Jumat, 10 April 2026

KEMENANGAN ATAS KEMATIAN

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

1 KORINTUS 15:10-13

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Oleh karena apakah kita masih ada sampai sekarang secara rohani?
  2. Apa yang menyebabkan Rasul Paulus bekerja lebih giat daripada rasul-rasul yang lain?
  3. Apakah sumber kekuatan yang membuat hamba-hamba Tuhan rela bekerja keras sepanjang hidup mereka?
  4. Kebangkitan telah terbukti melalui kebangkitan Yesus Kristus. Oleh karena itu, kebangkitan siapakah yang juga akan terjadi kelak?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, kemenangan atas kematian telah terjadi ketika Yesus Kristus dibangkitkan pada hari ketiga, setelah kematian-Nya di atas kayu salib dan penguburan-Nya. Ketika Yesus bangkit dari kubur, Rasul Paulus menuliskan:

Roma 8:11 “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.”

Rasul Paulus juga menulis kepada jemaat di Korintus untuk menjelaskan tentang kebangkitan tubuh, sebagai bukti kemenangan atas kematian:

1 Korintus 15:54-57 “Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”

Rasul Paulus juga menuliskan kepada jemaat di Roma bagaimana kemenangan atas kematian itu dapat kita alami melalui pekerjaan Roh Allah yang telah membangkitkan Yesus Kristus:

Roma 8:13 “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.”

Oleh karena itu, hendaklah kita rela menyerahkan hidup kita untuk dipimpin oleh Roh Kudus, supaya kita dapat bersaksi bahwa orang percaya mengalami kehidupan baru yang tidak lagi dikuasai oleh kedagingan, melainkan dituntun oleh Roh Kudus, sehingga kita dengan berani dapat berkata, “Ya Abba, ya Bapa,” kepada Tuhan Allah, Bapa, Tuhan Yesus Kristus.

Ketika kita tidak lagi hidup dalam kedagingan, maka kita hidup oleh Roh Kudus yang ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa ada manusia Allah yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, yaitu melaksanakan perintah-perintah Tuhan Allah, Bapa kita.

Hal itu menjadi bukti bahwa kita telah hidup dalam kemenangan atas kematian atau kedagingan.

Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Mengapa hidup dalam kedagingan disebut hidup dalam kematian?

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Samuel 19-21

Kamis, 9 April 2026

DISEMBUHKAN OLEH BILURNYA

Penulis : Anang Kristianto

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YESAYA 53:4-5

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Siapakah yang dimaksud dalam bacaan yang kita renungkan hari ini ?
  2. Mengapa Ia dihina dan dihindari orang?
  3. Apa saja yang ditanggung oleh Mesias dalam nubuat yang diberikan nabi Yesaya ini?
  4. Apa yang menyebabkan kita mengalami keselamatan dan kesembuhan?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Nubuat dalam Yesaya 53 merupakan salah satu bagian paling mendalam dalam kitab nabi Yesaya yang menggambarkan tentang “Hamba Tuhan yang menderita.”

Pasal ini ditulis sekitar tujuh abad sebelum kelahiran Yesus Kristus, namun menggambarkan dengan jelas penderitaan Mesias yang akan datang.

Dalam ayat 4–5, nabi Yesaya menyatakan bahwa Sang Hamba memikul penyakit dan menanggung penderitaan umat manusia.

Ia tertikam oleh karena pemberontakan manusia dan diremukkan oleh karena dosa mereka.

Ungkapan “oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh” menunjuk pada penderitaan yang ditanggung oleh Mesias sebagai pengganti manusia berdosa.

Dalam terang Perjanjian Baru, orang percaya memahami bahwa nubuat ini digenapi secara sempurna dalam penderitaan dan penyaliban Yesus Kristus.

“Oleh bilur-bilurNya” kita disembuhkan, kesembuhan yang dimaksud dalam ayat ini tentunya bukan sekedar kesembuhan secara fisik, namun kesembuhan yang sejati dari kerusakan pola pikir karena keberadaan dosa yang memperbudak manusia sejak jatuh dalam dosa.

Kesembuhan secara fisik bersifat sementara, kesembuhan yang Mesias inginkan adalah kesembuhan yang membawa kepada transformasi. 

