Kamis, 16 Juli 2026

HATI YANG JAUH DARI TUHAN

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MARKUS 7:5-8

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dipertanyakan oleh para pemimpin agama Yahudi kepada Yesus?
  2. Mengapa Yesus menyatakan bahwa orang-orang Farisi adalah orang-orang munafik?
  3. Apa sebenarnya inti ajaran orang-orang Farisi?
  4. Apa yang diabaikan oleh orang-orang Farisi, dan apa yang mereka ajarkan?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, melalui percakapan antara orang-orang Farisi dengan Yesus Kristus, kita dapat memahami inti pembicaraan mereka.

Orang-orang Farisi bertanya, “Mengapa murid-murid-Yesus makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu?”

Hal itu mereka lakukan karena mencuci tangan sebelum makan merupakan adat kebiasaan yang diajarkan oleh nenek moyang mereka secara turun-temurun.

Yesus menjawab bahwa nabi Yesaya telah menubuatkan hal itu dengan berkata, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.

Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan hanyalah perintah manusia.

Perintah Allah kamu abaikan demi berpegang pada adat istiadat manusia.”

Saudara, bagi orang-orang Yahudi hal ini sangat jelas, karena ada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bertugas menjaga serta mengajarkan tradisi-tradisi tersebut di tengah masyarakat.

Apakah keadaan seperti ini juga dapat terjadi di tengah kehidupan kekristenan pada masa sekarang?

Secara tertulis sebenarnya tidak ada, tetapi dalam praktiknya keadaan seperti ini sering kita alami.

Misalnya, ketika kita menyanyikan pujian dan penyembahan dalam ibadah.

Sering kali kita memang bernyanyi dan memuji Tuhan, tetapi kita melakukannya hanya sebagai kebiasaan.

Karena itu, diperlukan seorang worship leader (WL) yang memimpin jalannya pujian agar seluruh jemaat dapat beribadah dengan tertib dan penuh kekhusyukan.

Namun, tidak jarang instruksi yang diberikan oleh WL tidak diikuti oleh jemaat.

Misalnya, ketika WL berkata, “Mari kita bersorak!” sering kali tidak ada yang benar-benar bersorak.

Jemaat justru hanya bertepuk tangan dengan lebih keras dan lebih cepat.

Ketika WL berkata, “Mari kita menari!” sering kali tidak ada seorang pun yang menari, bahkan terkadang WL sendiri tidak melakukannya.

Hal-hal seperti inilah yang sering saya amati dalam berbagai gereja.

Memang tidak selalu demikian, tetapi keadaan seperti ini cukup sering terjadi.

Instruksi WL tidak dilakukan sebagaimana mestinya.

Ketika diajak bersorak, hanya satu atau dua orang yang melakukannya, sedangkan yang lainnya tetap hanya bertepuk tangan.

Apakah keadaan seperti ini dapat disamakan dengan memuliakan Tuhan hanya dengan bibir, tetapi tidak dilakukan dengan sepenuh hati?

Seharusnya kita memuji dan menyembah Tuhan dengan segenap hati dan pikiran kita.

Ketika WL mengajak, “Mari kita angkat tangan kita,” sering kali masih terdengar suara tepuk tangan.

Hal itu menunjukkan bahwa masih ada jemaat yang tidak mengangkat tangan.

Bukankah keadaan seperti inilah yang sering kita jumpai dalam ibadah di gereja? Marilah kita mengamati dan merenungkannya.

Allah menginginkan agar ibadah kita benar-benar lahir dari jiwa dan roh, sehingga tubuh kita dapat mengikutinya dengan baik.

Dengan demikian, ketika firman Tuhan disampaikan, roh kita sudah siap dan terbuka untuk menerima benih firman.

Marilah kita beribadah bukan hanya dengan bibir, tetapi dengan segenap hati, jiwa, pikiran dan seluruh keberadaan kita.

Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Apa yang menyebabkan kita sering mengabaikan instruksi dari WL ketika memuji dan menyembah Tuhan?

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 10-12

Rabu, 15 Juli 2026

BAHAYA PENYEMBAHAN YANG DARI BIBIR SAJA

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 15:7-9

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Mengapa seseorang disebut sebagai orang munafik?
  2. Bagaimana mungkin seseorang memuliakan Tuhan dengan mulutnya, tetapi hatinya jauh dari Tuhan?
  3. Apa yang dimaksud dengan ajaran yang hanya merupakan perintah manusia?
  4. Mengapa Yesaya menubuatkan, “Percuma mereka beribadah kepada-Ku”?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, pernyataan dalam bagian firman ini merupakan teguran Allah kepada bangsa Israel, khususnya kepada para pemimpin agama Yahudi yaitu kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat.

Yesus mengutip:

Yesaya 29:13 “Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan”

Yesus menyebut mereka munafik (hypocrites), yaitu seperti seorang aktor atau pemain sandiwara.

Pada saat Yesus hadir sebagai Mesias yang telah dijanjikan, para pemimpin agama Yahudi tidak mengenal Dia.

Bahkan, mereka sangat membenci-Nya karena pengaruh Yesus jauh lebih besar, sehingga banyak orang memuji dan mengikuti Yesus, sementara mereka sendiri semakin kurang dihormati oleh masyarakat.

Yesus melihat bahwa para pemimpin agama itu mengetahui dari apa yang mereka pelajari dan baca dalam Hukum Taurat Musa bahwa Mesias akan datang.

Namun, mereka tidak memahami bahwa Yesus adalah Mesias yang hadir pada zaman mereka.

Hal itu disebabkan karena menurut pemahaman mereka masih ada beberapa tanda yang dianggap tidak terpenuhi.

Misalnya, Yesus berasal dari Nazaret di Galilea, sedangkan menurut anggapan mereka Mesias sebagai keturunan Daud seharusnya berasal dari Yudea, bukan dari Galilea.

Karena Yesus berasal dari Nazaret di Galilea, bukan dari Yudea, tanda-tanda dan mujizat yang dilakukan-Nya tidak memberikan kesan yang berarti bagi mereka.

Meskipun demikian, ada juga seorang pemimpin agama Yahudi yang tergerak oleh mujizat-mujizat Yesus, yaitu Nikodemus.

Ia datang menemui Yesus pada malam hari dan berdialog dengan Yesus.

Yohanes 3:1-2 “Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”

Oleh karena itu, sebenarnya para pemimpin agama itu juga menyadari bahwa Yesus bukanlah sembarang guru.

Tanda-tanda dan mujizat yang dilakukan Yesus merupakan bukti bahwa Dialah Mesias yang telah dijanjikan.

Namun, karena iri hati dan kebencian, mereka menolak mengakui kebenaran tersebut.

Bahkan, mereka mengatakan bahwa Yesus melakukan mujizat dengan pertolongan Beelzebul.

Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa mereka hanya memuliakan Allah dengan bibir mereka, tetapi hati mereka jauh dari Allah.

Yesus juga mengingatkan kembali nubuat Yesaya dan para nabi mengenai kedegilan bangsa Yahudi, yang dimulai dari para pemimpin agama mereka.

Para pemimpin agama itu adalah orang-orang yang aktif melayani di Bait Allah.

Seharusnya mereka menyadari bahwa kasih, kebaikan, dan kebenaran yang dinyatakan Yesus melalui setiap tindakan-Nya, seperti memulihkan orang lumpuh, memberi penglihatan kepada orang buta, menyembuhkan orang sakit kusta, dan berbagai mujizat lainnya, merupakan tanda yang nyata bahwa Yesus adalah Utusan Allah.

Saudara, marilah kita menyembah Allah dengan hati yang dipenuhi damai sejahtera yang telah dianugerahkan kepada kita.

