Kamis, 2 Juli 2026

DIPANGGIL MENJADI SATU TUBUH

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KOLOSE 3:15-17

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa artinya membiarkan damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati, dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi cara kita menghadapi perbedaan?
  2. Bagaimana cara praktis membiarkan perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya dalam hidup kita?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” (Kolose 3:15).

Kata “memerintah” dalam bahasa Yunani menggunakan istilah brabeuo, yang biasa digunakan untuk seorang wasit dalam pertandingan olahraga.

Tugas seorang wasit adalah mengambil keputusan, menyelesaikan perselisihan, dan memastikan pertandingan berjalan dengan tertib.

Sehingga perintah Firman Tuhan “hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu,” bermakna:

Pertama, hendaknya damai sejahtera dari Kristus menjadi penentu utama dalam setiap keputusan, emosi, dan reaksi kita.

Saat hati kita mulai bergejolak oleh amarah, ego, atau kekhawatiran, damai Kristus-lah yang harus menenangkan dan itu adalah petunjuk bahwa kita sedang dalam langkah yang benar.

Kedua, kita dipanggil menjadi satu tubuh.

Di dalam sebuah tubuh yang terdiri dari banyak anggota, gesekan sangat mungkin terjadi.

Damai sejahtera Kristus harus menjadi “wasit” yang menyelesaikan setiap perbedaan pendapat, sehingga kesatuan tubuh tetap terjaga.

Panggilan Tuhan bagi orang percaya menjadi satu tubuh adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab.

Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri demi kepentingan ego masing-masing.

Ketika damai sejahtera Kristus menjadi wasit dalam hubungan kita satu dengan yang lain, Firman Tuhan akan menjadi penuntun dalam interaksi kita, dan nama Yesus menjadi tujuan dari setiap aktivitas kita, sehingga komunitas kita akan menjadi kesaksian yang hidup bagi dunia.

Di sinilah Tubuh Kristus berfungsi dengan semestinya: sehati, sejiwa, saling membangun, dan senantiasa menaikkan syukur kepada Allah Bapa.

Tubuh Kristus adalah kumpulan orang percaya, bukan kumpulan orang dari gereja yang sama, atau Sinode yang sama.

Dengan demikian kita juga harus mengakui, menghormati, mengasihi orang-orang percaya dari gereja yang berbeda, dan jangan pernah memandang bahwa gereja kita, komunitas kita adalah yang terbaik sehingga kita memandang rendah orang dari gereja yang berbeda.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan tentang bagaimana pemahaman kita tentang Tubuh Kristus ini kita terapkan dalam lingkungan di kantor, kampus atau di tempat tinggal kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 96-102

Rabu, 1 Juli 2026

KASIH SEBAGAI PENGIKAT YANG MENYATUKAN

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KOLOSE 3:12-14

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Mengapa orang percaya disebut orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya?
  2. Mengapa kasih disebut sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Dalam kehidupan bersama baik dalam keluarga, komunitas, maupun gereja, perbedaan adalah yang pasti akan terjadi.

Karakter yang unik, latar belakang yang berbeda, hingga ego masing-masing sering kali menjadi kerikil yang memicu gesekan.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa tetap utuh di tengah keberagaman dan potensi konflik tersebut?

Firman Tuhan memberikan jawabannya: Kasih.

Teori tentang karakter umat Allah yang adalah turunan dari karakter Kristus sangat mudah diucapkan, namun ujian aslinya ada pada hubungan interpersonal.

Rasul Paulus menyatakan “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain”.

Paulus bersikap realistis; ia tahu bahwa dalam komunitas, gesekan dan kekecewaan pasti akan terjadi.

Kuncinya adalah saling menopang dan mengampuni.

Kata “saling” menunjukkan bahwa ini adalah jalan dua arah.

Tidak ada yang sempurna, maka semua orang perlu bersabar dan itu dimulai dengan kesediaan untuk mendengar dan merenungkan.

Apa standar pengampunannya? “Sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”

Pengampunan kita kepada sesama bukanlah karena orang tersebut layak mendapatkannya, melainkan karena kita telah terlebih dahulu menerima pengampunan yang sangat besar dari Kristus di atas kayu salib.

Dan dasar dari kesediaan kita untuk memberikan pengampunan adalah: Kasih.

Kita bersedia mengampuni, bertindak sabar, bersedia untuk tidak membalas meskipun sudah di salah mengerti.

Mengenakan kasih dan karakter Kristus adalah pilihan yang harus diambil setiap hari. Itu tidak terjadi secara otomatis.

Saat kita bangun di pagi hari, kita harus sengaja memilih untuk mengenakan belas kasihan, kesabaran, dan kasih, terutama saat menghadapi orang-orang yang menguji batas kesabaran kita.

