Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah Hizkia dalam kisah 2 Raja-raja 20:1–6?
Apa yang terjadi dengan kesehatan Hizkia?
Siapakah yang datang menyampaikan pesan Tuhan kepada Hizkia?
Ada saat-saat dalam kehidupan ketika kita menerima berita yang sangat berat.
Penyakit, kelemahan tubuh, masalah keluarga, atau keadaan yang seolah-olah tidak memiliki jalan keluar dapat membuat seseorang mengeluh bahkan kehilangan harapan.
Hal yang sama dialami oleh Hizkia.
Ia adalah seorang raja, tetapi kedudukannya tidak membuatnya kebal terhadap sakit dan penderitaan.
Dalam 2 Raja-raja 20:1, nabi Yesaya datang kepadanya dan menyampaikan pesan bahwa ia harus menyelesaikan urusan keluarganya karena ia akan mati dan tidak akan sembuh.
Mendengar berita tersebut, Hizkia tidak mencari pelarian.
Ia menghadapkan wajahnya kepada Tuhan dan berdoa.
Ia menangis di hadapan Tuhan dan mengingat bagaimana selama ini ia hidup di hadapan-Nya.
Menariknya, ketika Hizkia sedang berdoa, Tuhan memberikan jawaban.
Tuhan berkata kepada Yesaya Aku telah mendengar doamu dan telah melihat air matamu.
Kemudian Tuhan menyampaikan berita yang penuh pengharapan: Sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau.
Kisah Hizkia mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak jauh dari orang yang sedang mengalami penderitaan.
Tuhan mendengar doa dan melihat air mata. Ada kalanya manusia tidak memahami apa yang sedang kita alami.
Bahkan orang-orang terdekat kita mungkin tidak mengerti betapa beratnya pergumulan yang sedang kita hadapi.
Tetapi Tuhan mengetahui semuanya. Air mata Hizkia tidak tersembunyi dari Tuhan. Doanya tidak sia-sia.
Karena itu, ketika kita sedang menghadapi sakit atau ketika melihat seseorang menderita karena penyakit, jangan berhenti berharap kepada Tuhan.
Bawalah pergumulan itu dalam doa.
Kita menjadi Pembawa Berita Kesembuhan dipanggil bukan hanya untuk menerima pertolongan Tuhan, tetapi juga menjadi pembawa pengharapan bagi orang lain.
Ketika ada orang sakit, mungkin ia tidak membutuhkan banyak nasihat.
Ia mungkin membutuhkan seseorang yang mau hadir, mendengarkan, memegang tangannya, mendoakannya, dan berkata jangan kehilangan harapan, mari kita datang kepada Tuhan dalam doa.
Berita kesembuhan bukan berarti kita menjanjikan bahwa setiap orang pasti langsung sembuh.
Kita tidak menentukan bagaimana Tuhan harus menjawab doa.
Namun kita dapat membawa berita bahwa Tuhan peduli, Tuhan mendengar, Tuhan sanggup menolong, dan kita tidak pernah sendirian.
Hizkia menerima berita kesembuhan dari Tuhan.
Namun yang perlu kita perhatikan adalah sikap hatinya sebelum menerima jawaban tersebut.
Ia datang kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Iman bukan berarti kita tidak pernah takut atau menangis.
Iman berarti kita tetap datang kepada Tuhan sekalipun kita sedang takut dan menangis.
Ada orang yang berkata, Kalau saya menangis, berarti saya tidak beriman, tidak demikian.
Hizkia menangis, tetapi ia juga berdoa. Ia mengalami kesedihan, tetapi ia tetap mencari Tuhan.
Air mata tidak selalu menunjukkan kelemahan iman.
Kadang-kadang air mata justru menjadi bagian dari doa yang paling jujur di hadapan Tuhan.
Ketika Tuhan memberikan pertolongan, jangan lupa untuk bersyukur dan bersaksi.
Kesembuhan Hizkia menjadi bukti bahwa Tuhan mendengar doanya.
Demikian juga ketika kita mengalami pertolongan Tuhan dalam kehidupan kita, pengalaman tersebut dapat menjadi kesaksian yang menguatkan orang lain.
Mungkin kesaksian kita sederhana.
Mungkin kita pernah sakit, takut, kecewa, atau berada dalam keadaan sulit, tetapi Tuhan memberikan kekuatan dan pertolongan.
