Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Kolose 3:10.
Siapakah yang selalu nampak ketika kita memiliki pemahaman bahwa hidup kita telah mati dan tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah?
Terhadap hal-hal apakah kita telah mati?
Coba sebutkan hal-hal yang harus kita kenakan karena kita telah mengalami hidup baru yaitu hidup Yesus sendiri?
Tuhan ingin agar kita memiliki pemahaman yang benar tentang kelahiran kembali dimana Yesus ada di dalam hati kita sehingga hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus, dimana kita telah mati dan Yesus yang hidup di dalam kita.
“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”(Galatia 2:20).
Akibatnya kita harus mematikan segala sesuatu yang menjadi manusia lama kita yang duniawi yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, keserakahan dimana hal-hal tersebut merupakan berhala bagi hidup kita sehingga kita dibebaskan dari kehidupan amarah, geram, kejahatan, fitnah, kata-kata kotor dan perkataan dusta.
Untuk kita dapat senantiasa hidup dalam kehidupan yang baru maka kita harus senantiasa mengenakan kasih dalam kehidupan sehari-hari.
“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”(Kolose 3:12-14).
Untuk hidup di dalam kasih maka kita harus hidup senantiasa di dalam Firman Tuhan dan dalam perkataan Kristus, dengan demikian dari perkataan dan perbuatan kita akan mengalirkan kehidupan Kristus dimana diantaranya: istri tunduk kepada suami, suami akan mengasihi istri, anak-anak mentaati orangtua dan orangtua tidak akan menyakiti anak-anak, hamba-hamba akan mentaati tuan-tuannya.
“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” (Kolose 3:16).
Dengan demikian kita bertindak hati-hati terhadap dunia ini dan senantiasa diselimuti oleh kasih Kristus dan selalu mengalami kehidupan yang selalu dibaharui.
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”(Yosua 1:8).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara pengalaman saudara tentang bagaimana hidup baru saudara betul-betul dipenuhi oleh kasih.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah I Korintus 13:1.
Disamakan seperti apakah kita jika dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat tetapi tidak mempunyai kasih?
Apakah kita berguna jika memiliki karunia untuk bernubuat dan memiliki seluruh pengetahuan dan memiliki iman yang sempurna tetapi tidak mempunyai kasih?
Apakah faedahnya jika kita membagi-bagikan segala sesuatu bahkan menyerahkan tubuh untuk dibakar tetapi tidak mempunyai kasih?
Tuhan menyatakan bahwa tanpa kasih semua yang kita lakukan adalah sia-sia, tidak berguna dan tidak ada faedahnya. Karena yang terutama dalam kehidupan di dalam Tuhan adalah kasih.
“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”(I Korintus 13:13).
Beberapa hal di dalam Alkitab penyebab mengapa Allah mengutamakan kasih diatas yang lain, diantaranya adalah:
Karena Allah adalah kasih sehingga hal-hal apapun yang kita lakukan merupakan realisasi kehidupan Allah sendiri, sehingga semua yang kita lakukan adalah dimulai karena kasih. ”Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”(I Yohanes 4:7-8). ”Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (I Yohanes 4:16,19);
Hukum Allah yang utama adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama termasuk musuh kita. ”Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”(Markus 12:29-31). ”Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”(Matius 5:43-45).
Itulah sebabnya segala hal yang kita lakukan haruslah dimulai dari kasih yang kita miliki yaitu kasih Allah dan dengan kasih itulah kita bergerak untuk melakukan segala sesuatu sehingga tanpa kasih semuanya sia-sia, tidak ada faedah dan gunanya.
Ketika segala sesuatu kita memulainya dengan kasih maka kita akan mengalami realita Kristus sebab kasih itu merupakan wujud dari realita Kristus.
Oleh sebab itu marilah kita mulai menyadari bahwa segala perkataan, perbuatan dan pikiran kita harus dimulai dari kasih Allah sehingga kita dapat mengasihi orang lain dan mengalirkan kasih.
