Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!
Apa yang dimaksud Yesus dengan “Anak Manusia harus ditinggikan” (ayat 14), dan bagaimana itu menyelamatkan kita?
Mengapa kasih Allah disebut “begitu besar” (ayat 16), dan apa yang membuat kasih itu istimewa?
Apa tujuan kedatangan Yesus ke dunia menurut ayat 17: untuk menghakimi atau menyelamatkan? Mengapa itu penting?
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).
Nikodemus datang kepada Yesus di malam hari, mungkin karena takut diketahui orang lain.
Ia adalah orang yang saleh, guru agama, dan sangat menghormati Taurat.
Namun di dalam hatinya, ada kerinduan yang lebih dalam: ia merasa agamanya belum cukup.
Yesus tidak menjawab dengan teori yang rumit.
Ia memberikan gambaran yang sederhana namun dalam: “Seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.”
Yesus sedang berbicara tentang kematian-Nya di kayu salib.
Di tengah kegelapan malam, Yesus menerangi hati Nikodemus dengan kabar tentang kasih Allah yang melampaui segala peraturan agama.
Keselamatan adalah karunia yang diterima dengan iman, bukan hasil usaha manusia.
Ular tembaga di padang gurun adalah gambaran yang kuat.
Ular itu tidak menyembuhkan dengan cara yang rumit; orang Israel hanya perlu memandangnya.
Demikian juga, Yesus tidak meminta Nikodemus untuk menjadi lebih baik atau lebih saleh.
Ia memintanya untuk percaya. Salib adalah tempat di mana hukuman dosa ditanggung oleh Anak Allah.
Kita tidak perlu berbuat apa pun untuk diselamatkan, kecuali menerima dengan iman.
Inilah yang membuat kasih Allah begitu indah: Ia memberikan jalan keluar yang sederhana, tetapi sangat dalam.
Kasih Allah tidak terbatas pada satu bangsa atau kelompok; ia menjangkau seluruh dunia. Yohanes 3:16 berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini.”
Ini luar biasa! Pada zaman itu, banyak orang Yahudi berpikir Mesias hanya untuk mereka.
Tetapi Yesus mengatakan bahwa kasih Allah meluas ke semua orang, dari segala suku, bangsa, dan latar belakang.
Tidak peduli siapa kamu, apa yang telah kamu perbuat, atau seberapa jauh kamu dari Tuhan – kasih-Nya tetap terbuka lebar.
Dan tujuan kasih itu bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyelamatkan (ayat 17).
Allah tidak mengirim Anak-Nya untuk menghukum dunia, tetapi untuk menebusnya.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Terimalah Kasih-Nya dengan Iman.
Jangan biarkan rasa bersalah atau perasaan tidak layak menjauhkanmu dari Tuhan.
Kasih Allah tidak berdasarkan kelayakanmu, tetapi berdasarkan kebaikan-Nya.
Setiap hari, ingatlah bahwa Yesus sudah mati untukmu.
Percayalah bahwa pengampunan dan hidup kekal adalah milikmu.
Kedua, Bagikan Kasih Itu kepada Orang Lain.
Karena Allah mengasihi dunia, kita juga dipanggil untuk mengasihi orang-orang di sekitar kita.
Cobalah untuk melihat orang lain dengan mata kasih, sama seperti Tuhan melihat mereka.
Sampaikan kabar baik ini kepada mereka yang belum tahu, baik melalui kata-kata maupun tindakan nyata.
Inilah cara kita menjadi saluran kasih Allah di dunia.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya melihat dengan mata kasih.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!
Apa tugas utama Yohanes Pembaptis menurut Lukas 1:76-77, dan apa artinya bagi kita hari ini?
Apa yang dimaksud dengan “memberikan pengetahuan tentang keselamatan kepada umat-Nya”? Bagaimana kita bisa melakukannya?
Mengapa Yohanes harus tinggal di padang gurun dan “makin kuat rohnya” (ayat 80) sebelum ia mulai melayani?
Zakharia dan istrinya, Elisabet, sudah tua dan tidak memiliki anak.
