Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Kekuatiran apa yang dilarang oleh rasul Paulus dalam nats ini?
Apa yang dapat memelihara hati dan pikiran kita, dan bagaimana caranya?
Mengapa dengan memikirkan hal-hal yang mulia dapat menghalau kekuatiran kita?
Seseorang pernah mengatakan, “Kekuatiran adalah menghina Tuhan!” Coba jelaskan!
Saudara, Rasul Paulus mengajarkan kita melalui nats Alkitab ini supaya kita tidak kuatir.
Ia juga mengajarkan agar damai sejahtera memelihara hati dan pikiran kita.
Yesus juga mengajarkan supaya kita tidak kuatir tentang makanan, minuman, dan pakaian.
Matius 6:31 “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?”
Kekuatiran, kecemasan, kebimbangan, bahkan ketakutan merupakan tanda bahwa kita tidak percaya atau kurang percaya atau dengan kata lain, kita tidak beriman.
Saudara, ketika kita sudah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kita perlu memahami bahwa Yesus menjadi Gembala yang baik bagi kita.
Karena itu, berlakulah Firman yang ditulis oleh pemazmur ini bagi kita yang sudah percaya dan beriman kepada Yesus Kristus:
Mazmur 23:1-3 “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.”
Saudara, Yesus juga dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa:
Yohanes 10:11 “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya”
Firman Tuhan dengan jelas menyatakan hubungan kita dengan Dia sehingga kita tidak perlu lagi cemas, kuatir, atau takut.
Kita tidak perlu terus hidup dalam keraguan, kekuatiran dan ketakutan, karena Tuhan Yesus telah menyatakan bahwa Dia adalah Gembala yang baik.
Saudara, ketika dalam kehidupan kita mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan, sangatlah perlu bagi kita untuk mengingat bahwa Tuhan adalah Gembala yang baik.
Gembala yang baik adalah Gembala yang rela mati bagi kita, sehingga kita tidak perlu takut.
Rasul Paulus juga pernah menulis kepada jemaat di Roma:
Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Saudara, percayalah bahwa Tuhan sedang merenda kehidupan kita.
Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
Oleh karena itu, pelajarilah Firman Allah dan rajinlah membaca Firman Tuhan supaya kita tidak perlu hidup dalam kekuatiran, ketakutan, atau kebimbangan.
Dengan semakin mengenal dan memahami Allah sebagai Bapa kita, percayalah damai sejahtera dari Yesus Kristus memenuhi hati, pikiran, kemauan, dan jiwa kita.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Apa yang menyebabkan seseorang senantiasa kuatir, bimbang, atau takut dalam menghadapi kehidupan ini?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Seperti apakah doa seorang munafik?
Mengapa kita berdoa di tempat yang tersembunyi?
Seperti apakah doa yang disebut bertele-tele?
Mengapa tidak boleh berdoa dengan bertele-tele?
Saudara, dalam berdoa kepada Bapa di sorga, Yesus mengajarkan supaya kita berdoa di tempat yang tersembunyi.
Artinya, kita berdoa bukan untuk diketahui oleh orang banyak.
Marilah kita berdoa kepada Bapa di sorga di tempat yang tersembunyi, yaitu tempat di mana tidak dilihat dan diketahui oleh orang lain.
Biarlah Tuhan saja yang mengetahui bahwa kita sedang berdoa.
Sementara itu, orang-orang munafik justru memviralkan bahwa mereka sedang berdoa.
Apa maksudnya? Supaya Tuhan tahu? Atau supaya pemimpin tahu bahwa kita ikut berdoa?
Saudara, sejak masa muda kita telah belajar berdoa.
Kita berdoa dalam berbagai persekutuan doa.
Ada yang disebut doa pekerja, doa semalaman, doa wilayah, dan lain-lain.
Sebenarnya, semua kelompok doa ini dilakukan untuk melatih banyak orang agar rajin berdoa, sehingga timbul kehidupan doa dalam kehidupan masing-masing.
Siapa pun kita, diharapkan memiliki kehidupan doa yang baik, teratur, dan disiplin, dengan tujuan utama membangun hubungan dengan Tuhan.
