Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa syaratnya, jika selubung itu bisa diambil?
Apa yang dimaksud selubung atau veil dalam konteks ayat 16?
Dimana ada Roh Allah disitu ada kemerdekaan. Apa yang dimaksud kata “Merdeka” tersebut?
Latar belakang Rasul Paulus menuliskan surat 2 Korintus 3, salah satunya adalah untuk menjelaskan perbedaan Perjanjian Lama (“hukum Taurat”) yang menuntut, memberi kesadaran akan dosa, tetapi menghukum karena manusia tidak sanggup memenuhinya.
Dan Perjanjian Baru (melalui Kristus dan Roh Kudus) yang tidak hanya memberi hukum, tetapi mengubah hati.
Setelah Musa berjumpa dengan Allah di gunung sinai dan turun kembali untuk berjumpa dengan orang Israel, mukanya bercahaya, sehingga ia menggunakan kain selubung atau “veil” untuk menutupi wajah fisiknya yang bercahaya itu, agar bangsa Israel tidak takut dan dapat mendekat kepadanya.
Bangsa Israel tidak tahu bahwa cahaya itu bersifat sementara dan akan memudar.
Hanya Musa yang sadar bahwa kemuliaan itu bersifat sementara. Paulus kemudian menafsirkan selubung ini sebagai simbol hati yang tertutup terhadap pengenalan akan Kristus, karena mereka tidak “melihat kemuliaan yang kekal”.
Ayat 16 menyatakan bahwa ketika seseorang “berbalik kepada Tuhan,” maka selubung itu diambil. Ini berarti hanya orang yang mau bertobat dan percaya kepada Kristus anak Allah yang hidup, maka penghalang itu akan disingkirkan dari padanya.
Penyingkapan selubung ini bisa terjadi karena ada Roh Kudus yang bekerja di dalam hati kita.
Di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.
Sehingga kita bebas dari dosa dan perbudakan maut.
Bebas untuk memandang dan mendekat kepada Allah tanpa rasa takut seperti yang dialami Musa di atas gunung.
Kita bebas untuk mengenal Dia dan mengalami perubahan hidup yang sejati.
Berbeda dengan wajah Musa yang cahayanya semakin redup, kemuliaan dalam diri orang percaya bersifat dinamis dan semakin meningkat kian hari.
Memang perubahan ini tidak serta merta terjadi begitu saja.
Perubahan ini memerlukan waktu dan proses dari satu tahap kemuliaan ke tahap berikutnya.
Kuncinya sederhana, yaitu seberapa besar kemauan kita untuk mengenal Dia setiap hari?
Dan seberapa besar kita menumbuhkan didalam hati kita Rasa Lapar dan Haus akan Firman Tuhan setiap hari?
Dengan sikap demikian, maka kita akan mengalami kemerdekaan dan keserupaan dengan Kristus.
Diskusikan bagaimana caranya agar selubung atau veil dalam hati kita bisa tersingkap, sehingga setiap hari kita mengenal Dia lebih dalam?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa saja janji-janji Allah yg di maksud dari Roma 8:15-17?
Siapa yang bersaksi dengan roh kita, bahwa kita adalah anak Allah?
Siapa yang berhak menerima janji Allah? (Ayat 17)
Jika ada yang bertanya, siapa yang senang jika janjinya ditepati oleh orang yg membuat janji?
Pasti kita yang menerima janji tersebut sangat senang, apabila janji itu ditepati.
Terlebih lagi apabila Tuhan sendiri menepati janji kepada kita anak-anak-Nya.
Surat Roma 8:15-17 menyatakan, janji Allah itu adalah “Warisan Rohani” bagi orang yg sudah percaya kepada Kristus.
Jadi bukan karena kebaikan, pengalaman, harta atau usaha kita yang membuat kita selamat, tetapi semata-mata karena Kristuslah yang telah memberikan secara cuma-cuma.
Sehingga kita sebagai anak-anak Allah, kita berhak mewarisi segala sesuatu yang Kristus miliki.
Adapun janji yang dimaksud adalah; Keselamatan kekal, kehidupan bersama Allah, dan juga berkat-berkat surgawi yang sudah disediakan Kristus untuk kita.
Bahkan kita disebut “ahli waris Allah dan satu-satu ahli waris dengan Kristus”.
Hal Ini berarti kita tidak hanya mendapat janji tentang kemuliaan yang akan kita terima kelak, tetapi kita juga harus siap mengalami penderitaan dalam mengiring Dia setiap hari!
