Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang Paulus perintahkan kepada jemaat di kota Roma?
Jika kita sudah lahir baru, yaitu menerima Kristus dalam hidup kita, maka apa yang sudah mati dalam hidup kita? Dan Roh siapa yang menghidupkan kita?
Jelaskan dengan sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari, bagaimana mematikan “tubuh dosa”?
Paulus sadar betul bahwa jemaat Roma pada saat itu sudah banyak menjadi orang yang percaya kepada Kristus.
Namun kepercayaan kepada Kristus tidak otomatis menjadikan jemaat Roma hidup menurut Roh Kristus.
Hal itulah yang Paulus ingin tegaskan kepada jemaat Roma dan juga kepada kita sebagai orang percaya masa sekarang ini mengenai perbedaan mereka yang masih hidup “menurut daging” dan mereka yang masih “hidup menurut Roh.”
Pada saat kita sungguh-sungguh percaya kepada Dia dan menerima Kristus dalam hati kita, saat itu juga Roh Kristus tinggal dalam hati kita.
Dan oleh karena kasihNya, kita secara rohani sudah mengalami keselamatan yang kekal.
Namun hal itu tidak berarti otomatis kita pasti hidup di dalam roh, bukan lagi hidup di dalam daging!
Paulus coba menjelaskan, ketika RohNya diam di dalam kita, maka tubuh kita memang “mati karena dosa”, dengan kata lain bahwa orang percaya kepada Kristus tidak lagi hidup di kendalikan daging (sifat manusia yang berdosa).
Apa itu contohnya hidup di dalam daging; percabulan, kecemaran, hawa nafsu, iri hati, permusuhan, perselisihan, amarah, kepentingan diri sendiri, dll (lihat. Galatia 5:19-21).
Dan contoh hidup di dalam roh; Kasih, sukacita, damai Sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, dll (lihat. Galatia 5:22-26).
Dalam realitanya, apakah mudah hidup dipimpin oleh Roh Kristus? Jelas tidak mudah!
Bagaimana caranya supaya hidup kita bisa diarahkan oleh Roh kudus? Jawabannya, kita tidak boleh lagi hidup di dalam keinginan daging!
Kita harus sadar bahwa hidup kita bukan milik kita lagi.
Dia sudah membeli hidup kita dengan lunas, itu artinya Tuhanlah yang menjadi pemilik tunggal sekaligus pengendali hidup kita sepenuhnya.
Jadi kita harus siap dan rela membiarkan Roh kudus mengendalikan hidup kita dimulai dengan; baca Firman Tuhan secara teratur, selidiki, gali serta pahami Firman itu, renungkan dan terima dengan lemah lembut setiap Firman yang kita renungkan, dan lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Firman itu kepada kita secara konsisten dan terus menerus.
Berdoa setiap saat minta tuntunan Roh kudus dan akuilah Dia dalam setiap laku dan langkah kita.
Percayalah bahwa Roh kudus yang ada dalam hati kita, memampukan kita untuk hidup di dalam Roh dengan cara yang berkenan kepada Dia.
Setelah kita lahir baru, sadarkah bahwa rohNya ada dalam hidup kita? Apakah otomatis hidup kita sudah pasti hidup di dalam Roh? Bagaimana caranya agar hidup kita konsisten hidup di dalam roh dan tidak lagi dikuasai oleh keinginan daging? Diskusikan dengan kelompok PA atau Persekutuan kita.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Siapa yang mengutus kita untuk menyampaikan kabar baik?
Apa saja yang dilakukan oleh oran-orang yang diurapi Tuhan?
Siapa yang disebut “pohon tarbantin kebenaran” dan “tanaman Tuhan”?
Apa maksudnya membangun reruntuhan yang berabad-abad?
Nabi Yesaya menyampaikan nubuat mesianik yang luar biasa: Roh Tuhan Allah ada padanya untuk membawa kabar baik kepada orang sengsara, membebaskan orang tawanan, serta menghibur orang yang berdukacita.
Ayat-ayat ini menubuatkan pelayanan Yesus Kristus yang kelak menggenapinya (Lukas 4:18–19).
