Jumat, 20 Juni 2025

MURID YANG TAAT DAN TIDAK MEMBERONTAK

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YESAYA 50:4-7

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah yang dimaksud lidah seorang murid?
  2. Apakah yang dimaksud mempertajam telinga?
  3. Apakah respon orang taat terhadap orang yang berbuat jahat?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang”. (Yesaya 50:5).

Yesaya 5:4-7 adalah bagian dari “Nyanyian Kebun Anggur, sebuah alegori yang menggambarkan hubungan Allah dengan umat Israel.

Kebun anggur yang dipelihara dengan cermat (Israel) diharapkan menghasilkan buah keadilan dan kebenaran, tetapi yang tumbuh justru “buah liar” ketidaksetiaan.

Konteksnya adalah kemerosotan moral dan spiritual Kerajaan Yehuda, di mana ketamakan, ketidakadilan, dan penyembahan berhala merajalela.

Allah, sebagai pemilik kebun anggur, mengungkap kekecewaan-Nya: “Aku menanti keadilan, tetapi yang ada ialah penindasan; Aku menanti kebenaran, tetapi yang ada ialah keonaran.”

Situasi ini menjadi dasar teguran keras bagi umat yang mengaku sebagai “anak Tuhan,” tetapi hidup dalam pemberontakan. 

Dalam ayat 4, Allah bertanya retoris: “Apakah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku, yang belum Kuperbuat kepadanya?”

Ini menegaskan bahwa Allah telah memberikan segala yang dibutuhkan untuk kesetiaan umat-Nya: hukum Taurat, nabi, dan perlindungan.

Namun, Israel merespons dengan ketidaktaatan. Metafora “buah liar” melambangkan kehidupan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, seperti penindasan terhadap kaum lemah.

Konsekuensinya adalah penghakiman: kebun anggur akan dibiarkan tandus, simbol kehancuran yang akhirnya terjadi melalui pembuangan ke Babel. 

Ketika Yesaya menubuatkan hal ini, umat Tuhan hidup di bawah tekanan politik, ancaman musuh, dan godaan mengikuti nilai dunia.

Lalu, apa yang membuat seseorang tetap setia?

1) Pengingat akan Kasih Karunia Allah : Ketaatan bukan berasal dari kekuatan diri sendiri, tetapi dari kesadaran bahwa Tuhan telah memberikan segala yang baik. Seperti Paulus berkata, “Kasih Kristus yang menguasai kami”.

2)  Pengharapan akan Janji Tuhan: Meski penghakiman datang, nubuat Yesaya juga mengandung janji pemulihan (Yes. 11:1-10).

Keyakinan bahwa Tuhan tetap setia memampukan kita taat dalam kegelapan. 

Di dunia yang menawarkan jalan pintas melalui korupsi, keserakahan, atau kompromi iman, menjadi anak Tuhan yang taat menuntut: 

1) Berkorban untuk Kebenaran, seperti menolak menyontek di kampus/sekolah atau menolak suap di pekerjaan. 

2) Bersuara bagi yang Tertindas, meski berisiko dikucilkan. 

3) Mengandalkan Roh Kudus, yang memberi kekuatan saat iman diuji.

Ketaatan sejati lahir dari pengenalan akan karakter Allah: “Tuhan itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat” (Mzm. 25:8).

Tekanan hidup bukanlah halangan, melainkan kesempatan untuk membuktikan bahwa kasih-Nya “lebih kuat daripada maut” (Kid. 8:6).

Anak Tuhan yang taat adalah mereka yang, seperti Daniel di Babel, memilih untuk “berdoa tiga kali sehari” sekalipun nyawa taruhannya—karena percaya bahwa ketaatan adalah jalan menuju kemerdekaan sejati.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana tetap bisa taat dalam tekanan yang besar.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 36-39

Kamis, 19 Juni 2025

MURID YANG SALING MENGASIHI

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 15:9-17

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Kasih seperti apa yang harus dipraktikkan murid-murid?
  2. Kasih seperti Yesus, seperti apakah itu ?
  3. Apakah saudara sudah mengasihi seperti Yesus mengasihi?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yohanes 15:12).

Yohanes 15:9-17 adalah kelanjutan dari Khotbah Perpisahan Yesus, diucapkan sesaat sebelum penangkapan dan penyaliban-Nya.

Setelah menegaskan pentingnya “tinggal dalam Dia”, Yesus kini menekankan kasih sebagai buah utama dari hubungan tersebut.