Diskusikanlah pengalaman saudara dalam komunitas bagaimana pengalaman saudara bahwa tanpa kasih semua yang saudara lakukan menjadi sia-sia.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa perbedaan antara bekerja “hanya di hadapan manusia” dengan bekerja “dengan tulus hati karena takut akan Tuhan” (ayat 22)?
Mengapa Paulus menyuruh kita bekerja “seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia” (ayat 23)? Apa untungnya?
Upah seperti apa yang dijanjikan Tuhan bagi orang yang bekerja dengan segenap hati untuk-Nya (ayat 24)?
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. (Kolose 3:23).
Pernahkah kamu merasa malas bekerja karena atasan tidak melihat? Atau merasa tidak semangat karena pekerjaanmu tidak dihargai? Atau mungkin kamu melakukan tugas hanya karena takut dimarahi, tapi hati tidak ikhlas? Situasi seperti ini sudah ada sejak zaman Paulus.
Para hamba (budak) saat itu sering diperlakukan semena-mena.
Mereka bisa saja bekerja asal-asalan jika tuannya tidak mengawasi.
Tapi Paulus mengajarkan standar yang jauh lebih tinggi: “Hendaklah kamu taat dalam segala hal kepada tuanmu di dunia, bukan hanya di hadapan mereka seperti orang yang mencari muka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.”
Ini adalah nasihat revolusioner: pekerjaan kita bukan untuk menyenangkan manusia semata, tetapi untuk menyenangkan Tuhan.
Kita harus bekerja dengan tulus hati, bukan hanya ketika diawasi.
Paulus membedakan antara “sebagai orang yang mencari muka” (hanya rajin saat dilihat) dengan “tulus hati karena takut akan Tuhan.”
Orang yang takut akan Tuhan tidak butuh pengawas; ia bekerja dengan integritas karena sadar Tuhan melihat segalanya.
Ini berarti, ketika kamu membersihkan rumah, menyelesaikan tugas kantor, atau melayani di gereja, lakukan dengan sepenuh hati, bukan setengah-setengah.
Apakah atasanmu sedang mengawasi atau tidak, Tuhan selalu melihat.
Kualitas pekerjaanmu adalah cerminan karakter Kristus dalam dirimu.
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Karena kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.”
Ini adalah perubahan perspektif yang radikal.
Jika kita bekerja hanya untuk menyenangkan atasan, kita bisa kecewa ketika tidak dipuji atau tidak mendapat kenaikan gaji.
Tapi jika kita bekerja untuk Tuhan, maka upah kita berasal dari Dia.
Dan upah Tuhan jauh lebih berharga: bukan hanya materi, tetapi juga kepuasan batin, damai sejahtera, dan suatu hari nanti warisan dalam Kerajaan-Nya.
Jadi, jangan pernah merasa rugi berbuat baik atau bekerja keras, karena Tuhan tidak buta.
Ia melihat setiap jerih lelahmu.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Ganti Motivasi Kerjamu.
Mulai besok pagi, sebelum memulai aktivitas, berdoalah: “Tuhan, aku melakukan pekerjaan ini untuk-Mu.
Tolong aku melakukannya dengan segenap hati, bukan untuk pujian manusia, tetapi untuk kemuliaan-Mu.”
Ketika rasa malas datang, ingatkan dirimu: “Tuhan melihat. Aku bekerja seperti untuk Tuhan.”
Dengan mengubah motivasi, pekerjaan yang membosankan pun bisa menjadi ibadah.
Kedua, Lakukan dengan Standar Terbaikmu, Boleh Saja Tidak Sempurna.
Bekerja untuk Tuhan tidak berarti harus sempurna tanpa kesalahan.
Tapi lakukan yang terbaik sesuai kemampuanmu.
Jika kamu seorang pelajar, belajarlah dengan sungguh-sungguh.
Jika kamu karyawan, selesaikan tugas dengan tanggung jawab.
Jika ibu rumah tangga, layani keluarga dengan sukacita.
Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain; Tuhan melihat ketulusan hatimu.
Upah dari Tuhan pasti datang pada waktu-Nya.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana mengubah motivasi belajar atau bekerja hanya untuk Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dimaksud dengan “perkataan Kristus diam dengan limpah” dalam hati seseorang? Apakah cukup dengan membaca Alkitab sekali sehari?