Kejatuhan manusia dalam dosa tidak hanya mengakibatkan sakit penyakit secara fisik namun manusia menderita karena mental yang tidak disembuhkan dan ditransformasi.

Banyak orang hidup dengan luka batin: rasa bersalah, penyesalan, kepahitan, atau kehampaan yang tidak dapat diobati oleh apa pun di dunia ini.

Ketika Kristus menanggung penderitaan di kayu salib, Ia menanggung seluruh beban dosa dan kerusakan itu.Kesembuhan dari sakit hati, kepahitan, kekecewaan, dendam adalah contoh pemulihan yang diberikan oleh bilur-bilurNya.

Kesembuhan jenis ini memberikan dampak yang luar biasa dalam kehidupan umatNya.

Orang-orang percaya yang mengalami kesembuhan ini akan bertransformasi secara karakter, mereka akan semakin memancarkan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Kebenaran ini mengundang setiap orang percaya untuk datang kepada Kristus dengan hati yang terbuka.

Ketika kita merasa lemah, terluka, atau terbeban oleh dosa, kita dapat mengingat bahwa Yesus telah menanggung semuanya bagi kita.

Kesembuhan yang Ia berikan memampukan kita hidup dengan harapan baru, meninggalkan kepahitan, kekecewaan, dendam dan berjalan dalam kehidupan yang diperbarui.

Secara praktis, kita dapat mengalami pemulihan itu dengan datang kepada Tuhan dalam doa, menyerahkan luka dan pergumulan kita kepada-Nya, serta belajar hidup dalam kasih dan pengampunan kepada sesama.

Setiap kali kita mengingat salib Kristus, kita diingatkan bahwa melalui bilur-bilur-Nya, Allah telah membuka jalan kesembuhan total bagi hidup kita.

Renungkan kebenaran ini secara pribadi, mungkin kita pernah mengalami pemulihan dari luka batin namun seiring dengan waktu setelah beberapa lama dalam pekerjaan, pelayanan atau dalam pernikahan kita terluka oleh orang-orang terdekat,apa yang Saudara lakukan?

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Samuel 16-18

Rabu, 8 April 2026

HIDUP BARU DALAM KEBANGKITAN KRISTUS

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

ROMA 6:4-7

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa arti rohani dari baptisan dalam hubungannya dengan kematian dan kebangkitan Yesus? (Ayat 4)
  2. Apa jaminan yang kita miliki jika kita telah menyatu dalam kematian Kristus? (ayat 5)
  3. Mengapa “manusia lama” kita harus turut disalibkan bersama Kristus? (ayat 6)
  4. Apa yang terjadi pada seseorang yang telah mati bersama Kristus dalam hubungannya dengan dosa?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma untuk menjelaskan doktrin keselamatan murni karena kasih karunia melalui iman (Sola Fide).

Latar belakang khusus pasal 6 ini merupakan jawaban tegas Paulus terhadap pemikiran keliru yang menganggap bahwa karena kasih karunia melimpah, maka orang percaya boleh terus berbuat dosa.

Paulus menegaskan bahwa kasih karunia bukanlah izin untuk berdosa, melainkan kuasa untuk mematikan dosa.

Lewat gambaran baptisan, Paulus menjelaskan bahwa kita sudah menjadi satu dengan Kristus.

Artinya, status lama kita sebagai budak dosa sudah diputus secara resmi dan sah oleh pengorbanan Yesus di kayu salib.

Kalimat “turut disalibkan” menunjukkan bahwa manusia lama kita telah dihukum mati bersama Kristus agar “tubuh dosa” kehilangan kuasanya.

Kebangkitan Yesus menjamin bahwa kita tidak hanya diampuni, tetapi juga diberi kekuatan untuk memulai hidup yang benar-benar baru.

Atau hidup dalam kebangkitan Kristus.

Sekarang kita tidak perlu lagi menuruti keinginan daging, karena dosa dan maut sudah tidak punya hak dan kuasa untuk mengatur kita lagi.

KebangkitanNya adalah proklamasi resmi bahwa kita bukan lagi budak dosa, melainkan sudah menjadi milik Tuhan seutuhnya.

