Selasa, 20 Januari 2026

DIBERKATI ORANG YANG LAPAR DAN HAUS AKAN KEBENARAN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 5:1-6

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa arti praktis menjadi “miskin di hadapan Allah” dalam keseharianmu?
  2. Bagaimana caramu membangun rasa “lapar dan haus akan kebenaran”?
  3. Dalam situasi apa saat ini kamu dipanggil untuk menunjukkan kelemahlembutan?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan”. (Matius 5:6).

Injil Matius mencatat Yesus sebagai Raja yang dinubuatkan.

Khotbah di Bukit adalah manifesto Kerajaan-Nya, yang menyatakan nilai-nilai dan karakter warga kerajaan itu.

Di tengah dunia yang mengejar kekayaan, kesenangan, kekuasaan, dan kepuasan diri, Yesus memulai dengan pernyataan yang mengejutkan: berbahagialah orang yang miskin, berdukacita, lemah lembut, dan lapar akan kebenaran.

Ini bukanlah daftar perintah, tetapi gambaran anugerah—bagaimana hati yang diobati oleh kasih karunia akan tampak.

Yesus mengundang kita untuk mengevaluasi ulang sumber kebahagiaan kita dan menemukannya dalam kepenuhan yang hanya disediakan Allah bagi mereka yang datang dengan hati yang lapang dan haus.

Dua ucapan bahagia pertama (ayat 3-4) menegaskan prinsip bahwa pintu masuk ke dalam kebahagiaan dan Kerajaan Allah dimulai dengan pengakuan akan kemiskinan dan dukacita rohani.

“Miskin di hadapan Allah” berarti menyadari bahwa kita tidak memiliki apa pun untuk ditawarkan kepada Allah, dan sepenuhnya bergantung pada belas kasihan-Nya.

Dukacita yang berbahagia adalah respon hati ketika kita menyadari betapa dalamnya dosa kita dan betapa besar kasih karunia Allah.

Prinsip ini meruntuhkan semua kebanggaan dan kepercayaan diri duniawi.

Kita hanya dapat dihibur dan dipulihkan ketika kita berhenti berpura-pura kuat dan membiarkan Allah menjadi segalanya.

Kebahagiaan ini adalah anugerah yang diterima oleh orang yang rendah hati.

Ucapan bahagia ketiga dan keempat (ayat 5-6) mengajarkan bahwa kepuasan sejati bukan berasal dari memiliki segalanya, tetapi dari memiliki hati yang lemah lembut dan merindukan kebenaran.

Kelemahlembutan adalah kekuatan yang tidak memaksakan kehendak sendiri, melainkan mempercayakan hidup kepada kedaulatan Allah.

Dari sikap inilah lahir kerinduan yang membara—seperti lapar dan haus secara fisik—akan kebenaran: keinginan untuk mengenal Allah, melakukan kehendak-Nya, dan melihat keadilan ditegakkan.

Yesus menjanjikan bahwa kerinduan yang tulus ini “akan dipuaskan”.

Janji ini adalah kepastian bahwa Allah sendiri akan memenuhi kerinduan itu melalui penyataan diri-Nya dalam Kristus, karya Roh Kudus, dan pada akhirnya dalam kesempurnaan Kerajaan-Nya.

Tiga Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Mulailah Hari dengan Pengakuan Ketergantungan.

Setiap pagi, akui di hadapan Tuhan: “Tuhan, aku miskin dan membutuhkan Engkau. Penuhilah aku dengan Roh-Mu.”

Berdukacitalah bila ada dosa-dosa, mohon pengampunan, dan terima penghiburan-Nya.

Kedua, Latih Kelemahlembutan dalam Setiap Hubungan.

Saat diperlakukan tidak adil, berhenti sejenak untuk tidak membalas.

Serahkan hak pembalasan kepada Tuhan, tanggapi dengan kerendahan hati, dan percayalah bahwa Ia membela orang yang lemah lembut.