Dalam hal ini, sangat perlu bagi kita untuk mendorong diri masing-masing agar membiasakan dan mendisiplinkan hidup untuk berdoa kepada Allah Bapa kita.
Dalam hal berdoa, hal ini sangat baik dan berguna untuk membangun kehidupan kita agar memiliki hubungan yang intim dengan Bapa, melalui petunjuk Firman Tuhan dan pimpinan Roh Kudus.
Melalui doa-doa kita, kita juga dapat mengerti kesulitan pemimpin yang memimpin kita di gereja.
Oleh karena itu, marilah kita mendoakan pemimpin kita, para penatua, para gembala, dan pembimbing PA kita.
Rasul Paulus pernah berpesan:
Efesus 6:18-19 “dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil”
2 Tesalonika 3:1 “Selanjutnya, saudara-saudara, berdoalah untuk kami, supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan, sama seperti yang telah terjadi di antara kamu”
Saudara, dari ayat-ayat Firman Tuhan ini, kita dapat belajar bagaimana berdoa dan mendoakan para pemimpin kita serta saudara-saudara kita yang membutuhkan pertolongan untuk didoakan.
Namun, jika ada saudara kita yang membutuhkan pertolongan, marilah kita bertanya terlebih dahulu, pertolongan seperti apa yang sebenarnya dia butuhkan?
Oleh karena itu, ketika kita berdoa dengan roh Kudus, Tuhan mengetahui apa yang Roh maksudkan.
Karena itu, marilah kita melakukannya sesering mungkin melakukannya.
Marilah kita berdoa supaya pertumbuhan rohani kita semakin baik dan sehat sehingga kehidupan rohani kita terus bertumbuh dengan baik dan semakin sehat.
Ada satu hal yang penting dalam berdoa yang diajarkan oleh Yesus Kristus:
Matius 5:23-24 “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”
Dalam hal ini, marilah kita belajar untuk membuka hati dan pikiran kita.
Ternyata, Tuhan Yesus melarang kita berdoa ketika kita sedang bertikai dengan saudara kita.
Tuhan Yesus menyatakan agar kita menghentikan doa kita terlebih dahulu dan berdamai dengan saudara kita yang sedang mengalami persoalan dengan kita.
Saudara, jika berdoa saja disuruh berhenti, bolehkah kita tetap melayani di mimbar sebagai WL, singer, berkhotbah, atau melakukan pelayanan lainnya?
Hal ini sangat perlu kita pikirkan, sejalan dengan keinginan para pemimpin dan penatua kita yang menginginkan pertumbuhan jemaat GKKD BP menjadi 500% dalam empat tahun ini.
Kalau kita tidak hidup rukun, kita tidak dapat berdoa dengan benar karena Yesus mengatakan dengan jelas, “Hentikan doa itu.”
Nah, bagaimana kita dapat mencapai pertumbuhan yang spektakuler ini jika kita sendiri tidak dapat berdoa karena masih memiliki persoalan dengan saudara kita?
Marilah kita berdoa kepada Bapa di tempat yang tersembunyi, di kamar, atau di tempat lain yang memungkinkan kita berdoa tanpa terekspos supaya kesehatan rohani, jiwa, bahkan kesehatan tubuh kita menjadi semakin sehat dan baik.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.
Mengapa banyak anak-anak Tuhan sering jatuh bangun dalam berbagai masalah, kesulitan, sakit penyakit, masalah keuangan, dan persoalan lainnya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Ketika kita mendengar suatu nubuatan, apa yang sepatutnya kita lakukan?
Apa yang seharusnya kita jauhi?
Apa yang akan dilakukan oleh Tuhan Allah bagi anak-anak-Nya ketika Yesus Kristus datang?
Siapa yang akan menggenapi tujuan-Nya dalam pemilihan dan panggilan kita?
Saudara, Rasul Paulus pernah menuliskan betapa mulianya Tuhan kita yang telah menyatakan kasih-Nya ketika memilih kita.
