Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Kepada siapa Yesus menyampaikan perkataan-Nya dalam ayat-ayat firman Tuhan ini?
Dalam mengikut Yesus, apa yang harus disangkal atau ditiadakan?
Bagaimana cara menyelamatkan nyawa kita?
Apa upah bagi mereka yang kehilangan nyawa mereka?
Apa yang dapat kita berikan sebagai ganti nyawa kita?
Saudara, Tuhan Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya:
Matius 16:24-26“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”
Dengan lugas, Yesus menyampaikan pernyataan seperti yang tertulis dalam ayat firman Tuhan di atas.
Bagaimana sikap kita terhadap pernyataan Yesus ini?
Saudara, menyangkal diri berarti meniadakan keinginan-keinginan yang timbul dalam diri kita.
Karena itu, kita perlu bergaul dengan Tuhan supaya kita mengerti apa yang harus kita sangkal dari diri kita sendiri.
Apakah itu keinginan, cita-cita, mimpi-mimpi kita, atau hal-hal lain yang Tuhan minta untuk kita?
Jika kita renungkan, Tuhan menginginkan seluruh hidup kita. Tuhan ingin agar kita mengikut Dia, seperti murid-murid-Nya.
Yesus berkata kepada Simon Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes, Filipus, Natanael, serta Lewi atau Matius, pemungut cukai, “Ikutlah Aku.”
Dan mereka semua mengikut Yesus serta meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Dia.
Para nelayan itu dipanggil supaya mereka dijadikan penjala manusia. Kepada Filipus dan Natanael, Yesus menyatakan:
Yohanes 1:45-51“Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”
Saudara, kepada murid-murid-Nya Yesus menyatakan segala sesuatu bukan dengan perumpamaan atau teka-teki, melainkan dengan cara yang berterus terang, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir, kecuali untuk perumpamaan tentang ragi orang Yahudi:
Markus 8:14-21“Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.” Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Dua belas bakul.” “Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Tujuh bakul.” Lalu kata-Nya kepada mereka: “Masihkah kamu belum mengerti?”
Saudara, ketika Yesus berbicara tentang ragi orang Farisi dan ragi Herodes, para murid justru membicarakan soal tidak membawa roti.
Terjadi kesalahpahaman, karena mereka menganggap ragi identik dengan roti sebagai makanan.
Padahal, mereka sudah mengalami sendiri bahwa kekurangan roti tidak pernah menjadi masalah dalam pelayanan Yesus Kristus, sebab Yesus selalu mampu melakukan mujizat.
Ragi yang dimaksud adalah pengaruh kejahatan atau pencemaran terhadap ajaran yang benar.
Misalnya, ragi orang Farisi menunjuk pada tradisi keagamaan mereka ketika tradisi tersebut mengesampingkan perintah Allah yang benar, sehingga bagian-bagian dari firman dan kehendak-Nya tidak lagi berlaku:
Markus 7:5-13“Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban–yaitu persembahan kepada Allah–, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”
Saudara, ragi orang Farisi adalah legalisme. Seorang legalis menggantikan sikap batin yang seharusnya lahir dari kelahiran baru dan karya Roh Kudus dengan perbuatan atau perkataan yang bersifat lahiriah.
Orang seperti ini memuliakan Tuhan Allah dengan bibir, tetapi hatinya jauh dari Dia.
Dari luar mereka tampak benar, namun sesungguhnya hati mereka tidak mengasihi Tuhan.
Saudara, Tuhan Yesus dengan lugas menyatakan:
Lukas 9:23-25“Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”
Saudara, Yesus menghendaki agar para pengikut-Nya rela memikul salib dan mengikut Dia.
Bagaimana hal ini bagi kita pada hari ini? Salib apa yang sedang kita pikul saat ini?
Apakah itu salib yang kita ciptakan sendiri karena kesalahan kita?
Tuhan ingin kita memikul salib Kristus dan mengikut Dia.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Salib apa yang harus kita pikul saat ini agar kita dapat mengikut Yesus dengan setia?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang Tuhan berikan kepada kita supaya kita dapat memberi semangat kepada orang lain?
Apa yang Tuhan lakukan setiap pagi agar kita dapat menjadi bijaksana?
Apa yang kita berikan kepada orang yang menampar kita dan mencabut kumis kita?
Mengapa kita tidak akan mendapat malu?
Saudara, Yesaya menubuatkan tentang ketaatan seorang Hamba Tuhan, dan nubuatan ini digenapi dalam kehadiran Yesus Kristus.