Biarlah pujian dan penyembahan yang kita naikkan lahir dari hati yang tulus sebagai ungkapan syukur, bukan sekadar ucapan bibir.

Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Apakah yang sepatutnya menimbulkan ucapan syukur dan penyembahan dalam kehidupan kita sehari-hari?

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 7-9

Selasa, 14 Juli 2026

TUBUHMU ADALAH BAIT ROH KUDUS

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

1 KORINTUS 6:17-20

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Bagaimana cara kita dapat bersatu dengan Tuhan Yesus?
  2. Percabulan merupakan dosa yang dilakukan terhadap siapa?
  3. Tubuh orang percaya adalah apa?
  4. Sebenarnya, kita adalah milik siapa?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, Bapa memeteraikan kita dengan Roh-Nya.

Mengenai hal ini, rasul Paulus menuliskan:

Efesus 1:13-14 “Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”

Efesus 3:17 “sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih”

Saudara, rasul Paulus memberikan nasihat kepada anak-anak Tuhan yang baru diselamatkan oleh iman dan keyakinan kepada firman Tuhan.

Nasihat itu dinyatakan:

Kolose 2:6-7 “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”

Rasul Paulus menasihatkan agar setiap orang yang baru percaya tetap tinggal di dalam Kristus.

Kristus ada di dalam kita dan kita ada di dalam Kristus.

Yesus telah berpesan agar kita tetap tinggal di dalam Dia, supaya kita dapat bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah.

Di luar Yesus kita tidak dapat berbuat apa pun dan tidak akan memperoleh hasil yang sejati.

Tuhan menghendaki agar kita senantiasa hidup dalam hubungan yang intim dengan Roh Kudus yang berdiam di dalam kita.

Mengenai hal ini, rasul Paulus juga menuliskan:

Galatia 5:25-26 “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.”

Roh Kudus akan memimpin kita hidup dalam kekudusan dan kesucian.

Roh Kudus juga akan menuntun hidup kita kepada keberhasilan serta membawa kita terus bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Yesus.

Dengan hidup di bawah pimpinan Roh Kudus, kita akan bertumbuh dengan baik.

Yesus sendiri berkata bahwa di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa pun.

Yohanes 15:5 “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Oleh karena itu, jika kita adalah Bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kita, maka hendaklah kita senantiasa membiarkan Roh Kudus mengarahkan dan memimpin setiap langkah hidup kita untuk melakukan segala sesuatu yang telah difirmankan oleh Yesus Kristus.

Dengan demikian, hidup kita akan bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang berlimpah.

Haleluya. Puji Tuhan. Amin.

Apakah yang menyebabkan kita sering terdistraksi sehingga hidup kita tidak menghasilkan buah?

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 4-6

Senin, 13 Juli 2026

PENYEMBAHAN YANG MENYENANGKAN HATI TUHAN

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 21:14-17

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Siapakah yang disembuhkan oleh Yesus di Bait Allah?
  2. Apa yang membuat para imam kepala dan ahli-ahli Taurat merasa jengkel?
  3. Bagaimana jawaban Yesus terhadap pertanyaan para tua-tua Yahudi itu?
  4. Mengapa Yesus meninggalkan para tua-tua Yahudi yang jengkel itu, lalu pergi ke luar kota dan menginap di sana?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, setelah Yesus menyucikan Bait Allah, Bait Allah kembali menjadi rumah doa, bahkan menjadi rumah doa bagi segala bangsa, seperti yang telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya.

Yesaya 56:7 “mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.”

Tuhan tidak menghendaki rumah doa-Nya dijadikan sarang penyamun yaitu tempat orang-orang berjualan, menukar uang, menjual burung serta memperdagangkan berbagai hewan kurban lainnya.

Pada mulanya, para penukar uang, penjual burung dan penjual hewan kurban bertujuan untuk menolong para jemaat yang datang dari tempat yang jauh.

