Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Menurut Yohanes 14:21, apa buktinya seseorang benar-benar mengasihi Yesus?
Apa janji Yesus bagi orang yang mengasihi Dia dan menuruti firman-Nya (ayat 23)?
Perbedaan mendasar apa yang Yesus tunjukkan antara orang yang mengasihi Dia dan orang yang tidak mengasihi Dia (ayat 24)
“Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”. (Yohanes 14:23)
Kita sering mendengar orang berkata, “Aku cinta Tuhan.”
Tapi apa buktinya? Yesus dalam percakapan dengan murid-murid-Nya menjelaskan hal ini dengan sangat jelas.
Saat itu Yudas (bukan yang mengkhianati Yesus) bertanya mengapa Yesus hanya menampakkan diri kepada murid-murid, bukan kepada dunia.
Yesus menjawab bahwa intinya bukan soal penampakkan, tapi soal hubungan hati.
Orang yang benar-benar mengasihi Yesus adalah orang yang menuruti firman-Nya.
Ini menunjukkan bahwa kasih kepada Tuhan bukan hanya perasaan hangat di dalam hati, tetapi sesuatu yang nyata dalam tindakan sehari-hari.
Seperti kata orang, “Cinta itu kata kerja.” Kasih kepada Tuhan terbukti dari ketaatan kita kepada apa yang Ia perintahkan.
Ketaatan pada firman Tuhan adalah bukti otentik kasih kita kepada-Nya.
Yesus berkata, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku” (ayat 21).
Ini bukan berarti kita diselamatkan karena ketaatan, tetapi ketaatan adalah respons alami dari hati yang sungguh-sungguh mengasihi Dia.
Coba bayangkan hubungan suami istri.
Kalau seorang suami berkata “Aku cinta kamu” tapi terus berselingkuh, apakah kata-katanya berarti? Tentu tidak.
Kasih sejati dibuktikan dengan kesetiaan.
Demikian pula dengan Tuhan. Kita bisa bernyanyi dengan merdu, berdoa dengan khusyuk, tapi kalau hidup kita tidak taat pada firman-Nya, kasih kita perlu dipertanyakan.
Ketaatan bukan beban, melainkan jalan untuk menyenangkan hati Dia yang kita kasihi.
Ketaatan membawa kita pada pengalaman yang lebih dalam akan kehadiran Tuhan.
Yesus berjanji: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (ayat 23).
Ini janji yang luar biasa! Bukan sekadar Tuhan di surga jauh di atas sana, tetapi Tuhan yang tinggal bersama kita, diam di dalam hati kita.
Pengalaman intim ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang taat.
Sebaliknya, orang yang tidak taat, meskipun rajin ke gereja, tidak akan mengalami keintiman ini.
Tuhan tidak bisa dipisahkan dari firman-Nya. Menerima firman berarti menerima Dia.
Menolak firman berarti menolak Dia. Jadi, semakin kita taat, semakin kita mengenal Dia, dan semakin kita merasakan kehadiran-Nya yang manis dalam hidup sehari-hari.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Periksa Motivasi di Balik Setiap Tindakan. Setiap kali kita melakukan sesuatu, tanya pada diri sendiri: “Apakah ini kulakukan karena aku mengasihi Tuhan?”
Misalnya, saat menolong orang, saat menahan amarah, saat memberi persembahan, lakukanlah sebagai ungkapan kasih kepada Tuhan, bukan karena ingin dipuji atau karena terpaksa.
Kasih yang tulus akan membuat ketaatan menjadi ringan.
Kedua, Baca dan Lakukan Firman Secara Konsisten.
Pilih satu perintah Tuhan setiap minggu untuk dilakukan secara sadar. Misalnya, minggu ini belajar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Minggu depan belajar untuk mengucap syukur dalam segala hal.
dengan sungguh-sungguh, dan minta tolong Roh Kudus. Dengan langkah kecil yang konsisten, kasih kita kepada Tuhan akan bertumbuh, dan kita akan merasakan kehadiran-Nya semakin nyata.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki sikap hati yang taat sebagai bukti kasih kepada Tuhan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang mereka lakukan pertama kali ketika menghadapi ancaman (ayat 24), dan apa yang bisa kita pelajari dari respon itu?
Mengapa mereka mengutip Mazmur 2 dalam doa mereka (ayat 25-26), dan bagaimana itu membantu mereka mengatasi rasa takut?
Apa isi permohonan mereka (ayat 29-30), dan apa bedanya dengan doa kita yang sering minta perlindungan dari bahaya?
“Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” (Kisah Para Rasul 4:31).
Bayangkan situasi yang dialami jemaat mula-mula.
