Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Kisah Para Rasul 8:17.
Apakah yang didengar oleh rasul-rasul di Yerusalem sehingga mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke Samaria?
Hal apakah yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes agar orang-orang Samaria beroleh Roh Kudus?
Dengan cara bagaimanakah rasul Petrus dan Yohanes sehingga orang-orang di Samaria beroleh Roh Kudus?
Tuhan sedang membawa setiap orang untuk mengalami keserupaan Kristus dan mengalami realita Kristus dan janji-janji Tuhan telah menunjukkan bahwa hal itu akan segera terjadi, mulai dari pemilihan-Nya bagi kita untuk menjadi anak-anak-Nya serta hidup yang dikuduskan-Nya sehingga tidak bercacat cela.
“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.”(Efesus 1:4-5).
Orang-orang harus menerima Firman itu sebagai janji dari Allah dan mengalami kelahiran kembali.
Namun janji Tuhan tidak sampai memberikan Firman-Nya saja tetapi Allah juga memberikan Roh Kudus agar kita mengalami kepenuhan-Nya melalui kepenuhan Roh Kudus.
Itulah sebabnya orang-orang perlu mengalami pekerjaan Roh Kudus dan tidak hanya pekerjaan Firman Tuhan.
”Akan terjadi pada hari-hari terakhir — demikianlah firman Allah — bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.”(Kisah Para Rasul 2:17-18).
”Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”(II Korintus 3:17-18).
Dan Roh Kudus itu yang akan membawa kita terus menerus mengalami kepenuhan Kristus dan kepenuhan Allah.
Oleh sebab itu kita harus memulainya dengan bergaul dengan Firman Tuhan dan kemudian bergaul dengan Roh Kudus.
”Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.”(II Korintus 13:14).
”Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.” (Efesus 1:14).
Oleh karena itu marilah kita senantiasa bersekutu dengan Firman Tuhan dan Roh Kudus sehingga selalu mengalami kepenuhan Roh Kudus untuk mengalami hari-hari hidup yang penuh dengan kemenangan.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara senantiasa mengalami kepenuhan Kristus dan Roh Kudus melalui persekutuan dengan Firman Tuhan dan Roh Kudus.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa perbedaan antara cara Simon menggunakan “kuasa”-nya (ayat 9-11) dengan cara Filipus menggunakan kuasa Allah (ayat 12-13)?
Mengapa orang Samaria yang sebelumnya mengagungkan Simon (ayat 10) dapat beralih percaya kepada pemberitaan Filipus?
Menurut pengamatanmu, “kuasa palsu” seperti apa yang masih “memesona” orang-orang di sekitarmu saat ini, dan bagaimana Injil dapat menjawabnya?
“Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan” (Kisah Para Rasul 8:12).
Sebelum Injil datang, kota Samaria telah lama hidup dalam pesona.
Simon, dengan sihirnya, telah menciptakan ilusi kuasa yang membuat orang takjub dan menyembahnya.
Ini adalah gambaran sempurna tentang dunia kita—banyak hal dan orang mengklaim memiliki “kuasa besar” untuk memberikan kepuasan, kesuksesan, atau pengalaman spiritual (kuasa uang, okultisme, ilmu gaib, kultus individu).
Kuasa-kuasa ini memesona tetapi pada akhirnya membelenggu.
Latar belakang ini mengingatkan kita bahwa pertempuran rohani bukanlah dongeng. Ia nyata dan hadir di tengah masyarakat.
Namun, kisah ini juga memberi kita pengharapan: di mana kuasa kegelapan berkuasa, di situlah Injil Kerajaan Allah paling dibutuhkan dan paling berkuasa untuk menerobos.
Perbedaan mendasar antara kuasa kegelapan dan Kuasa Allah.
Kuasa Simon (sihir) bertujuan untuk “memesona” (ayat 9, 11)—membuat orang terpukau, terhipnotis, tetapi tetap dalam kendalinya.