Yesus juga berkata:
Yohanes 15:16 “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”
Ayat Firman Tuhan ini dengan jelas menyatakan bahwa Tuhan Yesuslah yang memilih kita.
Rasul Paulus juga menyatakan bahwa:
Efesus 1:3-4 “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.”
Dari kedua ayat Firman Tuhan ini, kita dapat belajar bahwa Tuhanlah yang memilih dan Yesuslah yang menyatakan hal itu.
Tuhan memilih kita bukan karena kita layak atau memiliki kelebihan tertentu.
Namun, ketika kita merenungkannya, kita dapat menyadari bahwa Tuhan memilih kita semata-mata karena kasih karunia-Nya.
Saudara, Rasul Paulus juga menuliskannya:
1 Tesalonika 5:23-24 “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.”
Oleh karena itu, Saudara, marilah kita menyadari bahwa Tuhan Yesus dengan penuh kasih menghendaki agar kita hidup dalam rencana-Nya.
Itulah sebabnya Dia memilih kita, bukan karena kelebihan atau kebaikan kita, melainkan karena kasih dan kebaikan hati-Nya.
Ketika Dia memilih kita, maka Dia sudah merencanakan bagaimana caranya agar kita dapat mencapai apa yang Dia kehendaki dan melakukan kehendak-Nya.
Tuhan memilih dan menghendaki agar melalui hidup kita, Dia dapat melaksanakan rencana-Nya.
Di dalam kasih karunia-Nya, Dia telah melakukan karya-Nya yang sempurna melalui penyaliban, kematian, kebangkitan, kenaikan-Nya ke sorga dan duduk di sebelah kanan Bapa-Nya.
Yesus mengutus Roh Kudus-Nya kepada semua orang yang dipilih-Nya yaitu orang yang percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat dan Tuhan.
Melalui kehidupan orang-orang percaya ini, Yesus berkehendak menyelesaikan seluruh rencana-Nya dan melakukan seluruh kehendak-Nya melalui orang-orang pilihan-Nya.
Sementara orang-orang pilihan ini hidup dalam kehendak Dia, Yesus Tuhan dan Juru Selamat, Roh Kudus yang diberikan-Nya tinggal di dalam hati mereka.
Roh Kudus memimpin mereka untuk semakin mengenal Bapa, Yesus Kristus.
Roh Kudus juga menuntun orang-orang percaya ini untuk semakin setia dan semakin mencintai Firman Tuhan, sehingga mereka semakin rela melakukan rencana dan kehendak Allah.
Melalui proses mendengarkan arahan Roh Kudus dan semakin bersemangat melakukan perintah Tuhan, maka mereka semakin menjadi serupa dengan Yesus, Tuhan dan Juru Selamat mereka.
Dalam proses inilah mereka akan semakin rela dan taat kepada Tuhan.
Yesus memulai dengan memilih mereka dan melanjutkan seluruh rencana-Nya kepada mereka.
Dengan demikian, Tuhan Yesus juga yang akan menyelesaikan dengan sempurna rencana-Nya ketika Dia datang kembali.
Tuhanlah yang memilih mereka, dan Tuhanlah juga yang memimpin mereka.
Tuhan menguduskan hidup mereka sehingga mereka dapat mencapai apa yang Yesus kehendaki melalui kehidupan mereka sebagai orang percaya.
Bapa telah memilih mereka di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan, supaya hidup mereka di dalam Yesus Kristus menjadi kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya.
Semua itu berlangsung melalui bimbingan Roh Kudus yang Allah Bapa karuniakan kepada mereka ketika mereka mau percaya dan menyerahkan hidup untuk dipimpin oleh Roh Kudus.
Roh Kudus dianugerahkan untuk mengajar, menolong, menghibur, dan memimpin mereka.
Haleluya, puji Tuhan, Amin.
Mengapa ada banyak orang percaya yang tidak mencapai apa yang telah direncanakan Tuhan bagi mereka, yaitu hidup kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya?
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Berapa lama perempuan dalam perikop yang kita baca hari ini mengalami perdarahan?
