Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Seperti apakah doa seorang munafik?
Mengapa kita berdoa di tempat yang tersembunyi?
Seperti apakah doa yang disebut bertele-tele?
Mengapa tidak boleh berdoa dengan bertele-tele?
Saudara, dalam berdoa kepada Bapa di sorga, Yesus mengajarkan supaya kita berdoa di tempat yang tersembunyi.
Artinya, kita berdoa bukan untuk diketahui oleh orang banyak.
Marilah kita berdoa kepada Bapa di sorga di tempat yang tersembunyi, yaitu tempat di mana tidak dilihat dan diketahui oleh orang lain.
Biarlah Tuhan saja yang mengetahui bahwa kita sedang berdoa.
Sementara itu, orang-orang munafik justru memviralkan bahwa mereka sedang berdoa.
Apa maksudnya? Supaya Tuhan tahu? Atau supaya pemimpin tahu bahwa kita ikut berdoa?
Saudara, sejak masa muda kita telah belajar berdoa.
Kita berdoa dalam berbagai persekutuan doa.
Ada yang disebut doa pekerja, doa semalaman, doa wilayah, dan lain-lain.
Sebenarnya, semua kelompok doa ini dilakukan untuk melatih banyak orang agar rajin berdoa, sehingga timbul kehidupan doa dalam kehidupan masing-masing.
Siapa pun kita, diharapkan memiliki kehidupan doa yang baik, teratur, dan disiplin, dengan tujuan utama membangun hubungan dengan Tuhan.
Dalam hal ini, sangat perlu bagi kita untuk mendorong diri masing-masing agar membiasakan dan mendisiplinkan hidup untuk berdoa kepada Allah Bapa kita.
Dalam hal berdoa, hal ini sangat baik dan berguna untuk membangun kehidupan kita agar memiliki hubungan yang intim dengan Bapa, melalui petunjuk Firman Tuhan dan pimpinan Roh Kudus.
Melalui doa-doa kita, kita juga dapat mengerti kesulitan pemimpin yang memimpin kita di gereja.
Oleh karena itu, marilah kita mendoakan pemimpin kita, para penatua, para gembala, dan pembimbing PA kita.
Rasul Paulus pernah berpesan:
Efesus 6:18-19 “dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil”
2 Tesalonika 3:1 “Selanjutnya, saudara-saudara, berdoalah untuk kami, supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan, sama seperti yang telah terjadi di antara kamu”
Saudara, dari ayat-ayat Firman Tuhan ini, kita dapat belajar bagaimana berdoa dan mendoakan para pemimpin kita serta saudara-saudara kita yang membutuhkan pertolongan untuk didoakan.
Namun, jika ada saudara kita yang membutuhkan pertolongan, marilah kita bertanya terlebih dahulu, pertolongan seperti apa yang sebenarnya dia butuhkan?
Oleh karena itu, ketika kita berdoa dengan roh Kudus, Tuhan mengetahui apa yang Roh maksudkan.
Karena itu, marilah kita melakukannya sesering mungkin melakukannya.
Marilah kita berdoa supaya pertumbuhan rohani kita semakin baik dan sehat sehingga kehidupan rohani kita terus bertumbuh dengan baik dan semakin sehat.
Ada satu hal yang penting dalam berdoa yang diajarkan oleh Yesus Kristus:
Matius 5:23-24 “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”
Dalam hal ini, marilah kita belajar untuk membuka hati dan pikiran kita.
Ternyata, Tuhan Yesus melarang kita berdoa ketika kita sedang bertikai dengan saudara kita.
Tuhan Yesus menyatakan agar kita menghentikan doa kita terlebih dahulu dan berdamai dengan saudara kita yang sedang mengalami persoalan dengan kita.
Saudara, jika berdoa saja disuruh berhenti, bolehkah kita tetap melayani di mimbar sebagai WL, singer, berkhotbah, atau melakukan pelayanan lainnya?
Hal ini sangat perlu kita pikirkan, sejalan dengan keinginan para pemimpin dan penatua kita yang menginginkan pertumbuhan jemaat GKKD BP menjadi 500% dalam empat tahun ini.
