Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Yesaya 61:1!
Allah mengutus kita untuk membawa kabar apa?
Apakah yang akan dialami oleh orang-orang yang sengsara, orang-orang yang remuk hati, orang-orang tawanan dan orang yang terkurung dalam penjara ketika mendengar Kabar Baik?
Apakah yang akan dibangun oleh kita ketika kita menyampaikan Kabar Baik?
Allah mengurapi dan mengutus kita untuk menyampaikan kabar baik yaitu kabar sukacita tentang apa yang telah dikerjakan oleh Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya yang telah menebus setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Dosa telah menyebabkan manusia menuju maut, yaitu kematian yang kekal dimana manusia telah dipersembahkan dan dimiliki oleh iblis tetapi kasih karunia dari Yesus Kristus telah membebaskan manusia dari belenggu iblis.
Oleh sebab itu berita sukacita ini harus diceritakan kepada dunia supaya manusia beroleh kelegaan.
Berita sukacita apakah yang harus dialami oleh setiap orang yang percaya dan menerima karya Yesus bagi dunia ini?
Manusia dibebaskan dari hidup yang sengsara karena kuasa dosa dan kuasa iblis, dibebaskan dari kelemahan dan sakit penyakit, dibebaskan dari kemiskinan dan kutuk-kutuk kegagalan;
Manusia dirawat dari remuk hati yaitu luka-luka batin, trauma-trauma, ketakutan-ketakutan karena dibelenggu oleh maut sehingga mengalami kesembuhan batin dan hati.
Manusia dibebaskan dari tawanan dosa yang membuat manusia dibelenggu oleh maut dan dakwaan iblis sehingga manusia dapat hidup menang atas dosa dan dimerdekakan dari dosa;
Manusia dibebaskan dari penjara iblis, dimana kepemilikan hidup manusia pindah dari iblis kepada Yesus, pindah dari kerajaan maut kepada Kerajaan Allah;
Manusia berhak dengan kasih karunia Yesus yaitu pemberian yang cuma-cuma karena percaya kepada karya Yesus sehingga dimerdekakan dari dukacita dan perkabungan karena dosa sehingga dibenarkan oleh Allah;
Manusia dibebaskan dari dosa dan maut menjadi pribadi-pribadi yang dapat menyampaikan kabar baik dan kabar sukacita ini.
Tuhan ingin agar sebagai orang-orang yang telah menerima kabar sukacita ini kita menceritakan kabar baik ini kepada dunia yang terhilang melanjutkan hal yang telah dikerjakan oleh Yesus dua ribu tahun yang lalu.
Kitalah yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan kabar baik ini.
Hal-hal yang kita perlu pahami bahwa Allah pasti mengurapi kita untuk melakukannya dan kita harus minta agar diberikan oleh Allah belas kasihan bagi orang-orang yang ditawan oleh dosa dan iblis, kemudian melangkah untuk mengupayakan agar berita sukacita ini dapat disampaikan kepada setiap orang yang kita jumpai (Roma 10:1, Kolose 1:27-28).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara hal-hal apa saja yang saudara alami dan saudara lakukan sebagai bukti bahwa saudara sadari bahwa saudara diutus oleh Allah untuk menyampaikan Kabar Baik!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!
Apa yang Yesus baca dari kitab Yesaya, dan mengapa Ia memilih nas itu?
Apa arti kata “diurapi” dalam Lukas 4:18, dan bagaimana hal itu berlaku bagi kita hari ini?
Siapa saja yang menjadi sasaran misi Yesus (orang miskin, tawanan, buta, tertindas), dan bagaimana kita dapat menjangkau mereka?
“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin,…” (Lukas 4:18).
Ini adalah momen penting dalam sejarah keselamatan.
Yesus, yang baru saja dibaptis dan dicobai, kembali ke kota masa kecil-Nya.
Di sinilah, di rumah ibadat yang sederhana, Ia membuat pernyataan yang mengubah dunia.
Dengan membaca nubuat Yesaya, Yesus tidak sedang mengutip ayat lama; Ia sedang mendeklarasikan misi-Nya.
Ia menyatakan bahwa Roh Kudus telah mengurapi-Nya—bukan untuk menjadi raja secara politik, tetapi untuk membawa kabar baik kepada orang yang paling lemah.
Perhatikan bahwa Ia berhenti sebelum kalimat “dan hari pembalasan Allah kita” (Yesaya 61:2b), karena misi pertama-Nya adalah membawa rahmat, bukan penghakiman.
Ini adalah kabar baik bagi kita semua.