Mari kita renungkan, kekristenan bukanlah sekadar ‘tiket ke surga’, melainkan sebuah transformasi atau perubahan radikal yang mengubah seluruh gaya hidup kita setiap hari.

Zaman yang sering memaklumi dosa atas nama kebebasan, kelemahan daging atau manusia yang tidak sempurna.

Ayat renungan yang kita baca hari ini menegaskan bahwa kita telah dianugerahi kuasa kebangkitan untuk berkata tidak! pada dosa.

Hidup baru berarti berhenti menyerahkan hidup kita pada belenggu kebiasaan atau terikat pada hal-hal buruk, integritas yang kompromis.

Ingat! status hukum kita secara rohani, telah mati bagi dosa, maka secara otomatis kita wajib hidup sebagai pribadi yang merdeka.

Diskusikan dalam kelompok PA atau persekutuan kita, makna apa yang dapat diambil sebagai pembelajaran dan perenungan dari pembacaan renungan kita hari ini?

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Samuel 13-15

Selasa, 7 April 2026

KEMENANGAN SALIB ATAS SEGALA KUASA

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KOLOSE 2:12-15

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dilakukan Allah terhadap “surat hutang” atau daftar dosa yang mendakwa kita di ayat 14?
  2. Bagaimana cara Kristus mengalahkan penguasa-penguasa gelap menurut ayat 15?
  3. Mengapa kita tidak perlu lagi merasa takut atau tidak layak di hadapan Tuhan setelah memahami peristiwa salib?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Kota Kolose masa itu terdiri dari berbagai tradisi dan kebudayaan.

Keberagaman budaya dan tradisi ini tentu sangat mempengaruhi perkembangan Kristen di Kolose.

Hal yang lain yang mempengaruhi perkembangan Kristen itu datang dari berbagai ajaran-ajaran sesat yang saat itu sedang berkembang pesat.

Ajaran sesat berupa sinkretisme, yaitu campuran antara filsafat dunia, legalisme aturan agama, dan penyembahan kepada roh-roh atau malaikat.

Hal inilah yang melatarbelakangi Paulus menuliskan suratnya untuk jemaat di Kolose.

Dimana jemaat merasa “kurang lengkap” jika hanya beriman kepada Kristus, sehingga mereka mencari perlindungan pada kekuatan gaib dan aturan lahiriah.

Paulus ingin menegaskan bahwa di dalam Kristus, jemaat sudah memiliki segalanya; mereka tidak memerlukan tambahan ritual atau kekuatan lain karena seluruh kepenuhan Allah diam di dalam Kristus.

Kemenangan Yesus di atas kayu salib terjadi karena Ia sudah melunasi seluruh hukuman dosa kita secara resmi dan tuntas, sehingga tidak ada lagi “surat utang” bahasa Yunani memakai kata “Cheirographon” yaitu: buku catatan atau surat dakwaan yang berisi rincian semua kegagalan kita dalam menaati hukum Tuhan atau rincian dosa kita.

Yang bisa dipakai oleh iblis untuk menghukum kita. Kemudian oleh Allah dihapuskan dan dipaku di salib hingga lunas.

Di saat yang sama, Kristus melucuti senjata pemerintah-pemerintah gelap, dan menyeret mereka dalam barisan tawanan yang dipermalukan dan menjadikan tontonan umum, layaknya jenderal Romawi yang memamerkan tawanan perang yang kalah.

Salib adalah simbol kemenangan mutlak di mana senjata utama Iblis untuk mendakwa kita telah dirampas dan dihancurkan selamanya.

Dari pembacaan renungan kita hari ini, hal sederhana yang kita bisa lakukan adalah mari kita percaya diri dan berhentilah hidup dalam ketakutan terhadap ramalan buruk, ancaman krisis, atau tekanan dunia atau kehidupan yang sering membuat kita merasa tidak layak.

Karena “daftar kesalahan” kita sudah dipaku mati oleh Yesus di kayu salib, maka Iblis tidak lagi punya hak untuk menuduh dan mendakwa serta menghantui hidup kita dengan rasa bersalah atau kutuk dosa.

Apa pun masalah atau ketakutan yang kita hadapi saat ini, semuanya tidak akan bisa mencuri damai sejahtera hati kita karena Yesus sudah mengalahkan segalanya.

