Kamis, 18 Juni 2026

SETIA BERBUAT BAIK

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

GALATIA 6:9-10

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang menyebabkan seseorang menjadi “jemu” atau “lemah” dalam berbuat baik? Pernahkah kamu mengalaminya?
  2. Apa arti “panen” yang dijanjikan dalam ayat 9? Apakah selalu berupa balasan materi?
  3. Mengapa Paulus memberi prioritas berbuat baik kepada “kawan-kawan seiman” (ayat 10), meskipun kita juga harus baik kepada semua orang?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9).

Pernahkah kamu merasa lelah berbuat baik? Mungkin kamu sudah sering menolong orang, tapi tidak pernah dihargai.

Mungkin kamu sudah berusaha bersikap baik kepada teman atau keluarga, tapi mereka tetap saja menyakiti hatimu.

Atau mungkin kamu sudah setia melayani di gereja, tetapi merasa tidak ada hasil yang terlihat.

Paulus tahu persis perasaan ini.

Jemaat Galatia juga menghadapi tantangan: ada orang-orang yang mempersulit mereka, ada ajaran sesat yang melelahkan iman mereka.

Paulus tidak berkata, “Berbuat baik itu mudah.” Sebaliknya, ia mengakui bahwa kita bisa menjadi jemu dan lemah.

Tapi ia mendorong: jangan berhenti. Karena ada masa panen yang dijanjikan Tuhan.

Setiap perbuatan baik yang dilakukan dengan setia akan membuahkan hasil pada waktunya.

Petani tidak menanam benih hari ini lalu panen besok.

Ia harus menunggu berbulan-bulan, merawat, menyiram, dan membersihkan gulma.

Kadang hujan tidak turun, kadang hama menyerang.

Tapi petani yang sabar dan tekun pada akhirnya akan menuai.

Demikian juga dalam hidup rohani.

Tuhan tidak buta terhadap kebaikan yang kita lakukan dengan tulus.

Entah itu memberi bantuan, mengucapkan kata penghiburan, atau sekadar tersenyum kepada orang yang sedang susah.

Ada masa panen yang sudah Tuhan tentukan.

Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat, tetapi percayalah: “apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai.”

Satu-satunya syarat: jangan menjadi lemah dan menyerah di tengah jalan.

“Selama masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan seiman.”

Paulus tidak membatasi kebaikan hanya untuk orang Kristen.

Kita harus berbuat baik kepada semua orang, karena kasih Allah melampaui batas-batas.

Namun, Paulus memberi prioritas khusus kepada “kawan-kawan seiman”.

Mengapa? Karena mereka adalah saudara kita satu Bapa.

Mereka adalah bagian dari tubuh Kristus yang sama.

Jika ada anggota tubuh yang lemah, anggota lain harus menolong. Ini bukan pilih kasih, tetapi tanggung jawab.

Seperti kita lebih dahulu memenuhi kebutuhan keluarga sendiri sebelum memberi ke tetangga.

Di gereja mula-mula, jemaat saling berbagi harta agar tidak ada yang kekurangan.

Prinsip ini tetap relevan: perhatikan saudara seiman yang sedang kesusahan di sekitarmu.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Buat “Komitmen Kecil” Berbuat Baik Setiap Hari.

Kamu tidak perlu melakukan hal-hal besar.

Mulailah dari hal sederhana: mendoakan orang yang susah, mengirim pesan penyemangat, atau membantu pekerjaan rumah tangga.

Lakukan secara konsisten, meskipun tidak ada yang memuji.

Kedua, Carilah Satu Saudara Seiman untuk ditolong Minggu Ini.

Perhatikan lingkungan jemaat atau persekutuanmu.

Apakah ada yang sedang sakit, kehilangan pekerjaan, atau patah semangat? Jangan hanya berkata “Aku akan mendoakanmu”, tapi tawarkan bantuan konkret: bawakan makanan, bantu menjaga anaknya, atau sekadar berkunjung dan mendengarkan keluh kesahnya.

Tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih adalah perbuatan baik yang sangat berharga di mata Tuhan.

Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana cara praktis menolong dengan tulus.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 26-31

Rabu, 17 Juni 2026

MENANGGALKAN PERKATAAN YANG MELUKAI

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

EFESUS 4:23-27

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dimaksud dengan “perkataan busuk” dalam ayat 29, dan mengapa gambaran “busuk” dipakai?
  2. Mengapa perkataan yang melukai dapat mendukakan Roh Kudus (ayat 30)?
  3. Menurut ayat 31-32, apa yang harus dibuang dan apa yang harus dikenakan sebagai gantinya?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” (Efesus 4:25).

Kita semua pernah mengalami luka karena perkataan.

Mungkin ada kata-kata dari orang tua, teman, atau pasangan yang masih terngiang sampai bertahun-tahun kemudian.

Sebaliknya, kita juga pernah melukai orang lain dengan perkataan kita sendiri.

Paulus tahu betapa dahsyatnya kuasa lidah.

Dalam jemaat Efesus, ada orang-orang yang mungkin masih terbiasa dengan gaya bicara lama mereka: kasar, sarkastis, suka menggosip, atau meledak-ledak dalam amarah.

Paulus dengan tegas berkata: “Janganlah ada perkataan kotor (busuk) keluar dari mulutmu.” Gambaran “busuk” ini menunjukkan bahwa perkataan yang melukai itu menjijikkan di mata Tuhan seperti buah yang sudah basi.

Orang percaya dipanggil untuk memiliki standar bicara yang baru, bukan sekadar “tidak kasar”, tetapi aktif membangun.

Setiap perkataan harus bertujuan membangun sesama.

Paulus berkata: “…tetapi hanya yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia.”

Artinya, sebelum bicara, kita perlu bertanya: “Apakah kata-kataku ini akan membantu orang lain menjadi lebih baik? Apakah ini memberi kekuatan, pengharapan, atau penghiburan?” Perkataan yang membangun bisa berupa pujian tulus, nasihat yang lembut, atau sekadar kata-kata penyemangat di saat susah.

Sebaliknya, perkataan yang merusak bisa berupa ejekan, sindiran, bentakan, gosip, atau bahkan “kebenaran” yang disampaikan dengan kasar tanpa kasih.

Paulus tidak melarang menegur, tetapi teguran harus dilakukan dengan cara yang membangun, bukan menghancurkan.

 “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu.”

Ini peringatan yang sangat serius. Roh Kudus tinggal di dalam setiap orang percaya sebagai meterai kepemilikan Allah.

Namun, Dia bisa bersedih karena perkataan kita.

Bayangkan Roh Kudus adalah Pribadi yang sangat lembut dan kudus.

Ketika kita mengeluarkan kata-kata kasar, fitnah, atau amarah yang meledak-ledak, itu seperti tamparan di wajah-Nya.

Dia hadir mendengar setiap kata yang keluar dari mulut kita.

Karena itu, menjaga perkataan adalah bagian dari menjaga hubungan kita dengan Roh Kudus.

Ayat 31-32 kemudian memberi jalan keluar: buanglah segala kepahitan, kemarahan, pertengkaran, fitnah, dan segala kejahatan.

Sebaliknya, hendaklah kita ramah, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni seperti Allah mengampuni kita di dalam Kristus.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Pasang “Filter” Sebelum Berkata.

Biasakan untuk berhenti sejenak sebelum berbicara, terutama saat emosi sedang memuncak.

Tanyakan tiga hal: (1) Apakah perkataanku ini benar? (2) Apakah ini perlu diucapkan? (3) Apakah ini akan membangun atau menghancurkan? Jika tidak memenuhi kriteria itu, lebih baik diam.

Latihan ini akan menyelamatkanmu dari banyak penyesalan.

Kedua, Latih Lidah untuk Mengucapkan Berkat.

Mulailah hari dengan mengucapkan kata-kata positif kepada keluarga, teman, atau rekan kerja.

Ucapkan terima kasih, beri pujian tulus, atau kirim pesan penyemangat.

Jika kamu pernah melukai seseorang dengan perkataan, segera minta maaf.

Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya menggunakan filter yang efektif sebelum berbicara.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 21-25

Selasa, 16 Juni 2026

MENJAGA HATI DAN PERKATAAN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

AMSAL 4:23-27

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dimaksud dengan “hati” dalam Amsal 4:23, dan mengapa ia disebut sumber kehidupan?
  2. Apa hubungannya antara hati yang terjaga dengan perkataan (ayat 24) dan penglihatan (ayat 25)?
  3. Langkah konkret apa yang bisa kamu lakukan hari ini untuk “menjauhkan kaki dari kejahatan” (ayat 27)?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23).

