TERANG YANG MEMBUKA MATA ROHANI

Penulis : Anang Kristianto

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 9:1-7

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Pekerjaan siapa yang harus Yesus kerjakan selama di dunia?
  2. Siapakah terang dunia menurut Yesus?
  3. Apakah yang dilakukan Yesus kepada orang buta itu?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Kisah ini merupakan kelanjutan dari pernyataan Yesus, “Akulah terang dunia” (Yoh. 8:12).

Kini Yesus tidak hanya mengucapkan kebenaran itu, tetapi membuktikannya melalui tindakan nyata.

Ketika melihat seorang yang buta sejak lahir, para murid bertanya, “Siapakah yang berbuat dosa, orang ini atau orang tuanya?”

Pertanyaan ini mencerminkan pandangan umum masyarakat Yahudi pada abad pertama yang sering mengaitkan penderitaan dengan hukuman langsung atas dosa.

Yesus menolak anggapan tersebut dan mengalihkan perhatian kepada tujuan yang lebih besar: “supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia.”

Orang itu kemudian diperintahkan pergi ke kolam Siloam—yang berarti “diutus”—sebuah tindakan yang menuntut iman dan ketaatan sebelum mukjizat itu terjadi.

Melalui kisah ini, Yohanes menunjukkan bahwa terang Kristus bukan hanya memulihkan penglihatan jasmani, tetapi juga membuka mata rohani sehingga manusia dapat mengenal siapa Yesus sebenarnya secara utuh.

Dunia modern yang dipenuhi informasi, tetapi tidak selalu dipenuhi pengertian.

Kemajuan teknologi telah memungkinkan manusia melihat dunia melalui satelit, kamera beresolusi tinggi, dan kecerdasan buatan, namun banyak orang tetap gagal melihat kebenaran yang paling penting.

Seperti murid-murid yang terburu-buru mencari siapa yang bersalah, masyarakat saat ini pun sering lebih cepat menghakimi daripada memahami.

Kita mudah memberi label kepada orang berdasarkan kegagalannya, penyakitnya, atau masa lalunya, tanpa melihat bahwa Allah dapat bekerja melalui kehidupan mereka.

Kebutaan rohani modern tidak selalu berarti tidak percaya kepada Tuhan, tetapi bisa berupa hati yang tertutup oleh kesombongan, prasangka, materialisme, atau keyakinan bahwa manusia mampu menyelesaikan segala sesuatu tanpa Allah.

Terang Kristus mengingatkan bahwa masalah terbesar manusia bukan kurangnya informasi, melainkan kurangnya hati yang terbuka untuk melihat pekerjaan Allah.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya apakah saya benar-benar melihat hidup dengan perspektif Tuhan, atau masih memandang segala sesuatu melalui prasangka dan penilaian manusia?

Mungkin kita tidak buta secara fisik, tetapi bisa saja buta terhadap kebutuhan orang lain, buta terhadap dosa yang kita pelihara, atau buta melihat kesempatan yang Tuhan berikan untuk menjadi berkat.

Seperti orang buta yang taat pergi ke kolam Siloam, kita juga dipanggil untuk menaati firman Tuhan meskipun belum memahami seluruh rencana-Nya.

Ketika terang Kristus membuka mata rohani kita, cara kita memandang masalah, orang lain, dan masa depan akan berubah.

Kita tidak lagi hidup berdasarkan ketakutan atau prasangka, melainkan berjalan dalam iman, sehingga kehidupan kita sendiri menjadi kesaksian bahwa Sang Terang masih terus bekerja membuka mata dan mengubahkan hidup manusia hingga hari ini.

Apakah kehidupan kita bersama Yesus sebagai Terang Dunia itu juga membuat mata kita terbuka akan kondisi banyak orang di sekitar kita? Ceritakan pengalaman Saudara bagaimana Saudara menjadi berkat ketika berjalan bersama Yesus Terang Dunia itu.

Pembacaan Alkitab Setahun

Yesaya 59-63