Dalam Roma 8:15 Rasul Paulus juga menekankan tentang Identitas orang percaya sebagai anak dan ahli waris Allah.
Jadi kita tidak lagi hidup sebagai budak/hamba dosa yang hidup dalam ketakutan, tetapi kini status kita adalah anak (bukan status fisik atau dilahirkan secara biologis), namun identitas kita adalah anak yang di angkat “adopsi” (bahasa Yunani: huiothesia) yang berarti pengangkatan sebagai anak sah secara legal dan memiliki hak penuh sebagai anggota keluarga baru.
Dalam budaya Romawi masa itu, anak yang diadopsi, jika bukan dari darah keluarga, tetap bisa mendapat semua hak dan warisan seperti anak biologis.
Dan hukum itu berlaku juga sampai dengan sekarang.
Status ini adalah suatu hal yang penting, sekaligus hal yang istimewa untuk kita.
Kita memiliki hubungan atau relasi yang intim dengan Allah sang pencipta melalui Yesus dan roh kudus, sehingga kita dapat dengan berani berseru “ya Abba ya Bapa”.
Dengan status yang kita miliki saat ini, apakah kita sadar bahwa kita adalah anak Allah yang betul-betul merdeka dari dosa dan mewarisi segala janji Allah tentang hidup yang kekal dan hidup yang diberkati?
Jika kita sadar, mengapa kita masih takut, kuatir, cemas berlebihan tentang hidup kita; tentang apa yang kita makan-minum, tentang apa yang kita akan pakai dan takut menghadapi masa depan kita?
seolah-olah kita kurang percaya atau ragu akan status kita, bahwa kita sudah diadopsi menjadi anak-anak Allah yang juga ahli waris yang berhak menerima segala janji Allah!
Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing, dan coba kita renungkan kembali, betulkah kita percaya kepada Dia dengan sepenuh hati dan betulkah status kita saat ini sudah menjadi anak Allah yang sejati?
Apa alasan, yang mana status kita saat ini adalah anak Allah, tetapi dalam prakteknya kita kurang percaya atau ragu-ragu bahwa kita adalah anak yang berhak menerima segala janji-janji Allah? Diskusikanlah dengan kelompok PA dan juga di dalam kelompok persekutuan kita.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa Yesus disebut sebagai Firman Hidup, dan apa maknanya bagi umat percaya di masa kini?
Persekutuan seperti apakah yang Tuhan kehendaki ada di antara umat percaya dan bagaimana hal tersebut diwujudkan untuk membawa orang semakin mengenal Tuhan?
Saudara, tanpa Kristus, orang memang bisa bersekutu satu dengan yang lain, umumnya persatuan itu terjadi karena: kesamaan hobi, kesamaan latar belakang, kesamaan status sosial.
Tetapi persatuan semacam itu tidak cukup untuk menyebabkan orang menjadi lebih baik, perilakunya berubah menjadi lebih baik.
Itulah sebabnya manusia butuh Kristus, yang bukan hanya akan membawa mereka berubah semakin baik, tapi yang jauh lebih penting, supaya mereka dibenarkan.
Kata persekutuan yang ada dalam Perjanjian Baru berasal dari bahasa Yunani, koinonia yang artinya: kemitraan; hubungan yang erat; berbagi hidup dan ikatan yang nyata dan aktif.
Oleh karena pengorbanan Kristus di kayu salib, manusia yang berdosa diperdamaikan dengan Allah, diselamatkan dan manusia dapat mengenal Allah sebagai Bapa, bukan Allah yang jauh.
Tanpa Kristus, persekutuan dengan Allah tidak mungkin terjadi.
Tanpa Kristus juga tidak akan terjadi persekutuan sejati di antara umat manusia.
Karena oleh pengorbanan Kristus, maka semua orang percaya akan menerima Kristus yang sama, hidup dari anugerah yang sama, dipersatukan oleh Roh yang sama.
Dengan demikian Kristus akan memulihkan dua macam persekutuan, yaitu persekutuan horizontal antar umat percaya dan persekutuan vertical antara umat percaya dengan Allah Bapa.
Persekutuan umat percaya dengan Bapa dan Anak itu bersifat hidup dan aktif.
Artinya persekutuan ini bukan konsep teologi semata tetapi melibatkan doa, firman, ketaatan, dan kasih, itu juga adalah hubungan yang terus bertumbuh.
Ini berarti orang percaya akan hidup dalam kesadaran bahwa Allah hadir, bahwa kita akan mengalami bimbingan dan pimpinan Tuhan, kita juga akan menikmati kasih dan penghiburan ilahi.