Selain itu, Yesaya juga menegaskan bahwa umat Tuhan dipanggil untuk “membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad” (ayat 4).
Konteks nubuat ini adalah janji pemulihan bagi Israel yang mengalami kehancuran akibat pembuangan, di mana Tuhan sendiri akan menjadi sumber kekuatan untuk membangun kembali kehidupan mereka.
Dalam budaya Timur Dekat kuno: Tarbantin (terebinth/oak) adalah pohon besar, berumur panjang, dan berakar kuat, sering menjadi simbol keteguhan dan kekuatan yang tahan lama.
Pohon jenis ini sering dijadikan tempat suci, tanda perjanjian, atau simbol perlindungan (Kejadian 12:6; 35:4; Hakim 6:11).
Bagi bangsa Israel, pohon besar di tanah kering adalah lambang kehidupan dan keberlangsungan.
Bagi kita saat ini, pesan ini berbicara tentang pemulihan yang Allah sediakan di dalam Kristus.
Dunia modern menghadirkan banyak reruntuhan: keluarga yang retak, moralitas yang runtuh, generasi yang kehilangan arah, dan masyarakat yang terbelah karena keserakahan serta egoisme.
Namun, melalui Roh Kudus, gereja dipanggil untuk menjadi agen pemulihan, membawa kabar baik, menghadirkan penghiburan, serta melepaskan orang dari berbagai bentuk perbudakan dosa dan belenggu modern seperti ketergantungan digital, materialisme, maupun rasa putus asa.
Firman ini mengingatkan kita bahwa kita tidak berjalan dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan kuasa Roh Tuhan yang melayani melalui kita.
Karena itu, sebagai murid Kristus, kita perlu mempraktekkan panggilan ini secara nyata.
Dalam dunia yang semakin cepat berubah, kita dapat mulai dengan membangun kembali “reruntuhan” di sekitar kita: meneguhkan nilai-nilai iman dalam keluarga, membangun relasi yang penuh kasih di tengah perbedaan, serta melayani mereka yang lemah dan terabaikan.
Kita dipanggil untuk menjadi pembawa kabar baik, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata—menolong, menguatkan, dan menegakkan keadilan.
Dengan hidup dalam kuasa Roh Kudus, kita turut serta dalam karya besar Allah: membangun kembali kehidupan, komunitas, dan bangsa yang runtuh, sehingga nama Tuhan dipermuliakan di generasi ini.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang harus diusahakan oleh jemaat di Korintus sesuai pesan Paulus pada perikop ini?
Apa yang harus kita lakukan agar Allah sumber damai sejahtera menyertai kita?
Apakah yang harus kita berikan kepada saudara yang lain?
Kasih karunia dan persekutuan siapa yang menyertai senantiasa murid-murid di Korintus?
Kota Korintus pada abad pertama adalah pusat perdagangan dan budaya Yunani-Romawi.
Kehidupan sosialnya sangat kosmopolitan, tapi juga dikenal dengan moralitas yang rusak, persaingan, dan perpecahan.
Jemaat di sana menghadapi masalah serius: perpecahan antar kelompok (1 Korintus 1:12), ketidakmurnian moral (1 Korintus 5), penyalahgunaan karunia rohani (1 Korintus 12–14), serta kritikan terhadap kerasulan Paulus (2 Korintus 10–13).
Rasul Paulus menutup suratnya kepada jemaat di Korintus dengan sebuah nasihat penuh kasih: “Bersukacitalah, sempurnakanlah dirimu, kuatkanlah hatimu, sehati sepikir, dan hiduplah dalam damai sejahtera.” (ayat 11).
Lalu ia meneguhkan jemaat dengan berkat yang sangat terkenal: kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian (ayat 14).
Konteks ini lahir dari pergumulan jemaat yang penuh perpecahan, ajaran yang menyimpang, serta ketegangan dalam hubungan dengan Paulus.
Namun penutup ini bukan sekadar formalitas, melainkan undangan untuk masuk dalam kehidupan yang ditopang oleh kasih Allah Tritunggal.
Bagi kita pada masa kini, pesan ini sangat relevan.