Kalau kita tidak hidup rukun, kita tidak dapat berdoa dengan benar karena Yesus mengatakan dengan jelas, “Hentikan doa itu.”
Nah, bagaimana kita dapat mencapai pertumbuhan yang spektakuler ini jika kita sendiri tidak dapat berdoa karena masih memiliki persoalan dengan saudara kita?
Marilah kita berdoa kepada Bapa di tempat yang tersembunyi, di kamar, atau di tempat lain yang memungkinkan kita berdoa tanpa terekspos supaya kesehatan rohani, jiwa, bahkan kesehatan tubuh kita menjadi semakin sehat dan baik.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak anak-anak Tuhan sering jatuh bangun dalam berbagai masalah, kesulitan, sakit penyakit, masalah keuangan, dan persoalan lainnya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Ketika kita mendengar suatu nubuatan, apa yang sepatutnya kita lakukan?
Apa yang seharusnya kita jauhi?
Apa yang akan dilakukan oleh Tuhan Allah bagi anak-anak-Nya ketika Yesus Kristus datang?
Siapa yang akan menggenapi tujuan-Nya dalam pemilihan dan panggilan kita?
Saudara, Rasul Paulus pernah menuliskan betapa mulianya Tuhan kita yang telah menyatakan kasih-Nya ketika memilih kita.
Yesus juga berkata:
Yohanes 15:16 “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”
Ayat Firman Tuhan ini dengan jelas menyatakan bahwa Tuhan Yesuslah yang memilih kita.
Rasul Paulus juga menyatakan bahwa:
Efesus 1:3-4 “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.”
Dari kedua ayat Firman Tuhan ini, kita dapat belajar bahwa Tuhanlah yang memilih dan Yesuslah yang menyatakan hal itu.
Tuhan memilih kita bukan karena kita layak atau memiliki kelebihan tertentu.
Namun, ketika kita merenungkannya, kita dapat menyadari bahwa Tuhan memilih kita semata-mata karena kasih karunia-Nya.
Saudara, Rasul Paulus juga menuliskannya:
1 Tesalonika 5:23-24 “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.”
Oleh karena itu, Saudara, marilah kita menyadari bahwa Tuhan Yesus dengan penuh kasih menghendaki agar kita hidup dalam rencana-Nya.
Itulah sebabnya Dia memilih kita, bukan karena kelebihan atau kebaikan kita, melainkan karena kasih dan kebaikan hati-Nya.
Ketika Dia memilih kita, maka Dia sudah merencanakan bagaimana caranya agar kita dapat mencapai apa yang Dia kehendaki dan melakukan kehendak-Nya.
Tuhan memilih dan menghendaki agar melalui hidup kita, Dia dapat melaksanakan rencana-Nya.
Di dalam kasih karunia-Nya, Dia telah melakukan karya-Nya yang sempurna melalui penyaliban, kematian, kebangkitan, kenaikan-Nya ke sorga dan duduk di sebelah kanan Bapa-Nya.
Yesus mengutus Roh Kudus-Nya kepada semua orang yang dipilih-Nya yaitu orang yang percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat dan Tuhan.
Melalui kehidupan orang-orang percaya ini, Yesus berkehendak menyelesaikan seluruh rencana-Nya dan melakukan seluruh kehendak-Nya melalui orang-orang pilihan-Nya.
Sementara orang-orang pilihan ini hidup dalam kehendak Dia, Yesus Tuhan dan Juru Selamat, Roh Kudus yang diberikan-Nya tinggal di dalam hati mereka.
Roh Kudus memimpin mereka untuk semakin mengenal Bapa, Yesus Kristus.
Roh Kudus juga menuntun orang-orang percaya ini untuk semakin setia dan semakin mencintai Firman Tuhan, sehingga mereka semakin rela melakukan rencana dan kehendak Allah.
Melalui proses mendengarkan arahan Roh Kudus dan semakin bersemangat melakukan perintah Tuhan, maka mereka semakin menjadi serupa dengan Yesus, Tuhan dan Juru Selamat mereka.
Dalam proses inilah mereka akan semakin rela dan taat kepada Tuhan.
Yesus memulai dengan memilih mereka dan melanjutkan seluruh rencana-Nya kepada mereka.
