Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah 2 Tesalonika 3:10!
Apakah peringatan yang diberikan kepada orang-orang yang malas bekerja di dalam jemaat di Tesalonika?
Orang-orang yang bagaimanakah yang tidak tertib hidupnya di tengah jemaat di Tesalonika?
Apakah nasehat rasul Paulus bagi orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja?
Tuhan mengajarkan kita agar setiap umat Tuhan haruslah bekerja, apakah mereka seorang fulltimer atau bekerja dalam dunia sekuler, mereka harus menunjukkan sebagai pribadi-pribadi yang bertanggungjawab dalam pekerjaan mereka dan hal itu dilakukan dengan bertanggungjawab kepada Tuhan.
“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”(Kolose 3:17,23).
Karena pekerjaan yang kita lakukan adalah untuk Tuhan maka hal tersebut dilakukan dengan rajin dan tidak malas sehingga kita menjadi orang yang berhasil.
”Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga.”(Amsal 12:27).
”Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.”(Amsal 21:5).
Dan Tuhan tidak menyukai orang yang malas dan orang yang malas dapat disamakan seperti orang yang tidak fokus pada pekerjaannya dan suka mencampuri urusan orang lain, maka mereka menjadi orang yang suka bergosip karena tidak fokus untuk bekerja.
”Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?”(Matius 25:26).
”Lagipula dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas.”(1 Timotius 5:13).
Tuhan ingin agar umat-Nya bekerja dengan rajin dan tidak malas baik dalam pekerjaan sekuler, dalam pekerjaan fulltimer juga dalam sekolah, kuliah, sebagai usahawan dan profesional, sehingga Tuhan katakan kalau tidak bekerja maka tidak boleh makan dan pada akhirnya setiap umat Tuhan bertanggungjawab terhadap kehidupan mereka sehari-hari dan dapat menghidupi rumah tangga mereka dan tidak terjerat hutang.
Bahkan Tuhan ingin agar kita dapat memberikan kepada yang kekurangan, juga untuk pelayanan gereja serta pekerjaan misi.
”Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.” (2 Korintus 8:14).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara membangun kehidupan dengan bekerja dengan rajin dan tidak malas untuk kebutuhan hidup sehari-hari!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dimaksud dengan “bekerja seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia” dalam kehidupan sehari-hari?
Apa perbedaan antara bekerja hanya untuk mencari uang dan bekerja untuk Tuhan?
Upah seperti apa yang dijanjikan Tuhan bagi orang yang bekerja dengan segenap hati untuk-Nya?
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23).
Kita menghabiskan sebagian besar hidup kita untuk bekerja.
Banyak orang bekerja karena terpaksa, hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Ada yang merasa pekerjaannya tidak dihargai, atasan tidak adil, atau gaji tidak sebanding.
Akibatnya, pekerjaan terasa membosankan, melelahkan, dan tanpa makna.
Paulus menulis kepada jemaat di Kolose yang banyak di antaranya adalah budak—orang yang bekerja tanpa hak dan tanpa upah yang layak.
Mereka mungkin bertanya, “Apa gunanya bekerja keras jika hanya untuk orang lain?”
Tetapi Paulus memberikan jawaban yang mengubah segalanya: “Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Ini berarti, pekerjaan kita bukan hanya tentang uang; itu adalah kesempatan untuk melayani Tuhan.
Kita harus bekerja dengan motivasi untuk menyenangkan Tuhan, bukan hanya untuk menyenangkan manusia.
Paulus berkata, “Jangan hanya di hadapan mereka seperti orang yang mencari muka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.”
Artinya, kita tidak boleh bekerja hanya rajin saat diawasi, dan malas saat tidak ada yang melihat.
Jika kita bekerja untuk Tuhan, kita akan bekerja dengan integritas, karena kita sadar bahwa Tuhan selalu melihat.
Motivasi ini mengubah segalanya: ketika kita lelah, kita ingat bahwa kita sedang melayani Tuhan.
Ketika kita tidak dihargai, kita ingat bahwa Tuhan melihat dan akan memberi upah.
Bekerja untuk Tuhan membuat pekerjaan apa pun menjadi mulia dan bermakna.
Upah sejati berasal dari Tuhan, bukan dari manusia.
Paulus berkata, “Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.”
Ini adalah kabar baik bagi kita yang sering merasa kurang dihargai di tempat kerja.
Ketika kita bekerja dengan setia, Tuhan tidak buta.
Ia melihat setiap jerih lelah kita, setiap pengorbanan kita, setiap kebaikan yang kita lakukan di tempat kerja.
