Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang terjadi atas para murid setelah mereka bersaksi dan memberitakan Injil kepada bangsa Yahudi?
Apa respon para murid ketika mereka dilepaskan dari penjara?
Di ayat 38 dan 39, Gamaliel seorang ahli Taurat menyatakan, “Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini.
Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan.”
Namun setelah seruan itu, para murid tetap dicambuk dan dilarang berbicara dalam nama Yesus.
Artinya jelas, kebenaran Injil tidak selalu diterima dengan mudah, pelayanan yang berasal dari Allah tetap bisa mengalami penderitaan.
Tetapi apa yang menjadi respon para rasul setelah mereka mengalami aniaya, sungguh menakjubkan, “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.” (Kisah Para Rasul 5:41-42).
Mereka tidak berhenti, tidak bersembunyi, tidak mengurangi kebenaran, tidak mengubah pesan Injil.
Cambukan tidak memadamkan Injil, larangan tidak menghentikan kesaksian, ancaman tidak sanggup menghentikan mereka untuk tidak memberitakan Injil.
Menderita karena Injil berarti kita tetap setia pada kebenaran meski ada tekanan, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, menganggap menderita bagi Kristus sebagai kehormatan dan anugerah.
Tetapi bukan berarti kita mencari penderitaan.
Namun jika penderitaan datang karena kesetiaan kepada Kristus, itu menjadi bagian dari panggilan kita sebagai murid Kristus.
Saudara, Injil yang sejati selalu membawa konfrontasi dengan dunia yang menolak terang.
Namun sejarah membuktikan justru di tengah penderitaan, Injil makin tersebar.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apakah engkau pernah ditolak karena engkau bersaksi tentang kasih Allah?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapa saja kah yang patut kita doakan dalam waktu doa syafaat kita?
Apakah saat ini kehidupan doa kita sudah menjadi gaya hidup yang berjaga-jaga, atau masih sebatas kebutuhan saat terdesak saja?
Efesus 6 dimulai dari ayat yang ke-6, kita diajar tentang perlengkapan senjata Allah.
Dan Rasul Paulus menutup pengajarannya tentang perlengkapan senjata Allah, yaitu antara lain tentang ikat pinggang kebenaran, perisai iman, dan pedang Roh, ia menambahkan satu unsur yang sangat menentukan: doa.
Paulus kemungkinan besar sedang ada di penjara ketika dia menulis kitab Efesus ini (lihat. Efesus 6:20).
Tetapi Paulus justru tidak meminta doa agar dibebaskan, melainkan agar ia diberi keberanian untuk memberitakan Injil.
Paulus menempatkan doa sebagai dasar peperangan rohani.
Keberanian Paulus bukan hasil karakter alami, melainkan hasil dari upaya untuk terus menerus bergantung kepada Allah.
Paulus adalah seorang rasul yang jika kita membaca kesaksiannya dalam memberitakan Injil, sepertinya Paulus seorang yang tidak kenal takut.
Tetapi disini kita membaca, bahwa seorang Paulus dengan rendah hati meminta agar jemaat mendoakan dia.
Maknanya kita semua membutuhkan untuk didoakan, artinya kita juga sangat perlu untuk saling mendoakan.
Kita butuh didoakan, dalam konteks ayat yang telah kita baca, agar kepada kita diberikan keberanian untuk memberitakan Injil.
Mengapa butuh keberanian, karena ada risiko dari pemberitaan Injil.
Paulus dan para murid sangat memahami risiko itu, bahkan sebagian besar dari mereka harus membayar usaha mereka dalam memberitakan Injil dengan nyawa mereka.
Saat ini risiko dalam memberitakan Injil tetap ada sekalipun berbeda dengan situasi pada gereja yang mula-mula.
Di Indonesia ada Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1979 yang isinya antara lain: Pelaksanaan penyiaran agama tidak dibenarkan untuk ditujukan terhadap orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama lain dengan cara menggunakan bujukan dengan atau tanpa pemberian barang, uang,…
Atas dasar itu betapa kita perlu sungguh bergantung kepada Tuhan ketika kita akan memberitakan Injil, memohon Roh Kudus memberi kita keberanian dan juga hikmat.
Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (lihat. Matius 10:16).
Artinya kita bisa tetap setia memberitakan Injil, tetapi melakukannya dengan hikmat yang Roh Kudus berikan, mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan keberanian, hikmat dan mohon Roh Kudus menyiapkan orang yang akan kita injili.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan kapan engkau terakhir bersaksi dan menceritakan kasih Yesus?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apakah respon para murid ketika mereka melihat Yesus?
Apakah yang terjadi ketika Yesus “mengembusi” murid-murid-Nya?
Setelah Yesus mati kayu salib, dikuburkan. Murid-murid-Nya cemas, takut, khususnya kepada orang Yahudi yang telah menyalibkan Yesus.
Mereka takut orang-orang yang telah menyalibkan Yesus, akan mencari mereka.
Walaupun Yesus sudah beberapa kali menubuatkan kebangkitan-Nya, mereka sama sekali tidak memahami bahwa nubuat-nubuat itu akan terjadi.
Tetapi di tengah ketakutan itu, Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu.”
Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka, sehingga akhirnya murid-murid itu bersukacita, ada kelegaan yang luar biasa, ketakutan dan kecemasan menjadi sirna seketika.
Jadi ketika Yesus bertemu dengan murid-murid-Nya, Ia tidak langsung berkata, “Pergilah!” Tetapi Yesus terlebih dahulu memberikan damai sejahtera.
Yesus ingin memastikan bahwa sebelum Ia mengutus para murid untuk bersaksi, memberitakan Injil.
Para murid telah disiapkan terlebih dulu, mereka tidak lagi cemas, takut dan tidak memahami tujuan hidup mereka.
Di ayat 22 bahkan dengan jelas, Yesus mengembusi para murid, dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.”
Kata “mengembusi” dalam bahasa aslinya berarti: menghembuskan nafas, meniup dengan tujuan memberi kehidupan.
Kata yang serupa ada di Kitab Kejadian 2:7 yaitu ketika Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam Adam.
Dengan demikian, khusus kepada para murid, Yesus telah menyiapkan mereka untuk menerima Roh Kudus.
Saat ini kita yang telah percaya dan memiliki Roh Kudus di dalam batin kita.
Perintah yang sama, Tuhan berikan. Yaitu agar kita pergi memberitakan Injil.
Itu bisa kita mulai dengan bersaksi melalui perilaku kita yang baik dan benar sehingga lebih mudah bagi kita ketika Roh Kudus membuka kesempatan untuk kita menceritakan Yesus kepada orang di sekitar kita.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa peran Roh Kudus dalam menolong kita untuk bersaksi.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah yang berbicara dalam ayat 8, dan kepada siapa ia berbicara?
Apa yang memenuhi Petrus ketika ia memberikan jawabannya?
Mujizat apa yang menjadi latar belakang peristiwa ini?
Dalam Nats ini bukan sekadar narasi tentang pembelaan hukum, melainkan sebuah manifestasi dari transformasi radikal karakter manusia di bawah pengaruh Roh Kudus.
Sumber Keberanian: Kepenuhan Roh Kudus (ayat 8) Transformasi Karakter: Petrus, yang sebelumnya menyangkal Yesus di depan seorang hamba perempuan karena ketakutan, kini berdiri tegak di hadapan Sanhedrin (mahkamah tertinggi Yahudi). Otoritas Ilahi: Kepenuhan Roh Kudus memberikan kemampuan untuk berbicara dengan hikmat yang melampaui pendidikan formalnya sebagai nelayan, sehingga para penguasa “heran” melihat keberanian mereka (ay. 13).