Apa hubungannya antara hati yang dipenuhi firman dengan kemampuan untuk “saling mengajar dan menegur” sesama (ayat 16)?
Mengapa ucapan syukur disebutkan dua kali (ayat 15 dan 17) sebagai bagian dari hidup yang memuliakan Tuhan?
“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” (Kolose 3:17).
Coba bayangkan sebuah botol yang penuh dengan air jernih.
Jika botol itu goyah atau terjatuh, yang keluar adalah air jernih.
Sebaliknya, botol yang berisi air kotor akan mengeluarkan air kotor saat diguncang.
Demikian juga dengan hati kita. Yesus sendiri berkata bahwa dari kelimpahan hati, mulut berbicara (Matius 12:34).
Paulus mengajarkan jemaat Kolose bahwa hati mereka harus dipenuhi dengan perkataan Kristus.
Bukan hanya dibaca sekali-sekali, tetapi “diam” – tinggal, menetap, menjadi penghuni tetap.
Ketika firman Tuhan memenuhi hati, secara alami perkataan kita akan menjadi perkataan yang memuliakan Tuhan.
Sebaliknya, jika hati kosong atau diisi dengan hal-hal duniawi, perkataan kita akan mudah menjadi kasar, sia-sia, atau bahkan melukai.
Perkataan kita adalah cermin dari apa yang mengisi hati kita.
Paulus berkata: “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu.”
Ada dua kata penting: diam (menetap) dan limpah (kekayaan, kelimpahan).
Artinya, firman Tuhan tidak boleh hanya singgah sebentar lalu pergi.
Ia harus menjadi tuan rumah di hati kita.
Ia hadir dalam segala kekayaannya: kebenaran, kasih, hikmat, pengharapan, dan pengampunan.
Ketika hati dipenuhi dengan kekayaan firman, maka perkataan yang keluar akan kaya juga: penuh hikmat untuk mengajar dan menegur sesama, serta meluap dalam nyanyian pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan.
Orang yang hatinya penuh firman tidak akan mudah mengeluarkan kata-kata kotor atau sia-sia, karena lidahnya dikendalikan oleh apa yang memenuhi hati.
Perkataan yang memuliakan Tuhan tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga membangun orang lain.
Paulus menyebut dua hal: “saling mengajar dan menegur dalam segala hikmat” dan “bernyanyi bagi Tuhan dalam hati.”
Artinya, persekutuan orang percaya harus saling membangun melalui perkataan.
Ketika kita melihat saudara seiman melakukan kesalahan, kita bisa menegur dengan lembut berdasarkan firman, bukan berdasarkan emosi.
Ketika kita melihat saudara yang sedang lemah, kita bisa menguatkan dengan kata-kata penghiburan dari Alkitab.
Dan nyanyian rohani (baik di gereja maupun di rumah) adalah cara untuk memuliakan Tuhan dengan suara dan hati.
Semua ini terjadi karena firman Tuhan benar-benar “diam” di tengah-tengah persekutuan.
Dua hal Praktis melakukan firman.
Pertama, Isi Hatimu dengan Firman Setiap Hari.
Luangkan waktu khusus untuk membaca dan merenungkan Alkitab, jangan terburu-buru.
Pilih satu atau dua ayat, lalu renungkan sepanjang hari. Tanyakan: “Apa yang ayat ini ajarkan tentang Tuhan? Apa yang mau Dia katakan kepadaku?” Hafalkan ayat-ayat yang menguatkan.
Dengan rutin mengisi hati dengan firman, secara alami perkataanmu akan berubah menjadi lebih bijaksana dan membangun.
Kedua, Latih Lidah untuk Mengucapkan Syukur dan Pujian.
Setiap kali kamu hendak mengeluh atau berkata negatif, hentikan dan ganti dengan ucapan syukur.
Misalnya, daripada berkata “Aku capek sekali,” coba ucapkan “Terima kasih Tuhan, Engkau memberiku kekuatan hari ini.”