Ketiga, Bangun Selera Rohani dengan Firman Tuhan.

Tanamkan rasa “lapar dan haus” akan kebenaran dengan membaca Alkitab secara teratur dan mendalam.

Carilah bukan sekadar pengetahuan, tetapi transformasi.

Hadiri pertemuan doa yang memicu kerinduan akan Tuhan.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki sikap hati yang “miskin dihadapan Allah” sehingga terus merasa haus dan lapar kepada Allah.

Pembacaan Alkitab Setahun

Keluaran 7-9

Senin, 19 Januari 2026

DATANG KEPADA YESUS DENGAN LAPAR DAN HAUS

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 7:37-44

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. “Haus” seperti apa yang sedang kamu rasakan saat ini, dan bagaimana hal itu mendorongmu untuk datang kepada Yesus?
  2. Menurut pengalamanmu, bagaimana “air hidup” dari Yesus itu berbeda dengan upayamu sendiri untuk memuaskan dahaga jiwamu?
  3. Siapa satu orang di sekitarmu yang mungkin juga “haus”, dan bagaimana kamu bisa menjadi saluran “air hidup” bagi mereka minggu ini?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! (Yohanes 7:37).

Perayaan Pondok Daun adalah pesta yang meriah, penuh dengan ritual, simbol, dan kegembiraan kolektif.

Namun, di tengah kemeriahan itu, Yesus menyadari bahwa banyak hati tetap kosong dan haus.

itual air hanyalah simbol; ia tidak dapat memuaskan dahaga jiwa yang paling dalam.

Dengan berseru pada hari terakhir, Yesus seolah-olah berkata, “Segala simbol dan perayaan ini menunjuk kepada-Ku.

Aku adalah realitas yang sejati.”

Latar belakang ini mengingatkan kita bahwa kita pun dapat sibuk dengan aktivitas keagamaan, rutinitas ibadah, atau pencarian kesibukan dunia, sementara hati kita sebenarnya kering dan lapar.

Tuhan menawarkan diri-Nya bukan sebagai tambahan dari ritual, tetapi sebagai penggenapan dari segala kerinduan kita.

Kebenaran yang Yesus ajarkan adalah bahwa syarat untuk mengalami pemuasan ilahi adalah kejujuran akan rasa haus.

“Barangsiapa haus” adalah undangan terbuka bagi semua, tetapi hanya mereka yang mengakui, “Ya, aku haus.

Aku tidak puas. Aku butuh lebih dari ini,” yang akan datang.

Tuhan tidak memulai dengan orang yang merasa dirinya kaya dan puas (Wahyu 3:17).

Ia mencari orang yang miskin dan lapar secara rohani (Matius 5:6).

Rasa haus ini adalah anugerah—itu adalah tanda bahwa Roh Kudus sedang menarik kita.

Prinsip ini membebaskan kita dari kepura-puraan. Kita boleh datang kepada Yesus dengan segala kehampaan, kebingungan, dan kegagalan kita, asalkan kita datang dengan sikap percaya bahwa hanya Dialah yang dapat memuaskannya.

Pemuasan yang kita terima bukan untuk ditimbun, tetapi untuk dialirkan.

Yesus berjanji bahwa dari dalam diri orang percaya akan “mengalir aliran-aliran air hidup.”

Artinya, kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus bersifat meluap dan memberi hidup.

Kita tidak hanya menjadi “kolam” yang tenang, tetapi menjadi “sungai” yang membawa kesegaran, pemulihan, dan kehidupan bagi lingkungan sekitar.

Ketika kita benar-benar dipuaskan oleh kasih karunia dan kehadiran Tuhan, secara alami kita akan menjadi saluran berkat—kata-kata kita menguatkan, tindakan kita membangun, dan hidup kita menjadi kesaksian tentang sumber air yang tidak pernah kering, bahkan di musim kering sekalipun.

