Selasa, 10 Februari 2026

MELIHAT KEMULIAAN ANAK MANUSIA

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 1:43-51

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Ketika Yesus hendak pergi ke Galilea, dengan siapa Ia bertemu?
  2. Apa yang dikatakan Natanael kepada Filipus, dan apa maksud dari perkataannya itu?
  3. Apa yang Yesus katakan tentang Natanael, dan apa maksud perkataan Yesus tersebut?
  4. Sesuai perkataan Yesus, apa yang akan dilihat Natanael di kemudian hari?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, ketika Yesus memanggil murid-murid-Nya, Ia menggunakan berbagai cara. Andreas, kakak Petrus, adalah salah seorang murid Yohanes Pembaptis.

Yohanes 1:35-42 “Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”

Menurut versi Matius, ceritanya berbeda:

Matius 4:18-22 “Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.”

Ketika Yesus memanggil Filipus dan Natanael, peristiwa ini diceritakan oleh Rasul Yohanes.

Yohanes 1:43-51 “Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Saudara, ketika Yesus berdialog dengan Filipus dan Natanael, kita membaca bahwa Yesus menyatakan Natanael sebagai seorang Israel sejati, yang di dalam dirinya tidak ada kepalsuan.

Mengapa Yesus berkata demikian? Karena Natanael menyampaikan perkataan yang benar sesuai dengan keyakinan dan iman orang Yahudi atau Israel.

Inilah persoalan yang menyebabkan orang-orang Farisi dan ahli Taurat menentang Yesus Kristus.

Para pemuka, tua-tua Yahudi, dan banyak orang Israel juga menentang Yesus, karena pada waktu itu Ia disebut sebagai Mesias, yaitu Yesus anak Yusuf dari Nazaret.

Artinya, menurut pemahaman mereka, Yesus memiliki ayah bernama Yusuf dan berasal dari Nazaret.

Sementara itu, menurut keyakinan orang Yahudi, Mesias seharusnya lahir dari seorang perawan dan berasal dari Yudea, karena Mesias diyakini sebagai keturunan Raja Daud dari suku Yehuda.

Yesus yang disebut orang Nazaret diartikan bukan berasal dari suku Yehuda dan bukan dari keturunan raja-raja, seperti yang dinubuatkan dalam Hukum Taurat dan kitab para nabi.

Karena itulah Natanael dipuji oleh Yesus sebagai seorang Israel sejati, sebab apa yang dikatakan Natanael sesuai dengan apa yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya.

Yesaya 9:5-6 “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.”

Yesaya 7:14 “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”

Nubuatan Yesaya ini digenapi pada saat kelahiran Yesus:

Matius 1:23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.”

Jadi, jelas bahwa apa yang dipikirkan dan diyakini oleh orang Yahudi didasarkan pada nubuatan-nubuatan Nabi Yesaya.

Kita pada masa kini dapat memahaminya karena kita memiliki Alkitab, yang mencatat bahwa nubuatan Yesaya digenapi dengan benar melalui apa yang dikatakan malaikat kepada para gembala di padang penggembalaan di Betlehem Efrata pada saat Yesus dilahirkan.

Lukas 2:10-12 “Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”

Namun ketika Yesus ada di Israel, Ia dikenal sebagai Yesus, anak Yusuf, orang Nazaret.

Karena itu, banyak orang Israel yang membaca Hukum Taurat dan kitab para nabi menolak Yesus anak Yusuf dari Nazaret sebagai Mesias.

Ketika Yesus berbicara seperti yang telah disebutkan di atas, hal itu membangkitkan rasa penasaran Natanael, sehingga ia bertanya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Yesus lalu memperlihatkan kemahatahuan-Nya dengan berkata, “Aku melihat engkau di bawah pohon ara.”

Mendengar hal itu, Natanael langsung berkata, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja Israel.”

Saudara, selanjutnya dalam dialog itu Yesus mengajak Natanael untuk mengikut Dia.

