Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Wahyu 21:8.
Kepada siapakah Allah memberi minum secara cuma-cuma dari mata air kehidupan?
Apakah yang Allah anugrahkan bagi orang-orang yang menang?
Terhadap orang-orang yang bagaimanakah yang akan mengalami lautan api yang menyala-nyala dan belerang?
Allah sangat membenci dusta, sehingga setiap orang yang hidup dengan dusta dimana menganggap remeh hal-hal dusta atau bohong maka mereka mendapatkan resiko dimana mereka tidak mendapat tempat di sorga tetapi akan mengalami lautan api yang menyala-nyala dan belerang dalam kematian yang kedua.
Hal itu terjadi karena dusta selalu berasal dari si jahat atau iblis dan iblis tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.”(Yohanes 8:44).
Itulah sebabnya Tuhan tidak ingin kita hidup dengan selalu berkata-kata dusta atau bersaksi dusta karena ternyata orang-orang yang senang berdusta atau berbohong, mereka adalah orang-orang yang dapat menyebarkan ajaran-ajaran yang menyesatkan.
“Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.” (I Timotius 1:5-6).
Allah ingin agar kita hidup dalam kejujuran dan tidak berdusta dalam perkataan kita. Oleh sebab itu, untuk hidup tidak berdusta maka kita harus membangun budaya hidup dengan berkata-kata benar, dengan cara diantaranya:
Hidup dengan membenci dusta, sebaliknya kita harus hidup dengan Firman Tuhan. “Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”(Mazmur 119:104-105). “Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua. Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci. Peringatan-peringatan-Mu ajaib, itulah sebabnya jiwaku memegangnya.”(Mazmur 119:127-129).
Hidup dengan selalu berkata-kata: jika ya katakan ya dan jika tidak katakan tidak, supaya jangan beri kesempatan kepada iblis dan selalu hidup dalam kejujuran dalam perkataan maupun perbuatan. “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”(Matius 5:37).
Marilah kita membangun kehidupan yang jujur di bumi ini karena surga tidak memberi tempat bagi orang yang suka berdusta.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara selalu membangun budaya jujur dan tidak berdusta dalam pekerjaan, rumah tangga, pelayanan, dan lain-lain.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa alasan Paulus mengapa kita harus berkata benar seorang kepada yang lain (ayat 25)?
Apa bedanya marah yang tidak berdosa dengan marah yang berdosa menurut ayat 26?
Apa akibatnya jika kita membiarkan amarah berlarut-larut tanpa diselesaikan (ayat 27)?
“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota“ (Efesus 4:25).
Coba bayangkan tubuhmu. Jika tangan berkata bohong kepada kaki, apa yang terjadi? Tubuh akan kacau.
Tangan mungkin berkata, “Tidak ada bahaya di depan,” padahal ada lubang, lalu kaki terperosok.
Demikian juga gereja. Paulus mengingatkan jemaat di Efesus bahwa kita semua adalah anggota tubuh yang sama, yaitu tubuh Kristus.
Karena itu, kita tidak bisa hidup saling berbohong. Dusta, sekecil apa pun, akan merusak hubungan dan melemahkan persekutuan.
Di zaman Paulus, banyak orang terbiasa berbohong untuk keuntungan sendiri.
Tapi Paulus berkata: “Buanglah dusta!” Ini perintah tegas.
Sebagai bagian dari tubuh Kristus, kita harus saling percaya, dan kepercayaan itu dimulai dari kejujuran.
Dusta Merusak Persekutuan, Kebenaran Membangun.
Prinsip pertama yang Paulus ajarkan adalah bahwa kebenaran membangun tubuh Kristus, sedangkan dusta merusaknya.
Mengapa Paulus menyuruh kita berkata benar “karena kita adalah anggota tubuh seorang sama lain”?
Karena jika satu anggota berbohong, anggota lain akan tersesat, salah mengambil keputusan, atau terluka hatinya.
Kebohongan dalam gereja bisa menyebabkan perpecahan, kecurigaan, dan hilangnya kepercayaan.
