Selasa, 7 Juli 2026

DIBANGUN MENJADI RUMAH ROHANI

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

1 PETRUS 2:4-8

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Siapakah yang dimaksud dengan Batu Penjuru dalam 1 Petrus 2:4–8?
  2. Apa yang dimaksud dengan orang percaya dibangun menjadi rumah rohani?
  3. Apa perbedaan respons manusia terhadap Kristus menurut 1 Petrus 2:7–8?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Surat 1 Petrus ditulis oleh Rasul Petrus kepada orang-orang percaya yang tersebar di berbagai wilayah Asia Kecil yang sedang menghadapi penolakan, penderitaan, dan berbagai tekanan karena iman mereka kepada Kristus.

Melalui surat ini, Petrus menguatkan jemaat agar tetap teguh dalam iman, hidup dalam kekudusan, dan memandang diri mereka berdasarkan identitas yang telah Allah berikan, bukan berdasarkan penilaian dunia.

Bagian 1 Petrus 2:4–8 tidak dapat dipisahkan dari konteks 1 Petrus 2:1–10, yang menjelaskan panggilan orang percaya untuk meninggalkan dosa, hidup dalam ketaatan kepada firman Tuhan, dan datang kepada Kristus sebagai sumber kehidupan.

Dalam konteks tersebut, Petrus menegaskan bahwa setiap orang yang percaya sedang dibangun oleh Allah menjadi rumah rohani yang berlandaskan Kristus sebagai Batu Penjuru.

Pada zaman itu, batu penjuru merupakan batu utama yang menjadi dasar, penopang, dan penentu arah seluruh bangunan.

Melalui gambaran ini, Petrus menunjukkan bahwa kehidupan dan identitas umat Allah hanya dapat berdiri kokoh apabila dibangun di atas Kristus.

Petrus menjelaskan bahwa setiap orang yang datang kepada Kristus, “Sang Batu Hidup”, tidak hanya menerima keselamatan, tetapi juga sedang dibangun oleh Allah menjadi rumah rohani.

Gambaran ini menunjukkan bahwa orang percaya telah dipersatukan dengan Kristus dan menjadi bagian dari umat Allah yang hidup untuk menyatakan kemuliaanNya.

Sebagaimana sebuah bangunan memerlukan fondasi yang kokoh, demikian pula kehidupan rohani hanya dapat bertumbuh dan berdiri teguh apabila dibangun di atas Kristus sebagai Batu Penjuru yang dipilih Allah.

Melalui gambaran ini, Petrus menegaskan bahwa Kristus adalah satu-satunya dasar bagi keselamatan, pertumbuhan rohani, dan kehidupan umatNya.

Menjadi rumah rohani berarti hidup yang terus dibentuk oleh Allah melalui firmanNya dan karya Roh Kudus sehingga cara berpikir, sikap hati, karakter, serta perilaku sehari-hari semakin serupa dengan Kristus.

Proses pertumbuhan ini terlihat melalui ketaatan kepada firman Tuhan, kehidupan yang kudus, kasih kepada sesama, serta kesediaan mempersembahkan seluruh aspek hidup kita bagi kemuliaan Allah.

Petrus juga menegaskan bahwa Kristus adalah batu yang berharga bagi mereka yang percaya, tetapi menjadi batu sandungan bagi mereka yang menolakNya.

Karena itu, bagian ini menekankan bahwa tidak ada kehidupan rohani yang sejati di luar Kristus, hanya mereka yang dibangun di atasNya yang akan bertumbuh, bertekun dalam iman, dan menjadi rumah rohani yang memancarkan kemuliaan Allah.

Bagi kita orang percaya, hal ini mengingatkan bahwa kehidupan Kristen bukan sekadar menghadiri ibadah atau memiliki identitas sebagai anggota gereja, melainkan hidup yang terus dibangun oleh Allah di atas dasar Kristus.

Karena itu, setiap orang percaya perlu bertanya apakah hidupnya semakin bertumbuh dalam ketaatan kepada firman atau justru lebih dibentuk oleh nilai-nilai dunia.

Penerapan sederhananya adalah menyediakan waktu secara teratur untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan, membangun kehidupan doa yang konsisten, serta aktif hidup dalam persekutuan orang percaya.

