Kamis, 20 Agustus 2026

BETAPA INDAHNYA KAKI PEMBAWA KABAR BAIK

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

ROMA 10:13-15

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa syarat utama untuk diselamatkan menurut Roma 10:13, dan apa yang membuat syarat ini terbuka bagi semua orang?
  2. Mengapa Paulus mengajukan pertanyaan berantai dalam ayat 14-15 (bagaimana mereka percaya, mendengar, dan diberitakan)? Apa maksudnya?
  3. Apa artinya “kaki yang indah” (ayat 15), dan bagaimana kita bisa memiliki “kaki yang indah” di zaman sekarang?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“…Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Roma 10:15).

Bayangkan seorang utusan yang berlari melintasi padang pasir, melewati medan yang terjal dan berbahaya, hanya untuk menyampaikan kabar bahwa perang telah usai dan damai telah tiba.

Orang-orang di kota yang menantikan kabar itu akan menyambutnya dengan sukacita.

Betapa indahnya kaki orang yang membawa kabar baik! Paulus menggunakan gambaran ini untuk menunjukkan betapa berharganya pemberita Injil.

Kabar baik yang mereka bawa bukan sekadar kabar biasa, tetapi kabar tentang keselamatan: bahwa Allah telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya melalui Yesus Kristus.

Hari ini, kita mungkin tidak berlari melintasi padang pasir, tetapi kita dipanggil untuk membawa kabar yang sama kepada orang-orang di sekitar kita.

Keselamatan diberikan kepada siapa pun yang berseru kepada nama Tuhan.

Tidak ada batasan suku, agama, status, atau masa lalu.

Siapa pun yang dengan iman memanggil nama Yesus akan diselamatkan.

Ini adalah kabar baik yang luar biasa! Tetapi Paulus menunjukkan bahwa orang tidak bisa berseru jika mereka tidak percaya, dan mereka tidak bisa percaya jika mereka tidak mendengar, dan mereka tidak bisa mendengar jika tidak ada yang memberitakan.

Maka, pemberitaan Injil bukanlah pilihan, tetapi keharusan.

Kita memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kabar baik ini.

Bukan karena kita hebat, tetapi karena kita telah menerima kasih karunia yang sama dan kita ingin orang lain juga menerimanya.

“Kaki yang indah” melambangkan kesediaan untuk pergi dan memberitakan kabar baik.

Ini bukan tentang penampilan fisik, tetapi tentang kesediaan untuk melangkah keluar dari zona nyaman.

Para utusan di zaman Yesaya harus berlari jauh, melewati bahaya, dan menghadapi ketidakpastian.

Demikian pula, memberitakan Injil seringkali membutuhkan pengorbanan: waktu, tenaga, bahkan mungkin menghadapi penolakan.

Tetapi Paulus berkata bahwa kaki itu indah – bukan karena nyaman, tetapi karena tujuan yang mulia.

Setiap langkah yang diambil untuk membawa kabar keselamatan adalah langkah yang berharga di mata Tuhan.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Berdoalah dan Mintalah Keberanian untuk Bersaksi.

Tidak semua orang dipanggil untuk menjadi penginjil di negeri asing, tetapi semua orang percaya dipanggil untuk menjadi saksi di tempat mereka masing-masing.

Mulailah dengan berdoa: “Tuhan, berikan aku keberanian untuk berbicara tentang kasih-Mu kepada orang-orang di sekitarku.”

Kedua, Jadilah Kabar Baik Melalui Hidupmu.

Sebelum orang mendengar kabar baik dari mulutmu, mereka akan melihatnya dari hidupmu.

Tunjukkan kasih, kebaikan, dan pengampunan dalam tindakan sehari-hari.

Dengan begitu, perkataanmu tentang Yesus akan terdengar lebih meyakinkan.

Siapa tahu, melalui satu langkah kecilmu hari ini, seseorang bisa berseru kepada nama Tuhan dan diselamatkan.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana hubungan kesaksian hidup dengan berita injil.