Sebaliknya, ketika kita berkata benar, kita sedang membangun fondasi yang kokoh untuk saling percaya dan mengasihi.
Yesus sendiri berkata, “Akulah kebenaran” (Yohanes 14:6).
Jadi berkata benar berarti membawa karakter Kristus ke dalam hubungan kita dengan sesama.
Jangan Biarkan Amarah Berlarut-larut.
Prinsip kedua yang menarik dari ayat ini adalah hubungan antara kejujuran dan kemarahan.
Paulus berkata, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa.”
Kemarahan itu sendiri tidak selalu dosa.
Bahkan Yesus pernah marah ketika melihat Bait Allah menjadi sarang pencuri.
Tapi Paulus memperingatkan: “Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.”
Artinya, jika kita marah, selesaikan segera dengan jujur.
Jangan biarkan amarah mengendap menjadi kebencian, kepahitan, atau dendam.
Dan jangan biarkan amarah itu mendorong kita untuk berbohong atau menyebarkan fitnah tentang orang yang membuat kita marah.
Jika kita membiarkan amarah berlarut-larut, kita memberi “kesempatan kepada Iblis” untuk masuk dan menghancurkan persekutuan.
Kejujuran dalam mengungkapkan perasaan adalah cara untuk memadamkan amarah sebelum berubah menjadi dosa.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Biasakan Berkata Jujur Meskipun Risiko. Jika kamu melakukan kesalahan, akui.
Jika kamu tidak setuju dengan seseorang, katakan dengan hormat, jangan diam-diam menyimpan kekesalan.
Jika kamu merasa disakiti, sampaikan dengan cara yang membangun, bukan dengan gosip.
Mulailah dari lingkungan terdekat: keluarga, kelompok PA, atau teman persekutuan.
Katakan yang sebenarnya dengan kasih.
Kedua, Selesaikan Masalah Sebelum Hari Berganti.
Jika hari ini ada orang yang membuatmu marah atau kamu menyakiti hati orang lain, jangan dibawa tidur.
Segera hubungi, minta maaf, atau selesaikan masalah dengan jujur.
Dengan begitu, kamu tidak memberi kesempatan kepada iblis untuk merusak hubunganmu.
Latihan sederhana ini akan membuat hidupmu lebih ringan, persekutuanmu lebih sehat, dan hatimu lebih damai.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana menjadi teman untuk saling mengampuni.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut Kolose 3:8-9, hal-hal apa saja yang termasuk dalam “manusia lama” yang harus kita buang?
Apa perbedaan antara manusia lama dan manusia baru yang Paulus gambarkan dalam ayat 9-10?
Mengapa dusta tidak bisa ditoleransi dalam kehidupan orang percaya, meskipun hanya dusta “kecil”?
“Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,” (Kolose 3:9).
Misalkan kamu memiliki pakaian yang sudah lama dipakai, kotor, robek, dan bau.
Tentu kamu tidak akan betah memakainya.
Kamu pasti ingin segera melepasnya dan mengganti dengan pakaian yang bersih dan wangi.
Paulus menggunakan gambaran seperti ini untuk menjelaskan kehidupan rohani kita.
Sebelum mengenal Kristus, kita semua memakai “manusia lama” yang penuh dengan dosa: kebiasaan marah-marah, iri hati, berkata kotor, dan juga berdusta.
Dusta sering kita anggap sepele, tapi Paulus memasukkannya ke dalam daftar hal yang harus dibuang.
Mengapa? Karena dusta adalah kebiasaan dari manusia lama yang tidak layak dipakai oleh anak-anak Allah yang baru lahir.
Dusta Merusak Gambar Allah dalam Diri Kita.
Prinsip pertama dari ayat ini adalah bahwa dusta adalah bagian dari manusia lama yang harus kita tinggalkan total.
Banyak orang berpikir dusta kecil tidak masalah asalkan tidak merugikan orang lain.
Tapi Paulus tidak memberi ruang untuk kompromi.
Dusta, sekecil apa pun, adalah kebiasaan dari sifat lama yang sudah mati bersama Kristus.