Hal-Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Luangkan Waktu Hening untuk Mengakui “Rasa Haus”.

Setiap hari, berhenti sejenak dan tanyakan pada hati nurani: “Apa yang sesungguhnya kucari?

Apakah aku merasa kering, lelah, atau kosong?” Jujurlah di hadapan Tuhan dalam doa. Katakan, “Tuhan, aku haus. Penuhilah aku dengan Roh-Mu.”

Kedua, “Datang dan Minum” dengan Disiplin Rohani yang Penuh Iman.

“Datang” adalah tindakan percaya.

Bangunlah kebiasaan untuk datang kepada Yesus setiap pagi melalui firman dan doa, bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai seorang yang haus yang mendekati mata air.

Percayalah bahwa saat Anda membaca firman-Nya dan bersekutu dalam doa, Roh Kudus sedang memuaskan dan menguatkan Anda.

Ketiga, Perhatikan “Aliran” itu dengan Menjadi Berkat. Sadarilah bahwa Anda adalah saluran.

Tanyakan, “Bagaimana aku bisa membawa kesegaran dan kehidupan dari Kristus bagi seseorang hari ini?”

Itu bisa melalui sebuah pesan penghiburan, tindakan pelayanan tanpa pamrih, atau kesaksian sederhana tentang kebaikan Tuhan dalam hidup Anda.

Diskusikan dalam kelompok PA saudara, diskusikan bagaimana mengetahui hati yang haus dan lapar akan kebenaran.

Pembacaan Alkitab Setahun

Keluaran 4-6

Minggu, 18 Januari 2026

KESUNGGUHAN HATI MENGHADIRKAN KUNJUNGAN TUHAN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

2 TAWARIKH 16:7-10

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang membuat Israel bersedia merayakan ibadahnya jauh lebih lama dari ketentuan?
  2. Menurut konteks 2 Tawarikh 7:1-12, apa hubungan antara kesungguhan hati umat (ayat 8-9) dengan kunjungan Tuhan (ayat 1-3)?
  3. “Perkumpulan raya” (hari kedelapan) adalah puncak dari seluruh proses. Bagaimana Anda bisa menciptakan momen “puncak” penyembahan dalam hidup pribadi atau komunal Anda?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan.” (2 Tawarikh 16:9).

Kitab 2 Tawarikh ditulis sebagai pengingat dan penghiburan bagi umat Israel yang telah mengalami kehancuran Bait Suci dan pembuangan.

Dalam konteks itu, kisah kemuliaan Salomo mengingatkan mereka—dan kita—akan masa ketika umat Tuhan bersatu, taat, dan dengan segenap hati merindukan serta menyambut kehadiran-Nya.

Peristiwa pentahbisan Bait Suci bukan sekadar upacara agama, tetapi klimaks dari sebuah persiapan panjang, doa sungguh-sungguh (pasal 6), dan kerinduan kolektif untuk Tuhan berdiam di tengah mereka.

Latar belakang ini mengajarkan bahwa sejarah kemuliaan Tuhan selalu terkait dengan hati umat-Nya yang sungguh-sungguh mencari wajah-Nya.

Prinsip pertama yang kita lihat adalah bahwa kunjungan atau manifestasi kehadiran Tuhan (Shekinah Glory) menghasilkan sukacita yang melimpah ruah dan tidak terbatas oleh waktu formalitas agama.

Israel tidak puas hanya merayakan tujuh hari sesuai hukum; mereka begitu dipenuhi oleh kekaguman dan sukacita atas hadirat Tuhan sehingga secara spontan memperpanjang perayaan menjadi lima belas hari dan mengakhirinya dengan perkumpulan raya yang khidmat.

Ini menunjukkan bahwa pengalaman otentik akan Tuhan melahirkan kerinduan untuk tinggal lebih lama di dalam hadirat-Nya, melampaui rutinitas dan kewajiban ibadah.