Kristen yang Radikal Keberanian para rasul tidak bersifat abstrak; keberanian itu memiliki objek yang sangat spesifik, yaitu Yesus Kristus. Di hadapan orang-orang yang merancang penyaliban Yesus, Petrus justru menegaskan: Identitas Sang Penolong: Mukjizat penyembuhan orang lumpuh (pasal 3) secara tegas dikreditkan kepada nama Yesus Kristus, orang Nazaret (ay. 10). Metafora Batu Penjuru: Mengutip Mazmur 118, Petrus menjelaskan posisi Yesus sebagai batu yang dibuang oleh para tukang bangunan (pemimpin agama), namun telah menjadi Batu Penjuru (ay. 11). Eksklusif Keselamatan: Puncak keberanian mereka ada pada pernyataan di ayat 12.
Keberanian Menghadapi Intimidasi Struktur Kekuasaan Sidang Sanhedrin menggunakan taktik tekanan psikologis dan ancaman fisik untuk membungkam para rasul. Namun, teks ini menunjukkan bagaimana iman melampaui rasa takut terhadap institusi manusia: Status Sosial vs. Kuasa Roh: Para pemimpin agama mengenali mereka sebagai “orang biasa yang tidak terpelajar” (ay. 13). Namun, realitas bahwa mereka “telah menyertai Yesus” memberikan bobot moral yang tidak bisa dibantah oleh gelar atau jabatan. Bukti yang Tak Terbantahkan: Adanya orang yang disembuhkan berdiri di samping mereka (ay. 14) membungkam segala argumen lawan. Keberanian memberitakan Injil seringkali diperkuat oleh bukti nyata dari kuasa Tuhan dalam kehidupan praktis.
Integritas Moral dan Ketaatan Ketaatan (ay. 19). Ini adalah prinsip ketidaktundukan sipil yang kudus Ketika hukum manusia bertentangan dengan perintah langsung Tuhan, orang percaya dipanggil untuk memprioritaskan ketaatan kepada Allah. Dorongan Internal (Impulsi Roh) Ayat 20 menyatakan, Keberanian ini bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan sebuah keharusan . Pengalaman pribadi dengan kebangkitan Kristus menciptakan api yang tidak bisa dipadamkan oleh ancaman penjara atau maut.
Bagaimana cara mempersiapkan diri agar siap memberi jawaban tentang iman?
Langkah praktis apa yang dapat dilakukan untuk melatih keberanian rohani?
Bagaimana doa dan persekutuan dapat memperkuat keberanian bersaksi?
Siapa satu orang yang dapat saya doakan dan jangkau dengan Injil minggu ini?
Bagaimana gereja dapat menciptakan budaya keberanian dalam memberitakan Injil?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapakah yang mengurapi Yesus menurut ayat ini?
Dengan apa Yesus diurapi?
Apa yang dilakukan Yesus setelah Ia diurapi?
Siapa saja yang menerima kebaikan dan kesembuhan dari pelayanan Yesus?
Petrus menyampaikan khotbah ini di rumah Kornelius, seorang perwira Romawi (non-Yahudi).
Penekanan pada “Yesus yang diurapi kuasa untuk berbuat baik kepada semua” adalah cara Petrus meruntuhkan tembok pemisah antara Yahudi dan bangsa lain.
Ia menegaskan bahwa anugerah dan kuasa pembebasan Kristus bersifat universal tersedia bagi siapa saja yang terbelenggu.
Hakikat Pengurapan: Roh Kudus dan Kuasa Legitimasi Mesianik: Kata “Kristus” atau “Mesias” secara harfiah berarti “Dia yang Diurapi.” Dalam tradisi Perjanjian Lama, pengurapan adalah tanda pengesahan Allah bagi raja, imam, dan nabi. Dengan mengurapi Yesus, Allah Bapa secara terbuka menyatakan bahwa Yesus adalah pemegang otoritas tunggal yang memenuhi ketiga jabatan tersebut. Trinitaris: Ayat ini menunjukkan kerja sama harmonis dalam Tritunggal: Allah (Bapa) yang mengurapi, Yesus (Anak) yang diurapi, dan Roh Kudus sebagai “minyak” pengurapan atau instrumen kuasa tersebut. Dimensi Kemanusiaan: Pengurapan ini menekankan bahwa Yesus, dalam kemanusiaan-Nya, bergantung sepenuhnya pada Roh Kudus untuk menjalankan misi penyelamatan-Nya di bumi.