Dialah Hamba Tuhan yang dinubuatkan oleh Yesaya.
Tuhan Allah mengaruniakan lidah seorang murid kepada Hamba Tuhan itu, supaya Ia dapat membangun semangat orang-orang yang lelah dan lemah.
Yesus pun pernah menyampaikan pernyataan khusus bagi mereka yang berbeban berat:
Matius 11:28“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Yesus menawarkan kelegaan bagi semua orang yang berbeban berat. Ia juga menyatakan:
Yohanes 10:10“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
Yesus dengan jelas menyatakan bahwa Ia datang supaya manusia memperoleh kehidupan, karena Rasul Paulus pernah menyatakan:
Roma 3:23-24“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”
Roma 6:23“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Tuhan Yesus adalah anugerah terbesar yang diberikan kepada dunia, supaya manusia memperoleh kehidupan untuk selama-lamanya.
Sebagai Hamba Tuhan, Yesus senantiasa mengasah pendengaran-Nya dan menantikan suara Bapa-Nya:
Markus 1:35“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”
Yesus senantiasa mengambil waktu untuk saat teduh dan bersekutu dengan Bapa-Nya.
Ia mendengarkan apa yang dikehendaki Bapa, dan sebagai Hamba, Ia merendahkan diri-Nya untuk mencari tahu apa yang ingin Bapa-Nya Ia katakan dan lakukan.
Karena itu, Yesus dapat menyatakan bahwa apa yang Ia katakan berasal dari Bapa-Nya.
Dan hal itulah yang membuat Yesus mampu menaati kehendak Bapa, sebagaimana dituliskan oleh Rasul Paulus dalam:
Filipi 2:5-11“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”
Saudara, keintiman Yesus dengan Bapa membuat Yesus dapat berkata:
Yohanes 12:49-50“Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.”
Saudara, Rasul Yakobus pernah menasihati jemaat dengan nasihat yang baik:
Yakobus 1:19-20“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”
Jadi, Tuhan menghendaki supaya kita cepat untuk mendengar, seperti Yesus yang senantiasa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bapa.
Oleh karena itu, Tuhan ingin kita mendengarkan, agar kita dapat berkata-kata sebagai murid-Nya.
Dengan memiliki telinga seorang murid dan lidah seorang murid, kita akan lebih mudah mengalami proses pembentukan diri untuk menjadi serupa dengan Yesus, Anak Allah.
Karena itu, tidaklah sulit bagi kita untuk memberikan punggung ketika dipukul dan memberikan pipi ketika ditampar, bahkan ketika seseorang menampar pipi kiri, kita pun rela memberikan pipi kanan.
Marilah kita menjadi pelaku firman Tuhan, supaya Yesus dipermuliakan.
Haleluya, puji Tuhan. Amin.
Apa yang menyebabkan seseorang sulit menaati firman Tuhan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah yang dilihat oleh Yesus ketika Ia menyusuri Danau Galilea?
Apa yang sedang mereka kerjakan di danau tersebut?
Apa yang Yesus katakan kepada mereka, dan apa yang kemudian mereka lakukan?
Siapakah yang kemudian dilihat oleh Tuhan Yesus?
Apa yang Yesus katakan kepada mereka, dan apa yang kemudian mereka lakukan?
Saudara, seperti dalam renungan kemarin, kita melihat bagaimana Yesus memanggil murid-murid-Nya.
Tuhan Yesus berkata, “Ikutlah Aku, dan Aku akan menjadikan kamu penjala manusia.”
Dengan demikian, para murid dipanggil untuk menjadi penjala manusia.
Menurut tulisan dalam Kitab Matius dan Kitab Markus, ceritanya sama.
Namun, dalam versi Lukas, kisahnya disampaikan dengan sedikit perbedaan.
Meski demikian, ketiganya sama dalam satu hal, yaitu ajakan Yesus kepada keempat murid-Nya: Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes.
Lukas 5:1-11“Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.”
Saudara, dalam peristiwa Yesus memanggil murid-murid-Nya, Yesus selalu mengajak mereka untuk mengikut Dia.
Kepada keempat orang ini, yaitu Simon Petrus, Andreas saudaranya, serta Yakobus dan Yohanes saudaranya, Yesus menyatakan bahwa Ia akan menjadikan mereka penjala manusia.
Dalam pemanggilan Filipus, seperti dalam renungan kemarin, Yesus menumbuhkan iman Natanael melalui kemahatahuan-Nya dengan menyatakan, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.”
