Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dilakukan jemaat Antiokhia sehingga Roh Kudus bisa berbicara dengan jelas kepada mereka?
Mengapa Roh Kudus meminta Barnabas dan Saulus dikhususkan, padahal mereka sangat dibutuhkan di Antiokhia?
Bagaimana respon jemaat terhadap panggilan Tuhan atas Barnabas dan Saulus, dan apa yang bisa kita pelajari dari respons itu?
“Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” (Kisah Para Rasul 13:2)
Gereja di Antiokhia adalah gereja yang hidup dan beragam.
Anggotanya berasal dari berbagai latar belakang: ada Barnabas yang baik hati, ada Simeon yang mungkin berkulit hitam, ada Lukius dari Afrika, ada Menahem yang pernah tinggal di istana, dan ada Saulus yang tadinya pembenci Kristen.
Mereka tidak sibuk dengan kegiatan rohani yang ramai, tetapi mereka meluangkan waktu khusus untuk beribadah dan berpuasa.
Dalam suasana yang tenang dan fokus kepada Tuhan itulah, Roh Kudus berbicara.
Mereka tidak sedang rapat organisasi atau membuat program gereja, tetapi mereka sedang mencari wajah Tuhan.
Inilah kuncinya: suara Roh Kudus lebih mudah didengar ketika hati kita tenang dan fokus kepada-Nya, bukan ketika kita sibuk dengan urusan sendiri.
Prinsip pertama yang bisa kita pelajari adalah bahwa Roh Kudus berbicara kepada orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
Jemaat Antiokhia tidak hanya beribadah secara rutin, tetapi mereka berpuasa—artinya mereka rela mengorbankan kesenangan fisik demi lebih fokus kepada Tuhan.
Di saat seperti itulah, Roh Kudus menyatakan kehendak-Nya.
Roh Kudus berkata, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku.”
Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus memiliki rencana spesifik untuk setiap orang.
Dia tahu siapa yang dipanggil untuk tugas apa. Tugas kita adalah menyediakan diri dan mendengarkan dengan hati yang terbuka.
Kadang kita terlalu sibuk bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau mau?” padahal kita tidak pernah diam untuk mendengar jawaban-Nya.
Prinsip kedua adalah bahwa panggilan Tuhan seringkali mengubah hidup dan meminta pengorbanan.
Barnabas dan Saulus adalah pemimpin penting di Antiokhia. Mereka pasti dicintai jemaat.
Namun, Roh Kudus meminta mereka pergi. Ini tidak mudah. Tetapi jemaat Antiokhia tidak menahan mereka.
Mereka justru berdoa, berpuasa, dan menumpangkan tangan sebagai tanda restu.
Mereka percaya bahwa rencana Tuhan lebih besar dari kenyamanan mereka.
Barnabas dan Saulus pun pergi, tidak tahu persis apa yang akan terjadi, tetapi mereka yakin Tuhan yang mengutus pasti menyertai.
Hidup yang dipimpin Roh Kudus adalah hidup yang penuh petualangan iman, kadang meninggalkan zona nyaman, tetapi selalu dalam penyertaan Tuhan.
Hal Praktis untuk Melakukan Firman, Bagaimana kita bisa mendengar suara Roh Kudus dalam hidup sehari-hari?
Pertama, Sediakan Waktu Hening.
Dalam kesibukan kita, luangkan waktu khusus untuk berdoa dan merenung, bahkan berpuasa jika perlu.
Matikan gangguan, fokus pada Tuhan, dan minta Dia berbicara.
Kedua, Libatkan Komunitas rekan dan pembimbing PA.
Jangan hanya mengandalkan perasaan sendiri.
Diskusikan dengan saudara seiman yang dewasa rohani, minta mereka mendoakan dan memberi masukan.
Tuhan sering berbicara melalui komunitas.
Ketiga, Berani Melangkah. Saat Tuhan sudah memberi petunjuk, jangan tunda.
Percayalah bahwa Tuhan yang memanggil pasti menyertai.