Manifestasi Kuasa: Berjalan Berkeliling Berbuat Baik Pengurapan yang diterima Yesus bukanlah sekadar gelar statis, melainkan kekuatan dinamis yang mendorong tindakan nyata. Istilah “berjalan berkeliling sambil berbuat baik” menunjukkan karakter aktif Yesus. Ia tidak menunggu orang datang, melainkan menjemput bola. Kebaikan yang dilakukan Yesus bukan sekadar etika moral, melainkan tindakan restoratif yang mengembalikan martabat manusia.
Konfrontasi Spiritual: Menyembuhkan yang Dikuasai Iblis Pembebasan Tawanan: Kata “dikuasai” menyiratkan penindasan atau tirani yang kejam. Pengurapan Yesus berfungsi sebagai alat pembebasan (eksorsisme dan pelepasan) bagi mereka yang terbelenggu secara spiritual, mental, dan emosional oleh kuasa kegelapan. Kemenangan Kerajaan Allah: Setiap mukjizat penyembuhan dan pengusiran setan yang dilakukan Yesus adalah “serangan balik” terhadap kerajaan maut serta membuktikan bahwa kuasa yang ada pada-Nya jauh lebih tinggi daripada otoritas kegelapan mana pun.
Jaminan Penyertaan: “Sebab Allah Menyertai Dia” Keberhasilan pelayanan Yesus bukan karena kemahiran retorika atau strategi manusia, melainkan karena kehadiran Allah yang konstan dalam setiap langkah-Nya. ini memberikan alasan mengapa misi Yesus tidak mungkin gagal.
Bagaimana cara kita meneladani Yesus dalam berbuat baik?
Siapa di sekitar kita yang membutuhkan sentuhan kasih dan kuasa Tuhan?
Bagaimana gereja dapat menjadi alat Tuhan untuk membawa pemulihan?
Apa langkah praktis untuk hidup dalam pimpinan Roh Kudus setiap hari?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Kepada siapa kabar baik itu disampaikan?
Untuk tujuan apa pengurapan itu diberikan?
Apa saja bentuk pemulihan yang disebutkan dalam ayat 1–3?
Bagaimana gambaran perubahan dari dukacita menjadi sukacita dijelaskan dalam ayat 3?
Apa maksudnya mereka akan disebut “pohon tarbantin kebenaran”?
Apa tugas yang akan dilakukan oleh orang-orang yang dipulihkan (ayat 4)?
Nabi Yesaya merupakan salah satu bagian paling ikonik dalam Alkitab, sering disebut sebagai “Manifesto Mesianik.” Pesan ini bukan sekadar janji pemulihan bagi bangsa Israel tetapi juga merupakan proklamasi misi yang kemudian digenapi secara sempurna oleh Yesus Kristus (Lukas 4:18-19).
Sumber dan Mandat Pengurapan Pengurapan dalam konteks Alkitabiah berarti dikuduskan atau dipisahkan secara khusus oleh Allah untuk tugas tertentu. “Roh Tuhan ALLAH ada padaku”: Ini menunjukkan bahwa misi ini bukan berasal dari inisiatif manusia, melainkan kuasa ilahi. Pengurapan memberikan otoritas (hak untuk berbicara) dan kesanggupan (kekuatan untuk bertindak). “TUHAN telah mengurapi aku”: Di Perjanjian Lama, raja, nabi, dan imam diurapi. Sosok dalam Yesaya 61 ini merangkum ketiga jabatan tersebut sebagai hamba Tuhan yang diutus.
Hasil dari Pengurapan: Transformasi Identitas Tujuan akhir dari kabar baik ini bukan hanya agar manusia merasa lebih baik, melainkan agar terjadi perubahan esensi: “Pohon Tarbantin Kebenaran”: Mereka yang tadinya lemah dan hancur diubah menjadi pohon yang kuat, berakar dalam, dan kokoh dalam kebenaran. “Tanaman TUHAN untuk memperlihatkan keagungan-Nya”: Hidup orang yang dipulihkan menjadi bukti hidup (testimoni) akan kemuliaan Tuhan di bumi.
