Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Mazmur 119:145.
Bagaimana sikap hati dari pemazmur untuk berpegang kepada kebenaran Firman Tuhan?
Kapankah waktu yang terbaik bagi pemazmur untuk bersekutu dengan kebenaran Firman Tuhan sebagai wujud kesungguhan hatinya kepada Tuhan?
Apakah yang dirasakan dan dialami pemazmur ketika dia membangun kesungguhan hati untuk bersekutu dengan Tuhan dan Firman-Nya?
Tuhan ingin mencari dan menemukan orang-orang yang bersungguh-sungguh hati untuk mengalami realita kehadiran Tuhan serta kuasa Firman Tuhan. Dan Tuhan akan melimpahkan keberadaan-Nya kepada kita.
“Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” (II Tawarikh 16:9a).
“Dan baru di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.” (Ulangan 4:29).
”Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN.”(Yeremia 29:12-14a).
Karena pemazmur menunjukkan kesungguhan hatinya untuk mencari dan mengalami realita Tuhan yang hidup dengan cara bersekutu dengan Firman Tuhan pada waktu pagi hari dan malam hari.
”Pagi-pagi buta aku bangun dan berteriak minta tolong; aku berharap kepada firman-Mu. Aku bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janji-Mu.”(Mazmur 119:147-148).
”Tuhan memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.”(Mazmur 42:8).
Maka pemazmur selalu mengalami realita Tuhan serta penyertaan Tuhan yang sangat luar biasa.
”Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” (Mazmur 23:5-6).
Oleh sebab itu marilah kita dengan sungguh-sungguh hati untuk mencari Tuhan sampai mengalami realita kehadiran-Nya sehingga kita selalu mengalami terobosan berapa pun harga yang harus kita bayar.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Yesus selama Ia ada di dunia ini, dimana Yesus pagi-pagi benar berdoa kepada Bapa dan bahwa Dia selalu berdoa semalaman.
Hal ini dilakukan-Nya untuk menunjukkan kesungguhan hati-Nya kepada Bapa.
”Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”(Markus 1:35).
”Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.”(Lukas 6:12).
Pada akhirnya kita dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang pernah dilakukan oleh Yesus bahkan lebih besar dari apa yang telah dikerjakan oleh Yesus.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana kesungguhan hati saudara dalam mencari Tuhan dari segi waktu maupun dari sikap hati yang merindukan Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
“Sumur” apa dalam hidupmu yang masih sering kamu datangi untuk mencari kepuasan, selain datang kepada Yesus?
Bagaimana pengalamanmu saat merasakan “mata air” dari Yesus memancar di dalam hatimu di tengah situasi kering?
Langkah praktis apa yang dapat kamu ambil minggu ini untuk lebih sering “meminta” air hidup kepada Yesus?
“tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:14).
Injil Yohanes sering menunjukkan Yesus yang hadir di tengah-tengah kebutuhan manusia yang paling personal dan tersembunyi.
Perjumpaan di sumur Yakub ini bukanlah kebetulan.
Saat perempuan itu datang pada tengah hari (biasanya waktu yang sepi karena penghindaran dari rasa malu),
Yesus sudah menunggu di sana.
Latar belakang ini mengajari kita bahwa Tuhan seringkali menemui kita justru di tempat dan waktu di mana kita merasa paling sendirian, lelah, atau terbebani oleh rutinitas yang kering.
Sumur mewakili segala upaya kita untuk memuaskan dahaga jiwa dengan hal-hal duniawi—hubungan, prestasi, pengakuan, atau kesenangan.
Di situlah Yesus berkata, “Berilah Aku minum.”
Ia memulai dengan mengakui kebutuhan kita, untuk kemudian mengungkapkan kebutuhan-Nya yang lebih besar: hati kita yang terbuka bagi-Nya.
Yesus selalu memulai dari titik kehausan kita. Ia tidak menghakimi perempuan itu terlebih dahulu, tetapi meminta bantuan.
Dengan demikian, Ia membuka ruang untuk percakapan yang mengubah hidup.
“Air hidup” yang Ia tawarkan adalah karunia yang diberikan dengan cuma-cuma (ayat 10).