Ketika kita hidup dalam lingkaran kasih yang mempersatukan ini, kita sedang memperlihatkan sekilas gambaran kasih Kristus kepada dunia ini.

Kita menjadi saksi bahwa di dalam Kristus, pemulihan hubungan dan kesatuan yang sejati itu adalah hal yang nyata dan sangat mungkin untuk dilakukan.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan tentang apakah ada orang yang paling sulit untuk dikasihi.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 90-95

Selasa, 30 Juni 2026

MENGAMPUNI TANPA BATAS

Penulis : Budhi Setiawan

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 6:12-15

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa permohonan yang diajarkan Yesus Kristus dalam bagian “Doa Bapa Kami” tentang pengampunan?
  2. Apa akibatnya jika seseorang tidak mau mengampuni menurut Matius 6:15?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Ada luka yang tidak terlihat oleh mata, luka karena dikhianati, luka karena diabaikan, luka karena kata-kata yang merendahkan, luka yang terus tinggal diam di dalam hati, meskipun waktu sudah berjalan begitu lama.

Sering kali kita berkata bahwa kita sudah baik-baik saja, tetapi setiap kali mengingat orang itu, hati masih terasa panas. Ada kecewa yang belum selesai, ada tangisan yang belum benar-benar sembuh.

Lalu Yesus membawa kita kepada sebuah doa yang sederhana, tetapi sangat dalam yaitu : “Ampunilah kami… seperti kami juga mengampuni.”

Ternyata pengampunan bukan hanya tentang hubungan kita dengan sesama, tetapi juga tentang kondisi hati di hadapan Allah.

Tuhan tahu bahwa hati yang menyimpan kepahitan perlahan akan menjadi keras.

Dendam mungkin tidak terlihat dari luar, tetapi ia diam-diam menguras damai sejahtera, sukacita, bahkan hubungan kita dengan Tuhan.

Kadang kita berpikir bahwa kalau aku mengampuni, berarti aku kalah, kalau aku mengampuni, berarti apa yang dia lakukan itu benar.

Tetapi mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan.

Mengampuni adalah memilih untuk tidak hidup dikuasai oleh luka itu lagi.

Pengampunan adalah menyerahkan hak untuk membalas ke dalam tangan Tuhan.

Di kayu salib, Yesus Kristus memberikan teladan yang paling dalam. Dalam penderitaan dan penghinaan, Dia berkata “Ya Bapa, ampunilah mereka.”

Yesus mengampuni bahkan ketika orang-orang belum meminta maaf kepada-Nya.

Itulah kasih yang melampaui logika manusia.

Ketika kita sungguh mengalami pengampunan Tuhan, hati kita perlahan dilembutkan untuk mengampuni sesama.

Bukan karena mereka pantas diampuni, tetapi karena kita pun telah diampuni.

Sebab selama kita menggenggam kepahitan, tangan kita sulit menerima damai sejahtera dari Tuhan.

Mengampuni memang menyakitkan.

Tetapi hidup dalam kepahitan akan jauh lebih melelahkan.

Mengapa pengampunan tidak hanya soal perasaan, tetapi juga keputusan? Bagaimana pengampunan bisa mempengaruhi hati seseorang secara rohani dan emosional?

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 86-89

Senin, 29 Juni 2026

SEMUA ORANG TAHU KITA SALING MENGASIHI

Penulis : Budhi Setiawan

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 13:33-35

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa “perintah baru” yang diberikan Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya?
  2. Mengapa kasih menjadi tanda utama seorang murid Kristus?
  3. Bagaimana Yesus menunjukkan kasih-Nya kepada murid-murid-Nya?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Malam itu bukan malam yang biasa.

Yesus Kristus sedang berbicara kepada murid-murid-Nya untuk terakhir kalinya sebelum salib.

Di tengah suasana yang berat, setelah pengkhianatan mulai terjadi dan penderitaan semakin dekat, Yesus tidak memberikan strategi untuk menghadapi dunia, tidak juga meninggalkan kekuatan politik atau kekuasaan.

Ia meninggalkan satu hal yaitu Kasih.

“Supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu.”

Perintah ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam dan menuntut seluruh hidup.

Yesus tidak berkata, “Kasihilah sesamamu sesuai mereka memperlakukanmu.”

Dunia mengajarkan kasih yang bersyarat seperti mengasihi yang baik kepada kita, menghormati yang menghormati kita, menerima yang menguntungkan kita.

Namun kasih Kristus melampaui semua itu.

Ia mengasihi murid-murid-Nya bahkan ketika mereka belum sempurna.

Ia tetap membasuh kaki mereka walau tahu ada yang akan menyangkal dan mengkhianati-Nya.

Di situlah letak kedalaman kasih Kristus: kasih yang memilih tetap mengasihi sekalipun terluka.

Namun hati yang dingin, sikap acuh, enggan mengampuni, iri hati tersembunyi, dan kepahitan yang dipelihara juga perlahan mematikan kasih.