Upah Tuhan tidak selalu berupa uang; bisa berupa kedamaian hati, kepuasan batin, hubungan yang baik, atau berkat-berkat lain yang tidak terduga.
Dan yang terpenting, ada upah kekal yang disediakan bagi mereka yang setia.
Karena itu, jangan pernah merasa rugi bekerja dengan jujur dan rajin, karena Tuhan adalah hakim yang adil.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Mulailah Hari Kerja dengan Doa.
Sebelum memulai aktivitas, luangkan waktu untuk berdoa: “Tuhan, hari ini aku bekerja untuk-Mu. Tolong aku bekerja dengan segenap hati, dengan jujur, dan dengan sukacita.
Biarlah melalui pekerjaanku, nama-Mu dimuliakan.”
Dengan memulai hari dengan doa, seluruh aktivitasmu menjadi ibadah.
Kedua, Lakukan Pekerjaan dengan Standar Terbaik yang Kamu Mampu.
Bekerja untuk Tuhan berarti memberikan yang terbaik, bukan setengah-setengah.
Jika kamu seorang pelajar, belajarlah dengan sungguh-sungguh.
Jika kamu karyawan, selesaikan tugas dengan tanggung jawab.
Jika kamu ibu rumah tangga, layani keluarga dengan kasih.
Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain; lakukan yang terbaik sesuai kemampuanmu, dan serahkan hasilnya kepada Tuhan.
Dengan cara ini, pekerjaanmu menjadi persembahan yang menyenangkan hati-Nya.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana mengetahui kita sudah bekerja atau belajar seperti untuk Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa Yesus melarang kita kuatir tentang makanan, minuman, dan pakaian (ayat 25)? Apa yang salah dengan kekhawatiran?
Apa yang bisa kita pelajari dari burung-burung dan bunga bakung tentang kepercayaan kepada Allah?
Apa artinya “carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya” dalam keputusan dan aktivitas sehari-hari?
“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6:34).
Khotbah di Bukit adalah deklarasi Kerajaan Allah.
Yesus mengajar orang-orang yang mungkin sedang diliputi oleh kebutuhan hidup: makanan, minuman, dan pakaian.
Pada zaman itu, banyak orang hidup pas-pasan; satu hari tanpa bekerja bisa berarti kelaparan.
Kekhawatiran bukanlah hal asing bagi mereka.
Tetapi Yesus berkata, “Janganlah kamu kuatir.” Ia tidak meremehkan kebutuhan mereka, tetapi Ia mengubah perspektif mereka: jika Allah memelihara burung dan bunga, apalagi manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya.
Kekhawatiran bukanlah tanda bahwa kita “realistis,” tetapi tanda bahwa kita lupa siapa Allah.
Ketika kita kuatir, kita seperti anak kecil yang tidak percaya bahwa ayahnya akan memberi makan.
Kita sedang meragukan kebaikan dan kuasa Bapa di sorga.
Kekhawatiran tidak pernah menolong, tetapi justru merusak.
Yesus bertanya, “Siapa di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Jawabannya: tidak ada!
Kekhawatiran tidak menambah satu hari pun pada hidup kita, bahkan membuat kita kehilangan sukacita hari ini.
Lihatlah burung-burung: mereka tidak menabur, menuai, atau mengumpulkan, tetapi Bapa di sorga memberi mereka makan.
Bukan berarti kita tidak perlu bekerja—Alkitab jelas mengajarkan kita untuk bekerja. Tetapi kita tidak perlu kuatir.
Burung bekerja mencari makanan, tetapi mereka tidak stres. Mereka bergantung pada penyediaan Tuhan.
Demikian pula, kita dipanggil untuk bekerja dengan rajin, tetapi dengan hati yang tenang, percaya bahwa Tuhan akan menyediakan.
Kunci mengatasi kekhawatiran adalah mengutamakan Kerajaan Allah.
Yesus berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
Ini adalah janji yang luar biasa.
Ketika kita memfokuskan hidup kita pada kehendak Tuhan—melayani Dia, mengasihi sesama, dan hidup dalam kebenaran—Tuhan sendiri yang akan mengurus kebutuhan kita.
Ini bukan tentang “memberi supaya mendapat,” tetapi tentang percaya bahwa Bapa yang baik tahu apa yang kita perlukan.
Seorang anak kecil tidak perlu kuatir tentang makanan; ia percaya pada orang tuanya.
Demikian juga, kita adalah anak-anak Allah.
