MEMILIKI PIKIRAN KRISTUS
Penulis : Budhi Setiawan

Pembacaan Alkitab Hari ini :
FILIPI 2:5-8
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

- Menurut ayat 5, apa yang dimaksud Paulus dengan “memiliki pikiran dan perasaan Kristus”?
- Apa yang dikatakan ayat 6 tentang identitas Yesus sebelum Ia datang ke dunia?

Salah satu peperangan terbesar dalam kehidupan orang percaya bukanlah peperangan melawan keadaan, melainkan peperangan di dalam pikiran.
Dari pikiran lahir keputusan, perkataan, tindakan, bahkan arah hidup seseorang.
Karena itu Paulus tidak terlebih dahulu berkata, Bertindaklah seperti Kristus, tetapi, Milikilah pikiran Kristus.
Perubahan hidup yang sejati selalu dimulai dari perubahan cara berpikir.
Ketika pikiran diubahkan, karakter pun akan berubah.
Kata “pikiran” dalam ayat ini berasal dari kata Yunani phroneō, yang berarti memiliki pola pikir, sikap batin, orientasi hidup, dan cara memandang segala sesuatu.
Jadi Paulus sedang mengajak jemaat untuk mengadopsi cara pandang Kristus terhadap Allah, diri-Nya sendiri, dan sesama.
Pada ayat 6 Yesus adalah Allah yang kekal. Segala kemuliaan adalah milik-Nya.
Namun yang menarik, Kristus tidak menggunakan keilahian-Nya untuk keuntungan pribadi.
Inilah yang sangat berbeda dengan manusia.
Dimana manusia selalu ingin meninggikan diri : ingin diakui, ingin dihormati, ingin menang, ingin menjadi pusat perhatian, dsb.
Bahkan dalam pelayanan pun motivasi seperti ini dapat muncul.
Kita dapat melayani Tuhan tetapi diam-diam menginginkan pujian, posisi, atau penghargaan.
Kristus justru menunjukkan arah yang berlawanan. Ia tidak bertanya, “Apa yang bisa Aku dapat?” tetapi “Apa yang bisa Aku berikan?” Inilah pikiran Kristus.
Kerendahan hati bukan berarti merasa diri tidak berharga, melainkan tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat kehidupan.
Pada ayat 7 Ini bukan berarti Yesus berhenti menjadi Allah, Yesus tidak pernah kehilangan keilahian-Nya, Yang Ia lepaskan adalah hak-hak kemuliaan-Nya.
Ia memilih membatasi diri dan hidup sebagai manusia yang bergantung penuh kepada Bapa.
Ia lapar, Ia haus, Ia menangis, Ia merasakan penderitaan manusia, dsb.
Mengapa? Karena kasih selalu rela turun mendekat, Kasih sejati tidak menjaga jarak, Kasih masuk ke dalam penderitaan orang yang dikasihi, Ia datang sendiri.
Ini mengajarkan bahwa memiliki pikiran Kristus berarti bersedia meninggalkan zona nyaman demi melayani orang lain.
Kadang Tuhan memanggil kita: mengorbankan waktu, mengorbankan kenyamanan, mengorbankan ego, bahkan mengorbankan hak-hak pribadi demi pekerjaan Kerajaan Allah.
Pelayanan bukanlah aktivitas, Pelayanan adalah identitas.
Orang yang memiliki pikiran Kristus tidak bertanya, Apa posisi saya? melainkan, Siapa yang dapat saya layani?
Karena itu memiliki pikiran Kristus berarti hidup dengan pola salib yaitu rela mengampuni meski disakiti, rela melayani meski tidak dihargai, rela taat meski harus berkorban dan lain sebagainya.

Dalam situasi apa saya paling sulit memiliki pikiran Kristus?Bagaimana kita dapat memiliki pikiran Kristus di tengah budaya yang mendorong persaingan dan pencitraan diri?Apakah mungkin seseorang aktif melayani tetapi belum memiliki pikiran Kristus? Berikan alasan.
Pembacaan Alkitab Setahun
Yeremia 51-52