Mendengar pernyataan Yesus itu, Natanael berkata, “Rabi, Engkau adalah Anak Allah, Engkau Raja Israel.”
Saudara, ketika mereka bertemu dengan Yesus, maka orang-orang yang dipilih oleh-Nya menangkap bahwa Tuhan Yesus adalah Pribadi yang besar, hebat, dan mulia, serta sangat layak dihormati.
Karena itu, mereka tidak merasa rugi untuk meninggalkan segala sesuatu demi mengikut Yesus.
Hal yang sama terjadi ketika Yesus memanggil Matius, yang juga disebut Lewi:
Lukas 5:27-32“Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
Saudara, ketika Yesus bertemu dengan orang-orang pilihan-Nya, mereka selalu segera bersedia meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus.
Bagaimana dengan kita? Rela kah kita meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus?
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak anak Tuhan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi tidak meninggalkan cara hidup lamanya? Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Ketika Yesus hendak pergi ke Galilea, dengan siapa Ia bertemu?
Apa yang dikatakan Natanael kepada Filipus, dan apa maksud dari perkataannya itu?
Apa yang Yesus katakan tentang Natanael, dan apa maksud perkataan Yesus tersebut?
Sesuai perkataan Yesus, apa yang akan dilihat Natanael di kemudian hari?
Saudara, ketika Yesus memanggil murid-murid-Nya, Ia menggunakan berbagai cara. Andreas, kakak Petrus, adalah salah seorang murid Yohanes Pembaptis.
Yohanes 1:35-42“Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”
Menurut versi Matius, ceritanya berbeda:
Matius 4:18-22“Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.”
Ketika Yesus memanggil Filipus dan Natanael, peristiwa ini diceritakan oleh Rasul Yohanes.
Yohanes 1:43-51“Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”
Saudara, ketika Yesus berdialog dengan Filipus dan Natanael, kita membaca bahwa Yesus menyatakan Natanael sebagai seorang Israel sejati, yang di dalam dirinya tidak ada kepalsuan.
Mengapa Yesus berkata demikian? Karena Natanael menyampaikan perkataan yang benar sesuai dengan keyakinan dan iman orang Yahudi atau Israel.
Inilah persoalan yang menyebabkan orang-orang Farisi dan ahli Taurat menentang Yesus Kristus.
Para pemuka, tua-tua Yahudi, dan banyak orang Israel juga menentang Yesus, karena pada waktu itu Ia disebut sebagai Mesias, yaitu Yesus anak Yusuf dari Nazaret.
Artinya, menurut pemahaman mereka, Yesus memiliki ayah bernama Yusuf dan berasal dari Nazaret.
Sementara itu, menurut keyakinan orang Yahudi, Mesias seharusnya lahir dari seorang perawan dan berasal dari Yudea, karena Mesias diyakini sebagai keturunan Raja Daud dari suku Yehuda.
Yesus yang disebut orang Nazaret diartikan bukan berasal dari suku Yehuda dan bukan dari keturunan raja-raja, seperti yang dinubuatkan dalam Hukum Taurat dan kitab para nabi.
Karena itulah Natanael dipuji oleh Yesus sebagai seorang Israel sejati, sebab apa yang dikatakan Natanael sesuai dengan apa yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya.
Yesaya 9:5-6 “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.”
Yesaya 7:14“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”
Nubuatan Yesaya ini digenapi pada saat kelahiran Yesus:
Matius 1:23“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.”
Jadi, jelas bahwa apa yang dipikirkan dan diyakini oleh orang Yahudi didasarkan pada nubuatan-nubuatan Nabi Yesaya.
Kita pada masa kini dapat memahaminya karena kita memiliki Alkitab, yang mencatat bahwa nubuatan Yesaya digenapi dengan benar melalui apa yang dikatakan malaikat kepada para gembala di padang penggembalaan di Betlehem Efrata pada saat Yesus dilahirkan.
Lukas 2:10-12“Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”
Namun ketika Yesus ada di Israel, Ia dikenal sebagai Yesus, anak Yusuf, orang Nazaret.
Karena itu, banyak orang Israel yang membaca Hukum Taurat dan kitab para nabi menolak Yesus anak Yusuf dari Nazaret sebagai Mesias.
Ketika Yesus berbicara seperti yang telah disebutkan di atas, hal itu membangkitkan rasa penasaran Natanael, sehingga ia bertanya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Yesus lalu memperlihatkan kemahatahuan-Nya dengan berkata, “Aku melihat engkau di bawah pohon ara.”