Pelayanan Yesus dimulai dan digerakkan oleh Roh Kudus.
“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku.”
Yesus tidak melakukan pekerjaan-Nya dengan kekuatan manusia.
Ia bergantung penuh pada Roh. Ini mengajarkan kita bahwa kita juga tidak bisa memberitakan Injil dengan kekuatan sendiri.
Kita butuh pengurapan Roh Kudus—pemberdayaan ilahi untuk melakukan pekerjaan yang melampaui kemampuan kita.
Tanpa Roh, kata-kata kita kosong. Dengan Roh, kabar baik yang kita bawa menjadi hidup dan berkuasa.
Karena itu, sebelum kita melayani, mintalah pengurapan Roh Kudus, sama seperti Yesus yang dipimpin dan diurapi oleh-Nya.
Injil yang dibawa Yesus bersifat holistik dan menjangkau semua lapisan masyarakat. Misi Yesus mencakup:
Kabar baik kepada orang miskin (yang lemah, terpinggirkan, dan yang sadar akan kebutuhan mereka).
Pembebasan bagi tawanan (mereka yang terbelenggu dosa, kebiasaan buruk, dan penindasan).
Penglihatan bagi orang buta (pemulihan perspektif dan pengenalan akan kebenaran).
Pembebasan bagi orang tertindas (pembelaan terhadap yang terinjak).
Ini menunjukkan bahwa Injil bukan hanya tentang “keselamatan jiwa” yang abstrak, tetapi tentang pemulihan seluruh kehidupan manusia.
Gereja dipanggil untuk menjadi saluran berkat yang menyeluruh—memberitakan firman sambil juga menunjukkan kasih melalui tindakan nyata kepada yang miskin dan tertindas.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Berdoalah untuk Pengurapan Roh Kudus Setiap Hari.
Sebelum kamu bersaksi, melayani, atau bahkan memulai aktivitas harian, berdoalah: “Roh Kudus, penuhilah aku. Urapilah perkataanku dan tindakanku hari ini.”
Tanpa pengurapan, pelayanan kita hanya aktivitas biasa.
Dengan pengurapan, kita menjadi alat yang hidup di tangan Tuhan.
Kedua, Jadilah Kabar Baik yang Konkret bagi Orang Lain.
Lihatlah di sekitarmu: siapa yang “miskin” secara ekonomi, emosional, atau rohani? Siapa yang “tertawan” oleh kesedihan atau keputusasaan? Mulailah dengan tindakan kecil: berikan makanan, tawarkan doa, atau dengarkan keluhan mereka.
Dengan melakukan ini, kamu sedang meneruskan misi Yesus, dan kabar baik yang kamu bawa menjadi nyata di hadapan mereka.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana mengetahui kita sudah diurapi untuk membawa kabar baik.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!
Apa syarat utama untuk diselamatkan menurut Roma 10:13, dan apa yang membuat syarat ini terbuka bagi semua orang?
Mengapa Paulus mengajukan pertanyaan berantai dalam ayat 14-15 (bagaimana mereka percaya, mendengar, dan diberitakan)? Apa maksudnya?
Apa artinya “kaki yang indah” (ayat 15), dan bagaimana kita bisa memiliki “kaki yang indah” di zaman sekarang?
“…Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Roma 10:15).
Bayangkan seorang utusan yang berlari melintasi padang pasir, melewati medan yang terjal dan berbahaya, hanya untuk menyampaikan kabar bahwa perang telah usai dan damai telah tiba.
Orang-orang di kota yang menantikan kabar itu akan menyambutnya dengan sukacita.
Betapa indahnya kaki orang yang membawa kabar baik! Paulus menggunakan gambaran ini untuk menunjukkan betapa berharganya pemberita Injil.
Kabar baik yang mereka bawa bukan sekadar kabar biasa, tetapi kabar tentang keselamatan: bahwa Allah telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya melalui Yesus Kristus.
Hari ini, kita mungkin tidak berlari melintasi padang pasir, tetapi kita dipanggil untuk membawa kabar yang sama kepada orang-orang di sekitar kita.
Keselamatan diberikan kepada siapa pun yang berseru kepada nama Tuhan.
Tidak ada batasan suku, agama, status, atau masa lalu.
Siapa pun yang dengan iman memanggil nama Yesus akan diselamatkan.
Ini adalah kabar baik yang luar biasa! Tetapi Paulus menunjukkan bahwa orang tidak bisa berseru jika mereka tidak percaya, dan mereka tidak bisa percaya jika mereka tidak mendengar, dan mereka tidak bisa mendengar jika tidak ada yang memberitakan.