Oleh karena itu jangan meremehkan kesaksian itu, karena apa yang Tuhan lakukan dalam hidup kita, hal tersebut dapat menjadi berita pengharapan bagi orang lain.
Jika kamu berada di posisi Hizkia, apa yang akan kamu lakukan ketika menerima berita yang sangat berat? Mengapa menurutmu, Tuhan ingin kita tetap berdoa ketika menghadapi penderitaan? Bagaimana seorang dapat menjadi pembawa berita kesembuhan bagi teman-temannya di sekolah, kampus, pekerjaan, keluarga, atau gereja?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa perintah utama Yesus kepada murid-murid-Nya dalam Markus 16:15?
Kepada siapa Injil harus diberitakan?
Setiap orang percaya dipanggil bukan hanya untuk menerima kasih dan keselamatan dari Tuhan, tetapi juga membawa kabar baik kepada orang lain.
Yesus memberikan perintah yang jelas kepada murid-murid-Nya: “Pergilah!”
Kata pergilah menunjukkan bahwa Injil tidak boleh hanya tinggal di dalam gereja.
Injil harus dibawa ke sekolah, kampus, tempat kerja, keluarga, lingkungan masyarakat, dan kepada orang-orang yang sedang mengalami pergumulan.
Pergi berarti bergerak dan mengambil langkah.
Kita tidak dipanggil hanya untuk duduk dan menunggu orang lain datang kepada kita.
Tuhan mengutus kita untuk menjumpai orang-orang di sekitar kita.
Mungkin di sekitar kita ada teman yang sedang sakit.
Ada keluarga yang sedang mengalami masalah.
Ada teman sekolah atau teman kuliah yang sedang mengalami tekanan hidup.
Ada seseorang yang tersenyum di luar, tetapi sebenarnya sedang menangis di dalam hatinya.
Tuhan dapat memakai kita untuk datang kepada mereka, tetapi kadang-kadang kita berpikir bahwa untuk melayani Tuhan kita harus melakukan sesuatu yang besar.
Padahal, pelayanan dapat dimulai dari hal yang sederhana: datang, mendengarkan, menghibur, membantu, dan mendoakan.
Satu kunjungan dapat memberikan penghiburan.
Satu doa dapat membangkitkan harapan.
Satu perkataan tentang kasih Yesus dapat menguatkan seseorang yang hampir menyerah.
Yesus melanjutkan perintah-Nya “Beritakanlah Injil.”
Injil adalah kabar baik tentang Yesus Kristus dan dunia membutuhkan kabar baik itu.
Ada banyak orang yang memiliki pendidikan, pekerjaan, uang, dan berbagai fasilitas, tetapi tetap merasa kosong.
Mereka membutuhkan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh dunia, yaitu pengharapan yang berasal dari Kristus.
Karena itu, jangan malu untuk menceritakan kasih Tuhan.
Kita dapat memberitakan Injil melalui perkataan kita, tetapi juga melalui kehidupan kita.
Ketika kita mengasihi orang lain, mengampuni, menolong, peduli kepada mereka yang menderita, dan tetap memiliki pengharapan dalam kesulitan, kehidupan kita menjadi kesaksian tentang Kristus.
Markus 16:17–18 berbicara tentang tanda-tanda yang menyertai orang percaya, termasuk pelayanan kepada mereka yang sakit.
Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan peduli terhadap manusia secara utuh.
Tuhan memperhatikan tubuh, hati, pikiran, dan kehidupan rohani manusia.
Ketika seseorang sakit, kita dapat hadir dan berkata Saya akan mendoakanmu, ketika seseorang sedang putus asa, kita dapat berkata Jangan menyerah, Tuhan masih mengasihimu.
Namun kita percaya bahwa Tuhan adalah sumber kesembuhan, dan kita dipanggil untuk membawa orang yang sakit kepada-Nya melalui doa dan pelayanan kasih.
Sering kali yang menjadi penghalang bagi kita untuk bersaksi bukan karena kita tidak memiliki kesempatan, tetapi karena kita takut.
Takut ditolak, takut dianggap aneh, takut tidak tahu harus berkata apa, takut tidak mampu menjawab pertanyaan orang lain, dsb.
Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna. Tuhan meminta kita bersedia.