Konteksnya adalah persiapan murid-murid menghadapi dunia yang akan membenci mereka.

Yesus ingin memastikan bahwa identitas dan misi mereka berakar pada kasih-Nya yang radikal.

Dalam budaya Yahudi, kasih sering dikaitkan dengan ketaatan pada hukum Taurat, tetapi Yesus mentransformasi maknanya: kasih bukan sekadar kewajiban, melainkan pola hidup yang meneladani pengorbanan-Nya. 

Yesus berkata, “Kasihilah seorang akan yang lain, seperti Aku telah mengasihi kamu”.

Kata “seperti” (Yunani. kathōs) menetapkan standar kasih yang tak terbantahkan: kasih yang rela berkorban sampai mati.

Ini bukan sekadar perasaan, tetapi tindakan nyata untuk kebaikan orang lain.

Yesus juga mengaitkan kasih dengan ketaatan dan persahabatan.

Sebagai “sahabat,” murid-murid diajak masuk ke dalam rencana Allah dan dipanggil untuk menghasilkan buah yang tetap, yaitu hidup yang berdampak kekal melalui kasih yang aktif. 

Mengasihi seperti Yesus berarti: 

1) hubungan: Kasih-Nya bersifat personal dan inisiatif (“Aku yang memilih kamu”).

2) Tanpa syarat: Yesus mengasihi murid-murid sebelum mereka layak.

3)  Berkorban: Kasih-Nya mencapai puncaknya di kayu salib (“memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya”).

4)  Mengubah: Kasih ini memerdekakan dari egoisme dan membentuk murid menjadi saluran berkat bagi dunia. 

Ini adalah kasih agape—bukan tentang perasaan, tetapi komitmen untuk memberi diri sepenuhnya, bahkan kepada yang tidak “mengundang” kasih itu. 

Di dunia yang mengagungkan kasih yang instan, romantisme, atau transaksional, Yesus memanggil kita untuk: 

1) Mengasihi musuh,  dengan doa dan tindakan.

2) Mengutamakan orang tersingkir melalui pelayanan praktis (memberi makan orang di jalanan, pelayanan anak Raja.

3) Bersedia kehilangan kenyamanan demi menyatakan kasih, seperti meninggalkan gengsi untuk meminta maaf atau membagikan harta kepada yang membutuhkan.

Tantangan terbesar adalah melepaskan hak untuk dibalas, dihargai, atau dimengerti.

Kuasa untuk mengasihi seperti Dia datang dari keintiman dengan-Nya.

Murid sejati bukanlah yang sempurna, tetapi yang setiap hari belajar berkata, “Tuhan, ajarlah aku mengasihi dengan cara-Mu, bukan caraku.”

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana mengasihi orang yang telah mengecewakan kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 32-35

Rabu, 18 Juni 2025

MURID YANG TINGGAL DALAM KRISTUS

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 15:1-7

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah yang terjadi dengan ranting yang tidak menempel pada pokok anggur?
  2. Apakah keuntungan atau manfaat tinggal dalam Kristus?
  3. Apakah buah yang dihasilkan saat tinggal dalam Kristus?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”. (Yohanes 15:7).

Perikop Yohanes 15:1-7 merupakan bagian dari Khotbah Perpisahan Yesus sebelum penyaliban, yang disampaikan di ruang atas setelah Perjamuan Terakhir.

Konteksnya adalah persiapan murid-murid menghadapi tantangan iman pasca-kepergian-Nya.

Yesus menggunakan metafora “pokok anggur dan ranting, sebuah gambaran yang akrab bagi masyarakat Yahudi yang sering mengaitkan Israel dengan “kebun anggur” Allah.

Namun, Yesus menegaskan diri-Nya sebagai “pokok anggur yang benar”, menandai pergeseran fokus dari identitas kebangsaan kepada hubungan pribadi dengan Dia.

Ini adalah seruan agar murid-murid tidak mengandalkan status agama, tetapi hidup dalam ketergantungan penuh pada-Nya. 

Yesus menyatakan: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu”  Kata “tinggal” berarti berdiam, berakar, dan terhubung secara terus-menerus.

Seperti ranting yang tak bisa berbuah tanpa menyatu dengan pokok anggur, murid sejati mustahil menghasilkan buah roh (Gal. 5:22-23) tanpa bersandar pada Kristus.

Ayat 2 menyebut “pembersihan” (pemangkasan) oleh Bapa, yang mengisyaratkan proses pendisiplinan untuk pertumbuhan iman.