Pembacaan Alkitab Setahun

Yeremia 30-31

Rabu, 19 Agustus 2026

TANDA-TANDA KABAR BAIK KERAJAAN ALLAH

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 11:2-6

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Mengapa Yohanes Pembaptis yang dulu sangat yakin, kini menjadi ragu dan mengirim utusan untuk bertanya kepada Yesus?
  2. Apa jawaban Yesus kepada Yohanes (ayat 4-5), dan mengapa Ia tidak langsung berkata, “Ya, Akulah Mesias”?
  3. Apa artinya “orang miskin diberitakan kabar baik” (ayat 5), dan bagaimana kita bisa menjadi bagian dari kabar baik itu bagi orang-orang di sekitar kita?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat” (Matius 11:4).

Yohanes Pembaptis adalah orang yang luar biasa.

Ia dipenuhi Roh sejak dalam kandungan, berani berkhotbah di padang gurun, dan bahkan memperkenalkan Yesus sebagai “Anak Domba Allah.”

Namun kini, ia berada di penjara yang gelap dan dingin.

Di tengah penderitaan itu, keraguan muncul: “Apakah Yesus benar-benar Mesias?” Kita mungkin berpikir orang rohani tidak boleh ragu.

Tetapi Alkitab mencatat keraguan Yohanes tanpa menghakimi.

Ini adalah kabar baik bagi kita: Tuhan tidak membenci keraguan yang jujur.

Yang penting, Yohanes tidak memendam keraguannya; ia membawanya langsung kepada Yesus.

Ketika iman kita goyah, tempat terbaik untuk pergi adalah kepada Tuhan sendiri.

Tanda-tanda Kerajaan Allah bukanlah tentang kekuasaan politik atau kemakmuran duniawi.

Yohanes mungkin mengharapkan Mesias yang akan membebaskan Israel dari penjajahan Romawi, membebaskan penjara, dan mengembalikan kejayaan Israel.

Tetapi Yesus menunjukkan tanda yang berbeda: penyembuhan, pengusiran setan, dan kabar baik bagi orang miskin.

Kerajaan Allah datang bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kasih dan pemulihan.

Tanda-tanda ini menunjukkan bahwa kuasa Allah sedang memulihkan apa yang rusak akibat dosa.

Dunia kita saat ini juga sering mendefinisikan “kekuatan” dengan kekuasaan, uang, dan pengaruh.

Tetapi Yesus menunjukkan bahwa kekuatan sejati adalah ketika orang buta melihat, orang miskin mendengar kabar baik, dan orang yang terpinggirkan dipulihkan martabatnya.

Kabar baik Kerajaan Allah bukan sekadar teori, tetapi dapat dilihat dan dirasakan secara nyata.

Yesus tidak menjawab pertanyaan Yohanes dengan khotbah panjang tentang teologi.

Ia berkata: “Apa yang kamu dengar dan lihat.” Kesembuhan orang buta, lumpuh, kusta, dan tuli adalah bukti konkret bahwa Allah bekerja.

Orang mati dibangkitkan adalah bukti bahwa hidup mengalahkan maut.

Dan orang miskin diberitakan kabar baik menunjukkan bahwa Injil bukan untuk orang kaya atau berkuasa saja, tetapi untuk semua orang, terutama yang lemah dan terpinggirkan.

Hari ini, kita juga perlu melihat tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan kita: pertobatan, pengampunan, pemulihan hubungan, dan kuasa untuk mengasihi orang yang sulit dikasihi.

Tanda-tanda itu nyata dan dapat dirasakan.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Bawalah Keraguanmu kepada Yesus, Bukan Dipendam.

Jika imanmu sedang goyah karena doa belum dijawab, atau karena situasi hidup yang sulit, jangan berpura-pura kuat.

Datanglah kepada Yesus dengan jujur, seperti Yohanes. Tuhan tidak akan marah.

Ia akan menunjukkan kepadamu tanda-tanda kasih-Nya yang mungkin selama ini tidak kamu sadari.

Kedua, Jadilah Tanda Kabar Baik bagi Orang Lain.

Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang tidak kecewa dan menolak Aku.”

Kita bisa menjadi berkat dengan menjadi “tanda” Kerajaan Allah bagi orang lain: membawa penyembuhan bagi yang terluka, memberikan kabar baik bagi yang putus asa, dan menunjukkan kasih bagi yang terpinggirkan.

Dengan demikian, kita ikut menyatakan bahwa Kerajaan Allah sudah datang di tengah dunia ini.

Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana cara praktis membawa tanda-tanda kabar baik.

