Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Syarat apa yang membuat status kita bukan lagi budak, melainkan kita diadopsi menjadi anak Allah? (ayat 14)
Siapa yang bersaksi dengan roh kita, bahwa kita adalah anak Alah?
Apa yang seharusnya kita lakukan, jika kita sudah diadopsi sebagai anak Allah?
Jika ada pertanyaan, siapakah yang mau menjadi anak orang kaya, anak Sultan atau anak Presiden? Kemungkinan besar kita semua akan menjawab “Ya..saya mau”.
Kenapa banyak orang yang menjawab mau? Karena di pikiran kita atau sejauh mata memandang, anak orang kaya, anak Sultan atau anak Presiden itu hidupnya dijamin enak, tidak perlu capek bekerja karena semua kebutuhan sudah tersedia, punya banyak uang dan bebas membeli apa yang kita suka tanpa bekerja keras, bebas bepergian kemana saja kita mau dan dikenal serta dihormati orang banyak.
Jika di pikirkan, hal yang wajar anak-anak tersebut mendapat privilege atau keistimewaan semua itu, karena mereka adalah anak dari orang kaya, anak Sultan atau anak Presiden.
Begitu pula dengan pembacaan Firman hari ini menjelaskan, “semua orang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah” (ayat 14).
Kita yang adalah makhluk ciptaan Allah dan sejak lahir status kita orang yang berdosa dan patut kena hukuman, oleh karena anugerahNya yang besar kita di angkat “di adopsi” menjadi anak-anak Allah dan kita menjadi ahli waris janji-janji Allah.
Ini adalah sebuah proses yang luar biasa dan penuh kasih, yang memberikan kita keistimewaan dan kesempatan untuk memiliki hubungan yang intim dengan Allah dan menjadi bagian dari keluarga Allah.
Sehingga kita dapat berseru “ya Abba ya Bapa”.
Dalam budaya Yahudi, “Abba” adalah kata yang digunakan oleh anak-anak untuk memanggil ayah mereka, menunjukkan hubungan yang sangat dekat dan intim.
Dan karena itu sepatutnyalah kita bisa bersikap layaknya hidup sebagai anak Allah.
Namun demikian dalam prakteknya sering kali kita belum atau lalai menunjukkan dan bersikap seperti anak Allah.
Seringkali tutur kata kita, tindakan kita tidak mencerminkan bahwa kita anak Allah. Hari – hari ini, orang yang belum percaya kepada Kristus, mereka hidup sesuka mereka, bebas melakukan apa saja yang mereka suka, demi gaya hidup, juga demi kebutuhan hidup mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Saat ini sebagai anak-anak Tuhan seharusnya kita menjadi teladan dan contoh yang baik yang menunjukkan bahwa kita adalah anak Allah yang mewarisi sifat-sifat Allah.
Karena dunia sangat membutuhkan contoh atau role model yang nyata bagi mereka.
Dengan mengetahui bahwa status kita saat ini bukan lagi hamba melainkan anak-anak Allah, sikap apa yang harus kita lakukan agar sekitar kita mengetahui bahwa kita adalah anak-anak Allah yang mewarisi sifat-sifat Allah?
KITA ADALAH BAIT ALLAH:KRISTUS TINGGAL DI DALAM KITA
Penulis : Bernard Tagor
Pembacaan Alkitab Hari ini :
1 KORINTUS 3:16–23
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah yang dimaksud “bait Allah” itu?
Adakah konsekuensinya, jika kita membinasakan bait Allah? Jika ada, apa konsekuensinya? (Ayat 17)
Apakah bait Allah itu kudus? Dan bagaimana caranya kita menjaga agar bait Allah itu tetap kudus?
Dalam konteks kota Romawi, bait Allah adalah tempat yang besar dengan banyak kuil marmer, ruang paling suci di dalam kuil.
Namun pernyataan Paulus sangat berani dan mendalam, dia mendefinisikan bahwa Bait Allah bukan sekedar bangunan fisik, namun Bait Allah sebagai bangunan milik Allah di dalam diri manusia.
Dengan kata lain bait Allah adalah kita orang percaya.
Bait Allah harus dijaga kemurniannya dan tempat yang menyatakan kebenaran Allah.
