Senin, 20 Juli 2026

PEMULIHAN YANG MENJANGKAU BANGSA-BANGSA

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 15:15-18

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Nubuat apa yang dikutip Yakobus dari kitab Amos (ayat 16-17), dan bagaimana ia menggunakannya untuk menyelesaikan perselisihan?
  2. Apa arti “pondok Daud yang roboh” dalam konteks Perjanjian Baru, dan bagaimana itu digenapi dalam Yesus dan gereja?
  3. Mengapa penting bagi kita untuk memahami bahwa pemulihan Tuhan menjangkau “semua bangsa” (bukan hanya satu kelompok)?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan.” (Kisah Para Rasul 15:16).

Coba bayangkan situasi di gereja mula-mula.

Ada orang Yahudi yang sejak kecil diajarkan bahwa mereka adalah umat pilihan Allah, dan orang non-Yahudi dianggap najis.

Sekarang, banyak orang non-Yahudi yang percaya Yesus.

Pertanyaan besar muncul: “Apakah mereka harus menjadi Yahudi dulu sebelum menjadi Kristen?” Ini adalah perdebatan sengit yang bisa memecah belah gereja.

Namun, Roh Kudus memimpin mereka melalui Yakobus untuk melihat kebenaran yang lebih besar: keselamatan adalah anugerah bagi semua orang, tanpa kecuali.

Yakobus mengingatkan bahwa nubuat Amos sudah meramalkan hal ini: Tuhan akan memulihkan kerajaan Daud, dan melalui pemulihan itu, bangsa-bangsa lain akan mencari Tuhan.

Kisah Para Rasul 15:15-18 mencatat pemulihan Allah tidak pernah eksklusif, tetapi inklusif bagi semua bangsa.

Banyak orang mungkin berpikir pemulihan “pondok Daud” hanya untuk bangsa Israel.

Tetapi Yakobus menunjukkan bahwa nubuat Amos berbicara tentang “segala bangsa yang disebut dengan nama-Ku” (ayat 17).

Artinya, sejak awal, rencana Allah adalah menjangkau seluruh dunia.

Gereja tidak boleh menjadi klub eksklusif yang hanya menerima orang-orang tertentu.

Kristus mati untuk semua orang, dari segala suku, bahasa, dan bangsa.

Prinsip ini mengingatkan kita bahwa kita dipanggil untuk menjadi gereja yang terbuka, merangkul semua orang tanpa memandang latar belakang, status, atau etnis.

Segala nubuat Perjanjian Lama menemukan penggenapannya dalam Yesus Kristus dan gereja-Nya.

Pemulihan “pondok Daud” tidak hanya berarti kerajaan Israel secara politis.

Itu menunjuk pada Kerajaan Allah yang didirikan melalui Yesus, keturunan Daud, dan diteruskan melalui gereja yang terdiri dari semua orang percaya.

Dalam Kristus, tembok pemisah antara Yahudi dan non-Yahudi telah roboh (Efesus 2:14).

Semua orang yang percaya kepada Yesus adalah sama di hadapan Allah.

Ini adalah kabar baik yang luar biasa: kita tidak perlu menjadi “sempurna” atau memenuhi syarat-syarat tertentu untuk diterima.

Kita datang kepada Kristus dengan iman, dan Dia memulihkan kita serta menjadikan kita bagian dari umat-Nya.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Jangan Pernah Menutup Pintu bagi Siapa Pun. Periksa sikap hatimu terhadap orang-orang yang berbeda latar belakang.

Apakah kamu cenderung memilih-milih teman? Apakah kamu merasa lebih rohani dari orang yang baru percaya?

Prinsip pemulihan yang menjangkau semua bangsa mengajarkan kita untuk menjadi inklusif, seperti Tuhan.

Buka hatimu untuk menerima semua orang, tanpa prasangka.

Kedua, Jadilah Jembatan bagi Mereka yang Jauh dari Tuhan.

Berdoalah untuk orang-orang yang belum percaya di sekitarmu.

Carilah kesempatan untuk membagikan kasih Kristus kepada mereka, baik melalui perkataan maupun tindakan.

Ingatlah bahwa pemulihan yang Tuhan mulai dalam hidupmu juga harus menjangkau orang lain.

adilah saluran berkat yang mengalir kepada semua bangsa.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana dapat terlibat dalam pemulihan pondok daud.