Dua pemimpin mereka, Petrus dan Yohanes, baru saja ditangkap dan diancam mati.
Larangannya jelas: tidak boleh berbicara tentang Yesus lagi.
Kalau kita ada di posisi mereka, mungkin kita akan takut, bersembunyi, atau berdoa minta perlindungan.
Tapi lihatlah respons mereka: mereka justru berkumpul bersama dan mengangkat suara kepada Allah dengan berani.
Mereka tidak berdoa dengan nada takut, tetapi dengan nada kemenangan.
Mereka mengingat firman Tuhan dalam Mazmur 2, yang berbicara tentang bangsa-bangsa yang memberontak tetapi Tuhan tetap berkuasa.
Inilah rahasia mereka: di tengah ancaman, mereka justru mendeklarasikan firman Tuhan.
Mereka percaya bahwa firman Tuhan lebih kuat dari ancaman manusia.
Prinsip pertama yang kita pelajari dari doa mereka adalah pentingnya mengingat dan mendeklarasikan firman Tuhan di tengah tekanan.
Mereka tidak berdoa asal-asalan, tetapi mereka membuka Kitab Suci dan mengutip Mazmur 2.
Mereka mengakui bahwa Tuhan adalah “Yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya” (ayat 24).
Dengan mengingat kebesaran Tuhan, rasa takut mereka luntur.
Mereka juga mengingat bahwa apa yang terjadi atas Yesus—penangkapan dan penyaliban-Nya—sudah dinubuatkan dalam firman dan berada dalam kendali Tuhan (ayat 27-28).
Ketika kita menghadapi masalah, kecenderungan kita adalah melihat besarnya masalah.
Tapi jemaat mula-mula mengajarkan kita untuk melihat besarnya Tuhan melalui firman-Nya.
Firman Tuhan mengubah cara pandang kita: dari takut pada manusia menjadi takut pada Tuhan.
Prinsip kedua adalah bahwa doa yang didasari firman akan berani meminta hal-hal besar.
Perhatikan apa yang mereka minta: “Berilah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.
Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus” (ayat 29-30).
Mereka tidak minta selamat dari bahaya, tetapi minta keberanian untuk terus bersaksi dan minta kuasa Tuhan dinyatakan.
Inilah doa yang lahir dari keyakinan pada firman.
Mereka percaya bahwa Tuhan yang berdaulat atas sejarah juga sanggup bertindak dahsyat di masa kini.
Ketika kita merenungkan firman, iman kita dikuatkan, dan kita berani meminta hal-hal yang mustahil.
Dan Tuhan menjawab doa mereka dengan cara luar biasa: tempat bergoncang, mereka dipenuhi Roh Kudus, dan mereka memberitakan firman dengan berani.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Hafalkan dan Renungkan Firman yang Menguatkan.
Pilihlah beberapa ayat Alkitab yang berbicara tentang kebesaran dan kuasa Tuhan, seperti Mazmur 2 atau Yesaya 41:10.
Hafalkan dan renungkan setiap hari, terutama saat kamu merasa takut atau tertekan.
Dengan mengingat firman, hatimu akan dikuatkan dan imanmu dibangkitkan.
Kedua, Berdoalah dengan Berani Berdasarkan Firman. Saat berdoa, jangan hanya menyebutkan masalah, tetapi deklarasikan janji-janji Tuhan.
Misalnya, kalau kamu takut bersaksi, doakanlah seperti jemaat mula-mula: “Tuhan, berilah aku keberanian untuk memberitakan firman-Mu.”
Kalau kamu sakit, doakanlah berdasarkan janji kesembuhan dalam firman.
Tuhan senang menjawab doa yang sesuai dengan kehendak-Nya yang sudah dinyatakan dalam firman.
Dengan dua langkah ini, hidupmu akan dipenuhi keberanian ilahi.
Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana cara praktis mendeklarasikan firman?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa bedanya kalau firman Tuhan hanya “singgah” di hidupmu dibandingkan kalau dia benar-benar “diam” di dalam hidupmu?
Dari tiga buah firman yang diam (saling mengajar, memuji Tuhan, bersyukur), mana yang paling perlu kamu tumbuhkan saat ini?
Langkah kecil apa yang bisa kamu lakukan mulai besok pagi agar firman Tuhan lebih “berlimpah” dalam keseharianmu?
“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu…” (Kolose 3:16).
Misalkan ada seseorang yang tinggal di rumahmu. Ia tidak hanya berkunjung sebentar lalu pergi, tetapi menetap, makan bersamamu, tidur di rumahmu, dan terlibat dalam kehidupan sehari-harimu.