Dengan demikian, Tuhan Yesus juga yang akan menyelesaikan dengan sempurna rencana-Nya ketika Dia datang kembali.
Tuhanlah yang memilih mereka, dan Tuhanlah juga yang memimpin mereka.
Tuhan menguduskan hidup mereka sehingga mereka dapat mencapai apa yang Yesus kehendaki melalui kehidupan mereka sebagai orang percaya.
Bapa telah memilih mereka di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan, supaya hidup mereka di dalam Yesus Kristus menjadi kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya.
Semua itu berlangsung melalui bimbingan Roh Kudus yang Allah Bapa karuniakan kepada mereka ketika mereka mau percaya dan menyerahkan hidup untuk dipimpin oleh Roh Kudus.
Roh Kudus dianugerahkan untuk mengajar, menolong, menghibur, dan memimpin mereka.
Haleluya, puji Tuhan, Amin.
Mengapa ada banyak orang percaya yang tidak mencapai apa yang telah direncanakan Tuhan bagi mereka, yaitu hidup kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Berapa lama perempuan dalam perikop yang kita baca hari ini mengalami perdarahan?
Apa saja yang telah diusahakannya demi menyembuhkan penyakitnya?
Apa yang dia putuskan untuk dilakukan ketika mendengar kabar tentang Yesus?
Apakah penyakitnya sembuh?
Markus 5:25–29 membawa kita kepada seorang perempuan yang selama dua belas tahun mengalami pendarahan.
Menurut Imamat 15:25–27, pendarahan berkepanjangan membuat seorang perempuan berada dalam keadaan najis secara ritual.
Kondisi tersebut membatasi partisipasinya dalam kehidupan ritual dan membuat apa yang disentuhnya menjadi najis menurut ketentuan Taurat.
Dua belas tahun bukan waktu yang singkat; Markus bahkan mengatakan bahwa ia telah berulang kali ditangani banyak tabib, menghabiskan seluruh miliknya, tetapi keadaannya justru semakin buruk.
Di tengah keputusasaan itu ia “mendengar berita-berita tentang Yesus” dan berkata, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”
Menurut logika kenajisan ritual yang dianut orang Yahudi, sentuhannya seharusnya membuat orang lain najis; tetapi ketika ia menjamah Yesus, arah pengaruh itu seolah dibalik: bukan kenajisan perempuan itu yang menguasai Yesus, melainkan kuasa Kristus yang membawa pemulihan kepadanya.
Ia datang tanpa status, tanpa kekayaan, bahkan tanpa keberanian untuk berbicara langsung kepada Yesus.
Yang dimilikinya hanyalah keyakinan sederhana: jika aku dapat datang kepada-Nya, masih ada pengharapan.
Dunia modern memiliki rumah sakit yang lebih maju, obat-obatan yang lebih efektif, dan teknologi diagnostik yang tidak pernah dibayangkan masyarakat abad pertama.
Ada orang yang bertahun-tahun menjalani pengobatan; ada yang kehabisan sumber daya; ada pula yang tampak sehat tetapi menyimpan luka, kecemasan, kesepian, atau pergumulan keluarga yang panjang.
Namun kisah ini tidak mengajarkan bahwa pengobatan harus ditinggalkan dan diganti dengan iman.
Alkitab justru memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: ketika kemampuan manusia mencapai batasnya, pengharapan kepada Tuhan tidak harus ikut berakhir.
Iman perempuan itu bukan kekuatan magis yang berada pada kain jubah Yesus.
Karena itu, pertanyaan bagi kita hari ini bukan sekadar, “Apakah saya percaya bahwa Yesus dapat melakukan mukjizat?” tetapi, “Ketika pergumulan berlangsung lama, apakah saya masih mau datang kepada Yesus?” Dua belas tahun penderitaan dapat membuat seseorang berhenti berharap.
Mungkin kita pun mempunyai “dua belas tahun” kita sendiri: doa yang belum terjawab, penyakit yang belum pulih, keluarga yang belum berubah, pelayanan yang terasa tidak berbuah, atau persoalan yang berulang kali membuat kita kecewa.