Ketika kita bersedia dipakai Tuhan, Dia dapat menggunakan perkataan sederhana, doa sederhana, bahkan tindakan kecil kita untuk menyentuh kehidupan seseorang.
Karena itu, jangan menunggu sampai kita merasa hebat baru melayani.
Mulailah dari apa yang ada di tangan kita. Jika kita bisa berdoa, berdoalah. Jika kita bisa menghibur, hiburlah.
Jika kita bisa menolong, tolonglah. Jika kita bisa bersaksi, bersaksilah.
Jika kita bisa mengunjungi orang sakit, datangilah mereka.
Saudara-saudari, dunia membutuhkan orang-orang percaya yang bukan hanya berbicara tentang kasih Tuhan, tetapi juga menunjukkan kasih Tuhan.
Jadilah pembawa berita kesembuhan. Ketika ada yang sakit, hadir dan doakan, ketika ada yang terluka, dengarkan.
Ketika ada yang putus asa, berikan pengharapan. Ketika ada yang jauh dari Tuhan, arahkan kepada Kristus.
Ketika ada yang membutuhkan pertolongan, jangan menutup mata.
Mungkin kita tidak dapat menyelesaikan semua masalah seseorang.
Tetapi melalui kita, seseorang dapat merasakan bahwa Tuhan tetap mengasihi orang tersebut apapun kondisinya.
Apakah selama ini saya sudah berani menjadi saksi Kristus? Bagaimana cara memberitakan Injil tanpa membuat orang merasa dipaksa? Apa komitmen pribadi yang dapat kita lakukan setelah memahami Markus 16:15–18?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah Tabita yang disebut dalam Kisah Para Rasul 9:36?
Menurut Kisah Para Rasul 9:42, apa tujuan penting dari peristiwa tersebut?
Ada saat-saat dalam kehidupan ketika kita berhadapan dengan keadaan yang begitu berat.
Sakit, kehilangan, kegagalan, masalah keluarga, pergumulan dalam pendidikan, maupun berbagai persoalan hidup dapat membuat kita merasa seolah-olah tidak ada lagi harapan.
Kisah Tabita dalam Kisah Para Rasul 9:36–42 mengingatkan kita bahwa dalam keadaan yang sulit sekalipun, Tuhan tetap bekerja.
Tabita adalah seorang murid Tuhan yang dikenal karena banyak melakukan kebaikan dan menolong orang lain.
Kehidupannya menjadi berkat bagi banyak orang. Ketika Tabita sakit dan kemudian meninggal, orang-orang yang mengenalnya merasa sangat kehilangan.
Mereka kemudian memanggil Petrus.
Ketika Petrus datang, ia tidak langsung bertindak dengan kekuatannya sendiri.
Petrus menyuruh semua orang keluar, kemudian berlutut dan berdoa.
Di sinilah kita belajar sesuatu yang penting bahwa doa harus menjadi bagian utama ketika kita menghadapi pergumulan.
Sering kali ketika menghadapi masalah, kita lebih dahulu panik.
Kita mencari jalan keluar dengan kekuatan sendiri, bertanya kepada banyak orang, atau merasa takut terhadap keadaan yang ada.
Namun Petrus menunjukkan bahwa ada saatnya kita harus berhenti sejenak, datang kepada Tuhan, berlutut, dan berdoa.
Doa bukan sekadar kata-kata yang kita ucapkan. Doa adalah ungkapan iman bahwa kita percaya Tuhan sanggup melakukan sesuatu yang tidak mampu kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri.
Setelah berdoa, Petrus berkata kepada Tabita, “Bangkitlah!” Dan Tuhan menyatakan kuasa-Nya. Tabita hidup kembali.
Peristiwa tersebut kemudian diketahui oleh banyak orang di Yope.
Kisah Para Rasul 9:42 berkata bahwa banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan.
ni menunjukkan bahwa pemulihan yang Tuhan kerjakan dapat menjadi kesaksian bagi orang lain.
Ketika Tuhan menjawab doa kita, jangan hanya melihatnya sebagai berkat untuk diri sendiri.
Kesaksian tentang pertolongan Tuhan dapat menguatkan iman orang lain.
Mungkin saat ini ada seseorang di sekitar kita yang sedang sakit.