Mungkin jalannya tidak mudah, tetapi Dia setia menuntun. Mulailah dengan langkah kecil, dan biarkan Tuhan membuka jalan selanjutnya.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya mendengar arahan Roh Kudus.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang sudah ada sejak semula?
Apa yang telah dilihat oleh Yohanes?
Apa yang disaksikan oleh Yohanes?
Apa tujuan Yohanes menuliskan kesaksiannya?
Saudara, kesaksian Kristen bukan hanya lahir dari pengetahuan atau sekadar hasil membaca Alkitab.
Kesaksian yang paling baik adalah kesaksian yang lahir dari pengalaman kita bersama Tuhan, dari perenungan firman Tuhan, dari ketaatan kepada firman Tuhan, dari menaati perintah Tuhan, serta dari kepekaan mendengarkan suara Roh Kudus di dalam hati kita.
Rasul Yohanes memberikan kesaksian yang dituliskan dalam bagian firman yang kita pelajari ini:
1 Yohanes 1:1-4“Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.”
Saudara, dari bagian firman ini kita mendapatkan pengajaran bahwa kesaksian berasal dari pengalaman langsung.
Seperti Yohanes, ia mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus, Sang Mesias yang dijanjikan.
Yohanes mengetahui bahwa akan datang seorang yang diurapi, yaitu Mesias yang telah dinubuatkan sejak Kejadian 3:15.
Kitab Yesaya juga menuliskan banyak nubuat tentang Mesias, bahkan biografi Yesus sejak kelahiran hingga kematian-Nya.
Para rasul, murid-murid Yesus, adalah saksi utama yang hidup bersama Dia selama kurang lebih tiga setengah tahun pelayanan-Nya.
Karena itu, Yohanes dapat berkata: “yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup.”
Itu adalah pengalaman pribadi yang tidak dapat disangkal, autentik, asli, dan tak terbantahkan.
Kisah Para Rasul 2:29-33“Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.”
Dengan jelas dan tegas Rasul Petrus menyatakan bahwa para murid adalah saksi kebangkitan Yesus dari kematian.
Oleh karena itu, Tuhan juga menghendaki kita sama seperti para murid Yesus Kristus, mau dan rela menjadi saksi Kristus.
Kita dapat bersaksi melalui pengalaman pribadi kita bersama Roh Kudus, yang menjadikan firman tertulis (logos) menjadi firman yang hidup (rhema) bagi kita.
Sebagai orang-orang kudus Allah, hari ini menjadi saksi Kristus lewat pengalaman pribadi dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus.
Melalui perenungan firman Tuhan, firman itu menjadi nyata dan membangkitkan iman percaya kita kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Rasul Paulus juga menuliskan kebenaran tentang bagaimana seseorang diselamatkan melalui pendengaran akan firman kebenaran:
Efesus 1:13-14 “Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”
Roma 10:17“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”
Efesus 3:17“sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.”
Melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita, maka kita dapat berhubungan dengan Bapa dan Yesus Kristus.
Ketika kita merenungkan firman tertulis (logos), Roh Kudus menolong kita mengalami perjumpaan pribadi dengan Bapa dan Yesus Kristus.
Dari situlah lahir pengalaman pribadi yang dapat kita sampaikan sebagai kesaksian.
Pada gereja mula-mula, para rasul bersaksi tentang pengalaman mereka sendiri tentang perjumpaan mereka dengan Tuhan Allah yang menjadi manusia, yaitu Mesias yang dijanjikan.
Bagaimana dengan kita saat ini?
Kesaksian apa yang dapat kita sampaikan sebagai hasil perjumpaan kita dengan Tuhan?
Setelah Roh Kudus berdiam di dalam hati kita, perubahan apa yang telah terjadi dalam hidup kita?
Apa yang dapat kita ceritakan sebagai kesaksian yang autentik sebagai bukti anugerah dan kasih karunia Bapa yang kita alami pada masa ini?
Setelah puluhan tahun mengikut Kristus, saya mengalami banyak pemulihan dalam hidup.
Saya berasal dari latar belakang keluarga dengan berbagai kutuk karena dosa turunan yang dahulu sangat memalukan untuk diceritakan.