Hasilnya adalah kultus kepribadian (ayat 10).
Sebaliknya, Kuasa yang dibawa Filipus melalui pemberitaan Injil bertujuan untuk “membebaskan dan mengubah”.
Ia menyembuhkan yang sakit, mengusir roh jahat, dan membawa orang kepada iman dan baptisan—sebuah tindakan publik untuk memutuskan ikatan dengan masa lalu.
Kuasa Injil tidak membuat orang terkagum-kagum pada sang pemberita, tetapi membawa mereka kepada “nama Yesus Kristus” (ayat 12).
Kuasa Allah memerdekakan dan memusatkan penyembahan kepada Kristus, bukan kepada manusia.
Kuasa Allah tidak menghindari konfrontasi.
Filipus tidak berkhotbah di pinggiran kota; ia langsung masuk ke pusat pengaruh Simon.
Ketika Kuasa Kerajaan Allah yang sejati hadir dengan tanda-tanda otentik, kuasa palsu itu terbongkar dengan sendirinya.
Orang-orang yang tadinya terpesona oleh Simon, kini melihat sesuatu yang lebih besar: kuasa yang tidak hanya memukau, tetapi menyembuhkan dan menyelamatkan.
Hasilnya adalah pertobatan massal, termasuk Simon sendiri (meski nanti terungkap motivasinya belum tulus).
Terang tidak perlu berdebat dengan kegelapan; ia hanya perlu menyinari.
Kehadiran hidup yang dipenuhi Kuasa Allah dan pemberitaan Injil yang jelas akan secara alami mengungkapkan kesia-siaan kuasa palsu dan menarik orang kepada kebenaran.
Hal-hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Kenali dan Tolak Segala “Pesona” Kuasa Palsu di Sekitarmu.
Evaluasi hidupmu: adakah hal-hal yang “memesona” dan mengklaim kuasa atas hidupmu selain Kristus?
Itu bisa berupa praktik spiritual yang tidak alkitabiah, ketergantungan pada ramalan, atau kultus terhadap pemimpin tertentu.
Ambil keputusan untuk menolaknya dan berpegang hanya pada Kristus.
Kedua, Beritakan Injil dengan Keyakinan akan Kuasa yang Menyertainya.
Saat membagikan iman, jangan takut atau merasa inferior.
Percayalah bahwa “Injil adalah kekuatan Allah” (Roma 1:16).
Berdoalah agar Tuhan menyertai pemberitaanmu dengan konfirmasi kuasa-Nya, baik melalui kata-kata hikmat, doa kesembuhan, atau perubahan hidup yang nyata.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana supaya dapat menyatakan kuasa Allah dalam penginjilan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut ayat 4, siapa yang sebenarnya menjadi pengabar Injil utama saat penganiayaan terjadi? Apa implikasinya bagimu?
Apa hubungan antara pemberitaan tentang “Mesias” (ayat 5) dengan “tanda-tanda” (ayat 6-7) yang menyertainya?
Hasil akhir dari pemberitaan Filipus adalah “sukacita yang besar” (ayat 8). Apakah pelayanan/pemberitaanmu selama ini cenderung menghasilkan beban/rasa bersalah atau sukacita? Mengapa?
“Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. (Kisah Para Rasul 8:4).
Kitab Kisah Para Rasul mencatat pola kerja Allah yang sering kali paradoks.
Penganiayaan yang tampak seperti bencana bagi gereja mula-mula justru menjadi strategi Allah untuk memperluas wilayah Kerajaan-Nya.
Ketika gereja yang nyaman di Yerusalem dipaksa untuk berpencar, mereka tidak lari untuk bersembunyi, melainkan lari sambil “memberitakan Firman” (ayat 4).
Latar belakang ini mengajarkan kita bahwa rencana Tuhan untuk penginjilan seringkali berjalan melalui jalan yang tidak nyaman, penuh tekanan, dan bahkan menyakitkan.
Namun, di dalam setiap krisis dan penyerakan, tersembunyi sebuah mandat misi.