Ketika Tuhan benar-benar “mengunjungi” hidup, komunitas, atau ibadah kita, akan ada suatu sukacita dan keterikatan yang membuat kita ingin berlama-lama bersama-Nya.

Kesungguhan hati yang kolektif dan terbuka menjadi seperti “mezbah” yang dipersiapkan bagi Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Perhatikan bahwa mereka telah “merayakan pentahbisan mezbah selama tujuh hari” (ayat 9).

Mezbah adalah tempat korban dan pertemuan dengan Tuhan. Kesungguhan hati seluruh Israel (raja, imam, dan seluruh umat) dalam penyembahan dan ketaatan itulah yang secara spiritual “mempersiapkan mezbah” bagi Tuhan untuk turun dengan api dan kemuliaan (2 Tawarikh 7:1-3).

Tuhan tidak hanya mencari bangunan yang megah, tetapi Dia mencari hati yang sepenuhnya tertuju kepada-Nya.

Kesungguhan hati bukanlah jasa untuk memaksa Tuhan datang, melainkan kondisi hati yang rendah, haus, dan siap yang membuat-Nya berkenan menyatakan diri.

Hal-Hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Berkomitmen untuk “Waktu Tambahan” dalam Penyembahan.

Dalam ibadah pribadi atau komunitas, jangan terburu-buru.

Jika Anda merasakan kehadiran Tuhan, sengaja luangkan waktu ekstra untuk berdiam diri, menyembah, atau mengucap syukur, melampaui jadwal rutin Anda.

Kedua, Bangun Kesungguhan Hati yang Kolektif dalam Komunitas Iman.

Dalam keluarga rohani atau kelompok PA, prioritaskan kesatuan hati, kerendahan, dan kerinduan bersama untuk hadirat Tuhan lebih dari sekadar program atau aktivitas.

Berdoalah bersama dengan sungguh-sungguh untuk “kunjungan Tuhan” dalam hidup Anda.

Ketiga, Jadikan Hidup Anda Sebagai “Mezbah” yang Selalu Dikuduskan.

Secara rutin, periksa motivasi dan komitmen hati Anda. Apakah Anda hidup sebagai persembahan yang hidup dan kudus (Roma 12:1)?

Kesungguhan dalam ketaatan sehari-hari, integritas, dan kasih adalah “mezbah” pribadi yang menyambut kehadiran Tuhan.

Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya mengalami hadirat Tuhan yang dimanifestasikan (dapat dilihat dan dirasakan)

Pembacaan Alkitab Setahun

Keluaran 1-3

Sabtu, 17 Januari 2026

KESATUAN KOMUNITAS YANG MEMBAWA KEHADIRAN TUHAN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 18:18-20

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa arti praktis “berkumpul dalam Nama-Ku” bagimu sehari-hari?
  2. Pengalaman apa yang membuatmu merasakan kehadiran Kristus secara nyata dalam komunitas kecil?
  3. Bagaimana janji ini mengubah caramu memandang pentingnya kesetiaan dalam kelompok kecil?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20).

Surat Matius mencatat Yesus yang dengan sengaja membangun sebuah komunitas baru—umat perjanjian yang terdiri dari para murid-Nya.

Komunitas ini tidak kebal dari konflik dan dosa, sehingga Yesus memberikan pedoman untuk memulihkan persekutuan yang rusak.

Namun, proses pendisiplinan dan restorasi itu terasa begitu berat dan penuh risiko jika hanya mengandalkan kekuatan manusia.

Di titik inilah Yesus memberikan sebuah janji yang menghibur dan memberdayakan: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Janji ini adalah jantung dari kehidupan gereja. Ia mengubah sekumpulan orang dari sekedar pertemuan sosial atau lembaga agama, menjadi suatu ruang suci tempat Tuhan sendiri hadir secara nyata.