Dampak Restorasi: Membangun Kembali yang Runtuh (Ayat 4) Pemulihan pribadi (ayat 1-3) selalu berujung pada pemulihan komunitas dan lingkungan (ayat 4). Membangun Reruntuhan yang Sudah Tua: Tugas orang yang telah diurapi dan dipulihkan adalah memperbaiki apa yang telah rusak selama generasi-generasi sebelumnya. Memperbarui Kota-kota yang Sunyi: Ini berbicara tentang restorasi peradaban, budaya, dan tatanan sosial yang hancur akibat dosa atau ketidakadilan.
Makna Bagi Kita Saat Ini
Hal ini menegaskan bahwa Kekristenan bukan sekadar agama “pelarian” ke surga, melainkan panggilan untuk terlibat dalam penderitaan dunia. Diurapi berarti:
Sensitivitas: Memiliki mata yang melihat “orang yang remuk hati” di sekitar kita.
Otoritas: Percaya bahwa Roh Kudus menyertai kita untuk membawa perubahan.
Restorasi: Fokus pada pembangunan kembali (spirit, moral, dan fisik) daripada sekadar mengkritik kerusakan.
Siapa saja di sekitar kita yang membutuhkan kabar baik saat ini?
Bagaimana cara praktis menyampaikan kabar baik dengan kasih dan kuasa Tuhan?
Apa bentuk “membangun kembali reruntuhan” dalam kehidupan rohani maupun sosial masa kini?
Bagaimana gereja dapat menjalankan misi Yesaya 61:1–4 di tengah masyarakat?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapa saja pemimpin yang berkumpul untuk mengadili Petrus dan Yohanes (ayat 5–6)?
Pertanyaan apa yang diajukan kepada Petrus dan Yohanes (ayat 7)?
Apa yang membuat Petrus berani menjawab mereka (ayat 8)?
Dalam nama siapakah mujizat kesembuhan itu terjadi (ayat 10)?
Bukan sekedar hanya catatan sejarah tentang penangkapan Petrus dan Yohanes, melainkan sebuah demonstrasi teologis mengenai bagaimana Hikmat Ilahi dan Kuasa Roh Kudus bekerja dalam diri orang percaya saat menghadapi oposisi duniawi.
Narasi ini menyajikan kontras tajam antara otoritas institusional manusia dengan otoritas rohani yang berasal dari persekutuan dengan Kristus.
Sumber Keberanian (Ayat 8) Petrus penuh dengan Roh Kudus. Keberanian bersaksi di hadapan Mahkamah Agama bukan hasil retorika manusia, melainkan manifestasi kuasa Roh yang menjanjikan penyertaan saat menghadapi penguasa (Lukas 12:11-12).
Fokus Pemberitaan (Ayat 10-12) Identitas: Yesus Kristus dari Nazaret. Karya: Disalibkan manusia, dibangkitkan Allah. Eksklusivitas Keselamatan: Yesus adalah “batu penjuru” . Keselamatan tidak ada di dalam nama lain di bawah kolong langit.
Bukti Perubahan (Ayat 13) Keheranan Dunia: Pemimpin Yahudi terheran-heran melihat keberanian Petrus dan Yohanes karena mereka adalah orang biasa yang tidak terpelajar. Tanda Utama: Mereka mengenali bahwa keberanian dan hikmat tersebut berasal dari fakta bahwa para rasul “telah disertai oleh Tuhan Yesus.”
Berdasarkan teks ini, hikmat dari Roh untuk memberitakan Kristus memiliki karakteristik sebagai berikut:
Dependensi Mutlak: Keberanian sejati muncul saat kita mengandalkan Roh Kudus, bukan hanya sekedar kecerdasan intelektual semata.
Ketajaman Alkitabiah: Hikmat Roh memampukan kita menghubungkan fakta kehidupan (seperti kesembuhan atau penderitaan) dengan kebenaran Kitab Suci.
Kristosentris: Tujuan akhir dari hikmat dari Roh adalah memuliakan Nama Yesus, bukan meninggikan diri si pemberita.
