Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Dimanakah ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan?
Bagaimana kita seharusnya menganggap kepentingan saudara yang lain?
Pikiran dan perasaan seperti apakah yang harus senantiasa ada dalam hidup kita?
Dalam Filipi 2:1–5, Rasul Paulus menasihati jemaat di Filipi untuk hidup dalam kesatuan, kasih, dan kerendahan hati.
Nasihat ini disampaikan dalam konteks budaya Romawi yang sangat menjunjung tinggi status sosial, kehormatan pribadi, dan pencapaian diri.
Paulus justru membalikkan nilai-nilai tersebut dengan menyerukan kehidupan yang saling mengutamakan satu sama lain, mengesampingkan kepentingan pribadi, dan meneladani sikap Yesus Kristus yang penuh kerendahan hati.
Ini adalah pesan yang sangat radikal di tengah masyarakat Romawi yang sangat kompetitif dan hirarkis.
Paulus menggunakan istilah kenodoxia (kemuliaan yang kosong atau kesombongan yang sia-sia) untuk menggambarkan sikap yang harus dijauhi, dan menekankan bahwa setiap orang harus menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.
Ini adalah nilai yang bertentangan tajam dengan budaya Romawi yang mengagungkan diri.
Dalam dunia Yahudi pun, ini merujuk pada nilai-nilai seperti yang tertulis dalam Mikha 6:8 — hidup dengan rendah hati di hadapan Allah.
Paulus sedang membentuk kembali pemahaman mereka tentang kehormatan, bukan sebagai sesuatu yang diraih melalui kekuasaan, melainkan melalui pelayanan dan pengorbanan.
Bayangkan sebuah orkestra besar.
Di sana ada pemain biola, cello, klarinet, trompet, dan begitu banyak alat musik lainnya.
Masing-masing pemain adalah profesional berbakat yang memiliki kemampuan luar biasa.
Namun ketika mereka mulai bermain, tidak ada satupun yang menonjolkan dirinya.
Tidak ada pemain yang berkata, “Saya harus lebih keras dari yang lain agar terdengar!” Sebaliknya, mereka semua tunduk pada satu konduktor.
Mereka menyelaraskan irama, tempo, dan dinamika—bukan demi kepentingan pribadi, tapi demi menghasilkan harmoni yang indah bersama.
Ketika semua instrumen berbeda itu bersatu, hadirin pun terdiam dalam kekaguman.
Kristus adalah Konduktor Agung kita.
Dialah yang terlebih dahulu mengosongkan diri, turun dari kemuliaan-Nya, dan mengambil rupa seorang hamba.
Dia tidak memaksakan kehendak-Nya, tetapi taat kepada kehendak Bapa sampai mati di kayu salib.
Ketika kita memiliki pikiran dan sikap seperti Kristus, kehidupan kita akan menjadi seperti simfoni yang memuliakan Allah—penuh kasih, kesatuan, dan pengorbanan.
Diskusikan dengan kelompok PA dan persekutuan kita, mengenai topik ini dengan lebih mendalam. Bagaimana kita bisa praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berkat apa yang didapat dari melakukan Firman Tuhan ini.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Apa motif ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang cara memperoleh hidup yang kekal?
Apa jawaban Yesus terhadap pertanyaan yang dilontarkan oleh ahli Taurat kepadaNya? (ayat 26)
Apa tanggapan ahli Taurat itu terhadap jawaban dan sekaligus pertanyaan balik Yesus kepada ahli Taurat itu? (ayat 27)
Jelaskan jawaban Yesus terhadap pertanyaan yang dilontarkan oleh ahli Taurat kepadaNya, tentang perumpamaan “siapakah sesamaku manusia”?
Jawab ahli Taurat itu kepada Yesus “orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya” Apa yang Yesus katakan/perintahkan kepada ahli Taurat itu? (ayat 37c)
Ketika ahli Taurat bertanya kepadaNya, Yesus tahu persis bahwa dia hafal isi hukum Taurat serta semua turunannya, yaitu sekitar 613 hukum.
Yesus dengan penuh hikmat menjawab apa yang ahli Taurat itu tanyakan, namun kali ini Yesus menjawab pertanyaannya dengan menggunakan perumpamaan, agar semua orang yang mendengar mudah mencerna dan memahaminya.