Diskusikan dalam kelompok PA atau persekutuan kita, apa yang saat ini kita takutkan? Kalau ada, kenapa rasa takut itu terus menghantui kita? Percayakah kita bahwa Salib Kristus dapat mengalahkan segala kuasa, termasuk rasa ketakutan kita?

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Samuel 8-12

Senin, 6 April 2026

YESUS MENGALAHKAN KUASA MAUT

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

IBRANI 2:9-15

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Mengapa Yesus harus menjadi “seketika lebih rendah daripada malaikat” dengan menjadi manusia yang bisa mati?
  2. Apa makna Yesus mengalahkan kuasa maut?
  3. Apakah kemenangan Yesus di salib berarti Iblis sudah tidak ada lagi di dunia ini sekarang?
  4. Bagaimana kemenangan Yesus atas maut mengubah cara kita merespons terhadap ketakutan atau kecemasan yang saat ini mungkin kita sedang hadapi?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Surat Ibrani ditulis bagi jemaat Yahudi Kristen abad pertama yang sedang mengalami krisis iman dan juga sedang terancam penganiayaan yg begitu hebat pada masa itu, sehingga mereka tergoda kembali pada “legalisme Yudaisme” (cara beragama dengan aturan yang kaku) demi keamanan.

Penulis menegaskan keunggulan Kristus yang secara sukarela menjadi “seketika lebih rendah daripada malaikat” (ay. 9) melalui inkarnasi.

Perendahan diri ini bukan kegagalan keilahian Allah, melainkan keharusan agar Yesus dapat menanggung maut sebagai manusia sejati.

Ia menjadi sama dengan “darah dan daging” kita agar menjadi Imam Besar yang seperasaan serta wakil yang sah dari manusia dalam menanggung penghukuman Allah.

Kemenangan Yesus terjadi karena disalib Ia menuntaskan seluruh tuntutan hukum Allah atas dosa kita.

Melalui kematianNya, Yesus melakukan “Katargeo” dari kata Yunani, yang berarti : melumpuhkan, membuat tidak berfungsi, membatalkan hak hukum, dan meniadakan kuasa Iblis yang selama ini memegang senjata maut atas manusia berdosa (ayat 14).

Meski keberadaan Iblis belum dilenyapkan dari dunia, namun kuasa hukumnya telah dipatahkan.

Tindakan ini menghasilkan “apallasso”, dari bahasa Yunani adalah istilah yang sering digunakan dalam dunia hukum kuno untuk pembebasan seorang budak atau tawanan perang.

Dengan kata lain pembebasan total atau kemerdekaan bagi orang percaya dari penjara ketakutan (ayat 15).

Saat Yesus terlihat “kalah” di salib, Ia justru sedang melucuti senjata maut secara permanen dan mengubah status kita dari tawanan menjadi anak-anak merdeka. 

Secara praktis karena Kristus telah melakukan “apallasso”, seharusnya kita tidak boleh lagi hidup sebagai budak ketakutan.

Ketakutan dalam bentuk apapun itu.

Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini perang Iran, Amerika dan Israel yang saat ini mengancam stabilitas global.

Hal ini pasti berdampak kepada ekonomi, krisis energi, hingga potensi sentimen agama dan juga bisa menjadi konflik sosial di dalam negeri.

Tentu sedikitnya hal itu akan berdampak pula bagi kita anak-anak Tuhan di Indonesia.

Namun, apakah kita harus cemas dan takut berlebihan akan semua yang sedang terjadi?

Jika maut sebagai musuh terakhir saja sudah dikalahkan Yesus, maka ancaman perang sehebat apa pun tidak berhak merampas damai sejahtera kita.

Percayalah bahwa Dia adalah Imanuel (Allah menyertai kita).

Hiduplah sebagai orang merdeka yang tetap tenang, tidak perlu panik, stress apalagi frustasi menghadapi hidup dan masa depan, sebab kedaulatan Kristus jauh melampaui kuasa manapun di dunia ini.

Diskusikan dalam kelompok PA atau persekutuan kita, hal apa yang kita pelajari dan renungkan dari bahan pembacaan renungan kita hari ini?