Kesaksian Hidup: Dampak terbesar dari pemberitaan adalah ketika dunia melihat bahwa kita telah “bersama-sama dengan Yesus.”
“Parrhesia” (Keberanian): Dalam bahasa Yunani, kata ini merujuk pada kebebasan berbicara yang penuh keyakinan tanpa rasa takut. Ini adalah tanda khas dari seseorang yang dipenuhi Roh Kudus.
Bagaimana cara mempersiapkan diri agar siap memberi jawaban tentang iman kita?
Apa yang dapat kita pelajari dari keberanian Petrus dan Yohanes untuk pelayanan masa kini?
Bagaimana gereja dapat bersaksi dengan penuh hikmat di tengah tantangan zaman?
Apa langkah praktis untuk lebih peka terhadap pimpinan Roh Kudus dalam memberitakan Kristus?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dimaksud Paulus dengan “kamu bukan demikian” dalam bagian ini?
Menurut Surat Efesus 4:20–21, bagaimana seseorang belajar mengenal Kristus?
Apa arti “menanggalkan manusia lama” dan “mengenakan manusia baru” (ayat 22–24)?
Mengapa pembaruan roh dan pikiran penting dalam hidup orang percaya?
Hidup baru dalam Kristus menurut Efesus 4:20-32 adalah transformasi radikal dari manusia lama menuju manusia baru. Proses ini melibatkan tiga langkah utama:
Menanggalkan: Membuang “manusia lama” yang binasa oleh nafsu yang menyesatkan.
Memperbarui: Mengalami pembaruan roh dan pikiran secara terus-menerus.
Mengenakan: Memakai “manusia baru” yang diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan.
Paulus memberikan instruksi praktis mengenai perubahan karakter:
Manusia Lama (Tinggalkan)
Perkataan: Dusta
Emosi: Marah yang berdosa atau pendendam
Etika Kerja: Mencuri
Komunikasi: Perkataan kotor
Relasi: Kepahitan, kegeraman, fitnah
Manusia Baru (Lakukan)
Perkataan: Kebenaran
Emosi: Marah yang terkontrol (selesaikan segera)
Etika Kerja: Bekerja keras dan berbagi
Komunikasi: Kata-kata membangun dan berkat
Relasi: Keramahan, kasih mesra, pengampunan
Kita dipanggil untuk memperlakukan orang lain bukan berdasarkan apa yang mereka layak terima, melainkan berdasarkan bagaimana Allah telah memperlakukan kita di dalam Kristus.
Roh Kudus yang kita terima menjadi bahan bakar untuk menghidupi “manusia baru” tersebut.
Hidup baru bukan hanya soal etika sosial, tetapi soal relasi kita dengan Tuhan dan Roh Kudus menetap dalam diri orang percaya.
Ketika kita kembali ke pola hidup lama, kita melukai hati Tuhan. Kesadaran akan kehadiran Roh Kudus ini menjadi rem spiritual agar kita tetap hidup dalam kekudusan.
Sikap atau kebiasaan lama apa yang perlu saya tinggalkan sebagai bagian dari “manusia lama”?
Dalam hal apa saya perlu diperbarui dalam pikiran dan tindakan saya?
Apakah saya sudah mencerminkan kebenaran dan kekudusan dalam kehidupan sehari-hari?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Roma 12:3.
Menurut Firman Tuhan hal-hal apakah yang tidak boleh kita pikirkan supaya kita dapat kendalikan pikiran kita?
Mengapa kita harus menguasai pikiran kita?
Agar pikiran kita sesuai dengan kehendak Allah maka hal apakah dalam diri kita yang tidak serupa dengan dunia ini?
Perkataan dan perbuatan serta karakter kita sangat ditentukan oleh pikiran kita.
Supaya kita dapat bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus maka kita harus mengelola dan mengatur pikiran kita, sehingga kita tidak berpikir secara dunia atau manusiawi, tetapi berpikir secara ilahi, karena ada banyak anak-anak Tuhan yang sudah lama mengikut Tuhan namun perubahan hidupnya belumlah signifikan.
