Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang dilakukan Allah terhadap “surat hutang” atau daftar dosa yang mendakwa kita di ayat 14?
Bagaimana cara Kristus mengalahkan penguasa-penguasa gelap menurut ayat 15?
Mengapa kita tidak perlu lagi merasa takut atau tidak layak di hadapan Tuhan setelah memahami peristiwa salib?
Kota Kolose masa itu terdiri dari berbagai tradisi dan kebudayaan.
Keberagaman budaya dan tradisi ini tentu sangat mempengaruhi perkembangan Kristen di Kolose.
Hal yang lain yang mempengaruhi perkembangan Kristen itu datang dari berbagai ajaran-ajaran sesat yang saat itu sedang berkembang pesat.
Ajaran sesat berupa sinkretisme, yaitu campuran antara filsafat dunia, legalisme aturan agama, dan penyembahan kepada roh-roh atau malaikat.
Hal inilah yang melatarbelakangi Paulus menuliskan suratnya untuk jemaat di Kolose.
Dimana jemaat merasa “kurang lengkap” jika hanya beriman kepada Kristus, sehingga mereka mencari perlindungan pada kekuatan gaib dan aturan lahiriah.
Paulus ingin menegaskan bahwa di dalam Kristus, jemaat sudah memiliki segalanya; mereka tidak memerlukan tambahan ritual atau kekuatan lain karena seluruh kepenuhan Allah diam di dalam Kristus.
Kemenangan Yesus di atas kayu salib terjadi karena Ia sudah melunasi seluruh hukuman dosa kita secara resmi dan tuntas, sehingga tidak ada lagi “surat utang” bahasa Yunani memakai kata “Cheirographon” yaitu: buku catatan atau surat dakwaan yang berisi rincian semua kegagalan kita dalam menaati hukum Tuhan atau rincian dosa kita.
Yang bisa dipakai oleh iblis untuk menghukum kita. Kemudian oleh Allah dihapuskan dan dipaku di salib hingga lunas.
Di saat yang sama, Kristus melucuti senjata pemerintah-pemerintah gelap, dan menyeret mereka dalam barisan tawanan yang dipermalukan dan menjadikan tontonan umum, layaknya jenderal Romawi yang memamerkan tawanan perang yang kalah.
Salib adalah simbol kemenangan mutlak di mana senjata utama Iblis untuk mendakwa kita telah dirampas dan dihancurkan selamanya.
Dari pembacaan renungan kita hari ini, hal sederhana yang kita bisa lakukan adalah mari kita percaya diri dan berhentilah hidup dalam ketakutan terhadap ramalan buruk, ancaman krisis, atau tekanan dunia atau kehidupan yang sering membuat kita merasa tidak layak.
Karena “daftar kesalahan” kita sudah dipaku mati oleh Yesus di kayu salib, maka Iblis tidak lagi punya hak untuk menuduh dan mendakwa serta menghantui hidup kita dengan rasa bersalah atau kutuk dosa.
Apa pun masalah atau ketakutan yang kita hadapi saat ini, semuanya tidak akan bisa mencuri damai sejahtera hati kita karena Yesus sudah mengalahkan segalanya.
Diskusikan dalam kelompok PA atau persekutuan kita, apa yang saat ini kita takutkan? Kalau ada, kenapa rasa takut itu terus menghantui kita? Percayakah kita bahwa Salib Kristus dapat mengalahkan segala kuasa, termasuk rasa ketakutan kita?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Mengapa Yesus harus menjadi “seketika lebih rendah daripada malaikat” dengan menjadi manusia yang bisa mati?
Apa makna Yesus mengalahkan kuasa maut?
Apakah kemenangan Yesus di salib berarti Iblis sudah tidak ada lagi di dunia ini sekarang?
Bagaimana kemenangan Yesus atas maut mengubah cara kita merespons terhadap ketakutan atau kecemasan yang saat ini mungkin kita sedang hadapi?
Surat Ibrani ditulis bagi jemaat Yahudi Kristen abad pertama yang sedang mengalami krisis iman dan juga sedang terancam penganiayaan yg begitu hebat pada masa itu, sehingga mereka tergoda kembali pada “legalisme Yudaisme” (cara beragama dengan aturan yang kaku) demi keamanan.
Penulis menegaskan keunggulan Kristus yang secara sukarela menjadi “seketika lebih rendah daripada malaikat” (ay. 9) melalui inkarnasi.
Perendahan diri ini bukan kegagalan keilahian Allah, melainkan keharusan agar Yesus dapat menanggung maut sebagai manusia sejati.
