Rabu, 22 April 2026

WAJIB HIDUP SEPERTI KRISTUS HIDUP

Penulis : Pnt. Leonardo Mangunsong

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

1 YOHANES 2:3-6

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah 1 Yohanes 2:6.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah tanda-tanda orang yang mengenal Allah?
  2. Dikatakan seperti apakah orang-orang yang hidupnya tidak menurut perintah Tuhan?
  3. Dan seperti apakah orang-orang yang hidup menuruti Firman Allah?
  4. Seperti siapakah kita harus hidup jika kita mau hidup di dalam Tuhan?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Ekspektasi Tuhan bagi setiap orang yang percaya adalah bahwa mereka wajib hidup seperti Yesus, dan bukan hanya tahu mereka memiliki Roh Kristus, supaya mereka dapat mewakili Allah di muka bumi sehingga bumi ini tidak semakin hancur tetapi menjadi penuh kemuliaan Tuhan.

Untuk wajib hidup seperti Kristus hidup maka mereka harus memiliki pemahaman, diantaranya:

  1. Kita hidup hanya untuk melakukan kehendak Allah.
    “Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4:34). Kehendak Allah adalah agar bumi ini penuh kemuliaan-Nya dengan cara bahwa orang-orang percaya kepada Allah dan caranya orang-orang harus mendengar Injil Kerajaan Allah. Oleh karena itu mengerjakan kehendak Allah adalah memberitakan Injil, memuridkan setiap jiwa yang terhilang sehingga setiap orang menyembah kepada Bapa. Untuk hidup seperti Yesus maka kita harus memberitakan Injil. “Yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.” (Kisah Para Rasul 10:38).
  2. Memiliki komitmen hanya untuk mengenal Bapa dengan kebersatuan pribadi Yesus Kristus sampai mengalami keserupaan dan kepenuhan Kristus.
    “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” (Filipi 3:10-11). “Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.” (Yohanes 5:19). Jika kita mau hidup seperti Yesus maka kita harus memiliki komitmen untuk senantiasa mengalami kebersatuan dengan Bapa seperti Kristus yang terus menerus mengalami kebersatuan dengan Bapa sehingga melakukan pekerjaan Bapa.
  3. Kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus.
    “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:5-7).

Untuk hidup seperti Kristus kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus yaitu hidup dalam kerendahan hati dan tidak sombong serta mementingkan diri sendiri.

Diskusikanlah dalam komunitas saudara pengalaman saudara untuk hidup seperti Yesus dalam segala hal.

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Raja-Raja 4-5

Selasa, 21 April 2026

BERBAHAGIA KARENA MELAKUKAN FIRMAN

Penulis : Pnt. Leonardo Mangunsong

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YAKOBUS 1:23-25

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Yakobus 1:25.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Seumpama seperti apakah bagi orang-orang yang mendengar Firman saja dan tidak melakukannya?
  2. Coba sebutkan tahapan hal-hal yang harus kita lakukan agar akhirnya kita benar-benar menjadi pelaku Firman Tuhan?
  3. Apa yang dialami oleh orang-orang yang sungguh-sungguh melakukan Firman Tuhan?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Pada hari-hari terakhir ini Firman Tuhan sangat bebas untuk disampaikan melalui media-media sosial untuk mengajar umat Tuhan bertumbuh dan semakin mengenal Tuhan.

Bahkan karena orang-orang terlalu bebas menggunakan media sosial, ajaran-ajaran sesat pun diajarkan, sehingga banyak juga terjadi penyesatan.

Tuhan ingin agar Firman Tuhan yang diajarkan melalui media sosial, dan di dalam ibadah gereja, kelompok pemuridan, persekutuan termasuk seminar-seminar tidak hanya didengar melainkan dilakukan.

Karena masih banyak orang Kristen yang hidupnya masih duniawi dan dikuasai oleh kedagingan walaupun mereka sudah berkali-kali mendengarkan Firman Tuhan, sehingga Firman Tuhan dalam Matius 7:6 sangat relevan bagi zaman ini karena tidak menganggap Firman Tuhan menjadi utama buat hidup mereka.

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” (Matius 7:6).

”Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.” (Hosea 4:6).

Oleh sebab itu Tuhan ingin agar kita tidak hanya menjadi pendengar Firman Tuhan tetapi kita juga harus menjadi pelaku Firman Tuhan supaya tidak menjadi orang Kristen yang munafik yaitu tahu Firman Tuhan, tetapi tidak menghidupi Firman Tuhan.