Untuk memiliki pikiran ilahi maka kita memastikan bahwa kita tidak mau menjadi serupa dengan dunia ini sehingga seluruh pola pikir kita yang lama harus dibaharui secara total.
Sebagai contoh bahwa orang dunia tidak mau mengampuni orang yang sering menyakiti mereka tetapi sebagai orang percaya maka kita harus senantiasa mengampuni orang yang bersalah kepada kita bahkan tujuh puluh kali tujuh dosa orang lain yang bersalah kepada kita harus kita ampuni.
Jika orang percaya belum diperbaharui pikiran mereka maka hal itu menjadi kesulitan bagi mereka, sehingga mereka tidak memahami kehendak dan keinginan Tuhan bahwa pengampunan itu menjadi hal yang penting bagi mereka karena tidak mungkin mereka diampuni oleh Tuhan jika mereka tidak mau mengampuni kesalahan orang lain.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.“ (Roma 12:2).
Oleh sebab itu kita harus senantiasa mengisi pikiran kita dengan Firman Tuhan agar seluruh pikiran duniawi itu diganti dengan pikiran Allah yaitu Firman Tuhan.
Ketika pikiran kita terus diperbaharui maka kita harus menguasainya agar tidak memberi kesempatan kepada iblis untuk menjatuhkan kita lewat kekuatiran, ketakutan dan kecemasan yang membuat kita menjadi “overthinking” sehingga pikiran kita tepat seperti yang dipikirkan oleh Tuhan dalam hal memandang orang lain, persoalan-persoalan dalam hidup serta keadaan-keadaan yang kita hadapi dalam hidup sehari-hari.
Dan dipastikan kita berkemenangan dalam menghadapi situasi dan keadaan-keadaan tersebut.
“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”(Roma 12:3).
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”(Filipi 4:8).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara mengisi pikiran saudara sehingga tidak overthinking tetapi sesuai dengan Firman Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya dan secara khusus hafalkanlah Filipi 4:7.
Bagaimana caranya agar dimerdekakan dari segala bentuk kekuatiran?
Hal-hal apakah yang Tuhan berikan kepada kita saat kita nyatakan keinginan kita kepada Dia melalui doa dan permohonan?
Apakah yang harus kita lakukan terhadap setiap kebenaran Firman yang telah kita terima dan kita dengar agar hidup kita tidak kuatir?
Iblis selalu melemparkan ketakutan, kekuatiran serta intimidasi ke dalam pikiran kita sehingga kita dapat ditipu dan dijatuhkan oleh si jahat.
Namun Tuhan ingin kita mengisi pikiran kita dengan kebenaran Tuhan sehingga kita selalu berkemenangan dalam segala hal.
Dalam kehidupan sehari-hari iblis selalu melemparkan panah apinya dalam bentuk kekuatiran dan Tuhan ingin agar kita mengelola pikiran kita dengan benar sehingga kita tidak dikuasai dan dibelenggu oleh kekuatiran tetapi damai sejahtera Allah selalu memimpin dan mengendalikan kehidupan kita.
Beberapa hal yang Tuhan ajarkan kepada kita untuk menang dari rasa kuatir, diantaranya:
Kita harus sadar bahwa iblis selalu melemparkan panahnya kepada kita sehingga kita dapat menjadi kuatir dan kita harus melawannya. ”Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.”(I Petrus 5:8-9).
Kita harus menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan dan percaya bahwa Dia sanggup pelihara kita. Penyerahan kekuatiran itu kita lakukan lewat permohonan dan doa. ”Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”(I Petrus 5:7). ”Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”(Filipi 4:6-7).
Kita harus mengisi pikiran kita dengan setiap kebenaran Firman Tuhan sehingga panah api si jahat tidak dapat menembus pikiran kita lewat ketakutan dan kekuatiran dengan cara percaya dan melakukan setiap kebenaran Firman Tuhan yang telah kita terima dan dengar. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.”(Filipi 4:8-9).
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana saudara berkemenangan dari rasa kuatir karena mengisi pikiran saudara dengan kebenaran Tuhan.