Ia menjadi sama dengan “darah dan daging” kita agar menjadi Imam Besar yang seperasaan serta wakil yang sah dari manusia dalam menanggung penghukuman Allah.
Kemenangan Yesus terjadi karena disalib Ia menuntaskan seluruh tuntutan hukum Allah atas dosa kita.
Melalui kematianNya, Yesus melakukan “Katargeo” dari kata Yunani, yang berarti : melumpuhkan, membuat tidak berfungsi, membatalkan hak hukum, dan meniadakan kuasa Iblis yang selama ini memegang senjata maut atas manusia berdosa (ayat 14).
Meski keberadaan Iblis belum dilenyapkan dari dunia, namun kuasa hukumnya telah dipatahkan.
Tindakan ini menghasilkan “apallasso”, dari bahasa Yunani adalah istilah yang sering digunakan dalam dunia hukum kuno untuk pembebasan seorang budak atau tawanan perang.
Dengan kata lain pembebasan total atau kemerdekaan bagi orang percaya dari penjara ketakutan (ayat 15).
Saat Yesus terlihat “kalah” di salib, Ia justru sedang melucuti senjata maut secara permanen dan mengubah status kita dari tawanan menjadi anak-anak merdeka.
Secara praktis karena Kristus telah melakukan “apallasso”, seharusnya kita tidak boleh lagi hidup sebagai budak ketakutan.
Ketakutan dalam bentuk apapun itu.
Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini perang Iran, Amerika dan Israel yang saat ini mengancam stabilitas global.
Hal ini pasti berdampak kepada ekonomi, krisis energi, hingga potensi sentimen agama dan juga bisa menjadi konflik sosial di dalam negeri.
Tentu sedikitnya hal itu akan berdampak pula bagi kita anak-anak Tuhan di Indonesia.
Namun, apakah kita harus cemas dan takut berlebihan akan semua yang sedang terjadi?
Jika maut sebagai musuh terakhir saja sudah dikalahkan Yesus, maka ancaman perang sehebat apa pun tidak berhak merampas damai sejahtera kita.
Percayalah bahwa Dia adalah Imanuel (Allah menyertai kita).
Hiduplah sebagai orang merdeka yang tetap tenang, tidak perlu panik, stress apalagi frustasi menghadapi hidup dan masa depan, sebab kedaulatan Kristus jauh melampaui kuasa manapun di dunia ini.
Diskusikan dalam kelompok PA atau persekutuan kita, hal apa yang kita pelajari dan renungkan dari bahan pembacaan renungan kita hari ini?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Yesus berkata “Aku haus,” apakah maknanya perkataan Yesus itu, mengingat Dia adalah Anak Allah?
Apa makna penting dari pernyataan “Aku haus” dalam rencana keselamatan Allah?
Peristiwa penyaliban Yesus adalah pusat dari karya keselamatan dalam iman Kristen.
Ketika Yesus berkata “Aku haus” hal itu terjadi agar genaplah yang tertulis dalam Alkitab.
Antara lain dapat kita baca di Kitab Mazmur 69:22“Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.”
Ini menunjukkan bahwa penderitaan Yesus bukan peristiwa kebetulan.
Semua yang terjadi telah dinubuatkan sebelumnya dalam firman Tuhan.
Yesus dengan sadar menjalani penderitaan itu untuk menggenapi rencana keselamatan Allah bagi manusia.
Setiap detail penderitaan-Nya menunjukkan bahwa Allah sedang menggenapi janji-Nya.
Tuhan Yesus tidak hanya menderita secara rohani, dimana Dia harus untuk sementara waktu terpisah dari Allah Bapa, tetapi juga secara fisik.
Yesus disiksa, dipaku di kayu salib, mengalami kehausan yang sangat.
Semua itu Ia tanggung karena kasih-Nya kepada manusia.
Salib bukan hanya simbol penderitaan, tetapi juga bukti kasih Allah yang besar bagi dunia.
Kemudian ketika Yesus mengatakan “sudah selesai”.
Kata yang dipakai dalam bahasa Yunani adalah “teleo” yang berarti: selesai sepenuhnya, tuntas, lunas dibayar.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa, hukuman dosa telah ditanggung, harga penebusan telah dibayar, jalan keselamatan telah dibuka.
Tidak ada lagi yang perlu ditambahkan pada karya salib Kristus.
Keselamatan tidak diperoleh melalui usaha manusia, tetapi melalui karya Kristus yang sudah diselesaikan.
Karena itu, respon yang tepat terhadap karya salib adalah percaya kepada Kristus, hidup dalam ketaatan kepada Firman dan petunjuk Roh Kudus, dan mengikuti-Nya dengan setia.