Tetapi Tuhan memberi mereka seorang putra yang luar biasa, yaitu Yohanes Pembaptis.
Sejak lahir, Yohanes sudah memiliki tugas besar: mempersiapkan jalan bagi Tuhan.
Bayangkan, seorang bayi yang baru lahir sudah ditentukan untuk menjadi pembuka jalan bagi Juruselamat dunia.
Ini menunjukkan bahwa setiap orang percaya memiliki panggilan ilahi.
Kita mungkin tidak menjadi Yohanes Pembaptis, tetapi kita juga dipanggil untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan di tengah dunia ini.
Tugas utama kita adalah menyiapkan hati orang lain untuk menerima Tuhan.
Yohanes diberi mandat untuk “memberikan pengetahuan tentang keselamatan kepada umat-Nya.”
Ini bukan tentang membangun gedung megah atau mengadakan acara spektakuler.
Ini tentang memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa, sehingga hati orang-orang siap menerima Yesus.
Kita dipanggil untuk menjadi pembuka jalan: dengan perkataan yang jujur, hidup yang benar, dan kasih yang nyata, kita sedang “meratakan jalan” bagi Tuhan untuk masuk ke dalam hati orang-orang di sekitar kita.
Seperti Yohanes yang berseru di padang gurun, kita dipanggil untuk berseru di tengah dunia yang sibuk dan bising ini.
Kita tidak bisa mempersiapkan jalan bagi orang lain jika kita sendiri tidak siap.
Ayat 80 mencatat bahwa Yohanes “bertambah besar dan makin kuat rohnya” serta tinggal di padang gurun.
Ini adalah waktu persiapan yang panjang. Yohanes tidak langsung tampil di depan umum; ia diproses di padang gurun, jauh dari keramaian.
Ia dibentuk oleh Roh Kudus, diperkuat dalam doa dan pengasingan.
Baru setelah ia matang, ia mulai melayani. Ini mengajarkan kita bahwa pelayanan yang efektif lahir dari kehidupan yang intim dengan Tuhan.
Sebelum kita berbicara kepada orang lain, kita harus mendengar Tuhan lebih dulu.
Sebelum kita menunjukkan jalan, kita harus berjalan di jalan itu sendiri.
Persiapan rohani adalah fondasi dari pelayanan yang berbuah.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Persiapkan Hatimu Setiap Hari.
Sebelum keluar untuk melayani atau bersaksi, luangkan waktu untuk bertemu dengan Tuhan.
Baca firman, berdoa, dan periksa hatimu. Minta Roh Kudus memenuhi dan memurnikanmu.
Jika hatimu sendiri belum siap, suaramu akan sia-sia.
Kedua, Jadilah Pembuka Jalan bagi Orang Lain.
Coba perhatikan satu atau dua orang di sekitarmu yang belum mengenal Yesus.
Doakan mereka secara teratur.
Cari kesempatan untuk berbicara tentang kasih Tuhan, bukan dengan menggurui, tetapi dengan kasih dan kesabaran.
Tindakan kecil seperti mendengarkan keluhan mereka, membantu mereka di saat sulit, atau mengundang mereka ke persekutuan adalah cara nyata untuk “menyiapkan jalan” bagi Tuhan memasuki hati mereka.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana cara praktis membuka jalan bagi Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!
Apa yang dialami Zakharia sebelum ia bernubuat?
Keturunan siapakah sang penyelamat menurut nubuat para nabi?
Allah berjanji kepada nenek moyang Israel, dan Tuhan ingin memperlihatkan apa kepada umat-Nya?
Apa tujuan kedatangan Mesias yang dijanjikan itu?
Saudara, ayat-ayat Firman Tuhan ini merupakan nyanyian Zakharia, ayah Yohanes Pembaptis.
Karena tidak percaya kepada pesan malaikat Tuhan yang memberitakan bahwa ia akan memperoleh seorang anak laki-laki, Zakharia menjadi bisu selama masa kehamilan istrinya, Elisabet.