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 22-23

Minggu, 19 Juli 2026

PEMULIHAN PONDOK DAUD

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

AMOS 9:11-15

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dimaksud dengan “pondok Daud yang telah roboh” dalam Amos 9:11, dan mengapa gambaran “pondok” (bukan istana) dipakai?
  2. Menurut ayat 11-12, siapa saja yang termasuk dalam pemulihan pondok Daud, dan apa artinya bagi kita yang bukan keturunan Israel?
  3. Apa janji pemulihan konkret yang Tuhan berikan dalam ayat 13-15 (tentang panen, kebun anggur, dan pembangunan kota), dan bagaimana itu bisa menjadi pengharapan kita hari ini?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala,” (Amos 9:11).

Bayangkan sebuah pondok tua yang sudah roboh. Atapnya bocor, dindingnya retak, dan hampir tidak layak huni.

Itulah gambaran kerajaan Daud pada zaman Amos.

Dulu, di masa Daud dan Salomo, Israel adalah bangsa yang bersatu dan kuat.

Tapi karena dosa dan perpecahan, kerajaan itu pecah menjadi dua, dan akhirnya kerajaan utara (Israel) berada di ambang kehancuran.

Amos datang dengan berita penghakiman yang keras.

Tapi di akhir kitabnya, Tuhan memberikan kabar sukacita: “Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh.”

Ini adalah janji bahwa Tuhan tidak pernah menyerah pada umat-Nya.

Di tengah kegagalan dan kehancuran, masih ada pengharapan.

Prinsip pertama yang kita lihat dari nubuat ini adalah bahwa pemulihan sejati selalu dimulai dari Tuhan.

Kata “Aku” muncul berulang kali: “Aku akan mendirikan… Aku akan menutup… Aku akan memulihkan…” Ini menunjukkan bahwa inisiatif pemulihan sepenuhnya berasal dari Allah.

Manusia mungkin telah gagal, tetapi Tuhan tetap setia.

Pondok Daud yang roboh tidak bisa diperbaiki oleh usaha manusia; hanya Tuhan yang bisa membangkitkannya kembali.

Ini mengingatkan kita bahwa keselamatan dan pemulihan hidup kita juga sepenuhnya adalah karya anugerah Tuhan.

Ketika kita jatuh dalam dosa, ketika hubungan kita hancur, ketika kehidupan kita terasa roboh, kita tidak perlu berusaha memperbaikinya sendiri.

Kita hanya perlu datang kepada Tuhan, dan Dia yang akan memulihkan.

Prinsip kedua adalah bahwa pemulihan yang Tuhan lakukan bukan hanya untuk Israel, tetapi membawa berkat bagi semua bangsa.

Ayat 11-12 berbicara tentang “sisa-sisa Edom” dan “segala bangsa yang disebut dengan nama-Ku.”

Ini menunjuk pada penggenapan yang lebih besar: melalui keturunan Daud, yaitu Yesus Kristus, berkat keselamatan akan menjangkau seluruh dunia.

Pemulihan “pondok Daud” bukan hanya tentang politik Israel, tetapi tentang Kerajaan Allah yang meliputi semua orang dari segala suku dan bangsa.

Bagi kita hari ini, ini adalah kabar baik: pemulihan yang Tuhan tawarkan tidak terbatas pada satu kelompok tertentu.

Semua orang yang percaya kepada Yesus, baik Yahudi maupun non-Yahudi, termasuk dalam pemulihan itu.

Kita adalah bagian dari “pondok Daud” yang sedang dibangun kembali.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Percayalah bahwa Tuhan Sanggup Memulihkan Hidupmu.

Apakah ada bagian hidupmu yang terasa “roboh”? Mungkin hubungan keluarga yang retak, mungkin kesehatan yang menurun, mungkin keuangan yang berantakan, atau mungkin perasaan bersalah dan gagal yang menghantui.

Bawalah semua itu kepada Tuhan.

Percayalah bahwa Allah yang sama yang berjanji memulihkan pondok Daud juga sanggup memulihkan kehidupanku.

Kedua, Jadilah Alat Pemulihan bagi Orang Lain.

Tuhan memulihkan kita bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi agar kita menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Lihatlah di sekitarmu: adakah saudara yang sedang “roboh”? Dengarkan, doakan, dan bantulah mereka dengan kasih.