Pembacaan Alkitab Setahun

Yeremia 26-29

Selasa, 18 Agustus 2026

KASIH ALLAH BAGI DUNIA

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 3:14-17

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dimaksud Yesus dengan “Anak Manusia harus ditinggikan” (ayat 14), dan bagaimana itu menyelamatkan kita?
  2. Mengapa kasih Allah disebut “begitu besar” (ayat 16), dan apa yang membuat kasih itu istimewa?
  3. Apa tujuan kedatangan Yesus ke dunia menurut ayat 17: untuk menghakimi atau menyelamatkan? Mengapa itu penting?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).

Nikodemus datang kepada Yesus di malam hari, mungkin karena takut diketahui orang lain.

Ia adalah orang yang saleh, guru agama, dan sangat menghormati Taurat.

Namun di dalam hatinya, ada kerinduan yang lebih dalam: ia merasa agamanya belum cukup.

Yesus tidak menjawab dengan teori yang rumit.

Ia memberikan gambaran yang sederhana namun dalam: “Seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.”

Yesus sedang berbicara tentang kematian-Nya di kayu salib.

Di tengah kegelapan malam, Yesus menerangi hati Nikodemus dengan kabar tentang kasih Allah yang melampaui segala peraturan agama.

Keselamatan adalah karunia yang diterima dengan iman, bukan hasil usaha manusia.

Ular tembaga di padang gurun adalah gambaran yang kuat.

Ular itu tidak menyembuhkan dengan cara yang rumit; orang Israel hanya perlu memandangnya.

Demikian juga, Yesus tidak meminta Nikodemus untuk menjadi lebih baik atau lebih saleh.

Ia memintanya untuk percaya. Salib adalah tempat di mana hukuman dosa ditanggung oleh Anak Allah.

Kita tidak perlu berbuat apa pun untuk diselamatkan, kecuali menerima dengan iman.

Inilah yang membuat kasih Allah begitu indah: Ia memberikan jalan keluar yang sederhana, tetapi sangat dalam.

Kasih Allah tidak terbatas pada satu bangsa atau kelompok; ia menjangkau seluruh dunia. Yohanes 3:16 berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini.”

Ini luar biasa! Pada zaman itu, banyak orang Yahudi berpikir Mesias hanya untuk mereka.

Tetapi Yesus mengatakan bahwa kasih Allah meluas ke semua orang, dari segala suku, bangsa, dan latar belakang.

Tidak peduli siapa kamu, apa yang telah kamu perbuat, atau seberapa jauh kamu dari Tuhan – kasih-Nya tetap terbuka lebar.

Dan tujuan kasih itu bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyelamatkan (ayat 17).

Allah tidak mengirim Anak-Nya untuk menghukum dunia, tetapi untuk menebusnya.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Terimalah Kasih-Nya dengan Iman.

Jangan biarkan rasa bersalah atau perasaan tidak layak menjauhkanmu dari Tuhan.

Kasih Allah tidak berdasarkan kelayakanmu, tetapi berdasarkan kebaikan-Nya.

Setiap hari, ingatlah bahwa Yesus sudah mati untukmu.

Percayalah bahwa pengampunan dan hidup kekal adalah milikmu.

Kedua, Bagikan Kasih Itu kepada Orang Lain.

Karena Allah mengasihi dunia, kita juga dipanggil untuk mengasihi orang-orang di sekitar kita.

Cobalah untuk melihat orang lain dengan mata kasih, sama seperti Tuhan melihat mereka.

Sampaikan kabar baik ini kepada mereka yang belum tahu, baik melalui kata-kata maupun tindakan nyata.

Inilah cara kita menjadi saluran kasih Allah di dunia.

Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya melihat dengan mata kasih.

Pembacaan Alkitab Setahun

Yeremia 23-25

Senin, 17 Agustus 2026

MENYIAPKAN JALAN BAGI TUHAN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

LUKAS 1:76-80

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa tugas utama Yohanes Pembaptis menurut Lukas 1:76-77, dan apa artinya bagi kita hari ini?
  2. Apa yang dimaksud dengan “memberikan pengetahuan tentang keselamatan kepada umat-Nya”? Bagaimana kita bisa melakukannya?
  3. Mengapa Yohanes harus tinggal di padang gurun dan “makin kuat rohnya” (ayat 80) sebelum ia mulai melayani?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Zakharia dan istrinya, Elisabet, sudah tua dan tidak memiliki anak.