Lama-kelamaan, kehadirannya akan mempengaruhi caramu berpikir, berbicara, dan bertindak.
Inilah gambaran yang Paulus berikan tentang firman Tuhan. Ia berkata, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu.”
Artinya, firman Tuhan harus betul-betul tinggal dan menetap di dalam hati kita, bukan hanya didengar saat kebaktian Minggu atau dibaca sekilas lalu dilupakan.
Firman itu harus menjadi penghuni tetap yang memenuhi setiap sudut kehidupan kita dengan segala kekayaannya .
Firman Kristus itu mengandung kekayaan yang luar biasa.
Seperti sebuah harta karun yang tidak pernah habis digali, semakin kita merenungkan firman Tuhan, semakin kita menemukan hikmat, penghiburan, kekuatan, dan kebenaran yang baru.
Kata “diam” menunjukkan bahwa firman itu harus berakar dan bertumbuh di dalam kita, mempengaruhi motivasi, pikiran, dan perasaan kita yang paling dalam.
Firman Tuhan itu hidup dan aktif.
Kalau firman itu benar-benar diam di dalam kita, maka ia akan bekerja: mengubah cara pandang kita, membentuk karakter kita, dan memimpin kita dalam mengambil keputusan.
Tidak ada bagian hidup kita yang luput dari pengaruhnya.
Firman yang diam di dalam kita akan meluap keluar dalam tiga cara, seperti yang disebutkan di ayat 16.
Pertama, kita akan saling mengajar dan menegur dengan segala hikmat.
Firman Tuhan membuat kita bijaksana, bukan untuk menggurui, tetapi untuk membangun sesama.
Kedua, hati kita akan meluap dengan pujian kepada Tuhan, baik melalui mazmur, puji-pujian, maupun nyanyian rohani.
Ini bukan sekadar nyanyian di gereja, tetapi ungkapan syukur yang natural dari hati yang dipenuhi firman.
Ketiga, kita akan menjadi pribadi yang bersyukur.
Baik ayat 15 maupun 17 menekankan ucapan syukur.
Orang yang hatinya kaya dengan firman Tuhan akan melihat hidup ini sebagai anugerah dan meresponinya dengan hati yang penuh terima kasih.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Bacalah Alkitab dengan Cara yang Baru.
Jangan hanya membaca cepat-cepat.
Bacalah pelan-pelan, renungkan, dan tanyakan pada diri sendiri: “Apa yang ayat ini ajarkan tentang Allah? Apa yang mau Tuhan katakan padaku hari ini? Adakah perintah yang harus kuturuti? Adakah janji yang bisa kupegang?”
Lakukan ini setiap hari, walaupun hanya satu atau dua ayat, tetapi sungguh-sungguh direnungkan.
Kedua, Jadikan Firman sebagai Bahan Percakapan dan Doa.
Cobalah diskusikan firman Tuhan dengan keluarga atau teman seiman.
Ceritakan apa yang kamu pelajari.
Jadikan ayat-ayat yang kamu baca sebagai doa pribadi.
Misalnya, kalau kamu membaca tentang kasih, doakan: “Tuhan, ajari aku mengasihi seperti firman-Mu katakan.”
Dengan begitu, firman itu benar-benar hidup dan diam di dalam keseharianmu.
Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya supaya firman yang dibaca dapat menjadi tindakan.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Apa yang Tuhan janjikan kepada Yosua dalam ayat 3-4, dan apa syaratnya?
Apa artinya “merenungkan firman siang dan malam” dalam kehidupan sehari-hari yang sibuk?
Menurut ayat 7-8, apa ukuran keberhasilan yang Tuhan tetapkan bagi Yosua? Apakah sama dengan ukuran dunia?
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam,…” (Yosua 1:8).
Yosua baru saja kehilangan mentornya, Musa, seorang pemimpin besar yang berbicara langsung dengan Tuhan.
Kini ia harus memimpin bangsa yang besar dan sering keras kepala, masuk ke negeri yang penuh musuh.
Pasti ada rasa takut dan ragu di hatinya. Tapi Tuhan tidak membiarkan Yosua bergumul sendiri. Tuhan datang dengan janji dan perintah yang jelas.
Janji-Nya: “Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu.”
Tapi janji itu disertai syarat: “Hanya kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai seluruh hukum yang diperintahkan Musa.”
Artinya, keberhasilan Yosua bergantung pada hubungannya dengan firman Tuhan. Ini pelajaran penting bagi kita: saat beban hidup terasa berat, Tuhan tidak hanya memberi janji, tapi juga memberi petunjuk jalan menuju keberhasilan, yaitu firman-Nya.