 Jika mata air bersih, maka sungai yang mengalir darinya juga bersih.

Tapi jika mata airnya keruh, seluruh aliran sungai akan tercemar.

Demikian juga dengan hidup kita. Hati adalah “mata air” kehidupan.

Semua yang keluar dari diri kita—perkataan, tindakan, bahkan ekspresi wajah—berasal dari hati.

Raja Salomo mengajarkan anaknya: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Ini bukan nasihat biasa, karena Salomo tahu bahwa hati manusia mudah sekali tergoda oleh hal-hal duniawi.

Kitab Amsal ditulis di tengah lingkungan yang penuh dengan pencobaan: ketidakjujuran, hawa nafsu, kesombongan, dan kelicikan.

Nasihat ini sangat relevan bagi kita hari ini, di mana kita setiap hari diserbu oleh berbagai pengaruh yang bisa mengotori hati.

Menjaga hati harus menjadi prioritas utama.

Banyak orang sibuk menjaga penampilan luar, reputasi, atau apa kata orang. Tapi Tuhan melihat hati (1 Samuel 16:7).

Jika hati kita penuh dengan iri hati, amarah, atau nafsu, cepat atau lambat itu akan keluar dalam perkataan dan perbuatan.

Yesus sendiri mengajarkan bahwa dari hati keluar segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, dan fitnah (Matius 15:19).

Karena itu, “menjaga hati” berarti kita harus waspada terhadap apa yang masuk ke dalam hati: tontonan apa yang kita lihat, kata-kata apa yang kita dengar, dan pikiran apa yang kita biarkan tinggal di benak kita.

Hati yang dijaga dengan baik akan memancarkan kehidupan, kedamaian, dan kebijaksanaan.

Hati yang terjaga akan melahirkan perkataan dan tindakan yang lurus.

Salomo melanjutkan: “Buanglah mulut yang serong dan jauhkanlah bibir yang curang.”

Perkataan kita adalah cermin hati. Orang yang hatinya jujur akan berkata jujur.

Orang yang hatinya penuh kasih akan berkata lembut.

Sebaliknya, hati yang busuk akan melahirkan gosip, fitnah, dan kata-kata kasar.

Lalu Salomo berkata tentang mata dan kaki: biarlah matamu memandang lurus ke depan, dan tetapilah jalan yang rata.

Ini berarti arah hidup kita harus fokus pada kebenaran, jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri.

Dunia ini penuh dengan jalan-jalan sesat yang kelihatan menarik, tetapi orang bijak akan tetap fokus pada jalan Tuhan.

Dengan menjaga hati, kita secara alami akan menjaga perkataan dan langkah kita.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Lakukan “Filter Hati” Setiap Pagi.

Sebelum memulai aktivitas, luangkan 5-10 menit untuk memeriksa hatimu.

Bertanyalah: “Hari ini, apa yang paling mengganggu pikiranku? Apakah ada rasa marah, iri, atau takut yang masih kusimpan?” Doakan dan serahkan kepada Tuhan.

Kedua, Jaga Perkataan dengan “Jeda Sejenak” sebelum Berbicara.

Sebelum berkata sesuatu, terutama saat sedang marah atau kesal, berhentilah sejenak.

Tarik napas, tanya dalam hati: “Apakah perkataanku ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini baik?” Latihan sederhana ini akan menyelamatkanmu dari banyak penyesalan.

Amsal 29:20 berkata, “Apakah engkau melihat orang yang gegabah dalam perkataannya? Harapan bagi orang bebal lebih baik dari padanya.”

Dengan menjaga hati dan perkataan, kita menjadi terang di tengah dunia yang gelap.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya memiliki hati yang senantiasa dipenuhi dengan firman Tuhan.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 17-20

Senin, 15 Juni 2026

MEMBALAS KEJAHATAN DENGAN KASIH

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 5:38-42

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Dalam hukum Taurat dikatakan bahwa mata harus di ganti dengan apa?
  2. Yesus mengatakan bahwa jika seseorang menampar pipi kiri kita maka apa yang harus kita lakukan?
  3. Jika seseorang menginginkan jubah kita, maka apa yang harus kita lakukan?
  4. Apa yang harus kita lakukan kepada yang meminta, dan apa yang harus dilakukan kepada yang meminjam?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, Yesus Kristus mengajarkan agar kita tidak melawan orang yang berbuat jahat kepada kita.

