Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dimaksud dengan “pondok Daud yang telah roboh” dalam Amos 9:11, dan mengapa gambaran “pondok” (bukan istana) dipakai?
Menurut ayat 11-12, siapa saja yang termasuk dalam pemulihan pondok Daud, dan apa artinya bagi kita yang bukan keturunan Israel?
Apa janji pemulihan konkret yang Tuhan berikan dalam ayat 13-15 (tentang panen, kebun anggur, dan pembangunan kota), dan bagaimana itu bisa menjadi pengharapan kita hari ini?
“Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala,” (Amos 9:11).
Bayangkan sebuah pondok tua yang sudah roboh. Atapnya bocor, dindingnya retak, dan hampir tidak layak huni.
Itulah gambaran kerajaan Daud pada zaman Amos.
Dulu, di masa Daud dan Salomo, Israel adalah bangsa yang bersatu dan kuat.
Tapi karena dosa dan perpecahan, kerajaan itu pecah menjadi dua, dan akhirnya kerajaan utara (Israel) berada di ambang kehancuran.
Amos datang dengan berita penghakiman yang keras.
Tapi di akhir kitabnya, Tuhan memberikan kabar sukacita: “Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh.”
Ini adalah janji bahwa Tuhan tidak pernah menyerah pada umat-Nya.
Di tengah kegagalan dan kehancuran, masih ada pengharapan.
Prinsip pertama yang kita lihat dari nubuat ini adalah bahwa pemulihan sejati selalu dimulai dari Tuhan.
Kata “Aku” muncul berulang kali: “Aku akan mendirikan… Aku akan menutup… Aku akan memulihkan…” Ini menunjukkan bahwa inisiatif pemulihan sepenuhnya berasal dari Allah.
Manusia mungkin telah gagal, tetapi Tuhan tetap setia.
Pondok Daud yang roboh tidak bisa diperbaiki oleh usaha manusia; hanya Tuhan yang bisa membangkitkannya kembali.
Ini mengingatkan kita bahwa keselamatan dan pemulihan hidup kita juga sepenuhnya adalah karya anugerah Tuhan.
Ketika kita jatuh dalam dosa, ketika hubungan kita hancur, ketika kehidupan kita terasa roboh, kita tidak perlu berusaha memperbaikinya sendiri.
Kita hanya perlu datang kepada Tuhan, dan Dia yang akan memulihkan.
Prinsip kedua adalah bahwa pemulihan yang Tuhan lakukan bukan hanya untuk Israel, tetapi membawa berkat bagi semua bangsa.
Ayat 11-12 berbicara tentang “sisa-sisa Edom” dan “segala bangsa yang disebut dengan nama-Ku.”
Ini menunjuk pada penggenapan yang lebih besar: melalui keturunan Daud, yaitu Yesus Kristus, berkat keselamatan akan menjangkau seluruh dunia.
Pemulihan “pondok Daud” bukan hanya tentang politik Israel, tetapi tentang Kerajaan Allah yang meliputi semua orang dari segala suku dan bangsa.
Bagi kita hari ini, ini adalah kabar baik: pemulihan yang Tuhan tawarkan tidak terbatas pada satu kelompok tertentu.
Semua orang yang percaya kepada Yesus, baik Yahudi maupun non-Yahudi, termasuk dalam pemulihan itu.
Kita adalah bagian dari “pondok Daud” yang sedang dibangun kembali.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Percayalah bahwa Tuhan Sanggup Memulihkan Hidupmu.
Apakah ada bagian hidupmu yang terasa “roboh”? Mungkin hubungan keluarga yang retak, mungkin kesehatan yang menurun, mungkin keuangan yang berantakan, atau mungkin perasaan bersalah dan gagal yang menghantui.
Bawalah semua itu kepada Tuhan.
Percayalah bahwa Allah yang sama yang berjanji memulihkan pondok Daud juga sanggup memulihkan kehidupanku.
Kedua, Jadilah Alat Pemulihan bagi Orang Lain.
Tuhan memulihkan kita bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi agar kita menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Lihatlah di sekitarmu: adakah saudara yang sedang “roboh”? Dengarkan, doakan, dan bantulah mereka dengan kasih.
Dengan menjadi alat pemulihan bagi sesama, kita sedang ikut membangun kembali “pondok Daud” di dunia ini, sampai Kristus datang kembali dan memulihkan segala sesuatu.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana cara praktis menjadi berkat bagi pemulihan saudara yang sedang menderita.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang Yesus perintahkan agar kita lakukan dengan “lawan” kita, dan mengapa harus segera dilakukan?