Yesus berkata, “Ikutlah Aku,” dan menyatakan bahwa Natanael akan melihat malaikat Tuhan turun dan naik dalam kehidupan Yesus Kristus.

Dengan perkataan ini, Yesus menyatakan bahwa Natanael akan menyaksikan perbuatan-perbuatan besar Yesus Kristus sebagai Mesias.

Dan hal itu benar-benar terjadi dalam pelayanan Yesus. Natanael hadir sebagai murid Yesus dan menyaksikan berbagai mujizat yang terjadi.

Ia melihat kemuliaan Yesus sebagai Anak Manusia, sebagai Mesias, Kristus, Raja Israel, dan Raja Damai.

Haleluya, puji Tuhan. Amin.

Mengapa pada waktu itu banyak orang Israel tidak percaya kepada Yesus, seperti Natanael?

Pembacaan Alkitab Setahun

Imamat 26-27

Senin, 9 Februari 2026

KETAATAN MENDATANGKAN KEAJAIBAN

Penulis : Anang Kristianto

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

LUKAS 5:1-6

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang Yesus lakukan di atas perahu Simon?
  2. Apa yang Yesus katakan kepada Simon setelah selesai mengajar banyak orang?
  3. Apa yang terjadi dengan Simon sepanjang malam bekerja?
  4. Apa yang terjadi ketika Simon taat kepada perintah Yesus?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Ayat yang kita baca hari ini mengisahkan peristiwa ketika Yesus mengajar orang banyak di tepi Danau Genesaret dan kemudian memerintahkan Simon Petrus untuk menebarkan jala ke tempat yang lebih dalam.

Perintah tersebut disampaikan setelah Petrus dan rekan-rekannya bekerja semalaman tanpa memperoleh hasil apa pun.

Nelayan seperti Simon Petrus bukanlah pekerja amatir, melainkan pelaku usaha yang memahami musim, waktu, dan teknik penangkapan ikan.

Penangkapan ikan umumnya dilakukan pada malam hari, ketika ikan bergerak ke permukaan dan jala lebih efektif.

Dengan demikian, perintah Yesus untuk menebarkan jala pada siang hari bertentangan langsung dengan praktik profesional yang mapan.

Namun, Petrus memilih untuk menaati perkataan Yesus, bukan karena ia memahami hasilnya, melainkan karena ia menaruh kepercayaan kepada Pribadi yang memerintahkannya.

Ungkapan Petrus, “tetapi karena firman-Mu (Engkau menyuruhnya)”, sangat penting secara teologis.

Kata rhēma menunjuk pada firman yang diucapkan secara langsung dan kontekstual, bukan sekadar ajaran umum (logos).

Artinya, dasar ketaatan Petrus bukan pengalaman, tradisi, atau perhitungan rasional, melainkan kepercayaan pada firman Yesus (rhema) yang personal dan penuh otoritas.

Ketaatan tersebut berbuah pada peristiwa yang luar biasa, yakni tangkapan ikan yang sangat banyak hingga jala mereka hampir koyak.

Dalam dunia modern, banyak orang mengandalkan kompetensi, perencanaan, dan kerja keras, namun tetap menghadapi kegagalan, kekecewaan, atau kelelahan batin.

Budaya rasionalitas sering menempatkan ketaatan pada kehendak Tuhan sebagai sesuatu yang tidak praktis atau kurang masuk akal.

Akan tetapi, kisah ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak selalu selaras dengan logika manusia.

Justru pada titik inilah iman diuji, yaitu ketika seseorang mendapatkan rhema Firman Tuhan dan diminta untuk taat meskipun pengalaman dan perhitungan rasional tidak menjanjikan hasil yang pasti.

Melalui firman ini, mari bersama kita merespons panggilan Tuhan dengan ketaatan yang nyata dalam kehidupan praktis sehari-hari.