Maka, pemberitaan Injil bukanlah pilihan, tetapi keharusan.
Kita memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kabar baik ini.
Bukan karena kita hebat, tetapi karena kita telah menerima kasih karunia yang sama dan kita ingin orang lain juga menerimanya.
“Kaki yang indah” melambangkan kesediaan untuk pergi dan memberitakan kabar baik.
Ini bukan tentang penampilan fisik, tetapi tentang kesediaan untuk melangkah keluar dari zona nyaman.
Para utusan di zaman Yesaya harus berlari jauh, melewati bahaya, dan menghadapi ketidakpastian.
Demikian pula, memberitakan Injil seringkali membutuhkan pengorbanan: waktu, tenaga, bahkan mungkin menghadapi penolakan.
Tetapi Paulus berkata bahwa kaki itu indah – bukan karena nyaman, tetapi karena tujuan yang mulia.
Setiap langkah yang diambil untuk membawa kabar keselamatan adalah langkah yang berharga di mata Tuhan.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Berdoalah dan Mintalah Keberanian untuk Bersaksi.
Tidak semua orang dipanggil untuk menjadi penginjil di negeri asing, tetapi semua orang percaya dipanggil untuk menjadi saksi di tempat mereka masing-masing.
Mulailah dengan berdoa: “Tuhan, berikan aku keberanian untuk berbicara tentang kasih-Mu kepada orang-orang di sekitarku.”
Kedua, Jadilah Kabar Baik Melalui Hidupmu.
Sebelum orang mendengar kabar baik dari mulutmu, mereka akan melihatnya dari hidupmu.
Tunjukkan kasih, kebaikan, dan pengampunan dalam tindakan sehari-hari.
Dengan begitu, perkataanmu tentang Yesus akan terdengar lebih meyakinkan.
Siapa tahu, melalui satu langkah kecilmu hari ini, seseorang bisa berseru kepada nama Tuhan dan diselamatkan.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana hubungan kesaksian hidup dengan berita injil.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!
Mengapa Yohanes Pembaptis yang dulu sangat yakin, kini menjadi ragu dan mengirim utusan untuk bertanya kepada Yesus?
Apa jawaban Yesus kepada Yohanes (ayat 4-5), dan mengapa Ia tidak langsung berkata, “Ya, Akulah Mesias”?
Apa artinya “orang miskin diberitakan kabar baik” (ayat 5), dan bagaimana kita bisa menjadi bagian dari kabar baik itu bagi orang-orang di sekitar kita?
“Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat” (Matius 11:4).
Yohanes Pembaptis adalah orang yang luar biasa.
Ia dipenuhi Roh sejak dalam kandungan, berani berkhotbah di padang gurun, dan bahkan memperkenalkan Yesus sebagai “Anak Domba Allah.”
Namun kini, ia berada di penjara yang gelap dan dingin.
Di tengah penderitaan itu, keraguan muncul: “Apakah Yesus benar-benar Mesias?” Kita mungkin berpikir orang rohani tidak boleh ragu.
Tetapi Alkitab mencatat keraguan Yohanes tanpa menghakimi.
Ini adalah kabar baik bagi kita: Tuhan tidak membenci keraguan yang jujur.
Yang penting, Yohanes tidak memendam keraguannya; ia membawanya langsung kepada Yesus.
Ketika iman kita goyah, tempat terbaik untuk pergi adalah kepada Tuhan sendiri.
Tanda-tanda Kerajaan Allah bukanlah tentang kekuasaan politik atau kemakmuran duniawi.
Yohanes mungkin mengharapkan Mesias yang akan membebaskan Israel dari penjajahan Romawi, membebaskan penjara, dan mengembalikan kejayaan Israel.
Tetapi Yesus menunjukkan tanda yang berbeda: penyembuhan, pengusiran setan, dan kabar baik bagi orang miskin.
Kerajaan Allah datang bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kasih dan pemulihan.
Tanda-tanda ini menunjukkan bahwa kuasa Allah sedang memulihkan apa yang rusak akibat dosa.
Dunia kita saat ini juga sering mendefinisikan “kekuatan” dengan kekuasaan, uang, dan pengaruh.
Tetapi Yesus menunjukkan bahwa kekuatan sejati adalah ketika orang buta melihat, orang miskin mendengar kabar baik, dan orang yang terpinggirkan dipulihkan martabatnya.
Kabar baik Kerajaan Allah bukan sekadar teori, tetapi dapat dilihat dan dirasakan secara nyata.
Yesus tidak menjawab pertanyaan Yohanes dengan khotbah panjang tentang teologi.