Perempuan itu mengajarkan bahwa iman tidak selalu tampil dalam tindakan spektakuler; terkadang iman hanyalah keberanian untuk mengambil satu langkah lagi menuju Kristus ketika semua alasan mengatakan untuk menyerah.
Datanglah kepada-Nya secara pribadi.
Sebab iman bukan sekadar mengetahui bahwa Yesus berkuasa; iman adalah keberanian untuk mendekat kepada-Nya dan mempercayakan hidup kita kepada kuasa, kasih, dan kehendak-Nya.
Renungkan dan diskusikan untuk menjawab pertanyaan ini : “Ketika pergumulan berlangsung lama, dan sudah banyak hal yang saudara lakukan demi kesembuhan, apakah saya masih mau datang kepada Yesus?”
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapa yang datang kepada Yesus? Apa yang dimohonkan kepadaNya?
Apa jawab Yesus?
Apa yang diminta perwira itu mengenai bagaimana Yesus menyembuhkan?
Mengapa perwira itu yakin Yesus bisa melakukan apa yang diminta nya?
Kisah dalam perikop ini mempertemukan dua orang yang secara sosial dan religius berada pada dunia yang berbeda: Yesus, seorang Yahudi, dan seorang perwira Romawi di Kapernaum.
Seorang “perwira” atau centurion—adalah figur yang memiliki otoritas dalam struktur militer Romawi, secara konseptual memimpin sekitar seratus prajurit.
Namun orang yang terbiasa memberi perintah ini datang kepada Yesus karena hambanya sedang menderita hebat.
Yang mengejutkan adalah responnya ketika Yesus menyatakan kesediaan untuk menolong: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (ay. 8).
Ia memahami kuasa Yesus melalui dunia yang dikenalnya: otoritas.
Sebagaimana perintah seorang perwira dilaksanakan karena ada otoritas di belakang perkataannya, demikian ia percaya bahwa penyakit pun berada di bawah otoritas Kristus.
Yang luar biasa, keyakinan seperti ini justru muncul dari seorang non-Yahudi.
Manusia modern hidup dalam zaman yang memiliki kemampuan medis dan teknologi yang tidak pernah dimiliki sang perwira itu, tetapi kita tetap berhadapan dengan banyak keadaan yang berada di luar kendali.
Penyakit, kehilangan, konflik keluarga, tekanan ekonomi, dan ketidakpastian masa depan dapat membuat seseorang menyadari betapa terbatasnya kuasanya.
WHO melaporkan bahwa pada 2021 sekitar 1,1 miliar orang—hampir satu dari tujuh penduduk dunia—hidup dengan gangguan mental, termasuk sekitar 359 juta orang dengan gangguan kecemasan.
Data WHO yang diperbarui pada September 2026 juga memperkirakan sekitar 322 juta orang mengalami depresi pada 2023.
Angka-angka ini bukan berarti semua persoalan tersebut dapat disederhanakan menjadi masalah kurang iman; Iman bukan kepastian bahwa Tuhan akan melakukan segala sesuatu persis seperti yang kita inginkan; iman adalah keyakinan bahwa otoritas Tuhan tetap lebih besar daripada keadaan yang kita hadapi.
Kita membutuhkan teknologi dan pengobatan, tetapi kita juga membutuhkan hati yang mengetahui kepada siapa pengharapan terakhir kita diletakkan.
Hari ini, mungkin ada “hamba yang sakit” dalam kehidupan kita—sesuatu yang sangat kita kasihi tetapi tidak sanggup kita pulihkan dengan kekuatan sendiri.
Bisa berupa kesehatan, keluarga, pekerjaan, pelayanan, hubungan yang retak, atau masa depan yang tidak pasti.
Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah Tuhan sanggup menolong saya?”, tetapi lebih dalam: “Apakah saya tetap mempercayai firman-Nya ketika keadaan belum berubah?”.
Dalam kehidupan modern, kita dapat menerapkannya dengan membawa persoalan kepada Tuhan dalam doa, mencari pertolongan medis atau profesional ketika diperlukan, melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita, lalu menyerahkan hal yang tidak mampu kita kendalikan kepada-Nya.