Rasul Paulus menekankan tentang hidup kudus supaya jemaat Korintus tidak melenceng dari kebenaran Alkitab.
Dalam konteks ini sebenarnya Paulus tidak hanya membahas kehadiran Allah dalam diri setiap orang percaya secara individu.
Namun Paulus juga menjelaskan kehadiran Allah pada sekelompok orang (komunitas) yang beriman lainnya.
Jadi, jika kita mengaku bahwa kita adalah orang yang percaya kepada Kristus, itu berarti kita juga adalah bait Allah yaitu tempat kediaman Allah yang kudus dimana Kristus tinggal dalam hidup kita.
Sehingga dalam kita bertindak dan berperilaku secara individu/pribadi ataupun dalam berelasi dengan saudara seiman lain atau kelompok lainnya, seharusnya kita menunjukkan sikap bahwa kita adalah pengikutNya.
Contoh sederhana dimana kita dapat mempraktikkan kekudusan yang dilakukan secara pribadi/individu dalam kehidupan sehari-hari adalah menjaga kebersihan tubuh, menjaga kesehatan tubuh dengan berolahraga teratur, makan-minum yang sehat serta bergizi seimbang, yang sesuai dengan kondisi umur kita, tidur yang cukup, menjaga hati dan pikiran, atur dan kendalikan emosi dan stress, tidak iri hati, tidak sombong, serta mempergunakan waktu dengan bijak, dll.
Contoh tindakan praktis dalam menjaga kekudusan dalam kelompok atau relasi dengan banyak orang seperti; Menjaga perilaku dan tutur kata dengan orang lain, menjaga profesionalisme dalam bekerja, menjaga integritas dalam bekerja maupun di sekolah atau kampus, menghargai orang lain, tidak iri hati dengan keberhasilan orang lain, bertutur kata yang baik dan sopan dengan tidak merendahkan orang lain, tidak boleh “membully” atau melakukan perundungan kepada orang lain dan tidak melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kekristenan.
Tindakan tersebut diatas memang mudah untuk diucapkan, namun tidak gampang untuk mempraktekkannya, bahkan di ayat 17 tercatat ada “konsekuensi” Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia.
Membinasakan disini bukan berarti kita beresiko untuk kehilangan keselamatan, tetapi konsekuensi serius atas tindakan yang merusak kekudusan Allah!, karena Allah sangat mengutamakan dan memerintahkan supaya setiap individu ataupun jemaat dapat menjaga kekudusan (1 Petrus 1:16).
Tetapi kabar gembiranya, kita tidak perlu takut karena Roh Kudus yang ada didalam kita, Dialah yang membantu kita agar kita dapat hidup kudus.
Bagaimana caranya? Salah satunya kita harus terus menerus membaca Firman dan menggali Firman itu, berdoa dan teruslah membangun hubungan dengan Tuhan secara pribadi.
Lakukanlah semua itu setiap hari, kapanpun dan dimanapun kita berada secara konsisten, maka Dia akan memberikan kita kepekaan secara rohani, untuk kita dapat hidup kudus.
Sebutkan contoh-contoh lain, tindakan menjaga kekudusan baik itu secara pribadi ataupun dalam kelompok yang belum disebutkan diatas? Dana alasan apa yang membuat kita anak Tuhan sulit untuk menjaga diri kita ataupun kelompok kita, supaya kita dapat senantiasa hidup dalam kekudusan? Diskusikanlah dengan kelompok PA dan juga di dalam kelompok persekutuan kita.
MENGALAMI KEHIDUPAN KRISTUS YANG HIDUP DI DALAM KITA
Penulis : Anang Kristianto
Pembacaan Alkitab Hari ini :
ROMA 8:9-11
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Sesuai ayat ini, apakah yang seharusnya terjadi bila Roh Allah diam dalam kita?
Apa yang terjadi jika Kristus ada di dalam kita?
Apa yang terjadi dengan tubuh kita yang fana dengan kehadiran RohNya?
Paulus menempatkan kehidupan Kristen dalam kerangka realitas rohani yang objektif, bukan sekadar pengalaman emosional.