Apa saja yang telah diusahakannya demi menyembuhkan penyakitnya?
Apa yang dia putuskan untuk dilakukan ketika mendengar kabar tentang Yesus?
Apakah penyakitnya sembuh?
Markus 5:25–29 membawa kita kepada seorang perempuan yang selama dua belas tahun mengalami pendarahan.
Menurut Imamat 15:25–27, pendarahan berkepanjangan membuat seorang perempuan berada dalam keadaan najis secara ritual.
Kondisi tersebut membatasi partisipasinya dalam kehidupan ritual dan membuat apa yang disentuhnya menjadi najis menurut ketentuan Taurat.
Dua belas tahun bukan waktu yang singkat; Markus bahkan mengatakan bahwa ia telah berulang kali ditangani banyak tabib, menghabiskan seluruh miliknya, tetapi keadaannya justru semakin buruk.
Di tengah keputusasaan itu ia “mendengar berita-berita tentang Yesus” dan berkata, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”
Menurut logika kenajisan ritual yang dianut orang Yahudi, sentuhannya seharusnya membuat orang lain najis; tetapi ketika ia menjamah Yesus, arah pengaruh itu seolah dibalik: bukan kenajisan perempuan itu yang menguasai Yesus, melainkan kuasa Kristus yang membawa pemulihan kepadanya.
Ia datang tanpa status, tanpa kekayaan, bahkan tanpa keberanian untuk berbicara langsung kepada Yesus.
Yang dimilikinya hanyalah keyakinan sederhana: jika aku dapat datang kepada-Nya, masih ada pengharapan.
Dunia modern memiliki rumah sakit yang lebih maju, obat-obatan yang lebih efektif, dan teknologi diagnostik yang tidak pernah dibayangkan masyarakat abad pertama.
Ada orang yang bertahun-tahun menjalani pengobatan; ada yang kehabisan sumber daya; ada pula yang tampak sehat tetapi menyimpan luka, kecemasan, kesepian, atau pergumulan keluarga yang panjang.
Namun kisah ini tidak mengajarkan bahwa pengobatan harus ditinggalkan dan diganti dengan iman.
Alkitab justru memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: ketika kemampuan manusia mencapai batasnya, pengharapan kepada Tuhan tidak harus ikut berakhir.
Iman perempuan itu bukan kekuatan magis yang berada pada kain jubah Yesus.
Karena itu, pertanyaan bagi kita hari ini bukan sekadar, “Apakah saya percaya bahwa Yesus dapat melakukan mukjizat?” tetapi, “Ketika pergumulan berlangsung lama, apakah saya masih mau datang kepada Yesus?” Dua belas tahun penderitaan dapat membuat seseorang berhenti berharap.
Mungkin kita pun mempunyai “dua belas tahun” kita sendiri: doa yang belum terjawab, penyakit yang belum pulih, keluarga yang belum berubah, pelayanan yang terasa tidak berbuah, atau persoalan yang berulang kali membuat kita kecewa.
Perempuan itu mengajarkan bahwa iman tidak selalu tampil dalam tindakan spektakuler; terkadang iman hanyalah keberanian untuk mengambil satu langkah lagi menuju Kristus ketika semua alasan mengatakan untuk menyerah.
Datanglah kepada-Nya secara pribadi.
Sebab iman bukan sekadar mengetahui bahwa Yesus berkuasa; iman adalah keberanian untuk mendekat kepada-Nya dan mempercayakan hidup kita kepada kuasa, kasih, dan kehendak-Nya.
Renungkan dan diskusikan untuk menjawab pertanyaan ini : “Ketika pergumulan berlangsung lama, dan sudah banyak hal yang saudara lakukan demi kesembuhan, apakah saya masih mau datang kepada Yesus?”
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.
Siapa yang datang kepada Yesus? Apa yang dimohonkan kepadaNya?
Apa jawab Yesus?
Apa yang diminta perwira itu mengenai bagaimana Yesus menyembuhkan?
Mengapa perwira itu yakin Yesus bisa melakukan apa yang diminta nya?