Namun puji Tuhan, saya telah dibebaskan dan dimerdekakan dari dosa turunan tersebut, baik dari pihak ayah maupun ibu saya.
Saya juga bersyukur kepada Tuhan karena boleh memasuki masa pensiun dari pelayanan kepenatuaan di GKKD-BP dan menyerahkan kepemimpinan kepada anak-anak rohani yang kini menjadi penatua menggantikan saya.
Mereka bahkan melayani dengan lebih baik.
Dahulu saya sering berkata bahwa saya hanyalah seperti “tidak ada rotan, akar pun jadi.”
Saya menyadari bahwa saya bukan seorang yang memiliki karunia kepemimpinan.
Namun Tuhan menolong dan memampukan saya hingga mencapai masa pensiun sesuai usia yang telah ditetapkan.
Hal ini menjadi bukti bahwa gereja kita adalah gereja yang memuridkan, ada generasi yang dipersiapkan untuk melanjutkan pelayanan.
Sistem yang dibangun memberi kesempatan bagi generasi berikutnya untuk mendapatkan kesempatan.
Dengan demikian, anak-anak dan adik-adik rohani terdorong untuk berdoa, melayani dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin di berbagai lini pelayanan.
Semua itu terjadi karena pergaulan dengan Roh Kudus dan kerelaan untuk membuka peluang bagi anak-anak rohani menggantikan bapak rohani.
Pergantian itu bukan karena pendisiplinan, melainkan karena kesadaran akan waktu, masa pensiun, dan kerelaan untuk melepaskan kedudukan sebagai eksekutif di gereja.
Roh Kudus akan terus menuntun gereja kita, GKKD-BP, untuk mencapai visi mula-mula yang Tuhan anugerahkan sebagai gereja yang berdoa, bermisi dan memuridkan.
Bahkan ke depan, kiranya gereja ini semakin maju dan terbuka, menjadi gereja yang giat melakukan pemuridan serta memberitakan Injil Kerajaan Allah, Injil keselamatan, kepada bangsa kita maupun kepada bangsa-bangsa.
Amin. Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa ada pemimpin di gereja yang tidak mau melepaskan jabatannya sebagai pemimpin utama?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang diperlukan supaya perkara dapat disahkan?
Dalam hal apa jemaat ragu atas kerasulan Paulus?
Dalam hal apa kita perlu menguji diri kita?
Apa yang menjadi sukacita rasul Paulus tentang jemaat?
Apa yang perlu kita usahakan dalam mengikuti Tuhan?
Bagaimana caranya jemaat dianjurkan oleh rasul Paulus untuk memberi salam kepada sesama jemaat?
Saudara, kekristenan bukan sekadar persoalan doktrin atau dogma yang benar.
Yang terpenting adalah hubungan yang intim dengan Bapa melalui Roh Kudus.
Banyak orang mengenal Allah secara konsep, tetapi tidak mengalami persekutuan yang intim dengan Tuhan setiap hari.
Dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus, ia menegaskan bahwa hidup Kristen yang sejati bertumbuh melalui kasih karunia Kristus, kasih Allah, dan persekutuan dengan Roh Kudus.
Inilah fondasi kehidupan rohani yang benar dan sehat.
Dalam 2 Korintus 13, sebagai penutup suratnya, Paulus menegur jemaat dengan tegas namun tetap dalam kasih.
Ia menegur jemaat yang masih hidup dalam dosa, mempertanyakan kerasulannya dan tidak hidup dalam pertobatan setelah mereka menerima surat Paulus yang terdahulu.
Namun tujuan rasul Paulus bukanlah untuk menghukum, melainkan untuk memulihkan hubungan jemaat Korintus dengan Tuhan Allah.
Ia mengajak mereka untuk menguji diri, bertobat dan hidup dalam damai dengan Allah Bapa melalui hubungan yang intim dengan Roh Kudus.
Aspek yang perlu kita sadari adalah: Apakah kita tetap teguh dan apakah Yesus Kristus sungguh ada di dalam diri kita?
Hal ini sangat penting karena Inilah bukti dari iman Kristen.