Kekuatan dan keteguhan hati sejati datang dari merenungkan firman Tuhan. Tuhan menyuruh Yosua kuat dan teguh sampai empat kali dalam percakapan ini (ayat 6, 7, 9, 18).
Tapi kekuatan itu tidak bisa dihasilkan sendiri. Yosua harus melakukan sesuatu: merenungkan Taurat siang dan malam.
Kata “merenungkan” di sini berarti membaca dengan suara perlahan, memikirkan dalam-dalam, dan melakukannya dalam hidup. Ini bukan sekadar baca Alkitab lima menit sebelum tidur.
Ini adalah gaya hidup: firman Tuhan menjadi bahan pemikiran sepanjang hari.
Saat kita merenungkan firman, Roh Kudus menerangi hati kita, memberi kita hikmat, dan menguatkan iman kita.
Di tengah tekanan dan ketidakpastian, firman Tuhan menjadi sauh yang kokoh bagi jiwa kita.
Keberhasilan sejati bukan hanya soal mencapai tujuan, tetapi melakukan firman Tuhan.
Tuhan berkata, “Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung kemanapun engkau pergi.”
Artinya, keberhasilan Yosua tidak diukur dari seberapa banyak musuh yang dikalahkan, tetapi dari seberapa setia ia melakukan firman Tuhan.
Ini mengubah cara pandang kita tentang sukses.
Dunia mengukur sukses dari hasil: uang, jabatan, pengakuan. Tuhan mengukur sukses dari proses: ketaatan pada firman-Nya.
Kalau kita taat, Tuhan sendiri yang akan mengurus hasilnya.
Yosua mungkin tidak membayangkan bagaimana bisa mengalahkan Yerikho, tapi karena ia taat pada petunjuk Tuhan yang aneh (berkeliling kota tujuh kali), tembok itu runtuh.
Ketaatan membuka jalan bagi mujizat.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Jadwalkan Waktu Khusus untuk Merenungkan Firman Setiap Hari.
Bukan sekadar membaca cepat, tapi membaca sambil bertanya: “Apa yang firman ini katakan tentang Allah? Apa yang mau Dia ajarkan padaku hari ini? Bagaimana aku bisa melakukannya?” Lakukan di pagi hari agar firman itu menuntun langkahmu sepanjang hari.
Kedua, Terapkan Satu Hal Kecil Setiap Hari.
Pilih satu ayat atau satu prinsip dari bacaanmu, lalu coba lakukan secara konkret.
Misalnya, hari ini kamu membaca tentang kesabaran, maka cobalah bersabar dengan orang yang membuatmu kesal.
Atau hari ini tentang kejujuran, maka katakan hal yang benar meskipun berat.
Dengan melakukan firman sedikit demi sedikit, hidupmu akan dibangun di atas dasar yang kokoh, dan Tuhan sendiri yang akan memberi keberhasilan pada waktu-Nya.
Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya dapat konsisten merenungkan firman.
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Nasihat siapakah yang tidak boleh diikuti?
Siapakah yang diibaratkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air?
Siapakah yang senantiasa berhasil dalam segala perbuatannya?
Siapakah yang tidak tahan dalam penghakiman?
Saudara, pemazmur menggambarkan sekelompok orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh dan yang kesukaannya adalah membaca dan merenungkan firman Tuhan siang dan malam.
Orang-orang seperti itu disebut berbahagia, karena mereka diibaratkan seperti sebatang pohon yang ditanam di tepi aliran air, sehingga daunnya selalu hijau dan tidak layu.
Pada musimnya, pohon itu berbuah dengan lebat.
Ibarat atau perumpamaan ini menggambarkan bagaimana kehidupan dapat mencapai kebahagiaan.
Kebahagiaan itu diperoleh karena seseorang senantiasa merenungkan firman Tuhan siang dan malam, sehingga hidupnya diibaratkan seperti pohon yang selalu menghasilkan buah pada musimnya.
Tuhan Yesus juga mengibaratkan orang percaya seperti ranting pada pohon anggur:
Yohanes 15:4-6“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”
Oleh karena itu, bangunlah hubungan dengan Yesus Kristus melalui persekutuan yang intim dengan Roh Kudus, supaya kita senantiasa menghasilkan buah pada musimnya.
Sama seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air dan mendapatkan makanannya dari aliran tersebut, demikian juga ranting pohon anggur yang selalu mendapatkan makanannya dari pokok anggur induknya.
Ranting pokok anggur harus selalu menempel pada pokok anggur untuk memperoleh makanan.