Dunia modern menawarkan banyak suara yang dapat menggeser kebenaran: relativisme, kesibukan, hingga godaan materi.
Namun firman hari ini menegaskan bahwa murid Kristus dipanggil untuk hidup dalam persekutuan yang nyata dengan Roh Kudus.
Dialah yang menolong kita untuk memiliki sukacita di tengah penderitaan, kesatuan di tengah perbedaan, serta damai sejahtera di tengah kegelisahan dunia.
Persekutuan dengan Roh Kudus bukan sekadar pengalaman emosional, tetapi realitas hidup yang membuat kita sadar akan hadirat Allah, diteguhkan dalam iman, dan diarahkan kepada kebenaran.
Karena itu, hal praktis yang harus dijalani adalah membangun keintiman dengan Roh Kudus setiap hari.
Dalam tantangan dunia modern—dengan arus informasi yang cepat, tekanan hidup, dan kecenderungan individualisme—murid Kristus harus melatih diri untuk peka mendengar suara Roh Kudus melalui doa, perenungan firman, dan ketaatan sehari-hari.
Kita dipanggil untuk menjadi saksi kasih Kristus dengan menjaga kesatuan dalam komunitas, menunjukkan damai sejahtera di lingkungan kerja, serta menghadirkan terang di tengah dunia yang penuh kegelisahan.
Dengan hidup dalam persekutuan Roh Kudus, kita tidak hanya bertahan, tetapi juga memancarkan kasih Allah yang mengubahkan.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah seseorang bisa hidup tidak di bawah hukum Taurat?
Apakah perbedaan antara percabulan, kecemaran, dan hawa nafsu?
Menjadi murid Kristus bukan hanya tentang belajar firman dan beribadah, tetapi tentang hidup dalam Roh, menghasilkan kehidupan yang nyata, yang dirasakan oleh orang lain.
Rasul Paulus mengajarkan bahwa hidup seorang murid sejati tidak ditentukan oleh kemampuan manusia, tetapi oleh buah Roh yang dihasilkan saat seseorang hidup dipimpin oleh Roh Kudus.
Dalam diri setiap umat percaya, ada pertentangan antara keinginan daging (keinginan manusia yang berdosa) dan keinginan Roh (keinginan untuk melakukan kehendak Allah).
Keinginan daging adalah keinginan untuk memuaskan ego, nafsu, dan ambisi pribadi.
Keinginan Roh akan memimpin kita kepada kekudusan, kesediaan untuk memikul salib, dan untuk mengasihi dengan kasih Kristus.
Murid yang sejati bukan lah yang hanya tahu mana yang benar, tetapi yang memilih untuk hidup oleh Roh, menolak keinginan daging yang tampak lebih menarik tetapi sesungguhnya akan membawa kita menjadi semakin jauh dari Tuhan.
Keinginan daging yang perlu diwaspadai ada dalam dua kelompok:
Kelompok pertama yang terkait dengan dosa seksual: percabulan, kecemaran, dan hawa nafsu.
Berbeda dengan masa dimana Alkitab diwahyukan, saat ini dosa seksual terpampang dengan sangat jelas melalui alat komunikasi visual dan sedemikian mudah diakses oleh siapapun, termasuk anak-anak.
Sesungguhnya tanpa pertolongan Roh, mustahil seseorang bisa hidup dalam kekudusan dan kebenaran.
Kelompok dosa kedua adalah yang terkait dengan penyembahan berhala.
Di jaman ini berhala bukan berbentuk patung yang disembah, tetapi berbagai hal yang menjadi pusat perhatian manusia, sering dipikirkan, diimpikan dan dicari dengan sekuat tenaga.
Apakah itu: uang, harta benda, aset yang bisa berwujud kendaraan, rumah, perhiasan mahal.
Manusia modern telah dibius dengan kebahagiaan palsu yang ditandai dengan berbagai pencapaian atas kepemilikan dari hal-hal di atas.
Sebaliknya dari hidup dalam kedagingan, Tuhan menghendaki kita sebagai murid Kristus untuk hidup dipimpin oleh Roh, sehingga kita menghasilkan buah-buah Roh Kudus.
