Sabtu, 4 April 2026

MEMBERITAKAN INJIL DALAM KEMURNIAN HATI

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

2 KORINTUS 6:3-8

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah contoh dalam kehidupan kita yang justru bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk percaya kepada Kristus?
  2. Bagaimana kita bisa menjaga integritas supaya hidup kita justru menjadi kesaksian yang baik?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, memberitakan Injil bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup.

Memberitakan Injil terlebih kepada orang yang mengenal kita, itu dimulai dengan “bersaksi”. 

Karena kehidupan seorang pemberita Injil akan menjadi bagian dari pesan yang disampaikan.

Rasul Paulus menyatakan, “Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.” (2 Korintus 6:3).

Seorang pemberita Injil harus menyadari bahwa hidupnya sedang dilihat oleh banyak orang.

Jika kehidupan tidak mencerminkan kebenaran yang diberitakan, maka orang akan sulit menerima pesan Injil.

Kemurnian hati terlihat dari bagaimana integritas dalam perkataan dan tindakan, keluarga yang tinggal di rumah, rekan di kantor, di kampus akan dengan mudah menilai kita dari apa yang kita lakukan.

Jika kita sudah melayani di persekutuan misalnya, maka orang akan melihat apakah kita melayani Tuhan dengan tulus, bukan karena uang atau kedudukan.

Apakah kita melayani dengan rendah hati dan tidak sombong, tidak pamer dengan apa yang kita miliki termasuk talenta dan karunia yang Tuhan berikan.

Pesan Injil menjadi kuat bukan hanya karena kebenaran pesannya, tetapi juga karena kesaksian hidup kita yang menyampaikan pesan tersebut.

Jika Roh Kudus bekerja dalam hati kita, maka pelayanan yang kita lakukan akan dipenuhi oleh kasih yang tulus, motivasi yang benar dan kita akan melayani dengan rendah hati.

Kita akan senang ketika melihat rekan kita melayani dengan lebih baik.

Kita tidak menjadi cemburu atau iri hati.

Ketika kita melayani Tuhan, termasuk ketika kita memberitakan Injil kita bisa menghadapi berbagai penilaian dari orang lain, apakah orang akan menghormati atau menghina kita.

Kita bahkan bisa difitnah atau sebaliknya kita juga bisa dipuji.

Namun seorang pelayan Tuhan tidak boleh bergantung pada penilaian manusia.

Yang terpenting adalah tetap setia kepada kebenaran dan tuntunan Tuhan dalam hidup kita.

Kemurnian hati berarti melayani bukan untuk mencari pujian manusia, tetapi untuk menyenangkan hati Tuhan.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apakah engkau pernah mengalami penolakan karena engkau melayani Tuhan?

Pembacaan Alkitab Setahun

1 Samuel 28-31

Jumat, 3 April 2026

MENDERITA KARENA INJIL

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 5:39-42

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang terjadi atas para murid setelah mereka bersaksi dan memberitakan Injil kepada bangsa Yahudi?
  2. Apa respon para murid ketika mereka dilepaskan dari penjara?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Di ayat 38 dan 39, Gamaliel seorang ahli Taurat menyatakan, Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini.

Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan.”

Namun setelah seruan itu, para murid tetap dicambuk dan dilarang berbicara dalam nama Yesus.

Artinya jelas, kebenaran Injil tidak selalu diterima dengan mudah, pelayanan yang berasal dari Allah tetap bisa mengalami penderitaan.

Tetapi apa yang menjadi respon para rasul setelah mereka mengalami aniaya, sungguh menakjubkan, “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.” (Kisah Para Rasul 5:41-42).

Mereka tidak berhenti, tidak bersembunyi, tidak mengurangi kebenaran, tidak mengubah pesan Injil.

Cambukan tidak memadamkan Injil, larangan tidak menghentikan kesaksian, ancaman tidak sanggup menghentikan mereka untuk tidak memberitakan Injil.

Menderita karena Injil berarti kita tetap setia pada kebenaran meski ada tekanan, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, menganggap menderita bagi Kristus sebagai kehormatan dan anugerah.

Tetapi bukan berarti kita mencari penderitaan.

Namun jika penderitaan datang karena kesetiaan kepada Kristus, itu menjadi bagian dari panggilan kita sebagai murid Kristus.

Saudara, Injil yang sejati selalu membawa konfrontasi dengan dunia yang menolak terang.

Namun sejarah membuktikan justru di tengah penderitaan, Injil makin tersebar.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apakah engkau pernah ditolak karena engkau bersaksi tentang kasih Allah?