Untuk menjadi pelaku Firman Tuhan maka kita harus meneliti Firman Tuhan dengan cara membaca, merenungkan dan memahami dan kita melakukannya dengan tekun, terus menerus melakukannya kemudian melakukan setiap Firman yang kita dengar dan pahami sampai hal tersebut menjadi kehidupan.

Dan ketika kita melakukannya dengan setia maka kita akan bertumbuh dan bahkan berbahagia karena perbuatan-perbuatan kita sesuai dengan kebenaran Tuhan dan kita juga menyenangkan hati Tuhan.

”Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” (Yakobus 1:25).

Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana pengalaman saudara berbahagia karena dapat taat melakukan Firman Tuhan.

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Raja-Raja 1-3

Senin, 20 April 2026

MENJADI PELAKU, BUKAN HANYA PENDENGAR

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YAKOBUS 1:19-22

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa artinya “cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah” dalam kehidupan sehari-hari?
  2. Mengapa orang yang hanya mendengar firman tapi tidak melakukan disebut “menipu diri sendiri”?
  3. Satu hal konkret apa yang firman Tuhan sudah tunjukkan untuk kamu lakukan minggu ini?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yakobus 1:22).

Coba bayangkan seseorang yang setiap minggu pergi ke gereja, mendengar khotbah dengan tekun, bahkan mengangguk-angguk setuju.

Tapi begitu keluar dari gereja, hidupnya tidak berubah. Ia tetap marah-marah, tetap berkata kasar, tetap melakukan hal-hal yang salah.

Yakobus berkata orang seperti itu sedang menipu diri sendiri.

Ia pikir dengan rajin mendengar, ia sudah baik di mata Tuhan.

Padahal firman Tuhan bukan untuk sekadar didengar, tetapi untuk dilakukan.

Seperti orang yang melihat wajahnya di cermin lalu pergi dan lupa bagaimana rupanya (ayat 23-24), begitu juga orang yang hanya mendengar firman tapi tidak melakukannya.

Latar belakang jemaat yang tersebar dan menghadapi pencobaan membuat nasihat ini sangat relevan: di tengah kesulitan, kita butuh melakukan firman, bukan sekadar mendengar.

Sikap hati yang benar dalam menerima firman. Yakobus berkata, “Hendaklah kamu cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah.”

Ini adalah fondasi untuk menjadi pelaku firman.

Cepat mendengar berarti kita sungguh-sungguh mau belajar dan menerima kebenaran Allah dengan hati terbuka.

Lambat berkata-kata berarti kita tidak cepat-cepat membantah atau berdebat dengan Tuhan.

Lambat marah berarti kita tidak menolak firman ketika firman itu menegur atau mengoreksi kita.

Sering kali kita mendengar firman yang menusuk hati, lalu kita marah atau tersinggung.

Padahal justru di situlah firman bekerja mengubah kita.

Kalau kita mau diam dan merenungkan firman dengan hati lembut, Roh Kudus akan mengerjakan perubahan dalam hidup kita.

Bahaya menjadi pendengar saja. Yakobus berkata, “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (ayat 22).

Menipu diri sendiri adalah keadaan yang paling berbahaya karena kita tidak sadar bahwa kita sedang tersesat.

Orang seperti ini merasa sudah rohani karena rajin ke gereja dan dengar khotbah, tapi hidupnya tidak berbuah.

Ia seperti orang yang melihat wajahnya di cermin lalu pergi dan lupa.

Cermin itu firman Tuhan yang menunjukkan siapa kita sebenarnya: dosa kita, kelemahan kita, dan apa yang perlu diubah.

Tapi kalau kita hanya melihat lalu pergi tanpa melakukan perubahan, sia-sialah semuanya.

Firman Tuhan tidak diberikan untuk menambah pengetahuan, tetapi untuk mengubahkan hidup.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Ambil Satu Poin Setiap Kali Mendengar Firman.

Setiap kali kamu membaca Alkitab atau mendengar khotbah, coba cari satu hal konkret yang bisa kamu lakukan minggu itu.

Misalnya, minggu ini firman bicara tentang mengampuni, maka cobalah mengampuni orang yang menyakiti kamu.

Atau firman bicara tentang berkata jujur, maka perhatikan perkataanmu.

Tulis poin itu di catatan kecil, dan setiap malam evaluasi: sudah kulakukan atau belum?

Kedua, Ajak Sahabat untuk Saling Mengingatkan.

Cari satu atau dua teman yang bisa saling mengingatkan untuk melakukan firman.

Ceritakan apa yang sedang kamu pelajari, dan tanyakan, “Menurutmu, apa yang perlu aku ubah?” Dengan dukungan teman, kita tidak mudah menipu diri sendiri.