Jangan hanya berkata, “Semoga cepat sembuh.”
Mari kita mengambil waktu untuk berdoa baginya.
Mungkin ada teman yang sedang mengalami tekanan dalam pendidikan, pekerjaan, keluarga, atau kehidupan pribadi.
Jadilah orang yang mau mendengarkan, menguatkan, dan mendoakannya.
Mungkin ada seseorang yang kehilangan pengharapan.
Kehadiran kita, doa kita, dan kasih kita dapat menjadi sarana Tuhan untuk membawa penghiburan.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk membawa berita kesembuhan.
Kita membawa orang yang membutuhkan kepada Tuhan yang berkuasa menyembuhkan dan memulihkan.
Kesembuhan dapat terjadi secara fisik, tetapi pemulihan Tuhan juga dapat menyentuh hati, pikiran, hubungan, iman, dan pengharapan seseorang.
Karena itu, jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah doa.
Satu doa dapat menjadi awal dari sebuah pengharapan.
Satu tindakan kasih dapat menguatkan seseorang yang hampir menyerah.
Satu kesaksian dapat membawa seseorang semakin dekat kepada Tuhan.
Kisah Tabita mengajak kita untuk menjadi orang yang tidak hanya menerima kasih Tuhan, tetapi juga membagikan kasih itu kepada orang lain.
Marilah kita menjadi pribadi yang suka berdoa, suka menolong, dan berani bersaksi tentang kebaikan Tuhan.
Biarlah melalui kehidupan kita, orang lain melihat bahwa di dalam Tuhan masih ada pengharapan, pertolongan, dan pemulihan.
Apa yang dapat kita pelajari dari sikap Petrus ketika menghadapi keadaan yang sulit? Bagaimana pengalaman pertolongan Tuhan dapat menjadi sebuah kesaksian? Apa hubungan antara doa, pemulihan, dan kesaksian dalam kisah Tabita?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang harus dilakukan seseorang ketika sedang mengalami penderitaan menurut Yakobus 5:13?
Siapa yang harus dipanggil oleh orang yang sedang sakit menurut Yakobus 5:14?
Sakit adalah bagian dari kehidupan manusia.
Ketika seseorang mengalami sakit, bukan hanya tubuh yang membutuhkan pertolongan, tetapi hati juga dapat mengalami ketakutan, kecemasan, kesepian, bahkan kehilangan harapan.
Dalam keadaan seperti itu, gereja dipanggil bukan hanya untuk memberitakan tentang kesembuhan, tetapi juga hadir bersama mereka yang sedang menderita.
Salah satu bentuk kehadiran yang paling kuat adalah berdoa bersama. Firman Tuhan dalam Yakobus 5:13–16 memberikan penghiburan bahwa orang yang sedang sakit tidak harus menghadapi pergumulannya seorang diri.
Tuhan menghendaki agar umat-Nya saling memperhatikan dan berdoa bersama.
Yakobus berkata, Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa.
Ini menunjukkan bahwa dalam keadaan apa pun, kita tetap dapat datang kepada Tuhan.
Ketika sehat kita berdoa, ketika mengalami masalah kita berdoa, bahkan ketika tubuh kita sakit pun kita tetap datang kepada Tuhan.
Doa adalah tanda bahwa kita percaya kepada Allah.
Namun, yang menarik dalam bagian ini adalah orang yang sakit diminta untuk memanggil para penatua jemaat.
Artinya, komunitas orang percaya mempunyai peranan penting dalam memberikan dukungan kepada mereka yang sedang sakit.
Kadang-kadang seseorang yang sakit tidak membutuhkan banyak kata-kata.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang hadir, duduk di sampingnya, mendengarkan, memegang tangannya, dan berkata Mari kita berdoa bersama.
Kalimat sederhana itu dapat memberikan kekuatan dan pengharapan.
Yakobus 5:16 mengingatkan kita bahwa doa bukanlah sesuatu yang sia-sia.
Doa membawa kita kepada Allah yang berkuasa.
Kita boleh berdoa memohon kesembuhan, tetapi kita juga menyerahkan hasilnya kepada kehendak Tuhan.
Kita tidak selalu memahami mengapa seseorang harus mengalami sakit.
Kita juga tidak selalu mengetahui kapan kesembuhan akan terjadi.