Dengan menjadi alat pemulihan bagi sesama, kita sedang ikut membangun kembali “pondok Daud” di dunia ini, sampai Kristus datang kembali dan memulihkan segala sesuatu.

Diskusikan dalam kelompok PA saudara, bagaimana cara praktis menjadi berkat bagi pemulihan saudara yang sedang menderita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 19-21

Sabtu, 18 Juli 2026

MEMULIHKAN HUBUNGAN YANG RUSAK

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 5:25-26

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang Yesus perintahkan agar kita lakukan dengan “lawan” kita, dan mengapa harus segera dilakukan?
  2. Apa konsekuensi dari tidak mau berdamai menurut perumpamaan ini, dan bagaimana hal itu berlaku dalam kehidupan rohani kita?
  3. Langkah praktis apa yang dapat kamu lakukan minggu ini untuk memulihkan satu hubungan yang sedang renggang?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Yesus mengajarkan sebuah prinsip yang sangat praktis: jangan menunda berdamai.

Di zaman-Nya, jika seseorang berutang atau berselisih dan dibawa ke pengadilan, ia bisa dijebloskan ke penjara sampai utangnya lunas.

Ini adalah gambaran nyata tentang betapa beratnya konsekuensi jika kita membiarkan konflik berlarut-larut.

Ketika kita membiarkan kemarahan, sakit hati, atau perselisihan tidak terselesaikan, itu seperti kita sedang membawa “utang” rohani yang semakin besar.

Yesus tidak berkata, “Cobalah berdamai kalau ada waktu.”

Ia berkata, “Cepatlah!” Ini menunjukkan bahwa memulihkan hubungan yang rusak adalah hal yang sangat mendesak, bukan sesuatu yang bisa ditunda-tunda.

Konflik yang tidak diselesaikan akan semakin memberatkan hidup kita.

Yesus menggambarkan proses hukum: dari lawan, ke hakim, ke penjara.

Ini adalah analogi yang kuat tentang bagaimana perselisihan yang tidak dibereskan akan semakin rumit dan menyakitkan.

Beban itu bukan hanya dirasakan oleh orang yang kita sakiti, tetapi juga oleh kita sendiri.

Sakit hati yang tidak diampuni bisa menjadi akar kepahitan yang meracuni hati, merusak kedamaian, dan bahkan mengganggu kesehatan.

Semakin lama kita menunda, semakin besar pula “bunga” dari beban itu.

Karena itu, Yesus mendesak kita untuk segera mengambil langkah menyelesaikan masalah, sebelum semuanya menjadi semakin berat.

Berdamai adalah tindakan kasih yang memuliakan Tuhan.

Ini bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kekuatan rohani.

Ketika kita mengambil inisiatif untuk berdamai, kita sedang mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Kita juga sedang meneladani Kristus yang lebih dulu mencari dan mendamaikan kita dengan Allah.

Dalam Roma 12:18, Paulus menulis: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam damai dengan semua orang.”

Ada kata “sedapat-dapatnya” – artinya, tidak semua orang mau berdamai, tetapi kita harus berusaha semaksimal mungkin.

Yesus mengajarkan bahwa tanggung jawab untuk memulihkan hubungan ada pada kita yang mengaku percaya kepada-Nya.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Segera Ambil Inisiatif untuk Berdamai.

Jika ada seseorang yang kamu sadari sedang sakit hati kepadamu, jangan menunggu.

Hubungi, temui, atau kirim pesan dengan rendah hati.

Kamu tidak perlu menunggu sampai perasaanmu nyaman.

Lakukan sekarang, karena Yesus berkata “cepatlah berdamai.”

Bahkan jika orang itu tidak menerima permintaan maafmu, setidaknya kamu sudah melakukan bagianmu dan hatimu menjadi lega.

Kedua, Jangan Membawa Masalah Lama ke Hari Berikutnya.

Prinsip “jangan biarkan matahari terbenam sebelum padam amarahmu” (Efesus 4:26) sangat relevan di sini.

Sebelum tidur, periksalah hatimu: apakah ada orang yang masih membuatmu marah?

Apakah ada konflik yang belum terselesaikan?

Jika ya, ambil langkah sederhana untuk mulai memulihkannya, entah dengan berdoa untuk orang itu atau mengirim pesan untuk menjadwalkan pertemuan.