Mendengar hal itu, Natanael langsung berkata, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja Israel.”
Saudara, selanjutnya dalam dialog itu Yesus mengajak Natanael untuk mengikut Dia.
Yesus berkata, “Ikutlah Aku,” dan menyatakan bahwa Natanael akan melihat malaikat Tuhan turun dan naik dalam kehidupan Yesus Kristus.
Dengan perkataan ini, Yesus menyatakan bahwa Natanael akan menyaksikan perbuatan-perbuatan besar Yesus Kristus sebagai Mesias.
Dan hal itu benar-benar terjadi dalam pelayanan Yesus. Natanael hadir sebagai murid Yesus dan menyaksikan berbagai mujizat yang terjadi.
Ia melihat kemuliaan Yesus sebagai Anak Manusia, sebagai Mesias, Kristus, Raja Israel, dan Raja Damai.
Haleluya, puji Tuhan. Amin.
Mengapa pada waktu itu banyak orang Israel tidak percaya kepada Yesus, seperti Natanael?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang Yesus lakukan di atas perahu Simon?
Apa yang Yesus katakan kepada Simon setelah selesai mengajar banyak orang?
Apa yang terjadi dengan Simon sepanjang malam bekerja?
Apa yang terjadi ketika Simon taat kepada perintah Yesus?
Ayat yang kita baca hari ini mengisahkan peristiwa ketika Yesus mengajar orang banyak di tepi Danau Genesaret dan kemudian memerintahkan Simon Petrus untuk menebarkan jala ke tempat yang lebih dalam.
Perintah tersebut disampaikan setelah Petrus dan rekan-rekannya bekerja semalaman tanpa memperoleh hasil apa pun.
Nelayan seperti Simon Petrus bukanlah pekerja amatir, melainkan pelaku usaha yang memahami musim, waktu, dan teknik penangkapan ikan.
Penangkapan ikan umumnya dilakukan pada malam hari, ketika ikan bergerak ke permukaan dan jala lebih efektif.
Dengan demikian, perintah Yesus untuk menebarkan jala pada siang hari bertentangan langsung dengan praktik profesional yang mapan.
Namun, Petrus memilih untuk menaati perkataan Yesus, bukan karena ia memahami hasilnya, melainkan karena ia menaruh kepercayaan kepada Pribadi yang memerintahkannya.
Ungkapan Petrus, “tetapi karena firman-Mu (Engkau menyuruhnya)”, sangat penting secara teologis.
Kata rhēma menunjuk pada firman yang diucapkan secara langsung dan kontekstual, bukan sekadar ajaran umum (logos).
Artinya, dasar ketaatan Petrus bukan pengalaman, tradisi, atau perhitungan rasional, melainkan kepercayaan pada firman Yesus (rhema) yang personal dan penuh otoritas.
Ketaatan tersebut berbuah pada peristiwa yang luar biasa, yakni tangkapan ikan yang sangat banyak hingga jala mereka hampir koyak.
Dalam dunia modern, banyak orang mengandalkan kompetensi, perencanaan, dan kerja keras, namun tetap menghadapi kegagalan, kekecewaan, atau kelelahan batin.
Budaya rasionalitas sering menempatkan ketaatan pada kehendak Tuhan sebagai sesuatu yang tidak praktis atau kurang masuk akal.
Akan tetapi, kisah ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak selalu selaras dengan logika manusia.
Justru pada titik inilah iman diuji, yaitu ketika seseorang mendapatkan rhema Firman Tuhan dan diminta untuk taat meskipun pengalaman dan perhitungan rasional tidak menjanjikan hasil yang pasti.
Melalui firman ini, mari bersama kita merespons panggilan Tuhan dengan ketaatan yang nyata dalam kehidupan praktis sehari-hari.
Ketaatan perlu diterjemahkan ke dalam tindakan konkret, seperti berani melangkah kembali setelah kegagalan, bersikap jujur meskipun berisiko, atau melakukan kebaikan yang Tuhan taruh di dalam hati.
Ketaatan yang dilakukan dengan iman bukan hanya membentuk karakter, tetapi juga membuka ruang bagi karya Tuhan yang membawa keajaiban.
Dalam pembacaan renungan kita diatas, makna apa yang kita dapat ambil dan pelajari? Diskusikan bersama kelompok PA dan dalam kelompok anggota persekutuan kita.