BERLIMPAH UNTUK MENJADI BERKAT

Penulis : Budhi Setiawan

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

2 KORINTUS 9:8-11

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Menurut 2 Korintus 9:8, apa tujuan Allah melimpahkan kasih karunia kepada kita?
  2. Mengapa berkat Tuhan dapat diibaratkan seperti benih yang harus ditaburkan?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Firman Tuhan dalam 2 Korintus 9:8-11, Rasul Paulus membukakan sebuah rahasia ilahi yang luar biasa tentang bagaimana Allah memandang sebuah kekayaan dan kecukupan.

Bagi Tuhan, kelimpahan bukanlah terminal akhir tempat kita berhenti dan menikmati segalanya sendirian.

Kelimpahan adalah sebuah stasiun distribusi, sebuah awal dari tugas mulia yang Tuhan percayakan kepada kita untuk menjadi saluran kasih-Nya di tengah dunia yang penuh kekurangan.

Pada ayat 8, kalimat ini diawali dengan pengenalan akan karakter Allah adalah Allah sanggup.

Sering kali, alasan utama mengapa kita menahan berkat dan enggan berbagi adalah karena rasa takut akan kekurangan.

Kita takut jika kita memberi hari ini, kita tidak akan punya cukup uang untuk hari esok.

Namun, ayat ini mengingatkan kita bahwa sumber berkat kita bukanlah pekerjaan kita, bukan tabungan kita, dan bukan juga kondisi ekonomi dunia.

Sumber berkat kita adalah Allah yang Mahakaya. Kata “segala kasih karunia” menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah setengah-setengah dalam memelihara anak-anak-Nya.

Kelimpahan yang dari Tuhan mencakup segala aspek—baik itu materi, kedamaian, sukacita, hikmat, maupun kesehatan.

Tuhan berjanji bahwa kita akan berkecukupan di dalam segala sesuatu dan setiap waktu.

Ini adalah garansi surgawi yang melepaskan kita dari belenggu kekhawatiran, sehingga kita bisa melangkah dengan iman bahwa persediaan dari Bapa di surga tidak akan pernah habis.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara mentalitas kerajaan dunia dan Mentalitas Kerajaan Allah.

Dunia mengajarkan kita untuk menjadi seperti “wadah penampung” (laut mati) yang menerima semua air dari sungai-sungai tetapi tidak pernah mengalirkannya kembali, sehingga airnya menjadi asin, berbau, dan tidak ada kehidupan di dalamnya.

Sebaliknya, Tuhan ingin kita hidup seperti “pipa saluran” (sungai yang mengalir) yang terus-menerus meneruskan air kehidupan kepada lingkungan sekitar.

Dalam ayat 9-10 Perhatikan bahwa Allah menyediakan dua hal dalam hidup kita yaitu roti untuk dimakan (konsumsi) dan benih untuk ditabur.

Masalah rohani sering kali terjadi ketika kita salah membedakan keduanya—kita memakan benih yang seharusnya ditabur, atau kita menimbun benih hingga membusuk karena takut menanamnya.

Tuhan tahu persis berapa banyak “roti” yang kita butuhkan untuk hidup sehari-hari, dan Dia pasti mencukupinya.

Namun, kelebihan yang ada di tangan kita adalah “benih”.

Benih hanya akan memiliki nilai dan kuasa ketika ia dilepaskan dari tangan kita dan jatuh ke tanah.

Saat kita berani melepaskan berkat untuk menolong sesama, mendanai pekerjaan Tuhan, dan menghibur yang berduka, di situlah mukjizat terjadi.

Tuhan berjanji bukan hanya akan mengganti benih itu, melainkan melipatgandakannya dan menumbuhkan “buah-buah kebenaran”.

Pemberian yang didasari kasih tidak pernah membuat kita miskin; itu justru melipatgandakan kapasitas kita untuk menerima lebih banyak lagi dari Tuhan.

Apakah tujuan akhir dari kemurahan hati kita?

Bukan agar nama kita dipuji, bukan agar kita mendapat penghargaan sebagai dermawan, dan bukan pula agar orang-orang merasa berutang budi kepada kita.

Muara akhir dari seluruh kelimpahan adalah ucapan syukur dan kemuliaan bagi Allah.

Ketika kita menolong orang lain dengan ketulusan Kristus, orang yang menerima bantuan tersebut tidak akan melihat hebatnya diri kita, melainkan mereka akan melihat besarnya kasih Tuhan.

Tindakan memberi kita berubah menjadi sebuah kesaksian hidup.

Melalui tangan kita yang terbuka, orang lain bisa merasakan bahwa Tuhan itu baik, bahwa Tuhan mendengar doa-doa mereka, dan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka.

Kita menjadi perpanjangan tangan kasih Allah yang nyata di atas bumi ini.

Pernahkah Anda menerima berkat melalui pertolongan atau kemurahan hati seseorang? Apa dampaknya bagi kehidupan Anda? Apa yang sering membuat seseorang sulit berbagi atau menjadi berkat bagi orang lain? Apakah rasa takut kekurangan dapat menjadi salah satunya? Menurut ayat 10, Tuhan menyediakan “benih bagi penabur”. Apa yang dapat menjadi “benih” yang Tuhan percayakan kepada kita saat ini?

Pembacaan Alkitab Setahun

Zakharia 1-7