Kita butuh komunitas yang saling mendorong untuk menjadi pelaku, bukan hanya pendengar.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana menjadi teman untuk saling mengingatkan menjadi pelaku firman.

Pembacaan Alkitab Setahun

1 Raja-Raja 21-22

Minggu, 19 April 2026

MENGASIHI TUHAN DENGAN MELAKUKAN FIRMAN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 14:21-24

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Menurut Yohanes 14:21, apa buktinya seseorang benar-benar mengasihi Yesus?
  2. Apa janji Yesus bagi orang yang mengasihi Dia dan menuruti firman-Nya (ayat 23)?
  3. Perbedaan mendasar apa yang Yesus tunjukkan antara orang yang mengasihi Dia dan orang yang tidak mengasihi Dia (ayat 24)
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”. (Yohanes 14:23)

Kita sering mendengar orang berkata, “Aku cinta Tuhan.”

Tapi apa buktinya? Yesus dalam percakapan dengan murid-murid-Nya menjelaskan hal ini dengan sangat jelas.

Saat itu Yudas (bukan yang mengkhianati Yesus) bertanya mengapa Yesus hanya menampakkan diri kepada murid-murid, bukan kepada dunia.

Yesus menjawab bahwa intinya bukan soal penampakkan, tapi soal hubungan hati.

Orang yang benar-benar mengasihi Yesus adalah orang yang menuruti firman-Nya.

Ini menunjukkan bahwa kasih kepada Tuhan bukan hanya perasaan hangat di dalam hati, tetapi sesuatu yang nyata dalam tindakan sehari-hari.

Seperti kata orang, “Cinta itu kata kerja.” Kasih kepada Tuhan terbukti dari ketaatan kita kepada apa yang Ia perintahkan.

Ketaatan pada firman Tuhan adalah bukti otentik kasih kita kepada-Nya.

Yesus berkata, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku” (ayat 21).

Ini bukan berarti kita diselamatkan karena ketaatan, tetapi ketaatan adalah respons alami dari hati yang sungguh-sungguh mengasihi Dia.

Coba bayangkan hubungan suami istri.

Kalau seorang suami berkata “Aku cinta kamu” tapi terus berselingkuh, apakah kata-katanya berarti? Tentu tidak.

Kasih sejati dibuktikan dengan kesetiaan.

Demikian pula dengan Tuhan. Kita bisa bernyanyi dengan merdu, berdoa dengan khusyuk, tapi kalau hidup kita tidak taat pada firman-Nya, kasih kita perlu dipertanyakan.

Ketaatan bukan beban, melainkan jalan untuk menyenangkan hati Dia yang kita kasihi.

Ketaatan membawa kita pada pengalaman yang lebih dalam akan kehadiran Tuhan.

Yesus berjanji: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (ayat 23).

Ini janji yang luar biasa! Bukan sekadar Tuhan di surga jauh di atas sana, tetapi Tuhan yang tinggal bersama kita, diam di dalam hati kita.

Pengalaman intim ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang taat.

Sebaliknya, orang yang tidak taat, meskipun rajin ke gereja, tidak akan mengalami keintiman ini.

Tuhan tidak bisa dipisahkan dari firman-Nya. Menerima firman berarti menerima Dia.

Menolak firman berarti menolak Dia. Jadi, semakin kita taat, semakin kita mengenal Dia, dan semakin kita merasakan kehadiran-Nya yang manis dalam hidup sehari-hari.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Periksa Motivasi di Balik Setiap Tindakan. Setiap kali kita melakukan sesuatu, tanya pada diri sendiri: “Apakah ini kulakukan karena aku mengasihi Tuhan?”

Misalnya, saat menolong orang, saat menahan amarah, saat memberi persembahan, lakukanlah sebagai ungkapan kasih kepada Tuhan, bukan karena ingin dipuji atau karena terpaksa.

Kasih yang tulus akan membuat ketaatan menjadi ringan.

Kedua, Baca dan Lakukan Firman Secara  Konsisten.

Pilih satu perintah Tuhan setiap minggu untuk dilakukan secara sadar. Misalnya, minggu ini belajar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Minggu depan belajar untuk mengucap syukur dalam segala hal.

dengan sungguh-sungguh, dan minta tolong Roh Kudus. Dengan langkah kecil yang konsisten, kasih kita kepada Tuhan akan bertumbuh, dan kita akan merasakan kehadiran-Nya semakin nyata.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki sikap hati yang taat sebagai bukti kasih kepada Tuhan.