Jangan biarkan berita buruk menjadi suara terakhir dalam hati kita.
Jangan biarkan diagnosis, kegagalan, ketakutan, atau keadaan lebih menentukan pengharapan kita daripada firman Tuhan.
Kita memang tidak dapat memerintahkan Tuhan melakukan kehendak kita, tetapi kita dapat mempercayai karakter dan kuasa-Nya.
Iman yang besar bukan berkata, “Tuhan harus melakukan apa yang saya minta,” melainkan, “Tuhan, aku percaya kepada-Mu bahkan ketika aku belum melihat jawabannya.”
Satu firman-Nya cukup—karena yang menentukan bukan panjangnya perkataan, melainkan siapa yang mengucapkannya.
Renungkan dan diskusikan dalam kelompok PA dan persekutuan, ketika menghadapi sakit dan penderitaan, apakah saudara yakin firmanNya yang disampaikan pasti memberikan kesembuhan dan pemulihan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang harus dilakukan ketika kita sedang menderita?
Apa yang harus dilakukan ketika kita sedang sakit?
Mengapa kita perlu saling mengaku dosa dan saling mendoakan?
Apa yang diajarkan Yakobus tentang kuasa doa orang benar?
Surat Yakobus ditulis oleh Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada orang-orang percaya yang tersebar dan sedang menghadapi berbagai pencobaan, penderitaan, konflik, serta pergumulan dalam kehidupan iman.
Karena itu, Yakobus menekankan bahwa iman harus nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika jemaat menghadapi penderitaan, sukacita, maupun sakit.
Nasihat dalam Yakobus 5:13–16 merupakan kelanjutan dari seruan untuk bertekun dalam penderitaan dan menantikan belas kasihan Tuhan (Yak. 5:7–11).
Dalam keadaan apapun, jemaat dipanggil untuk membawa pergumulan kepada Allah melalui doa dan hidup yang bergantung kepadaNya, bukan mengandalkan kekuatan sendiri.
Yakobus menegaskan bahwa orang yang menderita harus berdoa, yang bergembira menyanyikan puji-pujian, dan yang sakit memanggil para penatua jemaat untuk mendoakannya serta mengolesinya dengan minyak dalam nama Tuhan (ay. 13–14).
Doa yang lahir dari iman tidak berarti manusia dapat memaksa Allah memberikan kesembuhan sesuai keinginannya, sebab kuasa doa tidak terletak pada teknik dan intensitas doa, atau kekuatan iman manusia, melainkan pada Allah yang berdaulat dan berkenan bertindak melalui doa umatNya.
Tuhanlah yang menyelamatkan dan membangunkan orang sakit itu (ay.15).
Pengakuan dosa dalam ayat 16 menunjukkan bahwa kehidupan doa tidak terlepas dengan pertobatan dan pemulihan relasi di dalam jemaat.
Untuk menjelaskan kuasa doa, Yakobus menggunakan kisah Nabi Elia sebagai contoh dari 1 Raja-raja 17–18, ketika Elia berdoa dan Tuhan menghentikan serta kemudian menurunkan hujan.
“Doa orang benar” menunjuk kepada orang yang dibenarkan oleh iman dan hidup dalam pertobatan, bukan orang yang tanpa dosa.
Dengan demikian, Yakobus mengarahkan jemaat untuk melihat doa sebagai sarana yang Allah pakai untuk menyatakan kehendak dan kuasaNya dalam kehidupan umatNya.
“Doa, pengakuan dan jalan menuju kesembuhan” mengingatkan kita untuk membawa sakit dan setiap pergumulan kepada Tuhan, melibatkan persekutuan jemaat, serta dengan rendah hati mengakui dosa dan bertobat dari kehidupan yang tidak berkenan kepadaNya.
Kita tetap boleh memohon kesembuhan jasmani dengan sungguh-sungguh, tetapi iman bukanlah tuntutan agar Allah harus memenuhi keinginan kita.
Iman berarti percaya bahwa Allah berkuasa menyembuhkan dan kehendakNya selalu baik, sekalipun jawabanNya berbeda dari yang kita harapkan.
Karena itu, jemaat dipanggil untuk saling mendoakan, hidup dalam kekudusan, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada kedaulatan Tuhan.