Kisah dalam perikop ini mempertemukan dua orang yang secara sosial dan religius berada pada dunia yang berbeda: Yesus, seorang Yahudi, dan seorang perwira Romawi di Kapernaum.
Seorang “perwira” atau centurion—adalah figur yang memiliki otoritas dalam struktur militer Romawi, secara konseptual memimpin sekitar seratus prajurit.
Namun orang yang terbiasa memberi perintah ini datang kepada Yesus karena hambanya sedang menderita hebat.
Yang mengejutkan adalah responnya ketika Yesus menyatakan kesediaan untuk menolong: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (ay. 8).
Ia memahami kuasa Yesus melalui dunia yang dikenalnya: otoritas.
Sebagaimana perintah seorang perwira dilaksanakan karena ada otoritas di belakang perkataannya, demikian ia percaya bahwa penyakit pun berada di bawah otoritas Kristus.
Yang luar biasa, keyakinan seperti ini justru muncul dari seorang non-Yahudi.
Manusia modern hidup dalam zaman yang memiliki kemampuan medis dan teknologi yang tidak pernah dimiliki sang perwira itu, tetapi kita tetap berhadapan dengan banyak keadaan yang berada di luar kendali.
Penyakit, kehilangan, konflik keluarga, tekanan ekonomi, dan ketidakpastian masa depan dapat membuat seseorang menyadari betapa terbatasnya kuasanya.
WHO melaporkan bahwa pada 2021 sekitar 1,1 miliar orang—hampir satu dari tujuh penduduk dunia—hidup dengan gangguan mental, termasuk sekitar 359 juta orang dengan gangguan kecemasan.
Data WHO yang diperbarui pada September 2026 juga memperkirakan sekitar 322 juta orang mengalami depresi pada 2023.
Angka-angka ini bukan berarti semua persoalan tersebut dapat disederhanakan menjadi masalah kurang iman; Iman bukan kepastian bahwa Tuhan akan melakukan segala sesuatu persis seperti yang kita inginkan; iman adalah keyakinan bahwa otoritas Tuhan tetap lebih besar daripada keadaan yang kita hadapi.
Kita membutuhkan teknologi dan pengobatan, tetapi kita juga membutuhkan hati yang mengetahui kepada siapa pengharapan terakhir kita diletakkan.
Hari ini, mungkin ada “hamba yang sakit” dalam kehidupan kita—sesuatu yang sangat kita kasihi tetapi tidak sanggup kita pulihkan dengan kekuatan sendiri.
Bisa berupa kesehatan, keluarga, pekerjaan, pelayanan, hubungan yang retak, atau masa depan yang tidak pasti.
Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah Tuhan sanggup menolong saya?”, tetapi lebih dalam: “Apakah saya tetap mempercayai firman-Nya ketika keadaan belum berubah?”.
Dalam kehidupan modern, kita dapat menerapkannya dengan membawa persoalan kepada Tuhan dalam doa, mencari pertolongan medis atau profesional ketika diperlukan, melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita, lalu menyerahkan hal yang tidak mampu kita kendalikan kepada-Nya.
Jangan biarkan berita buruk menjadi suara terakhir dalam hati kita.
Jangan biarkan diagnosis, kegagalan, ketakutan, atau keadaan lebih menentukan pengharapan kita daripada firman Tuhan.
Kita memang tidak dapat memerintahkan Tuhan melakukan kehendak kita, tetapi kita dapat mempercayai karakter dan kuasa-Nya.
Iman yang besar bukan berkata, “Tuhan harus melakukan apa yang saya minta,” melainkan, “Tuhan, aku percaya kepada-Mu bahkan ketika aku belum melihat jawabannya.”
Satu firman-Nya cukup—karena yang menentukan bukan panjangnya perkataan, melainkan siapa yang mengucapkannya.
Renungkan dan diskusikan dalam kelompok PA dan persekutuan, ketika menghadapi sakit dan penderitaan, apakah saudara yakin firmanNya yang disampaikan pasti memberikan kesembuhan dan pemulihan?