Alasan Paulus tegas: kita sudah “menanggalkan manusia lama” dan “mengenakan manusia baru”.
Manusia baru ini diciptakan menurut gambar Allah, dan Allah adalah Kebenaran.
Tidak mungkin seorang anak Allah yang baru lahir terus hidup dalam kebohongan.
Seperti pakaian kotor yang tidak cocok dipakai di pesta pernikahan, dusta tidak cocok dengan identitas baru kita sebagai anak-anak Terang.
Manusia Baru Terus Diperbaharui dalam Kebenaran.
Prinsip kedua adalah bahwa manusia baru tidak statis, tetapi terus diperbaharui setiap hari.
Paulus berkata manusia baru itu “terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya”.
Ini berarti meninggalkan dusta bukan sekali jadi, tetapi proses seumur hidup.
Setiap hari kita belajar lagi untuk jujur, setiap hari Roh Kudus mengingatkan kita ketika kita tergoda untuk berbohong.
Semakin kita mengenal Kristus, semakin kita mencintai kebenaran.
Dan semakin kita hidup dalam kebenaran, semakin kita serupa dengan gambar Allah.
Proses ini memang tidak mudah, tetapi kita tidak sendirian.
Roh Kudus tinggal di dalam kita untuk menolong kita melepas kebiasaan lama dan mengenakan kebiasaan baru yang mulia.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Lakukan “cek Pakaian” Setiap Malam.
Sebelum tidur, luangkan waktu sebentar untuk merenung: “Apakah hari ini aku berkata jujur dalam setiap perkataanku? Apakah aku menyembunyikan kesalahan atau memutarbalikkan fakta?”
Jika kamu menemukan dusta, sekecil apa pun, segera minta ampun kepada Tuhan dan kepada orang yang terkena dampak dustamu.
Kebiasaan introspeksi ini akan membuatmu semakin peka terhadap kebenaran.
Kedua, Biasakan Bilang “Ya” atau “Tidak” Tanpa Tambahan. Mulai dari hal-hal sederhana.
Jika ditanya “Kamu sudah mengerjakan tugas itu?” jangan mengelak atau memberi alasan berbelit.
Jawab jujur: sudah atau belum. Jika kamu terlambat, katakan “Aku terlambat”, jangan cari-cari alasan.
Dengan latihan kecil setiap hari, karakter jujur akan terbentuk dalam dirimu, dan kamu benar-benar menjadi manusia baru yang mencerminkan gambar Allah yang benar.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki sikap hati yang selalu suka dikoreksi atau ditegur.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut konteks aslinya, dalam situasi apa perintah “jangan bersaksi dusta” ini terutama diberikan?
Apa akibat dari dusta terhadap reputasi orang lain dan terhadap komunitas secara keseluruhan?
Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk dusta kecil apa yang paling sering menggoda kita untuk melakukannya?
“Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” (Keluaran 20:16).
Mengapa Allah perlu memberikan perintah khusus tentang “jangan bersaksi dusta”? Karena di zaman dulu, alat bukti sangat terbatas.
Tidak ada CCTV, sidik jari, atau rekaman suara.
Di gerbang kota (tempat pengadilan), kesaksian seorang saksi bisa menentukan hidup mati seseorang.
Jika seorang saksi berdusta, orang yang tidak bersalah bisa dihukum mati, dan kejahatan yang nyata bisa lolos dari hukuman.
Untuk melindungi hal ini, hukum Taurat menetapkan hukuman yang setimpal bagi saksi dusta: apa yang hendak ia lakukan kepada orang lain, akan dilakukan kepadanya (Ulangan 19:19).
Dengan kata lain, jika ia berusaha menjebak orang lain agar dihukum mati, ia sendiri yang akan dihukum mati.
Ini menunjukkan betapa seriusnya Allah memandang keadilan dan kebenaran.
Melalui perintah ini, Allah mengajarkan bahwa kebenaran bukan hanya nilai moral, tetapi fondasi bagi tegaknya keadilan.
Dusta Merusak Kepercayaan dan Hubungan.