Bukankah lebih dari segalanya, kita membutuhkan arahan Tuhan, pimpinan Tuhan, juga koreksi atau teguran Tuhan jika kita berbuat salah.
Persekutuan dengan Bapa dan Kristus itulah yang akan membuat kita semakin peka untuk mendengar suara Allah dan memahami petunjuk-petunjuk-Nya.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan bagaimana membangunpersekutuan sejati di antara sesama orang percaya.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa arti “mencari dan memikirkan perkara yang di atas” dalam kehidupan sehari-hari kita?
Hal-hal duniawi apa saja yang perlu kita “matikan” supaya hidup kita benar-benar mencerminkan Kristus yang hidup dalam kita?
Firman Tuhan menyatakan bahwa kita orang percaya adalah orang yang telah dibangkitkan bersama dengan Kristus.
Ini menunjukkan bahwa hidup rohani kita dimulai dari apa yang sudah Allah lakukan, bukan dari usaha manusia.
Orang percaya telah mati dan bangkit bersama Kristus, dan ini sesungguhnya sebuah perubahan status rohani yang radikal.
Karena itu, hidup orang percaya tidak lagi berpusat pada diri sendiri atau dunia, melainkan diarahkan kepada Kristus yang “duduk di sebelah kanan Allah”.
Kebangkitan bersama Kristus memberi dasar untuk cara hidup yang baru.
Tuhan juga meminta kita untuk mencari dan memikirkan perkara yang di atas.
Hal ini menekankan dua tindakan yang sesungguhnya sangat penting, yaitu agar kita mencari dan memikirkan perkara yang di atas.
Mencari berbicara tentang tujuan dan arah hidup kita.
Sedang memikirkan berbicara tentang pola pikir dan isi hati kita.
Dengan demikian umat percaya akan menjalani hidup “duniawi” tetapi dengan perspektif surgawi.
Kita tetap bekerja di mana pun sesuai dengan profesi kita, kita juga berinteraksi dengan rekan di kantor atau teman kuliah, dan melayani, tetapi dengan nilai dan motivasi yang berbeda, bukan demi diri sendiri, melainkan demi Kristus.
“Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” (Kolose 3:3).
Hidup yang tersembunyi berarti jati diri kita ada di dalam Kristus, nilai hidup kita tidak ditentukan oleh penilaian dunia, dan sumber kekuatan kita berasal dari hubungan kita dengan Tuhan.
Dengan hidup yang tersembunyi bersama Kristus maka kita akan hidup dan menjalaninya dengan ketaatan yang nyata.
Dunia mungkin tidak selalu melihat atau menghargainya, tetapi Allah mengenal hidup yang tersembunyi itu dengan sempurna.
Ketika hidup kita tersembunyi di dalam Kristus, kita tidak perlu takut kehilangan apa pun di dunia, karena kita telah memiliki hidup yang sejati di dalam Dia.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan bagaimana orang percaya belajar hidup bukan untuk terlihat, tetapi untuk setia; bukan untuk dunia, tetapi untuk Kristus.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa artinya hidup dalam Roh dan bukan dalam daging, dan bagaimana Roh Kristus yang diam di dalam kita mempengaruhi cara kita berpikir, memilih, dan bertindak setiap hari?
Bagaimana keyakinan bahwa Roh yang membangkitkan Yesus juga diam di dalam kita memberi pengharapan dan kekuatan dalam kehidupan kita saat ini?
Kitab Roma pasal 8 sering disebut sebagai “mahkota surat Roma”, bahkan salah satu pasal terpenting dalam seluruh Alkitab.
Keistimewaannya bukan hanya karena isinya yang tersusun dengan indah, tetapi karena Roma pasal 8 merangkum kehidupan Kristen dari awal hingga akhir: dari pembebasan, pimpinan Roh, penderitaan, sampai kemuliaan kekal.
Roma 8:9 menyatakan bahwa orang percaya tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika Roh Allah diam di dalamnya. Ini bukan berarti tubuh jasmani tidak lagi ada, tetapi pusat kendali hidup telah berubah.
Hidup dalam daging berarti dikendalikan oleh dosa, ego, dan keinginan manusia lama.
Hidup dalam Roh berarti hidup di bawah pimpinan Roh Kudus, dengan kehendak Allah sebagai arah hidup kita.
Jati diri orang percaya tidak lagi ditentukan oleh masa lalu, kegagalan, atau kelemahan, tetapi oleh kehadiran Roh Kristus di dalam diri kita.
