Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa yang terjadi bila kita hidup menurut daging?
Siapa yang disebut sebagai anak Allah?
Siapakah yang disebut sebagai ahli waris?
Apakah maksudnya ahli waris?
Dalam budaya Yahudi, hukum Taurat menetapkan bahwa anak sulung mendapat bagian ganda dari warisan (Ulangan 21:17).
Warisan bukan hanya sekadar harta, tetapi juga hak untuk meneruskan nama keluarga, tanah pusaka, dan janji perjanjian Allah.
Jadi, menjadi ahli waris berarti memiliki identitas, kedudukan, dan tanggung jawab.
Dalam budaya Romawi, adopsi (huiothesia dalam bahasa Yunani, yang dipakai Paulus di Roma 8) sangat dikenal.
Seorang anak angkat mendapat hak penuh sebagai anak sah, sama seperti anak kandung.
Bahkan, adopsi sering dilakukan oleh keluarga bangsawan atau kaisar untuk memastikan ada penerus.
Artinya, status seorang ahli waris tidak bisa dibatalkan dan dilindungi hukum.
Ketika Paulus menulis bahwa kita adalah “ahli waris Allah” (Roma 8:17), ia memadukan kedua latar belakang budaya ini: kita diangkat sebagai anak sah oleh Allah melalui Kristus, bukan sekadar tamu atau pengikut.
Status ini tidak dapat digugurkan dan memberi kita hak penuh atas janji Allah.
Warisan yang dimaksud Paulus bukan berupa tanah, kekayaan, atau kedudukan duniawi, melainkan sesuatu yang jauh lebih besar: Hidup kekal (Yohanes 3:16; Roma 6:23). Roh Kudus yang tinggal dalam kita sebagai jaminan (Efesus 1:13-14).
Kemuliaan bersama Kristus—artinya kita akan mengambil bagian dalam kebangkitan dan kemuliaan-Nya (Roma 8:17, 2 Timotius 2:11-12).
Janji Allah dalam Perjanjian Lama yang digenapi dalam Kristus (Galatia 3:29).
Sebagai anak-anak Allah, kita dipanggil untuk hidup sesuai dengan identitas baru ini.
Menjadi “ahli waris” berarti kita memiliki suatu pola pikir yang berbeda, tidak lagi dikuasai oleh pola pikir dunia yang rusak.
Sebaliknya, kita mewarisi dan memiliki pola pikir yang diperlukan untuk mengalami kemuliaan Kristus dalam seluruh aspek kehidupan kita karena posisi sebagai anakNya.
Kemuliaan ini melebihi dari apa yang dunia dapat berikan, namun hal ini dapat kita alami ketika kita terus dibaharui.
Roh Kudus menolong dan memampukan kita untuk tidak hanya menerima apa yang dijanjikanNya tetapi juga mengerti bagaimana menggunakan seluruh berkat yang Tuhan berikan untuk menggenapi panggilan ilahi atas hidup kita.
Saudara, sebagai anak kita mewarisi juga karakter dan kemuliaanNya, selayaknya kita hidup sesuai dengan standar ilahi yang sempurna.
Sebagai ahli waris kita juga membawa nama baikNya.
Bertumbuhlah dalam pengenalan yang lebih dalam lagi akan Bapa dan kebenaranNya, sehingga hidup kita selalu akan lebih baik dari hari ke hari.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa arti “mendengarkan suara TUHAN“ bagi umat Tuhan di jaman sekarang?
Apa arti simbolis dari “kota” dan “ladang” dalam konteks kehidupan pada masa kini?
Dalam masa kini, apa saja bentuk “buah kandungan“, “hasil bumi“, dan “hasil ternak“?
Ulangan 28 adalah salah satu pasal yang paling kuat dalam Perjanjian Lama yang berisi berkat dan kutuk.
Ayat 1–5 menggambarkan berkat-berkat luar biasa yang dijanjikan Tuhan kepada umat-Nya jika mereka taat kepada firman-Nya.
Ulangan 28:1b “…, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.”
“Tuhan akan mengangkat engkau” menunjukkan bahwa pengangkatan itu berasal dari Tuhan, bukan hasil ambisi pribadi atau kekuatan manusia.
Kenaikan posisi atau promosi orang percaya, baik di tempat kerja atau di lingkungan pelayanan di gereja misalnya, bukan karena hebatnya strategi, tetapi karena kesetiaan dalam mendengarkan dan melakukan firman Tuhan.
Dalam Perjanjian Baru, prinsip ini ditegaskan:
“Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Matius 23:12).
Jadi, promosi yang dari Tuhan itu dimulai dengan sikap rendah hati dan taat.
Lalu berkat seperti apa yang Tuhan berikan kepada umat yang taat?