Di kayu salib, Yesus tidak berkata “Aku kalah.” Ia berkata, “Sudah selesai.”
Dan melalui karya yang telah dituntaskan itu, kita umat percaya memperoleh pengharapan akan masa depan dan kehidupan yang kekal bersama dengan Kristus.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apakah engkau pernah meragukan karya Kristus, kalau ya, apa yang engkau lakukan kemudian.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apakah contoh dalam kehidupan kita yang justru bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk percaya kepada Kristus?
Bagaimana kita bisa menjaga integritas supaya hidup kita justru menjadi kesaksian yang baik?
Saudara, memberitakan Injil bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup.
Memberitakan Injil terlebih kepada orang yang mengenal kita, itu dimulai dengan “bersaksi”.
Karena kehidupan seorang pemberita Injil akan menjadi bagian dari pesan yang disampaikan.
Rasul Paulus menyatakan, “Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.” (2 Korintus 6:3).
Seorang pemberita Injil harus menyadari bahwa hidupnya sedang dilihat oleh banyak orang.
Jika kehidupan tidak mencerminkan kebenaran yang diberitakan, maka orang akan sulit menerima pesan Injil.
Kemurnian hati terlihat dari bagaimana integritas dalam perkataan dan tindakan, keluarga yang tinggal di rumah, rekan di kantor, di kampus akan dengan mudah menilai kita dari apa yang kita lakukan.
Jika kita sudah melayani di persekutuan misalnya, maka orang akan melihat apakah kita melayani Tuhan dengan tulus, bukan karena uang atau kedudukan.
Apakah kita melayani dengan rendah hati dan tidak sombong, tidak pamer dengan apa yang kita miliki termasuk talenta dan karunia yang Tuhan berikan.
Pesan Injil menjadi kuat bukan hanya karena kebenaran pesannya, tetapi juga karena kesaksian hidup kita yang menyampaikan pesan tersebut.
Jika Roh Kudus bekerja dalam hati kita, maka pelayanan yang kita lakukan akan dipenuhi oleh kasih yang tulus, motivasi yang benar dan kita akan melayani dengan rendah hati.
Kita akan senang ketika melihat rekan kita melayani dengan lebih baik.
Kita tidak menjadi cemburu atau iri hati.
Ketika kita melayani Tuhan, termasuk ketika kita memberitakan Injil kita bisa menghadapi berbagai penilaian dari orang lain, apakah orang akan menghormati atau menghina kita.
Kita bahkan bisa difitnah atau sebaliknya kita juga bisa dipuji.
Namun seorang pelayan Tuhan tidak boleh bergantung pada penilaian manusia.
Yang terpenting adalah tetap setia kepada kebenaran dan tuntunan Tuhan dalam hidup kita.
Kemurnian hati berarti melayani bukan untuk mencari pujian manusia, tetapi untuk menyenangkan hati Tuhan.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apakah engkau pernah mengalami penolakan karena engkau melayani Tuhan?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang terjadi atas para murid setelah mereka bersaksi dan memberitakan Injil kepada bangsa Yahudi?
Apa respon para murid ketika mereka dilepaskan dari penjara?
Di ayat 38 dan 39, Gamaliel seorang ahli Taurat menyatakan, “Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini.
Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan.”
Namun setelah seruan itu, para murid tetap dicambuk dan dilarang berbicara dalam nama Yesus.
Artinya jelas, kebenaran Injil tidak selalu diterima dengan mudah, pelayanan yang berasal dari Allah tetap bisa mengalami penderitaan.
Tetapi apa yang menjadi respon para rasul setelah mereka mengalami aniaya, sungguh menakjubkan, “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.” (Kisah Para Rasul 5:41-42).
Mereka tidak berhenti, tidak bersembunyi, tidak mengurangi kebenaran, tidak mengubah pesan Injil.
Cambukan tidak memadamkan Injil, larangan tidak menghentikan kesaksian, ancaman tidak sanggup menghentikan mereka untuk tidak memberitakan Injil.
Menderita karena Injil berarti kita tetap setia pada kebenaran meski ada tekanan, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, menganggap menderita bagi Kristus sebagai kehormatan dan anugerah.
Tetapi bukan berarti kita mencari penderitaan.
Namun jika penderitaan datang karena kesetiaan kepada Kristus, itu menjadi bagian dari panggilan kita sebagai murid Kristus.
Saudara, Injil yang sejati selalu membawa konfrontasi dengan dunia yang menolak terang.
Namun sejarah membuktikan justru di tengah penderitaan, Injil makin tersebar.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apakah engkau pernah ditolak karena engkau bersaksi tentang kasih Allah?