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Samuel 4-7

Minggu, 5 April 2026

TUNTAS DI KAYU SALIB

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 19:28-30

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Yesus berkata “Aku haus,” apakah maknanya perkataan Yesus itu, mengingat Dia adalah Anak Allah?
  2. Apa makna penting dari pernyataan “Aku haus” dalam rencana keselamatan Allah?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Peristiwa penyaliban Yesus adalah pusat dari karya keselamatan dalam iman Kristen.

Ketika Yesus berkata “Aku haus” hal itu terjadi agar genaplah yang tertulis dalam Alkitab.

Antara lain dapat kita baca di Kitab Mazmur 69:22  “Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.”

Ini menunjukkan bahwa penderitaan Yesus bukan peristiwa kebetulan.

Semua yang terjadi telah dinubuatkan sebelumnya dalam firman Tuhan.

Yesus dengan sadar menjalani penderitaan itu untuk menggenapi rencana keselamatan Allah bagi manusia.

Setiap detail penderitaan-Nya menunjukkan bahwa Allah sedang menggenapi janji-Nya.

Tuhan Yesus tidak hanya menderita secara rohani, dimana Dia harus untuk sementara waktu terpisah dari Allah Bapa, tetapi juga secara fisik.

Yesus disiksa, dipaku di kayu salib, mengalami kehausan yang sangat.

Semua itu Ia tanggung karena kasih-Nya kepada manusia.

Salib bukan hanya simbol penderitaan, tetapi juga bukti kasih Allah yang besar bagi dunia.

Kemudian ketika Yesus mengatakan “sudah selesai”.

Kata yang dipakai dalam bahasa Yunani adalah “teleo” yang berarti: selesai sepenuhnya, tuntas, lunas dibayar.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa, hukuman dosa telah ditanggung, harga penebusan telah dibayar, jalan keselamatan telah dibuka.

Tidak ada lagi yang perlu ditambahkan pada karya salib Kristus.

Keselamatan tidak diperoleh melalui usaha manusia, tetapi melalui karya Kristus yang sudah diselesaikan.

Karena itu, respon yang tepat terhadap karya salib adalah percaya kepada Kristus, hidup dalam ketaatan kepada Firman dan petunjuk Roh Kudus, dan mengikuti-Nya dengan setia.

Di kayu salib, Yesus tidak berkata “Aku kalah.” Ia berkata, “Sudah selesai.”

Dan melalui karya yang telah dituntaskan itu, kita umat percaya memperoleh pengharapan akan masa depan dan kehidupan yang kekal bersama dengan Kristus.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apakah engkau pernah meragukan karya Kristus, kalau ya, apa yang engkau lakukan kemudian.

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Samuel 1-3

Sabtu, 4 April 2026

MEMBERITAKAN INJIL DALAM KEMURNIAN HATI

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

2 KORINTUS 6:3-8

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah contoh dalam kehidupan kita yang justru bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk percaya kepada Kristus?
  2. Bagaimana kita bisa menjaga integritas supaya hidup kita justru menjadi kesaksian yang baik?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, memberitakan Injil bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup.

Memberitakan Injil terlebih kepada orang yang mengenal kita, itu dimulai dengan “bersaksi”. 

Karena kehidupan seorang pemberita Injil akan menjadi bagian dari pesan yang disampaikan.

Rasul Paulus menyatakan, “Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.” (2 Korintus 6:3).

Seorang pemberita Injil harus menyadari bahwa hidupnya sedang dilihat oleh banyak orang.

Jika kehidupan tidak mencerminkan kebenaran yang diberitakan, maka orang akan sulit menerima pesan Injil.

Kemurnian hati terlihat dari bagaimana integritas dalam perkataan dan tindakan, keluarga yang tinggal di rumah, rekan di kantor, di kampus akan dengan mudah menilai kita dari apa yang kita lakukan.

Jika kita sudah melayani di persekutuan misalnya, maka orang akan melihat apakah kita melayani Tuhan dengan tulus, bukan karena uang atau kedudukan.

Apakah kita melayani dengan rendah hati dan tidak sombong, tidak pamer dengan apa yang kita miliki termasuk talenta dan karunia yang Tuhan berikan.

Pesan Injil menjadi kuat bukan hanya karena kebenaran pesannya, tetapi juga karena kesaksian hidup kita yang menyampaikan pesan tersebut.