Efesus 3:17“sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.”
Iman Kristen bukan sekadar pengakuan mulut, melainkan realitas yang hidup di dalam diri setiap orang percaya.
Menguji diri bukanlah untuk menimbulkan rasa bersalah, tetapi untuk memurnikan iman kristen jemaat.
Persekutuan dengan Kristus melalui Roh Kudus dimulai dengan kejujuran di hadapan Tuhan.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah hidupku masih memberi ruang bagi dosa yang tidak ingin aku tinggalkan?
Sudahkah aku berusaha sungguh-sungguh agar dosa itu tidak terulang kembali?
Tuhan menegur bukan karena benci, melainkan karena mengasihi.
Roh Kudus menyingkapkan dosa bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk memulihkan hubungan kita dengan Kristus.
Ketika Roh Kudus menegur, janganlah mengeraskan hati.
Terimalah teguran itu sebagai tanda kasih Allah yang rindu memulihkan hubungan kita dengan Dia.
Dalam 2 Korintus 13, Rasul Paulus juga mengingatkan jemaat Tuhan untuk bersukacita, memperbaiki hidup, saling menghibur, serta hidup sehati dan sepikir dalam damai sejahtera.
Hubungan yang intim dengan Roh Kudus tidak hanya memulihkan hubungan kita dengan Allah Bapa dan Anak-Nya, Yesus Kristus, tetapi juga berdampak pada hubungan kita dengan sesama.
Roh Kudus membentuk komunitas yang saling menghibur, saling menguatkan dan hidup dalam damai, terutama di tengah jemaat Tuhan.
Karena itu, janganlah mengeraskan hati ketika Roh Kebenaran menyingkapkan kesalahan kita.
Saat kita menguji ketulusan hati, maka hidup kita akan semakin dimurnikan.
Persekutuan dengan Roh Kudus menghasilkan damai sejahtera dan pemulihan hubungan dengan sesama, sehingga terwujud kesatuan dalam tubuh Kristus.
Jika kita mengaku memiliki hubungan yang baik dengan Roh Kudus, maka hal itu harus terlihat jelas melalui sikap kita terhadap sesama jemaat Tuhan.
Apakah masih ada kepahitan, dendam, iri hati, persaingan, gosip, atau konflik yang terus berlanjut?
Jika hal-hal itu masih ada, maka perlu ada perenungan dan pemberesan.
Roh Kudus adalah Roh yang memimpin terjadinya rekonsiliasi, sehingga jemaat dapat hidup dalam damai sejahtera Kristus.
Saudara, hubungan yang intim dengan Bapa di dalam kamar doa yang tersembunyi akan membawa perubahan dalam hubungan kita dengan Roh Kudus, Yesus Kristus, dan sesama jemaat Tuhan.
Ketika kita memiliki hubungan intim dengan Bapa, tidak akan ada lagi sekat atau tembok di antara jemaat dan tidak ada lagi perpecahan karena perbedaan pendapat.
Sungguh tidak bijaksana jika kita berbicara tentang hubungan yang intim dengan Bapa, tetapi hubungan kita dengan sesama jemaat tidak harmonis, menghindari orang-orang tertentu, karena bisa dirasakan oleh mereka yang kita hindari.
Marilah kita saling mengasihi dan saling menasihati, agar kita semakin dekat seorang dengan yang lain di dalam jemaat Tuhan.
Marilah kita juga melatih diri untuk semakin peka terhadap Roh Kudus.
Mari kita menjaga persekutuan dengan Roh Kudus dan senantiasa terhubung dengan Tuhan, supaya kita benar-benar menjadi satu tubuh Kristus, terdiri dari banyak anggota dan berbeda-beda, tetapi tetap memiliki satu pikiran, yaitu pikiran Kristus dan satu perasaan, yaitu perasaan Kristus.
Dengan demikian, tidak ada celah yang memberi keuntungan bagi Iblis di tengah jemaat.
Haleluya, puji Tuhan. Amin.
Mengapa persoalan-persoalan terus terjadi di antara jemaat dan para diaken dalam gereja lokal?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapa yang dapat menyelidiki sehingga mengerti apa yang tersembunyi dalam diri Allah?
