Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Musa menuliskan dalam hukum Taurat: “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.” Namun, apakah yang diajarkan Yesus Kristus sebagai pengganti hukum Taurat itu?
Apa yang menjadikan kita anak-anak Bapa di sorga?
Siapakah yang sepatutnya menerima salam kita?
Kasih siapakah yang harus kita teladani dan lakukan?
Saudara, Yesus memberikan perintah kepada murid-murid-Nya sebagai tanda bahwa mereka adalah murid Kristus:
Yohanes 13:34-35“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Yesus juga pernah mengatakan bahwa hukum yang terutama dalam hukum Taurat adalah:
Matius 22:36-42“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kata-Nya: “Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?” Kata mereka kepada-Nya: “Anak Daud.”
Dari apa yang dikatakan Yesus, jelas bahwa hukum kasih merupakan dasar hidup orang percaya.
Orang Kristen dikenal melalui kasihnya kepada siapa saja.
Orang lain seharusnya dapat merasakan kasih itu melalui senyum, sapaan, dan sikap kita yang ramah.
Saudara, setiap hari kita hidup di tengah masyarakat.
Menurut saudara, apa yang dipikirkan orang-orang di sekitar tentang dirimu dan keluargamu, khususnya para tetanggamu?
Bagaimana dengan teman sekantor, teman sekelas, teman sepermainan dan orang-orang lain di sekitarmu?
Kesan seperti apa yang ingin saudara tanamkan dalam pikiran mereka tentang dirimu?
Namun, semua itu bukan untuk menyombongkan diri.
Apa yang saudara lakukan agar mereka mengenalmu dengan baik, sehingga memudahkanmu untuk berbicara dan bergaul dengan mereka?
Dari hubungan itulah, suatu saat engkau dapat bersaksi dan memberitakan kabar baik kepada mereka.
Saudara, sudahkah kita berusaha supaya mereka mengenal kita dengan baik, sehingga terbuka kesempatan bagi kita untuk bersaksi kepada mereka?
Saudara, cobalah menjawab pertanyaan ini dengan jujur.
Apakah tetanggamu mengenalmu sebagai orang yang baik, ramah, murah hati, dan suka bergotong royong?
Ataukah mereka mengenalmu sebagai orang yang sombong dan tidak mau bergaul?
Seperti apakah penilaian mereka terhadap dirimu?
Orang lain menilai kita berdasarkan kesan yang kita tanamkan melalui sikap dan cara kita bergaul dengan mereka.
Saudara, berdoalah bagi para tetanggamu, teman sekantormu, pemilik warung tempat engkau berbelanja, dan orang-orang yang setiap hari engkau temui.
Mintalah supaya Tuhan Yesus menganugerahkan belas kasihan di dalam hatimu bagi mereka semua.
Mari kita melaksanakan perintah Yesus yang terutama, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Mari kita mengasihi tetangga, teman sekantor, teman sepergaulan, penjual dan pembeli di pasar, serta siapa saja yang sering kita temui.
Berdoalah bagi mereka dan mulailah membangun hubungan yang baik dengan mereka.
Tanamkan kasih dan kebaikan supaya mereka mengenalmu sebagai pribadi yang ramah, baik, dan suka menolong.
Berikan kesan bahwa dirimu adalah seorang Kristen, pengikut Kristus yang mengasihi siapa saja.
Dengan demikian, ketika ada kesempatan, engkau dapat bersaksi kepada mereka. Kasihilah mereka seperti Bapa mengasihi semua orang.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apa sebabnya kita sulit mengasihi seseorang yang kita kenal, tetapi tidak seperti yang lain? Bagaimana cara mengatasinya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang harusnya kita lakukan kepada orang yang benci dan memusuhi kita serta mengutuki kita dengan mencaci maki kita?
Apa yang harus kita lakukan kepada orang yang menampar pipi kita dan merampas jubah kita?
Apa yang dilakukan orang berdosa terhadap sesamanya?
Apa yang pantas kita lakukan kepada orang yang meminjam sesuatu kepada kita?
Saudara, Tuhan Yesus Kristus memberikan perintah kepada murid-murid-Nya dengan ajaran yang sangat berbeda dari perintah Musa dalam Perjanjian Lama.
Mengasihi orang yang mengasihi kita dan berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita adalah hal yang biasa dilakukan manusia.
Dengan tegas, Yesus mengatakan bahwa orang berdosa pun melakukan hal yang sama.
Di dunia ini terdapat banyak persahabatan yang dibangun atas dasar kesamaan.
Anggota-anggotanya memiliki pikiran, perasaan dan keinginan yang sama atau sering disebut sejiwa.