Ketika kita merasa “tersebar” karena tekanan hidup, pekerjaan, atau keadaan, Tuhan memanggil kita untuk menjadi saksi di tempat baru kita.
Injil yang sejati bukan hanya informasi tentang Kristus, tetapi juga demonstrasi kuasa Kerajaan Allah.
Filipus tidak hanya berbicara tentang Mesias; ia “memberitakan Mesias” disertai dengan pembebasan dan penyembuhan.
Kuasa ini adalah bagian integral dari pesan itu sendiri, karena ia membuktikan bahwa Yesus yang disalibkan dan bangkit itu adalah Tuhan yang berkuasa atas roh-roh jahat, penyakit, dan segala kutuk.
Kuasa ini menarik perhatian dan membuka hati (ayat 6), sehingga orang-orang “memperhatikan” pemberitaannya.
Prinsip ini mengoreksi kecenderungan kita untuk memisahkan pemberitaan verbal dari pelayanan kuasa. Injil yang diberitakan dengan kuasa adalah pesan yang mengubah realitas.
Kuasa Injil Menciptakan Sukacita yang Mengubah Masyarakat.
Kuasa Injil tidak hanya menyembuhkan individu, tetapi menciptakan atmosfer kolektif, sebuah transformasi sosial.
Kota yang sebelumnya mungkin diliputi oleh ketakutan, penyakit, dan penindasan roh-roh jahat, kini dipenuhi dengan sukacita karena mengalami pembebasan.
Sukacita ini adalah tanda kehadiran Kerajaan Allah (Roma 14:17).
Prinsipnya adalah bahwa pemberitaan Injil yang disertai kuasa ilahi tidak berhenti pada keselamatan pribadi, tetapi membawa pemulihan dan kegembiraan yang berdampak pada komunitas.
Injil yang penuh kuasa adalah berita baik yang menghasilkan kegembiraan yang nyata dan menular.
Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Jadilah Pemberita Injil di Tempat ” kamu terpencar”.
Apapun keadaanmu—baik karena pindah kerja, studi, atau tekanan—lihatlah dirimu sebagai seorang Filipus yang diutus.
Berdoalah untuk keberanian dan kesempatan untuk “memberitakan Firman” (secara verbal dan dengan hidup) di lingkungan barumu.
Kedua, Gabungkan Pemberitaan dengan Doa untuk Tanda-tanda Kuasa.
Saat memberitakan Kristus kepada orang lain, jangan hanya mengandalkan argumentasi.
Doakan juga secara spesifik untuk kebutuhan mereka—beban emosional, sakit fisik, atau ikatan dosa.
Percayalah bahwa Tuhan ingin menyatakan kuasa-Nya sebagai konfirmasi atas Firman-Nya.
Ketiga, Bawalah Injil yang Menghasilkan Sukacita ke Komunitasmu.
Tujuan pelayananmu bukan hanya “memenangkan jiwa” secara statistik, tetapi membawa atmosfer sukacita ilahi ke dalam komunitasmu.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki sikap hati yang “miskin dihadapan Allah” sehingga terus merasa haus dan lapar kepada Allah.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut ayat 12-13, apa hubungan antara kekudusan/rasa takut akan Tuhan dalam jemaat dengan kuasa mujizat yang dinyatakan?
Respons orang banyak membawa orang sakit ke jalan (ayat 15) menunjukkan jenis iman seperti apa? Bagaimana kita bisa memiliki iman yang aktif seperti itu?
“Mereka semua disembuhkan” (ayat 16). Bagaimana janji kuasa Kristus yang sempurna ini seharusnya memengaruhi doa dan pengharapan kita untuk orang-orang yang sakit dalam lingkup pengaruh kita?
“Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan” (Kisah Para Rasul 5:16).
Kitab Kisah Para Rasul mencatat gereja yang lahir dalam kuasa Roh Kudus.