Nyanyian ini disebut “Nyanyian Benedictus”. Zakharia menyanyikannya setelah mengalami kebisuan selama sembilan bulan.
Ketika mulutnya terbuka kembali, ia terlebih dahulu menyebutkan bahwa anaknya harus diberi nama Yohanes.
Setelah itu, Zakharia bernyanyi dan bernubuat tentang kedatangan Yesus sebagai Mesias yang menjadi sumber keselamatan.
Nyanyian ini berisi kabar baik: “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya.”
Tuhan turun untuk mencari umat-Nya dan memberikan keselamatan karena manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.
Roma 3:23-24 “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”
Tuhan Allah menyelamatkan manusia dengan mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus.
Tuhan tidak meninggalkan manusia karena Dia sangat mengasihi dunia ini.
Yohanes 3:16“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Tuhan Allah mengaruniakan “tanduk keselamatan” dari keturunan Daud.
Tanduk keselamatan menggambarkan kekuatan, kemenangan, dan seorang Raja. Zakharia mengetahui bahwa Mesias atau Juruselamat yang dijanjikan:
Kejadian 3:15“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”
Keturunan perempuan yang dimaksud adalah Yesus, yang juga berasal dari keturunan Daud.
Keselamatan manusia bukanlah gagasan manusia, melainkan rencana Allah yang telah dipersiapkan sejak manusia jatuh ke dalam dosa di Taman Eden.
Nubuatan ini juga menyatakan bahwa tujuan keselamatan adalah supaya manusia dapat beribadah kepada Tuhan.
Jadi, keselamatan bukan hanya bertujuan supaya kita masuk surga.
Keselamatan membuat kita dapat beribadah kepada Tuhan sepanjang hidup tanpa ketakutan dan rasa bersalah, melainkan dalam kemerdekaan dan kebebasan.
Dari nubuatan ini, kita juga memahami bahwa keselamatan diberikan karena rahmat, perjanjian, dan kesetiaan Allah.
Allah telah mengadakan perjanjian dengan Abraham, nenek moyang bangsa Israel.
Melalui keturunannya, dunia akan memperoleh berkat yaitu rahmat dan anugerah Allah.
Salah satu anugerah yang dijanjikan adalah Roh Kudus yang membawa kebebasan dan kemerdekaan.
Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus kita lakukan:
Berhenti Berusaha Menyelamatkan Diri Sendiri Zakharia menyatakan bahwa Tuhanlah yang “membawa kelepasan”. Karena itu, terimalah Yesus dengan iman. Efesus 2:8-9“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
Hiduplah sebagai Orang yang Sudah Dibebaskan Jangan kembali kepada perbudakan dosa. Kita telah dimerdekakan dan dianugerahi Roh Kudus supaya dapat menyembah Tuhan Allah dengan bebas. Efesus 1:13-14“Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”
Ceritakan Kabar Baik Ini Setelah mengalami kemerdekaan, Zakharia langsung bernubuat. Dunia perlu mendengar bahwa Mesias, Juruselamat dunia, telah datang. Yesus telah melakukan penebusan bagi dosa dunia dengan rela mati di atas kayu salib. Dia telah bangkit dan naik ke surga untuk menyediakan tempat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Keselamatan yang telah kita terima merupakan pemberian Allah semata-mata dan menerimanya dengan cuma-cuma.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita juga membagikannya dengan cuma-cuma kepada orang lain.
Matius 10:5-8“Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”
Setelah bangkit dari kubur, Yesus menyampaikan pesan kepada murid-murid-Nya.
Menjelang kenaikan-Nya ke surga, Dia kembali memberikan perintah kepada mereka.
Pesan Yesus tersebut dicatat dalam tulisan penulis Injil yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.
Lukas menuliskannya dua kali, yaitu dalam Injil Lukas dan dalam tulisannya yang sangat dikenal yaitu Kisah Para Rasul.
Kelima catatan mengenai pesan Yesus tersebut kemudian dikenal oleh para bapa gereja dengan istilah “Amanat Agung Kristus”.