Karena itu, muncul berbagai komunitas di sekitar kita.
Ada komunitas yang dibangun berdasarkan hobi, kesamaan nasib, maupun pengalaman hidup yang sama, seperti mereka yang sama-sama mengalami perceraian.
Ada pula komunitas basket yang dibentuk oleh para pecinta dan pemain basket agar mereka memiliki teman pergaulan yang memiliki minat dan kemampuan yang sama.
Di antara mereka berlaku suatu prinsip yang sering disebut sebagai keadilan, yang sebenarnya berakar dari hukum Taurat, misalnya:
Matius 5:38“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.”
Matius 5:43“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.”
Saudara, firman yang diajarkan Yesus sangat berbeda dengan firman yang berlaku pada zaman Perjanjian Lama sebagaimana tertulis dalam Kitab Taurat.
Yesus memang menyatakan firman itu, tetapi Dia juga memberikan perintah yang baru:
Matius 5:39“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.”
Matius 5:44“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Saudara, Yesus tidak hanya memerintahkan, tetapi juga memberikan teladan.
Ketika Yesus dianiaya di atas kayu salib, Dia justru mendoakan orang-orang yang menyalibkan-Nya.
Lukas 23:34“Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.”
Ketika Yesus ditangkap, dianiaya dan disalibkan, Dia diperlakukan seperti seorang penjahat.
Dia tidak membenci orang-orang yang menangkap-Nya.
Dia juga tidak memarahi mereka ataupun berusaha melarikan diri dari penangkapan itu.
Semua yang terjadi sesuai dengan nubuat Nabi Yesaya tentang diri-Nya ketika ditangkap, diadili, disiksa dan disalibkan.
Yesaya 52:13-15“Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia–begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi–demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami.”
Yesaya 53:1-12“Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya. Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.”
Yesaya menubuatkan bahwa tubuh Yesus akan menjadi sangat rusak karena dera dan siksaan yang Dia alami.
Kepala-Nya dimahkotai duri, wajah-Nya dipenuhi darah, dan tubuh-Nya lebam karena tamparan serta pukulan.
Kepala-Nya dipukul dengan kayu, sedangkan punggung-Nya penuh dengan bilur-bilur yang berdarah.
Banyak orang Yahudi mengira bahwa Yesus dimurkai oleh Allah karena Dia mengaku sebagai Mesias dan dianggap menghujat Allah.
Padahal, penyakit kitalah yang ditanggung-Nya dan kesengsaraan kitalah yang dipikul-Nya.
Di kayu salib terjadi pertukaran yang besar.
Seharusnya kitalah yang menanggung hukuman itu, tetapi oleh kasih Allah, Yesus menanggung semuanya bagi kita.
Yesus dimiskinkan dan ditelanjangi supaya kita menjadi kaya dan memiliki pakaian.
Dia terluka dengan banyak bilur supaya kita memperoleh kesembuhan.
Yesus ditinggalkan oleh Bapa supaya kita tidak pernah ditinggalkan.
Dia dimahkotai duri, yang melambangkan kutuk, supaya kita menerima berkat.
Yesus mati supaya kita memperoleh hidup yang kekal.
Yesaya berkata, “Tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggung-Nya dan kesengsaraan kitalah yang dipikul-Nya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul, dan ditindas Allah. Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepada-Nya, dan oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh.”
Dalam semua penderitaan-Nya, Yesus tidak marah atas ketidakadilan yang Dia alami.
Sebaliknya, Tuhan Yesus justru menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang yang menyiksa-Nya.
Dia tidak berteriak dengan sumpah serapah.
Dia hanya berseru karena rasa sakit yang begitu besar, tetapi Dia tidak marah ataupun menyimpan kekesalan.
Oleh karena itu, marilah kita sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus dan menjadi murid-Nya meneladani kehidupan-Nya.
Kita tidak membenci orang yang memusuhi dan membenci kita, melainkan mendoakan mereka yang menganiaya kita, seperti yang telah dicontohkan oleh Yesus.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak anak-anak Tuhan, memiliki musuh dan dimusuhi orang-orang yang tidak percaya Yesus?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa imam dan orang Lewi tidak menolong orang yang terluka di jalan?
Apa yang dilakukan orang Samaria ketika melihat orang yang terluka?
Bagaimana kita dapat menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan pertolongan saat ini?
Perikop Lukas 10:25–37 ditulis oleh Lukas, seorang tabib dan penulis Injil.
Bagian ini muncul dalam konteks percakapan antara Yesus dan seorang ahli Taurat yang datang untuk mencobaiNya dengan pertanyaan tentang bagaimana memperoleh hidup yang kekal.