Perintah ini mengajarkan bahwa dusta tidak pernah berdampak kecil.
Dusta tidak hanya tentang mengatakan sesuatu yang tidak benar, tetapi juga tentang menyembunyikan fakta, melebih-lebihkan kebenaran, atau berdiam diri saat melihat kejahatan.
Di dalam Alkitab, dusta sering digambarkan sebagai alat kekerasan.
Amsal 25:18 berkata, “Orang yang bersaksi palsu terhadap sesamanya adalah seperti gada, pedang, dan anak panah yang tajam.”
Senjata ini melukai reputasi dan bahkan bisa membunuh.
Kita harus ingat bahwa Yesus sendiri adalah korban saksi dusta: Ia ditangkap dan diadili berdasarkan kesaksian palsu dari orang-orang yang membenci-Nya.
Oleh karena itu, bagi kita sebagai pengikut Kristus, perkataan kita bukan hanya urusan pribadi, tetapi harus menjadi alat untuk membangun, bukan untuk menghancurkan.
Reputasi dan kehormatan sesama adalah harta berharga yang harus kita lindungi.
Dusta adalah Dosa yang Merusak Komunitas.
Prinsip selanjutnya yang perlu kita pahami adalah bahwa perintah ini memiliki cakupan yang lebih luas dari sekadar ruang sidang pengadilan.
Perintah ini juga melarang fitnah dan gosip.
Ketika kita menyebarkan berita yang belum tentu benar tentang orang lain, atau ketika kita mendengarkan gosip dengan senang hati, kita sedang bersaksi dusta terhadap sesama kita.
Banyak orang yang merasa tidak berdosa karena hanya “mendengar” atau “meneruskan” cerita, tetapi Alkitab mengingatkan bahwa siapa yang dengan senang hati menerima laporan palsu sama bersalahnya dengan pembuat laporan palsu (Amsal 17:4, BIS).
Allah adalah Tuhan Kebenaran. Dia sangat membenci dusta (Amsal 6:16-19).
Karena itu, sebagai anak-anak Terang, kita dipanggil untuk membenci segala bentuk dusta dan mengasihi kebenaran.
Perkataan kita harus jujur, apa adanya, dan membangun.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Berkata Jujur dalam Segala Hal. Mulailah dari hal-hal kecil.
Jika kamu terlambat, katakan “aku terlambat”.
Jika kamu melakukan kesalahan, akui kesalahan itu.
Jangan membenarkan diri dengan kebohongan kecil.
Jika ada gosip atau cerita miring tentang orang lain, tanyakan pada dirimu: “Apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah ini perlu?” Jika tidak, lebih baik diam.
Kedua, Jadilah Pribadi yang Dapat Dipercaya.
Di lingkungan keluarga, sekolah, atau pekerjaan, usahakan agar orang lain tahu bahwa perkataanmu bisa dipegang.
Jika kamu berjanji, tepati.
Jika kamu mengatakan “ya”, lakukan. Jika kamu mengatakan “tidak”, konsekuen.
Dengan menjadi jujur dan dapat dipercaya, hidupmu menjadi terang yang menerangi kegelapan di sekitarmu, karena di dunia yang penuh kepalsuan, orang-orang yang jujur adalah mutiara yang langka dan berharga.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana cara praktis menghindari saksi dusta.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa kebiasaan orang Yahudi yang Yesus kritik dalam hal bersumpah, dan mengapa itu salah?
Apa yang Yesus perintahkan sebagai pengganti kebiasaan bersumpah? Mengapa cukup “ya” dan “tidak”?
Mengapa Yesus berkata bahwa segala sesuatu yang lebih dari “ya” dan “tidak” berasal dari si jahat?
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Matius 5:37).
Coba bayangkan zaman Yesus.
Orang-orang pandai bersumpah dengan kata-kata yang indah, tapi hati mereka licik.
Mereka bersumpah “demi Bait Allah” tapi kalau ingkar, mereka bilang itu tidak mengikat.
Mereka punya aturan rumit tentang sumpah mana yang wajib ditepati dan mana yang tidak.