Jika terbiasa mengucap syukur dalam segala hal, perkataanmu akan menjadi kesaksian yang memuliakan Tuhan di hadapan orang-orang di sekitarmu.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki hati yang melimpah dengan perkataan Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang menyebabkan seseorang menjadi “jemu” atau “lemah” dalam berbuat baik? Pernahkah kamu mengalaminya?
Apa arti “panen” yang dijanjikan dalam ayat 9? Apakah selalu berupa balasan materi?
Mengapa Paulus memberi prioritas berbuat baik kepada “kawan-kawan seiman” (ayat 10), meskipun kita juga harus baik kepada semua orang?
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9).
Pernahkah kamu merasa lelah berbuat baik? Mungkin kamu sudah sering menolong orang, tapi tidak pernah dihargai.
Mungkin kamu sudah berusaha bersikap baik kepada teman atau keluarga, tapi mereka tetap saja menyakiti hatimu.
Atau mungkin kamu sudah setia melayani di gereja, tetapi merasa tidak ada hasil yang terlihat.
Paulus tahu persis perasaan ini.
Jemaat Galatia juga menghadapi tantangan: ada orang-orang yang mempersulit mereka, ada ajaran sesat yang melelahkan iman mereka.
Paulus tidak berkata, “Berbuat baik itu mudah.” Sebaliknya, ia mengakui bahwa kita bisa menjadi jemu dan lemah.
Tapi ia mendorong: jangan berhenti. Karena ada masa panen yang dijanjikan Tuhan.
Setiap perbuatan baik yang dilakukan dengan setia akan membuahkan hasil pada waktunya.
Petani tidak menanam benih hari ini lalu panen besok.
Ia harus menunggu berbulan-bulan, merawat, menyiram, dan membersihkan gulma.
Kadang hujan tidak turun, kadang hama menyerang.
Tapi petani yang sabar dan tekun pada akhirnya akan menuai.
Demikian juga dalam hidup rohani.
Tuhan tidak buta terhadap kebaikan yang kita lakukan dengan tulus.
Entah itu memberi bantuan, mengucapkan kata penghiburan, atau sekadar tersenyum kepada orang yang sedang susah.
Ada masa panen yang sudah Tuhan tentukan.
Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat, tetapi percayalah: “apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai.”
Satu-satunya syarat: jangan menjadi lemah dan menyerah di tengah jalan.
“Selama masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan seiman.”
Paulus tidak membatasi kebaikan hanya untuk orang Kristen.
Kita harus berbuat baik kepada semua orang, karena kasih Allah melampaui batas-batas.
Namun, Paulus memberi prioritas khusus kepada “kawan-kawan seiman”.
Mengapa? Karena mereka adalah saudara kita satu Bapa.
Mereka adalah bagian dari tubuh Kristus yang sama.
Jika ada anggota tubuh yang lemah, anggota lain harus menolong. Ini bukan pilih kasih, tetapi tanggung jawab.
Seperti kita lebih dahulu memenuhi kebutuhan keluarga sendiri sebelum memberi ke tetangga.
Di gereja mula-mula, jemaat saling berbagi harta agar tidak ada yang kekurangan.
Prinsip ini tetap relevan: perhatikan saudara seiman yang sedang kesusahan di sekitarmu.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Buat “Komitmen Kecil” Berbuat Baik Setiap Hari.
Kamu tidak perlu melakukan hal-hal besar.
Mulailah dari hal sederhana: mendoakan orang yang susah, mengirim pesan penyemangat, atau membantu pekerjaan rumah tangga.
Lakukan secara konsisten, meskipun tidak ada yang memuji.
Kedua, Carilah Satu Saudara Seiman untuk ditolong Minggu Ini.
Perhatikan lingkungan jemaat atau persekutuanmu.
Apakah ada yang sedang sakit, kehilangan pekerjaan, atau patah semangat? Jangan hanya berkata “Aku akan mendoakanmu”, tapi tawarkan bantuan konkret: bawakan makanan, bantu menjaga anaknya, atau sekadar berkunjung dan mendengarkan keluh kesahnya.
Tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih adalah perbuatan baik yang sangat berharga di mata Tuhan.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana cara praktis menolong dengan tulus.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dimaksud dengan “perkataan busuk” dalam ayat 29, dan mengapa gambaran “busuk” dipakai?
Mengapa perkataan yang melukai dapat mendukakan Roh Kudus (ayat 30)?
Menurut ayat 31-32, apa yang harus dibuang dan apa yang harus dikenakan sebagai gantinya?
“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” (Efesus 4:25).
Kita semua pernah mengalami luka karena perkataan.
Mungkin ada kata-kata dari orang tua, teman, atau pasangan yang masih terngiang sampai bertahun-tahun kemudian.
Sebaliknya, kita juga pernah melukai orang lain dengan perkataan kita sendiri.
Paulus tahu betapa dahsyatnya kuasa lidah.
Dalam jemaat Efesus, ada orang-orang yang mungkin masih terbiasa dengan gaya bicara lama mereka: kasar, sarkastis, suka menggosip, atau meledak-ledak dalam amarah.
Paulus dengan tegas berkata: “Janganlah ada perkataan kotor (busuk) keluar dari mulutmu.” Gambaran “busuk” ini menunjukkan bahwa perkataan yang melukai itu menjijikkan di mata Tuhan seperti buah yang sudah basi.
Orang percaya dipanggil untuk memiliki standar bicara yang baru, bukan sekadar “tidak kasar”, tetapi aktif membangun.
Setiap perkataan harus bertujuan membangun sesama.
Paulus berkata: “…tetapi hanya yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia.”
Artinya, sebelum bicara, kita perlu bertanya: “Apakah kata-kataku ini akan membantu orang lain menjadi lebih baik? Apakah ini memberi kekuatan, pengharapan, atau penghiburan?” Perkataan yang membangun bisa berupa pujian tulus, nasihat yang lembut, atau sekadar kata-kata penyemangat di saat susah.
Sebaliknya, perkataan yang merusak bisa berupa ejekan, sindiran, bentakan, gosip, atau bahkan “kebenaran” yang disampaikan dengan kasar tanpa kasih.
Paulus tidak melarang menegur, tetapi teguran harus dilakukan dengan cara yang membangun, bukan menghancurkan.
“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu.”
Ini peringatan yang sangat serius. Roh Kudus tinggal di dalam setiap orang percaya sebagai meterai kepemilikan Allah.
Namun, Dia bisa bersedih karena perkataan kita.
Bayangkan Roh Kudus adalah Pribadi yang sangat lembut dan kudus.
Ketika kita mengeluarkan kata-kata kasar, fitnah, atau amarah yang meledak-ledak, itu seperti tamparan di wajah-Nya.
Dia hadir mendengar setiap kata yang keluar dari mulut kita.
Karena itu, menjaga perkataan adalah bagian dari menjaga hubungan kita dengan Roh Kudus.
Ayat 31-32 kemudian memberi jalan keluar: buanglah segala kepahitan, kemarahan, pertengkaran, fitnah, dan segala kejahatan.
Sebaliknya, hendaklah kita ramah, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni seperti Allah mengampuni kita di dalam Kristus.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Pasang “Filter” Sebelum Berkata.
Biasakan untuk berhenti sejenak sebelum berbicara, terutama saat emosi sedang memuncak.
Tanyakan tiga hal: (1) Apakah perkataanku ini benar? (2) Apakah ini perlu diucapkan? (3) Apakah ini akan membangun atau menghancurkan? Jika tidak memenuhi kriteria itu, lebih baik diam.
Latihan ini akan menyelamatkanmu dari banyak penyesalan.
Kedua, Latih Lidah untuk Mengucapkan Berkat.
Mulailah hari dengan mengucapkan kata-kata positif kepada keluarga, teman, atau rekan kerja.
Ucapkan terima kasih, beri pujian tulus, atau kirim pesan penyemangat.
Jika kamu pernah melukai seseorang dengan perkataan, segera minta maaf.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya menggunakan filter yang efektif sebelum berbicara.