Prinsip kebenaran pertama yang kita pelajari adalah bahwa kehadiran Tuhan yang khusus dijanjikan bukan untuk kerumunan yang anonim, tetapi untuk komunitas yang dengan sengaja berkumpul “dalam Nama-Nya”.

Ini adalah syarat yang penting. Berkumpul “dalam Nama-Nya” berarti kita berkumpul dengan kesadaran bahwa kita datang mewakili Dia, diutus oleh Dia, dan untuk maksud yang selaras dengan karakter dan kehendak-Nya.

Ini adalah komunitas yang menjadikan Kristus sebagai pusat, alasan, dan pemersatu.

Ketika motivasi, tujuan, dan pengajaran kita berpusat pada Kristus, kita dapat percaya bahwa kehadiran-Nya yang berkuasa dan menyelamatkan benar-benar nyata di tengah kita, sekalipun kita hanya segelintir orang.

Prinsip kebenaran kedua adalah demokratisasi dan pendalaman kehadiran Allah.

Dalam Perjanjian Lama, kemuliaan Tuhan sering dikaitkan dengan Bait Suci yang megah atau bangsa yang besar.

Yesus menyatakan sesuatu yang revolusioner: kehadiran-Nya yang berotoritas dapat dialami oleh pertemuan terkecil sekalipun—”dua atau tiga orang”.

Ini adalah penghiburan besar bagi gereja kecil, kelompok pemuridan, tim pelayanan kecil, atau persekutuan doa yang sederhana.

Tuhan tidak terkesan dengan jumlah besar atau kemegahan upacara.

Dia menghargai kesetiaan dan kesatuan dari sekelompok kecil orang yang dengan tulus mencari wajah-Nya.

Di dalam kesederhanaan dan kesetiaan itu, kuasa Kerajaan Sorga justru termanifestasi.

Hal-Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Selalu Evaluasi Motivasi Berkumpul.

Sebelum menghadiri persekutuan atau pertemuan pelayanan, tanyakan: “Apakah aku datang dalam Nama Yesus?

Apakah tujuan pertemuan ini untuk kemuliaan-Nya dan sesuai dengan kehendak-Nya?” Ini memurnikan fokus kita dari sekadar rutinitas sosial atau agama.

Kedua, Bangun Komitmen dalam Komunitas Kecil.

Investasikan waktu dan hati untuk membangun kedalaman hubungan dalam kelompok kecil (persekutuan, kelompok doa, atau pendalaman Alkitab).

Percayalah bahwa di dalam kesetiaan pada kelompok kecil itulah, janji kehadiran Kristus secara khusus akan nyata dan mengubah hidup.

Ketiga, Jadikan Kehadiran Tuhan sebagai Tujuan Utama, Bukan Program.

Dalam merencanakan pertemuan, prioritaskan ruang untuk menyadari kehadiran Tuhan—melalui doa yang sungguh-sungguh, penyembahan yang fokus, dan pembacaan Firman yang taat—daripada hanya menjalankan agenda acara.

Kehadiran-Nya adalah segalanya.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana caranya mengalami kehadiran Tuhan.

Pembacaan Alkitab Setahun

Kejadian 48-50

Jumat, 16 Januari 2026

REALITA KRISTUS DALAM PUJIAN DAN PENYEMBAHAN

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 16:25-32

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dilakukan Paulus dan Silas ketika mereka berada di penjara?
  2. Apa yang terjadi saat mereka memuji dan menyembah Tuhan?
  3. Apa yang hendak dilakukan kepala penjara ketika melihat keadaan yang terjadi saat itu?
  4. Mengapa kepala penjara itu tersungkur di depan Paulus?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, ketika Rasul Paulus berada di Filipi, ia memberitakan Injil di sinagoge-sinagoge Yahudi.

Lidia, seorang perempuan Yahudi dan penjual kain ungu, bertobat dan meminta untuk dibaptis bersama seluruh anggota keluarganya.