Ia berkata: “Apa yang kamu dengar dan lihat.” Kesembuhan orang buta, lumpuh, kusta, dan tuli adalah bukti konkret bahwa Allah bekerja.
Orang mati dibangkitkan adalah bukti bahwa hidup mengalahkan maut.
Dan orang miskin diberitakan kabar baik menunjukkan bahwa Injil bukan untuk orang kaya atau berkuasa saja, tetapi untuk semua orang, terutama yang lemah dan terpinggirkan.
Hari ini, kita juga perlu melihat tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan kita: pertobatan, pengampunan, pemulihan hubungan, dan kuasa untuk mengasihi orang yang sulit dikasihi.
Tanda-tanda itu nyata dan dapat dirasakan.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Bawalah Keraguanmu kepada Yesus, Bukan Dipendam.
Jika imanmu sedang goyah karena doa belum dijawab, atau karena situasi hidup yang sulit, jangan berpura-pura kuat.
Datanglah kepada Yesus dengan jujur, seperti Yohanes. Tuhan tidak akan marah.
Ia akan menunjukkan kepadamu tanda-tanda kasih-Nya yang mungkin selama ini tidak kamu sadari.
Kedua, Jadilah Tanda Kabar Baik bagi Orang Lain.
Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang tidak kecewa dan menolak Aku.”
Kita bisa menjadi berkat dengan menjadi “tanda” Kerajaan Allah bagi orang lain: membawa penyembuhan bagi yang terluka, memberikan kabar baik bagi yang putus asa, dan menunjukkan kasih bagi yang terpinggirkan.
Dengan demikian, kita ikut menyatakan bahwa Kerajaan Allah sudah datang di tengah dunia ini.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana cara praktis membawa tanda-tanda kabar baik.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!
Apa yang dimaksud Yesus dengan “Anak Manusia harus ditinggikan” (ayat 14), dan bagaimana itu menyelamatkan kita?
Mengapa kasih Allah disebut “begitu besar” (ayat 16), dan apa yang membuat kasih itu istimewa?
Apa tujuan kedatangan Yesus ke dunia menurut ayat 17: untuk menghakimi atau menyelamatkan? Mengapa itu penting?
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).
Nikodemus datang kepada Yesus di malam hari, mungkin karena takut diketahui orang lain.
Ia adalah orang yang saleh, guru agama, dan sangat menghormati Taurat.
Namun di dalam hatinya, ada kerinduan yang lebih dalam: ia merasa agamanya belum cukup.
Yesus tidak menjawab dengan teori yang rumit.
Ia memberikan gambaran yang sederhana namun dalam: “Seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.”
Yesus sedang berbicara tentang kematian-Nya di kayu salib.
Di tengah kegelapan malam, Yesus menerangi hati Nikodemus dengan kabar tentang kasih Allah yang melampaui segala peraturan agama.
Keselamatan adalah karunia yang diterima dengan iman, bukan hasil usaha manusia.
Ular tembaga di padang gurun adalah gambaran yang kuat.
Ular itu tidak menyembuhkan dengan cara yang rumit; orang Israel hanya perlu memandangnya.
Demikian juga, Yesus tidak meminta Nikodemus untuk menjadi lebih baik atau lebih saleh.
Ia memintanya untuk percaya. Salib adalah tempat di mana hukuman dosa ditanggung oleh Anak Allah.
Kita tidak perlu berbuat apa pun untuk diselamatkan, kecuali menerima dengan iman.
Inilah yang membuat kasih Allah begitu indah: Ia memberikan jalan keluar yang sederhana, tetapi sangat dalam.
Kasih Allah tidak terbatas pada satu bangsa atau kelompok; ia menjangkau seluruh dunia. Yohanes 3:16 berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini.”
Ini luar biasa! Pada zaman itu, banyak orang Yahudi berpikir Mesias hanya untuk mereka.
Tetapi Yesus mengatakan bahwa kasih Allah meluas ke semua orang, dari segala suku, bangsa, dan latar belakang.
Tidak peduli siapa kamu, apa yang telah kamu perbuat, atau seberapa jauh kamu dari Tuhan – kasih-Nya tetap terbuka lebar.
Dan tujuan kasih itu bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyelamatkan (ayat 17).
Allah tidak mengirim Anak-Nya untuk menghukum dunia, tetapi untuk menebusnya.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Terimalah Kasih-Nya dengan Iman.
Jangan biarkan rasa bersalah atau perasaan tidak layak menjauhkanmu dari Tuhan.