Pertanyaan itu diajukan oleh seorang ahli hukum Yahudi yang sangat memahami Taurat, namun belum memahami makna sejatinya.
Yesus kemudian mengarahkan kembali kepada inti hukum Allah yang telah dinyatakan dalam Shema Israel (Ulangan 6:4–5), yaitu pengakuan iman bahwa TUHAN itu esa dan harus dikasihi dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi.
Shema menjadi dasar bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari ketaatan nyata dalam kehidupan yang baik dan benar sesuai nilai kebenaran dan moral terhadap sesama.
Perumpamaan orang Samaria yang murah hati, yang diberikan Yesus sebagai jawaban atas pertanyaan “siapakah sesamaku manusia?” dalam narasi ini, seorang korban dirampok, dipukuli, dan dibiarkan setengah mati, sementara seorang imam dan seorang Lewi yang secara religius dianggap “dekat dengan Allah” justru melewatinya tanpa belas kasihan.
Namun seorang Samaria, yang secara sosial dan religius dianggap rendah oleh orang Yahudi masa itu, justru melihat, tergerak oleh belas kasihan, dan bertindak menolong secara konkret.
Yesus menegaskan bahwa kasih sejati bukan diukur dari status keagamaan atau pengetahuan hukum, melainkan dari tindakan nyata yang berbelas kasih kepada yang menderita.
Kasih kepada Allah selalu menghasilkan kasih yang aktif kepada sesama, dan kasih tersebut tidak dibatasi oleh identitas, latar belakang, atau dianggap pantas menurut pandangan orang banyak, melainkan lahir dari hati yang telah diubahkan oleh anugerah Allah.
Dalam kehidupan orang Kristen saat ini, perikop ini menuntut respons yang konkret dan bukan sekadar teori atau pembicaraan di awang-awang (hanya khayalan saja).
Ketika ada orang yang kekurangan atau membutuhkan pertolongan, tidak cukup hanya berhenti pada doa, rasa iba, dan belas kasihan di dalam hati, tetapi harus disertai tindakan nyata.
Jika mau menolong, maka tolonglah; jika mau membantu, maka bantulah melalui tenaga, waktu, pikiran, bahkan dana pribadi atau dalam bentuk lain yang kita bisa.
Menjadi sesama bagi yang terluka berarti hadir secara nyata bagi mereka yang menderita, baik secara fisik, emosional, maupun spiritual, tanpa memilih-milih siapa yang layak ditolong.
Orang percaya dipanggil untuk tidak hanya memiliki pengetahuan rohani, tetapi juga menunjukkan kasih yang nyata melalui sikap mengampuni, menolong, memperhatikan yang terpinggirkan, dan tidak bersikap acuh tak acuh terhadap penderitaan orang lain.
Sering kali, ketika melihat orang lain berada dalam kesulitan, kita enggan atau jarang bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk menolongmu?” Padahal kasih yang sejati menuntut kepedulian dan tindakan yang tulus.
Karena itu, tidak perlu menunggu atau menunjuk orang lain terlebih dahulu, tetapi mulailah dari 3M: Mulai dari hal kecil, Mulai dari hari ini, dan Mulai dari diri sendiri.
Di tengah dunia yang dipenuhi sikap individualistis dan ketidakpedulian, gereja dipanggil menjadi gambaran hidup dari belas kasihan Allah yang nyata di dalam Kristus.
Dengan demikian, kehidupan orang percaya menjadi kesaksian bahwa kasih Allah tidak hanya diketahui, tetapi juga dihidupi melalui tindakan yang menyentuh dan memulihkan kehidupan orang lain.
Ketika melihat orang lain terluka, menderita, atau membutuhkan pertolongan, apakah kita hanya merasa kasihan, atau sudah sungguh hadir dan bertindak nyata sebagai sesama yang menunjukkan kasih Kristus?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang Yesus ajarkan sebagai hukum yang terutama dalam Matius 22:37–40?
Bagaimana cara kita menunjukkan kasih kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari?
Mengapa mengasihi sesama manusia tidak bisa dipisahkan dari mengasihi Allah?
Perikop Matius 22:37–40 disampaikan oleh Yesus Kristus dalam konteks perdebatan dengan para pemimpin agama Yahudi di Yerusalem, khususnya kelompok Farisi dan ahli Taurat yang berusaha menjebakNya dengan pertanyaan hukum yang paling utama dalam Taurat.
Injil Matius ditulis oleh rasul Matius kepada komunitas orang percaya, khususnya dari latar belakang Yahudi, untuk menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang menggenapi seluruh hukum dan kitab para nabi.