Ketika Paulus kembali ke sinagoge untuk memberitakan Injil lagi, ada seorang hamba perempuan yang memiliki roh tenung.

Dengan kekuatan tenungannya, tuannya memperoleh keuntungan besar.

Perempuan itu mengikuti Rasul Paulus dari belakang sambil berseru, “Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi.

Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan.”

Ia melakukan hal itu selama beberapa hari.

Namun, ketika Paulus tidak tahan lagi dengan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu, “Demi nama Yesus Kristus, aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini.” Seketika itu juga roh itu keluar darinya.

Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat bahwa harapan mereka untuk mendapatkan uang lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk dihadapkan kepada penguasa kota.

Mereka mengadukan Rasul Paulus dan Silas kepada para penguasa, sambil berkata:

“Orang-orang ini mengacau kota kita ini, karena mereka orang Yahudi, dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya.” Juga orang banyak bangkit menentang mereka.”

Kemudian, pembesar kota itu memerintahkan agar mereka dicambuk, dipaksa telanjang, dan didera.

Setelah berkali-kali dicambuk, mereka dimasukkan ke dalam penjara.

Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan ketat, kaki mereka dibelenggu dengan pasungan yang kuat.

Ketika tengah malam, Paulus dan Silas menyanyi dan memuji Tuhan, mereka menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Saat kuasa pujian dan penyembahan turun di penjara itu, terjadilah gempa bumi yang sangat kuat.

Gempa itu mengguncang sendi-sendi penjara; semua pintu terbuka dan belenggu-belenggu mereka terlepas.

Ketika kepala penjara melihat kejadian itu, ia hampir menghunus pedangnya untuk mengakhiri hidupnya.

Saudara, ketika kita menyimak cerita di atas, kita dapat belajar beberapa hal.

Ketika pujian dan penyembahan dilakukan, maka kuasa puji-pujian dan kuasa ucapan syukur akan bekerja:

Mazmur 22:4 “Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.”

Ketika orang percaya memuji Tuhan, Tuhan hadir dan bersemayam di atas pujian itu.

Dari kehadiran Tuhan itu, terjadilah gempa bumi yang dahsyat, yang mengguncang sendi-sendi penjara, membuka pintu-pintu penjara, dan melepaskan belenggu-belenggu mereka.

Dari peristiwa ini, kita dapat belajar bagaimana Tuhan memelihara hamba-hamba-Nya yang rela menaati perintah Kristus untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah.

Terlepasnya belenggu menunjukkan bahwa tidak ada yang mampu menghalangi kuasa pemberitaan Injil Kristus.

Akibat terlepasnya mereka dari belenggu, terjadi keselamatan bagi keluarga kepala penjara.

Selanjutnya, Lukas menuliskan hal ini dalam suratnya kepada Teofilus:

Kisah Para Rasul 16:31 “Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”

Rasul Paulus dipenjara menumbuhkan keberanian orang-orang percaya untuk memberitakan Injil keselamatan atau Injil kebenaran.

Pada tahun 2026, para penatua mendorong seluruh jemaat GKKD-BP untuk memberitakan Injil keselamatan kepada orang-orang di sekitar kita, baik rekan sekantor, teman di sekolah, tetangga di lingkungan rumah, maupun kolega di mana pun kita berada.

Saudara, dalam rangka pelaksanaan rencana para penatua GKKD-BP, marilah kita memperlengkapi diri dengan belajar memberitakan Injil secara pribadi.

Ada beberapa metode pemberitaan Injil secara pribadi, misalnya metode EE, 3 Saja, 4 Fakta Rohani, metode kontekstual, dan lain-lain.

Marilah kita menaburkan Kabar Baik dengan menyaksikan Injil kebenaran atau Injil keselamatan dengan resikonya.

Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Mengapa banyak orang percaya tidak memberitakan Kabar Baik atau Injil keselamatan?

Pembacaan Alkitab Setahun

Kejadian 46-47