Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya dan secara khusus hafalkanlah Matius 7:21.
Selain berseru agar kita masuk Kerajaan Sorga, hal apakah yang Tuhan inginkan agar kita benar-benar masuk Kerajaan Sorga?
Orang-orang yang melakukan kehendak Allah akan dikenal oleh siapa?
Coba sebutkan kehendak Allah yang harus saudara lakukan?
Menjadi murid yang sejati maka kita tidak hanya melihat Kerajaan Allah tetapi juga masuk ke dalam Kerajaan Allah dan pada akhirnya dimiliki dan memiliki Kerajaan Allah.
Kelahiran kembali membuat kita dapat melihat dan masuk Kerajaan Allah.
“Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”(Yohanes 3:3).
“Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”(Yohanes 3:5).
Namun Tuhan ingin agar kita masuk Kerajaan Allah dan orang-orang yang masuk Kerajaan Allah ini adalah bukannya orang-orang yang sekedar berseru-seru kepada Tuhan, artinya orang-orang yang tidak serius dengan Tuhan tetapi orang-orang yang hidupnya mau melakukan kehendak-Nya dan pada akhirnya mereka adalah orang-orang yang dikenal oleh Tuhan.
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”(Matius 7:21).
“Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya.”(Yohanes 9:31).
Dan orang-orang yang melakukan kehendak Allah adalah orang-orang yang berkenan di hati Tuhan dan orang-orang yang berkenan di hati Tuhan adalah orang-orang yang dipercayakan akan Kerajaan-Nya dan memiliki Kerajaan Allah.
”Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.”(Kisah Para Rasul 13:22).
Seperti halnya yang dilakukan oleh Yesus dengan berkata bahwa Dia mau melakukan kehendak Bapa-Nya maka Bapa mempercayakan Kerajaan-Nya kepada Yesus dan Yesus memiliki Kerajaan Allah.
”Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”(Yohanes 4:34).
Oleh sebab itu marilah kita hidup tidak hanya berseru-seru dalam doa kita kepada Bapa, tetapi juga memiliki komitmen untuk melakukan seluruh kehendak Allah dalam hidup kita sehingga kita berkenan di hati Bapa dan dikenal oleh Allah, dengan demikian kita menjadi murid Kristus yang sejati, memiliki hidup seperti Yesus dan gaya hidup Yesus.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana komitmen saudara dalam hal melakukan kehendak Bapa dan bukan hanya dalam perkataan tapi juga perbuatan!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya dan secara khusus hafalkanlah Matius 5:20.
Apakah akibatnya bagi kita apabila hidup keagamaan kita tidak lebih benar dari hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi?
Mengapa Tuhan Yesus menolak dan menegur hidup keagamaan dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi?
Coba ceritakan standar kebenaran dari Tuhan tentang hal kasih kita kepada orang lain?
Tuhan sedang membangun gereja-Nya yang memiliki gaya hidup sorgawi yang berbeda dengan dunia ini, yaitu gaya hidup sesuai kebenaran.
“Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.”(Maleakhi 3:18).
”Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”(Matius 5:16).
Oleh karena itu Tuhan ingin agar kita memahami bagaimana pada akhirnya kita dapat memiliki gaya hidup sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan karena Yesus berkata ketika kita mengetahui kebenaran maka kebenaran itu akan memerdekakan kita.
”Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”(Yohanes 8:31-32).
Hal-hal yang harus kita pahami adalah:
Ketika kita lahir baru dan terus belajar untuk mengenal Kristus maka kita tidak lagi memiliki benih dosa yang membuat kita tidak dapat hidup seperti Yesus. Kita harus hidup dalam kebenaran sehingga senantiasa diperbaharui dalam pikiran, perasaan dan perbuatan kita. ”Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”(Efesus 4:22-24). Jadi kita perlu senantiasa bersekutu dengan Firman Tuhan yang membuat kita dimerdekakan oleh Firman Tuhan yang membuat kita mengalami keserupaan dengan Kristus.
Kita perlu bergaul dengan Roh Kudus yang dapat memimpin kita dalam kebenaran dan membuat kita mengalami gaya hidup dalam kebenaran. ”Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”(II Korintus 3:17-18).
Pekerjaan Firman Tuhan dan kuasa Roh Kudus yang senantiasa bekerja dalam hidup kita membuat gaya hidup sorga yaitu gaya hidup dalam kebenaran akan terus mengalir dari setiap aspek kehidupan kita baik perkataan maupun perbuatan kita.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana gaya hidup yang sesuai dengan kebenaran semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya dan secara khusus hafalkanlah Roma 10:1.
Hal-hal apakah yang dilakukan oleh orang-orang di dunia ini yang menyebabkan mereka tidak mengalami perjumpaan dengan pencipta mereka?
Terhadap siapakah sebenarnya mereka tidak takluk atau tunduk?
Apakah yang menjadi keinginan hati dan doa rasul Paulus kepada Tuhan untuk orang-orang yang tidak mengenal Allah?