Apa konsekuensi dari tidak mau berdamai menurut perumpamaan ini, dan bagaimana hal itu berlaku dalam kehidupan rohani kita?
Langkah praktis apa yang dapat kamu lakukan minggu ini untuk memulihkan satu hubungan yang sedang renggang?
Yesus mengajarkan sebuah prinsip yang sangat praktis: jangan menunda berdamai.
Di zaman-Nya, jika seseorang berutang atau berselisih dan dibawa ke pengadilan, ia bisa dijebloskan ke penjara sampai utangnya lunas.
Ini adalah gambaran nyata tentang betapa beratnya konsekuensi jika kita membiarkan konflik berlarut-larut.
Ketika kita membiarkan kemarahan, sakit hati, atau perselisihan tidak terselesaikan, itu seperti kita sedang membawa “utang” rohani yang semakin besar.
Yesus tidak berkata, “Cobalah berdamai kalau ada waktu.”
Ia berkata, “Cepatlah!” Ini menunjukkan bahwa memulihkan hubungan yang rusak adalah hal yang sangat mendesak, bukan sesuatu yang bisa ditunda-tunda.
Konflik yang tidak diselesaikan akan semakin memberatkan hidup kita.
Yesus menggambarkan proses hukum: dari lawan, ke hakim, ke penjara.
Ini adalah analogi yang kuat tentang bagaimana perselisihan yang tidak dibereskan akan semakin rumit dan menyakitkan.
Beban itu bukan hanya dirasakan oleh orang yang kita sakiti, tetapi juga oleh kita sendiri.
Sakit hati yang tidak diampuni bisa menjadi akar kepahitan yang meracuni hati, merusak kedamaian, dan bahkan mengganggu kesehatan.
Semakin lama kita menunda, semakin besar pula “bunga” dari beban itu.
Karena itu, Yesus mendesak kita untuk segera mengambil langkah menyelesaikan masalah, sebelum semuanya menjadi semakin berat.
Berdamai adalah tindakan kasih yang memuliakan Tuhan.
Ini bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kekuatan rohani.
Ketika kita mengambil inisiatif untuk berdamai, kita sedang mengasihi sesama seperti diri sendiri.
Kita juga sedang meneladani Kristus yang lebih dulu mencari dan mendamaikan kita dengan Allah.
Dalam Roma 12:18, Paulus menulis: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam damai dengan semua orang.”
Ada kata “sedapat-dapatnya” – artinya, tidak semua orang mau berdamai, tetapi kita harus berusaha semaksimal mungkin.
Yesus mengajarkan bahwa tanggung jawab untuk memulihkan hubungan ada pada kita yang mengaku percaya kepada-Nya.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Segera Ambil Inisiatif untuk Berdamai.
Jika ada seseorang yang kamu sadari sedang sakit hati kepadamu, jangan menunggu.
Hubungi, temui, atau kirim pesan dengan rendah hati.
Kamu tidak perlu menunggu sampai perasaanmu nyaman.
Lakukan sekarang, karena Yesus berkata “cepatlah berdamai.”
Bahkan jika orang itu tidak menerima permintaan maafmu, setidaknya kamu sudah melakukan bagianmu dan hatimu menjadi lega.
Kedua, Jangan Membawa Masalah Lama ke Hari Berikutnya.
Prinsip “jangan biarkan matahari terbenam sebelum padam amarahmu” (Efesus 4:26) sangat relevan di sini.
Sebelum tidur, periksalah hatimu: apakah ada orang yang masih membuatmu marah?
Apakah ada konflik yang belum terselesaikan?
Jika ya, ambil langkah sederhana untuk mulai memulihkannya, entah dengan berdoa untuk orang itu atau mengirim pesan untuk menjadwalkan pertemuan.
Damai dengan sesama adalah jalan menuju damai dengan Tuhan.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya supaya cepat memulihkan hubungan yang retak.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut Matius 5:23-24, apa yang harus dilakukan jika kita teringat bahwa ada saudara yang sakit hati terhadap kita saat kita sedang beribadah?
Mengapa Yesus memerintahkan untuk “meninggalkan persembahan” lebih dulu, bukannya menyelesaikan ibadah dulu baru berdamai?
Apa hubungannya antara kemarahan/penghinaan (ayat 22) dengan perintah untuk berdamai (ayat 23-24)?
Coba bayangkan seseorang dengan sungguh-sungguh membawa domba atau burung merpati ke Bait Allah untuk dipersembahkan kepada Tuhan.