Dan ketika menghadapi masalah, baik masalah hidup, masalah ekonomi, masalah kesehatan, tekanan pekerjaan, atau lainnya, orang percaya belajar mengutamakan kehendak Tuhan daripada mengandalkan hikmat dan kekuatannya sendiri.

Dengan demikian, kehidupan kita terus dibentuk menjadi rumah rohani yang kokoh, memancarkan karakter Kristus, dan menjadi kesaksian yang memuliakan Allah di tengah dunia.

Apakah hidup kita saat ini sedang dibangun di atas Kristus, ataukah dibangun dan dibentuk oleh nilai-nilai dan keinginan dunia?

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 119:1-88

Senin, 6 Juli 2026

MENGENAL MESIAS DALAM PENYEMBAHAN

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 4:25-26

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Siapakah yang dinyatakan Yesus kepada perempuan Samaria dalam Yohanes 4:25–26?
  2. Mengapa pengenalan yang benar akan Yesus sebagai Mesias menjadi dasar penyembahan yang sejati?
  3. Bagaimana perubahan hidup perempuan Samaria setelah ia mengenal Yesus sebagai Mesias? (Yoh. 4:39–42)
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Yohanes 4:25–26 tidak dapat dipisahkan dari konteks Yohanes 4:1–42 yang menceritakan perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan Samaria di sebuah sumur di Sikhar.

Pada masa itu, orang Yahudi memandang rendah orang Samaria karena perbedaan sejarah, etnis, dan praktek keagamaan.

Bahkan, seorang rabi Yahudi umumnya tidak akan berbicara dengan seorang perempuan Samaria, terlebih lagi perempuan yang memiliki kehidupan moral yang buruk.

Namun, Yesus sengaja mendatanginya untuk menyatakan anugerah Allah kepada seorang berdosa.

Melalui kisah ini, Yohanes menunjukkan bahwa keselamatan tidak diberikan berdasarkan latar belakang, status sosial, atau kesalehan manusia, melainkan berdasarkan kasih karunia Allah yang mencari dan menyelamatkan orang yang tersesat.

Di tengah pembahasan tentang air hidup dan penyembahan yang benar, percakapan ini mencapai puncaknya ketika perempuan itu menyatakan harapannya akan kedatangan Mesias.

Dalam Yohanes 4:25–26, perempuan Samaria menyatakan keyakinannya bahwa Mesias yang dijanjikan akan datang dan memberitahukan segala sesuatu.

Yesus kemudian menjawab, “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau,” sebuah pernyataan yang dengan jelas menegaskan bahwa Dialah Mesias dan penggenapan seluruh janji keselamatan Allah.

Dalam konteks percakapan sebelumnya, Yesus telah menjelaskan bahwa penyembahan sejati tidak lagi ditentukan oleh tempat, baik di Gunung Gerizim maupun di Yerusalem, melainkan oleh hubungan yang benar dengan Allah melalui Kristus.

Karena itu, mengenal Mesias dalam penyembahan berarti memahami bahwa penyembahan yang sejati berpusat pada Kristus, lahir dari pengenalan yang benar akan Dia, dan menghasilkan kehidupan yang memuliakanNya.

Hal ini terlihat dari respons perempuan Samaria yang setelah mengenal Yesus, meninggalkan tempayannya dan pergi bersaksi kepada orang-orang di kotanya.

Melalui kesaksiannya, banyak orang datang kepada Yesus dan akhirnya mengakuiNya sebagai Juruselamat dunia.

Dengan demikian, pengenalan yang benar akan Kristus selalu menghasilkan penyembahan yang benar, kehidupan yang diubahkan, dan kerinduan untuk membawa orang lain datang kepadaNya.

Pelajaran apa yang dapat kita peroleh dari kisah dalam Injil Yohanes 4:25–26? Kisah ini mengajarkan bahwa penyembahan sejati bukan hanya soal rasa, emosi, melainkan respons hati yang tunduk kepada kebenaran Allah yang dinyatakan dalam Kristus.

Emosi bisa muncul saat kita menyembah Tuhan, baik melalui air mata, sukacita, maupun ekspresi lainnya, tetapi Ingat! emosi bukanlah ukuran utama penyembahan yang sejati.

Hal ini terlihat juga dalam 2 Samuel 6:21–22 ketika Daud menari di hadapan Tuhan.