Kita berlimpah dalam: Kasih – Yang membuat kita bisa mengasihi orang lain tanpa pamrih, bahkan sekalipun orang tersebut sangat menjengkelkan.
Kita memiliki buah Roh Sukacita – Dan ini bukan kegembiraan duniawi karena kita memiliki banyak uang, harta.
Ini sukacita yang kita peroleh karena hidup di dalam Roh.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan pengalamanmu dibaptis Roh, yang umumnya dengan perantaraan para hamba Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah yang dimaksud dengan baptisan Yohanes?
Apakah yang terjadi ketika Paulus membaptis mereka dalam nama Yesus?
Apa perbedaan baptisan yang Paulus lakukan dengan baptisan yang Yohanes lakukan?
Baptisan adalah salah satu tanda ketaatan dan iman dalam kehidupan rohani kita.
Namun, Alkitab menunjukkan bahwa bukan hanya tindakan baptisan yang penting, tetapi juga oleh siapa seseorang dibaptis.
Kisah 19:1-6 menceritakan bagaimana Paulus bertemu beberapa murid di Efesus yang sudah dibaptis, tetapi belum dibaptis dalam nama Yesus dan belum menerima Roh Kudus.
Peristiwa ini mengungkapkan bahwa baptisan yang sejati selalu terkait erat dengan karya Roh Kudus.
Baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan, tanda seseorang percaya kepada karya keselamatan Kristus dan bertekad untuk meninggalkan dosa.
Tetapi, baptisan ini belum membawa seseorang masuk ke dalam hubungan perjanjian baru dengan Kristus, karena dilakukan sebelum kematian dan kebangkitan-Nya.
Paulus menegaskan bahwa orang percaya jangan berhenti pada baptisan air.
Harus lanjut kepada baptisan Roh Kudus yang membawa kita kepada janji Bapa, yaitu kepenuhan Roh Kudus.
Karena tanpa Roh Kudus, kehidupan rohani akan hambar, kita tidak memiliki kuasa, dan mudah digoyahkan oleh roh jahat.
Kisah Para Rasul 19:6 “Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.”
Setelah Paulus menumpangkan tangan, Roh Kudus turun atas mereka, dan mereka mulai berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.
Ini adalah tanda bahwa baptisan Roh bukan sebuah ritual, tetapi ini adalah pencurahan kuasa ilahi.
Dari peristiwa ini, ada beberapa pelajaran penting:
Kebenaran harus menjadi dasar ibadah, iman yang sehat dibangun di atas pengenalan yang benar akan Kristus.
Baptisan dalam nama Yesus adalah pengakuan iman yang penuh, bukan sekadar simbol, tetapi pernyataan bahwa kita sepenuhnya menjadi milik-Nya.
Kepenuhan Roh Kudus memberi kuasa untuk menjadi saksi, tanpa Roh Kudus, sesungguhnya kita tidak atau kurang berdaya!
Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan pengalamanmu dibaptis Roh – umumnya dengan perantaraan seorang hamba Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah yang Tuhan perintahkan kepada Ananias?
Bagaimana reaksi Ananias ketika menerima perintah tersebut?
Kisah pertobatan Saulus di jalan menuju Damsyik adalah salah satu peristiwa paling dramatis dalam Perjanjian Baru.
Dari seorang penganiaya jemaat, ia diubahkan menjadi rasul yang memberitakan Kristus sampai ke ujung bumi.
Dari penganiaya jemaat menjadi penulis kitab Perjanjian Baru yang paling produktif.
Namun, titik balik hidupnya bukan hanya ketika ia melihat cahaya dan mendengar suara Yesus, tetapi juga saat ia dipenuhi dengan Roh Kudus melalui pelayanan Ananias.
Ananias yang tahu bagaimana reputasi Saulus sebagai penganiaya jemaat, adalah sangat wajar kalau dia sempat ragu, tetapi ketaatan Ananias membuktikan bahwa perintah Tuhan harus direspon dengan iman, bukan rasa takut.
Setelah firman Tuhan datang kepada Ananias dan Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa Dia akan memakai Saulus sebagai utusan ke bangsa-bangsa lain dan raja-raja.