Dalam bagian ini, jawaban Yesus mengacu langsung pada “Shema Israel” (Ulangan 6:4–5), yaitu pengakuan iman inti bangsa Israel: “Dengarlah, hai Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.”
Shema menegaskan keesaan Allah dan tuntutan kasih total kepadaNya dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi.
Dengan mengutip Shema, Yesus tidak hanya mengulang tradisi, tetapi menyatakan otoritas ilahiNya dalam menafsirkan hukum Allah secara penuh dan benar.
Inti dari pengajaran ini adalah penegasan Yesus bahwa seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi bergantung pada dua perintah utama, yaitu: mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia.
Kasih kepada Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi menunjukkan tuntutan totalitas hidup manusia bagi Allah, di mana seluruh keberadaan manusia diarahkan untuk memuliakanNya.
Kasih kepada Allah tidak terpisahkan dari kasih kepada sesama manusia, sehingga hubungan yang baik dan benar dengan Allah secara vertikal selalu dan otomatis menghasilkan hubungan horizontal yang benar dan harmonis dengan manusia.
Hukum ini menunjukkan bahwa inti ketaatan bukan sekadar tindakan lahiriah, tetapi perubahan hati yang diperbarui oleh anugerah Allah, sehingga manusia mampu mengasihi dengan benar.
Seluruh hukum dan tuntutan moral Allah dirangkum dalam kasih yang berpusat pada Allah sendiri dan meluas kepada sesama.
Kekristenan adalah agama yang mengajarkan dan berpusat pada kasih, bahkan menjadi perbedaan yang paling mendasar dan paling terlihat dengan agama lainnya, karena kasih menjadi inti hubungan antara Allah, manusia, dan sesama.
Kebenaran ini menuntut tindakan yang benar-benar dilakukan dan menyeluruh dalam kehidupan orang percaya.
Mengasihi Allah berarti menjadikan Dia pusat seluruh kehidupan, baik dalam pikiran, keputusan, motivasi, dan tindakan, bukan hanya dalam ibadah setiap minggu atau pertemuan rohani saja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, baik di tengah keluarga inti maupun keluarga besar, dalam kehidupan bertetangga atau masyarakat, di dunia kerja, di marketplace, di sekolah atau kampus, dan di mana pun orang percaya berada.
Sementara itu, mengasihi sesama diwujudkan melalui sikap pengampunan, kerendahan hati, keadilan, dan kepedulian nyata terhadap orang lain tanpa memandang latar belakang ekonomi, pendidikan, ras atau suku, agama, jenis kelamin, kelompok dan lain sebagainya.
Dalam kehidupan orang Kristen, kasih bukan hanya ajaran, tetapi identitas yang lahir dari persekutuan dengan Kristus, sehingga apa yang dilakukan seseorang merupakan cerminan dari siapa ia di dalam Kristus.
Orang percaya dipanggil untuk memeriksa dirinya apakah kasih kepada Allah benar-benar menjadi dasar hidupnya, yang tampak dalam cara ia memperlakukan sesama.
Di tengah dunia yang dipenuhi egoisme, sikap cuek, dan ketidakpedulian terhadap orang lain, gereja dipanggil menjadi kesaksian hidup dari hukum terbesar ini, sehingga melalui kasih yang nyata, dunia dapat melihat gambaran karakter Allah yang sejati, bahkan melalui kasih itu pula dunia dapat mengalami realitas Kristus (Kristus yang nyata hadir), hidup, dan berkuasa.
Diskusikan dalam kelompok PA dan persekutuan kita, apakah kita sudah benar-benar mengasihi Allah dengan segenap hidup kita dan mengasihi sesama sebagaimana Dia telah terlebih dahulu mengasihi kita?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Dari mana asal kasih yang sejati menurut 1 Yohanes 4:7–10?
Bagaimana Allah menunjukkan kasihNya kepada manusia melalui Yesus Kristus?
Apa tanggung jawab orang percaya setelah menerima kasih Allah?
Surat 1 Yohanes ditulis oleh rasul Yohanes kepada jemaat Kristen mula-mula yang sedang menghadapi ancaman serius dari pengajar-pengajar palsu yang merusak pemahaman tentang Kristus dan kehidupan suci dan kudus.
Mereka mengaku memiliki pengetahuan rohani yang tinggi, tetapi hidup tanpa kasih, bahkan memisahkan diri dari persekutuan jemaat.
Karena itu, Yohanes menulis bukan hanya untuk melawan ajaran yang menyimpang, tetapi juga untuk menunjukkan kasih yang sungguh-sungguh atau kasih yang tulus dari kehidupan yang lahir dari Allah.