Mereka tidak perlu lagi bersusah payah membawa hewan kurban dari Galilea ke Yerusalem, ataupun dari Samaria dan daerah-daerah lain di Yudea yang letaknya jauh dari Yerusalem.

Tujuan tersebut pada awalnya baik. Namun, karena manusia telah jatuh ke dalam dosa, tujuan itu berubah menjadi kegiatan bisnis semata.

Keuntungan menjadi prioritas utama.

Akibatnya, halaman Bait Allah berubah menjadi tempat perdagangan.

Tempat yang sunyi dan kudus dipenuhi aktivitas jual beli sehingga suasana rumah doa terganggu oleh kesibukan dan kebisingan para pedagang.

Hal inilah yang menyebabkan Tuhan Yesus mengusir para pedagang dari halaman Bait Allah.

Secara rohani, Tuhan menghendaki agar penyembahan kita tidak bercampur dengan cinta akan uang yaitu sikap hidup para penyembah Mamon yang mencemari rumah doa.

Penyembahan yang benar hanya dapat terjadi setelah para “penyamun”, yaitu segala bentuk cinta akan uang, disingkirkan dari rumah doa, yaitu tubuh dan kehidupan kita.

Kekudusan merupakan syarat mutlak bagi penyembahan.

Tidak ada penyembahan yang sejati tanpa kekudusan. Setelah terjadi penyucian dan pengudusan, barulah penyembahan kita dapat menyenangkan hati Tuhan.

Penyembahan yang benar akan membawa pemulihan.

Orang-orang yang sakit, yang cacat dan yang sedang menghadapi berbagai persoalan akan mengalami pemulihan ketika penyembahan yang benar dinaikkan kepada Tuhan.

Menyembah dalam roh dan kebenaran bukan berarti harus berbahasa roh.

Setiap orang percaya yang telah lahir baru sudah dapat menyembah dalam roh karena rohnya berada di bawah naungan kuasa Roh Kudus, sekalipun tidak memiliki atau tidak menggunakan karunia bahasa roh (glosolalia).

Penyembahan yang polos dan tulus seperti penyembahan anak-anak kecil kepada Yesus, justru membuat para pemimpin agama Yahudi menjadi marah dan jengkel terhadap Yesus.

Yesus berkenan mendengar pujian yang dinaikkan dengan hati yang sederhana dan murni.

Tuhan tidak mencari penyembah yang hebat.

Tuhan berkenan kepada penyembahan yang dinaikkan dengan hati yang kudus, tulus dan benar, bukan untuk mencari pujian atau perhatian manusia, melainkan semata-mata untuk mencari perkenan Tuhan.

Tuhan menolak penyembahan yang hanya bersifat agamawi dan ritual yang sekadar mengikuti liturgi atau program, tetapi tidak lahir dari hati yang kudus dan tulus.

Penyembahan seperti itu tidak lagi muncul secara spontan sebagai respon terhadap hadirat dan jamahan Tuhan.

Tuhan mencari penyembah-penyembah yang benar.

Yohanes 4:23-24 “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

Saudara, setelah berdialog dengan para pemimpin agama Yahudi, yaitu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, Yesus meninggalkan Bait Allah dan pergi ke Betania.

Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Korintus:

1 Korintus 6:19-20 “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”

Saudara, Tuhan telah membeli kita dengan harga yang mahal dan menjadikan kita milik-Nya sepenuhnya. Ia menghendaki agar kita memuliakan Dia dengan tubuh kita.

Oleh sebab itu, biarlah Yesus menyucikan Bait Allah, yaitu tubuh kita sebagai tempat kediaman Roh Kudus sehingga tubuh dan kehidupan kita menjadi rumah doa.

Bapa menghendaki agar hidup kita menjadi rumah doa bagi segala bangsa.