Berkat Tuhan bukan hanya bersifat rohani, tetapi juga menyentuh seluruh aspek kehidupan:
Berkat di kota dan di ladang, artinya berkat atas tempat tinggal dan pekerjaan
Berkat buah kandungan, artinya berkat atas keluarga dan keturunan kita
Berkat hasil bumi dan ternak, artinya berkat hasil usaha atau bisnis kita
Berkat bakul dan tempat adonan, artinya berkat atau kelimpahan atas kebutuhan sehari-hari
Tuhan ingin mengangkat umat-Nya, tetapi jalan ke sana bukan melalui ambisi duniawi, melainkan melalui ketaatan yang dilakukan secara terus menerus.
Tuhan mencari orang yang mendengar dan melakukan firman-Nya, yang bersedia dipimpin, dibentuk, dan dipakai untuk kemuliaan-Nya.
Ketika kita taat dan setia, Tuhan akan mengangkat kita, dalam waktu-Nya dan dengan cara-Nya, menjadi berkat bagi banyak orang.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apakah engkau sungguh mendengarkan suara Tuhan, karena itu adalah jalan menuju perkenan Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Bagaimana hidup kita mencerminkan sebagai pelayan Allah di tengah masyarakat saat ini?
Apa yang dimaksud dengan “keturunan yang diberkati TUHAN”? Apakah ini berbicara tentang keturunan biologis atau rohani?
Yesaya 61, adalah pasal yang berisi nubuat tentang pemulihan besar yang akan Tuhan kerjakan bagi umat-Nya.
Ayat-ayat ini menggambarkan akan adanya perubahan luar biasa: akan datangnya tahun rahmat Tuhan yang akan menghibur orang yang berkabung, akan dipulihkannya reruntuhan menjadi kota yang makmur.
“Keturunanmu akan terkenal di antara bangsa-bangsa, dan anak cucumu di tengah-tengah suku-suku bangsa, sehingga semua orang yang melihat mereka akan mengakui, bahwa mereka adalah keturunan yang diberkati TUHAN.” (Yesaya 61:9).
Janji ini bukan hanya untuk bangsa Israel secara fisik, tetapi juga untuk kita umat Allah yang telah ditebus oleh darah Kristus.
Lalu apa artinya menjadi keturunan yang diberkati Tuhan?
Bagaimana hal itu memengaruhi kehidupan kita dan generasi-generasi berikutnya?
“Tetapi kamu akan disebut imam TUHAN dan akan dinamai pelayan Allah kita. Kamu akan menikmati kekayaan bangsa-bangsa dan akan memegahkan diri dengan segala harta benda mereka.” (Yesaya 61:6).
Kemuliaan pertama dari keturunan yang diberkati Tuhan adalah pribadi kita yang diubahkan.
Kita bukan lagi orang yang terbuang, melainkan disebut sebagai imam-imam Tuhan, itu artinya kita sebagai perantara antara Allah dan dunia.
Dalam Perjanjian Baru, hal ini diteguhkan:
“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri…” (1 Petrus 2:9a).
Kita bukan hanya umat yang diselamatkan, tetapi diangkat menjadi imamat yang rajani, orang-orang yang oleh karena anugerah Tuhan diberi kuasa atau otoritas untuk turut ambil bagian dalam pemerintahan Allah di muka bumi.
“…kamu akan mendapat warisan dua kali lipat di negerimu dan sukacita abadi akan menjadi kepunyaanmu.” (Yesaya 61:7b).
Tuhan menjanjikan pemulihan yang berlipat ganda atas luka, kehancuran, dan penghinaan yang pernah dialami umat-Nya.
Tuhan tidak hanya menyembuhkan luka, tetapi menggantikannya dengan sukacita abadi.
Sehingga keturunan yang diberkati Tuhan adalah mereka yang mengalami pemulihan ilahi, yang tidak hanya memulihkan masa lalu, tetapi juga mempersiapkan masa depan yang penuh kemuliaan.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan bagaimana wujud dari kemuliaan yang Tuhan berikan kepada kita itu dapat kita nikmati?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Kemuliaan seperti apakah yang Tuhan berikan kepada para murid-Nya?
Apakah yang Tuhan kehendaki tentang kesatuan umat Tuhan dan berikan contoh konkret apa yang bisa dilakukan di masa kini?
Yohanes pasal 17 dikenal sebagai Doa Tuhan Yesus untuk murid-murid-Nya.
Dan dalam bagian terakhir doa ini, Yesus menyatakan satu kebenaran menakjubkan: bahwa Ia telah memberikan kemuliaan yang diterima dari Bapa kepada murid-murid-Nya.