Amanat Agung merupakan perintah penting dari Yesus Kristus. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menaatinya.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa pesan Yesus ini disebut Amanat Agung Kristus?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!
Mengapa Paulus menyatakan bahwa dia telah diserahkan kepada maut?
Mengapa Paulus menyatakan maut giat di dalam dirinya, dan hidup giat dalam hidup jemaat?
Jikalau kita percaya, apakah yang harus kita lakukan?
Apakah yang akan dilakukan oleh Allah dengan tubuh kita kelak bersama Kristus?
Saudara, Rasul Paulus menyatakan dalam 2 Korintus 4:10“Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.”
Yesus Kristus telah mati, bangkit dan naik ke surga.
Saat ini, Yesus Kristus telah kembali kepada kemuliaan dan keilahian-Nya.
Sejak dunia belum dijadikan, Dia adalah Allah bersama dengan Bapa-Nya.
Yohanes 1:1“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Yohanes 1:14“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”
Rasul Paulus dengan jelas menyatakan bahwa sebagai rasul Yesus Kristus, ia diutus dengan kuasa Roh Kudus untuk memberitakan Injil keselamatan kepada orang-orang yang tidak bersunat.
Sebagai rasul, Paulus menjalankan tugasnya sebagai pemberita Injil dan pengajar dengan sangat baik.
Namun, ia sangat dimusuhi oleh orang-orang yang menganut agama Yahudi, seperti orang-orang Farisi dan para ahli Taurat.
Mereka sangat membenci Paulus karena sebelumnya ia dikenal sebagai Saulus, seorang ahli Taurat dan murid dari seorang rabi Yahudi yang sangat terkenal pada masa itu, yaitu Rabi Gamaliel.
Namun, Saulus kemudian bertemu dengan Yesus Kristus dalam perjalanan misinya menuju Damsyik (Damaskus).
Pada saat itu, ia bermaksud menangkap dan membunuh orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
Setelah percaya bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang dijanjikan, Saulus kemudian berganti nama menjadi Paulus.
Sebagai rasul Yesus Kristus, Paulus memberitakan Injil kasih karunia kepada orang-orang yang tidak bersunat.
Hal tersebut membuatnya sangat dibenci oleh orang-orang Farisi yang mengetahui bahwa sebelumnya ia adalah seorang Farisi yang fanatik dan radikal.
Paulus pernah dilempari batu hingga tidak sadarkan diri.
Orang-orang mengira bahwa ia telah mati, namun ternyata ia masih hidup.
Setelah peristiwa tersebut, ia semakin giat memberitakan Injil dan mengajar untuk membuktikan bahwa Yesus dari Nazaret adalah Juruselamat dan Tuhan.
Paulus banyak mengajar di sinagoge-sinagoge Yahudi.
Ia juga memberitakan Injil keselamatan kepada masyarakat yang tidak bersunat, sehingga banyak jemaat dibentuk dan dirintis.
Karena pelayanannya tersebut, Paulus semakin dibenci oleh banyak orang Yahudi.
Beberapa kali ia dipenjarakan, dianiaya, dan dilempari batu karena begitu giat bersaksi bahwa Yesus adalah Kristus dan Tuhan.
Karena begitu sering dianiaya, dikejar-kejar, dan dipenjarakan, Rasul Paulus mengakui bahwa dirinya seperti seseorang yang telah dijatuhi hukuman mati.
Ancaman kematian seakan-akan mengikutinya kemanapun ia pergi untuk melayani Tuhan.
Ia juga mengakui bahwa dirinya seperti tontonan bagi dunia.
1 Korintus 4:9“Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.”
Saudara, Rasul Paulus menyatakan bahwa sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, hidupnya telah diserahkan sepenuhnya kepada Allah.
Roh Kudus menguasai dirinya dan menyatakan:
Galatia 5:25-26“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.”
Ketika kendali kehidupan kita berada di tangan Roh Kudus, maka keinginan daging kita harus mengalami kematian.