Ananias pun dengan lantang berbicara kepada Saulus, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”
Saulus yang matanya kembali pulih, akhirnya dibaptis dan untuk sementara tinggal bersama dengan para murid di Damsyik.
Baptisan Saulus ini menandai kematian manusia lamanya dan kelahiran baru di dalam Kristus.
Sejak saat itu, Saulus tidak lagi mengandalkan kekuatan dirinya, melainkan kuasa Roh yang bekerja di dalamnya.
Kisah Saulus mengingatkan kita bahwa pilihan Tuhan bukanlah kebetulan.
Allah memanggil bukan karena kita layak, tetapi karena kasih karunia-Nya.
Dan setiap panggilan selalu disertai dengan pengurapan Roh Kudus agar kita sanggup menjalankannya.
Apa pun latar belakang kita, Allah sanggup untuk mengubah kita menjadi alat di tangan-Nya, untuk menyatakan kasih, kuasa dan anugerah-Nya kepada mereka yang terhilang.
Tujuan Allah tetaplah sama, agar Injil diberitakan, orang yang berdosa diselamatkan, dan Dia akan memakai umat-Nya untuk menggenapi hal itu.
Tujuan sama, hanya metoda bisa saja berubah, tetapi urutannya kurang lebih akan seperti ini:
Pertemuan dengan Kristus akan mengubah arah hidup kita.
Baptisan air akan meneguhkan komitmen iman kita.
Baptisan Roh Kudus akan memberi kuasa dan keberanian kepada kita
Panggilan untuk melayani akan datang setelah kita bertumbuh semakin dewasa dan memahami talenta dan karunia kita.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apakah engkau sudah mendapatkan panggilan atau arahan untuk melayani Tuhan. Baik dalam pelayanan musik, dalam bidang audio visual, literatur atau sebagai pemurid.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Baptisan apa yang dilakukan oleh Yohanes?
Apa yang dimaksud dengan baptisan Roh Kudus?
Sebelum Yesus naik ke surga, Ia memberikan janji yang luar biasa kepada murid-murid-Nya: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8).
Janji ini menggenapi nubuat Yohanes Pembaptis bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus dan api (Matius 3:11).
Baptisan Roh Kudus bukanlah momen emosional, tetapi peristiwa rohani yang membawa perubahan total dalam hidup murid-murid, sehingga mereka diperlengkapi untuk melayani dengan kuasa Allah.
Para murid setelah mereka dibaptis oleh Roh Kudus, terjadi perubahan yang sangat dramatis.
Misalnya Petrus, yang sempat menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, menjadi Petrus yang sangat berani untuk bersaksi.
Di hadapan orang-orang Yahudi dengan gagah berani Petrus menyampaikan Injil yang diakhiri dengan: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” Dan orang-orang Yahudi yang terpesona oleh kemuliaan Kristus di dalam khutbah Petrus, bertanya, “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara? Dan dengan tegas Petrus menjawab: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Lihat. Kisah Para Rasul 2:14-41).
Di Kisah Para Rasul 6, ditulis bagaimana ketika para rasul sedemikian sibuk melayani sehingga banyak yang mengeluh karena mereka merasa kurang terlayani.
Sehingga para rasul memutuskan untuk mengangkat para diaken untuk membantu mereka.
Stefanus yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.
Stefanus ditetapkan sebagai diaken, tetapi apa yang dia lakukan tidak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para rasul.
Akibatnya banyak orang yang dibuat tidak nyaman sehingga akhirnya Stefanus dibawa ke Mahkamah Agama.
Dan bersama dengan Stefanus dibawa juga saksi-saksi palsu.
Stefanus yang penuh dengan iman dan Roh Kudus dengan gagah berani menyampaikan kisah tentang Abraham hingga Kristus.
Imam Besar dan para ahli Taurat yang mendengar kisah itu, sangat tertusuk hati mereka.
Mereka menyambutnya dengan gertakan gigi, karena kesaksian Stefanus itu seperti menelanjangi kemunafikan mereka.
Dengan amarah meluap mereka menyeret Stefanus dan melempari Stefanus dengan batu.
Stefanus, seorang diaken pertama dalam gereja yang mula-mula, akhirnya mati sebagai martir.