Ancaman “dibuang ke api” bukan tentang kehilangan keselamatan, tetapi konsekuensi dari kemandulan rohani akibat menolak hubungan  dengan Kristus. 

“Tinggal dalam Kristus” adalah hubungan hidup yang dinamis, bukan sekadar rutinitas ibadah.

Ini mencakup: 

1) Ketergantungan total pada kuasa-Nya, bukan kekuatan diri.

2) Ketaatan pada Firman, yang menjadi alat pembersih hati dan penuntun hidup.

3) Komunikasi dua arah: doa yang selaras dengan kehendak-Nya. 

Konsep ini menegaskan bahwa iman Kristen bukan tentang ritual, tetapi keintiman yang mengubah hidup.

Tinggal dalam Kristus adalah sumber identitas, kekuatan, dan tujuan hidup murid sejati. 

Di era yang menjunjung kemandirian dan budaya instan, Yohanes 15:1-7 mengingatkan:

1) Prioritas hubungan pribadi dengan Kristus di atas kesibukan pelayanan.

2) Kesediaan “dipangkas” melalui situasi sulit (kritikan, kegagalan, penantian) yang Tuhan izinkan untuk menyempurnakan karakter.

3) Firman Tuhan sebagai makanan sehari-hari, bukan sekadar bacaan cepat di handphone.  

4) Fokus pada buah, bukan pencapaian duniawi, karena buah roh adalah bukti kehidupan yang terhubung dengan Kristus. 

Tinggal dalam Dia berarti menyerahkan kontrol hidup, percaya bahwa di tengah proses yang tak selalu nyaman, kita “diubahkan dari kemuliaan kepada kemuliaan.

Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana hubungan yang intim dengan Tuhan mengubah hidup orang percaya.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 26-31

Selasa, 17 Juni 2025

MURID YANG TETAP MEMEGANG FIRMAN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 8:31-36

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah ciri murid Kristus sejati?
  2. Apakah maksud Firman Tuhan memerdekakan?
  3. Apakah saudara punya waktu khusus belajar Alkitab?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku”. (Yohanes 8:31).

Perikop Yohanes 8:31-36 terjadi dalam konteks dialog Yesus dengan orang-orang Yahudi di Bait Allah, sekitar waktu Perayaan Pondok.

Yesus sedang mengajar mereka yang “percaya kepada-Nya”, tetapi iman mereka masih bersifat dangkal.

Mereka mengklaim sebagai keturunan Abraham dan merdeka secara rohani, padahal secara historis, bangsa Israel pernah diperbudak secara fisik.

Yesus menggunakan ironi ini untuk menyingkapkan perbudakan yang lebih dalam: dosa.

Konteks ini menunjukkan bahwa menjadi murid sejati bukan sekadar percaya  secara pikiran  atau warisan agama, tetapi komitmen untuk hidup dalam kebenaran Firman-Nya. 

Yesus menyatakan syarat menjadi murid-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku”.

Kata “tetap” berarti tinggal, berakar, dan berkomitmen terus-menerus.

Janji-Nya adalah kebenaran yang memerdekakan, tetapi orang-orang Yahudi tersinggung karena mengira kemerdekaan yang dimaksud bersifat politis.

Yesus lalu menegaskan bahwa dosa adalah perbudakan sejati, dan hanya Anak Allah yang dapat memberikan kemerdekaan kekal.

Dengan kata lain, Firman Tuhan bukan hanya untuk didengar, tetapi dihidupi—sebagai satu-satunya jalan keluar dari belenggu dosa. 

Ayat-ayat di atas menekankan bahwa menjadi murid sejati adalah proses penyatuan hidup dengan kebenaran Kristus.

“Tetap dalam firman” bukan sekadar membaca Alkitab, melainkan membiarkan Firman itu mengubah pola pikir, nilai, dan tindakan.

Kebenaran yang dimaksud adalah Kristus sendiri (Yoh. 14:6), yang membebaskan manusia dari anggapan dia sudah merdeka dari dosa.

Di sini, Yesus membedakan antara “orang percaya” yang hanya mengaku dengan murid sejati (yang hidup dalam ketaatan).

Kemerdekaan sejati adalah kebebasan dari kuasa dosa untuk hidup sebagai hamba kebenaran.

Di era dimana kebenaran sering dianggap relatif dan iman kecilkan menjadi ritual.