Karunia ini adalah diri-Nya sendiri—kehadiran Roh Kudus yang memulihkan, memuaskan, dan memberi makna.
Kita sering kali seperti perempuan Samaria itu: sibuk mencari air dari sumur-sumur dunia (kesuksesan, harta, hubungan) yang tak pernah benar-benar memuaskan.
Yesus datang dan berkata, “Jika engkau tahu tentang karunia Allah… tentulah engkau telah meminta kepada-Nya.”
Prinsip ini mengingatkan kita bahwa solusi untuk kehausan terdalam kita bukanlah berusaha lebih keras, tetapi meminta dan menerima karunia yang sudah disediakan.
Janji Yesus: air yang Ia berikan akan menjadi “mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (ayat 14).
Ini menggambarkan sebuah realitas rohani yang dinamis.
Kepuasan dari Tuhan bukan seperti air yang kita timba dari sumur (yang akan habis), tetapi seperti mata air yang mengalir dari dalam diri kita sendiri.
Artinya, saat kita percaya kepada Yesus, Roh Kudus diam di dalam kita dan menjadi sumber pengharapan, sukacita, kekuatan, dan damai sejahtera yang tak pernah kering.
Sumber ini aktif dan terus memancar, bahkan di tengah keterbatasan, kegagalan, atau musim kering hidup kita.
Hidup kita bukan lagi tentang datang ke “sumur” secara rutin, tetapi tentang membiarkan aliran air hidup itu mengalir melalui setiap aspek hidup kita.
Tiga Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Berhenti di Sumur dan Terima Undangan-Nya.
Luangkan waktu hening untuk mengevaluasi: “Sumur apa yang selalu aku datangi untuk memuaskan dahagaku?”
Akui kehausanmu di hadapan Tuhan.
Kemudian, terima undangan Yesus untuk meminta karunia air hidup itu melalui doa yang sederhana: “Tuhan, haus jiwaku hanya Kau yang puaskan. Berikanlah aku air hidup itu.”
Kedua, Biarkan Mata Air Itu Memancar dengan Membagikannya.
Air hidup tidak diberikan untuk ditimbun.
Setiap kali Anda mengalami penghiburan, pengampunan, atau kekuatan dari Tuhan, bagikanlah itu kepada orang lain.
Jadilah saluran berkat melalui kata-kata pengharapan, tindakan kasih, atau kesaksian pribadi tentang kebaikan Tuhan.
Ketiga, Jaga Kemurnian Aliran dengan Hidup yang Melekat pada Sang Sumber.
Mata air dapat terhambat jika salurannya tersumbat.
Jaga hubungan intim dengan Yesus melalui disiplin membaca Firman dan berdoa setiap hari.
Mintalah Roh Kudus membersihkan “sampah” dosa, kepahitan, atau kesibukan yang dapat menghambat aliran kuasa-Nya dalam hidup Anda.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana supaya dapat mengalirkan air hidup kepada komunitas terdekat.
DIBERKATI ORANG YANG LAPAR DAN HAUS AKAN KEBENARAN
Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson
Pembacaan Alkitab Hari ini :
MATIUS 5:1-6
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa arti praktis menjadi “miskin di hadapan Allah” dalam keseharianmu?
Bagaimana caramu membangun rasa “lapar dan haus akan kebenaran”?
Dalam situasi apa saat ini kamu dipanggil untuk menunjukkan kelemahlembutan?
“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan”. (Matius 5:6).
Injil Matius mencatat Yesus sebagai Raja yang dinubuatkan.
Khotbah di Bukit adalah manifesto Kerajaan-Nya, yang menyatakan nilai-nilai dan karakter warga kerajaan itu.
Di tengah dunia yang mengejar kekayaan, kesenangan, kekuasaan, dan kepuasan diri, Yesus memulai dengan pernyataan yang mengejutkan: berbahagialah orang yang miskin, berdukacita, lemah lembut, dan lapar akan kebenaran.
Ini bukanlah daftar perintah, tetapi gambaran anugerah—bagaimana hati yang diobati oleh kasih karunia akan tampak.