Perhatikan bahwa Yesus “sengaja” menjelaskan perumpamaanNya menggunakan tokoh-tokoh yang tidak asing di telinga ahli Taurat.
Yesus memakai tokoh “imam” di mana zaman itu dianggap tokoh yang sangat penting, memiliki pengetahuan agama yang cukup tinggi dan sekaligus pengajar hukum taurat.
Mereka sangat dihormati oleh masyarakat Yahudi. Begitu pula dengan orang “Lewi.”
Mereka mewakili tokoh-tokoh yang memiliki peran penting dalam pelayanan di bait suci di Yerusalem oleh masyarakat Yahudi.
Selain dikenal penyanyi dan pemain musik di ibadah bait suci, orang Lewi juga memiliki pengetahuan yang cukup tinggi karena mereka juga sebagai pengajar hukum taurat.
Sementara tokoh orang “Samaria”, pada zaman itu dianggap kelompok yang tidak disukai, dijauhi bahkan kelompok yang dihindari oleh orang Yahudi karena mereka ini bukan orang Yahudi asli, melainkan campuran.
Sehingga mereka dianggap najis oleh orang Yahudi.
Dari perumpamaan yang kita baca hari ini, hanya orang Samaria yang Yesus sebut sebagai “sesama manusia yang jatuh di tangan penyamun”.
Orang Samaria itu memiliki belas kasihan yang dibuktikan.
Belas kasihan yang mengabaikan kepentingannya yang harus diselesaikan saat itu.
Dia memberikan yang terbaik apa yang dia mampu berikan, dan dari apa yang dia miliki.
Mari kita terus mempraktekkan tindakan saling mengasihi dan memperhatikan kebutuhan sesama, tanpa melihat latar belakang, memperhitungkan untung rugi, membeda-bedakan status sosial, agama, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan Firman, dan lainnya.
Kasih tidak bergantung kepada keadaan di luar kita, tetapi kepada keputusan dalam diri kita.
Kata Yesus kepada ahli Taurat itu, juga kepada kita murid-muridNya saat ini “Pergilah dan perbuatlah demikian! (seperti yang orang Samaria lakukan)”.
Dalam melakukan tindakan saling mengasihi dan memperhatikan kebutuhan sesama, tidak perlu berteori, tidak perlu didiskusikan. Mari kita belajar bersama-sama melakukannya!. Mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal-hal kecil atau sederhana dan mulailah dari hari ini!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Hukum manakah yang paling terutama menurut Tuhan Yesus?
Hukum kedua manakah yang sama seperti hukum pertama?
Yesus pasti mengetahui bahwa golongan Saduki adalah salah satu golongan yang paham betul dan” taat” dengan ajaran hukum Taurat.
Orang Saduki itu bertanya tentang hukum manakah yang paling utama dalam kitab suci?
maka jawab Yesus: “Hukum yang terutama: dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”
JawabanNya sama seperti isi doa “Shema Israel” yang pasti diketahui dan selalu diucapkan oleh orang-orang Yahudi termasuk orang Saduki pada masa itu.
Bahkan jawaban Yesus ditegaskan kembali oleh ahli Taurat.
Dengan kata lain ahli Taurat mengakui dan setuju dengan jawaban Yesus (perlu di ingat, sangat jarang kita temui bahwa ahli taurat setuju dengan perkataan Yesus).
Berbicara dalam konteks agama, Kristen adalah agama yang dikenal mengajarkan tentang hukum Kasih dibandingkan dengan agama – agama lain yang ada di dunia saat ini.
Surat 1 Yohanes 4:8c mengatakan “Sebab Allah adalah Kasih”. Yang dibuktikan Bapa mengutus anakNya ke dunia ini untuk menderita, memberikan nyawaNya mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.
Itulah bukti nyata bahwa Allah yang berinisiatif mengasihi kita. KasihNya tanpa batas.
Selama Dia hidup 33,5 thn lamanya, Yesus selalu konsisten menunjukkan perbuatan kasih dimanapun Dia berada.
Pertanyaan untuk kita semua yang percaya kepada Dia, apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Dia?
Mari kita buktikan dengan tindakan nyata, misalkan konsisten sabar terhadap orang-orang yang membuat kita marah atau kesal, mengasihi orang yang mungkin pernah mengecewakan atau merugikan kita.
Kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita, bersedia dengan tulus berbuat baik dengan memberikan “bantuan apa saja” yang kita mampu.
Renungan hari ini mengingatkan kita kembali, apakah betul kita mengasihi Allah yang tidak bisa dilihat oleh mata, sedangkan manusia yang kita bisa lihat terkadang sulit untuk kita kasihi?
Hal itu sesuai dengan hukum kasih yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri.
Saudaraku, marilah kita terus belajar untuk saling mengasihi sesama manusia, sebab kasih itu berasal dari Allah.
Setiap orang yang mengasihi lahir dan mengenal Allah.
Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. (lihat 1 Yohanes 4:7-8).
Dalam melakukan tindakan kasih itu, tidak perlu berlama-lama dalam teori. Mari kita belajar bersama-sama melakukannya! Mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal-hal kecil atau sederhana dan mulailah dari hari ini!
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya.
Mengapa Yesus menekankan pentingnya kesatuan murid-murid seperti kesatuan antara Dia dan Bapa?
Bagaimana Yesus menggambarkan peran-Nya dalam menjaga para murid selama Ia ada di dunia?
Yesus tahu bahwa Ia akan segera disalibkan, bahwa saatnya akan tiba, Dia akan kembali kepada Bapa dan akan meninggalkan murid-murid-Nya.
Yesus merasakan kesedihan karena akan berpisah secara fisik dari murid-muridNya, yang telah berjalan bersama-Nya selama tiga tahun.
Namun, doa-Nya bukan doa keluhan, melainkan penyerahan diri kepada Bapa, yang menunjukkan kedamaian dan pengharapan yang dalam.
Seluruh isi doa-Nya menunjukkan betapa dalam kasih Yesus kepada murid-murid-Nya.
Ia berdoa agar mereka dipelihara, disatukan, dikuduskan, dan mengalami kemuliaan bersama-Nya.
Ini menunjukkan kerinduan Yesus agar mereka tetap dekat dengan Allah meskipun Ia pergi.
Yesus berpikir tentang kondisi murid-murid-Nya. Ia menyadari mereka akan menghadapi tantangan besar tanpa kehadiran fisik-Nya.
Maka Ia berdoa agar mereka tetap dalam kasih dan kesatuan, sama seperti kesatuan antara Yesus dan Bapa.
Yesus juga sadar bahwa dunia akan membenci murid-murid-Nya karena mereka memiliki firman-Nya dan hidup dalam kebenaran.
Oleh karena itu Ia berdoa untuk perlindungan mereka dari yang jahat.
Ia tidak meminta agar mereka diambil dari dunia, tetapi agar mereka dikuatkan.
Dan yang luar biasa, Tuhan Yesus juga berpikir tentang kita, generasi yang akan percaya melalui pemberitaan para murid. Ia berdoa agar semua orang percaya dari zaman ke zaman menjadi satu, sehingga dunia dapat melihat kasih Allah yang nyata.
Tuhan Yesus menutup doa-Nya dengan menyatakan kerinduan-Nya agar semua orang percaya melihat kemuliaan-Nya, yaitu berada bersama-Nya kelak dalam kekekalan.
Ia ingin kita umat tebusan-Nya mengalami kasih-Nya, yaitu Kasih yang telah ada sebelum dunia dijadikan.
Doa Yesus ini mengungkapkan bahwa di saat-saat paling berat menjelang penderitaan-Nya, Yesus tidak memikirkan diri-Nya sendiri, tetapi memikirkan kita. Tuhan Yesus mengasihi kita umat tebusan-Nya, dan sebagai bentuk tanggung jawab sebagai Gembala Agung atas murid-murid-Nya.
Yesus berdoa agar kita: dipelihara dalam kebenaran, dilindungi dari si jahat. disatukan dalam kasih, dipenuhi dengan sukacita surgawi dan mengalami kemuliaan kekal bersama-Nya.
Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apakah engkau hidup dalam kesatuan, ataukah engkau membiarkan perpecahan, kebencian, atau ego menguasai relasimu dengan saudara seiman? Dan ketika engkau menghadapi tantangan, apakah engkau percaya bahwa Tuhan tidak membiarkanmu sendirian?