Dengan demikian, kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus, yaitu kehidupan Yesus Kristus, akan terlihat dengan nyata dalam diri kita.
Hal inilah yang dinyatakan oleh Rasul Paulus:
Galatia 2:19-20“…Aku telah disalibkan dengan Kristus;namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Oleh karena itu, bagi Paulus, kehidupan Kristuslah yang sepatutnya terlihat dalam diri kita ketika kita hidup di tengah-tengah masyarakat.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apa yang menyebabkan kehidupan Kristus tidak terlihat dalam kehidupan kita?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!
Apa yang dapat timbul dari kegelapan? Mengapa bisa?
Tubuh kita diibaratkan sebagai apa? Mengapa bisa timbul terang dari dalamnya?
Mengapa rasul Paulus dapat mengalami berbagai masalah, tapi dia tidak putus asa atau mengeluh?
Apa yang rasul Paulus nyatakan mengenai tubuhnya, bejana tanah liat itu?
Saudara, seseorang yang sebelumnya menjadi musuh iman para pengikut Yesus Kristus, oleh anugerah Allah, diperkenankan bertemu dengan Yesus dalam perjalanan misinya untuk menangkap dan menghancurkan murid-murid-Nya.
Pertemuan tersebut mengubah hidupnya. Ia kemudian menjadi pembawa terang ilahi kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, yaitu orang-orang yang tidak bersunat.
Rasul Paulus sangat menyadari bahwa dirinya dipilih semata-mata karena kemurahan Allah, bukan karena kebaikannya sendiri.
Ia memahami bahwa segala sesuatu yang dapat dikerjakannya terjadi karena kasih Allah kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi yang tidak bersunat.
Dalam kasih karunia Tuhan Allah, Paulus menyadari bahwa ia dipanggil untuk melakukan perbuatan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya.
Perbuatan baik tersebut secara khusus dipercayakan Allah untuk dikerjakan melalui kehidupan dan pelayanan Rasul Paulus.
Efesus 2:8-10“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
Saudara, Yesus juga berkata melalui surat tulisan rasul penulis Injil :
Yohanes 15:16-17“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”
Yesus telah memilih Saulus, seorang Farisi yang radikal.
Dalam kebodohan dan ketidaktahuannya, Saulus berusaha menangkap dan membunuh orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Mesias.
Setelah dipilih oleh Yesus, Rasul Paulus menyadari bahwa panggilannya merupakan kehendak Allah.
Tuhan hendak memakai Paulus sebagai rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi atau bangsa-bangsa Gentile.
Demi panggilan tersebut, Paulus rela menyerahkan seluruh hidupnya.
Bahkan, ia menganggap kematian sebagai suatu keuntungan apabila ia dapat mati bagi Juruselamatnya.
Paulus menyadari bahwa dirinya hanyalah bejana tanah liat yang tidak memiliki semarak.
Meskipun demikian, Tuhan berkenan memakai dirinya.
Ia memahami bahwa bejana tanah liat yang tidak berharga tersebut telah menerima kehormatan yang besar karena Tuhan Allah berkehendak menjadikannya sebagai pembawa terang dunia yang penuh dengan semarak ilahi.
Rasul Paulus kemudian menjadi bapa rohani bagi jemaat di Korintus, yaitu salah satu jemaat kharismatik yang dicatat dalam Alkitab.
Jemaat tersebut sangat antusias menggunakan karunia-karunia Roh Kudus dan menyatakan kuasa Roh Kudus dalam kehidupan mereka sebagai jemaat.
Saudara, Tuhan menghendaki supaya kita semua menyadari bahwa kita sepatutnya hidup seperti Rasul Paulus.
Ia memahami bahwa dirinya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan milik Yesus Kristus.
Bejana tanah liat yang tidak berharga itu telah diisi oleh Terang Dunia, yaitu Yesus Kristus sehingga kehidupan Paulus juga memancarkan kemuliaan Tuhan.
Namun, Rasul Paulus juga sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi di berbagai tempat yang didatanginya untuk memberitakan Injil keselamatan, Injil kasih karunia, yang juga dikenal sebagai Injil Kerajaan Allah.