Tetapi Tuhan memberi mereka seorang putra yang luar biasa, yaitu Yohanes Pembaptis.

Sejak lahir, Yohanes sudah memiliki tugas besar: mempersiapkan jalan bagi Tuhan.

Bayangkan, seorang bayi yang baru lahir sudah ditentukan untuk menjadi pembuka jalan bagi Juruselamat dunia.

Ini menunjukkan bahwa setiap orang percaya memiliki panggilan ilahi.

Kita mungkin tidak menjadi Yohanes Pembaptis, tetapi kita juga dipanggil untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan di tengah dunia ini.

Tugas utama kita adalah menyiapkan hati orang lain untuk menerima Tuhan.

Yohanes diberi mandat untuk “memberikan pengetahuan tentang keselamatan kepada umat-Nya.”

Ini bukan tentang membangun gedung megah atau mengadakan acara spektakuler.

Ini tentang memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa, sehingga hati orang-orang siap menerima Yesus.

Kita dipanggil untuk menjadi pembuka jalan: dengan perkataan yang jujur, hidup yang benar, dan kasih yang nyata, kita sedang “meratakan jalan” bagi Tuhan untuk masuk ke dalam hati orang-orang di sekitar kita.

Seperti Yohanes yang berseru di padang gurun, kita dipanggil untuk berseru di tengah dunia yang sibuk dan bising ini.

Kita tidak bisa mempersiapkan jalan bagi orang lain jika kita sendiri tidak siap.

Ayat 80 mencatat bahwa Yohanes “bertambah besar dan makin kuat rohnya” serta tinggal di padang gurun.

Ini adalah waktu persiapan yang panjang. Yohanes tidak langsung tampil di depan umum; ia diproses di padang gurun, jauh dari keramaian.

Ia dibentuk oleh Roh Kudus, diperkuat dalam doa dan pengasingan.

Baru setelah ia matang, ia mulai melayani. Ini mengajarkan kita bahwa pelayanan yang efektif lahir dari kehidupan yang intim dengan Tuhan.

Sebelum kita berbicara kepada orang lain, kita harus mendengar Tuhan lebih dulu.

Sebelum kita menunjukkan jalan, kita harus berjalan di jalan itu sendiri.

Persiapan rohani adalah fondasi dari pelayanan yang berbuah.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Persiapkan Hatimu Setiap Hari.

Sebelum keluar untuk melayani atau bersaksi, luangkan waktu untuk bertemu dengan Tuhan.

Baca firman, berdoa, dan periksa hatimu. Minta Roh Kudus memenuhi dan memurnikanmu.

Jika hatimu sendiri belum siap, suaramu akan sia-sia.

Kedua, Jadilah Pembuka Jalan bagi Orang Lain.

Coba perhatikan satu atau dua orang di sekitarmu yang belum mengenal Yesus.

Doakan mereka secara teratur.

Cari kesempatan untuk berbicara tentang kasih Tuhan, bukan dengan menggurui, tetapi dengan kasih dan kesabaran.

Tindakan kecil seperti mendengarkan keluhan mereka, membantu mereka di saat sulit, atau mengundang mereka ke persekutuan adalah cara nyata untuk “menyiapkan jalan” bagi Tuhan memasuki hati mereka.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana cara praktis membuka jalan bagi Tuhan.

Pembacaan Alkitab Setahun

Yeremia 18-22

Minggu, 16 Agustus 2026

KABAR BAIK TENTANG KESELAMATAN

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

LUKAS 1:67-75

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dialami Zakharia sebelum ia bernubuat?
  2. Keturunan siapakah sang penyelamat menurut nubuat para nabi?
  3. Allah berjanji kepada nenek moyang Israel, dan Tuhan ingin memperlihatkan apa kepada umat-Nya?
  4. Apa tujuan kedatangan Mesias yang dijanjikan itu?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, ayat-ayat Firman Tuhan ini merupakan nyanyian Zakharia, ayah Yohanes Pembaptis.

Karena tidak percaya kepada pesan malaikat Tuhan yang memberitakan bahwa ia akan memperoleh seorang anak laki-laki, Zakharia menjadi bisu selama masa kehamilan istrinya, Elisabet.