Kita boleh berdoa meminta kebutuhan kita (Matius 6:11), tetapi kita tidak perlu cemas.
Hari esok akan memikirkan dirinya sendiri.
Cukuplah hari ini dengan kesusahannya sendiri—artinya, kita cukup fokus pada tanggung jawab hari ini dan percayakan besok kepada Tuhan.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Serahkan Kekhawatiranmu dalam Doa Setiap Pagi.
Saat kamu bangun, sebelum pikiran tentang pekerjaan, keuangan, atau masa depan memenuhi kepalamu, berdoalah: “Tuhan, hari ini aku serahkan segala kekhawatiranku kepada-Mu.
Aku percaya bahwa Engkau tahu kebutuhanku dan Engkau akan menyediakan.
Tolong aku untuk fokus pada kehendak-Mu hari ini.”
Dengan melakukan ini, kamu sedang mengakui bahwa Tuhan adalah Penguasa atas hidupmu.
Kedua, Fokus pada Tanggung Jawab Hari Ini, Bukan pada Ketakutan Besok.
Jangan biarkan kekhawatiran tentang masa depan mencuri sukacita dan produktivitas hari ini.
Lakukan yang terbaik dalam tugasmu saat ini—bekerja, belajar, melayani, dan mengasihi.
Percayalah bahwa ketika hari esok tiba, Tuhan akan memberikan kekuatan yang cukup untuk menghadapinya.
Seperti kata Yesus, “Cukuplah hari ini dengan kesusahannya sendiri.”
Diskusikan dalam kelompok PA, apakah yang dimaksud mencari kebenarannya.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa maksudnya “sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang” dalam kehidupan sehari-hari?
Bagaimana seseorang bisa “berdukacita tetapi selalu bersukacita”? Apa rahasianya?
Apa yang bisa kamu “tabur” hari ini untuk menjadi berkat bagi orang lain, dan bagaimana kamu bisa melakukannya dengan sukacita?
“Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga”. (2 Korintus 9:6).
Paulus menggambarkan hidupnya dengan kata-kata yang berlawanan.
Di satu sisi, ia seperti “orang yang berdukacita,” tetapi di sisi lain, ia “selalu bersukacita.”
Ia seperti “orang yang miskin,” tetapi ia “memperkaya banyak orang.”
Ini bukanlah omong kosong; ini adalah realitas rohani yang hanya bisa dimengerti oleh iman.
Dunia mengukur kekayaan dari uang, dan kebahagiaan dari kenyamanan.
Tetapi Paulus telah menemukan rahasia: kekayaan sejati tidak diukur dari apa yang kita miliki, tetapi dari apa yang kita tabur untuk Tuhan dan sesama.
Ketika kita menabur dengan sukacita—memberi waktu, tenaga, kasih, dan bahkan harta kita untuk pekerjaan Tuhan—kita mungkin tidak kelihatan kaya di mata dunia, tetapi di mata Tuhan, kita sedang mengumpulkan harta yang kekal.
Memberi dan melayani harus dilakukan dengan sukacita, bukan dengan terpaksa atau dengan hati yang berat.
Paulus bisa saja mengeluh tentang penderitaannya, tetapi ia memilih untuk bersukacita.
Mengapa? Karena ia tahu bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan untuk Tuhan dan Injil akan menghasilkan buah yang kekal.
Dalam 2 Korintus 9:7, Paulus menulis, “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”
Menabur bukan hanya tentang uang, tetapi tentang seluruh hidup kita. Ketika kita memberikan senyuman kepada yang sedih, meluangkan waktu untuk mendengarkan, atau memberi pertolongan dengan tulus—itulah “menabur.”
Dan ketika kita melakukannya dengan sukacita, kita sedang menabur benih yang akan menghasilkan panen berkat.
Menuai berkat dari Tuhan sering kali tidak berbentuk uang atau harta, tetapi berupa sukacita, kedamaian, dan kepuasan batin yang tidak bisa dibeli.
Paulus mengatakan, “kami miskin, tetapi memperkaya banyak orang.”
Artinya, meskipun secara materi ia tidak kaya, ia telah menjadi saluran berkat bagi banyak orang.
Dan ia sendiri mengalami “segala sesuatu”—kekayaan rohani yang melimpah.
Orang yang menabur dengan sukacita akan menuai sukacita.
Orang yang memberi dengan murah hati akan mengalami kemurahan Tuhan.
Orang yang melayani dengan kasih akan dipenuhi dengan kasih. Inilah berkat yang sejati.