Banyak orang di dunia ini yang sedang membangun sebuah pemahaman tentang Tuhan dengan pengertian mereka sendiri yang pada akhirnya mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah termasuk tidak takluk kepada Allah.
“Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.”(Roma 10:3).
Akibat dari pemahaman yang salah itu menyebabkan mereka tidak bertemu dengan Allah, yang pada akhirnya mereka hidup di dalam dosa dan dijerat oleh dosa.
“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan. Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.”(Roma 1:28-32).
Namun Allah telah mengaruniakan jalan melalui Anak-Nya yaitu Yesus Kristus agar mereka tidak binasa.
Oleh sebab itu Tuhan membangkitkan kita agar memiliki belas kasihan Tuhan agar Kabar Baik berita keselamatan sampai kepada seluruh manusia di dunia ini.
Hal-hal yang harus kita miliki agar keselamatan dapat sampai kepada mereka, yaitu:
Kita harus memiliki keinginan hati agar mereka diselamatkan disertai dengan belas kasihan dari Tuhan dengan cara melihat dunia ini dengan kacamata Tuhan. “Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.”(Yohanes 4:34-35).“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.”(Matius 9:36).
Kita harus berdoa bagi orang banyak agar diselamatkan. “Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan.” (Roma 10:1).
Karena itu marilah kita memiliki komitmen dan disiplin bertekun dalam doa serta antusias agar jiwa-jiwa yang terhilang dapat diselamatkan dan berjumpa dengan Yesus Kristus, sang Juruselamat.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana komitmen dan ketekunan saudara dalam berdoa untuk keselamatan dunia ini dan bangsa Indonesia!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya dan secara khusus hafalkanlah Matius 9:38.
Hal-hal apakah yang dilakukan oleh Yesus ketika Ia pergi ke kota-kota dan desa-desa?
Siapakah yang dibutuhkan oleh Yesus agar dapat melakukan dan mengerjakan hal-hal yang Yesus telah perbuat?
Apakah perintah dari Yesus untuk kita lakukan agar Bapa mengirimkan pekerja-pekerja yang dapat menuai tuaian di akhir zaman?
Selama Yesus berada di dunia ini, Dia telah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Bapa dengan cara memberitakan Injil Kerajaan Allah dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan, serta mengajar orang-orang di rumah ibadah dengan berkeliling kota dan desa.
Tuhan juga memerintahkan agar kita juga mengerjakan pekerjaan yang telah dikerjakan oleh Yesus seperti Yesus telah mengerjakan pekerjaan Bapa.
“Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”(Yohanes 5:19).
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa.”(Yohanes 14:12).
Bapa membutuhkan kita untuk mengerjakan pekerjaan Bapa karena Yesus telah duduk di sebelah kanan Bapa maka kita harus melanjutkan pekerjaan yang pernah dilakukan oleh Yesus dengan cara memberitakan Injil Kerajaan Allah, melenyapkan segala penyakit dan semua kelemahan serta mengusir setan.
Itulah sebabnya Allah mengutus kita untuk melakukannya.
Hal-hal praktis yang harus kita lakukan untuk menjawab kebutuhan itu adalah:
Kita harus berdoa agar ada orang-orang yang mau diutus untuk melakukan pekerjaan misi, karena Yesus telah berkata bahwa ketika kita dijanjikan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari yang pernah dilakukan oleh Yesus, maka apapun yang kita minta maka Yesus akan melakukannya. Dalam hal ini meminta agar ada utusan-utusan misi. “Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”(Yohanes 14:13-14).“Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”(Matius 9:38).
Kita harus berdoa untuk pekerja-pekerja misi agar Tuhan membuat segala hal yang mereka lakukan berhasil. “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil.”(Efesus 6:18-19).
Marilah kita berkobar-kobar untuk berdoa bagi pelayan misi agar Injil Kerajaan Allah beroleh kemajuan di muka bumi khususnya di Indonesia.
Diskusikanlah dalam komunitas saudara bagaimana komitmen dan ketekunan saudara dalam berdoa bagi pekerja-pekerja misi di gereja ini!
Larangan mengajar “dalam nama Yesus” (Kis 4:18) kini diperkuat dengan tindakan represif.
Para rasul dibawa “dengan kekerasan”, menunjukkan eskalasi kekerasan otoritas.
Imam Besar menuduh: “Kami telah melarang kamu mengajar dalam Nama itu”.
Ini menegaskan otoritas manusia. “Namun kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu), Menuduh para rasul menghasut.
“Kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami!”: Proyeksi rasa bersalah karena mereka terlibat dalam kematian Yesus.
Tuduhan ini justru mengungkap ketakutan para penguasa akan pengaruh Injil yang tak terbendung.
Respon Petrus dan rasul lain menjadi puncak teologis: “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.”
“Kita harus”, berarti ketaatan mutlak yang bersifat imperatif.
“Lebih taat kepada Allah”: Menegaskan hierarki otoritas tertinggi.