Jika Roh Kudus bekerja dalam hati kita, maka pelayanan yang kita lakukan akan dipenuhi oleh kasih yang tulus, motivasi yang benar dan kita akan melayani dengan rendah hati.

Kita akan senang ketika melihat rekan kita melayani dengan lebih baik.

Kita tidak menjadi cemburu atau iri hati.

Ketika kita melayani Tuhan, termasuk ketika kita memberitakan Injil kita bisa menghadapi berbagai penilaian dari orang lain, apakah orang akan menghormati atau menghina kita.

Kita bahkan bisa difitnah atau sebaliknya kita juga bisa dipuji.

Namun seorang pelayan Tuhan tidak boleh bergantung pada penilaian manusia.

Yang terpenting adalah tetap setia kepada kebenaran dan tuntunan Tuhan dalam hidup kita.

Kemurnian hati berarti melayani bukan untuk mencari pujian manusia, tetapi untuk menyenangkan hati Tuhan.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apakah engkau pernah mengalami penolakan karena engkau melayani Tuhan?

Pembacaan Alkitab Setahun

1 Samuel 28-31

Jumat, 3 April 2026

MENDERITA KARENA INJIL

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KISAH PARA RASUL 5:39-42

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang terjadi atas para murid setelah mereka bersaksi dan memberitakan Injil kepada bangsa Yahudi?
  2. Apa respon para murid ketika mereka dilepaskan dari penjara?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Di ayat 38 dan 39, Gamaliel seorang ahli Taurat menyatakan, Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini.

Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan.”

Namun setelah seruan itu, para murid tetap dicambuk dan dilarang berbicara dalam nama Yesus.

Artinya jelas, kebenaran Injil tidak selalu diterima dengan mudah, pelayanan yang berasal dari Allah tetap bisa mengalami penderitaan.

Tetapi apa yang menjadi respon para rasul setelah mereka mengalami aniaya, sungguh menakjubkan, “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.” (Kisah Para Rasul 5:41-42).

Mereka tidak berhenti, tidak bersembunyi, tidak mengurangi kebenaran, tidak mengubah pesan Injil.

Cambukan tidak memadamkan Injil, larangan tidak menghentikan kesaksian, ancaman tidak sanggup menghentikan mereka untuk tidak memberitakan Injil.

Menderita karena Injil berarti kita tetap setia pada kebenaran meski ada tekanan, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, menganggap menderita bagi Kristus sebagai kehormatan dan anugerah.

Tetapi bukan berarti kita mencari penderitaan.

Namun jika penderitaan datang karena kesetiaan kepada Kristus, itu menjadi bagian dari panggilan kita sebagai murid Kristus.

Saudara, Injil yang sejati selalu membawa konfrontasi dengan dunia yang menolak terang.

Namun sejarah membuktikan justru di tengah penderitaan, Injil makin tersebar.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apakah engkau pernah ditolak karena engkau bersaksi tentang kasih Allah?

Pembacaan Alkitab Setahun

1 Samuel 25-27

Kamis, 2 April 2026

KEBERANIAN UNTUK MEMBERITAKAN INJIL

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

EFESUS 6:18-20

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Siapa saja kah yang patut kita doakan dalam waktu doa syafaat kita?
  2. Apakah saat ini kehidupan doa kita sudah menjadi gaya hidup yang berjaga-jaga, atau masih sebatas kebutuhan saat terdesak saja?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Efesus 6 dimulai dari ayat yang ke-6, kita diajar tentang perlengkapan senjata Allah.

Dan Rasul Paulus menutup pengajarannya tentang perlengkapan senjata Allah, yaitu antara lain tentang ikat pinggang kebenaran, perisai iman, dan pedang Roh, ia menambahkan satu unsur yang sangat menentukan: doa.

Paulus kemungkinan besar sedang ada di penjara ketika dia menulis kitab Efesus ini (lihat. Efesus 6:20).

Tetapi Paulus justru tidak meminta doa agar dibebaskan, melainkan agar ia diberi keberanian untuk memberitakan Injil.

Paulus menempatkan doa sebagai dasar peperangan rohani.

Keberanian Paulus bukan hasil karakter alami, melainkan hasil dari upaya untuk terus menerus bergantung kepada Allah.