Dan kematian Stefanus sama sekali tidak membuat orang percaya menjadi takut. Injil terus tersebar.
Dan kisah perjuangan para rasul, para diaken, para penginjil itu terus berlangsung hingga masa kini.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan bagaimana pengalamanmu memberitakan Injil kepada keluargamu, atau kepada teman di sekolah, kampus atau di kantor.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Bagaimana kembalinya Yesus kepada Bapa menjadi berkat bagi umat manusia?
Apa saja peran Roh Kudus bagi umat manusia secara umum dan bagi umat percaya?
Ketika Allah menciptakan dunia, maka semua yang diciptakan adalah sangat baik.
Tetapi oleh karena dosa Adam maka semua keturunannya menjadi berdosa.
Dan Allah menjanjikan Penebus, yaitu Allah Anak yang akan turun ke bumi hingga disalibkan, mati, bangkit dan kembali kepada Allah Bapa.
Apa yang Yesus, Allah Anak lakukan selama di bumi itu adalah anugerah utama bagi orang berdosa, mereka yang percaya kepada karya keselamatan Yesus, dosa mereka diampuni dan mereka akan dipindahkan dari gelap kepada terang.
Selesai tugasnya di bumi, Yesus kembali kepada Bapa dan Allah Roh turun ke dunia untuk melanjutkan apa yang Yesus sudah genap lakukan.
Disini kita melihat kemuliaan Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh yang bersama-sama melakukan peran untuk mencipta, menyelamatkan dan menjadi penolong bagi umat manusia.
Kembali-Nya Yesus kepada Bapa membuka jalan bagi kedatangan Penghibur, yaitu Roh Kudus yang akan tinggal bukan hanya di antara mereka, tetapi di dalam mereka -Yohanes 14:17.
Kehadiran Roh Kudus adalah kehadiran Kristus sendiri yang menyertai setiap orang percaya, melampaui batas ruang dan waktu.
Yesus menegaskan bahwa tugas Roh Kudus adalah “menginsafkan dunia”.
Kata “menginsafkan” berarti membuat seseorang sadar, merasa bersalah, dan mengakui kebenaran.
Ini bukan sekadar menyalahkan, tetapi membawa pada kesadaran rohani yang menyelamatkan.
Dalam konteks pemberitaan Injil, seseorang tanpa disadari sering berusaha mengubah hati orang lain dengan argumentasi akal budi, membujuk secara emosional, atau melalui tindakan sosial.
Namun, hanya Roh Kudus yang mampu menembus hati manusia, mematahkan kesombongan, dan membukakan mata mereka akan kebenaran Injil.
Bagi umat percaya, selain akan mengingatkan kita jika kita mulai berpaling dari Allah.
Roh Kudus juga berperan sebagai Penghibur dalam kesesakan, Penolong dalam berbagai kesukaran dan tekanan kehidupan, sebagai Pemimpin yang memberikan arahan dalam kehidupan pribadi maupun pelayanan.
Roh Kudus juga yang memberikan kekuatan bagi kita untuk bersaksi.
Menolong kita untuk bertumbuh dalam Buah Roh Kudus dan memberikan karunia Roh sesuai dengan yang Roh kehendaki untuk dimanifestasikan.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan bagaimana pengalamanmu dibaptis oleh Roh dan menerima karunia Roh Kudus.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah tandanya kita mengasihi Yesus?
Apa yang Yesus minta kepada Bapa untuk diberikan kepada kita?
Apa yang dikerjakan oleh pribadi Roh Kudus dalam kita?
Barangkali Saudara pernah mengalami ditinggalkan oleh seseorang yang berdampak bagi hidup Saudara.
Apa yang paling Saudara rasakan selain rasa sedih?
Kemungkinan besar rasa khawatir.
Bagaimana saya bisa melanjutkan hidup tanpa beliau?
Dengan siapa saya akan berbagi dan belajar hal-hal yang tidak saya mengerti?
Yesus tahu bahwa murid-muridNya mungkin akan merasakan hal tersebut saat Ia meninggalkan mereka.
Itu sebabnya Ia menjanjikan seorang Penghibur dan Penolong, yaitu pribadi Roh Kudus.