Saudara, marilah kita mempersembahkan hidup kita sebagai penyembah-penyembah yang benar, yang menyenangkan hati Bapa, karena kita menyembah Dia dalam roh dan kebenaran.

Haleluya. Puji Tuhan. Amin.

Dengan apakah Tuhan menyucikan hidup kita pada saat ini?

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 1-3

Minggu, 12 Juli 2026

JANGAN JADIKAN BAIT ALLAH MENJADI SARANG PENYAMUN

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 21:12-17

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dilakukan Yesus ketika memasuki Bait Allah?
  2. Mengapa Yesus mengatakan bahwa Bait Allah telah menjadi sarang penyamun?
  3. Mengapa orang-orang Farisi menjadi jengkel ketika mendengar banyak orang memuji dan memuliakan Allah karena mujizat-mujizat yang terjadi di Bait Allah?
  4. Mengapa Yesus meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota, sehingga tidak tinggal di Yerusalem?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, dalam konteks ini Tuhan Yesus menyatakan bahwa Bait Allah di Yerusalem adalah tempat kediaman Allah.

Namun, dalam masa Perjanjian Baru, tubuh setiap orang percaya telah menjadi Bait Allah.

Efesus 3:17 “sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.”

1 Korintus 6:19-20 “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”

Ketika Yesus memasuki Bait Allah di Yerusalem, Ia menjungkirbalikkan meja-meja penukar uang, bangku-bangku penjual burung merpati, serta para penjual hewan persembahan lainnya.

Lalu Yesus berkata, “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”

Oleh karena itu, apakah yang sepatutnya kita lakukan terhadap tubuh kita sebagai tempat kediaman Roh Kudus, supaya Yesus tidak menyebut tubuh kita sebagai sarang penyamun?

Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Karena Roh Kudus hadir dalam kehidupan kita, rasul Paulus mendorong kita untuk hidup di bawah pimpinan Roh Kudus.

Dengan demikian, kita tidak lagi dikuasai oleh keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, melainkan hidup sesuai dengan firman Allah, sehingga kehidupan kita menjadi berkenan kepada Allah.

Roh Kudus akan membimbing kita supaya tidak lagi hidup menurut keinginan daging seperti percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan berbagai perbuatan lainnya.

Barangsiapa melakukan hal-hal demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Kehidupan yang dikuasai oleh kedagingan menjadikan tubuh kita seperti sarang penyamun.

Akibatnya, kita menjadi cinta uang, tidak lagi mengutamakan Kerajaan Allah, terikat pada berbagai keinginan duniawi, dan akhirnya menjauh dari ibadah yang sejati.

Oleh sebab itu, Tuhan Yesus dengan tegas membersihkan Bait Allah dari segala kegiatan yang mencemari kekudusannya dan merugikan orang-orang yang datang beribadah ke bait Allah.

Demikian pula, kita harus mempersembahkan hati, pikiran, dan kehendak kita kepada Tuhan Yesus supaya Roh Kudus memimpin kita dalam kehidupan yang beribadah kepada Allah Bapa.

Oleh karena itu, dengan bimbingan Roh Kudus marilah kita mematikan segala sesuatu yang duniawi di dalam diri kita, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan keserakahan yang sama dengan penyembahan berhala, sebab semuanya itu mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.

Marilah kita juga membuang amarah, geram, kejahatan, fitnah, serta perkataan kotor dari mulut kita.

Jangan lagi saling mendustai, tetapi kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.

Bersabarlah seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila ada yang menaruh dendam, sama seperti Tuhan telah mengampuni kita.

Dengan demikian, kita dapat menjadi Bait Allah yang menjadi rumah doa bagi segala bangsa dan bukan lagi sarang penyamun.

Kiranya hidup kita menjadi persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah.

Haleluya. Puji Tuhan. Amin.

Kegiatan-kegiatan seperti apakah yang dapat menjadikan hidup kita atau tubuh kita sebagai sarang penyamun?

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 146-150