Yesus mengundang kita untuk mengevaluasi ulang sumber kebahagiaan kita dan menemukannya dalam kepenuhan yang hanya disediakan Allah bagi mereka yang datang dengan hati yang lapang dan haus.
Dua ucapan bahagia pertama (ayat 3-4) menegaskan prinsip bahwa pintu masuk ke dalam kebahagiaan dan Kerajaan Allah dimulai dengan pengakuan akan kemiskinan dan dukacita rohani.
“Miskin di hadapan Allah” berarti menyadari bahwa kita tidak memiliki apa pun untuk ditawarkan kepada Allah, dan sepenuhnya bergantung pada belas kasihan-Nya.
Dukacita yang berbahagia adalah respon hati ketika kita menyadari betapa dalamnya dosa kita dan betapa besar kasih karunia Allah.
Prinsip ini meruntuhkan semua kebanggaan dan kepercayaan diri duniawi.
Kita hanya dapat dihibur dan dipulihkan ketika kita berhenti berpura-pura kuat dan membiarkan Allah menjadi segalanya.
Kebahagiaan ini adalah anugerah yang diterima oleh orang yang rendah hati.
Ucapan bahagia ketiga dan keempat (ayat 5-6) mengajarkan bahwa kepuasan sejati bukan berasal dari memiliki segalanya, tetapi dari memiliki hati yang lemah lembut dan merindukan kebenaran.
Kelemahlembutan adalah kekuatan yang tidak memaksakan kehendak sendiri, melainkan mempercayakan hidup kepada kedaulatan Allah.
Dari sikap inilah lahir kerinduan yang membara—seperti lapar dan haus secara fisik—akan kebenaran: keinginan untuk mengenal Allah, melakukan kehendak-Nya, dan melihat keadilan ditegakkan.
Yesus menjanjikan bahwa kerinduan yang tulus ini “akan dipuaskan”.
Janji ini adalah kepastian bahwa Allah sendiri akan memenuhi kerinduan itu melalui penyataan diri-Nya dalam Kristus, karya Roh Kudus, dan pada akhirnya dalam kesempurnaan Kerajaan-Nya.
Tiga Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Mulailah Hari dengan Pengakuan Ketergantungan.
Setiap pagi, akui di hadapan Tuhan: “Tuhan, aku miskin dan membutuhkan Engkau. Penuhilah aku dengan Roh-Mu.”
Berdukacitalah bila ada dosa-dosa, mohon pengampunan, dan terima penghiburan-Nya.
Kedua, Latih Kelemahlembutan dalam Setiap Hubungan.
Saat diperlakukan tidak adil, berhenti sejenak untuk tidak membalas.
Serahkan hak pembalasan kepada Tuhan, tanggapi dengan kerendahan hati, dan percayalah bahwa Ia membela orang yang lemah lembut.
Ketiga, Bangun Selera Rohani dengan Firman Tuhan.
Tanamkan rasa “lapar dan haus” akan kebenaran dengan membaca Alkitab secara teratur dan mendalam.
Carilah bukan sekadar pengetahuan, tetapi transformasi.
Hadiri pertemuan doa yang memicu kerinduan akan Tuhan.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki sikap hati yang “miskin dihadapan Allah” sehingga terus merasa haus dan lapar kepada Allah.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
“Haus” seperti apa yang sedang kamu rasakan saat ini, dan bagaimana hal itu mendorongmu untuk datang kepada Yesus?
Menurut pengalamanmu, bagaimana “air hidup” dari Yesus itu berbeda dengan upayamu sendiri untuk memuaskan dahaga jiwamu?
Siapa satu orang di sekitarmu yang mungkin juga “haus”, dan bagaimana kamu bisa menjadi saluran “air hidup” bagi mereka minggu ini?
“Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! (Yohanes 7:37).
Perayaan Pondok Daun adalah pesta yang meriah, penuh dengan ritual, simbol, dan kegembiraan kolektif.
Namun, di tengah kemeriahan itu, Yesus menyadari bahwa banyak hati tetap kosong dan haus.
itual air hanyalah simbol; ia tidak dapat memuaskan dahaga jiwa yang paling dalam.
Dengan berseru pada hari terakhir, Yesus seolah-olah berkata, “Segala simbol dan perayaan ini menunjuk kepada-Ku.