Ia sudah memilih hewan yang terbaik, berjalan jauh, dan rela mengeluarkan biaya.
Namun di tengah proses ibadah, Roh Kudus mengingatkan: “Ada saudaramu yang masih sakit hati kepadamu.”
Yesus berkata: tinggalkan persembahanmu di mezbah, pergilah berdamai, baru kembali.
Ini bukan berarti Yesus meremehkan ibadah.
Justru sebaliknya, Ia menunjukkan bahwa Tuhan lebih menghargai hubungan yang dipulihkan daripada ritual yang indah.
Di zaman Yesus, orang sangat serius dengan persembahan.
Tapi Yesus mengajarkan bahwa persembahan tanpa hati yang berdamai adalah sia-sia di mata Allah.
Tuhan tidak menerima ibadah dari orang yang masih menyimpan permusuhan dengan sesamanya.
Banyak orang berpikir ibadah hanya tentang datang ke gereja, bernyanyi, memberi persembahan, dan berdoa.
Padahal Yesus mengatakan bahwa semua itu harus didahului oleh tindakan berdamai dengan saudara.
Kata “berdamai” di sini berarti mengusahakan pemulihan hubungan, entah dengan meminta maaf atau mengampuni.
Jika kita datang beribadah dengan hati yang masih sakit hati, marah, atau tidak mau mengampuni, maka ibadah kita menjadi tidak utuh.
Bukan berarti Tuhan tidak mau mendengar doa kita, tetapi ada dinding pemisah yang harus dirobohkan lebih dulu.
Hubungan kita dengan Tuhan (vertikal) tidak bisa dipisahkan dari hubungan kita dengan sesama (horizontal).
Yesus mengajarkan bahwa sebelum kita “membawa persembahan” (beribadah kepada Tuhan), kita harus terlebih dahulu “berdamai dengan saudara.”
Ini bukan pilihan, tetapi perintah.
Mengapa? Karena kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama adalah dua sisi dari mata uang yang sama (1 Yohanes 4:20).
Tidak mungkin kita mengaku mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan, tapi membenci saudara yang kelihatan.
Jadi, jika ada orang yang masih sakit hati terhadap kita, atau kita yang sakit hati terhadap orang lain, itu adalah prioritas yang harus segera diselesaikan sebelum kita beribadah.
Bahkan, Yesus berkata, “Tinggalkan persembahanmu di depan mezbah.”
Ini menunjukkan kepentingan yang tinggi.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Lakukan “Pemeriksaan Hati” Sebelum Ibadah.
Setiap kali kamu hendak beribadah (baik di gereja maupun doa pribadi), luangkan waktu sejenak untuk bertanya: “Apakah ada seseorang yang masih sakit hati kepadaku? Atau adakah orang yang masih tidak aku ampuni?”
Jika ya, ambil keputusan untuk segera menyelesaikannya.
Ini bisa berarti menelepon, meminta maaf, atau mendoakan orang tersebut.
Kedua, Inisiatif untuk Berdamai, Bukan Menunggu.
Jika kamu sadar ada saudara yang “memiliki sesuatu terhadap engkau,” jangan menunggu dia yang datang lebih dulu.
Yesus menyuruh kamu yang pergi berdamai.
Ambil langkah pertama, meskipun itu tidak mudah.
Dengan mengambil inisiatif, kamu sedang meneladani Kristus yang lebih dulu mencari dan mendamaikan kita dengan Allah.
Damai sejahtera yang dihasilkan akan membuat ibadahmu menjadi lebih bermakna dan menyenangkan hati Tuhan.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya supaya dapat menyembah dengan tulus setiap hari.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dipertanyakan oleh para pemimpin agama Yahudi kepada Yesus?
Mengapa Yesus menyatakan bahwa orang-orang Farisi adalah orang-orang munafik?
Apa sebenarnya inti ajaran orang-orang Farisi?
Apa yang diabaikan oleh orang-orang Farisi, dan apa yang mereka ajarkan?
Saudara, melalui percakapan antara orang-orang Farisi dengan Yesus Kristus, kita dapat memahami inti pembicaraan mereka.
Orang-orang Farisi bertanya, “Mengapa murid-murid-Yesus makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu?”
Hal itu mereka lakukan karena mencuci tangan sebelum makan merupakan adat kebiasaan yang diajarkan oleh nenek moyang mereka secara turun-temurun.
Yesus menjawab bahwa nabi Yesaya telah menubuatkan hal itu dengan berkata, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan hanyalah perintah manusia.