Ketaatan perlu diterjemahkan ke dalam tindakan konkret, seperti berani melangkah kembali setelah kegagalan, bersikap jujur meskipun berisiko, atau melakukan kebaikan yang Tuhan taruh di dalam hati.

Ketaatan yang dilakukan dengan iman bukan hanya membentuk karakter, tetapi juga membuka ruang bagi karya Tuhan yang membawa keajaiban.

Dalam pembacaan renungan kita diatas, makna apa yang kita dapat ambil dan pelajari? Diskusikan bersama kelompok PA dan dalam kelompok anggota persekutuan kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Imamat 24-25

Minggu, 8 Februari 2026

DIPANGGIL UNTUK MENGIKUTI KRISTUS

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 1:35-43

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Siapakah yang berkata “Lihatlah Anak Domba Allah!”?
  2. Siapakah murid Yohanes pembaptis yang akhirnya menjadi murid Yesus?
  3. Karena perkataan dan kesaksian siapa yang akhirnya para murid Yohanes menjadi percaya kepada Tuhan Yesus?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Sebelum kita membahas tentang pemanggilan murid-murid Yesus, kita perlu membaca dan memahami dahulu perihal penulisan kitab Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

Khususnya tentang pemilihan murid-murid yang dilakukan Yesus.

Khusus Injil Yohanes ada sedikit perbedaan narasi, urutan cerita, dan latar belakang pemilihan murid Yesus.

Injil Yohanes sasaran pembacanya saat itu ditujukan untuk Jemaat yang berisi tentang refleksi iman dan pengakuan iman secara bertahap tentang siapa Yesus. Yaitu; Yesus adalah anak domba Allah.

Intinya meskipun gaya penulisan Injil Yohanes berbeda dengan Injil lainnya, namun bukanlah suatu kesalahan dan sama sekali tidak bertentangan, tetapi saling memperkaya pemahaman kita tentang Yesus dan pemuridan.

Yohanes 1:30–43 menuliskan bahwa sebagian murid Yesus mula-mula, sebagiannya merupakan murid Yohanes Pembaptis.

Beberapa murid terlebih dahulu mengenal Yesus sebelum “mengikut” Dia secara penuh.

Andreas dan murid lainnya mengenal Yesus setelah mendengar kesaksian langsung dari Yohanes Pembaptis.

Dan dari kesaksian Andreas yang diceritakan kembali ke murid lainnya, yaitu Simon Petrus, Filipus dan Natanael (Bartolomeus), akhirnya membuat mereka percaya kepada Tuhan Yesus.

Ketika para murid bertemu Yesus, mereka mengikuti Dia.

Namun anehnya ketika para murid mengikut Yesus, Dia bertanya kepada mereka “Apakah yang kamu cari?”

Pertanyaan tersebut sebenarnya ingin mengetahui apa motivasi mereka mengikuti Yesus.

Karena Yesus tidak ingin para murid mengikuti-Nya, tanpa mengetahui siapa sebenarnya Yesus yang mereka ikuti.

Para murid mulai mengenal dan mengalami Yesus secara pribadi, ketika mereka bersedia tinggal bersama Yesus (ayat 38-39).

Dari uraian diatas, tidak sedikit dari kita dipanggil untuk mengikut Kristus sering kali melalui perantara dan kesaksian, baik itu orang tua kita, teman atau sahabat, pembimbing PA, pengkhotbah dan lainnya.

Seringkali mereka itu dipakai oleh Tuhan untuk mengenalkan kita dengan Dia.

Sama seperti Yohanes pembaptis, ia rela dipakai oleh Tuhan untuk menjadi perantara untuk menyampaikan siapa itu anak domba Allah.

Dan setelah kita percaya dengan Dia, maka kita sepatutnyalah kita menjadi perantara untuk menyampaikan kesaksian baik itu lewat perkataan dan perbuatan kita tentang siapa itu Yesus sang Mesias itu kepada orang-orang yang belum percaya.