Firman Tuhan bahkan menegaskan: jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.
Artinya, Roh Kudus bukan pelengkap iman, melainkan inti kehidupan Kristen.
Roma 8:10 berbicara dengan lugas tentang dua realita yang berjalan bersamaan: Tubuh masih berada dalam dunia yang dikuasai dosa dan kematian.
Tetapi roh orang percaya hidup oleh karena kebenaran.
Ini menjelaskan mengapa orang Kristen tetap mengalami pergumulan, penderitaan, dan kelemahan.
Namun perbedaannya adalah: hidup ilahi sudah bekerja di dalam kita.
Kristus tidak hanya menjadi teladan di luar, tetapi Sumber kehidupan di dalam.
Karena itu, kehidupan Kristen bukan soal berusaha menjadi benar dengan kekuatan sendiri, melainkan membiarkan kehidupan Kristus dinyatakan melalui ketaatan dan iman.
Roma 8:11 menjadi pemuncak: “…Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu….”
Ini berarti Roh Kudus adalah Roh kebangkitan.
Kuasa yang mengalahkan maut tidak jauh dari kita. Allah bekerja dari dalam untuk memberi kehidupan.
Janji ini memiliki dua dimensi: Janji masa depan, kebangkitan tubuh pada akhir zaman.
Dan kenyataan masa kini: hidup baru, kekuatan baru, dan pengharapan baru setiap hari.
Roh Kristus menolong kita berpikir menurut kebenaran, bukan dikuasai ketakutan, iri hati, atau hawa nafsu.
Kita belajar melihat hidup dari sudut pandang Allah.
Belajar hidup dipimpin Roh!
Dengan demikian orang yang hidup yang dipimpin oleh Roh akan memiliki sifat ini:
Peka terhadap suara Tuhan.
Cepat bertobat saat menyadari melakukan kesalahan.
Senang diajar dan mau dibentuk dari hari ke hari.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan bagaimana agar engkau bisa lebih konsisten hidup dipimpin oleh Roh.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa arti “kepenuhan Kristus” dalam hidup orang percaya, dan bagaimana kita mengalami “kasih karunia demi kasih karunia” secara nyata dalam kehidupan sehari-hari?
Apakah perbedaan antara hukum Taurat yang diberikan melalui Musa dan kasih karunia serta kebenaran yang datang melalui Yesus Kristus menolong kita mengenal Allah dengan benar?
Yohanes 1:16 “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.”
Bagian Firman Allah ini berarti kita sebagai umat percaya menerima kasih karunia yang terus-menerus, berlapis, dan tidak pernah habis.
Bukan satu kali pengalaman rohani, melainkan anugerah Allah yang datang silih berganti sepanjang hidup kita orang percaya.
Gambaran sederhananya: Bukan satu berkat lalu selesai, tetapi: satu kasih karunia digantikan oleh kasih karunia berikutnya.
Bukan hidup dari pengalaman rohani masa lalu, tetapi hidup dari aliran anugerah yang terus baru.
Dengan kata lain, Allah tidak hanya menyelamatkan kita oleh kasih karunia, tetapi memelihara, menuntun, menegur, dan menguatkan kita juga oleh kasih karunia dan anugerah-Nya.
Saudara, hukum Taurat menyadarkan manusia akan dosa, sedangkan kasih karunia di dalam Kristus memberi jalan pemulihan, bukan penghukuman.
Di dalam Yesus, kita mengenal Allah sebagai Bapa yang penuh kasih, bukan Hakim yang siap-siap menjatuhkan hukuman atas kita.
Karena kita hidup di dalam Kristus, maka hidup kita ditopang oleh kasih karunia yang terus mengalir.
Sehingga saat kita jatuh, ada kasih karunia pengampunan.
Karena sebagai orang percaya bukan berarti kita tidak pernah jatuh, tetapi ada anugerah untuk dosa kita diampuni, ada anugerah untuk kita bangkit kembali.
“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” (Amsal 24:16).
Saat musim atau periode kehidupan kita berganti, kasih karunia pun akan tetap mengalir.
Di masa muda: kasih karunia untuk belajar dan diarahkan
Di masa dewasa: kasih karunia untuk bertanggung jawab
Di masa sulit: kasih karunia untuk bertahan
Di masa berhasil: kasih karunia untuk kita tetap rendah hati
Kasih karunia Tuhan akan selalu relevan dengan musim hidup kita.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan sedang di periode atau musim mana engkau saat ini dan apakah engkau mengalami kasih karunia Tuhan di masa kini.