Tuhan tidak selalu menjawab ketaatan kita dengan uang melimpah, tetapi Ia selalu memberikan diri-Nya sendiri sebagai upah yang paling berharga.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Periksa Motivasi Saat Memberi atau Melayani.
Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah aku melakukan ini dengan sukacita, atau hanya karena kewajiban, takut, atau ingin dipuji?”
Jika hatimu berat, bawalah kepada Tuhan dan minta Dia memberi roh sukacita.
Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, tetapi Ia melihat hati yang tulus.
Kedua, Mulailah Menabur dari Hal Kecil Setiap Hari.
Kamu tidak perlu menunggu kaya untuk memberi.
Mulailah dengan memberi waktu untuk mendengarkan teman yang sedang susah, memberi semangat kepada rekan yang kelelahan, atau memberi perhatian kepada keluarga.
Setiap perbuatan baik yang dilakukan dengan kasih adalah benih yang akan bertumbuh.
Percayalah bahwa Tuhan yang melihat setiap “taburan”mu akan memberikan “panen” pada waktu-Nya—bisa dalam bentuk kedamaian hati, hubungan yang dipulihkan, atau berkat yang tak terduga.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana caranya menabur dengan sukacita dalam keadaan hidup sulit.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dimaksud dengan “merampok Allah” dalam Maleakhi 3:8, dan bagaimana hal itu terjadi dalam kehidupan umat Israel?
Mengapa Tuhan mengundang umat-Nya untuk “menguji” Dia dalam hal persembahan perpuluhan (ayat 10)? Apa maksud undangan ini?
Apa janji Tuhan bagi mereka yang setia mengembalikan perpuluhan dan persembahan (ayat 10-12), dan bagaimana janji itu bisa menjadi pengharapan bagi kita hari ini?
Bangsa Israel telah kembali dari pembuangan, tetapi hati mereka masih jauh dari Tuhan.
Mereka sibuk dengan urusan sendiri, membangun rumah yang indah, sementara rumah Tuhan terbengkalai.
Mereka bertanya, “Di mana Allah yang adil?” tetapi mereka sendiri tidak adil dalam memberi kepada Tuhan.
Mereka membawa persembahan yang buta dan cacat, dan mereka tidak memberikan perpuluhan dengan benar.
Melalui Maleakhi, Tuhan menegur mereka dengan pertanyaan yang menyayat hati: “Bolehkah manusia merampok Allah?”
Umat Tuhan saat itu tidak menyadari bahwa dengan menahan perpuluhan dan persembahan, mereka sedang “merampok” Allah—bukan karena Tuhan butuh uang, tetapi karena itu adalah tanda ketidaksetiaan dan kurangnya kepercayaan pada penyediaan-Nya.
Mengembalikan perpuluhan bagi orang Israel adalah tindakan iman dan pengakuan bahwa Tuhan adalah pemilik segala sesuatu.
Perpuluhan (10% dari hasil ternak dan pertanian) adalah milik Tuhan yang sudah ditetapkan sejak zaman Musa untuk bangsa Israel.
Memberikan perpuluhan bukan berarti “memberi” kepada Tuhan, tetapi mereka sedang “mengembalikan” apa yang sudah menjadi milik-Nya.
Ini adalah pengakuan bahwa segala yang mereka miliki berasal dari Tuhan.
Ketika mereka setia mengembalikan perpuluhan, mereka sedang berkata, “Tuhan, Engkaulah pemilik hidupku.
Aku percaya bahwa Engkau akan menyediakan kebutuhanku.
Tuhan berjanji memberkati orang yang setia mengembalikan milik-Nya.
Tuhan berkata, “Ujilah Aku… apakah Aku tidak akan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”
Ini adalah satu-satunya tempat dalam Alkitab di mana Tuhan mengundang kita untuk “menguji” Dia.
Ini bukan tentang “memberi untuk mendapat”—itu manipulasi.
Tetapi ini adalah janji bahwa ketika kita setia dalam hal-hal kecil (keuangan), Tuhan akan mempercayakan kita dengan lebih banyak berkat.
Berkat itu bisa berupa kesehatan, kedamaian, perlindungan, atau kelimpahan materi.
Yang penting, Tuhan berkomitmen untuk memelihara umat-Nya yang setia.
Mereka yang memberi dengan murah hati akan mengalami kebaikan Tuhan yang melimpah.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, seluruh hidup dan hartamu adalah milik Tuhan, oleh karena itu seberapa besar Tuhan ingin saudara berikan, misalnya 10 persen, 20 persen atau sekian persen, berikanlah dengan sukacita.