Pribadi Roh Kudus yang tidak terbatas dan selalu menyertai murid-murid Yesus, juga menyertai kita hari ini.
Itu sebabnya kita bisa berjalan dengan penuh iman dan kepercayaan diri.
Selama kita mengandalkan Roh Kudus, kita akan dimampukan menghadapi tantangan apapun dalam hidup dan membuat pilihan-pilihan yang bijaksana yang sesuai kehendakNya.
Pertanyaannya adalah apakah kita betul mengandalkan Roh Kudus dan mendengarkan Dia dalam setiap keadaan?
Ataukah kita lebih mementingkan pertimbangan dan perasaan kita sendiri?
Murid-murid Yesus berjalan dengan penuh kuasa dan mengguncangkan dunia saat itu lewat kesaksian mereka karena mereka memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus.
Coba ambil waktu sejenak, dan renungkan. Adakah tantangan yang sangat berat sedang Saudara alami saat ini?
Sejauh mana Saudara bersandar dan mengandalkan Roh Kudus?
Tanyakanlah kepada dirimu sendiri, bagaimana agar bisa terus dipimpin Roh Kudus dan menyatakan kerajaanNya di setiap tantangan itu?
Renungkanlah satu hal dalam hidup Saudara yang memerlukan intervensi Roh Kudus. Jika saudara belum melibatkanNya, Berdoalah libatkan Dia dan cari firman yang berhubungan dengan hal tersebut, sehingga hidup Saudara selaras kehendakNya.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Siapakah yang dimaksud dengan surat pujian Paulus?
Dengan apa surat itu ditulis?
Apa dasar keyakinan Paulus untuk pelayanannya?
Saudara, ketika orang melihat hidupmu, apa yang mereka baca dari hidupmu?
Mungkin saat ini surat menyurat bukanlah hal yang umum dilakukan, kebanyakan kita lebih memilih langsung menggunakan HP untuk mengirimkan pesan atau telepon jika ingin membangun relasi.
Beberapa orang bahkan lebih menggunakan sosial media untuk saling update kabar dan informasi.
Meskipun begitu, kita perlu memahami arti surat di masa rasul Paulus.
Surat di masa itu bukan hanya alat untuk saling memberi kabar dan menjalin hubungan.
Surat di masa itu adalah KEHIDUPAN yang dialirkan, satu-satunya kenangan yang tersimpan untuk menjadi sebuah pegangan.
Pada masa itu tidak ada foto, video, TV. Tidak ada alat lainnya untuk bisa menyambungkan kehidupan selain dari bertemu secara langsung atau lewat surat.
Butuh waktu berbulan-bulan untuk sebuah surat bisa sampai dan setelah sampai, tidak ada jaminan akan ada surat berikutnya karena belum tentu pengirim suratnya bisa datang atau mengirimkan surat lain, mengingat jarak yang jauh dan sulit untuk ditempuh.
Sekarang kita mengerti, betapa berharganya sebuah surat di masa itu.
Dengan pengertian itulah, kita mencoba memahami Paulus yang berkata bahwa jemaat di Korintus adalah surat Kristus yang ditulis dengan Roh Allah yang hidup di dalam hatinya.
Paulus sedang menyatakan betapa berharganya murid-murid di Korintus, betapa karya Kristus nyata di dalam kehidupan para murid, sehingga semua orang bisa membacanya secara langsung seperti membaca sebuah surat yang terbuka.
Pesan Kristus disampaikan lewat kehidupan yang nyata, sehingga sekalipun Yesus sudah bangkit dan tidak ada lagi di antara mereka, tapi orang-orang bisa mengenalNya lewat murid-muridNya.
Saudara, apakah kehidupan kita saat ini sudah menjadi surat Kristus yang terbuka dan dapat dibaca semua orang?
Apakah orang-orang di sekitar kita bisa semakin mengenal Kristus lewat hidup kita?
Inilah panggilan murid yang sejati!
Diskusikanlah dengan komunitas Saudara bagaimana praktek nyata menjadi surat Kristus yang terbuka dan dapat memberkati orang-orang di sekitar kita?