Ini adalah pernyataan yang sangat mendalam:
“Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku.” (Yohanes 17:22a).
Sebenarnya apa arti kemuliaan ini? Bagaimana bentuknya?
Dan bagaimana hal ini mengubah identitas dan hidup para murid, termasuk kita umat percaya di masa kini?
Dalam Perjanjian Lama, kemuliaan Allah adalah manifestasi kehadiran-Nya yang kudus dan tak tertandingi.
Itu terlihat dalam tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari yang tampak di atas Kemah Suci.
Namun dalam Kitab Yohanes, kemuliaan itu diperlihatkan bukan lewat kilau terang, tetapi dalam pengorbanan kasih dan ketaatan sempurna Yesus kepada Bapa.
“Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” (Yohanes 17:4).
Kemuliaan Yesus bukan sekadar kuasa, tetapi karakter Allah yang dinyatakan dalam kasih, kekudusan, kerendahan hati, dan pengorbanan.
Dan inilah kemuliaan yang Ia berikan kepada murid-murid-Nya.
Yohanes 17:22b “…, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu”
Kemuliaan yang diberikan Yesus tidak dimaksudkan untuk individualisme atau kemegahan pribadi, melainkan untuk menciptakan kesatuan kita umat percaya.
Kemuliaan sejati akan selalu membawa orang percaya pada persekutuan yang dalam dengan Allah dan dengan sesama.
Dan kesatuan ini bukan keseragaman, tetapi kesatuan dalam kasih dan tujuan, hidup dalam misi Kristus, mencerminkan kasih Bapa, dan berjalan dalam kebenaran Roh.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan bagaimana kemuliaan yang Tuhan berikan kepada umat percaya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Siapakah yang menjadi satu roh dengan Allah?
Bagaimanakah status tubuh jasmani kita?
Dalam pemahaman masa kini, tubuh manusia seringkali dipandang hanya sebagai objek fisik untuk dilihat, dipuja, atau bahkan dieksploitasi.
Namun Alkitab mengajarkan suatu pandangan yang jauh lebih dalam dan mulia: tubuh kita adalah bait Allah.
Ini bukan sekadar hal yang abstrak, melainkan realitas rohani yang kudus.
Karena “siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” (1 Korintus 6:17).
Untuk lebih memahami konteks dari ayat Firman yang kita baca, perlu kita memahami seperti apakah kota Korintus pada jaman gereja yang mula-mula.
Pada zaman itu Korintus adalah kota besar, makmur, dan bersifat metropolitan.
Terletak di Yunani, di jalur strategis dekat dengan pelabuhan besar yang menjadikan Korintus menjadi pusat perdagangan internasional.
Karena kekayaan dan campuran dari berbagai budaya, kota Korintus menjadi kota yang penuh dengan gaya hidup hedonisme, keangkuhan, dan banyak terdapat hal yang asusila dilakukan oleh warganya.
Itu sebabnya Paulus menulis secara khusus kepada orang-orang percaya di Korintus tentang gaya hidup bebas dan moralitas yang rusak.
Ia mengingatkan mereka bahwa hidup orang percaya tidak lagi milik orang tersebut secara pribadi, sebab mereka telah dibeli dan dibayar lunas oleh darah Kristus.
Karena itu, tubuh mereka tidak bisa diperlakukan seenaknya, tetapi harus dihormati sebagai tempat kediaman Roh Kudus.
Sebagai umat Allah, tubuh kita juga adalah Bait Allah dan ini tentu memiliki konsekuensi akan apa yang sepatutnya kita lakukan dengan tubuh jasmani kita.
Pertama, penting untuk kita hidup dalam kekudusan.
Paulus secara tegas berkata, “Jauhkanlah dirimu dari percabulan.” Dosa seksual disebut sebagai dosa yang berdampak langsung terhadap tubuh.
Ketika kita sadar bahwa tubuh kita adalah bait-Nya, maka kita tidak akan sembarangan dalam menggunakannya.
Kedua, kita akan menjaga diri dari pencemaran dunia.
Dunia menawarkan banyak hal yang mencemari pikiran, tubuh, dan roh.
Tetapi sebagai bait Allah, kita dipanggil untuk hidup berbeda: menjaga kesucian, kesehatan, dan integritas hidup.
Ketiga, kita menggunakan tubuh untuk kemuliaan Tuhan.
Segala aktivitas kita, baik makan, minum, bekerja, berbicara, bahkan istirahat, dapat menjadi bentuk penyembahan kepada Tuhan jika dilakukan dalam kesadaran bahwa tubuh ini milik-Nya.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan tentang bahaya yang bisa menyebabkan pencemaran rohani yang berasal dari tubuh jasmani kita.