Pernyataan ini bukan pemberontakan politik, tetapi kesetiaan pada mandat ilahi (Kis 1:8).
Mereka memilih menanggung risiko (penjara, siksaan, kematian) demi menaati panggilan memberitakan kebenaran.
Ini adalah fondasi etika Kristen ketika otoritas manusia bertentangan dengan perintah Allah.
Saat aturan manusia melarang beribadah, membatasi Alkitab, atau memaksa menyangkal iman (seperti di tempat kerja/di kantor), prioritaskan ketaatan pada Allah (Contoh: Daniel 6:11).
Lakukanlah :
1) Bersaksi dengan Bijak: Taat bukan berarti konfrontatif. Petrus menghormati proses hukum, tetapi tak mengkompromikan kebenaran.
2) Gunakan hikmat: sampaikan kebenaran dengan sopan dan berani.
3) Hidup sebagai pengubah budaya, seperti rasul yang “memenuhi Yerusalem dengan ajaran”, hadirkan nilai Kerajaan Allah yang mengubahkan di lingkunganmu (mis: menolak korupsi berjamaah).
4) Pegang Janji Penyertaan: Allah tidak menjamin kita bebas dari aniaya, tetapi memberi kekuatan dan hikmat (Mat. 10:19) saat kita memilih taat kepada-Nya.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya bersaksi dengan bijak dan tidak konfrontatif?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apakah tanggapan Petrus saat dilarang untuk memberitakan Injil?
Mengapa Petrus sangat berani menentang para pemimpin Yahudi?
Apakah saudara pernah mengalami pilihan seperti Petrus ? Apa respon saudara saat itu?
“Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” (Kisah Para Rasul 4:20).
Peristiwa ini terjadi setelah penyembuhan orang lumpuh di Bait Allah dan khotbah Petrus yang berani tentang kebangkitan Yesus (Kis 4:1-12).
Penguasa Yahudi (Sanhedrin) — terdiri dari imam besar, kaum Saduki (yang menolak kebangkitan), dan para tua-tua — menangkap Petrus dan Yohanes.
Mereka terganggu karena ajaran para rasul mengancam otoritas keagamaan dan stabilitas politik di bawah penjajahan Romawi.
Ancaman mereka bukan sekadar gertakan, Sanhedrin memiliki wewenang menjatuhkan hukuman penjara, denda, bahkan hukuman mati.
Sanhedrin melarang keras: “Mereka memanggil kedua rasul itu, lalu melarang mereka sama sekali berbicara atau mengajar dalam nama Yesus”.
Larangan ini bersifat mutlak.
Namun, respons Petrus tegas: “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah? Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar” (ay. 19-20).
Kata “tidak mungkin” menunjukkan keterpaksaan ilahi, Kuasa Roh Kudus dan keyakinan akan kebenaran membuat mereka tidak mampu diam.
Ini bukan sekadar keberanian manusiawi, melainkan ketaatan radikal kepada panggilan ilahi.
Meskipun Sanhedrin mengancam lebih lanjut, mereka terpaksa melepas Petrus-Yohanes karena dua alasan:
1) Dukungan Rakyat: “Sebab semua orang memuliakan Allah karena apa yang telah terjadi”. Mukjizat penyembuhan orang lumpuh telah menjadi bukti nyata yang disaksikan publik.
2) Ketakutan Politik, menghukum orang yang dianggap “pahlawan” oleh rakyat berisiko memicu kerusuhan.
Pembebasan ini bukan kemenangan politis, tetapi bukti kedaulatan Allah atas kuasa manusia.
Ancaman tetap ada, tetapi otoritas Allah lebih tinggi dari ancaman manusia.
Terdapat perbedaan antara “Taat kepada Allah” dan “Pembangkangan”:
1) Ketaatan seperti Petrus dilakukan dengan sopan (ay. 19: “Silakan kamu putuskan”) namun teguh prinsip.
2) Bukan untuk pelanggaran hukum umum, tetapi ketika otoritas manusia melarang menyatakan kebenaran Allah.
Saudara, berdasarkan pengalaman Petrus dan Yohanes menghadapi tantangan pemberitaan injil, marilah
1) Bersandar pada Bukti Iman: Keteguhan mereka lahir dari pengalaman pribadi (“apa yang kami lihat dan dengar”). Mereka memiliki pengalaman otentik dengan Tuhan.
2) Hadapi Ancaman dengan Bijak, di tempat kerja: Saat dilarang berdoa/saksi, taati aturan umum tanpa menyangkal iman (contoh: tetap hidup jujur sebagai kesaksian).
3) Dalam keluarga/komunitas: Jika diancam karena iman, jangan konfrontatif; biarlah mereka melihat bukti perubahan hidupmu.
4) Percaya pada Intervensi Ilahi, Allah sanggup membuka jalan di tengah ancaman.
Fokus pada tanggung jawabmu taat, serahkan hasil pada-Nya.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya bertahan dalam tekanan dan ancaman.