar kata-kata.
Bahkan dalam banyak kasus, orang tertarik datang kepada Kristus bukan karena banyaknya perkataan kita, melainkan karena melihat ketaatan dan kehidupan yang berubah dari orang percaya.
Dengan demikian, hidup dalam ketaatan sangatlah penting dan sekaligus menjadi bukti serta kesaksian yang nyata bahwa Kristus benar-benar hidup di dalam diri kita, dan melalui hidup itulah orang lain dapat melihat dan mengenal Dia.
Diskusikan di dalam kelompok PA atau persekutuan kita, Apakah hidup kita saat ini benar-benar menunjukkan bahwa kita mengenal Kristus melalui ketaatan kepada firmanNya, ataukah hanya sebatas pengakuan iman tanpa bukti perubahan hidup yang nyata?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apakah kita sudah sungguh-sungguh merendahkan diri di hadapan Tuhan dalam hidup sehari-hari?
Apakah doa dan firman Tuhan sudah menjadi bagian penting serta prioritas dalam kehidupan kita setiap hari?
Apakah saya benar-benar mau berbalik dari dosa dan meninggalkan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan?
Apakah hidup kita saat ini membawa dampak yang baik bagi keluarga, lingkungan, dan orang di sekitar saya?
Dalam konteks 2 Tawarikh 7:12–15, peristiwa ini terjadi setelah Raja Salomo menyelesaikan pembangunan Bait Suci.
Tuhan menampakkan diri kepadanya pada malam hari dan menegaskan bahwa Ia berkenan menjadikan Bait Suci sebagai tempat kediamanNya.
Tuhan juga menegaskan kedaulatanNya atas seluruh ciptaan dan sejarah umat, termasuk atas hujan, kekeringan, dan berbagai krisis yang dapat terjadi.
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa pemulihan umat Tuhan tidak pernah bersandar pada bangunan, simbol religius, atau ritual lahiriah, tetapi sepenuhnya bergantung pada Allah yang hidup, yang menuntut relasi atau hubungan yang benar, taat, dan berserah kepadaNya.
Semua berkat maupun teguran atau disiplin yang terjadi dalam hidup kita sepenuhnya ada di tangan Tuhan yang berdaulat, dan tidak ditentukan oleh baik atau buruknya perbuatan manusia, tetapi oleh kehendak dan kebijaksanaan Tuhan Allah sendiri.
Pemulihan yang dijanjikan Tuhan berawal dari kasih karuniaNya yang terlebih dahulu bekerja dalam hidup umatNya, yang kemudian menghasilkan respons sejati dalam hati umat.
Tuhan memanggil umatNya untuk merendahkan diri, yaitu mengakui dosa, keterbatasan, dan ketidakmampuan total manusia di hadapanNya.
Berdoa, yaitu bersandar penuh kepada Allah sebagai satu-satunya sumber pertolongan dan pengharapan, mencari wajah Tuhan, yaitu hidup dalam kerinduan yang mendalam untuk mengenal pribadi Allah, menyembah, dan bersekutu dengan Dia, serta berbalik dari jalan yang jahat, yaitu pertobatan yang sungguh-sungguh dalam seluruh aspek hidup kita.
Semua ini bukan hasil usaha manusia semata, melainkan karya kasih karunia Allah yang mengubahkan hati.
Karena itu, pertobatan sejati tampak dalam perubahan hidup yang nyata dan terus-menerus, bukan hanya perubahan sesaat, tetapi berlangsung dalam keseharian.
Hal ini tentu bisa kita lihat dari sikap seseorang yang mulai meninggalkan dosa, mau hidup dengan jujur, mau mengampuni orang lain, serta semakin rindu untuk hidup sesuai dengan kehendak Dia.
Tuhan Allah juga menjanjikan pengampunan dan pemulihan bagi umat yang bertobat, tetapi mereka yang dengan sengaja mengeraskan hati akan mengalami disiplin Allah sebagai bentuk kasih yang menegur, sekaligus konsekuensi dari penolakan terhadap kebenaranNya.
Dalam kehidupan sehari-hari, hidup dalam kebenaran seperti tidak berbohong, hidup jujur, merendahkan diri, berdoa, mencari wajah Tuhan, dan berbalik dari dosa bukanlah hal yang mudah, sehingga orang percaya sangat membutuhkan pertolongan Roh Kudus untuk dimampukan berubah.
Karena itu, pertumbuhan rohani harus selalu dijaga melalui kehidupan doa, membaca dan merenungkan firman Tuhan, dengan kata lain menyediakan waktu yang spesial setiap hari untuk bersekutu mencari wajah Tuhan.
Di tengah keadaan bangsa saat ini yang memang tidak baik-baik saja, terkadang bukan situasi atau kondisi yang berubah terlebih dahulu, tetapi sering kali dari hati yang bersedia diubahkan Tuhan; dan ketika kita mau merendahkan diri serta hidup dalam ketaatan kepada Tuhan, maka dari hati yang diubahkan itu akan lahir pemulihan yang berdampak bukan hanya bagi hidup pribadi, tetapi juga bagi keluarga, lingkungan, negeri, dan bangsa, karena Tuhan memakai hidup yang taat sebagai alat untuk menghadirkan perubahan di tengah masyarakat dan bangsa.
Apakah hidup saya saat ini sudah menunjukkan pertobatan yang sungguh-sungguh, yang terlihat dari ketaatan sehari-hari, ketergantungan kepada Tuhan, dan apa dampak terlihat bagi orang di sekitar saya?