Jika ranting tidak menempel pada pokok anggur itu, maka ranting tersebut akan mati kekeringan, karena tidak ada aliran makanan dari pokok kepada ranting-rantingnya.
Di luar pokoknya, ranting pohon anggur tidak dapat hidup. Namun jika ranting itu tetap menempel pada pokok anggur induknya, maka ranting tersebut akan menghasilkan buah yang lebat.
Demikianlah seharusnya hubungan kita dengan Yesus Kristus.
Melalui Roh Kudus, kita berhubungan dengan Tuhan Allah, Bapa kita, Tuhan Yesus Kristus.
Melalui doa, pujian, dan penyembahan, kita membaca dan merenungkan firman Tuhan, sehingga kita menikmati pertumbuhan rohani.
Dengan menikmati dan merenungkan firman Tuhan, kita memperoleh hikmat dan pertumbuhan iman, serta mengalami hubungan yang indah dan intim dengan Bapa dan Yesus Kristus melalui tuntunan Roh Kudus.
Roh Kudus juga membentuk kita dan menganugerahkan hikmat, pengetahuan, serta pengertian.
Roh Kudus yang ada di dalam kita mengajarkan apa yang Kristus kehendaki untuk kita lakukan dalam hidup ini, sehingga orang lain dapat melihat kesaksian hidup kita.
Dengan demikian, semakin banyak buah kehidupan yang dihasilkan melalui hidup kita.
Ketika kita kekurangan hikmat dalam hidup, Rasul Yakobus pernah berpesan:
Yakobus 1:5“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–,maka hal itu akan diberikan kepadanya.”
Karena itu, sebenarnya tidak mungkin anak-anak Tuhan tidak memiliki hikmat untuk hidup bersama dengan sesama.
Jika seseorang menyadari bahwa ia kekurangan hikmat, ia dapat memintanya kepada Tuhan.
Namun banyak orang tidak menyadari bahwa mereka hidup tanpa hikmat.
Hal itu sering terjadi karena mereka tidak dengar-dengaran kepada Roh Kudus yang hidup di dalam mereka atau mereka sedang mendukakan Roh Kudus, sehingga Roh Kudus berdiam diri karena mereka sering tidak menghiraukan-Nya.
Saudara, marilah kita dengan sadar membangun hubungan yang mesra dengan Roh Allah yang sudah berdiam di dalam batin kita.
Melalui pujian, penyembahan serta membaca dan merenungkan firman Tuhan, Roh Kudus akan berbicara kepada kita, mengajar kita, menyatakan kesalahan kita, menuntun kita untuk memperbaiki kelakuan kita serta kita bisa belajar bagaimana mengajar orang lain dalam kebenaran.
Hal ini juga dituliskan oleh Rasul Paulus kepada anak rohaninya, Timotius:
2 Timotius 3:16-17“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”
Dengan membaca dan merenungkan firman Tuhan, makan Roh Kudus mengajar dan memperlengkapi kita untuk hidup dalam jemaat Tuhan.
Melalui hal itu, jemaat dapat bertumbuh dan berkembang mengikuti kepenuhan Kristus.
Ketika masyarakat melihat bagaimana jemaat hidup dalam kepenuhan Kristus, mereka akan tertarik dan dapat melihat kemuliaan Kristus.
Jemaat yang hidup dalam kesatuan, keharmonisan, dan damai sejahtera akan menjadi kesaksian yang menarik bagi masyarakat.
Kesaksian seperti inilah yang menjadi terang bagi dunia yang sedang dilanda kegelapan pada akhir zaman ini.
Dunia sangat merindukan bagaimana:
Mazmur 133:1-3“Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”
Saudara, hal ini telah dibuktikan dalam jemaat mula-mula. Lukas menuliskannya dalam:
Kisah Para Rasul 2:44-47“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”
Ketika jemaat mula-mula melakukan apa yang Tuhan Allah perintahkan, maka orang-orang di sekitar mereka melihat sukacita yang mereka alami bersama.
Hal itu membuat banyak orang menyaksikan bahwa kehidupan ilahi nyata terjadi di tengah jemaat mula-mula.
Masyarakat melihat bagaimana kehidupan yang dipimpin oleh firman yang hidup dan kehadiran Allah membuat gaya hidup jemaat mula-mula bagaikan pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang daunnya selalu hijau dan tidak layu serta menghasilkan buah yang lebat.
Karena itu, banyak orang dari luar jemaat mula-mula tertarik untuk bergabung, dan mereka pun diselamatkan.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Kegiatan apakah yang menyebabkan masyarakat Yerusalem tertarik bergabung dengan jemaat mula-mula, sehingga mereka diselamatkan?