Yohanes 8:31-36 mengajak kita bertanya: Apakah Firman Tuhan sungguh menjadi fondasi hidup kita? Memegang teguh Firman berarti: 

1) Mengutamakan waktu bersama Tuhan,  melalui pembacaan Alkitab yang konsisten, bukan sekadar untuk pengetahuan, tetapi untuk transformasi.

2) Berani berbeda, dengan nilai duniawi, seperti menolak kompromi moral, memaafkan yang tidak layak, atau mengasihi yang sulit dikasihi. 

3) Mengakui ketergantungan mutlak pada Kristus, karena tanpa Dia, kita mudah kembali menjadi budak dosa. 

Kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan melakukan apa saja, tetapi kuasa untuk hidup sesuai kehendak Allah.

Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya lepas dari kebiasaan buruk.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 21-25

Senin, 16 Juni 2025

MURID RELA MELEPASKAN DIRINYA DARI SEGALA MILIKNYA

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

LUKAS 14:25-33

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah yang dimaksud membenci bapanya, ibunya, istrinya?
  2. Apakah yang dimaksud memikul salib ?
  3. Mengapa harus melepas segala milik demi mengikut Yesus?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“….Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku..” (Lukas 14:33).

Perikop ini terjadi ketika Yesus dalam perjalanan ke Yerusalem, dikelilingi orang banyak yang penuh semangat namun mungkin belum memahami konsekuensi mengikut Dia.

Yesus mengejutkan mereka dengan syarat radikal: “Barangsiapa tidak membenci…” bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”.

Kata “membenci” adalah hiperbola yang menekankan bahwa mengikut Kristus harus menjadi prioritas tertinggi, melampaui segala ikatan manusiawi, termasuk harta, status, atau keamanan diri.

Konteks budaya Yahudi saat itu menganggap keluarga dan harta sebagai identitas utama, sehingga perkataan Yesus ini mengguncang nilai-nilai duniawi yang dipegang teguh. 

Yesus menggambarkan komitmen sebagai murid melalui dua analogi: seorang pembangun menara yang menghitung biaya dan raja yang menilai kekuatan sebelum berperang.

Keduanya menegaskan bahwa mengikut Dia bukanlah keputusan sembrono, melainkan kesadaran untuk melepaskan segala milik—baik harta, ambisi, hubungan, maupun kendali atas hidup sendiri.

“Milik” di sini tidak terbatas pada materi, tetapi mencakup segala hal yang kita anggap sebagai “hak” atau “identitas” yang bisa bersaing dengan loyalitas kepada Kristus. 

Esensi murid sejati adalah kesediaan untuk kehilangan demi memperoleh yang kekal -Filipi 3:7-8.

Yesus tidak memaksa, tetapi menawarkan pilihan jujur: ikut Dia dengan seluruh konsekuensinya, atau tetap terikat pada apa yang fana.

Hubungan dengan Tuhan harus menjadi pusat, sehingga segala sesuatu lain—bahkan yang baik seperti keluarga atau pekerjaan—ditempatkan dalam perspektif iman. Ini adalah undangan untuk hidup dalam kebebasan sejati, di mana kita tidak lagi diperhamba oleh apa pun selain Kristus.

Di dunia yang mendewakan kepemilikan materi, pencapaian karier, dan pengakuan sosial, menjadi murid Kristus menuntut keberanian untuk melepaskan.

Melepaskan mungkin berarti:  hidup sederhana dan murah hati bagi sesama, mempercayai rencana Tuhan di tengah ketidakpastian, mengakui bahwa hidup ini bukan tentang diri sendiri.

Namun, di balik pelepasan ini, janji Yesus nyata: “Tidak ada seorang pun yang telah meninggalkan rumah… karena Kerajaan Allah, yang tidak akan menerima kembali berlipat ganda pada masa ini, dan pada zaman yang akan datang hidup yang kekal”(Lukas 18:29-30).

Murid sejati adalah mereka yang, seperti Abraham, berani pergi tanpa tahu tujuannya—karena percaya bahwa yang dijanjikan Tuhan lebih berharga daripada segala yang ditinggalkan.

Diskusikan dalam kelompok PA, pengalaman melepaskan hal dan jaminan Tuhan menggantikan apa yang kita lepaskan demi Dia.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 17-20

Minggu, 15 Juni 2025

MURID SEJATI MEMIKUL SALIB DAN MENGIKUT YESUS

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 16:24-26

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Siapa yang harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya?
  2. Siapa yang akan kehilangan nyawanya, mengapa?
  3. Siapa yang akan beroleh  nyawanya kembali?
  4. Apa yang dapat digantikan dengan nyawa kita?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, ketika Yesus Kristus di bumi ini dahulu, Dia melayani dengan memberitakan Injil Kerajaan Allah.