Tetapi satu hal yang dapat kita Yakini bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya.
Karena itu, ketika ada saudara, teman, keluarga, atau anggota jemaat yang sakit, jangan hanya berkata, “Saya akan mendoakanmu.”
Jika memungkinkan, datanglah dan berdoalah bersama mereka.
Ketika kita melakukan hal itu, kita sedang membawa berita kesembuhan.
Bukan karena kita mempunyai kuasa untuk menyembuhkan, tetapi karena kita membawa mereka datang kepada Yesus Kristus, sumber pengharapan dan pertolongan kita.
Berita kesembuhan juga bukan hanya tentang kesembuhan secara jasmani.
Tuhan dapat memberikan damai sejahtera di tengah sakit, memberikan kekuatan ketika tubuh lemah, memberikan penghiburan ketika hati sedih, dan memberikan pengharapan ketika keadaan terlihat sulit.
Mungkin hari ini ada orang di sekitar kita yang sedang sakit.
Mungkin ada yang sedang menjalani pengobatan.
Mungkin ada keluarga yang sedang mengalami pergumulan karena sakit.
Jangan biarkan mereka merasa sendirian.
Mari kita hadir, mari kita peduli, mari kita berdoa, mari kita menguatkan, sebab melalui doa dan kepedulian kita, mereka dapat merasakan kasih Tuhan.
Anda mengalami atau melihat seseorang yang dikuatkan karena doa bersama? Ceritakan pengalaman tersebut. Menurut Anda, mengapa terkadang orang yang sakit membutuhkan kehadiran kita lebih daripada nasihat kita? Bagaimana gereja atau kelompok persekutuan dapat menjadi tempat penghiburan bagi orang yang sedang sakit?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah yang memanggil kedua belas murid dalam Lukas 9:1?
Apa yang harus diberitakan oleh para murid menurut Lukas 9:2?
Setiap manusia pasti pernah mengalami pergumulan.
Ada yang sakit secara jasmani, ada yang terluka hatinya, kecewa, takut, kehilangan semangat, bahkan ada yang merasa hidupnya tidak memiliki harapan.
Di tengah keadaan seperti itu, Tuhan ingin memakai kita untuk menjadi pembawa berita kesembuhan dan pengharapan.
Dalam Lukas 9:1–3 kita membaca bahwa Yesus memanggil kedua belas murid-Nya.
Kemudian Yesus memberikan kepada mereka kuasa dan otoritas untuk melayani.
Mereka diutus untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang yang membutuhkan.
Hal ini menunjukkan bahwa ketika Tuhan memanggil seseorang untuk melayani, Tuhan tidak membiarkan orang tersebut berjalan sendirian.
Tuhan memberikan kuasa, kemampuan, dan penyertaan-Nya.
Kadang-kadang kita merasa tidak mampu melayani, Kita mungkin berkata, Saya bukan orang yang pandai berbicara.
Saya masih muda, Saya tidak mempunyai banyak kemampuan, Saya tidak layak, dsb.
Tetapi Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna terlebih dahulu, tetapi Tuhan hanya meminta kita bersedia dipakai oleh-Nya.
Para murid bukan orang-orang yang sempurna. Namun ketika Yesus memanggil mereka, mereka belajar berjalan dalam ketaatan.
Demikian juga dengan kita, mungkin kita tidak dapat melakukan hal-hal besar.
Tetapi kita dapat melakukan hal-hal sederhana yang membawa kesembuhan bagi orang lain.
Ketika seseorang sedang sedih, kita dapat memberikan penghiburan, ketika seseorang merasa sendirian, kita dapat hadir dan menunjukkan kasih.
Ketika seseorang sedang sakit, kita dapat mendoakannya.
Ketika seseorang kehilangan harapan, kita dapat mengingatkannya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya.
Ketika seseorang jatuh dalam pergumulan, kita tidak perlu menghakiminya. Kita dapat mengulurkan tangan dan membawanya kembali kepada Tuhan,dsb.
Inilah salah satu bentuk pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita.
Membawa berita kesembuhan bukan hanya berbicara tentang kesembuhan tubuh, tetapi juga membawa kasih, pengampunan, pengharapan, dan pemulihan dari Tuhan kepada orang-orang yang kita jumpai.