Ajaran inilah yang dapat membawa damai bagi dunia, karena jika kejahatan dibalas dengan kejahatan, dunia akan mengalami kehancuran.

Hal itulah yang sangat diinginkan oleh musuh Tuhan, yaitu iblis atau setan.

Ajaran untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan merupakan ajaran kasih yang diajarkan oleh Yesus dan para rasul Kristus sejak zaman gereja mula-mula.

Roma 12:21 “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”

Yesus dan para rasul telah mengajarkan kasih kepada jemaat gereja mula-mula:

Matius 5:38-42 “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.”

Saudara, ayat-ayat firman Tuhan di atas merupakan ajaran Yesus Kristus yang disampaikan kepada para rasul dan murid-murid-Nya pada awal pelayanan Yesus kepada orang banyak, yang dikenal sebagai Khotbah di bukit sebagai dasar pengajaran Kristus.

Ada banyak saudara kita yang berlatar belakang Kedar beralih kepada Kristen karena mereka membaca Kitab Injil.

Mereka membaca tentang kasih yang diajarkan oleh Yesus Kristus dan juga oleh ajaran para rasul:

Galatia 6:9 “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”

Saudara, dalam Perjanjian Lama juga diajarkan untuk mengasihi musuh, khususnya musuh secara pribadi:

Amsal 25:21-22 “Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu.”

Jadi, sejak Perjanjian Lama, Tuhan Allah sudah mengajarkan kepada orang-orang yang mengenal-Nya agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Tuhan mengajarkan bahwa kejahatan harus dibalas dengan kasih dan kebaikan, seperti yang dituliskan dalam Kitab Amsal.

Sejak Perjanjian Lama, Tuhan mengajarkan agar dunia ini tidak hancur karena kejahatan yang terus dibalas dengan kejahatan.

Jika hal itu terjadi, dunia akan semakin rusak.

Oleh sebab itu, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Tuhan selalu mengajarkan agar kerusakan diputus dengan kebaikan.

Kejahatan selalu membawa kerusakan, sedangkan kasih selalu melakukan kebaikan.

Yesus juga mengajarkan hukum Perjanjian Baru yang menunjukkan bahwa Tuhan Allah sangat mengasihi dunia ini.

Yesus rela berkorban supaya setiap orang berdosa yang percaya kepada Yesus memperoleh pengampunan dan kehidupan kekal. Tuhan memberikan teladan tentang bagaimana membalas kejahatan dengan kasih dan kebaikan, sehingga banyak orang memperoleh pengampunan, disucikan, dipulihkan dan diberkati.

Ketika kita sendiri mengalami pengampunan Allah, maka ajaran untuk membalas kejahatan dengan kasih bukan lagi sesuatu yang sulit.

Kita telah menikmati kasih dan kebaikan Allah melalui pengorbanan Yesus di kayu salib.

Pengalaman dikasihi oleh Yesus memampukan kita oleh Roh Kudus untuk rela berkorban dan membalas kejahatan dengan kasih, sebagaimana Bapa telah melakukannya melalui pengorbanan Yesus Kristus.

Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Apa sebabnya kita sulit membalas kejahatan dengan kasih, bahkan sering terjadi kejahatan dibalas berkali-kali lipat dengan kejahatan lagi?

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 9-16

Minggu, 14 Juni 2026

KASIH YANG NYATA DALAM TINDAKAN

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

1 YOHANES 3:11-18

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa berita yang dari semula sudah di dengar oleh pengikut Kristus?
  2. Apa sebab Habil dibunuh oleh Kain?
  3. Mengapa kita dibenci oleh dunia ini?
  4. Mengapa seorang yang membenci saudaranya disebut sebagai pembunuh?
  5. Dengan apa kita dapat menyatakan kasih kita kepada saudara kita?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, Yesus Kristus dengan jelas mengatakan bahwa dengan saling mengasihi, maka dunia akan mengetahui bahwa kita adalah murid-murid Kristus.

