MENGALAMI KEHIDUPAN KRISTUS YANG HIDUP DI DALAM KITA
Penulis : Anang Kristianto
Pembacaan Alkitab Hari ini :
ROMA 8:9-11
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Sesuai ayat ini, apakah yang seharusnya terjadi bila Roh Allah diam dalam kita?
Apa yang terjadi jika Kristus ada di dalam kita?
Apa yang terjadi dengan tubuh kita yang fana dengan kehadiran RohNya?
Paulus menempatkan kehidupan Kristen dalam kerangka realitas rohani yang objektif, bukan sekadar pengalaman emosional.
Ia menggunakan istilah pneuma (Roh) secara konsisten—Roh Allah, Roh Kristus, dan Roh Dia yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati—untuk menegaskan satu kebenaran sentral: kehadiran Allah kini dinyatakan melalui Roh yang diam di dalam orang percaya.
Dalam konteks dunia Romawi yang sangat dipengaruhi dualisme (roh dianggap baik, tubuh dianggap rendah), Paulus justru menyatakan bahwa tubuh tidak dibuang atau diabaikan.
Walaupun tubuh “mati karena dosa,” Roh yang diam di dalam orang percaya adalah Roh kebangkitan, yang memberi hidup sekarang dan menjamin kebangkitan tubuh kelak.
Secara bahasa dan teologi, Paulus tidak sedang berbicara simbolis, melainkan apa adanya atau sesungguhnya: orang percaya sungguh-sungguh hidup dalam domain baru, di mana Kristus yang bangkit berdiam dan bekerja melalui Roh-Nya.
Ayat ini menantang cara kita memaknai “hidup rohani.”
Banyak orang Kristen memahami kehidupan rohani sebatas aktivitas keagamaan atau pengendalian moral.
Paulus melangkah lebih jauh: hidup Kristen adalah kehidupan Kristus sendiri yang beroperasi di dalam kita.
Ini berarti pergumulan dengan kelemahan, kecenderungan dosa, kelelahan mental, atau tekanan hidup tidak menandakan ketiadaan Roh, melainkan arena di mana kuasa kebangkitan Kristus dinyatakan secara nyata.
Roh Kudus bukan sekadar penolong sesaat, tetapi aktif, yang memerdekakan kita dari kuasa “daging” (cara hidup lama yang berpusat pada diri).
Dengan perspektif ini, orang percaya tidak lagi ditentukan oleh latar belakang, kegagalan, atau keterbatasan, melainkan oleh kehadiran Kristus yang hidup dan bekerja dari dalam.
Karena itu, mengalami kehidupan Kristus yang hidup di dalam kita harus diwujudkan secara praktis.
Di dunia kerja, ini berarti kita menghadapi tekanan, konflik, dan ketidakadilan bukan dengan reaksi daging—amarah, manipulasi, atau keputusasaan—melainkan dengan hikmat, keteguhan, dan karakter Kristus.
Dalam studi, kehidupan Kristus dinyatakan melalui disiplin, kejujuran akademik, dan kerendahan hati untuk belajar, menyadari bahwa pertumbuhan intelektual juga bagian dari pembaruan hidup.
Langkah praktisnya sederhana namun konsisten: memulai hari dengan kesadaran bahwa Roh Kristus diam di dalam kita, melibatkan Tuhan dalam keputusan-keputusan kecil, dan menolak hidup berdasarkan dorongan daging semata.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa tugas yang dipercayakan Allah kepada Paulus untuk jemaat di Kolose?
Apakah yang dimaksud Paulus sebagai rahasia tersembunyi dari abad ke abad?
Kepada siapa sekarang rahasia itu dinyatakan?
Apa isi rahasia yang mulia dan kaya itu?
Pada ayat ini Rasul Paulus menjelaskan pelayanannya sebagai “tugas resmi seorang pengelola rumah tangga yang bertanggung jawab menunaikan kehendak tuannya secara setia”.
Paulus memahami pelayanannya bukan sebagai inisiatif pribadi, melainkan mandat ilahi untuk “menyempurnakan pemberitaan firman Allah,” yaitu menyatakan “rahasia” yang dahulu tersembunyi sepanjang zaman.
Dalam pemahaman budaya saat itu, mysterion bukan teka-teki esoterik, melainkan rencana Allah yang sebelumnya tidak tersingkap penuh dan kini dinyatakan secara terbuka.
Kejutan teologisnya terletak pada isi rahasia itu: bukan hukum baru, bukan ritual khusus, melainkan “Kristus di dalam kamu, pengharapan akan kemuliaan.”
Bagi jemaat non-Yahudi di Kolose, pernyataan ini radikal—kehadiran Allah tidak lagi dibatasi oleh bait, etnis, atau tanda lahiriah, tetapi berdiam di dalam diri orang percaya melalui Kristus.
Dalam konteks kehidupan masa kini, kebenaran “Kristus di dalam kita” menantang cara kita membangun identitas dan makna hidup.
Dunia modern sering menilai manusia dari capaian, produktivitas, dan pengakuan sosial.
Tanpa disadari, kita mudah memindahkan pusat pengharapan dari Kristus kepada prestasi, jabatan, atau keamanan materi.
