TUHANLAH YANG MENYEMBUHKAN ENGKAU

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

KELUARAN 15:22-26

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Mengapa bangsa Israel bersungut-sungut kepada Musa?
  2. Apa yang dilakukan Musa ketika bangsa Israel bersungut-sungut?
  3. Bagaimana seharusnya bangsa Israel merespons Tuhan setelah mengalami pertolonganNya?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Kitab Keluaran ditulis oleh Musa untuk bangsa Israel sebagai umat perjanjian Allah yang sedang dibentuk untuk hidup sebagai umat milikNya setelah dibebaskan dari perbudakan di Mesir.

Setelah mengalami pembebasan melalui Laut Teberau, Israel melanjutkan perjalanan di padang gurun dan berjalan tiga hari tanpa menemukan air.

Ketika tiba di Mara, mereka mendapati air yang tidak dapat diminum, sehingga keadaan tersebut menjadi ujian bagi iman mereka.

Setelah menyaksikan kuasa Allah dalam pembebasan dari Mesir, mereka kembali diperhadapkan pada kebutuhan yang nyata.

Melalui peristiwa ini, Allah mengajar Israel untuk tidak bergantung pada keadaan, tetapi belajar mempercayai Tuhan yang memelihara dan mencukupkan kebutuhan umatNya.

Ketika Israel bersungut-sungut, Musa berseru kepada Tuhan, lalu Tuhan menunjukkan sepotong kayu yang dilemparkan ke dalam air sehingga air itu menjadi manis.

Kemudian Tuhan berfirman, “Akulah TUHAN yang menyembuhkan engkau.”

Pernyataan ini bukan sekadar menunjuk pada kesembuhan jasmani, tetapi menyatakan Tuhan sebagai sumber pemulihan dan kehidupan umatNya.

Allah sedang menguji ketaatan bangsa Israel agar mereka mau mendengar suaraNya dan hidup menurut ketetapanNya.

Setelah meninggalkan Mara, bangsa Israel tiba di Elim, tempat terdapat dua belas mata air dan tujuh puluh pohon kurma (Kel. 15:27), tetapi perjalanan mereka tidak berhenti di sana karena setelah itu mereka kembali menghadapi ujian di Padang Gurun Sin (Kel. 16:1).

Karena itu, pesan utama dari peristiwa “Mara” bukan bahwa setiap kepahitan pasti segera berakhir dengan kenyamanan, melainkan bahwa Tuhan tetap berdaulat, menyertai, dan memelihara umatNya dalam setiap tahap perjalanan.

Jemaat Tuhan perlu memahami bahwa “Tuhanlah Yang Menyembuhkan Engkau” bukan berarti setiap masalah, penyakit, atau penderitaan pasti langsung dihilangkan sesuai keinginan kita.

Allah berkuasa memberikan kesembuhan jasmani, tetapi Ia juga dapat memakai kelemahan dan penderitaan untuk membentuk iman serta ketaatan kita.

Seperti Israel di Mara, kita dapat mudah bersungut-sungut ketika menghadapi keadaan yang pahit, Tuhan bisa saja mengijinkan semua terjadi untuk mengajar kita untuk semakin bergantung kepadaNya.

Karena itu, ketika berada dalam “Mara” kehidupan, kita dipanggil untuk tetap percaya, menaati firmanNya, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada kehendakNya.

Tuhan bukan hanya sanggup mengubah keadaan kita, tetapi juga mengubah hati yang takut, lemah, dan bersungut-sungut menjadi hati yang percaya dan taat kepadaNya.

Amin

Ketika Tuhan tidak mengubah keadaan seperti yang kita harapkan, apakah kita tetap mau percaya dan taat kepadaNya? Diskusikan bersama dalam kelompok PA atau persekutuan kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Matius 13-14