Di balik semua itu, mereka ingin terlihat jujur, padahal mereka sedang mencari cara untuk berbohong tanpa ketahuan.
Yesus melihat kepalsuan ini. Ia berkata, “Janganlah sekali-kali kamu bersumpah.”
Maksud Yesus bukan melarang sumpah di pengadilan, tetapi melarang kebiasaan bersumpah dalam percakapan sehari-hari yang justru menunjukkan ketidakjujuran.
Orang yang jujur tidak perlu sumpah; kata-katanya sudah cukup.
Prinsip pertama yang Yesus ajarkan adalah bahwa kejujuran harus menjadi gaya hidup orang percaya, bukan sesuatu yang dipaksakan dengan sumpah.
Kalau kita selalu jujur, orang tidak perlu meminta kita bersumpah.
Cukup “ya” atau “tidak” dari mulut kita sudah bisa dipercaya. Ini adalah ciri hidup yang telah diubah oleh Roh Kudus.
Hati yang jujur akan melahirkan perkataan yang jujur.
Sebaliknya, orang yang suka menambah-nambahi perkataan dengan sumpah atau janji berlebihan, seringkali sedang berusaha menutupi ketidakjujuran.
Yesus mengingatkan bahwa semua perkataan kita harus keluar dari hati yang tulus.
Jangan sampai kita terlatih mengatakan hal-hal yang indah tetapi tidak benar.
Perkataan Kita Mencerminkan Identitas Kita.
Prinsip kedua adalah bahwa perkataan kita mencerminkan siapa kita di hadapan Tuhan dan manusia.
Yesus berkata, “Segala sesuatu yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”
Artinya, kebiasaan bersumpah atau berjanji berlebihan justru memberi celah bagi iblis untuk masuk.
Iblis adalah bapa segala dusta.
Kalau kita terbiasa mengatakan “demi Tuhan” untuk hal-hal yang tidak sungguh-sungguh, kita sedang mempermainkan nama Tuhan.
Kalau kita berkata “saya janji” tapi tidak ditepati, kita sedang merusak kepercayaan.
Yesus ingin kita menjadi orang yang begitu jujur sehingga kata “ya” sudah berarti pasti, dan kata “tidak” sudah berarti tegas.
Dengan begitu, kita menjadi terang di tengah dunia yang penuh kepalsuan.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Latih Dirimu untuk Berbicara Apa Adanya.
Mulai dari hal-hal kecil. Jika kamu terlambat, katakan “aku terlambat”, jangan mencari alasan berbelit.
Jika kamu tidak bisa melakukan sesuatu, katakan “tidak bisa”, jangan berjanji kosong.
Jika kamu setuju, katakan “ya” dengan tegas. Dengan latihan sederhana ini, karaktermu akan dibentuk menjadi pribadi yang dapat dipercaya.
Kedua, Hindari Perkataan Berlebihan yang Tidak Perlu.
Jangan biasakan mengatakan “demi Tuhan” atau “sumpah demi apa” dalam percakapan sehari-hari, apalagi untuk hal-hal sepele.
Biarkan perkataanmu berdiri sendiri karena kejujuranmu sudah dikenal orang.
Jika perlu berjanji, tepati. Jika tidak yakin bisa, katakan “aku akan berusaha” bukan “aku janji”.
Dengan begitu, hidupmu akan menjadi kesaksian yang nyata tentang kebenaran Kristus.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya supaya leluasa mengungkapkan kebenaran dan bicara jujur apa adanya.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa sebenarnya kesalahan Ananias dan Safira? Apakah karena mereka tidak memberikan semua uangnya, atau karena mereka berbohong?
Mengapa Petrus berkata bahwa mereka berdusta kepada Roh Kudus, bukan hanya kepada manusia (ayat 3-4)?
Apa dampak peristiwa ini terhadap jemaat dan orang-orang di luar (ayat 5,11), dan mengapa itu penting?
“Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? (Kisah Para Rasul 5:3).
Gereja mula-mula sedang dalam masa yang indah.