Ingat! Pemuridan sejati lahir dari kesaksian, perjumpaan pribadi dengan Dia, bersedia mengenal dan tinggal bersama Dia dan pengenalan iman yang terus bertumbuh.

Jadi kita dipanggil bukan hanya mengikuti Kristus seorang diri, tetapi kita dipanggil untuk mewartakan-Nya kepada orang lain, agar mereka juga menjadi pengikut Kristus yang sejati.

Mari jadikanlah diri kita seperti “Yohanes pembaptis” yang mau dan rela menjadi perantara untuk menyaksikan tentang Kristus.

Diskusikan bagaimana caranya agar kita dapat menjadi perantara untuk menyaksikan tentang Kristus?

Pembacaan Alkitab Setahun

Imamat 22-23

Sabtu, 7 Februari 2026

KEMERDEKAAN MENUJU KEMULIAAN YANG SEMAKIN BESAR

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

2 KORINTUS 3:16-18

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa syaratnya, jika selubung itu bisa diambil?
  2. Apa yang dimaksud selubung atau veil dalam konteks ayat 16?
  3. Dimana ada Roh Allah disitu ada kemerdekaan. Apa yang dimaksud kata “Merdeka” tersebut?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Latar belakang Rasul Paulus menuliskan surat 2 Korintus 3, salah satunya adalah untuk menjelaskan perbedaan Perjanjian Lama (“hukum Taurat”) yang menuntut, memberi kesadaran akan dosa, tetapi menghukum karena manusia tidak sanggup memenuhinya.

Dan Perjanjian Baru (melalui Kristus dan Roh Kudus) yang tidak hanya memberi hukum, tetapi mengubah hati.

Setelah Musa berjumpa dengan Allah di gunung sinai dan turun kembali untuk berjumpa dengan orang Israel, mukanya bercahaya, sehingga ia menggunakan kain selubung atau “veil” untuk menutupi wajah fisiknya yang bercahaya itu, agar bangsa Israel tidak takut dan dapat mendekat kepadanya.

Bangsa Israel  tidak tahu bahwa cahaya itu bersifat sementara dan akan memudar.

Hanya Musa yang sadar bahwa kemuliaan itu bersifat sementara. Paulus kemudian menafsirkan selubung ini sebagai simbol hati yang tertutup terhadap pengenalan akan Kristus, karena mereka tidak “melihat kemuliaan yang kekal”.

Ayat 16 menyatakan bahwa ketika seseorang “berbalik kepada Tuhan,” maka selubung itu diambil. Ini berarti hanya orang yang mau bertobat dan percaya kepada Kristus anak Allah yang hidup, maka penghalang itu akan disingkirkan dari padanya.

Penyingkapan selubung ini bisa terjadi karena ada Roh Kudus yang bekerja di dalam hati kita.

Di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.

Sehingga kita bebas dari dosa dan perbudakan maut.

Bebas untuk memandang dan mendekat kepada Allah tanpa rasa takut seperti yang dialami Musa di atas gunung.

Kita bebas untuk mengenal Dia dan mengalami perubahan hidup yang sejati.

Berbeda dengan wajah Musa yang cahayanya semakin redup, kemuliaan dalam diri orang percaya bersifat dinamis dan semakin meningkat kian hari.

Memang perubahan ini tidak serta merta terjadi begitu saja.

Perubahan ini memerlukan waktu dan proses dari satu tahap kemuliaan ke tahap berikutnya.

Kuncinya sederhana, yaitu seberapa besar kemauan kita untuk mengenal Dia setiap hari?

Dan seberapa besar kita menumbuhkan didalam hati kita Rasa Lapar dan Haus akan Firman Tuhan setiap hari?

Dengan sikap demikian, maka kita akan mengalami kemerdekaan dan keserupaan dengan Kristus.

Diskusikan bagaimana caranya agar selubung atau veil dalam hati kita bisa tersingkap, sehingga setiap hari kita mengenal Dia lebih dalam?