Namun Paulus menegaskan bahwa sumber kemuliaan dan masa depan orang percaya bukanlah apa yang kita bangun dari luar, melainkan siapa yang berdiam di dalam.
Implementasi praktisnya berarti kita menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa Kristus hadir aktif—membentuk karakter, mengarahkan keputusan, dan memberi daya untuk hidup benar.
Di tengah tekanan kerja, studi, dan relasi yang kompleks, iman Kristen bukan sekadar nilai moral, tetapi kehidupan Kristus sendiri yang bekerja dari dalam, memampukan kita untuk tetap setia, rendah hati, dan penuh pengharapan meskipun situasi tidak ideal.
Karena itu, renungan ini mengajak kita untuk melakukan kebenaran secara nyata dalam keseharian.
Di tempat kerja, “Kristus di dalam kita” terpancar melalui integritas dan kejujuran yang bertanggung jawab, bukan demi pujian manusia, melainkan sebagai ibadah kepada Tuhan.
Dalam studi, kebenaran ini mendorong kita belajar dengan tekun, jujur, dan terbuka terhadap proses pembentukan karakter, bukan sekadar mengejar hasil instan.
Di rumah tangga, kehadiran Kristus diwujudkan melalui kesabaran, pengampunan, dan kasih yang konsisten dalam relasi suami-istri, orang tua-anak, maupun antar anggota keluarga.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Jika Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan dan Kepala atas segala sesuatu, bagaimana seharusnya hal ini mempengaruhi cara kita hidup dan prioritas kita sehari-hari?
Karena Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah melalui kematian-Nya, apa langkah konkret yang perlu kita ambil untuk tetap bertekun dalam iman?
Kolose 1:15 “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.”
Saudara, Tuhan Yesus adalah gambar atau penyataan Allah yang sempurna.
Sehingga ketika kita mengenal Kristus berarti kita akan mengenal Allah.
Oleh sebab kekuatan iman dan pengharapan akan terletak pada hubungan kita dengan Pribadi Kristus.
Dan jika Kristus adalah gambar Allah yang sejati, maka nilai hidup kita akan ditentukan oleh Dia dan arah hidup kita selayaknya mengarah kepada Dia.
Kolose 1:18 “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.”
Yesus adalah Kepala dari keseluruhan tubuh yaitu: Jemaat atau Gereja.
Kita orang percaya adalah anggota tubuh Kristus, kita adalah bagian kecil dari Gereja yang Am atau Gereja yang universal, gereja yang tidak dibatasi oleh denominasi, sinode dan apa pun atribut gereja.
Dan karena Yesus adalah yang utama dari segala sesuatu, maka Kristus sepatutnya menjadi Kepala, dimana gereja hidup dalam kesatuan, berbagai jenis pelayanan akan berjalan selaras menuju satu tujuan yang sama yaitu untuk memuliakan Tuhan saja dan setiap anggota menemukan fungsinya, perannya dalam kehidupan.
Saudara, ketika kita menjalani hidup dengan fokus yang terpecah: karier, keluarga, harta, pencapaian, dan pengakuan.
Ya, semua itu penting, tetapi ketika hal-hal tersebut menjadi pusat hidup, maka arah hidup kita menjadi kabur dan iman kehilangan kekuatannya.
Namun Firman Allah menegaskan dengan jelas bahwa Kristus bukan sekadar bagian dari hidup orang percaya, Ia adalah pusat dari segalanya.
Hidup yang berpusat pada Kristus adalah hidup yang memiliki arah tujuan, itu adalah hidup yang memiliki makna dan pengharapan.
Sehingga, ketika Kristus menjadi fokus hidup kita, maka segala sesuatu akan menemukan tempatnya yang benar.
Kiranya umat Allah dapat berkata dengan iman dan keyakinan:
“Bagi hidupku, Kristus adalah segalanya.”
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa yang menjadi penghalang sehingga engkau kurang fokus kepada Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang menjadi halangan bagi Zakheus untuk berjumpa dengan Yesus? Dan adakah hal yang menghalangi Saudara untuk datang kepada Tuhan?
Setelah Zakheus bertemu dengan Yesus, hidupnya berubah secara nyata; perubahan apa yang seharusnya tampak dalam sikap, keputusan, dan tindakan kita setelah menerima keselamatan dari Kristus?
Zakheus adalah seorang kepala pemungut cukai, sebagai kepala maka Zakheus membawahi beberapa orang pemungut cukai.
Pemungut cukai pada masa itu bukanlah petugas pajak seperti yang kita kenal pada masa kini.
Pada masa itu Pemerintah Romawi tidak memungut pajak secara langsung dari rakyat.
Mereka melelang hak pemungutan pajak kepada pihak swasta, menetapkan jumlah setoran tetap kepada Kerajaan Romawi dan memberi kebebasan pemungut cukai untuk menarik lebih dari yang ditetapkan.
Itu sebabnya kepala pemungut cukai seperti Zakheus adalah seorang yang sangat kaya, tetapi sekaligus juga orang yang tidak disukai.