Perintah Allah kamu abaikan demi berpegang pada adat istiadat manusia.”
Saudara, bagi orang-orang Yahudi hal ini sangat jelas, karena ada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bertugas menjaga serta mengajarkan tradisi-tradisi tersebut di tengah masyarakat.
Apakah keadaan seperti ini juga dapat terjadi di tengah kehidupan kekristenan pada masa sekarang?
Secara tertulis sebenarnya tidak ada, tetapi dalam praktiknya keadaan seperti ini sering kita alami.
Misalnya, ketika kita menyanyikan pujian dan penyembahan dalam ibadah.
Sering kali kita memang bernyanyi dan memuji Tuhan, tetapi kita melakukannya hanya sebagai kebiasaan.
Karena itu, diperlukan seorang worship leader (WL) yang memimpin jalannya pujian agar seluruh jemaat dapat beribadah dengan tertib dan penuh kekhusyukan.
Namun, tidak jarang instruksi yang diberikan oleh WL tidak diikuti oleh jemaat.
Misalnya, ketika WL berkata, “Mari kita bersorak!” sering kali tidak ada yang benar-benar bersorak.
Jemaat justru hanya bertepuk tangan dengan lebih keras dan lebih cepat.
Ketika WL berkata, “Mari kita menari!” sering kali tidak ada seorang pun yang menari, bahkan terkadang WL sendiri tidak melakukannya.
Hal-hal seperti inilah yang sering saya amati dalam berbagai gereja.
Memang tidak selalu demikian, tetapi keadaan seperti ini cukup sering terjadi.
Instruksi WL tidak dilakukan sebagaimana mestinya.
Ketika diajak bersorak, hanya satu atau dua orang yang melakukannya, sedangkan yang lainnya tetap hanya bertepuk tangan.
Apakah keadaan seperti ini dapat disamakan dengan memuliakan Tuhan hanya dengan bibir, tetapi tidak dilakukan dengan sepenuh hati?
Seharusnya kita memuji dan menyembah Tuhan dengan segenap hati dan pikiran kita.
Ketika WL mengajak, “Mari kita angkat tangan kita,” sering kali masih terdengar suara tepuk tangan.
Hal itu menunjukkan bahwa masih ada jemaat yang tidak mengangkat tangan.
Bukankah keadaan seperti inilah yang sering kita jumpai dalam ibadah di gereja? Marilah kita mengamati dan merenungkannya.
Allah menginginkan agar ibadah kita benar-benar lahir dari jiwa dan roh, sehingga tubuh kita dapat mengikutinya dengan baik.
Dengan demikian, ketika firman Tuhan disampaikan, roh kita sudah siap dan terbuka untuk menerima benih firman.
Marilah kita beribadah bukan hanya dengan bibir, tetapi dengan segenap hati, jiwa, pikiran dan seluruh keberadaan kita.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apa yang menyebabkan kita sering mengabaikan instruksi dari WL ketika memuji dan menyembah Tuhan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa seseorang disebut sebagai orang munafik?
Bagaimana mungkin seseorang memuliakan Tuhan dengan mulutnya, tetapi hatinya jauh dari Tuhan?
Apa yang dimaksud dengan ajaran yang hanya merupakan perintah manusia?
Mengapa Yesaya menubuatkan, “Percuma mereka beribadah kepada-Ku”?
Saudara, pernyataan dalam bagian firman ini merupakan teguran Allah kepada bangsa Israel, khususnya kepada para pemimpin agama Yahudi yaitu kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat.
Yesus mengutip:
Yesaya 29:13“Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan”
Yesus menyebut mereka munafik (hypocrites), yaitu seperti seorang aktor atau pemain sandiwara.
Pada saat Yesus hadir sebagai Mesias yang telah dijanjikan, para pemimpin agama Yahudi tidak mengenal Dia.
Bahkan, mereka sangat membenci-Nya karena pengaruh Yesus jauh lebih besar, sehingga banyak orang memuji dan mengikuti Yesus, sementara mereka sendiri semakin kurang dihormati oleh masyarakat.
Yesus melihat bahwa para pemimpin agama itu mengetahui dari apa yang mereka pelajari dan baca dalam Hukum Taurat Musa bahwa Mesias akan datang.
Namun, mereka tidak memahami bahwa Yesus adalah Mesias yang hadir pada zaman mereka.
Hal itu disebabkan karena menurut pemahaman mereka masih ada beberapa tanda yang dianggap tidak terpenuhi.