Yesus sering sekali menyerukan supaya semua orang bertobat dan percaya kepada Mesias.

Dia mendapat perlawanan dari orang-orang Farisi, imam-imam Yahudi, orang-orang Saduki (pemerintahan), dan banyak lagi organisasi masyarakat yang pada waktu itu tidak senang kepada Yesus Kristus dan murid-muridNya.

Hal itu terjadi karena Yesus Kristus sering sekali menganjurkan pertobatan dan membongkar masalah kemunafikan dari para ulama, imam-imam serta kaum Farisi dan Saduki.

Yesus membicarakan berbagai dosa di masyarakat Yahudi, Israel, masyarakat yang agamis.

Oleh karena itu, Yesus dan pengikut-Nya sering diejek dan dikucilkan dari masyarakat, sehingga hal-hal seperti aniaya, ejekan dan pengucilan bagi pengikut Yesus menjadi salib bagi para murid Yesus.

Apakah mereka juga memperoleh kesulitan di masyarakat?

Besar kemungkinan mereka mengalami kesulitan di tengah-tengah masyarakat sehingga mereka mendapat salib akibat menjadi pengikut Yesus Kristus.

Sebagai pengikut Yesus, mereka tidak lagi bisa berdagang dengan curang, terutama dalam masalah timbangan.

Artinya, dalam hal kejujuran, mereka harus nyata sebagai murid Yesus yang baik hati, pemurah, jujur, adil, setia, dan lain-lain.

Mereka hidup dengan standar yang Yesus selalu ajarkan.

Apakah pengikut Yesus boleh bekerja sebagai pekerja-pekerja yang ada di masyarakat?

Kalau kita lihat pada masa itu, ada pekerjaan yang dianggap sebagai perbuatan dosa, misalnya pemungut cukai.

Hal itu sama dengan orang yang bekerja di departemen keuangan, bagian perpajakan, atau bea cukai pada masa kini.

Apakah itu pekerjaan yang halal?

Saudara, segala pekerjaan halal, namun bagaimana orangnya melaksanakan pekerjaan itu, apakah dengan amanah atau sesuka hati sendiri.

Saudara, sehingga pada waktu ini kita tetap bisa bekerja dan menjadi murid Yesus, namun memang sudah pasti sebagai murid Yesus kita harus menyangkal diri sendiri, memikul salib, dan tetap mengikut Yesus.

Menyangkal diri kita bukan berarti mengikuti kemauan sendiri, tetapi mengikuti aturan yang dibuat untuk pekerjaan itu.

Memikul salib ketika kita bekerja berarti tidak memanfaatkan celah-celah yang ada karena aturan yang longgar untuk keuntungan pribadi.

Sebaliknya, kita harus menggunakan kelonggaran itu untuk kemaslahatan bersama, sehingga teman-teman kita bisa melihat bahwa kita bukan orang-orang yang egois dan mementingkan diri sendiri.

Mengikut Yesus setiap hari artinya kita selalu konsekuen menjadi pengikut Yesus atau hidup sebagai murid Yesus yang senantiasa mentaati firman Tuhan.

Pada waktu ini, dunia ini digelapkan oleh berbagai dosa sehingga Yesaya pernah bernubuat:

Yesaya 60:1-2 “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.”

Dosalah yang menyebabkan dunia ini mengalami kegelapan, bahkan rasul Yohanes menuliskan dalam suratnya:

1 Yohanes 2:15-17 “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”

Dan Yesus juga pernah mengatakan:

Matius 6:24 “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Matius 6:33 “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Saudara, oleh karena itu, maka sangat perlu kita hidup sebagai murid Yesus saat ini.

Ketika kita berjalan dalam kebenaran Allah, maka hidup kita menjadi terang di antara orang-orang di sekitar kita ketika dunia ini sudah rusak.

Marilah kita melakukan dan mengerjakan kebenaran supaya dunia tahu bahwa kita adalah murid-murid Yesus yang hidup dalam perbedaan yang sangat berbeda dan mencolok.

Dengan itu, dunia akan melihat terang Allah dan kemuliaan Allah melalui pengikut-pengikut Yesus yaitu orang Kristen yang dikenal oleh masyarakat di sekitar kita.

Haleluya, puji Tuhan, Amin.

Ada banyak orang percaya, tapi ikut terlibat dalam dosa dunia. Apa sebabnya hal itu bisa terjadi?

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 9-16