Setelah peristiwa Pentakosta, gereja bukan hanya bertumbuh dalam jumlah, tetapi juga dalam pengaruh dan otoritas spiritual.
Latar belakang perikop ini adalah gereja yang menjaga kekudusan (pelajaran dari Ananias dan Safira) dan karena itu menjadi saluran yang jernih bagi kuasa Allah.
Ketika gereja hidup dalam kesatuan, ketakutan akan Tuhan, dan integritas, kuasa Kristus untuk menyembuhkan dan membebaskan dapat mengalir dengan bebas.
Komunitas seperti ini menjadi magnet bagi orang-orang yang terluka dan sakit, tetapi sekaligus menciptakan rasa hormat dan takut akan kekudusan Allah.
Ini mengingatkan kita bahwa kuasa ilahi bekerja optimal dalam wadah yang kudus.
Kuasa Kristus yang menyembuhkan memancar melalui kehidupan orang-orang yang sepenuhnya berkomitmen kepada-Nya.
Para rasul tidak memiliki kuasa dari diri mereka sendiri; kuasa itu adalah milik Kristus yang bekerja melalui mereka.
Namun, kehidupan mereka yang penuh dedikasi, keberanian (di tengah ancaman), dan integritas menjadikan mereka “saluran” yang efektif.
Bahkan bayangan Petrus pun dipercaya membawa kesembuhan, yang menunjukkan betapa kuatnya kehadiran dan otoritas Kristus yang melekat pada hidupnya.
Prinsip ini menantang kita: seberapa jauh hidup kita dipersembahkan sebagai saluran yang kudus dan siap dipakai untuk menyatakan kuasa penyembuhan-Nya?
Kuasa itu tidak bekerja melalui kemampuan kita, tetapi melalui kesediaan dan kekudusan hidup kita.
Kuasa Penyembuhan Menarik Banyak Orang kepada Kristus dan Membawa Pemulihan Total.
Tanda dan mujizat bukan untuk sensasi atau meninggikan sang rasul.
Hasilnya adalah: (1) “jumlah orang yang percaya… bertambah” (ayat 14), dan (2) “mereka semua disembuhkan” (ayat 16).
Kuasa penyembuhan membawa buah penginjilan—orang datang dan percaya kepada Tuhan.
Selain itu, penyembuhan yang dilakukan bersifat menyeluruh dan tanpa kecuali.
Ini menunjukkan sifat Kerajaan Allah yang membawa pemulihan total—roh, jiwa, dan tubuh.
Kristus peduli dengan penderitaan manusia secara holistik. Ketika gereja dengan tulus mendoakan dan melayani orang sakit dengan iman, itu menjadi kesaksian nyata tentang kasih dan kuasa Kristus yang hidup, yang dapat melembutkan hati yang paling keras sekalipun.
Hal-hal Praktis untuk Melakukan Firman Pertama, Jadilah Komunitas yang Kudus dan Berintegritas.
Kuasa Allah mengalir dalam saluran yang bersih.
Evaluasi hidup pribadi dan komunitas imanmu: apakah ada kompromi, kemunafikan, atau dosa yang ditutup-tutupi? Bereskanlah di hadapan Tuhan.
Bangunlah hubungan yang jujur dan saling menguatkan dalam komunitasmu, karena ini adalah fondasi bagi pelayanan kuasa.
Kedua, Berdoalah dengan Iman bagi yang Sakit dan Terbelenggu.
Jangan ragu untuk mendoakan orang sakit dengan iman bahwa Kristus masih berkuasa menyembuhkan hari ini.
Lakukan dalam otoritas nama Yesus, bukan dengan mengandalkan kekuatan sendiri.
Ajaklah orang lain untuk sepakat dalam doa.
Percayalah bahwa doa orang benar sangat besar kuasanya.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, diskusikan bagaimana melayani dengan kuasa Allah.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut Yesus dalam nas ini, apa tujuan dari pengurapan Roh Tuhan?