Tetapi Zakheus kemudian sadar bahwa dia adalah orang yang berdosa dan dia rindu agar dia bisa memperoleh pengampunan.
Sehingga Zakheus berkeinginan untuk bertemu Yesus, tetapi dia juga menyadari bahwa banyak orang yang tidak suka kepada dirinya, karena dia dianggap sebagai utusan penjajah Romawi untuk memungut pajak yang membuat rakyat sengsara.
Zakheus juga digambarkan bahwa dia seorang yang pendek sehingga sulit untuk terlihat oleh Yesus.
Tetapi karena kerinduannya yang besar, Zakheus akhirnya naik ke pohon hingga terlihat oleh Yesus.
Dan tidak menunggu lama karena Yesus sudah mengenali dan memanggil Zakheus, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”
Kasih Kristus menembus stigma buruk tentang pemungut cukai, orang yang menjadi musuh masyarakat tetapi tetap Tuhan kasihi.
Pertemuan dengan Yesus menghasilkan keputusan nyata.
Zakheus berdiri dan berkata: setengah hartanya ia berikan kepada orang miskin, orang yang pernah ia peras dikembalikannya empat kali lipat.
Keputusan Zakheus, itu bukan keputusan impulsif atau dadakan, itu juga bukan paksaan, tetapi respon kasih dan rasa syukur oleh karena telah bertemu dengan Yesus.
Buktinya adalah karena janji keselamatan bagi isi rumah Zakheus baru diucapkan Yesus setelah Zakheus menyatakan komitmennya untuk memberikan sebagian hartanya tersebut.
Kata Yesus, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.”
Pertobatan sejati akan mengubah perilaku, akan mendorong orang untuk membuat komitmen atau keputusan dan tindakan yang penting.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa tindakan saudara jika saudara ada pada posisi sosial seperti Zakheus?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apakah peran Tuhan dalam memulihkan dan mengangkat umat-Nya, meskipun sebelumnya mereka telah memperoleh murka dan mengalami hajaran Tuhan?
Bagaimana seharusnya sikap hidup kita ketika Tuhan membuka banyak kesempatan untuk memberkati dan bagaimana supaya kita tetap setia kepada-Nya?
Kitab Yesaya pasal 60 dikenal sebagai kitab yang menceritakan bagaimana Allah akan bertindak memulihkan umat-Nya.
Bahwa Allah akan menyatakan kemuliaan-Nya, dan menarik bangsa-bangsa datang kepada terang-Nya.
Yesaya 60:9 ”Sungguh, Akulah yang dinanti-nantikan pulau-pulau yang jauh; kapal-kapal Tarsis berlayar di depan untuk membawa anak-anakmu laki-laki dari jauh, perak dan emasnya dibawa serta, untuk nama TUHAN, Allahmu, dan oleh karena Yang Mahakudus, Allah Israel, sebab Ia mengagungkan engkau.”
Ada masa dimana pulau-pulau menantikan Tuhan, dalam hal ini tentu bukan pulau yang adalah benda mati yang sedang menantikan Tuhan, tetapi penduduk pulau-pulau sedang dan akan terjadi di masa depan, dan dengan intensitas yang lebih masif, mereka menantikan Tuhan.
Lalu apakah Tuhan akan datang dan menampakkan diri di pulau-pulau, mungkin saja Tuhan akan memperlihatkan diri kepada manusia dalam penglihatan seperti ketika Tuhan menampakkan diri kepada Saulus.
Tetapi bukankah Tuhan memiliki Tubuh di bumi ini, yaitu kita orang percaya yang adalah bagian dari tubuh Kristus.
1 Korintus 12:27 “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.”
Kita semua umat percaya adalah bagian dari tubuh Kristus yang Tuhan gunakan untuk melaksanakan pekerjaan-Nya di muka bumi.
Jadi siapakah yang dinantikan di pulau-pulau? Kita!
Sebagai anggota tubuh Kristus dan yang memiliki peran berbeda-beda sesuai dengan talenta, karunia yang Tuhan anugerahkan.
Ada orang yang mendapatkan panggilan untuk pergi keluar kota atau pulau sebagai utusan misi.
Banyak dari antara mereka yang awalnya karena berpindah kerja, misalnya sebagai pegawai negeri atau pegawai swasta mereka ditempatkan di Kalimantan, atau di pulau kecil seperti pulau Ternate di Maluku.
Jika seseorang tetap terbuka kepada pimpinan dan arahan Tuhan, maka Tuhan bisa memakai mereka menjadi pemberita Injil di kota dimana dia ditempatkan.
Dan bukankah cerita ini bukan sesuatu yang baru? Di gereja kita maupun di banyak gereja yang lain, Tuhan telah memakai mereka yang berpindah kerja untuk menjadi saksi Tuhan di tempat dia bekerja, khususnya di pulau-pulau yang jauh dari tempat asalnya.
Allah juga sudah dan sedang memanggil orang untuk melayani sebagai utusan misi sepenuh waktu, yang didukung oleh gereja pengutus.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa yang bisa kita mulai agar kita bisa memahami arahan dan pimpinan Tuhan, khususnya untuk melayani di ladang misi?