Daud tidak sedang mencari perhatian manusia atau kepuasan dirinya sendiri, melainkan merendahkan dirinya dan meninggikan kebesaran Allah.

Demikian pula perempuan Samaria, setelah mengenal Mesias, tidak lagi berfokus pada dirinya, melainkan pada Kristus yang harus diberitakan kepada orang lain.

Karena itu, ketika kita beribadah, bernyanyi (Praise dan Worship), berdoa, dan mendengarkan firman Tuhan, fokus utama kita haruslah kemuliaan Allah, bukan pengalaman pribadi.

Beberapa contoh sederhana dalam mempraktekkanya, seperti; dengan mempersiapkan hati sebelum ibadah, merenungkan firman yang diberitakan, dan bertanya kepada diri sendiri: “Apakah melalui hidup dan penyembahan saya, Kristus semakin ditinggikan dan orang lain semakin melihat kemuliaanNya?”

Penyembahan yang sejati akan selalu membawa kita untuk merendahkan diri di hadapan Allah, meninggikan Kristus, dan hidup sebagai saksi yang memberitakan karya keselamatanNya kepada lingkungan sekitar kita.

Apakah selama ini kita sungguh-sungguh menyembah Kristus karena mengenal siapa Dia, ataukah kita hanya menjalankan rutinitas ibadah tanpa memiliki hubungan yang sangat dekat secara pribadi denganNya (Intimacy)?

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 115-118

Minggu, 5 Juli 2026

PENYEMBAH YANG DICARI BAPA

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 4:21-24

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Di manakah dua tempat spesifik yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus tidak lagi menjadi tempat mutlak untuk menyembah?
  2. Seperti apakah jenis penyembah yang dicari atau dikehendaki oleh Bapa?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Salah satu percakapan paling mendalam dalam Perjanjian Baru tidak terjadi di bait suci, melainkan di pinggir sebuah sumur di Samaria.

Di sana, Tuhan Yesus bercakap-cakap dengan seorang perempuan Samaria yang memiliki masa lalu kelam.

Ketika perempuan itu mencoba mengalihkan pembicaraan yang mulai mengusik kehidupan pribadinya dengan memperdebatkan lokasi penyembahan yang benar, apakah di gunung sesuai tradisi orang Samaria atau di Yerusalem sesuai tradisi Yahudi, Tuhan Yesus justru membawa diskusi ke level yang jauh lebih tinggi.

Tuhan Yesus membongkar esensi terdalam dari ibadah, yaitu bukan tentang di mana kita menyembah, melainkan siapa yang kita sembah dan bagaimana kita menyembah-Nya.

Tuhan Yesus menyatakan bahwa Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.

Menyembah dalam roh berarti penyembahan kita digerakkan oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam kita, bukan sekadar rutinitas kegiatan rohani.

Ini melibatkan keterlibatan batin yang paling dalam, yaitu kasih, hormat dan rasa takut akan Tuhan.

Menyembah dalam kebenaran berarti penyembahan kita harus selaras dengan kebenaran Firman Allah (Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup).

Kita tidak bisa menyembah Allah menurut imajinasi atau selera kita sendiri.

Menyembah dalam kebenaran juga berarti ketulusan dan kejujuran atau integritas.

Allah tidak mencari penampilan luar yang religius namun penuh kemunafikan seperti orang yang menggunakan topeng.

Tuhan mencari hati yang jujur, senang diajar, yang mengakui kelemahannya dan rindu diubahkan.

Kedua pilar ini harus seimbang.

Menyembah dalam roh saja tanpa kebenaran akan menjerumuskan seseorang pada penyembahan yang lebih dikuasai oleh emosi.

Sebaliknya, menyembah dalam kebenaran saja tanpa roh akan membuat kita jatuh pada legalisme, agamawi yang kaku, dan dingin.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan bagaimana pengalamanmu dalam menyembah Tuhan di ibadah secara bersama dan ketika engkau sendiri di ruang doamu?

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 108-114

Sabtu, 4 Juli 2026

DIAM BERSAMA DENGAN RUKUN

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MAZMUR 133:1-3

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Mengapa dalam realita sehari-hari, menjaga kerukunan baik dalam keluarga atau gereja sering kali terasa sulit dilakukan?
  2. Bagaimana peran pemimpin dalam mengalirkan “minyak kerukunan” ini kepada anggotanya?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Di tengah dunia yang kian terfragmentasi oleh kepentingan pribadi, dan ego, kerukunan menjadi barang mewah yang langka.