Saudara, sudahkah bejana tanah liat dalam dirimu membawa Terang Dunia kemanapun engkau pergi? Apakah orang-orang di sekitarmu dapat melihat terang tersebut?
Oleh karena itu, isilah bejana tanah liat itu dengan firman Allah. Biarkan kuasa dan karunia Roh Kudus mengalir.
Dengan demikian, banyak orang dapat melihat kehadiran terang Kristus di dalam dirimu dan memuliakan Tuhan karena terang tersebut terpancar melalui bejana tanah liat itu.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apa yang menyebabkan bejana tanah liat dalam diri kita tidak memancarkan terang Kristus kepada masyarakat di sekitar kita?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!
Mengapa kita harus menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa kita?
Mengapa kita harus melakukan cara hidup yang baik di Tengah-tengah orang bukan pengikut Kristus?
Kepada siapa kita harus menundukkan diri kepada semua Lembaga pemegang kekuasaan?
Mengapa kita harus tunduk kepada mereka?
Saudara, sebagai bangsa yang terpilih, gereja berada di tengah-tengah orang-orang yang belum percaya kepada Yesus Kristus di dunia ini.
Rasul Petrus menyatakan :
1 Petrus 2:9“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib”
Melalui tulisannya, Rasul Petrus hendak mendorong orang-orang percaya supaya bersaksi tentang perbuatan-perbuatan besar Allah.
Melalui Yesus Kristus, Allah telah memanggil bangsa-bangsa bukan Yahudi, yaitu bangsa-bangsa kafir atau Gentile.
Mereka yang sebelumnya bukan bangsa terpilih dan tidak disebut sebagai umat yang dikasihi, kini dipanggil menjadi bangsa pilihan karena percaya kepada anugerah Allah melalui Yesus Kristus.
Tuhan Allah sangat menghendaki supaya gereja menjadi saksi-saksi Kristus.
Gereja dipanggil untuk memberkati para bangsa-bangsa kafir atau Gentile yang belum mengenal Allah.
Mereka perlu mendengar tentang perbuatan-perbuatan besar Allah yang dinyatakan melalui Anak-Nya, Yesus Kristus.
Dengan demikian, bangsa-bangsa yang belum mengenal Allah dapat mengenal-Nya melalui Yesus Kristus.
Mereka juga dapat menjadi umat pilihan dan umat kepunyaan Allah di dalam Kristus.
Tuhan menghendaki supaya umat pilihan-Nya yang baru ini tidak hidup dalam kejahatan dan tidak mengikuti hawa nafsu daging.
Gereja bersaksi melalui berbagai perbuatan baik supaya masyarakat yang belum percaya kepada Yesus dapat melihat kehadiran Yesus Kristus di tengah-tengah mereka.
Rasul Paulus juga menyampaikan pewahyuan dari Roh Kudus melalui suratnya kepada jemaat di Galatia.
Galatia 6:7-9“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”
Saudara, hal ini mendorong gereja untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah melalui perbuatan baik yang dilakukan oleh orang-orang percaya dan murid-murid Yesus Kristus di tengah masyarakat yang belum percaya kepada-Nya.
Melalui kehidupan orang-orang percaya, masyarakat dapat melihat bahwa Tuhan Allah melalui Yesus Kristus hidup di tengah-tengah gereja-Nya.
Dengan demikian, masyarakat yang belum percaya dapat mengalami lawatan Roh Kudus melalui kesaksian-kesaksian gereja di tengah kehidupan mereka.
Rasul Yakobus juga pernah menuliskan bahwa jemaat harus dikenal oleh masyarakat di sekitarnya melalui perbuatan-perbuatan baik, bukan hanya melalui pengakuan iman.
Yakobus 2:15-17“Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”
Dari kebenaran firman Tuhan ini, kita dapat belajar bahwa orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan Allah melalui Yesus Kristus sering menilai kita berdasarkan apa yang terlihat oleh mata mereka.
Mereka memperhatikan bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari.