Paulus adalah seorang rasul yang jika kita membaca kesaksiannya dalam memberitakan Injil, sepertinya Paulus seorang yang tidak kenal takut.

Tetapi disini kita membaca, bahwa seorang Paulus dengan rendah hati meminta agar jemaat mendoakan dia.

Maknanya kita semua membutuhkan untuk didoakan, artinya kita juga sangat perlu untuk saling mendoakan.

Kita butuh didoakan, dalam konteks ayat yang telah kita baca, agar kepada kita diberikan keberanian untuk memberitakan Injil.

Mengapa butuh keberanian, karena ada risiko dari pemberitaan Injil.

Paulus dan para murid sangat memahami risiko itu, bahkan sebagian besar dari mereka harus membayar usaha mereka dalam memberitakan Injil dengan nyawa mereka.

Saat ini risiko dalam memberitakan Injil tetap ada sekalipun berbeda dengan situasi pada gereja yang mula-mula.

Di Indonesia ada Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1979 yang isinya antara lain: Pelaksanaan penyiaran agama tidak dibenarkan untuk ditujukan terhadap orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama lain dengan cara menggunakan bujukan dengan atau tanpa pemberian barang, uang,…

Atas dasar itu betapa kita perlu sungguh bergantung kepada Tuhan ketika kita akan memberitakan Injil, memohon Roh Kudus memberi kita keberanian dan juga hikmat.

Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (lihat. Matius 10:16). 

Artinya kita bisa tetap setia memberitakan Injil, tetapi melakukannya dengan hikmat yang Roh Kudus berikan, mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan keberanian, hikmat dan mohon Roh Kudus menyiapkan orang yang akan kita injili.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan kapan engkau terakhir bersaksi dan menceritakan kasih Yesus?

Pembacaan Alkitab Setahun

1 Samuel 21-24

Rabu, 1 April 2026

DIUTUS UNTUK MEMBERITAKAN INJIL

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 20:19-23

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah respon para murid ketika mereka melihat Yesus?
  2. Apakah yang terjadi ketika Yesus “mengembusi” murid-murid-Nya?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Setelah Yesus mati kayu salib, dikuburkan. Murid-murid-Nya cemas, takut, khususnya kepada orang Yahudi yang telah menyalibkan Yesus.

Mereka takut orang-orang yang telah menyalibkan Yesus, akan mencari mereka.

Walaupun Yesus sudah beberapa kali menubuatkan kebangkitan-Nya, mereka sama sekali tidak memahami bahwa nubuat-nubuat itu akan terjadi.

Tetapi di tengah ketakutan itu, Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu.”

Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka, sehingga akhirnya murid-murid itu bersukacita, ada kelegaan yang luar biasa, ketakutan dan kecemasan menjadi sirna seketika.

Jadi ketika Yesus bertemu dengan murid-murid-Nya, Ia tidak langsung berkata, “Pergilah!” Tetapi Yesus terlebih dahulu memberikan damai sejahtera.

Yesus ingin memastikan bahwa sebelum Ia mengutus para murid untuk bersaksi, memberitakan Injil.

Para murid telah disiapkan terlebih dulu, mereka tidak lagi cemas, takut dan tidak memahami tujuan hidup mereka.

Di ayat 22 bahkan dengan jelas, Yesus mengembusi para murid, dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.”

Kata “mengembusi” dalam bahasa aslinya berarti: menghembuskan nafas, meniup dengan tujuan memberi kehidupan.

Kata yang serupa ada di Kitab Kejadian 2:7 yaitu ketika Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam Adam.

Dengan demikian, khusus kepada para murid, Yesus telah menyiapkan mereka untuk menerima Roh Kudus.

Saat ini kita yang telah percaya dan memiliki Roh Kudus di dalam batin kita.

Perintah yang sama, Tuhan berikan. Yaitu agar kita pergi memberitakan Injil.

Itu bisa kita mulai dengan bersaksi melalui perilaku kita yang baik dan benar sehingga lebih mudah bagi kita ketika Roh Kudus membuka kesempatan untuk kita menceritakan Yesus kepada orang di sekitar kita.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa peran Roh Kudus dalam menolong kita untuk bersaksi.

Pembacaan Alkitab Setahun

1 Samuel 18-20