Saudara yang dikasihi Tuhan, Yesus memberikan kuasa kepada murid-murid bukan supaya mereka menjadi terkenal atau dipuji.
Kuasa itu diberikan supaya mereka melayani. Ini adalah hal yang penting untuk kita ingat bahwa Kuasa Tuhan bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk merendahkan diri dalam pelayanan.
Otoritas yang Tuhan berikan bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Sebaliknya, semakin Tuhan mempercayakan sesuatu kepada kita, semakin kita dipanggil untuk melayani dengan rendah hati.
Mungkin hari ini Tuhan sedang menempatkan seseorang di sekitar kita yang membutuhkan perhatian, mungkin teman kita sedang mengalami masalah tetapi tidak berani bercerita, mungkin ada anggota keluarga yang sedang terluka, mungkin ada seseorang yang sedang kehilangan iman dan pengharapan, jangan abaikan mereka.
Bisa jadi Tuhan sedang mengutus kita untuk menjadi jawaban atas doa mereka.
Kita tidak harus menunggu menjadi seorang pendeta, pengkhotbah, atau pemimpin gereja untuk melayani.
Dimanapun Tuhan menempatkan kita, di situlah kita dapat menjadi pembawa kasih Kristus, baik di sekolah, jadilah pembawa damai, di kampus, jadilah teladan, di tempat kerja, jadilah pribadi yang jujur dan penuh kasih, di dalam keluarga, jadilah sumber penguatan, di tengah masyarakat, jadilah pembawa pengharapan.
Karena itu, jangan takut untuk melayani, jangan menunggu sampai kita merasa cukup hebat, jangan menunggu sampai semuanya sempurna.
Mulailah dengan apa yang ada di tangan kita, mungkin hanya sebuah doa, mungkin hanya sebuah perkataan yang baik, mungkin hanya sebuah tindakan sederhana.
Tetapi ketika dilakukan dengan kasih dan ketaatan kepada Tuhan, Tuhan dapat memakai semuanya untuk menjadi berkat.
Apa yang Tuhan sudah berikan kepada saya yang dapat saya gunakan untuk melayani orang lain? Apa yang sering membuat saya takut atau ragu untuk melayani Tuhan? Apa satu tindakan nyata yang akan saya lakukan minggu ini untuk menjadi pembawa berita kesembuhan bagi seseorang?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Matius 10:8!
Apakah perintah dari Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya ketika mengutus mereka kepada domba-domba yang terhilang?
Selain memberitakan Kerajaan Allah hal-hal apakah yang harus mereka lakukan kepada domba-domba yang terhilang?
Mengapa harus memberitakan hal-hal diatas dengan cuma-cuma?
Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah maka Allah menyatakan kasih-Nya yang besar kepada dunia ini dengan cara mengutus anak-Nya yang tunggal datang ke dunia ini.
Yesus datang dan mati di kayu salib untuk menebus manusia yang karena dosa menuju maut sehingga manusia dibebaskan dari dosa dan maut.
Oleh sebab itu Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk menjadi saksi bahwa Yesus telah mati di kayu salib dan menanggung dosa manusia, sehingga murid-murid harus menceritakan tentang perbuatan Yesus bagi orang-orang yang berdosa sehingga orang berdosa berhak dengan pengampunan dosa.
“Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” (Lukas 24:46-48).
Bahkan Tuhan Yesus ingin agar berita keselamatan tersebut dipahami oleh bangsa-bangsa bukan hanya pengampunan atau dosa saja tetapi akibat-akibat dosa manusia juga dimerdekakan oleh Tuhan Yesus yaitu sakit penyakit, kuasa setan dan segala kutuk-kutuk.
Hal tersebut juga harus diberitakan kepada bangsa-bangsa.
”Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” (Markus 16:15-18).
Oleh karena itu kita harus mengupayakan dan mengusahakan agar berita pengampunan dosa dan kesembuhan jasmani dan rohani sampai kepada dunia ini, bahkan bukan hanya mereka disembuhkan tetapi juga dimuridkan agar mereka mengalami kesempurnaan di dalam Kristus yaitu sehat-sehat dalam segala hal.
Dan Tuhan telah memberi kuasa kepada kita untuk mengerjakannya.
”Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.” (Kolose 1:28-29).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara mengalami kuasa Tuhan untuk memberitakan berita kesembuhan bagi dunia ini!