Damai dengan sesama adalah jalan menuju damai dengan Tuhan.

Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya supaya cepat memulihkan hubungan yang retak.

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 16-18

Jumat, 17 Juli 2026

BERDAMAI SEBELUM MEMBAWA PERSEMBAHAN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 5:23-24

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Menurut Matius 5:23-24, apa yang harus dilakukan jika kita teringat bahwa ada saudara yang sakit hati terhadap kita saat kita sedang beribadah?
  2. Mengapa Yesus memerintahkan untuk “meninggalkan persembahan” lebih dulu, bukannya menyelesaikan ibadah dulu baru berdamai?
  3. ⁠⁠Apa hubungannya antara kemarahan/penghinaan (ayat 22) dengan perintah untuk berdamai (ayat 23-24)?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Coba bayangkan seseorang dengan sungguh-sungguh membawa domba atau burung merpati ke Bait Allah untuk dipersembahkan kepada Tuhan.

Ia sudah memilih hewan yang terbaik, berjalan jauh, dan rela mengeluarkan biaya.

Namun di tengah proses ibadah, Roh Kudus mengingatkan: “Ada saudaramu yang masih sakit hati kepadamu.”

Yesus berkata: tinggalkan persembahanmu di mezbah, pergilah berdamai, baru kembali.

Ini bukan berarti Yesus meremehkan ibadah.

Justru sebaliknya, Ia menunjukkan bahwa Tuhan lebih menghargai hubungan yang dipulihkan daripada ritual yang indah.

Di zaman Yesus, orang sangat serius dengan persembahan.

Tapi Yesus mengajarkan bahwa persembahan tanpa hati yang berdamai adalah sia-sia di mata Allah.

Tuhan tidak menerima ibadah dari orang yang masih menyimpan permusuhan dengan sesamanya.

Banyak orang berpikir ibadah hanya tentang datang ke gereja, bernyanyi, memberi persembahan, dan berdoa.

Padahal Yesus mengatakan bahwa semua itu harus didahului oleh tindakan berdamai dengan saudara.

Kata “berdamai” di sini berarti mengusahakan pemulihan hubungan, entah dengan meminta maaf atau mengampuni.

Jika kita datang beribadah dengan hati yang masih sakit hati, marah, atau tidak mau mengampuni, maka ibadah kita menjadi tidak utuh.

Bukan berarti Tuhan tidak mau mendengar doa kita, tetapi ada dinding pemisah yang harus dirobohkan lebih dulu.

Hubungan kita dengan Tuhan (vertikal) tidak bisa dipisahkan dari hubungan kita dengan sesama (horizontal).

Yesus mengajarkan bahwa sebelum kita “membawa persembahan” (beribadah kepada Tuhan), kita harus terlebih dahulu “berdamai dengan saudara.”

Ini bukan pilihan, tetapi perintah.

Mengapa? Karena kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama adalah dua sisi dari mata uang yang sama (1 Yohanes 4:20).

Tidak mungkin kita mengaku mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan, tapi membenci saudara yang kelihatan.

Jadi, jika ada orang yang masih sakit hati terhadap kita, atau kita yang sakit hati terhadap orang lain, itu adalah prioritas yang harus segera diselesaikan sebelum kita beribadah.

Bahkan, Yesus berkata, “Tinggalkan persembahanmu di depan mezbah.”

Ini menunjukkan kepentingan yang tinggi.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Lakukan “Pemeriksaan Hati” Sebelum Ibadah.

Setiap kali kamu hendak beribadah (baik di gereja maupun doa pribadi), luangkan waktu sejenak untuk bertanya: “Apakah ada seseorang yang masih sakit hati kepadaku? Atau adakah orang yang masih tidak aku ampuni?”

Jika ya, ambil keputusan untuk segera menyelesaikannya.

Ini bisa berarti menelepon, meminta maaf, atau mendoakan orang tersebut.

Kedua, Inisiatif untuk Berdamai, Bukan Menunggu.

Jika kamu sadar ada saudara yang “memiliki sesuatu terhadap engkau,” jangan menunggu dia yang datang lebih dulu.

Yesus menyuruh kamu yang pergi berdamai.

Ambil langkah pertama, meskipun itu tidak mudah.