Kasih Allah tidak berdasarkan kelayakanmu, tetapi berdasarkan kebaikan-Nya.
Setiap hari, ingatlah bahwa Yesus sudah mati untukmu.
Percayalah bahwa pengampunan dan hidup kekal adalah milikmu.
Kedua, Bagikan Kasih Itu kepada Orang Lain.
Karena Allah mengasihi dunia, kita juga dipanggil untuk mengasihi orang-orang di sekitar kita.
Cobalah untuk melihat orang lain dengan mata kasih, sama seperti Tuhan melihat mereka.
Sampaikan kabar baik ini kepada mereka yang belum tahu, baik melalui kata-kata maupun tindakan nyata.
Inilah cara kita menjadi saluran kasih Allah di dunia.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya melihat dengan mata kasih.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!
Apa tugas utama Yohanes Pembaptis menurut Lukas 1:76-77, dan apa artinya bagi kita hari ini?
Apa yang dimaksud dengan “memberikan pengetahuan tentang keselamatan kepada umat-Nya”? Bagaimana kita bisa melakukannya?
Mengapa Yohanes harus tinggal di padang gurun dan “makin kuat rohnya” (ayat 80) sebelum ia mulai melayani?
Zakharia dan istrinya, Elisabet, sudah tua dan tidak memiliki anak.
Tetapi Tuhan memberi mereka seorang putra yang luar biasa, yaitu Yohanes Pembaptis.
Sejak lahir, Yohanes sudah memiliki tugas besar: mempersiapkan jalan bagi Tuhan.
Bayangkan, seorang bayi yang baru lahir sudah ditentukan untuk menjadi pembuka jalan bagi Juruselamat dunia.
Ini menunjukkan bahwa setiap orang percaya memiliki panggilan ilahi.
Kita mungkin tidak menjadi Yohanes Pembaptis, tetapi kita juga dipanggil untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan di tengah dunia ini.
Tugas utama kita adalah menyiapkan hati orang lain untuk menerima Tuhan.
Yohanes diberi mandat untuk “memberikan pengetahuan tentang keselamatan kepada umat-Nya.”
Ini bukan tentang membangun gedung megah atau mengadakan acara spektakuler.
Ini tentang memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa, sehingga hati orang-orang siap menerima Yesus.
Kita dipanggil untuk menjadi pembuka jalan: dengan perkataan yang jujur, hidup yang benar, dan kasih yang nyata, kita sedang “meratakan jalan” bagi Tuhan untuk masuk ke dalam hati orang-orang di sekitar kita.
Seperti Yohanes yang berseru di padang gurun, kita dipanggil untuk berseru di tengah dunia yang sibuk dan bising ini.
Kita tidak bisa mempersiapkan jalan bagi orang lain jika kita sendiri tidak siap.
Ayat 80 mencatat bahwa Yohanes “bertambah besar dan makin kuat rohnya” serta tinggal di padang gurun.
Ini adalah waktu persiapan yang panjang. Yohanes tidak langsung tampil di depan umum; ia diproses di padang gurun, jauh dari keramaian.
Ia dibentuk oleh Roh Kudus, diperkuat dalam doa dan pengasingan.
Baru setelah ia matang, ia mulai melayani. Ini mengajarkan kita bahwa pelayanan yang efektif lahir dari kehidupan yang intim dengan Tuhan.
Sebelum kita berbicara kepada orang lain, kita harus mendengar Tuhan lebih dulu.
Sebelum kita menunjukkan jalan, kita harus berjalan di jalan itu sendiri.
Persiapan rohani adalah fondasi dari pelayanan yang berbuah.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Persiapkan Hatimu Setiap Hari.
Sebelum keluar untuk melayani atau bersaksi, luangkan waktu untuk bertemu dengan Tuhan.
Baca firman, berdoa, dan periksa hatimu. Minta Roh Kudus memenuhi dan memurnikanmu.
Jika hatimu sendiri belum siap, suaramu akan sia-sia.
Kedua, Jadilah Pembuka Jalan bagi Orang Lain.
Coba perhatikan satu atau dua orang di sekitarmu yang belum mengenal Yesus.
Doakan mereka secara teratur.
Cari kesempatan untuk berbicara tentang kasih Tuhan, bukan dengan menggurui, tetapi dengan kasih dan kesabaran.
Tindakan kecil seperti mendengarkan keluhan mereka, membantu mereka di saat sulit, atau mengundang mereka ke persekutuan adalah cara nyata untuk “menyiapkan jalan” bagi Tuhan memasuki hati mereka.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana cara praktis membuka jalan bagi Tuhan.