Murid Kristus diajar untuk selalu mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Kasih merupakan sifat Allah, yaitu Bapa dari Yesus Kristus.

Yesus ingin agar semua anak Allah menjadi serupa dengan diri-Nya yaitu gambar Allah yang tidak kelihatan.

Tuhan tidak hanya ingin anak-anak-Nya berbicara tentang kasih, tetapi juga menjadi alat Bapa untuk menyatakan kasih kepada dunia.

Karena itu, Yesus mengajarkan supaya murid-murid-Nya tidak hanya berteori tentang kasih, melainkan menjadi orang-orang yang mampu menyatakan kasih Allah melalui kehidupan mereka.

Mari kita terus belajar untuk saling mengasihi di antara sesama, baik dalam satu gereja, satu komsel, satu kelompok PA, satu persekutuan, satu wilayah, maupun satu divisi pelayanan.

Dengan demikian, kita tidak menjadi bahan tertawaan dan dianggap pendusta karena masih membenci seseorang di antara jemaat, teman sekantor, tetangga, teman PA, teman komsel atau teman sepersekutuan.

Rasul Yohanes menuliskan hal ini kepada jemaat Yesus Kristus:

1 Yohanes 4:20 “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.”

Karena itu, Rasul Yohanes mengajarkan agar kita sebagai orang percaya tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi juga melaksanakan dan mempraktikkan kasih kepada sesama yaitu orang-orang yang ada di sekitar kita.

Jangan sampai kita digolongkan sebagai pendusta karena sedang bermasalah dengan saudara sendiri, sesama anggota keluarga, kakak atau adik maupun keluarga yang lain.

Jangan pula kita bertikai dengan tetangga, teman sekantor, teman komunitas, pemimpin PA, teman sekelompok PA, teman sepersekutuan, bahkan dengan isteri, orang tua atau anak-anak kita karena sesuatu yang ada di sekitar kita.

Orang akan mengenal kita sebagai seseorang yang sangat mengasihi Tuhan, namun kita bermasalah dengan sesama.

Ada beberapa orang yang mempraktikkan kasih melalui tindakan memberi.

Pada waktu tertentu mereka membagikan sembako kepada pemulung, satpam atau pengemis di pinggir jalan, ada juga yang memberikan bantuan kepada penghuni panti jompo dan panti asuhan.

Mereka melakukannya dengan tulus, bukan untuk dipuji atau mencari nama supaya terkenal, bahkan ada yang menggunakan perantara agar perbuatannya tidak diketahui orang lain.

Itulah kasih yang nyata yang dilakukan tanpa mencari perhatian manusia.

Sikap seperti ini sangat berbeda dengan orang yang mengaku mengasihi Allah, tetapi membenci saudaranya sendiri.

Saudara, marilah kita bertobat dan memohon kepada Tuhan supaya Roh Kudus mengajar dan terus mengingatkan kita akan firman yang telah kita pelajari agar kita tidak hanya berteori tentang kasih.

Allah telah lebih dahulu mengasihi kita. Karena itu, marilah kita saling mengasihi sama seperti Bapa mengasihi Putra-Nya, Yesus Kristus, seperti Yesus juga telah dan terus mengasihi kita.

Biarlah kasih itu dimulai dari para penatua kepada para pendeta, kepada para diaken dan kepada seluruh jemaat gereja.

Marilah kita mengasihi bukan hanya dengan perkataan, tetapi juga dengan tindakan nyata sebagai bentuk kita menyatakan kasih kita.

Saya dan isteri menyatakan kasih kami dengan berdoa setiap malam bagi para penatua, para pendeta, para diaken, pengurus sinode dan para pemimpin gereja di Papua dan daerah-daerah lainnya.

Kasih juga dapat dinyatakan melalui doa, sapaan di media sosial, pemberian persembahan maupun berbagai tindakan sederhana lainnya, termasuk mengirim salam kepada seseorang.

Oleh karena itu, marilah kita tidak hanya berteori tentang kasih, tetapi benar-benar mempraktikkan tindakan kasih sebagai wujud nyata pelaksanaan kasih Bapa dan kasih Yesus kepada orang-orang di sekitar kita.

Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Siapa yang disebut pendusta oleh Rasul Yohanes dalam hal mengasihi sesama?

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 1-8