Mereka melihat apakah kita ramah, murah hati, pelit, cerewet, kasar, suka berdebat, mudah marah, suka membentak orang lain dan sebagainya.
Semua sikap tersebut merupakan perbuatan yang dapat dilihat oleh orang-orang di sekitar kita.
Orang-orang yang belum percaya kepada Yesus umumnya mengetahui bahwa inti ajaran Kristen adalah kasih.
Mereka sangat kagum ketika mengetahui ajaran Kristus yang mulia seperti :
Matius 5:39-42“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.”
Namun, ketika mereka memahami ajaran tersebut, banyak di antara mereka juga merasa kecewa.
Kekecewaan itu muncul ketika mereka melihat orang Kristen yang secara nyata melanggar ajaran yang mereka percayai dan sampaikan.
Seorang sahabat saya pernah bertanya tentang hubungan saya dengan seseorang yang dahulu menjadi musuh saya ketika kami masih muda di Medan.
Saya menjelaskan kepadanya bahwa saya sudah mengampuni dan memaafkan orang tersebut.
Saya mengatakan bahwa setelah tinggal di Bandung, saya mengenal Yesus secara pribadi.
Sejak saat itu, saya belajar memaafkan dan mengampuni orang-orang yang bersalah kepada saya.
Karena itu, saya tidak lagi menganggap siapa pun sebagai musuh.
Teman saya bertanya, “Mengapa bisa seperti itu?” Pertanyaan tersebut menjadi kesempatan bagi saya untuk menjelaskan ajaran Yesus.
Saya menyampaikan bahwa apabila seseorang menampar pipi kiri kita, kita diajar untuk memberikan juga pipi kanan.
Ia sangat terkejut dan berkata bahwa ia belum pernah mengetahui adanya ajaran seperti itu.
Sejak saat itu, teman tersebut menjadi salah satu sahabat yang paling sering menghubungi saya melalui telepon.
Ketika kami masih duduk di bangku SMP, ia kurang menyukai saya karena menganggap saya sombong dan tidak mau bergaul dengan anak-anak kampung.
Namun, setelah saya pindah ke Bandung, hubungan kami menjadi semakin dekat.
Setiap kali pulang ke Medan, saya sering mencari dan menemuinya.
Ketika dia semakin mendalami agamanya dan sempat menjadi intoleran, namun ia tidak memusuhi saya.
Ia bahkan pernah meminta maaf atas tindakan kelompoknya yang sangat menyakitkan bagi kami sebagai orang-orang percaya.
Ketika saya menyampaikan dan mengirimkan ayat Firman Tuhan dari Matius 5:44“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Teman saya kemudian mengajukan beberapa pertanyaan.
Saya menjelaskan kepadanya bahwa kami diajar oleh Yesus Kristus untuk mengasihi semua orang seperti kami mengasihi diri sendiri.
Pada suatu hari, ketika saya sedang tidak berada di Medan, kakaknya menikah dan keluarganya mengadakan pesta.
Pada saat itu, sumur mereka kering dan air ledeng tidak mengalir sehingga mereka mengalami kesulitan mendapatkan air.
Ayah saya menyalurkan air dari sumur kami ke rumah mereka dengan menggunakan selang sepanjang lebih dari lima puluh meter.
Tindakan tersebut mengubah pandangan teman saya yang sebelumnya bersikap intoleran terhadap keluarga kami.
Ia benar-benar merasakan secara langsung makna dari ayat-ayat firman Tuhan yang pernah saya bagikan kepadanya.
Sampai hari ini, ia sangat menghormati saya dan keluarga saya.
Tindakan ayah saya memberikan pengaruh yang besar bagi dirinya dan keluarganya.
Saudara, marilah kita mengasihi melalui perbuatan kepada siapa pun yang berada di sekitar kita.
Perbuatan kasih dapat membuat masyarakat melihat dan merasakan kasih Allah melalui Yesus Kristus.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apa yang menyebabkan banyak orang menolak Injil Yesus Kristus, Injil kebenaran, atau firman Allah?