Hal itu sangat terlihat di media sosial, dimana orang sangat mudah untuk mencela, menghakimi orang lain, khususnya mencela para pemimpin.

Dan spirit ini tanpa disadari mulai merembes ke komunitas rohani!

Allah adalah Kasih dan kita yang adalah umat Allah, sepatutnya lah kita adalah cerminan dari kasih Allah, misalnya kita akan berkomunikasi dengan mengedepankan kasih.

Dan jika kasih ada dalam atmosfer komunitas kita, apakah itu dalam keluarga, di kantor, di sekolah dan di gereja.

Maka akan mudah tercipta kerukunan.

Tanpa disuruh kita akan menjaga kerukunan ketika kita berinteraksi dengan orang-orang yang ada dalam lingkungan tersebut.

Ada yang mengatakan kita diciptakan berbeda satu dengan yang lain. Jadi mustahil kita bisa rukun.

Tetapi itu adalah anggapan yang keliru, meskipun sangat bisa dipahami mengapa banyak orang berpikir demikian.

Banyak orang berpikir bahwa rukun atau bersatu itu artinya harus sama (seragam).

Padahal, rukun dan seragam adalah dua hal yang benar-benar berbeda.

Keseragaman, semua orang harus memiliki pemikiran, sifat, latar belakang, dan hobi yang persis sama.

Ini membosankan dan memang mustahil terjadi.

Sedangkan kesatuan/kerukunan adalah kumpulan berbagai elemen yang berbeda bergerak bersama menuju satu tujuan yang sama, saling melengkapi, dan saling menghargai.

Jika kita semua sama, kita tidak saling membutuhkan.

Kita diciptakan berbeda, justru supaya kita bisa saling melengkapi bagian yang tidak kita miliki.

Jadi, jika perbedaan bukan hambatan, apa yang membuat kita bisa rukun? Kuncinya bukan pada karakter kita yang harus sama, melainkan pada kedewasaan sikap kita.

Adánya kasih karunia dan pengampunan.

Kita tidak bisa rukun kalau kita menuntut orang lain menjadi persis seperti kita.

Kerukunan terjadi saat kita sadar bahwa orang lain punya kelemahan, dan kita memilih untuk mengampuni.

Fokus pada persamaan, bukan perbedaan.

Sering kali kita bertengkar karena terlalu fokus pada 10% perbedaan, dan mengabaikan 90% persamaan.

Rendah hati: Orang yang sombong (merasa dirinya paling benar) memang akan mustahil hidup rukun dengan siapa pun.

Namun, orang yang rendah hati selalu bisa menemukan celah untuk berdamai di tengah perbedaan.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan di bagian mana dari perbedaan (apakah karakter, pendapat, atau latar belakang) yang biasanya paling sulit untuk menjaga kerukunan?

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 106-107

Jumat, 3 Juli 2026

MEMILIKI CARA HIDUP YANG BAIK

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

1 PETRUS 2:12-17

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Mengapa cara hidup yang baik dianggap sangat penting dalam kehidupan sosial dan rohani kita di masa kini?
  2. Apa makna tunduk karena Allah di tengah pemimpin atau sistem pemerintahan yang tidak ideal?
  3. Apakah artinya kita harus tunduk mutlak kepada pemerintah?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik…” (1 Petrus 2:12).

Pada abad pertama, orang Kristen sering kali menjadi sasaran fitnah.

Mereka dituduh sebagai kelompok eksklusif yang hidup hanya dalam kelompoknya saja, difitnah sebagai kelompok yang anti-sosial, bahkan dianggap pembangkang karena menolak menyembah kaisar. 

Di masa kini, umat percaya juga bisa saja difitnah dengan cara yang serupa.

Lalu bagaimana sepatutnya kita hidup agar tidak ada orang yang memfitnah atau menghakimi kita karena cara hidup yang kita lakukan sehari-hari.

Firman Tuhan dengan tegas menyatakan: Milikilah cara hidup yang baik!

Artinya kita sebagai umat percaya perlu menjadi contoh atau teladan di tengah dunia yang korup, tidak ideal.