Siapa yang dapat mengerti apa yang kita kehendaki?
Apa yang diketahui oleh Roh Allah?
Apa tujuan Allah mengaruniakan Roh-Nya kepada kita?
Saudara, banyak orang ingin mengenal Tuhan, tetapi sering kali berusaha memahami perkara rohani hanya dengan akal budi.
Padahal Alkitab menegaskan bahwa kebenaran rohani tidak dapat sepenuhnya ditangkap oleh akal budi, kecerdasan, pendidikan atau pengalaman hidup manusia.
Untuk mengerti kebenaran rohani, kita memerlukan pewahyuan dari Roh Allah.
Roh Kuduslah yang mengetahui kerinduan, kehendak dan rencana Allah.
Karena itu, hanya mereka yang hidup dalam tuntunan Roh Kudus yang dapat menyelidiki dan menerima penjelasan atau pewahyuan oleh Roh Allah.
Jemaat di Korintus hidup dalam budaya Yunani yang sangat menjunjung tinggi filsafat, retorika serta hikmat manusia.
Mereka cenderung membanggakan kecerdasan dan kepandaian berbicara.
Dalam bagian firman ini, Paulus menjelaskan bahwa Injil kebenaran atau firman Allah tidak hanya berbicara kecerdasan manusia, tetapi hikmat Allah yang diwahyukan dan dinyatakan oleh Roh Kudus.
1 Korintus 2:10-12“Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.”
Saudara, mustahil bagi akal budi manusia untuk menyelidiki kebenaran firman Allah.
Kebenaran Allah hanya dapat diwahyukan kepada roh kita, yaitu orang-orang yang percaya kepada Tuhan dan telah menerima Roh Kudus dalam hidupnya.
Melalui pewahyuan itulah akal budi kita dapat memahami dan terhubung dengan firman kebenaran Tuhan, sehingga kita bukan hanya mengerti, tetapi juga mampu melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tanpa pertolongan Roh Kudus, kita tidak dapat menilai ataupun mengikuti apa yang telah direncanakan dan dikehendaki Tuhan Allah.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk membaca firman Tuhan, merenungkannya dan berdoa dengan merendahkan hati supaya Roh Kudus membimbing kita untuk menangkap maksud firman Allah.
Rasul Paulus juga menuliskan nasihat ini kepada muridnya, Timotius:
2 Timotius 3:16-17 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”
Melalui petunjuk firman Tuhan, kita belajar untuk menyadari ketika kita berbuat salah.
Dari pembelajaran itu juga, kita mengerti bagaimana memperbaiki kesalahan, sehingga kita dapat kembali hidup dalam kebenaran.
Oleh Roh Kudus, kita juga diajar untuk membimbing dan menolong saudara-saudara kita agar mereka mengerti kebenaran dan hidup dengan benar.
Rasul Paulus juga menuliskan hal ini dalam salah satu kitabnya:
Efesus 3:16-19“Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”
Rasul Paulus menjelaskan bahwa ia berdoa supaya semua orang kudus dapat memahami betapa tidak terbatasnya kasih Allah yang dianugerahkan kepada kita, anak-anak-Nya.
Melalui kasih itu, kita dimampukan untuk menerima dan mengerti bahwa Allah menyediakan seluruh kepenuhan Kristus bagi gereja-Nya.
Dengan demikian, orang kudus-Nya dapat memahami perkara-perkara rohani, bukan hanya hal-hal duniawi, karena kepada kita tidak diberikan roh dunia, melainkan Roh Kudus, Roh Allah, yang menyatakan hal-hal rohani.
Hal ini penting untuk kita pahami, agar anak-anak Tuhan yang sudah lahir baru tidak hidup terintimidasi oleh tipu daya Iblis.
Dalam proses pertumbuhan dan pembentukan oleh Tuhan, kita bisa saja mengalami berbagai situasi dan tantangan.