Dengan mengambil inisiatif, kamu sedang meneladani Kristus yang lebih dulu mencari dan mendamaikan kita dengan Allah.

Damai sejahtera yang dihasilkan akan membuat ibadahmu menjadi lebih bermakna dan menyenangkan hati Tuhan.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya supaya dapat menyembah dengan tulus setiap hari.

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 13-15

Kamis, 16 Juli 2026

HATI YANG JAUH DARI TUHAN

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MARKUS 7:5-8

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dipertanyakan oleh para pemimpin agama Yahudi kepada Yesus?
  2. Mengapa Yesus menyatakan bahwa orang-orang Farisi adalah orang-orang munafik?
  3. Apa sebenarnya inti ajaran orang-orang Farisi?
  4. Apa yang diabaikan oleh orang-orang Farisi, dan apa yang mereka ajarkan?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, melalui percakapan antara orang-orang Farisi dengan Yesus Kristus, kita dapat memahami inti pembicaraan mereka.

Orang-orang Farisi bertanya, “Mengapa murid-murid-Yesus makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu?”

Hal itu mereka lakukan karena mencuci tangan sebelum makan merupakan adat kebiasaan yang diajarkan oleh nenek moyang mereka secara turun-temurun.

Yesus menjawab bahwa nabi Yesaya telah menubuatkan hal itu dengan berkata, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.

Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan hanyalah perintah manusia.

Perintah Allah kamu abaikan demi berpegang pada adat istiadat manusia.”

Saudara, bagi orang-orang Yahudi hal ini sangat jelas, karena ada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bertugas menjaga serta mengajarkan tradisi-tradisi tersebut di tengah masyarakat.

Apakah keadaan seperti ini juga dapat terjadi di tengah kehidupan kekristenan pada masa sekarang?

Secara tertulis sebenarnya tidak ada, tetapi dalam praktiknya keadaan seperti ini sering kita alami.

Misalnya, ketika kita menyanyikan pujian dan penyembahan dalam ibadah.

Sering kali kita memang bernyanyi dan memuji Tuhan, tetapi kita melakukannya hanya sebagai kebiasaan.

Karena itu, diperlukan seorang worship leader (WL) yang memimpin jalannya pujian agar seluruh jemaat dapat beribadah dengan tertib dan penuh kekhusyukan.

Namun, tidak jarang instruksi yang diberikan oleh WL tidak diikuti oleh jemaat.

Misalnya, ketika WL berkata, “Mari kita bersorak!” sering kali tidak ada yang benar-benar bersorak.

Jemaat justru hanya bertepuk tangan dengan lebih keras dan lebih cepat.

Ketika WL berkata, “Mari kita menari!” sering kali tidak ada seorang pun yang menari, bahkan terkadang WL sendiri tidak melakukannya.

Hal-hal seperti inilah yang sering saya amati dalam berbagai gereja.

Memang tidak selalu demikian, tetapi keadaan seperti ini cukup sering terjadi.

Instruksi WL tidak dilakukan sebagaimana mestinya.

Ketika diajak bersorak, hanya satu atau dua orang yang melakukannya, sedangkan yang lainnya tetap hanya bertepuk tangan.

Apakah keadaan seperti ini dapat disamakan dengan memuliakan Tuhan hanya dengan bibir, tetapi tidak dilakukan dengan sepenuh hati?

Seharusnya kita memuji dan menyembah Tuhan dengan segenap hati dan pikiran kita.

Ketika WL mengajak, “Mari kita angkat tangan kita,” sering kali masih terdengar suara tepuk tangan.

Hal itu menunjukkan bahwa masih ada jemaat yang tidak mengangkat tangan.

Bukankah keadaan seperti inilah yang sering kita jumpai dalam ibadah di gereja? Marilah kita mengamati dan merenungkannya.

Allah menginginkan agar ibadah kita benar-benar lahir dari jiwa dan roh, sehingga tubuh kita dapat mengikutinya dengan baik.

Dengan demikian, ketika firman Tuhan disampaikan, roh kita sudah siap dan terbuka untuk menerima benih firman.

Marilah kita beribadah bukan hanya dengan bibir, tetapi dengan segenap hati, jiwa, pikiran dan seluruh keberadaan kita.

Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Apa yang menyebabkan kita sering mengabaikan instruksi dari WL ketika memuji dan menyembah Tuhan?

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 10-12