Pembacaan Alkitab Setahun

1 Samuel 25-27

Kamis, 2 April 2026

KEBERANIAN UNTUK MEMBERITAKAN INJIL

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

EFESUS 6:18-20

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Siapa saja kah yang patut kita doakan dalam waktu doa syafaat kita?
  2. Apakah saat ini kehidupan doa kita sudah menjadi gaya hidup yang berjaga-jaga, atau masih sebatas kebutuhan saat terdesak saja?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Efesus 6 dimulai dari ayat yang ke-6, kita diajar tentang perlengkapan senjata Allah.

Dan Rasul Paulus menutup pengajarannya tentang perlengkapan senjata Allah, yaitu antara lain tentang ikat pinggang kebenaran, perisai iman, dan pedang Roh, ia menambahkan satu unsur yang sangat menentukan: doa.

Paulus kemungkinan besar sedang ada di penjara ketika dia menulis kitab Efesus ini (lihat. Efesus 6:20).

Tetapi Paulus justru tidak meminta doa agar dibebaskan, melainkan agar ia diberi keberanian untuk memberitakan Injil.

Paulus menempatkan doa sebagai dasar peperangan rohani.

Keberanian Paulus bukan hasil karakter alami, melainkan hasil dari upaya untuk terus menerus bergantung kepada Allah.

Paulus adalah seorang rasul yang jika kita membaca kesaksiannya dalam memberitakan Injil, sepertinya Paulus seorang yang tidak kenal takut.

Tetapi disini kita membaca, bahwa seorang Paulus dengan rendah hati meminta agar jemaat mendoakan dia.

Maknanya kita semua membutuhkan untuk didoakan, artinya kita juga sangat perlu untuk saling mendoakan.

Kita butuh didoakan, dalam konteks ayat yang telah kita baca, agar kepada kita diberikan keberanian untuk memberitakan Injil.

Mengapa butuh keberanian, karena ada risiko dari pemberitaan Injil.

Paulus dan para murid sangat memahami risiko itu, bahkan sebagian besar dari mereka harus membayar usaha mereka dalam memberitakan Injil dengan nyawa mereka.

Saat ini risiko dalam memberitakan Injil tetap ada sekalipun berbeda dengan situasi pada gereja yang mula-mula.

Di Indonesia ada Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1979 yang isinya antara lain: Pelaksanaan penyiaran agama tidak dibenarkan untuk ditujukan terhadap orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama lain dengan cara menggunakan bujukan dengan atau tanpa pemberian barang, uang,…

Atas dasar itu betapa kita perlu sungguh bergantung kepada Tuhan ketika kita akan memberitakan Injil, memohon Roh Kudus memberi kita keberanian dan juga hikmat.

Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (lihat. Matius 10:16). 

Artinya kita bisa tetap setia memberitakan Injil, tetapi melakukannya dengan hikmat yang Roh Kudus berikan, mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan keberanian, hikmat dan mohon Roh Kudus menyiapkan orang yang akan kita injili.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan kapan engkau terakhir bersaksi dan menceritakan kasih Yesus?

Pembacaan Alkitab Setahun

1 Samuel 21-24

Rabu, 1 April 2026

DIUTUS UNTUK MEMBERITAKAN INJIL

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 20:19-23

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah respon para murid ketika mereka melihat Yesus?
  2. Apakah yang terjadi ketika Yesus “mengembusi” murid-murid-Nya?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Setelah Yesus mati kayu salib, dikuburkan. Murid-murid-Nya cemas, takut, khususnya kepada orang Yahudi yang telah menyalibkan Yesus.

Mereka takut orang-orang yang telah menyalibkan Yesus, akan mencari mereka.

Walaupun Yesus sudah beberapa kali menubuatkan kebangkitan-Nya, mereka sama sekali tidak memahami bahwa nubuat-nubuat itu akan terjadi.

Tetapi di tengah ketakutan itu, Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu.”

Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka, sehingga akhirnya murid-murid itu bersukacita, ada kelegaan yang luar biasa, ketakutan dan kecemasan menjadi sirna seketika.

Jadi ketika Yesus bertemu dengan murid-murid-Nya, Ia tidak langsung berkata, “Pergilah!” Tetapi Yesus terlebih dahulu memberikan damai sejahtera.

Yesus ingin memastikan bahwa sebelum Ia mengutus para murid untuk bersaksi, memberitakan Injil.

Para murid telah disiapkan terlebih dulu, mereka tidak lagi cemas, takut dan tidak memahami tujuan hidup mereka.

Di ayat 22 bahkan dengan jelas, Yesus mengembusi para murid, dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.”

Kata “mengembusi” dalam bahasa aslinya berarti: menghembuskan nafas, meniup dengan tujuan memberi kehidupan.

Kata yang serupa ada di Kitab Kejadian 2:7 yaitu ketika Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam Adam.