Pembacaan Alkitab Setahun

Imamat 19-21

Jumat, 6 Februari 2026

MENERIMA JANJI ALLAH BERSAMA KRISTUS

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

ROMA 8:15-17

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa saja janji-janji Allah yg di maksud dari Roma 8:15-17?
  2. Siapa yang bersaksi dengan roh kita, bahwa kita adalah anak Allah?
  3. Siapa yang berhak menerima janji Allah? (Ayat 17)
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Jika ada yang bertanya, siapa yang senang jika janjinya ditepati oleh orang yg membuat janji?

Pasti kita yang menerima janji tersebut sangat senang, apabila janji itu ditepati.

Terlebih lagi apabila Tuhan sendiri menepati janji kepada kita anak-anak-Nya.

Surat Roma 8:15-17 menyatakan, janji Allah itu adalah “Warisan Rohani” bagi orang yg sudah percaya kepada Kristus.

Jadi bukan karena kebaikan, pengalaman, harta atau usaha kita yang membuat kita selamat, tetapi semata-mata karena Kristuslah yang telah memberikan secara cuma-cuma.

Sehingga kita sebagai anak-anak Allah, kita berhak mewarisi segala sesuatu yang Kristus miliki.

Adapun janji yang dimaksud adalah; Keselamatan kekal, kehidupan bersama Allah, dan juga berkat-berkat surgawi yang sudah disediakan Kristus untuk kita.

Bahkan kita disebut “ahli waris Allah dan satu-satu ahli waris dengan Kristus”.

Hal Ini berarti kita tidak hanya mendapat janji tentang kemuliaan yang akan kita terima kelak, tetapi kita juga harus siap mengalami penderitaan dalam mengiring Dia setiap hari!

Dalam Roma 8:15 Rasul Paulus juga menekankan tentang Identitas orang percaya sebagai anak dan ahli waris Allah.

Jadi kita tidak lagi hidup sebagai budak/hamba dosa yang hidup dalam ketakutan, tetapi kini status kita adalah anak (bukan status fisik atau dilahirkan secara biologis), namun identitas kita adalah anak yang di angkat “adopsi” (bahasa Yunani: huiothesia) yang berarti pengangkatan sebagai anak sah secara legal dan memiliki hak penuh sebagai anggota keluarga baru.

Dalam budaya Romawi masa itu, anak yang diadopsi, jika bukan dari darah keluarga, tetap bisa mendapat semua hak dan warisan seperti anak biologis.

Dan hukum itu berlaku juga sampai dengan sekarang.

Status ini adalah suatu hal yang penting, sekaligus hal yang istimewa untuk kita.

Kita memiliki hubungan atau relasi yang intim dengan Allah sang pencipta melalui Yesus dan roh kudus, sehingga kita dapat dengan berani berseru “ya Abba ya Bapa”.

Dengan status yang kita miliki saat ini, apakah kita sadar bahwa kita adalah anak Allah yang betul-betul merdeka dari dosa dan mewarisi segala janji Allah tentang hidup yang kekal dan hidup yang diberkati?

Jika kita sadar, mengapa kita masih takut, kuatir, cemas berlebihan tentang hidup kita; tentang apa yang kita makan-minum, tentang apa yang kita akan pakai dan takut menghadapi masa depan kita?

seolah-olah kita kurang percaya atau ragu akan status kita, bahwa kita sudah diadopsi menjadi anak-anak Allah yang juga ahli waris yang berhak menerima segala janji Allah!

Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing, dan coba kita renungkan kembali, betulkah kita percaya kepada Dia dengan sepenuh hati dan betulkah status kita saat ini sudah menjadi anak Allah yang sejati?

Apa alasan, yang mana status kita saat ini adalah anak Allah, tetapi dalam prakteknya kita kurang percaya atau ragu-ragu bahwa kita adalah anak yang berhak menerima segala janji-janji Allah? Diskusikanlah dengan kelompok PA dan juga di dalam kelompok persekutuan kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Imamat 16-18