Nyanyian ini disebut “Nyanyian Benedictus”. Zakharia menyanyikannya setelah mengalami kebisuan selama sembilan bulan.

Ketika mulutnya terbuka kembali, ia terlebih dahulu menyebutkan bahwa anaknya harus diberi nama Yohanes.

Setelah itu, Zakharia bernyanyi dan bernubuat tentang kedatangan Yesus sebagai Mesias yang menjadi sumber keselamatan.

Nyanyian ini berisi kabar baik: “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya.”

Tuhan turun untuk mencari umat-Nya dan memberikan keselamatan karena manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Roma 3:23-24 “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”

Tuhan Allah menyelamatkan manusia dengan mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus.

Tuhan tidak meninggalkan manusia karena Dia sangat mengasihi dunia ini.

Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Tuhan Allah mengaruniakan “tanduk keselamatan” dari keturunan Daud.

Tanduk keselamatan menggambarkan kekuatan, kemenangan, dan seorang Raja. Zakharia mengetahui bahwa Mesias atau Juruselamat yang dijanjikan:

Kejadian 3:15 “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Keturunan perempuan yang dimaksud adalah Yesus, yang juga berasal dari keturunan Daud.

Keselamatan manusia bukanlah gagasan manusia, melainkan rencana Allah yang telah dipersiapkan sejak manusia jatuh ke dalam dosa di Taman Eden.

Nubuatan ini juga menyatakan bahwa tujuan keselamatan adalah supaya manusia dapat beribadah kepada Tuhan.

Jadi, keselamatan bukan hanya bertujuan supaya kita masuk surga.

Keselamatan membuat kita dapat beribadah kepada Tuhan sepanjang hidup tanpa ketakutan dan rasa bersalah, melainkan dalam kemerdekaan dan kebebasan.

Dari nubuatan ini, kita juga memahami bahwa keselamatan diberikan karena rahmat, perjanjian, dan kesetiaan Allah.

Allah telah mengadakan perjanjian dengan Abraham, nenek moyang bangsa Israel.

Melalui keturunannya, dunia akan memperoleh berkat yaitu rahmat dan anugerah Allah.

Salah satu anugerah yang dijanjikan adalah Roh Kudus yang membawa kebebasan dan kemerdekaan.

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus kita lakukan:

  1. Berhenti Berusaha Menyelamatkan Diri Sendiri
    Zakharia menyatakan bahwa Tuhanlah yang “membawa kelepasan”. Karena itu, terimalah Yesus dengan iman. Efesus 2:8-9 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
  1. Hiduplah sebagai Orang yang Sudah Dibebaskan
    Jangan kembali kepada perbudakan dosa. Kita telah dimerdekakan dan dianugerahi Roh Kudus supaya dapat menyembah Tuhan Allah dengan bebas. Efesus 1:13-14 “Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”
  1. Ceritakan Kabar Baik Ini
    Setelah mengalami kemerdekaan, Zakharia langsung bernubuat. Dunia perlu mendengar bahwa Mesias, Juruselamat dunia, telah datang. Yesus telah melakukan penebusan bagi dosa dunia dengan rela mati di atas kayu salib. Dia telah bangkit dan naik ke surga untuk menyediakan tempat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Keselamatan yang telah kita terima merupakan pemberian Allah semata-mata dan menerimanya dengan cuma-cuma.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita juga membagikannya dengan cuma-cuma kepada orang lain.

Matius 10:5-8 “Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

Setelah bangkit dari kubur, Yesus menyampaikan pesan kepada murid-murid-Nya.

Menjelang kenaikan-Nya ke surga, Dia kembali memberikan perintah kepada mereka.

Pesan Yesus tersebut dicatat dalam tulisan penulis Injil yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Lukas menuliskannya dua kali, yaitu dalam Injil Lukas dan dalam tulisannya yang sangat dikenal yaitu Kisah Para Rasul.

Kelima catatan mengenai pesan Yesus tersebut kemudian dikenal oleh para bapa gereja dengan istilah “Amanat Agung Kristus”.

Amanat Agung merupakan perintah penting dari Yesus Kristus. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menaatinya.

Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Mengapa pesan Yesus ini disebut Amanat Agung Kristus?

Pembacaan Alkitab Setahun

Yeremia 14-17