Kedua, Berdoalah saat Memberi. Jangan jadikan memberi sebagai rutinitas tanpa makna.
Saat kamu memberikan perpuluhan atau persembahan, ucapkan doa: “Tuhan, ini adalah milik-Mu yang aku kembalikan.
Aku percaya Engkau akan memelihara hidupku dan keluargaku.
Berkatilah aku, dan jadikan aku saluran berkat bagi orang lain.”
Dengan memberi secara sadar dan bersyukur, kamu sedang membangun hubungan yang intim dengan Allah, dan pintu berkat-Nya akan terbuka dalam hidupmu.
Diskusikan dengan pembimbingmu, kalau Seluruh hidup kita dan kekayaan kita milik Tuhan, apakah 10 persen masih relevan? Mengapa tidak 20 atau 30 Persen?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa peringatan Paulus kepada orang kaya dalam ayat 17, dan mengapa kekayaan disebut “tidak pasti”?
Apa perbedaan antara “kaya dalam harta” dan “kaya dalam kebajikan” (ayat 18)?
Apa yang dimaksud dengan “mengumpulkan harta sebagai dasar yang baik untuk masa depan” (ayat 19), dan bagaimana kita bisa melakukannya hari ini?
Kekayaan adalah berkat, tetapi juga bisa menjadi jebakan.
Paulus tahu bahwa orang kaya di Efesus menghadapi godaan besar: menjadi sombong dan menganggap uang sebagai jaminan hidup.
Dunia ini memang mengajarkan kita bahwa uang adalah segalanya—uang memberi kekuasaan, keamanan, dan status.
Tetapi Paulus mengingatkan bahwa kekayaan itu “tidak pasti.”
Lihatlah bagaimana ekonomi bisa jatuh, bisnis bisa bangkrut, dan uang bisa lenyap dalam sekejap.
Jika kita menaruh pengharapan pada uang, kita akan kecewa.
Paulus tidak melarang orang kaya, tetapi ia memperingatkan mereka: jangan biarkan kekayaan membuatmu sombong dan melupakan Allah yang adalah sumber segala.
Harapan kita harus tertuju pada Allah, bukan pada kekayaan.
Paulus berkata, “Peringatkanlah mereka agar jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.”
Ini adalah perspektif yang mengubah cara pandang kita.
Allah adalah sumber segala berkat; kekayaan hanyalah saluran.
Ia memberi kita bukan hanya kebutuhan, tetapi juga hal-hal untuk dinikmati—artinya Allah bukanlah Tuhan yang kikir.
Ia senang memberi.
Ketika kita mengandalkan Allah, kita tidak perlu khawatir tentang kehilangan harta, karena sumber kita tidak pernah habis.
Kita menjadi orang yang bebas—bebas dari ketakutan dan bebas untuk memberi.
Kekayaan sejati diukur dari perbuatan baik, bukan dari jumlah uang.
Paulus memerintahkan orang kaya untuk “berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi, dan membagi.”
Ini adalah gambaran tentang seseorang yang kaya bukan karena rekening banknya, tetapi karena hatinya yang murah hati.
Orang seperti ini tidak pelit; ia dengan senang hati membantu orang yang membutuhkan.
Dan yang menarik, Paulus menyebut ini sebagai “mengumpulkan harta” di sorga—investasi yang tidak pernah hilang, tidak pernah dicuri, dan tidak pernah rusak.
Hidup sejati bukan tentang berapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi tentang berapa banyak yang kita berikan dalam kasih.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Periksa Hati terhadap Uang.
Tanyakan pada dirimu: “Apakah aku terlalu cemas tentang keuangan?
Apakah aku merasa aman hanya jika punya banyak tabungan?
Ataukah aku percaya bahwa Allah yang memeliharaku?”
Jika ada rasa takut atau kesombongan terkait uang, datanglah kepada Tuhan dan minta Dia membarui hatimu.
Kedua, Belajarlah Memberi dengan Sukacita.
Mulailah dengan hal kecil: memberi untuk pekerjaan Tuhan, membantu saudara yang kekurangan, atau memberi hadiah kepada orang yang sedang bersedih.
Lakukan dengan sukacita, bukan dengan terpaksa.
Dengan melatih hati untuk memberi, kamu sedang menjadi “kaya dalam kebajikan” dan mengumpulkan harta yang kekal di sorga.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana cara praktis memberi dengan sukacita saat kebutuhan sangat banyak.