TUJUH KALI SEHARI AKU MEMUJI-MU

Penulis : Budhi Setiawan

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MAZMUR 119:164-168

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa makna dari Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau?
  2. Apakah pujian saya bergantung pada keadaan atau pada karakter Tuhan?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Sering kali kita menganggap penyembahan hanya terjadi saat berada di gereja, mengikuti ibadah, atau menyanyikan lagu pujian.

Namun, Mazmur 119:164–168 menunjukkan bahwa penyembahan sejati adalah gaya hidup yang dijalani setiap hari.

Pemazmur tidak memuji Tuhan karena hidupnya selalu mudah.

Mazmur 119 justru ditulis oleh seseorang yang mengenal penderitaan, penolakan, dan tekanan.

Namun di tengah semuanya itu, ia menemukan sesuatu yang tidak tergoncangkan, yaitu firman Tuhan.

Ketika keadaan berubah, firman Tuhan tetap benar.

Ketika manusia berlaku tidak adil, hukum Tuhan tetap adil. Ketika dunia dipenuhi ketidakpastian, janji Tuhan tetap dapat dipercaya.

Dari sinilah lahir pujian yang sejati.

Sering kali kita memuji Tuhan karena apa yang Dia lakukan.

Kita bersyukur saat doa dijawab, saat pintu terbuka, saat berkat dicurahkan.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun pujian yang dewasa melampaui pemberian Tuhan; ia berakar pada pengenalan akan pribadi Tuhan.

Pemazmur memuji bukan hanya karena menerima sesuatu dari Tuhan, tetapi karena ia mengenal siapa Tuhan itu.

Ia mengagumi karakter Allah yang dinyatakan melalui firman-Nya.

Pujian seperti ini tidak bergantung pada suasana hati. Ia tetap hidup di tengah air mata.

Ia tetap berkobar di tengah penantian. Bahkan ketika jawaban belum datang, hati masih dapat berkata : Tuhan, Engkau tetap baik, Engkau tetap benar, dan firman-Mu tetap dapat dipercaya.

Ada hubungan yang sangat erat antara firman dan penyembahan.

Penyembahan yang dangkal sering lahir dari emosi sesaat, tetapi penyembahan yang mendalam lahir dari hati yang dipenuhi firman.

Semakin seseorang mengenal Tuhan melalui firman-Nya, semakin ia memiliki alasan untuk memuji-Nya.

Karena itu, kedalaman penyembahan seseorang sering kali sebanding dengan kedalaman pengenalannya akan Tuhan.

“Tujuh kali dalam sehari” juga mengingatkan bahwa penyembahan bukanlah aktivitas yang dibatasi oleh tempat dan waktu tertentu.

Penyembahan adalah kesadaran terus-menerus bahwa Tuhan hadir dalam setiap momen kehidupan.

Saat bekerja, saat melayani, saat menghadapi masalah, bahkan saat berjalan melalui lembah kehidupan, hati tetap tertuju kepada-Nya.

Pujian menjadi napas rohani yang mengalir secara alami dari hubungan yang intim dengan Tuhan.

Bagaimana cara praktis menjadikan pujian sebagai gaya hidup, bukan hanya kegiatan saat ibadah? Kebiasaan apa yang perlu dibangun agar firman Tuhan semakin memenuhi hati dan pikiran kita? Dalam aktivitas sehari-hari (pekerjaan, keluarga, pelayanan), bagaimana Anda dapat menunjukkan kehidupan yang menyembah Tuhan?

Pembacaan Alkitab Setahun

Kidung Agung 1-8