Misalnya, Yesus berasal dari Nazaret di Galilea, sedangkan menurut anggapan mereka Mesias sebagai keturunan Daud seharusnya berasal dari Yudea, bukan dari Galilea.
Karena Yesus berasal dari Nazaret di Galilea, bukan dari Yudea, tanda-tanda dan mujizat yang dilakukan-Nya tidak memberikan kesan yang berarti bagi mereka.
Meskipun demikian, ada juga seorang pemimpin agama Yahudi yang tergerak oleh mujizat-mujizat Yesus, yaitu Nikodemus.
Ia datang menemui Yesus pada malam hari dan berdialog dengan Yesus.
Yohanes 3:1-2“Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”
Oleh karena itu, sebenarnya para pemimpin agama itu juga menyadari bahwa Yesus bukanlah sembarang guru.
Tanda-tanda dan mujizat yang dilakukan Yesus merupakan bukti bahwa Dialah Mesias yang telah dijanjikan.
Namun, karena iri hati dan kebencian, mereka menolak mengakui kebenaran tersebut.
Bahkan, mereka mengatakan bahwa Yesus melakukan mujizat dengan pertolongan Beelzebul.
Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa mereka hanya memuliakan Allah dengan bibir mereka, tetapi hati mereka jauh dari Allah.
Yesus juga mengingatkan kembali nubuat Yesaya dan para nabi mengenai kedegilan bangsa Yahudi, yang dimulai dari para pemimpin agama mereka.
Para pemimpin agama itu adalah orang-orang yang aktif melayani di Bait Allah.
Seharusnya mereka menyadari bahwa kasih, kebaikan, dan kebenaran yang dinyatakan Yesus melalui setiap tindakan-Nya, seperti memulihkan orang lumpuh, memberi penglihatan kepada orang buta, menyembuhkan orang sakit kusta, dan berbagai mujizat lainnya, merupakan tanda yang nyata bahwa Yesus adalah Utusan Allah.
Saudara, marilah kita menyembah Allah dengan hati yang dipenuhi damai sejahtera yang telah dianugerahkan kepada kita.
Biarlah pujian dan penyembahan yang kita naikkan lahir dari hati yang tulus sebagai ungkapan syukur, bukan sekadar ucapan bibir.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apakah yang sepatutnya menimbulkan ucapan syukur dan penyembahan dalam kehidupan kita sehari-hari?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Bagaimana cara kita dapat bersatu dengan Tuhan Yesus?
Percabulan merupakan dosa yang dilakukan terhadap siapa?
Tubuh orang percaya adalah apa?
Sebenarnya, kita adalah milik siapa?
Saudara, ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, Bapa memeteraikan kita dengan Roh-Nya.
Mengenai hal ini, rasul Paulus menuliskan:
Efesus 1:13-14“Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”
Efesus 3:17“sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih”
Saudara, rasul Paulus memberikan nasihat kepada anak-anak Tuhan yang baru diselamatkan oleh iman dan keyakinan kepada firman Tuhan.
Nasihat itu dinyatakan:
Kolose 2:6-7“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”
Rasul Paulus menasihatkan agar setiap orang yang baru percaya tetap tinggal di dalam Kristus.
Kristus ada di dalam kita dan kita ada di dalam Kristus.
Yesus telah berpesan agar kita tetap tinggal di dalam Dia, supaya kita dapat bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah.
Di luar Yesus kita tidak dapat berbuat apa pun dan tidak akan memperoleh hasil yang sejati.
Tuhan menghendaki agar kita senantiasa hidup dalam hubungan yang intim dengan Roh Kudus yang berdiam di dalam kita.
Mengenai hal ini, rasul Paulus juga menuliskan:
Galatia 5:25-26“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.”
Roh Kudus akan memimpin kita hidup dalam kekudusan dan kesucian.
Roh Kudus juga akan menuntun hidup kita kepada keberhasilan serta membawa kita terus bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Yesus.
Dengan hidup di bawah pimpinan Roh Kudus, kita akan bertumbuh dengan baik.
Yesus sendiri berkata bahwa di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa pun.
Yohanes 15:5 “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Oleh karena itu, jika kita adalah Bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kita, maka hendaklah kita senantiasa membiarkan Roh Kudus mengarahkan dan memimpin setiap langkah hidup kita untuk melakukan segala sesuatu yang telah difirmankan oleh Yesus Kristus.
Dengan demikian, hidup kita akan bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang berlimpah.
Haleluya. Puji Tuhan. Amin.
Apakah yang menyebabkan kita sering terdistraksi sehingga hidup kita tidak menghasilkan buah?