Ia menggunakan istilah pneuma (Roh) secara konsisten—Roh Allah, Roh Kristus, dan Roh Dia yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati—untuk menegaskan satu kebenaran sentral: kehadiran Allah kini dinyatakan melalui Roh yang diam di dalam orang percaya.
Dalam konteks dunia Romawi yang sangat dipengaruhi dualisme (roh dianggap baik, tubuh dianggap rendah), Paulus justru menyatakan bahwa tubuh tidak dibuang atau diabaikan.
Walaupun tubuh “mati karena dosa,” Roh yang diam di dalam orang percaya adalah Roh kebangkitan, yang memberi hidup sekarang dan menjamin kebangkitan tubuh kelak.
Secara bahasa dan teologi, Paulus tidak sedang berbicara simbolis, melainkan apa adanya atau sesungguhnya: orang percaya sungguh-sungguh hidup dalam domain baru, di mana Kristus yang bangkit berdiam dan bekerja melalui Roh-Nya.
Ayat ini menantang cara kita memaknai “hidup rohani.”
Banyak orang Kristen memahami kehidupan rohani sebatas aktivitas keagamaan atau pengendalian moral.
Paulus melangkah lebih jauh: hidup Kristen adalah kehidupan Kristus sendiri yang beroperasi di dalam kita.
Ini berarti pergumulan dengan kelemahan, kecenderungan dosa, kelelahan mental, atau tekanan hidup tidak menandakan ketiadaan Roh, melainkan arena di mana kuasa kebangkitan Kristus dinyatakan secara nyata.
Roh Kudus bukan sekadar penolong sesaat, tetapi aktif, yang memerdekakan kita dari kuasa “daging” (cara hidup lama yang berpusat pada diri).
Dengan perspektif ini, orang percaya tidak lagi ditentukan oleh latar belakang, kegagalan, atau keterbatasan, melainkan oleh kehadiran Kristus yang hidup dan bekerja dari dalam.
Karena itu, mengalami kehidupan Kristus yang hidup di dalam kita harus diwujudkan secara praktis.
Di dunia kerja, ini berarti kita menghadapi tekanan, konflik, dan ketidakadilan bukan dengan reaksi daging—amarah, manipulasi, atau keputusasaan—melainkan dengan hikmat, keteguhan, dan karakter Kristus.
Dalam studi, kehidupan Kristus dinyatakan melalui disiplin, kejujuran akademik, dan kerendahan hati untuk belajar, menyadari bahwa pertumbuhan intelektual juga bagian dari pembaruan hidup.
Langkah praktisnya sederhana namun konsisten: memulai hari dengan kesadaran bahwa Roh Kristus diam di dalam kita, melibatkan Tuhan dalam keputusan-keputusan kecil, dan menolak hidup berdasarkan dorongan daging semata.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa tugas yang dipercayakan Allah kepada Paulus untuk jemaat di Kolose?
Apakah yang dimaksud Paulus sebagai rahasia tersembunyi dari abad ke abad?
Kepada siapa sekarang rahasia itu dinyatakan?
Apa isi rahasia yang mulia dan kaya itu?
Pada ayat ini Rasul Paulus menjelaskan pelayanannya sebagai “tugas resmi seorang pengelola rumah tangga yang bertanggung jawab menunaikan kehendak tuannya secara setia”.
Paulus memahami pelayanannya bukan sebagai inisiatif pribadi, melainkan mandat ilahi untuk “menyempurnakan pemberitaan firman Allah,” yaitu menyatakan “rahasia” yang dahulu tersembunyi sepanjang zaman.
Dalam pemahaman budaya saat itu, mysterion bukan teka-teki esoterik, melainkan rencana Allah yang sebelumnya tidak tersingkap penuh dan kini dinyatakan secara terbuka.
Kejutan teologisnya terletak pada isi rahasia itu: bukan hukum baru, bukan ritual khusus, melainkan “Kristus di dalam kamu, pengharapan akan kemuliaan.”
Bagi jemaat non-Yahudi di Kolose, pernyataan ini radikal—kehadiran Allah tidak lagi dibatasi oleh bait, etnis, atau tanda lahiriah, tetapi berdiam di dalam diri orang percaya melalui Kristus.
Dalam konteks kehidupan masa kini, kebenaran “Kristus di dalam kita” menantang cara kita membangun identitas dan makna hidup.