Dengan demikian, khusus kepada para murid, Yesus telah menyiapkan mereka untuk menerima Roh Kudus.

Saat ini kita yang telah percaya dan memiliki Roh Kudus di dalam batin kita.

Perintah yang sama, Tuhan berikan. Yaitu agar kita pergi memberitakan Injil.

Itu bisa kita mulai dengan bersaksi melalui perilaku kita yang baik dan benar sehingga lebih mudah bagi kita ketika Roh Kudus membuka kesempatan untuk kita menceritakan Yesus kepada orang di sekitar kita.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa peran Roh Kudus dalam menolong kita untuk bersaksi.

Pembacaan Alkitab Setahun

1 Samuel 18-20

Selasa, 31 Maret 2026

KEBERANIAN MEMBERITAKAN INJIL

Penulis : Budhi Setiawan

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 4:8-20

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Siapakah yang berbicara dalam ayat 8, dan kepada siapa ia berbicara?
  2. Apa yang memenuhi Petrus ketika ia memberikan jawabannya?
  3. Mujizat apa yang menjadi latar belakang peristiwa ini?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Dalam Nats ini bukan sekadar narasi tentang pembelaan hukum, melainkan sebuah manifestasi dari transformasi radikal karakter manusia di bawah pengaruh Roh Kudus.

  1. Sumber Keberanian: Kepenuhan Roh Kudus (ayat 8)
    Transformasi Karakter: Petrus, yang sebelumnya menyangkal Yesus di depan seorang hamba perempuan karena ketakutan, kini berdiri tegak di hadapan Sanhedrin (mahkamah tertinggi Yahudi).
    Otoritas Ilahi: Kepenuhan Roh Kudus memberikan kemampuan untuk berbicara dengan hikmat yang melampaui pendidikan formalnya sebagai nelayan, sehingga para penguasa “heran” melihat keberanian mereka (ay. 13).
  2. Kristen yang Radikal
    Keberanian para rasul tidak bersifat abstrak; keberanian itu memiliki objek yang sangat spesifik, yaitu Yesus Kristus. Di hadapan orang-orang yang merancang penyaliban Yesus, Petrus justru menegaskan:
    Identitas Sang Penolong: Mukjizat penyembuhan orang lumpuh (pasal 3) secara tegas dikreditkan kepada nama Yesus Kristus, orang Nazaret (ay. 10).
    Metafora Batu Penjuru: Mengutip Mazmur 118, Petrus menjelaskan posisi Yesus sebagai batu yang dibuang oleh para tukang bangunan (pemimpin agama), namun telah menjadi Batu Penjuru (ay. 11).
    Eksklusif Keselamatan: Puncak keberanian mereka ada pada pernyataan di ayat 12.
  3. Keberanian Menghadapi Intimidasi Struktur Kekuasaan
    Sidang Sanhedrin menggunakan taktik tekanan psikologis dan ancaman fisik untuk membungkam para rasul. Namun, teks ini menunjukkan bagaimana iman melampaui rasa takut terhadap institusi manusia:
    Status Sosial vs. Kuasa Roh: Para pemimpin agama mengenali mereka sebagai “orang biasa yang tidak terpelajar” (ay. 13). Namun, realitas bahwa mereka “telah menyertai Yesus” memberikan bobot moral yang tidak bisa dibantah oleh gelar atau jabatan.
    Bukti yang Tak Terbantahkan: Adanya orang yang disembuhkan berdiri di samping mereka (ay. 14) membungkam segala argumen lawan. Keberanian memberitakan Injil seringkali diperkuat oleh bukti nyata dari kuasa Tuhan dalam kehidupan praktis.
  4. Integritas Moral dan Ketaatan
    Ketaatan (ay. 19). Ini adalah prinsip ketidaktundukan sipil yang kudus Ketika hukum manusia bertentangan dengan perintah langsung Tuhan, orang percaya dipanggil untuk memprioritaskan ketaatan kepada Allah.
    Dorongan Internal (Impulsi Roh) Ayat 20 menyatakan, Keberanian ini bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan sebuah keharusan . Pengalaman pribadi dengan kebangkitan Kristus menciptakan api yang tidak bisa dipadamkan oleh ancaman penjara atau maut.
  • Bagaimana cara mempersiapkan diri agar siap memberi jawaban tentang iman?
  • Langkah praktis apa yang dapat dilakukan untuk melatih keberanian rohani?
  • Bagaimana doa dan persekutuan dapat memperkuat keberanian bersaksi?
  • Siapa satu orang yang dapat saya doakan dan jangkau dengan Injil minggu ini?
  • Bagaimana gereja dapat menciptakan budaya keberanian dalam memberitakan Injil?

Pembacaan Alkitab Setahun

1 Samuel 15-17