BERITA KESEMBUHAN UNTUK HIZKIA

Penulis : Budhi Setiawan

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

2 RAJA-RAJA 20:1-6

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Siapakah Hizkia dalam kisah 2 Raja-raja 20:1–6?
  2. Apa yang terjadi dengan kesehatan Hizkia?
  3. Siapakah yang datang menyampaikan pesan Tuhan kepada Hizkia?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Ada saat-saat dalam kehidupan ketika kita menerima berita yang sangat berat.

Penyakit, kelemahan tubuh, masalah keluarga, atau keadaan yang seolah-olah tidak memiliki jalan keluar dapat membuat seseorang mengeluh bahkan kehilangan harapan.

Hal yang sama dialami oleh Hizkia.

Ia adalah seorang raja, tetapi kedudukannya tidak membuatnya kebal terhadap sakit dan penderitaan.

Dalam 2 Raja-raja 20:1, nabi Yesaya datang kepadanya dan menyampaikan pesan bahwa ia harus menyelesaikan urusan keluarganya karena ia akan mati dan tidak akan sembuh.

Mendengar berita tersebut, Hizkia tidak mencari pelarian.

Ia menghadapkan wajahnya kepada Tuhan dan berdoa.

Ia menangis di hadapan Tuhan dan mengingat bagaimana selama ini ia hidup di hadapan-Nya.

Menariknya, ketika Hizkia sedang berdoa, Tuhan memberikan jawaban.

Tuhan berkata kepada Yesaya Aku telah mendengar doamu dan telah melihat air matamu.

Kemudian Tuhan menyampaikan berita yang penuh pengharapan: Sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau.

Kisah Hizkia mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak jauh dari orang yang sedang mengalami penderitaan.

Tuhan mendengar doa dan melihat air mata. Ada kalanya manusia tidak memahami apa yang sedang kita alami.

Bahkan orang-orang terdekat kita mungkin tidak mengerti betapa beratnya pergumulan yang sedang kita hadapi.

Tetapi Tuhan mengetahui semuanya. Air mata Hizkia tidak tersembunyi dari Tuhan. Doanya tidak sia-sia.

Karena itu, ketika kita sedang menghadapi sakit atau ketika melihat seseorang menderita karena penyakit, jangan berhenti berharap kepada Tuhan.

Bawalah pergumulan itu dalam doa.

Kita menjadi Pembawa Berita Kesembuhan dipanggil bukan hanya untuk menerima pertolongan Tuhan, tetapi juga menjadi pembawa pengharapan bagi orang lain.

Ketika ada orang sakit, mungkin ia tidak membutuhkan banyak nasihat.

Ia mungkin membutuhkan seseorang yang mau hadir, mendengarkan, memegang tangannya, mendoakannya, dan berkata jangan kehilangan harapan, mari kita datang kepada Tuhan dalam doa.

Berita kesembuhan bukan berarti kita menjanjikan bahwa setiap orang pasti langsung sembuh.

Kita tidak menentukan bagaimana Tuhan harus menjawab doa.

Namun kita dapat membawa berita bahwa Tuhan peduli, Tuhan mendengar, Tuhan sanggup menolong, dan kita tidak pernah sendirian.

Hizkia menerima berita kesembuhan dari Tuhan.

Namun yang perlu kita perhatikan adalah sikap hatinya sebelum menerima jawaban tersebut.

Ia datang kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Iman bukan berarti kita tidak pernah takut atau menangis.

Iman berarti kita tetap datang kepada Tuhan sekalipun kita sedang takut dan menangis.

Ada orang yang berkata, Kalau saya menangis, berarti saya tidak beriman, tidak demikian.

Hizkia menangis, tetapi ia juga berdoa. Ia mengalami kesedihan, tetapi ia tetap mencari Tuhan.

Air mata tidak selalu menunjukkan kelemahan iman.

Kadang-kadang air mata justru menjadi bagian dari doa yang paling jujur di hadapan Tuhan.

Ketika Tuhan memberikan pertolongan, jangan lupa untuk bersyukur dan bersaksi.

Kesembuhan Hizkia menjadi bukti bahwa Tuhan mendengar doanya.

Demikian juga ketika kita mengalami pertolongan Tuhan dalam kehidupan kita, pengalaman tersebut dapat menjadi kesaksian yang menguatkan orang lain.

Mungkin kesaksian kita sederhana.

Mungkin kita pernah sakit, takut, kecewa, atau berada dalam keadaan sulit, tetapi Tuhan memberikan kekuatan dan pertolongan.

Oleh karena itu jangan meremehkan kesaksian itu, karena apa yang Tuhan lakukan dalam hidup kita, hal tersebut dapat menjadi berita pengharapan bagi orang lain.

Jika kamu berada di posisi Hizkia, apa yang akan kamu lakukan ketika menerima berita yang sangat berat? Mengapa menurutmu, Tuhan ingin kita tetap berdoa ketika menghadapi penderitaan? Bagaimana seorang dapat menjadi pembawa berita kesembuhan bagi teman-temannya di sekolah, kampus, pekerjaan, keluarga, atau gereja?

Pembacaan Alkitab Setahun

Lukas 17-18