Hal-hal yang bisa kita lakukan: Tunduk kepada Allah, kepada lembaga yang didirikan oleh manusia atau masyarakat dan kepada raja pemimpin tertinggi di negara kita beserta perangkat di bawahnya.

Jika diurutkan sesuai konteks di Indonesia, berarti kita tunduk dan menghormati Presiden, para Menteri yang adalah pembantu presiden, para aparat penegak hukum, TNI, Polri, para kepala daerah: Gubernur, Walikota atau Bupati, Camat, Lurah, Ketua RW, Ketua RT.

Tunduk, artinya kita menghormati aturan yang mereka buat dan selama aturan itu tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, maka kita wajib hormati.

Misalnya kita membayar pajak dengan benar, tidak memberi suap supaya urusan kita dipermudah.

1 Petrus 2:17  “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!”

Sebagai penerapan kita untuk memiliki cara hidup yang baik, maka kita:

  • Hormatilah semua orang: kita menghormati orang tanpa memandang suku, agama, status sosial, atau pandangan politik.
  • Kasihilah saudara-saudaramu: secara khusus kita mengasihi teman seiman kita
  • Takutlah akan Allah: ketundukan mutlak hanya kepada Allah sebagai otoritas tertinggi dalam hidup kita.
  • Hormatilah raja: menghormati mereka sebagai pemegang otoritas sipil.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan tentang pengalamanmu berinteraksi secara sosial di lingkungan engkau berada: di kampus, tempat kerja, lingkungan tempat tinggal. Apakah engkau dikenal sebagai orang yang baik di tengah-tengah mereka?

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 103-105

Kamis, 2 Juli 2026

DIPANGGIL MENJADI SATU TUBUH

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KOLOSE 3:15-17

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa artinya membiarkan damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati, dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi cara kita menghadapi perbedaan?
  2. Bagaimana cara praktis membiarkan perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya dalam hidup kita?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” (Kolose 3:15).

Kata “memerintah” dalam bahasa Yunani menggunakan istilah brabeuo, yang biasa digunakan untuk seorang wasit dalam pertandingan olahraga.

Tugas seorang wasit adalah mengambil keputusan, menyelesaikan perselisihan, dan memastikan pertandingan berjalan dengan tertib.

Sehingga perintah Firman Tuhan “hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu,” bermakna:

Pertama, hendaknya damai sejahtera dari Kristus menjadi penentu utama dalam setiap keputusan, emosi, dan reaksi kita.

Saat hati kita mulai bergejolak oleh amarah, ego, atau kekhawatiran, damai Kristus-lah yang harus menenangkan dan itu adalah petunjuk bahwa kita sedang dalam langkah yang benar.

Kedua, kita dipanggil menjadi satu tubuh.

Di dalam sebuah tubuh yang terdiri dari banyak anggota, gesekan sangat mungkin terjadi.

Damai sejahtera Kristus harus menjadi “wasit” yang menyelesaikan setiap perbedaan pendapat, sehingga kesatuan tubuh tetap terjaga.

Panggilan Tuhan bagi orang percaya menjadi satu tubuh adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab.

Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri demi kepentingan ego masing-masing.

Ketika damai sejahtera Kristus menjadi wasit dalam hubungan kita satu dengan yang lain, Firman Tuhan akan menjadi penuntun dalam interaksi kita, dan nama Yesus menjadi tujuan dari setiap aktivitas kita, sehingga komunitas kita akan menjadi kesaksian yang hidup bagi dunia.

Di sinilah Tubuh Kristus berfungsi dengan semestinya: sehati, sejiwa, saling membangun, dan senantiasa menaikkan syukur kepada Allah Bapa.

Tubuh Kristus adalah kumpulan orang percaya, bukan kumpulan orang dari gereja yang sama, atau Sinode yang sama.

Dengan demikian kita juga harus mengakui, menghormati, mengasihi orang-orang percaya dari gereja yang berbeda, dan jangan pernah memandang bahwa gereja kita, komunitas kita adalah yang terbaik sehingga kita memandang rendah orang dari gereja yang berbeda.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan tentang bagaimana pemahaman kita tentang Tubuh Kristus ini kita terapkan dalam lingkungan di kantor, kampus atau di tempat tinggal kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 96-102