Banyak orang percaya saling mengasihi, menjual harta untuk membantu saudara yang kekurangan.
Semangat memberi begitu kuat, semua ingin berkontribusi.
Di tengah suasana yang hangat itu, Ananias dan Safira juga ingin ikut-ikutan.
Tapi hati mereka tidak sepenuhnya tulus.
Mereka ingin terlihat murah hati seperti orang lain, tetapi mereka juga ingin tetap menikmati sebagian uang hasil jual tanah.
Jadi mereka memilih jalan pintas: berbohong.
Mereka mengaku memberikan seluruh uang, padahal tidak.
Dusta ini bukan sekadar kesalahan kecil, tetapi sebuah serangan terhadap kekudusan dan kejujuran yang menjadi fondasi komunitas Allah.
Tuhan tidak bisa mentolerir kepalsuan di tengah umat-Nya.
Dusta adalah Dosa terhadap Roh Kudus.
Prinsip pertama dari peristiwa ini adalah bahwa dusta bukan hanya kesalahan antar manusia, tetapi dosa langsung terhadap Roh Kudus.
Petrus berkata, “Mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau berdusta kepada Roh Kudus?” (ayat 3).
Roh Kudus hadir di tengah jemaat sebagai Tuhan yang hidup.
Ketika Ananias berbohong, ia sedang menghina dan menipu Roh Kudus yang mengetahui segala sesuatu.
Ini berbeda dengan dusta biasa.
Karena Roh Kudus adalah Pribadi yang kudus, kebohongan di hadapan-Nya adalah pelanggaran yang sangat serius.
Kita sering menganggap remeh dusta-dusta kecil, tapi firman mengingatkan bahwa dusta merusak hubungan kita dengan Tuhan dan dengan komunitas iman.
Iblis disebut sebagai bapa segala dusta (Yohanes 8:44).
Ketika kita berdusta, kita membuka pintu bagi Iblis untuk menguasai hati kita.
Kekudusan Komunitas Harus Dijaga.
Prinsip kedua adalah bahwa Tuhan sangat serius menjaga kekudusan komunitas umat-Nya.
Mengapa hukuman mati yang begitu keras? Karena pada awal pembentukan gereja, Tuhan ingin menanamkan rasa takut akan kekudusan-Nya.
Satu kebohongan kecil bisa menyebar seperti ragi dan merusak seluruh jemaat.
Kalau Ananias dan Safira dibiarkan, lama-kelamaan orang lain akan berpikir bahwa berpura-pura itu boleh, bahwa menjadi munafik tidak masalah.
Gereja akan berubah menjadi panggung sandiwara, bukan persekutuan orang-orang yang hidup dalam kebenaran.
Oleh karena itu, Allah bertindak tegas sebagai peringatan bagi semua orang bahwa tidak ada tempat bagi kepalsuan di dalam tubuh Kristus.
Rasa takut yang melanda jemaat (ayat 5, 11) adalah rasa hormat yang sehat kepada Allah yang kudus.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Jadilah Pribadi yang Jujur dalam Hal Kecil.
Kebohongan sering dimulai dari hal-hal yang sepele: mengubah sedikit fakta, menyembunyikan kesalahan, atau pura-pura baik padahal hati kesal.
Mulailah berlatih jujur hari ini. Katakan apa adanya, meskipun itu tidak menguntungkanmu.
Percayalah bahwa Tuhan lebih menyukai kejujuran yang rendah hati daripada kepura-puraan yang indah.
Kedua, Segera Mengaku dan Bertobat jika Telah Berdusta.
Jika kamu sadar sudah berbohong, jangan biarkan kebohongan itu berlarut-larut.
Cepatlah mengaku kepada Tuhan dan kepada orang yang bersangkutan. Minta maaf dan perbaiki.
Lebih baik malu sejenak karena mengaku salah, daripada terus hidup dalam kepalsuan yang merusak hati dan komunitas.
Tuhan adalah pengampun, dan Ia ingin kita hidup dalam kebenaran.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya memiliki hati yang mudah mengakui kesalahan.