Kita bisa aktif melayani Tuhan, tetapi kehilangan kelembutan hati terhadap sesama.

Kita bisa sibuk dalam kegiatan rohani, tetapi gagal menghadirkan kasih Kristus dalam rumah, pekerjaan, atau persekutuan.

Yesus berkata bahwa dunia akan mengenal murid-murid-Nya melalui kasih.

Artinya kasih bukan pelengkap kehidupan rohani — kasih adalah inti kesaksian Kristen.

Dunia mungkin tidak langsung memahami khotbah kita, tetapi dunia dapat merasakan ketulusan, pengampunan, perhatian, dan pengorbanan yang lahir dari kasih Kristus.

Kasih sejati selalu menuntut kematian ego, mengampuni ketika hati ingin membalas, tetap mendoakan ketika disalah mengerti, tetap hadir bagi orang lain ketika diri sendiri lelah dsb.

Bagaimana cara membedakan kasih yang tulus dengan kasih yang hanya mencari keuntungan atau balasan? Menurut Anda, bagaimana dunia melihat orang Kristen saat mereka gagal hidup dalam kasih?

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 80-85

Minggu, 28 Juni 2026

MEMELIHARA KASIH PERSAUDARAAN

Penulis : Budhi Setiawan

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

IBRANI 13:1-5

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dimaksud dengan “memelihara kasih persaudaraan”?
  2. Mengapa kasih persaudaraan perlu dipelihara terus-menerus?
  3. Bentuk nyata kasih persaudaraan apa saja yang disebutkan dalam ayat 1–5?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Penulis Ibrani menutup suratnya bukan dengan pembahasan teologi yang rumit, tetapi dengan kehidupan yang praktis.

Setelah berbicara tentang iman, pengharapan, dan ketekunan, ia membawa pembaca pada satu hal penting: kasih persaudaraan.

Ini menunjukkan bahwa kedewasaan rohani bukan hanya terlihat dari seberapa banyak seseorang mengetahui firman Tuhan, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan sesamanya.

“Peliharalah kasih persaudaraan.”

Kata “peliharalah” mengandung arti menjaga terus-menerus.

Kasih tidak otomatis bertahan.

Hubungan dapat menjadi dingin bila tidak dirawat.

Luka hati, ego, kesalahpahaman, dan kepentingan pribadi perlahan dapat mengikis kasih yang mula-mula hangat.

Sering kali kita mudah mengasihi ketika keadaan baik.

Namun kasih persaudaraan diuji justru ketika kita disalahpahami, tidak dihargai, dikecewakan, atau harus mengalah, di situlah kasih menjadi pengorbanan, bukan sekadar perasaan.

Firman Tuhan pada Ibrani 13:1-5  menyatakan bahwa kasih Kristen bukan teori, melainkan Kasih harus terlihat dalam tindakan sehari-hari.

Kadang kita berpikir pelayanan besar adalah hal yang paling penting.

Namun Tuhan juga melihat hal-hal sederhana misalnya menyapa dengan tulus, mendengarkan orang yang terluka, membantu tanpa diketahui, mengunjungi yang sakit, atau memberi perhatian kepada mereka yang dilupakan.

Kasih persaudaraan tumbuh ketika kita belajar melihat orang lain dengan hati Kristus.

Akar Rusaknya Persaudaraan, Ibrani 13:5 menyinggung tentang cinta uang.

Karena Cinta uang dapat  membuat orang mudah membandingkan dirinya dengan orang lain, hal ini menarik, karena ternyata hubungan persaudaraan sering rusak bukan karena kebencian besar, tetapi karena hati yang dikuasai oleh keinginan diri sendiri seperti iri hati, merasa kurang, ingin lebih dihormati, mengejar keuntungan pribadi.

Ketika hati tidak puas di dalam Tuhan, manusia mulai memakai orang lain demi kepentingannya sendiri.

Karena itu Firman Tuhan berkata “Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.” Rasa cukup bukan berarti tidak boleh bekerja keras, tetapi hati tidak lagi diperbudak oleh keinginan duniawi.

Orang yang merasa cukup di dalam Tuhan akan lebih mudah mengasihi tanpa pamrih.

Kasih manusia terbatas, tetapi kasih Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Dari kasih Tuhan itulah kita dimampukan untuk mengasihi sesama.

Orang yang merasa diterima oleh Tuhan maka orang tersebut lebih mudah mengampuni, tidak haus pengakuan, tidak hidup dalam iri hati, dan tidak takut berbagi kasih.

Apa yang paling Tuhan tegur dalam hidupmu melalui bagian firman ini? Jika orang lain melihat hidup saya, apakah mereka dapat merasakan kasih Kristus? Apa tantangan terbesar dalam memelihara kasih persaudaraan saat ini?

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 78-79