Karena itulah, Rasul Paulus juga menulis kepada jemaat di Roma, yang saat itu berada dalam berbagai keadaan dan sedang mengalami proses pembentukan:
Roma 8:26-30“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk senantiasa terhubung kepada Bapa melalui Roh Kudus agar Roh Kudus membimbing dan menuntun kita melewati setiap proses pembentukan dari Tuhan.
Dalam berbagai keadaan yang kita alami, Tuhan sedang bekerja dengan tujuan utama menjadikan kita semakin serupa dengan Yesus Kristus, sama dengan gambar Allah yang tidak kelihatan.
Haleluya, puji Tuhan. Amin.
Mengapa banyak orang kudus Tuhan tidak memprioritaskan pertumbuhan rohani dibandingkan dengan pertumbuhan jasmani dan dunianya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah yang disebut sebagai tunas, dan taruk dari tunggul Isai?
Ketika seseorang dipenuhi oleh Roh Tuhan, maka roh apa saja yang menyertai orang itu?
Apa yang Dia tidak lakukan ketika Dia menghakimi orang-orang?
Seperti apa kebenaran terikat pada diri-Nya?
Saudara, Yesus Kristuslah yang dimaksud oleh Nabi Yesaya ketika ia berkata bahwa suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan suatu taruk akan tumbuh dari pangkalnya serta berbuah.
Selanjutnya, Nabi Yesaya bernubuat:
Yesaya 11:1-5“Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.”
Ketika Yesus berada di muka bumi sebagai Anak Manusia, selama, 30 tahun Ia hidup sebagai manusia sepenuhnya.
Namun pada saat yang sama, Ia adalah Anak Allah.
Itulah sebabnya Ia berkata, “Aku dan Bapa adalah satu; Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku.”
Ia bekerja sebagai tukang kayu, menggantikan Yusuf, ayah-Nya.
Bersama saudara-saudara-Nya, Yesus hidup seperti manusia pada umumnya.
Ia dikenal sebagai pribadi yang saleh dan rajin, serta dipandang oleh para tetangga-Nya sebagai manusia biasa.
Hal ini terlihat dari reaksi orang-orang yang mengenal-Nya, yang bertanya-tanya dari mana Ia memperoleh kuasa-kuasa yang menyertai-Nya:
Markus 6:1-6A“Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.”
Selama 30 tahun Yesus tinggal di Nazaret sebagai pribadi yang baik.
Adik-adik-Nya mengenal Dia sebagai kakak mereka.
Mereka tentu telah mendengar dari Maria bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan.
Namun mereka belum percaya, karena memang belum waktunya Yesus melayani dalam kuasa Roh Kudus.
Roh Tuhan menyertai-Nya, dan sebagai Mesias yang dijanjikan, Ia akan dipenuhi dengan kuasa Allah.
Ketika Yesus keluar dari air setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Alkitab mencatat peristiwa tersebut sebagai berikut:
Matius 3:13-17“Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanespun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Roh Allah turun ke atas-Nya dalam rupa seekor burung merpati.
Peristiwa itu menggenapi nubuat Nabi Yesaya:
Yesaya 61:1“Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku;…”
Sejak peristiwa baptisan itu, Yesus berubah oleh pengurapan Roh Kudus. Roh Kudus turun ke atas Yesus dalam rupa burung merpati yaitu Roh Allah yang memimpin Yesus Kristus dalam pelayanan-Nya untuk menghadirkan Kerajaan Allah.
Urapan Roh Allah inilah yang menghadirkan roh hikmat dan roh pengertian, seperti yang telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya tentang kedatangan Mesias, Anak Allah:
Yesaya 11:2-5“Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.”
Oleh Roh Kudus, Yesus Kristus menjalani seluruh kehidupan-Nya sebagai Anak Manusia.
Ia hidup dalam kuasa Roh Allah yang penuh dan tidak terbatas, Roh hikmat, Roh pengertian, Roh nasihat, dan Roh keperkasaan.
Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu. Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”
Haleluya, puji Tuhan. Amin.
Apakah yang menyebabkan anak-anak Tuhan sering kekurangan hikmat dan tidak berpengertian, sehingga kurang bijaksana dalam menjalani kehidupannya?