Pembacaan Alkitab Setahun

1 Raja-Raja 18-20

Sabtu, 18 April 2026

MENDEKLARASIKAN FIRMAN DENGAN BERANI

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 4:24-31

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang mereka lakukan pertama kali ketika menghadapi ancaman (ayat 24), dan apa yang bisa kita pelajari dari respon itu?
  2. Mengapa mereka mengutip Mazmur 2 dalam doa mereka (ayat 25-26), dan bagaimana itu membantu mereka mengatasi rasa takut?
  3. Apa isi permohonan mereka (ayat 29-30), dan apa bedanya dengan doa kita yang sering minta perlindungan dari bahaya?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” (Kisah Para Rasul 4:31).

Bayangkan situasi yang dialami jemaat mula-mula.

Dua pemimpin mereka, Petrus dan Yohanes, baru saja ditangkap dan diancam mati.

Larangannya jelas: tidak boleh berbicara tentang Yesus lagi.

Kalau kita ada di posisi mereka, mungkin kita akan takut, bersembunyi, atau berdoa minta perlindungan.

Tapi lihatlah respons mereka: mereka justru berkumpul bersama dan mengangkat suara kepada Allah dengan berani.

Mereka tidak berdoa dengan nada takut, tetapi dengan nada kemenangan.

Mereka mengingat firman Tuhan dalam Mazmur 2, yang berbicara tentang bangsa-bangsa yang memberontak tetapi Tuhan tetap berkuasa.

Inilah rahasia mereka: di tengah ancaman, mereka justru mendeklarasikan firman Tuhan.

Mereka percaya bahwa firman Tuhan lebih kuat dari ancaman manusia.

Prinsip pertama yang kita pelajari dari doa mereka adalah pentingnya mengingat dan mendeklarasikan firman Tuhan di tengah tekanan.

Mereka tidak berdoa asal-asalan, tetapi mereka membuka Kitab Suci dan mengutip Mazmur 2.

Mereka mengakui bahwa Tuhan adalah “Yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya” (ayat 24).

Dengan mengingat kebesaran Tuhan, rasa takut mereka luntur.

Mereka juga mengingat bahwa apa yang terjadi atas Yesus—penangkapan dan penyaliban-Nya—sudah dinubuatkan dalam firman dan berada dalam kendali Tuhan (ayat 27-28).

Ketika kita menghadapi masalah, kecenderungan kita adalah melihat besarnya masalah.

Tapi jemaat mula-mula mengajarkan kita untuk melihat besarnya Tuhan melalui firman-Nya.

Firman Tuhan mengubah cara pandang kita: dari takut pada manusia menjadi takut pada Tuhan.

Prinsip kedua adalah bahwa doa yang didasari firman akan berani meminta hal-hal besar.

Perhatikan apa yang mereka minta: “Berilah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.

Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus” (ayat 29-30).

Mereka tidak minta selamat dari bahaya, tetapi minta keberanian untuk terus bersaksi dan minta kuasa Tuhan dinyatakan.

Inilah doa yang lahir dari keyakinan pada firman.

Mereka percaya bahwa Tuhan yang berdaulat atas sejarah juga sanggup bertindak dahsyat di masa kini.

Ketika kita merenungkan firman, iman kita dikuatkan, dan kita berani meminta hal-hal yang mustahil.

Dan Tuhan menjawab doa mereka dengan cara luar biasa: tempat bergoncang, mereka dipenuhi Roh Kudus, dan mereka memberitakan firman dengan berani.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Hafalkan dan Renungkan Firman yang Menguatkan.

Pilihlah beberapa ayat Alkitab yang berbicara tentang kebesaran dan kuasa Tuhan, seperti Mazmur 2 atau Yesaya 41:10.

Hafalkan dan renungkan setiap hari, terutama saat kamu merasa takut atau tertekan.

Dengan mengingat firman, hatimu akan dikuatkan dan imanmu dibangkitkan.

Kedua, Berdoalah dengan Berani Berdasarkan Firman. Saat berdoa, jangan hanya menyebutkan masalah, tetapi deklarasikan janji-janji Tuhan.

Misalnya, kalau kamu takut bersaksi, doakanlah seperti jemaat mula-mula: “Tuhan, berilah aku keberanian untuk memberitakan firman-Mu.”

Kalau kamu sakit, doakanlah berdasarkan janji kesembuhan dalam firman.

Tuhan senang menjawab doa yang sesuai dengan kehendak-Nya yang sudah dinyatakan dalam firman.

Dengan dua langkah ini, hidupmu akan dipenuhi keberanian ilahi.

Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana cara praktis mendeklarasikan firman?

Pembacaan Alkitab Setahun

1 Raja-Raja 15-17