Dalam 1 Yohanes 4:7–10, Yohanes membawa jemaat kembali kepada dasar iman yang sejati, yaitu kasih yang berasal dari Allah.
Ayat ini menunjukkan bahwa kasih bukan hasil pekerjaan moralitas manusia, melainkan bukti pekerjaan Allah dalam diri seseorang.
Ketika Yohanes berkata, “setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah,” ia sedang menegaskan bahwa kelahiran baru mendahului kemampuan manusia untuk mengasihi dengan benar.
Manusia berdosa pada aslinya cenderung hidup dalam egoisme dan pemberontakan terhadap Allah, sehingga kasih sejati hanya mungkin terjadi ketika Allah terlebih dahulu memperbarui hati manusia melalui karya Roh Kudus.
Dengan demikian, kasih bukan akar keselamatan, tetapi buah dari keselamatan yang dikerjakan Allah.
Inti dari bagian ini tampak pada ayat 9–10, yaitu pernyataan kasih Allah melalui pengutusan AnakNya yang tunggal ke dalam dunia.
Yohanes dengan tegas menyatakan bahwa kasih Allah bukan sekadar teori yang sulit dipahami atau hanya mengandalkan perasaan semata, tetapi tindakan yang nyata di dalam Kristus.
Kalimat “bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita” menunjukkan bahwa setelah manusia Adam jatuh ke dalam dosa, maka manusia pada dasarnya sudah mati secara rohani dan manusia tidak mencari Allah.
Karena itu, Allah sendiri yang terlebih dahulu berinisiatif mengambil tindakan dengan mengutus Kristus untuk menanggung dosa-dosa kita.
Artinya, Yesus menjadi pengganti manusia berdosa dengan menerima hukuman yang seharusnya kita tanggung, sehingga hubungan manusia dengan Allah dipulihkan.
Di kayu salib, Kristus bukan hanya memberikan teladan kasih, tetapi benar-benar menanggung hukuman dosa umatNya supaya mereka diperdamaikan dengan Allah.
Inilah inti Injil, yaitu kasih Allah bekerja melalui pengorbanan Kristus yang sempurna dan efektif.
Kebenaran apa yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari? Yohanes menegaskan bahwa setiap orang yang telah menerima kasih Allah dipanggil untuk hidup dalam kasih yang sama.
Dalam kekristenan, dasar hidup orang percaya bukanlah “supaya,” melainkan “karena”; dengan kata lain kita mengasihi bukan “supaya” diselamatkan, tetapi “karena” kita telah terlebih dahulu diselamatkan oleh kasih Kristus melalui pengorbananNya di kayu salib untuk menebus penyakit kita, yaitu dosa-dosa kita.
Karena Kristus telah mengasihi dan mengampuni kita tanpa syarat, maka orang percaya juga dipanggil untuk mengasihi, mengampuni, dan hidup dalam damai dengan sesama tanpa syarat.
Kasih Kristen bukan sekadar sikap ramah, suka menolong, jika seseorang menampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu, doakan musuh, atau toleransi tanpa kebenaran, melainkan kehidupan yang memancarkan karakter Kristus melalui kekudusan, kesucian hidup, kerendahan hati, pengorbanan diri, kesetiaan, kerelaan meminta maaf, hati yang mau mengampuni, kepedulian kepada sesama, serta keberanian memberitakan Injil keselamatan, bahkan dalam sikap yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan rela mengalah, mengampuni, mendoakan musuh, dan menunjukkan kasih yang nyata sebagaimana Kristus ajarkan.
Di tengah dunia yang dipenuhi kebencian, egoisme, dan kepentingan diri sendiri, gereja dipanggil menjadi saksi melalui kasih yang lahir dari Injil dan berakar pada kebenaran firman Tuhan.
Karena itu, setiap orang percaya perlu menguji dirinya, apakah kasih yang ditunjukkan sungguh lahir dari hati yang telah diperbarui oleh Allah atau hanya berasal dari motivasi manusiawi?
Sebab ketika gereja hidup di bawah kuasa kasih Allah yang sejati, dunia akan melihat kemuliaan Kristus dinyatakan melalui kehidupan umatNya.
Sering kali Allah memakai dan memerlukan jemaat yang hidup dalam kasihNya untuk menjadi alatNya dalam membawa perubahan di tengah dunia ini.
Apakah kasih Allah yang telah kita terima sudah nyata terlihat dalam cara kita mengasihi sesama hari ini? Diskusikan dalam kelompok PA dan persekutuan kita.