Dunia modern sering menilai manusia dari capaian, produktivitas, dan pengakuan sosial.
Tanpa disadari, kita mudah memindahkan pusat pengharapan dari Kristus kepada prestasi, jabatan, atau keamanan materi.
Namun Paulus menegaskan bahwa sumber kemuliaan dan masa depan orang percaya bukanlah apa yang kita bangun dari luar, melainkan siapa yang berdiam di dalam.
Implementasi praktisnya berarti kita menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa Kristus hadir aktif—membentuk karakter, mengarahkan keputusan, dan memberi daya untuk hidup benar.
Di tengah tekanan kerja, studi, dan relasi yang kompleks, iman Kristen bukan sekadar nilai moral, tetapi kehidupan Kristus sendiri yang bekerja dari dalam, memampukan kita untuk tetap setia, rendah hati, dan penuh pengharapan meskipun situasi tidak ideal.
Karena itu, renungan ini mengajak kita untuk melakukan kebenaran secara nyata dalam keseharian.
Di tempat kerja, “Kristus di dalam kita” terpancar melalui integritas dan kejujuran yang bertanggung jawab, bukan demi pujian manusia, melainkan sebagai ibadah kepada Tuhan.
Dalam studi, kebenaran ini mendorong kita belajar dengan tekun, jujur, dan terbuka terhadap proses pembentukan karakter, bukan sekadar mengejar hasil instan.
Di rumah tangga, kehadiran Kristus diwujudkan melalui kesabaran, pengampunan, dan kasih yang konsisten dalam relasi suami-istri, orang tua-anak, maupun antar anggota keluarga.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Jika Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan dan Kepala atas segala sesuatu, bagaimana seharusnya hal ini mempengaruhi cara kita hidup dan prioritas kita sehari-hari?
Karena Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah melalui kematian-Nya, apa langkah konkret yang perlu kita ambil untuk tetap bertekun dalam iman?
Kolose 1:15 “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.”
Saudara, Tuhan Yesus adalah gambar atau penyataan Allah yang sempurna.
Sehingga ketika kita mengenal Kristus berarti kita akan mengenal Allah.
Oleh sebab kekuatan iman dan pengharapan akan terletak pada hubungan kita dengan Pribadi Kristus.
Dan jika Kristus adalah gambar Allah yang sejati, maka nilai hidup kita akan ditentukan oleh Dia dan arah hidup kita selayaknya mengarah kepada Dia.
Kolose 1:18 “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.”
Yesus adalah Kepala dari keseluruhan tubuh yaitu: Jemaat atau Gereja.
Kita orang percaya adalah anggota tubuh Kristus, kita adalah bagian kecil dari Gereja yang Am atau Gereja yang universal, gereja yang tidak dibatasi oleh denominasi, sinode dan apa pun atribut gereja.
Dan karena Yesus adalah yang utama dari segala sesuatu, maka Kristus sepatutnya menjadi Kepala, dimana gereja hidup dalam kesatuan, berbagai jenis pelayanan akan berjalan selaras menuju satu tujuan yang sama yaitu untuk memuliakan Tuhan saja dan setiap anggota menemukan fungsinya, perannya dalam kehidupan.
Saudara, ketika kita menjalani hidup dengan fokus yang terpecah: karier, keluarga, harta, pencapaian, dan pengakuan.
Ya, semua itu penting, tetapi ketika hal-hal tersebut menjadi pusat hidup, maka arah hidup kita menjadi kabur dan iman kehilangan kekuatannya.
Namun Firman Allah menegaskan dengan jelas bahwa Kristus bukan sekadar bagian dari hidup orang percaya, Ia adalah pusat dari segalanya.
Hidup yang berpusat pada Kristus adalah hidup yang memiliki arah tujuan, itu adalah hidup yang memiliki makna dan pengharapan.
Sehingga, ketika Kristus menjadi fokus hidup kita, maka segala sesuatu akan menemukan tempatnya yang benar.
Kiranya umat Allah dapat berkata dengan iman dan keyakinan:
“Bagi hidupku, Kristus adalah segalanya.”
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa yang menjadi penghalang sehingga engkau kurang fokus kepada Tuhan.