Kesembuhan yang kita harapkan bukan hanya berhenti pada pemulihan tubuh saja, tetapi juga hati yang semakin tunduk kepada Allah dan kehidupan yang semakin bergantung kepadaNya.
Ketika menghadapi sakit dan penderitaan, apakah iman kita tetap percaya pada kuasa Tuhan, tunduk pada kedaulatanNya, dan menyerahkan hasilnya kepada kehendakNya? Diskusikan bersama dalam kelompok PA atau persekutuan kita.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa bangsa Israel bersungut-sungut kepada Musa?
Apa yang dilakukan Musa ketika bangsa Israel bersungut-sungut?
Bagaimana seharusnya bangsa Israel merespons Tuhan setelah mengalami pertolonganNya?
Kitab Keluaran ditulis oleh Musa untuk bangsa Israel sebagai umat perjanjian Allah yang sedang dibentuk untuk hidup sebagai umat milikNya setelah dibebaskan dari perbudakan di Mesir.
Setelah mengalami pembebasan melalui Laut Teberau, Israel melanjutkan perjalanan di padang gurun dan berjalan tiga hari tanpa menemukan air.
Ketika tiba di Mara, mereka mendapati air yang tidak dapat diminum, sehingga keadaan tersebut menjadi ujian bagi iman mereka.
Setelah menyaksikan kuasa Allah dalam pembebasan dari Mesir, mereka kembali diperhadapkan pada kebutuhan yang nyata.
Melalui peristiwa ini, Allah mengajar Israel untuk tidak bergantung pada keadaan, tetapi belajar mempercayai Tuhan yang memelihara dan mencukupkan kebutuhan umatNya.
Ketika Israel bersungut-sungut, Musa berseru kepada Tuhan, lalu Tuhan menunjukkan sepotong kayu yang dilemparkan ke dalam air sehingga air itu menjadi manis.
Kemudian Tuhan berfirman, “Akulah TUHAN yang menyembuhkan engkau.”
Pernyataan ini bukan sekadar menunjuk pada kesembuhan jasmani, tetapi menyatakan Tuhan sebagai sumber pemulihan dan kehidupan umatNya.
Allah sedang menguji ketaatan bangsa Israel agar mereka mau mendengar suaraNya dan hidup menurut ketetapanNya.
Setelah meninggalkan Mara, bangsa Israel tiba di Elim, tempat terdapat dua belas mata air dan tujuh puluh pohon kurma (Kel. 15:27), tetapi perjalanan mereka tidak berhenti di sana karena setelah itu mereka kembali menghadapi ujian di Padang Gurun Sin (Kel. 16:1).
Karena itu, pesan utama dari peristiwa “Mara” bukan bahwa setiap kepahitan pasti segera berakhir dengan kenyamanan, melainkan bahwa Tuhan tetap berdaulat, menyertai, dan memelihara umatNya dalam setiap tahap perjalanan.
Jemaat Tuhan perlu memahami bahwa “Tuhanlah Yang Menyembuhkan Engkau” bukan berarti setiap masalah, penyakit, atau penderitaan pasti langsung dihilangkan sesuai keinginan kita.
Allah berkuasa memberikan kesembuhan jasmani, tetapi Ia juga dapat memakai kelemahan dan penderitaan untuk membentuk iman serta ketaatan kita.
Seperti Israel di Mara, kita dapat mudah bersungut-sungut ketika menghadapi keadaan yang pahit, Tuhan bisa saja mengijinkan semua terjadi untuk mengajar kita untuk semakin bergantung kepadaNya.
Karena itu, ketika berada dalam “Mara” kehidupan, kita dipanggil untuk tetap percaya, menaati firmanNya, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada kehendakNya.
Tuhan bukan hanya sanggup mengubah keadaan kita, tetapi juga mengubah hati yang takut, lemah, dan bersungut-sungut menjadi hati yang percaya dan taat kepadaNya.
Amin
Ketika Tuhan tidak mengubah keadaan seperti yang kita harapkan, apakah kita tetap mau percaya dan taat kepadaNya? Diskusikan bersama dalam kelompok PA atau persekutuan kita.