Aspek mana dari misi Yesus (kabar baik, pembebasan, penglihatan, pembebasan tertindas) yang paling relevan dengan konteks masyarakat di sekitarmu saat ini?
Langkah praktis apa yang dapat kamu ambil minggu ini untuk menjadi alat pembebasan dalam satu aspek tersebut?
“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18-19)
Lukas mencatat bahwa Yesus tumbuh dalam ketaatan dan hikmat (Lukas 2:52).
Kembali ke Nazaret, tempat Ia dikenal sebagai “anak tukang kayu,” Yesus memilih momen yang penuh makna untuk secara resmi menyatakan misi-Nya.
Ia melakukannya bukan di istana atau Bait Allah di Yerusalem, tetapi di rumah ibadat kecil di kota kecil, di tengah orang-orang yang mengenal-Nya sejak kecil.
Latar belakang ini mengajar kita bahwa panggilan dan pengurapan ilahi seringkali dinyatakan dalam konteks yang akrab dan biasa.
Allah memilih untuk memulai revolusi kasih karunia-Nya dari tempat yang tidak terduga, melalui pribadi yang dianggap biasa, dengan sebuah manifesto yang mengubah sejarah: pembebasan telah tiba.
Kehadiran dan pengurapan Roh Tuhan selalu bertujuan untuk pelayanan pembebasan.
Yesus menyatakan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku”.
Pengurapan ini bukan untuk kemuliaan pribadi, status, atau kekuasaan, tetapi untuk sebuah misi: menyampaikan kabar baik, memberitakan pembebasan, memulihkan penglihatan, dan membebaskan yang tertindas.
Ini adalah pola ilahi.
Jika kita mengaku memiliki Roh Kristus, maka hidup kita juga harus diarahkan untuk tujuan yang sama: menjadi alat pembebasan di dunia yang masih terbelenggu oleh dosa, keputusasaan, ketidakadilan, dan penindasan dalam berbagai bentuknya.
Keperkasaan rohani diukur dari dampak pembebasannya bagi orang lain.
Misi pembebasan yang holistik. Yesus tidak hanya datang untuk “menyelamatkan jiwa” dalam artian yang sempit. Ia datang untuk:
Menyampaikan kabar baik kepada orang miskin (pengharapan bagi yang bangkrut secara materi dan rohani).
Memberitakan pembebasan kepada orang tawanan (kebebasan dari dosa, adiksi, dan pola pikir yang menghambat).
Penglihatan bagi orang buta (pemulihan perspektif, tujuan, dan pengenalan akan kebenaran).
Membebaskan orang yang tertindas (pembelaan terhadap yang lemah dan terinjak).
Misi-Nya menjangkau seluruh aspek manusia yang rusak. Ini berarti gereja dan setiap pengikut Kristus dipanggil untuk terlibat dalam pelayanan yang memulihkan secara utuh—memberitakan Injil dan bertindak adil, menyembuhkan hati dan menolong yang lemah.
Hal-hal Praktis untuk Melakukan Firman Pertama, Kenali dan Gunakan “Pengurapan” Anda di Lingkungan Anda.
Seperti Yesus di Nazaret, lihatlah di sekelilingmu.
Di lingkungan keluarga, pekerjaan, atau komunitasmu, bidang apa yang membutuhkan “kabar baik” atau “pembebasan”?
Apakah ada orang yang “miskin” secara relasi, “tertawan” oleh kebiasaan buruk, atau “tertindas” secara emosional?
Jadilah saluran pengurapan Roh dengan mendekati mereka dalam kasih.
Kedua, Jadilah Pembawa Kabar Baik yang Aktif.
Jangan simpan iman Anda untuk diri sendiri.
Bagikan pengharapan dari Firman Tuhan kepada yang putus asa.
Doakan dan bantu mereka yang merasa terbelenggu untuk menemukan kebebasan dalam Kristus.
Itu bisa dimulai dari mendengarkan dan mendoakan.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya melayani dengan penuh pengurapan.