Aku adalah realitas yang sejati.”
Latar belakang ini mengingatkan kita bahwa kita pun dapat sibuk dengan aktivitas keagamaan, rutinitas ibadah, atau pencarian kesibukan dunia, sementara hati kita sebenarnya kering dan lapar.
Tuhan menawarkan diri-Nya bukan sebagai tambahan dari ritual, tetapi sebagai penggenapan dari segala kerinduan kita.
Kebenaran yang Yesus ajarkan adalah bahwa syarat untuk mengalami pemuasan ilahi adalah kejujuran akan rasa haus.
“Barangsiapa haus” adalah undangan terbuka bagi semua, tetapi hanya mereka yang mengakui, “Ya, aku haus.
Aku tidak puas. Aku butuh lebih dari ini,” yang akan datang.
Tuhan tidak memulai dengan orang yang merasa dirinya kaya dan puas (Wahyu 3:17).
Ia mencari orang yang miskin dan lapar secara rohani (Matius 5:6).
Rasa haus ini adalah anugerah—itu adalah tanda bahwa Roh Kudus sedang menarik kita.
Prinsip ini membebaskan kita dari kepura-puraan. Kita boleh datang kepada Yesus dengan segala kehampaan, kebingungan, dan kegagalan kita, asalkan kita datang dengan sikap percaya bahwa hanya Dialah yang dapat memuaskannya.
Pemuasan yang kita terima bukan untuk ditimbun, tetapi untuk dialirkan.
Yesus berjanji bahwa dari dalam diri orang percaya akan “mengalir aliran-aliran air hidup.”
Artinya, kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus bersifat meluap dan memberi hidup.
Kita tidak hanya menjadi “kolam” yang tenang, tetapi menjadi “sungai” yang membawa kesegaran, pemulihan, dan kehidupan bagi lingkungan sekitar.
Ketika kita benar-benar dipuaskan oleh kasih karunia dan kehadiran Tuhan, secara alami kita akan menjadi saluran berkat—kata-kata kita menguatkan, tindakan kita membangun, dan hidup kita menjadi kesaksian tentang sumber air yang tidak pernah kering, bahkan di musim kering sekalipun.
Hal-Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Luangkan Waktu Hening untuk Mengakui “Rasa Haus”.
Setiap hari, berhenti sejenak dan tanyakan pada hati nurani: “Apa yang sesungguhnya kucari?
Apakah aku merasa kering, lelah, atau kosong?” Jujurlah di hadapan Tuhan dalam doa. Katakan, “Tuhan, aku haus. Penuhilah aku dengan Roh-Mu.”
Kedua, “Datang dan Minum” dengan Disiplin Rohani yang Penuh Iman.
“Datang” adalah tindakan percaya.
Bangunlah kebiasaan untuk datang kepada Yesus setiap pagi melalui firman dan doa, bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai seorang yang haus yang mendekati mata air.
Percayalah bahwa saat Anda membaca firman-Nya dan bersekutu dalam doa, Roh Kudus sedang memuaskan dan menguatkan Anda.
Ketiga, Perhatikan “Aliran” itu dengan Menjadi Berkat. Sadarilah bahwa Anda adalah saluran.
Tanyakan, “Bagaimana aku bisa membawa kesegaran dan kehidupan dari Kristus bagi seseorang hari ini?”
Itu bisa melalui sebuah pesan penghiburan, tindakan pelayanan tanpa pamrih, atau kesaksian sederhana tentang kebaikan Tuhan dalam hidup Anda.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, diskusikan bagaimana mengetahui hati yang haus dan lapar akan kebenaran.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang membuat Israel bersedia merayakan ibadahnya jauh lebih lama dari ketentuan?
Menurut konteks 2 Tawarikh 7:1-12, apa hubungan antara kesungguhan hati umat (ayat 8-9) dengan kunjungan Tuhan (ayat 1-3)?
“Perkumpulan raya” (hari kedelapan) adalah puncak dari seluruh proses. Bagaimana Anda bisa menciptakan momen “puncak” penyembahan dalam hidup pribadi atau komunal Anda?
“Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan.” (2 Tawarikh 16:9).
Kitab 2 Tawarikh ditulis sebagai pengingat dan penghiburan bagi umat Israel yang telah mengalami kehancuran Bait Suci dan pembuangan.
Dalam konteks itu, kisah kemuliaan Salomo mengingatkan mereka—dan kita—akan masa ketika umat Tuhan bersatu, taat, dan dengan segenap hati merindukan serta menyambut kehadiran-Nya.
Peristiwa pentahbisan Bait Suci bukan sekadar upacara agama, tetapi klimaks dari sebuah persiapan panjang, doa sungguh-sungguh (pasal 6), dan kerinduan kolektif untuk Tuhan berdiam di tengah mereka.
Latar belakang ini mengajarkan bahwa sejarah kemuliaan Tuhan selalu terkait dengan hati umat-Nya yang sungguh-sungguh mencari wajah-Nya.
Prinsip pertama yang kita lihat adalah bahwa kunjungan atau manifestasi kehadiran Tuhan (Shekinah Glory) menghasilkan sukacita yang melimpah ruah dan tidak terbatas oleh waktu formalitas agama.
Israel tidak puas hanya merayakan tujuh hari sesuai hukum; mereka begitu dipenuhi oleh kekaguman dan sukacita atas hadirat Tuhan sehingga secara spontan memperpanjang perayaan menjadi lima belas hari dan mengakhirinya dengan perkumpulan raya yang khidmat.
Ini menunjukkan bahwa pengalaman otentik akan Tuhan melahirkan kerinduan untuk tinggal lebih lama di dalam hadirat-Nya, melampaui rutinitas dan kewajiban ibadah.
Ketika Tuhan benar-benar “mengunjungi” hidup, komunitas, atau ibadah kita, akan ada suatu sukacita dan keterikatan yang membuat kita ingin berlama-lama bersama-Nya.
Kesungguhan hati yang kolektif dan terbuka menjadi seperti “mezbah” yang dipersiapkan bagi Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya.
Perhatikan bahwa mereka telah “merayakan pentahbisan mezbah selama tujuh hari” (ayat 9).
Mezbah adalah tempat korban dan pertemuan dengan Tuhan. Kesungguhan hati seluruh Israel (raja, imam, dan seluruh umat) dalam penyembahan dan ketaatan itulah yang secara spiritual “mempersiapkan mezbah” bagi Tuhan untuk turun dengan api dan kemuliaan (2 Tawarikh 7:1-3).
Tuhan tidak hanya mencari bangunan yang megah, tetapi Dia mencari hati yang sepenuhnya tertuju kepada-Nya.
Kesungguhan hati bukanlah jasa untuk memaksa Tuhan datang, melainkan kondisi hati yang rendah, haus, dan siap yang membuat-Nya berkenan menyatakan diri.
Hal-Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Berkomitmen untuk “Waktu Tambahan” dalam Penyembahan.
Dalam ibadah pribadi atau komunitas, jangan terburu-buru.
Jika Anda merasakan kehadiran Tuhan, sengaja luangkan waktu ekstra untuk berdiam diri, menyembah, atau mengucap syukur, melampaui jadwal rutin Anda.
Kedua, Bangun Kesungguhan Hati yang Kolektif dalam Komunitas Iman.
Dalam keluarga rohani atau kelompok PA, prioritaskan kesatuan hati, kerendahan, dan kerinduan bersama untuk hadirat Tuhan lebih dari sekadar program atau aktivitas.
Berdoalah bersama dengan sungguh-sungguh untuk “kunjungan Tuhan” dalam hidup Anda.
Ketiga, Jadikan Hidup Anda Sebagai “Mezbah” yang Selalu Dikuduskan.
Secara rutin, periksa motivasi dan komitmen hati Anda. Apakah Anda hidup sebagai persembahan yang hidup dan kudus (Roma 12:1)?
Kesungguhan dalam ketaatan sehari-hari, integritas, dan kasih adalah “mezbah” pribadi yang menyambut kehadiran Tuhan.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya mengalami hadirat Tuhan yang dimanifestasikan (dapat dilihat dan dirasakan)